Masalah pengupahan di indonesia

7,465
-1

Published on

File yang berisi ulasan mengenai tata cara perhitungan Pajak Penghasilan, Pengupahan dan peraturannya di Indonesia, Menghitung Pajak THR, Bonus dan sejenisnya, menjawab pertanyaan karyawan awam mengenai pajak penghasilan dan HRD dalam menjelaskan mengenai pajak penghasilan dan peraturan-peraturan mengenai pengupahan, asas No Work No Pay, Perhitungan Hak PHK, Penguangan Cuti, dan masalah pertanyaan mengenai Upah

Published in: Business
1 Comment
6 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
7,465
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
1
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Masalah pengupahan di indonesia

  1. 1. Masalah Pengupahan di Indonesia <ul><li>Hak Karyawan atas GAJI dan Pedoman Menghitung: </li></ul><ul><li>Pajak atas Gaji </li></ul><ul><li>Masalah Pembayaran Hak terkait dengan PHK </li></ul><ul><li>Masalah Perlindungan Upah di Indonesia </li></ul>Dirangkum oleh: Bowo Trahutomo Suharso,SE,CBA,CPHR
  2. 2. Pajak Penghasilan Penghitungan Pajak atas Upah <ul><li>Setiap warga negara dikenakan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak dengan nama dalam bentuk apapun termasuk atas penghasilan pekerjaan. </li></ul><ul><li>Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima atau di peroleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa dan kegiatan. </li></ul><ul><li>Penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 adalah penghasilan dari pegawai atau orang yang berstatus: </li></ul><ul><li>Pegawai Tetap </li></ul><ul><li>Tenaga lepas </li></ul><ul><li>Penerima Pensiun, mantan pegawai, termasuk org pribadi atau ahli warisnya yg menerima Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua </li></ul><ul><li>Penerima Honorarium </li></ul><ul><li>Penerima upah </li></ul><ul><li>Tenaga Ahli (Pengacara, Akuntan, Arsitek, Dokter, Konsultan, Notaris, Penilai, dan Aktuaris) </li></ul>Bag.1 Pajak Penghasilan
  3. 3. Tarif dan Penerapannya <ul><li>Pegawai Tetap, penerima pensiun bulanan, pegawai tidak tetap, pemagang, dan calon pegawai, serta distributor MLM / direct selling dan kegiatan sejenis, dikenakan tarif Pasal 17 Undang-Undang PPh dikalikan dengan Penghasilan Kena Pajak (PKP). </li></ul><ul><li>PKP dihitung berdasarkan sebagai berikut: </li></ul><ul><li>Pegawai Tetap, Penghasilan bruto dikurangi Biaya Jabatan 5% dari penghasilan Bruto, Maksimum adalah (Mulai berlaku 1 Januari 2009) Rp.500.000,- /bulan atau setinggi-tingginya Rp.6.000.000,- per tahun. Biaya jabatan diperhitungkan berdasarkan masa kerja. </li></ul><ul><li>Misalkan pegawai kerja dari Januari s/d Juni 2009: Jika brutonya Rp.70 juta, maka biaya jabatan yang bisa dikurangkan 70 juta x 5% = 3.5 juta, tetapi berhubung 3.5 juta melebihi 6 x 500.000 = 3 juta, maka biaya jabatan yang bisa dikurangkan sebesar 3 juta. Contoh-II: Jika brutonya 50 juta, maka biaya jabatannya 50 juta x 5% = 2,5 juta. </li></ul><ul><li>(Dasar Hukum: UU Nomor 36 tahun 2008 - UU ini mulai berlaku 1 Januari 2009) </li></ul><ul><li>Dikurangi lagi iuran pensiun, Iuran Jaminan Hari Tua, dikurangi lagi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). </li></ul>Bag.1 Pajak Penghasilan
  4. 4. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) <ul><li>Diri Sendiri Rp. 15,84 juta </li></ul><ul><li>Tambahan WP Kawin Rp. 1,32 juta </li></ul><ul><li>Tambahan Istri Bekerja Rp. 15,84 juta </li></ul><ul><li>Tambahan Tanggungan Rp. 1,32 juta (Maksimal 3 orang) </li></ul><ul><li>Contoh Perhitungan PTKP: </li></ul><ul><li>Ketr. Wajib Pajak Kawin Tanggungan Jumlah PTKP </li></ul><ul><li>TK 15.840.000 - - 15.840.000 </li></ul><ul><li>K/0 15.840.000 1.320.000 - 17.160.000 </li></ul><ul><li>K/1 15.840.000 1.320.000 1.320.000 18.480.000 </li></ul><ul><li>K/2 15.840.000 1.320.000 2.640.000 19.800.000 </li></ul><ul><li>K/3 15.840.000 1.320.000 3.960.000 21.120.000 </li></ul><ul><li>TK/1 15.840.000 1.320.000 17.160.000 </li></ul><ul><li>TK/2 15.840.000 2.640.000 18.480.000 </li></ul><ul><li>TK/3 15.840.000 3.960.000 19.800.000 </li></ul><ul><li>Keterangan: </li></ul><ul><li>TK = Tidak Kawin </li></ul><ul><li>K/1 = Kawin, tanggungan 1 orang </li></ul>Bag.1 Pajak Penghasilan
  5. 5. Tarif Pajak Penghasilan pasal 17 <ul><li>Perubahan Tarif yang mulai Berlaku 1 Januari 2009: </li></ul>Bag.1 Pajak Penghasilan No. Lapisan Penghasilan Tarif 1. S.d. Rp 50.000.000,- 5% 2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000 15% 3. Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp 500.000.000,- 25% 4. Di atas Rp500.000.000,- 30%
  6. 6. Perhitungan PPh 21, contoh 1: Bag.1 Pajak Penghasilan 1. Daniel adl karyawan PT. Wijaya, telah bekerja 3 tahun, dapat gaji & tunjangan sebesar Rp.1.600.000,- sebulan. Status Daniel adalah Lajang (Tidak Kawin/TK). Berapakah PPh Sdr.Daniel untuk setahun? Penghitungannya adalah sebagai berikut: Gaji dan Tunjangan Tetap setahun : 19.200.000 Premi Asuransi : 588.480 + 19.788.480 THR 1.600.000 + 21.388.480 Biaya Jabatan (5%x Upah) 1.069.424 JHT (2% x Upah) 384.000 - Penghasilan Neto 19.935.056 PTKP (Tidak Kawin) 15.840.000 - PKP 4.095.056 PPh psl.21 ( 5% x 4.095.056 ) Rp.204.753,- / thn
  7. 7. Perhitungan PPh 21, contoh 2: Bag.1 Pajak Penghasilan II. David pegawai pada perusahaan PT Satrio, menikah tanpa anak, memperoleh gaji sebulan Rp. 4.000.000,00. PT Satrio mengikuti program Jamsostek, premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing 0,50% dan 0,30% dari gaji. Perusahaan menanggung iuran Jaminan Hari Tua setiap bulan sebesar 3,70% dari gaji sedangkan David membayar iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00% dari gaji setiap bulan. Disamping itu Perusahaan juga mengikuti program pensiun untuk pegawainya. PT Satrio membayar iuran pensiun untuk David ke dana pensiun, yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, setiap bulan sebesar Rp. 140.000,00, sedangkan David membayar iuran pensiun sebesar Rp.100.000,00. Gaji sebulan 4.000.000 Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 20.000 Premi Jaminan Kematian 12.000 Jumlah Penghasilan Bruto 4.032.000 Pengurangan : 1. Biaya Jabatan 201.600 2. Iuran Pensiun 100.000 3. Iuran Jaminan Hari Tua 80.000 Jumlah Pengurangan -381.600 Penghasilan Neto Sebulan 3.650.400
  8. 8. Perhitungan PPh 21, contoh 2 (lanjutan): Bag.1 Pajak Penghasilan Langkah Pengerjaan: Langkah pertama kita menjumlahkan penghasilan bruto. Penghasilan bruto ini adalah seluruh penghasilan yang diterima oleh karyawan atau pegawai secara teratur dalam sebulannya. Yang termasuk dalam penghasilan bruto ini misalnya adalah gaji, tunjangan-tunjangan, uang lembur dan premi asuransi yang ditanggung oleh perusahaan. Tidak termasuk dalam penghasilan bruto adalah imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan. Dalam contoh di atas penghasilan bruto yang menjadi objek PPh Pasal 21 adalah gaji, premi jaminan kecelakaan kerja (5% dari gaji) dan premi jaminan kematian (0,3% dari gaji) yang dibayar atau ditanggung perusahaan. Penghasilan Neto Sebulan 3.650.400 Penghasilan Neto Setahun 43.804.800 PTKP - Diri WP Sendiri 15.840.000 - Status Kawin 1.320.000 Jumlah PTKP 17.160.000 Penghasilan Kena Pajak Setahun 26.644.800 Pembulatan 26.644.000 PPh Pasal 21 Setahun 5% x Rp26.644.000 1.332.200 PPh Pasal 21 Sebulan Rp1.332.200 / 12 111.017
  9. 9. Perhitungan PPh 21, contoh 2 (lanjutan-II): Bag.1 Pajak Penghasilan Langkah Pengerjaan (Lanjutan): Langkah II: hitung pengurang yang diperbolehkan yaitu pada dasarnya ada dua macam yaitu: biaya jabatan dan iuran pensiun (termasuk iuran jaminan hari tua). Biaya jabatan sendiri besarnya 5% dari penghasilan bruto 5% x Rp.4.032.000,00 atau sama dengan Rp.201.600,00. Jumlah ini masih di bawah maksimum yang diperkenankan yaitu sebesar Rp.500.000,00 per bulan. Pengurang lainnya adalah iuran pensiun dan iuran JHT yang masing-masing Rp.100.000,00 dan Rp.80.000,00 (2% dari gaji) per bulan. Iuran pensiun dan iuran JHT yang dibayar atau ditanggung oleh perusahaan tidak dapat dikurangkan. Dengan demikian, jumlah seluruh pengurang adalah Rp381.600,00. Penghasilan bruto Rp.4.032.000,00 dikurang pengurang Rp381.600 = Rp3.650.400,00. Jumlah inilah yang dimaksud dengan penghasilan neto sebulan. Penghasilan neto sebulan ini kita buat setahunkan dengan cara penghasilan neto sebulan dikali 12 bulan atau Rp3.650.400 x 12 = Rp43.804.800,00. Kurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang dalam hal ini jumlahnya adalah Rp.17.160.000,00. Selisihnya (Rp.43.804.800 – Rp.17.160.000,00 = Rp.26.644.800) inilah Penghasilan Kena Pajak. Sebelum dikalikan tarif pajak, Penghasilan Kena Pajak tersebut harus dibulatkan dulu ribuan penuh ke bawah. Pajak Penghasilan terutang adalah tarif pajak (berdasarkan tarif Pasal 17 UU Pajak Penghasilan) dikalikan Penghasilan Kena Pajak. Karena Penghasilan Kena Pajak ini masih di bawah Rp50.000.000,- maka tarif yang dikenakan adalah 5% sehingga PPh Pasal 21 nya adalah 5% x Rp26.644.800,00 = Rp1.332.200,00. PPh Pasal 21 untuk sebulan, maka PPh Pasal 21 terutang dibagi 12
  10. 10. Menghitung Pajak THR, Bonus, dan jenis Penghasilan Tak Teratur lainnya Bag.1 Pajak Penghasilan Dasar hukum pemotongan PPh Pasal 21 atas THR ini adalah Pasal 21 Undang-undang Pajak Penghasilan dan petunjuk pemotongan PPh Pasal 21 yang diatur dalam Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-545/PJ/2000 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-15/PJ/2006 . THR dikelompokkan sebagai penghasilan tidak teratur di mana teman-temannya adalah bonus, jasa produksi, gratifikasi, tantiem. Penghasilan-penghasilan ini disebut tidak teratur karena tidak diberikan tiap bulan tetapi biasanya setahun sekali. Kutipan dari buku Peraturan Pajak Penghasilan adalah sebagai berikut: Apabila kepada pegawai tetap diberikan jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus, premi, tunjangan hari raya, dan penghasilan lain semacam itu yang sifatnya tidak tetap dan biasanya dibayarkan sekali setahun, maka PPh Pasal 21 dihitung dan dipotong dengan cara sebagai berikut : a. dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan ditambah dengan penghasilan tidak teratur berupa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya. b. dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan tanpa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya c. selisih antara PPh Pasal 21 menurut penghitungan huruf a dan huruf b adalah PPh Pasal 21 atas penghasilan tidak teratur berupa tantiem, jasa produksi, dan sebagainya.
  11. 11. Menghitung Pajak THR, Bonus, dan jenis Penghasilan Tak Teratur lainnya (..Lanjutan) Bag.1 Pajak Penghasilan Yang dimaksud dengan penghasilan teratur adalah penghasilan yang biasanya diterima tiap bulan seperti gaji, tunjangan, uang lembur dll. Dengan rumus sedrhana bisa saya tuliskan sebagai berikut : PPh Pasal 21 atas THR = ( PPh Pasal 21 setahun atas penghasilan teratur dan THR ) – ( PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur saja ) Contoh Perhitungan Pajak THR : Ajeng (status lajang tanpa tanggungan), pegawai pada PT B, bulan September 2011 ini mendapat penghasilan berupa gaji dan tunjangan sebesar Rp3.000.000,-. Di samping itu Ajeng juga diberikan tunjangan hari raya sebesar Rp.5.000.000,-. Iuran pensiun setahun yang dipotong dari gaji adalah Rp100.000,-. A. PPh Pasal 21 Setahun Atas Penghasilan Teratur dan THR : Penghasilan teratur setahun  Rp.3.000.000,- x 12 bulan   = Rp36.000.000,- Penghasilan THR =  Rp.5.000.000,- Jumlah Penghasilan Bruto Setahun  Rp.36.000.000,- + Rp.5.000.000,-  = Rp 41.000.000,- Biaya Jabatan  5% x Rp.41.000.000,- = Rp2.050.000,- Iuran Pensiun  12 x Rp100.000,-   = Rp1.200.000,- Jumlah Pengurang  Rp.2.050.000,- + Rp1.200.000,-   = Rp.3.250.000,- Penghasilan Neto  Rp.41.000.000 – Rp.3.250.000  =  Rp.37.750.000,-
  12. 12. Menghitung Pajak THR, Bonus, dan jenis Penghasilan Tak Teratur lainnya (..Lanjutan) Bag.1 Pajak Penghasilan A. PPh Pasal 21 Setahun Atas Penghasilan Teratur dan THR :..(Lanjutan) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) =  Rp.15.840.000,- Penghasilan Kena Pajak  Rp. 37.750.000 – Rp.15.840.000  =  Rp21.910.000,- PPh Pasal 21  (5% x Rp.21.910.000) =  Rp1.095.500,-  <—– Nilai A B. PPh Pasal 21 Setahun Atas Penghasilan Teratur Saja : Penghasilan teratur setahun  Rp.3.000.000,- x 12 bulan   = Rp36.000.000,- Biaya Jabatan  5% x Rp.36.000.000,- = Rp1.800.000,- Iuran Pensiun  12 x Rp100.000,-   = Rp1.200.000,- Jumlah Pengurang  Rp1.800.000,- + Rp1.200.000,-  = Rp.3.000.000,- Penghasilan Neto  Rp.36.000.000 – Rp.3.000.000,-   = Rp. 33.000.000,- Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) =  Rp15.840.000,- Penghasilan Kena Pajak  Rp.33.000.000 – Rp15.840.000  =  Rp.17.160.000,- PPh Pasal 21  5% x Rp.17.160.000  =  Rp.858.000,-  <—– Nilai B C. PPh Pasal 21 Atas THR : Nilai A – Nilai B =   1.095.500 – 858.000   =  Rp.237.000,- <—— Nilai C
  13. 13. Perhitungan Hak yang terkait PHK <ul><li>Detail peraturan mengenai Hak-Hak Karyawan terkait dengan Pemutusan Hubungan Kerja dapat Anda baca di Undang-Undang Tenaga Kerja No.13 th.2003: </li></ul><ul><li>Uang Pesangon: UU no.13/2003 Pasal 156 ayat 2 </li></ul><ul><li>Uang Penghargaan Masa Kerja: UU No.13/2003 Pasal 156 ayat 3 </li></ul><ul><li>Uang Penggantian Hak: UU no.13/2003 Pasal 156 ayat 4 </li></ul><ul><li>Uang Pisah: ditentukan Perusahaan dalam PP atau PKB bersama SP. </li></ul><ul><li>Dari Peraturan diatas, dapat diklasifikasikan sbb: </li></ul><ul><li>Pekerja yang berhak mendapatkan Uang Pesangon 2 (dua) kali ketentuan pasal 156 ayat 2 adalah: </li></ul><ul><li>a. Pekerja yang mencapai Usia Pensiun. </li></ul><ul><li>b. Pekerja yang meninggal dunia </li></ul><ul><li>c. Perusahaan tutup karena efisiensi </li></ul><ul><li>d. Perubahan status, penggabungan, peleburan, perubahan kepemilikan dan apabila perusahaan tidak bersedia menerima pekerja bekerja di perusahaan baru hasil penggabungan tersebut. </li></ul>Bag.1I Perhitungan PHK
  14. 14. <ul><li>Detail peraturan mengenai Hak-Hak Karyawan terkait dengan Pemutusan Hubungan Kerja (lanjutan..) </li></ul><ul><li>Pekerja yang berhak mendapatkan Pesangon 1 (satu) kali ketentuan pasal 156 ayat 2 adalah: </li></ul><ul><li>a. Pekerja yang melakukan kesalahan ringan </li></ul><ul><li>b. Perusahaan tutup karena rugi terus menerus </li></ul><ul><li>c. Perubahan status, penggabungan, peleburan, perubahan kepemilikan, dan bila pekerja tidak bersedia melanjutkan hubungan kerja. </li></ul><ul><li>d. Perusahaan pailit. </li></ul><ul><li>Pekerja yang tidak mendapatkan pesangon adalah: </li></ul><ul><li>a. Pekerja yang mengundurkan diri </li></ul><ul><li>b. Berakhirnya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. </li></ul><ul><li>c. Mangkir selama 5 (lima) hari berturut-turut (tetap mendapatkan uang Pisah) </li></ul><ul><li>d. Pekerja ditahan pihak berwajib (mendapatkan uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan. </li></ul>Perhitungan Hak yang terkait PHK Bag.1I Perhitungan PHK
  15. 15. <ul><li>Kasus-1 : </li></ul><ul><li>Dono adalah karyawan PT. Maju Niaga yang bergerak di bidang percetakan, dengan masa kerja 14 tahun. Dua tahun terakhir order perusahaan sangat menurun drastis sehingga rugi. Perusahaan melakukan perampingan dengan pengurangan karyawan, termasuk Dono. Sisa Cuti yang belum digunakan ada 7 hari. Gaji terakhir Dono adalah Rp.4.300.000,- dengan perincian sbb: </li></ul><ul><li>Gaji Pokok : Rp.2.400.000,- </li></ul><ul><li>Tunjangan Tetap : </li></ul><ul><li>Tunjangan Masa Kerja: Rp. 400.000,- </li></ul><ul><li>Tunjangan Jabatan : Rp.400.000,- </li></ul><ul><li>Tunjangan Tidak Tetap : </li></ul><ul><li>Tunjangan Makan : Rp.550.000,- </li></ul><ul><li>Tunjangan Kehadiran : Rp.550.000,- </li></ul><ul><li>Pertanyaan : Termasuk kriteria apa alasan PHK Sdr.Dono? Dan Berapa Pesangonnya? </li></ul><ul><li>Jawab : Kriteria PHK Sdr.Dono adalah alasan efisiensi. Sesuai ketentuan, bagi Pekerja yang diakhiri hubungan kerja nya karena efisiensi, pekerja tersebut berhak atas uang pesangon 2 x ketentuan pasal 156 ayat 2 dan Uang Penghargaan Masa Kerja 1 x ketentuan pasal 156 ayat 3 dan Uang Penggantian Hak sesuai ketentuan pasal 156 ayat 4, tapi tidak berhak atas Uang Pisah. Total adalah sbb: </li></ul><ul><li>Uang Pesangon: 2 x Psl.156 ay.2 = 2 x 9 bln Upah = 18 bulan </li></ul><ul><li>Uang Penghargaan Masa Kerja: 1 x Psl.156 ay.3 = 1 x 5 bln = 5 bln </li></ul><ul><li>Uang Penggantian Hak: 15% (a+b) + Sisa Cuti 7 hari yg belum diambil. </li></ul>Perhitungan Hak yang terkait PHK – Contoh Kasus dan Hitungannya: Bag.1I Perhitungan PHK
  16. 16. <ul><li>JAWABAN Kasus-1 : </li></ul><ul><li>Sesuai Ketentuan, untuk menghitung Pesangon adalah Upah Pokok di tambah Tunjangan Tetap yaitu: Rp.2.400.000,- + (Rp.400.000,- +Rp.400.000,-) = Rp.3.200.000,- </li></ul><ul><li>Jadi: </li></ul><ul><li>Uang Pesangon 18 bln = 18 x Rp.3.200.000 = Rp.57.600.000,- </li></ul><ul><li>Uang Penghargaan Masa Kerja 5 bulan = 5 x Rp.3.200.000 = Rp.16.000.000,- </li></ul><ul><li>Uang Penggantian Hak = 15% x (18+5) = 15% x 23 x Rp.3.200.000 , = Rp.11.040.000,- </li></ul><ul><li>Sisa Cuti 7 Hari yang belum diambil = </li></ul><ul><li>Rp.3.200.000,- / 30 hari x 7 hari = Rp. 746.000,- </li></ul><ul><li>Maka Total Uang Pesangon yang diterima Dono adalah sebesar: </li></ul><ul><li>Rp.57.600.000,- + Rp.16.000.000,- + Rp.11.040.000,- + Rp.746.000,- = Rp.85.386.600,- </li></ul><ul><li>___________________________________________________________________ </li></ul><ul><li>Kasus II: </li></ul><ul><li>Dini karyawan PT. Bunny dengan masa kerja 7 tahun. Total Gaji terakhir nya adalah: Rp.2.950.000,- + Tunjangan Makan dan Kehadiran: Rp.550.000,-. Dini mengajukan resign karena ingin jadi wiraswasta. 30 Hari sebelum hari-H, dia telah mengajukan surat resign. Saat ini PT. Bunny belum ada ketentuan mengenai Uang Pisah. Dini memiliki sisa cuti 4 hari. </li></ul><ul><li>Pertanyaaan: </li></ul><ul><li>Apakah Dini berhak mendapatkan Uang Pesangon? Dan bagaimana perhitungan Hak nya? </li></ul>Perhitungan Hak yang terkait PHK – Contoh Kasus & Hitungannya (lanjutan.) Bag.1I Perhitungan PHK
  17. 17. <ul><li>JAWABAN Kasus-1I : </li></ul><ul><li>Kriteria PHK yang dialami Dini adalah PHK dengan alasan pengunduran diri. Sesuai ketentuan, pekerja tersebut tidak berhak mendapat uang pesangon dari psl 156 ayat 2 dan juga tidak berhak mendapat uang penghargaan masa kerja sesuai ketentuan pasal 156 ayat 3. Dini berhak mendapat Uang Penggantian Hak ketentuan pasal.156 ayat 4. </li></ul><ul><li>Berhubung PT. Bunny belum memiliki ketentuan Uang Pisah, maka Dini hanya akan mendapatkan Uang Penggantian Hak Hak: </li></ul><ul><li>Uang Pesangon: 0 x psl.156 ayat 2 = 0 x 0 bulan = 0 </li></ul><ul><li>Uang Penghargaan Masa Kerja = 0 x 0 bulan = 0 </li></ul><ul><li>Uang Penggantian Hak: 15% x (a+b) + Sisa Cuti 4 hari </li></ul><ul><li>Sisa Cuti= Rp.2.950.000/ 30 hari x 4 hari = Rp.393.000,- </li></ul><ul><li>Apabila Perusahaan sudah memiliki ketentuan Uang PIsah, Dini bisa mendapatkan Uang Pisah selain dari peng-uang-an Sisa Hak Cuti. </li></ul><ul><li>------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- </li></ul><ul><li>Kasus III : </li></ul><ul><li>Sdr. Kasino bekerja di PT. Indro selama 11 thn dan gaji terakhirnya Rp.4.250.000,- PT. Indro adalah perusahaan kimia yg sangat rentan kebakaran, oleh karena itu diberlakukan larangan merokok di semua area. Pelanggaran dapat dikategorikan pelanggaran yang dikenakan Surat Peringatan. Kasino melanggar ketentuan ini dan mendapat surat PHK. Pertanyaan: </li></ul><ul><li>Apa kriteria alasan PHK sdr. Kasino? </li></ul><ul><li>Apakah Sdr. Kasino berhak mendapat Pesangon? </li></ul>Perhitungan Hak yang terkait PHK – Contoh Kasus & Hitungannya (lanjutan.) Bag.1I Perhitungan PHK
  18. 18. <ul><li>JAWABAN Kasus-III : </li></ul><ul><li>Kriteria PHK Sdr. Kasino adalah melakukan pelanggaran ringan. Sesuai ketentuan: Pekerja yang melakukan pelanggaran ringan dan setelah di proses ada penetapan dari pengadilan Hubungan Industrial (PHI) untuk di akhiri Hubungan Kerjanya, maka bagi pekerja tersebut berhak mendapatkan uang pesangon 1 kali sesuai ketentuan pasal 156 ayat 2 dan uang penghargaan masa kerja 1 kali ketentuan pasal 156 ayat 3 dan Uang Penggantian Hak sesuai ketentuan pasal 156 ayat 4, tapi tidak berhak atas Uang Pisah. Sisa Hak Cuti = 0, berarti tidak ada penguangan atas sisa Hak Cuti. </li></ul><ul><li>Kalau Sdr. Kasino sudah menerima penetapan PHK setelah mendapat SP-III maka tidak perlu mendapat penetapan dari PHI. Perusahaan hanya perlu mendaftarkan ke PHI untuk mendapatkan Akta nomor penetapan PHK ny saja. </li></ul><ul><li>Gaji Pokok + Tunjangan Jabatan (Tunj.Tetap) = Rp.3.400.000,- </li></ul><ul><li>Tunjangan Tidak Tetap = Rp.850.000,- </li></ul><ul><li>Pesangon yang di dapatkan sbb: </li></ul><ul><li>Uang Pesangon: 1 x psl.156 ayat 2= 1 x 9 bulan = 9 bulan x Rp.3.400.000 = Rp.30.600.000 </li></ul><ul><li>Uang Penghargaan Masa Kerja: 1 x pasal 156 ayat 3 = 4 bulan x Rp.3.400.000 = Rp.13.600.000 </li></ul><ul><li>Uang Penggantian Hak = 15% x (a + b) = 15% x 13 x Rp.3.400.000 = Rp.6.630.000,- </li></ul><ul><li>Total Uang Pesangon adalah sebesar: a + b + c = Rp.50.830.000,- </li></ul><ul><li>Harus dibuat Perjanjian Bersama, dan Tanda Terima diatas Materai Rp.6.000,- </li></ul>Perhitungan Hak yang terkait PHK – Contoh Kasus & Hitungannya (lanjutan.) Bag.1I Perhitungan PHK
  19. 19. Pemotongan Upah dan Denda <ul><li>Upah Selama Tidak Masuk Kerja: </li></ul><ul><li>Asas No Work No Pay berlaku bagi Pekerja yang tidak bekerja / tidak produktif. Pengecualian atas asas ini adalah apa yang dituliskan dalam UU Tenaga Kerja No.13 thn.2003 pasal 93 ayat 1. </li></ul><ul><li>Perusahaan juga wajib membayar upah pekerja atas cuti khusus sbb : </li></ul><ul><li>Pekerja menikah: 3 hari </li></ul><ul><li>Pekerja menikahkan anak: 2 hari </li></ul><ul><li>Khitan anak: 2 hari </li></ul><ul><li>Baptis anak: 2 hari </li></ul><ul><li>Istri Melahirkan/keguguran kandungan: 2 hari </li></ul><ul><li>Anggota Keluarga 1 rumah meninggal: 1 hari </li></ul><ul><li>Suami, istri, orang tua/mertua, anak, menantu meninggal: 2 hari </li></ul><ul><li>Pekerja Sakit Berkepanjangan, Perusahaan wajib membayar upahnya sbb : </li></ul><ul><li>4 bulan pertama: dibayar 100% dari upah </li></ul><ul><li>4 bulan kedua: dibayar 75% dari upah </li></ul><ul><li>4 bulan ketiga: dibayar 50% dari upah </li></ul><ul><li>Bulan selanjutnya, dibayar 25% upah sebelum dilakukan proses PHK </li></ul>Bag.III Pemotongan Upah dan Denda
  20. 20. Pemotongan Upah dan Denda <ul><li>CUTI: adalah istirahat tahunan yang dapat diambil pekerja setelah bekerja selama 12 bulan berturut-turut. </li></ul><ul><li>Kebijakan mengenai Cuti diatur dalam UU Tenaga Kerja no.13 /2003 pasal 79 </li></ul><ul><li>Bagaimana jika Cuti tidak diambil? </li></ul><ul><li>Hak Cuti gugur bilamana dalam waktu 6 bulan setelah timbulnya Hak, pekerja ternyata tidak menggunakan bukan karena alasan yang diberikan oleh Atasan atau alasan yang istimewa. </li></ul><ul><li>Apabila Cuti yang tidak diambil, atas kesepakatan Perusahaan boleh dibayarkan dengan uang, maka perhitungannya adalah sbb: </li></ul><ul><li>(Gaji Pokok + Tunjangan Tetap) / 30 x jumlah sisa hak cuti. </li></ul><ul><li>ISTIRAHAT PANJANG: kebijakan ini tertuang dalam KEPMEN no.51/MEN/IV/2004 Tentang Istirahat Panjang pada perusahaan tertentu. Cuti panjang ini diberikan setelah masa kerja 6 tahun secara terus menerus di perusahaan yang sama. </li></ul><ul><li>Dalam UU no.13 thn.2003 pasal 79 ayat 2 huruf d: istirahat panjang sekurang-kurangnya dua bulan, dilaksanakan di tahun ke 7 dan ke 8, masing-masing 1 bulan. </li></ul>Bag.III Pemotongan Upah dan Denda
  21. 21. Pembayaran Upah dan Denda Keterlambatan <ul><li>Jika Perusahaan tidak menjalankan kesepakatan berupa pembayaran lewat dari satu bulan, maka digolongkan “Terlambat Membayar Upah”. Dengan demikian berlaku ketentuan sbb: </li></ul><ul><li>Dihitung sejak hari ke-empat keterlambatan membayar upah s/d hari ke delapan, pengusaha wajib menambah 5% dari total upah yang diterima dalam satu bulan. </li></ul><ul><li>Setelah hari ke delapan atau mulai dari hari ke sembilan, ditambah 1% untuk tiap hari keterlambatan dan maksimum berlaku satu bulan dan nilainya tidak boleh lebih dari 50% dari upah yang seharusnya dibayar. </li></ul><ul><li>Apabila setelah satu bulan pengusaha belum juga bayar upah pekerja tsb, maka perusahaan wajib membayar bunga yang ditetapkan Bank yang nilainya sebesar bunga kredit ybs. </li></ul><ul><li>Contoh kasus : </li></ul><ul><li>Indro bekerja sejak th.1994. Total gaji: Rp.3.900.000,- Perusahaan belum membayar gaji bulan Juni, dan akan dibayar tgl.2 Agustus. Berapakah Perusahaan harus membayar gaji Indro bulan Juni beserta denda, dan gaji bulan Juli? </li></ul><ul><li>Perhitungannya adalah sebagai berikut: </li></ul>Bag.III Pemotongan Upah dan Denda
  22. 22. Pembayaran Upah dan Denda Keterlambatan ( lanjutan.. ) <ul><li>Total waktu keterlambatan yang dilakukan perusahaan adalah satu bulan, maka perhitungannya adalah sbb: </li></ul><ul><li>Dihitung sejak hari ke-empat sampai hari ke-delapan, Perusahaan wajib membayar gaji + 5% dari Gaji bulan Juni. Maka tambahan denda keterlambatan: 5% x Rp.3.900.000 = Rp. 195.000 , -. </li></ul><ul><li>Setelah hari ke-8 atau mulai hari ke-9, ditambah 1% dari total yg diterima 1 bulan utk setiap hari keterlambatan s/d akhir bulan. Hari ke-9 s/d hari ke-30 = 22 hari. Maka: 1% x Rp.3.900.000,- = Rp.39.000,- </li></ul><ul><li>Jadi: 22 hari x Rp.39.000,- = Rp.858.000,- </li></ul><ul><li>Jadi Total yang harus dibayar Perusahaan dan keterlambatan adalah: </li></ul><ul><li>Gaji bulan Juni sebesar Rp.3.900.000,- </li></ul><ul><li>Denda keterlambatan: Rp.195.000,- + 858.000 = Rp.1.053.000,- </li></ul><ul><li>Gaji Bulan Juli sebesar Rp.3.900.000,- </li></ul><ul><li>Total yang harus dibayar Perusahaan untuk bulan JUNI dan JULI adalah: Rp.3.900.000+ 1.053.000+ 3.900.000,- = Rp.8.053.000,- </li></ul><ul><li>*. Ketentuan Pasal 19 lampiran 1 PP no.8 th.1981 ttg Perlindungan Upah ayat 2 mengatakan: bila sesudah 1 bulan upah masih belum dibayar maka pengusaha diwajibkan pula membayar bunga ; dan acuannya adalah trend bunga yg berlaku umum di pasar pada saat itu. </li></ul>Bag.III Pemotongan Upah dan Denda
  23. 23. PERLINDUNGAN UPAH dan SANKSI <ul><li>Hak atas upah adalah hal normatif pekerja dan dilindungi Undang-Undang. Bila Pekerja tidak melakukan kewajibannya, maka tidak dibayar (asas No Work No Pay). Dan bila Perusahaan tidak membayar atau terlambat membayar Upah Pekerja yang sudah melaksanakan tugas, maka pengusaha tersebut dikenakan denda atau sanksi. </li></ul><ul><li>Pasal dalam UU Tenaga Kerja no.13 /2003 mengenai Upah: </li></ul><ul><li>Pengusaha membayar Upah lebih rendah dari Upah minimum (pasal 90 ay.1), sanksi ditetapkan di pasal 185. </li></ul><ul><li>Bila Pengusaha tidak membayar upah pekerja yang tidak bekerja karena alasan-alasan di pasal 93 (yg mana Pengusaha seharusnya tetap membayar): sanksi di Pasal 186 </li></ul><ul><li>Bila Pengusaha tidak membayar upah pekerja untuk kerja Lembur sesuai ketentuan pasal 78, maka sanksi dijelaskan dalam pasal 187. </li></ul><ul><li>Pengusaha yang tidak membayar upah Pesangon krn mencapai usia pensiun sesuai ketentuan pasal 167 ayat 5, maka sanksi nya dijelaskan dalam pasal 184. </li></ul><ul><li>Perlindungan Upah: dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah yaitu PP No.8 Tahun 1981 tentang PERLINDUNGAN UPAH. </li></ul><ul><li>Perlindungan atas Upah Minimum, dijelaskan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor PER-01/MEN/1999 tentang Upah Minimum </li></ul><ul><li>Perlindungan upah pekerja yang berhak mendapat Tunjangan Hari Raya, dijelaskan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI no.PER 04/MEN/1994 tentang Tunjangan Hari Raya. </li></ul><ul><li>Skala Upah: diatur dalam Kep.49/MEN/2004 tentang Ketentuan Struktur dan Skala Upah </li></ul>Bag.IV Perlindungan Upah

×