Annual report kip_(17_juli_2012)_rev_1_opt43

  • 661 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
661
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1

Actions

Shares
Downloads
14
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Komisi Informasi Pusat Republik IndonesiaLAPORAN TAHUNANKomisi Informasi Pusat2011Annual ReportCentral InformationCommissionof Republic of Indonesiawww.komisiinformasi.go.id 1
  • 2. SEKRETARIAT KOMISI INFORMASI PUSAT: Bambang Hardi Winata (Sekretaris/Kuasa Pengguna Anggaran) BAGIAN UMUM: M. Samuah (Kabag),Muryani (Subag TU & Perlengkapan), Heru Djati Nugroho (Subag Keuangan), Staff: Aris Sudjarwo, Maskundarjo, Abdul Rahman, Himawan, Arie Wijaya,Djoko Sarwono, Diah Purwitasari, Bagaria Tambunan, Aditya Indra A. BAGIAN PERENCANAAN: Daulat Siregar (Kabag/Pejabat Pembuat Komitmen),Aprial Sibarani (Subag Program), St. Hasmawati (Subag Evaluasi & Pelaporan), Staff: Sari Wulan, Abdulrachman F, Dustiawan, Agustianingsih, Catur(Bendahara), Deddy Gunawan (Staff Bendahara) BAGIAN ADMINISTRASI PENGADUAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI: HafidaRiana (Kabag), Chairul Hasibuan (Subag Administrasi Pengaduan), Ramlan Ahmad (Subag Administrasi Penyelesaian Sengketa Informasi), Staff: Rizal,Aditya Indra, Indah Puji Rahayu, Isnaneni. TENAGA AHLI: Astrid Debora, Agus Wijayanto Nugroho, Ferdiansyah ASISTEN AHLI: Triana Nurchayati, 2Aditya Nuriya, Ayu Arismawati, Tya Tirtasari, Leny Sulistiani, Agni Istighfar Paribrata, Syahrul, Sekar Anindajati (Sekretaris Ketua)
  • 3. 3
  • 4. Komisioner Komisi Commissioner of Central Informasi Pusat Information Commission KETUA CHAIRMAN Abdul Rahman Ma’mun. Pernah menjadi produser berita di Abdul Rahman Ma’mun. He has extent experience in ANTV, wartawan di Metro TV, redaktur pelaksana di Majalah media and journalism. He was working as news producer Panjimas. Meraih dua gelar S1, di Teknik Sipil Universitas on ANTV, journalist on Metro TV, and managing editor of Gadjah Mada (UGM) dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sejak Panjimas Magazine. He attained two bachelor degrees: in Civil kuliah, ia aktif di dunia pers mahasiswa, antara lain menjadi Engineering University of Gadjah Mada (UGM) and IAIN Sunan Pemimpin Umum Majalah Balairung UGM dan mendirikan Kalijaga Yogyakarta. Since he was in college, he had been active Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di tahun 1993. in the student press, of which he assigned as General Manager Komisioner termuda yang ada di KI Pusat ini pernah mengikuti of Balairung Magazine UGM. He founded the Student Press workshop mediasi yang diselenggarakan oleh Management Association of Indonesia (PPMI) in 1993. Rahman attended System International (MSI) di kantor pusatnya, di Washington training in Mediation Workshop organized by Management DC, Amerika Serikat, pada 23 Desember 2011. Pada periode Systems International (MSI) at its headquarters in 2009–2011, ia menangani Bidang Edukasi, Sosialisasi dan Washington DC, USA on 23 December 2011. Rahman is the Advokasi (ESA). Melalui hasil pemilihan pergantian jabatan youngest commissioner in the Information Commission Center Ketua Komisi Informasi Pusat, Rabu 03 Agustus 2011, Rahman for 2009–2011 periods. He served in the Field of Education, terpilih menjadi ketua KI Pusat  untuk masa jabatan 2011–2013 Dissemination and Advocacy (ESA). He was appointed as sekaligus memegang tanggung jawab di bidang Subkomisi Chairman of Central Information Commission for the term of Informasi Pelayanan Dasar.   2011–2013, by election held on Wednesday, 3 August 2011. In addition, he is in charge as well for Information of Basic Services Sub-committee. WAKIL KETUA VICE CHAIRMAN Usman Abdhali Watik. Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat Usman Abdhali Watik. He is Vice Chairman of Central (sekaligus Komisioner Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi Information Commission and incumbent commissioner dan Komisioner Subkomisi Informasi Keuangan dan Anggaran). for Settlement of Information Disputes and Information Sebelumnya ia adalah dosen Komunikasi Politik di Universitas of Finance and Budget Sub-committe. Previously, he was Paramadina; dosen Metodologi Penelitian Komunikasi di a lecturer for the course of Political Communication at the Universitas Pelita Harapan dan Universitas Tarumanagara; University of Paramadina; lecturer of Communication Research thesis adjudicator di London School of Public Relations. Methods at the University of Pelita Harapan and Universitas Selama 8 bulan pernah mendampingi (sebagai staf ahli) para Tarumanagara; and thesis adjudicator at the London School “Senator” DPD RI dalam upayanya membuat RUU Pedesaan. of Public Relations. For eight months, he was assigned as Salah seorang tim kreatif acara TV (Indosiar) pendidikan specialist staff for senators of The Regional Representatives politik “Republik BBM” ini lulusan jurusan Administrasi Council (DPD) who were drafting Rural Bill. Moreover, he was Negara Universitas Hasanuddin dan menyelesaikan Program involved in politics-educational TV show “Republic BBM”, Master Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (Tesis: Strategi as creative staff (Indosiar). He graduated from Hasanuddin Kampanye pada Pemilihan Presiden). Ia pernah mengikuti University with major in Public Administration, and completed pelatihan internasional yang berlangsung di Washington DC, Master Program of Communication Studies in University Amerika Serikat, tentang Alternative Dispute Resolutions yang of Indonesia, with thesis: Campaign Strategy in Presidential diselenggarakan OGIS (Office of Government Information elections. He attended International Training in Washington Services). Peneliti media massa di The Indonesian Institute ini DC, USA on “Alternative Dispute Resolutions,” held by OGIS juga lulus sebagai penerima beasiswa Program Doktoral. (Office of Government Information Services). Watik is mass media researcher at the Indonesian Institute, wherehe received PhD. scholarship from the institution. ANGGOTA MEMBER Ahmad Alamsyah Saragih. Pendidikan terakhir Sarjana Ahmad Alamsyah Saragih. His educational background Ekonomi jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan di is Bachelor of Economics, majoring in Economics and Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah bekerja seba­ Development Studies at the University of Padjadjaran gai  Local Governance Specialist pada Initiative for Local Bandung. He was working as a Specialist in Local Governance Gover­ an­ e Reform (ILGR), World Bank. Di Komisi Informasi n c Initiative for Local Governance Reform (ILGR), World Bank. Pusat, ia menjabat sebagai ketua untuk periode 2009–2011, In Central Information Commission he served as Chairman sekali­ us merupakan ketua pertama di lembaga ini. Kini, di g for working period 2009–2011, also noted as the first sisa dua tahun kepengurusan, ia diberikan tanggung jawab chairman of the institution. Nowadays, in the remaining two untuk menangani Bidang Kelem­ agaan sekaligus mengawal b years of his working period, he is given responsibility for Subkomisi Informasi Pertahanan dan Keamanan periode running Institutional Field, as well as Information Security 2011–2013.   and Defense Sub-committee for 2011–2013 period. 4
  • 5. ANGGOTA MEMBERHenny S. Widyaningsih. Sejak 1985 menjadi dosen di jurusan Henny S. Widyaningsih. She has been teaching since 1985, in theKomunikasi FISIP Universitas Indonesia (UI) dan 8 tahun Department of Communication, FISIP University of Indonesia (UI),menjadi kepala Humas dan Protokol UI. Ia juga aktif di berbagai and for eight years, she was assigned as Head of Public Relations andorganisasi profesi kehumasan, seperti Bakohumas, Perhumas, Protocol UI. She is active in assorted public relations professionalISKI, Amic dan beberapa kali menjadi juri dalam penghargaan organizations, such as Bakohumas, Perhumas, ISKI, Amic, andAnugerah Media Humas yang diselenggarakan oleh Bakohumas several times was appointed as jury in media awards organized bydan Perhumas. Menjabat sebagai wakil ketua Komisi Informasi Perhumas and Bakohumas. She served as Vice Chairman of CentralPusat pada periode 2009–2011 dan membidangi Penyelesaian Information Commission for 2009–2011 period, and was in chargeSengketa Informasi (PSI). Saat ini, ia menjadi komisioner Bidang for Settlement of Information Disputes (PSI). Her current positionAdvokasi, Sosialisasi dan Edukasi (ASE) periode 2011–2013.    is commissioner for Education, Dissemination and Advocacy (ESA) for 2011–2013 period.ANGGOTA MEMBERDono Prasetyo. Lulusan Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Dono Prasetyo. He graduated from the Faculty of Biology,Wacana, Salatiga (1990) dan sekarang sedang menempuh Studi University of Kristen Satya Wacana, Salatiga in 1990, and he isPascasarjana (S2) Fakultas Manajemen Administrasi Publik di currently taking postgraduate studies in the Faculty of ManagementUniversitas Nasional Jakarta. Sejak tahun 2003–2008, Dono bersama of Public Administration at the National University Jakarta. In 2003–aktivis Koalisi Kebebasan Memperoleh Informasi Publik berjuang dan 2008, Dono, along with activists of coalition for obtaining freedommengawal proses pembentukan UU No. 14 Tahun 2008 Tentang of public information, overseeingand struggling for establishmentKeterbukaan Informasi Publik yang pada rancangan awal dikenal process of Law No. 14 of 2008 on public information disclosure,dengan RUU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik (RUU KMIP). which was known on its preliminary stage as Bill of Freedom ofIa juga pernah menjabat sebagai direktur Pengembangan Institusi Information (RUU KMIP). He served as Director of InstitutionalInstitut Studi Arus Informasi (ISAI). Aktif memperjuangkan kebebasan Development at Institut Studi Arus Informasi (ISAI). He has beenberekspresi termasuk di dalamnya adalah kebebasan media untuk actively struggling for freedom of expression, including freedommenulis. Mengikuti workshop mediasi yang diselenggarakan oleh for media to write. He attended Mediation Workshop organized byManagement System International (MSI) di kantor pusatnya di the Management Systems International (MSI) at its headquartersWashington DC, Amerika Serikat, pada 23 Desember 2011. Pada in Washington DC, USA on 23 December 2011. For working periodperiode 2009–2011 kepengurusan di KI Pusat, Dono terpilih untuk of 2009–2011, Dono was chosen to carry out duties in the Fieldmengemban amanat di Bidang Edukasi, Sosialisasi dan Advokasi. of Education, Dissemination and Advocacy. As for his workingUntuk kepengurusan selanjutnya (periode 2011–2013), Dono period of 2011–2013, Dono is responsible for the Settlement ofmendapat tanggung jawab untuk membidangi Penyelesaian Information Disputes (PSI).Sengketa Informasi (PSI). ANGGOTA MEMBERRamly Amin Simbolon. Wartawan senior yang merupakan salah Ramly Amin Simbolon. He is senior journalist who is onesatu kader terbaik dari Grup Pos Kota, Jakarta. Pengalamannya of best personnel of Pos Kota Group, Jakarta. His extensiveyang panjang sebagai wartawan di DPR dan Istana Kepresidenan experience as a journalist in the House of Representative and themembawanya pada jabatan wakil pemimpin Redaksi Harian Presidential Palace took him to the post of Deputy Chief EditorTerbit. Menyelesaikan S2  Kriminologi  FISIP Universitas Indonesia of Harian Terbit. He finished his postgraduate study at FISIP(2009). Ramly—biasa orang-orang menyapanya—pada  periode Criminology, University of Indonesia in 2009. Ramly was elected2009–2011 terpilih sebagai anggota Komisi Informasi Pusat dan to join Central Information Commission, and in 2009–2011diberi tanggung jawab untuk membidangi Penyelesaian Sengketa working period, he was in charge for Settlement of InformationInformasi. Kini pada periode 2011–2013, Ramly mendapat amanat Disputes Subcommittee. In the second half of his working perioddalam Bidang Advokasi, Sosialisasi dan Edukasi (ASE). of 2011–2013, Ramly acquired mandate to work on the field of Education, Dissemination and Advocacy (ESA).ANGGOTA MEMBERAmirudin. Lulusan S1 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Amirudin. He attained graduate degree of Communication(1992), Graduate Diploma Bidang Komunikasi Kebudayaan University Science, FISIP Diponegoro University in 1992; Graduate Diplomaof Copenhagen Denmark (1996), S-2 Antropologi UI  (2002), Training of Communication Culture University of Copenhagen DenmarkMediasi di Negara Bagian Arizona, Universitas Arizona, Amerika in 1996; postgraduate degree in Anthropology from University ofSerikat (2006). Sejak 1992 menjadi dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Indonesia in 2002. He attended Mediation Training at Arizona State,FISIP UNDIP, ketua KPID Jawa Tengah (2007–2009), kepala Badan Riset Arizona State University, USA in 2006. Since 1992, he has beendan Data Mapilu-PWI Pusat, anggota presidium Jaringan Jurnalis teaching in Department of Communication Science of FISIP Undip.untuk Transformasi, Edukasi, dan Demokrasi (J-TREND), sekretaris He was elected as Chairman of the Regional Branch of the NationalMoslem Intelectual Institute for Civil Society (MIICS).  Mengikuti Broadcasting Commission (KPID) Central Java for 2007–2009 period,workshop mediasi yang diselenggarakan oleh Management System Head of Research and Data Center Mapilu-PWI, Member of theInternational (MSI) di kantor pusatnya, di Washington DC, Amerika Presidium of the Network of Journalists for Transformation, EducationSerikat, pada 23 Desember 2011. Dosen yang tengah menempuh and Democracy (J-TREND), and Secretary of Moeslem IntellectualS3 bidang Antropologi di Universitas Indonesia ini sebelumnya Institute for Civil Society (MIICS). He attended as well, the Mediationmemegang Bidang Kelembagaan pada KI Pusat periode 2009– Workshop organized by the Management Systems International (MSI)2011. Pada periode selanjutnya (2011–2013), Amirudin dipercayai at its headquarters in Washington DC, USA on 23 December 2011.memangku bidang yang sama. He is currently undergoing PhD program of Anthropology at the University of Indonesia. He was previously in charge for Institutional Field of Information Commission for period of 2009–2011. In second half period of 2011–2013,Amirudinis assigned at the same post. 5
  • 6. Komisi Informasi Provinsi KI Provinsi Lampung (Periode 2011–2015) Dilantik pada 3 Maret 2011 Ketua: Juniardi Alamat: Jl. Basuki Rahmat No. 29 Teluk Betung, Bandar Lampung KI Provinsi Sumatera Selatan (2011–2015) Telp./Fax. (0721) 470586 Dilantik pada 4 Agustus 2011 KI Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (2012-2016) Ketua: Sulasiman Alamat: Gedung Dinas Perhubungan, KI Provinsi Kalimantan Tengah (2011–2015) Dilantik pada 19 Juni 2012 Dilantik pada 7 Oktober 2011 Ketua: Afrizal Tjoetra, SPd. MSi Komunikasi dan Informatika, Jl. Kapt. A. Rifai No.51 Palembang, Sumatera Selatan Ketua: Satriadi Alamat: Jl. Sultan Alaydin Mahmud Syah No.14 Alamat: Kantor Dishubkominfo Kalteng. Seuramoe, Aceh. Fax. 0651–22221 Telp. (0711) 363125. Jl. S. Parman No.1, Palangkaraya, Kalteng. Telp. (0536) 3221090, 3221205. Fax. (0536) 3221674/3224547KI Provinsi Kepulauan Riau (2010–2014) Dilantik pada 4 Agustus 2010 Ketua: Arifuddin Jalil Alamat: Jl. D.I Panjaitan No. 2 Km. 6 Tanjung Pinang, Telp. (0771) 4571167, Fax. (0771) 4511769 KI Provinsi Jawa Barat (2011–2015) Dilantik pada 29 April 2011 Ketua: Dan SatrianaAlamat: Jl. Ehrlich No. 3 Bandung 40171 Telp./Fax. (022) 4237254 KI Provinsi Banten (2010–2015) KI Provinsi DKI Jakarta (2012–2016) Dilantik pada 24 Februari 2011 Dilantik pada 15 Maret 2012 Ketua: Yhannu Setyawan, SH, MH Ketua: Yulianto Widirahardjo Alamat: Gedung Prasada Sarana Karya KI Provinsi Jawa Tengah (2010–2014) Alamat: Jl. Syekh Nawawi Bantani Blok. F No. 1 Lantai 9, Jl. Suryopranoto No. 8, Jakarta Dilantik pada 3 Mei 2010 Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika KI Provinsi DI Yogyakarta (2011–2015) Telp./Fax. (021) 63857449 Ketua: Rahmulyo Adiwibowo Lt. II Kawasan Pusat Pemerintahan Dilantik pada 31 Oktober 2011 Alamat: Jl. Tri Lomba Juang No. 18 Semarang. Provinsi Banten (KP3B) Curug, Serang, Banten. Ketua: Roswati Telp./Fax. (024) 8411093 Telp. (0254) 267114 Alamat: Gedung Plaza Informasi Provinsi DIY. Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta 55152 6 Telp. (0274) 7129800 Fax. (0274) 485405
  • 7. KI Provinsi Sulawesi Selatan (2011–2015)KI Provinsi Kalimantan Timur (2012–2016) Dilantik pada 12 April 2011 Dilantik pada tanggal 30 Mei 2012 Ketua: Aswar Hasan, MSi Ketua: Jaidun, SH, MH Alamat: Kantor Dinas Perhubungan, Alamat: Jl. Basuki Rahmat No.41, Komunikasi dan Informatika Samarinda 75112. Jl. Perintis Kemerdekaan Km-15 Daya, Telp./Fax. (0541) 731963 Makassar, Sulawesi Selatan 90241 KI Provinsi Gorontalo (2010–2014) Telp./Fax. (0411) 513901 Dilantik pada 10 Desember 2010 Ketua: Amir Mahmud Alamat: Jl. Jamaludin Malik 41, Gorontalo Telp. (0435) 828626 KI Provinsi Sulawesi Utara (2012–2016) Dilantik pada tanggal 13 April 2012 Ketua: Drs. Boy Lalamentik Alamat: Jl. Martadinata No. 35 Telp./Fax. (0431) 863634 Manado 95127 KI Provinsi Bali (Periode 2012–2016) KI Provinsi Nusa Tenggara Barat(2011–2015) KI Provinsi Jawa Timur (2010–2014) Dilantik pada 4 Juni 2012 Dilantik pada 8 Februari 2012 Dilantik pada 14 Mei 2010 Ketua: Gede Santanu, SE, MM Ketua: Agus Marta Hariadi, SE Ketua: Djoko Tetuko A. Latif Alamat: Jl. Kapten Cok Agung Tresna No. 63, Alamat: Jalan Udayana No. 14 Lantai. 2 Alamat: Jl. Bandilan No.4 Waru–Sidoarjo Denpasar Nusa Tenggara Barat Telp./Fax. (031) 8546945 7
  • 8. Milestone Komisi Informasi Pusat 30 April 2008 UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan 1–3 Okt. 2010 Ketua KI Pusat, A. Alamsyah Saragih, Informasi Publik (UU KIP) disahkan oleh menyampaikan presentasi mengenai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Jaminan Hak atas Informasi” pada The 4th Connecting Civil Societies of Asia and Europe Conference, an official side event of Asia-Europe Meeting (ASEM8) di 12 Mei 2009 Brussel, Belgia. Rapat Paripurna DPR RI menetapkan 7 Komisioner Komisi Informasi Pusat (KI Pusat) hasil uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I DPR RI, yakni Abdul Rahman Ma’mun, Amirudin, Ramly Amin Simbolon, Henny S. Widyaningsih, 28 Sept. 2010 Ahmad Alamsyah Saragih, Dono Hari Hak untuk Tahu se-Dunia Prasetyo, dan Usman Abdhali Watik. (International Right to Know Day) diperingati KI Pusat bersama Badan Publik dan masyarakat pemohon informasi.2 Juni 2009 Presiden menandatangani KeputusanPresiden No. 48/P Tahun 2009 tentangpengangkatan 7 Komisioner KI Pusatperiode 2009–2013. 20 Agustus 2010 KI Pusat menetapkan Peraturan Komisi Informasi Nomor 2 Tahun 2010 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa 16 Juli 2009 Informasi Publik (Perki PSI). Pengukuhan dan pengucapan sumpah jabatan Komisioner Komisi Informasi Pusat (KI Pusat) periode 2009–2013. 26 Juli 2010 KI Pusat bertemu Ketua Mahkamah28 Agustus 2009 Agung, Harifin A Tumpa, membahasKI Pusat menetapkan Kode Etik penyelesaian sengketa informasi diKomisi Informasi. tingkat pengadilan dan kasasi MA. 6 Maret 2010 KI Pusat bertemu Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfudz MD membahas 14 Juli 2010 kerjasama penyelenggaraan persidangan Penandatangan MoU antara KI sengketa informasi dengan video Pusat dengan Badan Pengawas conference di Gedung MK. Pemilu (Bawaslu). 7 April 2010 KI Pusat menetapkan Tata Tertib Komisi Informasi Pusat. 30 April 2010 KI Pusat menetapkan Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik (Perki SLIP) dan diundangkan 7 Juni 2010. 30 April 2010 KI Pusat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membahas kesiapan pemberlakuan UU KIP mulai 1 Mei 2010. 8
  • 9. 8 April 2012 7 Oktober 2010 KI Pusat menyampaikan Putusan ajudikasi sengketa informasi pertama KI Laporan Tahunan 2011 Pusat antara Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana kepada DPR RI. (LPAW) Blora melawan PT. Blora Patragas Hulu (BUMD Pemkab Blora), bahwa dokumen Surat Perjanjian 20–31 Des 2011 Kerjasama antara PT. BPH dengan pihak ketiga adalah Benchmarking ke Amerika Serikat informasi terbuka yang bisa diakses publik. sebagai rintisan kerjasama antara Komisi Informasi Pusat dengan Management System International (MSI). 30 Oktober 2010 Komisioner KI Pusat berkunjung 19–23 Des. 2011 Kantor Pemerintah Amerika Serikat Benchmarking ke Nepal. Delegasi KI Urusan Informasi Publik (OGIS) di Pusat melakukan kajian perbandingan Washington DC, Amerika Serikat. antara Nepal Right to Information Act dengan UU KIP.15 Nov. 2010 Putusan ajudikasi KI Pusat antara ICW 29 Nov. 2011 dengan 5 SMPN di Jakarta dan Dinas Terbitnya Peraturan Mahkamah AgungPendidikan DKI Jakarta, bahwa SPJ Dana (Perma) Nomor 2 tahun 2011 tentangBantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Tata Cara Penyelesaian SengketaBantuan Operasional Pendidikan (BOP) Informasi Publik di Pengadilan. merupakan informasi terbuka yang bisadiakses publik. 17 Des. 2010 29 Sept. 2011 Komisioner KI Pusat melakukan Pengumuman rating dan pemberian pertemuan dengan Presiden dan penghargaan kepada Badan Publik dalam Sekjen Komisi Informasi Prancis menjalankan ketentuan UU KIP sebagai (CADA) di Paris. bagian dari rangkaian acara peringatan Right to Know Day. 20 Des. 2010 Komisioner KI Pusat melakukan pertemuan dengan Komisi Informasi 28 Sept. 2011 Scotlandia (Scotish Peringatan Right to Know Information Commission) di Day (Hari Hak untuk Tahu) St. Andrew, Scotland. se-Dunia. 31 Des. 2010 KI Pusat telah telah menerima 8 Agustus 2011 122 keberatan kepada Badan Serah terima jabatan pimpinan Komisi Infor­ Publik dan 82 kasus berlanjut masi Pusat dari Ahmad Alamsyah Saragih ke tahap pengajuan sengketa dan Henny S. Widyaningsih (Ketua dan Wakil informasi sejak pemberlakuan Ketua Periode 2009–2011) kepada Abdul UU KIP 1 Mei 2010. Rahman Ma’mun dan Usman Abdhali Watik (Ketua dan Wakil Ketua Periode 2011–2013) 24 Januari 2011 30 April 2011 KI Pusat menyampaikan Laporan Konferensi pers peringatan 1 tahun Tahunan 2010 kepada DPR RI. pemberlakuan UU KIP. 9
  • 10. Daftar Isi Table of ContentsPengantar —11 Overview—111. Pendahuluan—13 1. Introduction—132. Indikator Kinerja Komisi Informasi Pusat—15 2. Central Information Commission’s Performance n Indikator Output-1: Presentase Badan Publik yang Indicators—15 melak­ anakan ketentuan Keterbukaan Informasi s n Output Indicator-1: Percentage of public agencies Publik .............................................................................................15 to implement provisions of public disclosure.................... 15 n Indikator Output-2: Presentase Sengketa Informasi n Output Indicator-2: Percentage of Public Information Publik Yang Terselesaikan ...................................................... 17 Disputes Resolved....................................................................... 17 n Indikator Output-3: Jumlah Kegiatan Komisi n Output Indicator-3: Number of Conducted Activities Informasi Pusat Yang Terlaksana ......................................... 17 by The Central Information Commission........................... 173. Bidang Kelembagaan—19 3. Institutional Unit—19 1. Kerjasama dengan Lembaga Lain........................................ 19 1. MoU with Other Institutions.................................................. 19 2. Bimbingan Teknis Badan Publik untuk Penerapan 2. Public Agency Technical Guidance for Implementing SLIP.................................................................................................. 20 SLIP.................................................................................................. 20 3. Mendorong pembentukan KI Provinsi............................... 20 3. Encouraging the Establishment of Provincial 4. Rapat Koordinasi Nasional Komisi Informasi 2011....... 21 Information Commission........................................................ 20 5. Monitoring dan Evaluasi Badan Publik 4. National Coordinating Meeting of Information Dalam Pelaksanaan UU KIP.................................................... 21 Commission 2011...................................................................... 21 6. Benchmark Keterbukaan Informasi Publik di Luar 5. Public Agencies Monitoring and Evaluation as Negeri............................................................................................. 24 implementation of KIP Act..................................................... 21 6. Benchmark on Transparency of Public Information Abroad............................................................................................ 244. Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi—26 4. Public Information Dispute Settlement Division—26 4.1. Penanganan Sengketa Informasi Publik Sesuai UU 4.1. Settlement of Public Information Dispute based on No. 14 tahun 2008..................................................................... 26 Act No.14/2008........................................................................... 26 4.2. Pelatihan Mediasi ...................................................................... 29 4.2. Mediation Training ................................................................... 29 4.3. Diskusi Ahli dalam Rangka Proses Penyelesaian 4.3. Expert Discussion on Process of Dispute Settlement .29 Sengketa........................................................................................ 29 4.4. Facilitate Establishment of Network of Legal Aid ......... 30 4.4. Memfasilitasi Pembentukan Jaringan Kerja Bantuan Hukum............................................................................................ 305. Bidang Advokasi, Sosialisasi dan Edukasi—31 5. Advocacy, Socialization and Education Division—31 5.1 Memfasilitasi Pembentukan Jaringan Kerja Komunitas 5.1 Facilitate Establishment of Network of Public Peduli Informasi Publik............................................................ 31 Information Disclosure Support Community.................. 31 5.2 Diskusi Publik Reguler.............................................................. 32 5.2 Regular Public Discussion....................................................... 32 5.3 Pengelolaan Website................................................................ 32 5.3 Website Maintenance............................................................... 32 5.4 Penerbitan News Letter........................................................... 32 5.4 Publication of News Letter .................................................... 32 5.5 Pembuatan CD Audio Visual................................................. 33 5.5 Production of Audio Visual CD............................................. 33 5.6 Advertorial.................................................................................... 33 5.6 Advertorial.................................................................................... 33 5.7 Iklan Layanan Masyarakat Tentang Keterbukaan 5.7 Public Service Ad on Public Information Disclosure .........33 Informasi Publik.......................................................................... 33 5.8 Interactive Dialogue ................................................................. 34 5.8 Dialog Interaktif.......................................................................... 346. Dukungan Administrasi Kesekretariatan 35 — 6. Administrative Support—35 6.1 Struktur Organisasi Sekretariat Komisi Informasi 6.1 Organizational Structure of Secretariat of Central Pusat............................................................................................... 35 Information Commission ....................................................... 35 6.2 Keuangan Komisi Informasi Pusat T.A 2011.................... 36 6.2 Finance of Central Information Commission Fiscal 6.3 Rencana Kerja Komisi Informasi Pusat 2012.................... 38 Year 2011 ...................................................................................... 36 6.3 Work Plan of Central Information Commission in 2012 .......................................................................................... 38 10
  • 11. Pengantar OverviewSebuah riset, yang dilakukan Center for Law and Democracy A research conducted by the Center for Law and Democracy(CLD) Canada di akhir tahun 2011, menempatkan Indonesia (CLD) Canada at the end of 2011, put Indonesia as the highestsebagai negara dengan nilai tertinggi di Asia Tenggara (120 scored country in Southeast Asia (120 points) on transparencypoin) dalam aspek regulasi transparansi yang mengatur hak atas of regulation with respect of the right to information (right toinformasi (right to know). Selain itu, Indonesia juga masuk dalam know). Furthermore, Indonesia is listed in the top 20 of more20 besar dari lebih dari 120 negara di dunia yang menerapkan than 120 countries around the world to administer freedom ofUndang-undang Kebebasan Informasi (Freedom of Information information legislation (Freedom of Information Act). IndonesiaAct). Hal itu, tentu, karena Indonesia memiliki Undang-undang admitted Act no. 14/ 2008 on Public Information DisclosureNomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) which was initiated and passed by the House of(UU KIP), yang merupakan inisiatif DPR, yang disahkan pada 30 Representative on 30 April 2008, and put into practice since 30April 2008 dan diberlakukan sejak 30 April 2010. April 2010.UU KIP merupakan regulasi yang strategis guna mewujudkan Public Information Disclosure Act (KIP Act) is a strategicproses demokratisasi dalam kerangka menuju kesejahteraan regulation to support democracy process in order to achieverakyat. Keterbukaan informasi publik merupakan salah satu common welfare. Public information disclosure is one ofciri dari kehidupan negara demokratis. Keterbukaan informasi distinguished traits of democratic country. Disclosure ofmemiliki makna yang luas bagi kehidupan bernegara dan public information has a significant designation for a nation,berbangsa, karena semua pengelolaan badan-badan publik, as all management of public service institutions must be helddalam proses penyelenggaraan negara dan pemerintahan, accountable to the public.wajib dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.Semua Badan Publik, menurut UU KIP, berkewajiban menyam­ According to KIP Act, all of public institutions are obliged topaikan informasi publik secara terbuka kepada masya­ rakat. disclose their materials to the public. However, the Act alsoNamun demikian, dalam UU ini diatur pula informasi yang exempts certain information from public access as set forthdikecualikan, di mana informasi tersebut tidak dapat diberikan/ in article 17 of this Act, unless the Information Commissiondiakses oleh publik (pemohon) sebagaimana diatur dalam pasal decided otherwise.17 UU ini, kecuali atas putusan Komisi Informasi.UU juga mengamanatkan pendirian Komisi Informasi sebagai Moreover, the KIP Act mandates the arrangement of thelembaga mandiri yang berfungsi menjalankan UU dan peraturan Information Commission as an independent agency topelaksanaannya; menetapkan petunjuk teknis standar layanan administer and implement the Act; setup technical guidelinesinformasi publik; dan menyelesaikan sengketa informasi publik for public information standard service, and resolve disputesmelalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi. on public information through mediation and/or adjudication of litigation.Komisi Informasi Pusat periode pertama (2009–2013), yang The Central Information Commission on its initial working periodberanggotakan 7 (tujuh) komisioner, dibentuk berdasarkan of 2009–2013, consists of seven commissioners, constituted underKeppres No. 48/P Tahun 2009 setelah melalui uji kepatutan Presidential Decree No. 48 / 2009, inaugurated after passing fit anddan kelayakan oleh Komisi 1 DPR RI. Dari ketujuh anggota proper test by the House of Representatives. Of those seven, two ofKomisi Informasi, 2 (dua) orang di antaranya mewakili unsur them representing the government, namely Amirudin and Hennypemerintah, yakni Amirudin dan Henny S. Widyaningsih, dan S. Widyaningsih, while five other representing public communities,5 (lima) orang lainnya mewakili unsur masyarakat, yakni Abdul namely Abdul Rahman Ma’mun, Ahmad Alamsyah Saragih, DonoRahman Ma’mun, Ahmad Alamsyah Saragih, Dono Presetyo, Presetyo, Ramly Amin Simbolon, and Usman Abdhali Watik.Ramly Amin Simbolon, dan Usman Abdhali Watik.Berdasarkan aturan internal Komisi Informasi Pusat, Ketua dan Based on the internal rule of Central Information Commission,Wakil Ketua dipilih setiap 2 tahun sekali. Oleh karena itu di the Chairman and Vice Chairman are elected every two years.pertengahan tahun 2011 dilakukan pergantian Ketua dan Wakil Therefore, in medio of 2011, Abdul Rahman Ma’mun replacedKetua. Abdul Rahman Ma’mun menggantikan Ahmad Alamsyah Ahmad Alamsyah Saragih as Chairman, and Usman Abdhali WatikSaragih selaku Ketua, dan Usman Abdhali Watik menggantikan took Henny S. Widyaningsih’s post as Vice Chairman.Henny S. Widyaningsih. 11
  • 12. Di tahun 2011 atau tahun kedua pemberlakuan UU KIP, Komisi In 2011, the second year of rendering the KIP Act, the CentralInformasi Pusat telah melakukan program kerja yang mengacu Information Commission has arranged a working program withkepada Rencana Strategis 2010–2013, yaitu tahap Penguatan. reference to the Strategic Plan 2010–2013, namely StrengtheningKinerja Komisi Informasi Pusat 2011 pada tahap penguatan Phase. Central Information Commission’s 2011 performance atkelembagaan inilah yang dituangkan dalam Laporan Tahunan this stage of institutional strengthening is, thenceforth, outlinedKomisi Informasi Pusat Tahun Anggaran 2011 ini. on our Annual Report. Ketua Komisi Informasi Pusat Chairman of the Central Information Commission Abdul Rahman Ma’mun 12
  • 13. 1. Pendahuluan 1. IntroductionKomisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi Information Commission is an independent agency to exercisemenjalankan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik Act of Freedom of Information and its derivative regulations,dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk teknis stipulate technical guidelines for public information servicestandar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa standards and resolve disputes on public information throughinformasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi non-litigasi. mediation and/or adjudication of non-litigation.Sesuai Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan In accord to Act No. 14/ 2008 on Public Information, CentralInformasi Publik, Komisi Informasi Pusat dibentuk dengan Information Commission was established with 4-year tenure.masa kerja 4 tahun. Dalam dokumen Rencana Strategis Komisi Central Information Commission’s Strategic Plan 2010–2013Informasi Pusat 2010–2013, dirancang tahapan perkembangan setup its developmental phase and working composition asdan komposisi program kerja sebagai berikut: follows:Sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Komisi Infor­ Central Information Commission’s working program is designedmasi Pusat untuk 2010–2013, secara gradual program kerja KI to gradually meet the 4-phase of institution development,Pusat dilaksanakan untuk memenuhi 4 tahapan perkembangan which are Development Phase in the first year, Strengtheningdalam membangun kelembagaan KI Pusat, yakni: Tahap Phase in the second year, Consolidation Phase in the third year,Pengembangan di tahun pertama, Tahap Penguatan di tahun and Service Phase for the fourth year.kedua, Tahap Pemantapan di tahun ketiga, dan Tahap Pelayanandi tahun keempat. Tahapan Pengembangan Komisi Informasi Pusat 2010–2013 2010 2013 Pelayanan Monitoring & Evaluasi 5% 10% 20% 20% Jaringan 20% 10% 30% Regulasi 10% 50% 30% 10% 35% 10% 20% Organisasi 10% 50% 40% 10% 10% Pengembangan Penguatan Pemantapan Pelayanan 2010 2011 2012 2013Di setiap tahapannya, program kerja KI dikemas dalam 5 do­ Each stage consists of five domain, in which each domain ismain, di mana di setiap domain diberikan bobot proporsi weighted proportionally based on the targets of each phase.yang berbeda-beda sesuai kebutuhan pemenuhan target di These five domains are: service, monitoring and evaluation,setiap tahap pengembangannya. Kelima domain itu meliputi: network, regulation, and organization.pelayanan (service), monitoring dan evaluasi (monitoring andevaluation), jaringan kerja (network), regulasi (regulation), danorganisasi (organization).Di tahun pertama (2010)—tahap pengembangan organisasi, In the first year (2010)—organizational developmentprogram kerja KI diberikan bobot proporsi: organisasi sebesar phase, Central Information Commission’s working programs50%, regulasi sebesar 30%, jaringan kerja sebesar 10%, dan are weighted: 50% for organization, 30% for regulation, 10%pelayanan sebesar 10%. Di tahun pertama ini, program for network, and 10% service. In this first year, monitoringmonitoring dan evaluasi belum dilaksanakan mengingat masih and evaluation domain was not carried out yet because thedi tahap set-up organisasi di tahun pertama. organization was still in it’s initial stage.Di tahun kedua (2011)—tahap penguatan kelembagaan, In the second year (2011)—institutional strengtheningproporsi program digeser ke fokus penguatan, sehingga phase, program’s focus was shifted to reinforcement. Therefore,komposisi program bergeser seperti berikut: Untuk program domains are weighted as follows: organizational program was 13
  • 14. organisasi dari yang semula proporsinya 50% diturunkan reduced from 50% to 30%, regulatory program was reduced asmenjadi 30%, program regulasi dinaikkan dari yang semula 30% well, from 30% to 35%, service program was raised from 10% tomenjadi 35%, program pelayanan dinaikkan dari yang semula 20%, and monitoring and evaluation program was implemented10% menjadi 20%, dan program monitoring dan evaluasi in this second year with the proportion of 5%. Network domainsudah mulai dilaksanakan di tahun kedua ini dengan proporsi kept its share of 10%, given its importance for both developmentsebesar 5%. Khusus untuk program jaringan proporsinya tetap, and strengthening phases.yaitu 10%, mengingat jaringan kerja sama-sama penting untukpengembangan maupun penguatan organisasi.Di tahun ketiga (2012)—tahap pemantapan, beda lagi, In the third year (2012)—consolidation phase, the weight ofproporsi programnya bergeser pula mengikuti arah dan each domain is different as well. Program’s proportion is designedorientasi pengembangan lembaga. Fokus program di tahun ini to follow the latter orientation of the developing agency. Focusadalah pemantapan sehingga program-program pun diarahkan of this year’s program is directed towards consolidation. Henceuntuk kepentingan itu. Karenanya proporsi program kembali the proportion is re shifted to: organizational developmentdigeser: program pengembangan organisasi turun menjadi program down 15% from the previous 30%, regulatory program15% dari yang sebelumnya 30%, program regulasi diturunkan reduced from 35% to 20%, network program remained at 10%,menjadi 20% dari yang semula 35%, program jaringan kerja program service increased to 35% from previously 20%, andtetap 10%, program pelayanan dinaikkan menjadi 35% dari monitoring and evaluation program is increased to 5%.yang sebelumnya 20%, dan program monitoring dan evaluasidinaikkan dari yang sebelumnya hanya 5% menjadi 20%.Di tahun keempat (2013)—tahap pelayanan, tahun di mana In the fourth year (2013)—stage of service, the final year ofKI Pusat di periode pertama berakhir. Fokus program kembali first batch of the Central Information Commission. The focusdiarahkan untuk benar-benar fokus pada penguatan fungsi of the program rerouted to service. Number of programs,pelayanan. Karenanya sejumlah program yang diturunkan consequently, are lowered to adjust the service functions.di tahun ini pun proporsinya digeser menyesuaikan dengan Organizational program is set to 10%, regulation takes 10% ofkebutuhan penguatan fungsi pelayanan. Komposisi program program, 10% for network, 50% for service, whereas monitoringditetapkan, antara lain: pengembangan organisasi sebesar 10%, and evaluation sets to 20%.regulasi sebesar 10%, jaringan kerja sebesar 10%, dan pelayanansebesar 50%, serta monitoring dan evaluasi sebesar 20%.Pada tahun 2011 fokus bergeser pada pelayanan (penyelesaian In 2011, the focus of the agency is weighted to service (resolvingsengketa dan konsultasi bagi badan publik) dan penyusunan disputes and providing consultation for public agencies) andregulasi-regulasi pendukung untuk memperkuat fungsi drafting supporting regulations to strengthen these servicepelayanan Komisi informasi Pusat berdasarkan perkembangan functions. In order to implement our work plans, the Centralkebutuhan. Untuk menjalankan berbagai rencana kerja tersebut, Information Commission commissioners are distributed to threeKomisi Informasi Pusat mendistribusikannya ke dalam tiga areas, namely: (i) Field of Dispute Resolution; (ii) Institutionalbidang kerja, yakni: (i) Bidang Penyelesaian Sengketa; (ii) Bidang Sector; (iii) Sector Advocacy, Dissemination and Education.Kelembagaan; (iii) Bidang Advokasi, Sosialisasi dan Edukasi.Untuk mendukung kerja ketiga Bidang tersebut telah dibentuk To support these three divisions, a secretariat was establishedsekretariat yang merupakan satuan kerja di kementerian as a working unit in the Ministry of Communications andKominfo. Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris dan Information. This secretariat is led by a secretary in charge ofmembawahi tiga bagian: (i) Bagian Administrasi Penyelesaian three sub-units: (i) Administration of Dispute Resolution; (ii)Sengketa, (ii) Bagian Perencanaan dan Program, (iii) Bagian Planning and Programs; (iii) General Section.Umum.Laporan Tahunan Komisi Informasi Pusat Tahun 2011 ini Central Information Commission’s annual report of 2011memuat kinerja Komisi Informasi Pusat tahun anggaran 2011, concludes our performance related to 2011 budget,perkembangan pelaksanaan kegiatan selama periode 2011 development of activities in 2011 in our respective field of work,berdasarkan masing-masing Bidang Kerja, Realisasi Anggaran Actual 2011 Budget, Work Plan and Activities Budget of 2012.2011, dan Rencana Kerja dan Anggaran Kegiatan tahun 2012. 14
  • 15. 2. Indikator Kinerja Komisi 2. Central InformationInformasi Pusat Commission’s Performance IndicatorsKomisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi Information Commission is an independent agency to exercisemenjalankan Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya, Act of Freedom of Information and its implementing regulations,menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik stipulate technical guidelines for public information servicedan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi standards and resolve disputes on public information throughdan/atau ajudikasi non-litigasi. regulatory and/ or adjudication of non-litigation.Pada saat pembentukan, berdasarkan RPJMN dan Renstra Ke­ At the time of formation, RPJMN and Strategic Plan of Ministrymen­ erian Kominfo, ditetapkan tiga indikator kinerja dalam pe­ t of Communications stipulated three performance indicators tolak­anaan tugas dan fungsi Komisi Informasi. Ketiga indikator s gauge performance and functions of this commission. Theseutama tersebut adalah: (i) persentase Badan Publik yang melak­ three main indicators are: (i) percentage of public agenciessanakan ketentuan KIP; (ii) persentase penyelesaian sengketa to implement KIP provisions, (ii) percentage of settled publicinformasi publik, dan (iii) persentase pelaksanaan kegiatan information disputes, and (iii) percentage of activities conductedKomisi Informasi Pusat. by Central Information Commission.n Indikator Output-1: Presentase Badan Publik yang n Output Indicator-1: Percentage of public agencies tomelak­ anakan ketentuan Keterbukaan Informasi Publik s implement provisions of public disclosureBerdasarkan UU KIP, paling tidak ada tujuh ketentuan yang harus Based on KIP Act, there are at least seven provisions that mustdijalankan oleh Badan Publik. Dari tujuh ketentuan tersebut be exercised by public agencies. Of those seven provisions,dapat disusun beberapa variabel kunci pelaksanaan UU KIP several key variables are derived to measure public agenciesoleh Badan Publik. Variabel tersebut adalah: (i) Pembentukan compliance on KIP Act. Those variables are: (i) Installment ofPejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID); (ii) Management Officer for Information and DocumentationPengklasifikasian dan penyediaan informasi oleh Badan Publik; (PPID); (ii) Classification and provision of information by public(iii) Penyusunan SOP layanan informasi. agency; (iii) Arrangement of SOP for information services.Komisi Informasi Pusat memiliki kompetensi untuk menyele­ aikan s Central Information Commission is authorized to settle publicSengketa Informasi Publik di Badan Publik tingkat Pusat. Hingga information disputes at the public agency on the national level.saat ini, Komisi Informasi baru memonitor dua variabel utama Until now, Information Commission has set two main variablesuntuk melihat tingkat kepatuhan Badan Publik tingkat Pusat, yakni: to measure level of compliance of public agency on nationalpertama, pembentukan PPID di tingkat Kementerian dan Lembaga. level, which are: firstly, the establishment of PPID in ministriesKedua, pelaksanaan kewajiban mempublikasikan informasi secara and institutions of equal level. Secondly, the compliance ofberkala sebagaimana diatur pasal 9 UU KIP. public agency to publish information on a regular basis as stipulated in article 9 of UU KIP.Adapun ketentuan untuk mendokumentasikan informasi yang As for provisions for archiving information that must bewajib tersedia setiap saat, sebagaimana diatur pasal 11 UU available at any time, as acknowledge in Article 11 of UU KIP,KIP, dan penyusunan SOP layanan informasi belum merupakan and arrangement of SOP for information service, both are notvariabel yang dipantau pada tahun 2011. Pemantauan atas monitored in 2011. These variables will be monitored in 2012, invariabel ini akan dilakukan mulai tahun 2012, guna melihat accord to implementation progress on the national level.perkembangan pelaksanaan di Badan Publik tingkat Pusat.Baru 29% Badan Publik tingkat Pusat yang membentuk PPID. On average, merely 29% of public agencies at nationalPemantauan dilakukan terhadap 34 Kementerian dan 129 Lem­ level formed PPID. This monitoring was conducted overbaga di tingkat Pusat. Fokus sosialisasi dan tingginya permin­ 34 ministries and 129 institutions. 71.0% of ministerial publictaan informasi kepada Kementerian menyebabkan Badan Publik agencies formed PPID due to high demand of information,Kementerian mencapai porsi pembentukan PPID 71.0%, sedangkan followed by intense socialization by KIP. Whereas, only 22.5%Badan Publik Lembaga Non Kementerian hanya mencapai 22.5 of non-ministerial public agencies conducted similar measure.%. Dengan demikian, secara keseluruhan baru 29% Badan Publik Thus, the overall outcome is 29%.tingkat Pusat yang telah membentuk PPID. 15
  • 16. Tahapan Pengembangan Komisi Informasi Pusat 2010–2013Ada 9 Kementerian dan Lembaga yang mencapai skor di There are nine ministries and institutions scored above 50%atas 50% untuk penyediaan informasi berkala. Komisi In­ for its provision of regular information. Central Informationfor­­ masi Pusat melakukan monitoring terhadap pelaksanaan Commission observed implementation of Article 9 of KIP Actpasal 9 UU KIP, tentang penyediaan informasi berkala, pada 28 on provision of regular information on 28 September 2011.September 2011. Hasil monitoring menunjukkan bahwa ham­ The result indicated that most institutions did not update theirpir sebagian besar kementerian lembaga belum melakukan websites content periodically as instructed by the KIP Act andpenye­uaian isi (content) situs mereka berdasarkan jenis-jenis s Information Commission Regulation No. 1/2010 on Publicinfor­ asi berkala yang telah diatur oleh Undang-undang KIP m Information Services Standards. The highest rate achieved bydan Peraturan Komisi Informasi No. 1 tahun 2010 tentang the Ministry of Communications (68.0).Standar Layanan Informasi Publik. Angka tertinggi dicapai olehKementerian Kominfo (68.0). Tabel–2.1 Laporan Pelayanan Informasi Publik di Badan Publik Jumlah Informasi Publik Badan Publik Permintaan Diberikan Tidak Diberikan Dalam Proses Kementerian Kominfo 723 684 10 42 Kementerian Kesehatan 925 923 1 1 Kementerian keuangan 70 60 10 0 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 906 Tidak dilaporkan Tidak dilaporkan - Badan Pemeriksa Keuangan dan 299 106 87 - Pembangunan (BPKP) Sumber: Laporan Tahunan Layanan Informasi di Badan PublikJumlah sengketa informasi relatif kecil dibandingkan The number of disputes on information disclosure isjumlah permintaan. Dalam laporan beberapa kementerian relatively small compared to the amount of request fordan lembaga yang memiliki peringkat tinggi, hanya sebagian information. High ranked ministries and agencies reported,kecil jumlah informasi yang ditolak dan diadukan untuk only small amount of request is rejected and reported tomendapatkan penyelesaian sengketa ke Komisi Informasi. Information Commission for further settlement. There was noBelum dilakukan pemantauan lebih mendalam, apakah comprehensive research whether the low number is due to:rendahnya aduan tersebut disebabkan oleh karena: (i) pemohon (i) requests were rejected; (ii) applicants did not understandinformasi menerima penolakan; (ii) tidak memahami prosedur procedures for settling disputes through the Informationpenyelesaian sengketa melalui Komisi Informasi; (iii) mengetahui Commission; (iii) applicants recognized the procedures, butprosedur pengaduan, tapi enggan mengadukan penolakan. were reluctant to file complains. In fiscal year 2012, monitoringPada tahun anggaran 2012 akan dilakukan monitoring dan and evaluation measures will be conducted concerning thisevaluasi terhadap kondisi ini. matter. 16
  • 17. Hanya 7 Pemerintah Provinsi yang mencapai skor di atas Only seven Provincial Government scored above 50% for50% untuk kategori penyediaan informasi berkala dan providing regular information and establishing of thepembentukan Komisi Informasi Provinsi. Komisi Informasi Provincial Information Commission. Central InformationPusat melakukan monitoring terhadap pelaksanaan pasal 9 UU Commission observed implementation of Article 9 of KIP ActKIP, tentang penyediaan informasi berkala, pada 33 provinsi. for provision of regular information on 33 provinces. The resultsHasil monitoring per 31 Oktober 2011 menunjukkan bahwa of monitoring by 31 October 2011, showed that most of thehampir sebagian besar pemerintah provinsi belum melakukan provincial governments did not adjust their website contents Mediasi sengketa informasi. Termohon Walikota Jakarta Timur KIP gelar sidang ajudikasi sengketa informasi pertanahan antara Pemohon Agus memberi informasi kepada Pemohon warga Jakarta Suseno Jember dengan Termohon BPN Provinsi Jatim yang berlangsung di Surabaya, Kamis (29/3/2012).penyesuaian isi (content) situs mereka berdasarkan jenis-jenisinformasi berkala yang telah diatur oleh Undang-undang KIP and provide periodical information as requested by KIP Act anddan Peraturan Komisi Informasi No. 1 tahun 2010 tentang Commission Regulation KIP No. 1/2010 on Public InformationStandar Layanan Informasi Publik. Untuk pembentukan Komisi Service Standards. As for Information Commission, only 12Informasi, baru mencapai angka 12 Provinsi. Angka tertinggi provinces have established such body on their respective area.untuk skor kepatuhan dicapai oleh Pemerintah Provinsi Jawa The Provincial Government of East Java reached the highestTimur (65.6). score for compliance (65.6).n Indikator Output-2: Presentase Sengketa Informasi n Output Indicator-2: Percentage of Public InformationPublik Yang Terselesaikan Disputes ResolvedAda 48% sengketa yang telah diselesaikan. Dari total 495 Approximately 48% of disputes have been resolved. Of totalpermohonan penyelesaian sengketa yang masuk ke Komisi 495 requests for dispute settlement until December 2011, aInformasi Pusat hingga Desember 2011, sebanyak 237 sudah number of 237 was successfully resolved by Central Informationberhasil diselesaikan oleh Komisi Informasi Pusat, baik melalui Commission, either through mediation, adjudication, with­mediasi, ajudikasi, penarikan permohonan penyelesaian seng­ drawal or termination, or through Preliminary Examinationke­ informasi publik maupun penghentian melalui tahap ta Council (MPP). Overall, number of disputes resolved by CentralMajelis Pemeriksaan Pendahuluan (MPP). Secara keseluruhan Information Commission is still below 50%.jumlah sengketa yang berhasil diselesaikan Komisi InformasiPusat masih di bawah 50%. Tabel–2.1 Status Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Jumlah Status 2010 2011 Total Proses Majelis Pemeriksaan Pendahuluan 106 106 Mediasi berjalan 12 108 120 Ajudikasi berjalan 13 19 32 Ditolak/dicabut 13 139 152 Mediasi Selesai 20 36 56 Ajudikasi selesai 18 11 29 Total Sengketa Informasi 76 419 495 17
  • 18. Secara keseluruhan jumlah sengketa informasi yang didaftarkan Overall number of disputes registered to Central Informationke Komisi Informasi Pusat mengalami lonjakan lebih dari 5 kali Commission surged to more than five times. In 2010, Centrallipat. Pada tahun 2011 jumlah sengketa yang didaftarkan 76 Information Commission filed 76 cases. The number waskasus, meningkat menjadi 419 kasus pada tahun 2011. increased to 419 cases in 2011.n Indikator Output-3: Jumlah Kegiatan Komisi Informasi n Output Indicators-3: Number of Conducted Activities byPusat Yang Terlaksana The Central Information CommissionHampir semua kegiatan terlaksana, tetapi sisa anggaran Nearly all of planned activities carried out, but the remainingbelum teralokasikan untuk membiayai kegiatan baru. Jum­ budget was not able to finance further activities. Budgetlah realisasi anggaran Komisi Informasi Pusat pada tahun 2011 realization of 2011 came to 85.1%. The remaining budget mostlymencapai 85.1%. Sebagian besar anggaran tersisa berasal dari derived from completed activities. Total calculation of inventorieskegiatan yang telah selesai dilaksanakan. Hasil inventarisasi completed in the last quarter of 2011. Hence, the remaining budgetbaru diperoleh pada triwulan terakhir sehingga sebagian besar could not be allocated to new activities through budget revisionpenghematan tak mungkin dialokasikan menjadi kegiatan scheme. This was caused by: (i) intense and ongoing programbaru melalui skema revisi anggaran. Hal ini disebabkan oleh: (i) activities; (ii) long process of budget allocation to procurement ofpelaksanaan kegiatan lain yang masih memiliki intensitas tinggi; expenditures (more than three months).(ii) pengalokasian ke belanja barang yang diperlukan akanmenghadapi proses pengadaan yang memakan waktu cukuppanjang (lebih dari 3 bulan).Pada Diagram-2.3 terlihat bahwa ada 3 jenis kegiatan yang Chart-2.3 shows three types of activity that have not beentidak terselesaikan. Dua di antaranya hanya terealisasi sebagian completed. Two of which were only partially accomplished(pembuatan CD audio visual dan penyuluhan dan penyebaran (audio visual CD production and counseling and disseminationstandar layanan informasi ke badan Publik) dan satu kegiatan of information service standards to public agencies) and one oftidak terlaksana sama sekali (penyusunan road map pelayanan which was not completed at all (drafting of public informationinformasi publik). services road map). Diagram–2.3 Realisasi Anggaran dan Kegiatan 2011 18
  • 19. 3. Bidang Kelembagaan 3. Institutional UnitBidang Kelembagaan Komisi Informasi (KI) memiliki tugas: (1) Me­ Information Commission’s Institutional Unit carries our duties asnyusun pelaksanaan regulasi internal untuk kepentingan meng­ follows: (1) drafting internal regulations related to Informationefek­ tifkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kelembagaan Commission’s function and institutional duties; (2) drafting,Komisi Informasi; (2) Menyusun, memantau, dan mengevaluasi monitoring, and evaluating policies towards public agencies;arah kebijakan pelayanan informasi bagi badan publik; (3) Melaku­ (3) coordinating and establishing cooperation with partnerkan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga mitra; (4) Mela­ institutions; (4) monitoring and evaluating implementationkukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan UU KIP dan of KIP Act and its derivative regulations on public agenciesperaturan turunannya di Badan Publik di seluruh Indonesia. throughout Indonesia.Pada tahun 2011, bidang kelembagaan menangani 7 kegiatan. In 2011, Institutional Unit was in charge of seven activities.Satu kegiatan yang tidak terlaksana dengan pertimbangan One activity was not conducted due to time constraint and thewaktu dan kesiapan substansi. Penyusunan roadmap semula readiness of the substance. Drafting the road map was originallyditu­jukan untuk menentukan arah perkembangan informasi intended to determine development stages of IndonesiaIndonesia yang melibatkan berbagai stakeholder. Terkait information disclosure, involving various stakeholders.dengan keanggotaan Indonesia dalam OGP (Open Government Indonesia is member of OGP (Open Government Partnership),Partner­ship), upaya pengumpulan stakeholder dalam menyusun therefore, steps to collect inputs from stakeholders regardinglangkah-langkah keterbukaan informasi ke depan telah dila­ u­ k information disclosure have been made by the Presidentialkan oleh Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengen­ Work Unit for Supervision and Control of Development (UKP4)dalian Pembangunan (UKP4) yang berkoordinasi dengan Komisi in coordination with the Central Information Commission. TheInformasi Pusat. Atas pertimbangan tersebut, maka Komisi Central Information Commission took this matter into accountInformasi Pusat memilih tidak melakukan kegiatan ini agar tidak and decided to discard the activity in order to avoid overlap.terjadi tumpang tindih.1. Kerjasama dengan Lembaga Lain 1. MoU with Other InstitutionsMaksud dan tujuan kegiatan ini adalah membangun kerjasama It is meant as activities to build strategic partnership with severaldengan beberapa lembaga strategis terkait efektivitas pelaksa­ institutions. Hence, Information Commission would be able tonaan tugas Komisi Informasi dalam penyelesaian sengketa carry out its task to settle information disputes more effectively,informasi sebagaimana yang diatur oleh UU KIP. Pada tahun as mentioned on KIP Act. In 2011, Information Commission has2011, dilakukan kerjasama dengan: (i) Dewan Pers terkait established partnership with: (i) The Press Council, on issuesdengan isu hambatan yang dialami oleh para jurnalis dalam related to barriers for journalists to access information on publicmengakses informasi di Badan Publik; (ii) Mahkamah Agung, agencies; (ii) The Supreme Court, in order to backup Informationdalam hal tindak lanjut putusan Komisi Informasi; (iii) Kemen­ Commission’s adjudications; (iii) Ministry of Home Affairs toterian Dalam Negeri untuk kepastian tafsir atas posisi sekretariat obtain certainty on structural position of Provincial InformationKomisi Informasi Provinsi; (iv) Kepolisian RI, berkaitan banyak­ Commission secretariat; (iv) the Police, numbers of public reportnya laporan dari masyarakat ke pihak kepolisian namun belum to the police has not met prerequisite requirements by law; (v) ofmemenuhi syarat-syarat sebagaimana diatur oleh undang- the Ombudsman of the Republic of Indonesia; (vi) Managementundang; (v) Ombudsman Republik Indonesia; (vi) Management Systems International (MSI).System International (MSI). Tabel–3.1 Kerjasama dengan Lembaga Lain Institusi Hasil MOU tentang Pelaksanaan UU No.14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik Dewan Pers Dalam Mendukung Kemerdekaan Pers. Penerbitan Peraturan MA No. 2 Tahun 2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Mahkamah Agung Informasi Publik di Pengadilan Rencana penerbitan surat edaran/peraturan menteri dalam negeri tentang struktur sekretariat Kementerian Dalam Negeri komisi informasi provinsi Draft/rencana penerbitan surat edaran Komisi Informasi tentang tindak lanjut penanganan Kepolisian RI sengketa informasi di kepolisian Ombudsman Republik Harmonisasi dalam hal penerimaan atas tindaklanjut laporan di ORI atau sengketa di Komisi Indonesia (ORI) Informasi Pusat, serta eksekusi putusan Komisi Informasi. Management System Rancangan MoU Komisi Informasi Pusat dengan MSI untuk bantuan teknis penguatan International (MSI) kelembagaan dan SDM Komisi Informasi Pusat. 19
  • 20. Poin Pokok MoU KOMISI INFORMASI PUSAT dengan DEWAN PERS Tentang PELAKSANAAN UU NO. 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DALAM MENDUKUNG KEMERDEKAAN PERS • Pelaksanaan kegiatan jurnalistik terkait penerapan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. • Dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik, pers tunduk kepada UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik yang ditetapkan oleh Dewan Pers. (Pasal 7). Poin Pokok PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 2 TAHUN 2011 Tentang TATA CARA PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DI PENGADILAN Mekanisme Keberatan atas Putusan Komisi Informasi • Gugatan adalah Keberatan yang diajukan oleh salah satu atau para pihak yang secara tertulis menyatakan tidak menerima Putusan Komisi Informasi (selanjutnya disebut “Keberatan”). (Pasal 1 angka 1) • Pihak adalah pihak-pihak yang semula bersengketa di Komisi Informasi yaitu Pemohon informasi dengan Badan Publik negara atau Badan Publik selain Badan Publik negara. (Pasal 1 angka 10) • Pengadilan Negeri berwenang untuk mengadili sengketa yang diajukan oleh Badan Publik selain Badan Publik Negara dan/atau Pemohon Informasi yang meminta informasi kepada Badan Publik selain Badan Publik Negara. (Pasal 3 huruf a) • Pengadilan Tata Usaha Negara berwenang untuk mengadili sengketa yang diajukan oleh Badan Publik Negara dan/atau Pemohon Informasi yang meminta informasi kepada Badan Publik Negara. (Pasal 3 huruf a) Pelaksanaan Putusan Sengketa Informasi • Putusan Komisi Informasi yang berkekuatan hukum tetap dapat dimintakan penetapan eksekusi kepada Ketua Pengadilan yang berwenang oleh Pemohon informasi. (Pasal 12 angka1) • Terhadap putusan Komisi Informasi yang telah diputus namun belum dilaksanakan dapat dimintakan penetapan eksekusi. (Pasal 13 angka 1)2. Bimbingan Teknis Badan Publik untuk Penerapan SLIP 2. Public Agency Technical Guidance for Implementing SLIPKegiatan ini bertujuan untuk mengujicobakan kerangka This activity is aimed to trying out informational exemptionpengecualian informasi ke Badan Publik di beberapa tingkatan framework to public agencies at several levels (central, provincial,(pusat, provinsi, kabupaten/kota). Pilihan tema tersebut diambil county/city). This subject was chosen due to inquiries from PPIDkarena banyaknya permintaan dari para PPID di Badan Publik of public agency for standards and framework of exemptedmengenai kerangka standar pengecualian informasi. Kegiatan information. The activity was carried out in three locations (Solo,ini dilakukan di 3 lokasi (Solo, Kupang, dan Kepulauan Riau). Kupang, and Riau Islands). From these trials, Central InformationDari ujicoba akan diperoleh beberapa masukan yang akan Commission gained valuable inputs which would be used todigunakan untuk menyusun pedoman pengecualian informasi develop guidelines for exclusion of information disclosure.oleh Komisi Informasi Pusat.3. Mendorong Pembentukan KI Provinsi 3. Encouraging the Establishment of Provincial Information CommissionDalam praktik, pembentukan ini sangat ditentukan oleh ke­ In practice, the establishment of Provincial Information Commissionmauan politik dari pimpinan di daerah. Untuk hal tersebut is determined by political will of dignitaries in the region.Komisi Informasi melakukan kunjungan ke daerah dan mela­ Information Commission, therefore, visited several areas and heldkukan pembahasan bersama stakeholder setempat baik dari discussions with local stakeholders from the executive, legislative,eksekutif, legislatif, maupun masyarakat. Dari pembahasan ter­ and communities. Outputs of discussion are: (i) preliminary team tose­ ut dihasilkan: (i) tim persiapan pembentukan; (ii) rencana b establish Provincial Information Commission; (ii) preliminary workkerja pembentukan. plan for establishing Provincial Information Commission.Seleksi Komisi Informasi di provinsi secara umum terbagi Selection stages for commissioner of Information Commission inmenjadi tahapan-tahapan berikut : (i) Pembentukan tim seleksi provincial level are generally divided as follows: (i) establishmentoleh pemerintah daerah; (ii) Proses rekrutmen oleh tim seleksi, of selection team by the local government; (ii) recruitment processdihasilkan 10–15 nama; (iii) uji kepatutan dan kelayakan di by selection team; the team generated 10–15 names; (iii) fit andDPRD; (iv) pelantikan oleh Gubernur. proper test in the parliament; (iv) inauguration by the governor.Hingga Desember 2011 telah terbentuk 11 Komisi Informasi Until December 2011, 11 Provincial Information CommissionsProvinsi. Yakni di Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, have been established, which are located in West Java, East Java,Banten, Gorontalo, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jakarta, Banten, Gorontalo, South Sumatera, Lampung, CentralDIY, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah. Yang menunggu Java, Yogyakarta, South Sulawesi, and Central Kalimantan. 20
  • 21. Tabel–3.2 Pembentukan Komisi Informasi Provinsi Tahapan Jumlah provinsi Persentase Telah terbentuk 11 33 % Menunggu pelantikan 5 15% Dalam tahap fit and proper test 2 6% Telah selesai seleksi oleh pansel 1 3% Dalam persiapan pembentukan tim seleksi 2 6% Belum melakukan upaya sama sekali 12 36% Jumlah 33 100%pelantikan adalah Sulawesi Utara, NTB, DKI Jakarta, Kalimantan Provinces awaiting inauguration are North Sulawesi, West NusaBarat, Kalimantan Timur. Provinsi yang sedang fit and proper test Tenggara, DKI Jakarta, West Kalimantan, and East Kalimantan.adalah Aceh dan Bali. Provinsi yang sudah melakukan seleksi di Provinces under fit and proper test are Aceh and Bali. A provinceeksekutif adalah Sumatera Utara. Provinsi yang sedang dalam undergoing executive selection is North Sumatra. Provincespersiapan pembentukan tim seleksi adalah Sumatera Barat, establishing selection team are West Sumatra and SouthSulawesi Tenggara. Dan 12 provinsi belum melakukan upaya Sulawesi. Whereas, 12 other provinces have not initiated thesama sekali. process at all.4. Rapat Koordinasi Nasional Komisi Informasi 2011 4. National Coordinating Meeting of Information Commission 2011Komisi Informasi terdiri atas KI Pusat dan KI daerah. Adapun Information Commission consists of Central Informationtugas-tugas penyusunan regulasi dimandatkan oleh UU KIP Commission and Regional Information Commission. Regulatorykepada KI Pusat. Oleh karena hubungan antara KI Pusat dan KI formulation function as mandated by KIP Act is assigned toDaerah tidak bersifat vertikal maka diperlukan suatu instrumen Central Information Commission. Due to its structural relationkoordinasi formal agar: (i) regulasi yang disusun mencerminkan between Central and Regional Information Commission that iskebutuhan bersama; (ii) menjaga kesatuan hukum dalam proses not vertical, consequently, formal coordinating instruments arepenyelesaian sengketa agar tidak terjadi perbedaan perlakuan required for: (i) regulation made reflects the common needs; (ii)dalam putusan KI pusat maupun KI daerah; (iii) mempercepat maintaining unanimity of law in dispute resolution process, andperkembangan kapasitas komisi informasi yang baru terbentuk avoiding differences upon adjudication by Central and Regionalmelalui forum konsultasi untuk berbagi pengalaman. Information Commission; (iii) accelerating newly established Information Commission’s capacity through consultation forum and experience sharing.Rakornas di Yogyakarta pada tanggal 30 Juni 2011 dihadiri oleh National Coordinating Meeting in Yogyakarta on 30 June 20118 Komisi Informasi. Dalam pertemuan tersebut dibahas bebe­ was attended by eight Information Commissions. The meetingrapa hal krusial terkait dengan efektivitas pelaksanaan sengketa discussed several crucial subjects regarding to the effectivenessinformasi di beberapa daerah. Hasil pembahasan tersebut ditu­ of dispute settlement conducts in numerous regions. Theangkan dalam keputusan Rakornas Komisi Informasi Pusat. results of the discussion are set forth in the Accord of Central Information Commission.5. Monitoring dan Evaluasi Badan Publik Dalam 5. Public Agencies Monitoring and Evaluation asPelaksanaan UU KIP Implementation of KIP ActBerdasarkan UU KIP, paling tidak ada tujuh ketentuan yang harus Based on KIP Act, there are at least seven provisions that mustdijalankan oleh Badan Publik. Dari tujuh ketentuan tersebut be exercised by public agencies. Of those seven provisions,dapat disusun beberapa variabel kunci pelaksanaan UU KIP several key variables are derived to measure public agenciesoleh Badan Publik. Variabel tersebut adalah: (i) Pembentukan compliance on KIP Act. Those variables are: (i) Installment ofPejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID); (ii) Management Officer for Information and DocumentationPengklasifikasian dan penyediaan informasi oleh Badan Publik; (PPID); (ii) Classification and provision of information by public(iii) Penyusunan SOP layanan informasi; agency; (iii) Arrangement of SOP for information services.Komisi Informasi Pusat memiliki kompetensi untuk menyelesai­ Central Information Commission is authorized to settle publickan Sengketa Informasi Publik di Badan Publik tingkat Pusat. information disputes at the public agency on the national level.Hingga saat ini, Komisi Informasi baru memonitor dua varia­ el b Until now, Information Commission has set two main variablesutama untuk melihat tingkat kepatuhan Badan Publik tingkat to measure level of compliance of public agency on nationalPusat, yakni: pertama, pembentukan PPID di tingkat Kemen­ level, which are: firstly, the establishment of PPID in ministriesterian dan Lembaga. Kedua, pelaksanaan kewajiban mem­ and institutions of equal level. Secondly, the compliance of 21
  • 22. Keputusan Rapat Koordinasi Nasional Komisi Informasi Republik Indonesia BIDANG KELEMBAGAAN 1. Struktur sekretariat KI Provinsi diusulkan eselon III-A dengan dibantu kasubbag yang menangani urusan umum, keuangan, perencanaan dan program, serta kepaniteraan (administrasi pengaduan dan penyelesaian sengketa) dengan meminta Kementerian Dalam Negeri membuat payung hukum (Permendagri) yang dapat digunakan sebagai rujukan membuat Struktur Organisasi Sekretariat KI Provinsi. 2. Personalia yang diangkat untuk mengisi jabatan dalam Sekretariat KI Provinsi adalah personalia yang berasal dari Satuan Kerja yang membidangi Komunikasi dan Informatika, dan/atau Dinhubkominfo, dan/atau Biro Kehumasan apabila Satuan Kerja yang membidangi Komunikasi dan Informatika dan/atau Dinhubkominfo tidak ada. 3. Perlunya pengaturan tentang standarisasi pembiayaan APBD yang diterbitkan Kementerian Dalam Negeri untuk pembiayaan Komisi Informasi Provinsi terkait honorarium, tunjangan, dan fasilitas yang disetarakan dengan eselon II. 4. Kode Etik Komisi Informasi diusulkan ditetapkan sebagai Kode Etik yang berlaku secara nasional dengan penyempurnaan-penyempurnaan isi kode etik yang memuat kode etik yudisial karena komisioner KI juga menjalankan fungsi peradilan. BIDANG PENYELESAIAN SENGKETA 1. Pada Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 11 ditambahkan mengenai “Kepaniteraan”. 2. Pada Pasal 6 ayat 1 dipenjelasan dilengkapi tentang kuasa hukumnya. 3. Pasal 34 disepakati dihapuskan : ‘Mediator wajib mengusulkan agar kesepakatan para pihak memuat sanksi bagi pihak yang dikemudian hari tidak melaksanakan kesepakatan dan putusan yang telah diambil’. 4. Pasal 35 huruf b menambahkan substansi bahwa “para pihak bisa menarik diri setelah mediasi pertama dilakukan atau selama 14 Hari Kerja sejak undangan mediasi pertama.” 5. Alur Administrasi Penyelesaian Sengketa Informasi disetujui dengan catatan tambahan *Disesuaikan dengan kondisi yang ada. 6. Amar Putusan: yang asli bermaterai dan ditandatangan oleh Ketua Majelis Komisioner dan panitera, diparaf oleh Ketua Majelis Komisioner ditiap-tiap lembar. Salinan, bermaterai dan ditandatangan oleh Panitera & diparaf ditiap-tiap lembar oleh Panitera, Ketua Majelis dan Anggota Majelis cukup tertanda (ttd). BIDANG EDUKASI, SOSIALISASI, DAN ADVOKASI 1. Menjadikan tanggal 28 September sebagai “Hari Keterbukaan Infomasi Publik” yang diperingati secara serentak di tingkat Nasional dan Provinsi. 2. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan keterbukaan informasi di Badan Publik dengan membuat pemeringkatan dan penghargaan kepada Badan Publik di tingkat nasional dan provinsi dalam menerapkan keterbukaan informasi. 3. Melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dengan mendorong simpul-simpul komunitas masyarakat peduli informasi publik di daerah.publikasi informasi secara berkala sebagaimana diatur pasal 9 public agency to publish information on a regular basis asUU KIP. Untuk Pemerintahan Provinsi, selain kepatuhan terhadap stipulated in article 9 of UU KIP. As for provincial government,ketentuan pada pasal 9 UU KIP, Komisi Informasi Pusat juga in addition to compliance with Article 9 of KIP Act, Centralmemasukkan pembentukan Komisi Informasi Provinsi sebagai Information Commission also included establishment ofvariabel kepatuhan terhadap UU KIP. Provincial Information Commission as extra variable.Adapun ketentuan untuk mendokumentasikan informasi yang On the other hand, provisions for archiving information thatwajib tersedia setiap saat, sebagaimana diatur pasal 14 UU must be available at any time, as acknowledge in Article 11 of UUKIP, dan penyusunan SOP layanan informasi belum merupakan KIP, and arrangement of SOP for information service, both arevariabel yang dipantau pada tahun 2011. Pemantauan atas va­ not yet monitored in 2011. These variables will be monitored inria­ el ini akan dilakukan mulai tahun 2012, guna melihat per­ b 2012, in accord to implementation progress on public agencieskem­ angan pelaksanaan di Badan Publik tingkat pusat maupun b at national and regional level.provinsi.Jumlah Badan Publik tingkat pusat yang telah membentuk On average, merely 29% of public agencies at nationalPPID baru mencapai 29%. Dari 34 Kementerian dan 129 level formed PPID. This monitoring was conducted over 34Lembaga di tingkat Pusat, secara rata-rata baru 29% yang ministries and 129 institutions. Of those 34 ministries and 129membentuk PPID. Rendahnya pembentukan PPID ini diperkira­ institutions at national level, on average, only 29% establishedkan telah membebani peran pejabat yang membidangi doku­ PPID. The low number of PPID was assumed to have weighedmentasi, informasi dan kehumasan pada masing-masing Badan down officials in charge of documentation, information and 22
  • 23. Tabel–6.3 Kewajiban Badan Publik berdasarkan UUKIP Bertanggung jawab dalam penyimpanan, pendokumentasian, penyediaan, 1 Pasal 1 angka 9 UUKIP dan/atau pelayanan informasi di badan publik. Melakukan pengklasifikasian informasi publik berdasarkan kategori informasi 2 Pasal 9, 10, 11, 14, 15 dan 16 yang wajib diumumkan secara berkala, serta-merta dan tersedia setiap saat. Membuat dan mengembangkan sistem penyediaan layanan informasi secara 3 Pasal 13 ayat (1) huruf b UUKIP cepat, mudah, dan wajar (Standar Operating Procedure). Membuat pertimbangan secara tertulis dalam memenuhi hak atas Informasi 4 Pasal 7 ayat (4) dan (5) UUKIP Publik (untuk informasi terbuka) Melakukan pengujian tentang konsekuensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Pasal 19 UUKIP (untuk informasi dikecualikan) 6 Melayani permohonan informasi berdasarkan permintaan. Pasal 22 UUKIP 7 Mengumumkan layanan informasi setiap tahun. Pasal 12 UUKIPPublik. Hal ini dikarenakan PP No. 61 tahun 2010 tentang Pelak­ public relations at respective public agencies. Government Lawsanaan UU KIP mengatur bahwa setiap Badan Publik diwajibkan PP No. 61 of 2010 on implementation of KIP Act instructedmembentuk PPID paling lambat Agustus 2011. Jika tak every public agency to establish PPID by August 2011. If PPID isterbentuk, maka peran tersebut dijalankan oleh pejabat yang not established, the role is taken over by the officials in chargemembidangi dokumentasi, informasi dan kehumasan. Dari 163 of documentation, information and public relations. Of all 163Kementerian/Lembaga, sejumlah 43 sudah memiliki PPID, dan of the Ministries/Institutions, 43 have already established PPID,83 Kementerian/Lembaga belum membentuk PPID. and 83 of Ministries/Agencies have not.Ada 9 Kementerian dan Lembaga yang mencapai skor di atas There are nine ministries and institutions scored above 50%50% untuk penyediaan informasi berkala. Komisi Informasi for its provision of regular information. Central InformationPusat melakukan monitoring terhadap pelaksanaan pasal 9 UU Commission observed implementation of Article 9 of KIP ActKIP tentang penyediaan informasi berkala pada 28 September on provision of regular information on 28 September 2011.2011. Hasil monitoring menunjukkan bahwa hampir sebagian The result indicated that most institutions did not update theirbesar kementerian lembaga belum melakukan penyesuaian isi websites content periodically as instructed by the KIP Act and(content) situs mereka berdasarkan jenis-jenis informasi berkala Information Commission Regulation No. 1/2010 on Publicyang telah diatur oleh Undang-undang KIP dan Peraturan Information Services Standards. The highest rate achieved byKomisi Informasi No. 1 tahun 2010 tentang Standar Layanan the Ministry of Communications (68.0).Informasi Publik. Angka tertinggi adalah Kementerian Kominfo(68.0) 23
  • 24. Dari monitoring terhadap 82 badan publik pusat, didapati Monitoring on 82 central public agencies resulted that mosthasil bahwa sebagian besar kementerian belum melaksanakan of the ministries did not comply KIP Act to provide type ofketentuan UU KIP untuk menyediakan informasi yang masuk information that must be available at any time, includingkategori wajib tersedia setiap saat, yakni laporan keuangan financial statements which are not published on ministry’stidak dipublikasikan di situs milik kementerian. website.Hanya 7 Pemerintah Provinsi yang mencapai skor di atas Only seven Provincial Government scored above 50% for50% untuk kategori penyediaan informasi berkala dan providing regular information and establishing of thepembentukan Komisi Informasi Provinsi. Komisi Informasi Provincial Information Commission. Central InformationPusat melakukan monitoring terhadap pelaksanaan pasal 9 UU Commission observed implementation of Article 9 of KIP ActKIP tentang penyediaan informasi berkala pada 33 provinsi. for provision of regular information on 33 provinces. The resultsHasil monitoring per 31 Oktober 2011 menunjukkan bahwa of monitoring by 31 October 2011, showed that most of thehampir sebagian besar pemerintah provinsi belum melakukan provincial governments did not adjust their website contentspenyesuaian isi (content) situs mereka berdasarkan jenis-jenis and provide periodical information as requested by KIP Act andinformasi berkala yang telah diatur oleh Undang-undang KIP Commission Regulation KIP No. 1/2010 on Public Informationdan Peraturan Komisi Informasi No. 1 tahun 2010 tentang Service Standards. As for Information Commission, only 12Standar Layanan Informasi Publik. Untuk pembentukan Komisi provinces have established such body on their respective area.Informasi, baru mencapai angka 12 Provinsi. Angka tertinggi The Provincial Government of East Java reached the highestuntuk skor kepatuhan dicapai oleh Pemerintah Provinsi Jawa score for compliance (65.6).Timur (65.6).6. Benchmark Keterbukaan Informasi Publik di Luar Negeri 6. Benchmark on Transparency of Public Information Abroad Ketua Komisi Informasi Pusat (KIP) Abdul Rahman Ma’mun dan komisioner KIP Amirudin serta Dono Prasetyo bersama Lawrence S. Cooley (President of Management System International/ MSI), Betram I. Spector, Ph.D (Senior Technical Director of MSI) dan Sabrina (Expert Staff of MSI)., membahas kerjasama kelembagaan, di kantor MSI Washington DC.Kegiatan ini bertujuan melakukan kunjungan studi untuk The objective of this activity is to learn about: (i) model ofmempelajari: (i) model penyelesaian sengketa di Komisi resolving dispute in Information Commission; (ii) study patternInformasi; (ii) mempelajari pola kerjasama antara Komisi of cooperation between Information Commission and civilInformasi dan civil society untuk mendorong implementasi society in encouraging transparency of information. Theketerbukaan informasi. Kunjungan dilakukan ke: (i) Nepal; (ii) commission visited: (i) Nepal; (ii) United States; (iii) Canada.Amerika Serikat; (iii) Kanada. 24
  • 25. Dalam kunjungan ke Nepal dilakukan perbandingan regulasi In Nepal, the commission compared regulation on transparencyyang mengatur keterbukaan informasi dan pelaksanaannya of information and its implementation in Indonesia and Nepal.antara Indonesia dan Nepal. Selain itu, dipelajari juga bagaimana In addition, they also learn to take full advantage of legal aidmengoptimalkan jaringan bantuan hukum bagi masyarakat network to support community facing difficulties to accessmeng­ adapi kendala dalam mengakses informasi. h information.Di Amerika Serikat, Komisi Informasi melakukan kunjungan ke In the US, the commission visited National Security ArchiveNational Security Archieve (NSA). NSA adalah institusi independen (NSA) which is an independent institution established byyang dibentuk oleh perguruan tinggi. Dalam kunjungan ini dipelajari university. In this visit, they learned about how NSA collects,bagaimana pola-pola kerja dari NSA dalam mengumpulkan arsip- maintains, manages historical archives as well disseminatesarsip bersejarah terkait dengan keamanan, pengelolaannya, dan information related to the archives.pendistribusiannya.Di Kanada, dalam rangka konferensi internasional Komisioner Information Commission also sent their representatives toKomisi Informasi, KI Pusat mengirimkan Komisionernya untuk Canada to attend International Conference of Commissioner ofmendalami berbagai kesepakatan dan perkembangan mengenai Information Commission in order to study several agreementsisu terkini dalam kebebasan informasi. Dalam kunjungan tersebut and developments in issue of transparency of information andjuga dilakukan pertemuan dengan komisi informasi Kanada. freedom of information. During the visit, the commissioners also visit Information Commission of Canada.. Komisioner KIP Henny S. Widyaningsih dan Ramly Amin Simbolon serta Tenaga Ahli KIP Astrid Debora S.M bersama Komisioner Komisi Informasi Nepal, di Kathmandu, Nepal. 25
  • 26. 4. Bidang Penyelesaian 4. Public InformationSengketa Informasi Dispute Settlement DivisionKomisi Informasi Pusat, diberikan kewenangan untuk menye­ The Central Information Commission has the authority tolesaikan Sengketa Informasi Publik, yang menyangkut Badan resolve Public Information Dispute involving public offices atPublik pusat dan Badan Publik tingkat provinsi dan/atau Badan the central, provincial and district level for as long as provincialPublik tingkat kabupaten/kota, selama Komisi Informasi di and district office of Information Commission have not beenprovinsi atau Komisi Informasi kabupaten/kota tersebut belum established.terbentuk.Dalam Pelaksanaan tugasnya, Komisi Informasi Pusat yang In implementing their duties, Central Information Commission ismendapat dukungan administratif, keuangan, dan tata kelola supported by Secretariat which provide administrative, financialdari Sekretariat Komisi, bertanggung jawab kepada Presiden and management assistance. The commission is responsible todan menyampaikan laporan tentang pelaksanaan fungsi, tugas, President and reports their work to House of Representative.dan wewenangnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat RepublikIndonesia.Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi memiliki tugas: (i) The tasks of Public Information Dispute Settlement Division are:menyusun Standar Layanan Informasi Publik; (ii) menyusun (i) formulate Public Information Service Standard; (ii) formulateProsedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik; (iii) menjadi Procedure of Public Information Dispute Settlement; (iii) act askoordinator dalam pelaksanaan penyelesaian sengketa informasi coordinator in settling public information dispute reported todi Komisi Informasi (KI) Pusat; (iv) melakukan monitoring dan Central Information Commission; (iv) conduct monitoring andevaluasi terhadap pelaksanaan Peraturan Komisi Informasi no evaluation on implementation of Information Commission1 tentang SLIP dan Peraturan Komisi Informasi no 2 tentang Decree No.1 on Public Information Service Standard and No.2Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi; (v) membuat doku­ on Procedure of Public Information Dispute Settlement; (v)mentasi dan laporan berkala tentang pelaksanaan penyelesaian record and report settlement of public information disputesengketa informasi; dan (vi) melakukan monitoring paska pe­ regularly; and (vi) conduct monitoring following settlement ofnanganan sengketa informasi dan melakukan upaya pelak­a­ s the dispute.naannya.4.1. Penanganan Sengketa Informasi Publik Sesuai UU No. 4.1. Settlement of Public Information Dispute based on Act 14 tahun 2008 No.14/2008Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 14 Tentang Since the enactment of Act No.14 on Public InformationKeterbukaan Informasi Publik di tahun 2010 hingga akhir Disclosure in 2010 until the end of 2011, Informationtahun 2011, tercatat Komisi Informasi Pusat telah menerima Commission has received a total of 495 appeals for settlementtotal 495 permohonan penyelesaian sengketa informasi publik. of public information dispute in which 419 out of them wereSementara Jumlah permohonan penyelesaian sengketa infor­ received in 2011.masi publik yang masuk ke Komisi Informasi Pusat di tahun2011 saja tercatat berjumlah 419 permohonan. 26
  • 27. Berdasarkan data Komisi Informasi Pusat, terlihat bahwa The data collected by Central Information Commission showsterdapat peningkatan yang sangat signifikan dalam jumlah that there is a significant increase in the number of appeal inpermohonan penyelesaian sengketa informasi publik yang 2011 compare to 2010. Such fact can serve as indicator of themasuk ke Komisi Informasi Pusat dibandingkan dengan jumlah raise in awareness of the public on rights of information.permohonan di tahun 2010. Hal ini dapat menjadi indikatorawal bahwa pemahaman masyarakat akan hak atas informasitelah mengalami peningkatan.Pemohon Informasi Publik didominasi oleh Pemohon Appeals are mostly proposed by individuals. In 2011,Individu. Sepanjang tahun 2011, Permohonan penyelesaian appeals for settlement of public information dispute are mostlysengketa informasi publik yang didaftarkan ke Komisi Informasi proposed by individuals (298 appeals) compare to 121 appealsPusat lebih didominasi oleh Pemohon Individu, yang berjumlah by organization or community groups.298 Permohonan, dibandingkan dengan Permohonanpenyelesaian sengketa informasi publik yang didaftarkan atasnama kelompok masyarakat atau organisasi, yang berjumlah121 permohonan.Permintaan oleh individu masih didominasi oleh beberapa per­ Appeals by individuals remain dominated by those requestingmohonan yang meminta informasi ke banyak Badan Publik. information in public institutions out of curiosity on whether orPermohonan informasi masih diwarnai oleh keinginan men­ not the institutions enforce the Act instead of direct needs ofcoba apakah mekanisme yang diinginkan oleh Undang-undang information.dijalankan oleh badan publik, bukan karena kebutuhan lang­sung terhadap informasi.Permintaan Informasi Publik masih berpusat di Kementerian Requests for Public Information are mostly directed towardsdan Lembaga. Berdasarkan catatan Komisi Informasi Pusat Ministries and Government Institutions. Central Informationsepanjang tahun 2011, Kementerian/Lembaga menjadi Badan Commission recorded that in 2011, Ministries and otherPublik yang paling banyak dimintai informasi oleh pemohon Government Institutions received most request for informationinformasi, dengan jumlah 265 permohonan, dan yang paling (265 requests) while Public Institutions such as Hospital onlysedikit dimintakan adalah Badan Publik Rumah Sakit, hanya received 5 requests.berjumlah 5 permohonan. 27
  • 28. Jenis informasi yang banyak diminta adalah informasi yang Information requested are those explicitly mentioned in Publictelah diatur secara eksplisit oleh UU KIP maupun Peraturan Information Disclosure Act and Information CommissionKI No. 01 tahun 2010. Berdasarkan catatan Komisi Informasi No.01/2010. Information Commission recorded that since thePusat, sejak Undang-undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keter­ enactment of the Act up to December 2011, there were 1732bukaan Informasi Publik secara resmi mulai berlaku efektif information requested at Public Institutions.hingga bulan Desember 2011, tercatat ada 1732 informasi yangdimintakan ke Badan Publik.Ada 83% sengketa jenis informasi terbuka yang telah diatur 83% of the disputes are based on open information explicitlysecara eksplisit oleh UU KIP maupun Peraturan Komisi Informasi quoted in Public Information Disclosure Act or InformationNo. 01 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik. Commission Decree No.01/2010 on Public Information ServiceFakta ini menunjukkan bahwa kebanyakan sengketa lebih Standard. Such fact shows that most disputes are caused bydisebabkan oleh hal-hal prosedural daripada substansi. Seba­ procedural problems instead of substance. Several causes of thegian besar sengketa terjadi karena: (i) Mayoritas informasi dispute are: (i) Most of the information requested have alreadyyang diminta telah memiliki standar dokumen, namun belum had standardized documentation but have not yet compileddikom­ ilasi oleh Badan Publik; (ii) Permintaan dan Keberatan p by Public Institutions; (ii) Requests that are not well responded;tidak direspons atau ditanggapi; (iii) Permohonan direspons (iii) Late response towards the request for information; (iv)tetapi melampaui batas waktu; (iv) Permohonan maupun kebe­ Requests are responded in timely manner but with differencesratan direspons tepat waktu, tetapi terjadi perbedaan persepsi in perception about the standard of the document requested.tentang standar. Faktor terakhir relatif lebih sedikit dibandingkan The final factor was less likely to appear compare to the initial3 faktor sebelumnya. three factors.Perkembangan penanganan sengketa: antara lonjakan Progress in settlement of dispute: between the significantinput semester pertama 2011 dan kejelasan posisi Komisi increase in the input of the first semester of 2011 and theInformasi. Dari total 495 permohonan penyelesaian sengketa clarity of position of Information Commission. Out of the totalyang masuk ke Komisi Informasi Pusat hingga Desember 2011, 495 appeals up to December 2011, 237 had already beensebanyak 237 sudah berhasil diselesaikan oleh Komisi Informasi settled by Central Information Commission through mediation,Pusat, baik melalui mediasi, ajudikasi, melalui penolakan pada adjudication, rejection at the level of Initial Examination Counciltahap Majelis Pemeriksaan Pendahuluan (MPP), maupun pena­ (Majelis Pemeriksaan Pendahuluan/MPP) and retraction of therikan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik oleh appeal.Pemohon.Lonjakan input (pendaftaran sengketa) pada semester pertama The significant increase in number of appeal in the first semester2011 telah meningkatkan intensitas penyelesaian sengketa. Di of 2011 has increased the intensity of settlement. On the othersisi lain, sekretariat yang pada periode tersebut belum setahun hand, secretariat of the commission has only been operatingterbentuk masih mengalami banyak penyesuaian. Penarikan in less than a year and was still struggling with changes anddan pergantian staf di unit yang menangani administrasi retraction of staffs especially in unit managing administrationpengaduan dan penyelesaian sengketa telah pula menyebabkan of appeals. Until the end of 2011, only 48% of the disputes weremeningkatnya beban pelaksanaan tugas ini. Hingga akhir 2011, settled.jumlah sengketa yang terselesaikan mencapai 48% atau kurangdari separuh jumlah sengketa yang didaftarkan ke Komisi Infor­masi Pusat. 28
  • 29. Beberapa sengketa berlanjut ke pengadilan, namun perbedaan Some of the disputes went to the court. However, differencestafsir terhadap UU KIP menyebabkan Komisi Informasi dite­ in interpretation of Public Information Disclosure Act are oftentapkan sebagai pihak tergugat oleh pengadilan. Kondisi ini caused Information Commission to be the party facing the lawturut menambah beban bagi unit yang menangani sengketa suit. Such situation increases the burden of unit as they have todi Komisi Informasi, karena meningkatnya frekuensi untuk attend court while the number of staffs remains inadequate tomenghadiri persidangan sementara untuk penambahan tenaga cover for their duties.belum dimungkinkan.Perkembangan lain yang cukup menyita perhatian adalah me­ The other development is the increase in the number ofningkatnya laporan ke Kepolisian akibat ditolaknya permo­ report to the police due to rejection of information request.hon­ informasi. Perbedaan tafsir dalam memperlakukan an Differences in interpretation of the Act trouble the investigators.keten­uan pidana telah menyebabkan kebingungan di pihak t Furthermore, requester objects with the substance of the rulingpenyidik. Lebih jauh, bahkan pemohon yang keberatan atas of information commission also choose to report to the police.sub­ tansi putusan komisi informasi juga memilih jalan melapor ske kepolisian.Melalui koordinasi dengan Mahkamah Agung, akhirnya Mah­ Coordination with the Supreme Court results in the issuekamah Agung menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung No. of Supreme Court Decree No.2/2011 enacted at the end of2 tahun 2011 menjelang akhir tahun. Melalui regulasi tersebut, the year. The decree regulate that information commissiondiatur bahwa Komisi Informasi bukanlah para pihak yang dapat are not the party subject to law suit in the case of objectiondigugat di pengadilan apabila terjadi keberatan atas putusan towards their decision. This decree also regulates execution ofKomisi informasi. Hal lain, regulasi ini juga mengatur tentang verdict. Moreover, to overcome differences in interpretationeksekusi putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. Adapun on punishment cited in Public Information Disclosure Act,untuk mengatasi perbedaan tafsir atas pemberlakuan ketentuan investigators have requested memo from Central Informationpidana pada UU KIP, para penyidik telah meminta diterbitkannya Commission. In response to such request, the commissionsurat edaran dari Komisi informasi Pusat. Untuk mengatasi hal initiate consultative meeting with investigators and thetersebut, melalui pertemuan konsultasi dengan para penyidik, commission agree to issue memo in 2012 as explain in table 2.1.akhirnya Komisi Informasi bersepakat untuk menerbitkantabel–2.1.surat edaran pada periode 2012 sebagaimana dijelaskan pada4.2. Pelatihan Mediasi 4.2. Mediation TrainingKomisi Informasi Pusat, sebagai lembaga yang bertugas mene­ Central Information Commission as an institution assignedrima, memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian to receive, examine, and settle appeal on Public InformationSeng­ eta Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi k Dispute through mediation and/or non-litigious adjudicationnonlitigasi yang diajukan oleh setiap Pemohon Informasi Publik, proposed by Public Information Requester is expected to bediharapkan dapat menyelesaikan sengketa informasi secara ce­ able to settle dispute fast, simple and with a low cost. Hence,pat, sederhana, dan berbiaya ringan. Untuk itu, diperlukan du­ the full support provided by Secretariat of Central Informationkung­n yang optimal dari seluruh jajaran Sekretariat Komisi a Commission.Informasi Pusat.Kegiatan ini dilakukan selama dua hari di Jakarta dengan me­ The training was conducted in Jakarta for two days involving allli­atkan seluruh Jajaran Komisi Informasi Pusat dan men­ b staffs of Central Information Commission and inviting severaldatangkan narasumber. Melalui kegiatan pelatihan mediasi resource persons. The training is expected to be able to increaseini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman the understanding of all staffs about mediation which in turnseluruh jajaran Komisi Informasi Pusat dan berimplikasi pada will improve the work of the commission.meningkatnya kinerja Komisi Informasi Pusat.4.3. Diskusi Ahli dalam Rangka Proses Penyelesaian 4.3. Expert Discussion on Process of Dispute Settlement SengketaKegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan beberapa per­ This activity is conducted in cooperation with several universitiesguruan tinggi, seperti Universitas Sumatera Utara untuk isu including Universitas Sumatera Utara for issues of DefencePertahanan dan Keamanan Negara khususnya Undang-Undang and Security especially related to Intelligent Act, UniversitasIntelijen, Universitas Diponegoro Semarang dengan tema Diponegoro for issues related to Privacy and InformationKerahasiaan Pribadi dan Keterbukaan Informasi, Universitas Disclosure, Universitas Padjadjaran for issues related ConcealingPadjadjaran dengan tema Pengecualian Informasi Dalam Information for Protection of Business and Natural ResourcesRangka Perlindungan Terhadap Persaingan Usaha yang Sehat and Universitas Hasanudin for issues related to Confidentialitydan Kerahasiaan Sumber Daya Alam, dan Universitas Hasanudin for Protection of National Economy.dengan tema Kerahasiaan untuk Perlindungan KetahananEkonomi Nasional. 29
  • 30. Diskusi ahli yang diadakan juga melibatkan beberapa pakar The discussion also involves experts and researchers to enrichdan sejumlah peneliti untuk memperkaya kajian yang dilakukan the perspective on each issue. The result of the discussion issesuai dengan tema masing-masing. Dari diskusi ahli ini a working paper serving as input for Central Informationdiperoleh sejumlah kertas kerja sebagai masukan bagi Komisi Commission in formulation exception in information disclosureInformasi Pusat dalam merumuskan pengecualian informasi di for each sector.masing-masing sektor.4.4. Memfasilitasi Pembentukan Jaringan Kerja Bantuan 4.4. Facilitate Establishment of Network of Legal Aid HukumSalah satu tujuan dibentuknya UU KIP juga bertujuan mendo­ One of the objectives of the enactment of Public Informationrong partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengambilan Disclosure Act is to encourage public participation in processkebijakan dan proses pengelolaan kebijakan badan publik. of decision making and management of policy in publicSeiring dengan hal tersebut muncul kebutuhan bantuan hukum institutions. With the enactment of the Act emerges the needdalam menghadapi sengketa informasi yang semakin lama for legal assistance to deal with growing number of informationsemakin jamak bermunculan. dispute.Tujuan kegiatan ini pada pokoknya lebih ditekankan untuk The objective of this activity is to assist both requester andmembantu masyarakat pemohon informasi maupun Badan Pu­ Public Institution to prepare for the enactment of the Act. Thisblik agar sama-sama memiliki persiapan awal yang cukup untuk activity was conducted in 4 cities; Palangkaraya, Surabaya,menerapkan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Manado and Palembang.Kegiatan ini dilakukan di 4 kota, yakni Palangkaraya, Surabaya,Manado, dan Palembang. 30
  • 31. 5. Bidang Advokasi, 5. Advocacy, SocializationSosialisasi dan Edukasi and Education DivisionBerdasarkan Renstra Komisi Informasi Pusat, tugas Bidang Based on Strategic Planning of Central Information Commission,ini mencakup: (i) mendiseminasikan implementasi UU KIP the responsibilities of this division includes: (i) disseminatedan Peraturan Pelaksanaannya ke Badan Publik. Program ini implementation of Public Information Disclosure Act and itsmencakup kegiatan untuk percepatan pembentukan PPID, implementing regulations to Public Institutions. This programpembuatan SOP Pelayanan Informasi Publik di Badan Publik, covers activities designed to accelerate the establishment of PPID,membuat mekanisme daftar informasi publik dan mekanisme formulate SoP of Public Information Service in Public Institutions,pengecualian informasi dll.; (ii) melakukan sosialisasi kepada formulate mechanism of list of public information and exceptionmasyarakat dan Badan Publik tentang fungsi dan peran KI in disclosing information, etc; (ii) conduct socialization to thePusat dan KI Provinsi; (iii) merancang dan melaksanakan model community and Public Institutions on function and role of Centralkonsultasi dan koordinasi yang berkelanjutan antara KI Pusat Information Commission and Provincial Information Commission;dan Badan Publik di tingkat Pusat. (iii) design and implement model of continuous consultation and coordination between Central Commission and Public Institutions and the central level.Pada tahun 2011, semakin banyak badan publik yang melakukan In 2011, more public institutions conduct socialization withinsosialisasi internal. Namun demikian belum terpantau apakah their institution. However, the commission has not been ablesosialisasi internal tersebut ditindaklanjuti oleh satuan kerja to monitor whether this internal socialization is followedinternal. Pemantauan dan bantuan konsultasi untuk internal by establishment of internal work force. Monitoring andBadan Publik tingkat pusat yang telah membentuk PPID menjadi consultation for Public Institutions establishing internal worksalah satu kegiatan yang akan dilakukan pada 2012 oleh Komisi force are among the agenda of the commission in 2012.Informasi pusat.5.1 Memfasilitasi Pembentukan Jaringan Kerja Komunitas 5.1 Facilitate Establishment of Network of Public Peduli Informasi Publik Information Disclosure Support Community.Kegiatan memfasilitasi pembentukan jaringan kerja komunitas This activity involves activists, social workers and general public.peduli informasi melibatkan aktivis atau tokoh LSM dan Participants of the meeting view the importance of a networkmasyarakat pada umumnya. Dalam pertemuan, peserta menilai organizing public interest on transparency of information andpenting keberadaan suatu wadah atau jaringan kerja yang accelerating understanding on public rights to informationmenampung dan mengorganisasi kepedulian masyarakat akan guaranteed by the Act as well as introducing procedure toketerbukaan informasi publik, terutama untuk mempercepat access information.pemahaman tentang hak-hak mereka yang dijamin olehUndang-Undang, termasuk prosedur yang harus ditempuh.Melalui inisiasi jaringan kerja di daerah diharapkan terbentuk This initiative is expected to spread into smaller organizationssimpul-simpul yang dapat dijadikan mitra Komisi Informasi working as partner of Information Commission to shareuntuk berbagi pengalaman dari wilayah lain, maupun berbagai experience from other areas and share knowledge on regulationspengetahuan tentang regulasi-regulasi yang terkait dengan related to public information disclosure.keterbukaan informasi publik. 31
  • 32. 5.2 Diskusi Publik Reguler 5.2 Regular Public DiscussionDiskusi publik reguler dilakukan untuk membahas isu-isu terkini Regular Public Discussion is conducted to discuss current issuesterkait dengan keterbukaan informasi. Diskusi melibatkan ber­ related to transparency of information. The discussion involvedbagai stakeholder dengan maksud mendapatkan masukan various stakeholders in order to collect inputs while reportingsekaligus untuk menyampaikan perkembangan Komisi Informasi progress of the work of Information Commission in settlingdalam menangani sengketa informasi. Selama tahun 2011 telah information dispute. There has been 6 public discussion helddilaksanakan 6 kali diskusi publik reguler. in 20115.3 Pengelolaan Website 5.3 Website MaintenancePengelolaan website (www.komisiinformasi.go.id) merupakan Website maintenance (www.komisiinformasi.go.id) is one of thekegiatan rutin yang dilakukan untuk menayangkan informasi regular activities of the commission to disseminate informationberkala lembaga Komisi Informasi dan menerima pelayanan related to the institution and to receive report and appeal aspengaduan dan pengajuan sengketa informasi publik serta well as request for information.permohonan informasi kepada Komisi Informasi Pusat.Secara berkala telah diterbitkan tajuk wacana melalui rubrik The commission publish regular editorial in the website as wellsuryakanta dan ditayangkan berbagai kegiatan Komisi Infor­ as news, reports and documentation related to the activitiesmasi pusat, termasuk jadwal sidang dan hasil kesepakatan of the commission including schedule of hearing and result ofme­ iasi maupun putusan ajudikasi sengketa informasi publik. d mediation and adjudication of information dispute. However, theNamun website komisi informasi masih memerlukan banyak website still needs more improvement as based on monitoringpembenahan, mengingat berdasar hasil monitoring dan evaluasi and evaluation Public Institution, the website of InformationBadan Publik, website Komisi Informasi masih menempati Commission only sits in number 33 out 82 websites of Publicurutan ke-33 dari 82 Badan Publik setingkat Kementerian dan Institutions at the level of ministry. Website development is oneLembaga. Rencana pengembangan kualitas website Komisi of the agenda of Information Commission in 2012.Informasi Pusat telah dimasukkan dalam kegiatan 2012.5.4 Penerbitan News Letter 5.4 Publication of News LetterKomisi Informasi Pusat telah menerbitkan newsletter secara Central Information Commission has published newsletterberkala setiap 1 bulan sekali. Namun adanya keterbatasan ang­ regularly every month yet due to budget limitation, only 10garan mengakibatkan newsletter ini hanya terbit sebanyak 10 editions were published in 2011. The newsletter is distributed tokali sampai tahun 2011. Newsletter ini dibagikan kepada Badan Public Institutions and related stakeholders. The publication isPublik dan Stakeholders terkait. Newsletter ini adalah media an internal media published by the commission to disseminateinternal Komisi Informasi Pusat untuk mewacanakan secara rutin issues on Public Information Disclosure and news on activitiesisu tentang Keterbukaan Informasi Publik serta memberitakan Central Information Commission.kegiatan Komisi Informasi Pusat. 32
  • 33. 5.5 Pembuatan CD Audio Visual 5.5 Production of Audio Visual CDCD Audio Visual yang telah dicetak berisi laporan tahunan Komisi The Audio Visual CD produced contains annual report of 2010,Informasi Pusat Tahun 2010 serta profil lembaga dan komisioner institution profile and profile of the commissioner as part ofKomisi Informasi Pusat, sebagai bagian dari akuntabilitas dan accountability and introduction of the institution to the public.pengenalan kelembagaan Komisi Informasi Pusat.CD Audio Visual tentang KIP berisikan profil Komisi Informasi The CD also contains animation on Public Information DisclosurePusat dan animasi kartun UU Keterbukaan Informasi Publik. Act. The commission produced 1000 CDs and distributed themProduk ini juga telah dibagikan kepada badan publik dan to public institutions and related stakeholders.stakeholders terkait sebanyak 1.000 keping.5.6 Advertorial 5.6 AdvertorialUntuk menyebarluaskan beberapa capaian dan isu terkait peran The advertorial is made to publish achievement and issuesKomisi Informasi Pusat, telah ditayangkan advetorial sebanyak related to the role of Central Information Commission. It has4 kali di 3 koran/majalah berskala nasional, dalam rangka been published 4 times in 3 national newspaper/magazine inperingatan hari hak untuk tahu tanggal 28 September 2011, dan commemorating Day of Right to Know in September 28, 2011peringatan 1 tahun berlakunya UU No. 14 tahun 2008 tentang and 1 year anniversary of enactment of Act No.14/2008 onKeterbukaan Informasi Publik. Public Information Disclosure.5.7 Iklan Layanan Masyarakat Tentang Keterbukaan 5.7 Public Service Ad on Public Information Disclosure Informasi PublikIklan layanan masyarakat tentang keterbukaan informasi ini The objective of broadcasting PSA on public informationbertujuan untuk mengenalkan Komisi Informasi dan Apa itu disclosure is to introduce Information Commission and theBadan Publik serta Hak dan Kewajibannya. Ada 2 versi, yaitu: definition of Public Institutions together with their Rightsversi pertama adalah versi Pengumuman Pengurus masjid, yang and Responsibilities. There are two versions of the ad; first,menggambarkan pengurus masjid yang sedang mengumumkan announcement from management of mosque which portrayshasil pengumpulan dan penggunaan dana masjid secara management of mosque publish collection and utilization ofperiodik tentang kewajiban setiap Badan Publik mengumumkan donation received periodically as part of their responsibility tosecara berkala. the public.Versi kedua adalah versi masyarakat yang sedang mengakses The second version shows community members accessinginformasi, yaitu menggambarkan sejumlah orang yang sedang information. They gather to see an announcement in oneberjejal melihat pengumuman di sebuah kantor (Badan Publik), office (Public Institution), some of them are looking for files,ada yang mencari file, ada yang sedang membuka website, dan some are opening website and some are reading annual reportada yang sedang membaca annual report, tentang batasan on limitation of public information and principles of Publicinformasi publik dan prinsip dari UU KIP yaitu menjamin setiap Information Disclosure Act which guarantee access to publicWNI untuk mendapatkan informasi publik. information for every citizen. 33
  • 34. Pada Diagram frekuensi Penayangan PSA dapat dilihat bahwa In the diagram of frequency of PSA broadcasting above, it can betayangan PSA lebih banyak ditayangkan di TVRI daripada seen that the ads are mostly broadcasted in TVRI (State-ownedstasiun TV swasta. Dilihat dari fungsi TVRI di Indonesia, yakni Television Station) in comparison to Private Television since TVRIsebagai sarana diseminasi informasi publik dari pemerintah ke functioned as media for dissemination of public informationmasyarakat luas di pelosok-pelosok Indonesia, sasaran tayangan from the government to the people across Indonesia. Workingini secara minimal dapat tercapai. with TVRI will ensure that the commission achieve at least minimum target of broadcasting of the information.Tayangan di prime time, baik prime time pagi maupun sore, The ads are broadcasted 69 times in prime time both morningjumlahnya 69 kali tayang. Asumsinya jika tayangan dapat and afternoon. The prime time broadcasting will help get theditayangkan pada saat prime time, dapat dikatakan bahwa message across to the public.pesan yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat luas.5.8 Dialog Interaktif 5.8 Interactive DialogueKegiatan ini telah dilaksanakan beberapa kali: 5 kali di TV dan The interactive dialogue has been conducted several times:10 kali di Radio (lokal dan nasional), beberapa dilaksanakan 5 times in TV and 10 times in Radio both local and national.dalam rangkaian peringatan Hari Hak untuk Tahu tanggal 28 Some of the shows were broadcasted to commemorate Day ofSeptember 2011 dan beberapa yang lain KIP diundang untuk Right to Know in September 28, 2011 and some others weremenjadi narasumber pada acara di TV dan Radio baik lokal when members of the commission were invited as resourcemaupun nasional seperti di TV One dan Metro TV, dihadiri oleh person in Radio or Television shows both local and national. Thekomisioner Komisi Informasi Pusat yang disandingkan dengan commissioners are invited several times in talk show in TV Oneperwakilan badan publik terkait seperti dari Kementerian and Metro TV where they sit in a panel with representatives ofKomunikasi dan Informatika. related public institutions such as Ministry of Communication and Informatics. 34
  • 35. 6. Dukungan Administrasi 6. Administrative SupportKesekretariatanBerdasarkan Peraturan Menkominfo No. 05/PER/M.Kom­ Based on Decree of Minister of Communication and Informaticsinfo/03/2010, Sekretariat Komisi Informasi Pusat menja­ankan l No.05/PER/M.Kominfo/03/2010, the functions of Secretariatfungsi: (a) penyiapan penyusunan perencanaan dan program; of Central Information Commission are as follows: (a) prepare(b) pelaksanaan dukungan administratif pelayanan pengaduan planning and programming of the Commission; (b) providedan penyelesaian sengketa informasi publik; (c) pelaksanaan administrative support for request and appeal on publictugas ketatatusahaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan information dispute; (c) responsible for administration, finance,dan kerumahtanggaan; (d) pelaksanaan dokumentasi dan staff, household, etc; (d) documentation and library.kepustakaan.6.1 Struktur Organisasi Sekretariat Komisi Informasi Pusat 6.1 Organizational Structure of Secretariat of Central Information CommissionSekretariat Komisi Informasi Pusat adalah unsur pendukung Secretariat of Central Information Commission is anadministratif, keuangan dan tata kelola yang membantu Komisi administrative, financial and managerial support system assistingInformasi Pusat dalam menyelenggarakan kesekretariatan di Central Information Commission in managing secretarial duties.lingkungan Komisi Informasi Pusat. Secara teknis operasional, Technically, secretary is responsible to Chairman of Centralsekretaris bertanggung jawab kepada Ketua Komisi Informasi Information Commission and administratively responsible toPusat dan, secara administratif, bertanggung jawab kepada General Secretary of Ministry of Communication and Informatics.Sekretariat Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika. Secretariat of Central Information Commission is led by oneKesekretariatan Komisi Informasi Pusat dipimpin oleh seorang secretary leading three divisions as follows: (i) General Affairs;Sekretaris yang membawahi tiga bagian, yakni: (i) Bagian (ii) Planning; (iii) Administration of Appeal and Settlement ofUmum; (ii) Bagian perencanaan; (iii) Bagian Administrasi Dispute. The organizational structure of Secretariat of Centralpengaduan dan penyelesaian sengketa. Struktur kesekretariatan Information Commission has developed to meet the demand ofKomisi Informasi Pusat telah mengalami perkembangan untuk tasks related to administration and services.mendukung tugas-tugas administrasi dan pelayanan. Diagram 5–1 Struktur Sekretariat Komisi Informasi Pusat 35
  • 36. Dalam menyelenggarakan fungsi tersebut, Sekretariat didukung In working on these functions, the secretariat is supported byoleh Staf PNS dan Non PNS. Untuk mendukung kerja-kerja Civil Servant and Non-Civil Servant staffs. There are also expertsKomisioner telah diadakan personel yang berfungsi sebagai and assistants hired to support the work of Commissioner.asisten ahli dan tenaga ahli. Setelah pengisian staf pada 2011, Following the fulfilment of staffs in 2011, the commission willpada periode 2012 Sekretariat Komisi Informasi Pusat akan complete the structure with SoP in 2012 so that all staffs canmelengkapi struktur yang ada dengan prosedur operasi standar work with definite guidelines and more focus. Total number of(SOP) agar pelaksanaan tugas tiap personel menjadi lebih staffs of the Commission is: 19 civil servants and 45 non-civilterfokus dan pasti. Total jumlah personel saat ini telah mencapai: servants.19 pegawai negeri sipil dan 45 non pegawai negeri sipil.6.2 Keuangan Komisi Informasi Pusat T.A 2011. 6.2 Finance of Central Information Commission Fiscal Year 2011Rata-rata realisasi anggaran 12% di bawah realisasi fisik. The average realization of budge is 12% under physicalSecara keseluruhan realisasi anggaran mencapai 85.09% realization. Overall, the realization of budget is reachingatau senilai Rp. 11.415.746.700,- dari total anggaran 2011 Rp. 85.09% or Rp. 11.415.746.700 of the total allocation of 2011 that13.416.700.000,-. Meskipun demikian, realisasi fisik kegiatan is Rp. 13.416.700.000. However, physical realization of activitiesmencapai 97%. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar dana is reaching 97%. Some of the fund saved has not been able toyang tersisa akibat penghematan dalam kegiatan tak sempat be allocated to other activities due to several reasons as follows:dialokasikan menjadi kegiatan baru karena: (i) sistem monitoring (i) the new financial monitoring system issued by the centralkeuangan yang baru diterapkan oleh pemerintah pusat lebih government leaning more towards the amount of spendingmengarah pada besaran jenis belanja daripada realisasi per instead of realization of each activity.; (ii) salary allocatedjenis kegiatan; (ii) gaji untuk staf PNS yang sudah dialokasikan for Civil Servant staffs allocated for Central Informationke anggaran Komisi informasi Pusat masih dibayar oleh satuan Commission remain paid by their initial working unit at Ministrykerja awal di Kementerian Kominfo. of Communication and Informatics.Hasil inventarisasi baru diperoleh pada triwulan terakhir sehingga The result of current inventory was obtained at the finalsebagian besar penghematan tak mungkin dialokasikan trimester hence it is difficult to allocate the budget saved formenjadi kegiatan baru melalui skema revisi anggaran. Hal ini new activities through the scheme of budget revision. Such isdisebabkan oleh: (i) pelaksanaan kegiatan lain yang masih caused by: (i) high intensity of implementation of the runningmemiliki intensitas tinggi; (ii) pengalokasian ke belanja barang activities; (ii) allocation in procurement of facilities takes moreyang diperlukan akan menghadapi proses pengadaan yang than 3 months.memakan waktu cukup panjang (lebih dari 3 bulan). Tabel 6–1 Realisasi Anggaran Komisi Informasi Pusat 2011 BIAYA REALISASI KOMPONEN OUTPUT (Rp) (Rp) % Layanan Dukungan Teknis Administrasi 1 7,559,550,000 6,308,821,728 83.5% dan Tata Kelola Komisi Informasi Pusat Penanganan Sengketa Informasi Publik 2 2,006,615,000 1,687,935,477 84.1% sesuai UU No. 14 Tahun 2008 Penguatan Kelembagaan Komisi 3 3,850,535,000 3,418,989,495 88.8% Informasi dan Badan Publik JUMLAH 13,416,700,000 11,415,746,700 85.1% Sumber: Sekretariat Komisi Informasi Pusat 2011Untuk mengantisipasi hal serupa, di tahun 2012 sekretariat To avoid unallocated budget, in 2012 secretariat will formulateakan membuat sistem pemantauan yang juga berbasis pada monitoring system based on input component so that the savedkomponen input (kegiatan), sehingga pengalokasian sisa budget can be allocated to other activities sooner.anggaran kegiatan ke dalam belanja baru dapat dilaksanakansedini mungkin.Untuk realisasi berdasarkan komponen input memiliki capaian Realization based on input component will result differentyang berbeda. Tabel 6–2 menggambarkan uraian lengkap untuk achievement. Table 6–2 shows complete description of budgetrealisasi anggaran berdasarkan komponen input pada tahun realization based on input component in fiscal year 2011.anggaran 2011. 36
  • 37. Tabel 6–2 Realisasi Anggaran 2011 Berdasarkan Kegiatan Realisasi No. Komponen Input Anggaran Nilai % Fisik 1.10 Pembayaran Gaji & Tunjangan, Lembur, Honor dan Vakasi 2,840,993,121 1,890,160,000 64.8 100.0% Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan 1.20 4,718,556,879 4,099,996,362 94.7 100.0% Perkantoran Subtotal 7,559,550,000 5,990,156,362 79.2 Pelaksanaan Penanganan sengketa Informasi Publik 2.10 560,500,000 486,326,185 86.8 100.0% Melalui Mediasi/Ajudikasi 2.20 Pelatihan Mediasi/ Ajudikasi 77,280,000 49,594,500 64.2 100.0% 2.30 Diskusi Publik Reguler 94,950,000 86,970,000 91.6 100.0% Penyuluhan dan Penyebaran Informasi tentang Standar 2.40 94,950,000 22,858,000 24.1 100.0% Informasi Publik ke Badan Publik Penerbitan News Letter tentang Keterbukaan Informasi 2.50 72,850,000 59,946,640 82.3 100.0% Publik Dialog/ Talkshow Interaktif di radio dan TV tentang 2.60 596,850,000 490,990,000 82.3 100.0% Sengketa Informasi 2.70 Pembuatan CD Audio dan Buku Komisi Informasi 27,150,000 11,203,637 41.3 50.0% Fasilitasi Pembentukan Jaringan Kerja Komunitas Peduli 2.80 200,370,000 176,906,700 88.3 100.0% Informasi 2.90 Forum Diskusi Ahli 281,715,000 253,719,925 90.1 100.0% Subtotal 2,006,615,000 1,696,495,587 84.5 3.10 Mengadakan MoU dengan Lembaga Lain 64,075,000 15,510,000 24.2 100.0% 3.20 Bimbingan Teknis Penerapan SLI 210,825,000 166,252,300 78.9 100.0% 3.30 Audiensi Dalam Mendorong Terbentuknya KI Provinsi 293,190,000 184,869,700 79.2 100.0% Pemeringkatan dan Pemberian Penghargaan ke Badan 3.40 211,290,000 180,140,090 85.2 100.0% Publik dalam Pengelolaan Informasi sesuai SLI 3.50 Rakornas Bidang Informasi Publik 313,222,000 312,097,800 99.6 100.0% 3.60 Benchmarking Penyelesaian Sengketa di Negara Lain 452,500,000 357,612,000 79.1 100.0% 3.70 Iklan/Pemberitahuan/ Pengumuman 1,780,000,000 1,612,135,000 90.5 100.0% 3.80 Monitoring dan Evaluasi SLI ke Badan Publik 118,780,000 76,261,600 64.2 100.0% 3.90 Penyusunan Road Map KIP 85,690,000 – 0.0 0.0% 3.10 Penyusunan Laporan Tahunan 64,460,000 30,450,000 47.2 50.0% Fasilitasi Pembentukan Jaringan Kerja Bantuan Hukum 3.11 313,053,000 292,798,200 93.5 100.0% untuk Pendampingan Masyarakat Subtotal 3,850,535,000 3,418,989,495 87.0 TOTAL 13,416,700,000 11,415,746,700 85.1 97.1%Neraca: jumlah sengketa meningkat 5 kali lipat, diperlukan Balance: number of dispute increase 5 times hence spendingpeningkatan belanja peralatan penunjang. Hingga 2011, on facilities to support the service related to settlement ofpembentukan aset terbesar adalah aset tetap berupa peralatan dispute also increases. Until 2011, the establishment of thedan mesin. Hingga saat ini Komisi Informasi Pusat masih largest asset is in a form of Long Term Asset including toolsmenyewa gedung, sehingga fokus pengadaan lebih pada and machines. Up until now, the commission still rent theirperalatan operasional. Dibandingkan dengan anggaran, office building hence the focus of procurement is on facilities.pembentukan aset tetap mencapai 34% dari total anggaran Compare to the budget, collection of Long Term assets hasberjalan. Komposisi yang masih memadai mengingat pelayanan reached 34% of the total budget; a sufficient compositionKomisi Informasi Pusat belum memiliki intensitas tinggi dalam considering the service provided by the commission has notpemanfaatan teknologi. relied much on high technology. 37
  • 38. Seiring meningkatnya jumlah sengketa, baik dari sisi jumlah Along with the increase in number of dispute, the Commissionmaupun sebaran, diperkirakan pada periode mendatang Komisi will need additional assets in a form of information technologyInformasi memerlukan penambahan aset di bidang teknologi and documentation support to provide services for all disputes.informasi dan pendokumentasian. Penambahan anggaran pada Additional budget for 2012 will be directed to procurement oftahun mendatang akan diarahkan untuk meningkatkan alokasi tools and facilities to support dispute settlement.belanja peralatan pendukung tugas penyelesaian sengketaInformasi. Tabel 6–3. Neraca Keuangan Komisi Informasi Pusat (unaudited) Aset 1.0.0 ASET LANCAR  124,442,430 1.1.0 Kas di bendahara pengeluaran 26,902,950 1.2.0 Persediaan 97,539,480 2.0.0 ASET TETAP 4,567,415,950  2.1.0 Peralatan dan mesin 4,481,501,550 2.2.0 Aset tetap lainnya 85,914,400 3.0.0 ASET LAINNYA 25,600,800  3.1.0 Aset tak berwujud 11,610,000 3.2.0 Aset lain-lain 13,990,800 Total 4,717,459,180 Kewajiban 1.0.0 KEWAJIBAN  26,902,950 1.1.0 Kewajiban Jangka Pendek 26,902,950 1.1.1 Uang muka dari KPPN 26,902,950 2.0.0 EKUITAS DANA 4,690,556,230 2.1.0 Ekuitas Dana Lancar 97,539,480  2.1.1 Cadangan persediaan 97,539,480 2.2.0 Ekuitas Dana Investasi 4,593,016,750  2.2.1 Diinvestasikan dalam aset tetap 4,567,415,950 2.2.2 Diinvestasikan dalam aset lainnya 25,600,800 Total 4,717,459,1806.3 Rencana Kerja Komisi Informasi Pusat 2012 6.3 Work Plan of Central Information Commission in 2012Tidak ada kenaikan anggaran di tahun 2012. Tahun 2012 There are no budget increase in 2012. 2012 as the year ofsebagai tahun pemantapan, KI Pusat tetap menjadikan strengthening lead Information Commission to set two maindua Indikator Kinerja Utama, yakni: (1) Persentase BP yang indicators of their main work as follows: (1) Percentage ofmelaksanakan ketentuan KIP; dan (2) Persentase penyelesaian Public Institutions applying Commission regulation; and (2)sengketa informasi publik sebagai dua output yang ingin dituju Percentage of settlement of public information dispute. Targetdi tahap pemantapan ini. Jika di tahun 2011, indikator persentase of dispute settlement in 2012 is set at 60 % compare to 48%penyelesaian sengketa informasi 48 persen, maka di tahun in 2011. Moreover, the third indicators of directing activities of2012 dinaikkan menjadi 60 persen. Sementara untuk indikator the commission to strengthen Public Institutions will not only(3) Kegiatan Komisi Informasi Pusat yang akan dilaksanakan be directed at the level of structure but also at the level ofdiarahkan untuk memperkuat Badan Publik, bukan saja di operationalization of Public Information Disclosure Act.tingkat struktur (institusi) tetapi juga operasionalisasi UU KIP. 38
  • 39. Tabel 6–4 Rencana Kerja dan Anggaran Komisi Informasi Pusat 2012 No Komponen Input Anggaran 1.1 Pembayaran Gaji & Tunjangan, Lembur, Honor dan Vakasi 2,840,630,000,- 1.2 Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran 4,607.290.000,- Subtotal 7.447.920.000,- 2.1 Penyelesaian Sengketa Informasi melalui Mediasi/Ajudikasi Nonlitigasi di luar Jakarta 827.800.000,- 2.2 Penyelesaian Sengketa Informasi melalui Mediasi/Ajudikasi Nonlitigasi di Jakarta 330.000.000,- 2.3 Pelatihan Mediator Bersertifikat 175.000.000,- 2.4 Forum Diskusi Ahli Reguler dalam rangka proses penyelesaian sengketa informasi 272.700.000,- 2.5 Bimbingan Teknis Ajudikasi 36.850.000,- 2.6 Bimbingan Teknis Regulasi Komisi Informasi Pusat 209.070.000,- 2.7 Pelatihan Case Manajemen dan Panitera tingkat Regional barat, tengah, timur) 226.710.000,- Subtotal 2.078.130.000,- 2.8 Penyuluhan dan Penyebaran Informasi tentang SLI Publik ke Badan Publik 208.230.000,- 2.9 Iklan Layanan Masyarakat dan Publikasi Penyelesaian sengketa 720.000.000,- 3.0 Pembuatan CD Audio Visual tentang Komisi Informasi 50.000.000,- 3.1 Pelaksanaan Aktivitasi Edukasi dan Advokasi Pemanfaatan Informasi Publik kepada masyarakat 211.320.000,- 3.2 Fasilitasi Pembentukan Jaringan kerja bantuan Hukum untuk pendampingan masyarakat 225.900.000,- 3.3 Pengembangan Website Komisi Informasi Pusat dan Manajemen Pelayanan online 100.000.000,- 3.4 Penerbitan News Letter tentang KIP 85.500.000,- 3.5 Dialog Interaktif/Talkshow di TV dan Radio secara berkala 533.300.000,- 3.6 Audiensi dan FGD Pembentukan KI Provinsi 296.115.000,- 3.7 Monitoring, Evaluasi, dan Pemeringkatan Badan Publik dalam melaksanakan UU KIP dan SLI 246.375.000,- 3.8 Penyusunan Regulasi dan SOP Kelembagaan Komisi Informasi (1 regulasi dan 3 SOP) 222.100.000,- 3.9 Legal Review Peraturan Perundang-Undangan KIP Kajian tentang Issue Penyelesaian Sengketa 73.575.000,- Kerjasama Kelembagaan (MoU) dengan Lembaga Pemerintah dan Non Pemerintah Focus 3.10 pada Pendirian Pusat kajian kebebasan Informasi (Center For Freedom of Information) di 73.200.000,- perguruan Tinggi 3.11 Benchmarking Keluar Negeri untuk Pengembangan Kapasitas Komisi Informasi 299.680.000,- 3.12 Rapat Koordinasi Nasional Komisi Informasi se- Indonesia 380.715.000,- 3.13 Rapat Kerja Teknis Bidang PSI, ESA, dan Kelembagaan Komisi Informasi se-Indonesia 101.390.000,- 3.14 Penyusunan Laporan Tahunan Komisi Informasi Pusat 63.250.000,- Subtotal 3.890.650.000,- Total 13.416.700.000,-Sumber: RKA-KL Komisi Informasi Pusat 2012 39