Your SlideShare is downloading. ×
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Bacaan shalawat nariyah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bacaan shalawat nariyah

15,787

Published on

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
15,787
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
47
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BACAAN “SHALAWAT NARIYAH” &TERJEMAH/ARTINYA: TEKS, FAEDAH,KEUTAMAAN, KEAMPUHAN AMALAN “SHALAWATNARIYAH MP3″ & HUKUMNYA MENURUTPEMAHAMAN AHLUSUNNAH WAL JAMA‟AH Mereka kaum Sufi meyakini bahwa Shalawat Nariyah memilikifaedah yakni:“…Jika mendapat kesusahan karena kehilangan barang, hendaknya membaca sholawat inisebanyak 4444 kali. Insya Allah barang yang hilang akan cepat kembali. Jika barang tersebutdicuri orang dan tidak dikembalikan, maka pencuri tersebut akan mengalami musibah dengankehendak Allah swt. Setelah membaca Sholawat ini hendaknya membaca do’a sebagai berikut(boleh dibaca dengan bahasa Indonesia): “ Ya Allah, dengan berkah Sholawat Nariyah ini, sayamohon Engkau kembalikan barang saya”. Doa ini dibaca 11 kali dengan hati yang penuh harapdan sungguh-sungguh..”Bagaimana tinjauan Syari‟ah terhadap “Shalawat Nariyah” dari para Ulama AhlussunnahWaljama‟ah?Berikut ini artikel yang ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-BugisiHafidzahullah, semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita semua.*****Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaummuslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagiandinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yangdialaminya. Berikut nash shalawatnya:
  • 2. Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman „ala sayyidinaaMuhammadin Alladzi tanhallu bihil „uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihilhawaa‟iju Wa tunaalu bihir raghaa‟ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu biwajhihil kariimi, wa „alaa aalihi, wa shahbihi „adada kulli ma‟luumin laka“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurnakepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan(kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya puladitunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yangbaik,dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih denganwajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, denganseluruh ilmu yang engkau miliki.”Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan kaitannya dengan shalawatini:1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur‟anul Karim dan yangdiajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam,mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan,yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta.Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selainAllah untuk menghilangkan kesedihannya atau menyembuhkanpenyakitnya, walaupun yang diminta itu seorang malaikat yangdekat ataukah nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat
  • 3. dalam Al Qur‟an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdo‟a,dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azzawajalla. Firman Allah:“Katakanlah: „Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selainAllah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkanbahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengansegolongan kaum yang berdo’a kepada Al Masih ‘Isa, atau malaikat,ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir IbnuKatsir 3/47-48)2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakanbahwa dirinya mampu melepaskan ikatan (kesulitan), menghilangkankesusahan, dsb, sedangkan Al Qur‟an menyuruh beliau untuk berkata:“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi dirikudan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendakiAllah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah akumembuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akanditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan danpembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman‟.” (Al-A‟raf: 188)
  • 4. Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalumengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliaubersabda:“Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah:Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yanghasan)(Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu)Sumber: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=224
  • 5. (LENGKAP) TEKS,BACAAN,LIRIK & ARTI ”SHOLAWAT BADAR” & “SHOLAWAT BURDATULBUSHIRI” : Shalawat Syirik & Bid‟ah yang tidak pernahdicontohkan oleh Rosulullah Shallallaahu „alaihi wasallamPenulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi Shalawat Burdatul BushiriNashnya adalah sebagai berikut:“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu „alaihiwassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu,wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yangterkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu „alaihi wassalam yangbeliau telah meninggal dunia.Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yangmelakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketikashalat istisqa‟ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu „alaihi wassalamkarena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu„alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo‟a. Kalaulah tawasul kepada NabiShallallahu „alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yangdisyari‟atkan niscaya Umar melakukannya.Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu „alaihiwassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits:
  • 6. “Bertawasullah dengan kedudukanku”,merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu).Bahkan bisa mengantarkan kepadakesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta‟ala butuh terhadapperantarasebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia denganrakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana yangdijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85)Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik,karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta‟ala.Nabi Shallallahu „alaihi wassallam bersabda (artinya):“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atausyirik.” ( HR At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung didalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu „alaihi wassalam dan para sahabatnyatidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandungoleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin danahli Badar). Shalawat BadarLafadz shalawat ini sebagai berikut: shalatullah salamullah „ala thoha rosulillah
  • 7. shalatullah salamullah „ala yaasiin habibillah tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah wa kulli majahid fillah bi ahlil badri ya AllahArtinya :Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha RasulullahShalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin HabibillahKami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, RasulullahDan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya AllahDalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:1. Penyebutan Nabi dengan habibillah2. Bertawassul dengan Nabi3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli BadrPoint pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah IdanRasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernahmengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu „alaihi wa sallam telahmenerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits:“Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besardi hadapan Allah”,maka hadits ini termasuk hadits maudhu‟ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyahdan Asy-Syaikh Al-Albani.Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu„alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan namaAllah di mana Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman:
  • 8. “Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutasmaul husna itu.” (Al-A‟raf: 180)Demikian pula di antara doa Nabi:“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkaunamai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atauEngkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.”(HR. Ahmad, Abu Ya‟la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199) Bertawassul dengan nama Allahseperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lainyang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masihhidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil,termasuk tawassul terlarang.Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagaimateri yang dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwamereka memiliki do‟a, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekianpahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya yang akan menjadikan merekadengan cepat kepada derajat para wali yang shaleh. Atau menyatakan bahwa termasukkeutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu alaihiwasallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullahshallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yang membacanya kedekatan dari beliau,masuk jannah (surga) ,dan yang lainnya dari sekian propaganda yang tidak bernilai sedikitpundalam timbangan syariat. Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karenaRasul tidak memerintahkan kita dengan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.
  • 9. Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkannya kepada kita.Apalagi apabila model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa,yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya,dengan adanya wirid-wirid bid‟ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum musliminuntuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang justru disyari‟atkan yang telahAllah jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.Berapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur‟an dan mentadabburinya disebabkan tenggelamdan „asyik‟ dengan wirid bid‟ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak pedulilagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tergiurdengan pahala „instant‟ yang berlipat ganda. Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid‟ah semacam buatan Arifin Ilham daripada halaqah yang di dalamnyamembahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Laa haula walaaquwwata illaa billah.Sumber : http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=224

×