Jurnal contoh titik didih

on

  • 1,787 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,787
Views on SlideShare
1,787
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
17
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Jurnal contoh titik didih Jurnal contoh titik didih Document Transcript

  • Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 12 No.1 (April 2011) 31-39 STUDI KOMPARASI INAKTIVASI Escherichia coli DAN PERUBAHAN SIFAT FISIK PADA PASTEURISASI SUSU SAPI SEGAR MENGGUNAKAN METODE PEMANASAN DAN TANPA PEMANASAN DENGAN KEJUT MEDAN LISTRIKComparison Study on E. coli Inactivation and Physical Changes of Thermal and Non Thermal Processing using PEF (Pulsed Electric Field) in Fresh Milk Pasteurization * La Choviya Hawa , Bambang Susilo, Natalia Eka Jayasari Jurusan Keteknikan Pertanian – Fak. Teknologi Pertanian – Universitas Brawijaya Jl. Veteran - Malang *Penulis Korespondensi: email el_c_ha@yahoo.com ABSTRACT The objectives of this research were to determine the lethal rate of E. coli and toanalyze the density, moisture content, viscosity, boiling point, freezing point, and colorchanges in non thermal pasteurization (pulsed electric field), thermal pasteurization(heat treatment), and combination of both in fresh milk. Experimental-descriptivemethod with 2 factors was used in this research. First factor was voltage (20, 40, 60, 80and 100 kV) and second factor was type of pasteurization (non thermal, thermal, andcombination thermal-non thermal). Pasteurization time was 60 second and eachtreatment was replicated three times. The results showed that the highest E. coliinactivation was combination of thermal and non thermal pasteurization i.e 2.5 logcycles. Physical attributtes (density, moisture content, viscosity, boiling point, freezingpoint, and color) of milk that treated by non thermal pasteurization and combination didnot change significantly after pasteurization compared to fresh milk.Keywords: thermal and non thermal pasteurization, lethal rate, physical attributtes PENDAHULUAN dalam membunuh mikroorganisme tanpa mengubah karakteristik sensoris dan nut- Pengolahan susu sering dihubung- risi dari bahan pangan (Barbosa, 2000).kan dengan proses pasteurisasi. Metode Bertolak dari beberapa keuntunganpasteurisasi yang umum diaplikasikan metode pasteurisasi PEF, maka perlu di-pada produk susu adalah dengan pema- lakukan pengujian metode kombinasi an-nasan. Pasteurisasi dengan pemanasan tara pasteurisasi dengan pemanasan dandapat menyebabkan degradasi nutrisi metode PEF. Diduga penggabungan duayang bermanfaat bagi tubuh, juga dapat metode pasteurisasi dapat mempercepatmerusak rasa, warna, tekstur, dan sifat laju kematian bakteri E. coli dan mengu-fisik lain dari susu yang dapat menurun- rangi degradasi nutrisi serta sifat fisikkan kualitas produk susu. Dewasa ini te- dari produk susu sehingga didapatkanlah dikembangkan alternatif untuk pas- produk olahan susu yang berkualitas danteurisasi susu yaitu kejut medan listrik sesuai standar yang ditentukan.atau Pulsed Electric Fields (PEF). PEF Tujuan dari penelitian ini adalahmerupakan pasteurisai non thermal de- menentukan laju kematian E. coli padangan pemberian pulsa kejut listrik te- berbagai variasi tegangan, dan mengana-gangan tinggi. Pemberian pulsa tegangan lisis perubahan massa jenis, kadar air,tinggi merupakan salah satu metode pe- viskositas, titik didih, titik beku dan war-ngawetan produk pangan yang potensial na pada pasteurisasi non termal menggu- 31
  • Komparasi Pasteurisasi Susu Segar Metode Pemanasan dan Kejut Listrik (Hawa dkk)nakan kejut medan listrik, pasteurisasitermal dan kombinasi pasteurisasi ter-mal-non termal METODE PENELITIANAlat dan Bahan Alat yang digunakan adalah rang-kaian alat PEF, oven otoklaf YXQ602,vortex VM-2000, laminar airflow, inku-bator (Binder), laktodensitometer, visko- Gambar 1. Pembangkit pulsa teganganmeter Brookfield DV-II+pro, color tinggireader Minolta CR-10, termometer, ta-bung ukur, panci stainless steel, botol,stop watch, kompor, dan perangkat gelas. Bahan yang digunakan adalah sususegar yang diperoleh dari KUD DAU.alkohol 95%, akuades, VRBA (Violet RedBile Agar), dan pepton (Oxoid).Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metodeeksperimental deskriptif dengan perlaku-an variasi tegangan dan jenis pasteurisa-si. Variasi tegangan yang digunakan Gambar 2. Ruang perlakuan (treatmentadalah 20, 40, 60, 80, dan 100 kV dengan chamber)waktu 60 detik. Volume untuk masing-masing perlakuan adalah 500 mL. Jenis MULAIpasteurisasi yang dilakukan adalahsecara termal (pemanasan), nontermal Susu segar, 500 ml(PEF), dan kombinasi pemanasan danPEF. Kontrol yang digunakan adalah Pemanasan dalam panci stainless steel di atas air mendidih, T=70±2 °C,kontrol susu sapi segar perlakuan PEF 0 t=15 detikkV dan kontrol susu sapi denganpemanasan. Pasteurisasi dengan pemanasan di- Susu pasteurisasi thermallakukan pada suhu 70±2°C selama 15detik (Winarno dkk, 1984; Saparianti dkk,2008). Pasteurisasi nontermal dilakukan Pendinginan sampai T=25 °Cdengan menggunakan teknologi PEF.Kombinasi pasteurisasi dilakukan denganpemanasan dan dilanjutkan dengan PEF. Pemasukan dalam botolTiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Alat pembangkit pulsa tegangan PEFdan tempat perlakuan ditunjukkan pada SELESAIGambar 1 dan 2. Diagram alir prosesperlakuan pemanasan, perlakuan PEF dankombinasi pemanasan dan PEF ditunjuk- Gambar 3 Diagram alir proses perlakuankan pada Gambar 3, 4 dan 5. pemanasan 1. Diagram Alir Proses Perlakuan Pemanasan Gambar (Saparianti dkk, 2008)
  • Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 12 No.1 (April 2011) 31-39 Parameter yang diamati pada penelitian meliputi jumlah E.coli sebelum dan sesudah pasteurisasi, dan perubahan sifat fisik susu segar sebelum dan sesudah pasteurisasi yaitu massa jenis, kadar air, viskositas, titik didih, titik beku, dan warna. HASIL DAN PEMBAHASAN Total Escherichia coli Total E.coli susu awal sebesar 2,9 2 x10 CFU/mL. Total E.coli terendah pa- 1 da tegangan 100 kV sebesar 1,5 x10 CFU/mL. Total E.coli susu perlakuan 1 pemanasan sebesar 2,0 x10 CFU/mL. Pada perlakuan kombinasi pemanasan dan PEF, total E. coli hidup rendah terjadi Gambar 4. Diagram alir perlakuan PEF pada perlakuan tegangan 100 kV sebesar 1 0,1 x 10 CFU/mL. Hubungan antara te- gangan dan total bakteri E. coli dapat MULAI dilihat pada Gambar 6. Susu segar, 500 ml Pemanasan dalam panci stainless steel diatas air mendidih, T= 70±2 °C, t=15 detik Susu pasteurisasi thermal Pendinginan sampai T= 25 °C Pemasukan pada ruang perlakuan Gambar 6. Grafik hubungan antara te- gangan dan total Escherichia coli Pasteurisasi dengan PEF, V= 20, 40, 60, 80, 100 kV; t= 60 detik Pada Gambar 6 tampak bahwa per- lakuan pemanasan mampu mereduksi E. Susu pasteurisasi kombinasi coli sebesar 1,2 siklus log, perlakuan thermal dan nonthermal PEF mereduksi sebesar 1,3 siklus log dan untuk perlakuan kombinasi mereduksi Pemasukan dalam botol sebesar 2,5 siklus log. Pada kombinasi perlakuan pemanasan dan PEF lebih Pembersihan ruang perlakuan dengan efektif menurunkan jumlah E. coli. Hal ini alkohol 95% dikarenakan pada proses pemanasan de- ngan suhu 70±2°C selama 15 detik mam- SELESAI pu menginaktivasi E. coli. Fardiaz (1992) menyatakan bahwa E. coli merupakanGambar 5. Diagram alir perlakuan kombi- bakteri yang rentan terhadap suhu tinggi.nasi E. coli mempunyai suhu maksimum 33
  • Komparasi Pasteurisasi Susu Segar Metode Pemanasan dan Kejut Listrik (Hawa dkk)pertumbuhan 40-45°C, di atas suhu wa perlakuan PEF menyebabkan elektro-tersebut bakteri E. coli mengalami porasi membran sel dan berakibat rusak-inaktivasi. nya sel mikroorganisme. Oleh karena itu E. coli selain bakteri tidak tahan penambahan kematian mikrob dengan ku-panas juga adalah bakteri gram negatif at tegangan berhubungan dengan penam-yang rentan terhadap perlakuan PEF. Hal bahan keadaan sel mikrob yang membu-inilah yang menyebabkan pada proses ruk. Selain itu telah diteliti bahwa me-pasteurisasi baik PEF, pemanasan atau- kanisme kematian mikrob pada perlakuanpun kombinasi pemanasan dan PEF dapat PEF berbeda dengan perlakuan panas.menginaktivasi hingga lebih dari 1 siklus Perlakuan panas (66°C selama 10 menit)log. Hasil penelitian ini diperkuat oleh menghasilkan kerusakan hebat pada or-pernyataan Mazurek et al. (1995); Potha- ganel sel, tetapi tidak mengalami keru-kamury et al. (1995) dan Vega-Mercado sakan pecahnya dinding sel seperti yang(1996) bahwa bakteri gram negatif lebih terjadi pada perlakuan PEF.sensitif terhadap perlakuan PEF daripada Energi listrik yang digunakan untukbakteri gram positif. pasteurisasi susu dengan metode PEF Penelitian terdahulu oleh Muslim lebih besar dibandingkan dengan pasteu-(2010), dengan menggunakan susu sapi risasi termal. Ekuivalensi data diperolehsegar sebagai bahan uji mampu pada perlakuan PEF dengan tegangan 20menginaktivasi sebesar 0,61 siklus log kV dan perlakuan pemanasan sebesar ±Staphylococcus aureus pada tegangan 80 1300 kJ/l.kV selama 90 detik. Hasil ini lebih kecilkarena Staphylococcus aureus merupa- Kinetika Laju Penurunan dan Lajukan bakteri gram positif yang lebih tahan Kematian Rata-rata Escherichia colibila dikenai perlakuan PEF. Penelitian Menurut Toledo (1999), nilai DSaparianti dkk (2008), dengan menggu- (Decimal Reduction Time) pada pasteu-nakan air kelapa sebagai bahan uji risasi thermal merupakan waktu yang di-memberikan hasil kejut medan listrik perlukan untuk membunuh mikrob sebe-dengan perlaku-an awal pemanasan lebih sar 90% dengan suhu yang konstan. Le-efektif dalam menurunkan total mikrob thal rates merupakan laju kematian mik-dan E.coli. roorganisme tiap satuan waktu. Nilai D Aronsson et al. (2001) menyatakan dan lethal rates pasteurisasi susu ditun-bahwa pembunuhan mikrob dikarenakan jukkan pada Tabel 1.oleh PEF adalah berhubungan dengan ku-at tegangan, waktu dan jumlah kejut yang Tabel 1. Nilai D dan lethal ratesdigunakan. Jumlah dari E. coli, L. innocua, Kombinasi Perlakuan Lethal Rates ((CFU/mL)/dL. mesenteroides, dan S. cereviceae me- Pasteurisasi Tegang D (detik) etik)nurun ketika salah satu parameter ditam- an (kV)bah. Pernyataan ini diperkuat dengan 20 730,04 0,8pernyataan Sale dan Hamilton (1967) dan 40 293,68 1,8Hulsheger et al. (1983) bahwa inaktivasi PEF 60 122,63 3,3dari sejumlah mikrob bergantung pada 80 85,84 3,9kuat tegangan dan jumlah waktu yangdigunakan. 100 46,64 4,6 Mekanisme kematian mikrob akibat 0 51,66 4,5perlakuan PEF diduga karena rusaknya 20 47,68 4,6jaringan sel. Pemberian listrik berte- Pemanasan 40 43,38 4,6gangan tinggi menyebabkan pembentukan +PEF 60 39,78 4,7pori-pori pada membran sel bakteri.Pernyataan ini diperkuat oleh Pothaka- 80 34,02 4,7mury et al. (1995) yang menyatakan bah- 100 24,37 4,8
  • Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 12 No.1 (April 2011) 31-39 Pada Tabel 1 tampak bahwa sema- Pada Gambar 7 tampak bahwa se-kin besar tegangan yang diberikan, maka makin tinggi tegangan yang digunakannilai D akan semakin kecil. Hal ini terjadi maka massa jenis susu semakin menurun,karena semakin besar tegangan yang di- namun penurunannya tidak signifikan.gunakan maka waktu yang diperlukan Hasil yang diperoleh ini sesuai denganuntuk membunuh mikrob akan semakin syarat mutu susu segar dimana massasingkat. Ekuivalensi nilai D terjadi pada jenis susu yang distandarkan adalah 3perlakuan PEF dengan tegangan 100 kV minimum 1,028 g/cm (SNI 01-3141-yang setara dengan perlakuan kombinasi 1998). Menurut Spreer (1998), massapada tegangan 20 kV yaitu ±47 detik. Hal jenis susu bervariasi antara 1,027-1,035 3ini didukung oleh pernyataan Zeuthen g/cm tergantung jenis dan kuantitas dari(2003) bahwa faktor-faktor yang mem- partikel terdispersi. Dengan meningkat-pengaruhi kematian mikrob dengan pro- nya kandungan lemak, bobot jenis akanses PEF diantaranya yaitu intensitas te- menurun. Massa jenis akan meningkat bi-gangan, frekuensi, waktu perlakuan, serta la kandungan protein, laktosa dan mineralkonsep hurdle (kombinasi perlakuan). dalam susu meningkat. Menurut Topfl Nilai D kombinasi bernilai lebih baik (2006) massa jenis tidak dapat terdegra-dibandingkan perlakuan PEF atau pema- dasi oleh perlakuan PEF saat total pa-nasan. Hal ini dikarenakan pada proses datan terlarut, sugar-acid-ratio tidakkombinasi, susu terlebih dahulu dipanas- berubah jumlahnya. Hal inilah yang men-kan sehingga sebagian besar mikrob ter- dasari konstannya nilai massa jenis hasilbunuh karenanya. Kemudian dilanjutkan pasteurisasi menggunakan teknologi PEF.dengan pemberian pulsa tegangan tinggi(PEF) yang menyebabkan semakin mudah Kadar Airmembunuh sisa mikrob yang ada. Kadar air awal susu sebesar 87,35%. Kadar air setelah PEF berkisarMassa Jenis antara 88,17-88,84%. Kadar air susu Massa jenis awal susu sebesar setelah proses pemanasan adalah 31,030 g/cm . Massa jenis setelah PEF 89,26%. Pada perlakuan kombinasi pe- 3berkisar antara 1,028-1,029 g/cm . Mas- manasan dan PEF, kadar air berkisar an-sa jenis susu setelah proses pemanasan tara 88,43-89,06%. Hubungan antara te- 3adalah 1,028 g/cm . Pada perlakuan kom- gangan dan kadar air dapat dilihat padabinasi pemanasan dan PEF, massa jenis Gambar 8. 3susu berkisar antara 1,028-1,029 g/cm .Hubungan antara tegangan dan massajenis ditunjukkan pada Gambar 7. Gambar 8. Hubungan antara tegangan dan kadar air susuGambar 7. Hubungan antara tegangan Adanya perlakuan PEF, pemanasandan massa jenis susu ataupun kombinasi antara pemanasan dan PEF menyebabkan kadar air susu me- ningkat namun tidak signifikan. Pening- 35
  • Komparasi Pasteurisasi Susu Segar Metode Pemanasan dan Kejut Listrik (Hawa dkk)katan yang terjadi selama proses pasteu- mun perbedaannya tidak signifikan. Ada-risasi adalah sebesar 1,91%. Menurut nya sedikit penurunan nilai pada viskosi-Barbosa (2000) pemberian pulsa tegang- tas dikarenakan terjadi reaksi enzimatik.an tinggi tidak membawa efek terhadapsifat fisik terutama kadar air. Hal ini ter- Titik Didihjadi karena padatan terlarut yang terkan- Titik didih susu awal sebesar 96°C.dung dalam susu juga tidak mengalami Titik didih sesudah PEF berkisar antaraperubahan yang berarti sehingga air yang 96-98°C. Titik didih pada perlakuan pe-terkandung relatif tetap. manasan sebesar 97°C. Titik didih susu Kadar air susu sapi secara umum kombinasi pemanasan dan PEF berkisaryaitu 87,25% (Rahman dkk., 1992), 80- antara 98-99°C. Hubungan antara te-90% (Maheswari, 2004) dan 87,5% (Wi- gangan dan titik didih susu ditunjukkannarno, 1984). Tingginya kadar air susu pada Gambar 10.sapi disebabkan karena air merupakanmedium pendispersi lemak dan komponenterlarut dalam air susu. Sesuai denganpernyataan Winarno (1984), bahwa susumerupakan emulsi lemak dalam air, se-hingga kandungan air pada susu menjadilebih tinggi.Viskositas Viskositas awal susu sebesar 20,0017 Ns/m . Viskositas setelah PEF 2 Gambar 10. Hubungan antara teganganberkisar antara 0,0016-0,0017 Ns/m . dan titik didih susuViskositas setelah pemanasan sebesar 20,0018 Ns/m . Viskositas kombinasi pe- Titik didih susu setelah mengalamimanasan dan PEF berkisar antara 2 pemanasan mengalami sedikit kenaikan0,0017-0,0018 Ns/m . Hubungan antara (Gambar 10). Hal ini dikarenakan dengantegangan dan viskositas ditunjukkan pada adanya proses pemanasan maka sebagianGambar 9. kecil dari jumlah air diuapkan sehingga kadar gula dalam susu akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan PEF. Menurut Saleh (2004), titik didih susu se- dikit lebih tinggi dari titik didih air murni, yaitu rata-rata 100,17C. Hal ini karena bahan-bahan yang terlarut dalam susu akan meningkatkan titik didih. Titik Beku Titik beku susu awal -2,5°C. Titik beku sesudah PEF berkisar antara -2Gambar 9. Hubungan antara tegangan dan hingga -2,5°C. Titik beku setelah prosesviskositas susu pemanasan sebesar -2,5°C. Titik didih kombinasi pemanasan dan PEF berkisar Pada Gambar 9 tampak bahwa vari- antara -2 hingga -2,5°C. Hubungan anta-asi tegangan tidak memberikan pengaruh ra tegangan dan titik beku susu ditunjuk-yang signifikan terhadap viskositas susu. kan pada Gambar 11.Pada perlakuan kombinasi nilai viskositaslebih tinggi daripada perlakuan PEF, na-
  • Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 12 No.1 (April 2011) 31-39Gambar 11. Hubungan antara tegangan Gambar 13. Hubungan antara tegangan *dan titik beku susu dan kroma (a ) susu Pada Gambar 11 tampak bahwa titikbeku susu setelah pemanasan mengalamisedikit penurunan. Hal ini dikarenakandengan adanya proses pemanasan makasebagian kecil dari jumlah air diuapkansehingga kadar gula dalam susu akan le-bih tinggi bila dibandingkan dengan per-lakuan PEF. Menurut Saleh (2004), susu mem- Gambar 14. Hubungan antara teganganpunyai titik beku rata-rata pada suhu * dan hue (b ) susu-0.55C sampai -0.61C. Titik beku susudipengaruhi oleh komponen terlarut, ter- Secara umum, tingkat kecerahanutama laktosa dan klorida. Kandungan baik pada perlakuan PEF ataupun kombi-lemak dan kasein dalam susu dalam susu nasi pemanasan dan PEF mengalami ke-tidak mempengaruhi titik beku susu. Va- naikan dengan bertambahnya jumlah te-riasi kandungan laktosa dan mineral da- gangan yang diberikan. Perubahan tingkatlam susu sangat kecil, sehingga titik beku kecerahan ini dikarenakan reaksi non en-susu relatif konstan. zimatik yang terjadi pada susu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Moyer danWarna Aitken (1980) bahwa reaksi pencokelatan Parameter yang diamati dalam ana- nonenzimatik dapat mempengaruhi peru-lisis warna susu pasteurisi ini adalah ke- * * bahan warna hal ini dikarenakan oleh re-cerahan (L), kroma (a ), dan hue (b ). aksi asam amino, gula dan asam organik.Hubungan antara tegangan dengan ting- Selama proses pasteurisasi baik PEFkat kecerahan (L). kroma (a*), dan hue ataupun pemanasan beberapa enzim ber-(b*) ditunjukkan pada Gambar 12, 13 dan kembang sehingga kondisi inilah yang14. menyebabkan tingkat kecerahan pada su- su semakin meningkat. Nilai kroma dan hue cenderung ti- dak ada perubahan yang signifikan pada variasi tegangan yang berbeda. Hasil yang didapat mengindikasikan bahwa perlakuan PEF lebih mempertahankan karakteristik fisik dari produk. Hal ini sesuai dengan penelitian Charles-Rodri- guez et al. (2007) bahwa perubahan war- na sari buah pada pengolahan denganGambar 12. Hubungan antara tegangandan kecerahan (L) susu 37
  • Komparasi Pasteurisasi Susu Segar Metode Pemanasan dan Kejut Listrik (Hawa dkk)PEF lebih baik dibandingkan dengan pas- Charles-Rodriguez, G.V. Nevarez-teurisasi panas HTST. Moorillon, Q.H. Zhang, dan E. Menurut Muchtadi dan Sugiyono Ortega-Rivas. 2007. Comparison of(1992), warna susu sapi segar putih ke- thermal processing and pulsed electric fields treatment inbiruan sampai putih kekuningan (kuning pasteurization of apple juice.keemasan). Rahman dkk (1992), menya- Journal of Food and Bioproductstakan bahwa warna susu dipengaruhi oleh Processingkomposisi kimia dan sifat fisiknya, mi- Fardiaz, D. 1992. Proses Thermalsalnya jumlah lemak, kekentalan susu, Makanan Kaleng Berasam Rendah.kandungan darah dan jenis pakan yang Makalah pada Kursus Singkatdiberikan. Warna susu juga dipengaruhi Keamanan Pangan. UGM,oleh pertumbuhan mikrob atau kapang Yogyakartapembentuk pigmen pada permukaan susu Hulsheger, H., J. Petel, and E.G. Niemann. 1983. Electric field effectatau seluruh bagian susu. on bacteria and yeast cells. Radiations and Environmental SIMPULAN Biophysics 20:53-65 Maheswari, R.R.A. 2004. Penanganan Perlakuan kombinasi pemanasan dan Pengolahan Hasil Ternakdan PEF mampu mereduksi E.coli sebe- Perah. Departemen Ilmu Produksisar 2,5 siklus log. Perlakuan PEF mere- Ternak, Bagian Ilmu Produksiduksi 1,3 siklus log dan perlakuan pema- Ternak Perah Fakultasnasan mampu mereduksi E. coli sebesar Peternakan, IPB, Bogor Mazurek, B., Lubicki, P., & Staroniewicz,1,2 siklus log. Sifat fisik susu hasil pas- Z. 1995. Effect of short HV pulsesteurisasi PEF dan kombinasi pemanasan on bacteria and fungi. IEEEdan PEF tidak berubah secara signifikan Transactions on Dielectrics anddibanding sifat fisik susu segar awal. Ni- Electrical Insulation 2(3): 418-425lai berat jenis berkisar antara 1.028- Moyer, J.C. and H.C. Aitken. 1980. 31,029 g/cm . Kadar air berkisar antara Apple juice. Dalam P.E. Nelson,88,17-89,06%. Viskositas berkisar antara and D.K. Tressler,. (eds). Fruit and 20,0016-0,0018 Ns/m . Titik didih dan ti- Vegetable Juice Processingtik beku berkisar antara 96-99°C dan -2 Technology, 212-267. Avihingga -2,5°C. Tingkat kecerahan (L) Publishing Co., Inc, Wesport-USA Muchtadi, T.R. dan Sugiyono. 1992.berkisar antara 66,6-69,1, kroma (a+) Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan.antara 7,6-9,0, dan hue (b+) antara IPB. Bogor.12,5-18,4. Muslim, C. 2010. Pasteurisasi Nonthermal pada Susu Sapi Segar DAFTAR PUSTAKA untuk Menginaktivasi Bakteri Staphylococcus aureus BerbasisAronsson, K., L Martin, R.J. Bengt, and Pulsed Electric Field (PEF). Skripsi. R. Ulf. 2001. Inactivation of FTP-UB. Malang. microorganism using pulsed electric Pothakamury, U.R., A. Monsalve-Gon- field: the influence of process zalez, G.V. Barbosa-Canovas, and parameters on Escherichia coli, B.G. Swanson. 1995. Inactivation Listeria innocua, Leuconostoc of Escherichia coli and mesenteroides, and Saccharomyces Staphylococcus aureus in model cerrevisiae. Innovative Food foods by pulsed electric field Science and Engineering technology. Food Research Technologies 2: 41-54 International 28(2): 167-171Barbosa, C., E. Pothakamuri, Palau, and Rahman A., S. Fardiaz, W.P. Rahayu, B. G Swanson. 2000. Non Thermal Suliantari dan C.C. Nurwitri. Preservation of Food. Marcel 1992. Teknologi Fermentasi Dekker, New York Susu. PAU IPB, Bogor
  • Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 12 No.1 (April 2011) 31-39Sale, A. J. H. and W.A. Hamilton. 1967. Effects of high electric fields on microorganisms. (I) killing bacteria and yeast. Biochimica et Biophysica Acta 148: 781-788Saleh, E. 2004. Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Fakultas Pertanian-USU, MedanSpreer, E.1998. Milk and Dairy Product Technology. Marcel Dekker, Inc., New YorkToledo, R. T. 1999. Fundamental of Food Processing Engineering. The AVI Publishing Company Inc. Westport, ConnecticutTopfl, S. 2006. Pulsed Electric Fields (PEF) for Permeabilization of Cell Membranes in Foods and Bioprocessing Applications, Process and Equipment Design and Cost Analysis. Universitas Berlin, Berlin Vega-Mercado, H., O. Mart´ın-Belloso, F.J. Chang, G.V. Barbosa- Canovas, and B.G. Swanson. 1996. Inactivation of Escherichia coli and bacillus subtilis suspended in pea soup using pulsed electric field. Journal of Food Processing and Preservation 20: 511-514.Winarno, F. G., S. Fardiaz., D. Fardiaz. 1984. Pengantar Teknologi Pangan. PT Gramedia, JakartaSaparianti, E., Harijono, dan B.D. Wulandari. 2008. Inaktivasi mikrob dengan kombinasi metode kejut medan listrik dan pemanasan pada air kelapa sebagai bahan baku minuman isotonik. Jurnal Teknologi Pertanian 9(3): 199-206Zeuthen, P.S. 2003. Food Preservation Techniques. Woodhead Publish- ing Limited, US 39