PKP Bab 2
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

PKP Bab 2

on

  • 2,090 views

 

Statistics

Views

Total Views
2,090
Views on SlideShare
2,090
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
25
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    PKP Bab 2 PKP Bab 2 Document Transcript

    • BAB II KAJIAN PUSTAKA Belajar merupakan proses perubahan konsepsi. Oleh karena belajardipandang sebagai perubahan konsepsi, maka dapat dikatakan belajar merupakansuatu kegiatan yang rasional. “Belajar hanya akan terjadi apabila seseorangmengubah atau berkeinginan mengubah pikirannya” (West & Pines, 1958:211-214). Baik siswa maupun guru dalam pembelajaran harus memiliki kreatifitasdimana kreativitas sebagai gaya hidup seseorang bisa berkembang. Menurutanderos (1961) Definisi kreativitas itu sendiri adalah : “proses yang dilalui olehseorang individu ditengah-tengah pengalamannya, dan yang menyebabkannyauntuk memperbaiki dan mengembangkan dirinya”. Menurut pandangan progresivisme (Wahyudin Hidian,2004:5.6) tentangbelajar mengatakan bahwa: “keseluruhan tingkah laku siswa terdapat dalampengalaman dengan berperan aktif dalam kehidupan sekelilingnya, anak berulang-ulang memodifikasi dan dimodifikasikan oleh pengalaman, dengan pengalamanitu tingkah lakunya berkembang. Sekolah adalah sarana yang memberikesempatan kepada siswa untuk berbuat leluasa dan bebas tanpa kekangan,sehingga siswa akan kaya pengalaman”. Menurut Hermawan (2006:11.4-11.7) ada beberapa prinsip dalammerancang pengalaman belajar siswa diantaranya adalah :1. Prinsip mengaktifkan siswa Guru harus dapat merancang pembelajaran agar siswa terlibat aktif,caranya dengan menggunakan berbagai metode atau media pembelajaran yangtepat. Guru harus mengupayakan agar siswa memiliki aktivitas belajar, sepertimencari mengelola informasi, menganalisis, memecahkan dan menyimpulkanserta melakukan transformator belajar kedalam kehidupan yang lebih luas 7
    • 2. Prinsip kesesuaian Guru benar-benar menerapkan metode yang sesuai dengan kemampuansiswanya, membuat senang dan semangat, serta merasa mudah mempelajari suatumateri pelajaran3. Memberikan kepuasan Pembelajaran yang dirancang diharapkan dapat memfasilitasi minat dankebutuhan siswa, sehingga kegiatan pembelajaran akan memberikan dampak yangmenyenangkan bagi siswa, oleh karena itu guru harus sering memberikanpenguatan dalam belajar kreatif siswa tersebut secara aktif dan ingin mendalamiapa yang dipelajari. Supaya perilaku kreatif dapat terwujud maka belajar harusmengasyikan, siswa benar-benar menghayati pengalaman belajarnya. Gurumenciptakan lingkungan didalam kelas yang merangsang belajar kreatif, untukdiperlukan persiapan diantaranya memberikan pemanasan mengajak siswamengajukan pertanyaan, agar lebih terbuka dan menantang siswa untuk berperansecara aktif. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran tidak terlepas dari adanyamotivasi yang datang dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa. MenurutLepper dan Hodel (dalam Printuch Schuuk, 1996) mengemukakan empat sumberdari motivasi instruktur, yaitu tantangan, rasa ingin tahu, kontrol dan fantasi.Tugas guru di sekolah untuk meningkatkan keempat sumber motivasi tersebut,agar siswa tidak selalu mengharapkan dorongan dari luar tetapi sadar dan mauberusaha untuk mencapai keberhasilan. Dalam kegiatan pembelajaran seorang guru tak lepas dari pentingnyamemiliki keterampilan proses, Carin (1992), menyampaikan beberapa alasanpentingnya keterampilan proses, yaitu: (1) dalam praktiknya apa yang dikenaldalam IPA merupakan hal yang tidak terpisahkan dari metode penyelidikan.Mengetahui IPA tidak hanya sekedar mengetahui materi IPA saja tetapi terkaitpula dengan mengetahui bagaimana caranya untuk mengumpulkan fakta danmenghubungkan fakta-fakta untuk membuat suatu penafsiran atau kesimpulan; (2)keterampilan proses IPA menerapkan keterampilan belajar sepanjang hayat yang 8
    • dapat digunakan bukan saja untuk mempelajari berbagai macam ilmu tetapi jugadapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan mengkomunikasikan menurut Abrsucato (1988), adalahadalah keterampilan untuk menyampaikan hasil pengamatan atau menyampaikanhasil penyelidikan. Sedangkan Esler dan Ester (1984), menyatakan bahwaketerampilan mengkomunikasikan dapat dikembangkan dengan menghimpuninformasi dan grafik atau gambar yang menjelaskan benda-benda serta kejadiansecara rinci. Pembelajaran dengan penggunaan alat peraga menempatkan guru sebagaipengarah dan pembimbing. Guru membantu siswa mencapai tujuannya,maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberiinformasi (Depdiknas, 2002:2). Menurut Drs. Kuswaya Wihardit, M.Ed, perkataan media tidak selalu identikdengan “mahal” atau memerlukan “listrik” karena media dapat dibedakanberdasarkan keadaannya menjadi canggih (sophisticate media) dan mediasederhana (simple media). Media canggih adalah media yang hanya dapat dibuatdi pabrik karena terdiri komponen-komponen yang rumit dan biasanyamemerlukan listrik dalam penyajiannya. Sedangkan media sederhana merupakanmedia ysng dapat dibuat sendiri oleh kita sebagai guru atau ahli media danbiasanya tidak memerlukan listrik. Terdapat beberapa media sederhana yait;gambar diam, grafis, disfly dan realita. Secara harfiah media diartikan sebagai medium atau perantara. Dalamkaitannya dengan proses komunikasi pembelajaran, media diartikan sebagaiwahana penyalur pesan pembelajaran. Beberapa ahli dan asosiasi telahmengemukakan tentang media pembelajaran ini, antara lain sebagai berikut : Pertama, NEA (1969) mengartikan media pembelajaran sebagai saranakomunikasi, baik dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasukperangkat kerasnya. 9
    • Kedua, Wilbur Schramm (1977) mendefinisikan media pembelajaransebagai teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentinganpembelajaran. Ketiga, Miarso (1980) menegaskan bahwa media pembelajaran adalahsegala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan,perhatian, dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya prosesbelajar pada diri siswa. Jadi, dapat disimpulkan secara lebih sederhana bahwa media pembelajaranadalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru ke siswa atausebaliknya. Media/alat peraga pada pembelajaran dapat digunakan untukmeningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Teori holistik yang merupakan teori kognitif belajar dan dikembangkanberdasarkan teori pembelajaran bermakna (meaningful instruction) dari Aussbel,memberi warna perlunya atau pentingnya materi pelajaran yang bermakna dalamproses belajar karena kebermaknaan akan menyebabkan peserta didik menjaditerkesan, sehingga pelajaran tersebut akan mempunyai masa ingatan (retentionspam) yang lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat hapalan. Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi,siswa mengamati kegiatan guru dalam mendemontrasikan wujud benda dan sifat-sifatnya yang diselingi dengan Tanya jawab. Metode demonstrasi merupakan salah satu metode yang biasamengaktifkan siswa untuk mengikuti pelajaran. Dalam pembelajaran akanmemberikan pengalaman kepada siswa tentang sifat-sifat benda sebagaimanayang terdapat dalam teori belajar holistic Melakukan percobaan/eksperimen biasanya dilakukan untuk mengujikebenaran dan teori yang telah dipelajari atau untuk membuktikan bahwahipotesis yang telah dibuat sebelumnya benar atau tidak. 10
    • Perbaikan yang terjadi dalam pembelajaran ini adalah guru sudahmelengkapi kekurangan pada alat peraga, memberikan penguatan berupa pujiandan dorongan semangat serta bimbingan, memberikan penjelasan disertai contoh-contoh, mengecek penguasaan siswa juga melibatkan siswa secara aktif dankreatif dalam proses pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran ada empat kegiatan yang merupakanprosedur pembelajaran secara umum, kegiatan tersebut yaitu:1. Pra Kegiatan Pembelajaran2. Kegiatan Awal3. Kegiatan Inti4. Kegiatan penutup (Hermawan, 2006-11.9-11.10) Menurut Resmini (dalam koswara, 2003:7), rancangan tindakan harus disusun dengan memperhatikan: (1) tujuan pembelajaran, (2) prosedur pelaksanaan, (3) bahan dan isi pembelajaran, (4) kriteria pencapaian dan (5) format evaluasi yang digunakan. 11