Pangan dan Ketahanan       Komunitas    Pulau-pulau Kecil  Hasil Studi di 6 provinsi        BioTani Indonesia             ...
Studi ini berlangsung pada akhir Juli hingga akhirNovember 2006 dengan lokasi penelitian meliputikomunitas di sembilan pul...
LATAR BELAKANGIndonesia merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang memiliki panjang pantai pesisir sekitar18000 km ...
LATAR BELAKANGTask force on Hunger United Nations MilleniumDevelopment Project melaporkan bahwa 8 persendari masyarakat mi...
LATAR BELAKANGlaporan World Food Program (2000) menyatakanbahwa jumlah penduduk yang tinggal di pulau-pulau kecil mengkons...
LATAR BELAKANGPada tahun 2002, World Food Summitmenghasilkan mandat: tersedianya sebuah panduansukarela (voluntary guideli...
LATAR BELAKANGPada November 2004, Food andAgricultural Organization (FAO) Councilyang beranggotakan 187 negara anggotameng...
LATAR BELAKANG    Jumlah penduduk miskin di Indonesia              (ribu penduduk)Tahun          Kota              Desa   ...
PERMASALAHANBagaimana pemahaman komunitas yang tinggal dipulau-pulau terhadap konsep ketahanan(khususnya hak atas) pangan?...
TUJUAN PENELITIANMengetahui, dan menganalisis pemahamankomunitas yang tinggal di pulau kecil atas konsepketahanan (hak ata...
Landasan Teoristudi-studi tentang penduduk miskin atau kemiskinandi daerah perkotaan dan perdesaan (Anderson danSlater :20...
Landasan TeoriDua kajian tentang pengaruh krisis ekonomi 1997-1998 atas ketahanan pangan masyarakat Indonesiamembandingkan...
Landasan TeoriSecara tradisional kerawanan pangandihitung berdasarkan penawaran totalpangan, ketersediaan, kemudahan akses...
Metode PenelitianData:  Data primer : hasil survei lapangan terhadap responden  yang bermatapencaharian pokok sebagai nela...
Lokasi Penelitian dan Jumlah             RespondenPulau-pulau yang disyaratkan untuk dipilih adalahpulau yang dekat atau b...
Alat Analisis data Kajian ini menggunakan metode statistika untukmenganalisis dengan kritis jawaban responden(statistik de...
Usia Responden di Masing-masing PulauKel. Usia   Tunda       Tidung     Buluh   Sapudi Karangrang B Lompo   Buton   Total ...
Jumlah Anggota KeluargaAnggota    Tunda   Tidung   Buluh   Sapudi Karangrang B Lompo   Buton   Total   (%)    1         3 ...
Tingkat Pendidikan Responden                Tingkat Pendidikan Responden                8%   1%   5%     9%4%             ...
Pekerjaan Utama Responden         2%                    Pekerjaan Utama     1%     2%       4%                          16...
Hasil Tangkapan dalam              Satu (1) kali Melaut (Kg)               Tunda Tidung Buluh Sapudi Karrang B Lompo   But...
Jenis Perahu yang Digunakan   15%      18%                  3%                  15%                        perahu dayung  ...
Alat Tangkap Ikan yang Digunakan        1%    1%       11%   2%   0%                     pancing                          ...
Kebiasaan Makan dalam SehariFrekwensi Tunda Tidung Sapudi Kararang BlLompo Buluh Buton   TotalSekali      3      0      0 ...
Jenis Makanan Pokok yang              Dikonsumsi             Tunda Tidung Sapudi Kararang lLompo Buluh                    ...
Rata-rata Pengeluaran di Pulau           Tunda Tidung Sapudi Kararang BlLompo Buluh           Buton     Total     (%)Panga...
Proporsi Penduduk Yang PernahMengalami Makan Kurang Dari Biasanya      80      70      60      50      40      30      20 ...
Frekuensi Kurang Makan dalam           Sebulan            Tunda   Tidung   Sapudi Kararang BlLompo Buluh   Buton   Total  ...
Penduduk yang Pernah Mengalami “Tidak        Makan” dalam Sehari 80 70 60 50 40 30 20 10  0                               ...
Penyebab Masalah Kurang Pangan         di Tiap Pulau                       Tunda   Tidung   Sapudi Kararang Bl Lompo Buluh...
Penyebab Rentan Pangan                       1% 5%    3%                                 1%                               ...
Sumber Pangan                                  11%         9%   2%                             4%                    0%   ...
Sumber Keuangan           18%  8%                                      Keluarga                                57%    15% ...
Pemahaman Tentang Peraturan      Tentang Pangan                                     Tahu               Tahu               ...
Kondisi LingkunganPelestarianLingkungan Tunda Tidung        Sapudi   Krangrang   Bl lompo   Buluh   Buton   Total   (%)   ...
Manfaat Terumbu Karang dan        Hutan Bakau100%90%80%70%60%50%40%30%20%                                                 ...
Kondisi Terkini Terumbu Karang        dan Hutan Bakau                 11%          3%                                     ...
Uji Empirik tentang Ketahanan PanganAda empat pilar utama yang menunjang “foodsecurity”, yaitu ketersediaan, stabilitas pa...
Uji Empirik tentang Ketahanan Panganfaktor-faktor yang digunakan untuk menguji fungsiketahan pangan penduduk di pulau-pula...
Probabilistic Logistic ModelDependent variabel :peluang terciptanya ketahan pangan penduduk dipulau-pulau kecil
independent variablesJAK     : jumlah anggota keluargaPendIbu : tingkat pendidikan yang diselesaikan ibu rumah tanggaPdok ...
Hasil Estimasi Logit Model          B           S.E.      Wald        df        Sig.      Exp(B)              -.060      ....
Pendidikan Istri Keluarga Kurang Pangan                6%1%     14%            tidak menjawab           8%                ...
Pendidikan Istri Keluarga Cukup Pangan          12%   0% 7%                 tidak menjawab                        5%      ...
KesimpulanKomunitas responden yang tinggal di pulau-pulau yangditeliti sebagian terbesar adalah kelompok usia produktif,de...
Kesimpulan (lanjutan)Hasil perolehan tangkapan rata-rata nelayan dalamsekali melaut adalah sebesar 11.5 kilogram setaraika...
Kesimpulan (lanjutan)98 persen mengaku terbiasa makan paling tidak dua kalidalam sehari dengan menu utamanya nasi disertai...
Kesimpulan (lanjutan)Penyebab utama kekurangan pangan berkaitandengan uang, dan akses serta sumber dana yangtersedia.Renda...
Kesimpulan (lanjutan)Pada sisi lain hasil produksi sendiri komunitaspulau kecil hanya menduduki peringkat ketigasetelah “s...
Kesimpulan (lanjutan)Lebih dari separuh responden menyatakan merekatidak mengetahui upaya-upaya pelestarianlingkungan di s...
Kesimpulan (lanjutan)Hasil uji empirik memperlihatkan daya-tahanterhadap masalah pangan keluarga berkaitan eratdengan ting...
RekomendasiAc       Akuntabilitas dan Partisipasi          Pc                                              a              ...
Rekomendasi1.   Ketergantungan pada pasar cukup tinggi meskipun     ketersediaan komoditas pangan – volume dan     keterat...
Dengan memilih kalimat lunak, dan prosesual,kami rekomendasikan kepada Badan KetahananPangan Nasional maupun provinsi hend...
2. Pendekatan solusi dari sisi komunitas pulau kecil kepada          negara, dengan skema lunak pula, berupa pertanyaan: I...
Hak atas Pangan dan Ketahanan Pangan, tambahan perspektif (Mischler; et all. FAO. 2006)Hak atas pangan dan ketahanan panga...
Perbedaan utama antara hak atas pangan dan ketahananpangan adalah dimensi hukum. Dalam paradigma baru,ketahanan pangan dia...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Hak atas pangan pulau kecil bio tani_pan-indonesia 2006

544

Published on

Studi lapang di 9 pulau kecil 6 provisi untuk identifikasi ketahanan komunitas terhadap akses dan ketersediaan pangan

Published in: News & Politics
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
544
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hak atas pangan pulau kecil bio tani_pan-indonesia 2006

  1. 1. Pangan dan Ketahanan Komunitas Pulau-pulau Kecil Hasil Studi di 6 provinsi BioTani Indonesia presentasi Riza-V-Tjahjadi & Tim Studi biotani2004a@yahoo.com
  2. 2. Studi ini berlangsung pada akhir Juli hingga akhirNovember 2006 dengan lokasi penelitian meliputikomunitas di sembilan pulau kecil yang beradadalam 6 provinsi. Yaitu P. Buluh Batam Kep. Riau,P. Tunda Serang Banten, P. Tidung Kep. SeribuDKI Jaya, P. Sapudi Madura Jatim, P. BalangLompo, dan P. Karanrang, Pangkep Sulsel, P.Talaga, P. Makassar, dan P. Kabaena Sekitar P.Buton Sultra.
  3. 3. LATAR BELAKANGIndonesia merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang memiliki panjang pantai pesisir sekitar18000 km dan pulau-pulau sejumlah 17.000-an.Laporan Bank Dunia (2000) menyatakan bahwasekitar 80 persen dari kelompok yangdikategorikan miskin tinggal di daerah pesisirpantai.
  4. 4. LATAR BELAKANGTask force on Hunger United Nations MilleniumDevelopment Project melaporkan bahwa 8 persendari masyarakat miskin ditemukan pada komunitasyang pekerjaan pokoknya berkaitan denganmencari ikan, berburu dan menggembalakanternaknya.
  5. 5. LATAR BELAKANGlaporan World Food Program (2000) menyatakanbahwa jumlah penduduk yang tinggal di pulau-pulau kecil mengkonsumsi kandungan kaloridalam makanannya yang berjumlah kurang dari 60persen daripada yang seharusnya. Kondisi inimenyebabkan anemia pada 65 persen ibu yangsedang mengandung (UNDP 2000) dan 29.5persen kekurangan gizi pada balita (Bank Dunia,2003).
  6. 6. LATAR BELAKANGPada tahun 2002, World Food Summitmenghasilkan mandat: tersedianya sebuah panduansukarela (voluntary guideline) bagi anggota FAOGUNA MENDUKUNG REALISASIPROGRESIF HAK ASASI ATASKECUKUPAN PANGAN DALAM KONTEKSKETAHANAN PANGAN NASIONAL
  7. 7. LATAR BELAKANGPada November 2004, Food andAgricultural Organization (FAO) Councilyang beranggotakan 187 negara anggotamengadopsi Voluntary Guideliness toSupport the Progressive Realization of theRight to Adequate Food in the Context ofNational Food Security.
  8. 8. LATAR BELAKANG Jumlah penduduk miskin di Indonesia (ribu penduduk)Tahun Kota Desa Total 1976 10000 44200 54200 1978 8300 38900 47200 1980 9500 32800 42300 1981 9300 31300 40600 1984 9300 25700 35000 1987 9700 20300 30000 1990 9400 17800 27200 1993 8700 17200 25900 1996 9600 24900 34500 1998 17600 31900 49500 1999 15600 32300 47900 2000 12300 26400 38700 2001 8600 29300 37900 2002 13300 25100 38400 2003 12300 25100 37400 2004 11370 24780 36150 Sumber : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, 2005
  9. 9. PERMASALAHANBagaimana pemahaman komunitas yang tinggal dipulau-pulau terhadap konsep ketahanan(khususnya hak atas) pangan?Adakah karakteristik tertentu dari komunitastersebut, dan faktor atau variabel lain yangmendukung ketahanan pangan mereka?
  10. 10. TUJUAN PENELITIANMengetahui, dan menganalisis pemahamankomunitas yang tinggal di pulau kecil atas konsepketahanan (hak atas) panganMenjelaskan variabel-variabel yang mempunyaipengaruh terhadap ketahanan pangan penduduk dipulau kecil.
  11. 11. Landasan Teoristudi-studi tentang penduduk miskin atau kemiskinandi daerah perkotaan dan perdesaan (Anderson danSlater :2003; Surono,1999; Skoufias, 2001; Brescianiet al:2002; dan Timmer: 2004).Yang agak mendekati topik studi ini adalah penelitianSalam (2003) di beberapa pulau (Banggai, Tanimbardan Lembata) yang menemukan bahwa ternyatakurikulum pendidikan tidak berkaitan erat dengankondisi kesejahteraan masyarakat, sebaliknya faktorkesehatan berperan penting dalam soal ini.
  12. 12. Landasan TeoriDua kajian tentang pengaruh krisis ekonomi 1997-1998 atas ketahanan pangan masyarakat Indonesiamembandingkan antara mereka yang tinggal dikota besar dan yang berdiam di wilayah perdesaan.(Surono: 1999, Skoufias: 2001).Skoufias membandingkan pengeluaran untukkonsumsi per kapita dan kalori per kapita dimasyarakat perkotaan dan masyarakat perdesaansebelum krisis (1996) dan setelah krisis (1999).
  13. 13. Landasan TeoriSecara tradisional kerawanan pangandihitung berdasarkan penawaran totalpangan, ketersediaan, kemudahan akses dankecukupan (Busch dan Lacy, 1984; FAO2003).
  14. 14. Metode PenelitianData: Data primer : hasil survei lapangan terhadap responden yang bermatapencaharian pokok sebagai nelayan dan bermukim di pulau-pulau kecil. Data sekunder : publikasi badan-badan pemerintah maupun organisasi/ swasta lainnya
  15. 15. Lokasi Penelitian dan Jumlah RespondenPulau-pulau yang disyaratkan untuk dipilih adalahpulau yang dekat atau berhadapan dengan kota besar(ibukota provinsi). No Pulau Lokasi Jumlah Responden 1 Tunda Prov. Banten 75 orang 2 Tidung DKI Jaya 50 orang 3 Buluh Batam, Prov. Kepri 15 orang 3 Sapudi Prov. Jawa Timur 80 orang 4 Karangrang Prov. Sulawesi Selatan 28 orang 5 Balang Lompo Prov. Sulawesi Selatan 28 orang 6 Tiga pulau sekitar P Buton Prov. Sulawesi Tenggara 65 orang Total 344 orang Sumber: Data lapangan
  16. 16. Alat Analisis data Kajian ini menggunakan metode statistika untukmenganalisis dengan kritis jawaban responden(statistik deskriptif)Statistik inferensial untuk melakukan uji empiriktentang ketahanan pangan.Model yang digunakan pada kajian ini adalahmodel probabilitas logistik
  17. 17. Usia Responden di Masing-masing PulauKel. Usia Tunda Tidung Buluh Sapudi Karangrang B Lompo Buton Total (%) < 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0.00 17 – 30 19 21 4 9 11 11 8 83 0.24 31 – 50 45 25 10 58 14 17 37 206 0.61 51 – 60 5 4 1 10 2 2 15 39 0.12 61 – 73 4 0 0 3 0 1 3 11 0.03 > 73 0 0 0 0 0 0 0 0 0.00 73 50 15 80 27 31 63 339 1.00 Sumber: Data Lapangan, diolah
  18. 18. Jumlah Anggota KeluargaAnggota Tunda Tidung Buluh Sapudi Karangrang B Lompo Buton Total (%) 1 3 3 1 1 1 0 2 11 0.03 2–4 21 20 11 45 7 9 17 130 0.38 5–8 27 23 3 33 17 19 42 164 0.48 9 – 12 16 4 0 1 3 3 4 31 0.09 13 – 18 7 0 0 0 0 0 0 7 0.02 19 – 30 0 0 0 0 0 0 0 0 0.00 31 – 33 1 0 0 0 0 0 0 1 0.00 > 33 0 0 0 0 0 0 0 0 0.00 75 50 15 80 28 31 65 344 1.00 Sumber: Data Lapangan, diolah
  19. 19. Tingkat Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan Responden 8% 1% 5% 9%4% 31% Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tidak Tamat SLTP 42% Tamat SLTP Tamat SMU Perguruan Tinggi
  20. 20. Pekerjaan Utama Responden 2% Pekerjaan Utama 1% 2% 4% 16% 2% Petani Nelayan Pedagang Pegaw ai sw asta Pegaw ai Negeri 73% Usaha sendiri Lainnya
  21. 21. Hasil Tangkapan dalam Satu (1) kali Melaut (Kg) Tunda Tidung Buluh Sapudi Karrang B Lompo Buton TotalRata-rata 10.3 12.8 4.31 23.9 7.14 13.6 8.67 11.5Standard Error 1.09 2.2 0.41 5.3 1.43 3.4 0.28 2.00Mode 5.00 10.0 5.00 10.0 2.00 1.0 3.00Minimum 1.00 3.0 2.00 3.0 0.50 0.5 3.00 0.5Maximum 40.00 100.0 7.33 200.0 30.00 70.0 14.00 200.0Jumlah Resp 57 17 15 47 28 31 64 259 Sumber: Data Lapangan, diolah
  22. 22. Jenis Perahu yang Digunakan 15% 18% 3% 15% perahu dayung perahu layar layar bermesin 49% perahu mesin lainnya
  23. 23. Alat Tangkap Ikan yang Digunakan 1% 1% 11% 2% 0% pancing pancing raw e 47% jaring 22% purse seine jaring tingker jaring muroami tingker-muroami 16% lainnya
  24. 24. Kebiasaan Makan dalam SehariFrekwensi Tunda Tidung Sapudi Kararang BlLompo Buluh Buton TotalSekali 3 0 0 1 0 0 0 4Dua kali 24 0 34 19 26 0 16 119Tiga kali 46 47 44 8 5 15 49 214Jumlah 73 47 78 28 31 15 65 337 Sumber: Data Lapangan, diolah
  25. 25. Jenis Makanan Pokok yang Dikonsumsi Tunda Tidung Sapudi Kararang lLompo Buluh B Buton Total (%)Nasi 73 49 2 27 31 15 45 242 0.81Nasi-jagung 0 0 39 0 0 0 7 46 0.15Nasi-singkong 0 0 1 0 0 0 0 1 0.00Nasijagungsingkong 0 0 2 0 0 0 8 10 0.03Jagung 1 0 0 0 0 0 0 1 0.00Singkong 0 0 0 0 0 0 0 0 0.00Total 74 49 44 27 31 15 60 300 1.00 Sumber: Data Lapangan, diolah
  26. 26. Rata-rata Pengeluaran di Pulau Tunda Tidung Sapudi Kararang BlLompo Buluh Buton Total (%)Pangan 952,000 875,250 557,513 841,071 543,871 500,000 397,857 673,819 0.60Pendidikan 52,241 148,382 120,286 96,357 65,320 63,750 30,535 83,185 0.07Sosial 30,748 50,973 251,756 82,727 34,621 34,286 251,167 123,512 0.11Kesehatan 65,226 77,000 23,214 26,579 28,333 14,000 32,805 39,882 0.04Lainnya 181,960 336,737 80,000 62,000 36,923 60,000 242,839 199,380 0.18 Total 1,282,175 1,488,342 1,032,769 1,108,735 709,068 672,036 955,202 1,119,777 1.00 Sumber: Data Lapangan, diolah
  27. 27. Proporsi Penduduk Yang PernahMengalami Makan Kurang Dari Biasanya 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tidak pernah Tunda Tidung Sapudi Kararang BlLompo Buluh Buton Pernah Sumber: Data Lapangan, diolah
  28. 28. Frekuensi Kurang Makan dalam Sebulan Tunda Tidung Sapudi Kararang BlLompo Buluh Buton Total (%) Sekali 9 2 1 4 5 0 3 24 0.13Dua kali 10 5 5 1 5 0 12 38 0.21Tiga kali 8 13 10 0 8 0 8 47 0.26 4 kali 11 5 4 6 0 0 8 34 0.19> 4 kali 5 2 10 9 5 0 8 39 0.21 43 27 30 20 23 0 39 182 1.00 Sumber: Data Lapangan, diolah
  29. 29. Penduduk yang Pernah Mengalami “Tidak Makan” dalam Sehari 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Tidak pernah Tunda Tidung Sapudi Kararang BlLompo Buluh Buton Pernah Sumber: Data Lapangan, diolah
  30. 30. Penyebab Masalah Kurang Pangan di Tiap Pulau Tunda Tidung Sapudi Kararang Bl Lompo Buluh Buton Total Pangan habis 1 0 1 4 2 0 0 8 Pangan-uang kurang 0 0 1 1 3 0 0 5 Pangan - uang habis 1 0 0 0 1 0 0 2 Kurang uang 10 8 3 6 5 0 22 54 Tidak ada uang 32 19 3 10 12 0 14 90 Lain-lain 0 0 0 0 1 0 0 1 Jumlah 44 27 8 21 24 0 36 160 Sumber: Data Lapangan, diolah
  31. 31. Penyebab Rentan Pangan 1% 5% 3% 1% bhn habis bhn-uang kur 34% bhn-uang habis 56% uang kurang tidak ada uang lain-lainSumber: Data Lapangan, diolah
  32. 32. Sumber Pangan 11% 9% 2% 4% 0% 1% Hasil sendiri Hasil & beli dipasar Hasil & diberi orang Beli dipasar Beli & diberi orang Diberi orang & lain Lain-lain 73%Sumber: Data Lapangan, diolah
  33. 33. Sumber Keuangan 18% 8% Keluarga 57% 15% Koperasi Bank Desa 0% Pedagang 2% Pemodal LainnyaSumber: Data Lapangan, diolah
  34. 34. Pemahaman Tentang Peraturan Tentang Pangan Tahu Tahu Mengerti Tahu Perda Tahu PerDes Tahu UU UU Perda Tangkap PerDes Tankap Pangan Pangan Pangan ikan Pangan ikan Ya 69 55 63 144 56 118Tidak 270 14 244 170 277 187Total 339 69 307 314 333 305 Sumber: Data Lapangan, diolah
  35. 35. Kondisi LingkunganPelestarianLingkungan Tunda Tidung Sapudi Krangrang Bl lompo Buluh Buton Total (%) Ya 32 46 22 10 10 10 11 141 0.43 Tidak 33 3 54 16 16 4 51 177 0.54 Tidak tahu 1 0 3 2 4 1 0 11 0.03Terumbukarang Ya 60 49 54 22 21 12 42 260 0.78 Tidak 2 1 15 2 2 0 1 23 0.07 Tidak tahu 10 0 8 4 7 0 20 49 0.15Hutanbakau Ya 60 46 3 2 4 15 27 157 0.48 Tidak 6 1 54 17 10 0 32 120 0.37Tidak tahu 5 2 18 7 12 0 4 48 0.15 Sumber: Data Lapangan, diolah
  36. 36. Manfaat Terumbu Karang dan Hutan Bakau100%90%80%70%60%50%40%30%20% Sngt bermanfaat10% Bermanfaat 0% Krg bermanfaat Tunda Tidung Sapudi Krangrang Bl lompo Buluh Buton Total Tdk bermanfaat Sumber: Data Lapangan, diolah
  37. 37. Kondisi Terkini Terumbu Karang dan Hutan Bakau 11% 3% 34% 28% Hilang Rusak parah Tidak berubah 24% Berkembang Tidak tahu Sumber: Data Lapangan, diolah
  38. 38. Uji Empirik tentang Ketahanan PanganAda empat pilar utama yang menunjang “foodsecurity”, yaitu ketersediaan, stabilitas pasokan,akses, dan utilisasi (FAO 2003).Bila food security dapat diterjemahkan kedalam“ketahanan pangan”, maka hal tersebut dapatditurunkan menjadi persamaan fungsionalketahanan pangan.
  39. 39. Uji Empirik tentang Ketahanan Panganfaktor-faktor yang digunakan untuk menguji fungsiketahan pangan penduduk di pulau-pulau keciladalah, jumlah anggota keluarga, tingkatpendidikan ibu, produksi, pendapatan, akses kepasar, dan akses keuangan.
  40. 40. Probabilistic Logistic ModelDependent variabel :peluang terciptanya ketahan pangan penduduk dipulau-pulau kecil
  41. 41. independent variablesJAK : jumlah anggota keluargaPendIbu : tingkat pendidikan yang diselesaikan ibu rumah tanggaPdok : produksi (tangkapan) mereka dalam sekali melautPendp : Household Income atau pendapatan keluargaPas : Akses terhadap pasar yang dihadapi keluargaKeu : Akses terhadap keuangan yang dihadapi keluarga
  42. 42. Hasil Estimasi Logit Model B S.E. Wald df Sig. Exp(B) -.060 .060 1.017 1 .313 .941 .330 .121 7.392 1 .007 1.391 -.010 .017 .333 1 .564 .990 .0003 .000 11.516 1 .001 1.000 .534 .439 1.475 1 .225 1.705 -.153 .149 1.060 1 .303 .858 -3.488 .827 17.798 1 .000 .031a Variable(s) entered on step 1: JAK, PendIbu, Produk, Income, Pasar, Keuangan. Sumber: Data lapangan
  43. 43. Pendidikan Istri Keluarga Kurang Pangan 6%1% 14% tidak menjawab 8% tidak sekolah 1% 6% tidak tamat SD tamat SD tidak tamat SMP 31% tamat SMP 33% Tamat SMA Perguruan tinggiSumber: Data Lapangan, diolah
  44. 44. Pendidikan Istri Keluarga Cukup Pangan 12% 0% 7% tidak menjawab 5% tidak sekolah 10% tidak tamat SD 20% tamat SD 9% tidak tamat SMP tamat SMP Tamat SMA 37% Perguruan tinggiSumber: Data Lapangan, diolah
  45. 45. KesimpulanKomunitas responden yang tinggal di pulau-pulau yangditeliti sebagian terbesar adalah kelompok usia produktif,dengan tingkat pendidikan rendah dan mayoritas, memangbermata pencaharian sebagai nelayan.Mereka yang berusia lebih muda, cenderung memilikijumlah anggota keluarga kecil (dua orang anak),sementara yang berusia lebih tua cenderung mempunyaianggota keluarga menengah (hingga delapan orang dalamsatu keluarga).
  46. 46. Kesimpulan (lanjutan)Hasil perolehan tangkapan rata-rata nelayan dalamsekali melaut adalah sebesar 11.5 kilogram setaraikan – jenis ikan tidak disebut responden.Bagian terbesar nelayan menggunakan perahubermesin dan jaring serta mata pancing dalamproses produksinya. Kenaikan harga BBMtentunya mempunyai dampak serius terhadapproses produksi tersebut.
  47. 47. Kesimpulan (lanjutan)98 persen mengaku terbiasa makan paling tidak dua kalidalam sehari dengan menu utamanya nasi disertai lauk. 55persen yang menyatakan pernah mengalami makan kurangdari biasanya.46 persen dari responden yang menyatakan pernahmengalami kurang pangan tersebut, hal ini dialami 2-3kali dalam sebulan. Sekitar 20 persen darinya mengakuipernah tidak makan sama sekali dalam sehari. Kekuranganpangan ini diakui juga menimpa anak-anak mereka.
  48. 48. Kesimpulan (lanjutan)Penyebab utama kekurangan pangan berkaitandengan uang, dan akses serta sumber dana yangtersedia.Rendahnya daya-beli dan kesulitan dalammengakses sumber dana dan pasar sebagaipenyebab kondisi rawan pangan, diperburuk lagidengan fakta bahwa lebih dari 60 persenpengeluaran mereka digunakan untuk pangan.
  49. 49. Kesimpulan (lanjutan)Pada sisi lain hasil produksi sendiri komunitaspulau kecil hanya menduduki peringkat ketigasetelah “sumber lainnya”.Bagian terbesar responden mengaku tidakmengetahui tentang adanya regulasi yang mengaturtentang pangan baik nasional maupun daerah danlokal. Mereka cenderung lebih peduli denganregulasi yang berkaitan langsung dengan profesimereka sebagai nelayan.
  50. 50. Kesimpulan (lanjutan)Lebih dari separuh responden menyatakan merekatidak mengetahui upaya-upaya pelestarianlingkungan di sekitar mereka, terutama tentanghutan bakau. Namun menurut mereka hutan bakausangat sesuai di Indonesia
  51. 51. Kesimpulan (lanjutan)Hasil uji empirik memperlihatkan daya-tahanterhadap masalah pangan keluarga berkaitan eratdengan tingkat pendidikan ibu dan pendapatankeluarga, meskipun pengaruh tersebut relatif keciluntuk variabel yang terakhirHasil produksi keluarga nelayan ternyata tidakmendukung hipotesis akan pengaruhnya terhadapketahanan pangan.
  52. 52. RekomendasiAc Akuntabilitas dan Partisipasi Pc a  Duty bearero ru tn Human Rights it Fulfils are: Claims ca responsibility Universal right i towards Inalienable from pb Indivisiblei al ti it Right holder oy n
  53. 53. Rekomendasi1. Ketergantungan pada pasar cukup tinggi meskipun ketersediaan komoditas pangan – volume dan keteraturan pasokan dari pulau besar – di pasar pulau kecil belum memadai identifikasinya dalam studi ini. Dalam pengamatan selama studi terlihat PDS, public distrubution system berkecenderungan kuat adalah prakarsa dan swakelola oleh anggota komunitas. Negara – sebagai Duty bearer – amat lemah accountability-nya dalam melaksanakan kewajibannya terhadap right holder, yaitu komunitas maupun individu di pulau kecil – terbilang tinggi partisipasinya dalam pemenuhan “kecukupan” pangannya. Sementara itu, pada sisi lain hasil produksi sendiri komunitas pulau kecil hanya menduduki peringkat ketiga setelah “sumber lainnya”.
  54. 54. Dengan memilih kalimat lunak, dan prosesual,kami rekomendasikan kepada Badan KetahananPangan Nasional maupun provinsi hendaknyalebih jauh mendalami soal-soal dan realitasketahanan pangan pada komunitas pulau-pulaukecil di Indonesia, khususnya dalammengimplementasikan konsep Desa MandiriPangan – sebagai uji kritis.
  55. 55. 2. Pendekatan solusi dari sisi komunitas pulau kecil kepada negara, dengan skema lunak pula, berupa pertanyaan: Is There a Right Not to be Hunger or Poor? Dengan dasar pertanyaan ini, maka musti dimulai (positive freedom approaches; Sen 1987) melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Musrenbang sebagai awal Proses penyusunan APBD - dari tingkat desa, kabupaten hingga provinsi - dapat ditingkatkan fungsi instrumentalnya untuk lebih mempedulikan komunitas pulau kecil, termasuk aspek-aspek ketahanan pangan “berbasiskan hak atas pangan” ditumbuhkembangkan ke dalam penyusunan anggaran belanja secara partisipatif (right-based approach). Dengan demikian kewajiban negara untuk memastikan adanya kecukupan pangan, pada gilirannya, dapat dipantau oleh publik secara luas, maupun digugat oleh komunitas yang bersangkutan. bersangkutanJakarta, 10 Desember 2006
  56. 56. Hak atas Pangan dan Ketahanan Pangan, tambahan perspektif (Mischler; et all. FAO. 2006)Hak atas pangan dan ketahanan pangan bukanlah konsepyang bertolakbelakang atau yang bertentangan. Hak ataspangan memperkuat ketahanan pangan yang dilakukandengan menambahkan kewajiban, sumberdaya, tidak-diskriminatif dan aturan hukum. Akses kepada kelayakan,kecukupan dan ketahanan pangan bagi semua individuharus dapat diwujudkan setiap saat. Negara, sebagaipengemban tugas utama, diwajibkan untuk menciptakanlingkungan hukum, institusional dan kebijakan yang dapatmemberdayakan semua orang untuk memberi makanmereka sendiri, dengan memproduksi makanan, ataudengan mendapatkan penghasilan. Bila orang tidakmampu mengurus diri mereka sendiri (misalnya karenausia, sakit atau saat krisis), maka negara harus memberibantuan secara langsung.
  57. 57. Perbedaan utama antara hak atas pangan dan ketahananpangan adalah dimensi hukum. Dalam paradigma baru,ketahanan pangan diakui sebagai hak, dan tidakdiperlakukan sebagai tujuan yang tidak terikat kebijakan.Negara tidak dapat memilih dalam hal menguruskelaparan dan kerentanan; mereka mempunyai kewajiban kerentananuntuk melakukannya. Individu tidak lagi dianggap sebagaiobjek dari kebijakan negara, tetapi sebagai subjek yangberhak menuntut efektifitas tanggapan pemerintah ataskeadaan mereka. Mekanisme yudisial dan kuasi-yudisialyang layak harus ada untuk mengurus kemungkinanpelanggaran hak atas pangan. pangan
  58. 58. Dalam pendekatan hak dasar atas ketahanan pangan, maka standar-standar dan prinsip-prinsip hak asasi manusia harus memandu semua program dan pelaksanaannya. Hak asasi manusia, seperti kebebasan untuk berekspresi, mengeluarkan pendapat, mengadakan pertemuan, membentuk perkumpulan dan tidak diskriminatif, harus dihargai setiap saat.Jakarta, 10 Desember 2006biotani2004a@yahoo.com
  59. 59. Catatan khusus (penggalan kata pengantar Seminar olehRiza V. Tjahjadi, Hotel Le Meredien 12 Desember 2006)Studi memakai metode riset yang umum, namun mengembangagasan besar. Yaitu memulai kajian, khususnya soal pangan padakomunitas pulau kecil, yang diharapkan dapat menyiratkankarakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan – terbesar didunia. Di sini artinya, adalah memulai satu langkah kecil, agardapat mendorong pihak lain meilakukan riset yang lebih luas, dandiharapkan disumbangkan satu percikan pemikiran dan konsepyang dapat disandingkan dengan pola pikir dan konsep yangmengacu kepada komunitas di pulau besar, atau kontinental. Ini,suatu waktu diharapkan dapat bersandingan dengan kajian tentangketahanan pangan (food security) berbasiskan hak atas pangan(right to food) terhadap komunitas di pulau besar atau kontinental –beberapa contohnya yaitu:
  60. 60. Catatan khusus (lanjutan)kajian tentang ketahanan pangan di kontinen Asia Selatan, kajiantentang kerawanan pangan di Amerika Serikat, dan seterusnya (lihatpublikasi The United Nations Universitys World Institute forDevelopment Economic Research , UNU Wider 2006; bandingkanprioritas riset Dewan Riset Nasional, DRN). Studi ini sebagailangkah kecil dengan dimensi lokal di pulau kecil, sesuatu yang kecilakan memperkaya khazanah kajian soal-soal pangan dan hak asasimanusia dalam wacana internasional. Dalam soal ini, studi inimeskipun belum selesai, jelas berada, satu langkah, di depan,katakanlah dengan ornop/masyakat madani di negara tetanggaFilipina – yang juga bercirikan negara kepulauan. Indonesia memiliki17.000-an pulau, dan Filipina dengan 7.000-an pulau.
  61. 61. Study discovers food problem in remote islandsAry Hermawan, The Jakarta Post, JakartaThe government was urged on Tuesday to review its food security program insmall and remote islands after a study found it ineffective.The study, conducted by non-profit organization BioTani in Banten, Jakarta, theRiau Islands, East Java, South Sulawesi and Southeast Sulawesi, found that peopleliving in small and remote islands still faced food shortages."On the main islands, the program has been working well, but on small and remoteislands, the program does not work. We found most respondents were still proneto experiencing food scarcities," BioTani executive director Riza. V. Tjahyadisaid.According to the study, 55 percent of the 339 people interviewed said they hadeaten fewer than two meals a day once, while 46 percent said they experienced ittwo or three times a month.
  62. 62. "Twenty percent of the respondents said they once had not eaten at all," Rizasaid.Poverty and weak purchasing power are the main causes of the problem. Mostsmall island inhabitants work as fishermen, who were heavily hit by thegovernments fuel price increases.BioTani recommended that the government conduct a study on thecharacteristics of food security conditions in small islands, where isolation andthe inaccessibility of food remained problems that needed a quick solution.The governments Desa Mandir Pangan, or Food Sufficient Village, program ismeant to address food insecurity throughout the country.The program covers 122 regencies and involves 85,000 families. Each villageis granted Rp 80 million (US$8,888) in order for local communities to findways of upgrading their living standards.
  63. 63. "The fund is only to induce the people. The local administrations are alsorequired to allocate 20 percent of their region budgets to support the program,"said Agriculture Ministry food security body secretary Hermanto.When asked about the BioTani report, Hermanto said the ministry hadinspected the programs implementation in several provinces and found that theresults of the program varied depending on regional characteristics."The program has only been underway for a year. We have yet to see the (final)result," he told Antara, adding that its success depended on the support andcommitment of local administrations.However, he added that he was unsure how well the program was working insmall and remote islands, given their lack of basic infrastructure."It is a question we have to answer," he said.BioTanis study was conducted in Buluh Batam Island in Riau Islands, TundaSerang Island in Banten, Tidung Island in Jakarta, Sapudi Island in East Java,Balang Lompo and Kararang Islands in South Sulawesi and Talaga Island,Makassar Island, Kabena Island in Southeast Sulawesi. The Jakarta Post, December 13, 2006

×