• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Disaster Preparedness in University
 

Disaster Preparedness in University

on

  • 677 views

 

Statistics

Views

Total Views
677
Views on SlideShare
677
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
183
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Disaster Preparedness in University Disaster Preparedness in University Document Transcript

    • PANDUAN KAMPUS SIAGA BENCANA
    • KAMPUS SIAGA BENCANA Edisi Pertama: ....... | ISBN: ....... Penyusunan materi panduan Kampus Siaga Bencana dapat terlaksana berkat kontribusi: PALANG MERAH INDONESIA Ali Mahsyar (PMI Provinsi Jawa Tengah) Astrid Firdianto (PMI Pusat) Bevita D. Meidityawati (PMI Pusat) Catur Meipriyanti (PMI Provinsi Sumatera Barat) Deasy Sujatiningrani (PMI Pusat) Denok Rahayu (PMI Pusat) Exkuwin Suharyanto (PMI Pusat) Febriana Ambarwati (PMI Cabang Jakarta Timur) Ketut Sassu Budi Satwan (PMI Provinsi Bali) Lilis Wijaya (PMI Pusat) Muksinun (PMI Cabang Kota Yogyakarta) Nuzlan Huda (PMI Provinsi Sumatera Barat) Rano Sumarno (PMI Cabang Jakarta Barat) Rachmad Arif Susilo (PMI Pusat) Renita Syafmi (PMI Provinsi Aceh) Wuri Widiayanti (PMI Provinsi Jawa Tengah) Dwi Hariyadi (PMI Pusat) Indra Yogasara (PMI Pusat) Maria Aswi Reksaningtyas (PMI Pusat) JARING BENING dr. Dewindra Widiamurti Endra Setyawan Mathilde Hutagaol Rina Utami EDITOR Dheni Prasetyo Florensia Malau DESIGN SAMPUL & TATA LETAK eLBe Creative Penerbit: Palang Merah Indonesia (PMI) Didukung oleh: Palang Merah Perancis
    • KATA PENGANTAR Puji Syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan limpahan berkah kepada kita semua sehingga akhirnya buku ini dapat diselesaikan dengan baik setelah melalui tahapan lokakarya dan ujicoba dilapangan. Disamping itu masukan dari banyak pihak baik akademisi, pemerintah, kampus, mahasiswa/i, perwakilan masyarakat dosen dan pelaksana lapangan program pengurangan risiko bencana juga telah berkontribusi dalam penyelesaian panduan ini. Kampus Siaga Bencana atau di singkat dengan KSB adalah kegiatan yang berfokus pada kampus. Akan tetapi bukan kampus sebagai sasaran program saja melainkan pada saatnya diharapkan, kampus yang berisi agen-agen perubahan atau bibit-bibit agen perubahan akan menjadi subyek untuk menyebarkan informasi mengenai pengurangan risiko bencana. Sehingga dengan keterlibatan kampus, setiap kampus nantinya akan mempunyai kepedulian terhadap pengurangan risiko bencana secara masal. Kedepannya diharapkan juga para mahasiswa/i yang telah berkiprah di masyarakat baik pada saat masih menjadi mahasiswa seperti bakti sosial, desa binaan, maupun Kuliah kerja Nyata (KKN) dan setelah lulus akan dapat terus berperan dalam penyebaran pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana-siaga bencana. Mengapa Kampus..? pertanyaan yang keluar kemudian, karena: pertama semua orang berhak selamat pada setiap kejadian bencana termasuk juga insan yang ada di kampus, karena keselamatan dalam bencana adalah hak. Kedua karena berdasarkan fakta lapangan masih jarang sekali kampus mempunyai kesiapsiagaan dalam bencana. Ketiga kampus yang merupakan kawah candradimuka tempat pendidikan bagi generasi penerus bangsa yang akan mencetak ahli-ahli, agen-agen perubahan, diharapkan pada saatnya nanti dapat berperan secara positif dalam pengurangan risiko bencana baik sebagai pelaku maupun sebagai agen yang mempunyai kepedulian terhadap isu pengurangan risiko bencana-siaga bencana dan akan menyebarkannya dimanapun berada, baik di kampus maupun setelah berada ditengah-tengah masyarakat nantinya. Korps Sukarela (KSR) yang ada di Perguruan Tinggi akan mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan-kegiatan kampus siaga bencana, sebagai pintu masuk dan juga sebagai pengerak, pendorong kegiatan pengurangan risiko bencana di kampus. Walaupun demikian buku ini tidak hanya ditujukan pada i Panduan Kampus Siaga Bencana
    • kampus yang sudah mempunyai unit kegiatan mahasiswa Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) saja, tetapi kampus yang belum mempunyai KSR PMI juga dapat menggunakan buku ini. Dalam kegiatannya kampus siaga bencana melibatkan semua stakeholder kampus mulai dari rektor sampai penjaga kampus dan kantin-kantin yang ada di kampus serta masyarakat sekitar kampus. Diharapkan dengan hadirnya buku ini akan dapat membantu semua pihak yang mempunyai kepedulian pada pengurangan risiko bencana (PRB) terutama yang akan bergerak pada perguruan tinggi. Selain itu buku ini juga mengarapkan adanya keterlibatan masyarakat sekitar kampus. Terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusinya dalam pengembangan dan penyusunan buku ini, terutama Kementrian Pendidikan kebudayaan, Pusat Studi Bencana Universitas Gajah Mada, Jogjakarta (PSB UGM), Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) – Universitas Syiah Kuala, Aceh serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu semoga ini menjadi amal baik dalam kemanusian. Akhirnya buku ini tentu saja bukan buku yang sempurna kritik konstruktif dan saran pengembangan sangat kami harapkan sehingga dapat menjadi koreksi perbaikan pada masa yang akan datang, sehingga penyelenggaran kegiatan pengurangan risiko bencana dari tahun ke tahun akan semakin baik. Selamat ber-Siaga Bencana Jakarta, Desember 2012 Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia Ketua Bidang Relawan H. Muhammad Muas, SH Panduan Kampus Siaga Bencana ii
    • DAFTAR ISI Kata Pengantar .................................................................... i Daftar Isi ........................................................................... iii Daftar Gambar/Tabel/Lampiran ............................................... v Daftar Singkatan .................................................................. vii Definisi ............................................................................. ix BAB I PENGURANGAN RISIKO BENCANA A. Indonesia Rawan Bencana ................................................... B. Upaya Pengurangan Risiko Bencana Untuk Meningkatkan Kapasitas Menghadapi Bencana ............................................. 2 6 BAB II KAMPUS SIAGA BENCANA A. Kampus Siaga Bencana Sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bencana Terpadu Berbasis Kampus ................................. 16 B. Tujuan Kampus Siaga Bencana .............................................. 23 C. Keluaran Kampus Siaga Bencana ............................................ 23 D. Ruang Lingkup Kampus Siaga Bencana ..................................... 24 E. Sasaran Penerima Manfaat Kampus Siaga Bencana....................... 24 F. Komponen Kampus Siaga Bencana ......................................... 25 G. Peran PMI dan Para Mitra Dalam Pelaksanaan Siklus Kampus Siaga Bencana ....................................................... 27 H. Isu Lintas Sektoral Kampus Siaga Bencana ................................ 33 BAB III PARAMETER KAMPUS SIAGA BENCANA A. Parameter Kampus Siaga Bencana .......................................... 48 B. Indikator Pencapaian Parameter ............................................ 49 iii Panduan Kampus Siaga Bencana
    • BAB IV SIKLUS KAMPUS SIAGA BENCANA A. Tahapan Persiapan ............................................................ B. Siklus Kampus Siaga Bencana ............................................... 57 60 BAB V STRATEGI PELAKSANAAN DAN KEBERLANJUTAN KAMPUS SIAGA BENCANA A. Strategi Pelaksanaan Kampus Siaga Bencana ............................. B. Strategi Keberlanjutan Kampus Siaga Bencana ........................... DAFTAR PUSTAKA Panduan Kampus Siaga Bencana iv 70 72
    • DAFTAR GAMBAR, TABEL & LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Peta Jumlah Kejadian Bencana di Indonesia Tahun 2010 Gambar 2. Peran Kampus dalam pengurangan risiko bencana Gambar 3. Kampanye pengurangan risiko bencana yang dilakukan unit KSR dan UKM lainnya di Universitas Negeri Semarang (UNNES) Gambar 4. Aksi penanaman pohon yang dilakukan para mahasiswa yang tergabung dalam unit KSR Universitas Negeri Jakarta Gambar 5. Siklus KSB Gambar 6. Penyuluhan pengurangan risiko bencana yang dilakukan mahasiswa Universitas Syiah Kuala kepada murid-murid sekolah dasar Gambar 7. Latihan gabungan pertolongan pertama dan evakuasi korban bencana oleh UKM KSR-UNNES yang diikuti oleh mahasiswa umum (UKM dan BEM) DAFTAR TABEL Tabel 1. Keterkaitan aspek lintas sektor pengurangan risiko bencana di kampus dengan aspek MDGs yang akan saling mendukung dan berintegrasi Tabel 2. Peran PMI di Setiap Tingkatan Tabel 3. Peran Pengurus, Staf dan Relawan PMI Tabel 4. Kompetensi dan peran warga kampus di perguruan tinggi Tabel 5. Indikator Pencapaian Parameter LAMPIRAN 1. Contoh Integrasi Kampus Siaga Bencana ke dalam Mata Kuliah Lembaga Kampus - Organisasi Ekstra dan Intra Kampus 2. Contoh Langkah Praktis KSB 3. Contoh Laporan KSR v Panduan Kampus Siaga Bencana
    • 4. Contoh Pedoman Wawancara 5. Contoh Prosedur Tanggap Darurat 6. Contoh Tabel Mempermudah Menyusun SOP Tanggap Darurat di Kampus 7. Formulir Asesmen Cepat KSB 8. Format Monitoring & Evaluasi KSB 9. Format Rencana Aksi KSB 10. Matriks Tahapan Kampus Siaga Bencana 11. Matriks Pendidikan dan Pelatihan Beserta Cakupan Materi 12. Alat (Tools) Identifikasi Kapasitas Kampus atau Sumber Daya Kampus 13. Alat (Tools) Peta Simulasi KSB Panduan Kampus Siaga Bencana vi
    • DAFTAR SINGKATAN AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome (sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV) ASB : Arbeiter Samariter Bund Deutschland API : Adaptasi Perubahan Iklim BAPPENAS : Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional BEM : Badan Eksekutif Mahasiswa BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana DIKTI : Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi FK : Fakultas Kedokteran FKM : Fakultas Kesehatan Masyarakat HFA : Hyogo Framework for Action (Kerangka Aksi Hyogo) HIV : Human Immunodeficiency Virus (virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia) KAP : Knowledge, Attitude and Practice (Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan) KBBM : Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat KK : Kepala Keluarga KKN : Kuliah Kerja Nyata KOPERTIS : Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta KPPBM : Kesehatan dan Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat KSB : Kampus Siaga Bencana KSR : Korps Sukarela LIPI : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MCK : Mandi Cuci Kakus MDGs : Millennium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milenium) MoU : Memorandum of Understanding (Nota kesepahaman) ODHA : Orang dengan HIV dan AIDS PBB : Persatuan Bangsa-Bangsa PERTAMA : Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat PKL : Praktek Kerja Lapangan PMI : Palang Merah Indonesia PMR : Palang Merah Remaja vii Panduan Kampus Siaga Bencana
    • Pokja : Kelompok Kerja PPGD : Pertolongan Pertama Gawat Darurat PPL : Praktek Pengalaman Lapangan PRA : Participatory Rural Appraisal (Pengkajian Keadaan Desa Secara Partisipatif) PRB : Pengurangan Risiko Bencana PSP : Psychosocial Support Program (Program Dukungan Psikososial) RAN : Rencana Aksi Nasional RI : Republik Indonesia SDM : Sumber Daya Manusia SOP : Standard Operating Procedure SSB : Sekolah Siaga Bencana SWOT : Strength, Weakness, Opportunity, and Threat (Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan TDMRC UGM dan Tantangan) : Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (Pusat Pengkajian Mitigasi Bencana dan Tsunami) : Universitas Gadjah Mada UN-ESCAP : United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (Komisi Ekonomi dan Sosial PBB Untuk Kawasan Asia dan Pasifik.) UU : Undang-Undang UKM : Unit Kegiatan Mahasiswa UNDP : United Nations Development Program (Badan PBB urusan Program Pembangunan) UNESCO : United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Badan PBB urusan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan) UNIMUS : Universitas Muhammadiyah Semarang UNISDR : United Nations International Strategy for Disaster Reduction (Badan PBB urusan UNNES Strategi International untuk Pengurangan Risiko) : Universitas Negeri Semarang UNSYIAH : Universitas Syiah Kuala VCA : Vulnerability and Capacity Assessment (Penilaian Kapasitas dan Kerentanan) Panduan Kampus Siaga Bencana viii
    • DEFINISI Ancaman Bencana Suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana (UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana) Ancaman (Hazard) a. Proses atau fenomena alam yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa, cedera atau dampak-dampak kesehatan lain, kerusakan harta benda, hilangnya penghidupan dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). b. Fenomena alam atau buatan yang mempunyai potensi mengancam kehidupan manusia, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan (Laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana, www.bnpb.go.id). c. Fenomena alam yang luar biasa yang berpotensi merusak atau mengancam kehidupan manusia, kehilangan harta benda, kehilangan mata pencaharian, dan kerusakan lingkungan. Misal: tanah longsor, banjir, gempa bumi, letusan gunung api, kebakaran (Buku PMI, “Pelatihan VCA dan PRA”, 2008). Bencana a. Sebuah gangguan serius terhadap berfungsinya sebuah komunitas atau masyarakat yang mengakibatkan kerugian dan dampak yang meluas terhadap manusia, materi, ekonomi dan lingkungan, yang melampaui kemampuan komunitas atau masyarakat yang terkena dampak tersebut untuk mengatasinya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). ix Panduan Kampus Siaga Bencana
    • b. Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana). c. Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam (faktor alam) dan non alam (faktor manusia) yang mengakibatkan korban manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan prasarana serta fasilitas umum (“Prosedur Tetap Tanggap Darurat Bencana PMI”, 2007). Indikator Sesuatu yang dapat memberikan (menjadi) petunjuk atau keterangan (http://www.kbbi.web.id/). Kapasitas a. Gabungan antara semua kekuatan, ciri yang melekat dan sumber daya yang tersedia dalam sebuah komunitas, masyarakat atau organisasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang disepakati (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). b. Kemampuan potensial sesungguhnya yang ada di dalam masyarakat untuk menghadapi bencana lewat berbagai sumber daya manusia atau materi untuk membantu pencegahan dan tanggap bencana yang efektif (Buku PMI, “Pelatihan VCA dan PRA”, 2008). Kerentanan a. Karakteristik dan kondisi sebuah komunitas, sistem atau aset yang mem- Panduan Kampus Siaga Bencana x
    • buatnya cenderung terkena dampak merusak yang diakibatkan ancaman bencana (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). b. Tingkat dimana sebuah masyarakat, struktur, layanan, atau daerah geografis yang berpotensi/mungkin rusak atau terganggu oleh dampak bencana tertentu karena sifat-sifatnya, konstruksinya, dan dekat dengan daerah berbahaya atau daerah yang rawan/rentan (Buku PMI, “Pelatihan VCA dan PRA”, 2008). Kesiapsiagaan a. Pengetahuan dan kapasitas yang dikembangkan oleh pemerintah, lembaga-lembaga profesional dalam bidang respon dan pemulihan, serta masyarakat dan perorangan dalam mengantisipasi, merespon dan pulih secara efektif dari dampak-dampak peristiwa atau kondisi ancaman bencana yang mungkin ada, akan segera ada atau saat ini ada (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). b. Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna (UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana). c. Mencakup upaya-upaya yang memungkinkan pemerintah, masyarakat dan individu merespon secara cepat situasi bencana secara efektif dengan menggunakan kapasitas sendiri. Kesiapsiagaan mencakup penyusunan rencana tanggap darurat, pengembangan sistem peringatan dini, pemberdayaan personal melalui pendidikan dan pelatihan penanganan bencana, pertolongan dan penyelamatan serta pembentukan mekanisme tanggap darurat yang sistematis. Kesiapsiagaan dilaksanakan sebelum kejadian bencana yang diarahkan pada pengurangan jumlah korban dan kerusakan pada harta benda (Buku PMI, “Pelatihan VCA dan PRA”, 2008). xi Panduan Kampus Siaga Bencana
    • Keterpaparan (Exposure) Penduduk, harta benda, sistem-sistem atau elemen-elemen yang ada di kawasan ancaman bencana yang oleh karenanya bisa berpotensi mengalami kerugian/kehilangan (Terminologi Dasar Adaptasi dan Pengurangan Risiko Bencana, fpbibencana.blogspot.com/2009/08/terminologi-dasar-adaptasidan.html). Mitigasi a. Pengurangan atau pembatasan dampak-dampak merugikan yang diakibatkan ancaman bencana dan bencana terkait (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). b. Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana). ` Mitigasi dibedakan menjadi 2: • Mitigasi Struktural, mitigasi yang bertujuan mengurangi dampak dan risiko bencana dengan jalan pembangunan/penguatan sarana fisik. Misalnya: tanggul, pusat evakuasi, sarana MCK (Mandi Cuci Kakus). • Mitigasi Non-Struktural, mitigasi yang bertujuan merubah perilaku masyarakat terhadap bencana, tindakan ini dilakukan melalui: kegiatan-kegiatan partisipatif (PRA-Participatory Rural Appraisal, Baseline and KAP Survey, pembuatan rencana aksi, dll), misalnya: pelatihan, FGD (Focus Group Discussion), pendampingan, dll. (Buku PMI, “Pelatihan KBBM-Pertama untuk KSR, Panduan Pelatih”). Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana Proses dimana pertimbangan-pertimbangan pengurangan risiko bencana dikedepankan oleh organisasi/individu yang terlibat di dalam Panduan Kampus Siaga Bencana xii
    • pengambilan keputusan dalam pembangunan ekonomi, fisik, politik, sosialbudaya suatu negara pada level nasional, wilayah daerah dan/atau lokal; serta proses-proses dimana pengurangan risiko bencana dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan tersebut (Buku “Kerangka Kerja Sekolah Siaga Bencana, Konsorsium Pendidikan Indonesia, 2011”). Pengurangan Risiko Bencana a. Suatu konsep dan praktik mengurangi risiko-risiko bencana melalui upaya-upaya sistematis untuk menganalisis dan mengelola faktor-faktor penyebab bencana, termasuk melalui pengurangan keterpaparan terhadap ancaman bencana, pengurangan kerentanan penduduk dan harta benda, pengelolaan lahan dan lingkungan secara bijak, dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap peristiwa-peristiwa yang merugikan (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www. unisdr.org). b. Upaya terpadu yang dilaksanakan oleh masyarakat dan stakeholder setempat untuk mengurangi kerentanan yang ada di masyarakat dan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk dapat menanggulangi dampak dari bencana, wabah penyakit, masalah kesehatan, masalah lingkungan dan sebagainya (Buku PMI, “Pelatihan VCA dan PRA”, 2008). Peringatan Dini Serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang (UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana). Respon (Tanggap Darurat Bencana) a. Rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian xiii Panduan Kampus Siaga Bencana
    • bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, serta pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, pemulihan sarana dan prasarana. (“Prosedur Tetap Tanggap Darurat Bencana PMI, 2007”). b. Pemberian layanan tanggap darurat dan bantuan umum selama atau segera setelah terjadinya sebuah bencana yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mengurangi dampak-dampak kesehatan, memastikan keselamatan umum dan memenuhi kebutuhan dasar subsistens penduduk yang terkena dampak (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). c. Serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana (UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana). Risiko a. Gabungan antara kemungkinan terjadinya suatu peristiwa dan dampakdampak negatif yang ditimbulkannya (Terminologi Pengurangan Risiko Bencana 2009, diambil dari laman www.unisdr.org). b. Potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat (UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana). c. Suatu peluang dari timbulnya akibat buruk atau kemungkinan kerugian dalam hal kematian, luka-luka, kehilangan dan kerusakan Panduan Kampus Siaga Bencana xiv
    • harta benda, gangguan kegiatan mata pencaharian dan ekonomi atau kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh interaksi antara ancaman bencana dan kerentanan (Buku PMI, “Pelatihan VCA dan PRA”, 2008). Verifikasi Pemeriksaan tentang kebenaran pelaporan, pernyataan, perhitungan dan sebagainya (http://www.kbbi.web.id/). Warga Kampus Semua orang yang berada dan terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar: mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan rektorat (Adaptasi dari pengertian Warga Sekolah, sumber: “Buku Kerangka Kerja Sekolah Siaga Bencana”, 2011, Konsorsium Pendidikan Indonesia). xv Panduan Kampus Siaga Bencana
    • Panduan Kampus Siaga Bencana PENGURANGAN RISIKO BENCANA KAMPUS SIAGA BENCANA 1
    • Panduan Kampus Siaga Bencana BAB I PENGURANGAN RISIKO BENCANA A. Indonesia Rawan Bencana Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang mencakup 17.508 pulau tersebar di lintas garis khatulistiwa, berada di antara dua benua, Asia dan Australia, serta dua Samudra, Hindia dan Pasifik, dan terletak pada pertemuan tiga lempeng kerak bumi (Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik). Secara geografis, hal ini memungkinkan Indonesia mempunyai berbagai macam budaya, sumber daya alam yang beragam, dan sebaran penduduk yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terpadat di dunia. Di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan risiko bencana mulai dari bencana alam letusan gunung berapi, banjir, longsor, gempa bumi, hingga masalah kesehatan. Sumber: Laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) http://www.bnpb.go.id/ 2 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Data dari Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa kecenderungan bencana di Indonesia terus meningkat yakni 691 kejadian bencana yang tercatat pada tahun 2005 dan 2.232 kejadian bencana yang terjadi pada tahun 2010. Dalam kurun waktu 1980 - 2009, sedikitnya terdapat 18 juta warga di Indonesia terkena dampak bencana1, yang diantaranya adalah anak, remaja, pemuda, dan tenaga pendidik. Adapun data bencana tahun 20022011 menyatakan bahwa bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, dan gelombang pasang, sedangkan bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi tetap menjadi ancaman di beberapa wilayah. Perubahan iklim global juga diperkirakan mempengaruhi secara nyata peningkatan gelombang panas, kekeringan, frekuensi curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir, tanah longsor, angin topan, meningkatnya permukaan air laut sampai akibat langsung maupun tidak langsung pada peningkatan kasus penyakit menular. Adapun degradasi lingkungan, kemiskinan, dan bertambahnya jumlah penduduk juga berpotensi memperbesar ancaman risiko bencana. Berbagai bencana yang terjadi, dalam jangka waktu panjang dapat memperlambat pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals-MDGs) 2015. Pada setiap kejadian bencana, berbagai kemungkinan risiko dapat muncul, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pencapaian delapan indikator MDGs sebagai tolok ukur derajat kesejahteraan suatu bangsa. Sebagai contoh: 1. Bencana akan meningkatkan kemiskinan dan kelaparan karena rusaknya sumber mata pencaharian, sumber pangan, serta hilangnya mata pencaharian; 1 Laporan “The Asia Pacific Disaster Report 2010” oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Kawasan Asia dan Pasifik (ESCAP) dan Badan PBB Urusan Strategi Internasional untuk Penanggulangan Bencana (UNISDR) KAMPUS SIAGA BENCANA 3
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 2. Kerusakan berbagai infrastruktur sekolah, sistem, dan sumber daya manusia dapat mempengaruhi kualitas pendidikan, disamping itu hilangnya pendapatan kepala keluarga dan terceraiberainya keluarga akan mempengaruhi upaya memperoleh pendidikan bagi anak; 3. Kaum perempuan baik ibu maupun anak, merupakan salah satu golongan paling rentan saat terjadinya bencana akibat rusaknya fasilitas pelayanan kesehatan, penambahan beban kerja sebagai ibu sekaligus kepala keluarga, sampai tingkat pelecehan seksual yang tinggi di barak pengungsian; 4. Anak merupakan korban jiwa paling tinggi saat terjadinya banjir, longsor dan gempa bumi karena kurangnya pengetahuan yang berkaitan dengan pertolongan dan keselamatan bencana, kehilangan orang tua, kehilangan rumah maupun tempat berlindung, serta meningkatnya kerentanan terhadap penyakit karena air dan sanitasi buruk; 5. Wanita hamil memiliki risiko paling tinggi terhadap kematian, luka maupun penyakit saat maupun sesudah bencana yang disebabkan oleh rusaknya fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas sehingga mengakibatkan buruknya kondisi untuk melahirkan dengan sehat; 6. Penyebaran penyakit menular seperti malaria yang ditularkan melalui vektor dapat meluas dengan cepat yang diperburuk dengan tidak tersedianya sarana dan prasarana kesehatan. Disamping itu, hilangnya mata pencaharian seringkali memaksa wanita untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial yang berakibat pada risiko peningkatan kasus infeksi HIV; serta, 7. Kerusakan lingkungan dengan berbagai derajat yang berbeda, baik karena bencana maupun pembangunan permukiman yang mengakibatkan penebangan pohon secara luas. 8. Semua hal tersebut pada akhirnya akan menghambat strategi kemitraan, pemulihan maupun masa pembangunan pasca bencana. 4 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana MDGs ini merupakan hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang dapat dicapai pada tahun 2015. Para pemimpin dunia berkomitmen untuk: 1. Mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, 2. Menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, 3. Mengentaskan kesenjangan gender pada semua tingkat pendidikan, 4. Mengurangi kematian anak balita hingga 2/3, 5. Meningkatkan kesehatan ibu, 6. Memerangi HIV dan AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup, dan 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. KAMPUS SIAGA BENCANA 5
    • Panduan Kampus Siaga Bencana B. Upaya Pengurangan Risiko Bencana untuk Meningkatkan Kapasitas Menghadapi Bencana 1. Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Risiko bencana dapat menimpa masyarakat rentan, yang hanya memiliki sedikit kapasitas untuk menghadapi dampak negatif bencana. Pada dasarnya ada 5 (lima) komponen kerentanan yang mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk menghadapi risiko bencana, yaitu: rumah tangga (livelihood), status dasar dan kesejahteraan, perlindungan diri, perlindungan sosial, dan tata kelola (governance). Sedangkan dalam menentukan risiko, terdapat 3 komponen sebagai berikut: a. Kemungkinan terjadinya ancaman Kemungkinan terjadinya bencana alamiah, bencana teknologi dan bencana penurunan kualitas lingkungan di suatu daerah atau lokasi, yang ditinjau dari aspek kemungkinan terjadi dan tingkat kekuatan bencana. Misal: gempa berskala 8,5 SR lebih jarang terjadi dibanding gempa yang berskala 5,0 SR. b. Elemen-elemen yang berisiko Mengidentifikasi unsur-unsur yang terkena dampak bencana, termasuk perkiraan nilai ekonomisnya. Kesemuanya ini mencakup segala hal yang ada di dalam masyarakat, seperti data penduduk, kesehatan masyarakat, kegiatan perekonomian, sarana, pemukiman, jalan, pelayanan, infrastruktur, maupun hasil pertanian dan ternak. c. Kerentanan elemen-elemen yang berisiko Mengidentifikasi sejauh mana bangunan akan mengalami kerusakan, orang akan terluka atau elemen-elemen lain akan mengalami kerusakan dan kerugian saat mengalami beberapa tingkatan ancaman. Hal ini menunjukkan hubungan antara tingkat keparahan atau kekuatan ancaman dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh ancaman tersebut. Masing-masing elemen akan berbeda pengaruhnya karena perbedaan tingkat keparahan atau kekuatan ancaman. Semakin parah atau kuat terjadinya suatu ancaman, maka akan semakin parah kerusakan yang terjadi pada elemen-elemen tersebut. 6 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Dengan demikian, konsep mengenai kerentanan, ancaman, dan risiko berhubungan secara dinamis. Hubungan antar elemen tersebut juga dapat diungkapkan dengan pendekatan sebagai berikut: besarnya ancaman yang disebabkan suatu kejadian potensial disertai dengan tingginya kerentanan suatu populasi akan meningkatkan besarnya risiko. Di sisi lain, sifat kerentanan adalah hubungan secara terbalik dengan kapasitas manusia untuk bertahan terhadap akibat-akibat bencana tersebut. Secara matematis, kondisi ini digambarkan sebagai berikut: Sebagai contoh : Kampus Impian berada di dataran tinggi yang rawan tanah longsor dan tanah bergerak. Jika musim penghujan datang, maka longsor akan menyertai. Tanah longsor yang terakhir terjadi mengakibatkan 1 rumah di sekitar kampus rusak berat, dan beberapa bangunan umum di desa sekitar kampus mengalami kerusakan. Dinding kampus hanya mengalami retak rambut. Pihak kampus telah mengambil langkah guna membekali mahasiswa dengan pengetahuan tentang kesiapsiagaan dan tanggap darurat bencana. Di lingkungan kampus, digalakkan program lahan hijau dan paru-paru kampus dengan menata ulang lahan kosong di kampus dan penanaman pohon. Jalur evakuasi di tiap gedung di wilayah kampus sudah terpasang, sehingga masyarakat kampus sudah mengetahui ke arah mana harus KAMPUS SIAGA BENCANA 7
    • Panduan Kampus Siaga Bencana berlindung ketika bencana datang. Sistem peringatan dini bencana telah ditempatkan dengan memanfaatkan interkom di setiap ruangan kelas, serta pengeras suara di masjid kampus. Tim Pertolongan Pertama telah terlatih dan secara rutin melakukan penyegaran maupun latihan serta memeriksa kesiapan peralatan. Dengan kondisi di atas, walaupun Kampus Impian terletak di wilayah yang rentan terhadap ancaman bencana, tetapi mereka mempunyai kapasitas yang tinggi. Risiko yang akan mereka hadapi menjadi kecil/minimal. 8 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Berdasarkan persamaan matematis di atas, maka diperlukan upaya terpadu yang dilaksanakan oleh sivitas akademika, masyarakat dan stakeholder setempat untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas sivitas dan masyarakat agar dapat menanggulangi dampak bencana, wabah penyakit, masalah kesehatan, maupun masalah lingkungan, yang dirumuskan sebagai berikut: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan paradigma Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang merupakan rencana terpadu yang bersifat lintas sektor dan lintas wilayah serta meliputi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dalam implementasinya, kegiatan PRB nasional akan disesuaikan dengan rencana pengurangan risiko tingkat regional dan internasional, dimana masyarakat merupakan subjek, objek sekaligus sasaran utama upaya PRB dan berupaya mengadopsi dan memperhatikan kearifan lokal (local wisdom) dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang ada dan berkembang dalam masyarakat. Sebagai subjek, masyarakat diharapkan dapat aktif mengakses saluran informasi formal dan nonformal, sehingga upaya PRB secara langsung dapat melibatkan masyarakat. Pemerintah bertugas mempersiapkan sarana, prasarana, dan sumber daya yang memadai untuk pelaksanaan kegiatan PRB (Laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana www.bnpb.go.id). KAMPUS SIAGA BENCANA 9
    • Panduan Kampus Siaga Bencana PMI mendefinisikan “Upaya Pengurangan Risiko Bencana sebagai upaya terpadu yang dilaksanakan oleh masyarakat dan stakeholder setempat untuk mengurangi kerentanan yang ada di masyarakat dan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk dapat menanggulangi dampak dari bencana, wabah penyakit, masalah kesehatan, masalah lingkungan dan sebagainya”. (Buku PMI, “Pelatihan VCA dan PRA”, 2008) 2. Upaya Pengurangan Risiko Bencana Pemerintah Indonesia Konsep penanggulangan bencana telah mengalami perubahan cukup mendasar. Pemaknaan terhadap bencana yang secara konvensional dianggap sebagai kejadian yang tidak dapat dicegah, kemudian mengalami pergeseran menjadi dapat diprediksi sebelumnya sehingga dapat diupayakan pencegahan dan pengurangan risiko bencana tersebut. Upaya PRB yang telah menjadi salah satu kebutuhan prioritas baik di tingkat global maupun masyarakat, semakin memperkuat komitmen pemerintah Indonesia untuk mengubah paradigma dari kegiatan responsif (penanggulangan bencana) ke arah kegiatan preventif (pengurangan risiko bencana), serta memposisikan masyarakat dari objek pasif menjadi subjek aktif yang dengan kesadaran diri bertanggung jawab untuk melakukan upaya PRB. Gempa bumi dan tsunami di Aceh yang terjadi pada bulan Desember 2004 telah membuka mata dunia internasional akan kurangnya dan pentingnya pengurangan risiko bencana. 10 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Menanggapi hal tersebut, diselenggarakanlah suatu konferensi tentang “Pengurangan Risiko Bencana” di Kobe, Hyogo Jepang pada bulan Juni 2005. Konferensi ini menghasilkan kesepakatan global, “Hyogo Framework for Action 2005-2015” - HFA (Kerangka Aksi Hyogo untuk Pengurangan Risiko Bencana 2005-2015): membangun ketangguhan bangsa dan masyarakat terhadap bencana. Kerangka aksi ini menekankan pada semua negara dunia untuk menyusun mekanisme terpadu PRB yang didukung oleh kelembagaan serta kapasitas sumber daya yang memadai. Merujuk pada berbagai hasil evaluasi pelaksanaan upaya PRB, HFA telah menghasilkan rekomendasi yang digunakan sebagai salah satu acuan setiap institusi maupun lapisan masyarakat, sebagai berikut: a. Meletakkan PRB sebagai prioritas nasional dan daerah yang pelaksanaannya harus didukung oleh kelembagaan yang kuat; b. Mengidentifikasi, mengkaji dan memantau risiko bencana serta menerapkan sistem peringatan dini; c. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan ketahanan terhadap bencana pada semua tingkat masyarakat; d. Mengurangi faktor-faktor penyebab risiko bencana; e. Memperkuat kesiapan dalam menghadapi bencana pada semua tingkatan masyarakat agar respons yang dilakukan lebih efektif. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 24 tahun 2007 mengenai “Penanggulangan Bencana” yang mengatur tahapan bencana meliputi pra-bencana, saat tanggap darurat dan pasca bencana. Adanya undang-undang ini juga menjadi landasan pendirian BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di seluruh kotamadya/ kabupaten di Indonesia. Selain itu, pemerintah Indonesia menyusun Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) yang dievaluasi secara berkala serta mengadopsi, melaksanakan dan mengembangkan kesepakatan global ke dalam konteks lokal. KAMPUS SIAGA BENCANA 11
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam hal PRB telah menjadi perhatian pemerintah di setiap tingkatan, yang dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, penyuluhan, simulasi, seminar, pengembangan program di masyarakat, serta memperkuat kualitas institusi Pemerintah di bidang kebencanaan antara lain BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Dikarenakan upaya PRB juga berkaitan dengan topik dan permasalahan lainnya, maka Pemerintah melakukan pengarusutamaan PRB di berbagai sektor. Pada sektor pendidikan formal, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah mengeluarkan Surat Edaran nomor 70a/MPN/ SE/2010 tanggal 31 Maret 2010 tentang Pengarusutamaan Risiko Bencana di Sekolah, yang ditindaklanjuti dengan kegiatan pelatihan guru, sosialiasi, pengintegrasian topik kebencanaan ke dalam intra dan ekstrakurikuler, serta program Sekolah Siaga Bencana. Pada tingkatan pendidikan tinggi, beberapa perguruan tinggi juga telah melakukan upaya PRB melalui kebijakan rektorat secara menyeluruh, pengembangan program studi kebencanaan, maupun kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Untuk mendukung sarana, prasarana, kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM), dan pendanaan, Pemerintah melakukan jejaring dan kerjasama dengan lintas sektor, baik swasta, maupun organisasi nonpemerintah di tingkat internasional, nasional, dan lokal. Forum terkait PRB yang diselenggarakan oleh Konsorsium Pendidikan Bencana maupun pihak lain, menjadi media berbagi informasi, pembelajaran, dan berkegiatan bersama. Selain itu, program Sekolah Siaga Bencana yang diselenggarakan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), PMI (Palang Merah Indonesia), UNDP (United Nations Development Programme), UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), PLAN International, Save the Children, Habitat International, Mercy Corps, Hope, ASB (Arbeiter Samariter Bund Deutschland) menjadi salah satu bentuk jejaring dan kerjasama lintas sektor dengan Pemerintah. 12 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 3. Upaya Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Sebagai organisasi kemanusiaan, PMI memiliki mandat membantu dan bekerjasama dengan pemerintah untuk memperkuat masyarakat rentan. Dengan komitmen ini, PMI telah aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pengurangan risiko dan adaptasi perubahan iklim sejak konsep ini mulai diperdengarkan di Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari komitmen tersebut, PMI telah menandatangi Nota Kesepahaman dengan BNPB pada tanggal 23 Maret 2009 yang menyatakan bahwa kedua belah pihak setuju untuk membangun kerjasama dalam melakukan berbagai aktifitas penanggulangan bencana sebelum, saat, dan sesudah bencana terjadi, sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing. Melalui perjanjian ini PMI juga berkomitmen untuk membantu BNPB dalam pelaksanaan dan pencapaian kebijakan PRB di tingkat kota, kabupaten, provinsi, nasional, regional maupun global. Selain itu, PMI sejak tahun 2004 terlibat secara aktif dalam kelompok kerja pembentukan RAN PRB dalam upaya pencapaian prioritas Kerangka Aksi Hyogo, yang dikoordinasi oleh BAPPENAS. Selain kebijakan dan kerjasama, PMI juga mendukung upaya PRB dengan melaksanakan kegiatan pemberdayaan di masyarakat melalui Program Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA), Program Kesehatan dan Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat (KPPBM), Program Sekolah Siaga Bencana (SSB) melalui ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR), pelatihan dan simulasi untuk relawan di tingkat desa, maupun Korps Sukarela (KSR) PMI di perguruan tinggi dan PMI kabupaten/ kota, serta kegiatan-kegiatan yang mengarah pada adaptasi perubahan iklim seperti pembuatan biopori, dan kampanye “green and clean”. KAMPUS SIAGA BENCANA 13
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Di dunia pendidikan yang sejalan dengan Keputusan Kementerian Pendidikan Nasional tentang Pengarusutamaan Risiko Bencana di Sekolah, maka PMI telah mengembangkan Program Sekolah Siaga Bencana (SSB) di SMP dan SMA di berbagai provinsi di Indonesia sejak tahun 2004. Strategi program dilaksanakan dengan cara mengintegrasikan SSB dengan program Sekolah Sehat yang sudah ada, peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana melalui pelatihan bagi guru serta melalui ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR), sosialisasi dan advokasi kepada orang tua serta mitra lain, dan pengembangan program secara mandiri oleh pihak sekolah. Sampai dengan tahun 2010, total 16 PMI Provinsi menginiasi SSB yang berintegrasi dengan program PERTAMA, dan lebih dari 50.000 orang termasuk murid, guru, orang tua murid serta masyarakat sekitar sekolah telah mendapatkan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana. Kebutuhan akan upaya PRB secara bertahap dan berkelanjutan juga menjangkau tingkat pendidikan tinggi. Merujuk pada daerah rawan bencana yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, secara geografis lingkungan kampus termasuk wilayah rentan terhadap dampak bencana karena berisiko mengalami kerusakan sarana dan prasarana perkuliahan, terhambatnya proses belajar mengajar, maupun korban jiwa. Namun demikian, seperti halnya sekolah dasar dan menengah, maka perguruan tinggi juga berpotensi menjadi tempat pertemuan, tempat aman untuk penyelamatan, dan sekaligus tempat tinggal sementara bagi pengungsi. Disamping itu, berbagai cabang disiplin ilmu seperti kedokteran, psikologi, arsitektur dan teknik, memungkinkan institusi pendidikan ini menjadi sumber informasi dan memberikan bantuan kepada masyarakat selama masa tanggap darurat dan pemulihan. Hal ini kemudian mendorong PMI untuk mengembangkan konsep Sekolah Siaga Bencana (SSB) yang dapat diterapkan di lingkungan perguruan tinggi, yang disebut Kampus Siaga Bencana (KSB). 14 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana BAB II KAMPUS SIAGA BENCANA A. Kampus Siaga Bencana sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bencana Terpadu Berbasis Kampus Kampus merupakan salah satu area pembentukan bagi para agen perubahan yang berkarakter dan profesional. Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, serta Pengabdian pada Masyarakat, merupakan dasar perilaku serta tanggung jawab setiap mahasiswa dan komponen perguruan tinggi. Sebagai praktisi, mereka tidak hanya memberikan sumbangsih sesuai dengan teori ilmu pengetahuan yang mereka tekuni serta idealisme yang kuat, namun lebih dari itu, mereka dapat memberikan kontribusi dan mendapatkan pengalaman di berbagai aspek sosial agar nantinya dapat mengabdi kepada masyarakat. Dalam konteks PRB, Tri Dharma Perguruan Tinggi dilaksanakan untuk mendorong terciptanya kampus dan masyarakat yang aman dan tangguh terhadap bencana. Mahasiswa dan warga kampus sebagai agen perubahan, dapat berperan aktif di lingkungan internal kampus dan masyarakat untuk melakukan upaya PRB secara terpadu dan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan untuk tiap poin Tri Dharma Perguruan Tinggi yang telah maupun yang akan dilaksanakan oleh kampus akan saling berkaitan dan saling berkontribusi untuk pencapaian tujuan pengurangan risiko bencana. 16 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Gambar 2: Peran Kampus dalam Pengurangan Risiko Bencana Contoh nyata keterkaitan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam mendukung upaya PRB adalah: 1. Pendidikan dan Pengajaran a. Integrasi PRB ke dalam kegiatan pendidikan b. Pelatihan dan Simulasi c. Sarana dan prasarana yang mendukung upaya PRB 2. Penelitian a. Kampus sebagai pusat penelitian kebencanaan 3. Pengabdian pada masyarakat a. KKN tematik PRB b. Pelatihan dan simulasi untuk masyarakat c. Pendampingan masyarakat untuk pengembangan upaya PRB KAMPUS SIAGA BENCANA 17
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Gambar 3 : Kampanye pengurangan risiko bencana yang dilakukan unit KSR dan UKM lainnya di Universitas Negeri Semarang (UNNES) Peran kampus dalam pengurangan risiko bencana, juga sejalan dengan peran kampus dalam pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). Upaya mahasiswa yang tertuang dalam Deklarasi Youth Millennium Drive pada tanggal 24 Oktober 2011, yang isinya antara lain memasyarakatkan pola hidup sehat sedini mungkin, menyeimbangkan peranan pria dan wanita dalam masyarakat dan pemerintahan, membantu memaksimalkan fungsi puskesmas dan posyandu sebagai lini pertama dalam pelayanan kesehatan terutama dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak. Serta meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi muda bangsa Indonesia, akan memberikan kontribusi dan bersinergi dengan upaya PRB. 18 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana ISU LINTAS SEKTORAL KSB MGDs - Memberantas kemiskinan dan - Pendekatan multi hazard - Kesehatan - Kesinambungan lingkungan - Keragaman budaya & usia - Perspektif gender - Adaptasi perubahan Iklim - Kelompok rentan - Partisipasi masyarakat dan relawan - Mobilisasi sumber daya kelaparan ekstrem - Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua - Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan - Menurunkan angka kematian anak - Meningkatkan kesehatan ibu - Memerangi HIV dan AIDS, malaria dan penyakit lainnya - Memastikan pelestarian lingkungan - Mengembangkan kemitraan global Tabel 1. Keterkaitan aspek lintas sektor pengurangan risiko bencana di kampus dengan aspek MDGs yang akan saling mendukung dan berintegrasi Pelaksanaan Tri Dharma yang berkaitan dengan topik kesehatan, lingkungan, gender, maupun pendidikan yang dikelola oleh berbagai disiplin ilmu, intra maupun kegiatan kemahasiswaan (Unit Kegiatan Mahasiswa) juga akan memberikan pengayaan pada kegiatan-kegiatan PRB, yang sekaligus mendukung pencapaian MDGs. Potensi Kampus dalam mencapai PRB dan MDGs 1. Mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan. Kelaparan menjadi salah satu dampak bencana atau menjadi bencana tersendiri. Hilangnya sumber pangan maupun mata pencaharian saat bencana akan meningkatkan kerentanan para korban bencana. Kampus dapat ikut berperan serta mengurangi kelaparan saat terjadi bencana dengan memberikan bantuan berupa bahan pangan, memberikan pengetahuan mengenai bahan makanan pengganti bila makanan KAMPUS SIAGA BENCANA 19
    • Panduan Kampus Siaga Bencana utama tidak tersedia. Sedangkan sebelum terjadinya bencana, kampus dapat membantu dengan cara bakti sosial ke masyarakat, mengadakan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam hal bercocok tanam, serta penyuluhan atau pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi dan cara mengolah makanan dan minuman yang sehat dan bergizi. 2. Menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya. Akses mendapatkan pendidikan bahkan kesempatan menyelesaikan pendidikan dasar, dapat tetap diupayakan meskipun dalam situasi darurat bencana. Untuk itu kampus bisa dijadikan sebagai sekolah sementara, sedangkan para mahasiswa menjadi pengajar bagi anak-anak korban bencana yang tinggal di hunian sementara di kampus tersebut maupun di hunian sementara lain. 3. Mengentaskan kesenjangan gender pada semua tingkat pendidikan. Setiap orang, perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi dalam mengurangi risiko bencana; kontribusi ini dapat dilakukan sejak perencanaan, pelaksanaan maupun proses monitoring dan evaluasi kegiatan. Untuk mengurangi kesenjangan gender, maka pihak kampus melakukan kegiatan sosialisasi, seminar, maupun pendidikan gender dalam PRB di lingkungan kampus dan masyarakat. 4. Mengurangi kematian anak balita hingga 2/3. Anak dan balita merupakan salah satu kelompok rentan ketika terjadi bencana; berdasar data di lapangan sebagian besar korban terluka dan meninggal saat bencana adalah anak dan balita. Angka ini dapat meningkat dengan tidak adanya sarana, sistem dan petugas kesehatan, kurang atau tidak adanya air bersih, kurangnya kebersihan lingkungan hunian sementara dapat meningkatkan risiko kematian anak dan balita. Angka ini dapat meningkat dengan tidak adanya sarana, sistem 20 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana dan petugas kesehatan, kurang atau tidak adanya air bersih, kurangnya kebersihan lingkungan hunian sementara dapat meningkatkan risiko kematian anak dan balita. Melalui program yang ada di kampus, mahasiswa dapat bekerjasama dengan Puskesmas atau Posyandu untuk mengurangi kerentanan anak dan balita, melalui penyuluhan hidup sehat sebelum, selama, dan setelah bencana, dan pelatihan pertolongan pertama untuk ibu dan PKK, serta kegiatan PRB yang ditujukan untuk anak dan balita antara lain bercerita, menggambar, dan bernyanyi. 5. Meningkatkan kesehatan ibu hamil. Melalui program yang ada di kampus, mahasiswa dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil di masa darurat bencana. Mahasiswa juga dapat berperan aktif bekerja sama dengan pusat kesehatan untuk memastikan ibu hamil mendapat pelayanan kesehatan selama masa tanggap darurat bencana sampai dengan tahap pemulihan. 6. Memerangi HIV dan AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya. Kampus dapat menjadi “motor penggerak” di masyarakat dalam upaya memerangi HIV dan AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya melalui pendidikan remaja sebaya di lingkungannya. Hal ini karena berbagai jenis penyakit dapat muncul sebelum, selama, dan setelah bencana terjadi. Contoh nyata juga dapat diberikan kepada masyarakat sekitarnya dengan menjadikan kampus sehat dan bersih. 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup. Sebagai agen perubahan, mahasiswa dapat mendorong pembentukan Kampus Hijau, menggalakkan program penanaman pohon dan berperan serta secara aktif bersama masyarakat untuk bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup. KAMPUS SIAGA BENCANA 21
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam bidang Pengurangan Risiko Bencana, kampus tidak hanya dapat bekerjasama dan menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi dalam negeri, namun lebih jauh, dengan perguruan tinggi di luar negeri, lembaga kemanusiaan internasional dan lembaga-lembaga internasional yang bergerak di bidang kebencanaan. Pertukaran ilmu pengetahuan melalui upaya kerjasama untuk penelitian, pertukaran dosen/mahasiswa, jurnal, konferensi ilmiah, dan berbagi hasil-hasil studi dalam bentuk kepustakaan. Selain itu, mahasiswa dapat melakukan studi banding di bidang Pengurangan Risiko Bencana. Perguruan Tinggi di Indonesia. Berkaitan dengan integrasi PRB ke dalam kegiatan kemahasiswaan, PMI telah melaksanakan pembinaan dan pengembangan Korps Suka Rela (KSR) di sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia. Pengembangan KSR ini mengarah kepada pelibatan anggota KSR dalam kegiatan upaya PRB sebagai penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi maupun peran KSR-PMI unit perguruan tinggi dalam menerapkan Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Agar upaya PRB dapat terlaksana secara terpadu dan berkesinambungan di lingkungan perguruan tinggi, PMI mengembangkan konsep “Kampus Siaga Bencana (KSB)” yang dapat diterapkan oleh anggota KSR-PMI perguruan tinggi maupun digunakan oleh pihak perguruan tinggi untuk pengembangan sasaran, kebijakan, maupun program yang lebih luas. Kampus Siaga Bencana (KSB) merupakan upaya pemberdayaan dan peningkatan kapasitas perguruan tinggi dalam kesiapsiagaan dan PRB dengan melibatkan seluruh komponen perguruan tinggi dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pelaksanaan KSB ini tentunya 22 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana melibatkan berbagai komponen dan aspek. Namun demikian, dalam panduan ini dibatasi pada aspek peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sedangkan aspek lainnya dapat dikembangkan lebih lanjut oleh institusi lain, yang pada akhirnya akan saling melengkapi. Pentingnya KSB bagi upaya pengurangan risiko bencana: • Setiap orang mempunyai hak untuk selamat dari dampak bencana, termasuk warga kampus • Kampus sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan agen perubahan ikut bertanggung jawab dalam keselamatan masyarakat dalam arti luas • Sebagai wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang pengurangan risiko bencana • Banyak kampus yang memiliki pusat studi bencana, namun masih sedikit kampus yang memiliki rencana aksi pengurangan risiko bencana B. Tujuan Kampus Siaga Bencana Tujuan dari Kampus Siaga Bencana yaitu: 1. Meningkatkan kapasitas perguruan tinggi terhadap upaya kesiapsiagaan bencana, pengurangan risiko bencana dan tanggap darurat bencana. 2. Meningkatkan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam kesiapsiagaan, pengurangan risiko dan tanggap darurat bencana. C. Keluaran Kampus Siaga Bencana Keluaran yang diharapkan dari Kampus Siaga Bencana, diantaranya adalah: 1. Adanya perubahan perilaku komponen SDM di perguruan tinggi terhadap isu PRB. 2. Program PRB dapat terintegrasi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. 3. Perguruan tinggi dapat menjadi wadah bagi pelaku PRB dan mengembangkannya di lingkungan masyarakat. KAMPUS SIAGA BENCANA 23
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 4. Perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam perubahan perilaku masyarakat dalam kesiapsiagaan, PRB, dan tanggap darurat bencana. D. Ruang Lingkup Kampus Siaga Bencana 1. Soft Skill Kampus Siaga Bencana ini akan meningkatkan kemampuan sasaran dalam berhubungan dengan orang lain dan keterampilan dalam dirinya sendiri yang mampu mengembangkan kerjanya secara maksimal. Misalnya, kemampuan dalam melakukan diseminasi, advokasi dan sosialisasi tentang upaya PRB. 2. Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Melalui Kampus Siaga Bencana ini pengetahuan, sikap dan keterampilan sasaran di bidang PRB akan ditingkatkan, baik melalui pelatihan maupun kegiatan yang lainnya. 3. Mitigasi Non-struktural Salah satu bentuk upaya PRB adalah mitigasi non-struktural, yaitu mitigasi yang bersifat non-fisik misalnya meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan perilaku dan membuat kebijakan tentang upaya PRB. E. Sasaran Penerima Manfaat Kampus Siaga Bencana 1. Sasaran Primer Sasaran primer adalah individu atau kelompok yang diharapkan berubah perilakunya. Mahasiswa merupakan sasaran primer karena sebagai agen perubahan pengurangan risiko bencana di dalam kampus maupun lingkungan masyarakat. 2. Sasaran Sekunder Sasaran sekunder adalah individu atau kelompok dan organisasi yang mempengaruhi perubahan perilaku sasaran primer. Dalam konteks KSB, yang termasuk dapat mempengaruhi perubahan perilaku mahasiswa adalah: 24 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana a. Dosen b. Karyawan c. Pengelola jasa d. Masyarakat sekitar kampus e. Orang tua dan keluarga mahasiswa f. Media massa, media elektronik, dan sosial media 3. Sasaran Tersier Sasaran tersier adalah individu atau kelompok dan organisasi yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dan keputusan PRB di kampus. Dengan demikian para pemangku kebijakan di kampus, pihak yayasan, KOPERTIS, Rektorat, Dekanat, Direktorat Perguruan Tinggi, serta instansi yang menangani kegiatan PRB menjadi bagian dari sasaran tersier. F. Komponen Kampus Siaga Bencana Komponen KSB, yang juga dapat disebut sebagai tim Kelompok Kerja (Pokja) terdiri dari tim pengarah, tim pelaksana, dan dapat melibatkan mitra. 1. Tim Pengarah KSB Tim pengarah terdiri dari rektorat/dekanat dan dosen pendamping Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang mempunyai tugas: a. Memberi persetujuan atas rencana kegiatan yang disusun secara bersama oleh Kelompok Kerja (Pokja) KSB. b. Memberi petunjuk dalam mengorganisasi dan memobilisasi komponen kampus untuk mendukung pelaksanaan KSB. c. Memberi petunjuk dalam rangka pelatihan bagi warga kampus dan anggota masyarakat dengan keterampilan PRB. d. Membina koordinasi dengan dinas terkait setempat serta dengan organisasi masyarakat pemerhati masalah bencana dan lingkungan lainnya. e. Mengupayakan dukungan kebijakan, struktural dan finansial. KAMPUS SIAGA BENCANA 25
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 2. Tim Pelaksana KSB Tim pelaksana KSB merupakan gabungan dari dosen dan mahasiswa, yang bertugas: a. Menyusun secara rinci rencana kegiatan berdasarkan masukanmasukan dari pelaksana lapangan dan masyarakat, sebelum diajukan kepada tim pengarah. b. Mobilisasi komponen kampus dalam rangka pelaksanaan kegiatan program penguatan kapasitas SDM dalam bidang PRB. c. Mengorganisasi kegiatan PRB di tingkat perguruan tinggi dan masyarakat. d. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan sehari-hari di tingkat perguruan tinggi dan masyarakat. e. Koordinasi dengan petugas lapangan dari instansi-instansi terkait. f. Evaluasi laporan kemajuan program di tingkat perguruan tinggi dan masyarakat. 3. Mitra KSB Berikut ini beberapa mitra potensial yang dapat terlibat sebagai anggota tim Kelompok Kerja (Pokja): a. Yayasan b. Kopertis c. PMI d. Badan Nasional Penanggulangan Bencana e. Media massa f. Dinas terkait g. LSM/NGO terkait 26 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Gambar 4 : Aksi penanaman pohon yang dilakukan para mahasiswa yang tergabung dalam unit KSR Universitas Negeri Jakarta G. Peran PMI dan Para Mitra Dalam Pelaksanaan Siklus Kampus Siaga Bencana PMI, sebagai salah satu mitra perguruan tinggi dalam mendukung terwujudnya upaya PRB di lingkungan kampus, akan melaksanakan peran yang mengacu pada mandat PMI baik dalam hal PRB, pembinaan generasi muda, maupun Prinsip-Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. Berikut peran dan komitmen yang dapat dilakukan oleh PMI: 1. Pembinaan KSR Perguruan Tinggi sebagai salah satu UKM yang berfokus pada upaya pengurangan risiko bencana. 2. Berbagi informasi dan sumber daya dalam bentuk fasilitator, nara sumber, maupun pelatih, dokumen terkait PRB, kurikulum pelatihan, alat peraga. KAMPUS SIAGA BENCANA 27
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 3. Sosialisasi dan advokasi di tingkat nasional maupun global di lingkungan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional. 4. Mengintegrasikan upaya PRB di kampus dan PMI untuk pengembangan program-program PRB berbasis masyarakat dan Sekolah Siaga Bencana (SSB). 5. Menjadi anggota tim pemantauan dan evaluasi, maupun tim pengembangan KSB. Adapun peran PMI di setiap tingkatan, secara rinci dijelaskan dalam tabel di bawah ini: Tabel 2. Peran PMI di Setiap Tingkatan Komponen Peran - Memformulasikan kebijakan dan strategi pengembangan KSB - Memastikan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dapat berjalan sebagaimana yang dikehendaki - Meninjau permohonan dari PMI Provinsi lain dalam rangka PMI Pusat pengembangan KSB di wilayah kerjanya - Melaksanakan koordinasi di tingkat internal PMI dalam kaitannya dengan pengembangan KSB - Melaksanakan koordinasi dengan pihak eksternal di tingkat nasional dalam kaitannya dengan pengembangan KSB. - Menjabarkan kebijakan dan strategi pengembangan KSB sesuai dengan situasi, kondisi serta prioritas PMI Provinsi - Memastikan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dapat berjalan sebagaimana yang dikehendaki PMI Provinsi - Membina koordinasi dengan BPBD, dinas-dinas dan pemangku kebijakan terkait serta mengupayakan dukungan dari pemerintah provinsi - Mendukung mobilisasi sumber daya - Mengupayakan dukungan monitoring dan supervisi pelaksanaan pengembangan KSB. 28 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana - Mensosialisasikan KSB sebagai sebuah pendekatan pelaksanaan PRB di Perguruan Tinggi - Memberi rekomendasi dalam mengorganisasi dan memobilisasi sumber daya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan PRB di Perguruan Tinggi - Memberi rekomendasi dalam rangka peningkatan kapasitas sumber daya manusia di internal PMI dalam kaitannya dengan pengembangan KSB - Membantu mengidentifikasi kebutuhan kegiatan PRB di Kampus bekerjasama dengan Perguruan Tinggi terkait - Memberikan pendampingan teknis bagi Perguruan Tinggi dalam mengembangkan dan melaksanakan kegiatan PRB - Membina koordinasi dengan BPBD, pemangku kebijakan, dinas PMI Kabupaten/Kota dan organisasi terkait dalam hal pengembangan PRB di Perguruan Tinggi - Pembinaan KSR Unit Perguruan Tinggi sebagai salah satu sumber daya yang dimiliki oleh PMI Kabupaten/Kota dalam mengembangkan PRB di Perguruan Tinggi - Berbagi informasi dan sumber daya dalam bentuk fasilitator, narasumber, pelatih dan dokumen terkait pengurangan risiko bencana, kurikulum pelatihan, serta alat peraga - Sosialisasi dan advokasi Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional - Mengintegrasikan upaya pengurangan risiko di Perguruan Tinggi untuk pengembangan program-program pengurangan risiko berbasis masyarakat dan Sekolah Siaga Bencana - Menjadi anggota tim pemantauan dan evaluasi, maupun tim pengembangan KSB. KAMPUS SIAGA BENCANA 29
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Sedangkan peran Pengurus, Staf, dan Relawan PMI dijabarkan sebagaimana tabel berikut ini: Tabel 3. Peran Pengurus, Staf dan Relawan PMI Komponen Peran - Memformulasikan kebijakan dan rencana strategi pengembangan KSB; - Melaksanakan pengawasan, pembinaan dan pengembangan KSB - Bekerjasama dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam Pengurus mengembangkan KSB - Membangun jejaring dengan pemangku kepentingan lainnya di tingkat Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dalam rangka pengembangan KSB - Menjabarkan kebijakan dan rencana strategi pengembangan KSB sesuai dengan situasi, kondisi serta prioritas PMI Pusat/ Provinsi/Kabupaten/Kota - Mensosialisasikan KSB sebagai sebuah pendekatan pelaksanaan PRB di Perguruan Tinggi - Memastikan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dapat ber- Staf jalan sebagaimana yang dikehendaki - Membina koordinasi dengan BPBD, Perguruan Tinggi, dinas-dinas dan pemangku kebijakan terkait serta mengupayakan dukungan dari pemerintah provinsi - Mendukung mobilisasi sumber daya - Mengupayakan dukungan monitoring dan supervisi pelaksanaan pengembangan KSB. - Mensosialisasikan KSB sebagai sebuah pendekatan pelaksanaan PRB di Perguruan Tinggi Relawan - Mempromosikan kegiatan KSB - Memberikan pendampingan teknis dalam pelaksanaan kegiatan PRB di Perguruan Tinggi. 30 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Kampus sebagai pengelola KSB tentunya memainkan peran utama untuk mencapai keberhasilan PRB di lingkungan kampus. Tabel di bawah ini mendeskripsikan kompetensi dan peran warga kampus, yang dapat bersinergi dengan para mitra: Tabel 4. Kompetensi dan Peran Warga Kampus di Perguruan Tinggi Komponen Kompetensi Peran - Mampu membuat kebijakan (mengesahkan - Pembuat kebijakan kampus dan menetapkan Standard Operating Procedure (SOP), Rektorat/Dekanat yang mendukung pelaksanaan upaya KSB dan Perjanjian Kerjasama dan integrasinya dalam Kesepahaman, Rencana Strategis, Rencana Aksi) - Mendanai dan/atau mendukung pendanaan kegiatan perguruan tinggi - Pelindung - Penasehat - Penyandang dana pelaksanaan. - Memahami konsep PRB - Memberikan pemahaman kepada masyarakat kampus tentang KSB - Mengintegrasikan isu dan dampak PRB dan adaptasi perubahan iklim ke dalam mata kuliah yang diajarkan Dosen - Berkonstribusi mengenai penelitian dan pengembangan keilmuan terkait - Narasumber - Fasilitator - Pelaksana - Peneliti - Promotor - Sebagai Role Model, memberikan contoh kepada masyarakat lingkungan kampus tentang perilaku upaya PRB dan adaptasi perubahan iklim. KAMPUS SIAGA BENCANA 31
    • Panduan Kampus Siaga Bencana - Memahami KSB - Mampu mengelola dan melaksanakan KSB dalam upaya PRB Mahasiswa - Pelaksana - Pengelola - Memiliki kemampuan advokasi - Terlibat dan berpartisipasi - Promotor - Narasumber - Pendidik sebaya dalam upaya pencapaian tujuan KSB. - Pelaksana Karyawan - Mengetahui upaya PRB - Pendukung - Melaksanakan KSB. - Promotor - Fasilitator Pengelola jasa layanan (kantin, photo copy, parkir, dll) - Mengetahui tentang KSB - Terlibat dalam KSB - Partisipasi - Mengetahui tentang KSB - Memahami KSB Yayasan - Mendukung pengesahan dan penetapan kebijakan - Pembuat Kebijakan - Promotor - Mendanai pelaksanaan - Mengetahui tentang KSB - Mendukung upaya promotif pengambilan kebijakan - Mendukung upaya promotif KOPERTIS penyediaan dana pelaksanaan - Mendukung upaya koordinasi dan kerjasama KSB antar perguruan tinggi 32 KAMPUS SIAGA BENCANA - Promotor
    • Panduan Kampus Siaga Bencana H. Isu Lintas Sektor Kampus Siaga Bencana (KSB) Semakin besarnya perhatian pada upaya pengarusutamaan risiko bencana dipengaruhi oleh semakin meningkatnya kerugian yang ditimbulkan oleh bencana terutama terhadap aset ekonomi, sosial serta kesejahteraan dan penghidupan masyarakat. Oleh karena itu, salah satu upaya yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian PRB adalah dengan memperhatikan isi-isu lintas sektor KSB. Memadukan strategi program PRB dengan isu-isu lintas sektoral yang terkait dengan bencana tentunya akan menjadikan KSB mempunyai cakupan sasaran yang luas dan menyeluruh. Berikut isu lintas sektor KSB sebagaimana dijelaskan di bawah ini: 1. Pendekatan Multiancaman (multi-hazard) Pendekatan multiancaman adalah salah satu metodologi dalam upaya PRB yang berguna dalam mengidentifikasikan sekaligus membandingkan strategi-strategi PRB, kesiapsiagaan, serta langkah-langkah mitigasi untuk setiap jenis bencana yang berbeda. Pengurangan Risiko Bencana dalam aplikasinya pada sebuah program kerja adalah sebuah permasalahan multidimensi yang kompleks dimana membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang luas dari berbagai disiplin ilmu. Mengadopsi pendekatan multibencana dalam rencana kerja KSB kedepannya akan menjadi satu keuntungan. KSB menjadi wadah yang tepat untuk hal ini karena pendekatan multibencana dapat digunakan untuk memantau seluruh strategi PRB yang akan digunakan oleh sebuah perguruan tinggi. Selain itu pendekatan ini memberikan kesempatan untuk kerja pembangunan yang lebih terkoordinasi. Berikut adalah isu-isu terkait lainnya yang termasuk dalam pendekatan multi-hazard: KAMPUS SIAGA BENCANA 33
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Universitas Syiah Kuala Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) merupakan salah satu universitas di Indonesia yang telah mengembangkan dan menerapkan berbagai program mitigasi bencana di lingkungan kampus melalui pendirian Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (Tsunami and Disaster Mitigation Research Center) pada tahun 2006. Pendirian TDMRC tersebut diilhami oleh bencana tsunami yang melanda Aceh pada 2004 silam, yang menelan ratusan korban jiwa. Pengembangan program mitigasi yang dilakukan UNSYIAH, tidak hanya dilakukan di Aceh, tetapi di seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah rawan bencana. “Program kebencanaan yang sudah dan sedang dilakukan terus disosialisasikan oleh TDMRC”, papar Teuku Alvisyahrin, Kepala Divisi Professional Service TDMRC UNSYIAH kepada Antara (Antara, 2010). TDMRC juga mendapat mandat dari pemerintah Provinsi Aceh untuk menyediakan informasi, produk dan layanan yang dapat dimanfaatkan untuk program pengurangan risiko bencana. Dalam upaya mempercepat proses pengembangan kapasitas lembaga, dalam melaksanakan aktivitasnya TDMRC bekerja sama dengan para peneliti dari lembaga riset kebencanaan nasional dan internasional. Program kolaborasi yang dirintis oleh TDMRC juga mencakup penerapan dan pengembangan teknologi bencana dan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, dan mengintegrasikan program siaga bencana dalam kurikulum sekolah dan universitas. Upaya-upaya memperkuat kapasitas terus dilakukan sampai saat ini. Seperti yang dijelaskan dalam web resmi UNSYIAH, saat ini pihak universitas juga sudah mengirimkan beberapa akademisi handal keluar negeri, terutama Jepang guna mempelajari bagaimana cara menanggulangi bencana. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi salah satu fokus utama dari pengembangan TDMRC karena selama ini UNSYIAH masih kekurangan tenaga profesional yang dapat menangani mitigasi bencana. Pihak universitas juga akan menjamin akan adanya transfer ilmu dan teknologi dari program ini. Dalam situs resminya, Darni, Rektor UNSYIAH juga menekankan bahwa UNSYIAH akan mengembangkan program mitigasi melalui jenjang pendidikan. Semua masyarakat kampus akan dilibatkan, baik staf, dosen maupun mahasiswa dalam mensosialisasikan siaga bencana di wilayah masing-masing (www.tdmrc.org/id/). 34 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 2. Kesehatan Pendekatan yang dilakukan KSB dalam upaya PRB tentunya juga diharapkan menyertakan isu terkait kesehatan. Seperti diketahui bahwa bencana dan perubahan iklim sudah dipastikan menyertakan dampak pada berbagai masalah kesehatan di masyarakat. Epidemi, wabah, merupakan ancaman yang diakibatkan oleh menyebarnya penyakit menular yang berjangkit di suatu tempat tertentu, demikian juga dengan penyebaran HIV dan AIDS yang terasosiasi dengan bertambahnya populasi, eksploitasi, kekerasan berbasis gender maupun transaksi seksual sebagai strategi bertahan hidup. Kondisi lingkungan yang buruk, perubahan iklim dan pola hidup masyarakat yang salah, bisa meningkatkan skala sebaran penyakit yang semula berada di posisi lokal. Dengan meningkatnya korban jiwa maka akan menjadi bencana nasional. Maka pemahaman yang baik dan benar akan pentingnya isu kesehatan dalam setiap upaya PRB menjadi penting untuk capaian hasil sasaran. Kampanye Donor Darah Donor darah sebagai bagian dari gaya hidup merupakan kampanye yang didengungkan oleh PMI semenjak Mei 2010. Kampanye ini diperuntukkan kepada individu secara khusus dan masyarakat luas pada umumnya, untuk mengajak partisipasi mereka untuk donor darah. Gerakan ini muncul dari adanya kebutuhan darah yang terus meningkat. Mengutip keterangan Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, kepada Suara PMI, “PMI membuka gerai donor darahnya di berbagai mal dan kampus supaya masyarakat mudah mendonorkan darahnya”. Saat ini gerai donor darah yang telah beroperasi antara lain: di Mal Senayan City, Pasar Tanah Abang Jakarta, Mal Metropolitan Bekasi, Jawa Barat Mal, Tunjungan Plaza 2 Surabaya dan Mal Ratu Indah, Makassar. Sedangkan untuk area kampus, PMI juga membuka gerai donor darah di Kampus Universitas Trisakti, Jakarta dan Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar. Untuk kelancaran dan kecepatan layanan donor darah, dengan menggandeng mitranya, PMI menyediakan mobil layanan donor darah yang siap menjangkau masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, PMI juga bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam menyiapkan sistem informasi stok darah secara online. Layanan ini dapat dilihat dalam direktori donor darah dalam website resmi FK UGM. (Setiawan, 2012) KAMPUS SIAGA BENCANA 35
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Paguyuban Demi Setetes Darah Untuk Kehidupan Tawang Rejo adalah salah satu desa di Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, yang menjalankan program Kesehatan dan Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat (KPPBM) PMI bekerjasama dengan Palang Merah Amerika. Selain merasakan manfaat positif atas program kesehatan tersebut, warga Desa Tawangrejo menjadi akrab dengan kegiatan donor darah. Berkat persuasi yang intensif dari relawan desa, PMI, dan tenaga kesehatan desa, masyarakat Tawangrejo kini tidak lagi takut mendonorkan darahnya. Bahkan sebuah paguyuban donor darah dengan nama Gumregah dibentuk sejak Juni 2011. Saat ini paguyuban ini berfungsi untuk mengkoordinasi masyarakat dan mendorong donor darah kolektif setiap tiga bulan sekali. Sekarang gerakan Desa Tawangrejo tersebut telah diikuti oleh dua desa lain di Kecamatan Jatipurno. Desa Jatipurno, misalnya telah membentuk paguyuban pendonor dan diberi nama Paguyuban Bakti Ludiro Husada, sedangkan di Desa Slogoretno, diberi nama Paguyuban Retno Ludiro. PMI Kabupaten Wonogiri melihat potensi pedonor darah di pedesaan memang sangat besar, namun belum dimaksimalkan. Terinspirasi oleh hal itu, sebuah rencana besar pun disusun. Bekerjasama dengan masyarakat Wonogiri dan dinas terkait, peluncuran Desa Donor Darah sedang dirintis. Targetnya tidak main-main, 25 desa di seluruh Kabupaten Wonogiri. Sekretaris PMI Wonogiri, Annajib Thohari mentargetkan setiap kecamatan minimal mempunyai satu desa donor darah. Beliau menambahkan, “Kalau paguyuban pendonor darah sudah teroganisasi, kerja Unit Transfusi Darah (UTD) lebih mudah karena mereka tinggal mendatangi desa yang sudah terjadwal”. (Soemantri, 2012) 3. Kesinambungan Lingkungan Kondisi lingkungan adalah salah satu faktor penting yang dapat menentukan kerentanan terhadap suatu bencana. Kerusakan lingkungan diakui secara luas berkontribusi besar terhadap kerugian hilangnya nyawa manusia serta gangguan ekonomi. Dengan tidak mengindahkan isu lingkungan dalam rancangan sebuah upaya PRB seperti KSB, dapat menghambat keberlangsungan upaya tersebut di masa depan. 36 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Penilaian terhadap kondisi lingkungan internal maupun eksternal kampus menjadi sangat penting dalam inisiasi pembentukan KSB. Dalam penilaian awal, sangatlah penting bagi perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengumpulkan data-data terkait sejarah perkembangan lingkungan, sejarah, dan risiko bencana yang berkontribusi terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal kampus. Konsistensi Relawan Melawan “Kota Jakarta” Masyarakat Jakarta sebagai masyarakat metropolitan jelas memiliki karakter yang berbeda dari masyarakat di daerah pedesaan. Sulitnya mendapati masyarakat perkotaan yang dengan sukarela mau berpartisipasi dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan, merupakan satu problematika tersendiri di daerah urban seperti Jakarta. “Kalau warga diundang kegiatan Jumat bersih, mereka beralasan, ‘setiap hari juga menyapu rumah kok’. Kalau diminta gotong royong membersihkan selokan, alasannya, ‘Setiap saat juga dibersihkan kok’, ujar Muhartini, ketua RT 05, Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Menurutnya warga selalu memberikan berbagai macam alasan jika diajak berpartisipasi dalam kegiatan Kesehatan dan Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat (KPPBM) yang didukung oleh PMI. Kendati begitu sulit menarik partisipasi warganya, Muhartini tidak begitu saja menyerah. Ia memulai program kesadaran lingkungan justru dari diri sendiri, menjadikan dirinya sebagai contoh. Kelurahan Pejaten Timur seperti umumnya pemukiman padat di ibu kota Jakarta, terhimpit oleh permasalahan sanitasi buruk, Mandi Cuci Kakus (MCK) tidak mencukupi, tempat pembuangan sampah tidak memadai, selokan tidak berfungsi dan sungai yang mendangkal. Semua diperburuk dengan sulitnya menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi melakukan perubahan untuk lingkungan. Tetapi, masih ada secuil harapan yang bisa didapat dari orang-orang yang konsisten seperti Muhartini beserta beberapa relawan lain yang masih aktif. Merekalah yang bisa melawan karakter negatif orang kota, dan membuktikan masyarakat metropolitan bisa menjadi ‘peduli lingkungan’. (Soemantri, 2012) KAMPUS SIAGA BENCANA 37
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 4. Keragaman Budaya dan Usia Pendekatan multiancaman yang terintegrasi dalam setiap program PRB juga selayaknya mempertimbangan isu-isu terkait dengan keragaman budaya dan usia. Mengingat fakta bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya yang sangat tinggi, maka isu ini akan menjadi sangat penting dalam pertimbangan desain upaya mitigasi di setiap program PRB. Demikian pula dengan kelompok usia yang tak luput dari pertimbangan, hal ini perlu disadari karena setiap kelompok usia memiliki ketahanan dan kapasitas yang berbeda dalam menghadapi bencana. Memasukkan pertimbangan isu keragaman budaya dan usia dalam rencana kerja KSB tentunya menyempurnakan capaian hasil dari sasaran program KSB. Pemberdayaan Mereka yang Lanjut Usia dalam Pengurangan Risiko Bencana Sebagai sebuah organisasi dengan jaringan global, HelpAge International (Hall, 2007) percaya bahwa mereka yang lanjut usia mempunyai potensi untuk berdaya guna memimpin dan mengupayakan hidup sehat dan aman. Untuk itu HelpAge International melalui program pemberdayaan orang tua berupaya untuk memperjuangkan hak-hak orang tua terutama mereka yang kurang mampu secara ekonomi dan fisik, serta memberikan dukungan kepada mereka selama pengasuhan lintas generasi. Tsunami memiliki dampak yang mendalam pada semua orang yang tinggal di Aceh. Namun dampak tersebut pun dirasakan bervariasi berdasarkan kelompok usia. Dari hasil temuan di lapangan, dinyatakan bahwa sifat bantuan yang diberikan pada saat operasi bencana masih belum menganggap orang tua sebagai aktor untuk rehabilitasi dan pembangunan. Melalui kerjasama dengan mitra jaringannya di Banda Aceh, HAI melaksanakan program pemberdayaan orang tua melalui peningkatan kapasitas untuk memberikan pelayanan kesehatan ramah usia dan terhadap usia-usia tertentu sebagai bagian dari upaya program rekonstruksi tsunami. Kegiatan meliputi paket pelatihan dan pendidikan untuk relawan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan penjangkauan masyarakat untuk orang tua rentan dengan mobilitas yang terbatas. Untuk mendukung program ini, HAI juga mengembangkan toolkit yang digunakan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan orang tua dalam keadaan darurat. 38 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Narwani (60) mengungkapkan kekayaan yang dimilikinya sebelum terjadi tsunami; ia memiliki 11 ha lahan subur, 200 ekor sapi dan toko kelontong dengan penghasilan rata-rata US $7 per hari. Setelah Tsunami terjadi, dia kehilangan hampir semua ternak dan tokonya. Dengan dua putranya, dia telah kembali ke pertanian keluarga dan memulai merintis toko kelontongnya dengan dukungan dari kredit yang diberikan oleh sebuah organisasi lokal. “Hal ini sangat baik untuk saya, karena dapat membuat saya selalu sibuk dan menjadi salah satu cara saya menjaga diri untuk sehat sekaligus mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga saya”, ungkap Narwani bersemangat dan penuh percaya diri (HelpAge International, 2006). 5. Perspektif Gender Dalam Rencana Desain Pembentukan KSB Faktanya, perempuan dan laki-laki memiliki jenis kerentanan yang berbeda dan hal ini didukung oleh kapasitas yang berbeda-beda dalam menanggapi bencana serta akses terhadap sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu, risiko bencana dan perubahan iklim memberikan dampak yang nyata dan berbeda pada setiap kelompok rentan masyarakat; kelompok laki-laki, perempuan, serta anak perempuan dan laki-laki. Pengarusutamaan gender di semua kebijakan lembaga dan program PRB untuk mengatasi akar permasalahan terjadinya kerentanan berbasis gender adalah penting untuk menjadi bahan pertimbangan. Saat ini gender dipastikan selalu terintegrasi dalam setiap kebijakan terkait penanggulangan bencana, perencanaan dan proses pengambilan keputusan termasuk penilaian risiko, peringatan dini, manajemen informasi dan pendidikan/pelatihan. Perhatian khusus pada peran dan prioritas laki-laki dan perempuan yang berbeda dalam upaya mengurangi risiko bencana akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan. Dalam prosesnya, KSB diharapkan mampu menjamin penggunaan analisis gender dan data terpilah berdasar jenis kelamin untuk menentukan sasaran sumber daya dan memberikan bobot seimbang terhadap hak dan kapasitas laki-laki dan perempuan. Akses terhadap informasi PRB dan pengambilan keputusan terhadap upaya-upaya PRB dalam pembentukan KSB dan rencana aksi kedepannya adalah salah satu contoh yang dapat dipraktikkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. KAMPUS SIAGA BENCANA 39
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Rintisan ‘Kemandirian’ Perempuan Punge Jurong Gampong Punge Jurong, Banda Aceh, merupakan salah satu area kerja program dukungan psikososial (PSP) paskatsunami. Program ini merupakan kerjasama PMI dan Palang Merah Amerika. Program yang melayani sekitar 130 ribu individu di 122 desa dan 126 sekolah di Banda Aceh dan Aceh Besar sebenarnya telah berakhir, tetapi di gampong yang ditinggali ibu-ibu aktif warga Punge Jurong ini geliat aktivitas masih terasa. Selain meninggalkan pengetahuan dan keterampilan dalam kegiatan teknis, antara lain membuat sulaman hiasan khas Aceh dan membuat kue, program PSP telah membentuk rasa kebersamaan yang kuat di kalangan perempuan. Rasa kebersamaan ini didasarkan pada rasa kehilangan yang sama, dan program PSP memfasilitasi mereka untuk berbagi rasa secara berkelompok dalam berbagai aktivitas. Terdorong oleh keinginan untuk saling mendukung, sebuah koperasi simpan pinjam dengan nama “Koperasi Wanita Mawaddah” pun terbentuk. Sampai pada bulan Juli 2011, koperasi ini telah beroperasi selama enam bulan dengan beranggotakan 50 perempuan dan memiliki omzet Rp 9.000.000. Keinginan perempuan Punge Jurong sebenarnya sederhana, yaitu koperasi ini secara eksklusif dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan tambahan keluarga. Tetapi ternyata keberadaannya menjadi sebuah bukti rasa kebersamaan dan kepercayaan yang telah kuat terbangun di Gampong yang rusak cukup parah karena tsunami ini. Para ibu kini tidak hanya sudah pulih, tetapi sedang merintis sebuah kemandirian (Soemantri, 2012). 6. Adaptasi Perubahan Iklim (API) Satu hal yang perlu dipahami adalah tanpa pemahaman dan adaptasi terhadap perubahan iklim, kejadian bencana yang mengancam masyarakat rentan seperti banjir, angin topan, akan berpotensi meningkatkan risiko bencana dalam skala besar. Saat ini tindakan-tindakan API umumnya sudah banyak diakui dan dilakukan oleh berbagai kelompok pemangku kepentingan yang mewakili pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Umumnya strategi API mengupayakan optimalisasi hasil dari peraturan dan struktur yang telah ada untuk diterapkan dalam program PRB berbasis masyarakat untuk memperkuat ketahanan masyarakat yang rentan akan dampak bencana dan perubahan iklim. 40 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Sama halnya dengan pengarusutamaan perspektif gender, pengarusutamaan API diharapkan mampu diintegrasikan sejalan dengan tujuan pembentukan dan rencana aksi KSB. Dengan demikian, masyarakat kampus/perguruan tinggi yang bersangkutan dapat menjadi bagian sebagai pelaku utama implementasi API yang terintegrasi dalam upaya penguatan kapasitas ketahanan PRB di lingkungan kampus maupun masyarakat luar kampus. UNNES, Universitas Konservasi Jika universitas lain berlomba-lomba menamakan dirinya sebagai Universitas Riset, maka tidak demikian dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES). UNNES bersiap diri untuk mendeklarasikan diri sebagai Universitas Konservasi, sebagai wujud pengalaman Tri Dharma Perguruan Tinggi. Universitas Konservasi yang dimaksud adalah UNNES tidak hanya bertujuan mencetak generasi muda yang berkualitas, tetapi dalam tujuan tersebut lingkungan sekitar juga menjadi faktor penentu. Salah satu bentuk nyata UNNES dalam memperhatikan kehidupan sekitar kampus adalah melalui pembangunan dua embung (telaga) yang airnya berasal dari limbah rumah tangga yang telah mengalami proses penjernihan dengan teknologi sederhana. Pembangunan embung tersebut menjadi sumber air bagi kehidupan masyarakat sekitar kampus pada saat musim kemarau. Keterlibatan rektor sebagai pelopor gerakan konservasi, dinyatakan sebagai bentuk semangat dari pelaksanaan program ini, demikian juga dengan keterlibatan dosen, mahasiswa, dan keluarga kampus tidak terkecuali. Wujud lain bentuk nyata program ini, UNNES juga telah memanfaatkan teknologi IT dalam melaksanakan perkuliahan sebagai upaya penghematan penggunaan kertas. Upaya ini dianggap efektif karena dalam satu bulan UNNES mampu menghemat 4 rim kertas dari 5 rim kertas per bulannya. Kedepannya UNNES juga akan memberlakukan area bebas kendaraan bermotor di beberapa bagian area kampus. Program yang akan dikembangkan kedepannya diantaranya: Conservation of Biodiversity, Environmental Management, Green Space Management, Green Architecture, Green International Transportation, Waste Management, Paperless Policy dan Green Policy. Pengembangan Sumber Daya Manusia juga akan dilakukan melalui pembentukan kader konservasi di setiap fakultas sebagai salah satu strategi keberlanjutan (Gemari, 2010). KAMPUS SIAGA BENCANA 41
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 7. Kelompok Rentan Kampus Siaga Bencana senantiasa memastikan bahwa kelompok rentan seperti kaum perempuan, anak-anak, ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS), dan masyarakat berkebutuhan khusus bukan hanya menjadi pihak yang menerima manfaat langsung dari program atau kegiatan namun juga memiliki kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dalam pembuatan keputusan. Pemahaman dan kesepakatan peran dari setiap jenis dan lapisan masyarakat akan menjadi fondasi kuat dalam setiap kegiatan perencanaan dan pelaksanaan KSB. Konsep ini akan menjadi bagian yang menyatu dalam peningkatan kesadaran di setiap tingkatan kegiatan. Peraya, Ujung Tombak Pencegahan HIV dan AIDS Di Kalangan Remaja “Ternyata HIV dan AIDS masalah remaja, tetapi kok remajanya malah gak sadar?” demikian ungkapan keheranan Noviyanti tiga tahun silam setelah mengikuti pelatihan Pendidik Remaja Sebaya (PERAYA) PMI Cabang Jakarta Timur. Fakta bahwa penyebaran HIV dan AIDS cukup tinggi di kalangan remaja dan pengguna narkoba dengan jarum suntik adalah salah satu kelompok berisiko tinggi membuatnya terhenyak. Karena itu menjadi anggota Peraya menurut Noviyanti bukanlah sekedar untuk mengisi waktu, tetapi telah menjadi sebuah keharusan. Novi, tidak hanya menyebarkan informasi HIV dan AIDS di seputar wilayah kerja yang menjadi tanggungjawabnya yaitu daerah Rawa Bunga, Prumpung. Pada setiap kesempatan yang memungkinkan, informasi dan pendidikan mengenai HIV dan AIDS sering sengaja ia jadikan topik pembicaraan di kalangan teman sebayanya. Pola komunikasi serupa juga dilakukan oleh Remon di wilayah kerja yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya, Pulo Gebang. Perilaku seks bebas di kalangan remaja dan pemakaian narkoba jarum suntik adalah dua faktor yang membuat daerah tersebut berisiko tinggi terhadap penyebaran HIV dan AIDS. Pemahaman yang lebih baik mengenai HIV dan AIDS di antara teman sebayanya memang tidak serta merta menghentikan perilaku berisiko. Menurut Remon paling tidak mereka sudah mengenal penggunaan kondom sebagai pencegahan dan menjadi lebih peduli pada masalah kesehatan reproduksi. 42 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Berkordinasi dengan pihak kelurahan yang dijadikan area target, PMI Cabang Jakarta Timur telah merekrut 66 orang remaja dan melatih mereka menjadi Peraya. Peraya diharapkan memiliki kapasitas untuk menjadi penyuluh dan penyampai informasi mengenai HIV dan AIDS, kesehatan reproduksi bahkan isu yang penting lain di kalangan remaja di wilayah dampingannya. Program yang didukung oleh Palang Merah Belanda ini diimplementasikan sejak tahun 2006 di sepuluh kecamatan yang meliputi 60 kelurahan di Jakarta Timur dan berakhir 2010. Para peraya menyadari bahwa pendekatan yang mereka lakukan dinilai efektif, karena remaja sering hanya terbuka kepada teman sebayanya. Semangat itu mendasari upaya nyata pencegahan penyebaran HIV dan AIDS di kalangan remaja. Dan Peraya adalah ujung tombaknya (Soemantri, 2012). 8. Partisipasi Masyarakat dan Relawan Masyarakat yang kuat, berdayaguna dan berkesinambungan adalah sebuah kunci penting pembangunan dalam tujuannya mencapai keberhasilan positif dalam segala sektor; ekonomi, sosial dan budaya. Partisipasi masyarakat aktif adalah kunci keberhasilan dari pembangunan masyarakat yang bertahan dan berdayaguna. Dalam kaitannya dengan upaya-upaya pengurangan risiko, partisipasi mereka yang dilandaskan atas kesukarelaan dalam setiap upaya PRB tersebut akan menciptakan nilai-nilai berharga baik bagi diri mereka sendiri maupun anggota masyarakat dimana mereka bernaung. Selain itu tentunya memberikan kesempatan untuk masyarakat rentan untuk aktif berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan akuntabilitas upaya PRB. Pembentukan KSB tentunya diharapkan tetap mengindahkan keterlibatan masyarakat dan relawan (desa/kelurahan/kampus). Mengingat bahwa masyarakat (rentan) adalah target penerima manfaat dari setiap upayaupaya PRB, maka KSB akan berdaya guna secara optimal bila terjalin kemitraan dan partisipasi yang tinggi dari semua komponen masyarakat/ relawan. KAMPUS SIAGA BENCANA 43
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Dukungan masyarakat terhadap KSB akan menjadi penting, mengingat kedepannya masyarakat adalah salah satu target penerima manfaat dari pembentukan KSB. Partisipasi masyarakat/relawan dapat pula ditingkatkan dalam hal pelaksanaan maupun pemantauan dan evaluasi. Bergotong-royong Membentengi Diri Terhadap Bencana Desa Morba, Kecamatan Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan pembangunan bronjong dengan panjang total 140 meter dan tanggul sepanjang 120 meter di empat titik rawan banjir di sepanjang Sungai Kikiray. Sungai yang membelah desa berpenduduk 1.303 kepala keluarga (KK) itu setiap tahun membawa permasalahan bagi warga di sebagian wilayahnya. Pada musim kemarau sungai ini cenderung kering, tetapi kondisinya sangat kontras ketika musim hujan. Saat hujan di atas bukit selama kurang lebih satu hari saja, serangan banjir tidak terelakkan lagi. Berbagai upaya pencegahan telah dilakukan oleh masyarakat desa. Salah satunya dengan melakukan penanaman bambu di bantaran sungai, tetapi ternyata belum berhasil menahan banjir. Desa Alila dan Kelurahan Adang, di Kecamatan Alor Barat Laut juga mempunyai permasalahan serupa. “Coba kalau banjir datang berselang 5-6 tahun sekali mungkin bisa, tetapi banjir datang setiap tahun, buluh bambu belum tumbuh besar sudah terbawa banjir”, tutur Levinus T. Han, anggota tim SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) Desa Adang. Masyarakat, tim Sibat, pemerintah desa dan Korps Sukarela (KSR) melakukan pemetaan ancaman, kerentanan, risiko, dan kapasitas sesuai kondisi desa masing-masing. Hasil dari musyawarah bersama tersebut disepakati membangun bronjong dan tanggul sungai pencegah bencana banjir di titik-titik rawan. Mitigasi ini adalah langkah utama dari serangkaian kegiatan program PERTAMA kerjasama PMI dan Palang Merah Belanda, sejak bulan Maret 2008. 44 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Tidak sulit memobilisasi masyarakat yang secara sukarela bekerja bersama membangun tanggul dan bronjong di tiga desa tersebut. Masyarakat sadar bahwa semua itu untuk membentengi mereka dari bencana banjir. Kini sebagian besar pembangunan telah selesai. Tetapi upaya pengurangan risiko bencana di Desa Morba, Alila dan Kelurahan Adang tentu tidak berhenti pada pembangunan mitigasi saja. Program PERTAMA boleh jadi menginisiasi serangkaian upaya tersebut. Tetapi swadaya masyarakat dan kegotongroyongan yang sangat kuatlah yang sebenarnya akan terus menjadi benteng yang kokoh terhadap bencana (Soemantri, 2012). 9. Mobilisasi Sumber Daya Faktor ketidakpuasan dan keinginan untuk mengubah kondisi (kerentanan dan kemiskinan) menjadi salah satu indikator dalam gerakan sosial yang tidak terlepas dari mobilisasi sumber daya. Tindakan kolektif akan dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat dalam upayanya melakukan sebuah perubahan sosial dan meningkatkan kondisi mereka. Terkait dengan upaya PRB, pihak berwenang diharapkan dapat memberdayakan dan mengelola seluruh sumber daya yang ada di tingkat lokal untuk mendukung kapasitas masyarakat dalam upayanya keluar dari kondisi kerentanan yang menjadi ancaman ketika bencana terjadi. Dalam hal ini, adalah sangat penting bagi rencana kerja KSB memahami aspek-aspek dalam pengerahan sumber daya maupun pemberian akses bagi setiap individu terhadap sumber daya karena komponen kampus diharapkan menjadi pihak terdepan bersama-sama dengan aktor penanggulangan bencana lainnya dalam memberikan respon ketika bencana terjadi maupun pada upaya kesiapsiagaan. KAMPUS SIAGA BENCANA 45
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Kampus Siaga Bencana di UNIMUS Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) merupakan salah satu yang memasukkan materi kebencanaan dalam kegiatan kemahasiswaannya. Pada tanggal 16 Juni 2012 lalu, sebanyak 30 mahasiswa UNIMUS mengikuti pelatihan tanggap darurat bencana. Kegiatan yang dipromotori oleh BEM FKM ini dilaksanakan di gedung rektorat Jl. Kedungmundu Raya 18, Semarang. Pengetahuan kebencanaan, PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) serta penanganan musibah kebakaran adalah beberapa materi yang diberikan pada pelatihan tersebut. BPBD Provinsi Jawa Tengah dan SARDA Jateng adalah pemateri yang ditunjuk oleh pihak universitas untuk membawakan materi selama pelatihan berlangsung. Beberapa praktik pelatihan yang harus dilakukan peserta selama pelatihan antara lain melakukan praktik transportasi dan evakuasi korban serta praktik memadamkan api. Selain itu, peserta juga diminta untuk memasang tanda dan petunjuk jalur-jalur evakuasi di dalam gedung rektorat. Bapak Sahyono selaku wakil dekan FKM mengatakan, “Pelatihan seperti ini sangat berguna bagi mahasiswa dan bagi UNIMUS sendiri, supaya warga UNIMUS peduli dan lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana.” Iva Khunul selaku ketua panitia mengatakan “Dengan adanya pelatihan memacu semangat civitas akademika untuk bisa lebih tanggap bencana sesuai tema dalam kegiatan tersebut, yaitu Pelatihan dan simulasi penanganan darurat bencana pada mahasiswa” (http://sarda-jateng.blogspot.com). 46 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • PARAMATER KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana BAB III PARAMATER KAMPUS SIAGA BENCANA Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya maka upaya PRB merupakan tanggung jawab bersama elemen bangsa. Perguruan tinggi merupakan komponen bangsa tempat bernaung para pelopor perubahan yang mampu berkontribusi lebih luas, diantaranya berfungsi dalam hal pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat (Tri Dharma Perguruan Tinggi). Disisi lain, kampus juga merupakan bagian dari elemen masyarakat yang melekat dengannya sebuah hak dan kewajiban yakni hak perlindungan dan memperoleh rasa aman. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, tujuan adanya kampus yang siaga bencana selaras dengan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana1 , bahwa masyarakat berhak memperoleh pendidikan, pelatihan, dan keterampilan serta informasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Oleh karenanya, guna memastikan bahwa suatu kampus telah memenuhi unsur-unsur atau dapat dikategorikan sebagai KSB, maka diperlukan suatu alat analisis pengukuran berupa parameter. A. Parameter Kampus Siaga Bencana (KSB) 1. Kebijakan terkait Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Adanya kebijakan akan mendukung keseluruhan proses pelaksanaan dan keberlanjutan KSB. Kebijakan juga memberikan akses untuk menjalin jejaring dan kerjasama, serta advokasi kepada para pemangku kepentingan. 1 Undang-Undang Nomor 24, tahun 2007, tentang ; Penanggulangan Bencana, BAB V, Pasal 26 ; tentang hak dan kewajiban masyarakat 48 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 2. Pe n i n g ka t a n Pe n g e t a h u a n , S i ka p , d a n K e t e ra m p i l a n d a l a m Pengurangan Risiko Bencana Pengetahuan, sikap dan keterampilan komponen kampus akan menentukan tingkat kapasitas dan risiko yang dihadapi. Semakin meningkat kapasitas yang dimiliki, maka akan semakin minimal risiko yang dihadapi. Apabila lingkungan kampus mempunyai kapasitas yang kuat, maka komponen kampus dapat mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat sekitar untuk meningkatkan ketahanan menghadapi bencana dan melakukan upaya pengurangan risiko. 3. Mobilisasi Sumber Daya Penyiapan sumber daya baik berupa manusia, sistem, perlengkapan, material, maupun dana diperlukan untuk mendukung pelaksanaan KSB. Sumber daya tersebut tentunya dapat diupayakan secara mandiri maupun melalui kerjasama dengan pihak terkait. 4. Kemitraan Kemitraan dalam konteks KSB adalah untuk membangun partisipasi dan kemitraan internal dan eksternal kampus. Kemitraan bertujuan untuk menjalin dan meningkatkan kerja sama antara komponen kampus dengan stakeholder terkait PRB yang strategis untuk keberlanjutan KSB. B. Indikator Pencapaian Parameter Pencapaian terhadap parameter menjadi sebuah kunci terpenting untuk mengetahui pencapaian dan/atau keberhasilan dari KSB. Untuk itu pencapaian terhadap parameter perlu diuraikan secara jelas agar semua pihak lebih dapat memahaminya secara komprehensif. Tabel di bawah ini merupakan penjelasan secara umum mengenai indikator untuk setiap parameter, yang dapat dikembangkan secara terperinci. KAMPUS SIAGA BENCANA 49
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Tabel 5 : Indikator Pencapaian Parameter No Parameter Indikator Verifikasi Dokumen kebijakan, kesepakatan dan/atau peraturan kampus yang • Surat edaran memuat dan/atau • Surat keputusan mendukung upaya PRB kampus Kegiatan PRB yang • Proposal diintegrasikan dalam • Rencana kerja kegiatan kampus • Laporan kegiatan • Tupoksi tim pengarah dan pelaksana • Adanya SOP tanggap darurat bencana yang dikaji ulang dan 1. dimutakhirkan secara Kebijakan PRB rutin dan partisipatif. • Adanya pedoman evakuasi dan Sistem dan prosedur yang mendukung upaya PRB penanganan darurat bencana, termasuk peta dan alur evakuasi, serta titik lokasi aman • Adanya dokumen kebijakan kampus yang memuat dan/ atau mengadopsi persyaratan konstruksi bangunan dan panduan retrofit yang ada atau yang berlaku 50 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana • Adanya rencana kontijensi tanggap darurat bencana yang dikaji ulang dan dimutakhirkan secara Sistem dan prosedur yang mendukung upaya PRB rutin dan partisipatif • Adanya sistem peringatan dini yang telah diuji • Daftar perlengkapan keamanan dan keselamatan • Database anggota komponen kampus Adanya anggota komponen kampus yang terlatih dalam PRB yang terlatih dalam PRB • Evaluasi pelaksanaan kegiatan • Pelaporan • Dokumentasi Peningkatan Pengetahuan, 2. Sikap, dan Keterampilan dalam PRB Adanya perubahan Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan warga kampus terhadap PRB • Survei awal • Survei akhir • Laporan • Rencana aksi PRB • Rencana kontijensi Kegiatan PRB yang • Akses kegiatan dan dilaksanakan berdasarkan informasi untuk hasil analisis risiko kelompok rentan dan berkebutuhan khusus • Laporan kegiatan KAMPUS SIAGA BENCANA 51
    • Panduan Kampus Siaga Bencana • Dokumen Kajian tentang Ancaman, penilaian risiko Kerentanan, Kapasitas, bencana yang disusun Risiko bencana yang terjadi secara berkala sesuai di lingkungan kampus dan dengan kerentanan daerah sekitarnya kampus • Peta risiko Adanya motor penggerak • Surat keputusan tim mekanisme pengarah dan penyelenggaraan pelaksana terkait PRB penanggulangan bencana di kampus • Database perlengkapan dasar dan suplai kebutuhan Jumlah dan jenis perlengkapan, suplai dan komponen kampus pada kebutuhan dasar pada saat bencana saat bencana yang dimiliki seperti: alat kampus. 3. dasar yang diakses oleh Pertolongan Pertama Mobilisasi sumber daya dan evakuasi, terpal, tenda dan sumber air bersih, dll • Rencana tanggap darurat Kampus memiliki • Rencana kesiapsiagaan rencana untuk mengguna- • Simulasi kan sumber daya kampus • Program dalam melaksanakan upaya pemberdayaan PRB di lingkungan kampus masyarakat (KKN, PPL, dan masyarakat KPPBM, PERTAMA, dll) • Dokumentasi dan daftar hadir 52 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Bangunan kampus yang berkarakteristik sebagai berikut: • Struktur bangunan sesuai dengan standar bangunan aman bencana Adanya bangunan kampus yang aman terhadap bencana. • Tata letak dan desain ruangan yang aman • Tata letak dan desain yang aman untuk penempatan sarana dan prasarana kampus • Adanya kajian tingkat keamanan dan kerentanan konstruksi bangunan terhadap bencana Mekanisme koordinasi dan kerjasama antara pihak kampus dengan pihak-pihak 4. Kemitraan • Jumlah kegiatan advokasi/sosialisasi lain terkait PRB • Nota kesepahaman (Pemerintah, BNPB/BPBD/ • Laporan kegiatan BPBA, PMI dan perangkat • Notulensi pertemuan kampus di lingkungan • Evaluasi kerja maupun di luar kampus) KAMPUS SIAGA BENCANA 53
    • SIKLUS KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana BAB IV SIKLUS KAMPUS SIAGA BENCANA Pengelolaan dan pengembangan Kampus Siaga Bencana (KSB) membutuhkan dukungan dan partisipasi intensif dari seluruh komponen perguruan tinggi, mitra, dan institusi terkait. Bentuk-bentuk dukungan dan partisipasi dirancang dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan parameter keberhasilan KSB, melalui tahapan siklus sebagai berikut: Gambar 5. Siklus KSB 56 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana A. Tahapan Persiapan Kematangan persiapan dan kesiapan internal institusi menentukan keberhasilan pengelolaan, pengembangan, dan keberlanjutan KSB. Secara umum persiapan dapat dibagi dalam tiga tahapan strategis, yakni Penguatan Sumber Daya Institusi, Membangun Kemitraan, serta Sosialisasi dan Advokasi. 1. Penguatan Sumber Daya Institusi Sebagai tahap awal, insitusi baik perguruan tinggi maupun pihak-pihak yang mempunyai komitmen untuk melakukan upaya PRB di kampus, perlu melakukan penguatan sumber daya institusi dengan cara: a. Analisis Kapasitas Institusi Masing-masing institusi mengidentifikasi faktor kekuatan dan kelemahan di dalam institusi yang akan berdampak pada pengelolaan dan pengembangan KSB, serta peluang dan hambatan yang berasal dari luar institusi yang mempengaruhi pencapaian tujuan KSB. Sumber daya manusia, keuangan, fasilitas, daya saing, mitra potensial, dan sistem merupakan beberapa komponen untuk membuat analisis kapasitas institusi. Adapun salah satu cara yang dapat digunakan untuk melakukan analisis kapasitas institusi adalah analisis SWOT (Strenght/ kekuatan, Weakness/kelemahan, Opportunity/Kesempatan, dan Threat/ Tantangan), yang telah diterapkan oleh beberapa institusi. b. Penentuan Strategi Berdasarkan hasil analisis kapasitas institusi, maka dapat ditentukan strategi yang akan diterapkan untuk melakukan upaya PRB. Strategi bersifat jangka panjang, berkesinambungan, berkelanjutan, dan memperhatikan kebutuhan lintas sektoral. Strategi KSB akan dijelaskan lebih terperinci pada Bab V. c. Penyiapan Sumber Daya Identifikasi kebutuhan sumber daya merupakan penjabaran dari strategi. KAMPUS SIAGA BENCANA 57
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Hal ini mencakup kebutuhan-kebutuhan antara lain kebijakan, SDM, pendanaan, identifikasi sumber dana baik dari donor, dana mandiri, maupun dana bersama dari kemitraan, sistem, jenis kegiatan, dokumen, tim pelaksana, perlengkapan, dan menentukan durasi waktu pelaksanaan. 2. Membangun Kemitraan Membangun hubungan antar institusi diperlukan untuk memastikan ketersediaan sumber daya dan dukungan para pihak. Identifikasi mitra potensial, identifikasi peran dan tanggung jawab setiap mitra, dan identifikasi bentuk dukungan dari setiap mitra merupakan langkah-langkah membangun kemitraan. Dalam membangun kemitraan, perlu memperhatikan beberapa prinsip umum sebagai berikut: a. Mengedepankan kesetaraan, kebersamaan, dan saling menguntungkan b. Menjunjung asas musyawarah untuk mufakat dalam setiap pengambilan keputusan c. Menghargai keberadaan lembaga masing-masing Beberapa bentuk kerjasama kemitraan yang dapat dibangun antara lain: a. Penyediaan tenaga ahli, materi pendidikan dan pengajaran b. Penyelenggaraan kerjasama di bidang manajemen c. Penyelenggaraan kerjasama dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat d. Penyelenggaraan kerjasama pendanaan e. Bentuk-bentuk kerjasama lain yang berkaitan dengan pelaksanaan KSB sesuai dengan kegiatan yang tertuang dalam pedoman ini PMI sebagai salah satu mitra dapat menyediakan dukungan teknis dalam hal pelatihan, penyediaan SDM, penyusunan pedoman, maupun pelaksanaan program terpadu, dengan pelibatan tim pelaksana perguruan tinggi dan PMI kabupaten/kota dan/atau PMI provinsi. 58 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 3. Sosialiasi dan Advokasi Untuk menyebarluaskan gagasan, komitmen, dan rancangan KSB, serta mendapatkan dukungan yang lebih luas, maka proses sosialisasi dan advokasi dilakukan antara lain dengan cara: a. Pertemuan dengan para pemangku kepentingan untuk menentukan diterimanya konsep KSB. Promosi dan pelibatan organisasi/lembaga/badan terkait dan para pemangku kepentingan yang lebih tinggi, seperti yayasan pemilik perguruan tinggi, Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI) dan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah dibutuhkan dan perlu dilakukan. Hal ini dapat ditindaklanjuti dengan pembentukan tim pelaksana yang mengawal pelaksanaan KSB dan tahapan selanjutnya. Dengan demikian pemahaman bersama terhadap kebutuhan, tujuan dan manfaat KSB sedapat mungkin dapat terbangun di tahapan ini. b. Lokakarya atau seminar untuk mempromosikan konsep KSB, berbagi informasi, membangun kesamaan pemahaman, dan memperkuat partisipasi. Kegiatan ini ditujukan kepada seluruh warga kampus yang dapat mempengaruhi perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan upaya pengurangan risiko, serta sasaran utama (sasaran primer) KSB. Contoh Tahapan dari Rektorat 1. Kebijakan rektorat terkait Kampus Siaga Bencana (KSB) Rektorat sebagai pemegang kebijakan tertinggi di kampus merupakan penentu keberhasilan utama pelaksanaan KSB. Kebijakan rektorat berupa surat keputusan yang menyatakan dukungan pengarusutamaan isu pengurangan risiko bencana dalam kegiatan-kegiatan di kampus, baik dalam kegiatan kemahasiswaan, akademik maupun menjadi bagian kegiatan pengabdian masyarakat oleh kampus, dibutuhkan sebagai rujukan formal kegiatan-kegiatan KSB. KAMPUS SIAGA BENCANA 59
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 2. Pembentukan tim kerja oleh gabungan warga kampus Untuk memastikan terlaksananya KSB, kampus membentuk tim kerja, yang terdiri dari tim pengarah dan tim pelaksana. Tim pengarah beranggotakan para pengambil kebijakan di kampus, sedangkan tim pelaksana beranggotakan perwakilanperwakilan warga kampus baik mahasiswa, dosen, karyawan, dan penyedia jasa layanan di kampus. 3. Proses siklus Bekerjasama dengan PMI dan lembaga swadaya masyarakat pelaku pengurangan risiko bencana, kampus memulai melaksanakan kegiatan KSB dengan melakukan identifikasi dan penilaian ancaman, kerentanan, risiko, dan kapasitas di kampus. Penilaian ini dapat mencakup sumber daya manusia dan sumber daya lainnya seperti kondisi lingkungan, struktur dan infrastruktur di kampus dan lingkungan sekitar kampus. Penilaian ini perlu juga didukung oleh survei tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan warga kampus dan masyarakat sekitar kampus berkait dengan isu kebencanaan dan pengurangan risikonya. B. Siklus Kampus Siaga Bencana (KSB) Proses untuk membentuk KSB dapat dilaksanakan secara berurutan sesuai dengan siklus Gambar 5. Adapun proses pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1. Penilaian dan analisis secara partisipatif Penilaian dan analisis Ancaman, Kerentanan, Risiko, dan Kapasitas merupakan titik awal untuk merancang KSB yang sesuai dengan kebutuhan. Proses ini perlu mempertimbangkan keterlibatan warga kampus serta lembaga yang terkait serta keterwakilan yang setara antara peran perempuan dan laki-laki maupun yang berkebutuhan khusus. Hal ini dilakukan untuk menganalisis bencana yang mengancam komunitas di lingkungan perguruan tinggi, menganalisis kerentanan, risiko yang kemungkinan timbul, dan kapasitas yang dimiliki komunitas perguruan tinggi serta masyarakat sekitar kampus untuk mengurangi risiko bencana. 60 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Hasil penilaian, dan analisis Ancaman, Kerentanan, Risiko dan Kapasitas dapat digunakan antara lain untuk: a. Mendapatkan gambaran tingkat ancaman, kerentanan, risiko, dan kapasitas yang ada di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar kampus; b. Mempermudah proses pengambilan keputusan; c. Mengidentifikasi kebijakan-kebijakan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan KSB; d. Merancang intervensi untuk mencapai indikator perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan; e. Sebagai bahan penyusunan rencana aksi. Metode dan alat/instrumen penilaian dan analisis Ancaman, Kerentanan, Risiko dan Kapasitas telah diterapkan dan dikembangkan oleh para ahli dan institusi yang bergerak di bidang PRB. Metode dan alat tersebut, diantaranya: a. Informasi sekunder b. Baseline survey termasuk baseline Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan (KAP) c. Diskusi kelompok terfokus d. Wawancara semi-terstruktur e. Observasi langsung f. Assessment g. Pemetaan h. Diagram venn hubungan internal dan eksternal 2. Perumusan Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana Sebagaimana telah disebutkan bahwa salah satu hasil penilaian dan analisis Ancaman, Kerentanan, Risiko dan Kapasitas menjadi dasar dalam menentukan rencana aksi pengurangan risiko di perguruan tinggi, yang dapat diintegrasikan ke dalam setiap kegiatan yang sudah ada, maupun bersinergi dengan kegiatan para mitra. Rencana aksi disiapkan dan disusun oleh komunitas kampus dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki, yang selanjutnya dimonitor langsung oleh para komunitas kampus, dan dilaksanakan secara transparan dan akuntabel. KAMPUS SIAGA BENCANA 61
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Rencana aksi PRB tidak hanya terdiri dari kegiatan struktural, tetapi juga non-struktural yang menjangkau dan berdampak pada komunitas kampus dan masyarakat sekitarnya dalam bentuk peningkatan kapasitas, pengetahuan, sikap, dan keterampilan, yang isinya mengarah pada: a. Rumusan kebijakan dan aturan perguruan tinggi untuk mendukung pelaksanaan, keberlanjutan dan kemandirian kampus untuk mengelola dan mengembangkan KSB. b. Rumusan kebijakan dapat berupa (a) Surat Keputusan (SK), (b) Nota Kesepahaman (MoU) dengan pihak mitra berkaitan dengan pelaksanaan KSB. c. Rencana kegiatan PRB jangka pendek, menengah, dan panjang yang mewadahi rencana aksi untuk upaya PRB baik di wilayah kampus maupun di masyarakat. d. Pembagian peran dan tugas tiap stakeholder. e. Rencana penguatan kapasitas. f. Rencana penguatan kapasitas dapat berupa rencana pelatihan maupun workshop dan seminar untuk penguatan kapasitas warga kampus dalam pelaksanaan dan keberlanjutan KSB. g. Rencana mitigasi. Merupakan suatu rencana yang disusun untuk mengurangi risiko bencana yang sudah teridentifikasi baik berupa kegiatan nonstruktural maupun struktural. Pada umumnya, mitigasi struktural berupa renovasi atau perbaikan bangunan fasilitas kampus untuk memastikan terjaminnya keamanan dan keselamatan warga kampus, maupun perangkat ‘Sistem Peringatan Dini’. Sedangkan mitigasi non-struktural dapat berupa upaya peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan kapasitas agar memiliki sumber daya lebih terampil, sehingga selalu siap siaga dan waspada terhadap kejadian bencana, yang dilakukan dalam bentuk pelatihan maupun pembuatan dokumen kebencanaan. 62 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana h. Rencana tanggap darurat. Rencana kegiatan yang dilakukan untuk menghadapi kejadiankejadian bencana serta menangani dampak buruk yang dialaminya, contohnya: penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) dan rencana simulasi bencana. i. Rencana kontijensi/kedaruratan perguruan tinggi. Suatu proses identifikasi dari penyusunan rencana, yang didasarkan pada suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan akan segera terjadi, tetapi mungkin juga tidak akan terjadi. j. Rencana pengarusutamaan PRB ke dalam kegiatan maupun program kampus. k. Rencana mobilisasi sumber daya internal dan eksternal. Merupakan rencana kegiatan yang direncanakan untuk memobilisasi sumber daya yang ada agar kegiatan upaya PRB di kampus dapat terlaksana. l. Rencana peningkatan kapasitas masyarakat. Merupakan rencana kegiatan yang dilaksanakan untuk peningkatan kapasitas masyarakat mengenai upaya PRB, contohnya: penyuluhan kesehatan dan pertolongan pertama. m. Rencana anggaran. n. Rencana pemantauan, evaluasi, dan pelaporan, termasuk mekanisme pelaksanaannya. o. Rencana-rencana aksi yang disesuaikan dengan kondisi kampus masing-masing. 3. Aksi Pengurangan Risiko Bencana Tahap ini merupakan pelaksanaan dari rencana aksi yang telah disepakati, dan dapat mengalami pengembangan kegiatan. Beberapa kegiatan aksi pengurangan risiko dan mitigasi yang dapat menjadi prioritas KSB adalah sebagai berikut: KAMPUS SIAGA BENCANA 63
    • Panduan Kampus Siaga Bencana a. Prabencana 1. 2. Melakukan upaya penyadaran bagi komunitas kampus dan masyarakat dalam bentuk kampanye pengurangan risiko, seminar, lokakarya, atau simulasi. Jenis kegiatan yang diperlukan, sebagaimana tercantum dalam lampiran. 4. Menyusun rencana evakuasi keselamatan dalam bentuk jalur evakuasi dan menentukan titik aman untuk berkumpul, yang mengakomodasi kelompok usia yang berbeda, gender, maupun komunitas berkebutuhan khusus. 5. Merumuskan SOP sesuai jenis bencana. 6. Menyepakati mekanisme peringatan dini. 7. Memastikan ketersediaan perlengkapan pertolongan dan keselamatan, diantaranya kit pertolongan pertama, dan alat komunikasi. 8. Mempromosikan kampus sebagai pusat informasi dan kegiatan PRB. 9. KAMPUS SIAGA BENCANA Melakukan pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi komunitas kampus dan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengurangi risiko bencana, tanggap darurat bencana, maupun sebagai penyuluh di masyarakat. Untuk mendukung hal ini, PMI telah mempunyai kurikulum, buku panduan pelatihan, paket pelatihan, maupun SDM pelatih untuk kebutuhan internal PMI, maupun eksternal. Adapun jenis diklat dan cakupan materi yang diperlukan untuk setiap komponen kampus, tercantum dalam lampiran. 3. 64 Melakukan penelitian, assessment, maupun studi baseline untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan, sehingga dapat menentukan intervensi yang akan diterapkan untuk mengurangi risiko bencana. Mengintegrasikan kegiatan pengurangan kurikulum, penelitian, kegiatan UKM, pengabdian masyarakat. risiko ke dalam maupun kegiatan
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 10. Menetapkan tim tanggap darurat yang terdiri dari perwakilan setiap komponen kampus. 11. Jejaring dan kerjasama antar perguruan tinggi untuk saling mendorong terwujudnya upaya PRB. b. Tanggap Darurat dan Pemulihan Pada saat terjadi bencana, seringkali kegiatan perkuliahan terganggu atau bahkan terhenti karena berbagai faktor, diantaranya, terputusnya akses komunikasi dan transportasi menuju kampus, bangunan dan perlengkapan kampus yang rusak, kampus digunakan sebagai tempat pengungsian sementara, maupun adanya korban jiwa dari unsur komunitas kampus. Berikut ini beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak bencana di lingkungan kampus: 1. Melakukan assessment cepat. 2. Merumuskan rencana tanggap darurat dan pemulihan. 3. Mengerahkan sumber daya baik manusia maupun perlengkapan yang ada pada setiap program studi untuk mendukung operasi tanggap darurat hinggap masa pemulihan. 4. Advokasi keamanan dan keselamatan kampus sebagai bagian dari pembangunan dan pengembangan gedung yang aman dari risiko bencana. KAMPUS SIAGA BENCANA 65
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Gambar 6. Penyuluhan pengurangan risiko bencana yang dilakukan mahasiswa Universitas Syiah Kuala kepada murid-murid sekolah dasar. 4. Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan Dalam perencanaan konsep KSB, rencana monitoring dan evaluasi dilakukan sejak awal proses untuk memastikan bahwa tujuan dan parameter KSB tercapai seperti harapan, yang kemudian tertuang dalam laporan berkala. Proses ini sebagaimana halnya tahapan sebelumnya, akan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan para pelaksana KSB maupun pihak eksternal. a. Pemantauan Pemantauan merupakan rangkaian kegiatan pengamatan terhadap berbagai kegiatan untuk memastikan bahwa strategi dan langkah yang ditempuh telah sesuai dengan perencanaan. Pemantauan dilakukan pada semua aspek kegiatan KSB dan bertujuan untuk menemukan tantangan, mencari alternatif pemecahan masalah, dan merekomendasikan langkah-langkah penyelesaian agar pelaksanaan berjalan secara efisien dan efektif, dan tepat waktu. 66 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Pemantauan secara rutin dilakukan pada periode pelaksanaan kegiatan, dengan menggunakan beberapa metode dan alat seperti tinjauan laporan, kuesioner, kunjungan lapangan berkala, wawancara, pengamatan, dan pertemuan koordinasi rutin yang dapat dilakukan oleh mahasiswa sendiri, rektorat, serta pihak eksternal seperti PMI, BPBD, DIKTI, dan instansi atau pihak terkait. b. Evaluasi Evaluasi dilakukan untuk membandingkan hasil pelaksanaan dengan rencana yang ditetapkan menurut parameter yang telah disepakati bersama. Evaluasi juga dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan, keterlibatan, dan peranan pelaksana. Hasil evaluasi juga berarti memberi kesempatan pada pihak lain untuk belajar dari pengalaman upaya PRB melalui KSB sebagai laporan kepada mitra yang telah bekerjasama, dan untuk membuat rencana KSB selanjutnya. Pelaksanaan evaluasi melibatkan tim, pihak yang bekerjasama, dan pihak yang mendapatkan manfaat (kelompok sasaran), yang dilakukan dengan cara diskusi, survei, wawancara, maupun melihat kembali hasil pemantauan. c. Pelaporan Pelaporan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting karena menjadi alat komunikasi antarpihak dalam memberikan informasi pencapaian keberhasilan, dan dapat menjadi referensi untuk mengembangkan kegiatan yang sama, dan sebagai bahan pengambilan keputusan. Laporan dibuat secara berkala dan berjenjang, dan menggunakan format yang disesuaikan dengan sasaran pengguna, yang mencakup hal-hal berikut ini: 1. Periode pelaporan. 2. Menjelaskan proses pelaksanaan kegiatan, yang mencakup perbandingan antara kemajuan terhadap perencanaan, hambatan, analisa ketidakberhasilan, serta rekomendasi. 3. Laporan narasi disajikan bersama dengan laporan keuangan. 4. Adanya keterkaitan dengan laporan sebelumnya, sehingga perkembangan dapat terpantau dan menjadi acuan pada saat menentukan langkah selanjutnya. KAMPUS SIAGA BENCANA 67
    • STRATEGI PELAKSANAAN DAN KEBERLANJUTAN KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana BAB V STRATEGI PELAKSANAAN DAN KEBERLANJUTAN KAMPUS SIAGA BENCANA A. Strategi Pelaksanaan Kampus Siaga Bencana Strategi KSB merupakan rencana yang menyeluruh dan terpadu mengenai upaya-upaya pemberdayaan dan peningkatan kapasitas dalam kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana yang akan dilaksanakan oleh perguruan tinggi. Untuk mewujudkan KSB, komponen perguruan tinggi diharapkan melakukan upaya proaktif untuk meminimalisasi dampak dan risiko bencana melalui strategi yang dapat dijelaskan berikut ini: 1. Pembinaan Sumber Daya Manusia Tujuan utama dari KSB adalah untuk memperkuat kapasitas warga kampus dalam kesiapsiagaan serta PRB. Perlu disadari bahwa setiap komponen memiliki fungsi dan tanggung jawab yang berbeda dalam kesiapsiagaan dan PRB. Pelaksanaan konsep ini membutuhkan keterlibatan aktif dari semua komponen seperti rektorat, dosen, mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa, staf, dan semua pihak yang berada di lingkungan kampus. Pembinaan SDM dilaksanakan melalui peningkatan kapasitas kampus yang terorganisasi dan komprehensif. Pemberdayaan komponen kampus dilaksanakan secara menyeluruh dan partisipatif dengan cara mendorong peran masing-masing komponen kampus untuk terlibat aktif dalam upaya kesiapsiagaan dan PRB. Pembinaan SDM ini juga mencakup pembinaan untuk kelompok rentan maupun berkebutuhan khusus. 70 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Salah satu sumber daya yang dibina oleh PMI di perguruan tinggi adalah Korps Sukarela (KSR). KSR adalah suatu unit kegiatan mahasiswa yang dijadikan wahana untuk keberlanjutan KSB dengan memaksimalkan fungsi KSR sebagai organisasi kader dalam menerapkan upaya–upaya kesiapsiagaan dan PRB. 2. Kemitraan Kemitraan serta kerja sama yang kuat antar semua pihak yang berkepentingan sangat menentukan pelaksanaan serta keberlanjutan KSB. Kemitraan tidak hanya ditekankan pada penyediaan dana, material, dan tenaga, namun juga dalam hal keterlibatan aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, penyusunan kebijakan, pemantauan, dan evaluasi, termasuk terhadap keberlangsungan program. Memperkuat kemitraan berarti juga membina komunikasi, koordinasi, dan kerjasama dengan berbagai disiplin dan profesi terkait baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, maupun pihak swasta. 3. Sosialisasi dan Advokasi Kesiapsiagaan dan PRB yang menjadi dasar penyelenggaraan KSB merupakan proses yang berkesinambungan dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Penting bagi setiap pemangku kepentingan di lingkungan kampus, Kementerian Pendidikan Nasional, PMI, dan pihak terkait untuk memahami upaya PRB, fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Untuk itu, advokasi dan sosialisasi berperan untuk menyamakan pemahaman, mendapatkan dukungan, dan keterlibatan berbagai pihak. 4. Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana KSB tentunya harus dapat memenuhi kebutuhan utama kampus terlebih dahulu agar dapat memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi kampus terkait dengan kegiatan PRB. KSB memadukan model, instrumen, metode, pendekatan, dan strategi dengan pengetahuan, sikap dan keterampilam yang dimiliki komponen kampus. KSB memanfaatkan cara-cara kampus untuk mengintegrasikan isu-isu PRB ke dalam kegiatan kampus, baik intra maupun ekstrakurikuler. KAMPUS SIAGA BENCANA 71
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Gambar 7. Latihan gabungan pertolongan pertama dan evakuasi korban bencana oleh UKM KSR-UNNES yang diikuti oleh mahasiswa umum (UKM dan BEM) B. Strategi Keberlanjutan Kampus Siaga Bencana Keberlanjutan suatu inisiatif seringkali menjadi masalah kunci dalam perjalanan pengembangan inisiatif tersebut. Terkait dengan keberlanjutan KSB, maka tujuan KSB tidak dirancang hanya terfokus pada kebutuhan jangka pendek, namun harus berorientasi jangka panjang. Hasil-hasil yang dicapai, semua elemen yang mendukung, serta strategi, pendekatan, model, instrumen, dan metode yang digunakan harus dilembagakan dan bisa dipakai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, mereka dapat menjaga, merawat, dan mengembangkan pelaksanaan KSB. Keberlanjutan juga berarti bahwa komponen kampus dapat melaksanakan kegiatan secara mandiri maupun mengembangkan kemitraan dengan pihak lainnya. 72 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Beberapa strategi dan kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap perguruan tinggi untuk keberlanjutan KSB adalah: 1. Menetapkan regulasi terkait KSB yang dapat digunakan sebagai landasan pelaksanaan inisiatif dan strategi KSB. 2. Meningkatkan citra perguruan tinggi serta mempublikasikan profil dan kinerja KSB kepada pihak eksternal. 3. Melakukan pembinaan dan pengembangan KSB secara berkesinambungan dan berkelanjutan melalui penetapan kerjasama dengan pemerintah maupun regulator pendidikan dan pelaksanan kegiatan PRB. Hal ini dimaksudkan agar setiap perguruan tinggi dapat mengerti, memahami, dan menerapkan konsep KSB dengan tepat, seperti misalnya memasukkan KSB dalam salah satu aplikasi kegiatan kurikuler (KKN, PKL, PPL) maupun ekstrakurikuler dalam kebijakan perguruan tinggi. 4. Menghubungkan perguruan tinggi dengan sponsor terkait. 5. Menjaga hubungan dengan mitra dan jejaring. 6. Memaparkan manfaat mitra dan jejaring terhadap bantuan yang telah diberikannya kepada perguruan tinggi bahwa kehidupan masyarakat kampus menjadi lebih aman, tangguh dan siap siaga terhadap bencana. KAMPUS SIAGA BENCANA 73
    • LAMPIRAN
    • Panduan Kampus Siaga Bencana LAMPIRAN 1. Contoh Integrasi Kampus Siaga Bencana ke dalam Mata Kuliah Lembaga Kampus - Organisasi Ekstra dan Intra Kampus Literatur NO Fakultas/Program Studi/ Jurusan Integrasi Keterangan (buku utama (keter- • Peran serta kampus dalam UU PB No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana • Peran serta PT dalam 1 Keguruan dan Ilmu Pendidikan UU No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran kebijakan kampus terhadap kesiapsiagaan di kampus • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 2 Ilmu Sosial dan Politik tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 3 Sains dan Teknologi tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 76 KAMPUS SIAGA BENCANA dan sediaan pendukung) buku/akses)
    • Panduan Kampus Siaga Bencana • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 4 Hukum tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Nasional 5 Agama 2005-2025 • Ayat-ayat/surat-surat dalam kitab suci yang berhubungan dengan kebencanaan • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 6 Budaya tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 7 Kedokteran tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 8 Farmasi tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 9 Kebidanan tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 KAMPUS SIAGA BENCANA 77
    • Panduan Kampus Siaga Bencana • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 10 Keperawatan tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 11 Analis tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 12 Kesehatan Masyarakat tentang Rencana Pembangunan Nasional 2005-2025 • Peran serta PT dalam UU No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Nasional 13 Bahasa dan Sastra 2005-2025. • Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti dalam membuat ornamen kampus. 14 78 KAMPUS SIAGA BENCANA Psikologi 15 Ilmu Komunikasi
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Contoh Integrasi Kampus Siaga Bencana pada Lembaga Kampus Integrasi (lingkup NO Lembaga Kampus Keilmuan/ Literatur Akses Keterampilan) • Buku-buku • Pengetahuan 1 Lembaga Pengabdian Masyarakat tentang • PMI Pusat kebencanaan dan PB (PMI & • Toko-toko kepalangmerahan umum) • Skill kebencanaan dan kepalangmerahan • SOP dan/atau Buku • dll aturan yang terkait • Buku-buku kebencanaan • Buku-buku 2 Lembaga Penelitian Kampus • Ilmu kebencanaan • Ilmu kepalangmerahan kepalangmerahan • Desa binaan/ • Toko-toko buku • PMI Pusat • dll wilayah program/ kegiatan KAMPUS SIAGA BENCANA 79
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Contoh Integrasi Kampus Siaga Bencana pada Organisasi Ekstra dan Intrakampus NO Organisasi Integrasi keilmuan/ pengetahuan Keterampilan (skill) Intrakampus: • Pengetahuan kebencanaan dan adaptasi perubahan Badan Eksekutif 1 Mahasiswa Universitas/ Fakultas (BEM Universitas/Fakultas) iklim pada orientasi studi pengenalan kampus • Publikasi pengetahuan kebencanaan pada • Melakukan simulasi kebencanaan • Membuat peta rawan bencana dan jalur evakuasi • Melakukan adaptasi buku saku panduan 2 HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) perubahan iklim (kepedulian mahasiswa lingkungan) • Pengetahuan kebencanaan pada stadium general Ekstrakampus: 1 UKM KSR/ Kepalangmerahan • Kepalangmerahan • Kebencanaan • Korelasi pengetahuan 2 UKM Pramuka kebencanaan, kesehatan dengan wawasan kebangsaan • Korelasi pengetahuan 3 UKM Menwa kebencanaan dengan wawasan kebangsaan dan bela negara 80 KAMPUS SIAGA BENCANA • Inisiator • Konseptor • Peer • Inisiator • Konseptor • Peer • Inisiator • Konseptor • Peer
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 2. Contoh langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan dan dipraktikkan oleh seluruh komponen kampus: NO Aktivitas Kenali kejadian-kejadian alam yang dapat menimbulkan bencana di lingkungan 1 kampus seperti: gempa bumi, tsunami, kebakaran, banjir, longsor, kesehatan, dan lain-lain. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kenali lokasi-lokasi yang rawan terhadap bencana dan/atau penyakit di wilayah kampus Anda. Pelajari bagaimana proses bencana itu terjadi mulai dari penyebabnya sampai tindakan penyelamatan diri terhadap bencana tersebut. Bangun motivasi warga kampus Anda untuk menyiapkan diri dalam menghadapi bencana. Letakkan barang-barang yang berat di dekat lantai dan jangan meletakkan barang berat, pecah belah di atas lemari/rak. Pilih salah satu lokasi yang dapat dijadikan tempat evakuasi, pilih jalur evakuasi yang terdekat dari kampus. Sepakati tempat berkumpul seluruh warga kampus pada saat evakuasi. Sepakati dan sosialisasikan tanda bencana (sesuai jenis bencana) kepada seluruh warga kampus. Siapkan tas siaga bencana. Latihan evakuasi menuju lokasi aman untuk menyelamatkan diri pada saat terjadinya bencana secara rutin (sesuai tipe dan/atau jenis bencana). Buat rencana kegiatan/aksi dan rencana tindak lanjut tentang pengurangan risiko bencana yang dapat dipahami seluruh warga kampus. KAMPUS SIAGA BENCANA 81
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 3. Contoh Laporan KSR Laporan Kegiatan KSB Masyarakat: _______________________ Bulan: ________________________ 1. _____________________________________ Prioritas risiko bencana yang 2. _____________________________________ diidentifikasi oleh KSB: Total warga kampus terlibat di masyarakat 3. _____________________________________ ________________________________________ Kegiatan yang diorganisasi di bulan sebelumnya No Kegiatan # Orang yang berpartisipasi Pria Wanita Total 1 2 3 4 Sorotan bulan ini: ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ ________________________________________________________________ Rencana untuk bulan ini No Kegiatan Tanggal Tempat 1 2 3 4 Kontak: Silakan kontak (Nama, alamat dan nomor telepon dari kontak di Palang Merah setempat untuk umpan balik dan keluhan) untuk saran, umpan balik dan keluhan yang berhubungan dengan KSB. 82 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 4. Contoh Pedoman Wawancara (LIPI, Membangun Sekolah Siaga Bencana: 2008) Parameter/Variabel Informasi Lanjutan • Pemahaman terhadap tingkat kerentanan (lokasi, bangunan kampus) Kondisi fisik • Upaya untuk mengurangi risiko bencana, misal: renovasi kampus ber- Contoh Pertanyaan • Apa yang Saudara ketahui tentang kerentanan? • Bagaimana kerentanan yang ada di kampus Saudara? • Apakah ada upaya untuk dasarkan pada konstruksi mengurangi kerentanan di bangunan tahan gempa Kampus Saudara? • Informasi tentang pengetahuan bencana Pengetahuan, sikap, dan keterampilan • Apakah di kampus Saudara (jenis, waktu, lokasi, ada akses yang skala/besaran, dampak) memudahkan dalam • Akses dosen,mahasiswa dan karyawan terhadap mendapatkan informasi tentang bencana? informasi tentang bencana • Peningkatan kapasitas kampus • Pelatihan (jenis, siapa yang terlibat, jumlah yang terlibat, frekuensi pelatihan, penyelenggara, Mobilisasi sumber daya pendanaan, tindak lanjut hasil penelitian, kendala) • Workshop/seminar/ sosialisasi (jumlah dosen, • Bagaimana cara meningkatkan kapasitas kampus? • Apakah kampus pernah mendapatkan pelatihan mengenai kebencanaan? mahasiswa, dan karyawan yang terlibat, frekuensi pelatihan, penyelenggara) Catatan: Tabel wawancara di atas digunakan untuk mengetahui dan/atau menguji kesiapsiagaan kampus terhadap bencana melalui kuesioner. KAMPUS SIAGA BENCANA 83
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 5. Contoh Prosedur Tanggap Darurat1 Prosedur Tanggap Darurat adalah prosedur yang digunakan sebagai acuan untuk melakukan tindakan darurat. Dalam menyusun prosedur darurat tentunya mampu menjawab pertanyaan yang terkait dengan kesiapsiagaan tanggap darurat yaitu: 1. Tindakan apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat? 2. Kapan tindakan itu harus dilaksanakan? 3. Dimanakah tindakan itu harus dilakukan? 4. Siapakah yang melaksanakan tindakan? 5. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu? Berdasarkan pertanyaan tersebut maka setiap potensi bencana yang terkandung dalam keadaan darurat perlu dibuatkan prosedur tanggap darurat, yaitu: A. Prosedur Darurat Kebakaran Tujuan Tujuan dari prosedur ini adalah memberikan pelaksanaan operasional kepada organisasi tanggap darurat mengenai tindakan-tindakan yang harus diambil jika terjadi kebakaran guna meminimalkan timbulnya kejadian kebakaran dan dampak yang diakibatkannya. Ruang Lingkup Prosedur ini dilaksanakan mulai dari adanya teriakan kebakaran atau terdengarnya bunyi alarm, adanya api, sampai api padam. 1 Direktorat Kesehatan Kerja KEMENKES, Pedoman Kesiapsiagaan Tanggap Darurat di Gedung Perkantoran, Jakarta : 2010, hlm. 45 84 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana BAGAN ALUR DARURAT KEBAKARAN BERDASARKAN PERANNYA: 1. Semua karyawan melihat api atau mendengar alarm KAMPUS SIAGA BENCANA 85
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 6. Contoh Tabel Mempermudah Menyusun Rencana Tanggap Darurat di Kampus Kelompok Sebelum Saat Setelah • Membuat Sistem Peringatan Dini (SPD)/tanda bencana • Melakukan Peringatan dini sosialisasi kepada seluruh • Membunyikan tanda bencana • Menginformasikan kondisi dan situasi aman warga kampus • Melakukan uji coba SPD yang telah dibuat • Pelatihan • Melakukan Pertolongan Pertama bagi Pertolongan Pertama warga kampus • Memberikan Pertolongan • Menyiapkan Pertama secara peralatan cepat dan tepat Pertolongan pendataan dan menginformasikan jumlah korban baik yang luka ringan, luka berat, dan meninggal Pertama • Menentukan jalur evakuasi, titik • Membimbing dan kumpul, dan titik aman Penyelamatan dan evakuasi mengarahkan seluruh komponen • Membuat peta dan jalur evakuasi • Simulasi bencana kampus untuk melakukan evakuasi pada yang melibatkan jalur yang telah seluruh komponen ditentukan kampus 86 KAMPUS SIAGA BENCANA • Mengevakuasi korban
    • Panduan Kampus Siaga Bencana • Mendirikan pusat • Pelatihan logistik • Membuat dan Logistik memfungsikan Koperasi Kampus (sebagai lumbung) informasi, RS darurat, dapur umum, dan tempat pengungsian sementara pada tempat yang telah • Mendata dan melaporkan rekapitulasi pendistribusian logistik disepakati • Pengawasan Keamanan terhadap keamanan jalur evakuasi • Melakukan • Menjaga keamanan pengawalan pada tempat saat evakuasi pengungsian Referensi: • Deni Hidayati dkk, Sekolah Siaga Bencana Pembelajaran dari Kota Bengkulu, Jakarta : LIPI Press, 2010, hlm. 109-111. • Haryadi Permana dkk, Sekolah Siaga Bencana, Jakarta : LIPI Press, 2008, hlm. 41-42 KAMPUS SIAGA BENCANA 87
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 7. Formulir Asesmen Cepat KSB Formulir Penilaian Cepat Sektor Perguruan Tinggi(72 jam - 1 minggu sejak bencana) 0. Informasi Umum Tanggal pengambilan data: ____/____/____ (tanggal/bulan/tahun) Nama Universitas/Perguruan Tinggi/Sekolah Tinggi - Tahun PT dibangun: Provinsi : Kabupaten : Kecamatan : Alamat Kampus : No. Telepon: No. Fax Email: Sumber informasi utama: 1. 2. 3. NO Pertanyaan Kategori 1. INFORMASI FASILITAS PENDIDIKAN Jenis Bangunan 1 Lantai 3 Lantai atau lebih 2 Lantai Bangunan Bata Bangunan beton Bangunan Kayu bertulang 1. Wilayah dan Warga Kampus yang terkena dampak Seberapa besar warga kampus yang 1.1. terkena dampak? A. Total warga kampus B. Jumlah warga kampus 88 KAMPUS SIAGA BENCANA # Laki-Laki # Perempuan # Total
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Kira-kira, berapa persen mahasiswa yang terkena dampak? 1.2. % Laki-Laki % Perempuan % Total % Laki-Laki % Perempuan % Total A. % total warga kampus yang terkena dampak B. % warga kampus usia sekolah yang terkena dampak Kira-kira, berapa persen warga kampus yang berkontribusi terhadap pelayanan 1.3. tanggap darurat di lingkungan kampus? A. % total warga kampus B. % Unit Kegiatan Mahasiswa C. % dosen Berapa jumlah Unit Perguruan Tinggi di wilayah yang terkena dampak? A. Sekolah Tinggi Unit B. Universitas 1.4. Unit 2. Pengetahuan Secara Umum Kapan kalender pendidikan dimulai dan 2.1. berakhir? Awal Akhir ____/____/____ Kapankah ujian berlangsung? 2.2. ____/____/____ (tanggal/bulan/tahun) (tanggal/bulan/tahun) Awal Akhir ____/____/____ ____/____/____ (tanggal/bulan/tahun) (tanggal/bulan/tahun) KAMPUS SIAGA BENCANA 89
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Apakah kampus mengetahui mengenai 2.3. 1. Ya 2. Tidak # Laki - Laki Pengurangan Risiko Bencana? # Perempuan 1. Ya 2. Tidak A. % Rektor/Dekanat B. % Dosen C. % Mahasiswa D. % Karyawan E. % Pengelola Pelayanan Jasa 2.4. Apakah Kampus memiliki Tim Tanggap Darurat Bencana? Berapa orang mahasiswa yang mengetahui Pengurangan Risiko 2.5. # Laki-Laki # Perempuan # Total Bencana? A. Sekolah Tinggi B. Universitas 2.6. Apakah ada Unit Kegiatan Mahasiswa KSR di wilayah yang terkena dampak? 1. Ya 2. Tidak Berapa kampus yang memiliki asuransi? A. Sekolah Tinggi Unit B. Universitas 2.7. Unit 3. Keterampilan Sebelum bencana, bagaimanakah Angka 3.1. Partisipasi Murni (APM) untuk: A. Sekolah Tinggi B. Universitas 90 KAMPUS SIAGA BENCANA # Laki-Laki # Perempuan # Total
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Sebelum bencana, berapakah jumlah 3.2. dosen: # Laki-Laki # Perempuan # Total A. Sekolah Tinggi B. Universitas Sebelum bencana, bagaimana perbandingan jumlah dosen dan mahasiswa: A. Sekolah Tinggi 1 dosen untuk Mahasiswa B. Universitas 3.3. 1 dosen untuk Mahasiswa Sebelum bencana, bagaimana perbandingan jumlah penelitan mengenai PRB: A. Sekolah Tinggi Unit B. Universitas 3.4. Unit 4. Praktik-Praktik KSB Apakah rata-rata kampus mengintegrasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat mengenai PRB? 4.1. 1. Ya 2. Tidak # Perempuan # Total A. KKN tematik B. PKL C. PPL Sejak bencana, kira-kira berapa jumlah mahasiswa dalam situasi rentan? # Laki-Laki A. Mahasiswa yang menjadi kepala 4.2. rumah tangga B. Anak tanpa orangtua maupun wali C. Anak difabel/berkebutuhan khusus D. Anak dengan kondisi rentan lainnya KAMPUS SIAGA BENCANA 91
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Apakah Kampus memiliki Dana Tanggap Darurat? 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak A. Dikti 4.3. B. Bidang kemahasiswaan C. Sponsorship D. Lain-lain, mohon jelaskan Sejak bencana, informasi kesehatan apa yang paling diperlukan anak dan remaja? A. Pencegahan penyakit yang disebarkan melalui air 4.4 B. Pencegahan HIV C. Informasi layanan kesehatan, termasuk dukungan psikologis D. Lain-lain, mohon jelaskan 1. Hanya sedikit (0-25%) Apakah kampus/tempat belajar lainnya 4.5. 2. Beberapa (26-50%) digunakan sebagai tempat pengungsian? Jika ya, berapa banyak kampus? 3. Banyak (51-75%) 4. Hampir seluruhnya (76-100%) Apakah rata-rata kampus di lokasi bencana ada akses dengan: 4.6. A. SOP Tanggap Darurat B. Jalur Evakuasi C. Sarana Prasarana Tanggap Darurat 92 KAMPUS SIAGA BENCANA 1. Ya 2. Tidak
    • Panduan Kampus Siaga Bencana DATA PENGISI FORMULIR Nama Jabatan/Fungsi Rektor/ Dekanat/Dosen Pegawai Kampus Lainnya sebutkan Alamat No. Telp/ No. Handphone Referensi (tool SSB dan Dimkes) KAMPUS SIAGA BENCANA 93
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 8. Format Rencana Monitoring & Evaluasi (M & E) KSB Rencana M&E “Kampus Siaga Bencana” Definisi indikator sumber Frekuensi & Tanggung (& unit pengumpulan jadwal jawab pengukuran) Indikator Metode/ data SASARAN: Indikator/ parameter/ variable Asumsi HASIL (OUTCOME) 1: Indikator 1.a Indikator 1.b Indikator 1.c Asumsi 1.a KELUARAN (OUTPUT) 1.1: Indikator 1.1a Asumsi 1.1a KELUARAN (OUTPUT) 1.2: Indikator 1.2a Asumsi 1.2a HASIL (OUTCOME) 2: Indikator 2.a Asumsi 2.a KELUARAN (OUTPUT) 2.1: Indikator 2.1a Asumsi 2.1a KELUARAN (OUTPUT) 2.2: Indikator 2.2a Asumsi 2.2a *Tambahkan tujuan dan indikator sesuai dengan kerangka logis projek. 94 KAMPUS SIAGA BENCANA Kegunaan/ pengguna informasi
    • Panduan Kampus Siaga Bencana per… Kemajuan target Sasaran/ Biaya & sumber dana sumber daya Input / Durasi Lokasi Pelaksanaan Waktu Pelaksanaan Tujuan Jawab Penanggung Kegiatan Kode 9. Format Rencana Aksi KSB Hasil (Outcome) 1 Adanya perubahan perilaku PRB warga kampus Keluaran (Output) 1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3 1.1.4 1.1.5 Keluaran (Output) 1.2 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 Keluaran (Output) 1.3 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 1.3.5 Hasil (Outcome) 2 Kampus sebagai wadah dan pelaku PRB di masyarakat Keluaran (Output) 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 Keluaran (Output) 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 KAMPUS SIAGA BENCANA 95
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 2.2.4 2.2.5 Keluaran (Output) 2.3 2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.3.5 96 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 10. Matrik Tahapan Kampus Siaga Bencana TAHAPAN AWAL KSB No Tahapan Sasaran Aktivitas Contoh Aktivitas Sumber Instrumen Daya/ Komponen Parameter Kebijakan Pengurus Penilaian Pelatihan Yayasan dan Analisis Assessment PenguraPelatihan Rektorat ngan Risiko Bencana Peningka- Rektorat/ Start Up Dekanat Workshop Penguatan 1 Pelatihan Manajemen Projek tan PengeTools Assessment Dekanat tahuan, Sikap dan Kete- Sumber rampilan Daya PemMahasiswa bentukan Start Up Tim Workshop Rekrutmen Dosen Kemitraan Pengarah Tim Orientasi Tools Pelaksana Konsep PRB Analisis Diseminasi, Sosialisasi Sosialisasi, Peran PMI Advokasi dalam PRB Sekretariat Lokakarya Anggaran/ KSB Dana Karyawan UKM Mahasiswa Pedoman Pembentukan Mitra: PMI Tim dan mitra pengarah lainnya dan Pelaksana KAMPUS SIAGA BENCANA 97
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Kebijakan Rektorat/ Dekanat Diseminasi, Sosialisasi, Adokasi Lokakarya PSD MoU Rektorat/ Dekanat Pengurangan Risiko Bencana UKM Kordinasi Mem2 bangun Kemitraan Pelatihan Pedoman Tim Advokasi Kemitraan Pengarah Mobilisasi Sumber Daya PenandaBEM Advokasi PMI tanganan Koordinasi MoU PT Strategi Tim Pelaksana Kemitraan dengan PMI Pelatihan Anggaran/ Pemerintah Dana NGO/NGOs Proposal Swasta Primer KIE Diseminasi Seminar PRB Media Rektorat Lomba Sosial- Sekunder Koordinasi Green & isasi dan Publikasi Dekanat Advokasi taran Film Perubahan Daya Pelatihan Dosen Iklim Koordinasi Sosialisasi Anggaran/ Dana Karyawan UKM Mahasiswa Mitra: PMI dan mitra lainnya KAMPUS SIAGA BENCANA Sumber PemuTersier 98 tan PSK Mobilisasi Clean advokasi 3. Peningka- Kemitraan
    • Panduan Kampus Siaga Bencana PROSES PELAKSANAAN KSB No Siklus Sasaran Aktivitas Contoh Aktivitas Sumber Instrumen Daya/ Komponen Parameter Pelatihan Primer Pelatihan VCA & PRA Tools Tim Peningka- Tim Assessment Pengarah tan PSK Pelaksana Pemetaan 1 Penilaian dan Analisis Ancaman, Kerentanan, Risiko dan Kapasitas Partisipatif Kampus Pemetaan Ancaman, Kerentanan, Risiko dan Kapasitas Kampus dengan GPS Tools Analisis SWOT Tim Pelaksana Mobilisasi Sumber Daya Workshop Workshop Analisis Sekretariat Kemitraan SWOT Penilaian Ancaman, Kerentanan, Risiko dan Penilaian VCA & PRA Partisipatif Anggaran/ Dana Kapasitas Baseline Survey Peta Tools PRA & VCA KAMPUS SIAGA BENCANA 99
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Kebijakan Seminar Seminar Format Rencana Rencana Kontijensi Primer Kontijensi Rektorat/ Dekanat Pengurangan Risiko Bencana Lokakarya 2 Lokakarya Rencana Penyusunan analisis SOP TDB Sekunder Hasil asesmen Lokakarya Aksi Penyusunan Rencana Mitigasi Workshop Penyusunan anggaran Tools Perencanaan Anggaran/ Dana Proposal Tim Peningka- Pengarah tan PSK Tim Pelaksana Mahasiswa Mobilisasi Sumber Daya Kemitraan UKM/BEM Mitra Pelatihan Primer Pelatihan Gabungan TDB Sekunder Aksi 3 Pengura- Simulasi Tersier Mitigasi ngan Simulasi Bencana Pusat Studi Bencana BUKU/ Rektorat/ Modul PRB Dekanat KIE SOP Tim Peningka- Pengarah tan PSK Tim Pelaksana Promosi Sistem Peringatan Dini Kebijakan Mahasiswa di Kampus KKN Tematik Rencana PRB di Kontijensi Masyarakat KAMPUS SIAGA BENCANA Mobilisasi Sumber Daya Pembuatan Risiko 100 Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana UKM/BEM Kemitraan
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Peta Pusat Informasi Bencana Ancaman, Kerentanan, Risiko dan Mitra Kapasitas Kampus Kampanye Kampus Masyarakat Siaga Bencana Kebijakan Pembuatan Primer Pelaporan Laporan Kegiatan dan Rektorat/ Pelaporan Dekanat Pengurangan Risiko Bencana Monitoring 4 Format Sekunder Evaluasi Dokumen- Membuat tasi Berita Lokakarya Tersier Lokakarya Monitoring Evaluasi Tools Monev Tim Peningka- Pengarah tan PSK Tim Pelaksana Kemitraan Endline Survey KAMPUS SIAGA BENCANA 101
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 11. Matrik Pendidikan dan Pelatihan Beserta Cakupan Materi 102 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana KAMPUS SIAGA BENCANA 103
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 104 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana KAMPUS SIAGA BENCANA 105
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 106 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana KAMPUS SIAGA BENCANA 107
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 108 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana KAMPUS SIAGA BENCANA 109
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 110 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana KAMPUS SIAGA BENCANA 111
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 12. Alat (Tools) Identifikasi Kapasitas atau Sumber Daya yang Dimiliki Kampus No Jenis Kapasitas Pengetahuan: 1 Apakah elemen kampus memiliki pengetahuan yang cukup terhadap bencana Kebijakan: 2 Apakah kampus memiliki kebijakan yang terkait dengan kebencanaan Sumber daya: Apakah kampus memiliki dana untuk mengantisipasi 3 bencana, peralatan pertolongan pertama, evakuasi, maupun sarana lainnya untuk mobilisasi jika terjadi bencana Keterampilan: 4 Apakah mahasiswa, karyawan, dan dosen memiliki keterampilan yang dapat digunakan jika terjadi bencana Referensi: LIPI, Membangun Sekolah Siaga Bencana, LIPI : 2008, hlm. 18 112 KAMPUS SIAGA BENCANA Punya Tidak
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 13. Alat (Tools) Peta Simulasi KSB Tahapan kerja pembuatan PETA 1. Pengumpulan Data 2. Pengolahan Data 3. Penyajian Data Bagian-bagian dalam PETA 1. 2. 3. 4. Judul Panah penunjuk mata angin (utara, selatan, timur, barat) Skala Keterangan legenda, contoh: LEGENDA KAMPUS SIAGA BENCANA 113
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 5. Tanggal pembuatan 6. Siapa atau badan apa yang membuatnya 114 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Contoh-contoh PETA PETA TOPOGRAFI PETA TOPOLOGI PETA INDRAJA PETA PEMODELAN 3D PETA PARTISIPATIF PETA DINDING KAMPUS SIAGA BENCANA 115
    • Panduan Kampus Siaga Bencana DAFTAR PUSTAKA ADRRN, 2010. Terminologi Pengurangan Risiko Bencana. Bangkok: Asian Disaster Reduction Response Network. Anon, 2007. Ahmedabad Action Agenda for School Safety-Outcome Document of the International Conference on School Safety. Gujarat, s.n. AusAID, 2009. Investing in A Safer Future: A Disaster Risk Reduction Policy for the Australian Aid Program. Canberra: AusAID. BNPB, BAPPENAS, 2010. Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2012. Jakarta: BAPPENAS. BNPB, 2007. www.bnpb.go.id. [Online] Available at: http://www.bnpb. go.id/website/file/publikasi/41.pdf, [Accessed 7 September 2012]. BNPB, 2011. Peta Sebaran Kejadian Bencana 2010. [Online]. Available at: http://geospasial.bnpb.go.id/2011/01/12/peta-jumlah-kejadian-bencanadi-indonesia-tahun-2010/, [Accessed 6 September 2012]. Boli, Y. et al., 2004. Panduan Penanganan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat (Community Based Disaster Risk Management). Kupang: FKPB. Global Education Cluster, 2011. Disaster Risk Reduction in Education in Emergencies: a Guidance Note for Education Clusters and Sector Coordination Groups. s.l.:Global Education Cluster. Djaelani, A. et al, 2008. Pelatihan KBBM-PERTAMA Untuk KSR, Panduan Pelatih. Cetakan 1. Jakarta: Palang Merah Indonesia. Gordon, M. & Potts, C., 2007. What Difference Are We Making? - a Toolkit on Monitoring and Evaluation for Health Links. s.l.:The Tropical Health and Education Trust. College of Education Miller Hall, 2007. Emergency Evacuation and Operation Plan; Facility Safety Office Environmental Health and Safety. Washington DC: University of Washington. IFRC, 2011. Public Awareness and Public Education for Disaster Risk Reduction: a Guide. Geneva: International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. 116 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana Konsorsium Pendidikan Bencana Indonesia, 2011. Kerangka Kerja Sekolah Siaga Bencana. Jakarta: KPB. HelpAge International, 2007. Analysis of Livelihood Cash Grant Programme Implemented for Older People After Tsunami, Banda Aceh: HelpAge International. International, U. N., 2009. www.unisdr.org. [Online] Available at: http://www.unisdr.org/files/7817_UNISDRTerminologyEnglish.pdf, [Accessed 6 September 2012]. ndems, 2012. sarda-jateng.blogspot.com. [Online] Available at: http:// sarda-jateng.blogspot.com/2012/06/kampus-siaga-bencana-di-unimus. html, [Accessed 5 September 2012]. Soemantri, A., 2012. Bersama Untuk Tangguh: Kumpulan Cerita Sukses Pengurangan Risiko Bencana. Jakarta: Palang Merah Indonesia. Twigg, J., 2009. Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana, London: Plan International Indonesia, OXFAM Indonesia. UNSYIAH, T., n.d. www.tdmrc.org. [Online] Available at: http://www. tdmrc.org/id/about, [Accessed 5 September 2012]. UR, R., 2010. http://konservasi.unnes.ac.id/. [Online] Available at: http:// konservasi.unnes.ac.id/, [Accessed 6 September 2012]. Zimmermann, M., 2007. Disaster Risk Reduction in the Project Cycle Management: a Tool for Programme Officers and Project Managers. s.l.:SDC. KAMPUS SIAGA BENCANA 117
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 7 PRINSIP GERAKAN Dalam melakukan kegiatan dan pelayanan, PMI berpegang pada PrinsipPrinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, yaitu: 1. KEMANUSIAAN Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit Merah (Gerakan) lahir dari keinginan untuk memberikan pertolongan kepada korban yang terluka dalam pertempuran tanpa membeda-bedakan mereka dan untuk mencegah serta mengatasi penderitaan sesama manusia yang terjadi di mana pun. Tujuannya ialah melindungi jiwa dan kesehatan serta menjamin penghormatan terhadap umat manusia. Gerakan menumbuhkan saling pengertian, kerjasama dan perdamaian abadi antar sesama manusia. 2. KESAMAAN Gerakan memberikan bantuan kepada orang yang menderita tanpa membeda bedakan mereka berdasarkan kebangsaan, ras, agama, tingkat sosial atau pandangan politik. Tujuannya semata-mata ialah mengurangi penderitaan orang per orang sesuai dengan kebutuhannya dengan mendahulukan keadaan yang paling parah. 3. KENETRALAN Gerakan tidak memihak atau melibatkan diri dalam pertentangan politik, ras, agama, atau ideologi. 118 KAMPUS SIAGA BENCANA
    • Panduan Kampus Siaga Bencana 4. KEMANDIRIAN Gerakan bersifat mandiri. Setiap Perhimpunan Nasional sekalipun merupakan pendukung bagi pemerintah di bidang kemanusiaan dan harus mentaati peraturan hukum yang berlaku di negara masing-masing, namun Gerakan bersifat otonom dan harus menjaga tindakannya agar sejalan dengan Prinsip Dasar Gerakan. 5. KESUKARELAAN Gerakan memberi bantuan atas dasar sukarela tanpa unsur keinginan untuk mencari keuntungan apapun. 6. KESATUAN Didalam satu negara hanya boleh ada satu Perhimpunan Nasional dan hanya boleh memilih salah satu lambang yang digunakan: Palang Merah atau Bulan Sabit Merah. Gerakan bersifat terbuka dan melaksanakan tugas kemanusiaan di seluruh wilayah negara yang bersangkutan. 7. KESEMESTAAN Gerakan bersifat semesta. Artinya, Gerakan hadir di seluruh dunia. Setiap Perhimpunan Nasional mempunyai status yang sederajat, serta memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam membantu satu sama lain. KAMPUS SIAGA BENCANA 119