Jurnaltaramadhanftth
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Jurnaltaramadhanftth

on

  • 1,397 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,397
Views on SlideShare
1,397
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
68
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Jurnaltaramadhanftth Jurnaltaramadhanftth Document Transcript

  • PERANCANGAN JARINGAN AKSES FIBER TO THE HOME (FTTH) MENGGUNAKAN TEKNOLOGI GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK (GPON) DI PERUMAHAN SETRADUTA BANDUNG “DESIGN OF ACCESS NETWORK FIBER TO THE HOME (FTTH) USING GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK (GPON) TECHNOLOGY IN SETRADUTA BANDUNG”Muhamad Ramadhan M S[1] Akhmad Hambali, Ir., MT.[2] Bambang Uripno, Ir.[3] 1,2,3 Fakultas Elektro dan Komunikasi – Institut Teknologi Telkom Jln. Telekomunikasi Dayeuhkolot Bandung 40257 Indonesia1 2 3 muhamad_ramadhan_ms@yahoo.com hbl@ittelkom.ac.id bambang.uripno@gmail.com ABSTRAK Perumahan Setraduta yang terletak di bagian Bandung barat berbatasan dengan kota cimahi merupakan perumahanmewah dan modern. Jaringan akses yang digunakan masih menggunakan kabel tembaga, yang dinilai kurang memadai layanantriple play. PT. Telkom yang ingin meningkatkan kualitas layanannya, telah memiliki wacana bahwa pada tahun 2013 seluruhBandung dengan merombak jaringan akses tembaga yang ada dengan Fiber Optic To The Home (FTTH). GPON (GigabitPassive Optical Network) merupakan teknologi yang dipilih PT.Telkom Dalam tugas akhir ini, dilakukan peramalan demand untuk mengetahui jumlah pelanggan pemakai internet danbandwidth beberapa tahun mendatang. Lalu dirancang jaringan akses FTTH menggunakan teknologi GPON dengan membuatjalur awal lalu penentuan perangkat, spesifikasi, tata letak dan volume yang digunakan. Kemudian untuk kelayakan sistem dianalis dengan parameter Power Link Budget, Rise Time Budget, dan Redaman total. Hasil dari peramalan demand, didapatkan bahwa kapasitas jaringan sekarang sebesar 960 pengguna, yangdiperkirakan penggunaan internet tahun 2017 mencapai 1245, sehingga tidak mencukupi untuk melayani keseluruhan jumlahpelanggan. Lalu dari hasil peramalan demand kebutuhan bandwidth 10 tahun mendatang, yaitu pada tahun 2021 paket384Kbps sebesar 478,080 Mbps, kebutuhan bandwidth paket 512 Kbps sebesar 297,545 Mbps, kebutuhan bandwidth paket 1Mbps sebesar 204,343 Mbps dan kebutuhan bandwidth paket 2 Mbps sebesar 111,1 Mbps. Semua paket menggunakan modelkuadratik, karena memiliki nilai MAPE terkecil. Total bandwidth mencapai 1091,068 Mbps. Hasil perancangan menunjukkanbahwa perancangan untuk perumahan Setraduta Bandung menggunakan 5 buah ODC dan 190 buah ODP dengan jumlahpelanggan sekitar 1245 ONT. Hasil perhitungan Link Power Budget yaitu total redaman yang dihasilkan pada uplink sebesar24.336 dB, dan total redaman pada downlink sebesar 23.951 dB , kedua redaman ini masih berada di bawah standar GPONsesuai ITU-T G.984 sebesar 28 dB maupun standar yang dikeluarkan pihak Telkom sebesar 28 dB. Nilai Margin daya yangdiperoleh 4.049 dBm dari hasil perhitungan downlink dan 3.664 dBm yang diperoleh dari hasil perhitungan uplink, keduanyamenghasilkan nilai yang masih berada diatas 0 (nol) dB. Hal ini mengindikasikan bahwa link memenuhi kelayakan link powerbudget. Hasil uji Rise Time Budget yaitu untuk arah downlink pada pelanggan terjauh menghasilkan total waktu sebesar =0.2583 ns. Waktu tersebut masih berada dibawah nilai waktu sistem NRZ sebesar 0.2917 ns. Untuk arah uplink padapelanggan terjauh menghasilkan waktu total sebesar = 0.2505 ns. Waktu tersebut masih berada dibawah nilai waktu sistemNRZ sebesar 0.5833 ns.Kata Kunci : Triple play, FTTH, GPON, Power Link Budget, Rise Time Budget. ABSTRACT Setraduta residential located at west Bandung is border with cimahi city, it is luxurious and modern housing. Access networks thatare used are still using copper cable, it was considered inadequate triple play services. PT. Telkom want to improve the quality of serviceshas had a plan that in 2013 around Bandung by migration the existing copper access network with Fiber Optic To The Home (FTTH). GPON(Gigabit Passive Optical Network) technology is selected PT.Telko. In this final project, made forecasting demand to know the number of internet users and bandwidth customers for the next fewyears. Then design access network FTTH using GPON technology with make initial path then determination of the device, specifications,layout and volume are used. Then to feasibility system of the analyst with parameter Power Link Budget, Rise Time Budget, and the totalattenuation. Results from forecasting demand, it is found that the capacity of current network of 960 users, it is estimated use the Internet in2017 to reach 1245, is insufficient to serve the overall number of customers. Then from the results of forecasting demand bandwidthrequirement for next 10 years, in 2021 at 531.456 Mbps for package of 384 Kbps, bandwidth requirements package 512Kbps of 297.545Mbps, bandwidth requirements for packet 1 Mbps of 204.343 Mbps and bandwidth requirements package 2 Mbps of 111.1 Mbps. All thepackages using quadratic models, because it has the smallest MAPE. Total bandwidth reach 1091,068 Mbps. The results that design ofSetraduta residential using 5 pieces ODC and 190 pieces ODP and 1245 ONT. Link Power Budget calculation results are generated on thetotal attenuation of 24.336 dB for uplink and for downlink total attenuation of 23.951 dB, the attenuation is still below the standard GPONaccording ITU-T G.984 at 28 dB and the standards PT.Telkom at 28 dB. Power margin value is 4.049 dBm for downlink and 3.664 dBm foruplink, both produce value more than 0(zero) dB. This is indicates that the link meet the eligibility link power budget. The test results RiseTime Budget is for the downlink at the farthest customers resulted in a total time of = 0.2583 ns. The time is below the value of the NRZsystem of 0.2917 ns. For the uplink direction the farthest customers result total time = 0.2505 ns. The time is below the value the NRZsystem of 0.5833 ns.Key word : Triple play, FTTH, GPON, Power Link Budget, Rise Time Budget. 1
  • BAB I 1.4 Batasan Masalah PENDAHULUAN 1. Area perancangan hanya dibatasi untuk1.1 Latar Belakang daerah Sentral Gegerkalong dan perumahan Seiring perkembangan teknologi dengan pesat, Setra duta.terutama teknologi informasi dan komunikasi, memicu 2. Pemilihan pelanggan berdasarkan data darimasyarat modern mendapatkan layanan yang praktis, developer perumahan Setra duta dan PT.mudah, dan efisien. Kebutuhan layanan masyarakat Telkom.modern terus meningkat sehingga dibutuhkanlah sarana 3. Perancangan tidak menghitung QOS.komunikasi yang mampu melayani semua layanan. 4. Perancangan tidak membahas tentangKebutuhan layanan pada masa kini tidak hanya suara, jaringan optik lainnya seperti DLC, HFC danmelainkan data dan video. Maka diperlukan jaringan OAN.handal yang mampu memberikan performansi yang baik. 5. Perancangan merupakan migrasi dari Keterbatasan jaringan akses tembaga yang di nilai jaringan akses tembaga sekarang menujubelum cukup dan belum dapat menampung kapasitas jaringan akses fiber optic menggunakanbandwidth yang besar serta kecepatan tinggi, maka PT. teknologi GPON.Telkom sendiri sesuai visi misi nya meningkatan kualitas 6. Jenis fiber optic yang digunakan G.652 danlayanan untuk membuat infrastruktur menggunnakan fiber G.657.optik sebagai media transmisi nya. PT. Telkom untuk kotabandung sudah menargetkan tahun 2013 akan merombak 1.5 Langkah penyelesaian masalahjaringan akses tembaga menjadi jaringan akses fiber optik 1. Studi literatur, dengan mempelajari referensisampai ke rumah-rumah yang di sebut Fiber optic to the bacaan yang mendukung dari internet, buku,home (FTTH). Dalam pelaksanaan FTTH tersebut, ataupun artikel lainnya.PT.Telkom merekomendasikan dan menggunakan 2. Diskusi dengan dosen pembimbing dan pihakteknologi GPON untuk jaringan FTTH. Gigabit Passive PT.Telkom yang menangani teknologiOptical Network (GPON) adalah adalah salah satu jaringan akses fiber optic serta pengukuranteknologi dari beberapa teknologi sistem komunikasi serat dan pengambilan data di lapangan.optik. GPON bermula dari passive optical network (PON) 3. Analisa pembuatan konfigurasi perancanganyang kemudian berevolusi dan berkembang hingga sampai jaringan optik.tahap sekarang. 4. Dibuat kesimpulan. PT.Telkom yang kini menggelar layanan IP TV yangbernama Grovia TV menargetkan perumahan mewah dan 1.6 Sistematika pembahasanmodern yang ada di Indonesia. Daerah yang diambil Bab 1 Pendahuluanadalah di perumahan Setra Duta Bandung yang Memaparkan latar belakang masalah, tujuandiperkirakan membutuhkan layanan multimedia yang penyusunan tugas akhir, perumusan masalah,memiliki kualitas layanan bagus. Dalam tugas akhir ini pembatasan masalah, metode penyelesaian danakan dilakukan penelitian untuk merencanakan jaringan sistematika penulisan tugas akhir.akses FTTH menggunakan teknologi GPON di perumahan Bab2 Landasan teoriSetra Duta. Kemudian untuk menentukan kebutuhan Pada bab ini membahas tentang teori-teoribandwitdh dan kapasitas yang akan datang dilakukan yang mendukung jaringan akses fiber opticdengan peramalan demand. Untuk peramalan dilakukan meliputi karakteristik transimisi fiber optic,pencarian data yang dibutuhkan dari developer perumahan arsitektur jaringan optik secara umum,Setra duta dan PT.Telkom. Kemudian dilakukan perkembangan PON, teknologi GPON sertaperancangan jaringan akses dengan penentuan jalur dan komponen yang dibutuhkan, peramalan demand,penentuan perangkat yang akan digunakan. Lalu dianalisis parameter yang digunakan power link budget dankelayakan sistem menggunakan teori perhitungan yaitu rise time budget.parameter rise time budget dan power link budget. BAB 3 Peramalan demand dan perancangan jaringan1.2 Tujuan Penelitian Pada bab ini membahas tentang jaringan Tujuan dalam tugas akhir ini adalah memperoleh eksiting Sentral Gegerkalong dan perumahanperancangan jaringan akses Fiber optic To The Home Setra duta yaitu kondisi jumlah perangkat(FTTH) di perumahan Setra duta Bandung menggunakan eksiting, peramalan permintaan, perhitunganteknologi GPON dengan migrasi dari jaringan akses kabel kebutuhan bandwidth, perancangan awal jaringantembaga yang sudah ada yang memenuhi kelayakan GPON, dan perancangan GPON ( perangkat,sistem. spesifikasi, volume).1.3 Rumusan Masalah Bab 4 Analisa kelayakan perancangan jaringan2 Penentuan daerah yang dirancang. Pada bab ini membahas tentang analisis3 Peramalan kapasitas dan bandwidth akan kebutuhan hasil perhitungan power link budget dan rise time mendatang. budget.4 Perancangan jaringan awal dari sentral sampai rumah Bab 5 Penutup pelanggan. Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari5 Penentuan pemakaian dan penempatan perangkat hasil penelitian tugas akhir serta saran untuk yang akan digunakan. pengembangan lebih lanjut6 Penentuan link power budget dan rise time budget sebagai parameter yang akan digunakan. 2
  • BAB II optik yang dapat mengantikan penggunaan kabel konvensional. Dan juga didorong oleh keinginan untuk LANDASAN TEORI mendapatkan layanan yang dikenal dengan istilah Triple Play Services yaitu layanan akan akses internet2.1 Serat Optik[14] yang cepat, suara (jaringan telepon, PSTN) dan video Serat optik adalah saluran transmisi atau sejenis (TV Kabel) dalam satu infrastruktur pada unit kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat pelanggan. halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah laser atau LED. Kabel ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi.2.2 Arsitektur Jaringan Fiber Optik Secara Umum[3] Sistem jarlokaf paling sedikit memiliki 2 (dua) buah Gambar 2.1 Arsitektur FTTx[14] perangkat optoelektronik yaitu 1 (satu) perangkata opto- 2.3 Perkembangan PON [3] elektronik di sisi sentral dan satu lagi (satu) lagi GPON merupakan evolusi dari teknologi perangkat yang berada di sisi pelanggan yang disebut PON. Ada pun tahapan-tahapan evolusinya adalah Titik Konversi Optik (TKO). Perbedaan letak TKO sebagai berikut : menimbulkan modus arsitektur jarlokaf berbeda pula yaitu : 1. ITU-T G.983 ITU-T G.983 merupakan teknologi PON berbasis 2.2.1 Fiber To The Zone (FTTZ) ATM, mendukung suara dan data, efesiensi 70% TKO terletak disuatu tempat di luar dab memiliki bandwidth 622Mbps, diadopsi dari bangunan, baik didalam kabinet dengan kapasitas standar ITU tahun 1999. Terdiri dari APON dan besar. Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO BPON (ATM Passive Optical Network) melalui kabel tembaga hingga beberapa kilometer. merupakan standar PON (Passive Optical FTTZ umumnya diterapkan pada daerah peruahan Network) yang pertama yang digunakan yang letaknya jauh dari sentral atau infrastruktur duct terutaman untuk aplikasi bisnis dan menggunakan pada arah yang bersangkutan, sudah tidak memenuhi teknologi ATM. BPON (Broadband Passive lagi untuk ditambahkan dengan kabel tembaga. Optical Network) merupakan perkembangan dari APON, teknologi ini mendukung WDM dan 2.2.2 Fiber To The Curb (FTTC) alokasi bandwidth upstream yang besar. TKO terletak di suatu tempat di luar bangunan, 2. ITU-T G.984 didalam kabinet dan diatas tiang dengan kapasitas ITU-T G.984 merupakan standar yang lebih kecil. Terminal pelanggan dihubungkan dengan dikeluarkan oleh ITU-T untuk teknologi GPON TKO memalui kabel tembaga hingga beberapa ratus (Gigabit Passive optical network). GPON meter. FTTCdapat diterapkan bagi pelanggan bisnis merupakan evolusi dari standar BPON. yang letaknya berkumpul di suatu area terbatas namun Teknologi ini mendukung kecepatan yang besar, tidak berbentuk gedung-gedung bertingkat atau bagi peningkatan dalam pengamanan dan pilihan 2 pelanggan perumahan yang pada waktu dekat akan layer protokol (ATM,GEM,Ethernet). Tetapi menjadi pelanggan jasa hiburan. pada kenyataannya ATM tidak 2.2.3 Fiber To The Building (FTTB) diimplementasikan. Teknologi ini memiliki TKO terletak di dalam gedung dan biasanya bandwidth 2,5 Gbps dengan efisiensi 93% GEM terletak pada ruang telekomunikasi di basement namun (GPON Encapsulate Method) menggunakan juga dimungkinkan diletakkan pada beberapa lantai di frame segnmentation untuk QoS (Quality of gedung tersebut. Terminal pelanggan dihubungkan service) yang lebih besar. Standar teknologi ini dengan TKO melalui kabel tembaga indoor. FTTB memperbolehkan beberapa pemilihan kecepatan, dalam diterapkan bagi pelanggan bisnis di gedung- tetapi untuk industri seragam 2,488 Mbps untuk gedung bertingkat atau bagi pelanggan perumahan di downstream dan 1,244 untuk upstream. apartement. 3. IEEE 802.3ah IEEE 802.3ah adalah suatu standar yang 2.2.4 Fiber To The Home (FTTH) dikeluarkan IEEE untuk EPON atau GEPON Fiber to the Home (disingkat FTTH) merupakan (Ethernet PON) yang merupakan PON berbasis suatu format penghantaran isyarat optik dari pusat ethernet, standar IEEE/EFM pada penggunaan penyedia (provider) ke kawasan pengguna dengan ethernet untuk paket data. Teknologi ini menggunakan serat optik sebagai medium mendukung suara dan data, efisiensi 49%, penghantaran. Perkembangan teknologi ini tidak bandwidth 1Gbps untuk upstream dan terlepas dari kemajuan perkembangan teknologi serat downstream. Standar ini dibuat tahun 2004 3 View slide
  • 4. IEEE 8022.3av Kemampuan switching bersifat non- IEEE 8022.3av merupakan standar yang blocked matrix. dikeluarkan oleh IEEE sebagai pengembangan Perangkat GPON terdiri dari : dari GEPON. Teknologi ini biasa dikenal dengan a. Optical Line Termination (OLT) 10GEPON (10 Gigabit Ethernet PON). dipasang di Central Office 10GEPON ini menggunakan standar teknologi Persyaratan umum untuk OLT yaitu : WDM.  Backplane OLT menyediakan2.4 Prinsip Dasar GPON[4] sistem backup (redudansi) dan Prisip kerja dari GPON yaitu ketika data atau sinyal koneksi independent 10 Gigabitdikirimkan dari OLT, maka ada bagian yang bernama Ethernet full duplex untuk masing-splitter yang berfungsi untuk memungkinkan serat optik masing servis slot.tunggal dapat mengirim ke berbagai ONT. Untuk ONT  Kemampuan switching fabric OLTsendiri akan memberikan data – data dan sinyal yang mempunyai arsitektur non-blockingdiinginkan oleh user. Pada prinsipnya, Passive Optical 150 Gbps full duplex per shelf.Network adalah sistem point-to-multipoint, dari fiber ke  OLT memiliki universal service slotarsitektur premise network dimana unpowered optikal Untuk PON cardsplitter (splitter fiber) serat optik tunggal. Arsitektur b. Sejumlah Optical Network Terminalsistem GPON berdasarkan pada TDM (Time Division (ONT) atau Optical Network UnitMultiplexing) sehingga mendukung layanan T1, E1, dan (ONT) diletakkan di beberapa lokasiDS3. ONT mempunyai kemampuan untuk dalam jaringan akses broadband point-mentransmisikan data di 3 mode power. Pada mode 1, to-multipoint antara central office danONT akan mentransmisikan pada kisaran daya output customer premises.yang normal. Pada mode 2 dan 3 ONT akan Persyaratan umum untuk ONT yaitu :mentransmisikan 3 – 6 dB lebih rendah daripada mode 1  Aplikasi di perumahan, kantor, atauyang mengizinkan OLT untuk memerintahkan ONT pada building (HRB) dan curbs.menurunkan dayanya apabila OLT mendeteksi sinyal dari  Dapat dikontrol secara lokal danONT terlalu kuat atau sebaliknya, OLT akan memberi remote melalui OMCI sesuaiperintah ONT untuk menaikkan daya jika terdeteksi sinyal dengan G.984.4dari ONT terlalu lemah.  Menggunakan fiber optik single Tabel 2.1 Standar dari Teknologi GPON[4] mode bidirectional untuk 1310 nm Karakteristik GPON (upstream) dan 1490 nm Standardization ITU-T G.984 (downstream) Frame ATM / GEM  Dapat mendukung λ 1550 nm untuk Speed Upstream 1.2 G / 2.4 G RF video. Speed Downstream 1.2 G / 2.4 G c ODN terdiri dari fiber optik dan Service Data, Voice, Video passive splitters/couplers serta Transmission Distance 10 km / 20 km aksesoris lain seperti konektor yang Number of Branches 64 menjadikan elemen-elemen ODN Wavelength Up 1310 nm terkoneksi. Wavelength Down 1490 nm Spesifikasi untuk ODN Splitter Passive (Optical Distribution Network)2.5 Standar Umum Perangkat[3] yaitu : Persyaratan teknik perangkat yaitu mampu  Beroperasi menggunakanmenyalurkan atau membawa multilayanan (voice, data, transmisi single optik.video) dalam satu platform teknologi berbasis Passive  Physical Reach ODNOptical Network (PON) pada lingkungan jaringan masa Jarak maksimum dari OLT kedepan (NGN). ONT/ONU sebesar 20 Km dengan Persyaratan system GPON yaitu : cascading splitter 2 stage dan a. Beroperasi dengan line rates pada 2.488 Gbps minimum 32 port ONT/ONU. downstream dan 1.244 Gbps upstream dengan - Power link budget menggunakan single fiber, sistem G-PON harus Power link budget dari sesuai dengan ITU-T G.984.x series OLT ke ONU/ONT minimum (G.984.1/2/3/4). 28 dB. b. Modul GPON dapat diekspansi, yang - Rise time budget memungkinkan terbentuknya sistem Rise time budget dari OLT ke perangkat yang fleksible. ONT/ONU maksimal 0.2917 c. Sistem arsitektur GPON harus dalam untuk pengkodean NRZ dan satu rak yang terintegrasi untuk semua 0.1458 untuk pengkodean RZ layanan. Semua layanan dikontrol oleh - Fiber Optik sebuah NMS Perangkat dapat beroperasi d. Arsitektur internal backplane perangkat menggunakan single fiber optic GPON harus berbasis arsitektur IP. mengacu standard single mode fiber (ITU-T G.652). 4 View slide
  • 2.6 Komponen GPON[3] dapat diketahui alarm apa yang aktif, sistem reporting, Komponen-komponen pada teknologi GPON antara ataupun kegagalan jaringan GPON.lain yaitu : 6. Splitter 1. Sumber cahaya Splitter adalah optikal fiber coupler sederhana yang Sumber cahaya yang digunakan untuk memancarkan membagi sinyal optik menjadi beberapa path (multiplecahaya yang membawa informasi merupakan hasil path) atau sinyal – sinyal kombinasi dalam satu path.pengubahan sinyal listrik menjadi sinyal optik. Sumber Selain itu, splitter juga dapat berfungsi untuk merutekancahaya yang digunakan dalam teknologi GPON adalah dan mengkombinasikan berbagai sinyal optik. SplitterInjection Laser Diode (ILD). Jenis ILD yang digunakan terdiri dari 3 port dan bisa mencapai dari 32 port.pada sistem GPON antara lain Fabry Perot Laser dan Berdasarkan ITU G.983.1 BPON StandartDistributed Feddback Laser (DFB), dengan lebar direkomendasikan agar sinyal dapat dibagi untuk 32spektrum masing – masing 3nm dan 1nm. pelanggan, namun ratio meningkat menjadi 64 2. Serat optik yang digunakan berdasarkan ITU-T G.984 GPON standart. Splitter Jenis serat optik yang digunakan dalam GPON yang mendukung beberapa pilihan ratio pembagian sinyal.diaplikasikan untuk komunikasi jarak jauh harus memiliki Ratio pembagian dapat menggunakan sebuah alat untukkemampuan untuk membawa banyak sinyal dengan laju splitter, sebagai contoh pemakaian splitter tunggal 1:32,bit yang tinggi. Dari dua jenis serat optik yang ada yaitu atau pemakaian splitter secara pararel seperti 1:8 dan 1:4single mode dan multimode, yang digunakan sebagai atau 1:16 atau 1:2.media transmisi teknologi GPON adalah jenis singlemode, hal ini dikarenakan daerah kerja panjang gelombangsingle mode lebih tinggi daripada daerah kerja panjanggelombang multimode. Sehingga serat optik jenis ini lebihsesuai digunakan pada transmisi jarak jauh yang Gambar 2.7 Splitteri[5]memerlukan transmisi kecepatan tinggi dan rugi – rugi 7. Spliceryang kecil. Alat sambung Serat Optik dikenal dengan sebutan 3. Optical Line Termination (OLT) fusion splicer yaitu suatu alat yang digunakan untuk Optikal Line Termination (OLT) sebagai daerah pusat menyambung core serat optik yang berbasis kaca yangdari sistem jaringan. OLT merupakan gabungan dari mengimplementasikan daya listrik yang sudah dirubahCWDM, Gigabit-capable Ethernet (GbE) dan menjadi sebuah media sinar berbentuk sinar laser yangSONET/SDH yang dipergunakan untuk mentransmisikan berfungsi memanasi kaca yang putus pada core sehinggasuara, data dan video yang melewati Gigabit-capable terhubung kembali secara baik. Alat sambung splicer iniPassive Optikal Network (GPON). OLT mempunyai harus memiliki keakuratan tinggi sehingga pada saatfungsi untuk melakukan konversi dari sinyal elektrik penyambungan (splicing) bisa mendekati sempurna,menjadi optik. karena proses terjadinya pengelasan media kaca terjadi Bagian – bagian dari OLT: proses peleburan kaca yang menghasilkan suatu media yang tersambung dengan utuh tanpa adanya celah karena memiliki karakter media yang memiliki senyawa yang sama. Penyambungan bisa saja tidak utuh, karena tidak mengikuti prosedur penyambungan yang benar. Gambar 2.5 Bagian – bagian OLT[5] Bila hal ini terjadi maka proses penyambungan harus diulangi lagi, hingga mendekati redaman yg sekecil- 4. Optical Network Terminal (ONT) kecilnya (dibawah 0.2 dB) 8. Konektor Konektor terdapat pada ujung dari serat optik yang terhubung langsung pada perangkat. Konektor pada fiber optik terbuat dari material yang sederhana seperti plastik, karet dan kaca sehingga lebih praktis. Konektor Gambar 2.6 Optical Network Terminal[5] Optikal Network Terminal (ONT) berada di sisi memiliki beberapa jenis, antara lain :pelanggan dari sistem jaringan. Optimate 1000NT (ONT) a. FC (Fiber Connector): digunakan untuk kabelmempunyai tugas utama yaitu dipergunakan untuk single mode dengan akurasi yang sangat tinggimentransmisikan suara, data dan video yang melewati dalam menghubungkan kabel dengan transmitterjaringan Gigabit-capable Passive Optikal Network maupun receiver. Konektor ini menggunakan(GPON) kepada para pelanggan dan OLT. sistem drat ulir dengan posisi yang dapat diatur, 5. Flex Manage sehingga ketika dipasangkan ke perangkat lain, Flex Manage yang adalah suatu software untuk akurasinya tidak akan mudah berubah. memonitor dari layanan GPON. Flex Manage b. SC (Subsciber Connector): digunakan untuk kabel merupakan solusi dari management jaringan dari single mode, dengan sistem dicabut-pasang. FlexLight yang dirancang berdasarkan system yang Konektor ini tidak terlalu mahal, simpel, dan dapat berbasiskan web. Flexmanage dioperasikan untuk diatur secara manual serta akurasinya baik bila mensetting jaringan atau mengoperasikan jaringan guna dipasangkan ke perangkat lain. menghindari downtime (dapat untuk menanggulangi c. ST (Straight Tip): bentuknya seperti bayonet ataupun menghindari downtime. Dari Flex Manage berkunci hampir mirip dengan konektor BNC. 5
  • Sangat umum digunakan baik untuk kabel multi 7. Speedy Home Monitoring mode maupun single mode. Sangat mudah Layanan ini merupakan layanan dimana IP camera digunakan baik dipasang maupun dicabut. yang bisa diakses melalui jaringan internet. Sehingga Anda bisa memantau kondisi rumah, kantor, ataupun2.7 Keunggulan GPON[14] tempat usaha selama mudik melalui komputer atau Keunggulan GPON antara lain : smartphone anda.1. Mendukung aplikasi triple play (voice,data,dan 2.9 Peramalan Demand[3] video) pada layanan FTTx. Peramalan demand bandwidth untuk masa depan2. Memberikan power hingga loop terakhir. merupakan perkiraan tentang sesuatu yang akan terjadi3. Alokasi bandwidth dapat diatur atau managable. pada waktu yang akan datang yang di dasarkan pada data4. Passive component membutuhkan biaya maintenence yang ada pada waktu sekarang dan waktu lampau yang ringan dan. (historical data).5. Proses instalasi dan upgrade menjadi sederhana. Banyak bentuk trend suatu data. Sebagai contoh Program perangkat sistem GPON dikemas dalam dalam metode peramalan, ada empat bentuk umum dari bentuk modul agar memudahkan proses trend data tersebut. instalasi.Disamping itu, penambahan kapasitas 1. Model Linear jaringan pada GPON dapat dlakukan secara mudah Trend linear adalah kecenderungan data dimana dan tidak mahal. perubahannya berdasarkan waktu adalah tetap. Yt =6. Transparan terhadap laju bit dan format data. GPON β0+β1T dapat secara fleksibel mentransferkan informasi dengan laju bit dan format yang berbeda karena setipe laju bit dan format data ditransmisikan melalui panjang gelombang yang berbeda. Laju bit 1.244 Gbit/s untuk upstream dan 2.44 Gbit/s untuk downstream.7. Biaya pemasangan,pemeliharaan dan pengembangan Gambar 2.8 Contoh Grafik Model Linear lebih efisien. Halini dikarenakan arsitekture jaringan 2. Model Kuadratik GPON lebih sederhana daripada arsitektur jaringan Trend kuadratik adalah kecenderungan data yang serat optik konvensional. kurvanya berpola lengkungan (curvature). Trend8. Dengan adanya GPON mengurangi penggunaan kuadratik memiliki model sebagai berikut: Yt = banyak serat optik dan peralatan pada kantor pusat β0+β1T+ β2T2 atau central office bila dibandingkan dengan arsitektur point to point, Hanya satu port optik di central office (menggantikan multiple port).2.8 Konten Layanan[11]Konten layanan yang dimiliki Telkom antara lain : 1. Speedy 384kbps Gambar 2.9 Contoh Grafik Model Kuadratik Memiliki kecepatan 384 kb/s downstream dan 96 kb/s 3. Model Pertumbuhan Eksponensial upstream. Memiliki batas pemakaian sebesar 3 GB. Trend pertumbuhan eksponensial adalah 2. Speedy 512kbps kecenderungan data dimana perubahannya semakin Memiliki kecepatan 512 kb/s downstream dan 128 lama semakin bertambah secara eksponensial. Y = kb/ps upstream.Memiliki batas pemakaian sebesar 3 β0eβ1T atau ln(Y) = lnβ0+β1T GB. 3. Speedy 1Mbps Dengan kecepatan 1 Mb/s downstream dan 256 kb/s upstream,paket ini ditargetkan bagi para profesional, atau bagi penggunaan internet rumah tangga yang dishare hingga ke 10 pengguna. 4. Speedy 2Mbps Gambar 2.10 Contoh Grafik Model Pertumbuhan Memiliki kecepatan 2 Mb/s downstream dan 512 kb/s Eksponensial upstream, paket ini ditargetkan untuk keperluan bisnis 4. Model Kurva S dan perkantoran dengan penggunaan Internet yang Karakteristik kurva S adalah pada awalnya dibagi hingga ke 20 pengguna. pertumbuhan lambat, kemudian meningkat pesat dan 5. Speedy 3Mbps sampai pada titik tertentu kemudian melambat lagi dan Memiliki kecepatan 3 Mb/s downstream dan 512 kb/s cenderung tetap. Trend kurva S memiliki model upstream, paket ini ditargetkan untuk keperluan bisnis sebagai berikut: Yt = e (β0 + (β1/T)) atau ln(Y) = β0 + (β1/T) dan perkantoran dengan penggunaan internet yang dishare hingga lebih dari 30 pengguna. 6. Grovia IPTV Layanan internet yang bisa menonton berbagai siaran tv nasional dan international , bisa direkam , bisa di- Gambar 2.11 Contoh Grafik Model Kurva S pause , dll. IPTV ini memiliki kualitas gambar seperti DVD , sehingga tentunya IPTV ini menggunakan bandwidth yang cukup besar yaitu 6Mb. 6
  • Peramalan demand bandwidth untuk masa trx = Rise time receiver (ns) depan merupakan perkiraan tentang sesuatu yang akan tintermodal = bernilai nol (untuk serat optik single mode) terjadi pada waktu yang akan datang yang di dasarkan tintramodal = tmaterial + twaveguide pada data yang ada pada waktu sekarang dan waktu lampau (historical data), untuk meramalkan demand tmaterial = ∆σ x L x Dm bandwidth dibutuhkan data pelanggan pengguna twaveguide = tw= L[n2+n2∆(vb)] bandwidth selama 5 tahun ke belakang. C dv ∆σ = Lebar Spektral (nm)2.10 Parameter Untuk Kelayakan Hasil Perancangan L = Panjang serat optik (Km) Link Power Budget[10] Dm = Dispersi Material (ps/nm.Km) Link power budget dihitung sebagai syarat agar link yang kita rancang dayanya melebihi batas ambang N2 = Indeks bias selubung dari daya yang dibutuhkan. Untuk menghitung Link c = kecepatan rambat cahaya 3x108 power budget dapat dihitung dengan rumus: v = 2π x a x n1 x (2 x ∆s)1/2 λ α  L.α  Nc.α  Ns. α  Sp tot serat c s a = Jari-jari intiBentuk persamaan untuk perhitungan margin daya adalah : n1 = indeks bias inti n2 = Indeks bias selubung M = ( Pt – Pr ) - α total - SM (2.8.2) BAB III ANALISIS JARINGAN FTTH DENGAN TEKNOLOGI GPON DI BUAH BATU REGENSI Keterangan : 3.1 Diagram Alir Penelitian Pt = Daya keluaran sumber optik ( dBm) Pr = Sensitivitas daya maksimum detektor ( dBm)Proses penelitian dimulai dengan penentuan SM = Safety margin, berkisar 6-8 dB lokasi kemudian dilakukan perumusan masalah, α tot = Redaman Total sistem (dB) dilanjutkan dengan studi litelatur bersamaan L = Panjang serat optik ( Km) pencarian data. Setelah pencarian data dilanjutkan αc = Redaman Konektor (dB/buah) dengan peramalan demand kemudian dilakukan αs = Redaman sambungan ( dB/sambungan) perancangan awal yaitu pembuatan jalur dan pembagian wilayah pada perumahan setra duta α serat = Redaman serat optik ( dB/ Km) bandung. Kemudian dilakukan perancangan teknologi Ns = Jumlah sambungan GPON dengan menentukan perangkat, spesifikasi, Nc = Jumlah konektor dan volume. Setelah dilakukan perancangan GPON, Sp = Redaman Splitter (dB) kemudian dilakukan analisis kelayakan hasil perancangan jaringan yang menggunakan parameter Margin daya disyaratkan harus memiliki nilai power link budget dan rise time budget. Dan akan lebih dari 0 (nol), margin daya adalah daya yang didapatkan kesimpulan dari hasil penelitian. masih tersisa dari power transmit setelah dikurangi dari loss selama proses pentransmisian, pengurangan dengan nilai safety margin dan pengurangan dengan nilai sensitifitas receiver. Rise Time Budget[1] Rise time budget merupakan metode untuk menentukan batasan dispersi suatu link serat optik. Metode ini sangat berguna untuk menganalisa sistem transmisi digital. Tujuan dari metode ini adalah untuk menganalisa apakah unjuk kerja jaringan secara keseluruhan telah tercapai dan mampu memenuhi kapasitas kanal yang diinginkan. Gambar 3.2 Jaringan Eksisting Setra duta Umumnya degradasi total waktu transisi dari link digital tidak melebihi 70 persen dari satu periode bit Perumahan Setra Duta terletak didaerah NRZ (Non-retum-to-zero) atau 35 persen dari satu Bandung barat, berbatasan dengan kota cimahi. periode bit untuk data RZ (return-to-zero). Satu Perumahan setra duta termasuk kawasan STO periode bit didefinisikan sebagai resiprokal dari Gegerkalong, yang berada di jalan gegerkalong hilir. data rate. Untuk menghitung Rise Time budget Jaringan akses yang masih digunakan sekarang dapat dihitung dengan rumus : menggunakan 2 MSAN yang menggunakan serat optik dari STO ke MSAN dan satu 1 RK yang masih ttotal = (ttx² + tintramodal² + tintermodal²+ trx²)½ menggunakan kabel tembaga. Dalam RK RAG (2.3) tersebut mempunyai DP (Distribution point) sebanyak 43 buah, dan kapasitas sebanyak 480 user. Keterangan : MSAN MRB dan MSAN MRD masing-masingttx = Rise time transmitter (ns) mempunyai jumlah DP sebanyak 15 buah, dan 7
  • kapasitas 1 MSAN sebanyak 240 user. Dengan (selisih) antara data aktual dengan data hasil kondisi jaringan sekarang untuk perumahan peramalan. Ukuran akurasi dicocokkan dengan data Setraduta kapasitas yang bisa dilayani sebanyak 960 time series, dan ditunjukkan dalam persentase. MAD user. merupakan rata-rata dari nilai absolute simpangan. MSD merupakan rata-rata dari nilai kuadrat Pada perumahan Setraduta terdapat sekitar 1245 simpangan data. Kemudian nilai MAPE darikavling rumah dan pada tahun 2011 sekitar 702 rumah keempat model tersebut dibandingkan, yangtelah terjual atau sekitar 56,54% dari keseluruhan total digunakan sebagai peramalan adalah yang memilikikavling yang ada di Setra duta. Dari tahun 2006 sampai nilai MAPE terkecil.tahun 2011 ada 309 rumah yang memakai layanan internetdan pada tahun pertengahan 2012 kini mencapai 317 yang 3.3.1 Peramalan Jumlah Pelanggan Pemakaimemakai layanan internet. Masih banyaknya kavling yang Internetbelum terisi tentu akan menjadi permasalahan dari segi Tabel 3.2 hasil peramalan jumlah pelanggankapasitas dan permintaan bandwidth yang tidak terpenuhi. Tahun Linier kuadratik eksponensial kurva SDari segi operator perlu ada peningkatan dalam hal operasidan perbaikan. Dari segi pelanggan akan mendapat 2012 347,6 431,6 833 306,66layanan dengan nyaman dan kualitas hasil yang lebih baik 2013 409,343 565,34 1642 348,468 Oleh karena itu divisi akses PT.Telkommenyepakati adanya perubahan dari tembaga menjadi 2014 471,086 717,09 3235 366,892jaringan akses yang memakai kabel optik sampai ke 2015 532,829 886,83 6373 374,178rumah-rumah sebagai media transmisinya. Perkembangan 2016 594,571 1074,57 12558 376,935teknologi serat optik yang diambil oleh PT. Telkom adalahteknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network). 2017 656,314 1280,31 24744 377,961GPON merupakan teknologi terbaru dari perkembangan 2018 718,057 1504,06 48754 378,34PON yang bersifat passive dan menggunakan splitter. 2019 779,8 1745,8 96064 378,48Dilihat dari PT.Telkom sebagai penyedia layanan dapatmeningkatkan performansi dan akan menjadi lebih efisien, 2020 841,543 2005,54 189281 378,532karena bersifat pasif jadi tidak perlu catuan daya, serta 2021 903,286 2283,29 372951 378,551akan meringankan perawatan. MAPE 70,68 9,0455 23,32 50,63 Pembahasan tugas akhir ini adalah peramalankebutuhan bandwidth dan membangun jaringan aksesFiber To The Home ( FTTH) menggunakan teknologiGPON di perumahan Setra duta. Daftar pengguna internetdi setra duta dapat dilihat di Lampiran A. Untuk daftar 1500 Jumlah pelangganpertumbuhan pelanggan internet bisa dilihat d tabel 3.1. 1000 Tabel 3.1 Daftar pertumbuhan pelanggan internet di 500 perumahan Setra duta Jumla 0 h… JUMLAHTAHUN PELANGGAN 384K 512K 1M 2M 2006 10 4 6 0 0 2007 33 14 17 2 0 Grafik 3.1 Prediksi kurva peramalan terhadap 2008 66 31 28 6 1 kapasitas total perumahan 2009 141 67 54 18 2 3.3.2 Peramalan Paket 384 Kbps 2010 230 121 79 26 4 Tabel 3.3 peramalan paket 384 k 2011 309 167 100 36 6 Tahun Linier kuadratik eksponensial kurva S 2012 184,533 239,2 486 165,6793.3 Peramalan Demand 2013 218,019 319,54 1019 189,393 Perhitungan peramalan bandwidth berdasarkan 2014 251,505 411,6 2135 199,277 jumlah pelanggan perpaket. Dari peramalan jumlah 2015 284,99 515,37 4475 202,947 perpaket dikali dengan paket yang digunakan. Kemudian dilakukan peralaman migrasi dari paket 2016 318,476 630,86 9378 204,25 ke paket lainnya. Jumlah peramalan pelanggan 2017 351,962 758,06 19656 204,706 didapatkan dengan menggunakan software 2018 385,448 896,97 41198 204,864 MINITAB versi 14. Dari tiap grafik nantinya akan muncul nilai MAPE (Mean Absolute Percentage 2019 418,933 1047,6 86346 204,919 Error), MAD (Mean Absolute Deviation) dan MSD 2020 452,419 1209,94 180974 204,938 (Mean Square Deviation). Nilai MAPE merupakan 2021 485,905 1384 379302 204,945 rata-rata dari keseluruhan persentase kesalahan MAPE 105,463 8,3893 24,148 53,2 8
  • 3.3.5 Peramalan Paket 2 Mbps Paket 384 K Tabel 3.5 peramalan paket 2 M Tahun Linier kuadratik eksponensial kurva S1400 2012 7,5 8,75 12 61200 2013 9,2 11,95 22,02 7,21000 2014 10,9 15,65 40,39 7,71429 800 2015 12,6 19,85 74,1 7,90244 Paket 600 384 K 2016 14,3 24,55 135,95 7,96721 400 2017 16 29,75 249,42 7,98904 200 2018 17,7 35,45 457,58 7,99634 0 2019 19,4 41,65 839,5 7,99878 2020 21,1 48,35 1540,17 7,99959 2021 22,8 55,55 2825,64 7,99986 MAPE 13,9583 4,27083 7,16048 53,6905 Grafik 3.2 Prediksi kurva peramalan paket 384K 3.3.5 Peramalan Jumlah Migrasi Paket terhadap kapasitas total perumahan Tabel 3.6 nilai peramalan jumlah migrasi paket 3.3.3 Peramalan Paket 512 Kbps Tahun Linier kuadratik eksponensial kurva S 2013 30,5 28 92 23 Tabel 3.4 peramalan paket 512 k 37,7 32,2 247 29,56 2014Tahun Linier kuadratik eksponensial kurva S 2015 44,9 35,4 663 34,55992012 115,533 133,2 225,9 100,964 2016 52,1 37,6 1781 37,80342013 135,019 167,829 392,4 115,193 2017 59,3 38,8 4781 39,6932014 154,505 206,243 681,8 122,613 2018 66,5 39 12836 40,72552015 173,99 248,443 1184,6 126,1 73,7 38,2 34464 41,2701 20192016 193,476 294,429 2058 127,659 2020 80,9 36,4 92534 41,5522017 212,962 344,2 3575,4 128,341 2021 88,1 33,6 248445 41,69642018 232,448 397,757 6211,8 128,635 MAPE 20,7323 7,65489 49,6803 80,81482019 251,933 455,1 10792 128,7622020 271,419 516,229 18749,4 128,817 Tabel.3.7 Keseluruhan kebutuhan bandwidth2021 290,905 581,143 32574,1 128,84MAPE 29,4169 7,61625 19,987 44,511 Paket Layanan Pelanggan Total bandwidth 384 0,384 1245 478,080 Mbps 512 0,512 581,1 297,545 Mbps 3.3.4 Peramalan Paket 1 Mbps 1 1 204,3 204,343 Mbps Tabel 3.5 peramalan paket 1 M 2 2 55,55 111,1 MbpsTahun Linier kuadratik eksponensial kurva S Total 1091,068 Mbps2012 44 48 101,2 362013 52,8 60,8 209 47,3924 Dari keseluruhan kebutuhan bandwidth, jika2014 61,6 74,743 431,3 59,0769 dijumlahkan maka total bandwidth yang2015 70,4 89,829 890,4 69,8385 dibutuhkan mampu mencapai 1091,068 Mbps. Jika dari PT.Telkom kapasitas bandwidth yang2016 79,2 106,057 1837,8 78,8113 diinginkan 10 Mbps dari tiap rumah, dan2017 88 123,429 3793,5 85,6924 kapasitas kavling perumahan setra duta hanya 1245 kavling. Untuk itu PT. Telkom perlu2018 96,8 141,943 7830,3 90,6384 membuat total kapasitas bandwidth mencapai2019 105,6 161,6 16162,7 94,0305 1245 x 10 Mbps = 12450 Mbps, jaringan akses2020 114,4 182,4 33361,8 96,2826 eksisting belum memenuhi kapasitas serta kebutuhan bandwidth yang dibutuhkan, maka2021 123,2 204,343 68863,1 97,7457 perlu dirancang Fiber to the home (FTTH)MAPE 30,5299 18,0366 24,6082 55,4662 menggunakan teknologi GPON di perumahan Setra duta. 9
  • 3.4 Perancangan Awal Jaringan 3.5.2 Fiber Optik Teknologi GPON telah dipilih untuk dapat Fiber optik yang digunakan adalah fiber optik memenuhi kebutuhan demand yang telah diramalkan yang sesuai dengan standar ITU-T G.652 dan drop karena dapat melayani bandwidth yang besar dan fiber G.657. Fiber optik yang digunakan pada GPON juga dapat melayani 3 layanan: suara, video, perancangan ini adalah perangkat dengan spesifikasi dan data. Jumlah pelanggan yang banyak sangat yang dapat dilihat di tabel 3.9. Dari ODP sampai ke cocok diterapkan untuk jaringan point to multipoint pelanggan menggunakan fiber optik ITU-T G.657 dengan teknologi FTTH. STO Gegerkalong berada yang memiliki spesifikasi seperti pada tabel 3.10. sekitar ±3,1 Km pada perumahan Setra duta, jarak ini Tabel 3.9 Spesifikasi Fiber Optik G.657[9] memungkinkan untuk pembangunan kabel fiber optik tanpa menggunakan repeater, perumahan setra duta Parameter Spesifikasi Unit yang luas nya bisa mencapai 100 hektar berdasarkan Attenuation ≤ 0.35 dB/Km tata letaknya dibagi menjadi 5 daerah untuk (1310 nm) pembuatan jaringan, daerah A,B,C,D dan E. Lalu Attenuation ≤ 0.31 dB/Km untuk penarikan kabel dibagi 2 bagian untuk (1383 nm) perumahan Setra duta, untuk daerah A,C dijadikan Attenuation ≤ 0.21 dB/Km satu group daerah selatan dan daerah B,D,E dijadikan (1550 nm) daerah utara. Untuk penarikan kabel fiber optik dari Attenuation ≤ 0.23 dB/Km STO gegerkalong ke ODC dibagi 2 pemisahan jalur (1625 nm) pada persimpangan jalan sarimanah dan jalan sari asih, jalur pertama masuk ke daerah A kemudian C, Tabel 310 Spesifikasi Fiber Optik G.652[8] dan 1 jalur kabel lg menuju B kemudian D lalu ke daerah E. Parameter Spesifikasi Unit Attenuation at ≤ 0.35 dB/Km3.5 Penentuan Perangkat Dan Spesifikasi 1310 nm Pada bagian ini juga akan dijelaskan tentang Attenuation at ≤ 0.21 dB/Km perangkat yang digunakan dalam perancangan 1550 nm jaringan beserta spesifikasi, tata letak dan volumenya. Attenuation at ≤ 0.28 dB/Km 1490 nm 3.5.1 OLT (Optical Line Termination) Chromatic ≤ 3.5 ps/(nm.km) Optical Line Termination yang digunakan dalam Dispersion perancangan ini sesuai dengan standard ITU-T G.984 (1285nm- dan yang di rekomendasikan oleh PT.Telkom. 1330nm) Pemilihan perangkat Optical Line Termination ini Chromatic ≤ 18 ps/(nm.km) dengan melihat nilai optical transmit power (Ptx) Dispersion yang sebaiknya bernilai besar karena akan (1550nm) berpengaruh terhadap link power budget dan juga memperhitungkan nilai lebar spektral (Δσ), rise time dan fall time yang sebaiknya bernilai relative kecil karena akan berpengaruh terhadap nilai rise time 3.5.3 Konektor budget. Spesifikasi OLT yang digunakan dapat dilihat Konektor yang digunakan adalah konekor SC. Konektor SC digunakan pada bagian OLT,ODC,ODP di tabel 3.8. dan ONT. Spesifikasi konektor seperti pada tabel 3.11. Tabel 3.8 Spesifikasi Perangkat OLT[3] 3.5.4 Splitter Splitter yang akan digunakan ada 2 tipe yaitu Parameter Spesifikasi Unit splitter 1:4 dan splitter 1:8. Splitter 1:4 diletakan di ODC, sedangkan splitter 1:8 diletakan di ODP. Optical Transmit Power 5 dBm Spesifikasi splitter dapat dilihat di tabel 3.12. Downlink Wavelength 1490 nm Tabel 3.1 Spesifikasi Konektor[7] Uplink Wavelength 1310 nm Video Wavelength 1550 nm Parameter Spesifikasi Unit Fiber Type SM 10/125 - Spectrum Width 1 nm Insertion Loss 0.2 dB Downstream Rate 2.4 Gbps Upstream Rate 1.2 Gbps Tabel 3.12 Spesifikasi Splitter[3] Optical Rise Time 150 ps Parameter Spesifikasi Unit Optical Fall Time 150 ps Insertion Loss 1:4 6 - 7.8 dB Max.Work Temperature 45 ̊ C Insertion Loss 1:8 9 - 11 dB Min.Work Temperature -5 ̊ C Power Supply (DC) -48 V 10
  • 3.5.5 ONT (Optical Network Terminal) yang terletak di ODC akan membagi daya dari kabel Optical Network Terminal yang digunakan pada feeder yang masuk ke ODC ke 4 ODP. Fiber optik perancangan ini adalah perangkat dengan spesifikasi yang keluar dari ODC akan masuk ke ODP yang di seperti pada tabel 3.13. dalamnya terdapat passive splitter 1:8. Selanjutnya fiber optik tersebut akan menghasilkan disalurkan ke Tabel 3.13 Spesifikasi perangkat ONT[3] rumah-rumah pelanggan (ONT) yang berjumlah maksimal 8 pelanggan. Jadi 1 ODP diperhitungkan Parameter Spesifikasi Unit untuk 8 lokasi rumah. Perancangan jaringan di Downstream Rate 2.4 Gbps perumahan Setra duta menggunakan teknologi FTTH (Fiber To The Home) sehingga peletakan perangkat Upstream Rate 1.2 Gbps ONT (Optical Network Terminal) berada di dalam Downlink Wavelength 1490 nm rumah pelanggan. Fiber optik yang berasal dari ODP akan masuk ke rumah pelanggan dan menuju Uplink Wavelength 1310 nm perangkat OTP. Dari perangkat OTP, fiber optik Video Wavelength 1550 nm tersebut akan masuk ke perangkat roset. Setelah Max.Transmission keluar dari perangkat roset maka fiber optik tersebut Distance 20 Km akan masuk ke perangkat ONT. Lokasi penempatan Power Consumption ≤ 16 Watt tata letak dapat dilihat di Lampiran B. Setelah dilakukan penempatan letak perangkat, kemudian Sensitivity -29 dBm diukur jarak nya bisa dilihat di Lampiran C. Karena Optical Rise Time 200 ps kontour perumahan setra duta yang berbukit-bukti, maka untuk penghitungan jarak dari STO ke ODC, Optical Fall Time 200 ps ODC ke ODP, dan ODP ke ONT ditambah 10 meter, Max.Work Temperature 45 ̊ C kecuali letak ONT yang sangat dekat dengan ODP. Min.Work Temperature -5 ̊ C Untuk jumlah ODP, Splitter 1:4, dan jarak STO ke ke ODC serta jumlah kabel dapat dilihat di tabel 3.14.3.6 Penentuan Letak Perangkat Dan Volume Tabel 3.14 Jumlah ODP, splitter dan kabel Feeder dan Perancangan dilakukan mulai dari STO jarak STO ke ODC Gegerkalog sampai ke tiap rumah pelanggan di perumahan Setra Duta. Fiber optik G. 652 ditarik dari JARAK Spliter STO Gegerkalong sampai ke ODC yang berbeda letak, ODC STO ke JUMLAH KABEL 1:4 bagian utara dan bagian selatan perumahan. Dari STO ODC ODP Gegerkalong ditarik 60 core untuk perumahan Setra duta. A 3130,13 27 7 12 core Dan terjadi pemisahan kabel pada persimpangan jalan sarimanah dan sari asih menuju bagian utara perumahan B 2663,88 36 9 12 core ditarik kabel sebanyak 36 core lalu menuju daerah selatan C 3993,35 45 12 24 core perumahan sebanyak 24 core. Kemudian dari ODC akan terdistribusi ke ODP dengan menggunakan G.652. D 3135,06 40 10 24 core Setelah dari ODP kemudian dengan menggunakan G.657 akan terdistribusi lagi ke ONT yang terletak di rumah E 3375,1 42 11 24 core pelanggan.Tiap ODC maksimal dapat terdistribusi ke 12 splitter 1:4 yang terdistribusi lagi ke splitter 1:8. 3.6.2 Daftar Perangkat Yang Dibutuhkan Pembagian pelanggan didasarkan pada letak rumah Setelah dilakukan perancangan maka dibuatlah pelanggan. daftar perangkat yang dibutuhkan dalam perancangan. Daftar perangkat berupa spesifikasi perangkat dan 3.6.1 Lokasi ODC, ODP dan ONT jumlah yang dibutuhkan. Perangkat disesuaikan Penentuan lokasi penempatan ODC dan ODP dengan rekomendasi dari PT. Telkom. Daftar didasarkan pada efisiensi jaringan, kebutuhan layanan perangakat yang dibutuhkan dalam perancangan akan pelanggan, dan batas minimum redaman yang jaringan FTTH dapat dilihat di tabel 3.15 . diperbolehkan untuk teknologi yang digunakan. Pada ODC dan ODP didalamnya terdapat passive splitter mempunyai redaman yang cukup besar dan dapat 3.7 Konfigurasi Jaringan Akses FTTH mempengaruhi kelayakan perancangan jaringan. Penempatan ODC dilakukan dengan melihat Pada bagian ini kita dapat melihat Konfigurasi pembagian tata letak perumahan. Untuk efisiensi jaringan FTTH menggunakan teknologi GPON dari kabel ODC ditempatkan di pintu gerbang perumahan STO Gegerkalong sampe rumah pelanggan. Ditarik Setraduta, sehingga kabel terus di tanamkan sampai kabel berjumlah 96 core lalu dibagi ke 5 ODC, dari ke ujung rumah pelanggan tanpa ada perbalikan arah ODC beberapa kabel digunakan untuk menyalurkan yang menuju ODC kembali. Dari gambar 3.4 terlihat ke masing-masing ODP. Sisa dari kabel ODC yang bahwa perancangan jaringan FTTH dengan teknologi murni tidak terpakai disimpan sebagai cadangan. Lalu GPON di perumahan Setra duta menggunakan 2 jenis dari ODP disalurkan lagi ke rumah-rumah pelanggan. passive splitter yaitu 1:4 dan 1:8. Passive splitter 1:4 11
  • Tabel 3.15 Daftar perangkat yang dibutuhkan dan juga peraturan yang diterapkan oleh PT.No. Perangkat Jumlah TELKOM yaitu jarak tidak lebih dari 20 km dan redaman total tidak lebih dari 28 dB.1 OLT 1 unit Bentuk persamaan untuk perhitungan2 Feeder Cable 5 buah ± (16.29752Km) redaman total pada link power budget yaitu :3 ODC 5 buah Passive α  L.α  Nc.α  Ns. α  Sp + Red tot serat c s4 Splitter 1:4 49 buah Instalasi (5.1) Distribution 190 buah ±5 Cable (89,33788Km) Bentuk persamaan untuk perhitungan6 ODP 190 buah margin daya adalah : Passive M = ( Pt – Pr ) - α total - SM7 Splitter 1:8 190 buah (5.2) 1245 buah8 Drop Cable (139,16472Km) Keterangan : Pt = Daya keluaran sumber optik9 ONT 1245 buah ( dBm)10 Konektor SC 2962buah Pr = Sensitivitas daya maksimum Sambungan detektor ( dBm)11 Splice 203 buah SM = Safety margin, berkisar 6-8 dB α tot = Redaman Total sistem (dB) L = Panjang serat optik ( Km) αc = Redaman Konektor (dB/buah) αs = Redaman sambungan ( dB/sambungan) α serat = Redaman serat optik ( dB/ Km) Ns = Jumlah sambungan Nc = Jumlah konektor Sp = Redaman Splitter (dB) Margin daya disyaratkan harus memiliki nilai lebih dari 0 (nol), margin daya adalah daya yang masih tersisa dari power transmit setelah dikurangi dari loss selama proses pentransmisian, pengurangan dengan nilai safety margin dan pengurangan dengan nilai sensitifitas receiver [14]. Data-data yang digunakan pada perhitungan antara lain : Gambar 3.4 Konfigurasi Jaringan FTTH menggunakan  Daya keluaran sumber optik (OLT/ONU) : 5 dBm Teknologi GPON.  Sensitivitas detektor (OLT/ONU) : -29 dBm BAB IV  Redaman Serat optik G.652 (1310/1490) ANALISIS KELAYAKAN PERANCANGAN : (0.35, 0.28) dB/Km JARINGAN  Redaman Serat optik G.657 (1310/1490)4.1 Analisis Hasil Perancangan : (0.35, 0.28) dB/Km Setelah dilakukan perancangan jaringan  Redaman Splice akses FTTH menggunakan GPON, untuk : 0.05 dB/splice mengetahui kelayakan sistem maka akan di  Konektor analisis menggunakan parameter power link : 0.2 dB budget dan rise time budget.  Jenis PS 1:8 , 1:4 : 11 dB , 7.8 dB 4.1.1 Link Power Budget  Jumlah Sambungan Perhitungan power link budget untuk : 4 buah mengetahui batasan redaman total yang diijinkan  Jumlah Konektor antara daya keluaran pemancar dan sensitivitas : 4 buah penerima. Perhitungan link power budget dilakukan berdasarkan standarisasi ITU-T G.984 12
  • Perhitungan link power budget pada Nilai M yang diperoleh dari hasil GPON akan dibagi menjadi dua bagian dan perhitungan uplink ternyata menghasilkan akan menghitung jarak dari STO ke ONT nilai yang masih berada diatas 0 (nol) dB. yang letaknya paling terjauh, dikarenakan Hal ini mengindikasikan bahwa link teknologi GPON memiliki panjang diatas memenuhi kelayakan link power gelombang asimetrik dalam budget. pentransmisiannya. Sehingga jika untuk ONT 4.1.2 Rise Time Budget terjauh memenuhi kelayakan, maka untuk Rise time budget merupakan metode jarak yang lebih dekat pun akan memenuhi untuk menentukan batasan dispersi suatu link kelayakan.Panjang gelombang untuk uplink serat optik. Metode ini sangat berguna untuk sekitar 1310 nm sedangkan untuk downlink menganalisis sistem transmisi digital. Tujuan sekitar 1490 nm. dari metode ini adalah untuk menganalisis apakah unjuk kerja jaringan secara Perhitungannya dapat diuraikan sebagai keseluruhan telah tercapai dan mampu berikut : memenuhi kapasitas kanal yang diinginkan. Perhitungan Link Power Budget dengan jarak Umumnya degradasi total waktu transisi dari terjauh yaitu 4.77495 Km (3.99335 Km STO link digital tidak melebihi 70 persen dari satu ke ODC, 0.72714 Km ODC ke ODP, 0.05446 periode bit NRZ (Non-Retum-to-Zero) atau 35 Km ODP ke ONT) dengan jalur dari STO persen dari satu periode bit untuk data RZ Gegerkalong ke ODC C lalu ke ODP C41 (Return-to-Zero). Satu periode bit sampai pada ONT didefinisikan sebagai resiprokal dari data rate. Downlink Spesifikasi alat untuk perhitungan rise α  L.α  Nc.α  Ns. α  Sp time budget adalah : tot serat c s  Panjang Gelombang +Redaman Instalasi : 1310 nm dan 1490 nmα tot =  Lebar Spektral (Δσ) (OLT/ONU) (3.99335x0.28)+(0.72714x0.28)+(0.05446x0.28) : 1 nm / 1 nm +(4x0.2)+(4x0.05)+(11+7.8)+2.86497  Rise time sumber cahaya ( ttx)α tot = 23.951 dB (OLT/ONU) : (150x10-3/ 200 x10- 3 )ns Sehingga untuk perhitungan margin daya  Dispersi material (Dm) (1310/1490) adalah sebagai berikut : : (3,56/13,64) ps/nm.Km Pr = Pt - α tot - 6 Pr = 5 – 23.951– 6  Rise time receiver (trx) (OLT/ONU) Pr = – 24.951 dBm  Pengkodean NRZ M = ( Pt – Pr(Sensitivitas)) – α total – SM  Menggunakan Single Mode M = ( 5 + 29 ) – 23.951– 6  Indeks bias inti (n1) M = 4.049 dBm : 1,465 Nilai M yang diperoleh dari hasil  Indeks bias selubung (n2) perhitungan downlink ternyata menghasilkan : 1,46 nilai yang masih berada diatas 0 (nol) dB. Hal  Jari-jari inti (a) ini mengindikasikan bahwa link diatas : 4,5μm memenuhi kelayakan link power budget. Perhitungannya dapat diuraikan sebagai Uplink berikut : Perhitungan Rise Time Budget dengan jarak α  L.α  Nc.α  Ns. α terjauh yaitu 4.77495 Km (3.99335 Km STO tot serat c s + Sp +Redaman Instalasi ke ODC, 0.72714 Km ODC ke ODP, 0.05446 Km ODP ke ONT) dengan jalur dari STO α tot = (3.99335x0.35)+(0.072714x0.35)+( Gegerkalong ke ODC C lalu ke ODP C41 0.05446x0.35)+(4x0.2)+(4x0.05)+(11+7.8)+ sampai pada ONT 2.86497 Downlink α tot = 24.336 dB Bit Rate downlink (Br) = 2.4 Gbps dengan format NRZ, sehingga : Sehingga untuk perhitungan margin daya 0.7 0.7 adalah sebagai berikut : tr =   0.2917ns Pr = Pt - α tot - 6 Br 2.4 x109 Pr = 5 – 24.336- 6 Menentukan t intramodal/ t material Pr = - 25.336 dBm Tmaterial = ∆σ x L x Dm M = ( Pt – Pr(Sessitivitas)) - α total - SM = 1 nm x 4,77495 Km x M = ( 5 + 29 ) – 24.336 – 6 0.01364 ns/nm.Km = 0.0651 ns M = 3.664 dBm ∆s = n1-n2 n1 ∆s = 3.412x10-3 13
  • V = 2π x a x n1 x (2 x ∆s)1/2 sebesar 23.951 dB untuk downlink dan 24.336 dB λ untuk uplink. Hal ini masih berada dalam toleransi V =2 x 3.14 x 4,5 μm x1,465 (2x3.412x10-3)1/2 yang ditetapkan ITU-T G.984 sebesar 28 dB maupun 1,49 μm standar yang dikeluarkan pihak Telkom sebesar 28 = 2,295 dB. Nilai Margin daya yang diperoleh 4.049 dBm twaveguide= L[n2+n2∆(vb)] dari hasil perhitungan downlink dan 3.664 dBm yang C dv diperoleh dari hasil perhitungan uplink ternyata twaveguide= 4774,95 [1,46+1,46x3.412x10-3x1,2] menghasilkan nilai yang masih berada diatas 0 (nol) 3x108 dB. Hal ini mengindikasikan bahwa link memenuhi -5 = 2.333x10 ns kelayakan link power budget. Berdasarkan tintramodal= tmaterial + twaveguide perhitungan kelayakan sistem untuk rise time budget didapatkan rise time total untuk arah downlink Sehingga besarnya untuk serat optik dengan bitrate sebesar 2,4 Gbps, pelanggan terjauhsinglemode: menghasilkan Ttotal sebesar = 0.2583 ns. Ttotal masih ttotal = (ttx² + tintramodal² + tintermodal²+ trx²)½ berada di bawah nilai Tsistem sebesar 0,2917 ns. Dan = [(0.15)² +(2.333x10-5)2+(0.0651)² + uplink dengan bitrate sebesar 1.2 Gbps, pelanggan 2 1/2 terjauh menghasilkan Ttotal sebesar = 0.2505 ns. Ttotal(0) + (0.2)²] = 0.2583 ns masih berada di bawah nilai Tsistem sebesar 0.5833 ns Dari hasil perhitungan rise time total sebesar dengan demikian sistem tersebut masih memenuhi 0.2583 ns masih di bawah maksimum rise rise time budget dengan pengkodean NRZ. time dari bit rate sinyal NRZ sebesar 0.2917 ns. Berarti dapat disimpulkan bahwa sistem 5.2 Saran memenuhi rise time budget. Untuk tugas akhir kedepannya bisa memasukan Uplink faktor ekonomi berupa biaya perancangan. Dan Bit Rate uplink (Br) = 1.2 Gbps dengan perancangan serat optik untuk di gedung-gedung. format NRZ, sehingga : 0.7 0.7 DAFTAR PUSTAKA tr =   0.5833ns Br 1.2 x109 1. Annas, Awaludin. (2010), Perancangan Sistem Menentukan t intramodal Informasi Geografis Sebagai Alat Bantu Tmaterial = ∆σ x L x Dm Perancangan Jaringan Optik Layanan Triple = 1 nm x 4.77495 Km x 0.00356 Play (Studi Kasus: Wilayah Bandung Turangga). ns/nm.Km = 0.0169 ns Tugas Akhir Institut Teknologi Telkom. ∆s = 3.412x10-3 2. B. Amar,” PERANCANGAN JARINGAN OPTIK V =2 x 3.14 x 4,5 μm x1,465 (2x3.412x10-3)1/2 UNTUK LAYANAN INTERNET DENGAN 1,31 μm MENGGUNAKAN TEKNOLOGI GPONSTUDI = 2,610 KASUS GEDUNG WISMA LIPPO BANDUNG”, twaveguide= 4774,95 [1,46+1,46x3.412x10-3x1,25] Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, Bandung, 3x108 2008. = 2.333x10-5 ns 3. Dwi Safitri.Rinna,” EVALUASI PERANCANGAN JARINGAN FTTH (Fiber To TheHome) Sehingga besarnya untuk serat optik DENGAN TEKNOLOGI GPON (Gigabit Passive singlemode: Optical Network) (Studi Kasus Plaza 1 Pondok ttotal = (ttx² + tintramodal² + tintermodal²+ trx²)½ Indah Jakarta Selatan)”, Institut Teknologi = [(0.2)² +(2.333x10-5)2+(0.0169)² + Telkom, Bandung, 2011. (0) + (0.15)²]1/2 2 4. Fitriani,”ANALISIS PERFORMANSI = 0.2505 ns TEKNOLOGI GPON UNTUK LAYANAN Dari hasil perhitungan rise time total sebesar BROADBAND STUDI KASUS TELKOM RDC 0.2505 ns masih dibawah maksimum rise BANDUNG”, IT TELKOM,Bandung, 2008 time dari bit rate sinyal NRZ sebesar 0.5833 5. “FTTH Fiber To The Home.” ns. Berarti dapat disimpulkan bahwa sistem http://www.opfibrecorp.com/info/articles/fttb.htm memenuhi rise time budget. l (diakses tanggal 19 juni 2012). 6. Hertianan.S.N. “Diktat Rekayasa Trafik : BAB V Peramalan Trafik Untuk Peramalan jaringan “, KESIMPULAN DAN SARAN STT Telkom. 7. “Huinghong Technologies Limited.”5.1 Kesimpulan http://HuinghongFiber.com (diakses tanggal 24 Jaringan eksisting sekarang perlu diadakan Februari 2012) tambahan kapasitas jaringan dan migrasi dari kabel 8. ITU-T Recommendation G.652 (2009), tembaga menjadi jaringan akses FTTH Characteristics of single-mode optical fibre and menggunakan teknologi GPON di perumahan Setra cable. duta. Berdasarkan hasil perancangan untuk 9. ITU-T Recommendation G.657 (2009), perhitungan kelayakan sistem untuk link Power Characteristics of a bending-loss insensitive Budget didapatkan redaman total pada jarak terjauh 14
  • single-mode optical fibre and cable for the access network.10. ITU-T Recommendation G.984.2 (2003) , Gigabit – Capable Passive Optical Network (G- PON) : Physical Media Dependent (PMD) Layer Spesefication.11. “Produk dan layanan” http://www.telkom.co.id/produk-layanan/ (diakses tanggal 30 juni 2012).12. Rosanti rahayu “PERANCANGAN JARINGAN FIBER TO THE HOME (FTTH) DENGAN TEKNOLOGI GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK (GPON) (STUDI KASUS DI BUAH BATU REGENSI BANDUNG)”, Intitut teknologi telkom, Bandung, 2012.13. Telkom Risti, “Pedoman Perancangan Jarlokaf’,199614. Wahyu amalia, “Jaringan dan Analisis dan perancangan optik menggunakan teknologi GPON studi kasus telkom RDC, Institut Telkom,Bandung, 2010.15. Waluyo “Analisis Sistem Komunikasi Fiber Optik Single Mode”, Politeknik negeri Malang, 2009. 15