Apresiasi puisi kontemporer jurnal

17,238 views

Published on

Published in: Education, Technology
1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
17,238
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
50
Actions
Shares
0
Downloads
224
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Apresiasi puisi kontemporer jurnal

  1. 1. PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI PUISI KONTEMPORER MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)PADA SISWA KELAS XII ILMU SOSIAL-4 SMA BATIK 1 SURAKARTA Sri Suwarni* PPs Universitas Sebelas Maret Surakarta Abstract The aim of the action research classroom are: (1) describing of expression the learning process in the contemporary of poetry by Contextual Teaching and Learning (CTL) approach.); and (2) showing approach of Contextual Teaching and Learning (CTL) can improve the ability to appreciate the contemporary poetry of pupils. To reach the the target, this research is designed in the two cycles. Each cycles consist of twice meeting. Every meeting composed into two hours lesson and every hour of lesson is forty five minutes. There are procedure in every cycles involved 1) planning action phase, 2) implementation action phase 3) observing and interpretation phase 4) analysis and reflection phase. The phase effectiveness on every cycles are measured from the result of obesrving and ability of the test to appreciate the contemporary poetry. The result of the data observing are described, interpreted, then reflected to decide the remedical action on the next cycle. While the result of capability test data appreciates the contemporary poetry that is analyzed by describing the intercycle test value till achieving the minimal complete criterion (KKM) that had been determined as suit as the indication of work, the minimal of 85% students get 67 or may be more as the limit of complete appreciation capability the contemporary poetry. The classroom action research as many as the two cycles of obtained result that the rates the test result on early condition is 54, by the complete classical grade is 4,76%. On the first cycle, the rates of test result is 66 by the complete classical is 47,62%. On the second cycle, the rates of the test result is 74 by 100% is the complete classial. Based on the action above, can be concluded that the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach, the teacher can improve ability to appreciate the contemporary poetry at students of XII Science Sosial-4 class SMA Batik 1 Surakarta. Key words : poem contemporary, Sutardji Calzoum Bachri, appreciate, Contextual Teaching and Learning (CTL) approach Materi puisi kontemporer termasuk salah satu materi dalam kesusasteraan.Untuk itu, kegiatan pembelajaran puisi kontemporer hendaknya diarahkan padakemampuan siswa dalam hal mengapresiasi puisi kontemporer. Kegiatanmengapresiasi puisi dapat berupa membaca puisi, memahami isi puisi,menghubungkan keterkaitan puisi dengan pengarang, menulis puisi kontemporer.Membaca dalam hal ini dapat diartikan sebagai kegiatan membaca nyaring dan jugakegiatan membaca dalam hati. Membaca nyaring disini untuk menikmati karya sastramelalui puisi yang dibaca. Membaca dalam hati bertujuan untuk memahami danmenghayati isi puisi kontemporer yang dibaca. Pengajaran sastra sebenarnya difokuskan pada karya-karya sastra Indonesia.Siswa perlu banyak membaca karya sastra yang berhubungan dengan novel, cerpen,
  2. 2. 2drama, maupun puisi agar dapat memberikan apresiasi sastra yang memadahi. Karyasastra yang dibaca hendaklah karya sastra yang bermutu agar dapat mengambilmanfaatnya. Dengan demikian, dalam mengapresiasi puisi, siswa perlu membaca,memahami, dan menghayati puisi yang dibacanya. Hal tersebut dilakukan untukmenumbuhkan pengertian, penghargaan, berpikir secara kritis, serta menumbuhkankepekaan terhadap karya sastra khususnya puisi. Sebenarnya, puisi kontemporer merupakan salah satu materi kesusastraanyang terdapat di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan jenjang SMA. Materiini terdapat dalam silabus untuk jenis keterampilan membaca sastra yang berbunyi“Memahami buku kumpulan puisi kontemporer dan karya sastra yang dianggappenting pada tiap periode” (KTSP versi SMA Batik 1 Surakarta, 2006: 59). Olehkarena itu, puisi kontemporer ini penting dipahami, dikuasai, dan dimengerti isinyaoleh siswa karena merupakan materi pembelajaran di sekolah khususnya kelas XII.Hal ini dapat dilaksanakan apabila pembelajaran puisi kontemporer diarahkan sampaipada tingkat mengapresiasi puisi. Munculnya istilah puisi kontemporer diperkenalkan oleh Tengsoe Tjahyono(1988: 89) dalam bukunya Sastra Indonesia. Menurut beliau, “Puisi Kontemporeradalah bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Puisitersebut ditandai dengan adanya bentuk yang aneh dan ganjil”. Menurut ukuran orangIndonesia puisi kontemporer merupakan bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatankonvensional puisi itu sendiri. Puisi-puisi yang sejenis itu dipelopori oleh SutardjiCalzoum Bahri sekitar tahun 1973-an. Puisi yang aneh dan ganjil seperti tersebut di atas oleh Herman J. Waluyo(2002: 122) dalam bukunya yang berjudul Apresiasi Puisi diberi istilah puisi konkretdan puisi mantra. Dalam hal ini puisi dikembalikan pada kodratnya yang paling awalyaitu sebagai mantra yang mengandalkan kata sebagai kekuatan bunyi. Sedangkanbentuk konkret yang digunakan menurut Rachmad Djoko Pradopo (2007: 51) untukmendukung makna yang ada dalam puisi tersebut. Sutardji Calzoum Bachri sebagai pelopor puisi kontemporer membuatpernyataan sikap tentang puisi/ karya-karyanya yang dibuat secara konseptual dalambentuk kredo puisi. Pernyataan sikap ini merupakan suatu hal yang belum pernahdilakukan bahkan oleh sang legenda "AKU" atau Shakespeare sekalipun. DalamKredo Puisinya (semacam pernyataan sikap), Sutardji Calzoum Bachri menyatakan: "Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipayang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalaudiumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk.Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunyaseperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankanmasyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahangramatika. Bila kata dibebaskan, kreativitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisamenciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukankemauan dirinya sendiri." http://www.geocities.com/Paris/7229/suta... 2
  3. 3. 3 Dalam kredo puisi tersebut jelaslah bahwa dalam menciptakan puisi, kata-katakurang dipentingkan/ diperhatikan. Inilah yang membuat Sutardji Calzoum Bachridikenal sebagai pembaharu dalam perpuisian Indonesia. Subagyo Sastrowardoyomenyatakan: “Sutardji merintis genre baru dalam sastra Indonesia. Puisi-puisiSutardji menunjukkan orisinalitas. Sedang Dami N. Toda menyatakan bahwa Sutardjimempunyai kedudukan yang sama pentingnya dalam sejarah puisi Indonesia denganChairil Anwar. Jika Chairil diumpamakan sebagai mata kanan, maka Sutardji adalahmata kiri (dalam catatan mengenai puisi Tardji di O, Amuk, Kapak)”. (Herman J.Waluyo, 2008: 333). Sementara itu, pembelajaran mengapresiasi puisi di sekolah pada umumnyabelum menunjukkan hasil yang menggembirakan khususnya dalam mengapresiasipuisi kontemporer. Hasil yang belum maksimal itu dapat dilihat dari rendahnyatingkat mengapresiasi puisi kontemporer yang dilakukan siswa. Rendahnya tingkatapresiasi ini disebabkan siswa merasa kesulitan dalam memahami isi puisi yangdibaca. Hal ini disebabkan diksi yang digunakan dalam puisi memiliki makna ganda,artinya pemberian makna dalam puisi yang dapat menimbulkan banyak tafsir. Selainitu, siswa juga merasakan adanya sesuatu yang aneh dalam puisi kontemporer.Bahkan ketika disodorkan contoh-contoh puisi kontemporer, siswa merasa adanyasesuatu yang lain dari puisi yang biasa dikenalnya. Selain faktor-faktor tersebut di atas, kumpulan puisi kontemporer termasukmateri pembelajaran sastra yang sulit dipahami. Hal ini disebabkan bahasa dalampuisi bersifat konotatif/ terkandung banyak pilihan kata yang mempunyai maknaganda. Untuk memahami isinya, dibutuhkan pengetahuan, wawasan, pengalaman,serta kemampuan menggunakan imajinasi secara maksimal. Faktor yang menjadi penyebab kurangnya kemampuan siswa dalammengapresiasi puisi kontemporer tersebut perlu dicarikan solusinya. Adapun caranyadengan mengubah pendekatan yang sudah dilakukan oleh guru, yaitu denganmenerapkan pendekatan CTL. Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru dalammengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata. Dalam hal ini gurumendorong siswa untuk menghubungkan antara ilmu/ pengetahuan yang dimilikinyauntuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Dengan konsep seperti itu, hasilpembelajaran diharapkan akan dapat lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaranberlangsung secara alamiah. Siswa bekerja dan mengalami bukan sekadarmentransfer ilmu dari gurunya. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih mengutamakanproses daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategipembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan memberdayakan siswa,bukan mengajar siswa. Hal tersebut dimungkinkan karena pendekatan ContextualTeaching and Learning (CTL) mempunyai tujuh komponen utama (Depdiknas, 2003:10). Ketujuh komponen tersebut meliputi “konstruktivisme (Constructivism), inquiri(inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), 3
  4. 4. 4pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian autentik (AuthenticAssesment)”. Dengan penggunaan pendekatan CTL tersebut, diharapkan siswa akan lebihmudah memahami dan menghayati, sehingga dapat memberikan apresiasi puisikontemporer yang dibacanya. Dengan kondisi tersebut, kemampuan siswa dalammengapresiasi puisi kontemporer dapat meningkat. Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, ada dua masalah dalampenelitian ini yang perlu digali jawabannya. (1) Bagaimanakah proses pembelajaranmengapresiasi puisi kontemporer dengan pendekatan Contextual Teaching andLearning (CTL) sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengapresiasi puisikontemporer siswa? (2) Apakah penggunaan pendekatan CTL dapat meningkatkankemampuan mengapresiasi puisi kontemporer siswa? Sejalan dengan latar belakang dan permasalahan di atas, penelitian inibertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan proses pembelajaran mengapresiasi puisikontemporer dengan pendekatan CTL; (2) Meningkatkan kemampuan mengapresiasipuisi kontemporer siswa dengan menggunakan pendekatan CTL. Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi gurubahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas, khususnya untuk: memberi pemahamankepada guru bahasa dan sastra Indonesia di SMA tentang pendekatan ContextualTeaching and Learning (CTL) terhadap kemampuan mengapresiasi puisi kontemporerpada siswa; serta memberi petunjuk kepada guru bahasa Indonesia di SMA tentangpentingnya pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadappeningkatan kemampuan mengapresiasi puisi kontemporer pada siswa SMA. Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi: Guru Bahasa IndonesiaSMA untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mengapresiasi puisi kontemporerdengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Selain itu, penggunaanpendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan kreativitassiswa dalam menemukan sesuatu. Meningkatnya kreativitas siswa dalam menemukansesuatu akan berdampak pada kemampuan siswa dalam mengapresiasi puisikontemporer. Bagi siswa, hasil penelitian ini bermanfaat: 1) untuk menambahwawasan mereka dalam mempelajari puisi kontemporer; 2) untuk meningkatkanprestasi siswa dalam mengapresiasi puisi kontemporer; dan 3) dapat meningkatkankeinginan siswa untuk membaca karya sastra khususnya puisi kontemporer denganrasa senang. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini bermanfaat untuk menentukankebijakan khususnya yang berhubungan dengan pembelajaran sastra (khususnya puisikontemporer) di sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendorong guru untukmelakukan pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning(CTL) dalam pembelajaran karya sastra khususnya tentang puisi kontemporer. Untukitu, kepala sekolah perlu memberikan fasilitas dalam pengadaan sarana dan prasaranasecara memadai sehingga fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru. Adapun sistematika pemaparan hasil penelitian ini dapat digambarkan sebagaiberikut. Pertama akan dikemukakan kajian teori yang berhubungan dengan hakikatkemampuan mengapresiasi puisi kontemporer serta pendekatan pendekatan CTL. 4
  5. 5. 5Selanjutnya dikemukakan tentang penelitian yang relevan, kerangka berpikir, sertahipotesis tindakan. Kemudian dilanjutkan dengan metode penelitian, hasil penelitiandan pembahasan tiap siklus. Pada bagian akhir dikemukakan simpulan hasilpenelitian.Hakikat kemampuan mengapresiasi puisi kontemporer Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poeima yangartinya berati membuat, poeisis yang berarti pembuatan, atau poeites yang berartipembuat, pembangun, atau pembentuk. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi iniadalah poetry yang erat dengan –poet dan –poem yang artinya tidak jauh dari to makeatau to create. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang menciptamelalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amatsuka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci,yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebakkebenaran yang tersembunyi. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 2007:6) mengumpulkan definisi puisi yangpada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.(1) Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yangterindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dandisusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur denganunsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya. (2) Carlyle mengatakanbahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisiitu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-katadisusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merduseperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi. (3) Wordsworthmempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaituperasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwapuisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur. (4) Duntonberpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secarakonkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan,dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihankata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta beriramaseperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).(5) Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang palingindah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan danmenimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yangmemuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangatdicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam. Sedangkan Herman J. Waluyo dalam buku Pengkajian dan Apresiasi Puisimengemukakan definisi puisi seperti berikut ini. (1) Slametmuljana menyatakanbahwa puisi merupakan bentuk kesusasteraan yang menggunkan pengulangan suarasebagai cirri khasnya. (2) James Reeves menyatakan bahwa puisi adalah ekspresibahasa yang kaya dan penuh daya pikat. (3) Clive Sansom mengemukakan puisisebagai bentuk pengucapan bahasa yang ritmis, yang mengungkapkan pengalaman 5
  6. 6. 6intelektual yang bersifat imajinatif dan emosional. (4) Puisi adalah bentuk karyasastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dandisusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa denganpengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya (Herman J. Waluyo: 2008:29).Demikian juga dengan Emily Dickinson dalam Kenndy, X.J. yang mendefinisikanpuisi seperti berikut ini. “If I read a book and it makes my whole body so cold no firecan ever warm me, I know that is poetry. If I feel physically as if the top of my headwere taken off, I know that is poetry. Berdasarkan definisi puisi seperti yang telah disebutkan di atas dapatdisimpulkan bahwa puisi sebenarnya merupakan bentuk karya sastra yangmementingkan pemilihan diksi yang kaya dan penuh daya pikat, mengungkapkanpikiran dan perasaan penyair secara imajinatif, serta merupakan kata-kata yangterindah dalam susunan terindah. Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran,namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 2007:7)menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisiitu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama,kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yangbercampur-baur. Sedangkan puisi kontemporer diperkenalkan oleh Tjahjono dalam bukunyayang berjudul Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi. Dalam buku tersebutbeliau mengatakan bahwa puisi kontemporer adalah bentuk puisi yang berusaha laridari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Puisi kontemporer muncul sekitar tahun1973-an. Puisi tersebut ditandai dengan adanya bentuk yang aneh dan ganjil. Menurutukuran orang Indonesia puisi kontemporer merupakan bentuk puisi yang berusaha laridari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Sebagai contoh penyair Sutardji CalzoumBachri mulai tidak mempercayai kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling padaeksistensi bunyi dan kekuatannya (Tjahjono, 1988:89). Penyair lain yang sejalan dengan Sutardji yang cenderung berbentuk aneh danganji adalah Danarto. Beliau justru memulai dengan kekuatan garis dalammenciptakan puisinya. Penyair yang senada dengan Sutardji dan Danarto yangmencanangkan bentuk aneh dan ganjil antara lain: Ibrahim Sattah, Hamid Jabbar,Husni Jamaluddin, Noorca Narendra, Jiehan, F. Rahadi, dan sebagainya. Puisi yang aneh dan ganjil seperti tersebut di atas oleh Waluyo dalam bukunyayang berjudul Apresiasi Puisi diberi istilah puisi konkret dan puisi mantra (Herman J.Waluyo, 2002:122). Dalam hal ini puisi dikembalikan pada kodratnya yang palingawal yaitu sebagai mantra yang mengandalkan kata sebagai kekuatan bunyi.Sedangkan bentuk konkret yang digunakan menurut Pradopo untuk mendukungmakna yang ada dalam puisi tersebut. Unsur-unsur puisi menurut beberapa pakar. (1) Herman J. Waluyomengatakan bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagaistruktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang.(2) Dick Hartoko (dalam Herman J. Waluyo, 2008) menyebut adanya unsur penting 6
  7. 7. 7dalam puisi, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi.Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi, unsur sintaksismenunjuk ke arah struktur fisik puisi.(3) Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi(1) diksi, (2) imajeri, (3) bahasa kiasan, (4) simbol, (5) bunyi, (6) ritme, (7) bentuk(Badrun, 1989:6). Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi (1) tema, (2) nada, (3) rasa, (4) amanat, (5) diksi, (6) imaji, (7)bahasa figuratif, (8) kata konkret, (9) ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurutpendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu strukturbatin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan struktur fisik puisi (diksi, imajeri,bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). Berdasarkan pendapat Richards, Siswanto dan Roekhan (1991:55-65)menjelaskan unsur-unsur puisi sebagai berikut.Struktur Fisik Puisi. Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidakdipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidakselalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebutsangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. (2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalampuisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapatmengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin.Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, danurutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisimengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal,penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis,penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu olehkelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), danpenyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik) (3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkanpengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapatdibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imajiraba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akanmelihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. (4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yangmemungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan ataulambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaanhidup, dll., sedangkan kata kongkret“rawa-rawa”dapat melambangkan tempatkotor,tempat hidup, bumi, kehidupan, dll. (5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapatmenghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito,1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinyamemancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Herman J. Waluyo, 2002).Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lainmetafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, 7
  8. 8. 8pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem proparte, hingga paradoks. (6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalahpersamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rimamencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efekmagis pada puisi Sutardji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi,persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh,repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangankata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnyabunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.Struktur Batin Puisi Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut. (1) Tema/makna(sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda denganmakna, maka puisi harus bermakna dalam setiap kata, baris, bait, maupun maknakeseluruhan. (2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahanyang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya denganlatar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan,agama, jenis kelamin, dan lain-lain.. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatandalam menyikapi suatu masalah bergantung pada kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, serta bergantung pada wawasan,pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakangsosiologis dan psikologisnya. (3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadappembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapatmenyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama denganpembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepadapembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.(4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yangmendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyairmenciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinyahttp://endonesa.wordpress.com/lentera-sastra/puisi/ (diakses 4 November 2008).Biografi Sutardji Calzoum Bachri Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1943 di Rengat,Indragiri Hulu, Riau. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikannya sampaitingkat doktoral, Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial UniversitasPadjadjaran, Bandung. Sutardji adalah anak kelima dari sebelas saudara dari pasangan MohammadBachri (dari Prembun, Kutoarjo, Jawa Tengah) dan May Calzoum (dari Tanbelan,Riau). Dia menikah dengan Mariham Linda (1982) dikaruniai seorang anakperempuan bernama Mila Seraiwangi. Kariernya di bidang kesastraan dirintis sejakmahasiswa yang diawali dengan menulis dalam surat kabar mingguan di Bandung. Selanjutnya, ia mengirimkan sajak-sajak dan esainya ke media massa diJakarta, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, majalah bulanan Horison, danBudaya Jaya. Di samping itu, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar lokal, 8
  9. 9. 9seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Haluan di Padang. Sejak itu, Sutardji CalzoumBachri diperhitungkan sebagai seorang penyair. Pada tahun 2000-2002 Sutardji Calzoum Bachri menjadi penjaga ruangan seni“Bentara”, khususnya menangani puisi pada harian Kompas setelah berhenti menjadiredaktur majalah Horison. Sutardji Calzoum Bachri selain menulis juga aktif dalamberbagai kegiatan, misalnya mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam,Belanda (1974), mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, IowaCity, USA (Oktober 1974 - April 1975), bersama Kiai Haji Mustofa Bisri dan taufiqIsmail. Ia pernah diundang ke Pertemuan International Para Pelajar di Bagdad, Irak,pernah diundang Menteri keuangan Malaysia, Dato Anwar Ibrahim, untukmembacakan puisinya di Departemen Keuangan Malaysia, mengikuti berbagaipertemuan Sastrawan ASEAN, Pertemuan Sastrawan Nusantara di Singapura,malaysia, dan Brunei Darussalam, serta pada tahun 1997 Sutardji membaca puisi diFestival Puisi International Medellin, Columbia. Sutardji dengan “Kredo Puisi”nya menarik perhatian dunia sastra diIndonesia. Beberapa karyanya adalah O (Kumpulan Puisi, 1973), Amuk (KumpulanPuisi, 1977), dan Kapak (Kumpulan Puisi, 1979). Kumpulan puisnya, Amuk, padatahun 1976/1977 mendapat Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kemudianpada tahun 1981 ketiga buku kumpulan pusinya itu digabungkan dengan judul O,Amuk, Kapak yang diterbitkan oleh Sinar Harapan. Selain itu, puisi-puisinya jugadimuat dalam berbagai antologi, antara lain Arjuna in Meditation (Calcutta, India,1976), Writing from The Word (USA), Westerly Review (Australia), Dchters inRotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975), Ik Wil Nogdulzendjaar Leven, NeghModerne Indonesische Dichter (1979), Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya,1977), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah Tenggara, Journal of Southeast AseanLietrature 36 dan 37 (1997), dan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002). Sutardji selain menulis puisi juga menulis esai dan cerpen. Kumpulancerpennya yang sudah dipublikasikan adalah Hujan Menulis Ayam (Magelang,Indonesia Tera:2001). Sementara itu, esainya berjudul Gerak Esai dan Ombak SajakAnno 2001 dan Hujan Kelon dan Puisi 2002 mengantar kumpulan puisi “Bentara”.Sutardji juga menulis kajian sastra untuk keperluan seminar. Sekarang sedangdipersiapkan kumpulan esai lengkap dengan judul “Memo Sutardji” Penghargaanyang pernah diraihnya adalah Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari KerajaanThailand (1997), Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993), PenghargaanSastra Chairil Anwar (1998), dan dianugrahi gelar Sastrawan Perdana olehPemerintah Daerah Riau (2001).Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Kontekstual merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yangberorientasi pada konstruktivistik. Menurut Nur dalam Trianto (2007: 13-14)pembelajaran konstruktivistik ini berpegang pada prinsip bahwa guru tidak hanyasekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi guru juga memberikankemudahan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan ide-ide 9
  10. 10. 10mereka. Selain itu, guru memberikan kepada siswa berupa anak tangga yangmembawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi. Menurut Johnson (2002) dalam Herman J. Waluyo (2006: 26-27) “The CTLsystem is an educational process that aims to help student see meaning in theacademic material. They are studying by connecting academic subjects with thecontext of their daily lives, that is, with the context of their personal, social, and thecircumstances. Sementara itu, Mundiarto (2004: 70) berpendapat bahwa pendekatankontekstual adalah pendekatan yang mengaitkan antara materi pembelajaran dengankonteks kehidupan dan kebutuhan siswa. Hubungan yang padu ini akanmeningkatkan motivasi belajar siswa serta akan menjadikan proses belajar mengajarakan lebih efisien dan efektif. Senada dengan hal tersebut, Sugiyanto berpendapatbahwa proses pembelajaran CTL diharapkan berlangsung alamiah. Siswa bekerja danmengalami bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Menurut beliau“strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil” (2008: 20). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL))merupakan konsep belajar yang membantu guru dalam mengaitkan antara materiyang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa. Dalam hal ini guru mendorongsiswa untuk menghubungkan antara ilmu/ pengetahuan yang dimilikinya untukditerapkan dalam kehidupan nyata. Dengan konsep seperti itu, hasil pembelajarandiharapkan akan dapat lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsungsecara alamiah. Siswa bekerja dan mengalami bukan sekadar mentransfer ilmu darigurunya. Dalam hal ini strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil(Depdiknas, 2003: 1). Lebih lanjut Johnson (2008: 65) mendefinisikan CTL sepertiberikut ini.“CTL adalah sebuah sistem yang menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, makaakan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannyasecara terpisah. Setiap bagian CTL yang berbeda-beda ini memberikan sumbangandalam menolong siswa memahami tugas sekolah. Secara bersama-sama, merekamembentuk suatu system yang memungkinkan para siswa melihat makna didalamnya dan mengingat materi akademik”. Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebihbermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah,tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidakhanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswauntuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian prosespembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untukmerencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkanmemberdayakan siswa, bukan mengajar siswa. Dalam hal ini pengetahuan bukan lagi seperangkat fakta, konsep, dan aturanyang siap diterima siswa, melainkan harus dikontruksi (dibangun) sendiri oleh siswadengan fasilitasi dari guru. Siswa belajar dengan mengalami sendiri, mengkontruksipengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Siswa harus tahu 10
  11. 11. 11makna belajar dan menyadarinya, sehingga pengetahuan dan ketrampilan yangdiperolehnya dapat dipergunakan untuk bekal kehidupannya. Di sinilah tugas guruuntuk mengatur strategi pembelajaran dengan membantu menghubungkanpengetahuan lama dengan yang baru dan memanfaatkannya. Siswa menjadi subjekbelajar sebagai pemain dan guru berperan sebagai pengatur kegiatan pembelajaran(sutradara) dan fasilitator. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah pendekatanyang dilakukan dengan cara guru memulai pembelajarani dengan mengaitkan dunianyata yaitu diawali dengan bercerita atau tanya-jawab lisan tentang kondisi aktualdalam kehidupan siswa (daily life), kemudian diarahkan melalui modeling agar siswatermotivasi, questioning agar siswa berpikir, constructivism agar siswa membangunpengertian, inquiry agar siswa bisa menemukan konsep dengan bimbingan guru,learning community agar siswa bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman sertaterbiasa berkolaborasi, reflection agar siswa bisa mereview kembali pengalamanbelajarnya, serta authentic assessment agar penilaian yang diberikan menjadi sangatobjektif. Menurut Atik Suryati pembelajaran dalam sebuah kelas dikatakanmenggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen tersebut diatas, ini tidak sulit kalau sudah terbiasa, yang penting ada kemauan kuat untukmengubah dan meningkatkan kualitas diri. Kurikulum berbasis kompetensi menuntutpelaksanaan pembelajaran model CTL tersebut, karena orientasinya pada prosessehingga siswa memiliki kompetensi, kemampuan tidak sekedar mengetahui danmemahami. Jangan lupa bahwa kondisi emosional individu akan mempengaruhipemikiran dan perilaku siswa. Oleh karena itu, CTL akan terlaksana dengan optimaljika guru mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif, nyaman danmenyenangkan.(http://www.sman1btg.sch.id/index.php?option=comcontent&ta=view&id=39&Itemid=1). Tugas guru dalam pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah membantusiswa mencapai tujuan. Oleh karena itu, guru perlu lebih banyak menemukan strategimengajar daripada memberikan informasi. Tugas guru dalam CTL adalah mengelolakelas sebagai sebuah tim yang mampu bekerja sama untuk menemukan sesuatu yangbaru bagi anggota kelompoknya. Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiribukan dari apa kata guru (Depdiknas, 2003: 2). Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian ContextualTeaching and Learning (CTL) adalah sebuah sistem yang terdiri dari bagian-bagianyang saling terhubung yang terjalin erat satu sama yang lain dan membentuk satukesatuan yang menyeluruh. CTL ini memberikan arahan pada siswa dapatmenemukan dan mengalaminya sendiri. Guru lebih banyak berfungsi sebagaipendesain strategi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sedangkansiswa sebagai subjek didik harus banyak terlibat secara langsung serta mengalaminyadalam proses belajar. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) mempunyai tujuhkomponen utama (Depdiknas, 2003: 10). Ketujuh komponen tersebut meliputi 11
  12. 12. 12“konstruktivisme (Constructivism), inquiri (inquiry), bertanya (Questioning),masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi(Reflection), dan penilaian autentik (Authentic Assesment)”. http://ipotes.wordpress.com/2008/05/13/pendekatan-kontekstualatau-contextual-teaching-and-learning-ctl/. Menurut Trianto (2007: 106) kelas dinamakan menggunakanpendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) apabila ketujuh komponen itudapat dilaksanakan semua dalam proses pembelajaran. Pembelajaran apresiasi puisi dengan pendekatan Contextual Teaching andLearning (CTL) dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah berikut ini. (1) Gurumembagikan puisi/ menampilkan puisi yang sudah disiapkan, kemudian mengajukanpertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada gambaran puisi secara keseluruhan.Dalam hal ini siswa diajak berpikir, belajar, bekerja sendiri, menemukan sendiri(inquiri), dan mengkonstruksi (konstruktivisme) sendiri pengetahuan danketerampilan barunya. (2) Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok (setiap kelompokterdiri dari 4-6 siswa). Setiap kelompok diberi tugas mendiskusikan (masyarakatbelajar) dan menemukan puisi (isi/ makna, amanat, gaya bahasa). Dengan cara sepertiini siswa melakukan kegiatan masyarakat belajar dan inkuiri dalam kelompok. (3)Sambil berkeliling, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan (questioning) untukmemancing keingintahuan siswa tentang puisi yang didiskusikannya. (4) Guruberusaha menciptakan masyarakat belajar dengan cara berdiskusi dalam kelompok-kelompok. (5) Guru menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. (6) Guru,siswa, dan peneliti melakukan refleksi pada akhir pertemuan. (7) Guru melakukanpenilaian autentik (penilaian proses, penilaian kinerja, penilaian akhir). Penelitian ini mempunyai relevansi dengan penelitian yang berhubungandengan masalah puisi. Hal ini dapat dilihat dalam penelitian yang dilakukan olehWidada dalam tesisnya yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Apresiasi Puisidengan Strategi Pembelajaran Cooperative Learning pada Siswa Kelas VII SMPNegeri 2 Boyolali” pada tahun 2007. Pada penelitian tersebut disimpulkan bahwakemampuan apresiasi puisi pada siswa dengan menerapkan strategi pembelajarancooperative learning terdapat peningkatan. Relevansi dengan penelitian yang penelitilaksanakan yaitu sama-sama membahasan tentang kemampuan mengapresiasi puisi.Perbedaannya dengan penelitian yang peneliti laksanakan yaitu strategi pembelajaranyang digunakan. Sejalan dengan itu, Sunardi dalam tesisnya yang berjudul “Pengaruh MediaPembelajaran VCD dan Minat Membaca Karya Sastra terhadap KemampuanApresiasi Puisi Siswa SMP Negeri 1 Sukoharjo” pada tahun 2007 menyimpulkanadanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan apresiasi puisi siswa yangdiberi pelajaran menggunakan media pembelajaran VCD dengan siswa yang diberipelajaran menggunakan media pembelajaran audio. Relevansi dengan penelitian yangpeneliti laksanakan yaitu sama-sama membahas tentang kemampuan mengapresiasipuisi. Perbedaannya dengan penelitian yang peneliti laksanakan yaitu penggunaanmedia pembelajaran yang digunakan. 12
  13. 13. 13 Penelitian serupa juga dilakukan oleh Sumiyati. Dalam tesisnya yang berjudul “Puisi-puisi Karya Penyair Periode 2000: Analisis Wacana dengan Pendekatan Kritik Holistik” tahun 2006, disimpulkan bahwa ada kesinkronan antara hasil analisis peneliti, tanggapan pembaca, dan pernyataan penyair sendiri tentang pemahaman makna puisi karya penyair periode 2000. Relevansi dengan penelitian yang peneliti laksanakan yaitu sama-sama membahasan tentang puisi. Perbedaannya dengan penelitian yang peneliti laksanakan yaitu pendekatan pembelajaran yang digunakan. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Hartono, Retno Winarni, Endang Sri Markamah, dan Tri Budiarto tahun 2007 yang berjudul “Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis pada Mahasiswa S1 PGSD FKIP UNS Surakarta dengan Pendekatan Kontekstual” dalam Laporan Hasil Penelitian Hibah Pembelajaran PGSD UNS menyimpulkan bahwa penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa kelas B Program Studi S1 PGSD FKIP UNS Surakarta. Penelitian ini relevan dengan penelitian yang penulis lakukan, yaitu sama-sama menggunakan pendekatan kontekstual. Perbedaannya dengan penelitian yang peneliti laksanakan yaitu materi pembelajaran yang digunakan. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.Proses pembelajaran Kemampuan Pembelajaranbelum direncanakan mengapresiasi puisi berpusat pada secara maksimal kontemporer rendah guru Pembelajaran dengan pendekatan CTL Proses Pembelajaran Pembelajaran direncanakan secara berpusat pada siswa maksimal Pembelajaran bermakna bagi siswa Kemampuan mengapresiasi puisi kontemporer meningkat 13
  14. 14. 14 Gambar 1. Alur Berpikir Pembelajaran Apresiasi Puisi Kontemporer dengan Pendekatan CTLMetode Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester kedua tahunpelajaran 2008/ 2009. Penelitian ini dimulai pada bulan Januari sampai dengan bulanJuni 2009. Pada bulan Januari penelitian mulai aktif dilaksanakan di sekolah. Subjekpenelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII Ilmu Sosial-4 serta guru bahasaIndonesia SMA Batik 1 Surakarta tahun pelajaran 2008/ 2009. Jumlah siswa kelasXII Ilmu Sosial-4 sebanyak 42 siswa, terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 21 siswawanita. Ada dua macam sumber data yang digunakan dalam penelitian, yaitu:sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah sumberdata yang berasal dari subjek peneliti yang diperoleh dari nilai akhir semester satu,nilai ulangan tiap-tiap akhir siklus, lembar observasi, dan wawancara. Sumber dataselain dari subjek penelitian merupakan sumber data sekunder yang dapat diperolehmelalui hasil pengamatan yang dilakukan oleh masing-masing siswa dalamkelompok. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data yangberkaitan dengan pembelajaran apresiasi puisi kontemporer yang berlangsung didalam kelas yang dialami oleh guru dan siswa. Data tersebut diperoleh baik sebelumdiberikan tindakan (survei awal) maupun setelah dilaksanakan tindakan. Data setelahdilakukan tindakan dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching andLearning (CTL). Data tersebut diperoleh melalui keaktivan siswa selama kegiatanbelajar mengajar di dalam kelas serta hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap akhirsiklus. Sementara itu, data tentang guru diperoleh melalui proses kegiatan belajarmengajar dilakukan serta dokumen-dokumen guru berupa silabus, RPP, mediapembelajaran berupa power point, hasil pekerjaan siswa, buku pelajaran bahasaIndonesia, LKS, angket, daftar nilai, serta foto pembelajaran apresiasi puisikontemporer dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Sementara itu, sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalahsiswa kelas XII Ilmu Sosial-4 SMA Batik 1 Surakarta. Data yang berupa hasilpengamatan proses pembelajaran diperoleh dengan menggunakan lembar observasi.Proses pembelajaran yang diamati mencakup aktivitas siswa selama mengikutipembelajaran serta peran guru selama mengajar. Adapun data yang berupa hasilbelajar siswa diukur melalui tes. Ada dua teknik dalam pengumpulan data yang dapat digunakan dalampenelitian ini, yaitu: teknik tes maupun teknik nontes. Teknik tes berupa tes tertulisyang dilaksanakan pada akhir setiap siklus. Sementara itu, teknik nontes berupaobservasi, wawancara, angket, dan analisis dokumen. Adapun validasi data dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan tekniktriangulasi, yaitu triangulasi sumber data, triangulasi metode, dan review informan. 14
  15. 15. 15(1) Triangulasi sumber data, yaitu menggali data dari berbagai sumber data yangberbeda. Dalam hal ini peneliti menggali sumber data dari informan yang berbeda-beda posisinya dengan teknik wawancara secara mendalam. Berdasarkan informasidari beberapa informan dapat dibandingkan dan ditarik kesimpulan sementaramengenai data yang dibutuhkan oleh peneliti. Selain itu, untuk menggali data yangsejenis peneliti melakukan hasil wawancara dengan informan, menganalisis arsip/dokumen, serta hasil observasi terhadap aktivitas pembelajaran yang dilakukan. (2)Triangulasi metode, yaitu menggali data yang sama dengan menggunakan metodepengumpulan data yang berbeda-beda. Data yang terkumpul dari kegiatan observasidicek kebenarannya melalui wawancara. Hal ini dilakukan untuk menggali datatentang pelaksanaan pembelajaran mengapresiasi puisi kontemporer yang diperolehmelalui informan guru serta siswa. (3) Review informan, yaitu data yang sudahdiperoleh disusun datanya dan dikomunikasikan dengan informan khususnya yangdipandang sebagai informan pokok (key informant) untuk dicek kebenarannya. Berdasarkan data yang telah terkumpul, dilakukan analisis terhadap datatersebut. Analisis ini meliputi hasil serta proses tindakan yang telah dilakukan. Prosesanalisis dilakukan dengan beberapa cara. Untuk data hasil belajar, dalam hal ini kemampuan mengapresiasi puisikontemporer, diklasifikasikan sebagai data kuantitatif. Data tersebut dianalisis secaradeskriptif yakni membandingkan nilai tes antarsiklus. Yang dianalisis adalah datayang berupa nilai pada tiap-tiap siklus. Untuk data hasil observasi digunakan analisisdeskriptif kualitatif sedangkan untuk data hasil kuesioner dianalisis denganpersentase. Untuk keperluan refleksi dilakukan teknik matching atau perbandinganantara hasil tindakan dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Selain itu jugadilakukan interpretasi hasil analisis dari semua data observasi secara cermat agardapat ditemukan tindakan perbaikan yang tepat untuk tindakan berikutnya. Jika hasilanalisis dan refleksi terhadap hasil tindakan lebih baik atau sama dengan indikatoryang telah diterapkan, penelitian ini dianggap berhasil. Jika hasilnya lebih jelek,penelitian ini ditetapkan belum berhasil dan selanjutnya dilakukan perbaikan ulangdalam siklus kegiatan kedua dan seterusnya. Adapun indikator keberhasilan proses pembelajaran mengapresiasi puisikontemporer dapat dilihat melalui: (1) Siswa tertarik dalam mengikuti pembelajaransastra khususnya mengapresiasi puisi kontemporer; (2) Guru mampu membangkitkanmotivasi siswa dalam kegiatan mengapresiasi puisi kontemporer; (3) Siswa mampumengapresiasi puisi kontemporer dan bekerja sama dalam kelompok; (4) Gurumampu menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalampembelajaran; (5) Guru mampu membuka cakrawala siswa dalam kegiatanmengapresiasi puisi kontemporer dengan baik. Indikator ketercapaian peningkatan apresiasi puisi kontemporer dapat dilihatmelalui: (1) Siswa mampu berdiskusi dalam kelompok untuk menemukan jawaban-jawaban berdasarkan pertanyaan yang disampaikan oleh guru untuk mengapresiasipuisi kontemporer; (2) Siswa mampu menemukan unsur-unsur intrinsik yang terdapat 15
  16. 16. 16dalam puisi kontemporer yang sudah didiskusikan secara berkelompok yang meliputitipografi, amanat/ pesan, isi dan sebagainya disertai dengan data teks yangmendukung; (3) Siswa mampu menyampaikan tanggapan/ pendapat terhadap puisikontemporer yang sudah didiskusikan dalam kelompok; (4) Siswa mampumemparafrasakan puisi kontemporer yang sudah didiskusikan dalam kelompok; (5)Siswa mampu membuat puisi kontemporer berdasarkan tema yang sudah ditentukan;(6) Ada peningkatan jumlah siswa yang gemar terhadap puisi kontemporer; (7) Adapeningkatan jumlah siswa yang dapat menemukan unsur-unsur intrinsik puisikontemporer; (8) Ada peningkatan jumlah siswa yang dapat memberikan penilaianterhadap puisi kontemporer; dan (9) Ada peningkatan jumlah siswa yang mempunyaikemampuan menulis puisi kontemporer. Adapun alur PTK dapat dilihat pada gambar 3 berikut. Perencaan Pelaksanaan Permasalahan Tindakan 1 Tindakan 1 Refleksi 1 Pengamatan/ Pengumpulan Data 1 Permasalahan Perencanaan Pelaksanaan baru hasil Tindakan 2 Tindakan 2 refleksi Refleksi 2 Pengamatan/ Pengumpulan Data 2 Permasalahan sudah selesai Gambar 2. Alur Penelitian Tindakan KelasHasil Penelitian Dan Pembahasan Hasil penelitian tindakan kelas tentang mengapresiasi puisi kontemporer yangdilaksanakan dalam dua siklus dapat disajikan seperti tabel berikut.(1) Aktivitas siswa selama mengikuti proses belajar mengajar yang berhubungandengan kegiatan mengapresiasi puisi kontemporer dapat dilihat dari hasil pengamatanatau observasi yang dilakukan oleh peneliti. Aktivitas siswa selama proses belajarmengajar dapat dilihat pada tabel hasil pengamatan atau observasi berikut ini. Tabel 6. Hasil Pengamatan terhadap Aktivitas Siswa Selama Mengikuti Proses Belajar Mengajar 16
  17. 17. 17 No. Aspek Pengamatan Siklus I (%) II (%) 1 Inquiri 52,38 71,42 2 Bertanya 52,38 78,57 3 Masyarakat Belajar (diskusi) 61,90 76,19 Rata-rata 55,55 75,39 Hasil pengamatan atau abservasi yang disajikan pada tabel di atas dapatdideskripsikan seperti berikut. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajarmengalami peningkatan. Peningkatan aktivitas siswa tersebut dapat dilihatberdasarkan hasil observasi yang meliputi kegiatan mnegkonstruksi, menemukan(inquiri), bertanya, dan masyarakat belajar (berdiskusi). Rata-rata hasil observasiterhadap aktivitas siswa pada siklus I sebesar 55,55% dan mengalami peningkatanpada siklus II menjadi 75,39%. Untuk lebih jelasnya, hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa selamamengikuti proses belajar mengajar dapat digambarkan seperti diagram berikut ini. 80 70 60 50 inquiry 40 bertanya 30 masyarakat belajar 20 rata-rata 10 0 siklus 1 siklus 2 Gambar Hasil Pengamatan terhadap Aktivitas Siswa Selama Mengikuti Proses Belajar MengajarKemampuan Mengapresiasi Puisi Kontemporer Perkembangan hasil mengapresiasi puisi kontemporer siswa selama dua siklusdapat disajikan seperti tabel berikut. Tabel 7. Hasil Tes Mengapresiasi Puisi Kontemporer Tiap Siklus No. Aspek Pencapaian Hasil Belajar Siklus Kondisi I II Awal 1 Rata-rata nilai tes mengapresiasi puisi 54 66 74 kontemporer 2 Jumlah siswa yang mendapatkan nilai 40 22 0 kurang dari 67 3 Jumlah siswa yang mendapatkan nilai 67 2 20 42 atau lebih 4 Ketuntasan klasikal (%) 4,76% 47,62% 100% 17
  18. 18. 18 Hasil rata-rata tes mengapresiasi puisi kontemporer siswa pada kondisi awaladalah 54. Setelah dilakukan/ diberikan tindakan perbaikan pada siklus I, rata-ratanilai tes mengapresiasi puisi kontemporer siswa meningkat menjadi 66. Peningkatanrata-rata dari 54 ke 66 belum mencapai nilai batas sesuai dengan Standar KetuntasanBelajar Minimal (SKBM) yang telah ditentukan yaitu 67. Oleh karena itu, perludilakukan tindakan perbaikan pada siklus II. Pada siklus II rata-rata tes mengapresiasipuisi kontemporer mencapai 74, dengan ketuntasan klasikal 100%. Hal ini berarti adapeningkatan yang sangat bagus dalam siklus II ini. Pencapaian hasil tersebut sudahsesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditentukan. Untuk lebih jelasnya, hasil tes mengapresiasi puisi kontemporer tiap siklusdapat digambarkan seperti diagram berikut ini. 100 90 80 70 60 rata-rata 50 nilai kurang dari 67 40 nilai 67 atau lebih 30 ketuntasan klasikal 20 10 0 kondisi awal siklus 1 siklus 2 Gambar 8. Grafik Tes Mengapresiasi Puisi Kontemporer Tiap SiklusSimpulan Berdasarkan kajian teori, hasil penelitian, dan pembahasan yang telahdilakukan dapat ditarik simpulan sebagai berikut. (1) Proses pembelajaranmengapresiasi puisi kontemporer dengan pendekatan Contextual Teaching andLearning (CTL) dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua kalipertemuan. Setiap pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran dan setiap jam pelajaranberlangsung selama 45 menit. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: 1) tahapperencanaan tindakan, 2) tahap pelaksanaan tindakan, 3) tahap observasi daninterpretasi, dan 4) tahap analisis dan refleksi. Proses pembelajaran mengapresiasipuisi kontemporer dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)dapat meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasi puisi kontmporer. Hal iniditandai dengan hasil pengamatan aktivitas siswa selama mengikuti proses belajarmengajar. Pengamatan terhadap aktivitas siswa dipantau dengan lembar pengamatanyang meliputi aspek inkuiri, bertanya, dan masyarakat belajar. Dari pantauan penelitidan angket yang diisi siswa pada setiap akhir siklus diketahui bahwa keaktivan siswa 18
  19. 19. 19semakin meningkat. Selain itu, keterampilan guru dalam mengelola kelas juga makinmeningkat. (2)Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkankemampuan siswa dalam mengapresiasi puisi kontemporer. Hal ini ditandai dengannilai rerata tes kemampuan mengapresiasi puisi kontemporer mengalami peningkatan.Hasil rerata tes mengapresiasi puisi kontemporer siswa pada kondisi awal adalah 54dengan ketuntasan klasikal mencapai 4,76%. Setelah dilakukan tindakan perbaikanPada siklus I, rerata nilai tes kemampuan mengapresiasi puisi kontemporer mencapai66 dengan ketuntasan klasikal 47,62%. Apabila dibandingkan dengan kemampuanpada kondisi awal, siklus I ini mengalami peningkatan yaitu dari rerata 54 menjadirerata 66. Rerata tersebut belum mencapai nilai batas sesuai dengan KriteriaKetuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 67. Oleh karena itu, perludilakukan tindakan perbaikan pada siklus II. Pada siklus II rerata tes mengapresiasipuisi kontemporer mencapai 74 dengan ketuntasan klasikal 100%. Hal ini berarti adapeningkatan yang sangat bagus dalam siklus II ini. Pencapaian hasil tersebut sudahsesuai dengan KKM yang sudah ditentukan.DAFTAR PUSTAKAArends, I Richard. Classroom Instruction and Management. America: United States of America.Agustinus Suyoto. “Dasar-Dasar Analisis Puisi” (Lembar Komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia). Yogyakarta.Ajip Rosidi. 1982. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Universitas Padjadjaran.Atik Suryati. Implementasi Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Kemampuan Kreativitas Siswa. http://www.sman1btg.sch.id/inde x.php?option=comcontent&task=view&id=39&Itemid=1 (diunduh 22 Januari 2009)Atkin, Graham. Khris Walsh, and Susan Watkins. 1995. Studying Literature: A Practical Introduction. New York: Harvester Wheatsheaf.Atkinson, Rita L., Richard C. Atkinson, Edward E. Smith, and Daryl J. Bem. Tanpa Tahun. Pengantar Psikologi Jilid Dua. (Judul Asli Introduction to Psychology) diterjemahkan oleh Widjaja Kusuma. Batam: Interaksara.Basuki Wibawa. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.Boulton, Marjorie. 1979. The Anatomy of Poetry. London: Routledge and Keagan Paul.Burhan Nurgiyantoro. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.Chaplin, J. P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi. (Judul Asli Dictionary of Psychology). Diterjemahkan oleh Kartini Kartono. Jakarta: Rajawali Press.Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta: Ditjen Dikdasmen. 19
  20. 20. 20Djaali, Pudji Muljono, dan Romly. 2000. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.Hartono, Retno Winarni, Endang Sri Markamah, dan Tri Budiarto. 2007. “Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis pada Mahasiswa S1 PGSD FKIP UNS Surakarta dengan Pendekatan Kontekstual” dalam Laporan Hasil Penelitian Hibah Pembelajaran PGSD. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.Herman J. Waluyo. 2002. Apresiasi Puisi: Panduan untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia._______. 2006. Pendekatan dan Metode dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surakarta: PPs Universitas Sebelas Maret Surakarta._______. 2008. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widya Sari Press.Igak Wardani. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.Jakob Sumardjo. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.Johnson, Elaine B. 2008. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Penerjemah Ibnu Setiawan. Bandung: Mizan Learning Center.Kennedy, X. J. 1991. An Introduction to Poetry. Boston: Little Brown and Company.Kinayati Djojosuroto. 2008. Pengembangan Materi Ajar Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas. http://www.pusatbahasa. Diknas.go.id/ laman/nawala.php?info=artikel&infocmd=show&infoid=46&row=2 (diunduh 7 November 2008)Kurikulum SMA Batik 1 Surakarta. 2006. Kurikulum SMA Batik 1 Surakarta. Surakarta.Maman S. Mahayana. 2005. Sembilan Jawaban Sastra Indonesia: Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening Publishing._______, 2008. Sejumlah Masalah dalam Apresiasi Puisi. Mahayana’ Books Collections.http://mahadewa-mahadewa.blogspot.com/2008/10/ sejumlah-masalah-dalam-apresiasi-puisi.html. (diunduh 7 November 2008)Materi Bintek KTSP SMA. 2008. Materi Bintek KTSP SMA Tingkat Kabupaten/Kota. Depdiknas.Melani Budianta, Ida Sundari Husen, Manneke Budiman, dan Ibnu Wahyudi. 2008. Membaca Sastra: Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi. Jogyakarta: Indonesiatera.Muhaiban. 2002. “Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Kontekstual” makalah disajikan dalam lokakarya regional strategi pembelajaran bahasa Arab 11–12 Juni 2002 di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.Mundiarto. 2004. “Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sains” dalam Cakarawala Pendidikan Jurnal Ilmiah/ Pendidikan. Februari 2004 Tahun XXIII No. 1. Malang: Lembaga Pengabdian kepada Mayarakat Universitas Negeri Malang. 20
  21. 21. 21Novia Rahayu. 2008. Apresiasi Puisi. http://noviarahayu.wordpress. com/2008 /04/ 02/ apresiasipuisi. (diunduh 7 November 2007)Nyoman Kutha Ratna. 2007. Penelitian Sastra:Teori, Metode, dan Teknik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Rachmat Djoko Pradopo. 2007a. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.________, 2007b. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University.Rahmanto, B. 1992. Metode Pengajaran Sastra: Pegangan Guru Pengajar Sastra. Yogyakarta: Kanisius.Ritawati Mahyuddin. 2002. “Penggunaan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman”. dalam Jurnal Penelitian Kependidikan. Tahun 12 Nomor 2 Desember 2002. Malang: Universitas Negeri Malang.Slamet. 2002. “Kemampuan Mengapresiasi Puisi Guru-Guru SLTP Kota Surakarta” dalam Laporan Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Surakarta.Sudrajad. http://rbaryans.wordpress.com (diunduh 26 Desember 2008).Sternberg, Robert J. 1994. Encyclopedia of Human Intelligence. New York: Macmillan Publishing Company.Sugiyanto. 2008. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panilaian Sertifikasi Guru Rayon 13.Suharsimi Arikunto. 2007. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Classroom Action Research: Bahan Pelatihan PTK untuk Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas.Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. _______. 2007. Penilaian Laporan Penelitian Tindakan Kelas.Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.Sumiyati. 2006. “Puisi-puisi Karya Penyair Periode 2000: Analisis Wacana dengan Pendekatan Kritik Holistik”. (Tesis). Surakarta: PPs Universitas Sebelas Maret Surakarta.Sunardi. 2007. “Pengaruh Media Pembelajaran VCD dan Minat membaca Karya Sastra terhadap Kemampuan Apresiasi Puisi Siswa SMP Negeri 1 Sukoharjo” (Tesis). Surakarta: PPs Universitas Sebelas Maret Surakarta.Sukestiyarno. 2008. “Strategi Menyusun Karya Penelitian Tindakan Kelas” (Makalah). Semarang : Universitas Negeri Semarang.Suparni. 1988. Penuntun Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA. Bandung: Ganeca Exact. Sutardji Calzoum Bachri. 1981. O, Amuk, Kapak. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas. http://www.geocities.com/Paris/7229/suta... (diunduh 14 Agustus 2008)Sutedjo dan Kasnadi. 2008. Menulis Kreatif: Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen. Yogyakarta: Nadi Pustaka. 21
  22. 22. 22Tengsoe Tjahjono, Libertus. 1988. Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi. Flores: Nusa Indah.Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.Ubaydillah, A. N. 2003.http://www.e-psikologi.com/pengembangan /0506 03. html. (diunduh 4 November 2008).Undang Rosidin. 2008. Pendidikan: Pelajaran IPA masih pada aspek kognitif saja. Bandar Lampung http://www.lampungpost. com/cetak/berita.php?id=2008060414312030 (diunduh 26 Desember 2008).Warren, Howard C. 1994. Dictionary of Psychology. Cambridge, Massachusetts: Houghton Mifflin Company.Widada. 2007. “Peningkatan Kemampuan Apresiasi Puisi dengan Strategi Pembelajaran Cooperative Learning pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Boyolali. (Tesis). Surakarta: PPs Universitas Sebelas Maret Surakarta.Zaidan Hendy. 1993. Kesusastraan Indonesia 2: Warisan Yang Perlu Diwariskan. Bandung: Angkasa.Zainuddin Fananie. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.http://endonesa.wordpress.com/lentera-sastra/puisi. (diunduh 4 November 2008).http://ipotes.wordpress.com/2008/05/13/pendekatankontekstualataucontextual- teaching-and-learning-ctl (diunduh 19 Januari 2009). 22

×