Devosi Kerahiman Ilahi

  • 5,819 views
Uploaded on

 

More in: Spiritual
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
5,819
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1

Actions

Shares
Downloads
211
Comments
3
Likes
4

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Devosi Kerahiman Ilahi : Pemahaman, Penghayatan & Pewartaannya
  • 2. 1. Pemahaman Devosi Kerahiman Ilahi 1.1. Apa Itu Devosi Kerahiman Ilahi ?
      • Devosi Kerahiman Ilahi adalah suatu kebaktian yang memberikan keyakinan kepada umat manusia bahwa Allah itu maha rahim dan maha pengampun, untuk percaya penuh kepada Allah dan belajar menerima belas kasih-Nya dengan ucapan syukur.
      • Devosi ini menjadi sekolah rohani bagi rasul Kerahiman Ilahi maupun para devosan agar mampu melakukan karya belas kasih kepada sesama dalam pengabdian total kepada Allah yang berbelas kasih.
  • 3. 1.2. Allah Adalah Kerahiman
      • Kemurahan hati cinta Allah merupakan tema sentral Kitab Suci. Dalam Perjanjian Lama, Allah telah menyatakan kepada Musa bahwa Ia adalah ”Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih dan setia” (Kel 34:6).
      • Bagaimana Tuhan mengajar mereka dalam kelimpahan kasih, dan setia kepada mereka serta peduli terhadap penderitaan mereka.
  • 4.
      • Dalam Perjanjian Baru telah berkembang menjadi pesan cinta dan belas kasih Allah. St. Yohanes mengatakan bahwa Allah “Begitu mengasihi dunia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal , supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16)
      • Belas kasih Allah secara khusus dinyatakan ketika Putera Allah menyerahkan hidup-Nya bagi kita di salib, “ketika kita masih berdosa” (Rom 5:8).
  • 5.
      • Kemudian Dia bangkit mulia untuk menyertai kita selalu dan memberikan harapan akan kehidupan kekal.
      • Kita nyatakan dengan kepercayaan yang begitu besar: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu” (1 Ptr 1:3-4).
  • 6.
      • “ Kerahiman Ilahi” mempunyai makna karena “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Kerahiman terbentuk dari kelimpahan hidup ilahi, dari kasih Allah yang tercurah atas seluruh ciptaan-Nya.
      • Kita menemukan gema pesan penting yang sama bagaikan sebuah refrain di seluruh Buku Catatan Harian St. Faustina.
      • “ Aku adalah Kasih dan Kerahiman itu sendiri” (BCH 1074).
  • 7.
      • “ Hati-Ku penuh dengan belaskasih bagi jiwa-jiwa, teristimewa bagi para pendosa yang malang … Darah dan Air yang mengalir dari Hati-Ku sebagai sumber kerahiman bagi mereka” (BCH 367).
      • “ Janganlah suatu jiwapun takut mendekati diri-Ku, meskipun dosanya merah bagaikan kirmizi” (BCH 699).
  • 8.
      • “ Kerahiman-Ku jauh lebih besar dari dosa-dosamu dan dosa-dosa seluruh dunia. Siapa yang dapat mengukur besarnya kebaikan-Ku? Bagimu Aku telah turun dari surga ke bumi; bagimu Aku mengijinkan diri-Ku dipaku di salib; bagimu Aku membiarkan Hati Kudus-Ku ditikam sebilah tombak, agar terbuka lebarlah sumber kerahiman bagi kamu.
      • Datanglah dengan penuh percaya menimba segala rahmat dari sumber ini” (BCH 1485).
  • 9. 1.3. Pesan Utama Kerahiman Ilahi
      • Pesan utama Kerahiman Ilahi, mengingatkan kita bahwa Allah mengasihi kita semua, tak peduli betapapun beratnya dosa kita. Tuhan ingin kita tahu bahwa belas kasih-Nya jauh lebih besar daripada segala dosa kita; Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan, menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Dengan demikian segenap umat manusia akan ikut ambil bagian dalam sukacita-Nya.
      • Pesan ini dapat dengan mudah kita ingat melalui ABC Kerahiman Ilahi:
  • 10. 1.3.1. Ask For His Mercy 2 Mohon Belas Kasih Allah
      • Tuhan menghendaki kita datang kepada-Nya dalam doa secara terus-menerus, menyesali dosa-dosa kita dan mohon agar belas kasih-Nya dicurahkan atas kita dan atas dunia.
      • Melalui sengsara dan wafat Yesus, suatu samudera belas kasih yang tak terhingga tersedia bagi kita semua. Tuhan, yang memberikan kebebasan kepada manusia, Ia tidak mau memaksakan kehendak apapun pada kita, juga belas kasih-Nya. Ia menanti kita berbalik dari dosa-dosa kita dan mohon pada-Nya
      • “ Mintalah, maka akan diberikan kepadamu…. Karena setiap orang yang meminta, menerima” (Mat 7:7-8).
  • 11.
      • Kitab suci dipenuhi dengan banyak contoh bagaimana mengandalkan Allah dan memohon kerahiman-Nya: - iman Abraham dan Musa yang membela dan “tawar-menawar” dengan Allah - orang yang mendesak sahabatnya, bangun pada tengah malam untuk meminjam beberapa roti kepadanya - janda yang bertekun itu, dibela haknya oleh hakim yang lalim itu - perempuan Samaria berargumentasi dengan Yesus mengenai haknya hingga beroleh belas kasih-Nya - kesaksian Maria yang memohon belas kasih pada acara pernikahan di Kana, mendorong Yesus melakukan mukjijat pertama di hadapan umum, dan pengakuan bahwa saat-Nya sungguh telah tiba.
  • 12.
      • Paus Yohanes Paulus II menggemakan pesan Injil ini dengan urgensi-urgensi baru saat ini
      • “… teristimewa pada saat genting seperti sekarang ini – dapatkah Gereja melupakan doa, suatu seruan mohon belas kasih Allah …. Gereja mengemban tugas dan kewajiban untuk datang kepada Allah yang berbelas kasih `dengan suara lantang” (Dives in Misericordia, 15).
      • Kepada St Faustina, Yesus sekali lagi menyatakan pesan yang sama. Yesus memberinya tiga cara baru untuk mohon belas kasih-Nya dengan mengandalkan jasa-jasa sengsara-Nya, yaitu: - Doa Koronka, - Novena dan - Doa Jam Kerahiman (jam 3 siang). Yesus mengajarkan bagaimana mengubah hidup sehari-hari menjadi suatu doa yang tak kunjung henti mohon belas kasih Allah. Melalui rasul kerahiman-Nya, Yesus memanggil kita semua untuk mohon belas kasih-Nya.
  • 13.
      • “ Jiwa-jiwa yang mohon belas kasih-Ku menyenangkan hati-Ku. Kepada jiwa-jiwa ini aku menganugerahkan rahmat, bahkan lebih banyak dari yang mereka minta. Aku tak dapat menghukum bahkan seorang pendosa besar sekalipun, jika ia mohon belas kasih-Ku” (BCH 1146).
      • “ Mohonlah belas kasih bagi seluruh dunia” (BCH 570).
      • “ Tak satu jiwa pun yang mohon belas kasih-Ku akan dikecewakan” (BCH 1541).”
  • 14. 1.3.2. Be Merciful 2Berbelas Kasih Kepada Sesama
      • Tuhan menghendaki kita menerima belas kasih-Nya dan membiarkannya mengalir melalui kita kepada sesama. Tuhan menghendaki kita memperluas kasih serta pengampunan kepada sesama seperti yang Ia lakukan kepada kita.
      • Belas kasih adalah perwujudan kasih yang berusaha meringankan penderitaan sesama. Belas kasih adalah kasih yang hidup, yang dicurahkan atas sesama guna menyembuhkan, melegakan, menghibur, mengampuni, menghapus rasa sakit. Itulah kasih yang Tuhan tawarkan kepada kita dan itulah kasih yang Ia kehendaki kita tawarkan kepada sesama.
  • 15.
      • “ Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34)
      • “ Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapa-Mu adalah murah hati” (Luk 6:36).
      • Berulang kali Kitab Suci mengingatkan kita bahwa, ”Ukuran yang kita pakai untuk sesama akan diukurkan pada kita” (Luk 6:38), bagi DIA serius “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12-14). “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat 5: 7). “Sebab penghakiman yang tak berbelas kasih akan berlaku atas orang yang tak berbelas kasih.
      • Tetapi belaskasih akan menang atas penghakiman” (Yak 2: 13). “Perumpamaan tentang: Orang Samaria yang murah hati” (Luk10: 25-37). “Orang kaya dan Lazarus” (Luk 16: 19-31). dan “Hamba yang tak mau mengampuni” (Mat 18: 21-35), semuanya menunjukkan kebenaran esensial bahwa hanya jika berbelas kasih, kitapun berharap beroleh belas kasih; sebab kita akan dihakimi sesuai dengan perbuatan belas kasih terhadap sesama: “ Aku lapar dan kamu memberi Aku makan …..” (Mat 25: 35-46).
  • 16.
      • Betapa Tuhan juga menekankan hal yang serupa kepada St Faustina!
      • “ Aku menghendaki perbuatan-perbuatan belas kasih yang muncul karena kasih kepada-Ku. Hendaklah kalian menunjukkan belas kasih kepada sesama di setiap waktu dan di setiap tempat. Janganlah kalian berkecil hati atau berusaha mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya…. Bahkan iman yang terkuat sekalipun tak akan ada gunanya tanpa disertai perbuatan” (BCH 742).
      • “ Apabila jiwa tak melakukan perbuatan belas kasih dengan cara apapun, ia tak akan mendapatkan belas kasih-Ku pada hari penghakiman” (BCH, 1317).
  • 17. 1.3.3. Completely Trust 2 Percaya Penuh Kepada-nya
      • Rahmat belas kasih Allah tergantung pada besarnya kepercayaan kita. Semakin besar kepercayaan kita kepada-Nya, semakin berlimpah rahmat yang kita terima.
      • Mengandalkan Yesus merupakan intisari pesan kerahiman. Apabila kita pergi ke sumber mata air umum, kita dapat menimba sepuas-puasnya asal saja kita memiliki timba sebagai wadah air. Dengan timba kecil, kita hanya mengambil sedikit air, jika besar kita dapat mengambil banyak. Dan siapapun dengan sebuah timba dapat menimba air dari sumber itu. Air itu tersedia bagi kita, dan tidak seorangpun yang dilarang. Kita semua membutuhkan sebuah timba.
      • Demikian juga dengan belas kasih Allah. Berulang kali dalam penampakan kepada St. Faustina, Juruselamat Ilahi kita menegaskan bahwa sumber mata air itu adalah Hati-Nya, air adalah belas kasih-Nya, dan timba adalah kepercayaan kita.
  • 18.
      • “ Aku telah membuka Hati-Ku sebagai sumber belas kasih yang hidup. Biarlah segenap jiwa menimba hidup darinya. Biarlah mereka mendekati samudera belas kasih ini dengan penuh kepercayaan” (BCH 1520).
      • “ Di salib, sumber belas kasih-Ku dibuka lebar dengan tombak bagi segenap jiwa - tak suatu jiwa pun Aku kecualikan” (BCH 1182).
      • “ Aku menawarkan kepada manusia suatu timba agar mereka terus-menerus datang menimba rahmat-rahmat dari sumber belas kasih itu. Timba itu adalah lukisan dengan tulisan, “Yesus, Engkau Andalanku” (BCH 327).
      • “ Rahmat belas kasih-Ku diperoleh dengan sarana satu timba saja, yaitu - percaya. Semakin besar suatu jiwa percaya, semakin banyak ia menerima” (BCH 1578)
      • Tuhan mengingatkan bahwa kita dapat mengandalkan Kasih-Nya …. Bahwa hanya Dia yang pantas kita percaya:
      • “ Aku tak pernah menolak hati yang remuk redam” (BCH 1485).
      • “ Lebih cepat langit dan bumi lenyap daripada belas kasih-Ku menolak mendekap jiwa yang percaya” (BCH 1777).
  • 19.
      • Percaya mendorong kita berbalik kembali kepada Allah, melakukan perubahan nyata seluruh hidup, bertobat dan mengampuni sesama. Percaya menjadi suatu iman yang hidup.
      • Percaya penuh berarti:
      • membiarkan Tuhan adalah Tuhan daripada mencoba menjadikan diri sendiri sebagai Tuhan (percaya adalah penangkal terhadap dosa pertama Adam);
      • setuju bahwa Tuhan boleh menggubah rancangan hidup kita, daripada memaksakan rancangan kita sendiri;
      • menepati janji luhur yang kita ucapkan dalam Doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu” (bukan kehendakku) “di atas bumi seperti di dalam surga” ;
      • bahkan di saat-saat menderita, kita berseru seperti Yesus di Taman Getsemani, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42).
  • 20.
      • Allah adalah Kerahiman itu sendiri, maka kita dipanggil untuk mempraktekkan ABC Kerahiman, dengan kepercayaan penuh kepada Yesus. Tuhan memenuhi kita dengan rahmat-Nya agar kita dapat berbelas kasih seperti Bapa Surgawi penuh belas kasih.
      • “ Aku adalah Kasih dan Kerahiman itu sendiri. Apabila jiwa datang kepada-Ku dengan penuh kepercayaan, Aku akan memenuhinya dengan kelimpahan rahmat hingga jiwa itu sendiri tak mampu menampungnya, melainkan juga menyalurkannya kepada jiwa-jiwa lain” (BCH 1074).
  • 21. 2. Penghayatan Kerahiman Ilahi
      • Kita tahu Kerahiman Ilahi merupakan jantung Kitab Suci, tetapi bagaimana belas kasih itu dapat kita alami dalam kehidupan kita sendiri?
      • “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (Mat 11: 28-29)
      • Yesus berkata kepada St. Faustina:
      • “ Katakan kepada umat manusia yang menderita karena dosa untuk semakin mendekat kepada Hati-Ku yang penuh belas kasih, dan Aku akan memenuhi hatinya dengan ketenangan (BCH, 1074).
  • 22.
      • Maka hanya dengan mendekat kepada Yesus , Sang Inkarnasi Kerahiman Ilahi, dan yang berharap penuh kepada-Nya, kita dapat sepenuhnya mengalami kasih Allah dan damai sejahtera-Nya.
      • Tempat yang paling baik mengalami kasih kerahiman Yesus adalah di dalam Gereja-Nya, oleh St. Paulus disebut, “TUBUH KRISTUS” (1Kor 12:27)
      • Seluruh “PROGRAM KERAHIMAN” ada di dalam Tubuh Kristus yaitu Gereja. Gereja memaklumkan belas kasih Allah dan menyalurkan Sakramen Belas kasih. Sebagai Tubuh Kristus, Gereja memohonkan belas kasih Allah bagi seluruh dunia. Juga Maria, Bunda yang berbelas kasih dan Bunda Gereja, menjalankan tugas khusus dalam rencana belas kasih Allah yang tak kunjung padam.
  • 23. 2.1. Gereja: Agen Belas Kasih
      • Paus Yohanes Paulus II mengatakan dalam ensikliknya Dives in Misericordia (Kaya dalam kerahiman) bahwa seluruh kehidupan dan misi Gereja berpusat pada Yesus, Sang Kerahiman Ilahi, yang memberi kuasa kepada Gereja untuk menyatakan, mengamalkan, memohonkan belas kasih Allah.
      • “ Program Penyelamatan Kristus atau Program belas kasih Allah, menjadi program umat-Nya, yaitu program Gereja” (Dives in Misericordia, 8).
      • “ Gereja menyatakan kebenaran belas kasih Allah dalam wafat dan kebangkitan Kristus, dan mengungkapkannya dalam berbagai cara. Selanjutnya Gereja berusaha mengamalkan belas kasih dari umat untuk umat. Gereja melihat hal itu sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi agar sanggup menghadapi keadaan apapun dalam suka dan kecemasan bersama di dalam dunia yang lebih mengasihi, hari ini dan esok” (Dives in Misericordia,15).
  • 24.
      • “ Akhirnya, Gereja – menyatakan Belas kasih dan tetap selalu beriman penuh – juga mempunyai hak dan kewajiban memohon belas kasih Allah, dalam menghadapi perwujudan setan baik secara fisik maupun moral, sebelum segala ancaman meredupkan semua horizon kehidupan manusiawi hari ini (Dives in Misericordia 12)
      • Secara khusus Bapa Suci menegaskan: “ Gereja hidup secara otentik bila mengakui dan menyatakan belas kasih – atribut Sang Pencipta dan Penebus yang sangat mengagumkan – dan bila Gereja membawa umat mendekat ke sumber belas kasih Sang Penyelamat, maka Gereja adalah wakil dan agen belas kasih (khususnya melalui Sakramen Ekaristi dan Rekonsiliasi). Dives in Misericordia, 13.
  • 25. 2.2. Ekaristi: Kehadiran Kerahiman Ilahi
      • Dalam kebesaran kasih-Nya kepada kita, Tuhan Yesus menganugerahkan mukjizat belas kasih yang luar biasa yaitu Sakramen Ekaristi Kudus.
      • Allah tidak hanya menjadi manusia, dalam inkarnasi Yesus memberikan hidup-Nya bagi kita di salib dan bangkit mulia. Inkarnasi juga mengharapkan Yesus tetap tinggal bersama kita dalam waktu ekaristi. Dengan mukjizat terbesar dari kasih Allah ini, Yesus hadir secara nyata bersama kita dalam rupa roti dan anggur.
      • Paus Paulus VI menulis dalam bukunya: “The Credo of the People of God” (1968) ”Eksistensi kemuliaan Allah di surga yang unik dan tak terbagi itu dihadirkan kembali pada banyak tempat di bumi ini melalui perayaan ekaristi. Kemuliaan Allah yang dihadirkan oleh Sakramen Mahakudus di dalam tabernakel, menjadi jantung kehidupan Gereja kita masing-masing. Tugas kita yang terindah adalah menghormati dan menyembah Hosti Kudus yang bisa dilihat mata, Inkarnasi dari Sabda yang tak kelihatan, namun tanpa meninggalkan surga sungguh hadir di hadapan kita”.
  • 26.
      • Ekaristi adalah pusat devosi kepada Kerahiman Ilahi. Unsur-unsur devosi itu ada yang bersumber pada Ekaristi – Lukisan Yesus Kerahiman Ilahi - doa koronka dan - Pesta Kerahiman Ilahi. Lukisan Yesus Kerahiman dengan sinar berwarna merah dan berwarna pucat, menggambarkan Yesus yang Ekaristis, yang Hati-Nya telah ditikam dan memancarkan darah dan air sebagai sumber belas kasih bagi kita. Lukisan Kerahiman Ilahi merupakan gambaran akan anugerah kurban belas kasih Tuhan yang dihadirkan dalam setiap perayaan Misa.
      • Beberapa kali, St Faustina menulis penglihatannya: “sinar berwarna merah dan yang berwarna pucat memancar, bukan dari lukisan, melainkan dari Hosti Kudus; dan suatu ketika, sementara imam mengunjukkan Sakramen Mahakudus, ia melihat kedua sinar yang berasal dari lukisan menembusi Hosti Kudus dan dari Hosti memancar ke segenap penjuru dunia” (BCH, 441).
      • Jadi, dengan mata iman, hendaknya kita juga melihat bahwa di dalam setiap Hosti Kudus, Juruselamat yang Maharahim telah memberikan DiriNya Sendiri sebagai sumber belas kasih kepada kita
  • 27.
      • Konsep Ekaristi sebagai sumber rahmat dan belas kasih ini bukan hanya didapati dalam Buku Catatan Harian, melainkan juga dalam ajaran Gereja. Gereja dengan jelas mengajarkan bahwa sakramen-sakramen yang lain diarahkan kepada Ekaristi dan menimba kekuatan darinya.
      • Dalam Konstitusi Liturgi Kudus, dijelaskan, “Jadi dari liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita.”(SC 10) Dan dalam suatu catatan dalam Katekismus Konsili Trente, para imam didorong untuk “membandingkan Ekaristi dengan sumber mata air dan sakramen-sakramen lainnya dengan anak-anak sungai. Ekaristi Kudus sesungguhnya pantas disebut sumber segala rahmat, sebab di dalamnya terkandung pemberian surgawi dan rahmat itu sendiri. Tuhan Yesus Kristus, Sang Pencipta segala sakramen, menjadi sumber kebajikan dan kesempurnaan dari sakramen-sakramen lainnya.”
      • Maka, tak mengherankan jika St Faustina begitu mencintai Ekaristi dan menulis dengan penuh keyakinan mengenai Ekaristi dalam Buku Catatan Harian:
  • 28.
      • “ O, betapa suatu misteri yang menakjubkan terjadi dalam Misa Kudus! ... Suatu hari kelak kita akan tahu apa yang Tuhan perbuat bagi kita dalam setiap Misa, dan karunia-karunia apa yang Ia sediakan bagi kita di dalamnya. Hanya kasih ilahi-Nya yang dapat memperkenankan suatu karunia yang sedemikian terjamin bagi kita… sumber hidup ini memancar dengan indah dan kuat” (BCH, 914).
      • “ Segala yang baik dalam diriku berasal dari Komuni Kudus” (BCH, 1392).
      • “ Di sinilah terletak segala rahasia kekudusanku” (BCH, 1489).
      • “ Satu hal saja yang menopangku, yaitu Komuni Kudus. Dari Komuni Kudus aku menimba segala kekuatanku; di dalamnya ada segala penghiburanku …. Yesus yang tersamar dalam Hosti Kudus adalah segalanya bagiku …. Aku tidak akan tahu bagaimana memuliakan Allah jika aku tidak memiliki Ekaristi dalam hatiku” (BCH 1037).
      • “ O Hosti hidup, satu-satunya daya dan kekuatanku, sumber cinta dan belas kasih, rengkuhlah seluruh dunia, teguhkanlah jiwa-jiwa yang lemah. O, diberkatilah saat ketika Yesus menempatkan dalam diri kita Hati-Nya yang Maharahim!” (BCH 223).
  • 29. 2.3. rekonsiliasi : pengadilan belas kasih
      • Guna membantu kita mempersiapkan diri dalam menyambut Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allah-an Juruselamat kita yang Maharahim dalam Ekaristi, Tuhan meninggalkan bagi kita suatu “mukjizat belas kasih” yang lain, yaitu Sakramen Rekonsiliasi. Di sini, juga, Yesus menghadirkan diri bagi kita - tak peduli betapapun beratnya dosa kita - sebagai Juruselamat yang Maharahim, sumber belas kasih yang membasuh, menghibur, mengampuni dan memulihkan hidup .
      • “ Apabila engkau datang dalam Sakramen Tobat, kepada sumber belas kasih ini, Darah dan Air yang memancar dari HatiKu senantiasa tercurah merasuki jiwamu” (BCH 1602).
  • 30.
      • “ Dalam Pengadilan Belas Kasih (Sakramen Rekonsiliasi) … mukjizat-mukjizat terbesar terjadi berulang kali dan tak kunjung henti” (BCH, 1448).
      • “ Di sini, jiwa yang bersengsara bertemu dengan Allah yang berbelas kasih” (BCH, 1602). “Datanglah dengan iman di hadapan wakil-Ku” (BCH, 1448).
      • “ Aku Sendiri yang menantikan engkau di sana. Aku hanya tersamar dalam diri imam … Aku Sendiri yang bertindak dalam jiwamu” (BCH 1602).
      • “ Akuilah segala dosamu di hadapan-Ku. Pribadi imam, bagi-Ku, hanyalah sekedar selubung. Janganlah pernah menilai imam macam apa yang sedang Aku pergunakan sebagai alat; bukalah jiwamu dalam pengakuan seperti yang akan engkau lakukan terhadap-Ku, dan Aku akan memenuhi jiwamu dengan terang-Ku (BCH, 1725).”
  • 31.
      • “ Walau suatu jiwa rusak bagaikan mayat yang sedang membusuk, hingga dari sudut pandang manusia tidak akan ada lagi harapan pemulihan dan segalanya sia-sia belaka, namun tidak demikian bagi Allah. Mukjizat Belas Kasih memulihkan jiwa itu sepenuhnya . Oh, sungguh menyedihkan jiwa-jiwa yang tidak mempergunakan kesempatan mukjizat belas kasih Allah! Kamu mungkin akan berteriak dalam kesia-siaan, namun sudah terlambat (BCH, 1448).”
      • Mengingat pentingnya kedua sakramen belas kasih ini, Tuhan menetapkan keduanya sebagai prasyarat untuk mendapatkan janji-Nya yaitu indulgensi, pengampunan penuh atas dosa dan siksa dosa, bagi mereka yang merayakan Pesta Kerahiman Ilahi. Paus Yohanes Paulus II, telah berulang kali menekankan pentingnya pesan kerahiman itu, mendesak kita bahwa “Gereja yang menyambut kedatangan Tuhan yang baru … harus menjadi Gereja Ekaristi dan Tobat” (Redemptor Hominis).
      • Dalam pidato penutup Sinode Uskup di Roma tahun 1983, Bapa Suci menjelaskan bahwa kedua sakramen ini ditetapkan di Senakel dan saling berhubungan erat satu dengan yang lainnya:
  • 32.
      • “ Sesungguhnya, segera sesudah sengsara dan wafat-Nya, tepat pada hari Kebangkitan-Nya, dalam peristiwa kunjungan pertama kepada para Rasul yang berkumpul di Senakel, [di mana dilaksanakan penetapan Ekaristi] Yesus Kristus mengucapkan kata-kata ini: ` Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada' (Yoh 20:22-23). Pentingnya kata-kata dan peristiwa ini sebegitu rupa hingga hendaknya dianggap sejajar dengan pentingnya Ekaristi itu sendiri” (Penitential Catechesis).
      • Di dalam Buku Catatan Hariannya, St. Faustina menunjukkan bahwa Sakramen Rekonsiliasi bukan hanya memberikan bagi kita pengampunan Allah, tetapi juga menyembuhkan jiwa yang terluka oleh dosa:
      • “ Mengenai Pengakuan Suci, ada dua macam manfaat yang bisa kita petik: - untuk menyembuhkan dan - untuk mendidik – seperti seorang anak kecil, jiwa kita butuh pendidikan yang berkesinambungan” (BCH 377).
      • Pengakuan sakramental sebagai sumber penyembuhan spiritual ini dijelaskan dalam katekismus Gereja Katolik :
  • 33.
      • Yesus Kristus, dokter jiwa dan tubuh kita, yang telah mengampuni dosa orang lumpuh dan telah memberi kembali kesehatan kepadanya (bdk. Mrk 2:1-12), menghendaki bahwa Gereja-Nya melanjutkan karya penyembuhan dan penyelamatan-Nya dalam kekuatan Roh Kudus. Karya ini juga dibutuhkan anggota-anggota Gereja sendiri. Ada dua Sakramen penyembuhan: Sakramen Pengakuan dan Pengurapan Orang Sakit. (Katekismus Gereja Katolik, 1421)
      • "Seluruh hasil Pengakuan ialah bahwa ia memberi kembali kepada kita rahmat Allah dan menyatukan kita dengan Dia dalam persahabatan yang erat". Dengan demikian tujuan dan hasil Sakramen ini adalah perdamaian dengan Allah. Bagi mereka yang menerima Sakramen Pengakuan dengan penuh sesal dan khidmat, dapat menyusullah "perdamaian dan kegembiraan hati nurani, dihubungkan dengan hiburan roh yang kuat". Sakramen perdamaian dengan Allah sungguh mengakibatkan "kebangkitan rohani", satu penempatan kembali dalam martabat dan dalam kekayaan kehidupan anak-anak Allah, dan yang paling bernilai adalah persahabatan dengan Allah- bdk. Luk 15:32. (Katekismus Gereja Katolik, 1468)
  • 34. 2.4. doa: mohon kerahiman ilahi
      • Sakramen-sakramen yang disertai dengan, doa bersama dan doa pribadi sekaligus penting jika kita mengalami belas kasih Allah. Doa yang benar merupakan dialog antara jiwa yang penuh kepercayaan dengan belas kasih Allah. Apakah kita sedang mengakui dosa-dosa kita di dalam doa, melambungkan pujian atau mengucap syukur kepada Tuhan. Doa yg mengalir dari kepercayaan kita dalam cinta belaskasih Allah itu memberi kita peluang untuk lebih menerima kasih-Nya.
      • Doa permohonan juga harus mengalir dari kepercayaan penuh akan belas kasih Allah. Karena “Allah adalah cinta dan belas kasih itu sendiri” (BCH, 1074). Ia selalu mencurahkan cinta - belas kasih-Nya ke dalam hati kita jika kita tekun memohon akan menerima-Nya. Yesus mengatakan: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk” (Why 3:20). Melalui doa permohonan kita yang sederhana, kita membuka pintu bagi-Nya di setiap peristiwa hidup ini.
      • St. Faustina mengerti kebutuhan doa yang demikian, khususnya dalam kesukaran.
  • 35.
      • “ Yesus memberiku pengertian bagaimana suatu jiwa diharapkan berdoa penuh iman meskipun ada siksaan, kekeringan, dan godaan. Realisasi rencana Allah yang besar sesungguhnya tergantung pada doa itu. Seringkali kita frustasi terhadap kehendak Allah yang terjadi melalui atau di dalam kita” (BCH, 872).
      • “ Dengan doa novena, Aku akan menganugerahkan sebanyak mungkin rahmat bagi jiwa-jiwa” (BCH 796)
      • “ Mintalah rahmat bagi mereka, supaya merekapun memuliakan kerahiman-Ku” (BCH 1160)
      • “ Anak-Ku, doronglah agar semua jiwa mendoakan koronka yang Kuajarkan padamu, sehingga Aku dapat memberi apa yang mereka minta dari-Ku. Bila para pendosa mendoakannya, Aku akan melimpahi jiwa mereka dengan damai dan saat ajalnya akan bahagia” (BCH 1541).
      • “ Sebentar lagi kamu akan mendatangi seseorang yang menghadapi ajalnya. Teruslah berdoa koronka. Dengan cara ini kamu mendapatkan baginya kepasrahan kepada kerahiman-Ku, karena kini ia sudah putus asa” (BCH 1797).
  • 36.
      • Secara khusus Yesus memikirkan orang-orang berdosa, maka berulang kali Ia minta doa untuk mereka:
      • “ Hilangnya setiap jiwa membuat Aku sedih luar biasa. Engkau selalu menghibur Aku jika engkau mendoakan orang-orang berdosa. Doa yang paling menyenangkan Aku ialah doa untuk keselamatan jiwa-jiwa orang berdosa. Ketahuilah putri-Ku, bahwa doa ini selalu dikabulkan” (BCH 1397).
      • Selain orang-orang berdosa, Yesus minta doa bagi para imam dan kaum religius di biara, yaitu mereka yang menuntun umat Allah dijalan menuju keselamatan. Mereka sangat rapuh dan membutuhkan dukungan doa.
      • “ Kupercayakan ke dalam lindunganmu dua mutiara yang sangat bernilaibagi hati-Ku, yaitu jiwa-jiwa para imam dan jiwa-jiwa para religius di biara. Berdoalah secara khusus bagi mereka. Kekuatan mereka ada dalam pengorbananmu. (BCH 531)
  • 37.
      • Yesus minta melalui St. Faustina untuk selalu membawa jiwa-jiwa yang ada dalam api penyucian kepada Kerahiman Ilahi, karena mereka hanya bergantung dari belaskasih kita untuk memohonkan belas kasih pengampunan Allah atas segala dosa maupun hukuman dosa yang masih harus ditanggungnya
      • “ Hari ini bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang berada dalam kurungan api penyucian, dan benamkanlah mereka dalam samudera kerahiman-Ku. Biarlah aliran-aliran Darah-Ku menyejukkan mereka yang kepanasan. Semua jiwa itu sangat Kukasihi. Mereka sedang menebus keadilan-Ku. Engkau mampu memberi kelegaan kepada mereka. Ambillah dari perbendaharaan Gereja segala indulgensi dan persembahkanlah itu bagi mereka. Oh, seandainya engkau mengetahui sengsara mereka, tentu tanpa henti-hentinya, demi mereka itu, akan kau persembahkan amal rohani serta membayar lunas utang-utang mereka terhadap keadilan-Ku.” (BCH 1226)
  • 38. 2.5. santa perawan maria : bunda belas kasih
      • “ Salam Ratu Tersuci, Bunda Belas Kasih….” Selama berabad-abad umat beriman menyapa Bunda Maria dengan gelar ini, dan sekarang, pada abad modern, Paus Yohanes Paulus II menghadirkan kembali di hadapan kita pentingnya peran unik Bunda Maria dalam rencana belas kasih Allah yang kekal.
      • Dalam ensikliknya, Dives In Misericordia, Bapa Suci menyisihkan satu bagian yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Santa Perawan Maria “Bunda Belas Kasih”. Dialah, menurut Bapa Suci, yang memiliki pemahaman paling mendalam akan belas kasih Allah, dialah yang, layak dan pantas menerima belas kasih Allah. Dia dipanggil dengan suatu cara yang istimewa untuk ikut ambil bagian dalam misi Putranya dalam menyatakan kasih-Nya, Bunda Maria tak kunjung henti mewartakan belas kasih-Nya “dari generasi ke generasi”.
  • 39.
      • Bagi St Faustina, Bunda Maria adalah sumber belas kasih Allah yang tak habis-habisnya, sebagai bunda, pelindung, guru, dan perantara. Dari Santa Perawan, ia menerima karunia kemurnian yang istimewa, kekuatan dalam penderitaan, dan pengajaran-pengajaran yang tak terhitung banyaknya mengenai kehidupan rohani.
      • “ Bunda Maria adalah instrukturku, yang senantiasa mengajariku bagaimana hidup bagi Allah” (BCH 620).
      • “ Semakin aku meneladani Bunda Allah, semakin lebih mendalam aku mengenal Allah” (BCH 843).
      • “ Sebelum menerima Komuni Kudus, dengan sungguh aku mohon Bunda Allah untuk menolong mempersiapkan jiwaku bagi kedatangan Putranya” (BCH 114).
  • 40.
      • “ Bunda Maria mengajarkan kepadaku bagaimana mengasihi Tuhan dari lubuk hati yang terdalam dan bagaimana melaksanakan kehendak-Nya yang kudus dalam segala hal. O Maria, Engkaulah sukacita, sebab melalui Engkau, Allah turun ke dalam dunia (dan) ke dalam hatiku” (BCH, 40).
      • “ O Maria, Bundaku, … aku mempercayakan segalanya dalam tangan Bunda” (BCH 79).
      • “ Aku bukan saja Ratu Surga, melainkan juga Bunda Belas Kasih dan Bunda-mu” (BCH 330).
      • “ Aku Bunda bagi kalian semua, syukur kepada kerahiman Allah yang tak terselami” (BCH 449).
  • 41. 3. mewartakan kerahiman ilahi
      • Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Gereja harus mengingat bahwa salah satu tugas utamanya - di setiap tahap sejarah manusia dan teristimewa di abad modern sekarang ini - mewartakan dan menghantar hidup ke dalam misteri kerahiman yang sangat nyata di dalam diri Yesus Kristus” (Dives In Misericordia, 14).
      • Pentingnya mewartakan Kerahiman Ilahi ini merupakan tema yang terus-menerus muncul secara teratur dalam Buku Catatan Harian St Faustina:
      • Wartakanlah ke seluruh dunia kerahiman-Ku yang tak terselami (BCH, 1142).
      • Wartakanlah sifat Allah yang utama yaitu kerahiman. Segala karya tangan-Ku dimahkotai dengan belas kasih (BCH, 301)
  • 42.
      • Jiwa-jiwa yang mewartakan hormat kepada kerahiman Ilahi akan Aku lindungi sepanjang hidup bagaikan seorang ibunda yang lembut hati menjaga bayinya, dan di saat ajalnya, Aku bukan lagi menjadi hakim, melainkan Juruselamat yang maha rahim (BCH 1075).
      • Lakukanlah apapun dengan segenap kekuatanmu untuk menyebarkan Devosi Kerahiman Ilahi. Aku akan menyempurnakan kekuranganmu. Katakanlah kepada segenap umat manusia yang sakit untuk datang merapat pada Hati-Ku yang berbelas kasih, Aku akan memenuhinya dengan damai sejahtera (BCH, 1074).
      • Katakanlah kepada para imam-Ku bahwa para pendosa yang keras hati akan bertobat karena mendengarkan perkataan mereka saat para imam-Ku itu berbicara mengenai kerahiman-Ku yang tak terselami, belas kasihan Hati-Ku tersedia bagi mereka. Kepada para imam yang mewartakan serta mengagungkan kerahiman-Ku, Aku akan menganugerahkan kuasa yang menakjubkan; Aku akan mengurapi perkataan mereka dan menyentuh hati orang-orang kepada siapa mereka berbicara (BCH, 1521).
  • 43. 3.1. sarana pewartaan
      • Yesus memberikan sarana-sarana yang menjadi unsur-unsur devosi kerahiman Ilahi, yaitu: Lukisan Yesus Kerahiman ilahi, Pesta kerahiman Ilahi, Novena Kerahiman Ilahi dan Doa Koronka, Jam Kerahiman (Saat Yesus Wafat)
      • Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik “Dives in Misericordia” menulis bahwa Gereja mengakui kerahiman Allah, memaklumkannya, mengamalkan belas kasihnya dan memohon kerahiman Allah. Itulah tugas dan kewajiban Gereja mewujudkan nasehat Injil.
      • Pembaruan hidup rohani, pengalaman akan belas kasih Allah bagi orang-orang yang melibatkan diri dalam kerasulan devosi Kerahiman Ilahi dapat mengubah hidup seperti Yesus. Hidup dalam penyerahan total kepada Allah, melaksanakan kehendak-Nya, hingga berani memberikan kesaksian hidup kristiani yang selalu bersandar pada kekuatan cinta Allah dan bersikap penuh belas kasih pada sesama. Seperti yang diungkapkan Yesus kepada St. Faustina: “Hidup kalian harus meneladani Aku mulai dari palungan sampai kepada Salib” (BCH 438).
  • 44. 3.2. mengamalkan perbuatan belaskasih
      • Mengamalkan belas kasih bukan suatu pilihan dari praktek Devosi Kerahiman Ilahi ini, melainkan suatu keharusan! Kita perlu menunjukkan belas kasih kepada sesama dalam perbuatan.
      • “ Engkau seharusnya menjadi orang pertama yang sepenuhnya mengandalkan kerahiman- perbuatan belas kasih yang harus mengalir dari kasih kepada-Ku. Belas kasih harus kau tunjukkan kapan saja dan di mana saja kepada sesama. Engkau tak boleh menjauhi tugas ini atau mencari alasan untuk tidak melakukannya. Aku memberikan tiga cara mengamalkan perbuatan belas kasih kepada sesama: Pertama - PERBUATAN, kedua – PERKATAAN, ketiga - DOA. Dalam tiga tingkatan belas kasih ini, terkandung kepenuhan belas kasih (BCH 742).”
  • 45. karya-karya belas kasih jasmani:
      • Kita semua dipanggil untuk mengamalkan ketiga tingkatan belas kasih ini, dengan cara yang berbeda. Tuhan memahami pribadi dan situasi kita masing-masing yang unik. Dengan berbagai macam cara kita dapat menyatakan belas kasih-Nya dalam hidup kita sehari-hari.
      • KARYA-KARYA BELAS KASIH JASMANI:
        • Memberi makan kepada yang lapar
        • Memberi minum kepada yang haus
        • Memberi tumpangan kepada tunawisma
        • Mengenakan pakaian kepada yang telanjang
        • Mengunjungi orang miskin
        • Mengunjungi orang tahanan
        • Menguburkan orang mati
  • 46. karya-karya belas kasih rohani:
      • MENGAJAR
      • MEMBERI NASEHAT
      • MENGHIBUR
      • MEMBESARKAN HATI
      • MENGAMPUNI
      • MENANGGUNG DENGAN SABAR HATI
      • MENDOAKAN MEREKA YANG HIDUP DAN MATI
  • 47. 3.3. menjadi rasul kerahiman
      • Di Krakow, Paus Yohanes Paulus II berkata: “Hendaknya amanat ini menyebar dari tempat ini ke seluruh tanah air tercinta dan seluruh dunia. Janji Tuhan melalui St. Faustina kiranya digenapi, dari sini akan muncul nyala api kecil yang akan mempersiapkan dunia akan kedatangan-Ku yang terakhir (BCH 1732)”.
      • Nyala api kecil itu perlu dikobarkan. Amanat kerahiman perlu diteruskan kepada dunia. Dalam Kerahiman Ilahi itu dunia menemukan kedamaian dan manusia menemukan kebahagiaan. Tugas ini saya percayakan kepadamu, saudara-saudari terkasih, kepada Gereja di Krakow dan di Polandia, dan juga kepada semua pencinta devosi kerahiman Ilahi yang akan datang ke sini dari Polandia dan dari seluruh dunia, Jadilah saksi kerahiman.
  • 48.
      • Sebagai umat katolik kita para devosan hendaknya membangun persekutuan dalam suatu paguyuban mulai di lingkungan, wilayah, paroki, dan keuskupan. Paguyuban-paguyuban ini bisa menjadi jaringan karya dan doa yang dapat saling meneguhkan dan membantu satu sama lain. Inilah semangat Gereja Perdana yang ingin kita bangun bersama mulai basis lingkungan, sampai ketingkat paroki dan keuskupan kita masing-masing. Lalu kita tingkatkan membangun jaringan persaudaraan antar paroki, antar keuskupan, antar Negara maupun dengan kelompok-kelompok lain.
      • Di dalam paguyuban kita bisa berdoa bersama, belajar dan refleksi bersama lewat seminar, rekoleksi, konvensi maupun kegiatan dan karya kerahiman lainnya. Perlu diingat kita diberi banyak karunia untuk membangun kemajuan bersama. Hal ini harus kita syukuri! Namun kita juga diberi banyak kelemahan dan kekurangan agar kita boleh belajar dari orang lain, dan mau belajar dari Tuhan Yesus sendiri menjadi orang yang bijak, dan rendah hati. Tidak memaksa kehendak sendiri tetapi membiarkan rencana dan penyelenggaraan ilahi boleh terjadi.
  • 49.
      • Semakin bertambah banyak anggota maupun berbagai aktivitas kegiatan yang ada , maka semakin banyak konflik yang terjadi karena perbedaan kepentingan didalam anggota-anggota yang ada. Para pengurus paguyuban jangan merasa kecewa, takut atau gelisah, semakin banyak kesulitan yang timbul akan semakin banyak pula rahmat dan belas kasih yang akan dicurahkan bagi kita. Kita bisa belajar dari pengalaman para rasul, dalam doa mereka tidak minta dilepaskan dari kesulitan tetapi minta diberi keberanian sebagai pewarta, mujizat terjadi dan mereka penuh dengan Roh Kudus (bdk. Kis 4:23-31). Di dalam doa dan iman kepercayaan kita karunia belas kasih Allah itu semakin berkembang dalam hati dan menyatu dalam jiwa.
  • 50. Selamat Berkonvensi Siap Diutus Menjadi Rasul Kerahiman Ilahi