TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 1 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
PETUNJUK PEMILIHAN TEKNIS METODE EOR
1. TUJUAN
Memilih metode EOR secara teknis yang dapat digunakan untuk menaikkan tingkat pengurasan
reservoir. Pilihan didasarkan kepada karakteristik minyak, batuan reservoir dan air formasi.
2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Pemilihan metode EOR dilakukan dengan "table look up", sehingga cepat dapat diperoleh
metode-metode EOR (dapat lebih dari satu metode) yang cocok dengan kondisi yang diberikan.
2.2. PERSYARATAN
Metode ini baik digunakan pada reservoir yang mempunyai distribusi karakteristik batuan
(misalnya porositas, permeabilitas) yang relatif seragam. Jadi, pada umumnya reservoir yang
mempunyai sifat berikut ini:
- banyak rekahan (fractures)
- jumlah patahan kedap aliran yang banyak
- sifat-sifat yang tidak berkesinambungan secara lateral (diskontinuitas)
- tudung gas
bukanlan calon yang baik untuk EOR.
3. LANGKAH KERJA
1. Siapkan data :
a. Karakteristik minyak dan kemampuan alir
- Gravity minyak, oAPI
- Viskositas minyak (pada kondisi reservoir) (µ), cp
- Transmisibilitas (kh/µ,) mD-ft/cp
- Komposisi fluida reservoir
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 2 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
- Kedalaman (D), ft
- Tebal (net pay) (h), ft
- Temperatur (T), oF
- Saturasi minyak (So), fraksi
- Tekanan reservoir (P), psia
- Jenis batuan
b. Karakteristik air formasi
- kegaraman (TDS), ppm
2. Gunakan Tabel 2 untuk memilih metode EOR yang cocok berdasarkan data yang telah disiapkan.
Hasil pilihan dapat lebih dari satu jenis EOR.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 3 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
4. DAFTAR PUSTAKA
1. National Petroleum Council, “Enhanced Oil Recovery,” 1984.
2. Taber, J. J., Martin, F. D. dan Seright, R. S. : ”EOR Screening Criteria Revisited - Part 2 :
Application and Impact of Oil Prices,” SPERE (August 1997), p. 199-205.
3. Siregar, S. :”Diktat Kuliah Pengenalan Enhanced Oil Recovery (EOR),” Jurusan Teknik
Perminyakan Institut Teknologi Bandung, 1995.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 4 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
5. DAFTAR SIMBOL
D = kedalaman reservoir, ft
h = tebal lapisan, ft
k = permeabilitas, mD
P = tekanan, psi
So = saturasi minyak, fraksi
T = temperatur, °F
TDS = kegaraman (total dissolved solid), ppm
Yunani :
φ = porositas, fraksi
µ = viskositas minyak, cp
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 5 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG
Tabel l dibuat berdasarkan hasil pengkajian kurang lebih 2,500 reservoir yang sedang dan yang
akan mengalami EOR. Cadangan minyak di tempat dari seluruh reservoir tersebut diperkirakan
325 milyar barrel.
Kriteria pemilihan metode EOR yang memadai untuk suatu reservoir minyak didasarkan pada
"Implemented Technology Case", yaitu teknologi yang sedang diterapkan pada saat ini atau
paling tidak telah terbukti dapat dilaksanakan pada uji coba di lapangan minyak. Teknologi ini
meliputi metode termal, injeksi kimia dan pendesakan tercampur.
Apabila Tabel l ini digunakan, kemungkinan akan diperoleh bermacam-macam metode EOR
yang dapat diterapkan kepada satu reservoir minyak. Untuk mendapatkan jawaban proses mana
yang paling memadai (yang memberikan perolehan maksimum secara ekonomis), tentu saja
harus dilakukan kajian lanjut berupa: kajian laboratorium, kajian menggunakan model matematik
(Simulator) dan uji coba lapangan (Pilot testing).
Faktor atau parameter yang paling berpengaruh didalam pemilihan metode EOR dapat dibagi
dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Karakteristik minyak : Gravity, Viskositas dan Transmisibilitas.
2. Karakteristik reservoir : Kedalaman, Tebal Lapisan, Temperatur, Porositas, Permeabilitas,
Tekanan Reservoir, Saturasi Minyak dan Jenis Batuan.
3. Karakteristik air formasi : Kegaraman atau kadar padatan terlarut.
Penggunaan Tabel 1 akan memberikan pilihan yang baik apabila digunakan pada reservoir yang
memiliki distribusi karakteristik batuan yang seragam. Untuk reservoir yang mempunyai banyak
rekahan, banyak patahan, bersifat tidak menerus secara lateral, atau mempunyai tudung gas,
haruslah dikaji secara tersendiri pengaruh sifat-sifat tersebut di atas terhadap proses EOR itu
sendiri. Kajian tersebut dapat berupa pengamatan laboratorium atau menggunakan model
matematik (simulator).
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 6 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
6.2. INJEKSI NITROGEN DAN FLUE GAS
Deskripsi
Nitrogen dan flue gas adalah metode perolehan minyak yang menggunakan kedua gas non-
hidrokarbon yang tidak mahal tersebut untuk memindahkan minyak ke dalam sistem yang
tercampur (miscible) maupun tidak tercampur (immiscible), tergantung pada tekanan dan
komposisi minyak. Karena harganya yang murah, volume yang besar dari gas-gas tersebut dapat
diinjeksikan. Nitrogen dan flue gas juga dipertimbangkan untuk digunakan sebagai gas-gas
penghalau (chase gases) dalam injeksi hidrokarbon-tercampur dan CO2.
Mekanisme
Injeksi nitrogen dan flue gas memperoleh minyak dengan :
a) menguapkan komponen yang lebih ringan dari minyak mentah dan menciptakan suatu
pencampuran bila tekanan cukup tinggi.
b) menyediakan suatu mekanisme daya dorong gas dimana bagian yang signifikan dari volume
reservoir terisi oleh gas-gas yang berbiaya rendah.
c) mempercepat pengurasan karena gravitasi (gravity drainage) pada dipping reservoir
(tercampur atau tidak tercampur).
Batasan
Kondisi pencampuran yang terbentuk hanya dapat dicapai dengan minyak ringan dan pada
tekanan yang sangat tinggi; oleh sebab itu, diperlukan reservoir yang dalam. Diinginkan
reservoir yang kemiringannya tidak terlalu curam untuk memungkinkan stabilisasi gravitasi dari
pemindahan tersebut, dengan rasio mobilitas yang kurang ideal. Untuk peningkatan gravity
drainage tercampur atau tidak tercampur, suatu dipping reservoir (reservoir miring) sangat
penting untuk kesuksesan proyek.
Permasalahan
Viscous fingering menyebabkan efisiensi penyapuan vertikal dan horizontal sangat kecil. Gas-
gas non-hidrokarbon harus dipisahkan dari gas-gas terproduksi yang komersial. Injeksi flue gas
menyebabkan masalah korosi di masa lalu. Saat ini, nitrogen telah diinjeksikan dalam proyek-
proyek besar yang sukses, yang dulunya menggunakan flue gas.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 7 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
6.3. INJEKSI HIDROKARBON-TERCAMPUR
Deskripsi
Injeksi hidrokarbon-tercampur terdiri dari penginjeksian hidrokarbon ringan ke dalam reservoir
untuk membentuk suatu daerah pencampuran. Ada tiga metode berbeda yang telah digunakan.
Yang pertama, metode kontak tercampur menggunakan sekitar 5% PV slug dari liquified
petroleum gas (LPG), seperti propan, dilanjutkan dengan gas alam atau gas dan air. Metode
kedua disebut daya dorong kondensat gas (enriched/condensing gasdrive), terdiri dari
penginjeksian 10 – 20% PV slug dari gas alam yang diperkaya dengan etana sampai heksana (C2
sampai C6), dilanjutkan dengan lean gas (kering, sebagian besar metana) dan, ada kemungkinan,
air. Komponen-komponen yang telah diperkaya ditransfer dari gas ke minyak. Metode ketiga
dan yang paling umum disebut daya dorong gas bertekanan tinggi (vaporizing gasdrive), terdiri
dari penginjeksian lean gas pada tekanan tinggi untuk menguapkan komponen C2 sampai C6 dari
minyak mentah yang dipindahkan. Kombinasi dari mekanisme kondensasi/penguapan ini juga
terjadi pada banyak kondisi reservoir meskipun kita biasanya berpikir bahwa satu proses lebih
dominan.
Mekanisme
Injeksi hidrokarbon-tercampur memperoleh minyak dengan :
a) membentuk pencampuran (pada daya dorong gas kondensasi dan penguapan).
b) meningkatkan volume minyak (swelling).
c) menurunkan viskositas minyak.
d) pemindahan gas tak tercampur, terutama meningkatkan gravity drainage dengan kondisi
reservoir yang tepat.
Batasan
Kedalaman minimum ditetapkan oleh tekanan yang diperlukan untuk menjaga pencampuran
yang terbentuk. Tekanan yang diperlukan berkisar dari sekitar 1,200 psi untuk proses LPG,
sampai 4,000 - 5,000 psi untuk daya dorong gas bertekanan tinggi, tergantung pada minyak-nya.
Formasi dengan kemiringan yang tidak terlalu curam sangat diinginkan untuk memungkinkan
beberapa stabilisasi gravitasi dari pemindahan, yang biasanya memiliki rasio mobilitas kurang
ideal.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 8 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
Permasalahan
Viscous fingering menyebabkan efisiensi penyapuan vertikal dan horisontal sangat kecil.
Dibutuhkan hidrokarbon yang cukup berharga dalam jumlah besar. Larutan dapat terjebak dan
tidak terambil pada metode LPG.
6.4. INJEKSI CO2
Deskripsi
Injeksi CO2 dilakukan dengan menginjeksikan CO2 dalam jumlah besar (30% atau lebih dari PV
hidrokarbon) ke dalam reservoir. Walaupun CO2 bukan kontak tercampur yang pertama dengan
minyak mentah, CO2 mengekstrak komponen ringan sampai menengah dari minyak, dan jika
tekanan cukup tinggi, membentuk pencampuran untuk memindahkan minyak mentah dari
reservoir (MMP). Pemindahan tak tercampur kurang efektif, tetapi dapat memperoleh minyak
lebih banyak daripada injeksi air. Pada kedalaman <1,800 ft, semua reservoir tidak memenuhi
kriteria pemilihan teknis baik untuk metode injeksi tercampur maupun tak tercampur dengan
CO2 superkritik.
Mekanisme
CO2 memperoleh minyak dengan :
a) “Mengembangkan” (swelling) minyak mentah (CO2 sangat mudah terlarut dalam minyak
bergravitasi tinggi).
b) menurunkan viskositas minyak (jauh lebih efektif dibanding N2 atau CH4).
c) menurunkan tegangan permukaan antara minyak dan fasa CO2/minyak pada daerah hampir-
tercampur.
d) membentuk pencampuran bila tekanan cukup tinggi.
Batasan
Diperlukan sumber CO2 yang baik.
Permasalahan
Korosi dapat menyebabkan masalah, terutama bila terjadi breakthrough awal CO2 pada sumur
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 9 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
produksi.
Catatan : Seluruh reservoir minyak dengan gravity lebih besar dari 22 oAPI dapat memenuhi
kualifikasi untuk pemindahan tak tercampur pada tekanan kurang dari MMP. Pada umumnya,
perolehan minyak yang berkurang akan menjadi proporsional dengan perbedaan antara MMP
dan tekanan injeksi yang dicapai. (Keputusan kriteria ini telah dipilih untuk menyediakan batas
aman dari tepat 500 ft di atas kedalaman rekahan reservoir yang tipikal untuk tekanan
pencampuran yang dibutuhkan (MMP), dan sekitar 300 psia di atas tekanan kritik CO2 untuk
injeksi tak tercampur pada kedalaman yang dangkal. Temperatur reservoir diikutsertakan dan
diasumsikan dari kedalaman).
6.5. INJEKSI MICELLAR/POLYMER, ASP DAN ALKALI
Deskripsi
Injeksi micellar/polymer klasik terdiri dari penginjeksian suatu slug yang mengandung air,
surfaktan, polymer, elektrolit (garam), kadang suatu kosolven (alkohol), dan kemungkinan suatu
hidrokarbon (minyak). Ukuran slug biasanya 5 – 15% PV untuk sistem surfaktan konsentrasi
tinggi dan 15 - 50% PV untuk konsentrasi rendah. Slug surfaktan diikuti oleh air yang sudah
dicampur dengan polymer. Konsentrasi polymer biasanya berkisar dari 500 sampai 2,000 mg/L,
dan volume dari larutan polymer yang diinjeksikan bisa mencapai 50% PV atau lebih.
Injeksi ASP mirip dengan injeksi polymer, kecuali sebagian besar surfaktan digantikan dengan
alkali berbiaya rendah sehingga ukuran slug menjadi lebih besar dengan biaya keseluruhan lebih
rendah dan polymer biasanya tergabung dalam slug yang lebih besar dan cair. Untuk injeksi
alkali, sebagian besar air yang diinjeksikan telah di”treat” dengan suatu alkali agent dengan
konsentrasi rendah dan surfaktan terbentuk di tempat dengan adanya interaksi dengan minyak
dan batuan. Pada masa ini (Mei 1997) tidak ada kegiatan injeksi alkali yang aktif.
Mekanisme
Seluruh metode injeksi surfaktan dan alkali memperoleh minyak dengan :
a) menurunkan tegangan permukaan antara minyak dan air.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 10 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
b) kelarutan minyak pada beberapa sistem micellar.
c) emulsifikasi minyak dan air, terutama pada metode alkaline.
d) perubahan kebasahan (pada metode alkaline).
e) peningkatan mobilitas.
Batasan
Diinginkan suatu daerah penyapuan yang lebih dari 50% pada injeksi air. Lebih disukai formasi
yang relatif homogen. Anhidrit, gipsum atau lempung dalam jumlah besar tidak diinginkan.
Sistem yang tersedia menyediakan kelakuan yang optimum dari kondisi yang terbatas. Dengan
surfaktan komersial yang tersedia, klorida air formasi adalah < 20,000 ppm dan ion divalen (Ca++
dan Mg++) < 500 ppm.
Permasalahan
Sistem yang rumit dan mahal. Kemungkinan terjadi pemisahan kromatografik bahan-bahan
kimia dalam reservoir. Penyerapan surfaktan yang tinggi. Interaksi antara surfaktan dan polymer.
Degradasi bahan-bahan kimia pada temperatur yang tinggi.
6.6. INJEKSI POLYMER
Deskripsi
Tujuan dari injeksi polymer adalah untuk menyediakan efisiensi penyapuan pemindahan dan
volumetrik yang lebih baik selama injeksi air. Pada injeksi polymer, polymer tertentu dengan
berat molekul yang tinggi (umumnya polyacrylamide atau xanthan) dilarutkan dalam air yang
diinjeksikan untuk menurunkan mobilitas air. Digunakan konsentrasi polymer dari 250 sampai
2,000 mg/L; perlakuan ukuran yang layak membutuhkan 25 sampai 60% PV reservoir.
Mekanisme
Polymer memperbaiki perolehan dengan :
a) meningkatkan viskositas air.
b) menurunkan mobilitas air.
c) kontak dengan volume yang lebih besar di reservoir.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 11 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
Batasan/Permasalahan
Lihat Tabel 2.
6.7. PEMBAKARAN DI TEMPAT (IN-SITU COMBUSTION)
Deskripsi
Pembakaran di tempat atau injeksi api (fireflooding) melibatkan pembakaran dalam reservoir dan
penginjeksian udara untuk memungkinkan terbakarnya sebagian minyak mentah. Teknik yang
paling umum adalah pembakaran di depan (forward combustion) dimana reservoir di”bakar”
pada sumur injeksi dan udara diinjeksikan untuk meneruskan pembakaran ke arah depan sumur.
Salah satu variasi teknik ini adalah kombinasi dari forward combustion dan injeksi air
(COFCAW). Teknik kedua adalah pembakaran terbalik (reverse combustion) dimana api
dinyalakan di sumur yang pada akhirnya akan menjadi sumur produksi, dan udara yang
diinjeksikan diubah arahnya ke sumur yang berdekatan; bagaimanapun, tidak ada daerah
percobaan yang telah menyelesaikan reverse combustion ini.
Mekanisme
Pembakaran di tempat memperoleh minyak mentah dengan :
a) aplikasi panas yang ditransfer menurun secara konduksi dan konveksi sehingga menurunkan
viskositas minyak,
b) hasil dari destilasi uap dan pemecahan thermal yang dibawa ke depan untuk bercampur dan
meningkatkan minyak mentah,
c) membakar “coke” yang dihasilkan dari minyak berat,
d) tekanan disuplai ke reservoir dengan injeksi udara.
Batasan
Jika coke yang cukup tidak terendapkan dari minyak untuk dibakar, proses pembakaran tidak
akan bertahan; hal ini mencegah aplikasi untuk minyak parafinik bergravitasi tinggi. Jika coke
yang terendapkan terlalu banyak, peningkatan laju dari zona pembakaran akan menjadi lambat
dan jumlah udara yang diperlukan untuk mempertahankan pembakaran akan menjadi besar.
Saturasi dan porositas minyak harus tinggi untuk meminimalkan kehilangan panas ke batuan.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 12 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
Proses yang terjadi cenderung menyapu bagian atas dari reservoir sehingga efisiensi penyapuan
untuk formasi yang tebal sangat kecil.
Permasalahan
Rasio mobilitas yang berlawanan. Breakthrough awal dari front pembakaran (dan campuran gas
yang mengandung O2). Proses rumit yang memerlukan investasi besar dan sulit untuk dikontrol.
Flue gas yang terproduksi dapat menimbulkan masalah lingkungan. Masalah operasional, seperti
korosi berat yang terjadi karena air panas dengan pH rendah, emulsi minyak/air yang serius,
produksi pasir yang meningkat, endapan karbon atau lilin, dan kegagalan pipa pada sumur
produksi sebagai akibat dari temperatur yang sangat tinggi.
6.8. INJEKSI UAP
Deskripsi
Proses daya dorong uap atau injeksi uap melibatkan injeksi kontinu sekitar 80% kualitas uap
untuk memindahkan minyak mentah menuju sumur produksi. Praktek yang biasa adalah untuk
mendahulukan dan mengiringi daya dorong uap tersebut dengan stimulasi uap siklik dari sumur
produksi (disebut huff ‘n’ puff).
Mekanisme
Uap memperoleh minyak mentah dengan :
a) memanaskan minyak mentah dan mengurangi viskositasnya,
b) menyediakan tekanan untuk mendorong minyak ke sumur produksi,
c) destilasi uap, terutama pada minyak mentah yang ringan.
Batasan
Saturasi minyak harus cukup tinggi dan tebal zone minyak harus lebih dari 20 ft untuk
meminimasi kehilangan panas ke formasi yang berdekatan. Minyak mentah yang lebih ringan
dan kurang kental dapat diinjeksi dengan uap, tapi biasanya tidak bila reservoir bereaksi pada
injeksi air yang umum. Injeksi uap terutama dapat diaplikasikan pada minyak kental dalam
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 13 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
batuan pasir yang luas dan memiliki permeabilitas tinggi atau pasir yang tidak terkonsolidasi.
Karena terjadi kehilangan panas yang berlebihan di lubang sumur, reservoir yang diinjeksi uap
harus sedangkal mungkin dan tekanan untuk laju injeksi secukupnya dapat dipertahankan.
Injeksi uap pada umumnya tidak dilakukan pada reservoir karbonat. Karena sekitar 1/3 minyak
tambahan yang diperoleh dikonsumsi untuk membentuk uap yang diperlukan, maka harga per
barrel minyak tambahan ini sangat tinggi. Diinginkan suatu harga persentase yang rendah dari
lempung yang sensitif terhadap air untuk proses injeksi yang baik.
6.9. INJEKSI MIKROBA
Deskripsi
Injeksi mikroba ke reservoir diharapakan dapat memproduksi asam dan surfaktan dari hasil
fermentasi bakteri tersebut. Mikroba yang akan diinjeksikan ke reservoir telah diseleksi dan diuji
laboratorium untuk memberikan hasil yang baik.
Mekanisme
Mikroba yang diinjeksikan diharapkan :
a) Memproduksi asam ; asam ini diharapkan dapat melarutkan matriks batuan sehingga dapat
menaikkan porositas dan permeabilitas batuan.
b) Memproduksi gas ; produksi gas yang diharapkan adalah CO2 dari hasil fermentasi dan
pengaruhnya dapat terjadi pada reservoir dengan skala yang luas.
c) Memproduksi pelarut; produksi pelarut (ethanol, butanol, acetone, dan isopropanol) oleh
mikroba bermanfaat selama proses MEOR (Microbial Enhanced Oil Recovery) sebab
senyawa tersebut bercampur (miscible) dengan minyak menurunkan viskositasnya dan
memperbaiki mobilitas.
d) Memproduksi surfaktan.
e) Penyumbatan selektif (selective plugging) ; penelitian laboratorium pada sistem reservoir
batuan pasir memperlihatkan bahwa microbial selective plugging secara teknis layak dan
dapat membelokkan aliran dari permeabilitas yang tinggi ke rendah. Selective plugging juga
dapat digunakan untuk memperbaiki waterflooding dengan membelokkan aliran dari
permeabilitas yang tinggi ke daerah yang memiliki permeabilitas rendah.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 14 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
f) Memproduksi polimer ; polimer digunakan untuk mengurangi mobilitas fasa air dan dapat
mengontrol dengan cara menaikkan viskositas fasa air.
Batasan
Ada beberapa batasan dimana metode MEOR (Microbial Enhanced Oil Recovery) tidak efektif,
bahkan pada keadaan yang paling baik. Terdapat juga beberapa kemungkinan kegagalan pada
setiap penerapan enhanced oil recovery. Frekuensi keberhasilan mungkin lebih sedikit daripada
prosedur industri yang rutin karena teknik EOR yang digunakan pada sumur-sumur yang
berbeda hampir selalu dijalankan pada keadaaan yang berbeda pula. Beberapa masalah yang
mungkin terjadi adalah seperti di bawah ini :
a) Penyumbatan formasi.
b) Kondisi geologi yang tidak tepat umumnya (banyak patahan).
c) Sifat minyak mentah yang tidak tepat.
d) Kontaminasi mikroorganisme lain yan merugikan.
e) Tidak cukup nutrisi.
f) Kegagalan sistem biologi.
6.10. CONTOH SOAL
1. Dari suatu reservoir yang akan mengalami proses EOR, didapatkan data rata-rata sebagai
berikut :
Karakteristik fluida
Gravity minyak = 18 oAPI
Viskositas minyak = 15,000 cp
kh/µ = 200 mD-ft/cp
Karakteristik reservoir
Kedalaman = 800 ft
Tebal lapisan = 200 ft
Temperatur = 110 oF
Saturasi minyak = 45 % PV
Permeabilitas = 2,500 mD
Tekanan Reservoir = 1,000 psi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 15 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
Jenis batuan = batu pasir
Karakteristik air formasi
Kegaraman = 70,000 ppm
Ciri yang menonjol dari reservoir ini adalah relatif dangkal, minyak berat dan kental. Dari
Tabel 2 terlihat bahwa metode yang paling sesuai adalah Metode Termal - Injeksi Uap.
2. Dari suatu reservoir yang akan mengalami proses EOR, didapatkan data rata-rata sebagai
berikut :
Karakteristik fluida
Gravity minyak = 22 oAPI
Viskositas minyak = 2,500 cp
Karakteristik reservoir
Kedalaman = 2,950 ft
Tebal lapisan = 100 ft
Temperatur = 160 oF
Porositas = 0.20
Permeabilitas = 100 mD
Tekanan Reservoir = 1,800 psi
So = 61 % PV
Jenis batuan = batu pasir
Karakteristik air formasi
Kegaraman = 110,000 ppm
Dari Tabel l terlihat bahwa metode EOR yang cocok dilakukan pada reservoir ini adalah
Metode Termal – Pembakaran di tempat (In Situ Combustion).
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 16 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
3. Dari suatu reservoir yang akan mengalami proses EOR, didapatkan data rata-rata sebagai
berikut :
Karakteristik fluida
Gravity minyak = 24 oAPI
Viskositas minyak = 10 cp
kh/µ = 300 mD-ft/cp
Karakteristik reservoir
Kedalaman = 2,500 ft
Tebal lapisan = 50 ft
Temperatur = 150 oF
Permeabilitas = 60 mD
Tekanan Reservoir = 2,000 psi
So = 37 % PV
Jenis batuan = batu pasir
Karakteristik air formasi
Kegaraman = 75,000 ppm
Dari Tabel l terlihat bahwa metode EOR yang cocok dilakukan pada reservoir ini adalah
Metode Injeksi Surfactant - Alkali.
4. Dari suatu reservoir yang akan mengalami proses EOR, didapatkan data rata-rata sebagai
berikut :
Karakteristik fluida
Gravity minyak = 22 oAPI
Viskositas minyak = 5 cp
kh/µ = 450 mD-ft/cp
Karakteristik reservoir
Kedalaman = 2,100 ft
Tebal lapisan = 75 ft
Temperatur = 135 oF
Permeabilitas = 30 mD
Tekanan Reservoir = 1,950 psi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 17 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
So = 52 % PV
Jenis batuan = karbonat
Karakteristik air formasi
Kegaraman = 65,000 ppm
Dari Tabel l terlihat bahwa metode EOR yang cocok dilakukan pada reservoir ini adalah
Injeksi Polimer dan Surfactant - Alkali.
5. Dari suatu reservoir yang akan mengalami proses EOR, didapatkan data rata-rata sebagai
berikut :
Karakteristik fluida
Gravity minyak = 35 oAPI
Viskositas minyak = 2 cp
kh/µ = 2,000 mD-ft/cp
Karakteristik reservoir
Kedalaman = 6,000 ft
Tebal lapisan = 100 ft
Temperatur = 210 oF
Porositas = 0.15
Permeabilitas = 40 mD
Tekanan Reservoir = 2,600 psi
So = 21 % PV
Jenis batuan = karbonat
Karakteristik air formasi
Kegaraman = 110,000 ppm
Dari Tabel l terlihat bahwa metode EOR yang cocok dilakukan pada reservoir ini adalah
Metode Pendesakan Dapat Campur – Injeksi CO2.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.01
JUDUL : METODE EOR Halaman : 18 / 18
SUB JUDUL : Petunjuk Pemilihan Teknis Metode Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
EOR
7. TABEL YANG DIGUNAKAN
TABEL 1
KARAKTERISTIK INJEKSI CO2
Oil Gravity, oAPI Kedalaman harus lebih
besar dari (ft)
Untuk Injeksi CO2-
>40 2,500
Tercampur
32 s/d 39.9 2,800
28 s/d 31.9 3,300
22 s/d 27.9 4,000
Injeksi tercampur gagal,
<22 dianjurkan Injeksi tak
tercampur
Untuk Injeksi CO2-tak
tercampur (perolehan 13 s/d 21.9 1,800
minyak lebih kecil)
Seluruh reservoir gagal pada
<13
kedalaman berapa pun
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 1 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
PERAMALAN KINERJA INJEKSI AIR
1. TUJUAN
Meramalkan kinerja (performance) injeksi air (water-flood).
2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Metode yang digunakan adalah Buckley-Leverett-Welge, Dykstra-Parson, dan Craig-Geffen-
Morse digunakan dalam perkiraan kinerja proses injeksi air.
2.2. PERSYARATAN
Ketiga metode ini berlaku untuk sistem linear yang horizontal. Reservoir yang diproduksikan
melalui beberapa titik serap sebagai hasil proses injeksi air perlu diubah geometrinya menjadi satu
atau lebih sistem linear.
3. LANGKAH KERJA
3.1. METODE BUCKLEY - LEVERETT - WELGE
1. Bagilah reservoir atas beberapa sistem linear (lihat Gambar 1 sebagai contoh).
2. Siapkan data pendukung :
- Luas sistem linear ( A )
- Tebal lapisan ( h )
- Porositas ( φ )
- Permeabilitas formasi ( k )
- Saturasi air konat ( S wc )
- Saturasi minyak residu ( Sor )
- Viskositas minyak pada kondisi reservoir ( µ o )
- Viskositas air injeksi ( µ w )
- Faktor volume formasi pada saat injeksi akan dimulai ( Bo )
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 2 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
- Kurva permeabilitas relatif ( k ro dan k rw )
3. Hitung fractional flow air ( f w ) dari persamaan :
1
fw = (1)
µ k
1 + w . ro
µ o k rw
Siapkan tabel berisikan permeabilitas relatif ( k ro , k rw ) dan fractional flow ( f w ) sebagai fungsi
dari air ( S w ).
4. Plot f w terhadap S w .
5. Tarik garis lurus dari S wc menyinggung kurva f w vs S w . Dari garis singgung ini diperoleh :
a. Titik singgung antara garis tersebut dengan kurva memberikan S w = S wbt
b. Titik potong antara garis. tersebut dengan garis f w = 1 menghasilkan saturasi air rata-rata
sistem pedesakan pada saat breakthrough ( S wbt )
Catatan :
Untuk S w dalam sistem yang lebih besar dari S wc , penarikan garis singgung diperlihatkan
pada Gambar 2.
6. Perolehan minyak pada saat breakthrough dapat dihitung dengan persamaan :
S − S wi
N p = 7,758 A h φ wbt
STB (2)
Bo
7. Kinerja proses injeksi air setelah breakthrough, yang dinyatakan dalam N p , WOR dan qo
sebagai fungsi dari waktu, dapat dihitung mengikuti runtunan berikut ini :
a. Siapkan format tabel yang mencerminkan runtunan perhitungan.
Sw fw ∂f w Qi Sw
∂S w
(1) (2) (3) (4) (5)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 3 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Catatan : S w merupakan saturasi pada titik serap/sumur produksi yang harganya dipilih
lebih besar dari S wbt .
b. f w ditentukan berdasarkan S w dengan meggunakan plot f w terhadap S w dari butir 4.
∂f w
c. di hitung dari kemiringan garis singgung titik-titik pada kurva fractional flow yang
∂S w
besarnya lebih besar dari S wbt (lihat Gambar 6 sebagai contoh).
1
d. Qi = (3)
∂f w ∂S w
e. S w = S w + Qi (1 − f w ) (4)
S − S wi
f. N p = 7,758 Ahφ w
B
(5)
o
g. qo =
(1 − f w ) iw (6)
Bo
f w Bo
h. WOR = (7)
1 − f w Bw
i. Wi = 7,758 A h φ Qi (8)
Wi
j. t = (9)
iw
8. Plot S w , N p , Wi dan WOR terhadap waktu (t)
9. Penentuan perolehan maksimum dari proses injeksi air dalam reservoir minyak yang memiliki
distribusi harga permeabilitas dan mobilitas rasio (M) tidak sama dengan satu adalah sebagai
berikut :
a. Tentukan waktu injeksi air akan berakhir, berdasarkan patokan harga f w , misalnya pada
saat water-cut = 98%, ( f w ) = 98%. Harga ini sebanding dengan WOR pada kondisi
reservoir :
fw
WOR = = 49
(1 − f w )
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 4 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
b. Tentukan S w pada saat f w = 0.98.
c. Tentukan harga Isi Minyak Awal di Tempat yang dikandung oleh 1 bbl volume pori-pori
(PV) total :
1 − S wc
(OIP )i = S wi = (10)
Boi Boi
d. Tentukan Isi Minyak di tempat saat f w = 0.98 yang dikandung oleh 1 bbl volume pori-pori
(PV) total :
So 1 − S w
= (11)
Bo Bo
e. Sisa minyak di daerah yang tidak terdorong air injeksi :
S oi 1 − S wc
= (12)
Bo Bo
f. Tentukan Mobility Ratio :
k rw µo
M = = (13)
µw k ro
krw dibaca pada harga S wbt .
kro adalah harga permeabilitas minyak di depan front pendesak pada S w = S wc .
g. Tentukan V dari gambar distribusi permeabilitas (lihat Gambar 3 sebagai contoh) :
k − kσ
V = (14)
k
h. Tentukan efisiensi Pendesakan Volumetris (VSE) :
1−V 2 )
VSE = ( (15)
M
i. Sisa minyak pada saat f w = 0.98 per 1 bbl volume pori-pori total adalah :
So S
(OIP) a = VSE × + (1 − VSE ) × oi (16)
Bo Boi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 5 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
j. Total Recovery :
(OIP) i − (OIP ) a
RE = (17)
(OIP ) i
k. Akhirnya perolehan maksimum akibat injeksi air adalah :
(RE )ult = RE − RF (18)
3.2. METODE DYKSTRA - PARSONS
1. Siapkan data pendukung :
- Luas sistem linear ( A )
- Tebal lapisan ( h )
- Porositas ( φ )
- Permeabilitas formasi (k)
- Saturasi minyak residu ( Sor )
- Saturasi air konat ( S wc )
- Viskositas minyak pada kondisi reservoir ( µ o )
- Viskositas air injeksi ( µ w )
- Distribusi permeabilitas
- Recovery Factor primer (RF)
- Faktor volume formasi awal ( Boi )
- Faktor volume formasi pada saat injeksi akan dimulai ( Bo )
- Kurva permeabilitas relatif ( k ro dan k rw )
2. Tentukan V dari gambar distribusi permeabilitas (lihat Gambar 3 sebagai contoh).
k − kσ
V = (19)
k
3. Tentukan M (sama dengan langkah 9-f Metode Buckley – Leverett - Welge) :
k rw µo
M = = (20)
µw k ro
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 6 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
krw dibaca pada harga S wbt .
kro adalah harga permeabilitas minyak di depan front pendesak pada S w = S wc .
4. Berdasarkan harga V dan M, gunakan Gambar 8, 9, 10 dan 11 untuk menentukan faktor
perolehan (R) sebagai fungsi WOR :
- Gambar 8 : R dihitung dari parameter : R (1 − S w )
- Gambar 9 : R dihitung dari parameter : R (1 − 0.72 S w )
- Gambar 10 : R dihitung dari parameter : R (1 − 0.52 S w )
- Gambar 11 : R dihitung dari parameter : R (1 − 0.40 S w )
5. Buat Tabel WOR , R, dan N p , dimana :
7,758 A h φ ( S oi − S or )
Np = R (21)
Bo
6. Menentukan perolehan maksimum
a. Plot WOR terhadap (R – RF).
b. Tentukan harga WOR pada saat proyek injeksi air akan dihentikan (misalnya pada saat f w
= 0.98 dan WOR = 49).
c. Dari plot di langkah 6-a, baca harga Perolehan Maksimum pada harga WOR = 49.
3.3. METODE CRAIG-GEFFEN-MORSE
1. Siapkan data pendukung :
- Luas sistem ( A )
- Tebal lapisan ( h )
- Porositas ( φ )
- Permeabilitas formasi (k)
- Saturasi air konat ( S wc )
- Saturasi gas awal ( S gi )
- Viskositas minyak pada kondisi reservoir ( µo )
- Viskositas air injeksi ( µ w )
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 7 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
- Distribusi permeabilitas
- Faktor volume formasi awal ( Boi )
- Faktor volume formasi pada saat Injeksi akan dimulai ( Bo )
- Kurva permeabilitas relatif ( k ro dan k rw )
2. Hitung fractional flow air f w (sama dengan langkah 3 Metode Buckley – Leverett – Welge).
3. Plot f w terhadap S w ( S w merupakan saturasi pada titik serap/sumur produksi yang harganya
dipilih lebih besar dari S wbt ).
4. Tarik garis lurus dari S w menyinggung kurva f w ( S w adalah titik perpotongan garis dengan
∂f w
f w = 1). merupakan kemiringan garis tersebut untuk tiap harga S w .
∂S w
∂f w
5. Plot vs S w .
∂S w
6. Hitung M S dari persamaan :
k rw
µ
w S wbt
MS = (22)
k ro
µ
o Swi
7. Hitung E Abt dari persamaan :
0.03170817 0.30222997
E Abt = 0.54602036 + + M
− 0.00509693M S (23)
MS e S
8. Hitung Volume Pori (VP) dari persamaan :
VP = 7,758 A h φ (24)
9. Siapkan format tabel dengan selang perhitungan dua bagian, yaitu: Wibt sampai Wi100 dan
Wi100 sampai (Wi)max.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 8 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Wi Wi EA Sw2 Np WOR t
∆Wi ∆E A Q*
i fo2 S w5
(bbl) Wibt (fraksi) (fraksi) (bbl) (bbl/bbl) (hari)
a. Hitung jumlah air yang dinjeksi pada saat breakthrough ( Wibt ) :
Wibt = E A bt ( S wbt − S wi )VP (25)
b. (Wi )max dapat dihitung dari pergerakan frontal dengan asumsi Qi 2 = Qi 5 pada WOR
'
tertentu (misalnya 200), lalu pada f w tentukan S w 2 dan f sw 2 sehingga :
(Wi) max = (Qi ) max V p (26)
dimana (Qi )max = 1 f ( '
Sw2 )
c. Hitung Wi100 dengan menggunakan persamaan :
Wi100 = Wibt e (1− E Abt ) / 0.274 (27)
d. Tentukan ∆Wi :
(
∆Wi = Wi sekarang − Wibt ) (28)
e. Tentukan EA :
W
E A = E Abt + 0.633 log i
W
(29)
ibt
f. Tentukan ∆E A :
∆E A = E A sekarang − E A sebelumnya (30)
g. Tentukan Qi* :
Qi* untuk Wibt < Wi < Wi100 dihitung dengan persamaan :
Qi*
*
= 1 + a1e − a1 [Ei(a 2 ) − Ei (a1 )] (31)
Qibt
dimana :
Qibt = S wbt − S wi
*
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 9 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
a1 = 3.65 Ebt
W
a 2 = a1 + ln i
W
bt
Ei(x) adalah fungsi Ei dari nilai yang bersangkutan.
Qi* untuk Wi100 < Wi < Wimax dihitung dengan persamaan :
Wi − Wi100
Qi* = Qi* +
100 (32)
VP
dimana :
Qi* adalah harga Q* pada EA = 1
100
'
h. Tentukan f w :
' 1
fw = (33)
Qi*
i. Tentukan Sw2 (dari grafik langkah 5).
j. Tentukan fw2 untuk Sw2 (dari grafik langkah 3).
k. Tentukan fo2 :
f o 2 = 1 − f w2 (34)
l. Tentukan S w5 :
S w5 = S w 2 + f o 2 Qi* (35)
10. Hitung jumlah pertambahan perolehan minyak :
N n + N ps N n + [ f o 2 × (∆Wi − N n )]
= (36)
Bo Bo
dimana :
[
N n = ∆E A × (S wbt − S wi )×V p ]
11. Hitung jumlah kumulatif perolehan minyak (Np) :
[(S wbt − S wi )× E Abt ] − S gi
Nilai I : (37)
Bo
Nilai selanjutnya : N p sekarang + jumlah kumulatif perolehan minyak sebelumnya.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 10 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
12. WOR dihitung dengan menggunakan persamaan :
(∆Wi − N n ) − f o 2 (∆Wi − N n )
WOR = (38)
Nn
13. Lama waktu setelah injeksi (implementasi laju injeksi konstan)
Wi
t= (39)
iw
14. Slope plot Np vs waktu merupakan laju produksi minyak setelah fill up.
15. Tentukan laju injeksi dasar (base) dengan persamaan (implementasi beda tekanan sumur
injeksi dan sumur produksi dijaga konstan) :
3.541 k h ∆P
i= (40)
d
µ ln − 0.619
r
w
dimana :
d = jarak dari sumur injeksi ke sumur produksi, ft (m),
rw = jari-jari efektif lubang sumur, ft
k = permeabilitas, darcy
h = tebal lapisan, ft
∆P = kehilangan tekanan antara sumur injeksi dan produksi, lb/in2
µ = viskositas, cp
16. Tentukan volume air injeksi yang diinginkan pada batas harga Wibt < Wi < (Wi)max
17. Tentukan efisiensi penyapuan :
a. Jika EA < EAbt , Mobility Ratio dihitung sama dengan langkah 6.
b. Jika breakthrough telah tercapai, tentukan E A berdasarkan langkah 9-e. Baca S w5 dari
tabulasi perhitungan dan baca Gambar 5 untuk menentukan (k rw )S w5
. Mobility Ratio
dihitung sama dengan langkah 6 dengan substitusi harga (k rw )S w 5 .
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 11 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
18. Korelasi rasio laju injeksi pemindahan ke laju injeksi pada satuan rasio mobilitas disebut
conductance ratio (Caudle dan Witte) yang ditentukan dengan persamaan :
i
γ = (41)
ib
19. Akhirnya laju alir injeksi :
i = γ × ib (42)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 12 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
4. DAFTAR PUSTAKA
1. Craig Jr., F. F. : “The Reservoir Engineering Aspect of Waterf1ooding”, SPE-Monogram Series,
SPE of AIME, Second Printing, 1971.
2. Donaldson, E. G., Chilingarian, G. V. dan Yen, T. F. : “Enhanced Oil Recovery I”, Elsevier,
1985.
3. Willhite, G. P. : “Waterflooding”, SPE Textbook series, SPE, 1986.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 13 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
5. DAFTAR SIMBOL
A = luas, acre
Boi = faktor volume formasi awal, RB/STB
Bo = faktor volume formasi saat mulai injeksi, RB/STB
EA = fraksi zona yang telah tersapu hingga saturasi air rata-rata S wbt
E Abt = efisiensi daerah penyapuan pada saat breakthrough, fraksi
fw = fractional flow air, fraksi
h = tebal formasi, ft
ib = laju injeksi dasar (base), bbl/hari
iw = laju injeksi air, bbl/hari
k = permeabilitas lapisan, md
kro = permeabilitas relatif minyak, fraksi
krw = permeabilitas relatif air, fraksi
M = mobility ratio, tak berdimensi
MS = mobility ratio dimana k rw dihitung pada saturasi air rata-rata di belakang front
(yang ditentukan dari solusi frontal lanjut)
Np = produksi minyak kumulatif sesudah breakthrough, STB
N pbt = produksi minyak kumulatif saat breakthrough, STB
Nn = pertambahan jumlah perolehan minyak dari zona penyapuan baru.
N ps = pertambahan jumlah perolehan minyak dari zona penyapuan sebelumnya
Qi* = jumlah volume pori yang kontak dengan air pada pola 5-titik, PV
*
Qibt = jumlah volume pori yang kontak dengan air saat breakthrough, PV
RF = faktor perolehan primer, fraksi
RE = faktor perolehan karena injeksi air
Sor = Saturasi minyak residu, fraksi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 14 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Sw = saturasi air, fraksi
Sw = saturasi air rata-rata, fraksi
S w5 = saturasi air pada pola lima titik
S wc = saturasi air konat, fraksi
S wbt = saturasi rata-rata fasa pemindah pada breakthrough dalam injeksi linier seperti
yang telah terhitung dari solusi frontal lanjut.
S wi = saturasi minyak awal, fraksi
t = waktu, hari
V = permeability variation, tak berdimensi
φ = porositas, fraksi
µo = viskositas minyak pada kondisi reservoir, cp
µw = viskositas air injeksi, cp
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 15 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAKANG DAN RUMUS
A. Metode Buckley – Leverett
Metode yang dibicarakan disini hanya berlaku untuk pola pendesakan linier, sehingga pola
injeksi-produksi di reservoir harus dibagi atas beberapa sistem linier. Batasan metode ini
adalah :
- Terjadi front pendesak, di mana minyak mengalir di depan front. Air dan minyak mengalir
di belakang front.
- Reservoir merupakan lapisan tunggal yang homogen dan luas bidang aliran (cross-sectional
area) tetap.
- Terjadi aliran linier yang mantap (steady state). Hukum Darcy berlaku dimana laju injeksi
= laju produksi.
- Tidak ada saturasi gas di belakang front pendesak.
- Fractional flow fluida pendesak dan yang didesak setelah breakthrough (air injeksi mulai
terproduksi, tercermin dari lompatan harga WOR) merupakan fungsi M (mobility ratio).
Dengan anggapan bahwa tekanan kapiler diabaikan dan tidak ada efek gravitasi serta
lapisan horizontal, maka persamaan fractional flow dapat dituliskan sebagai berikut :
1
fw =
k .µ
1 + ro w
k .µ
rw o
B. Metode Dykstra – Parsons
Batasan metode ini sama seperti metode Buckley – Leverett - Welge, tetapi dapat
dikembangkan untuk sistem reservoir berlapis dengan anggapan tidak ada komunikasi antar
lapisan.
Berdasarkan harga permeability variation (V) dan mobility ratio (M), Dykstra - Parsons
membuat hubungan antara WOR dan Recovery dari 40 contoh batuan inti dari California.
Gambar-Gambar 6,7,8,9 menunjukkan harga WOR = 1.5, 25 dan 100 sebagai fungsi V dan M.
Grafik ini dapat digunakan langsung untuk menentukan recovery dari injeksi air dengan
anggapan bahwa ulah aliran fluida di reservoir mengikuti sifat-sifat batuan reservoir
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 16 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
California tersebut.
C. Metode Craig - Geffen - Morse
Evaluasi dilakukan pada saat breakthrough dimana efisiensi penyapuan tiap kumulatif volume
air yang diinjeksikan diperkirakan dengan menggunakan korelasi empiris Craig et.al.
Variasi WOR setelah breakthrough diperkirakan dengan membagi dua region, yaitu: daerah
penyapuan yang baru dan setelahnya. Daerah penyapuan yang baru adalah daerah yang hanya
tersapu oleh fluida pendesak. Daerah sebelum penyapuan adalah seluruh daerah penyapuan di
reservoir dimana Sw > Swbt. Kinerja pada region ini mengasumsikan bahwa semua air yang
terproduksi adalah berasal dari region sebelumnya, sementara minyak diproduksi dari daerah
penyapuan baru dan sebelumnya.
6.2. CONTOH SOAL
6.2.1. Metode Buckley - Leverret - Welge
1. Diketahui :
Luas ( A ) = (300 × 1,000) ft
Tebal Lapisan ( h ) = 20 ft
Permeabilitas rata-rata (k) = 100 mD
Porositas ( φ ) = 0.15
Saturasi air konat ( S wc ) = 0.363
Viskositas minyak ( µo ) = 2.0 cp
Viskositas air ( µ w ) = 1.0 cp
Faktor Volume Formasi sekarang ( Bo ) = 1.00 RB/STB
Saturasi minyak residu ( Sor ) = 0.205
Laju injeksi yang dilakukan = 338 bbl/hari
Kurva permeabilitas relatif (lihat Gambar 4)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 18 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
3. Plot f w terhadap S w (Gambar 3).
Tarik garis lurus dari sumbu saturasi menyinggung kurva, untuk S wi = 0,363 dibaca
S wbt = 0,665 dan saturasi saat fraksi air (fw) = 1 dibaca S wbt = 0,7
4. Plot grafik f w terhadap S w saat mulai breakthrough dan setelahnya (Gambar 4). Tarik
garis lurus menyinggung kurva, titik singgung garis dengan kurva adalah harga S w dan
titik potong garis dengan fw = 1 adalah saturasi air rata-rata S w . Contoh untuk S w =
0,670 → S w = 0.703 dan f w = 0.913
5. Perolehan minyak pada saat breakthrough adalah :
(300 )(20 )(1.000 )(0.15) cuft 0.7 − 0.363
N p = 7,758
= 54,016 STB
(5.615 cuft/bbl) 1
6. Kumulatif volume pori yang diinjeksikan :
S wbt = 0.665 (dari Gambar 3) dan fwbt = 0.899 dan S wbt = 0.7
maka, Qibt =
(0.7 − 0.665) = 0.347
(1 − 0.899)
7. Waktu penginjeksian untuk mencapai breakthrough, t :
Volume pori-pori :
Vp =
(300)(20)(1.000)(0.15) cuft = 160,285 bbl
(5.615 cuft/bbl)
maka, t =
(0.347 )(160,285) =164.3 hari
(338)
8. Kumulatif produksi minyak, Np :
Np =
(160,285)(0.7 − 0.363) = 54,016 bbl
1
9. Laju produksi minyak pada titik serap, q o :
qo =
(1 − 0)(338) = 338 bbl/hari
1
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 19 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
10. Volume air tiap volume minyak yang terproduksi, WOR :
0.899
WOR = = 8.9
1 − 0.899
11. Tabulasi hasil hitungan selengkapnya sebagai berikut :
Sw S wbt fw Qi Waktu, t Np qo WOR
(fraksi PV) (hari) (STB) (bbl/hari) (bbl/STB)
0.363 0.536 0.000 0.173 82.0 27729 338.0 0.0
0.665 0.700 0.899 0.347 164.3 54016 34.1 8.9
0.670 0.703 0.913 0.379 179.9 54497 29.4 10.5
0.680 0.713 0.936 0.516 244.5 56100 21.6 14.6
0.690 0.721 0.953 0.660 312.8 57382 15.9 20.3
0.700 0.730 0.968 0.938 444.6 58825 10.8 30.3
0.710 0.736 0.977 1.130 536.1 59786 7.8 42.5
0.720 0.741 0.984 1.313 622.4 60588 5.4 61.5
0.730 0.750 0.990 2.000 948.4 62030 3.4 99.0
0.740 0.758 0.995 3.600 1707.2 63313 1.7 199.0
0.750 0.766 0.997 5.333 2529.2 64595 1.0 332.3
Perolehan maksimum akibat injeksi air adalah : 64,595 STB
6.2.2. Metode Craig - Geffen - Morse
1. Diketahui :
Luas ( A ) = 10 acre
Tebal Lapisan ( h ) = 20 ft
Permeabilitas rata-rata (k) = 100 mD
Porositas ( φ ) = 0.15
Saturasi air konat ( S wc ) = 0.363
Saturasi gas awal ( S gi ) = 0
Saturasi minyak residu ( Sor ) = 0.205
Viskositas minyak ( µo ) = 2.0 cp
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 20 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Viskositas air ( µ w ) = 1.0 cp
Faktor Volume Formasi sekarang ( Bo ) = 1.0 RB/STB
Laju injeksi (iw) = 338 bbl/hari
Data permeabilitas relatif (Gambar 4.)
2. Tentukan fw (sama dengan langkah 3 Metode Buckley - Laverett - Welge).
3. Plot f w terhadap S w (sama dengan langkah 4 Metode Buckley - Laverett - Welge).
4. Tentukan S wbt dan S wbt ( sama dengan langkah 5 Metode Buckley - Laverett - Welge).
5. Mobilitas air untuk memindahkan minyak :
0.7 − 0.363
( S wbt ) = 0.7, maka S wD = = 0.78
1 − 0.205 − 0.363
krw = 0.78 (0.78)3.72 = 0.31
0.31 1
1 2 = 0.62
M_ =
S
6. Efisiensi area penyapuan saat breakthrough ( E Abt ) :
0.03170817 0.30222997
E Abt = 0.54602036 + + − 0.00509693 (0.62)
0.62 e 0.62
= 0.76
7. Volume pori ( V p )
V p = (10 acre)(43,560 sq.ft acre)(20 ft )(1 bbl 5.615 cu.ft )(0.15)
= 232,734 bbl
8. Volume air injeksi saat breakthrough ( Wibt ) :
Wibt = (0.76)(0.7 − 0.363)(232,734) = 59,431 bbl
9. (Wi )max dari pergerakan frontal dengan asumsi Qi 5 = Qi 2 pada WOR = 200, pada
f w 2 = 0.995, maka S w 2 = 0.74 dan f ' w 2 = 0.306, sehingga :
(Qi )max = (1 f ' sw 2 ) = (1 0.306) = 3.27
(Wi )max = (Qi )max .Vpori = (3.27 )× (232,734) = 761,039 bbl
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 21 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
(1− E Abt ) 0.274
10. Wi100 = Wibt × e = 59,431× e (1−0.76 ) 0.274 = 144,265.78 bbl
11. Menghitung Qi* :
a. Selang Wibt < Wi < Wi100 menggunakan persamaan :
Qi*
*
= 1 + a1e − a1 [Ei (a 2 ) − Ei (a1 )]
Qibt
dimana :
a1 = 3.65 E Abt = 3.65 × (0.76) = 2.774
a 2 = a1 + ln (Wi Wibt ) = 2.774 + ln (67,832 / 59,339)
= 2.774 + 0.2517 = 3.0257
Wibt 59,339.96
Qibt =
*
= = 0.337
E Abt .V p (0.76 )(232,734 )
maka :
( )
Q * = 1 + 2.774e −2.774 [Ei(3.0257 ) − Ei(2.774 )] × 0.337 = 0.336
b. Selang Wi100 < Wi < Wimax menggunakan persamaan :
Wi − Wi100 176,702.73 − 144,265.78
Qi* = Qi*100 + = 0.737 + = 1.015
Vpori 232,734
12. ∆Wi = 68,658 − 59,409 = 9,249 bbl
13. E A = 0.76 + 0.633 log (1.16 ) = 0.80
14. ∆E A = 0.80 − 0.76 = 0.04
' 1
15. f w = = 2.584
0.387
16. S w 2 = 0.6711 (dari grafik langkah 5).
17. f w 2 = 0.9154 untuk S w 2 = 0.6711 (dari grafik langkah 3).
18. f o 2 = 1 − 0.9154 = 0.085
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 22 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
19. Pertambahan produksi minyak :
Nn + N p 2,796 + [0.085 × (9,249 − 2,796)]
= = 3,342 STB
Bo 1
dimana :
N n = [0.04 × (0.6650 − 0.363)× 232,734] = 2,796 bbl
20. Jumlah kumulatif perolehan minyak :
Nilai I :
[(0.6650 − 0.363)× 0.76] − 1 = 53,177 STB
1
Nilai selanjutnya : 3,342 + 53,177 = 56,519 STB
21. WOR dihitung dengan menggunakan persamaan :
WOR =
(9,249 − 2,796) − 0.085 (9,249 − 2,796) = 1.8
2,796
22. Tentukan waktu setelah injeksi (implementasi laju injeksi konstan) :
68,658
t= = 203 hari
338
23. Laju produksi minyak setelah fill up adalah slope plot Np vs waktu yaitu, 48.2 STB/hari
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 23 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
180000
160000
140000
yang diperoleh akibat injeksi, STB
120000
Kumulatif Minyak
y = 48.176x + 60319
100000
80000
60000
40000
20000
0
0 500 1000 1500 2000 2500
Waktu setelah injeksi, hari
24. Jika volume air yang diinginkan untuk injeksi diketahui (implementasi beda tekanan
konstan antara sumur produksi dan sumur injeksi ) sebesar 40,000 bbl dan 114,900 bbl,
perhitungan laju injeksi sebagai berikut :
a. Wi = 40,000 bbl
Wi 40,000
EA = = = 0.51
(
V p S bt − S wi ) 232,734 × (0.7 − 0.363)
E A < E Abt , maka mobilitas zona penyapuan adalah M s = 0.62
Dari Gambar 7, M s = 0.62 dan E A = 0.51 dibaca rasio konduktivitas γ = 0.84 .
Tentukan laju injeksi dasar (base) :
3.541(0.1)(20 )(500 )
ib = = 284.7 bbl/hari
466.7
2 ln − 0.699
0.5
Laju alir untuk injeksi :
i = 284.7 × 0.84 = 239.1 bbl/hari
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 25 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
6.3. GAMBAR – GAMBAR YANG DIGUNAKAN
Gambar 1. Contoh Linierisasi Pola Injeksi – Produksi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 26 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 2. Hubungan terhadap S w dan Penarikan Garis Singgung untuk sistem S wi 〉 S wc
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 27 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 3. Contoh Permeability Variation pada kertas grafik probabilitas
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 28 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 4. Kurva Permeabilitas Relatif
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 29 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
S w bt
1 .0
0 .9
fw b t
0 .8
0 .7
F ra k tio n a l F lo w ,
0 .6
0 .5
0 .4
0 .3
0 .2
0 .1
S w bt
0 .0
0 .0 0 .1 0 .2 0 .3 0 .4 0 .5 0 .6 0 .7 0 .8 0 .9 1 .0
S a tu ra si A ir, S w
Gambar 5. Kurva Fractional Flow
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 30 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 .0 0
0 .9 6
0 .9 2
F raktio na l F low ,
0 .8 8
0 .8 4
0 .8 0
0.6 4 0 .68 0.72 0.76
S atu rasi A ir, S w
Gambar 6. Kurva Fractional Flow setelah Breakthrough
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 31 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 7 Grafik Korelasi Conductance Ratio Pola 5 Titik
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 32 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 8. Permeability Variation vs Mobility Ratio untuk WOR = 1
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 33 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 9. Permeability Variation vs Mobility Ratio untuk WOR = 5
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 34 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 10. Permeability Variation vs Mobility Ratio untuk WOR = 25
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.02
Halaman : 35 / 35
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Air
Gambar 11. Permeability Variation vs Mobility Ratio untuk WOR = 100
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 1 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
PERAMALAN KINERJA INJEKSI UAP
1. TUJUAN
Meramalkan produksi minyak yang akan diperoleh sejak diinjeksikan uap ke dalam suatu reservoir
minyak.
2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Peramalan Np terhadap waktu atau qo terhadap waktu dilakukan dengan metode analitis dari
Marx – Langenheim, Jones, Farouq Ali, dan Miller – Leung.
2.2. PERSYARATAN
Metode ini digunakan untuk reservoir minyak yang mempunyai distribusi karakteristik batuan
dan fluida (porositas, permeabilitas, saturasi fluida) seragam dan menerus.
3. LANGKAH KERJA
3.1. METODE MARX - LANGENHEIM
1. Siapkan data pendukung :
- Kedalaman sampai puncak lapisan (Z)
- Porositas (φ)
- Permeabilitas (k)
- Temperatur Reservoir (Tr)
- Temperatur di Permukaan (Ts)
- Viskositas minyak pada kondisi reservoir (µo)
- Tekanan reservoir (Pres)
- API gravity minyak (γo)
- Ketebalan bersih (hp)
- Ketebalan kotor (hg)
- Saturasi minyak pada saat injeksi uap dilakukan (So)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 2 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
- Perolehan produksi primer (% IOIP)
- Tekanan injeksi uap di permukaan (Pinj)
- Luas reservoir yang akan diinjeksi (A)
- Saturasi air awal (Swi)
- Gradien geotermal (Gg)
- Konduktivitas panas batuan di atas dan di bawah formasi (Kob)
- Panas spesifik batuan formasi (Cf)
- Panas spesifik air (Cw)
- Panas spesifik minyak (Co)
- Kerapatan jenis batuan formasi (ρf)
- Kerapatan jenis air (ρw)
- Kualitas uap di permukaan (X)
- Kerapatan jenis minyak (ρo)
- Difusivitas termal lapisan atas dan lapisan bawah (αD)
- Faktor Volume Formasi minyak (Bo)
- Saturasi gas (Sg)
- Saturasi minyak residu setelah injeksi uap (Sor)
2. Sediakan "Steam Table" di dalam satuan Inggris (British - Unit). Dianjurkan menggunakan
buku "Thermal Properties of Steam" karangan Keenam dan Keyes, John Wiley & Sons.
3. Tentukan laju injeksi (qsteam, B/D) dari persamaan berikut ini :
q steam = 3.8 × 10 −6 khg ( Pinj − Pres ) (1)
4. Berdasarkan harga Pinj, tentukan harga entalpi dari cairan jenuh, uap jenuh (Hs), t.emperatur uap
(Tsteam) dan entalpi dari Evaporated atau yang kurang (Hwv) dari "Steam Table".
5. Tentukan laju injeksi (qsteam, lb/hari)
350
q steam = q steam × (2)
24
6. Dengan diketahui harga qsteam dan Pinj tentukan kehilangan panas (Hloss) setelah 1 tahun untuk
setiap kedalaman 100 ft dengan menggunakan Gambar 2.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 3 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
7. Tentukan entalpi di permukaan dari persamaan :
H = (1 − X ) H w + XH s (3)
8. Tentukan panas yang hilang dari permukaan sampai kedalaman titik injeksi (Hloss, Btu/hr).
Z
H loss = q steam × H × H lossft × (4)
100
9. Hitung kualitas uap di dasar sumur injeksi :
H loss
Xi = X − (5)
q steam H wv
10. Tentukan input panas di permukaan (Hs, BTU/hr)
H s = H × q steam (6)
11. Hitung masukan panas ke dalam formasi :
H o = H s − H loss (7)
12. Produksi kumulatif minyak ditentukan berdasarkan persamaan :
As (t )hg φ ( S o − S or )
Np = (8)
5.615Bo
dimana :
H o Mhg α D x2 2x
As (t ) = e erfcx + − 1 (9)
− Tr ) π
2
4 K ob (Tsteam
M = (1 − φ ) ρ f C f + S wφρ w C w + S oφρ o C o (10)
Jika tidak diketahui, So dapat ditentukan dari persamaan
N p Bo
S o = (1 − ) [1 − S wc ] (11)
N Boi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 4 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
x2 2x
e erfcx + − 1 dibaca dari kolom 3 Tabel 1 dimana :
π
2 K ob t 0.5
x= (12)
Mhg α D
3.2. Metode Jones
1. Siapkan data pendukung :
- Kedalaman sampai puncak lapisan (Z)
- Permeabilitas (k)
- Temperatur di Permukaan (Ts)
- Viskositas minyak pada kondisi reservoir (µo)
- Tekanan reservoir (Pres)
- API gravity minyak (γo)
- Saturasi minyak pada saat injeksi uap dilakukan (So)
- Perolehan produksi primer (% IOIP)
- Tekanan injeksi uap di permukaan (Pinj)
- Luas reservoir yang akan diinjeksi (A) (acres)
- Saturasi air awal (Swi)
- Gradien geotermal (Gg)
- Konduktivitas panas batuan di atas dan di bawah formasi (Kob)
- Panas spesifik batuan formasi (Cf)
- Panas spesifik air (Cw)
- Panas spesifik minyak (Co)
- Kerapatan jenis batuan formasi (ρf)
- Kerapatan jenis air (ρw)
- Kualitas uap di permukaan (X)
- Kerapatan Jenis minyak (ρo)
- Difusivitas termal lapisan atas dan lapisan bawah (αD)
- Faktor Volume Formasi minyak (Bo)
- Saturasi gas (Sg)
- Saturasi minyak awal (Soi)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 5 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
- Saturasi minyak residual (Sor)
- Injeksi uap kumulatif (Vs,inj)
- Porositas (φ)
- Tekanan injeksi uap yang digunakan pada ekstension laju alir-tekanan (P1 dan P2)
- Laju injeksi uap yang digunakan pada ekstension laju alir-tekanan (is1 dan is2)
- Laju injeksi uap (is)
dengan tambahan data yang perlu disesuaikan:
- Temperatur reservoir (Tr)
- Tebal bersih lapisan (hp)
- Tebal kotor lapisan (hg)
- Viskositas minyak pada kondisi awal reservoir (µoi)
2. Lakukan perhitungan seperti pada langkah 3.1-3 s/d 12.
3. Volume minyak yang terproduksi karena pendesakan dapat ditentukan dengan persamaan :
0. 5
N p S oi
VoD = 1 − (13)
N ( S oi − S or )
dengan 0 ≤ VoD ≤ 1.0
4. Pori-pori awal yang terisi uap seperti air dihitung dengan persamaan :
2
5.62Vs ,inj
V pD = (14)
43,560 Ah pφS g
dengan 0 ≤ VpD ≤ 1.0 dan VpD = 1.0 @ Sg = 0.
5. Ukuran zona uap tak berdimensi dihitung dengan persamaan :
2
As
AcD = 0.5
(15)
µ oi
A0.11 ln 100
dengan 0 ≤ AcD ≤ 1.0 dan AcD = 1.0 @ µo ≤ 100 cp.
6. Laju minyak yang terdesak dapat dihitung dengan persamaan :
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 6 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
N dn − N dn −1
q od = (16)
∆t
dimana:
N d = F 'os Vs , inj (17)
ρ wC w h p
F ' os = ∆S oφ (1 + hD ) E hs (18)
M 1 hg
M 1 = (1 − φ ) ρ R C R + φf s (1 − S or ) ρ s C s + φS or ρ o C o + φ ( 1 − f s )(1 − S or ) ρ w C w (19)
dengan:
ρR = 165 lbm/cuft
CR = 0.20 Btu/lbm-oF
Sor = 0.15
ρw = 62.4 lbm/cuft
Cs ≅ Cw = 1.0 Btu/lbm-oF
Co = 0.45 Btu/lbm-oF
ρs ≅ 0
fs = kualitas uap di dasar lubang
1 tD 1
E hs = (
tD
t −t
e erfc t D + 2 t D / π − 1 − D cD
π
)
1 + FhD
t − t − 3 tD
+ D cD
3
t −t
e erfc t D − D cD
3 πt D
(20)
42,048K h t
tD = 2
(21)
hg M 1
K h = 1.04 − 1.30φ + 0.28K R (1 − S o ) (22)
dimana: KR = 2.75 Btu/ft-hr-oF @ 125 oF
t cD = 0.48 FhD
1.71
(23)
f s h fg
FhD = (24)
C w ∆T
h fg = 865 − 0.207 Ps (25)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 7 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
Perhitungan Ps ada 2 cara, yaitu:
a. secara geometrik :
Ps = P1e m (is −is1 ) (26)
ln( P2 / P1 )
m= (27)
(i s 2 − i s1 )
b. secara linier :
Ps = P1 + m(i s −i s1 ) (28)
P2 − P1
m= (29)
i s 2 − i s1
erfc t D = (0.254829592 K − 0.284496736 K 2 + 1.421413741K 3 − 1.453152027 K 4
+ 1.061405429 K 5 )e −t D
(30)
1
K= (31)
1 + 0.3275911 t D
7. Laju produksi minyak dihitung dengan persamaan :
q o = q od AcDVoDV pD (32)
8. Rasio kumulatif minyak yang terproduksi terhadap air setelah uap diinjeksikan dapat dihitung
menggunakan persamaan :
∑ q ∆t
t
= 0 o
Fos (33)
Vs ,inj
3.3. Metode Farouq Ali
1. Siapkan data-data sama dengan subbab 3.1 dan 3.2.
2. Ketebalan zona uap dapat dihitung dengan persamaan :
hst ≅ 0.5 AR h p (34)
dimana :
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 8 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
1
(350)(144) µ st ist f st 2
AR = (35)
(6.328)π ( ρ o − ρ st ) ρ st k st h p
2
ρ st = Ps 0.9588 / 363.9 (36)
µ st = (0.2Ts + 82)10 −4 (37)
3. Perhitungan waktu kritik menggunakan persamaan berikut ini :
M s 2hp 2
tc = t cD (38)
4 K h M ob
dimana:
1
e tcD erfc t cD = (39)
f sdh Lvdh
1+
C w (Ts − TR )
dengan
Lvdh = 94(705 − Ts ) 0.38 (40)
4. Volume pola injeksi dan volume zona uap pada saat breakthrough dihitung dengan persamaan :
VB = 43,560 Ahg (41)
VsBT = 43,560 AE A hst (42)
5. Pada suatu harga waktu t, volume zona uap dihitung dengan persamaan :
2
Qi hg M s F1
Vs (t ) = untuk t ≤ tc (43)
4k hob M ob [Ts − TR ]
2
Qi hg M s F2
Vs (t ) = untuk t > tc (44)
4k hob M ob [Ts − TR ]
dimana :
tD
F1 = e t D erfc t D + 2 t D / π − 1 ≅ (45)
1 + 0.85 t D
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 9 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
t D − t cD (1 + f st Lv / c w (Ts − TR ) ) +
−1
F2 = F1 − (46)
π ((t D − t cD − 3) / 3)e t D erfc t D − (t D − t cD ) / 3 πt D
6. Harga konduktivitas termal dari cap rock dihitung menggunakan persamaan :
K h = 1.04 + 1.3φ + 0.28 K R (1 − S o ) (47)
dimana:
KR = 2.75 Btu/ft-hr-oF pada 120 oF
7. Kapasitas panas rata-rata dari zona uap (Ms) dihitung dengan persamaan :
M s = (1 − φ ) ρ R C R + φf s (1 − S or ) ρ s C s + φS or ρ o C o + φ ( 1 − f s )(1 − S or ) ρ w C w (48)
dimana:
ρR = 165 lbm/cuft
CR = 0.20 Btu/lbm-oF
Cs ≅ Cw = 1.0 Btu/lbm-oF
Co = 0.45 Btu/lbm-oF
8. Kapasitas panas dari cap atau base rock adalah :
Mob = ρRCR (49)
t
9. Harga e cD erfc t cD pada persamaan (39) diperoleh dari :
e tcD erfc t cD = 0.255 K − 0.284 K 2 + 1.421K 3 − 1.453K 4 + 1.061K 5 (50)
dimana :
2
1
K −1
t cD = (51)
0.3276
10. Jadi, langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memperoleh harga tc adalah sebagai berikut :
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 10 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
t
(i) Hitung nilai dari e cD erfc t cD pada persamaan (39).
(ii) Selesaikan persamaan (50) untuk harga K.
(iii) Tentukan tcD dari persamaan (51).
(iv) Hitung tc dari persamaan (38).
11. Temperatur rata-rata dari formasi yang tidak tersapu dihitung dengan persamaan :
Qi t − Vs (t )(Ts − TR ) M s
Tavg = + TR (52)
2 M s [V B − Vs (t )]
Persamaan ini hanya merupakan perkiraan dan digunakan untuk Tavg ≤ Ts. Jika Tavg > Ts, maka
Tavg diset sama dengan Ts untuk seluruh waktu di masa depan.
12. Menggunakan harga Tavg yang sudah dihitung pada langkah (11), hitung viskositas minyak dan
air sebagai berikut :
µ o = ae b /(T + 460 )
(53)
µ w = (1,776 − T ) /( 26.5T − 89)
13. Perhitungan krw dan kro adalah sebagai berikut :
2
k rw = −0.002167 S w + 0.024167 S w
* *
(54)
1.0808 0.13856
k ro = −0.9416 + *
− (55)
Sw *2
Sw
dengan kro = 1 jika S w ≤ 0.2 .
*
14. Ketika Vs > VsBT, terdapat pilihan untuk memproduksi uap pada interval yang telah diberikan
atau menghentikan produksi. Farouq Ali menyarankan suatu perlakuan yang telah
disederhanakan, yang memberikan Vs(t) setelah breakthrough pada semua waktu (t) :
[
Vs (t ) = VsBT + Qi (t − t BT ) − 2 K h A(43,560) E A (Ts − TR )( t − t BT ) / πα ] (56)
/ M s (Ts − Tavg )
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 11 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
15. Dengan asumsi bahwa reservoir dan formasi yang berdekatan memiliki sifat-sifat termal yang
sama, kehilangan panas di atas dan bawah daerah uap dihitung dengan persamaan :
t − t BT
Qi = 4 K h A(43,560)(Ts − TR ) (57)
πα
16. Keseimbangan energi secara keseluruhan memberikan Qin – Qout = Qaccumulation atau
t − t BT
Qi t − 4 K h A(43,560)(Ts − TR ) = Vs M s (Ts − TR ) (58)
πα
17. Penyelesaian persamaan (58) untuk memperoleh Vs
t − t BT
Qi t − 4 K h A(43,560)(Ts − TR )
Vs =
πα (59)
M s (Ts − TR )
karena
Qi t BT = VsBT M s (Ts − TR ) (60)
maka, diperoleh :
Qi t = Qi (t − t BT ) + Qi t BT = Qi (t − t BT ) + VsBT M s (Ts − TR ) (61)
18. Substitusi persamaan (61) ke persamaan (59) menghasilkan :
[
Vs (t ) = VsBT + Qi (t − t BT ) − 4 K h A(43,560)(Ts − TR ) (t − t BT ) / πα ] (62)
/ M s (Ts − TR )
19. Dari langkah waktu ∆t [t(n) sampai t(n+1)], volume uap darimana minyak dan air dipindahkan
karena ekspansi dan pemindahan fluida dapat dihitung dengan persamaan :
( n +1)
∆V s = V s − Vs
(n)
(63)
20. Laju pemindahan minyak, Qo, dihitung dengan persamaan :
Qo = ∆V sφ ( S o − S orst )
(n)
(64)
21. Laju pemindahan air, Qw, dihitung dengan persamaan :
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 12 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
[
Qw = ∆Vsφ S wn ) − (1 − S st − S orst )
(
] (65)
= ∆Vsφ ( S wn ) − 1 + S st + S orst )
(
22. Persamaan material balance secara menyeluruh untuk zona minyak-air antara t(n) dan t(n+1)
adalah sebagai berikut :
Untuk minyak :
[ ][
Qo − qo ∆t = V B − Vs( n +1) φ S o n +1) − S o n )
( (
] (66)
Diasumsikan VB − Vs( n +1) = V B' , maka untuk air :
[
Qw − q w ∆t = V B' φ S wn +1) − S w
( n
]
[( ) (
= VB' φ 1 − S o n +1) − S g − 1 − S o n ) − S g
( (
)] (67)
= V φ [S
B
' ( n)
o − S o n +1)
(
]
23. Dari persamaan (34) dan (35) kita mempunyai :
=
(
[
q o Qo − VB' φ S o n +1) − S o n )
(
]
[
q w Qw − V B' φ S o n ) − S o n +1)
( (
] (68)
24. Dari persamaan aliran fraksional, kita dapat menulis
qw 1
fw = = (69)
qo + q w k µ
1 + ro w
k rw µ o
dan
q o k ro µ w
= =C (70)
q w k rw µ o
25. Substitusi persamaan (38) ke dalam persamaan (36) dan penyelesaian untuk S o n +1) memberikan
(
Qo − CQw
S o n ) (1 + C ) +
(
φVB'
S o n +1) =
(
(71)
1+ C
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 13 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
3.4. Metode Miller dan Leung
1. Data-data dan perhitungan yang dilakukan sama dengan yang dilakukan pada subbab 3.1 – 3.3
dengan beberapa modifikasi seperti yang akan dijabarkan pada langkah 2 dan seterusnya di
bawah ini.
2. Laju injeksi uap optimum dapat dihitung menggunakan persamaan :
Qi
i st = (72)
5.6146 ρ w Lvdh ∆t
3. Untuk memperhitungkan kenyataan bahwa laju injeksi uap seharusnya didasarkan pada air
dingin yang disuplai ke dalam generator uap, persamaan (72) menjadi :
Qi
ist =
[
5.6146 ρ w h fs + f sdh Lvdh − C w (TR − 32) ] (73)
dimana jumlah panas yang diinjeksikan dihitung dengan menggunakan persamaan :
t −τ
Qi = 4 K h A(Ts − TR ) + Ahs M s (Ts − TR ) (74)
πα
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 14 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
4. DAFTAR PUSTAKA
1. Farouq Ali, S. M. : “Steam Injection Theories – A Unified Approach”, paper SPE 10746,
dipresentasikan di California Regional Meeting of the SPE, San Francisco, March 24-26, 1982.
2. Marx, J. W. and Langenheim, R. H. : “Reservoir Heating by Hot Fluid Injection,” SPE Reprint
Series No. 7, hal 150-153.
3. Satter, A. : “Heat Losses During Flow of Steam Down a Wellbore,” SPE Reprint Series No. 10,
hal 55-61.
4. White, P. D. and Moss, J. T. : “Thermal Recovery Method,” Penn Well Publ. Co. Tulsa,
Oklahoma.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 15 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
5. DAFTAR SIMBOL
A = luas, Acres
AcD = ukuran zona uap tak berdimensi
Bo = faktor volume formasi minyak, STB/bbl
Boi = faktor volume formasi minyak awal, STB/bbl
Cf = panas spesifik batuan formasi, Btu/lb °F
Ci = panas spesifik dari fasa i, Btu/lbm-oF
Co = panas spesifik minyak, Btu/lb °F
Cw = panas spesifik air, Btu/lb °F
EA = efisiensi penyapuan areal
EV = efisiensi penyapuan vertical
fcp = kondensat uap yang terproduksi, fraksi
fsdh = kualitas uap di dasar sumur, fraksi
Gg = gradien geotermal, °F/ft
H = entalpi, Btu/lb
Hs = entalpi dari saturated vapor, Btu/lb
Hw = entalpi dari saturated liquid, Btu/lb
Hwv = entalpi dari Evaporated, Btu/lb
hfs = entalpi dari uap tersaturasi pada temperatur uap, Btu/lbm
hg = tebal kotor (net pay thickness), ft
hn = tebal zona bersih, ft
hp = tebal bersih (gross pay thickness), ft
hs = tebal zona uap, ft
ist = laju injeksi uap, cold water equivalent, BWPD
k = permeabilitas, md
kro = permeabilitas relatif minyak, fraksi
krw = permeabilitas relatif air, fraksi
Kh = konduktivitas panas dari cap rock dan base rock, Btu/ft-hr-oF
Kob = konduktivitas panas batuan, Btu/hr-ft-°F
Lvdh = panas laten dari uap, Btu/lb
Mob = kapasitas panas dari cap rock dan base rock, Btu/ft3-oF
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 16 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
Ms = kapasitas panas zona uap, Btu/ft3-oF
N = jumlah minyak awal di tempat (IOIP), STB
Nd = jumlah kumulatif minyak yang dipindahkan, bbl
Np = produksi minyak kumulatif, STB
P = tekanan, psi
Pinj = tekanan injeksi uap di permukaan, psi
Pres = tekanan reservoir, psi
qo = laju alir minyak, STB/D
qoi = laju alir minyak sebelum diinjeksi uap, STB/D
qw = laju produksi air, BWPD
Qi = laju injeksi panas, Btu/hr
Ql = kehilangan panas pada cap rock dan zona uap, Btu
Qo = laju pemindahan minyak, BOPD
Qw = laju pemindahan air, BWPD
Sg = saturasi gas, fraksi
So = saturasi minyak, fraksi
Soc = saturasi minyak zona kondensat, fraksi
Soi = saturasi minyak awal, fraksi
Sor = saturasi minyak residual, fraksi
Sorst = saturasi minyak residual injeksi uap, fraksi
Sos = saturasi minyak zona uap, fraksi
Sst = saturasi uap di zona uap, fraksi
Sw = saturasi air, fraksi
Sw* = (Sw-Swir)/(1-Swir-Sorw)
Swc = saturasi air konat, fraksi
Swir = saturasi air irreducible, fraksi
T = waktu, jam
tc = waktu kritik, jam
tcD = waktu kritik tak berdimensi
∆t = penambahan waktu, jam
tBT = waktu breakthrough uap, jam
T1,2 = temperatur pada kondisi 1 dan 2, oF
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 17 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
Tr = TR = temperatur reservoir, °F
Ts = temperatur permukaan, °F
VB = volume bulk dari pola, ft3
VB’ = VB – Vs(n+1), ft3
VoD = produksi minyak yang terpindahkan, tak berdimensi
VpD = ruang pori mula-mula yang terisi uap sebagai air, tak berdimensi
Vs(t) = volume zona uap pada saat t, ft3
VsBT = volume zona uap pada saat breakthrough, ft3
X = kualitas uap, fraksi
x = parameter Marx-Langenheim
Z = kedalaman, ft
Huruf Yunani
αD = difusivitas termal overburden dan underburden, ft2/hr
φ = porositas, fraksi
π = konstanta (=3.14159)
µo = viskositas minyak, cp
γo = API gravity minyak, °API
ρf = kerapatan jenis batuan reservoir, lb/Cu-ft
ρo = kerapatan jenis minyak, lb/Cu-ft
ρw = kerapatan jenis air, lb/Cu-ft
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 18 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
6. LAMPIRAN
6.1. Latar Belakang dan Rumus
Metode peramalan ulah injeksi uap yang dikembangkan oleh Marx dan Langenheim merupakan
metode yang sederhana dan praktis digunakan. Metode ini dikembangkan untuk proses injeksi uap
pada reservoir yang ideal (homogen, isotropis dan mempunyai karakteristik batuan dan fluida yang
seragam dan menerus).
Gambar 1 memperlihatkan distribusi temperatur berjarak radial dari sumur injeksi (garis tegas) dan
kemudian disederhanakan sebagai garis terputus-putus untuk mempermudah pengembangan
persamaan matematis.
Berdasarkan pola penyebaran panas seperti diperlihatkan pada Gambar l tersebut, produksi
kumulatif minyak yang diperoleh adalah :
As (t )hg φ ( S o − S or )
Np = (1)
5.615Bo
dimana :
H o Mhg α D x2 2x
As (t ) = e erfcx + − 1 (2)
− Tr ) π
2
4k ob (Tsteam
M = (1 − φ ) ρ f C f + S wφρ w C w + S oφρ o C o (3)
Harga fungsi erf di ruas kanan persamaan (2) dapat dilihat pada Tabel 1. Kehilangan panas dari
permukaan sampai kedalaman titik injeksi dapat diperkirakan menggunakan Gambar 2.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 19 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
6.2. Contoh Soal
Suatu reservoir dengan data di bawah ini merupakan calon untuk proyek injeksi uap. Perkirakanlah
laju produksi dan produksi kumulatif minyak yang diperoleh selama 10 tanun projek ini berjalan.
Kedalaman formasi (Z) = 700 ft
Porositas (φ) = 0.35
Permeabilitas (k) = 7600 md
Temperatur reservoir (Tr) = 80 oF
Temperatur di permukaan (Ts) = 70 oF
Viskositas minyak pada Tr (µo) = 4000 cp
Tekanan reservoir = 140 psi
API gravity minyak = 14 oAPI
Tebal bersih (hp) = 70 ft
Tebal kotor (hg) = 80 ft
Saturasi minyak awal (Soi) = 0.60
Perolehan produksi primer = 0.13
Tekanan injeksi uap di permukaan (Pinj) = 400 psi
Luas reservoir (A) = 60 acres
Saturasi air awal (Swi) = 0.40
Gradien geothermal (Gg) = 0.011
Konduktivitas panas batuan di atas dan bawah
Permukaan (kob) = 1.6 Btu/hr-ft
Panas spesifik batuan formasi (Cf) = 0.3 BTU/lb oF
Panas spesifik air (Cw) = 1.0 BTU/lb oF
Panas spesifik minyak (Co) = 0.5 BTU/lb oF
Kerapatan formasi (ρf) = 130 lb/ft3
Kerapatan jenis air (ρw) = 57 lb/ft3
Kerapatan jenis minyak (ρo) = 50 lb/ft3
Difusivitas termal overburden dan underburden (αD) = 0.04 ft2/hr
Kualitas uap di permukaan (X) = 0.8
Faktor volume formasi minyak (Bo) = 1 STB/bbl
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 20 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
Saturasi gas (Sg) =0
Saturasi minyak tersisa setelah injeksi uap = 0.10
Penyelesaian :
q steam = 3.8 × 10 −6 khg ( Pinj − Pres )
q steam = 3.8 × 10 −6 (7,600)(800)(400 − 140)
= 601 B/D
Dari steam table, pada Pinj = 400 psi didapat :
Hw = 424 BTU/lb
Hs = 1204.5 BTU/lb
Hwv = 781 BTU/lb
Tsteam = 444.59 oF
Laju injeksi (lb/hr) :
350
q steam = q steam ( B / D) ×
24
350
q steam = 601 × = 8,765lb / hr
24
Dari Gambar 1 :
Dengan qsteam = 8,765 lb/hr dan Pinj = 400 psi diperoleh Hloss = 0.32 % dari panas input per 100 ft.
Entalpi di permukaan :
H = (1 − X ) H w + XH s
H = (0.2)(424) + (0.8)(1,204.5) = 1,048.4 BTU / lb
Panas yang hilang dari permukaan sampai kedalaman Z,
Hloss (BTU/hr) = qsteam (lb/hr) × H × Hloss × (Z/100)
= 8,765 × 1,048.4 × 0.0032 (700/100)
= 205,838.6 BTU/hr
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 21 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
Kualitas uap pada titik injeksi di formasi :
H loss
Xi = X −
q steam × H wv
205,838.6
X i = 0.8 − = 0.77
(8,765) × (781)
H s = H × q steam (lb / hr )
H s = (1,048.4)(8,765) = 9,189,226 BTU / hr
Input panas di formasi :
H o = H s − H loss
H o = 9,189,226 − 205,838.6 = 8,983,387 BTU / hr
Saturasi minyak pada saat dimulainya injeksi uap :
N p Bo
S o = (1 − ) [1 − S wc ]
N Boi
1
S o = (1 − 0.13) [1 − 0.4] = 0.52
1
Tentukan harga M :
M = (1 − φ ) ρ f C f + S wφρ w C w + S oφρ o C o
M = (1 − 0.35)(130)(0.3) + (0.48)(0.35)(57)(1) + (0.52)(0.35)(50)(0.5)
M = 39.5
Tentukan harga x :
2k ob t 0.5
x=
Mhg α D
2(1.6)t 0.5
x= = 0.0051t 0.5
(39.5)(80) 0.04
Tentukan Np :
As (t )hg φ ( S o − S or )
Np =
5.615Bo
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 22 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
As (t )(70)(0.35)(0.52 − 0.1)
Np = = 1.84 As (t )
5.615(1)
H o Mhg α D x2 2x
As (t ) = e erfcx + − 1
− Tr ) π
2
4k ob (Tsteam
2 2x
As (t )(1.84) = 304,146.3e x erfcx + − 1
π
2 2x
As (t ) = (1.84)(304,146.3) e x erfcx + − 1
π
Buat tabel seperti berikut ini :
t x2 2x
x e erfcx + π − 1 Np (STB)
(tahun)
0.5 0.34 0.09157 51,245
1 0.48 0.16771 93,855
1.5 0.58 0.23133 129,459
2 0.68 0.30117 168,544
3 0.83 0.41549 232,520
4 0.95 0.51362 287,437
6 1.17 0.71003 397,354
8 1.35 0.91847 514,003
9 1.43 0.96611 540,663
10 1.51 1.01415 567,548
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 23 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
6.3. GAMBAR DAN TABEL
Gambar 1. Distribusi radial temperatur sebagai akibat injeksi uap (garis tegas) dan
penyederhanaannya (garis putus-putus).
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 24 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
Gambar 2. Panas yang hilang sebagai fungsi laju injeksi uap dan tekanan injeksi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 25 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
TABEL 1
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 26 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
TABEL 1 (SAMBUNGAN)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 27 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
TABEL 1 (SAMBUNGAN)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR.08.03
Halaman : 28 / 28
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Uap
TABEL 1 (SAMBUNGAN)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 1/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
PERAMALAN KINERJA CYCLIC STEAM INJECTION
1. PENDAHULUAN
Cyclic steam injection merupakan salah satu yang dipertimbangkan dalam proses pengambilan
minyak terutama pada reservoir yang mengandung minyak berat. Steam atau uap air diinjeksikan
dengan laju alir dan steam quality yang ditentukan. Begitu sampai di dasar sumur kualitas dan
temperatur dari steam tersebut akan berkurang karena adanya kehilangan panas. Setelah injeksi
dilakukan selama periode yang diinginkan, sumur ditutup dan membiarkan steam menembus lebih
jauh ke dalam reservoir dan memanasi fluida reservoir lebih lama. Periode ini disebut sebagai
soaking period. Kemudian sumur diproduksikan sampai laju alir yang ekonomis, dan proses injeksi-
soaking-produksi dapat diulang kembali.
Untuk meramalkan kinerja cyclic steam injection ini selama produksi digunakan beberapa teknik
yaitu thermal simulator, model analitik dan korelasi. Dalam bagian ini akan dibahas satu metode
analitik untuk meramalkan kinerja dari cyclic steam injection. Metode ini diambil dari studi yang
dilakukan oleh Gontijo dan Aziz.1 Sebagai tambahan referensi beberapa metode analitik lainnya
diberikan oleh Jones,2 Gozde et al.,3 Rivas dan Boccardo,4 Buitrago dan Boccardo,5 Tamim dan
Farouq Ali,6 dan Tamim dan Rahman.7
2. DESKRIPSI MODEL ANALITIK GONTJO DAN AZIZ
Asumsi dan batasan yang digunakan adalah sebagai berikut:
− pada kondisi awal, fluida di reservoir terdiri dari minyak dan air,
− setelah periode injeksi steam menyebar di reservoir mengikuti bentuk kerucut terbalik,
− tidak ada perpindahan panas dari steam ke reservoir selama proses injeksi,
− minyak yang dimobilisasi oleh steam adalah lapisan tipis dibawah bidang kontak antara steam-
minyak,
− panas menyebar dari zona steam ke zona minyak dengan proses konduksi,
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 2/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
− begitu minyak diproduksi steam mengembang ke bagian bawah,
− potensial yang menyebabkan pergerakan minyak adalah kombinasi dari pressure drop dan gaya
gravitasi,
− penurunan tekanan (pressure drawdown) ditentukan oleh tekanan steam sesuai dengan temperatur
rata-rata di zona yang dipanaskan (heated zone).
Berdasarkan asumsi tersebut maka persamaan yang digunakan untuk menghitung laju alir minyak
adalah:
k oφ∆S oα∆Φ
q o = 1.87 R x (1)
moν o [ln (R x / rw ) − 0.5]
dimana,
R x = Rh + ht2
2
(2)
∆S o = S oi − S ors (3)
( p s − p wf ) ht
∆Φ = 144 + ∆h (4)
ρo Rx
∆h = ht − hst (5)
dimana:
hst = ketebalan zona steam, ft
ht = ketebalan formasi, ft
ko = permeabilitas efektif minyak, md
mo = memiliki harga 3 – 4
ps = tekanan steam, psia
p wf = tekanan alir dasar sumur, psia
qo = laju alir minyak, bbl/hari
Rh = jari-jari zona steam, ft
rw = jari-jari sumur, ft
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 3/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
S oi = saturasi minyak awal, fraksi
S ors = saturasi minyak sisa karena steam, fraksi
φ = porositas, fraksi
ρo = massa jenis minyak, lb/cuft
νo = viskositas kinematik minyak, cs
Tekanan steam dapat dihitung berdasarkan pendekatan berikut ini.
4.4543
T
ps = s (6)
115.95
dimana:
Ts = temperatur steam, oF
2.1 Ketebalan Zona Steam
Persamaan di bawah ini digunakan untuk menghitung ketebalan zona steam, yaitu:
hst = 0.5ht ARD (7)
dimana ARD adalah parameter tak berdimensi.
(350)(144)q s µ st
ARD = (8)
6.326π ( ρ o − ρ st )ht2 k st ρ st
dimana:
hst = ketebalan zona steam, ft
k st = permeabilitas efektif steam, md
qs = laju injeksi steam, bbl/hari
µ st = viskositas steam, cp
ρ st = massa jenis steam, lb/cuft
Viskositas dan massa jenis steam dapat dihitung dengan korelasi di bawah ini.
p s .9588
0
ρ st = (9)
363.9
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 4/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
µ st = 10 −4 (0.2Ts + 82) (10)
2.2 Radius Zona Steam
Radius zona steam dihitung dengan persamaan 11.
Vs
Rh = (11)
πhst
Sedangkan volume zona steam diperkirakan menggunakan persamaan 12.
(5.615)q s t inj ρ w Qi + H last
Vst = (12)
(ρc )t (Ts − TR )
dimana:
Vs = volume zona steam, cuft
Qi = jumlah panas yang diinjeksikan per satuan massa, Btu/lb
H last = jumlah panas yang tersisa dari siklus sebelumnya, Btu
Ts = temperatur steam, oF
TR = temperatur reservoir awal, oF
ρ w = temperatur reservoir awal, oF
( ρC) t = kapasitas panas volumetrik, Btu/cuft.oF
Jumlah panas yang diinjeksikan per setiap satu massa steam adalah:
Qi = C w (Ts − TR ) + Lvdh f sdh (13)
Panas jenis dari air adalah
hw (Ts ) − hw (TR )
Cw = (14)
Ts − TR
Enthalpi dapat dihitung menggunakan korelasi yang diberikan oleh Jones2 dan panas laten dihitung
menggunakan korelasi yang diberikan oleh Farouq Ali.8
1.24
T
hw = 68 s (15)
100
Lvdh = 94(705 − Ts ) 0.38 (16)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 5/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
Kapasitas panas volumetrik dihitung dengan persamaan berikut 17.
( ρC ) t = (1 − φ ) M o + φ [(1 − S wi ) M o + S wi M w ] (17)
dimana:
C w = kapasitas panas air, BTU/lb.oF
f sdh = kualitas steam, fraksi
hw (T) = enthalpi air, Btu/lb
Lvdh = panas laten, Btu/lb
M o = kapasitas panas volumetrik minyak, Btu/cuft.oF
M w = kapasitas panas volumetrik air, Btu/cuft.oF
2.3 Panas Tersisa di Reservoir
Sebelum siklus pertama dimulai, jumlah panas di reservoir dianggap nol. Setelah dilakukan siklus
injeksi panas di reservoir dihitung berdasarkan persamaan
H last = Vs ( ρC ) t (Tavg − TR ) (18)
Temperatur rata-rata selama dihitung dengan persamaan Boberg dan Lantz.9
[
Tavg = TR + (Ts − TR ) f HD fVD (1 − f pD ) − f pD ] (19)
Boberg dan Lantz menganggap bahwa volume zona steam berbentuk silinder sementar metode
Gontijo ini menganggap bahwa volume zona steam berbentuk kerucut yang terbalik, maka persamaan
19 merupakan persamaan pendekatan. fHD, fVD, dan fpD adalah parameter-parameter tidak berdimensi
dan didefinisikan oleh:
1
f HD = (20)
1 + 5t DH
α (t − t inj )
t DH = 2
(21)
Rh
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 6/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
1
fVD = (22)
1 + 5t DH
4α (t − t inj )
t DV = (23)
ht2
dimana:
t = waktu, hari
t inj = periode injeksi, hari
α = difusifitas termal reservoir, ft2/hari
Sedangkan parameter tak berdimensi yang terakhir pada persamaan 19 menggambarkan energi yang
terambil bersama-sama dengan fluida yang diproduksikan dan didefinisikan oleh persamaan
t
1
2Qmax ∫
f pD = Q p dt (24)
0
dimana Qmax adalah panas maksimum yang dapat diberikan ke dalam reservoir dan dihitung di akhir
periode soaking dengan persamaan
t soak
Qmax = H inj + H last − πRh K R (Ts − TR )
2
(25)
πα
Jumlah panas yang diinjeksikan, Hinj, dihitung dengan persamaan
H inj = 350Qi q s t inj (26)
dimana:
H inj = jumlah panas yang diinjeksikan, Btu
K R = konduktivitas termal reservoir, Btu/ft.hari.oF
Qmax = panas maksimum yang dapat diberikan ke dalam reservoir, Btu
Q p = laju pengambilan panas oleh fluida yang diproduksi, Btu/hari
t soak = periode soaking, hari
Laju pengambilan panas oleh fluida yang diproduksi diberikan oleh persamaan
(
Q p = 5.615(qo M o + q w M w ) Tavg − TR ) (27)
Kapasitas panas volumetrik minyak dan air dihitung dengan persamaan
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 7/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
M o = (3.065 + 0.00355T ) ρ o (28)
M w = Cw ρ w (29)
Sedangkan massa jenis minyak dan air pada temperatur tertentu dapat dihitung dengan persamaan
ρ o = ρ ostd − 0.0214(T − Tstd ) (30)
705 − Tstd
ρ w = ρ wstd − 11ln (31)
705 − T
dimana:
Tstd = temperatur pada kondisi standard, oF
ρ ostd = massa jenis minyak pada temperatur standard, lbm/cuft
ρ wstd = massa jenis air pada temperatur standard, lbm/cuft
2.4 Viskositas dan Saturasi
Hubungan viskositas minyak dan tempertur perlu didapatkan dari hasil PVT sedangkan pengaruh
temperatur terhadap viskositas air dapat didekati dengan persamaan
−1.14
T
µ w = 0.66 (32)
100
Setelah periode soaking dan sebelum produksi dimulai, fluida disekitar sumur yang mobile dianggap
hanyalah air:
S w = 1 − S orw (33)
Setelah sumur diproduksikan, saturasi minyak dianggap bertambah dan saturasi air diberikan oleh
Wp
S w = S w − ( S w − S wi ) (34)
WIP
dimana Wp adalah produksi kumulatif air selama siklus (bbl) dan WIP adalah jumlah air yang mobile
pada saat awal siklus.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 8/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
3. LANGKAH-LANGKAH PERHITUNGAN KINERJA CYCLIC STEAM
Prosedur perhitungan dilakukan menurut urutan seperti berikut ini:
− masukkan data input reservoir dan data operasi (lama siklus—injeksi-soaking-produksi, laju
injeksi, dan kualitas steam).
− hitung sifat-sifat fluida, ketebalan zona steam, radius zona steam, volume zona steam, temperatur
serta saturasi pada permulaan siklus produksi.
− hitung porduksi minyak dan air pada setiap time-step, hitung volume produksi dan bandingkan
dengan initial-fluid-in-place. Kemudian hitung temperatur rata-rata setiap time step.
− pada akhir siklus produksi, hitung jumlah air dan panas yang tersisa di reservoir.
− jika siklus injeksi-soaking-produksi lebih dari sekali maka ulangi langkah 3 dan selanjutnya.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.04
JUDUL : METODE EOR Halaman : 9/9
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Cyclic Steam Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
Injection
4. DAFTAR PUSTAKA
1. Gontijo, J.E. and Aziz, K.:”A Simple Analytical Model for Simulating Heavy Oil Recovery by
Cyclic Steam in Pressure-Depleted Reservoirs”, SPE 13037; Proceeding of The 59th Annual
Technical Conference and Exhibition, Houston, Texas, September 15-19, 1984.
2. Jones, J.:”Cyclic Steam Reservoir Model for Viscous Oil, Pressure Depleted, Gravity Drainage
Reservoirs”, SPE 6544; Proceeding of The 1977 California Regional Meeting of SPE AIME,
Bakersfield, California, April 13-15, 1977.
3. Gozde, S., Chhina, H.S., and Best, D.A.:”An Analytical Cyclic Steam Stimulation Model for
Heavy Oil Reservoirs”, SPE 18807; Proceeding of The SPE California Regional Meeting,
Bakersfield, California, April 5-7, 1989.
4. Rivas, O.R. and Boccardo, G.:”Transient Analytical Modeling of Cyclic Steam Injection”, SPE
27060; Proceeding of The Latin American Caribean Petroleum Engineering Conference, Buenos
Aires, Argentina, April 27-29, 1994.
5. Buitrago, S. and Boccardo, G.:”Model for Predicting the Production Rate of Wells under Cyclic
Steam Injection Process”, SPE 39029; Proceeding of The Latin American Caribean Petroleum
Engineering Conference and Exhibition, Rio de Janeiro, Brasil, 30 August – 3 September, 1997.
6. Tamim, M. and Farouq Ali, S.M.:”Optimization of Cyclic Steam Stimulation Using an Analytical
Model”, SPE 39553; Proceeding and of The 1998 SPE India Oil and Gas Conference and
Exhibition, New Delhi, India, 17-19 February, 1998.
7. Tamim, M. and Rahman, M.:”Analytical Modelling of Cyclic Steam Stimulation Using Pseudo-
Relative Permeability Function”, SPE 53690; Proceeding of The 1999 SPE Latin American and
Caribean Petroleum Engineering Conference, Caracas, Venezuela, 21-23 April 1999.
8. Farouq Ali, S.M.:”Steam Injection Theories – A Unified Approach”, SPE 10746; Proceeding of
The California Regional Meeting of the SPE, San Francisco, March 24-26, 1982.
9. Boberg, T.C. and Lantz, R.B.:”Calculation of the Production Rate of a Thermally Stimulated
Well”, JPT (Dec. 1966) 1613-1623.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 1 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
PERAMALAN KINERJA INJEKSI POLIMER
1. TUJUAN
Meramalkan kinerja (performance) injeksi polimer (polymer-flood).
2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Metode grafis yang didasarkan pada metode Buckley Leverett digunakan dalam perkiraan
kinerja proses injeksi polimer.
2.2. PERSYARATAN
Metode ini berlaku untuk sistim linear yang horizontal. Reservoir yang diproduksikan
melalui beberapa titik serap sebagai hasil proses injeksi air perlu dirubah geometrinya
menjadi satu atau lebih sistim linear.
3. LANGKAH KERJA
1. Bagilah reservoir atas beberapa sistim linear (lihat Gambar 1 sebagai contoh).
2. Siapkan data pendukung :
- Luas sistem linear (A)
- Tebal lapisan (h)
- Porositas ( φ )
- Permeabilitas formasi (k)
- Saturasi air konat (Swc)
- Viskositas minyak pada kondisi reservoir (µo)
- Viskositas air injeksi (µw)
- Distribusi permeabilitas
- Recovery Factor primer (RF)
- Faktor volume formasi awal (Boi)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 2 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
- Faktor volume formasi pada saat injeksi akan dimulai (Bo)
- Kurva permeabilitas relatif (kro dan krw sebelum dan sesudah penambahan
polimer)
- Tingkat adsorpsi polimer oleh batuan (b)
3. Hitung fractional flow air sebelum (fwb) dan sesudah penambahan polimer (fwa) dengan
persamaan :
1
fw = (1)
µ k
1 + w . ro
µ o k rw
Siapkan tabel berisikan fractional flow (fwa dan fwb), sebagai fungsi dari saturasi air (Sw).
4. Plot fwa dan fwb terhadap Sw seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.
5. Tarik garis lurus dari titik –b pada sumbu Sw menyinggung kurva fwa. Dari garis singgung
ini diperoleh :
a. Titik singgung antara garis tersebut dengan kurva fwb memberikan Sw = Sa dan fw
= fa.
b. Titik potong antara garis tersebut dengan garis fw = 1 menghasilkan saturasi air
rata-rata sistim pedesakan pada saat polymer bank break-through ( S wbta ).
c. Titik potong antara garis tersebut dengan kurva fwa memberikan Sw = Sb dan fw =
fb.
6. Tarik garis lurus melalui titik (Swc,fwc) dan (Sb,fb). Perpotongan garis ini dengan garis fw =
1 menghasilkan saturasi air rata-rata sistim pedesakan pada saat connate water bank
break-through ( S wbtb ).
7. Jumlah larutan polimer yang diinjeksi dan perolehan minyak pada saat connate water
bank breakthrough dapat dihitung dengan persamaan:
S b − S wi
Qi = , PV (2)
fb
S wbtb − S wi
Np = ( ) , PV (3)
Bo
8. Jumlah larutan polimer yang diinjeksi dan perolehan minyak pada saat polymer bank
breakthrough dapat dihitung dengan persamaan:
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 3 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
Sa + b
Qi = , PV (4)
fa
S wbta − S wi
Np = ( ) , PV (5)
Bo
9. Kinerja proses injeksi air setelah polimer break through, yang dinyatakan dalam Np,
WOR dan Wi sebagai fungsi dari waktu, dapat dihitung mengikuti runtunan berikut ini.
a. Siapkan format tabel yang mencerminkan runtunan perhitungan.
Sw* fw dfw/dsw Qi Sw
Catatan : Sw* merupakan saturasi pada titik serap yang harganya dipilih lebih besar dari
Swbta.
b. fw ditentukan berdasarkan Sw* dengan menggunakan plot fwa terhadap Sw.
df w
c. dihitung dari kemiringan garis singgung titik-titik pada kurva fractional
dS w
flow fwa yang besarnya lebih besar dari Swbt.
(lihat Gambar 3 sebagai contoh)
1
d. Qi = , PV (6)
df w / dS w
e. S w = S w * +Qi (1 − f w ) (7)
S w − S wi
f. Np = 7758 Ahφ ( ) (8)
Bo
f w Bo
g. WOR = (9)
(1 − f w ) Bw
h. Wi = 7758 AhφQi (10)
7758 AhφWi
i. t= (11)
iw
10. Plot Np, Wi dan WOR terhadap waktu (t).
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 4 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
4. DAFTAR PUSTAKA
1. Willhite, G. P. : “Waterf1ooding”. SPE-Textbook Series, SPE of AIME, Vol. 3, 1986.
2. Patton, J.T., Coats, K.H. and Colegrove, G.T.:”Prediction of Polymer Flood
Performance”, JPT (March 1971), halaman 72-84.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 5 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
5. DAFTAR SIMBOL
A = luas, Acres
Boi = faktor volume formasi awal, RB/STB
Bo = faktor volume formasi saat mulai injeksi, RB/STB
b = tingkat adsorpsi polimer, Csmax/C0
C = konsentrasi polimer, gm/cc
C0 = konsentrasi polimer dalam larutan polimer yang diinjeksikan, gm/cc pori batuan.
Cs = konsentrasi polimer yang teradsorpsi, gm/cc pori batuan.
Csmax = konsentrasi polimer maksimum yang teradsorpsi, gm/cc pori batuan.
fw = fractional flow air, fraksi
h = tebal formasi, ft
iw = laju injeksi air, bbl/hari
k = permeabilitas lapisan, md
kro = permeabilitas relatif minyak, fraksi
krw = permeabilitas relatif air, fraksi
M = mobility ratio, tak berdimensi
Np = produksi minyak kumulatif, STB
Sw = saturasi air, fraksi
Sw = saturasi air rata-rata, fraksi
S wbt = saturasi air pada saat breakthrough, fraksi
Swi = saturasi minyak awal, fraksi
Swc = saturasi air konat, fraksi
t = waktu, hari
u = kecepatan total volumetrik, cu ft/sq ft-D
Wi = kumulatif injeksi air, bbl
WOR = perbandingan minyak air, tak berdimensi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 6 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
6. LAMPIRAN
6.1. Latar Belakang dan Rumus
Model matematik untuk pendesakan secara linear oleh larutan polimer terdiri dari dua
persamaan kesetimbangan massa air dan polimer, yaitu:
∂f ∂S
−u =φ w (12)
∂x ∂t
∂ ( fC ) ∂ ( S wC ) ∂Cs
−u = φ + (13)
∂x ∂t ∂t
Anggapan yang digunakan pada persamaan 12 dan 13 adalah sebagai berikut:
- Dispersi dianggap kecil.
- Kompresibilitas fluida dan batuan diabaikan.
- Proses pendesakan terjadi pada temperatur yang konstan.
- Adsorpsi terjadi secara instan saat terjadinya pendesakan minyak di reservoir.
- Air konnat terdesak secara sempurna tanpa adanya percampuran dengan larutan
polimer yang diinjeksikan.
- Viskositas larutan polimer merupakan fungsi dari konsentrasi polimer. Pengaruh
shear terhadap viskositas diabaikan.
- Viskositas larutan polimer merupakan fungsi dari konsentrasi polimer. Pengaruh
shear terhadap viskositas diabaikan.
- Pengaruh tekanan kapiler diabaikan.
Gambar 4 menunjukkan saturasi air dalam sistem linear selama pendesakan oleh larutan
polimer. Profil saturasi air menunjukkan dua lokasi yang diskontinyu pada xD1 dan xD2.
Titik xD1 bergerak dengan kecepatan
∂xD1 fa
= (14)
∂Qi Sa + b
Harga fa dan Sa ditunjukkan oleh Gambar 3. Connate water bank terbentuk di depan
larutan polimer. Connate water bank bergerak dengan kecepatan
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 7 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
∂xD 2 fb
= (15)
∂Qi Sb − S wi
Saturasi air yang lebih besar dari Sa bergerak dengan kecepatan
∂xD ∂f
= (16)
∂Qi S ∂S w S
w w
Dimana derivative df/dS diambil dari kurva fw larutan polimer.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 8 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
6.2. GAMBAR-GAMBAR YANG DIGUNAKAN
Gambar 1. Contoh linearisasi pola injeksi aliran
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 9 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
S wbtb S wbta
1
0.9
(S a ,f a )
0.8
0.7
(S b ,f b )
0.6
fw
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
-0.2 -0.1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
Sw
Gambar 2. Hubungan fw terhadap Sw tanpa dan dengan polimer
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 10 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
S wbta
1
fw
0.9
(S a ,f a )
0.8
0.7
0.6
fw
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
Sw*
0
-0.2 -0.1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
Sw
Gambar 3. Menentukan saturasi air rata-rata sistem setelah breakthrough
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.05
Halaman : 11 / 11
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Peramalan Kinerja Injeksi Polimer
Sw ZONA POLYMER
Swi
CONNATE WATER BANK
xD = x/L
Gambar 4. Profil saturasi air saat injeksi larutan polimer pada sistem linear
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 1 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
METODE EOR DENGAN INJEKSI CO2
1. TUJUAN
Meramalkan kinerja (performance) injeksi CO2 (CO2 - flood) dan membuat desain injeksi CO2.
2. METODE DAN PERSYARATAN
2.1. METODE
Desain yang dilakukan dalam injeksi CO2 ke reservoir minyak dengan menentukan
banyaknya air yang digunakan untuk menaikkan tekanan reservoir sehingga proses
pencampuran CO2 dengan minyak dapat berlangsung, menentukan kebutuhan CO2 yang
akan diinjeksikan ke reservoir yang didorong oleh gas N2, menentukan tekanan injeksi (di
permukaan) CO2 ke reservoir yang tidak melebihi tekanan formasi.
2.2. PERSYARATAN
Metode ini berlaku untuk sistim injeksi CO2 dan air secara simultan, injeksi slug CO2 dan
air secara bergantian, dan injeksi CO2 dengan pendorong gas N2.
3. LANGKAH KERJA
3.1. PROSEDUR PERHITUNGAN JUMLAH AIR YANG DIBUTUHKAN UNTUK
MENAIKKAN TEKANAN RESERVOIR
1. Tentukan harga MMP (Minimum Miscibility Pressure) dari percobaan.
2. Siapkan data pendukung :
- Faktor volume formasi minyak awal (Boi)
- Faktor volume formasi minyak pada saat injeksi akan dimulai (Bo)
- Faktor volume formasi gas awal (Bgi)
- Faktor volume formasi gas pada saat injeksi akan dimulai (Bg)
- Perbandingan kelarutan gas dalam minyak awal (Rsi)
- Perbandingan kelarutan gas dalam minyak pada saat injeksi akan dilakukan (Rs)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 2 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
- Produksi kumulatif minyak (Np)
- Recovery Factor primer (RF)
- Produksi kumulatif air (Wp)
- Laju alir produksi minyak saat injeksi akan dimulai (qo)
- Laju alir produksi air saat injeksi akan dimulai (qw)
- Perbandingan gas dan minyak (GOR)
3. Hitung jumlah fluida yang telah diproduksi (Fp) :
F p = V g − V gs + W p bbl (1)
dimana :
V g = NBoi − (N − N p )Bo bbl (2)
Vg 1
V gs = × bbl (3)
Bg (Rsi − Rs ) / (Boi − Bo )
4. Hitung jumlah fluida yang akan terproduksi selama proses menaikkan tekanan reservoir
(qf) :
( )
q f = q o Bo + q o GOR − Rs B g + q w bbl/hari (4)
5. Hitung waktu yang dibutuhkan untuk menaikkan tekanan reservoir :
Fp
t pressurization = hari (5)
qi − q f
6. Jumlah air yang dibutuhkan untuk menaikkan tekanan reservoir sehingga proses
pendesakan CO2 dapat berlangsung adalah :
W = F p + (q f × t pressurization ) bbl (6)
3.2. PERHITUNGAN JUMLAH CO2 YANG DIBUTUHKAN UNTUK INJEKSI
1. Asumsi yang digunakan adalah breakthrough time CO2 pada penyapuan CO2 di mixing
zone.
2. Siapkan data pendukung :
- Area (A)
- Tebal zona minyak (h)
- Porositas ( φ )
- Efisiensi penyapuan (Ea)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 3 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
- Efisiensi penyapuan secara vertikal (Ev)
- Saturasi minyak residual di zona penyapuan CO2 (Sor)
- Laju injeksi (qi)
3. Hitung waktu yang dibutuhkan front CO2 bergerak disepanjang reservoir (tCO2) :
(
t CO 2 = 6.7 × 10 8 ) AhφE Eq (1 − S ) detik
a v or
(7)
i
4. Hitung panjang daerah difusi CO2 (X) :
X = 3.625 (Dc −o + Dn−c ) × t CO 2 .cm (8)
dimana :
Dc-o = Koefisien difusi CO2 dengan minyak ≈ 3.5 × 10-5 cm2/s
Dn-c = Koefisien difusi N2 dengan CO2 ≈ 65 × 10-5 cm2/s
5. Hitung volume CO2 di zona difusi (Vd):
AφX (7758)
Vd = bbl (9)
2
6. Jumlah CO2 yang dibutuhkan untuk melakukan pendesakan minyak adalah :
VCO 2 = Vd + Vs bbl (10)
dimana :
Vs = Volume CO2 dibelakang front, umumnya 5 – 10% dari PV (Pore Volume)
3.3. PERHITUNGAN TEKANAN INJEKSI CO2
1. Siapkan data pendukung :
- Temperatur reservoir (Tr)
- Temperatur permukaan (Ts)
- SG CO2
- Faktor deviasi CO2
- Kedalaman reservoir (D)
- Inside diameter tubing (d)
- Measured depth (MD)
- Kekasaran tubing (n)
- Viskositas CO2 (µCO2)
2. Perhitungan tekanan statik yang dibutuhkan untuk menginjeksikan CO2 (Pts) adalah :
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 4 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
0.01875SG (D )
Pws = Pts exp psia (11)
TZ
3. Perhitungan tekanan injeksi tubing CO2 (Ptf) adalah :
25(SG )q 2TZf (MD )[exp(S ) − 1]
Pwf = Ptf exp(S ) +
2 2
psia (4)
Sd 5
dimana :
0.0375(SG )(TVD )
S=
TZ
1 n 21.25
= 1.14 − 2 log +
d N 0.9
f e
20011(SG )q
Ne =
µ co2 d
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 5 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
4. DAFTAR PUSTAKA
1. Carcoana, A. : “Applied Enhanced Oil Recovery”. Prentice Hall, Englewood Cliff, New
Jersey, 1992.
2. Siregar, S. : ”Diktat Kuliah Pengenalan EOR,” Jurusan Teknik Perminyakan Institut
Teknologi Bandung, 1995.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 6 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
5. DAFTAR SIMBOL
A = area, Acres
Boi = faktor volume formasi minyak awal, RB/STB
Bo = faktor volume formasi minyak saat mulai injeksi, RB/STB
Bgi = faktor volume formasi gas awal, cf/scf
Bo = faktor volume formasi gas saat mulai injeksi, cf/scf
Bo = faktor volume formasi minyak rata-rata, RB/STB
Boi + Bo
=
2
Bg = faktor volume formasi gas rata-rata, cf/scf
B gi + B g
=
2
D = kedalaman reservoir, ft
d = inside diameter tubing, inchi
Dc-o = Koefisien difusi CO2 dengan minyak ≈ 3.5 × 10-5 cm2/s
Dn-c = Koefisien difusi N2 dengan CO2 ≈ 65 × 10-5 cm2/s
Ea = efisiensi areal penyapuan, tak bersatuan
Ea = efisiensi penyapuan vertikal, tak bersatuan
Fp = jumlah fluida yang telah diproduksi, bbl
F = faktor gesekan, tak berdimensi
GOR = perbandingan gas minyak, scf/stb
h = tebal formasi, ft
MD = measured depth, ft
N = jumlah volume minyak di tempat (IOIP), bbl
Np = produksi minyak kumulatif, STB
Ptf = tekanan injeksi CO2 di tubing, psia
Ptf = tekanan statis injeksi CO2, psia
Pws = tekanan statis dasar sumur, psia
Pwf = tekanan alir dasar sumur, psia
qf = laju alir air yang diinjeksikan untuk menaikkan tekanan, bbl/hari
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 7 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
qi = laju injeksi, bbl/hari
qo = laju alir minyak, bbl/hari
qw = laju alir air, bbl/hari
RF = recovery factor, persen
Rsi = Perbandingan kelarutan gas dalam minyak awal, scf/bbl
Rs = Perbandingan kelarutan gas dalam minyak, scf/bbl
Sor = saturasi minyak residual, fraksi
t = waktu yang digunakan CO2 yang bergerak di reservoir, detik
µco2 = viskositas CO2, cp
Vd = volume CO2 pada zona difusi, bbl
Vs = volume CO2 dibelakang front, bbl
Vg = volume minyak yang tersisa di pori batuan, bbl
Vgs = volume yang ditempati gas akibat kenaikan tekanan, bbl
Wp = kumulatif produksi air, bbl
W = jumlah air yang dinjeksikan untuk menaikkan tekanan, bbl
X = panjang zona diffusi CO2, ft
Z = faktor deviasi gas, tak bersatuan
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 8 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
6. LAMPIRAN
6.1. Latar Belakang dan Rumus
CO2 termasuk zat tiga fasa (gas, cair, dan padat). Jika tekanan diturunkan sampai di
bawah tekanan saturasi akan berbentuk sebagai gas; berbentuk cairan pada tekanan di
atas 300 psia jika temperatur 0oF atau di bawahnya; sedangkan berbentuk padatan
(sebagai dry ice) jika temperatur sangat rendah (lihat gambar 1).
CO2 tidak berwarna, tidak berbau, tidak bercampur dengan fluida lain (inert), dan
merupakan gas yang tidak dapat terbakar (noncombustible gas). CO2 memiliki berat
molekul 44.01 g/mol, tekanan kritis 1073 psia, volume kritis 0.0237 cuft/lb, densitas
(0oF, 300 psia) 8.5 lb/gal, volume spesifik (14.7 psia, 60oF) 8.569 cuft/lb, dan panas
spesifik (liquid) pada 300 psia 0.5 Btu/lb-oF.
CO2 mudah larut dalam minyak bumi namun sulit larut pada air. Karena itu beberapa hal
yang penting dan berguna dalam proses EOR ketika minyak bumi terjenuhi oleh CO2
adalah :
1. Menurunkan viskositas minyak dan menaikkan viskositas air (Gambar 2).
2. Menaikkan volume minyak (swelling) dan menurunkan densitas minyak (Gambar 3
dan Gambar 4).
3. Memberikan efek pengasaman pada reservoir karbonat.
4. Membentuk fluida bercampur dengan minyak karena ekstraksi, penguapan, dan
pemindahan kromatografi, sehingga dapat bertindak sebagai solution gas drive
(gambar 6).
Mekanisme dasar injeksi CO2 adalah bercampurnya CO2 dengan minyak dan membentuk
fluida baru yang lebih mudah didesak daripada minyak pada kondisi awal di reservoir.
Ada 4 jenis mekanisme pendesakan injeksi CO2 :
1. Injeksi CO2 secara kontinyu selama proses EOR.
2. Injeksi slug CO2, diikuti air.
3. Injeksi slug CO2 dan air secara bergantian.
4. Injeksi CO2 dan air secara simultan.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 9 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Injeksi CO2 dan air secara simultan terbukti merupakan mekanisme pendesakan yang
terbaik di antara keempat metode tersebut (oil recovery-nya sekitar 50%). Disusul
kemudian injeksi slug CO2 dan air secara bergantian. Injeksi langsung CO2 dan injeksi
slug CO2 diikuti sama buruknya dalam kemampuan mengambil minyak (sekitar 25%).
Agar tercapai pencampuran antara CO2 dengan minyak, maka tekanan di reservoir harus
melebihi MMP (Minimum Miscibility Pressure), harga MMP dapat diperoleh dari hasil
percobaan di laboratorium atau korelasi. Metode penentuan MMP antara lain :
1. Percobaan keseimbangan gaya berat (gravity-stable), percobaan ini dilakukan
dengan menginjeksikan CO2 dari atas ke bawah dengan laju yang kecil pada core
atau kolom batuan yang telah dijenuhi oleh minyak. Kemudian di plot antara
kenaikan tekanan seiring dengan perolehan minyak (Gambar 5).
2. Percobaan menggunakan slim tube, percobaan ini menggunakan slim tube yang telah
dijenuhi oleh minyak, kemudian diinjeksikan CO2 dengan laju yang kecil. Plot antara
tekanan injeksi dengan perolehan minyak dapat memberikan harga MMP (lihat
Gambar 7).
3. Pengamatan langsung pada pori batuan, percobaan ini cukup sulit karena
membutuhkan kecakapan dan pengalaman dari sang pengamat. Metode ini dilakukan
dengan mengamati perubahan warna ketika batuan di injeksikan CO2 pada berbagai
harga tekanan.
4. Korelasi, metode ini dikembangkan oleh Holm-Josenthal (1974) lalu disempurnakan
oleh Mungan (1981). Korelasi ini bergantung pada komposisi pentane dan fraksi
berat, serta temperatur reservoir. (lihat Gambar 8).
Sumber CO2 alami adalah yang terbaik, baik dari sumur yang memproduksi gas CO2
yang relatif murni atau dari pabrik yang mengolah gas hidrokarbon yang mengandung
banyak CO2 sebagai kontaminan. Sumber yang lain adalah kumpulan gas (stack gas) dari
pembakaran batubara (coal-fired). Alternatif lain adalah gas yang dilepaskan dari pabrik
amoniak.
Desain yang dilakukan dalam injeksi CO2 ke reservoir minyak adalah menentukan
banyaknya air yang digunakan untuk menaikkan tekanan reservoir sehingga proses
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 10 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
pencampuran CO2 dengan minyak dapat berlangsung, menentukan kebutuhan CO2 yang
akan diinjeksikan ke reservoir yang didorong oleh gas N2, menentukan tekanan injeksi
(di permukaan) CO2 ke reservoir yang tidak melebihi tekanan formasi.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 11 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
6.2. Contoh Soal
6.2.1. Perhitungan jumlah air yang dibutuhkan untuk menaikkan tekanan reservoir
sehingga terjadi pencampuran CO2
Suatu reservoir memiliki tekanan awal = 2143 psia setelah diproduksi selama
beberapa tahun tekanan reservoir turun hingga 1143 psia. Sementara MMP dari
hasil percobaan sebesar 2114 psia, hitung banyaknya air yang harus diinjeksikan
agar tekanan bisa melebihi MMP ? (laju alir air yang tersedia sebesar 12,580
bbl/hari)
Data Reservoir :
Boi = 1.53 bbl/STB
Bo = 1.33 bbl/STB (@ P = 1143 psia)
Bgi = 0.010 cf/scf
Bg = 0.014 cf/scf (@ P = 1143 psia)
Rsi = 778 scf/bbl
Rs = 522 scf/bbl (@ P = 1143 psia)
Data Produksi :
Np = 2.516 × 106 bbl
ER = 15% OOIP
Wp = 14 × 104 bbl
qo = 1352 STB/hari
GOR = 200 STB/bbl
qw = 126 bbl/hari
Penyelesaian :
Hitung jumlah fluida yang telah diproduksi (Fp) :
F p = V g − V gs + W p bbl (1)
dimana :
V g = NBoi − (N − N p )Bo bbl (2)
2.516 × 10 6 2.516 × 10 6
Vg =
bbl × 1.53 −
bbl − 2.516 × 10 6 bbl × 1.33
0.15 0.15
V g = 6.7 × 10 6 bbl
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 12 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Vg 1
V gs = × bbl (3)
Bg (Rsi − Rs ) / (Boi − Bo )
6.7 × 10 6 bbl 5.615scf / bbl
V gs = × = 2.1 × 10 6 bbl
0.014 (778 − 522)scf / bbl
(1.53 − 1.33)
F p = 6.7 × 10 6 − 2.1 × 10 6 + 14 × 10 4 = 4.74 × 10 6 bbl
Hitung jumlah fluida yang akan terproduksi selama proses menaikkan tekanan
reservoir (qf) :
( )
q f = q o Bo + q o GOR − Rs B g + q w bbl/hari (4)
650
q f = (1352 × 1.43) + 1352 200 − 0.011 + 126
5.615
q f = 3312 bbl/hari
Hitung waktu yang dibutuhkan untuk menaikkan tekanan reservoir :
Fp
t pressurization = hari (5)
qi − q f
4.74 × 10 6
t pressurization = = 511 hari
12580 − 3312
Jumlah air yang dibutuhkan untuk menaikkan tekanan reservoir sehingga proses
pendesakan CO2 dapat berlangsung adalah :
W = F p + (q f × t pressurization ) bbl (6)
W = 4.74 × 10 6 + (3312 × 511) = 6.433 × 10 6 bbl
6.2.2. Perhitungan CO2 yang dibutuhkan untuk injeksi
Hitung jumlah total CO2 yang dibutuhkan untuk injeksi ke reservoir pinnacle
reef yang membutuhkan pendesakan vertikal, kebawah dan stabilasi secara
gravity, dan injeksi CO2 didorong dengan nitrogen (N2) ?
Data :
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 13 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
A = 40 acre
h = 300 ft
φ = 0.09
Ea = 0.1
Ev = 0.8
Sor = 0.05 Pore Volume (@ swept zone)
qi = 4000 bbl/hari
Penyelesaian :
Hitung waktu yang dibutuhkan front CO2 bergerak disepanjang reservoir (tCO2) :
(
t CO 2 = 6.7 × 10 8 ) AhφE Eq (1 − S ) detik
a v or
(7)
i
(
t CO 2 = 6.7 × 10 8 ) 40 × 300 × 0.09 × 1× 0.8(1 − 0.05)
4000
t CO 2 = 137.49 × 10 6 detik
Hitung panjang daerah difusi CO2 (X) :
X = 3.625 (Dc −o + Dn−c ) × t CO 2 .cm (8)
( )
X = 3.625 3.5 × 10 −5 + 65 × 10 −5 × 137.49 × 10 6 = 1337cm ≈ 43.9 ft
dimana :
Dc-o = Koefisien difusi CO2 dengan minyak ≈ 3.5 × 10-5 cm2/s
Dn-c = Koefisien difusi N2 dengan CO2 ≈ 65 × 10-5 cm2/s
Hitung volume CO2 di zona difusi (Vd):
AφX (7758)
Vd = bbl (9)
2
40 × 0.09 × 43.9(7758)
Vd = = 613,037bbl (7.37% PV )
2
Jumlah CO2 yang dibutuhkan untuk melakukan pendesakan minyak adalah :
VCO 2 = Vd + Vs bbl (10)
VCO 2 = 613,037 + (0.075 × 40 × 300 × 0.09 × 7758) = 1.24 × 10 6 bbl
dimana :
Vs = 7.5 % PV
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 14 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
6.2.3. Perhitungan tekanan injeksi CO2
A. Perhitungan tekanan statis CO2 di kepala sumur
Hitung tekanan statis CO2 di kepala sumur dimana tekanan statis di bawah
sumur untuk pencampuran (MMP) adalah 2114 psia ?
Data :
TR = 170 oF
Ts = 70 oF
SGCO2 = 1.529 (udara = 1)
ZCO2 = 0.56
D = 4264 ft
Penyelesaian :
Perhitungan tekanan statik yang dibutuhkan untuk menginjeksikan CO2 (Pts)
adalah :
0.01875SG (D )
Pws = Pts exp psia (11)
TZ
(0.01875)(1.529)(4264)
2114 = Pts exp
(170 + 410)(0.56)
Pts = 1451 psia
Jadi tekanan yang dibutuhan untuk menginjeksikan kolom gas CO2 dalam
kondisi P dan T diatas adalah : 2114 – 1451 = 663 psia
B. Perhitungan tekanan injeksi tubing CO2
Hitung tekanan injeksi tubing CO2 dimana tekanan injeksi di bawah sumur
adalah 2300 psia, laju injeksi CO2 sebesar 1 MMscf/hari tiap sumur ?
Data :
d = 2.441 inchi
MD=TVD = 4264 ft
n = 5 × 10-4 inchi
µco2 = 0.05 cp
SGCO2 = 1.529
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 15 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
ZCO2 = 0.56
TR = 170 oF
Penyelesaian :
25(SG )q 2TZf (MD )[exp(S ) − 1]
Pwf = Ptf exp(S ) +
2 2
psia (4)
Sd 5
dimana :
0.0375(SG )(TVD )
S=
TZ
0.0375(1.529 )(4264)
S= = 0.7527
(170 + 410)(0.56)
20011(SG )q
Ne =
µ co2 d
20011(1.529 )1
Ne = = 250,691
0.05(2.441)
1 n 21.25
= 1.14 − 2 log + 0.9
f d Ne
1 5 × 10 −4 21.25
= 1.14 − 2 log
2.441 + (250,691)0.9
f
f = 0.01379
25(SG )q 2TZf (MD )[exp(S ) − 1]
Pwf = Ptf exp(S ) +
2 2
Sd 5
(2300)2 = Ptf 2 2.1227 + 25(1.529)1 (170 + 410)0.56(0.01379)(4264)[2.1227 − 1]
2
0.7527(2.441)
5
Ptf = 1577 psia
dengan harga Ptf = 1577 psia, laju alir CO2 = 1 MMscf/hari dan SGCO2 = 1.529,
dan mengetahui kehilangan tekanan di flow line dan choke maka kebutuhan HP
kompresor untuk menginjeksikan CO2 dapat diperkirakan.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 16 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
6.3. GAMBAR YANG DIGUNAKAN
Gambar 1. Diagram Fasa CO2
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 17 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Gambar 2. Penurunan viskositas versus tekanan saturasi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 18 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Gambar 3. Volume minyak relatif versus tekanan pada 144 oF
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 19 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Gambar 4. Faktor pengembangan pada minyak
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 20 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Gambar 5. Penentuan MMP dari hasil percobaan gravity-stable
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 21 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Gambar 6. diagram pseudotenary proses penguapan secara gas drive oleh CO2
Gambar 7. Hasil percobaan penentuan MMP dengan menggunakan slim tube
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.06
Halaman : 22 / 22
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Metode EOR Dengan Injeksi CO2
Gambar 8. Penentuan MMP dengan menggunakan korelasi (Holm dan Josendal, 1974, dan
Mungan, 1981)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 1 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
MONITORING KINERJA WATERFLOOD
1. TUJUAN
Memperoleh kesuksesan dalam operasi waterflood dengan melakukan monitoring (pengawasan)
terhadap sumur injeksi dan sumur produksi menggunakan data-data di bawah ini yang dapat diperoleh
dari uji sumur produksi/injeksi :
1. permeabilitas formasi
2. kontinuitas antar sumur (interwell continuity), seperti : patahan, rekahan, barriers, dan lain-lain
3. profil tekanan antar sumur dari data tekanan sumur
4. evaluasi dari kerusakan formasi
5. integritas lubang sumur (kebocoran casing/tubing)
6. sifat-sifat fluida
7. evaluasi post-treatment
8. data untuk mengevaluasi efisiensi pembanjiran (flood efficiency)
2. SUMUR INJEKSI
Kinerja sumur injeksi harus dioptimalkan agar kinerja waterflood dapat dimaksimalkan. Beberapa
pertimbangan yang diperlukan adalah menyetel tekanan dan laju alir sumur injeksi.
Pengawasan sumur injeksi meliputi analisa laju alir dan tekanan menggunakan teknik plotting
pengawasan. Log injeksi dan cased hole digunakan untuk menyediakan informasi mengenai kinerja
dan kondisi mekanis sumur.
Skema dari sistemasi analisis sumur injeksi ditunjukkan pada Gambar 1. Flow chart tersebut tidak
dapat diasumsikan telah mewakili seluruh proyek waterflood karena setiap lapangan memiliki
persyaratan yang spesifik dan unik untuk pengujian dan analisisnya, untuk memastikan produksi yang
optimal.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 2 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 3 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Survei tentang integritas mekanik dari setiap sumur harus sudah dilakukan sebelum mengubah
sumur menjadi sumur injeksi. Tingkat pelayanan dari seluruh komponen kepala sumur, tubing dan
casing harus dievaluasi untuk memastikan bahwa sumur memenuhi syarat untuk melaksanakan
waterflood. Masalah fill, junk, korosi dan scale harus diidentifikasikan. Ada kemungkinan diperlukan
workover atau dilakukan pekerjaan pemeliharaan dalam rangka perbaikan pada beberapa sumur
sebelum dilakukan flooding. Rekomplesi, plugbacks, deepenings, reperforasi, squeeze cementing dan
clean-outs perlu diselesaikan.
Sejarah stimulasi dari setiap sumur harus direview. Potensi untuk dilakukannya stimulasi di masa
mendatang harus dipertimbangkan. Jika kapasitas injeksi membutuhkan fill-up saturasi gas dan
pelaksanaan proses pemindahan dipertanyakan, maka ada kemungkinan dibutuhkan stimulasi. Jika
stimulasi perekahan hidraulik direkomendasikan, desain panjang dan arah rekahan harus
mempertimbangkan ukuran pola (well spacing), geometri dan arah. Stratifikasi vertikal dari reservoir
mengakibatkan perlunya kontrol terhadap perpanjangan vertikal dari rekahan dan memastikan bahwa
fluida injeksi hanya memasuki formasi yang menjadi target.
2.1. PERTIMBANGAN OPERASIONAL
Pertanyaan pertama yang muncul saat akan dilakukan injeksi air di sumur adalah berapa
laju dan tekanan injeksi yang harus dilakukan. Sekilas, mudah saja untuk mengasumsikan bahwa
laju injeksi yang paling besar merupakan yang terbaik karena semakin tinggi laju injeksi
mengacu pada semakin cepat terjadi fill-up dan lebih besar throughput. Sesungguhnya, untuk
melakukan injeksi pada laju maksimum, tekanan maksimum yang tersedia dari pompa injeksi
dapat digunakan. Tetapi tidak selalu mungkin atau bijaksana untuk melakukan hal tersebut.
Beberapa pertimbangan harus dilakukan dalam memutuskan bagaimana mengoperasikan proses
injeksi dari waterflood.
Ada keyakinan yang telah diketahui secara luas bahwa adanya rekahan akan menurunkan
daerah penyapuan secara universal karena terbentuknya channels dengan konduktivitas tinggi
antara injektor dan produsen. Juga diyakini bahwa injeksi yang dilakukan di atas harga tekanan
daerah formasi akan menurunkan efisiensi penyapuan vertikal karena fluida injeksi dapat masuk
ke dalam formasi yang tidak seharusnya. Pada kondisi tertentu asumsi ini benar, tetapi tidak
selalu menjadi alternatif terbaik untuk beroperasi pada tekanan injeksi yang terdesak oleh
tekanan daerah formasi.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 4 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Sumur injeksi air yang telah direkahkan secara hidraulik memungkinkan air diinjeksikan
pada laju yang lebih tinggi yang mengacu pada peningkatan jari-jari lubang bor efektif (rw) atau
melewati kerusakan lubang sumur. Jika diketahui arah dominan dari rekahan, mungkin dapat
ditunjukkan bahwa adanya rekahan dapat memperbaiki, daripada menurunkan, efisiensi
penyapuan.
Jika arah dominan dari rekahan mengindikasikan bahwa rekahan hidraulik yang terjadi di
sumur injeksi akan menyebar ke arah sumur produksi dan panjang rekahan akan melebihi sekitar
1/3 jarak antar sumur, maka efisiensi daerah penyapuan akan menurun. Terlepas dari arah
rekahan, proyek dengan well spacing yang lebih kecil dapat menurun karena perekahan sumur
injeksi.
Laju injeksi harus disesuaikan untuk menyesuaikan dengan kapasitas sumur produksi. Laju
injeksi air steady state diberikan oleh persamaan
kk rw h( Piwf − Pe )
iw = (1)
r
141.2 Bw µ w ln e
+ S
rw
Laju injeksi air dapat dikontrol dengan tekanan rekah formasi dan permeabilitas relatif air.
Jika tekanan reservoir meningkat, tekanan daerah formasi akan cenderung meningkat. Ketika
saturasi air di sekitar sumur injeksi meningkat, permeabilitas relatif air akan cenderung
meningkat. Kinerja sifat dinamik alami dari sumur injeksi inilah yang membuat pengawasan
secara kontinyu dari parameter kinerja sumur sangat penting. Tekanan daerah formasi dapat
ditentukan dengan melakukan uji step-rate.
Saat menentukan parameter operasi dari sumur injeksi air biasanya paling baik menentukan
tekanan kepala sumur injeksi maksimum. Ada kemungkinan tidak bijaksana untuk menentukan
laju alir kecuali rekahan hidraulik yang ada tidak dipertimbangkan. Dengan berlangsungnya
injeksi, suatu sumur dapat dan akan membentuk kerusakan formasi karena partikel materi yang
terlarut dalam air akan tersaring oleh sand face. Tekanan injeksi dasar sumur yang semakin
tinggi akan diperlukan untuk mempertahankan laju injeksi yang sudah ditentukan. Suatu ketika
tekanan injeksi dasar sumur akan melebihi tekanan daerah formasi dan sumur akan rekah.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 5 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
2.2. KUALITAS AIR
Idealnya, air injeksi tidak boleh menyebabkan kehilangan injektivitas selama “masa hidup”
pembanjiran.1) Air injeksi tidak boleh menyebabkan korosi pada sistem injeksi. Masalah yang
berhubungan dengan menangani dan menginjeksikan sejumlah besar air dapat dikontrol dengan
membuat suatu spesifikasi untuk kualitas air injeksi. Beberapa masalah yang dapat ditimbulkan
oleh rendahnya kualitas air, antara lain2) :
a. Tersumbatnya formasi karena padatan terlarut.
b. Kerusakan formasi karena ketidakcocokan formasi dengan air injeksi.
c. Korosi dan scaling dari benda-benda tubular, bejana dan peralatan lainnya.
Masalah di atas biasanya saling terkait dan tidak berdiri sendiri. Sebagai contoh,
terbentuknya endapan besi biasanya merupakan akibat dari korosi pada tubular dan suatu ketika
akan menghancurkan sistem injeksi. Sebagai hasil dari proses korosi, partikel endapan besi akan
meluruh, masuk ke dalam air injeksi dan menyumbat pada sand face.
Pencemar dalam air injeksi dapat hadir pada sumber air, terbentuk karena sistem injeksi
atau ditambahkan pada sistem injeksi.
Kualitas air injeksi yang rendah dapat menimbulkan efek yang mengganggu pada reservoir.
Penyumbatan akan menurunkan laju injeksi dan efisiensi penyapuan yang pada akhirnya akan
menyebabkan kehilangan pada pendapatan. Pengeluaran operasional akan meningkat sejalan
dengan meningkatnya aktivitas workover dan perbaikan sistem.
2.2.1. Sensitivitas Formasi
Banyak reservoir batuan pasir mengandung clay yang akan mengembang jika kontak
dengan air bersih atau air dengan kadar garam rendah. Formasi karbonat tidak secara
tipikal mengandung clay dan tidak rentan terhadap masalah tersebut. Formasi harus
dievaluasi untuk melihat kecocokannya dengan air injeksi sebelum memulai proyek injeksi
apapun.
2.2.2. Padatan Terlarut
Ukuran, distribusi dan komposisi dari padatan terlarut merupakan faktor utama dalam
kontrol kualitas air injeksi.
2.2.3. Korosi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 6 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Dalam sebagian besar situasi, sifat korosif air dikontrol dengan kehadiran gas terlarut.
Gas yang paling umum menyebabkan sifat korosi air adalah karbon dioksida (CO2),
hidrogen sulfida (H2S) dan oksigen (O2).
Karbon dioksida hadir pada konsentrasi yang berbeda-beda pada hampir seluruh air
permukaan. Air dengan pH rendah (bersifat asam) bisa memiliki konsentrasi CO2 yang
tinggi. Hidrogen sulfida dapat timbul secara alami atau sebagai hasil dari aktivitas bakteri.
Oksigen hadir pada seluruh air permukaan dan pada beberapa air dari reservoir dangkal.
Pada sistem logam baja, oksigen harus dipisahkan secara mekanis atau dengan proses
kimiawi. Sebagian besar pencegah korosi kimiawi tidak dapat mencegah korosi dengan
media oksigen. Bahkan sejumlah kecil oksigen dapat mempercepat laju korosi. Jika
oksigen dan bakteri dipisahkan dari air, korosi biasanya dapat dikontrol dengan pencegah
korosi kimiawi.
2.2.4. Endapan (Scale)
Endapan formasi dapat membatasi aliran dalam tubular, menjadi media dari korosi
yang parah dan menyumbat formasi. Endapan karbonat atau sulfat dari air biasanya dapat
dikontrol dengan proses kimiawi. Endapan besi biasanya merupakan tanda dari kehadiran
masalah kontrol korosi. Lapisan endapan dapat terbentuk saat dua atau lebih air yang tidak
cocok bercampur. Pencampuran air dapat terjadi di sumur sumber air dimana dua atau
lebih formasi terbuka, dalam tubular dan fasilitas dimana air dari sumber yang berbeda
tercampur dan pada sumur produksi dimana air sumber dan air konat dapat bercampur
setelah breakthrough.
2.2.5. Bakteri
Bakteri pada sistem injeksi dapat menyebabkan penyumbatan biomass pada formasi
dan masalah korosi. Bakteri memberikan kontribusi pada korosi dengan membentuk
hidrogen sulfida sebagai produk metabolik, menghasilkan asam organik, menghasilkan
enzim yang menjadi media proses korosi elektrokimia dan mengoksidasi serta
mengendapkan besi terlarut. Sebagai hasil langsung dari proses metabolik ini, biomass
bakteri terproduksi. Biasanya bakteri membentuk koloni pada material padat. Saat koloni
meningkat ukurannya, sebagian koloni lepas ke dalam aliran injeksi dan terpompa ke dasar
lubang. Jawaban terbaik untuk masalah bakteri adalah pencegahan. Eliminasi daerah yang
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 7 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
menggenang dan berkecepatan rendah dimana organisme dapat melekat pada substrat
dapat membantu proses kontrol. Pengawasan yang hati-hati pada aktivitas biologis dan
penanggulangan sejak dini juga penting dalam operasi yang berhasil.
2.2.6. Minyak
Kehadiran minyak yang terdispersi dan teremulsi dalam air akan menurunkan kualitas
air juga. Masuknya minyak mentah adalah hal yang tipikal pada air formasi yang
terproduksi. Minyak bukanlah padatan terlarut, tetapi dapat berperan pada pengendapan di
saringan.
2.2.7. Filtrasi
Proses filtrasi biasanya digunakan untuk memisahkan padatan terlarut dari air injeksi.
Yang biasanya digunakan adalah :
a. Disposable cartridge filters; paling baik digunakan pada volume rendah dengan
konsentrasi padatan terlarut yang rendah (< 50 mg/l).
b. Sand filters; digunakan pada konsentrasi padatan terlarut yang rendah (< 50 mg/l). Juga
disebut rapid sand filters dan cocok untuk laju yang lebih tinggi.
c. Diatomaceous earth filters; cocok untuk diaplikasikan pada air dengan padatan terlarut
> 50 mg/l.
Pemakaian sand filter dan diatomaceous earth filter lebih baik digunakan dengan
disposable cartridge filter karena kedua filter yang disebutkan terdahulu rentan terhadap
laju yang melebihi batasan dan proses backwash yang tidak tepat.
2.2.8. Pengawasan dan Kontrol
Pencegahan dan deteksi sejak dini merupakan hal terpenting dalam pemeliharaan air
injeksi berkualitas tinggi. Data berikut ini harus disurvei dan dianalisa secara sistematis :
a. komposisi air
b. padatan terlarut
c. sifat korosif
d. bacterial titer
e. kandungan minyak
f. parameter sistem (tekanan dan temperatur)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 8 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
2.3. PENGUKURAN DATA
a. Tekanan
Sumur-sumur injeksi air merupakan sumber utama untuk memperoleh data tekanan
reservoir.
Pada sumur injeksi air yang beroperasi dengan kolom penuh terisi air dalam lubang
sumur akan menghilangkan kerumitan aliran multifasa. Efek wellbore storage dapat
diminimumkan dan perhitungan kehilangan tekanan yang disebabkan oleh gesekan dalam
tubular disederhanakan menjadi korelasi satu fasa. Tekanan dasar sumur menjadi fungsi dari
tekanan kepala sumur, gradien hidrostatik, kedalaman dan gesekan. Gesekan dalam tubular
adalah fungsi dari ukuran tubing dan laju alir.
Sumur injeksi air juga memungkinkan untuk mengambil data dari kepala sumur, yang
akan digunakan pada uji dan analisa transien tekanan.
b. Laju alir
Data laju alir injeksi biasanya dapat diperoleh dari peralatan metering yang dipasang
pada sumur. Biasanya peralatan ini dapat diandalkan untuk merekam volume kumulatif yang
dapat digunakan untuk memperoleh data laju alir (volume per satuan waktu). Jika diperlukan
laju alir secepatnya dapat digunakan flowmeter turbine. Kalibrasi peralatan yang digunakan
untuk mengumpulkan data uji selalu direkomendasikan.
2.4. INDEKS INJEKTIVITAS
a. Teori
Plot kartesian dari indeks injektivitas (I) sebagai fungsi dari waktu adalah alat yang
berguna untuk mengevaluasi kondisi dari sumur injeksi. Indeks injektivitas didefinisikan oleh
persamaan :
iw kwh
I= = (2)
( Piwf − Pe ) r
141.2 Bw µ w ln e + S
rw
Penurunan rasio ini terhadap waktu menunjukkan masalah pada sumur injeksi. Sumber
masalah yang paling besar adalah peningkatan pada faktor skin (S).
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 9 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
b. Indeks Injektivitas Spesifik
Indeks injektivitas spesifik adalah cara yang mudah untuk membandingkan kinerja
injeksi dari sumur yang berbeda yang berada pada formasi yang sama. Indeks ini
menghilangkan efek dari variasi pada ketebalan bersih interval komplesi sumur. Metode
perbandingan ini memungkinkan evaluasi kinerja dengan membandingkan faktor seperti
permeabilitas, skin dan radius lubang sumur efektif pada kerangka sumur konstan yang
dirujuk.
iw
Is = (3)
h( Piwf − Pe )
Contoh plot skematis indeks injektivitas dapat dilihat pada Gambar 2. Sumur A
mempertahankan indeks injektivitas yang relatif konstan. Sumur B mengalami decline pada
pertengahan periode waktu yang digambarkan. Decline tersebut bisa merupakan indikasi
adanya kerusakan (damage) pada formasi. Plot ini hanya contoh dan perbandingan langsung
pada plot ini akan memberikan hasil yang tidak valid.
Gambar 2. Plot Skematik Indeks Injektivitas
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 10 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
2.5. HALL PLOT
Plot ini merupakan teknik yang berguna untuk mengevaluasi kondisi dari sumur injeksi.3,4)
Hall plot merupakan metoda penggunaan data injeksi terhadap waktu untuk "menghaluskan"
efek dari laju alir dan tekanan yang bervariasi serta kelakuan transien dari tekanan dalam sistem
aliran radial yang mempersulit sebagian besar teknik uji sumur.
Untuk menggunakan teknik Hall ini dibuat plot kartesian dari ∑ (P iwh ∆t ) sebagai fungsi
injeksi air kumulatif (Wi). Hubungan keduanya harus linier. Penyimpangan yang terjadi
merupakan kunci untuk diagnostik. Kemiringan garis lurus tersebut didefinisikan sebagai :
r
141.2 Bw µ w ln e + S
m= rw
kwh
Bila kondisi sumur berubah, maka kemiringan Hall plot akan berubah juga. Pada awal masa
penyapuan, Hall plot akan menunjukkan bentuk yang melengkung ke atas. Hal ini disebabkan
oleh ekspansi re dan kenaikan Pe. Efek ini semakin kecil dengan bertambah besarnya re. Jika
sumur distimulasi kemiringan Hall akan berkurang.
Gambar 3 adalah contoh skematik dari Hall plot yang digunakan untuk mendemonstrasikan
beberapa kondisi yang dapat didiagnosa dengan teknik ini. Bagian kurva yang berlabel A adalah
bentuk melengkung ke atas yang muncul pada masa awal injeksi. Selama periode waktu ini,
polanya menjadi terisi fluida, re meluas dan Pe meningkat. Pada titik B, proses fill-up selesai dan
re serta Pe konstan. Jalur ke titik C menunjukkan Hall plot untuk sumur yang mengalami
beberapa kerusakan formasi. Jalur ke titik D menunjukkan sumur dengan skin, rw dan kh
konstan. Jalur ke titik E dan F menunjukkan Hall plot untuk sumur yang distimulasi dengan
perekahan, pengasaman, dan lain-lain.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 11 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Gambar 3. Hall Plot Skematik
2.6. UJI FALL-OFF TEKANAN
Uji Fall-off tekanan pada sumur injeksi air biasanya dilakukan untuk mengakses tekanan
reservoir interwell, sifat-sifat formasi dan skin sumur.5,6)
Data-data mendasar yang diperlukan untuk analisa adalah :
1. Porositas, φ (fraksi)
2. Saturasi air konat, Swc (fraksi)
3. Saturasi minyak residual, Sor (fraksi)
4. Viskositas fluida yang diinjeksikan pada kondisi reservoir, µw (cp)
5. Faktor volume formasi dari fluida yang diinjeksi, Bw (bbl/STB)
6. Ketebalan bersih interval, h (ft)
7. Kompresibilitas total sistem, ct (psi-1)
8. Densitas fluida yang diinjeksi, ρw (lb/gal)
9. Diameter dalam tubing injeksi, d (in)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 12 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
10. Densitas perforasi, diameter dan kedalaman efektif dari penetrasi
Jika level fluida yang jatuh setelah shut-in merupakan masalah, akan tidak mungkin untuk
membuat analisa yang masuk akal untuk pengujian. Ada beberapa pilihan untuk memecahkan
masalah ini. Level fluida yang jatuh ada kemungkinan dapat disurvei menggunakan alat perekam
akustik (Echometer). Level fluida sebagai fungsi dari waktu shut-in dapat direkam. Ketika level
fluida jatuh, kepala sumur bisa berada pada kondisi vakum (tekanan absolut kurang dari tekanan
atmosfer atau gauge kurang dari nol). Ada kemungkinan perlu mengukur tekanan di dasar sumur
dan pada kasus level fluida jatuh dengan cepat, ada kemungkinan perlu menutup sumur di dasar
lubang.
Uji Fall-off tekanan ini merupakan cerminan dari uji build-up tekanan dan menggunakan
teknik penyelesaian yang sama. Untuk memperoleh penyelesaian yang tepat untuk sifat-sifat
reservoir, perlu dipilih periode aliran transien yang berhubungan dengan saturasi fluida yang
diasumsikan pada data masukan.
2.7. UJI STEP-RATE
Uji step-rate (Step Rate Test - SRT) adalah metoda yang diterima secara umum untuk
menentukan tekanan bagian formasi pada sumur injeksi.7,8) Tekanan bagian formasi (Formation
Parting Pressure - FPP) adalah tekanan yang akan menciptakan rekahan baru pada batuan yang
belum rekah atau menambah panjang rekahan yang sudah ada. Pada kasus tertentu, injeksi di
atas FPP dapat menimbulkan perolehan waterflood yang lebih rendah mengacu pada efisiensi
daerah penyapuan yang menurun (Ea). Injeksi di bawah FPP dapat mengurangi laju throughput
dan menyebabkan laju produksi turun.
Untuk memulai prosedur pengujian sumur injeksi harus ditutup atau distabilkan pada laju
injeksi konstan (iw). Jika sumur ditutup, waktu penutupan harus cukup lama untuk
memungkinkan tekanan statik dasar sumur (Piws) untuk menurunkan tekanan statik reservoir.
Ada 2 metoda untuk menganalisa data SRT. Metoda pertama relatif langsung dan
merupakan teknik grafis yang didasarkan pada asumsi yang disederhanakan. Pendekatan
terhadap FPP dapat dibuat dari metoda ini. Teknik kedua adalah analisa yang lebih teliti, yang
didasarkan pada prinsip superposisi (analisa multi-rate). Pendekatan terhadap FPP,
permeabilitas-ketinggian (kh) dan skin dapat dihitung jika data reservoir yang dibutuhkan dapat
disediakan. Perlu dilakukan pengawasan dan pencatatan yang kontinyu terhadap data tekanan vs
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 13 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
periode waktu untuk setiap langkah laju alir. Minimum harus ada data tekanan yang dicatat pada
awal dan akhir setiap langkah laju alir.
Karena ada masalah yang kompleks dalam penggabungan data pada uji multi-rate, maka
prosedur uji step-rate yang lebih mudah, yang digabungkan dengan uji tekanan fall-off, menjadi
pilihan yang lebih ekonomis.
FPP tidak boleh dianggap konstan selama masa injeksi suatu sumur karena FPP cenderung
meningkat bila tekanan rata-rata pori-pori meningkat (setiap 1 psi peningkatan tekanan reservoir,
FPP naik 0.5 - 0.75 psi). Uji step-rate harus diulang setiap ada perubahan tekanan reservoir dan
kondisi operasi yang diberikan.
Sumur yang distimulasi dengan rekahan yang sudah ada tidak mungkin dianalisa dengan
teknik dan asumsi di atas, yaitu bahwa aliran adalah radial. Pemeriksaan terhadap data
menggunakan modifikasi teknik superposisi multi-rate yang persamaannya disubstitusi dengan
aliran linier mungkin cocok untuk kondisi ini.
2.8. LOG INJEKSI
Pengawasan (monitoring) sumur injeksi akan membutuhkan data yang dikumpulkan dengan
logging. Data log injeksi dan log cased hole dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah
kinerja sumur yang spesifik. Data log produksi dan cased hole dapat dikumpulkan di bawah
kondisi dinamik (injeksi) atau statik (shut-in). Log injeksi dan cased hole dapat membantu untuk
menentukan dan mendefinisikan parameter berikut :
1. Integritas mekanik dari sumur.
2. Pergerakan yang ganjil dari fluida injeksi antara interval-interval.
3. Efisiensi injeksi dari komplesi sumur.
4. Desain dan evaluasi dari treatment stimulasi.
5. Tinjauan menyeluruh tentang bagaimana sumur injeksi harus diatur.
Log injeksi biasanya dijalankan bersama dengan peralatan penempat casing collar atau
tubing collar untuk menyediakan kontrol kedalaman yang akurat dalam sumur.
a. Flowmeter (Spinners)
Ada 2 macam jenis flowmeter yang biasa digunakan untuk logging sumur injeksi, yaitu :
1. Continuous spinner adalah centralized spinner velocimeter. Ini adalah peralatan impeller
yang mengukur profil injeksi secara kontinyu vs kedalaman terukur.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 14 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
2. Fullbore spinner adalah collapsible blade velocimeter. Diameter impeller dapat dipilih agar
cocok dengan laju injeksi dan diameter pipa yang diminta.
Spinner flowmeter dapat digunakan untuk mengetahui di mana terjadi kebocoran tubing
dan casing dan menentukan profil injeksi ke dalam interval yang diperforasi.
b. Instrumen Temperatur
Instrumen temperatur adalah peralatan wireline yang digantungkan dalam lubang bor
yang mentransmisikan atau mencatat temperatur sumur. Survei temperatur lubang bor dapat
digunakan untuk :
1. Mengetahui di mana terjadi kebocoran tubing atau casing.
2. Mengetahui di mana channel aliran di belakang pipa.
3. Mengidentifikasi zona-zona dimana terjadi produksi atau injeksi.
4. Mengidentifikasi interval-interval yang dipengaruhi oleh treatment stimulasi.
Gambar 4 dan 5 adalah 2 contoh yang sudah disederhanakan dari profil sumur injeksi.
Log direkam dengan continuous flowmeter dan thermometer.
c. Survei Pemindai Radioaktif (Radioactive Tracer Surveys)
Log ini dijalankan untuk mendeteksi kebocoran tubing-casing atau suatu channel di
belakang pipa dan untuk menentukan profil injeksi dari zona perforasi tunggal atau antara
kumpulan beberapa perforasi di zona yang berlainan dalam reservoir.
Masalah mekanik yang paling umum adalah adanya channel di belakang casing karena
ikatan yang kurang kuat antara pipa dengan formasi oleh semen.
Untuk menentukan profil injeksi meggunakan pemindai radioaktif, suatu tembakan dari
material pemindai dilepaskan ke dalam aliran total di atas perforasi. Sebelumnya, dijalankan
base log untuk merekam radiasi yang sudah ada sebelum tembakan dilepaskan.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 15 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Gambar 4. Skematik Survei Temperatur dan Spinner dari Injeksi Air ke Dalam Zona Tunggal
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 16 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Gambar 5. Skematik Survei Temperatur dan Spinner dari Injeksi Air ke Dalam Dua Zona
d. Log Suara (Noise Logs)
Peralatan ini merekam amplitudo dari frekuensi suara audio vs kedalaman terukur. Log
ini dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran, aliran di belakang pipa dan kontribusi kotor
dari zona perforasi.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 17 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
e. Log Cased Hole Lainnya
Log evaluasi casing seperti log caliper dan peralatan magnetik dan sonik yang bervariasi
dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi casing dalam sumur. Informasi ini dapat
digunakan untuk menentukan kondisi dan pelayanan casing dan mengidentifikasi
kemungkinan adanya kebocoran dan kegagalan integritas sumur lainnya. Log evaluasi semen
dapat digunakan untuk mengevaluasi integritas casing terhadap ikatan semen formasi. Log
ikatan semen (cement bond log) dan peralatan evaluasi semen lainnya dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kemungkinan adanya channel di belakang pipa antara zona yang tidak
diisolasikan.
2.9. PEMINDAI INTERWELL (INTERWELL TRACERS)
Pemindai digunakan untuk menentukan asal dari air yang terproduksi, untuk
mengidentifikasikan dan menghitung permeabilitas berdasarkan arahnya, untuk menghitung
efisiensi penyapuan dan mendefinisikan penghalang permeabilitas. Beberapa hal yang harus
dipertimbangkan saat memilih pemindai adalah :
1. Keamanan - Material pemindai harus diperlakukan dengan hati-hati agar personil dan
lingkungan tidak terkontaminasi, terutama untuk pemindai radioaktif.
2. Non-adsorbent dan Chemical Inert - Pemindai tidak boleh "melapisi" formasi. Pemindai
tidak boleh bereaksi dengan formasi, minyak atau air formasi.
3. Kestabilan - Pemindai tidak boleh mengubah fasa atau karakter pada kondisi reservoir.
Terutama kritis untuk garam dan alkohol.
4. Kelarutan - Agar efektif, pemindai tidak boleh larut dalam minyak dan harus 100% larut
dalam air.
5. Kemampuan untuk Dideteksi - Pemindai harus dapat dideteksi pada level konsentrasi yang
aman.
a. Klasifikasi Pemindai Lapangan Minyak
Sebagian besar pemindai ini dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori utama, yaitu :
1. Water Soluble Alcohols : (Metanol, Etanol dan Isopropanol)
Pemindai ini relatif aman dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Masalah terbesarnya adalah
pemindai ini kadang bercampur dengan minyak atau membentuk lapisan dalam formasi.
2. Garam : (Amonium, Sodium dan Potasium)
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 18 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Pemindai ini relatif aman dan tidak mahal, tetapi kadang terabaikan. Penting untuk
dilakukan uji kecocokan dengan air formasi sebelum pemompaan. Salah satu pemindai
terbaik untuk penentuan efisiensi penyapuan jika didesain dengan benar.
3. Fluorescent Dyes (Pencelup Fluorescent) : (Banyak macamnya)
Pemindai awal yang cukup dengan "mencelup" sehingga memungkinkan operator "melihat"
sumur mana yang memproduksi fluida yang diinjeksikan. Perlu diperiksa terhadap
timbulnya lapisan atau membentuk filter pada formasi jika material tidak terlarut
seluruhnya.
4. Pemindai Radioaktif : (Tritiated Water, Kobalt, Sodium, Nikel dan Stronsium)
Pemindai yang paling banyak digunakan karena dapat dideteksi pada konsentrasi yang
rendah. Pemindai, injeksi pemindai dan analisa air yang terproduksi mahal, maka jika
mungkin, gunakan pemindai selain pemindai ini.
2.10. UJI INTERFERENCE
Uji ini dapat membantu para teknisi dalam pendeskripsian reservoir, mengidentifikasi
kecenderungan arah permeabilitas, memperkirakan jarak ke muka pembanjiran (flood front) dan
mengindikasikan daerah minyak yang tidak tersapu.
2.11. DAFTAR KONTROL KUALITAS
Daftar kontrol kualitas yang disarankan telah dibuat untuk mengkonversi sumur produksi ke
pelayanan injeksi. Tentu saja daftar ini tidak mewakili secara keseluruhan. Banyak hal-hal yang
disarankan tidak cocok untuk setiap situasi, tetapi kewaspadaan mengenai masalah yang terjadi
di daerah lain bisa berguna dalam memastikan pelayanan sumur injeksi yang dapat diandalkan
selama "masa hidup" waterflood.
! Memastikan ijin peraturan telah disimpan dan disetujui oleh agen pemerintah yang
bersangkutan.
! Memastikan surat pemilihan rekanan pemilik telah disebar dan disetujui.
! Memastikan bahwa perintah daerah injeksi telah selesai dan disimpan.
! Mengevaluasi kualitas air injeksi untuk kecocokan dengan formasi, kandungan padatan
terlarut dan kontaminasi bakteri.
! Mengevaluasi kondisi tubing dan casing.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 19 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
! Memastikan tingkat dan spesifikasi peralatan kepala sumur, tubing dan casing sudah tepat
untuk mengajukan pelayanan injeksi.
! Membandingkan catatan perforasi sumur dengan log sumur untuk memastikan formasi
yang benar telah terbuka.
! Tag fill dan bail atau clean-outs sesuai dengan yang diperlukan untuk membuka zona yang
akan diinjeksi.
! Menarik peralatan permukaan yang tidak sesuai untuk pelayanan injeksi.
! Menspesifikasi dan memasang peralatan metering air yang tepat untuk pelayanan yang
diharapkan.
! Menspesifikasi dan memasang peralatan filtrasi untuk memastikan air yang diinjeksi masuk
ke dalam spesifikasi.
! Menspesifikasi dan memasang peralatan untuk pengolahan air injeksi dengan penghalang
korosi, penghalang scale dan biocide yang diperlukan.
! Menghubungkan aliran injeksi sumur dengan header atau pompa injeksi.
! Mengikuti persyaratan peraturan pengujian dan pengawasan sumur.
! Menyelesaikan pengujian step-rate untuk menentukan tekanan injeksi yang sesuai.
! Menyetel program monitoring sumur yang sistematis untuk memastikan sumur yang sedang
dalam proses injeksi terus beroperasi pada efisiensi terbaik yang mungkin.
3. ANALISA SUMUR PRODUKSI
Kinerja sumur produksi harus dioptimalkan agar nilai suatu proses waterflood bisa
dimaksimalkan. Teknik pengawasan sumur produksi meliputi analisa laju alir dan rasio melalui
kegunaan teknik plotting pengawasan. Log produksi dan cased hole digunakan untuk menyediakan
data kinerja sumur. Uji transien tekanan dan data tekanan aliran juga menyediakan infomasi tentang
kinerja sumur dalam sistem reservoir. Contoh skema tentang sistemasi analisa sumur produksi
diberikan pada Gambar 6.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 20 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Gambar 6. Sistemasi Pengawasan Sumur Produksi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 21 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
Pada awal proses waterflood, interval komplesi harus diperiksa untuk memastikan seluruh lapisan
yang dapat "dibanjiri" terbuka. Daftar yang berisi data komplesi sumur dari file sumur, log, uji,
catatan stimulasi, peta struktur, peta kontak fluida dan cross-sections dapat membantu pencapaian
kerja ini. Sebuah check-list, yang mirip dengan yang telah diajukan sebelumnya untuk konversi sumur
ke pelayanan injeksi, dapat berguna untuk kontrol kualitas dalam pemeliharaan sumur produksi.
Survei tentang integritas mekanik masing-masing sumur harus dilakukan. Tingkat pelayanan dari
seluruh komponen kepala sumur, tubing dan casing harus dievaluasi untuk memastikan bahwa sumur
memenuhi tingkat pelayanan yang diharapkan selama proses waterflood. Masalah fill, junk, korosi dan
scale harus diidentifikasi. Ada kemungkinan perlu dilakukan workover atau pemeliharaan remedial
pada beberapa sumur sebelum memulai pembanjiran. Rekomplesi, plugbacks, deepenings, reperforasi,
squeeze cementing dan clean-outs harus diselesaikan.
Kondisi dan tingkat pelayanan dari seluruh peralatan pengangkatan buatan harus diperiksa dan
didokumentasikan. Peralatan harus memenuhi tingkat sampai kapasitas yang diharapkan selama
proses pembanjiran. Kondisi dan kapasitas peralatan produksi permukaan harus memenuhi
persyaratan operasi yang diharapkan karena kinerja sumur produksi akan berubah mengacu pada
respon waterflood.
Sejarah stimulasi untuk tiap sumur harus direview. Potensi untuk dilakukan stimulasi di masa
mendatang harus dipertimbangkan. Di bawah kondisi produksi primer semi-depleted, stimulasi
mungkin tidak ekonomis. Di bawah kondisi reservoir yang diharapkan setelah fill-up, stimulasi
mungkin akan sangat menguntungkan. Jika stimulasi perekahan hidraulik direkomendasikan, desain
panjang dan arah rekahan harus mempertimbangkan ukuran pola (well spacing), geometri dan arah.
Akibat stratifikasi vertikal reservoir, mungkin diperlukan adanya kontrol terhadap perpanjangan
vertikal dari rekahan.
a. Laju Alir
Pengukuran dan analisa data laju produksi harus merupakan suatu rutinitas. Pengumpulan
data laju alir minyak, air dan gas yang akurat diperlukan untuk memastikan pengawasan
waterflood yang tepat waktu dan efisien. Kcenderungan yang tidak lazim, yang diidentifikasi oleh
rutinitas dan analisa sistematik dari data laju produksi, seringkali merupakan tanda pertama
tentang potensi timbulnya masalah.
Kumpulan grafik laju alir-waktu dan rasio-waktu yang lengkap merupakan dasar dari usaha
pengawasan sumur produksi.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 22 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
b. Rasio Gas-Minyak (Rp)
Di awal proses fill-up, rasio produksi gas-minyak yang naik dengan tajam bisa diamati
sebagai gas bebas yang pindah ke sumur produksi. Saat proses waterflood mengalami kemajuan
sampai fill-up, rasio produksi gas-minyak harus membentuk penurunan pada rasio campuran gas-
minyak reservoir. Pada dan setelah fill-up, rasio produksi gas-minyak harus sama dengan rasio
campuran gas-minyak reservoir. Penyimpangan apapun dari kecenderungan ini harus diwaspadai.
Meningkatnya rasio produksi gas-minyak menandakan penurunan pada tekanan reservoir,
mengikuti produksi di bawah tekanan gelembung dan kegagalan dalam mencapai proses
penyapuan dalam reservoir. Jika volume injeksi reservoir tidak memindahkan voidage, tekanan
akan turun dan rasio produksi gas-minyak akan meningkat.
c. Rasio Air-Minyak (Fwo)
Kinerja produksi air adalah indikator kunci kinerja waterflood. Data rasio air-minyak dapat
digunakan untuk meramalkan kinerja waterflood di masa mendatang dan dapat diekstrapolasikan
menjadi limit ekonomik. Metoda yang diajukan oleh Ershaghi dan Omoregie mengasumsikan
bahwa perolehan dikontrol oleh kurva aliran fraksional yang didasarkan pada hubungan linier
antara log (kro/krw) dan saturasi air. Metoda lainnya adalah menggunakan log (WOR) vs laju alir
minyak yang konvensional, terutama pada water cut yang rendah. Kedua metoda cukup valid pada
water cut lebih dari 50%.
Breakthrough air yang prematur merupakan pertanda adanya potensi efisiensi penyapuan
yang rendah. Kenaikan dan penurunan water cut yang cepat harus dijadikan pertanda awal untuk
dilakukannya pemeriksaan terhadap kondisi sumur produksi. Kinerja produksi air yang tidak
diharapkan mungkin merupakan indikasi kesalahan dalam interpretasi parameter yang mengontrol
kinerja reservoir.
d. Tekanan
Pada sumur produksi biasanya lebih sulit untuk memperoleh data tekanan reservoir yang
berguna hanya dari pengukuran tekanan permukaan. Interpretasi dari data tekanan permukaan
untuk menentukan tekanan dasar sumur akan sulit karena adanya sistem fluida 3 fasa dalam sumur.
Pada laju yang sangat rendah, sumur dengan rasio gas-minyak yang rendah, kerumitan di atas
menjadi sangat penting. Telah dibuat sistem yang memungkinkan pencatatan secara simultan dari
tekanan kepala sumur dan level fluida dengan teknik pengukuran akustik. Ketika data ini dianalisa,
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 23 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
ada kemungkinan untuk menghitung tekanan statik dan tekanan alir dasar sumur di beberapa
sumur produksi. Keandalan metoda ini memerlukan pengetahuan tentang gradien fluida (densitas)
dan karakteristik segregasi fluida dalam sumur. Dari data permukaan ini bisa dibuat analisa
transien tekanan yang berguna (pada beberapa situasi).
Pada laju alir yang lebih tinggi, gas cut yang tinggi atau water cut yang tinggi dari sumur
yang mengalir, membuat penentuan tekanan dasar sumur yang akurat dari data permukaan menjadi
tidak mungkin. Komponen hidrostatik dan friksi pada rezim aliran 3 fasa yang kompleks sangat
sulit untuk dianalisa dengan pasti. Tidak mungkin dilakukan analisa transien tekanan dengan data
ini karena data yang digunakan dalam analisa transien tekanan harus dicatat terhadap kedalaman.
3.1. ANALISA TRANSIEN TEKANAN
Prosedur uji transien tekanan biasanya dilakukan pada sumur produksi dalam proses
waterflood untuk mengakses karakteristik formasi dari sumur tertentu yang sedang diuji. Uji
buil-up dan draw-down tekanan dilakukan untuk menentukan permeabilitas-ketinggian (kh)
sumur dan faktor skin. Tekanan rata-rata daerah pengurasan untuk sumur juga dapat
diperkirakan.
a. Data Yang Diperlukan
Data-data yang diperlukan untuk analisa data tekanan build-up atau draw-down adalah :
1. φ, porositas (fraksi)
2. Sw, saturasi air (fraksi)
3. So, saturasi minyak (fraksi)
4. Sg, saturasi gas (fraksi)
5. µo, viskositas minyak pada kondisi reservoir (cp)
6. µw, viskositas air pada kondisi reservoir (cp)
7. µg, viskositas gas pada kondisi reservoir (cp)
8. Bo, faktor volume formasi minyak (bbl/STB)
9. Bw, faktor volume formasi air (bbl/STB)
10. Bg, faktor volume formasi gas (scf/STB)
11. h, ketebalan bersih interval (ft)
12. ct, kompresibilitas total sistem (psi-1)
13. Densitas perforasi, diameter dan kedalaman efektif penetrasi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 24 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
3.2. LOG PRODUKSI
Pengawasan sumur produksi terkadang membutuhkan data yang dikumpulkan melalui
logging. Data log produksi dan cased hole dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah
kinerja sumur yang spesifik dan menjawab pertanyaan tentang kinerja waterflood secara
keseluruhan. Data tersebut dapat dikumpulkan di bawah kondisi dinamik (mengalir) atau statik
(shut-in). Log produksi dan cased hole dapat membantu dalam penentuan dan pendefinisian
parameter berikut ini :
1. Integritas mekanik dari sumur.
2. Pegerakan fluida yang tidak lazim di antara interval.
3. Efisiensi dari komplesi sumur.
4. Desain dan evaluasi treatment stimulasi.
5. Tinjauan menyeluruh tentang bagaimana seharusnya mengatur reservoir.
Resolusi dari pertanyaan mengenai kinerja sumur dan reservoir biasanya memerlukan data
dari lebih satu alat. Data-data tersebut dikombinasikan dalam analisis untuk menyediakan
diagnosis yang akurat dari kondisi sumur produksi.
Peralatan logging produksi biasanya dijalankan bersamaan dengan peralatan penempat
casing collar atau tubing collar untuk menyediakan kontrol kedalaman yang akurat dalam
sumur.
a. Flowmeters (Spinners)
Ada 3 tipe flowmeters yang biasanya digunakan, yaitu :
1. Continuous spinner adalah centralized spinner velocimeter. Merupakan peralatan impeller
yang mengukur profil aliran yang kontinyu vs kedalaman terukur. Alat ini harus di-
centralized dan dikalibrasi terhadap keadaan di dasar lubang dengan benar agar hasilnya
berguna dan akurat. Alat ini mungkin tidak berfungsi pada tubing (casing) berdiameter
besar dan/atau pada sumur dengan laju alir rendah dimana kecepatan fluida berada di
bawah batas respon alat.
2. Inflatable atau Expandable Diverting Flowmeter (IDT) juga merupakan velocimeter tipe
impeller. Alat ini harus distop dan diset pada kedalaman yang bervariasi untuk mencatat
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 25 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
data kecepatan fluida. Alat ini tidak menyediakan profil kecepatan fluida yang kontinyu.
Alat ini paling baik digunakan pada aplikasi laju alir yang rendah.
3. Fullbore spinner adalah collapsible blade velocimeter. Diameter impeller dapat dipilih
untuk menyesuaikan dengan persyaratan laju alir dan diameter pipa. Seperti continuous
flowmeter, alat ini menyediakan profil kecepatan fluida yang kontinyu vs kedalaman
terukur. Alat ini memiliki resolusi yang lebih tinggi dan batas respon yang lebih rendah
daripada continuous flowmeter.
Analisa rezim aliran 3 fasa biasanya memerlukan pengetahuan tentang densitas atau
gradien fluida, gas slippage dan water hold-up.
Spinner flowmeter dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran pada tubing dan casing
dan untuk menentukan dari logika kasar, profil aliran dari interval yang diperforasi.
b. Peralatan Temperatur
Survei temperatur lubang bor dapat digunakan untuk :
1. Mengetahui di mana terjadi kebocoran tubing atau casing.
2. Mengetahui di mana terjadi channel aliran di belakang pipa.
3. Mengidentifikasikan zona-zona dimana terjadi produksi atau injeksi.
4. Mengidentifikasikan interval yang dipengaruhi oleh treatment stimulasi.
5. Mengidentifikasikan zona dengan gas cut yang tinggi.
c. Gradiomanometer
Alat ini merekam profil yang kontinyu dari gradien tekanan vs kedalaman. Pada sumur
produksi, alat ini paling berguna untuk mendefinisikan titik masuk dari zona dengan water
cut dan gas cut yang tinggi. Data alat ini biasanya dikombinasikan dengan data flowmeter
dan water hold-up untuk menentukan profil aliran 3 fasa.
d. Densimeter
Digunakan untuk mencatat densitas fluida vs kedalaman terukur. Alat ini paling berguna
untuk membedakan fasa gas dengan cairan.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 26 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
e. Water-cuts Meters
Alat ini berguna untuk membedakan hidrokarbon dengan air dalam sistem aliran 3 fasa.
Alat logging produksi ini juga disebut capacitance meters atau water hold-up meters (HUM).
f. Pemindai Radioaktif (Radioactive Tracers)
Substansi pemindai radioaktif diinjeksikan dan kemudian dideteksi dalam sumur
produksi. Peralatan gamma ray dan spectral gamma ray dapat digunakan untuk menentukan
interval pemindai produksi dan kecepatan aliran fluida.
g. Log Suara (Noise Log)
Alat ini mencatat amplitudo dari frekuensi suara audio vs kedalaman terukur. Log ini
dapat digunakan untuk mengetahui di mana terjadi kebocoran, aliran di belakang pipa dan
kontribusi kotor dari zona yang diperforasi.
h. Log Pulsed Neutron (Pulsed Neutron Log)
Log ini mencatat laju dari kerusakan neutron termal yang diikuti dengan emisi dari
neutron berenergi tinggi. Laju tersebut dapat digunakan pada beberapa aplikasi untuk
menentukan saturasi minyak dan air. Log ini juga dapat digunakan untuk menentukan :
1. Pergerakan kontak air-minyak.
2. Lokasi zona yang tersapu air.
3. Perubahan pada saturasi fluida akibat channeling di belakang pipa.
i. Log Karbon-Oksigen
Log ini mengukur gamma ray yang diemisikan oleh neutron activated carbon dan
molekul oksigen dalam fluida di dekat lubang bor. Dapat diandalkan sebagai indikator
saturasi minyak. Tidak terpengaruh oleh kegaraman air atau kandungan clay. Terpengaruh
oleh kalsium karbonat.
j. Log Cased Hole Lainnya
Log evaluasi casing seperti log caliper dan peralatan magnetik dan sonik yang bervariasi
dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi casing dalam sumur. Informasi ini dapat
digunakan untuk menentukan kondisi dan tingkat pelayanan casing dan mengidentifikasi
kemungkinan terjadinya kebocoran dan kegagalan integritas sumur lainnya. Log evaluasi
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 27 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
semen dapat digunakan untuk mengevaluasi integritas casing terhadap ikatan semen formasi.
Log ikatan semen (CBL) dan peralatan evaluasi semen lainnya dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kemungkinan terjadinya channel di belakang pipa antara zona-zona yang
tidak terisolasi.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 28 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
TABEL 1
DEFINISI DAN ANALISIS MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAJU PRODUKSI
FLUIDA YANG RENDAH
Masalah Kemungkinan Penyebabnya Definisi dan Analisis
1. Tekanan dasar sumur dengan Peralatan pengangkatan buatan Dynamometer.
aliran tinggi. yang tidak sesuai atau tidak Sonolog.
efisien. Survei tekanan aliran.
Review desain pengangkatan
buatan.
2. Kapasitas aliran yang rendah. Ketebalan bersih dan kontak Review evaluasi formasi dari
fluida yang tidak terdefinisi core, log open-hole, DST, dll.
dengan benar. Review data komplesi.
Komplesi dan/atau stimulasi Log produksi.
yang rusak. Uji transien tekanan untuk skin,
kh, dll.
Tersumbatnya perforasi karena Analisis kualitas air.
scale, proppent, fill, fines, korosi, Analisis kecocokan air.
parafin atau aspaltin. Analisis Parafin/Aspaltin.
Tag fill.
Permeabilitas formasi yang Uji transien tekanan.
rendah.
3. Tekanan reservoir yang Fill-up tidak tercapai. Analisis sumur injeksi.
rendah. Perhitungan pemindahan fill-up
dan voidage.
Diskontinuitas ketebalan. Studi kontinuitas ketebalan.
Uji interferensi.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 29 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
TABEL 2
DEFINISI DAN ANALISIS MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAJU PRODUKSI GAS
ATAU AIR YANG TINGGI
Masalah Kemungkinan Penyebabnya Definisi dan Analisis
1. Channel air atau gas. Profil injeksi yang buruk. Analisis kualitas air.
Tekanan ekstensi rekahan yang Analisis kecocokan air.
berlebih pada injektor. Uji injeksi step-rate.
Coning Review data komplesi dan
stimulasi.
Kegagalan semen. Log produksi.
Log evaluasi semen.
Uji interferensi.
2. Kebocoran casing. Korosi internal atau eksternal. Review data komplesi.
Analisis air.
Casing yang buruk. Log inspeksi casing.
Casing yang rusak. Log produksi (temperatur, spinner,
suara).
Geologi untuk formasi plastis.
3. Breakthrough air prematur. Profil injeksi yang buruk. Analisis sumur injeksi.
Tekanan ekstensi rekahan yang Uji injeksi step-rate.
berlebih pada injektor.
Geometri pola yang salah. Studi kontinuitas ketebalan.
Studi arah permeabilitas.
Stratifikasi reservoir atau zona Uji interferensi dan log produksi.
"pencuri".
Heterogenitas areal. Evaluasi geologi dan geofisika.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 30 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
3.3. TEKNIK ANALISA GRAFIS
Pencocokan secara empiris dari data produksi sebagai fungsi dari beberapa faktor seperti
waktu adalah metoda yang umum digunakan untuk memperkirakan cadangan yang masih ada
dalam reservoir minyak.
Ekstrapolasi dari kurva penurunan (decline curve) empirik manapun ke dalam kondisi di
masa mendatang dibuat berdasarkan asumsi bahwa seluruh faktor yang mempengaruhi produksi
dari suatu sumur atau sekumpulan sumur akan terus memiliki efek kumulatif yang identik di
masa mendatang.
Untuk keterangan yang lebih lengkap mengenai decline curve dapat dilihat pada TR 03.04.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 31 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
4. DAFTAR PUSTAKA
1. Patton, C. C. : "Water Quality Control and Its Importance in Waterflooding Operations", JPT
(Sep. 1988), 1123 - 1126.
2. Hensel, W. M. Jr., Sullivan, R. L., Stallings, R. H. : "Understanding and Solving Injection Well
Problems", Petroleum Engineering International (May 1981), 155 - 170.
3. Hall, M. N. : "How to Analyze Waterflood Injection Well Performance", World Oil (Oct. 1963),
128 - 129.
4. DeMarco, M. : "Simplified Method Pinpoints Injection Well Problems", World Oil (Apr. 1969), 92
- 100.
5. Abbaszadeh, M., Kamal, M. : "Pressure Transient Testing of Water Injection Wells", SPE
Reservoir Engineering (Feb. 1989), 115 - 121.
6. Kamal, M. : "The Use of Pressure Transients to Describe Reservoir Heterogenity", JPT (Aug.
1979), 1060 - 1070.
7. Felsenthal, M. : "Step-rate Tests Determine Safe Injection Pressures in Floods", Oil and Gas J.
(Oct. 1974), 49 - 54.
8. Singh, P. K., Agarwal, R. G., dan Krase, L. D. : "Systematic Design and Analysis of Step-rate
Tests to Determine Formation Parting Pressure", Paper SPE 16798, 1987.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07
Halaman : 32 / 32
JUDUL : METODE EOR
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood
5. DAFTAR SIMBOL
Bw = faktor volume formasi air, bbl/STB
h = ketebalan formasi, ft
I = indeks injektivitas, bbl/psi
Is = indeks injektivitas spesifik, bbl/hari/psi-ft
iw = laju injeksi, bbl/hari
k = permeabilitas absolut, mD
krw = permeabilitas relatif air, tidak berdimensi
kw = permeabilitas air, mD
m = kemiringan garis, psi-hari/bbl
Pe = tekanan pada jari-jari eksternal daerah pengurasan, psia
Piwf = tekanan injeksi dasar sumur, psia
re = jari-jari eksternal daerah pengurasan, ft
rw = jari-jari lubang bor, ft
S = faktor skin, tidak berdimensi
µw = viskositas air, cp
Manajemen Produksi Hulu
0 comments
Post a comment