Your SlideShare is downloading. ×
UJI KOMPETENSI JURNALISALIANSI JURNALIS INDePENDENUKJ AJIMateriKompetensiKunci UKJ AJIDisusun Oleh•	 Divisi Etik dan Penge...
UJI KOMPETENSI JURNALIS ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN UKJ AJIMateri Kompetensi Kunci UKJ AJIDisusun OlehDivisi Etik dan Peng...
Kata PengantarKetua Umum AliansiJurnalis IndependenS      ejak ditetapkan oleh Dewan Pers sebagai Lembaga      Penguji Kom...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIMelainkan pembuktian kepada publik bahwa anggota AJIadalah jurnalis yang kompeten dalam pro...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI
DAFTAR ISIPenjelasan Aji dan Peraturan Dewan PersUji Kompetensi Jurnalis Aji.................................................
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIMateri Kunci Iii Praktik JurnalistikTeknik Wawancara, Satrio Arismunandar.....................
Penjelasan AJIdanPeraturan Dewan Pers                       9
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI10
Uji KompetensiJurnalis AJIU         ji Kompetensi Jurnalis (selanjutnya disingkat         UKJ) yang diselenggarakan oleh A...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJImemulai terlebih dulu melaksanakan UKW. Karena itu adabeberapa anggota AJI yang telah mengi...
Sementara UKJ AJI, sesuai dengan tujuannya terorganisasikanpada empat poros utama, yakni Pengetahuan Umum;Jurnalisme; Prak...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIdiajak mendalami semua materi kunci yang akan diujikan,Materi-materi itu mulai dari yang te...
PERATURAN DEWAN PERSNomor 1/Peraturan-DP/II/2010TentangSTANDAR KOMPETENSI WARTAWANMenimbang:a. Bahwa diperlukan standar   ...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI     tentang Standar Organisasi Perusahaan Pers;4.  eraturan Dewan Pers Nomor 7/Peraturan-D...
BAGIAN IPENDAHULUANa. UMUM    Menjadi wartawan merupakan hak asasi seluruh warganegara. Tidak ada ketentuan yang membatasi...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI    Kompetensi wartawan meliputi kemampuan memahamietika dan hukum pers, konsepsi berita, p...
tik atau kewartawanan serta kewenangan untuk menentukan(memutuskan) sesuatu di bidang kewartawanan. Hal itumenyangkut kesa...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI     3.	 Keterampilan (skills): mencakup kegiatan 6M (mencari,         memperoleh, memiliki...
Kurangnya kesadaran pada etika dapat berakibatserius berupa ketiadaan petunjuk moral, sesuatu yangdengan tegas mengarahkan...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI     Untuk meningkatkan kompetensi etika, wartawan perlu     mendalami Kode Etik Jurnalisti...
sumber informasi yang dapat dipercaya, akurat, terkini,   dan komprehensif serta mendukung pelaksanaan profesi   wartawan....
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI     2.3. Pengetahuan Teori dan Prinsip jurnalistik        Pengetahuan teori dan prinsip ju...
3.4. Keterampilan Analisis dan Arah Pemberitaan       Keterampilan analisis dan penentuan arah pemberitaan   mencakup kema...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIf. LEMBAGA PENGUJI KOMPETENSI   Lembaga yang dapat melaksanakan uji kompetensiwartawan adal...
menjalankan tugas jurnalistik minimal selama dua       tahun berturut-turut, jika akan kembali menjalankan       tugas jur...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJImereka yang telah memiliki kompetensi wartawan utama danpengalaman kerja sebagai wartawan m...
Bagian IIKOMPETENSI WARTAWANa. ELEMEN KOMPETENSI   Elemen Kompetensi adalah bagian kecil unit kompetensiyang mengidentifik...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIditetapkan sebagai berikut:     1.	 Kualifikasi I untuk Sertifikat Wartawan Muda.     2.	 K...
referensi   d.	 Melaksanakan wawancara.   e.	 Mengolah hasil liputan dan menghasilkan karya       jurnalistik.   f.	 Mendo...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI     c.	 Memublikasikan berita layak siar.     d.	 Memanfaatkan sarana kerja berteknologi i...
MATERI DAN METODE UJI KOMPETENSI JURNALISTIKALIANSI JURNALIS INDEPENDENNo.      Materi                                 Tuj...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI No.       Materi                              Tujuan09. Narasumber         •	 Menguji peng...
Materi Kunci IRUMPUNPENGETAHUAN UMUM•	 Jurnalis sebagai Profesi•	 Pers dan Perjanalan Nasionalisme   Indonesia•	 Pers,Tekn...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI36
Jurnalis sebagai ProfesiOleh P. Hasudungan SiraitJ    urnalis/wartawan/pewarta adalah sebuah profesi    seperti halnya dok...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI     Lihatlah tabel di atas. Apa yang membedakan antara lajurkiri dan kanan?    Ada yang me...
Pendidikan khusus    Mereka yang bergelut di bidang tersebut telah menjalanipendidikan khusus. Sekolah akuntansi, perawat,...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIStandar kompetensi    Ketrampilan tadi terukur. Artinya tingkat penguasaanketrampilan itu d...
Kode etik    Setiap anggota organisasi profesi harus menjujung tinggikode etiknya. Isi kode etik sebuah profesi pada dasar...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIsekitar 1,5 tahun. Dengan sebutan dokter muda, ia harusmagang sebagai co-assistant (koass) ...
Kesehatan menjadi salah satu yang paling menentukan dalamseleksi. Mata, telinga, jantung, paru-paru dan organ lainharus pr...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI    Di Indonesia sendiri baru dalam beberapa tahun terakhirsaja kebersekolahan dikaitkan de...
terjun ke lapangan. Majalah Tempo pun melakukan hal yangsama tapi dengan waktu yang lebih singkat. Pun, modelnyatidak sein...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIPers kita sering bermasalah. Tak hanya pers yang modalnyakembang kempis, melainkan pers yan...
Pers dan PerjanalanNasionalisme IndonesiaOleh Didik SupriyantoD         alam perjalanan Republik ini selalu muncul        ...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIbangsa dan negara patut dipertanyakan?    Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut,k...
Kesembilan prinsip dasar jurnalisme rumusan Kovachdan Rosenstiel tersebut memang dibuat berdasarkan sejarahpers Eropa dan ...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI    Majalah-majalah berbahasa Melayu generasi pertamatersebut merupakan kelanjutan binis me...
mengadakan transaksi untuk keperluan masing-masing.Transaksi ini dimungkinkan karena telah tumbuh simbol-simbol komunikati...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIdan sebagainya.   Dengan demikian, koran-koran dan majalah-majalahyang menyebar luas melamp...
usaha keturunan Belanda dan Tionghoa pada abad ke-18 bolehdisebut sebagai periode ‘prasejarah’ pers nasional. Dibutuhkanwa...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIdari pendidikan (yang dikembangkan oleh politik etikpenguasa kolonial), melainkan juga terb...
SI seperti Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Sinar Djawa danPantjaran Warta. Organisasi-organisasi pergerakan yangdibentuk kau...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIyang bernama bangsa Hindia. Dengan sendiri dalam konsepini, para penguasa Belanda dianggap ...
kehidupan orang-orang Eropa, mereka menjadi lebih lugasdalam membicarakan nasionalisme Hindia dan menetapkan‘Indonesia Mer...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIMengobarkan Api Kemerdekaan    Ketika Jepang menguasai beberapa negara Asia, termasuktanah ...
merekalah beredar brosur stensilan-stensilan propagandamenuntut kemerdekaan Indonesia. Menurut BenedickAnderson (1989), br...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIpers bagi bangsa dan negara baru yang penuh denganpersoalan sosial, politik, ekonomi dan bu...
pada saat yang sama mereka sama-sama ingin mengisijabatan-jabatan politik yang tersedia. Persaingan politikdalam menciptak...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIkepentingan publik dan kepentingan nasional, karena pershanya disibukkan oleh urusan-urusan...
memanfaatakan ruang kebebasan yang ada. Biarlah persmenikmati ruang kebebasan pers yang dijamin oleh konstitusi,karena han...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI64
Sekilas SejarahJurnalismeJ   URNALISME memiliki sejarah yang sangat panjang.   Dalam si­­­ tus ensiklopedia, www.questia.c...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJImemenuhi permintaan publik akan berita.     Seiring dengan semakin majunya bisnis berita, p...
Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorongpara wartawan untuk membentuk organisasi profesi merekasendiri. Organi...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIHaryadi Suadi mencatat, pemberedelan pertama sejakkemerdekaan terjadi pada akhir 1940-an. T...
Pada 1920-an, surat kabar dan majalah mendapatkanpesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radioberita. Namun demiki...
Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIinternetnya sama persis dengan edisi cetak.   Sedangkan pada tahun 2000-an muncul situs-sit...
Pers,Teknologi Mediadan Kehidupan SosialOleh Didik SupriyantoP       ers bebas adalah fenomena masyarakat liberal. Karena ...
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Kompetensi kunci ukj aji
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Kompetensi kunci ukj aji

2,772

Published on

Materi kunci Uji Kompetensi Jurnalis - Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
2,772
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
7
Actions
Shares
0
Downloads
90
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Kompetensi kunci ukj aji"

  1. 1. UJI KOMPETENSI JURNALISALIANSI JURNALIS INDePENDENUKJ AJIMateriKompetensiKunci UKJ AJIDisusun Oleh• Divisi Etik dan Pengembangan Profesi• Biro Pendidikan AJI IndonesiaEditor:Willy PramudyaJakarta, 2012
  2. 2. UJI KOMPETENSI JURNALIS ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN UKJ AJIMateri Kompetensi Kunci UKJ AJIDisusun OlehDivisi Etik dan Pengembangan ProfesiBiro Pendidikan AJI IndonesiaEditor:Willy Pramudyacover dan layout:J!DSG, www.jabrik.comDiterbitkan olehAliansi Jurnalis Independen (AJI) IndonesiaJalan Kembang raya no. 6 Kwitang, senenJakarta pusat 10420 indonesiae-mail: office@ajiindonesia.orgwebsite: www.ajiindonesia.org
  3. 3. Kata PengantarKetua Umum AliansiJurnalis IndependenS ejak ditetapkan oleh Dewan Pers sebagai Lembaga Penguji Kompetensi Wartawan melalui SK Nomor 15/ SK-DP/IX/2011, pengurus Aliansi Jurnalis Independen(AJI) Indonesia periode 2011-2014 langsung memberikanrespon positif. Langkah awal yang dilakukan ialah membentukBiro Pendidikan dan Pelatihan (Biro Diklat) AJI yangberanggotakan para jurnalis senior untuk menelaah danmengelaborasi modul Uji Kompetensi Wartawan (UKW)versi LPDS. Selanjutnya, Biro Diklat dan Divisi Etik Profesimenggelar seminar, workshop, dan diskusi kelompok terfokus(FGD) untuk menyusun modul Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ)versi AJI yang sesuai dengan visi-misi organisasi. Modul Uji Kompetensi Jurnalis versi AJI dinamaiMateri Kompetensi Kunci (MKK) UKJ AJI. Ini merupakanpenyempurnaan berbagai modul pengujian wartawanmeliputi jurnalisme cetak, online, dan televisi. Setelah ini,modul UKJ AJI akan dilengkapi materi uji jurnalisme radiodan fotografi. Yang utama dari modul UKJ AJI ialah materi ujian etikadan profesionalisme. AJI percaya, Uji Kompetensi Jurnalis(UKJ) bukan sekadar ritual pemberian "sertifikat kompetensi". 3
  4. 4. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIMelainkan pembuktian kepada publik bahwa anggota AJIadalah jurnalis yang kompeten dalam profesinya. Denganmedia yang profesional dan beretika, perjuangan bagikebebasan pers dan kesejahteraan jurnalis menjadi lebih kuat. Pada April 2012, Aliansi Jurnalis Independen (AJI)menggelar Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) pertama di WismaCimanggis yang diikuti 57 anggota AJI secara nasional.Hingga pertengahan Maret 2013, AJI telah menyelenggarakansembilan kali UKJ di berbagai kota, termasuk dua kali Trainingof Examiners (ToE). Dari dua event itu dihasilkan 26 pengujiUKJ, 29 calon penguji UKJ, dan 175 jurnalis AJI -muda, madya,utama- yang sudah tersertifikasi (Dewan Pers). Dari seluruh penyelenggaraan UKJ, 95 persen anggota AJIdinyatakan kompeten, dua anggota AJI wajib mengikuti ujianperbaikan (remedial), tujuh orang diturunkan tingkatannya,dan satu tidak lulus UKJ AJI. Semua data bisa berubah seiring bertambahnya anggotaAJI yang mengikuti Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) danTraining of Examiner (ToE). Materi Kompetensi Kunci(MKK) UKJ AJI dari waktu ke waktu akan dilengkapi dandisempurnakan mengikuti perkembangan jurnalisme di tanahair dan seluruh dunia. Eko Maryadi4
  5. 5. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI
  6. 6. DAFTAR ISIPenjelasan Aji dan Peraturan Dewan PersUji Kompetensi Jurnalis Aji........................................................................................................ 11Peraturan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-Dp/Ii/2010Tentang Standar Kompetensi Wartawan................................................................................ 15Bagian 1Pendahuluan................................................................................................................... 17Bagian II Kompetensi Wartawan.............................................................................................. 29 .Materi Kunci I Rumpun Pengetahuan UmumJurnalis Sebagai Profesi, P. Hasudungan Sirait.......................................................................... 37 .Pers Dan Perjanalan Nasionalisme Indonesia,Didik Supriyanto......................................... 47 .Sekilas Sejarah Jurnalisme.......................................................................................................... 65 .Pers, Teknologi Media Dan Kehidupan Sosial, Didik Supriyanto......................................... 71 .Komunikasi Massa........................................................................................................................ 81Hukum Jurnalistik, Arfi Bambani................................................................................................ 85Materi Kunci Ii Pengetahuan Khusus Teori JurnalistikStandar Jurnalisme, P. Hasudungan Sirait................................................................................147Berita, Fakta Dan Fiksi, P. Hasudungan Sirait.........................................................................153Derajat Kompetensi Narasumber, P. Hasudungan Sirait....................................................165Gaya Bahasa Jurnalisme, P. Hasudungan Sirait.......................................................................175Berita Berbobot, P. Hasudungan Sirait.................................................................................... 189
  7. 7. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIMateri Kunci Iii Praktik JurnalistikTeknik Wawancara, Satrio Arismunandar................................................................................203Teknik Dan Mekanisme Peliputan Jurnalistik, Satrio Arismunandar................................217Penulisan Berita Langsung Berformat Piramida Terbalik, Satrio Arismunandar.............223Jurnalisme TelevisiBentuk Berita Televisi, Satrio Arismunandar...........................................................................233Proses Pembuatan Berita Di Stasiun Televisi: Studi Kasus Trans TV,Satrio Arismunandar..................................................................................................................... 241Materi Kunci Iv Kode Etik JurnalistikDan PenegakannyaKode Etik Jurnalistik, Willy Pramudya .................................................................................... 251Lampiran 1: Kode Etik Aji......................................................................................................... 265Lampiran 2: Kode Etik Jurnalistik........................................................................................... 271 .Lampiran 3: Pedoman Pemberitaan Media Siber ..............................................................279Lampiran 4: Pedoman Pelaku Penyiaran Dan Standar Program Siaran (P3sps) .......285Menerjemahkan Kode Etik Ke Kode Perilaku, Ati Nurbaiti...............................................287
  8. 8. Penjelasan AJIdanPeraturan Dewan Pers 9
  9. 9. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI10
  10. 10. Uji KompetensiJurnalis AJIU ji Kompetensi Jurnalis (selanjutnya disingkat UKJ) yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merupakan salah satu agendayang sejak lama didesakkan oleh banyak anggota AJI untukmenjawab problem profesionalisme dan independensi jurnalisserta penegakan etika jurnalistik. Oleh sebab itu Kongres AJITahun 2011 di Makassar memasukkan UKJ sebagai salah satuprogram nasional yang harus dijalankan oleh pengurus AJIyang terpilih pada Kongres AJI Tahun 2011 di Makassar itu. Dewan Pers yang berfungsi untuk mengembangkan danmelindungi kehidupan pers di Indonesia sudah menjadikanUKJ dengan nama Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagaiprogram yang telah mulai dilaksanakan sejak tahun 2011.AJI pun memandang UKJ sebagai salah satu cara AJI untukmeningkatkan profesionalisme, terutama ketaatan jurnaliskepada kode etik jurnalistik (KEJ), dan independensi jurnalisanggota AJI. Pada Rapat Kerja Nasional AJI 2012 (Februari,2012) lahir kesepakatan bahwa dalam kurun waktu tiga tahunkepengurusan AJI Indonesia (periode 2011-2014) setidaknyaseparuh dari jumlah anggota AJI telah memiliki sertifikatkompeten. AJI memahami bahwa UKJ bukanlah program eksklusifmilik AJI. Beberapa lembaga dan organisasi jurnalis lain yangsudah lolos verifikasi sebagai lembaga penguji juga sudah 11
  11. 11. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJImemulai terlebih dulu melaksanakan UKW. Karena itu adabeberapa anggota AJI yang telah mengikuti uji kompetensisehingga mereka telah memliki serttifikat kompeten. Namunkarena masih banyak anggota AJI yang belum memilikisertifikat kompeten AJI merasa perlu menyelenggarakanprogram UKJ versi AJI yang diharapkan lebih mencerminkanatau sesuai dengan visi dan nilai-nilai perjuangan AJI. Pada April 2012 untuk kali pertama AJI menyelanggarakanUKJ yang pelaksanaannya tetap sesuai dengan standar DewanPers. UKJ AJI yang berlangsung di Wisma Hijau Cimanggis,Depok, Jawa Barat itu meruoakan UKJ perdana sekaligusperintisan UKJ versi AJI dengan menggunakan standar AJIsetelah AJI berhasil merumuskan standar kompetensi jurnalis(SKJ) yang lebih sesuai dengan ideologi, filosofi dan nilai-nilai perjuangan AJI. Secara ringkas dapat dikatakan ada duatujuan utama penyelenggaraan UKJ di AJI. Pertama, untukmenyiapkan dan mengantarkan anggota AJI agar memilikiSKJ. Kedua, UKJ dan SKJ AJI menjadi acuan standar jurnalistikyang tinggi sekaligus gayut dengan perkembangan pers. Dari segi materi, UKJ AJI berbeda dengan sistem pendidikanjurnalisme di perguruan tinggi maupun sistem pengujiannya.Pada umumnya pendidikan dan pengujian jurnalisme diperguruan tinggi diorganisasikan pada seputar tiga poros ataujalur perkembangan. Pertama, poros yang mengajarkan norma-norma, nilai-nilai, perangkat, standar, dan praktik jurnalisme;kedua, poros yang menekankan diri pada aspek-aspek sosial,budaya, politik, ekonomi, hukum dan etika dari praktikjurnalisme, baik di dalam negeri maupun luar negeri; dan ketiga,poros yang terdiri dari pengetahuan umum dan tantangan-tantangan intelektual dalam dunia jurnalisme. [Lihat BukuPanduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Jurnalisme (Versi Asli:Model Curricula for Journalisme Education oleh Uniesco, 2007)].12
  12. 12. Sementara UKJ AJI, sesuai dengan tujuannya terorganisasikanpada empat poros utama, yakni Pengetahuan Umum;Jurnalisme; Praktik Jurnalistik; dan keempat, Pendalaman KodeEtik Jurnalistik (KEJ). Rumpun atau poros Pengetahuan Umum berisi materikunci yang berkaitan dengan Profesionalisme, KomunikasiMassa, Pers Nasional dan Media Global, Hukum Pers.Rumpun Jurnalisme atau Teori Jurnalistik adalah materi kunciyang berkaitan dengan Prinsip-prinsip Jurnalistik,; UnsurBerita, Nilai Berita, dan Jenis Berita; Bahasa Jurnalistik; Faktadan Opini; Narasumber; dan Kode Etik Jurnalistik. SedangRumpu Praktik Jurnalistik ialah materi kunci yang berkaitandengan Teknik Melakukan Wawancara, Menjalani Peliputan,Menyusun Berita, Menyunting Berita, Merancang Materidan Desain, Mengelola Manajemen Redaksi, MenetapkanKebijakan Redaksi, dan Menggunakan Peralatan TeknologiInformasi. Rumpun Pendalaman KEJ, adalah materi kunciyang berkiatan dengan pemetaan dan penyikapan problemetik serta perincian Kode Etik ke Kode Perilaku. Dari segi metodologi, UKJ AJI menggunakan metodeeklektik atau gabungan beberapa metode. Metode ini dipilihatas dasar asumsi bahwa tidak ada metode yang ideal karenatiap-tiap metode memiliki kekuatan dan kelemahan. Secararingkas metode eklektik yang dimaksudkan di sini ialahmetode yang menggabungkan metode penugasan antara lainmenulis artikel atau esai sebelum mengikuti ujian tertutup,(menjawab pertanyaan secara) tertulis, (tanya jawab secara)lisan, praktik dan simulasi, serta diskusi. Dari segi pelaksanaanannya, UKJ AJI berlangsung selamadua hari penuh dari pagi hingga malam atau dua setengahhari. Setiap pelaksanaan UKJ selalu diawali dengan sosialisasikonsep, metodologi dan pelaksanaan ujian. Peserta juga akan 13
  13. 13. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIdiajak mendalami semua materi kunci yang akan diujikan,Materi-materi itu mulai dari yang termasuk dalam RumpunPengetahuan Umum hingga Rumpun Etika Jurnalistik. Olehsebab itu sebelum memasuki sesi ujian pokok, peserta UKJAJI diwajibkan mengikuti sesi pendalaman tersebut bersamanarasumber yang dipandang berkompeten. Da;am kaitan ini ada catatan yang perlu memperolehperhatian, karena para anggota AJI berada dalam jenjang/tingkatan yang berbeda-beda karena masa kerja dan posisiyang bebreda-beda pula, maka UKJ AJI diberikan berdasarkanjenjang, yakni mulai dari jenjang senior hingga jenjang yunior.Namun pelaksanaanya dilakukan secara serentak dalam satusatuan penyelenggaraan. Dari sisi penguji, setiap penyelenggaraan UKJ akanmelibatkan satu tim penguji bernama Tim Penguji AJIIndonesia. Penguji pada UKJ AJI adalah jurnalis senioranggota AJI yang telah mengikuti pelatihan penguji yangdiselenggarakan oleh AJI Indonesia melalui program Trainingof Examiner (TOE). Pada umumnya , selama UKJ berlangsungseorang penguji hanya memiliki kemampuan mengujimaksimal enam peserta UKJ. Oleh sebab itu, jumlah anggotatim penguji pada suatu UKJ terganuing pada jumlah peserta. Untuk saat ini, penyelenggaraan UKJ AJI diprioritaskanbagi jurnalis anggota AJI. Namun untuk selanjutnya AJI tidakmenutup peluang bagi jurnalis non-AJI yang ingin mengikutiUKJ AJI dengan syarat bersedia memenuhi seluruh persyaratanyang berlaku maupun kultur yang hidup di lingkungan AJI. Willy Pramudya K oordinator Divisi Etik dan Pengambangan Profesi AJI Indonesia14
  14. 14. PERATURAN DEWAN PERSNomor 1/Peraturan-DP/II/2010TentangSTANDAR KOMPETENSI WARTAWANMenimbang:a. Bahwa diperlukan standar untuk dapat menilai profesionalitas wartawan;b. ahwa belum terdapat standar kompetensi wartawan yang B dapat digunakan oleh masyarakat pers;c. Bahwa hasil rumusan Hari Pers Nasional tahun 2007 antara lain mendesak agar Dewan Pers segera memfasilitas perumusan standar kompetensi wartawan;d. Bahwa demi kelancaran tugas dan fungsi Dewan Pers dan untuk memenuhi permintaan perusahaan pers, organisasi wartawan dan masyarakat pers maka Dewan Pers mengeluarkan Peraturan tentang Standar Kompetensi Wartawan.Mengingat:1. asal 15 ayat (2) huruf F Undang-Undang Nomor 40 Tahun P 1999 tentang Pers;2. Keputusan Presiden Nomor 7/M Tahun 2007 tanggal 9 Februari 2007, tentang Keanggotaan Dewan Pers periode tahun 2006 – 2009;3. eraturan Dewan Pers Nomor 3/Peraturan-DP/III/2008 P 15
  15. 15. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI tentang Standar Organisasi Perusahaan Pers;4. eraturan Dewan Pers Nomor 7/Peraturan-DP/III/2008 P tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 04/SK-DP/III/2006 tentang Standar Organisasi Wartawan;5. ertemuan pengesahan Standar Kompetensi Wartawan yang P dihadiri oleh organisasi pers, perusahaan pers organisasi wartawan, dan masyarakat pers serta Dewan Pers pada hari Selasa, 26 Januari 2010, di Jakarta;6. Keputusan Sidang Pleno Dewan Pers pada hari Selasa tanggal 2 Februari 2010 di Jakarta.MEMUTUSKANMenetapkan: Peraturan Dewan Pers tentang StandarKompetensi Wartawan.Pertama: Mengesahkan Standar Kompetensi Wartawansebagaimana terlampir.Kedua: Peraturan Dewan Pers ini berlaku sejak tanggalditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 2 Februari 2010 Ketua Dewan Pers, Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA16
  16. 16. BAGIAN IPENDAHULUANa. UMUM Menjadi wartawan merupakan hak asasi seluruh warganegara. Tidak ada ketentuan yang membatasi hak seseoranguntuk menjadi wartawan. Pekerjaan wartawan sendiri sangatberhubungan dengan kepentingan publik karena wartawanadalah bidan sejarah, pengawal kebenaran dan keadilan,pemuka pendapat, pelindung hak-hak pribadi masyarakat,musuh penjahat kemanusiaan seperti koruptor dan politisibusuk. Oleh karena itu, dalam melaksanakan tugasnya wartawanharus memiliki standar kompentensi yang memadai dandisepakati oleh masyarakat pers. Standar kompetensi inimenjadi alat ukur profesionalitas wartawan. Standar kompetensi wartawan (SKW) diperlukan untukmelindungi kepentingan publik dan hak pribadi masyarakat.Standar ini juga untuk menjaga kehormatan pekerjaanwartawan dan bukan untuk membatasi hak asasi warganegara menjadi wartawan. Kompetensi wartawan pertama-pertama berkaitandengan kemampuan intelektual dan pengetahuan umum. Didalam kompetensi wartawan melekat pemahaman tentangpentingnya kemerdekaan berkomunikasi, berbangsa, danbernegara yang demokratis. 17
  17. 17. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI Kompetensi wartawan meliputi kemampuan memahamietika dan hukum pers, konsepsi berita, penyusunan danpenyuntingan berita, serta bahasa. Dalam hal yang terakhirini juga menyangkut kemahiran melakukannya, sepertijuga kemampuan yang bersifat teknis sebagai wartawanprofesional, yaitu mencari, memperoleh, menyimpan,memiliki, mengolah, serta membuat dan menyiarkan berita. Untuk mencapai standar kompetensi, seorang wartawanharus mengikuti uji kompetensi yang dilakukan oleh lembagayang telah diverifikasi Dewan Pers, yaitu perusahaanpers, organisasi wartawan, perguruan tinggi atau lembagapendidikan jurnalistik. Wartawan yang belum mengikuti ujikompetensi dinilai belum memiliki kompetensi sesuai standarkompetensi inib. PENGERTIAN Standar adalah patokan baku yang menjadi peganganukuran dan dasar. Standar juga berarti model bagi karakterunggulan. Kompetensi adalah kemampuan tertentu yang meng­gambarkan tingkatan khusus menyangkut kesadaran,pengetahuan, dan keterampilan. Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakankegiatan jurnalistik berupa mencari, memperoleh, memiliki,menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baikdalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar,serta data dan grafik, maupun dalam bentuk lainnya denganmenggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenissaluran lainnya. Kompetensi wartawan adalah kemampuan wartawan un­tuk me­ ahami, menguasai, dan menegakkan profesi jurnalis­ m18
  18. 18. tik atau kewartawanan serta kewenangan untuk menentukan(memutuskan) sesuatu di bidang kewartawanan. Hal itumenyangkut kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi wartawan adalah rumusankemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan,keterampilan/keahlian, dan sikap kerja yang relevan denganpelaksanaan tugas kewartawanan.c.TUJUAN STANDAR KOMPETENSI WARTAWAN 1. Meningkatkan kualitas dan profesionalitas wartawan. 2. Menjadi acuan sistem evaluasi kinerja wartawan oleh perusahaan pers. 3. Menegakkan kemerdekaan pers berdasarkan kepen­ tingan publik. 4. Menjaga harkat dan martabat kewartawanan sebagai profesi khusus penghasil karya intelektual. 5. Menghindarkan penyalahgunaan profesi wartawan. 6. Menempatkan wartawan pada kedudukan strategis dalam industri pers.D. MODEL DAN KATEGORI KOMPETENSI Dalam rumusan kompetensi wartawan ini digunakanmodel dan kategori kompetensi, yaitu: 1. Kesadaran (awareness): mencakup kesadaran tentang etika dan hukum, kepekaan jurnalistik, serta pentingnya jejaring dan lobi. 2. Pengetahuan (knowledge): mencakup teori dan prinsip jurnalistik, pengetahuan umum, dan pengetahuan khusus. 19
  19. 19. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI 3. Keterampilan (skills): mencakup kegiatan 6M (mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi), serta melakukan riset/ investigasi, analisis/prediksi, serta menggunakan alat dan teknologi informasi. Kompetensi wartawan yang dirumuskan ini merupakanhal-hal mendasar yang harus dipahami, dimiliki, dandikuasai oleh seorang wartawan. Kompetensi wartawan Indonesia yang dibutuhkan saatini adalah sebagai berikut:1. Kesadaran (awareness) Dalam melaksanakan pekerjaannya wartawan dituntutmenyadari norma-norma etika dan ketentuan hukum.Garis besar kompetensi kesadaran wartawan yang diperlukanbagi peningkatan kinerja dan profesionalisme wartawanadalah: 1.1. Kesadaran Etika dan Hukum Kesadaran akan etika sangat penting dalam profesi kewartawanan, sehingga setiap langkah wartawan, termasuk dalam mengambil keputusan untuk menulis atau menyiarkan masalah atau peristiwa, akan selalu dilandasi pertimbangan yang matang. Kesadaran etika juga akan memudahkan wartawan dalam mengetahui dan menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan seperti melakukan plagiat atau menerima imbalan. Dengan kesadaran ini wartawan pun akan tepat dalam menentukan kelayakan berita atau menjaga kerahasiaan sumber.20
  20. 20. Kurangnya kesadaran pada etika dapat berakibatserius berupa ketiadaan petunjuk moral, sesuatu yangdengan tegas mengarahkan dan memandu pada nilai-nilai dan prinsip yang harus dipegang. Kekurangankesadaran juga dapat menyebabkan wartawan gagaldalam melaksanakan fungsinya. Wartawan yang menyiarkan informasi tanpaarah berarti gagal menjalankan perannya untukmenyebarkan kebenaran suatu masalah dan peristiwa.Tanpa kemampuan menerapkan etika, wartawan rentanterhadap kesalahan dan dapat memunculkan persoalanyang berakibat tersiarnya informasi yang tidak akurat danbias, menyentuh privasi, atau tidak menghargai sumberberita. Pada akhirnya hal itu menyebabkan kerja jurnalistikyang buruk. Untuk menghindari hal - hal di atas wartawan wajib: a. Memiliki integritas, tegas dalam prinsip, dan kuat dalam nilai. Dalam melaksanakan misinya wartawan harus beretika, memiliki tekad untuk berpegang pada standar jurnalistik yang tinggi, dan memiliki tanggung jawab. b. Melayani kepentingan publik, mengingatkan yang berkuasa agar bertanggung jawab, dan menyuarakan yang tak bersuara agar didengar pendapatnya. c. Berani dalam keyakinan, independen, mempertanyakan otoritas, dan menghargai perbedaan. Wartawan harus terus meningkatkan kompetensietikanya, karena wartawan yang terus melakukan halitu akan lebih siap dalam menghadapi situasi yang pelik. 21
  21. 21. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI Untuk meningkatkan kompetensi etika, wartawan perlu mendalami Kode Etik Jurnalistik dan kode etik organisasi wartawan masing-masing. Sebagai pelengkap pemahaman etika, wartawan dituntut untuk memahami dan sadar ketentuan hukum yang terkait dengan kerja jurnalistik. Pemahaman tentang hal ini pun perlu terus ditingkatkan. Wartawan wajib menyerap dan memahami Undang-Undang Pers, menjaga kehormatan, dan melindungi hak-haknya. Wartawan juga perlu tahu hal-hal mengenai peng­ hinaan, pelanggaran terhadap privasi, dan ber­ agai b ketentuan dengan narasumber (seperti off the record, sumber-sumber yang tak mau disebut nama­ ya/ n confidential sources). Kompetensi hukum menuntut penghargaan pada hukum, batas-batas hukum, dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan berani untuk memenuhi kepentingan publik dan menjaga demokrasi. 1.2. Kepekaan Jurnalistik Kepekaan jurnalistik adalah naluri dan sikap diri wartawan dalam memahami, menangkap, dan mengungkap informasi tertentu yang bisa dikembangkan menjadi suatu karya jurnalistik. 1.3. Jejaring dan Lobi Wartawan yang dalam tugasnya mengemban kebebasan pers sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat harus sadar, kenal, dan memerlukan jejaring dan lobi yang seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya, sebagai22
  22. 22. sumber informasi yang dapat dipercaya, akurat, terkini, dan komprehensif serta mendukung pelaksanaan profesi wartawan. Hal-hal di atas dapat dilakukan dengan: a. Membangun jejaring dengan narasumber; b. Membina relasi; c. Memanfaatkan akses; d. Menambah dan memperbarui basis data relasi; e. Menjaga sikap profesional dan integritas sebagai wartawan.2. Pengetahuan (knowledge) Wartawan dituntut untuk memiliki teori dan prinsipjurnalistik, pengetahuan umum, serta pengetahuan khusus.Wartawan juga perlu mengetahui berbagai perkembanganinformasi mutakhir bidangnya. 2.1. Pengetahuan Umum Pengetahuan umum mencakup pengetahuan umum dasar tentang berbagai masalah seperti sosial, budaya, politik, hukum, sejarah, dan ekonomi. Wartawan dituntut untuk terus menambah pengetahuan agar mampu mengikuti dinamika sosial dan kemudian menyajikan informasi yang bermanfaat bagi khalayak. 2.2. Pengetahuan Khusus Pengetahuan khusus mencakup pengetahuan yang berkaitan dengan bidang liputan. Pengetahuan ini diperlukan agar liputan dan karya jurnalistik spesifik seorang wartawan lebih bermutu. 23
  23. 23. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI 2.3. Pengetahuan Teori dan Prinsip jurnalistik Pengetahuan teori dan prinsip jurnalistik mencakup pengetahuan tentang teori dan prinsip jurnalistik dan komunikasi. Memahami teori jurnalistik dan komunikasi penting bagi wartawan dalam menjalankan profesinya.3. Keterampilan (skills) Wartawan mutlak menguasai keterampilan jurnalistikseperti teknik menulis, teknik mewawancara, dan teknikmenyunting. Selain itu, wartawan juga harus mampumelakukan riset, investigasi, analisis, dan penentuan arahpemberitaan serta terampil menggunakan alat kerjanyatermasuk teknologi informasi. 3.1. Keterampilan Peliputan (Enam M) Keterampilan peliputan mencakup keterampilan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Format dan gaya peliputan terkait dengan medium dan khalayaknya. 3.2. Keterampilan Menggunakan Alat dan Teknologi Informasi Keterampilan menggunakan alat mencakup kete­ am­ r pilan menggunakan semua peralatan termasuk teknologi informasi yang dibutuhkan untuk menunjang profesinya. 3.3. Keterampilan Riset dan Investigasi Keterampilan riset dan investigasi mencakup kemampuan menggunakan sumber-sumber referensi dan data yang tersedia; serta keterampilan melacak dan memverifikasi informasi dari berbagai sumber.24
  24. 24. 3.4. Keterampilan Analisis dan Arah Pemberitaan Keterampilan analisis dan penentuan arah pemberitaan mencakup kemampuan mengumpulkan, membaca, dan menyaring fakta dan data kemudian mencari hubungan berbagai fakta dan data tersebut. Pada akhirnya wartawan dapat memberikan penilaian atau arah perkembangan dari suatu berita.E. KOMPETENSI KUNCI Kompetensi kunci merupakan kemampuan yangharus dimiliki wartawan untuk mencapai kinerja yangdipersyaratkan dalam pelaksanaan tugas pada unit kompetensitertentu. Kompetensi kunci terdiri dari 11 (sebelas) kategorikemampuan, yaitu: 1. Memahami dan menaati etika jurnalistik; 2. Mengidentifikasi masalah terkait yang memiliki nilai berita; 3. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi; 4. Menguasai bahasa; 5. Mengumpulkan dan menganalisis informasi (fakta dan data) dan informasi bahan berita; 6. Menyajikan berita; 7. Menyunting berita; 8. Merancang rubrik atau kanal halaman pemberitaan dan atau slot program pemberitaan; 9. Manajemen redaksi; 10. Menentukan kebijakan dan arah pemberitaan; 11. Menggunakan peralatan teknologi pemberitaan; 25
  25. 25. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIf. LEMBAGA PENGUJI KOMPETENSI Lembaga yang dapat melaksanakan uji kompetensiwartawan adalah: 1. Perguruan tinggi yang memiliki program studi komunikasi/jurnalistik, 2. Lembaga pendidikan kewartawanan, 3. Perusahaan pers, dan 4. Organisasi wartawan. Lembaga tersebut harus memenuhi kriteria Dewan Pers.g. UJIAN KOMPETENSI 1. Peserta yang dapat menjalani uji kompetensi adalah wartawan. 2. Wartawan yang belum berhasil dalam uji kompetensi dapat mengulang pada kesempatan ujian berikutnya di lembaga-lembaga penguji kompetensi. 3. Sengketa antarlembaga penguji atas hasil uji kompetensi wartawan, diselesaikan dan diputuskan oleh Dewan Pers. 4. Setelah menjalani jenjang kompetensi wartawan muda sekurang-kurangnya tiga tahun, yang bersangkutan berhak mengikuti uji kompetensi wartawan madya. 5. Setelah menjalani jenjang kompetensi wartawan madya sekurang-kurangnya dua tahun, yang bersangkutan berhak mengikuti uji kompetensi wartawan utama. 6. Sertifikat kompetensi berlaku sepanjang pemegang sertifikat tetap menjalankan tugas jurnalistik. 7. Wartawan pemegang sertifikat kompetensi yang tidak26
  26. 26. menjalankan tugas jurnalistik minimal selama dua tahun berturut-turut, jika akan kembali menjalankan tugas jurnalistik, diakui berada di jenjang kompetensi terakhir. 8. Hasil uji kompetensi ialah kompeten atau belum kompeten. 9. Perangkat uji kompetensi terdapat di Bagian III Standar Kompetensi Wartawan ini dan wajib digunakan oleh lembaga penguji saat melakukan uji kompetensi terhadap wartawan. 10. Soal ujian kompetensi disiapkan oleh lembaga penguji dengan mengacu ke perangkat uji kompetensi. 11. Wartawan dinilai kompeten jika memperoleh hasil minimal 70 dari skala penilaian 10 – 100.h. LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI Lembaga penguji menentukan kelulusan wartawan dalamuji kompetensi dan Dewan Pers mengesahkan kelulusan ujikompetensi tersebut.i. PEMIMPIN REDAKSI Pemimpin redaksi menempati posisi strategis dalamperusahaan pers dan dapat memberikan pengaruh yangbesar terhadap tingkat profesionalitas pers. Oleh karena itu,pemimpin redaksi haruslah yang telah berada dalam jenjangkompetensi wartawan utama dan memiliki pengalaman yangmemadai. Kendati demikian, tidak boleh ada ketentuan yangbersifat diskriminatif dan melawan pertumbuhan alamiahyang menghalangi seseorang menjadi pemimpin redaksi. Wartawan yang dapat menjadi pemimpin redaksi ialah 27
  27. 27. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJImereka yang telah memiliki kompetensi wartawan utama danpengalaman kerja sebagai wartawan minimal 5 (lima) tahun.j. PENANGGUNG JAWAB Sesuai dengan UU Pers, yang dimaksud denganpenanggung jawab adalah penanggung jawab perusahaan persyang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi. Dalam posisiitu penanggung jawab dianggap bertanggung jawab terhadapkeseluruhan proses dan hasil produksi serta konsekuensihukum perusahaannya. Oleh karena itu, penanggung jawabharus memiliki pengalaman dan kompetensi wartawan setarapemimpin redaksi.k.TOKOH PERS Tokoh-tokoh pers nasional yang reputasi dan karyanyasudah diakui oleh masyarakat pers dan telah berusia 50 tahunsaat standar kompetensi wartawan ini diberlakukan dapatditetapkan telah memiliki kompetensi wartawan. Penetapanini dilakukan oleh Dewan Pers.l. LAIN-LAIN Selambat-lambatnya dua tahun sejak diberlakukannyaStandar Kompetensi Wartawan ini, perusahaan pers danorganisasi wartawan yang telah dinyatakan lulus verifikasioleh Dewan Pers sebagai lembaga penguji Standar KompetensiWartawan harus menentukan jenjang kompetensi parawartawan di perusahaan atau organisasinya. Perubahan Standar Kompetensi Wartawan dilakukan olehmasyarakat pers dan difasilitasi oleh Dewan Pers.28
  28. 28. Bagian IIKOMPETENSI WARTAWANa. ELEMEN KOMPETENSI Elemen Kompetensi adalah bagian kecil unit kompetensiyang mengidentifikasikan aktivitas yang harus dikerjakanuntuk mencapai unit kompetensi tersebut. Kandungan elemenkompetensi pada setiap unit kompetensi mencerminkan unsurpencarian, perolehan, pemilikan, penyimpanan, pengolahan,dan penyampaian. Elemen kompetensi wartawan terdiri dari: 1. Kompetensi umum, yakni kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh semua orang yang bekerja sebagai wartawan. 2. Kompetensi inti, yakni kompetensi yang dibutuhkan wartawan dalam melaksanakan tugas-tugas umum jurnalistik. 3. Kompetensi khusus, yakni kompetensi yang dibutuhkan wartawan dalam melaksanakan tugas- tugas khusus jurnalistik.b. KUALIFIKASI KOMPETENSI WARTAWAN Kualifikasi kompetensi kerja wartawan dalam kerangkakualifikasi nasional Indonesia dikategorikan dalam kualifikasiI, II, III. Dengan demikian, jenjang kualifikasi kompetensikerja wartawan dari yang terendah sampai dengan tertinggi 29
  29. 29. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIditetapkan sebagai berikut: 1. Kualifikasi I untuk Sertifikat Wartawan Muda. 2. Kualifikasi II untuk Sertifikat Wartawan Madya. 3. Kualifikasi III untuk Sertifikat Wartawan Utama.C. JENJANG KOMPETENSI WARTAWAN 1. Jenjang Kompetensi Wartawan Muda 2. Jenjang Kompetensi Wartawan Madya 3. Jenjang Kompetensi Wartawan Utama Masing-masing jenjang dituntut memiliki kompetensikunci terdiri atas: 1. Kompetensi Wartawan Muda: melakukan kegiatan. 2. Kompetensi Wartawan Madya: mengelola kegiatan. 3. Kompetensi Wartawan Utama: mengevaluasi dan memodifikasi proses kegiatan.d. ELEMEN UNJUK KERJA Elemen unjuk kerja merupakan bentuk pernyataan yangmenggambarkan proses kerja pada setiap elemen kompetensi.Elemen kompetensi disertai dengan kriteria unjuk kerja harusmencerminkan aktivitas aspek pengetahuan, keterampilan,dan sikap kerja.1.1. Elemen Kompetensi Wartawan Muda a. Mengusulkan dan merencanakan liputan. b. Menerima dan melaksanakan penugasan. c. Mencari bahan liputan, termasuk informasi dan30
  30. 30. referensi d. Melaksanakan wawancara. e. Mengolah hasil liputan dan menghasilkan karya jurnalistik. f. Mendokumentasikan hasil liputan dan membangun basis data pribadi. g. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi.1.2. Elemen Kompetensi Wartawan Madya a. Menyunting karya jurnalistik wartawan. b. Mengompilasi bahan liputan menjadi karya jurnalistik. c. Memublikasikan berita layak siar. d. Memanfaatkan sarana kerja berteknologi informasi. e. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan berkedalaman (indepth reporting). f. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan investigasi (investigative reporting). g. Menyusun peta berita untuk mengarahkan kebijakan redaksi di bidangnya. h. Melakukan evaluasi pemberitaan di bidangnya. i. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi. j. Memiliki jiwa kepemimpinan.1.3. Elemen Kompetensi Wartawan Utama a. Menyunting karya jurnalistik wartawan. b. Mengompilasi bahan liputan menjadi karya jurnalistik. 31
  31. 31. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI c. Memublikasikan berita layak siar. d. Memanfaatkan sarana kerja berteknologi informasi. e. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan berkedalaman (indepth reporting). f. Merencanakan, mengoordinasikan dan melakukan liputan investigasi (investigative reporting). g. Menyusun peta berita untuk mengarahkan kebijakan redaksi. h. Melakukan evaluasi pemberitaan. i. Memiliki kemahiran manajerial redaksi. j. Mengevaluasi seluruh kegiatan pemberitaan. k. Membangun dan memelihara jejaring dan lobi. l. Berpandangan jauh ke depan/visioner. m. Memiliki jiwa kepemimpinan.e.TINGKATAN KOMPETENSI KUNCI Rincian tingkatan kemampuan pada setiap kategorikemampuan digunakan sebagai basis perhitungan nilai untuksetiap kategori kompetensi kunci. Hal itu digunakan dalammenetapkan tingkat/derajat kesulitan untuk mencapai unitkompetensi tertentu.32
  32. 32. MATERI DAN METODE UJI KOMPETENSI JURNALISTIKALIANSI JURNALIS INDEPENDENNo. Materi TujuanA. PENGETAHUAN UMUM01. Profesional- • Menguji pengetahuan tentang profesionalisme. isme • Menguji pemahaman tentang peran dan fungsi jurnalis. • Menguji pemahaman tentang masalah dan tantangan profesi.02. Komunikasi • Menguji pengetahuan tentang komunikasi massa. Massa • Menguji pengetahuan tentang posisi dan fungsi media massa. • Menguji pengetahuan tentang pengaruh teknologi informasi terhadap komunikasi massa.03. Pers Nasional • Menguji pengetahuan ttg sejarah pers nasional dan global. dan Media • Menguji pemahaman ttg masalah dan tantangan pers Global nasional.04. Hukum Pers • Menguji pengetahuan ttg dasar-dasar hukum pers nasional. • Menguji pemahaman ttg permasalahan pengaturan pers.B. TEORI JURNALISTIK05. Prinsip-prinsip • Menguji pengetahuan ttg prinsip-prinsip kerja jurnalistik. Jurnalistik • Menguji pehamanan ttg konsekuensi atas berlakunya prinsip-prinsip kerja jurnalistik. • Menguji pemahaman ttg hubungan prinsip kerja jurnalistik dg kode etik.06. Unsur Berita, • Menguji pemahaman ttg unsur berita, nilai berita dan Nilai Berita, jenis berita. Jenis Berita • Menguji ketrampilan penggunaan nilai berita dan jenis berita dlm meliput dan menyusun berita. • Menguji kemampuan pengembangan berita berdasar nilai berita dan jenis berita.07. Bahasa • Menguji pengetahuan ttg kaidah-kaidah bahasa Indonesia Jurnalistik yg baik dan benar. • Menguji pemahaman ttg kaidah-kaidah bahasa jurnalistik.08. Fakta dan • Menguji pengetahuan ttg pengertian dan perbedaan Opini antara fakta dan opini. • Menguji pemahaman ttg realitas sosialogis dan realitas psikolois. • Menguji pemahaman ttg hubungan fakta dan opini dlm menyusun berita. • Menguji pemahaman ttg opini redaksi dlm mengarahkan agenda publik. 33
  33. 33. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI No. Materi Tujuan09. Narasumber • Menguji pengetahuan ttg kompetensi narasumber. • Menguji pemahaman ttg menjaga hubungan dg narasumber. • Menguji pemahaman membangun jejaring dan lobi.10. Kode Etik • Menguji pengetahuan ttg materi kode etik. Jurnalistik • Menguji pemahaman ttg praktek kode etik. • Menguji pemahaman ttg posisi dan fungsi lembaga ombudman dan dewan pers.C. PRAKTEK JURNALISTIK11. Melakukan • Menguji kemampuan mempersiapkan materi wawancara. Wawancara • Menguji kemampuan berbagai bentuk wawancara.12. Menjalankan • Menguji kemampun mempersiapkan materi liputan. Liputan • Menguji kemampuan mengumpulkan informasi berupa fakta dan data.13. Menyusun • Menguji kemampuan dlm membuat jenis-jenis berita dan Berita tulisan.14. Menyunting • Menguji kemampuan menyunting berita. Berita15. Merancang • Menguji kemampuan dlm merancang materi dan desain Materi dan media utk target audiens ttt. Desain16. Mengelola • Menguji kemampuan dlm mengelola redaksi. Manajemen Redaksi17. Menetapkan • Menguji kemampuan dlm menentukan kebijakan redaksi Kebijakan dan arah pemberitaan. Redaksi18. Menggunakan • Menguji kemampuan penggunaan peralatan teknologi Peralatan informasi pemberitaan. Teknologi InformasiD. PENDALAMAN KODE ETIK JURNALISTIK19. Pemetaan dan • Menguji kemampuan dlm memetakan permasalahan Penyikapan penerapan kode etik. Problem Etik • Menguji kemampuan dlm menyikapi permasalahan penerapan kode etik.20. Perincian • Menguji kemampuan dlm menyederha nakan masalah Kode Etik ke penerapan kode etik. Kode Perilaku • Menguji kemampuan dalam menerjemah kan kode etik ke dalam kode perilaku. 34
  34. 34. Materi Kunci IRUMPUNPENGETAHUAN UMUM• Jurnalis sebagai Profesi• Pers dan Perjanalan Nasionalisme Indonesia• Pers,Teknologi Media dan Kehidupan Sosial• Komunikasi Massa• Hukum Jurnalistik dan UU Pers 35
  35. 35. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI36
  36. 36. Jurnalis sebagai ProfesiOleh P. Hasudungan SiraitJ urnalis/wartawan/pewarta adalah sebuah profesi seperti halnya dokter, pilot, akuntan, apoteker, dosen, hakim, jaksa, pengacara, atau notaris. Tapi apa sebenarnyayang dimaksud dengan profesi? Apa bedanya dengan pekerjalain, katakanlah pengamen, tukang tambal ban, atau kondekturbus kota? Bukankah semua itu sama-sama pekerjaan? Orang awam sering menyamakan begitu saja pengertianpekerjaan dengan profesi. Jurnalis pun masih banyak yangseperti itu. Mereka keliru, tentu. Bahwa profesi adalahpekerjaan, itu jelas. Tapi ada bedanya? Ada kualifikasi yangharus dipenuhi agar suatu bidang pekerjaan bisa dikategorikansebagai profesi dan pelakunya disebut profesional. Pekerjaan ProfesiSopir ArsitekTukang pijat PilotTukang ojek AkuntanBakul jamu Guru-dosenPemulung PengacaraPengamen GeologTukang tambal ban DokterPekerja seks komersil (PSK) Disainer grafisPembantu rumah tangga ArkeologCalo PlanologPengemis TentaraMontir Astronom 37
  37. 37. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI Lihatlah tabel di atas. Apa yang membedakan antara lajurkiri dan kanan? Ada yang mengatakan yang di lajur kanan berketrampilan.Memang benar. Tapi apakah yang di lajur kiri tidak demikian?Tukang pijat atau pembantu rumah tangga, contohnya; takusah menyebut PSK. Bukankah banyak dari mereka yangterampil betul menjalankan pekerjaannya? Sebaliknya,bukankah dokter atau pengacara ada juga yang tak becusmelakoni bidangnya? Terang, ketrampilan tak bisa kita jadikanpembeda. Kalau begitu, apa? ‘Profesi’ dan ‘profesional’ merupakan dua kata yangsangat bertaut. Yang satu kata benda, yang satu lagi kata sifat.Mereka yang berada di jalur sebuah profesi dan memenuhikualifikasi bidangnya itulah yang disebut profesional.Memang sering juga kata ‘profesional’ dimaknai lebih luas.Yaitu mereka yang menghidupi atau menafkahi diri denganmenggeluti dunia tersebut sepenuhnya. Penyanyi, pemusik,aktor, pemain sepakbola, petinju, atau pegolf profesional,misalnya. Atribut ini dipakai untuk membedakan merekadari sejawatnya yang amatir; maksudnya: melakoni pekerjaanitu bukan sebagai jalan hidup. Kata lainnya, sambilan belaka.Supaya bisa disebut profesional seseorang harus memenuhistandar kompetensi bidangnya selain berfokus di sana. Marikita telaah apa sesungguhnya yang dimaksud dengan profesidan profesional itu.Kualifikasi Ada sejumlah syarat agar sebuah pekerjaan merupakanprofesi dan pelakonnya dikatakan profesional. Ini berlakuuniversal. Berikut paparannya.38
  38. 38. Pendidikan khusus Mereka yang bergelut di bidang tersebut telah menjalanipendidikan khusus. Sekolah akuntansi, perawat, kebidanan,geologi, pertambangan, kepolisian, penerbangan, pelayaran,kepengacaraan, kehakiman, atau grafis, misalnya. Jenjangpendidikan ini macam-macam. Tapi kalau menggunakanukuran yang berlaku di negeri kita sekarang minimal D-3.Strata Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)—sekolah ini naikdaun setelah sebuah SMK di Solo berhasil membuat mobil—belum cukup. Bisa juga merupakan kursus singkat tapipesertanya paling tidak telah berijazah D-3. Peserta kursuscalon pengacara, umpanya, harus lulusan program S-1. Tukang pijat atau montir, misalnya, sebagian pernahmengikuti pendidikan juga. Kursus, tepatnya. Bagaimanapredikat mereka ini—tidakkah sama? Tetap saja tidak, sebabsyarat berikut tidak semuanya mereka penuhi.Ketrampilan khusus Setelah mengikuti pendidikan khusus dengan sendirinyapeserta memperoleh ketrampilan khusus. Yang dimaksuddengan ketrampilan adalah kecakapan yang merupakanperpaduan antara wawasan dengan kemampuan praktik.Seorang lulusan kursus pengacara misalnya akan memilikiketrampilan seorang pengacara. Antara lain kepiawaianberacara di pengadilan, mendampingi klien, menyusunpembelaan (pledoi), atau menyiapkan jawaban (replik). Atau,seorang yang telah lulus dari fakultas kedokteran dan telahbergelar dokter akan mempunyai ketrampilan menanganipasien yang penyakitnya yang tidak spesifik. Selesma, sakitperut, muntaber, demam berdarah, radang tenggorokan, lukabakar, atau kadas-panu, umpamanya 39
  39. 39. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIStandar kompetensi Ketrampilan tadi terukur. Artinya tingkat penguasaanketrampilan itu definitif, tidak tergantung situasai [baca:tempat dan waktu]. Ketrampilan biasanya dibagi menjadikecakapan standar (baku) dan tambahan. Yang harus dikuasaipaling tidak yang baku. Di mana pun seorang pilot akan bisamenerbangkan pesawat yang telah dikenalnya dengan baik.Akuntan pun demikian: ia akan bisa memeriksa keuangansebuah perusahaan atau lembaga apa pun dan di mana punasal pembukuan tersebut standar. Seyogyanya seorang jurnalispun demikian. Ia akan bisa menjalankan news gathering, newswriting, dan news reporting kapan saja dan di mana saja.Organisasi Memiliki pendidikan khusus, ketrampilan khusus, sertastandar kompetensi saja belum cukup. Seseorang harusmenjadi bagian dari sebuah organisasi profesi supaya disebutprofesional. Pasalnya, organisasilah yang akan menguji secaraberkala kemampuan profesional tersebut menentukan jenjang,serta yang menjadi regulator mereka. Bila ada persoalan terkaitdengan profesi—misalnya dugaan malpraktik—organisasilahyang menjadi otoritas yang memeriksa serta memutusperkaranya—dalam hal ini majelis kode etik. Di Indonesia,organisasi profesi ada yang tunggal dan ada yang jamak. Dokter,misalnya, hanya berwadah satu yakni Ikatan Dokter Indonesia(IDI); akuntan pun demikian, hanya Ikatan Akuntan Indonesia(IAI). Sedangkan pengacara organisasinya beberapa termasukIkatan Advokat Indonesia (Ikadin), Asosiasi Advokat Indonesia(AAI), dan Serikat Pengcara Indonesia (SPI). Organisasiwartawan juga majemuk. Ada AJI, PWI, Ikatan Jurnalis TelevisiIndonesia (IJTI), Pewarta Foto, dan banyak lagi.40
  40. 40. Kode etik Setiap anggota organisasi profesi harus menjujung tinggikode etiknya. Isi kode etik sebuah profesi pada dasarnya sama,kendati lembaganya macam-macam. Kode etik berfungsisebagai rambu pengaman bagi anggota profesi baik ketikaberhubungan dengan sejawat maupun dengan pihak luar.Ibarat rel, di sepanjang lintasan itulah kereta api wartawanlalu-lalang. Selama taat kode etik, mereka tak perlu khawatirbertabrakan dengan kendaraan baik yang sejenis maupunyang berbeda. Artinya, tak usah mencemaskan munculnyagugatan dari pihak mana pun terkait dengan pemberitaan.Kalaupun diperkarakan, mereka bisa membela diri denganmenggunakan bukti-bukti karya profesionalnya.Kualifikasi tinggi Supaya gambaran tentang syarat profesi ini jelas mari kitalihat potret tiga profesi di negeri kita ini yaitu dokter, pilot,dan pengacara. Kita mulai dari dokter. Bagaimana prosesnya untuk menjadi seorang dokterdi Indonesia? Panjang tahapannya; barangkali malah yangterpanjang. Awalnya seseorang masuk fakultas kedokteran(FK) lewat seleksi yang ketat. Standar lulusnya (passing grade)merupakan yang tertinggi, sama dengan jurusan favoritdi bidang teknik. Sejak zaman baheula, hanya orang-orangpintarlah yang diterima di FK UI, UGM, Airlangga, Trisakti,Udayana, USU, dan perguruan tinggi top lainnya. Sampaisekarang pun—termasuk setelah perguruan tinggi menjadibadan usaha yang serba komersil—masih demikian adanya. Sesudah mengikuti kuliah strata-1 sekitar 3,5 tahun sangmahasiswa pun pun menjadi sarjana kedokteran (S. Ked).Untuk menjadi dokter, ia wajib mengikuti pendidikan profesi 41
  41. 41. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIsekitar 1,5 tahun. Dengan sebutan dokter muda, ia harusmagang sebagai co-assistant (koass) di rumah sakit. Setelahdilantik menjadi dokter, dia disyaratkan mengikuti ujiankompetensi kedokteran (ketentuan ini berlaku sejak 2007).Satu lagi, ia dianjurkan ikut program pengabdian di daerahdengan menjadi pegawai tidak tetap (PTT). Dulu sebutannya‘dokter Inpres’. Dalam beberapa tahun belakangan ini sajaPTT tidak wajib lagi. Kalau semua persyaratan sudah dipenuhi baru izin praktiksebagai dokter bisa keluar untuk dia. Izinnya adalah dokterumum. Artinya penyakit umum saja yang boleh ia tangani. Iatak boleh mengoperasi pasien. Bahkan bila merekomendasipasien untuk dioperasi pun tak boleh sembarang. Ingat kasusdr. Boyke (Boyke Dian Nugraha, kolumnis ihwal seksologi).Izin praktik dia dicabut 6 bulan oleh Majelis Kehormatan IDIpada November 1991 karena dianggap malpraktik. Ceritanya,ia telah merujuk seorang pasien ke sebuah rumah sakit untukdioperasi (kista). Operasi ternyata bermasalah dan pasienmenyoal. Setelah bersekolah lagi mengambil program spesialisbarulah seorang dokter bisa menangani penyakit khususseperti kanker, lever, stroke, atau gagal ginjal. Teranglah bahwa tak mudah untuk menjadi dokter.Kuliahnya berat dan praktikumnya melelahkan. Untukmerampungkan studi, lebih lama dibanding jurusan lainumumnya. Saat ini rata-rata perlu sekitar 6,5 tahun. Kalau difakultas lain itu sudah setara master. Untuk menjadi pilot tahapannya juga jelas. Sama denganorang yang ingin menjadi dokter, harus lulus seleksi sekolahdulu. Dalam hal ini sekolah penerbangan macam yang adadi Curug dan di Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta.42
  42. 42. Kesehatan menjadi salah satu yang paling menentukan dalamseleksi. Mata, telinga, jantung, paru-paru dan organ lainharus prima. Setelah lolos seleksi yang ketat—kecerdasanantara lain materi ujinya—baru peserta menjalani pendidikan.Simulasi dan latihan terbang di bawah bimbingan instruktoritulah antara lain materi pendidikan (saat ini programnyasudah ada yang enam bulan saja). Kalau peserta sudah lulus,bekerja sebagai co-pilot dulu dan itu pun untuk pesawat kecil.Jika sudah terampil dan jam terbang cukup baru bisa menjadipilot. Untuk menjadi pilot pesawat berbadan besar perlukualifikasi tambahan. Agar bisa berpraktik sebagai pengacara pun jelasprosedurnya. Saat ini ketentuannya adalah ikut kursuscalon pengacara dulu setelah menjadi sarjana hukum. Syaratselanjutnya adalah magang di kantor pengacara. Tanpa ikutprosedur ini izin praktik tak akan keluar. Dari contoh dokter, pilot, dan pengacara ini kita bisamengatakan bahwa ciri utama dari setiap profesi adalahadanya, antara lain, kompetensi terukur hasil pendidikan.Bagaimana dengan wartawan—apakah sama?Profesi terbuka Wartawan sejak lama dikenal sebagai profesi terbuka.Tidak seperti profesi lain umumnya, pendidikan khusus takdisyaratkan di dunia ini. Artinya tidak harus lulusan sekolahjurnalistik baru bisa menjadi pewarta; dari sekolah mana punbisa. Ini tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di seluruhdunia. Itulah kekhasan profesi ini. Memang di negara tertentuseperti Swedia ada juga ketentuan bahwa sarjana dari jurusanjurnalistik saja yang boleh menjadi jurnalis. Tapi hal seperti itukasuistik saja. 43
  43. 43. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI Di Indonesia sendiri baru dalam beberapa tahun terakhirsaja kebersekolahan dikaitkan dengan kewartawanan.Sekarang umumnya harus berijazah strata-1, dulu yang takbersekolah tinggi pun tak apa. Sejumlah tokoh pers negeri ini,termasuk Mas Marco, dan pendiri kantor berita Antara, AdamMalik, bukanlah orang bersekolah tinggi. Kendati hanyabersekolah di tingkat dasar, Adam Malik kemudian menjadimenteri luar negeri sebelum menjadi wakil presiden. Sebagaijurnalis ia sangat lincah dan tangkas. Dulu, di negeri kita banyak orang yang menjadi wartawankarena pertemanan. Artinya mereka bergabung denganredaksi sebuah media karena diajak temannya yang bekerjadi sana. Kalau tidak karena keluarganya ada di media massaitu. Sampai sekarang pun praktik seperti ini masih ada saja.Belakangan rekrutmen terbuka menjadi kelaziman. Mediayang bersangkutan mengiklankan lowongan kerja yangmereka buka. Pengiklanan bisa dilakukan di media sendiri,media lain, atau keduanya. Syarat disebutkan. Sekarang, antaralain minimal S-1. Sebagai catatan, koran Bisnis Indonesia-lahyang pertama kali memberlakukan syarat ini di lingkunganmedia massa kita. Kala itu, pada awal 1990-an, syarat ini inidianggap aneh dan mengada-ada oleh banyak wartawan kita. Selanjutnya pelamar yang dianggap memenuhi syaratdiseleksi. Ujiannya bertahap. Materinya, lazimnya: psikotest,menulis, wawancara, dan kesehatan. Kalau lulus yaselekasnya diterjunkan ke lapangan. Tanpa pembekalan? Ya;begitu adanya dan ini bukan sesuatu yang aneh di dunia persIndonesia. Memang, ada media yang melatih dulu calonwartawannya sebelum melepaskan mereka ke lapangan.Kompas misalnya, sekian lama mewajibkan calon reporternyamengikuti in-house training sekitar setahun sebelum mereka44
  44. 44. terjun ke lapangan. Majalah Tempo pun melakukan hal yangsama tapi dengan waktu yang lebih singkat. Pun, modelnyatidak seintens Kompas; kelas-kelas berkala saja. Bisnis Indonesiadan media massa yang sudah mapan secara finansial lebibbanyak mengikuti langkah Tempo. Masalahnya adalah media established seperti itu takbanyak. Praktik yang jamak terjadi adalah calon reporterditerjunkan begitu saja ke lapangan tanpa pembekalanpengetahuan jurnalistik lebih dulu. Terjun bebas, sebutannya.Manajemen media berharap para new comer itu akan belajardari pengalaman (learning by doing). Kalau manajemen berbaikhati paling orang-orang baru itu ditandemkan beberapa waktuke wartawan yang sudah berpengalaman. Kalau saja kelakada pelatihan internal susulan atau penyekolahan ke lembagapendidikan jurnalistik macam LP3Y (Yogyakarta), LembagaPers Dokter Soetomo (LPDS), ISAI-SBM, atau UI (Jakarta)masih lumayan. Sebagaimana profesi lain, idealnya seorang calonwartawan sudah memiliki kualifikasi tertentu sebelumditerjunkan ke lapangan. Setidaknya, ia mengetahui hakekatprofesinya, aturan main yang baku (standar jurnalistik),rambu-rambu (kode etik dan regulasi pers), dan memilikikecakapan dalam wawancara dan menulis. Hal ini perlu agarnantinya tak merugikan baik medianya sendiri, narasumber,maupun publik. Sebab bagaimanapun karya jurnalistik yangmereka hasilkan akan dibaca atau didengar atau ditontonpublik. Begitu diwartakan, berita mereka kontan masuk ranahpublik. Jadi tidak boleh spekulatif atau main-main. Faktanyatidak demikian: masih jauh panggang dari api. Jangankanreporter baru, wartawan yang jam terbangnya tinggi punterlalu banyak yang belum menguasai pengetahuan elementertadi. Maka profesionalisme pun masih jauh. Akibatnya? 45
  45. 45. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIPers kita sering bermasalah. Tak hanya pers yang modalnyakembang kempis, melainkan pers yang sejahtera juga.Malapraktik tuduhannya. Sebagai gambaran, majalah Tempoyang termasuk paling mapan di Republik ini jika dilihat darisegi apa pun, pernah tersandung perkara sejenis dan akibatnyasempat kelimpungan. Profesionalisme jurnalis, karena itu, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jika tidak, taruhannya terlalu besar. Media bisadigugat pailit oleh mereka yang merasa dirugikan. Tak hanyaTempo, banyak sudah media massa yang mengalaminya.Sebab itu UKJ yang kini diprogramkan oleh AJI diperlukanbetul adanya. Paling tidak dia akan mebebrikan perlindunganke dalam dan keluar. Kalau mesin saja harus ditun-up, scannerdikalibrasi, atau alat musik ditala secara berkala, jurnalis punmesti demikian. Secara periodik kemampuan profesionalnyaperlu diuji; tidak sekali saja seumur hidup. Kalau tidak, akanseperti prosesor Pentium 3 di zaman core duo: serba lelet,kagok dan gagap.46
  46. 46. Pers dan PerjanalanNasionalisme IndonesiaOleh Didik SupriyantoD alam perjalanan Republik ini selalu muncul kelompok-kelompok yang menjadi aktor penting dalam berbagai momentum sejarah. Mahasiswakerap menjadi pendobrak kebekuan zaman, mulai masakebangkitan nasional sampai masa reformasi. Tentara menjadipelaku penting pada masa perang kemerdekaan dan penguasapanggung Orde Baru. Politisi mendominasi kehidupan politikpada pascakemerdekaan hingga saat Soekarno menjadikekuatan yang monolitik. Kini, sesudah Soeharto tumbang,dominasi politisi nyaris tak tertandingi oleh kelompok apapun, sehingga kehidupan sosial politik di Republik ini nayrisidentik dengan tarik-menarik antarpolitisi dengan berbagaikepentingannya. Lantas, di mana posisi pers pada berbagai momentumsejarah penting yang terjadi di Republik ini? Apakah merekapunya peran yang signifikan dalam berbagai perubahansosial politik sehingga patut dicatat dalam sejarah? Apakahpernyataan “lebih baik tidak ada pemerintahan daripadatidak ada pers bebas” relevan diperbincangkan dalam konteksIndonesia? Atau, pers hanyalah penikmat kebebasan yangtelah diperjuangkan oleh kelompok-kelompok lain, sementarakontribusinya bagi proses pemajuan kehidupan masyarakat, 47
  47. 47. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIbangsa dan negara patut dipertanyakan? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut,kiranya perlu dijelaskan terlebih dahulu, bahwa pers memangbukan aktor murni sebagaimana mahasiswa, tentara ataupolitisi. Pers adalah institusi sosial yang produknya hadirsecara periodik ke hadapan publik dalam betuk koran,tabloid, majalah dan buletin yang berisi tulisan (berita, ulasan,artikel) dan ilustrasi (gambar dan foto). Oleh sebab itu, dalamberbagai momen penting sejarah, pers tidak hadir sebagaipelaku, melainkan lebih sebagai katalistor. Artinya, pers bisaaktif mendukung gagasan yang tengah berkembang atauaktor yang tengah bergerak; sebaliknya pers juga mengkritisisetuasi buruk yang tengah terjadi atau mencerca aktor yangburuk perangainya.Prinsip-prinsip Jurnalisme Sebagai institusi sosial pers berkembang berdasarkanprinsip-prinsip jurnalisme yang diemban oleh parapengelolanya. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001)menyebutkan sembilan prinsip dasar jurnalisme, yaitu (1)kewajiban jurnalisme adalah pada kebenaran; (2) loyalitaspertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat; (3)intisari jurnalisme adalah disiplin dan verifikasi; (4) parapraktisinya harus menjaga independensi dari sumber berita;(5) jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan;(6) jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritikmaupun dukungan terhadap warga; (7) jurnalisme harusberupaya membuat hal yang penting, menarik dan relevan;(8) jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif danproporsional; (9) para praktisinya harus diperbolehkanmengikuti nurani mereka.48
  48. 48. Kesembilan prinsip dasar jurnalisme rumusan Kovachdan Rosenstiel tersebut memang dibuat berdasarkan sejarahpers Eropa dan AS serta wawancara sejumlah editor di sana.Tetapi tak perlu disangsikan lagi bahwa prinsip-prinsip itujuga dipegang teguh oleh para pengelola pers di daratanlain bumi ini, termasuk Indonesia. Bahkan, seperti ditulisoleh Abdurrachman Surjomihardjo dkk (1980), ketika MedanPrijaji, yakni koran pertama yang diterbitkan pribumi pada1907 di Betawi, prinsip-prinsip jurnalisme itu langsungdioperasionalisakan oleh RM Tirto Adhi Soerjo, sehingga‘sang pemula’ ini sempat dibuang penguasa Belanda keLampung. Demikian juga koran sezamannya di Semarangyang dipimpin oleh JPH Pangemanan, Warna Warta,redakturnya berkali-kali diadili karena tulisan-tulisannyamenyerang pemerintah kolonial. Ini agak berbeda dengankoran-koran yang diterbitkan orang Tionghoa dan keturunanBelanda. Dua kelompok terkahir ini lebih mengedepankanberita perdagangan dan kriminalitas.Pelatak Dasar Bahasa Indonesia Koran Medan Prijaji kali pertama di Betawi pada 1907dalam bentuk mingguan. Koran yang kemudian menjadiharian pada 1910 ini sebetulnya bukan koran pertama yangmenggunakan bahasa Melayu. Media yang tercatat sebagaimedia berbahasa Melayu yang pertama ialah majalah BintangOetara yang diterbitkan di Roterdam pada 1856 oleh pecintabahasa Melayu Dr. PP Roorda van Eysinga. Lalu di Surabayapada 1861, terbit majalah Bintang Soerabaja yang dimotori olehperanakan Belanda dan Tionghoa. Di Batavia pada 1883 seorangpengusaha Indo menerbitkan Tjahaja India, sedang pengusahaketurunan Belanda lainnya menerbitkan Bintang Barat. 49
  49. 49. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI Majalah-majalah berbahasa Melayu generasi pertamatersebut merupakan kelanjutan binis media berbahasaBelanda dan Cina yang mulai berkembang di HindiaBelanda pada abad ke-18. Karena pangsa pasar media cetakberbahasa Belanda dan Tionghoa sangat terbatas, orang-orang Belanda dan Tionghoa menambah pangsa pasar medialewat penerbitan koran atau majalah berbahasa Melayu. Padatitik inilah dimulai peletakkan dasar bahasa Melayu sebagaibahasa nasional. Pertama, bahasa Melayu yang merupakanlingua franca, mulai diformulasikan sebagai bahasa tulis;kedua, dengan tersebarluasnya koran dan majalah, makabahasa Melayu (yang telah diformulasikan dalam bentuk tulisitu) juga menjadi bahasa pergaulan antarkomunitas yang lebihluas di tanah Hindia Belanda. Sebagai ilustrasi, Taufik Abdullah (1999) mengutip kritikyang ‘sehat, tapi aneh’ dari seorang penulis di Tjahaja Indiaterhadap bahasa yang digunakan Bintang Barat. Penulis tersebutmengecam kecenderungan Bintang Barat yang suka memakaibahasa Melayu-Tinggi yang disebutnya sebagai bahasa‘Minangkerbau’. Menurut penulis itu, jika Bintang Barat terusmemakai bahasa elit itu, koran tersebut tidak akan laku karenatidak banyak orang yang memahami bahasa tersebut. Olehkarena itu, ia menyarakan agar Bintang Barat tetap memakaibahasa ‘Melajoe Betawi’, sebab bahasa ini mengandung unsur-unsur yang dipakai di seluruh tanah Hindia. Bahasa ‘Melajoe Betawi’ atau Melayu-Pasar adalah bahasayang paling komunikatif di tengah-tengah tumbuhnyamasyarakat perkotaan akibat pertumbuhan ekonomi kolonial.Para pendatang yang berasal dari berbagai polosok memilikitradisi dan bahasa yang berbeda-beda, seakan membentukkomunitas orang-orang asing di perkotaan. Mungkin hanyapasarlah sebagai tempat di mana mereka bisa bertemu dan50
  50. 50. mengadakan transaksi untuk keperluan masing-masing.Transaksi ini dimungkinkan karena telah tumbuh simbol-simbol komunikatif yang dibawakan oleh bahasa Melayu.Sekali lagi, pada titik inilah pers pada awal pertumbuhannyatelah memperkuat kedudukan bahasa Melayu sebagai sistemsimbol dan mentransformasi komunitas orang-orang asingmenjadi sebuah masyarakat.Pembuka Tabir Perasaan Senasib Seperti disebutkan sebelumnya, koran-koran berbahasaMelayu yang diterbitkan oleh kalangan nonpribumi, dalamhal ini keturunan Belanda dan Tionghoa, lebih banyakmewartakan perkara perdagangan dan kriminalitas sertamenuliskan cerita-cerita bersambung, baik dari hikayat lama,rekaman dari cerita lisan ataupun hasil rekaan baru. Namundi sela-sela berita dagang dan kriminal serta hikayat, seringmuncul berita-berita luar negeri dan kadang-kadang laporantentang kesewenang-wenangan pejabat Belanda atau pribumiterhadap orang-orang kecil. Menurut Taufik Abdullah (1999), betapapun masih sangatsederhana, saat itu koran dan majalah berbahasa Melayutelah memperkenalkan corak teks yang baru, yakni teks yangmemberitakan peristiwa yang terus berlalu dan berubah.Lebih dari itu, berita-berita yang disajikan koran dan majalahberbahasa Melayu bisa dilihat dan dirasakan secara langsungoleh pembacanya. Teks yang diberikan oleh pers adalahteks yang kehadirannya seakan-akan mengajarkan bahwaperistiwa-peristiwa terjadi dalam konteks waktu yang terusberjalan. Tentu saja ini berebeda dengan teks lama yang seringdilisankan kepada penduduk berupa pesa-pesan yang sifatnyaabadi seperti ajaran agama, adat sopan santun, kearifan hidup 51
  51. 51. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIdan sebagainya. Dengan demikian, koran-koran dan majalah-majalahyang menyebar luas melampaui kota-kota tempat terbitnya,memungkinkan pembaca di berbagai daerah mengetahuiperistiwa yang terjadi dan berlalu di tempat lain. Tak kurangpentingnya, kejadian-kejadian itu bisa dibandingkan denganpengalaman yang telah pernah dilalui, atau yang pernahdidengar atau dibaca tentang daerahnya sendiri. Dengandemikian pers telah memberikan suasana kesezamanan dengandaerah lain atau bangsa lain. Teks yang disampaikan perstidak berkisah tentang negeri antah berantah di suatu zaman,melainkan tentang negeri tertentu yang riil, di zaman sekerang. Dampak dari perasaan kesezamanan ini tak hanyapada perluasan cakrawala intelektual, melainkan jugamemungkinkan bangkitnya ingatan kolektif tentang jaringankultural atau politik lama antara berbagai daerah dan sukubangsa. Ini bisa terjadi, karena pers telah memungkinkanmasyarakat membanding-bandingkan keadaan daerahnyadan suku bangsanya di hadapan sistem kolonial yang bercoraksubordinasi –tuan kolonial di atas sebagai yang memerintah,dan pribumi di bawah sebagai yang diperintah. Akhirnya,perasaan kesezamanan membangkitkan ingatan kolektif akanadanya perasaan senasib dan sepenangungan dalam sistemkolonial. Kemudian hari, erasaan seperti ini menjadi pengikatutama bagi lahirnya kesadaran kesatubangsaan. Sebab syaratmunculnya nasionalisme adalah adanya perasaan senasib dansepenanggunagan sesama warga bangsa. Dan pers berbahasaMelayu telah membuka tabir tersebut.Melawan dengan Mengorganisasi Diri Pers berbahasa Melayu yang dikembangkan oleh peng­52
  52. 52. usaha keturunan Belanda dan Tionghoa pada abad ke-18 bolehdisebut sebagai periode ‘prasejarah’ pers nasional. Dibutuhkanwaktu 50 tahun sejak munculnya koran berbahasa MelayuBintang Oetara yang terbit di Roterdam pada 1856, hinggaakhirnya lahir Medan Prijaji, koran pertama yang diterbitkantokoh pribumi bernama RM Tirto Adhi Soerjo. Seperti ditulisoleh Pramoedya Ananta Toer (2003), Tirto Adhi Soerjo (TAS)tergerak untuk menerbitkan mingguan yang kemudianmenjadi harian Medan Prijaji, setelah melakukan perjalanan keMaluku. Di sana TAS merekam kebiadaban kolonial Belandasehingga penduduk Maluku mengalami penderitaan danpemiskinan yang sangat nyata. Ini merupakan pengalamanbatin yang membekas sekaligus meningkatkan kesadaranintelektual TAS bahwa bangsa-bangsa di bawah kekuasaankolonial mengalami penderitaan yang sama. TAS sendiri pada edisi pertama Medan Prijaji menyebutkanbahwa misi yang diemban korannya ialah: (1) memberikaninformasi; (2) menjadi penyuluh keadilan; (3) memberikanbantuan hukum; (4) memberikan tempat orang tersia-siamengadukan nasibnya; (5) mencari pekerjaan bagi merekayang membutuhkan pekerjaan di Betawi; (6) menggerakkanbangsanya untuk berorganisasi atau mengorginasisikandiri; (7) membangun dan memajukan bangsanya; dan (8)memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan. Sepertidicatat Surjomihardjo (1980), Tirto tak hanya pribumipertama yang bergerak di bidang penerbitan dan percetakandan mendirikan badan usaha (NV), melainkan juga orangpertama yang menggunakan koran sebagai alat pembentukpendapat umum. Dialah ‘sang pemula’ yang konsisten dalammengemban misi yang telah dicanangkan dan memfungsikanpers sebagai institusi pemajuan nasib bangsanya. Bagi TAS, kemajuan bangsanya tidak hanya didapatkan 53
  53. 53. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIdari pendidikan (yang dikembangkan oleh politik etikpenguasa kolonial), melainkan juga terbebasnya bangsa darisegala macam kesewenang-wenangan kekuasaan. Oleh karenaitu, lewat Medan Prijaji, TAS tanpa ragu menyatakan secaraterbuka segala corak manifestasi kekuasaan yang dianggapnyatidak pantas. Ia menulis berita berdasarkan investigasi daninformasi-informasi yang berasal dari lapangan yang dikemastanpa sindiran dan pretensi. Berbagai kasus kesewenang-wenangan penguasan kolonial maupun pribumi diungkapsecara gamblang oleh Medan Prijaji. Tidak heran, bila persdelickbeberapa kali diterima oleh TAS, dan akhirnya dipenjara laludibuang ke Lampung oleh rejim kolonial. Selain melawan kesewenang-wenangan penguasa,dalam usaha memajukan bangsanya, Medan Prijaji selalumenyerukan perlunya bangsa pribumi mengorganisasi diridalam menghadapi pihak-pihak asing. Tak heran bahwakemudian TAS terlibat dalam pendirian Serikat Dagang Islam(SDI) di Bogor yang kemudian berubah menjadi SarekatIslam (SI) yang berkembang di Solo dan beberapa kota diJawa. Situasi vis a vis antara pribumi dengan kaum Belandadan Tionghoa di dunia perdagangan, menyebabkan TAS dkkmencampurkan identitas agama Islam dengan kepribumian,sehingga organisasi yang dimaksudkan untuk memajukanbangsa pribumi adalah SDI dan SI. Oleh karena itu, SI yangberkembang pesat saat itu akhirnya menjadi naungan bagiberbagai macam aliran dan ideologi yang dianut kaumpribumi, termasuk komunisme. Tentu Medan Prijaji bukan satu-satunya penerbitan yangmembongkar kesewenangan penguasa dan menyerukanbangsa pribumi untuk mengorganisasikan diri dalam rangkamemajukan bangsa. Selain Median Prijaji, tercatat BintangHindia, Insoelinde, Warna Warta dan beberapa koran milik54
  54. 54. SI seperti Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Sinar Djawa danPantjaran Warta. Organisasi-organisasi pergerakan yangdibentuk kaum pribumi, seperti Boedi Utomo dan IndischePatij memiliki Dharmo Kondo dan De Express. Namun dalamcatatan sejarah, kepeloporan dan konsistensi Medan Prijajidalam mengungkap kesewenangan penguasa kolonial danmenyerukan pembentukan organisasi pribumi tampak lebihmenonjol dari penerbitan-penerbitan yang lain. Di sinilahperan penting Medan Prijaji dalam menabur benih-benihnasionalisme yang dalam beberapa tahun kemudian berubahdalam bentuk gerakan menuntut kemerdekaan.Hindia Poetra Menjadi Indonesia Merdeka Seruan Medan Prijaji dan koran-koran lain sezaman untukmengorganisasikan pribumi sebetulnya merupakan upayamencari identitas yang tepat buat kalangan pribumi di tanahHindia. SDI dan SI telah mencampuradukkan identitas agamadengan kepribumian sebagai antitesa terhadap orang-orangketurununan Belanda dan Tionghoa. Dengan latar belakangyang sama Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo danDouwes Dekker yang tergabung dalam Indische Partij, pada1912 lewat De Express memperkenalkan konsep ‘nasionalismeHindia’. Bagi Tiga Serangkai tersebut, ‘nasionalisme Hindia’membedakan kaum penetap (blijvers) dan mereka yangmondar-mandir (trekkers), dan hanya yang menetap yangdianggap sebagai bangsa Hindia, sedang yang lain adalahorang asing. Dalam konsep ini, Tiga Serangkai tersebuttelah meleburkan anak negeri yang pribumi dengan Cinaperanakan dan orang-orang Indo, serta orang Belanda yangtidak akan kembali ke negerinya dalam sebuah kesatuan 55
  55. 55. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIyang bernama bangsa Hindia. Dengan sendiri dalam konsepini, para penguasa Belanda dianggap sebagai orang luar aliastrekkers. Dalam upaya mencari identitas diri sebagai bangsa,Medan Prijaji, De Express dan koran-koran lain terlibat dalamperdebatan yang hangat di kalangan pengelola pers dankaum cerdik pandai pribumi saat itu. Konsep ‘nasionalismeHindia’ yang muncul tidak saja peleburan identitas agama-pribumi dan kaum penetap di tanah Hindia, tetapi juganasionalisme Jawa, nasionalisme Sumatera, dan nasionalismelokal lainnya. Bahkan menurut Abdullah (1999), pada awalpertumbuhannya pers bukan saja pembawa berita, tetapi jugamenjadi pelopor diskursus kecendikiaan. Dalam pemberitaandan perdebatan tersebut, simbol-simbol yang komunkatif danintegratif semakin memperkuat kesadaran akan harkat dirisebagai bangsa dalam menghadapi kekuatan kolonialismeBelanda. Namun perdebatan soal ‘nasionalisme Hindia’ di kalangankaum pergerakan itu seakan diselesaikan oleh generasi barukaum cendikia pribumi yang bersekolah di negeri Belanda.Pada 1923 mahasiswa pribumi mengubah nama organisasinya,dari Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereenigingdan kemudian diganti lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia.Mereka pun menukar nama majalah organisasi dari HindiaPoetra menjadi Indonesia Merdeka. Berbeda dengan generasisebelumnya, di mana usaha mencari identitas nasional yanglebih banyak karena refleksi atas kenyataan sosial politik ditanah Hindia, maka generasi baru pergerakan nasional, melihatlangsung tentang tumbuh dan berkembangnya nasionalismebangsa-bangsa di Eropa, sehingga mereka seakan lebihtahu dengan apa yang dibutuhkan oleh bangsanya. Sebagaikelompok kecil pribumi yang teralienasi di tengah-tengah56
  56. 56. kehidupan orang-orang Eropa, mereka menjadi lebih lugasdalam membicarakan nasionalisme Hindia dan menetapkan‘Indonesia Merdeka’ sebagai semboyan perjuangan. Gagasan-gagasan nasionalisme Indonesia yang diadopsidari sejarah pergerakan bangsa-bangsa Eropa, oleh para palajarpribumi di negeri Belanda disebarluaskan ke tanah Hindialewat majalah Indonesia Merdeka dengan cara diam-diam.Kelugasan rumusan-rumusan tentang nasionalisme Indonesiadan ketegasan sikap dalam menuntut kemerdekaan Indonesia,menjadikan tulisan-tulisan di dalam Indonesia Merdeka seakanmenjadi penuntas pedebatan tentang nasionalisme Hindiayang selama sepuluh tahun terakhir menghiasi koran-korandan majalah-majalah berbahasa Melayu di tanah Hindia.Itulah sebabnya, meskipun peredaran Indonesia Merdeka ditanah Hindia dilarang oleh penguasa Belanda, setidaknyalima nomor majalah tersebut berhasil diselendupkan ke tanahHindia dan mencapai 236 orang yang memesannya. Sebagaimana dicatat John Ingleson (1988), para pelajaryang tergabung dalam Perhimpoenan Indonesia, sepertiMoh Hatta, Subardjo, Sunarjo, Sartono, Iskaq dll, tidak hanyamenyebarkan propaganda nasionalisme Indonesia dantuntutan Indonesia merdeka lewat majalah yang dipimpinnya,tetapi sekembalinya ke tanah air, mereka pun terjun langsungke kancah pergerakan politik menentang penguasa kolonial.Mereka sempat mempersiapkan suatu kongres nasional untukmembentuk partai kerkayatan yang berasaskan nasionalismemurni, namun meletusnya pemberontakan PKI 1926-1927,membuat rencana pembentukan partai kerakyatan itu batal.Tetapi rapat-rapat persiapan terus dilakukan di kalanganaktivis radikal sehingga akhirnya pada 4 Juli 1927 lahirlahPartai Nasionalis Indonesia (PNI). 57
  57. 57. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIMengobarkan Api Kemerdekaan Ketika Jepang menguasai beberapa negara Asia, termasuktanah jajahan Hindia Belanda, semua media pers langsungberada di bawah pengawasan pemerintahan militer Jepang dandipergunakan sebagai alat propaganda perang Jepang melawanSekutu. Seiring dengan pelarangan penggunaan bahasaBelanda, saat itu pemerintah Jepang setidaknya menyokonglima surat kabar berbahasa Jepang, yaitu Jawa Shimbun, BorneoShimbun, Celebes Shimbun, Sumatera Shimbun dan Ceram Shimbun.Sementara terdapat sekitar delapan surat kebar yang berbahasaIndonesaia, yaitu di Jakarta Asia Raya dan Pembangoenan, diBandung Tjahaja, di Yogyakarta Sinar Matahari, di SemarangSinar Baroe, dan di Surabaya Pewarta Perniagaan. Pengaturan kehidupan pers oleh pemerintah Jepangtentu saja mempersempit kedudukan pers sebagai saranainformasi kepada umum. Namun keadaan ini, menurutSurjomihardjo (1980) memberi sumbangan berharga bagiperjuangan kemerdekaan dan pertumbuhan pers Indonesiasetelah kemerdekaan. Perlu dicatat, larangan penggunaanbahasa Belanda telah berhasil meratakan penggunaanbahasa Indonesia ke seluruh pelosok tanah air. Orang-orangIndonesia juga mendapatkan latihan mengenai berbagai aspekmengelola media pers dan menduduki posisi penting, suatupengalaman yang berharga bagi penanganan pers pada masapasca kemerdekaan nanti. Meskipun pada zaman Jepang tokoh-tokoh pergerakannasional senior, seperti Soekarno dll bersedia bekerja samadengan pemerintahan Jepang, tidak sedikit tokoh-tokohyang lebih muda memilih berjuang di bawah tanah gunamengapai kemerdekaan. Pada barisan anti-Jepang inilahberkumpul pemuda mahasiswa yang terus mengobarkan apikemerdekaan, tanpa harus menunggu janji-janji Jepang. Dari58
  58. 58. merekalah beredar brosur stensilan-stensilan propagandamenuntut kemerdekaan Indonesia. Menurut BenedickAnderson (1989), brosur-brosur stensilan anti-Jepang tersebutdikeluarkan oleh mahasiswa yang pada masa itu banyakberkumpul di asrama-asrama di Jakarta, seperti asramaMenteng dan Cikini. Asrama-asrama tersebut merupakanpusat kehidupan sosial dan intelektual mahasiswa danmerupakan tempat bagi diskusi-diskusi yang intens dantertutup, serta menjadi sebuah pusat solidaritas pergerakanmeraih kemerdekaan. Seperti disebutkan di depan, penunjukan beberapaorang pers untuk menduduki posisi penting di mediayang dikendalikan oleh pemerintah Jepang, ternyataberdampak positif bagi tumbuh dan berkembangnya perspada masa perang kemerdekaan. Begitu Republik Indonesiadiproklamarikan oleh Sokearno dan Hatta pada 17 Agustus1945, sejumlah tokoh pers, seperti Adam Malik, BM Diah,Suardi Tasrif, Arnold Monotutu, Mochtar Lubis, RosihanAnwas dll, langsung bergerak menghidupkan medianyamasing-masing. Sesuai dengan semangant zaman, tanpadikomando, lewat media yang dipimpinya mereka terusmengorbankan api kemerdekaan. Bahkan ketika Inggris danBelanda mencoba kembali menguasai Indonesia, semangatperlawanan dihembuskan secara kencang oleh media-mediatersebut, sehinga berita-berita perlawanan rakyat Indonesiadalam menantang penjajahan akhirnya mendapat simpatimasyarakat internasional.Geliat pada Masa Pascakemerdekaan Setelah revolusi selesai dan Republik Indonesia diakuisecara internasional pada 1948, apa yang dilakukan oleh 59
  59. 59. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIpers bagi bangsa dan negara baru yang penuh denganpersoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya? Masalah yangdihadapai oleh bangsa yang baru merdeka sangat kompleks,sementara rakyat menaruh harapan bahwa kemerdekaansegera mengangkat kesejahteraannya. Di sinilah pers dituntutmampu menguraikan satu per satu masalah yang dihadapioleh bangsa dan mencari solusinya agar negara yang barulahir tetap tegak beridiri. Pers juga harus mempu menjelaskankesulitan-kesulitan yang tengah dihadapi negara, sehinggarakyat bisa bersikap realisitik terhadap apa-apa yang bisadikerjakan negara. Pada tahap ini pers terlibat dalam apa yangdisebut dengan proses national character building, yakni suatuproses lanjutan dari nasionalisme Indonesia yang sifatnyalebih implementatif setelah kemerdekaan tercapai. Secara sosial budaya, para pengelola pers menghadapikenyataan bahwa akibat revolusi telah teradi ketegangan sosialyang tinggi, khususnya antara para elit pribumi yang dulu propenjajah dengan sebagian rakyat yang ingin melampiaskandendam. Sebagai lanjutan dari perang kemerdekaan, makakerusuhan menentang lapisan elit pribumi ini terjadi diberbagai daerah, dan pemerintah yang baru saja berdiri tidakbanyak memiliki tenaga untuk menyelesaikannya. Selain itu,beberapa penguasa daerah juga berkeras untuk melepaskandiri dari republik, seiring dengan politik divide et impera yangdijalankan oleh Belanda. Pada tataran inilah pers dituntutuntuk memberi penjelasan yang gamblang sehingga rakyattidak perlu ragu-ragu dalam membangun Indonesia yangdicita-citakan. Secara politik, masalah jauh lebih rumit karena padasaat institusionalisasi politik belum berjalan, persainganantarkekuatan politik sudah menonjol. Tokoh-tokoh partaisama-sama menjanjikan sistem politik yang pas buat Indonesia,60
  60. 60. pada saat yang sama mereka sama-sama ingin mengisijabatan-jabatan politik yang tersedia. Persaingan politikdalam menciptakan model politik yang pas dengan kondisiIndonesia tetap tidak segera selesai, meskipun Pemilu 1955menghasilkan wakil-wakil rakyat dan dewan konstituante.Dalam periode ini kelihatan pers mulai tidak sabar denganperilaku elit politik sipil; sebagian kecil bersikap skeptisterhadap sepak terjang politisi sipil dan menjadi pengritik yangloyal, tapi sebagaian besar tidak sabar dan terbawa dalam aruspersaingan politik. Pada titik inilah pers melupakan tugasnyadalam proses national character building, dan terjebak padasikap-sikap partisan sehingga ini pers kemudian terpolarisasipada garis-garis politik partai. Tugas national character buildinghanya diteruskan oleh pers mahasiswa yang wilayah edarnyasangat terbatas. Polarisasi pers ke dalam garis-garis partai tetap berlanjutpada zaman Demokrasi Terpimpin. Pada massa ini, di levelbawah Soekarno memang membebaskan partai politik untukbersaing menawarkan ideologi dan memperebutkan massa,namun di level atas Soekarno memegang kendali politiksepenuhnya. Sesuai dengan politik ini, pers pada zamanSoekarno memang penuh warna, sehingga persainganantarmedia juga berjalan layaknya di negara-negaraterbuka. Namun pembebasan pers itu hanya dibatasi padaupaya menjaga dan mengedepankan ideologi atau partaimasing-masing. Pers sebagai kekuatan independen, yangmengedepankan kepentingan umum dan bersikap oyektifterhadap semua kepentingan, nyaris tidak bisa hidup. Sebabsesuai dengan karakter politik yang dikembangkan Soekarno,maka pers yang berada di luar jalur garis politik partai, akandipersulit bahkan dibredel. Jadi, hingar bingar kebebasanpers pada zaman Soekarno, praktis tidak bermanfaat bagi 61
  61. 61. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIkepentingan publik dan kepentingan nasional, karena pershanya disibukkan oleh urusan-urusan yang terkait dengankepentingan partai. Tumbangnya Soekarno oleh gerakan mahasiswa yangbekerja sama dengan Angkatan Darat pimpinan Soeharto,ternyata tidak segera bisa memisahkan pers dari garis partai.Namun dengan penyederhanaan partai politik, maka tidaksemua pers yang telah berkembang bersedia meneruskanhubungannya dengan partai-partai politik baru. Bahkanmasing-masing partai, yakni Golkar, PPP dan PDI berusahamembangun penerbitan baru yang benar-benar bisa merekakendalikan. Pilihan politik sejumlah media untuk memisahkandiri dari garis-garis aliran politik maupun partai politik inijuga dilandasi oleh kesadaran para pengelolanya, bahwa perstidak mungkin bisa menerapkan prinsip-prinsip jurnalismebila mereka tidak berada dalam posisi yang independen.Pada zaman Orde Baru, pers memang tidak sepenuhnyabebas. Tapi dibandingkan dengan institusi-insitusi sosial yanglain, pers jauh lebih efektif dalam mengkritik kekuasaan danmemajukan bangsanya. Bagaimana pers pada zaman pasca-Soeharto? Banyakpihak yang menyerang pers telah kebablasan dalammenerapkan kebebasan pers yang diperjuangkan olehgerakan reformasi. Kritik itu ada benarnya, mengingat banyakmedia (baru) yang mengejar motif ekonomi semata sehinggamelupakan prinsip-prinsip jurnalisme. Namun pers yangdemikian tidak akan bertahan lama, karena masyarakatpembaca tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan, kecualisekadar kesenangan sesaat. Oleh karena itu pikiran untukmengendalikan pers kembali, perlu dibuang jauh-jauh,karena baik pers maupun masyarakat sama-sama sedangmemasuki proses pendewasaan politik, khususnya bagaimana62
  62. 62. memanfaatakan ruang kebebasan yang ada. Biarlah persmenikmati ruang kebebasan pers yang dijamin oleh konstitusi,karena hanya dengan membebaskan pers, maka mayarakat,bangsa dan negara ini akan mendapatkan manfaat yangmaksimal.Sumber Kepustakaan:Abdurrachman Surjomihardjo dkk, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Kompas, Cetakan ke-2, Jakarta, 2002.Benedict Anderson, Revoloesi Pemoeda, Sinar Harapan, Jakarta, 1986.Bill Kovach Tom Rosntatiel, Sembilan Elemen Jurnalsime, Pantau, Jakarta, 2003.Didik Supriyanto, Perlawanan Pers Mahasiswa: Protes Mahasiswa Sepanjang NKK/BKK 1978-1991, Sinar Harapan, Jakarta, 1989.John Ingleson, Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia 1927-1934, LP3ES, Jakarta, 1983.Parmoedya Ananta Toer, Sang Pemula, Cetakan ke-2, Edisi Revisi, Lentera Dipantara, Jakarta, 2003.Taufik Abdullah, Pers dan Tumbuhnya Nasionalisme Indonesia, dalam Majalah Sejarah Edisi 7, Jakarta, 1999 63
  63. 63. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJI64
  64. 64. Sekilas SejarahJurnalismeJ URNALISME memiliki sejarah yang sangat panjang. Dalam si­­­ tus ensiklopedia, www.questia.com tertulis, jurnal­ s­ e yang pertama kali tercatat adalah di i mmasa kekaisaran Romawi kuno, ketika informasi hariandikirimkan dan dipasang di tempat-tempat publik untukmenginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan isu negaradan berita lokal. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulaimengembangkan berbagai metode untuk memublikasikanberita atau informasi. Pada awalnya, publikasi informasi itu hanya diciptakanuntuk kalangan terbatas, terutama para pejabat pemerintah.Baru pada sekira abad 17-18 surat kabar dan majalah untukpublik diterbitkan untuk pertama kalinya di wilayah EropaBarat, Inggris, dan Amerika Serikat. Surat kabar untuk umumini sering mendapat tentangan dan sensor dari penguasasetempat. Iklim yang lebih baik untuk penerbitan surat kabargenerasi pertama ini baru muncul pada pertengahan abad 18,ketika beberapa negara, semisal Swedia dan AS, mengesahkanundang-undang kebebasan pers. Industri surat kabar mulai menunjukkan geliatnya yangluar biasa ketika budaya membaca di masyarakat semakinmeluas. Terlebih ketika memasuki masa Revolusi Industri,di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanyamesin cetak tenaga uap, yang bisa menggenjot oplah untuk 65
  65. 65. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJImemenuhi permintaan publik akan berita. Seiring dengan semakin majunya bisnis berita, padapertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantorberita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dantulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabardan majalah. Kantor berita bisa meraih kepopuleran dalam waktusangat cepat. Pasalnya, para pengusaha surat kabar dapatlebih menghemat pengeluarannya dengan berlangganan beritakepada kantor-kantor berita itu daripada harus membayarwartawan untuk pergi atau ditempatkan di berbagai wilayah.Kantor berita lawas yang masih beroperasi hingga hari iniantara lain Associated Press(AS), Reuters (Inggris), danAgence-France Presse (Prancis). Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilahyellow journalisme (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk“pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota NewYork. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimilikioleh William Randolph Hearst. Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannyayang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utamayang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu:meningkatkan penjualan! Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring denganmunculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi. Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di ASawalnya memang partisan,serta dengan mudah menyerangpolitisi dan presiden, tanpa pemberitaan yang objektif danberimbang. Namun para wartawannya kemudian memilikikesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publikharuslah memiliki pertanggungjawaban sosial.66
  66. 66. Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorongpara wartawan untuk membentuk organisasi profesi merekasendiri. Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan diInggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negaralain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme punmulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yangkemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaanyang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagaistandar kualitas bagi jurnalisme profesional.BAGAIMANA dengan di Indonesia? Tokoh pers nasional,Soebagijo Ilham Notodidjojo dalam bukunya “PWI di ArenaMasa” (1998) menulis, Tirtohadisoerjo atau Raden Djokomono(1875-1918), pendiri mingguan Medan Priyayi yang sejak 1910berkembang jadi harian, sebagai pemrakarsa pers nasional.Artinya, dialah yang pertama kali mendirikan penerbitan yangdimodali modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, pers Indonesiamenjadi salah satu alat perjuangan kemerdekaan bangsa ini.Haryadi Suadi menyebutkan, salah satu fasilitas yang pertamakali direbut pada masa awal kemerdekaan adalah fasilitaspercetakan milik perusahaan koran Jepang seperti Soeara Asia(Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar Baroe (Semarang)(“PR”, 23 Agustus2004). Menurut Haryadi, kondisi pers Indonesia semakinmenguat pada akhir 1945 dengan terbitnya beberapa koranyang mempropagandakan kemerdekaan Indonesia seperti,Soeara Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta), danThe Voice of Free Indonesia. Seperti juga di belahan dunia lain, pers Indonesiadiwarnai dengan aksi pembungkaman hingga pembredelan. 67
  67. 67. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIHaryadi Suadi mencatat, pemberedelan pertama sejakkemerdekaan terjadi pada akhir 1940-an. Tercatat beberapakoran dari pihak Front Demokrasi Rakyat (FDR) yangdianggap berhaluan kiri seperti Patriot, Buruh, dan Suara IbuKota dibredel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalasdengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakankepentingan Front Nasional. Sementara itu pihak militer puntelah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyakmengkritik pihaknya. Jurnalisme kuning pun sempat mewarnai dunia persIndonesia, terutama setelah Soeharto lengser dari kursipresiden. Judul dan berita yang bombastis mewarnai halaman-halaman muka koran-koran dan majalah-majalah baru.Namun tampaknya, jurnalisme kuning di Indonesia belumsepenuhnya pudar. Terbukti hingga saat ini masih ada koran-koran yang masih menyuguhkan pemberitaan sensasionalsemacam itu.Teknologi dalam jurnalisme Kegiatan jurnalisme terkait erat dengan perkembanganteknologi publikasi dan informasi. Pada masa antara tahun1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam publikasijurnalistik. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannyamesin cetak cepat, sehingga deadline penulisan berita bisaditunda hingga malam hari dan mulai munculnya foto disurat kabar. Pada 1893 untuk pertama kalinya surat-surat kabar di ASmenggunakan tinta warna untuk komik dan beberapa bagiandi koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai digunakan teknologimerekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakanoleh kalangan jurnalis saat itu.68
  68. 68. Pada 1920-an, surat kabar dan majalah mendapatkanpesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radioberita. Namun demikian, media cetak tidak sampai kehilanganpembacanya, karena berita yang disiarkan radio lebih singkatdan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian masyarakatsedikit teralihkan dengan munculnya televisi. Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesatpada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara dan prosesproduksi berita. Selain deadline bisa diundur sepanjangmungkin, proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secaramassif, perwajahan, hingga iklan, dan marketing mengalamiperubahan sangat besar dengan penggunaan komputer diindustri media massa. Memasuki era 1990-an, penggunaan teknologi komputertidak terbatas di ruang redaksi saja. Semakin canggihnyateknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi modemdan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks,foto,dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkanwartawan yang meliput di medan paling sulit sekalipun. Selain itu, pada era ini juga muncul media jurnalistikmultimedia. Perusahaan-perusahaan media raksasa sudahmerambah berbagai segmen pasar dan pembaca berita. Tidakhanya bisnis media cetak, radio, dan televisi yang merekajalankan, tapi juga dunia internet, dengan space iklan yang takkalah luasnya. Setiap pengusaha media dan kantor berita juga dituntutuntuk juga memiliki media internet ini agar tidak kalahbersaing dan demi menyebarluaskan beritanya ke berbagaikalangan. Setiap media cetak atau elektronik ternama pastimemiliki situs berita di internet, yang updating datanya bisadalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi 69
  69. 69. Materi Kompetensi Kunci UKJ AJIinternetnya sama persis dengan edisi cetak. Sedangkan pada tahun 2000-an muncul situs-situs pribadiyang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya. Istilahuntuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkatmenjadi blog saja. Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik.Tapi banyak yang memang berisi laporan jurnalistik bermutu.Senior Editor Online Journalism Review, J.D Lasica pernahmenulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalismedan bisa dijadikan sumber untuk berita. Dalam penggunaan teknologi, Indonesia mungkinagak terlambat dibanding dengan media massa dari negaramaju seperti AS, Prancis, dan Inggris. Tetapi untuk saatini penggunaan teknologi di Indonesia --terutama untukmedia televisi-- sudah sangat maju. Lihat saja bagaimanaMetro TV melakukan laporan live dari Banda Aceh, selangsehari setelah tsunami melanda wilayah itu. Padahalsaat itu aliran listrik dan telefon belum tersambung.(Zaky/”PR”)*** Asep Saefullah Portal Informasi Kita www.kabarbaru.com70
  70. 70. Pers,Teknologi Mediadan Kehidupan SosialOleh Didik SupriyantoP ers bebas adalah fenomena masyarakat liberal. Karena itu, pada masyarakat di mana kebebasan individu belum terakomodasi dengan baik, maka jangan berharappers akan tumbuh dan berkembang. Begitu hadir merekaakan ditekan oleh pemegang otoritas (baik otoritas formalmaupun nonformal), bahkan masyarakat pun menganggappers sebagai perusak tatanan sosial. Kehadiran pers bebas takhanya dianggap mengancam posisi pemegang ororitas, tetapijuga dicurigai perusak harmoni sosial. Pers bebas adalah suatu tradisi. Ia tidak hadir begitusaja, butuh puluhan dan bahkan ratusan tahun untukmeraih dan mempertahankannya. Tradisi itu dibangunatas kesadaran, bahwa kebebasan pers adalah sesuatu yangdiberikan masyarakat kepada institusi pers. Pemberian itu,suatu saat bisa dicabut kembali, bila orang-orang pers tidakbisa memfungsikannya secara benar. Oleh karena itu parapengelola pers berkeras mengatur sendiri bagaimana persbekerja agar kebebasan itu tidak lepas dari genggamannya.Inilah yang melatari lahirnya prinsip-prinsip jurnalisme, kodeetik dan kode perilaku. 71

×