respon bank indonesia terhadap kebijakan moneter triwulan ke tiga tahun 2013
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

respon bank indonesia terhadap kebijakan moneter triwulan ke tiga tahun 2013

  • 758 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
758
On Slideshare
758
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
12
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. RESPON BANK INDONESIA TERHADAP KEBIJAKAN MONETER PADA TRIWULAN KE III TAHUN 2013 PAPER TEORI EKONOMI P ( 2-1 ) Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Ekonomi P ( 2-1 ) Semester 3 Dosen Pembimbing : Husnul Khatimah .SE.M.Si Disusun oleh : Nama : Bisowarno Sejati NPM : 41183402120045 Fakultas Ekonomi Jurusan Management S1 Class 3C UNIVERSITAS ISLAM "45" BEKASI Jl.Cut Meutia No.83 Bekasi 17113 Tlp (021) 8802015, 8808851-52 Fax. (021) 8801192, Homepage : www.unismabekasi.ac.id Tahun Ajaran 2012/2013 KATA PENGANTAR Lingkaran indah terukir dalam puji syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunianya, penulis dapat menyusun paper sebagai tugas untuk memenuhi mata kuliah Teori Ekonomi P (2-1) semester 3 yang membahas dengan judul " RESPON KEBIJAKAN MONETER BI TRIWULAN KE TIGA TAHUN 2013 " selesai tepat pada waktunya. Penulis ingin memetik nasehat Lipsei dan Cristal dalam bukunya : An Introduction to Positive Economics ( Edisi ke lima, 1995, halaman xxiiii ) :
  • 2. " You need to study a book on economics in a different way from how you wold study a book on say, history or English Literature Economics Theory has a logical structure that builds on itself from stage to stage. This if you inperfectly understand some concept or theory, you will run into increasing difficulty when, in subsequen chapters, this theory or concept is taken for granted and built upon " Ringkasannya : Mempelajari ilmu ekonomi termasuk teori ekonomi (ekonomi makro ) tidak bisa dilakukan dengan tergesa gesa. Harus selangkah demi selangkah dan pada setiap langkah tersebut aspek aspek yang diterangkan perlulah dipahami dengan baik. Untuk membantu anda dalam memahami hal hal yang diterangkan, pada setiap bab disediakan ringkasan yang meliputi aspek yang diterangkan, dan konsep penting yang digunakan. Tujuannya adalah untuk membantu anda mengingat dan memahami uraian dalam setiap bab, Penyusun makalah ini berusaha dengan semaksimal mungkin untuk menjadikan makalah ini mendekati kesempurnaan, mudah dimengerti , menarik dan mungkin menjadikan suatu inspirasi kepda pembaca serta memberi kontribusi pada pemahaman yang lebih baik di teori ekonomi. Selamat membaca dan semoga anda sukses. Bekasi, 13 Desember 2013 1. LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 8 Oktober 2013 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 7,25%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 7,25% dan 5,50%. Bank Indonesia akan mencermati perkembangan perekonomian global dan nasional serta akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makro prudensial untuk memastikan bahwa tekanan inflasi tetap terkendali, stabilitas nilai tukar rupiah terjaga kondisi fundamentalnya, serta defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang sustainable. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan. Bank Indonesia meyakini bahwa kebijakan - kebijakan tersebut serta berbagai kebijakan yang telah ditempuh
  • 3. sebelumnya akan mempercepat penyesuaian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dan mengendalikan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014. Bank Indonesia mencermati perekonomian global cenderung melambat dan diliputi oleh ketidakpastian yang tinggi. Kinerja perekonomian di negara - negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Eropa dan Jepang belum kuat meski mulai menunjukkan perbaikan. Sementara itu, perekonomian negara berkembang dibayangi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi serta menurunnya kinerja transaksi berjalan dan pelemahan nilai tukar. Pada saat yang sama, penurunan harga komoditas masih terus terjadi, kecuali harga minyak. Di pasar keuangan, sejumlah risiko terkait dengan penundaan kebijakan pengurangan stimulus The Fed (tapering), perdebatan debt ceiling dan penghentian sementara layanan pemerintah AS (government shutdown). Secara keseluruhan, melalui jalur perdagangan perkembangan perekonomian global tersebut memberikan tekanan pada kinerja ekspor negara - negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara itu, melalui jalur keuangan perkembangan tersebut dalam jangka sangat pendek mendorong masuknya aliran dana nonresiden ke bursa saham dan obligasi kawasan serta menguatnya mata uang Asia. Sejalan dengan pelemahan ekonomi global yang masih berlanjut, kinerja perekonomian domestik menunjukkan kecenderungan yang melambat. Perekonomian domestik diprakirakan tumbuh 5,6% di triwulan III 2013 dan untuk 2013 masih berada pada kisaran 5,5% - 5,9%. Kinerja ekonomi global yang masih melambat dan pergerakan harga komoditas yang masih cenderung menurun, mendorong masih terbatasnya kinerja ekspor. Konsumsi rumah tangga dan investasi diprakirakan masih tertekan sebagai dampak dari menurunnya daya beli akibat tingginya tekanan harga pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Kinerja perekonomian nasional diprakirakan akan membaik pada tahun 2014, sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang diprakirakan membaik. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia diprakirakan tumbuh lebih tinggi mencapai 5,8% - 6,2%. Dari sisi eksternal, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III 2013 diprakirakan akan membaik. Defisit transaksi berjalan akan menyempit terutama dengan menurunnya impor seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan dampak pelemahan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF) akan lebih besar, seiring kembali masuknya investor asing pada SBI dan SUN serta berkurangnya net jual asing atas saham domestik sebagai respon kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah serta penundaan tapering off di AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir September 2013 diprakirakan menjadi 95,7 miliar dolar AS, meningkat dari posisi akhir Agustus 2013 sebesar 93,0 miliardolar AS. Cadangan devisa pada akhir September 2013 tersebut setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Nilai tukar rupiah pada triwulan III 2013 mengalami depresiasi sejalan dengan nilai fundamentalnya. Secara rata - rata, rupiah melemah 8,18% (qtq) ke level Rp 10.652 per dolar AS atau secara point to point rupiah terdepresiasi 14,29% (qtq) ke level Rp 11.580 per dolar AS. Seperti halnya pelemahan mata uang negara - negara di kawasan
  • 4. Asia, depresiasi nilai tukar rupiah terutama dipengaruhi penyesuaian kepemilikan nonresiden di aset keuangan domestik dipicu sentimen terkait pengurangan (tapering off) stimulus moneter oleh the Fed. Dari sisi fundamental, tekanan depresiasi rupiah lebih besar dengan relatif tingginya defisit transaksi berjalan di Indonesia. Pada akhir triwulan III 2013 tekanan rupiah berkurang sejalan dengan membaiknya kinerja inflasi dan neraca perdagangan serta sentimen positif penundaan tapering offoleh the Fed. Keyakinan pasar valas semakin pulih dengan permintaan dan penawaran yang semakin aktif dan berimbang dalam membentuk nilai tukar rupiah di pasar. Bank Indonesia memandang bahwa perkembangan nilai tukar pada saat ini menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Tekanan inflasi mereda dan mencatat deflasi 0,35% (mtm) atau 8,40% (yoy) pada September 2013. Pasokan yang melimpah beberapa komoditas hortikultura, terutama bawang merah dan cabai, menyebabkan koreksi harga pangan tercatat cukup dalam. Selain itu, mulai turunnya harga daging sapi juga mendorong deflasi lebih lanjut sehingga kelompok volatile foodmencatat deflasi 3,38% (mtm) atau inflasi 13,94% (yoy). Meredanya tekanan inflasi bulanan juga terjadi pada kelompok inti dan administered prices, masin - masing mencapai 0,57% (mtm) atau 4,72% (yoy) dan 0,34% (mtm) atau 15,47% (yoy), seiring meredanya dampak kenaikan harga BBM dan koreksi harga pasca Lebaran. Terkendalinya harga -harga tersebut sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia bahwa inflasi akan sangat rendah dan kembali ke pola normal mulai September 2013 dan bulan - bulan ke depan. Prospek tekanan inflasi yang menurun juga dipengaruhi dampak perlambatan permintaan domestik serta langkah - langkah penguatan koordinasi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dalam pengendalian inflasi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi 2013 diprakirakan berada pada kisaran 9,0% - 9,8%, dan kemudian menurun pada kisaran sasaran 4,5±1% pada tahun 2014. Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan dukungan ketahanan industri perbankan yang tetap solid di tengah berbagai tekanan. Rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) tetap tinggi mencapai 17,89%, jauh di atas ketentuan minimum 8%, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) tetap terjaga rendah sebesar 1,99% pada bulan Agustus 2013. Hasil stress testing baik dari sisi likuiditas, kredit maupun permodalan juga menunjukkan ketahanan industri perbankan yang kuat terhadap berbagai risiko seperti perlambatan ekonomi, kenaikan suku bunga dan depresiasi nilai tukar Rupiah. Sementara itu, pertumbuhan kredit mulai menunjukkan perlambatan, meski pada Agustus 2013 masih cukup tinggi sebesar 22,2% (yoy). Pertumbuhan kredit terutama karena penarikan kredit dari komitmen sebelumnya, disamping pengaruh perhitungan nilai tukar, sementara komitmen kredit baru terus menurun. Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit akan melambat seiring dengan kenaikan suku bunga, perlambatan permintaan domestik dan kebijakan makroprudensial yang ditempuh oleh Bank Indonesia.
  • 5. 2. PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI DAN MONETER Perkembangan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun 2013 mengindikasikan berlangsungnya berbagai penyesuaian di ekonomi domestik. Penyesuaian tersebut merupakan respon terhadap perkembangan ekonomi global yang masih belum cukup kuat dan diliputi tingginya ketidakpastian. Selain itu, proses penyesuaian ekonomi domestik juga terjadi sebagai respon terhadap berbagai kebijakan yang telah ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah dalam memitigasi risiko yang mengemuka baik dari global maupun domestik. Dalam proses penyesuaian tersebut, tren perlambatan ekonomi diperkirakan berlanjut pada triwulan III tahun 2013. Perlambatan ekonomi terutama dipengaruhi melemahnya permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga dan investasi non bangunan. Tren perlambatan ekonomi domestik terindikasi mulai berpengaruh pada transaksi berjalan yang pada triwulan III tahun 2013 diperkirakan mencatat defisit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II tahun 2013. Data terakhir pada Agustus 2013 menunjukkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplusakibat menurunnya impor. Tekanan inflasi setelah sempat meningkat tinggi pada Juli 2013, dalam perkembangan bulanan pada Agustus dan September 2013 terlihat juga menurun dan sudah kembali pada pola normalnya. Inflasi September 2013 bahkan tercatat deflasi. Sementara itu, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan dukungan ketahanan industri perbankan yang tetap solid seperti ditunjukkan rasio kecukupan modal yang jauh di atas ketentuan minimum dan rasio kredit bermasalah yang tetap rendah. PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA Perekonomian dunia pada triwulan III tahun 2013secara umum masih belum kuat dan tetap diliputi ketidakpastian. Indikasi pertumbuhan ekonomi dunia yang belum kuat tersebut terutama dipengaruhi oleh masih terkontraksinya ekonomi Eropa dan menurunnya kinerja ekonomi negara berkembang, meskipun pada sisi lain ekonomi negara maju khususnya AS dan Jepang cenderung membai. Ekonomi AS dan Jepangdiperkirakan membaik setelah pada triwulan II 2013 masing - masing diperkirakan tumbuh 1,6% (yoy) dan 1,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2013 sebesar 1,3%(yoy)dan 0,9% (yoy). Berbeda dengan kondisi tersebut, kontraksi pertumbuhan ekonomi Eropa diperkirakan masih berlanjut, meskipun dengan tren menyempit setelah pada triwulan II 2013 mengalami kontraksi0,5% (yoy). Ekonomi China dan India diperkirakan juga masih melambat, setelah pada triwulan II tahun 2013 masing - masing tumbuh 7,5% (yoy) dan 4,4%(yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I2013 sebesar 7,7% dan 4,8%. Berdasarkan perkembangan tersebut, perekonomian dunia tahun 2013 diprakirakan tumbuh 2,9%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,0%.
  • 6. Keyakinan konsumen saat ini ke depan, perekonomian AS yang diprakirakan membaik pada triwulan II 2013 terindikasi pada sisi produksi dan sisi permintaan. Dari sisi produksi, perkembangan positif tercermin pada peningkatan PMI manufaktur AS yang meningkat pada bulan September 2013 menjadi 56,2 dari 55,7 pada Agustus 2013 dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi tercermin pada penjualan ritel yang tumbuh positif dan konsumsi rumah tangga yang meningkat. Sektor perumahan juga menunjukkan perbaikan tercermin pada peningkatan harga, meskipun penjualan untuk rumah baru mengalami penurunan. Tingkat keyakinan konsumen juga masih dalam tren meningkat, meskipun perkembangan bulanan pada September tahun 2013 menurun sejalan dengan rencana tapering off oleh The Fed perekonomian yang tumbuh positif mendorong penurunan tingkat pengangguran menjadi 7,3% pada bulan Agustus 2013 disertai tren penurunan jobless claim.PMI Manufaktur dan Jasa AS Pertumbuhan ekonomi Jepang pada triwulan III 2013 diprakirakan juga membaik. indikasi tersebut ditopang oleh kinerja sektor manufaktur yang menguat seperti terindikasi pada PMI Manufaktur yang meningkat. Selain itu,ekspor juga meningkat sejalan dengan indikasi pemulihan ekonomi AS dan menurunnya kontraksi di Eropa. Perkembangan positif itu antara lain dipengaruhi oleh optimisme kebijakan Abenomics. Berbeda dengan kondisi AS dan Jepang, ekonomi Eropa pada triwulan III 2013 diprakirakan masih mengalami kontraksi, meskipun dengan tren kontraksi yang menyempit. Penurunan kontraksi Eropa terutama ditopang oleh ekspansi sektor industri di Jerman. Dari perkembangan itu, PMI komposit Euro pada September 2013 tercatat berada pada angka tertinggi selama 27 bulanyaitu Data Sept 2013 Sumber: Bloomberg Data Ags 2013 Sumber: Bloomberg Indeks Produksi Industri PMI Manufaktur (sk. Kanan) mencapai 52,1 dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 51. Dari sisi konsumsi, tingkat penjualan ritel di Eropa semakin membai, meskipun masih pada teritori negatif. Indikasi pemulihan perekonomian Jerman dan tren penurunan pengangguran di Jerman terlihat mulai mendorong perbaikan persepsi pelaku bisnis sebagaimana hasil survei ZEW Jerman. Ekonomi China diperkirakan tidak sekuat proyeksi sebelumnya. Perkiraan ini terutama dipengaruhi oleh penurunan keyakinan konsumen menyusul realisasi data PDB triwulan II tahun 2013 yang melambat menjadi 7,5% (yoy), dari 7,7% (yoy) pada triwulan I tahun 2013. Kendati diperkirakan dalam tren melambat, secara umum ekonomi China masih solid baik dari sisi produksi maupun permintaan. Dari sisi produksi, PMI Manufaktur Markit/HSBC China pada bulan September 2013 meningkat menjadi 51,2, tertinggi dalam 6 bulan terakhir (Grafik 2.5). Peningkatan sektor produksi tersebut ditopang oleh sektor heavy industry sejalan dengan reformasi struktural Pemerintah China. Sektor produksi China yang ekspansif juga didukung oleh semakin tingginya permintaan domestik sebagaimana tercermin pada peningkatan new orders dan new export orders sejalan dengan pemulihan ekonomi di AS dan Eropa. Sejalan dengan kondisi China, ekonomi India pada triwulan III tahun 2013 diprakirakan juga melambat. Kondisi ini terutama dipengaruhi penurunan kinerja sektor manufaktur tercermin pada PMI manufaktur bulan Agustus 2013 yang turun menjadi
  • 7. 48,5, dari bulan Juli 2013 sebesar 50,1. Sementara itu, sisi konsumsi terindikasi masih cukup kuat sebagaimana tercermin pada ekspansi kredit perbankan yang naik menjadi 16,1% (yoy) dan penjualan mobil yang meningkat. Perkembangan ekonomi global yang belum cukup kuat masih mendorong harga komoditas mencatat kontraksi. Pertumbuhan tahunan Indeks Harga Komoditas Ekspor Indonesia (IHEx) masih mencatat kontraksi 7,7% (yoy), meskipun level harga pada triwulan III tahun 2013 sedikit meningkat. Kenaikan harga komoditas terutama terjadi pada harga minyak. Setelah sempat menurun paska penundaan penyerangan Syria oleh AS, harga minyak dunia kembali meningkat setelah pengumuman penundaan Tapering oleh the Fed. Ekonomi global yang belum kuat juga berpengaruh pada inflasi global pada triwulan III tahun 2013 yang cenderung turun. Tingkat inflasi dunia pada bulan Agustus 2013 menurun menjadi 3,0% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya (3,2%, yoy). Penurunan tekanan inflasi global pada Agustus tahun 2013 didorong oleh penurunan inflasi di beberapa negara maju dan negara berkembang sejalan dengan penurunan harga minyak dan kenaikan harga makanan yang mulai mereda. Sumber: Bloomberg. Ditengah kondisi ekonomi global tersebut, ketidakpastian di pasar keuangan masih tinggi. Sejumlah risiko mengemuka terkait dengan penundaan kebijakan pengurangan stimulus The Fed (tapering), perdebatan debt ceiling dan penghentian sementara layanan pemerintah AS (government shutdown). Perkembangan tersebut menurunkan kinerja pasar keuangan global pada triwulan III tahun 2013. Namun demikian, penundaan kebijakan pengurangan stimulus The Fed (tapering) di akhir triwulan III tahun 2013 telah mendorong masuknya aliran dana non residen ke bursa saham dan obligasi kawasan dan mendorong menguatnyamata uang Asia. Perkembangan ekonomi global yang belum kuat tersebut secara umum mendorong respon kebijakan moneter bank sentral global masih akomodatif. Namun demikian, beberapa bank sentral mulai melakukan pengetatan (tightening) guna merespons tekanan inflasi dan ketidakseimbangan kondisi eksternal. Bank sentral India menaikkan benchmarkrepo rate September 2013 sebesar 25 bps menjadi 7,5% untuk menahan laju inflasi. Suku bunga standing facility juga diturunkan menjadi 9,5% dari 10,25% untuk melonggarkan likuiditas perbankan. Bank sentral Brazil kembali menaikkan selic rate di akhir Agustus tahun 2013 sebesar 50 bps menjadi 9 %, setelah bulan sebelumnya melakukan intervensi nilai tukar melalui currency swaps dalam jumlah besar dan credit line. Bank sentral Brazil telah menaikkan selic rate sebanyak 175 bps sejak akhir tahun 2012. PERTUMBUHAN EKONOMI Sisi Pengeluaran Ekonomi global yang melambat tersebut serta daya beli domestik yang belum meningkat pasca kenaikan harga BBM bersubsidi mendorong ekonomi Indonesia
  • 8. bergerak dalam tren melambat. Pada triwulan III tahun 2013, pertumbuhan ekonomi diprakirakan sebesar 5,6% (yoy), lebih lambat dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan pada triwulan II tahuun 2013 sebesar 5,8% (yoy). Perlambatan ini terutama disebabkan oleh konsumsi rumah tangga dan investasi, khususnya investasi nonbangunan. Konsumsi rumah tangga diprkirakan melambat seiring dengan pelemahan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga BBM dan depresiasi nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya mendorong kontraksi pada investasi nonbangunan. Pada sisi eksternal, kinerja ekspor riil pada triwulan III tahun 2013 diprakirakan tumbuh stabil seiring pemulihan ekonomi global yang belum kuat. Sejalan dengan itu, impor diperkirakan sedikit menurun dipengaruhi permintaan domestik yang melambat dan nilai tukar yang berada dalam tren melemah. Konsumsi rumah tangga diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III tahun 2013 sejalan dengan penurunan daya beli masyarakat. Upaya untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah melalui Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) belum mampu mengimbangi tekanan kenaikan harga. Daya beli yang belum meningkat ini terindikasi pada hasil survei konsumen BI bulan Agustus tahun 2013 yang menunjukkan keyakinan atas pendapatan saat ini dan ekspektasi pendapatan ke depan masih dalatren menurun (Grafik 2.8). Selain itu, kondisi penurunan daya beli masyarakat juga tercermin pada Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) BIbulan September 2013 yang turun (Grafik 2.9). IKK Danareksa pada bulan Juli 2013 juga turun disebabkan oleh kekhawatiran konsumen yang meningkat terhadap kenaikan harga barang. Perlambatan indikator penjualan juga menjelaskan lebih rendahnya kinerja konsumsi rumah tangga. Penjualan eceran pada bulan Agustus 2013 mengalami kontraksi, bersumber dari hampir seluruh kelompok barang, kecuali barang rekreasi dan bahan bakar. Indikator penjualan eceran selama triwulan III tahun 2013 yang melambat ditengah perayaan hari raya keagamaan, juga mengindikasikan daya beli masyarakat yang terbatas. Perlambatan juga terindikasi dari tren perkembangan pembelian barang tahan lama (durable goods) yang turun sejak awal tahun 2013. Penjualan mobil tumbuh rendah sebesar 1,9% (yoy) pada bulan Agustus 2013. Tren perlambatan investasi diprakirakan masih berlanjut pada triwulan III tahun 2013 seiring dengan permintaan domestik yang melemah dan pemulihan ekspor yang terbatas. Kinerja konsumsi rumah tangga dan ekspor yang belum kondusif mengurangi insentif pelaku usaha untuk melakukan investasi. Perilaku pelaku usaha yang belum melakukan penambahan investasi baru juga disebabkan oleh utilisasi kapasitas industri pada semester I 2013 yang berada di bawah kondisi minimum historis. Perlambatan pertumbuhan investasi terutama dipengaruhi oleh kontraksi investasi non - bangunan. Perkiraan ini dipengaruhi investasi mesin yang diprakirakan turun lebih dalam, sejalan dengan indikator impor mesin pada Juli 2013 yang menurun.Investasi alat angkutan juga masih lemah yang terindikasi dari impor mobil penumpang dan alat angkut industri yang tumbuh negatif. Di sisi lain, pertumbuhan investasi bangunan juga diprakirakan sedikit melambat. Prakiraan tersebut didukung oleh data penjualan semen dan impor bahan bangunan yang melambat pada bulan Juli. Secara keseluruhan,
  • 9. perkiraan perlambatan investasi juga sejalan dengan sumber pembiayaan usaha yang terbatas antara lain tercermin pada kredit investasi yang menurun. Konsumsi pemerintah pada triwulan III tahun 2013 diprakirakan meningkat sejalan dengan pola serapan anggaran yang meningkat di akhir tahun. Secara keseluruhan, realisasi belanja pemerintah sampai dengan bulan September 2013 mencapai 63,3%, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi di periode yang sama pada tahun 2012. Belanja pegawai tercatat lebih tinggi didorong realisasi pembayaran gaji ke - 13 PNS/TNI/Polri. Realisasi belanja modal menunjukkan sedikit perbaikan, sedangkan realisasi belanja barang tercatat lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan kontribusi konsumsi pemerintah pada triwulan III tahun 2013 maka realisasi APBN - P selama Januari - September 2013 mencatat defisit sebesar 1,1% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada periode yang sama tahun 2012 sebesar 0,9% dari PDB. Hal itu terutama disebabkan oleh peningkatan belanja negara di tengah penurunan penerimaan negara. Penerimaan negara di sektor perpajakan menurun sebagai dampak dari perlambatan ekonomi domestik, kebijakan insentif perpajakan dan penurunan ekspor. Sementara itu, realisasi belanja negara meningkat antara lain karena akselerasi belanja modal dan penyaluran BLSM yang telah memasuki tahap kedua. Di sisi lain, realisasi pemenuhan pembiayaan mencapai 79,8% dari kebutuhan APBN - P. Terkait pembiayaan APBN tersebut, penerbitan SBN baru mencapai 70,5% dari target APBN - P, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Dari sisi eksternal, kinerja ekspor riil pada triwulan III tahun 2013 diprakirakan tumbuh stabil. Prakiraan tersebut didukung oleh pergerakan indikator penuntun (leading indicator) ekspor yang berada dalam fase akselerasi hingga akhir tahun 2013. Berdasarkan komoditas, ekspor pertanian dan manufaktur diperkirakan dalam tren menurun, sedangkan ekspor pertambangan diperkirakan meningkat. Penurunan ekspor pertanian disebabkan oleh perlambatan ekspor komoditas unggulan seperti udang, kopi dan ikan. Sejalan dengan itu, ekspor CPO, produk logam dasar dan kayu olahan tumbuh moderat sehingga menyebabkan perlambatan kinerja ekspor manufaktur. Di sisi lain, ekspor pertambangan menguat didorong oleh kenaikan permintaan batubara, tembaga dan nikel. Kinerja ekspor pertambangan tersebut dipengaruhi kebijakan relaksasi impor mineral yang akan segera diberlakukan dan berpotensi meningkatkan ekspor pertambangan hingga awal tahun 2014. Impor diprakirakan tumbuh sedikit melambat pada triwulan III tahun 2013, dipengaruhi perlambatan permintaan domestik dan tren pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan kelompok, perlambatan impor dipengaruhi oleh perlambatan impor bahan baku dan barang konsumsi, serta juga kontraksi pada impor barang modal. Perlambatan impor bahan baku terutama terjadi pada bahan baku produksi untuk industri berorientasi ekspor dan komponen barang modal. Impor barang konsumsi juga melambat seiring penurunan permintaan kendaraan penumpang serta komoditi makanan dan minuman untuk rumah tangga. Sementara itu, impor pada kelompok barang modal diperkirakan mengalami kontraksi sejalan dengan penurunan investasi nonbangunan.
  • 10. Sisi Lapangan Usaha Tren perlambatan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun 2013 tergambar pada kinerja beberapa sektor utama. Pertumbuhan yang melambat terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi. Kinerja sektor pertambangan diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III 2013. Perlambatan sektor pertambangan disebabkan oleh pertumbuhan produksi minyak yang lebih rendah sampai dengan Juli 2013 akibat gangguan produksi beberapa lapangan migas. Sementara itu, kinerja pertambangan nonmigas terindikasi meningkat sebagaimana tercermin dari meningkatnya ekspor pertambangan khususnya batubara. Sebagaimana disebutkan bahwa kinerja sektor industri pengolahan dan sektor bangunan diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III tahun 2013. Perlambatan pertumbuhan merupakan dampak dari kenaikan harga BBM yang menurunkan daya beli masyarakat. Purchasing Manager Index (PMI) HSBC pada September 2013 menunjukkan aktivitas manufaktur yang masih terbatas. Kinerja subsektor alat angkut juga melemah, tercermin dari perlambatan penjualan mobil dan penjualan alat berat. Selain itu, kinerja subsektor makanan dan minuman juga diprakirakan melambat. Hal yang sama juga terlihat pada kinerja sektor bangunan yang diprakirakan tumbuh melambat. Perlambatan sektor bangunan sejalan dengan kinerja investasi bangunan yang diperkirakan dalam tren melambat juga. Pada Agustus tahun 2013, penjualan semen dan alat berat konstruksi terpantau tumbuh lebih lambat. Berdasarkan keterangan konsultan properti ones Lang LaSalle, beberapa developer property mulai menunda ekspansi terutama untuk ruang perkantoran dan pusat perbelanjaan. Perlambatan kinerja juga terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor pengangkutan dan komunikasi, serta sektor keuangan. Kinerja sektor PHR diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III tahun 2013. Tingkat hunian hotel menunjukkan penurunan pada Agustus 2013 seiring penurunan jumlah wisatawan domestik di saat Lebaran. Sementara itu, indeks penjualan eceran pada pertengahan triwulan III tahun 2013 tumbuh lebih lambat. Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan melambat, terutama akibat perlambatan pada subsektor angkutan. Kinerja subsektor komunikasi masih cukup kuat ditopang penjualan data dan dorongan aktivitas komunikasi pemilu. Sementara itu, kinerja subsektor angkutan udara terindikasi tumbuh lebih rendah, tercermin dari pertumbuhan penumpang angkutan udara hingga pertengahan triwulan III tahun 2013. Kinerja sektor keuangan, persewaan, dan jasa diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III tahun 2013. Perlambatan tersebut disebabkan oleh aktivitas ekonomi yang termoderasi dan kenaikan suku bunga kredit. Selain itu, perlambatan juga terindikasi oleh pertumbuhan kredit bank dan pembiayaan LKBB yang melambat hingga pertengahan triwulan III tahun 2013. Secara keseluruhan, tren perlambatan ekonomi Indonesia triwulan III tahun 2013 antara lain tergambar di sebagian besar wilayah Sumatera dan Jakarta. Hal ini terindikasi pada berbagai indikator terkait konsumsi rumah tangga yang cenderung melemah seperti nilai tukar petani, impor barang konsumsi dan kredit konsumsi di wilyah
  • 11. tersebut. Kinerja ekspor di Sumatera juga mulai tertahan seiring perbaikan harga komoditas global yang terbatas. Di samping itu, produksi hasil perkebunan juga terindikasi tumbuh lebih rendah karena pengaruh iklim dan minimalnya insentif harga jual. Sementara itu, perekonomian Jakarta menghadapi tekanan dari melemahnya kinerja investasi terkait mulai meningkatnya suku bunga pinjaman dan depresiasi nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomi di Jawa dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) terindikasi meningkat. Peningkatan tersebut didukung oleh perbaikan kinerja ekspor dan konsumsi domestik yang relatif stabil. Perbaikan kinerja ekspor di Jawa terutama bersumber dari ekspor manufaktur. Sementara itu, peningkatan ekspor di KTI bersumber dari ekspor barang tambang seperti nikel, batu bara, dan tembaga, di tengah masih terbatasnya perbaikan harga di pasar global. NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III tahun 2013 diprakirakan lebih baik. Prakiraan ini dipengaruhi oleh defisit neraca transaksi berjalan yang diproyeksikan menyempit, didorong dampak melemahnya permintaan domestik dan pelemahan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, surplus transaksi modal finansial (TMF) diprakirakan akan lebih besar seiring kembali masuknya investor asing pada SBI dan SUN, serta berkurangnya net jual asing atas saham domestik sebagai respon kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dan penundaan tapering off di AS. Prospek penurunan defisit transaksi berjalan pada triwulan III tersebut terindikasi pada neraca perdagangan di Agustus 2013 yang mencatat surplus. Surplus terutama dipengaruhi oleh impor yang menurun. Impor menurun sebesar 3,7% (yoy) yang bersumber dari turunnya impor migas dan impor nonmigas. Impor nonmigas turun sebesar 8,8% (yoy). Penurunan impor nonmigas terjadi pada semua jenis barang dengan penurunan tertinggi terjadi pada impor barang modal sebesar 18,6% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan bulan Agustus 2013 mencatat surplus sebesar 366 juta dolar AS, lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat defisit sebesar 2,2 miliar dolar AS. Perkiraan surplus TMF triwulan III tahun 2013 dipengaruhi oleh perkiraan masih kuatnya Foreign Direct Investment serta aliran dana non - residen yang kembali meningkat di akhir triwulan III tahun 2013. Secara keseluruhan triwulan, investor non residen membukukan net beli sebesar 188,67 juta dolar AS setelah mengalami net jual 2,55 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya. Akumulasi kepemilikan non residen terjadi di SUN dan SBI masing - masing sebesar 762,15 juta dolar AS dan 241,98 juta dolar AS,sementara di saham terjadi net jual sebesar 815,46 juta dolar AS. Aksi beli di SUN terutama terjadi di bulan September 2013 sebagai respon dari bauran kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia serta ditundanya tapering off QE oleh The Fed pada 19 September 2013. Sementara itu, aksi lepas saham non residen terjadi di sepanjang triwulan III tahun 2013 dengan tekanan terbesar terjadi di bulan Agustus 2013.
  • 12. Sejalan dengan kondisi NPI tersebut serta respons Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai rupiah, cadangan devisa pada akhir September tahun 2013 mencapai 95,7 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut meningkat bila dibandingkan posisi akhir Agustus 2013 sebesar 93,0 miliar AS. Posisi cadangan rata-rata devisa di September 2013 tersebut setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah sehingga masih cukup aman mendukung ketahanan sektor eksternal dan berada di atas standar kecukupan internasional. NILAI TUKAR RUPIAH Kinerja transaksi berjalan yang diperkirakan masih defisit mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang berada dalam tren melemah di triwulan III tahun 2013. Secara rata-rata, nilai tukar rupiah melemah 8,18% (qtq) ke level Rp10.652/dolar AS dari level Rp9.781/dollar AS pada triwulan sebelumnya. Sementara secara point-topoint, rupiah terdepresiasi sebesar 14,29% (qtq) dan ditutup di level Rp11.580/dolar AS di akhir triwulan. Selain pengaruh defisit transaksi berjalan, pelemahan rupiah juga dipicu ketidakpastian di pasar keuangan global terkait isu tapering off oleh The Fed. Pengaruh isu global ini mengakibatkan pergerakan rupiah selama triwulan III tahun 2013 sejalan dengan pergerakan mayoritas nilai tukar negara kawasan Asia lainnya. Dari perkembangan harian, tekanan pelemahan rupiah terutama terlihat cukup kuat pada Agustus tahun 2013 dan kemudian berkurang pada akhir triwulan III tahun 2013. Berkurangnya tekanan depresiasi rupiah dipengaruhi oleh bauran kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sejak Juni tahun 2013 dan Pemerintah serta respon positif pelaku pasar terhadap penundaan tapering off oleh The Fed. Tren berkurangnya tekanan terhadap rupiah tersebut diiringi dengan menurunnya NDF poin serta membaiknya persepsi investor offshore terhadap rupiah. Kondisi ini tercermin dari kuotasi NDF yang lebih apresiatif dibandingkan kuotasi pada pasar spot rupiah. INFLASI Tekanan inflasi pada triwulan III tahun 2013 secara umum meningkat bila dibandingkan dengan triwulan II tahun 2013. Perkembangan tersebut terutama disebabkan dampak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi oleh Pemerintah pada akhir Juni 2013. Kenaikan harga BBM bersubsidi mendorong inflasi adminisister. Price meningkat tinggi dari 6,7% (yoy) pada Juni 2013 menjadi 15,5% (yoy) pada September 2013. Kondisi ini pada gilirannya mengakibatkan inflasi IHK secara tahunan tercatat 8,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Juni tahun 2013 sebesar 5,9% (yoy). Namun demikian, dalam perkembangan bulanan, tekanan inflasi pasca kenaikan hargaBBM bersubsidi dalam tren menurun. Setelah Juli 2013 tercatat tinggi 3,3% (mtm), inflasi IHK secara bertahap menurun menjadi 1,1% (mtm) pada Agustus 2013 dan mencatat deflasi 0,35 % (mtm) pada September 2013. Penurunan tekanan inflasi secara bulanan dipengaruhi oleh hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut serta menurunnya dampak lanjutan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut kepada barang lain (second round effect). Perlambatan inflasi juga dipengaruhi oleh menurunnya
  • 13. tekanan pada inflasi volatile food. Inflasi September 2013 yang tercatat deflasi 0,35%(mtm), memperkuat kondisi bahwa tekanan harga telah mereda pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Deflasi tersebut terutama didorong oleh koreksi harga pangan yang cukup tajam seiring berlalunya pola musiman lebaran dan dampak lanjutan kenaikan harga BBM yang berakhir di bulan September 2013. Berdasarkan kelompoknya, deflasi IHK dipengaruhi oleh deflasi pada kelompok volatile food sebesar 3,38% (mtm) atau inflasi 13,94% (yoy). Sementara itu, inflasi inti tercatat meningkat menjadi 0,57% (mtm) atau 4,72% (yoy), sedangkan inflasi administered prices tercatat kembali ke pola normal mencapai 0,34% (mtm) atau 15,47% (yoy). Deflasi pada kelompok volatile food di September tahun 2013 merupakan inflasi terendah selama 10 tahun terakhir. Perkembangan ini dipengaruhi bawang merah dan cabai yang menyumbang deflasi hingga 0,69%. Jadwal panen yang mundur akibat anomali cuaca menyebabkan koreksi harga bawang dan cabai baru terjadi di bulan ini. Melimpahnya pasokan bawang merah dan cabai didorong oleh panen yang sedang berlangsung di beberapa sentra produksi. Penurunan harga kedua komoditas tersebut menyebabkan sisa alokasi impor yang belum terealisasi ditangguhkan dan dijadikan sebagai cadangan impor bila harga mengalami kenaikan sampai mencapai harga referensi. Komoditas pangan lainnya juga mengalami koreksi harga paska hari raya sejalan dengan permintaan yang kembali normal. Untuk komoditas daging sapi, koreksi harga telah terjadi meskipun masih terbatas akibat realisasi pemotongan sapi yang baru mencapai 52%. Namun demikian, gangguan pasokan dari impor dan kenaikan harga kedelai dan CPO internasional mendorong tekanan Indeks komposit harga global dengan weigted average (berdasar prosentase impor dan bobot di IHK) dari komoditas pangan (CPO, gandum, gula, jagung dan kedelai), minyak dunia (WTI), emas, kapas, dan besi. Kapasitas Produksi Terpakai Industri Pengolahan (SKDU) harga pada komoditas turunannya seperti tempe, tahu, dan minyak goreng. Tekanan pada harga daging ayam masih berlanjut disebabkan oleh kenaikan harga pakan Days Old Chicken (DOC) yang sebagian besar diimpor dan gangguan pasokan karena penyakit tetelo. Untuk beras, kenaikan harga didorong oleh penurunan produktivitas padi di sejumlah sentra produksi. Tekanan inflasi kelompok administered prices pada September 2013 cukup moderat akibat tidak adanya kebijakan harga strategis dari Pemerintah. Setelah mencapai puncaknya di bulan Juli 2013 sebagai dampak kenaikan harga BBM bersubsidi, secara bulanan tekanan inflasi administered prices kembali moderat. Inflasi di bulan September tahun 2013 terutama bersumber dari tarif air minum PAM, kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) triwulan III 2013, dan rokok kretek filter. Inflasi inti pada September 2013 meningkat antara lain didorong dampak depresiasi rupiah, sedangkan pengaruh harga komoditas global masih rendah. Meningkatnya
  • 14. tekanan eksternal tersebut tercermin dari kenaikan inflasi inti traded. Dampak passthrough nilai tukar ini tercermin pada inflasi barang-barang dengan kandungan impor tinggi seperti bahan bangunan, elektronik dan otomotif. Tekanan terhadap inflasi inti dapat berkurang karena permintaan domestik dalam tren menurun tercermin dari kapasitas utilisasi pada Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang masih sekitar 69%. Kenaikan inflasi inti pada September 2013 dipengaruhi juga oleh ekspektasi inflasi yang masih tinggi. Hasil Survei Pedagang Eceran (SPE) Bank Indonesia menunjukkan ekspektasi inflasi pedagang masih dalam tren meningkat didorong oleh kenaikan harga bahan baku yang berasal dari impor. Ekspektasi inflasi konsumen untuk 3 bulan dan 6 bulan mendatang juga meningkat sehubungan dengan adanya perayaan hari raya Natal dan Tahun baru dan dimulainya persiapan pelaksanaan PEMILU 2014. Sementara itu, di pasar keuangan, kenaikan ekspektasi inflasi tercermin dari survei Consensus Forecast (CF) yang meningkat selama triwulan III tahun 2013 didorong oleh ekspektasi depresiasi. Ekspektasi inflasi tahun 2013 hasil survei CF triwulanan meningkat signifikan dari 6,4% pada Juni 2013 menjadi 9,0%. Tekanan inflasi yang mereda di akhir triwulan III tahun 2013 tergambar pada beberapa daerah di Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Inflasi di daerah tersebut pada akhir triwulan bahkan lebih rendah karena disertai koreksi harga yang dalam pada komoditas ikan segar. Namun demikian, beberapa daerah masih mencatat inflasi hingga kisaran 10%, antara lain Sumatera Barat, Papua Barat, Maluku Utara, Kalimantan Timur, dan Banten. PERKEMBANGAN PASAR KEUANGAN Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) O/N pada triwulan III tahun 2013 meningkat sejalan dengan kenaikan BI Rate dan suku bunga Deposit Facility (DF). Ratarata tertimbang suku bunga PUAB O/N pada triwulan III tahun 2013 meningkat menjadi 5,05% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,23%. Sejalan dengan kenaikan suku bunga PUAB O/N tersebut, rata-rata tertimbang volume PUAB total turun menjadi Rp10,1 triliun dari Rp12,7 triliun, sedangkan rata-rata volume DF O/N meningkat menjadi Rp114,2 triliun dari Rp59,7 triliun. Kenaikan BI Rate juga tertransmisi kepada suku bunga perbankan, khususnya suku bunga deposito. Pada triwulan III 2013 (sampai dengan Agustus2013), suku bunga deposito tercatat naik 29 bps sementara suku bunga kredit cenderung stabil. Akibatnya, spread antara suku bunga kredit dan deposito menurun menjadi 586 bps dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 615 bps. Meskipun cenderung stabil, pergerakan suku bunga kredit bervariasi tergantung jenis penggunaannya. Suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK) turun 3 bps menjadi 11,63%, suku bunga Kredit Investasi (KI) naik 8 bps menjadi 11,37% dan suku bunga Kredit Konsumsi (KK) turun 1 bps menjadi 13,05%. Dana, Kredit dan Uang Beredar
  • 15. Kenaikan suku bunga simpanan perbankan kemudian berpengaruh kepada Dana Pihak Ketiga Perbankan. Pertumbuhan DPK pada triwulan III 2013 meningkat dimana pada Agustus 2013 tercatat tumbuh 15,3% (yoy), lebih tinggi dari pada triwulan sebelumnya yang sebesar14,2% (yoy). Peningkatan pertumbuhan DPK tersebut terutama disumbang oleh peningkatan pertumbuhan deposito seiring dengan kenaikan suku bunga deposito. Pangsa deposito dalam DPK masih cukup tinggi sebesar 44%, sedangkan pangsa tabungan dan giro masing-masing sebesar 32% dan 24%. Pertumbuhan kredit selama triwulan III tahun 2013 sudah menunjukkan tren perlambatan, meskipun lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada akhir Juni 2013. Pertumbuhan kredit pada Agustus 2013 tercatat sebesar 22,2% (yoy), dalam tren menurun bila dibandingkan dengan bulan Juli 2013 sebesar 22,3%. Tren perlambatan ini antara lain dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga perbankan. Data lebih rinci pada bulan Agustus 2013 menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan kredit terutama terjadi pada pertumbuhan kredit KK dan KI yang tumbuh secara melambat. Secara sektoral, perlambatan pertumbuhan kredit terjadi pada sektor jasa dunia usaha dan sektor listrik, gas, dan air bersih, sedangkan pertumbuhan kredit pada sektor pengangkutan dan sektor perdagangan masih tinggi. Sejalan dengan perlambatan ekonomi domestik, pertumbuhan likuiditas perekonomian, khususnya M1, turut melambat. Pertumbuhan M1 pada Agustus2013 tercatat melambat menjadi 9,3% (yoy) dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya yang sebesar 10,2% (yoy). Kondisi ini dipengaruhi perlambatan pertumbuhan uang kartal. Likuiditas perekonomian dalam arti luas (M2) juga dalam tren melambat. Pada Agustus 2013 tercatat 12,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2013 sebesar 14,7% (yoy). Berdasarkan faktor penyebabnya, pertumbuhan M2 terutama didorong oleh melambatnya pertumbuhan Net Domestic Asset(NDA) dari 25,3% pada Juli 2013 menjadi 22,2% pada Agustus 2013, di tengah masih terkontraksinya Net Foreign Asset (NFA). Pertumbuhan Likuiditas Perekonomian, Pasar Saham dan Pasar Surat Berharga Kinerja pasar saham domestik pada triwulan III tahun 2013 mengalami tekanan seiring aksi portfolio adjustment oleh investor di emerging market. Pada triwulan III 2013, IHSG ditutup di level 4.316,18 (30 September 2013), turun sebesar 10,4% dibandingkan triwulan II 2013 di level 4.818,90 (28 Juni 2013). Koreksi yang dialami IHSG relatif tinggi dibandingkan bursa saham negara lain di kawasan seperti Thailand dan Filipina. Pelemahan bursa domestik selama triwulan III tahun 2013 dipicu oleh berbagai sentimen negatif domestik dan global. Dari faktor domestik, sentimen terkait dengan kekhawatiran meningkatnya inflasi ke depan, pelemahan nilai tukar rupiah dandefisit transaksi berjalan. Dari faktor global, sentimen dipengaruhi oleh kekhawatiran rencana tapering QE oleh The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun demikian, pelemahan indeks lebih lanjut tertahan oleh sejumlah sentimen positif di domestik dan global seperti penundaan tapering- off oleh The Fed. Secara keseluruhan,
  • 16. sentimen tersebut mendorong investor non-residen mengurangi kepemilikannya di pasar saham. Selama triwulan III 2013, investor non residen mencatat net jual sebesar Rp8,54 triliun, dibandingkan triwulan II 2013 yang membukukan net jual sebesar Rp19,77 triliun. Menurut sektoral, pelemahan bursa terdalam dialami oleh sektor properti yang terkoreksi sebesar 20,5%, diikuti sektor industri dasar sebesar 19,8%. Kenaikan suku bunga perbankan membuat saham-saham yang sensitif seperti sektor keuangan dan konstruksi, properti, real estate menjadi tertekan. Sektor pertambangan adalah satusatunya yang mengalami penguatan. Positifnya kinerja emiten pertambangan disebabkan oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang justru menguntungkan karena perusahaan tambang umumnya berorientasi ekspor dan naiknya harga saham sektor energi sebagai imbas meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada pasar surat berharga negara, kinerja yang terjadi cenderung menurun seiring dengan dampak pelemahan nilai tukar dan peningkatan ekspektasi inflasi. Yield SBN selama triwulan III 2013 tercatat naik 117,89 bps menjadi 8,17% dibandingkan triwulan II 2013 yang sebesar 6,99%. Imbal hasil SBN untuk jangka pendek, menengah, dan panjang meningkat masing-masing sebesar 92,98 bps, 136,18 bps dan 114,53 bps menjadi sebesar 7,39%, 8,31% dan 8,93%. Tekanan di pasar SBN juga diwarnai oleh tingginya kekhawatiran akan terjadinya taperingoleh the Fed, meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah, dan ketidakpastian pembahasan anggaran AS yang menimbulkan kekhawatiran atas US government shutdown. Kondisi Perbankan Di tengah tekanan sentimen global dan tren perlambatan ekonomi domestik, stabilitas sistem keuangan secara umum tetap terkendali, didukung oleh ketahanan industri perbankan yang tetap terjaga baik. Rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) tetap tinggi mencapai 17,89%, jauh di atas ketentuan minimum 8%, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) tetap terjaga rendah sebesar 1,99% pada bulan Agustus 2013. Hasil stress testing baik dari sisi likuiditas, kredit maupun permodalan juga menunjukkan ketahanan industri perbankan yang kuat terhadap berbagai risiko seperti perlambatan ekonomi, kenaikan suku bunga dan depresiasi nilai tukar Rupiah.
  • 17. 3. PROSPEK PEREKONOMIAN DAN FAKTOR RISIKO KE DEPAN Berbagai ketidakpastian ekonomi global yang diperkirakan masih akan berlanjut tidak dapat dihindari akan mempengaruhi prospek perekonomian Indonesia sampai akhir 2013. Sejalan dengan proyeksi ekonomi global yang belum cukup kuat, proses penyesuaian ekonomi domestik diperkirakan masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomiIndonesia pada sisa tahun 2013 diprakirakan masih berada pada tren menurun sehingga keseluruhan tahun 2013 berada pada kisaran 5,5% - 5,9%. Sementara itu, tekanan inflasi pada sisa 2013 diperkirakan sudah kembali pada pola normal sehingga diperkirakan berada pada kisaran 9,0% - 9,8%untuk keseluruhan tahun 2013. Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan akan kembali meningkat pada kisaran 5,8 - 6,2%. Perkiraan ini dipengaruhi prospek ekonomi global yang semakin kondusif yang diperkirakan akan kembali meningkatkan ekspor. Selain itu, kinerja perekonomian domestik diprakirakan juga meningkat antara lain juga didorong oleh inflasi yang sudah menurunpada kisaran target 4,5+1%. Berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tahun 2014 banyak ditopang oleh sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan-hotel-restoran, serta pengangkutan dan komunikasi yang diprakirakan membaik sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan peningkatan kembali ekonomi domestik. PROSPEK PEREKONOMIAN GLOBAL Sejalan dengan kinerja ekonomi dunia yang belum kuat sampai dengan triwulan III 2013, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2013 diperkirakan akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 tumbuh 2,9%, lebih rendah dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya sebesar3,0%. Revisi ke bawah tersebut disebabkan oleh lebih rendahnya proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dari semula 1,7% menjadi 1,6% sebagai dampak dari permasalahan fiskal yang dialami. Selain itu, revisi proyeksi juga dipengaruhi oleh data realisasi PDB beberapa negara emerging markets(BRICS + Thailand dan Malaysia) yang cukup rendah. Namun demikian, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi dunia pada tahun 2014 akan kembali membaik dengan pertumbuhan ekonomi masih sama dengan proyeksi sebelumnya sebesar 3,5%. Sejalan dengan revisi ke bawah prakiraan pertumbuhan ekonomi dunia, volume perdagangan dunia tahun 2013 direvisi ke bawah menjadi 2,0%dari semula 2,1%. Selain itu, indeks harga komoditas nonmigas diprakirakan masih terkontraksi sebesar8,2%. Berbeda dengan harga komoditas nonmigas, prospek harga minyak tahun 2013 diprakirakan masih tetap berada pada level yang tinggi sebesar USD109 per barel. Pada tahun 2014, volume perdagangan dunia diprakirakan kembali meningkat mencapai 3,2% pada tahun 2014 seiring dengan prospek perbaikan pertumbuhan perekonomian global. Sejalan dengan itu, indeks harga komoditas nonmigas juga diharapkan kembali tumbuh positif mencapai 1,6%. Sementara itu, harga minyak diprakirakan sedikit menurun pada 2014 mencapai USD104 per barel seiring dengan adanya peningkatan produksi minyak, terutama di negara-negara non-OPEC.
  • 18. PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI Dengan berbagai proses penyesuaian ekonomi domestik di tengah prospek ekonomi global yang belum kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2013 diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,5%-5,9%. Prakiraan tersebut dipengaruhi oleh mulai membaiknya kinerja ekspor, meskipun masih terbatas sehingga belum cukup untuk menopang perekonomian Indonesia. Permintaan domestik diprakirakan juga melemah baik pada konsumsi rumah tangga dan investasi terutama investasi nonbangunan, akibat daya beli masyarakat yang menurun karena tekanan harga yang cukup tinggi. Dari komponen konsumsi, konsumsi rumah tangga pada tahun 2013diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,7%-5,1% pada tahun 2013. Perlambatan konsumsi rumah tangga yang terjadi pada tahun 2013 terutama dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga yang cukup tinggi paska kenaikan harga BBM bersubsidi. Sementara itu, konsumsi pemerintah diprakirakan membaik pada semester II 2013 sehingga tumbuh pada kisaran 5,0%-5,4% (yoy) untuk keseluruhan tahun 2013. Konsumsi pemerintah diprakirakan meningkat pada triwulan III dan IV 2013 sejalan dengan pola serapan anggaran yang meningkat di akhir tahun.Keyakinan akan adanya perbaikan pada konsumsi pemerintah dipengaruhi oleh realisasi belanja pemerintah yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sampai dengan bulan September tahun 2013, realisasi belanja pemerintah mencapai 63,3%, sedikit lebih baik dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 62,6% dari target APBN - P. Dari sisi investasi, perlambatan investasi diperkirakan masih berlangsung yang diprakirakan hanya tumbuh 3,6% - 4,0% pada tahun 2013. Melambatnya pertumbuhan investasi pada tahun 2013 dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga yang menurun dan pemulihan ekspor yang masih terbatas. Kondisi permintaan baik dari domestik maupun eksternal yang belum kondusif tersebut menyebabkan insentif untuk melakukan investasi baru belum kuat. Selain itu, biaya untuk melakukan investasi juga mengalami peningkatan sejalan dengan kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah sehingga mendorong pelaku usaha untuk menunda rencana investasi baru. Berdasarkan jenisnya, investasi non - bangunan diprakirakan mengalami kontraksi lebih dalam dari prakiraan semula, sedangkan investasi bangunan meski melambat, diprakirakan tumbuh pada kisaran historisnya 6% - 7%. Dari sisi eksternal, ekspor riil diprakirakan masih tumbuh terbatas pada kisaran 4,3 % - 4,7% pada tahun 2013. Pemulihan ekonomi global yang belum terlalu kuat di tengah masih menurunnya harga komoditas mendorong pertumbuhan ekspor pada tahun 2013 belum seoptimal yang diprakirakan sebelumnya. Belum optimalnya kinerja ekspor terutama terjadi pada ekspor untuk komoditas pertanian dan manufaktur, sedangkan ekspor komoditas pertambangan diprakirakan mengalami peningkatan didukung oleh kebijakan relaksasi impor mineral yang akan segera diberlakukan oleh Pemerintah. Sementara itu, pertumbuhan impor riil mulai termoderasi dan pada tahun 2013 diprakirakan berada pada kisaran 0,4% - 0,8%. Prakiraan permintaan domestik yang melemah serta kinerja ekspor yang belum optimal mendorong prakiraan impor pada tahun 2013 hanya tumbuh moderat. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah serta
  • 19. implementasi beberapa kebijakan pemerintah untuk mengendalikan impor sebagai upaya untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan juga berpengaruh pada pertumbuhan impor cukup rendah. Berdasarkan lapangan usaha, perlambatan ekonomi pada tahun 2013 dipengaruhi oleh kinerja sektor - sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan - hotel restoran, serta pengangkutan dan komunikasi yang berada pada tren perlambatan. Sektor industri pengolahan diprakirakan tumbuh melambat sejalan dengan perlambatan ekonomi, khususnya konsumsi rumah tangga dan ekspor. Sektor perdagangan - hotel restoran (PHR) diprakirakan turut turun akibat melemahnya daya beli konsumen yang tertekan kenaikan harga, terutama pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Sementara itu, sub sektor pengangkutan dalam tren melambat, sedangkan subsektor komunikasi diprakirakan masih tinggi yang ditopang oleh kinerja sub sektor komunikasi terkait penjualan layanan komunikasi data. Sektor industri pengolahan diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,5 % - 5,9 % pada tahun 2013. Kinerja sektor industri pengolahan selama tahun 2013 dipengaruhi oleh melemahnya permintaan eksternal dan domestik. Namun, dimulainya kegiatan persiapan Pemilu serta berlanjutnya pemulihan ekspor pada triwulan IV 2013 memberikan dukungan bagi kinerja sektor industri pengolahan sehingga dapat tumbuh relatif stabil. Sementara itu, pertumbuhan sektor bangunan diprakirakan berada pada tren melambat pada kisaran 6,5 % - 6,9 % pada tahun 2013. Melambatnya pertumbuhan sektor bangunan terutama disebabkan oleh kinerja investasi yang masih menurun. Hal tersebut turut dikonfirmasi oleh adanya penundaan investasi oleh kontraktor (developer) khususnya untuk bangunan perkantoran dan pusat perbelanjaan. Kinerja sektor perdagangan - hotel - restoran (PHR) diprakirakan mencapai kisaran 6,1 % - 6,5 % pada tahun 2013. Perlambatan yang terjadi pada sektor PHR pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun sebelumnya dikontribusi oleh melemahnya daya beli masyarakat sebagai dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Namun, perlambatan tersebut diprakirakan tidak terlalu dalam seiring dengan adanya dorongan permintaan belanja terkait pemilu. Pada tahun 2014, kondisi ekonomi global yang diprakirakan kembali kondusif berpengaruh positif terhadap ekonomi Indonesia tahun 2014. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 diprakirakan tumbuh lebih tinggi mencapai kisaran 5,8 % 6,2%. Prakiraan tersebut dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga yang diprakirakan akan mendapat tambahan dorongan dari kegiatan penyelenggaraan Pemilu tahun 2014. Sementara itu, ekspor diharapkan dapat tumbuh lebih tinggi seiring dengan pemulihan ekonomi global. Dari sisi lapangan usaha, sektor - sektor utama, yakni sektor industri pengolahan, sektor perdagangan - hotel - restoran (PHR), serta sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan masih akan mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional.
  • 20. PRAKIRAAN INFLASI Tekanan inflasi pada sisa tahun 2013 diperkirakan sudah mereda dan kembali kepada pola normal. Sebagaimana tergambar pada perkembangan inflasi sebelumnya, tekanan inflasi pada Agustus 2013 dan September 2013 sudah menurun dibandingkan dengan inflasi pada Juli 2013. Perkembangan ini diharapkan dapat terus berlanjut pada triwulan IV tahun 2013 sehingga inflasi pada tahun 2013 secara keseluruhan tahun diprakirakan masih sesuai dengan perkiraan sebelumnya pada kisaran 9,0% - 9,8%. Namun demikian, beberapa tantangan perlu mendapat perhatian karena dapat mempengaruhi prospek inflasi. Tantangan tersebut terkait dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang bergerak sejalan dengan proses penyesuaian di sisi eksternal. Pelemahan rupiah selain dapat meningkatkan tekanan inflasi inti, juga dapat memberikan pengaruh ke inflasi volatile foodmelalui kenaikan harga bahan pangan yang berasal dari impor (antara lain gandum, kedelai, jagung, dan sebagainya). Kenaikan harga pangan juga dipengaruhi oleh kembali masuknya masa paceklik untuk beberapa komoditas pangan seperti beras. Sementara itu, inflasi administered prices juga diperkirakan meningkat meskipun dengan besaran yang moderat, akibat kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) tahap ke - IV di tahun 2013. Pada tahun 2014, tekanan inflasi diprakirakan menurun dan akan bergerak di lintasan kisaran sasarannya sebesar 4,5% ± 1%. Tekanan pada inflasi inti yang bersumber dari pelemahan nilai tukar rupiah diprakirakan berangsur - angsur menurun sejalan dengan membaiknya kondisi fundamental perekonomian yang dipengaruhi oleh membaiknya kondisi neraca transaksi berjalan. Perkiraan ini didukung asumsi bahwa Pemerintah tidak akan menaikkan harga barang dan jasa yang bersifat strategis (strategic administered prices). Selain itu, produksi dan distribusi bahan makanan juga diperkirakan tidak mengalami gangguan sebagaimana terjadi pada tahun 2013. Namun, beberapa risiko yang dapat menyebabkan lebih tingginya tekanan inflasi ke depan perlu tetap diwaspadai, khususnya terkait risiko dampak lanjutan kenaikan harga Tarif Tenaga Listrik serta gangguan produksi dan distribusi bahan makanan. Laporan Kebijakan Moneter dipublikasikan secara triwulanan oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan Desember, April, Juli, dan Oktober. Selain dalam rangka memenuhi ketentuan pasal 58 UU Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, laporan ini berfungsi untuk dua maksud utama, yaitu: (i) sebagai perwujudan nyata dari kerangka kerja antisipatif yang mendasarkan pada prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan dalam perumusan kebijakan moneter, dan (ii) sebagai media bagi Dewan Gubernur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas mengenai berbagai pertimbangan permasalahan kebijakan yang melandasi keputusan kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.
  • 21. LITERATUR Divisi Pengaturan dan Komunikasi Kebijakan Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Telp: +62 21 2981 4402/6836 Fax: +62 21 345 2489 Email: gkm_komunikasi@bi.go.id Website: http//www.bi.go.id