Askep pada anak dengan dipteri
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Askep pada anak dengan dipteri

on

  • 340 views

Anak

Anak

Statistics

Views

Total Views
340
Views on SlideShare
340
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
5
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Askep pada anak dengan dipteri Askep pada anak dengan dipteri Presentation Transcript

  • Eka Permata Y.W
  • * *Difteri adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. *Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan tanda khas berupa pseudomembran dan dilepaskannya eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal. * Penularan umumnya melalui udara, berupa infeksi droplet, selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontaminasi. (FKUI: 2007)
  • *Difteria adalah suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dengan ditandai pembentukan pseudo-membran pada kulit dan/atau mukosa. (Infeksi dan Tropis Pediatrik IDAI: 2008)
  • * * Penyebab penyakit difteri adalah kuman corynebacteriumdifteri yang bersifat: bakteri gram +, polymorf, tidak bergerak, tidak membentuk spora, terdiri dari 3 jenis basil yaitu : gravis, mitis, inter medius, membentuk pseudomembran yang sukar diangkat, mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan, mengeluarkan eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan. Penularan penyakit difteri adalah melalui udara ( droplet infection ), tetapi juga dapat perantara alat/ benda yang terkontaminasi oleh kuman difteri.
  • * *Tergantung pada: Lokasi tempat infeksi Imunitas pasien Ada tidaknya toksin pada sirkulasi darah *Gejala Klinis *Gejala umum Demam Pilek Sesak Sakit kepala Batuk
  • *Gejala lokal *Difteri hidung/ Difteri ringan *Pseudomembran sampai batas pada hidung/ parsial dengan gejala secret hidung serosa inguinosa, epistaksis, ada pseudomembran pada septum nasi. *Difteri faring dan tonsil/ Difteri sedang *Pseudomembran menyebar lebih luas sampai dinding posterior faring dengan edema ringan laring yang dapat diatasi dengan pengobatan konservatif dengan gejala panas tidak tinggi, nyeri telan ringan, mual, muntah, nafas berbau dan timbul ‘Bullneck’. * Difteri laring/ berat *Disertai dengan sumbatan jalan nafas yang berat yang hanya dapat diatasi dengan tracheostomi dengan gejala sesak nafas hebat, stridor inspirator, sianosis, terdapat retraksi otot supra sternal dan epigastrium, laring tampak kemerahan, sembab, banyak secret, dan permukaan tertutup oleh pseudomembran.
  • *
  • Prognosis penyakit ini bergantung pada: *Umur pasien, makin muda usianya makin jelek prognosisnya *Perjalanan penyakit, makin terlambat ditemukan makin buruk keadaanya *Letak lesi Difteri, bila dihidung tergolong ringan *Keadaan umum pasien, bila gizi buruk makin buruk keadaannya *Terdapat komplikasi, miokarditis sangat memperburuk prognosis *Pengobatan, terlambat pemberian ADS, prognosis makin buruk
  • * Laboratorium * Pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit dan kadar albumin. Pada urine terdapat albuminuria ringan. * Penularan KN watje ( kell dan noise ) * Dengan lidi waten dikontaminasikan pada pseudomembran yang ada pada lokasi yang terkena, kemudian dimasukkan pada tabung reaksi dengan media agar-agar dan periksa. Apabila pemeriksaan KN 2x berturut-turut dan bila (-) perubahan positif terjadi. *
  • * Pada saluran pernafasan: terjadi obstruksi jalan nafas, atelektasis dan bronchopnomonia. * Kardiovaskuler: miokarditis * Kelainan syaraf kira-kira 10% pasien difteri menjadi komplikasi yang mengenai susunan syaraf terutama sistem motorik dapat berupa: * Paralisis palatum mole, sehingga terjadi suara sengak tersedak/ sukar menelan: dapat terjadi pada minggu ke I sampai ke II * Paralisis otot-otot mata, dapat mengakibatkan strabismus, gangguan akomodasi, dilatasi pupil/ ptosis yang timbul pada minggu ke III * Paralisis umum, dapat terjadi pada minggu ke IV, kelainan dapat mengenai otot muka, leher, anggota gerak dan otot pernafasan.
  • * * Imunisasi Iminisasi Primer Anak usia 6 minggu - 6 tahun * Diberikan dosis Td secara IM/ SC dengan interval 4-6 minggu dimulai ketika anak usia 6 minggu - 2 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian ke-4 selama 1 tahun sesudah pemberian ke-3 preparat yang digunakan adalah Pediatric Taksoid Dipteria Anak usia 7 tahun / lebih * Diberikan Td dengan pemberian ke-2 berselang waktu 4-8 minggu diberikan dengan pemberian 1 dan pemberian 3 berselang 1 tahun dengan pemberian ke-2, preparat yang digunakan adalah Adult Taksoid Dipteria
  • * Pengobatan Umum *Isolasi pasien *Istirahat total *Makanan yang mudah dicerna, cukup mengandung protein dan kalori *Kontrol EKG 2-3 kali seminggu selama 4-6 minggu, bila terjadi miokarditis harus istirahat total di tempat tidur Pengobatan Khusus *ADS( Anti Difteri Serum ) *Antibiotik, PP 50.000 IU/BB/hari sampai 10 hari bila alergi berikan eritromicin 40 mg/kg BB/hari dalam 4 dosis. *Kortikosteroid, digunakan untuk mengurangi edema laring dan mencegah komplikasi miokarditis, diberikan Prednison 2 mg/kg BB/hari selama 3 minggu yang diberikan secara bertahap. *Bila pasien perlu di lakukan Trakheostomi
  • * *Pengkajian *Diagnosa keperawatan *Intervensi *Implementasi *Evaluasi
  • * * Identitas klien * Keluhan utama * Riwayat Penyakit Sekarang * Demam, Sakit Kepala, Batuk, lesu/ lemah, sianosis, sesak nafas, dan pilek. * Riwayat penyakit keluarga * Dimungkinkan ada keluarga/ lingkungan yang menderita penyakit Difteria * Riwayat Imunisasi * Pemeriksaan umum * • Kesadaran : compos mentis sampai dengan coma * • TD: turun * • RR: cepat dan dangkal * • Nadi: cepat * • Suhu : peningkatan suhu tubuh * Pemeriksaan fisik * • Wajah: sianosis * • Hidung : terdapat secret berbau busuk sedikit bercampur darah, ada membran putih pada septum nasi * • Mulut: bibir kering, mulut terbuka, ada membran putih pada tonsil dan faring * • Leher: pembesaran getah bening pada leher, edema pada laring dan trachea (Bullneck), permukaan laring dan trachea tertutup oleh pseudomembran
  • * *Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan terlepasnya eksotoksin *Gangguan pemenuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan nyeri telan *Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan pseudomembran *Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua tentang penyakit anaknya
  • * * Diagnosa keperawatan I * Tujuan: Klien menunjukan suhu tubuh dalam batas normal * Kriteria hasil: * - Suhu normal ( 36,5- 37,2 c) * - Keringat keluar secara wajar * Intervensi : * - Pertahankan suhu kamar * R/ Dapat terjadi pertukaran suhu secara konveksi * - Berikan baju tipis yang mudah menyerap keringat * R/ Membantu proses penguapan * - Berikan minum yang banyak * R/ Minum banyak membantu proses penurunan suhu tubuh * - Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti piretik * R/ Menurunkan panas dalam pusat hipotalamus
  • * * Diagnosa keperawatan II * Tujuan : - Klien dapat menunjukan dan mempertahankan BB yang normal * - Kebutuhan nutrisi terpenuhi * Kriteria hasil : * - Adanya minat dan selera makan * - Porsi makan sesuai kebutuhan * - BB meningkat * Intervensi: * - Monitor intake kalori dan kualitas konsumsi makan * R/ Mengetahui pemasukan makanan * - Monitor tanda-tanda kelumpuhan palatum mole dan durum * R/ Makanan dalam porsi kecil mudah dikonsumsi oleh klien dan menghindari terjadinya anoreksia * - Berikan makanan yang merangsang selera * R/ Meningkatkan intake makanan * - Timbang BB tiap hari * R/ Memonitor kurangnya BB dan efektifitas nutrisi yang diberikan * - Berikan NS bila ada kelumpuhan
  • * * Diagnosa keperawatan III * Tujuan : Mempertahankan efektifitas pernafasan * Kriteria hasil : * - Tidak terdengar suara nafas tambahan * - Tidak ada tarikan otot bantu pernafasan * - Tidak ada batuk * - Tidak ada sekresi dari saluran pernafasan yang berlebihan * - Frekwensi pernafasan dalam batas normal * Intervensi * - Auskultasi suara nafas, perhatikan adanya suara nafas tambahan * R/ Adanya obstruksi pada saluran nafas dimanifestasikan pada saluran nafas * - Bantu pasien pada posisi yang nyaman, kepala lebih tinggi dari kaki * R/ Diafragma lebih rendah dapat meningkatkan ekspansi dada * - Tingkatkan intake cairan sesuai kebutuhan * R/ Thurasi membantu menurunkan viskositas secret dan mempermudah pengeluaran * - Bantu melakukan fisioterapi dada * R/ Postural drainare dan perkusi merupakan tindakan pembersihan yang penting untuk mengeluarkan secret dan memperbaiki ventalasi * - Lakukan suction * R/ Bila mekanisme pembersihan jalan nafas atau batuk tidak efektif dilakukan suction * - Berikan oksigen sesuai indikasi * R/ Memaksimalkan transport dalam jaringan
  • * * Diagnosa keperawatan IV * Tujuan : Didapatkan kondisi lingkungan yang dapat mencegah atau menurunkan resiko terjadinya infeksi * Kriteria hasil : * - Klien mencapai kesembuhan * - Tidak ada drainage yang purulen * - Suhu tubuh dalam batas yang normal * Intervensi: * - Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan * R/ Mencegah kontaminasi silang * - Pertahankan teknik aseptic * R/ Menurunkan resiko kolarisasi bakteri * - Batasi pengunjung, berikan isolasi pernafasan * R/ Membatasi infeksi silang kuman difteria pada perawat * - Berikan perawatan secara teratur: mandi, BAB, BAK, dan berpakaian * R/ Kulit yang kotor merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme * - Monotor suhu secara teratur * R/ Efek dari inflamasi adalah panas * - Observasi adanya luka-luka drainage purulen * R/ Indikasi adanya infeksi local * - Berikan antibiotic sesuai program tim medis * R/ Untuk profilaksis * 2.4 Implementasi * Sesuai dengan intervensi * 2.5 Evaluasi * Berdasarkan tujuan
  • *