Jurnal bahasa indonesia
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Jurnal bahasa indonesia

on

  • 15,923 views

 

Statistics

Views

Total Views
15,923
Views on SlideShare
15,913
Embed Views
10

Actions

Likes
3
Downloads
281
Comments
0

2 Embeds 10

http://092biftunjkelompok6.blogspot.com 9
http://www.slideshare.net 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Jurnal bahasa indonesia Jurnal bahasa indonesia Document Transcript

    • PENERAPAN PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING LEARNING) DALAM UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA DIKLAT MEMASANG SISTEM PERPIPAAN DAN SALURAN (MSPS) DI SMKN 1 BUKITTINGGI Ilham Ilahi”, Azwir Sahibuddin1, Ahyanuardi2 Abstrak Penerapan pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learnig) dalam upaya peningkatan hasil belajar sisiwa pada mata diklat memasang sistem perpipaan dan saluran (MSPS) di SMKN 1 Bukittingi. Penelitian ini dilakukan di kelas I TPTL 1 SMKN 1 Bukittinggi pada mata diklat Memasang Sistem Perpipaan dan Saluran (MSPS). Peneliti melihat rendahnya hasil belajar siswa yang belum mencapai Standar Ketuntasan Belajar ( ≥7 dan jumlah yang lulus sebanyak 60%). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching ang Learning). Pengajaran dan Pembelajaran kontekstual (CTL) ini melibatkan 7 (tujuh) aspek yaitu : 1. kontruktivis, 2. menemukan (inquiry), 3. bertanya (questioning), 4. masyarakat belajar (learning community), 5. pemodelan (modelling), 6. refleksi (reflection), 7. penilaian otentik (authentic assesment). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Dengan rancangan penelitian The One Shot Case Study. Objek penelitian ini adalah siswa kelas I TPTL 1 dengan jumlah siswa 29 orang. Kata kunci: SMK, Kontekstual(Contextual Teaching ang Learning). Pengajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. (Hamalik Oemar, 2001:10)3. Sesuai dengan rumusan tersebut, orang yang terlibat dalam sistem pengajaran adalah siswa, pengajar (guru), dan tenaga lainnya. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) menurut Johnson (2002:67)4 adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari –hari. “Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Angkatan 2003 UNP dan lulus tahun 2008. 1 Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Pembimbing Pertama). 2 Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Pembimbing Kedua). 3 Hamalik, Oemar. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Bandung : Bumi Aksara, 2001). h. 10. 4 Johnson, Elaine B. Contextual Teaching and Learning: What is is and why it's here to stay (Bandung : MLC,2002). h. 67.
    • Perkembangan teknologi saat ini telah memberikan manfaat yang tidak terhingga bagi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi tersebut telah mencakup segala aspek kehidupan masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi tersebut dibutuhkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang bertujuan untuk membentuk manusia seutuhnya yang handal dan berkompeten di segala bidang. Sekolah yang mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan berkualitas lebih ditujukan kepada SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Hal ini dilatar belakangi oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. 29 Tahun 1990, Pasal 3 ayat 2, yaitu, “Menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional”. Berbicara mengenai pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) seringkali masih menimbulkan persoalan yaitu kurangnya pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan, hal ini terjadi dikarenakan banyaknya siswa yang mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik tentang materi ajar yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya siswa tidak memahami konsep yang diajarkan. Siswa mampu menghapal berbagai rumus-rumus dan konsep-konsep yang berhubungan dengan materi ajar teknik elektro tetapi mereka tidak mampu menghubungkan atau mengkaitkan materi ajar yang mereka terima di sekolah dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan digunakan nantinya. Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat Memasang Sistem Perpipaan dan Saluran (MSPS) dengan menggunakan metode pengajaran dan pembelajaran kontekstual (CTL) di SMKN 1 Bukittinggi. METODE Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian pra-eksperimental. Dalam rancangan penelitian ini sekelompok subjek yang diambil dari populasi tertentu dikelompokkan secara acak menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
    • Kelompok eksperimen dikenai variabel perlakuan tertentu dalam jangka waktu tertentu lalu kedua kelompok itu dikenai pengukuran yang sama (Muri Yusuf, 2005:227)1. Perbedaan yang timbul dianggap bersumber pada variabel perlakuan. Model penelitian ini dikenal dengan The One Shot Case Study. Bagan rancangan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Rancangan Penelitian Kelas Pretest Treatment Postest Eksperimen - X T2 Kontrol - - - Keterangan: X : Perlakuan yang diberikan untuk kelas eksperimen, yaitu penerapan model pembelajaran CTL T2 : Tes akhir yang diberikan untuk kelas eksperimen Untuk melakukan penelitian eksperimental maka jumlah siswa kelas I TPTL yang berjumlah 80 orang siswa dibagi dalam 2 kelompok kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan asumsi faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar seperti guru, materi pelajaran, faktor internal siswa dan yang lainnya diabaikan. 1. Kelas Eksperimen Kelas eksperimen adalah kelas yang diberikan tindakan. Untuk menetukan kelas eksperimen terlebih dahulu mengumpulkan daftar nilai siswa pada semester sebelumnya dan melihat nilai rata-rata kelas terendah, sebagai kelas eksperimen dipilih kelas I TPTL 1 sebagai kelas dengan rata-rata kelas terendah selain itu pihak sekolah memberikan saran dan masukan untuk melakukan penelitian pada kelas tersebut. Pada kelas eksperimen diberikan pembelajaran berbasis kontekstual (CTL). 1 Muri Yusuf. h. 227
    • 2. Kelas Kontrol Kelas kontrol pada penelitian berfungsi sebagai pembanding, yaitu untuk melihat apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Untuk kelas kontrol peneliti memilih kelas I TPTL 1 dan I TPTL 2. Pada kelas kontrol diberikan model pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru sebelumnya. Materi pelajaran untuk kedua kelompok kelas ini sama, yang membedakan hanya metode pembelajarannya. Dari penelitian tersebut terdapat dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, pada proses kegiatan pembelajaran dikelas eksperimen peneliti menerapkan model pembelajaran CTL, sedangkan pada proses kegiatan pembelajaran dikelas kontrol menerapkan pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru sebelumnya. Materi pelajaran untuk kedua kelompok kelas ini sama, yang membedakan hanya metode pembelajarannya. HASIL Pada bagian ini disajikan data – data hasil penelitian yang meliputi hasil observasi penerapan CTL di kelas dan pemaparan tes hasil belajar. Berikut rincian masing- masing data tersebut. 1. Observasi Penerapan CTL di kelas a. Konstruktivisme Dibawah ini merupakan data yang berisi tentang penerapan kontruktivis di kelas. Tabel 2 : Ditribusi Hasil Pengamatan Kontruktivis INDIKATOR YANG MUNCUL PADA INDIKATOR SETIAP PERTEMUAN KONTRUKTIVIS I II III IV V VI VII VIII 1. Siswa membangun sendiri pengetahuan √ √ √ √ √ √ mereka dengan terlibat
    • aktif dalam PBM 2. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan √ √ √ √ √ menerapkan idenya sendiri dengan memberikan pertanyaan 3. Siswa dapat mengkomunikasikan √ √ √ pemahaman mereka Kriteria: 1. Kurang : tidak ada satu pun yang terlaksana 2. Cukup : hanya ada satu yang terlaksana 3. Baik : lebih dari satu yang terlaksana Pada tabel diatas terlihat bahwa pada pertemuan pertama hanya satu indikator yang muncul. Terlihat siswa masih gamang dan belum familiar dengan metode yang diterapkan. Pada pertemuan pertama tersebut guru menyampaikan beberapa informasi tentang perkembangan dan contoh kegunaan ilmu kelistrikan di dunia lapangan dan prospek kerja lulusan jurusan listrik. Pada pertemuan selanjutnya jumlah siswa yang mau terlibat aktif dalam proses pembelajaran semakin meningkat. Ketika siswa diberikan tugas proyek terlihat antusias siswa dan ketika mereka mencari sendiri materi pelajaran yang mendukung tugas proyek yang diberikan. Terlihat dari tabel diatas siswa kurang mampu dalam mengkomunikasikan pemahaman mereka, hal itu terlihat ketika siswa mempresentasikan hasil pengamatan mereka dilapangan, siswa hanya membacakan dan siswa kurang mampu dalam hal menjelaskan dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan siswa dari kelompok lain. Secara keseluruhan, semua indikator yang digunakan untuk mengamati penerapan kontruktivis muncul dalam proses pembelajaran. Dengan demikian penerapan kontruktivis pada pertemuan I sampai VIII termasuk kategori baik. Kualitas penerapan kontruktivis untuk setiap pertemuan adalah sebagai berikut:
    • Tabel 3 : Distribusi Hasil Pengamatan Kualitas Penerapan Kontruktivis Pertemuan I II III IV V VI VII VIII Kualitas C ukup B a ik Cukup Cukup Cukup B a ik B a ik B a ik b. Menemukan (Inquiry) Berdasarkan beberapa indikator yang telah dibuat, diperoleh data mengenai menemukan pada setiap pertemuan seperti tabel berikut ini : Tabel 4 : Distribusi Hasil Pengamatan Menemukan INDIKATOR YANG MUNCUL PADA INDIKATOR SETIAP PERTEMUAN MENEMUKAN I II III IV V VI VII VIII 1. Siswa menemukan sendiri konsep materi pelajaran melalui √ √ √ √ pertanyaan yang diajukan 2. Siswa menemukan sendiri konsep materi √ √ √ √ √ √ √ pelajaran melalui kegiatan penyelidikan Dari tabel diatas terlihat bahwa pertemuan I tidak ada indikator yang muncul. Kualitas pada pertemuan I ini dikatakan kurang, dan pada pertemuan II dan seterusnya indikator kedua muncul dimana saat itu siswa ditugaskan untuk mengamati pemasangan instalasi listrik pasangan luar (outbow) dan pasangan dalam (inbow) di beberapa tempat berdasarkan kelompok. Disana siswa mencari apa saja materi yang dibutuhkan mereka dalam pelaksanaan tugas proyek tersebut. Sehingga mereka bekerja untuk menyelidiki hubungan antara konsep dan teori yang mereka pelajari dengan konteks dunia nyata di lingkungan mereka masing-masing. Berdasarkan uraian diatas kualitas dari penerapan menemukan pada setiap pertemuan adalah : Tabel 5 : Distribusi Hasil Pengamatan Kualitas Penerapan Menemukan Pertemuan I II III IV V VI VII VIII Kualitas Kurang Cukup Cukup B a ik B a ik B a ik Cukup B a ik
    • c. Bertanya (questioning) Berdasarkan indikator yang telah dibuat, diperoleh data mengenai penerapan Bertanya (questioning) seperti dibawah ini : Tabel 6 : Distribusi Hasil Pengamatan Bertanya INDIKATOR YANG MUNCUL PADA INDIKATOR SETIAP PERTEMUAN BERTANYA I II III IV V VI VII VIII 1. Guru menggunakan pertanyaan untuk √ √ √ √ √ √ √ menuntun siswa berpikir 2. Siswa bertanya untuk menggali informasi baik kepada guru √ √ √ √ √ √ √ maupun kepada temannya 3. Pertanyaan digunakan untuk membuat √ √ √ √ √ penilaian terhadap pemahaman siswa 4. Pertanyaan yang diajukan guru ataupun siswa dapat √ √ √ √ √ membangkitkan respons siswa lainnya Pada aspek Bertanya ini terlihat indikator yang buat banyak yang muncul. Bertanya tidak hanya terjadi antara guru dengan siswa tetapi juga antara siswa dengan siswa. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bukan hanya untuk untuk mengarahkan siswa untuk terlibat dalam proses belajar mengajar, tetapi juga digunakan untuk menuntun siswa dalam menemukan konsep materi pelajaran.
    • Berdasarkan uraian diatas maka kualitas penerapan bertanya (questioning) ini adalah sebagai berikut : Tabel 7 : Distribusi Hasil Pengamatan Kualitas Penerapan Bertanya Pertemuan I II III IV V VI VII VIII Kualitas C ukup B a ik B a ik B a ik B a ik B a ik B a ik B a ik d. Masyarakat Belajar (Learning Community) Berdasarkan indikator yang telah ditentukan sebelumnya. Diperoleh data hasil pengamatan penerapan Masyarakat Belajar seperti tabel berikut ini : Tabel 8 : Distribusi Hasil Pengamatan Masyarakat Belajar INDIKATOR INDIKATOR YANG MUNCUL PADA MASYARAKAT SETIAP PERTEMUAN BELAJAR I II III IV V VI VII VIII 1. Adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk √ √ √ √ √ √ √ berbagi gagasan dan pemahaman 2. Siswa bekerja sama dengan siswa lain untuk menciptakan pembelajaran yang √ √ √ √ √ √ lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri 3. Guru berperan sebagai fasilitator yang √ √ √ √ √ √ √ √ memandu proses pembelajaran Dari hasil pengamatan di atas, terlihat pada setiap pertemuan n inidikator tersebut bermunculan. Pada pertemuan I terlihat hanya satu indikator yang muncul dan pada setiap pertamuan berikutnya ketika diberikan tugas proyek maka hampir seluruh indikator tersebut bermunculan, seluruh siswa dibagi dalam 5 (lima) kelompok dengan beranggotakan masing-masing kelompok 4 (empat) orang. Dengan demikian
    • berdasarkan kualitas penerapan masyarakat belajar ini dapat dikategorikan terlaksana dengan baik. Tabel 9 : Distribusi Hasil Pengamatan Kualitas Penerapan MasyarakatBelajar Pertemuan I II III IV V VI VII VIII Kualitas C ukup B a ik B a ik B a ik B a ik B a ik B a ik B a ik e. Refleksi (Reflection) Indikator-indikator yang digunakan unuk mengamati penerapan Refleksi ini terlihat pada tabel berikut ini : Tabel 10 : Distibusi Hasil Pengamatan Penerapan Refleksi INDIKATOR YANG MUNCUL PADA INDIKATOR SETIAP PERTEMUAN REFLEKSI I II III IV V VI VII VIII 1. Diskusi mengenai hasil √ √ √ √ kerja kelompok 2. Siswa menyatakan kesimpulan mengenai √ √ √ pembelajaran yang telah berlangsung 3. Siswa mencatat hal-hal penting yang telah √ √ √ mereka lakukan Dari hasil pengamatan diatas, terlihat pertemuan I indikator tidak ada yang muncul, Pada pertemuan selanjutnya indikator-indikator tersebut bermunculan seiring dengan tugas proyek yang dilakukan siswa. Berdasarkan pengamatan diatas terlihat hanya pada pertemuan ke V keseluruhan inidikator bermunculan. Pada ini dilakukan kegiatan melihat kembali apa yang telah dibuat, disampaikan kepada siswa. Kualitas penerapan refleksi ini seperti tabel di bawah ini : Tabel 11 : Distribusi Hasil Pengamatan Kualitas Penerapan Refleksi Pertemuan I II III IV V VI VII VIII Kualitas Kurang Cukup Kurang Cukup B a ik B a ik Cukup B a ik
    • Dari tabel diatas dapat terlihat kualitas penerapan refleksi di kelas masih kurang baik, artinya setiap pertemuan banyak indikator yang belum muncul. f. Pemodelan (Modelling) Hasil pengamatan penerapan pemodelan di kelas dapat terlihat pada tabel di bawah ini : Tabel 12 : Distribusi Hasil Pengamatan Pemodelan INDIKATOR YANG MUNCUL PADA INDIKATOR SETIAP PERTEMUAN MODELLING I II III IV V VI VII VIII 1. Guru mendemonstrasikan pembelajaran yang √ √ √ √ √ √ sedang dilaksanakan agar siswa mengikutinya 2. Siswa mendemonstrasikan √ √ √ √ √ √ pembelajaran yang sedang dilaksanakan 3. Siswa yang membahasakan √ √ gagasan yang sedang ia pikirkan Dari hasil pengamatan diatas, terlihat bahwa pemodelan dalam proses pembelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi siswa juga terlibat dalam hal ini baik di dalam kelas maupun saat kerja kelompok. Pada pertemuan I, II indikator yang muncul hanya satu. Contoh dari pemodelan ini adalah siswa memperagakan cara memasukkan kabel pada pipa yang ditanam pada tembok. Kualitas hasil penerapan pemodelan adalah seperti tabel berikut ini : Tabel 13 : Distribusi Hasil Pengamatan Kualitas Penerapan Pemodelan Pertemuan I II III IV V VI VII VIII Kualitas C ukup C ukup B a ik B a ik Cukup B a ik B a ik Cukup
    • Berdasarkan keterangan diatas maka dapat dikatakan penerapan pemodelan sudah terlaksana denga baik. Artinya guru bukan satu-satunya model dalam proses belajar mengajar tetapi siswa juga bisa dijadikan model dalam mendemonstrasikan suatu keterampilan. g. Penilaian Otentik (Authentic Assesment) Pada penilaian otentik ini diperoleh data hasil pengamatan penerapan berdasarkan indikator-indikator seperti dibawah ini : Tabel 14 : Distribusi Hasil Pengamatan Penilaian Otentik INDIKATOR INDIKATOR YANG MUNCUL PADA AUTHENTIC SETIAP PERTEMUAN ASSESMENT I II III IV V VI VII VIII 1. Guru mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa √ √ √ √ √ √ √ melalui latihan pada m odul 2. Guru mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa √ √ melalui kegiatan presentasi hasil kerja proyek mereka 3. Guru mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa √ √ √ √ melalui tanggapan yang diberikan 4. Guru mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa dengan tes akhir siswa
    • Dari hasil pengamatan diatas pelaksanaan tes hasil belajar dilakukan pada pertemuan terakhir yaitu pada pertemuan kesepuluh (X). Penilaian berdasarkan latihan yang tertera pada model dilakukan setiap pertemuan. Dan penilaian akhir pada tugas proyek dilakukan pada pertemuan VI. Penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir pokok bahasan tetapi pada saat proses belajar berlangsung. Beberapa penilaian yang diterapkan pada penelitian ini meliputi penilaian latihan pada modul, penilaian presentasi dan tanggapan serta penilaian tes hasil belajar di akhir pertemuan. Kualitas dari penerapan penilaian otentik ini adalah seperti berikut : Tabel 15 : Distribusi Hasil Pengamatan Kualitas Penerapan Penilaian Otentik Pertemuan I II III IV V VI VII VIII Kualitas Kurang Cukup B a ik B a ik B a ik B a ik Cukup B a ik Dengan demikian penerapan penilaian otentik ini cenderung cukup, artinya guru sudah melakukan penilaian yang sebenarnya untuk melihat kemajuan siswa selama proses belajar berlangsung. Dalam hal ini tidak semua penilaian otentik dapat dilaksanakan dikarenakan keterbatasan waktu dan kemampuan. Setelah dilakukan tes akhir diperoleh data tentang hasil belajar siswa pada mata diklat Memasang Sistem Perpipaan dan Saluran (MSPS) yang menggunakan metode pembelajaran kontekstual (CTL). Tes hasil belajar ini diberikan kepada 29 orang siswa I TPTL 1 SMKN 1 Bukittinggi. Data tersebut dianalisis sehingga diperoleh deskripsi statistik nilai dari kelas sampel seperti yang terlihat dibawah ini. Tabel 18 : Hasil Analisis Data Tes Akhir Kelas x s Xmaks Xmin Sampel 7.31 2.7 8.12 6.45 Kontrol 1 6.58 1.14 7.75 5.0 Kontrol 2 7.00 1.06 8.08 5.0 Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat rata-rata nilai kelas sampel setelah dilakukan metode pembelajaran adalah 7.31 dengan nilai tertinggi adalah 8.12 dan nilai terendah 6.45 dengan jumlah siswa yang lulus sebanyak 26 dari 29 orang dan persentase ketuntasan belajar 89 %. Sedangkan rata-rata nilai siswa pada kelas kontrol 1 adalah 6.58 dengan nilai tertinggi 7.75 dan nilai terendah adalah 5.00 dengan persentase kelulusan 65 %. Nilai rata-rata kelas kontrol 2 adalah 7.00 dan nilai tertinggi 8.08, nilai terendah adalah 5.00.
    • PEMBAHASAN Bagian ini harus ada. Pembahasan sedapat mungkin dikaitkan dengan (kajian) pustaka dan disertai rujukan. Diambil dari bagian hasil penelitian (Bab IV) terutama pada pembahasan hasil dan dari bagian implikasi penelitian (Bab V) . Untuk menarik kesimpulan tentang data yang diperoleh dari tes hasil belajar dilakukan analisis secara statistik. Sebelum uji statistik dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data. 1. Uji Normalitas Untuk uji normalitas digunakan uji lilifors terhadap hasil belajar MSPS siswa kelas sampel. Setelah dilakukan uji normalitas diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pancaran titik-titik grafik untuk kelas sampel berada dekat garis lurus, kemudian setelah melakukan tes akhir pada kedua kelas sampel diperoleh data sebagai berikut : Tabel 19 : Hasil Uji Normalitas Kelas Sampel Kelas N Lo Lt Distribusi Sampel 29 0,05 0.1409 0.161 Normal Dari data yang diperoleh pada tabel di atas terlihat bahwa pada kelas sampel nilai Lo < Lt yaitu 0.1409 < 0.1764, berarti data tersebut terdistribusi normal. 2. Uji Hipotesis Setelah dilakukan uji normalitas maka dilakukan uji-F. Berdasarkan hasil analisis uji-F dapat dilihat bahwa pada selang kepercayaan 95% diperoleh T-value(thitung) = 0.04 dengan dk(0.95)(77)= 3.13, maka berdasarkan hasil disebut Hi diterima bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang signifikant menggunakan metode pembelajaran kontekstual (CTL) pada mata diklat MSPS di SMKN 1 Bukittinggi.
    • KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman siswa di kelas I TPTL 1 SMKN 1 Bukittingi 2. Hasil belajar siswa pada mata diklat Memasang Sistem Perpipaan dan Saluran (MSPS) di kelas I TPTL 1 SMKN 1 Bukittinggi setelah dilakukan metode pengajaran dan pembelajaran kontekstual (CTL) mengalami peningkatan yang cukup signifikan nilai rata-rata setelah diberikan tindakan adalah 7.13, jumlah siswa yang lulus sebanyak 26 orang (89%), sedangkan pada kelas kontrol yaitu kelas I TPTL 2 nilai rata-rata kelas 6.58 dan jumlah siswa yang lulus sebanyak 17 dari 26 orang siswa (65%). Sedangkan untuk kelas I TPTL 3 nilai rata-rata kelas 7.00 jumah siswa yang lulus sebanyak 19 dari 25 orang siswa (80%). Dengan demikian proses belajar mengajar di kelas I TPTL 1 dikatakan mencapai Standar Ketuntasan Belajar Mengajar. B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka peneliti dapat mengemukakan saran sebagai berikut : 1. Diharapkan para guru mata diklat produktif di SMKN 1 Bukittingi dapat menggunakan metode pembelajaran kontekstual dalam kegiatan belajar mengajar. 2. Untuk selanjutnya diharapkan lembaga yang terkait dapat menyusun standar penerapan metode kontekstual di sekolah kejuruan khususnya di kelompok Teknologi.. 3. Pada penelitian ini peneliti lebih menekankan pada peningkatan bidang kognitif siswa, diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk mengamati hasil belajar siswa pada aspek afektif dan psikomotor. 4. Sebaiknya dalam penerapan pendekatan kontekstual ini dilakuakan selama 1 (satu) semester penuh untuk hasil yang lebih maksimal.
    • DAFTAR PUSTAKA Hamalik, Oemar. (2001). Proses Belajar Mengajar. Bandung : Bumi Aksara. Hamalik, Oemar. (2001). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Bandung : Bumi Aksara. Johnson, Elaine B. (2002). Contextual Teaching and Learning: What is is and why it's here to stay. Bandung : MLC. Basrul, Donna. (2005). Perbandingan Hasil Belajar Matematika Yang Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Dan Pembelajaran Konvensional Di Kelas II SMPN 3 Padang Panjang. Skripsi. FMIPA: UNP. Depdiknas. (2007). Model Penilaian SMK. Jakarta : Depdiknas. Djohar, M.S. (2003). Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan Menuju Masyarakat Madani. Bandung : Remaja Rosma Karya. Fitriza, Rozi. (2005). Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching Learning/Ctl) Pada Siswa Kelas II SMPN 8 Padang Dan Pendekatan Konvensional Pada Siswa Kelas II SMPN 7 Padang. Skripsi. FMIPA:UNP. Sukmadinata, Nana Syaodih. (2003). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : Rosda Sudjana. (1989). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.