Proses pembelajaran evaluasi diagnosa dan remedial

6,295
-1

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
6,295
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
144
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Proses pembelajaran evaluasi diagnosa dan remedial

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar pada dasarnya merupakan proses usaha aktif seseorang untuk memperoleh sesuatu, sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yang lebih baik. Kenyataannya, para pelajar seringkali tidak mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak memperoleh perubahan tingkah laku sebagai mana yang diharapkan. Hal itu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar yang merupakan hambatan dalam mencapai hasil belajar. Hal itu disebabkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar itu sendiri. Sementara itu, setiap siswa dalam mencapai sukses belajar, mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada siswa yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, akan tetapi banyak pula siswa mengalami kesulitan, sehingga menimbulkan masalah bagi perkembangan pribadinya. Menghadapi masalah itu, ada kecenderungan tidak semua siswa mampu memecahkannya sendiri. Seseorang mungkin tidak mengetahui cara yang baik untuk memecahkan masalah sendiri. Ia tidak tahu apa sebenarnya masalah yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak seolah tidak mempunyai masalah, padahal masalah yang dihadapinya cukup berat. Atas kenyataan itu, semestinya sekolah harus berperan turut membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Seperti diketahui, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sekurang-kurangnya memiliki 3 fungsi utama yaitu :  fungsi pengajaran, yakni membantu siswa dalam memperoleh kecakapan bidang pengetahuan dan keterampilan.  fungsi administrasi,  fungsi pelayanan siswa, yaitu memberikan bantuan khusus kepada siswa untuk memperoleh pemahaman diri, pengarahan diri dan integrasi sosial yang lebih baik, sehingga dapat menyesuaikan diri baik dengan dirinya maupun dengan lingkungannya. Selain sekolah ada lagi yang memang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu proses pembelajaran, hasil belajar siswa dan juga evaluasi. Dimana kompunen-kompunen pendidikan di atas sanga berkaitan erat. Untuk mencapai tujuan kita harus menyiapkan proses pembelajaran itu supaya bisa berjalan sesuai rencana, dan agar kita bisa ngetahui apakan tujuan pendidikan sudah tercapai maka evaluasi sangat diperlukan.
  2. 2. 2 Berlatar belakang dari keterangan di atas, maka sangat perlu bagi kita untuk memahami lebih dalam mengenai proses pembelajaran, dan evaluasi. Adapun mengenai fenomena pendidikan tentang kesulitan para peserta didik, maka evaluasi diagnostik dianggap perlu dan memiliki fungsi atau peranan yang sangat penting untuk mengatasi kesulitan belajar siswa terutama untuk mngetahui tingkat kemampuan belajar siswa secara individual. Setelah mendiagnosa baru lah kita mengetahui apa penyebab peserta didik mendapatkan hasil belajar yang tidak sesuai harapan. Guru juga bisa memutuskan apa solusi yang tepat apakah perlu pembelajaran remedial, metode apa yang akan dipakai, materi apa yang sangat sulit bagi dia. B. Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan yang telah diungkapkan di atas, maka penulis merumuskan masalah yaitu : 1. Apa yang dimaksud dengan proses pembelajaran? 2. Apa yang dimaksud dengan evaluasi? 3. Apa yang dimaksud dengan evaluasi diagnosa? 4. Apakan perlu remedial dalam suatu pembelajara?
  3. 3. 3 BAB II PEMBAHASAN A. Proses Pembelajaran 1. Definisi Proses Pembelajaran Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata proses bermakna sebagai beriku: (1) runtutan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu: -kemajuan sosial berjalan terus; penyakit; kimia, reaksi kimia; (2) rangkaian tindakan,pembuatan, atau pengolahan yang menghasilkan produk; (3) perkara di pengadilan; sedang di pengadilan; verbal berita acara (laporan mengenai suatu perkara, yaitu waktu terjadinya, keterangan, dan petunjuk lain); verbal beberapa demonstran yang kini ditahan sedang dibuat; - adiabatik proses yang terjadi pada suatu sistem apabila selama berlangsungnya proses tidak ada panas (kalori) yang masuk atau keluar;-belajar tingkat dan fase-fase yang dilalui anak atau sasaran didik dalam mempelajari sesuatu; sosial proses pengaruh timbal balik antara pelbagai bidang kehidupan; sosialisasi proses yang membawa anak pada perkenalan dan pergaulan dengan anak lain; berproses mengalami (mempunyai) proses; pengawasan dengan mekanisme komputer bisa cepat mengetahui segala angka atau data.( Anton M. Moeliono, dkk.1997 hlm.703). Setelah mengetahui makna dari kata proses. Kemudian memahami makna dari kata Pembelajaran. Kata dasar pembelajaran adalah kata belajar, oleh karena itu pengertian pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari pengertian belajar. Sedangkan makna kata dari kata pembelajaran adalah suatu proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makluk hidup belajar.1 Menurut Slamet (dalam Hadis, 2006 hlm.60) mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri daninteraksinya dengan lingkungan. Pengertian yang hampir sama dikemukakan olehSoemanto (2006: hlm. 104) bahwa, “Belajar adalah suatu proses, dan bukan suatu hasil. Karena itu belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.” 1 Artikata.com, diakses 1 Oktober 2013.
  4. 4. 4 Menurut Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya.1997 hlm.33, proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi.Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai tujuan pendidikan.Pengawasan turut menentukan lingkungan itu membantu kegiatan belajar.Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang para siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam satu kelas adalah job descreption proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses atau kegiatan yang memungkinkan terjadinya peristiwa belajar yang dapat menghasilkan perubahan pada pelaku belajar. Perlunya merumuskan kurikulum berbasis proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba [observation based learning] untuk meningkatkan kreativitas peserta didik, Disamping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning. (Materi Kemendikbud, Sosialisasi Kurikulum 2013). Ini lah yang di harapkan dari penerapan Kurikulum 2013, karena di atas dijelaskan bahwa proses pembelajaran pada intinya ingin mengubah prilaku anak didik menjadi lebih baik melalui proses belajar. 2. Proses Pembelajaran yang Baik Untuk menghasilkan sebuah proses pembelajaran yang baik, maka paling tidak harus terdapat 4 tahapan, yaitu : a. Tahap berbagi dan mengolah informasi, kegiatan dikelas, laboratorium, perpustakaan adalah termasuk dalam aktifitas untuk berbagi dan mengolah informasi. b. Tahap internalisasi, aktifitas dalam bentuk PR, tugas, paper, diskusi, tutorial, adalah bagian dari tahap internalisasi. c. Mekanisme balikan, kuis, ulangan/ujian serta komentar dan survey adalah bagian dari proses balikan.
  5. 5. 5 d. Evaluasi, aktifitas assesment yang berdasar pada test ataupun tanpa test termasuk assesment diri adalah bagian dari proses evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan secara review ataupun dengan survey terbatas. 3. Analisis Proses Pembelajaran Proses pembelajaran mengandung dua aktivitas yaitu belajar dan mengajar. Belajar didefinisikan sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman dan mengajar didefinisikan sebagai aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya sehingga menciptakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan proses belajar yang efektif. Tujuan proses pembelajaran bagi guru adalah mengantarkan peserta didik atau sebagai fasilitator dalam menguasai kompetensi yang dibutuhkan melalui proses belajar mengajar. Tujuan pembelajaran bagi siswa adalah mampu menguasai kompetensi yang diajarkan oleh guru sehingga dapat diperoleh hasil belajar (nilai) yang memuaskan. Teuku Zahara Djaafar (2001:1) menyatakan dalam konsep teknologi pendidikan dibedakan istilah pembelajaran (instruction) dan pengajaran (teaching).Pembelajaran disebut juga kegiatan instruksional (Instructional) saja yaitu usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang belajar berperilaku tertentu dalam kondisi tertentu.Sedangkan pengajaran adalah usaha membimbing dan mengarahkan pengalaman belajar kepada peserta didik yang biasanya berlangsung dalam situasi resmi (formal). Lebih lanjut Teuku Zahara Djaafar menyatakan menurut Cagne dan Bigg, pembelajaran adalah rangkaian peristiwa kejadian yang mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah. Syaiful Bahri dan Aswan Zain (1997:194) menyatakan bahwa masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas.Pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yangkompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain ialah kegiatan kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Menurut Popham dan Baker (1992;101) seseorang tidak dapat menghindari
  6. 6. 6 timbulnya kesulitan kesulitan di dalam kelas tetapi seseorang dapat menguranginya, dan bila terjadi dapat menanganinya secara efisien. Setiap guru masuk di dalam kelas, maka pada saat itu pula ia menghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran adalah usaha membantu anak didik dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat satuan pengajaran , penyajian informasi , mengajukan pertanyaan, evaluasi dan lain-lain. Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikan rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. (Syaiful Bahri dan Aswan Zain, 1997;196). Dengan demikian proses pembelajaran di dalam kelas terkait dengan masalah pengajaran dan masalah pengelolaan kelas. IGAK Wardani (2001:16) menyatakan mengajar adalah perbuatan yang kompleks yang merupakan pengintegrasian secara utuh berbagai komponenkemampuan.Komponen kemampuan tersebut berupa pengetahuan,keterampilan,sikap dan nilai.Mengajar dikatakan berhasil jika anak – anak belajar sebagai akibat usaha itu (S. Nasution, 1995:5). Oleh karena itu dalam proses pembelajaran yangmeliputi proses pengajaran dan pengelolaan kelas tujuan utamanya adalahbagaimana mengupayakan agar peserta didik belajar. Agar proses pengajaran berlangsung baik maka guru harus menguasaiketerampilan dasar mengajar. Berdasar hasil penelitian Turney (1973) terdapat 8keterampilan dasar mengajar yang dianggap sangat berperan dalam keberhasilankegiatan belajar mengajar. Kedelapan keterampilan tersebut adalah : a. Keterampilan bertanya b. Keterampilan memberi penguatan c. Keterampilan mengadakan variasi d. Keterampilan menjelaskan e. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran f. Ketarmpilan membimbing diskusi kelompok kecil g. Keterampilan mengelola kelas h. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan individual (IGAK Wardani, 2001:17)
  7. 7. 7 Di samping menguasai keterampilan dasar mengajar guru juga dituntut untukmampu mengelola kelas secara efektif. Suroso (2002:93) menyatakan konsep dasaryang harus diperhatikan dalam manajemen kelas adalah: a. Manajemen bagaimana guru merencanakan, mengorganisasikandan mengontrol. b. Menegakkan disiplin kelas, termasuk memberi hukuman danperingatan. c. Menciptakan iklim kelas yang rileks, menyenangkan fleksibel, demokratik, sportif namun juga represif, dan lain-lain. Dalam proses pembelajaran, seorang guru berperan sebagai pemimpin/fasilitator dan mengarahkan kegiatan belajar siswanya. Dalam proses belajar mengajar terdapat beberapa aspek yang saling berkaitan. Oemar Hamalik (2002:63) menyatakan paling tidak ada tujuh aspek yang memiliki fungsi berbeda dalam proses belajar mengajar ,tetapi merupakan satu kesatuan bulat yaitu: a. Aspek Tujuan instruksional (Standar kompetensi) b. Aspek materi pelajaran c. Aspek metode dan strategi pembelajaran d. Aspek media instruksional e. Aspek penilaian f. Aspek penunjang fasilitas, waktu,tempat dan pelengkapan g. Aspek ketenagaan meliputi aspek siswa dan guru. Semua aspek tersebut satu sama lainnya saling terkait dan mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran. Guru sebagai sutradara dalam kegiatan pembelajaran dituntut untuk mampu mengelola keseluruhan aspek tersebut sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien. Kemampuan guru dalam mengelola aspek-aspek belajar mengajar dapat ditinjau dari kemampuan guru merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program pembelajaran. 4. Proses Pembelajaran pada Kurikulum 2013 Berbicara mengenai proses pembelajaran pada Kurikulum 2013, hal ini terkait dengan standar proses yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Di dalam Lampiran Permendikbud No.65/2013 menyebutkan bahwa Standar ini harus sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakuppengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasuntuk setiap satuan pendidikan.
  8. 8. 8 Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (prosespsikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas“menerima menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuandiperoleh melalui aktivitas“ mengingat, memahami, menerapkan menganalisis, mengevaluasi, mencipta”. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas“mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”.Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehanturut serta mempengaruhi karakteristik standar proses. Rincian gradasi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut: Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga ranah tersebut secara utuh/holistik, artinya pengembangan ranah yang satu tidak bisa dipisahkan dengan ranah lainnya.Dengan demikian proses pembelajaran secara utuh melahirkan kualitas pribadi yang mencerminkan keutuhan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Proses pembelajaran Kurikulum2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan pembelajaran ekstra-kurikuler. a. Pembelajaran intra kurikuler didasarkan pada prinsip berikut: 1) Proses pembelajaran intra-kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas, sekolah, dan masyarakat. 2) Proses pembelajaran di SD/MI berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS, SMA/MA, dan SMK/MAK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru. 3) Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan (excepted).
  9. 9. 9 b. Pembelajaran ekstra-kurikuler Pembelajaran ekstra-kurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap minggu. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Pramuka adalah kegiatan ekstra-kurikuler wajib. Kegiatan ekstra-kurikuler adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kurikulum.Kegiatan ekstra-kurikulum berfungsi untuk: 1) Mengembangkan minat peserta didik terhadap kegiatan tertentu yang tidak dapat dilaksanakan melalui pembelajaran kelas biasa, 2) Mengembangkan kemampuan yang terutama berfokus pada kepemimpinan, hubungan sosial dan kemanusiaan, serta berbagai ketrampilan hidup. Kegiatan ekstra-kurikuler yang bisa dilakukan di lingkungan: 1) Sekolah 2) Masyarakat 3) Alam Kegiatan ekstra-kurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung kegiatan intra-kurikuler. Contoh proses pembelajaran yang akan penulis uraikan disini adalah contoh Pembelajaran Berbasi Masalah yang dilaksanakan di MI. untuk melakukan pembelajaran ini dapat dilakukan dalam 5 fase, yaitu : 1) Mengorientasikan Peserta Didik pada Masalah Pada tahapan ini sangat penting dimana guru harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan juga oleh guru. Serta dijelaskan bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan. Ada empat hal yang perlu dilakukan dalam proses ini, yaitu sebagai berikut:  Tujuan utama pengajaran tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi peserta didik yang mandiri.
  10. 10. 10  Permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali bertentangan.  Selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), peserta didik didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi. Guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, namun peserta didik harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya.  Selama tahap analisis dan penjelasan, peserta didik akan didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Tidak ada ide yang akan ditertawakan oleh guru atau teman sekelas. Semua peserta didik diberi peluang untuk menyumbang kepada penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka. 2) Mengorganisasikan Peserta Didik untuk Belajar Di samping mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong peserta didik belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok- kelompok peserta didik dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.
  11. 11. 11 3) Membantu Penyelidikan Mandiri dan Kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Guru membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak- banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada peserta didik untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelesan, dan pemecahan. Selama pengajaran pada fase ini, guru mendorong peserta didik untuk menyampikan semua ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat peserta didik berpikir tentang kelayakan hipotesis dan solusi yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. 4) Mengembangkan dan Menyajikan Artifak (Hasil Karya) dan Mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu video tape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berpikir peserta didik. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan peserta didik-peserta didik lainnya, guru-guru, orang tua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.
  12. 12. 12 5) Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya.2 B. Evaluasi Pembelajaran 1. Definisi Evaluasi Pembelajaran Kata evaluasi berasal dari bahasa inggris “evaluation” yang beraarti proses penilaian. Jika direfleksikan dengan fungsinya di dalam proses pembelajaran maka bisa diambil pengertian evaluasi merupakan suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pembelajaran. Kita kembali lagi ke definisi evaluasi pembelajaran. Dari definisi yang ada di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa ada beberapa poin penting yang dapat diambil dari rumusan definisi tersebut. Berikut ini sedikit penjabaran tentang poin-poin yang harus ada di dalam suatu evaluasi. Evaluasi merupakan proses berkelanjutan, hal ini berarti evaluasi adalah proses yang berlangsung terus menerus baik sebelum melakukan proses belajar mengajar atau sesudah proses belajar mengajar bahkan evaluasi juga harus dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung. Pengumpulan dan penafsiran informasi, hal ini berarti evaluasi harus memiliki tujuan tertentu untuk apa sebuah evaluasi dilakukan. Untuk menilai keputusan-keputusan, hal ini berarti harus ada standar pengukuran tertentu untuk menyatakan apakah evaluasi proses pembelajaran telah sesuai atau belum sehingga dapat memberikan keputusan yang sesuai dengan data dan informasi yang dikumpulkan Dari poin-poin penting di atas, definisi evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam rangka pengendalian, penjaminan dan penetapan kualitas (nilai dan arti) berbagai komponen pembelajaran berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan pembelajaran. 2 Materi Sosialisasi Kurikulum 2013, dari Kemendikbud.
  13. 13. 13 Terdapat beberapa istilah yang sering disalah artikan dalam kegiatan evaluasi, yaitu evaluasi (evaluation), Penilaian (assessment), pengukuran (measurement), tes (test). Istilah-istilah di atas mempunyai definisi dan fungsi yang berbeda, tetapi sangat berhubungan erat dalam kegiatan evaluasi. Untuk mempermudah membedakannya dan memahami pengertian istilah-istilah tersebut, silakan perhatikan pengertian istilah-istilah di bawah ini : a. Evaluasi(evaluation): suatu proses atau kegiatan yang sistematis yang berkelanjutan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu. b. Penilaian (assessment) : proses pengumpulan atau pengolahan untuk menentukan kualitas (nilai dan arti) hasil belajar peserta didik. c. Pengukuran (measurement) : suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas dari sesuatu. d. Tes (test) : suatu alat (soal atau tugas) untuk mengukur aspek prilaku terlentu. Definisi-definisi di atas sangatlah jelas mempunyai perbedaan. Untuk lebih mudahnya lagi marilah kita perhatikan gambar di bawah ini: Gambar 1 Gambar 2.
  14. 14. 14 2. Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran Secara umum tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Indicator efektivitas dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang terjadi pada peserta didik.Perubahan tingkah laku itu dibandingkan dengan perubahan tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan kompetensi, tujuan dan isi program pembelajaran. Adapun secara khusus, tujuan evaluasi adalah untuk : a. Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditetapkan. b. Mengetahui kesulitan-kesulitan peserta didik dalam proses belajar, sehingga dapat dilakukan diagnosis dan kemungkinan memberi remedial teaching. Untuk pembahasan diagnosis dan remedial akan dibahas di sub pembahasan yang lain di dalam makalah ini. c. Mengetahui efisiensi dan efektifitas strategi pembelajaran yang digunakan guru, baik yang menyangkut metode, media maupun sumber-sumber belajar. Semua kegiatan dalam pembelajaran yang dilaksanakan pastilah mempunya fungsi tersendiri sehingga kegiatan itu diterapkan. Adapun fungsi evaluasi pembelajaran adalah : a. Secara psikologis, peserta didik perlu mengetahui prestasi belajarnya, sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan. Oleh karena itu, guru perlu melakukan penilaian terhadap prestasi belajar peserta didiknya. b. Menurut dedaktis-metodis, untuk mengetahui apakah peserta didik sudah mampu untuk terjun kemasyarakat. Mampu dalam arti dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan seluruh lapisan masyarakat dengan segala karakteristiknya. c. Untuk mengetahui kedudukan peserta didik diantara teman-temannya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang atau kurang. d. Untuk mengetahui taraf kesiapan peserta didik dalam menempuh program pendidikannya. e. Untuk membantu guru dalam memberi bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan maupun kenaikan tingkat/kelas. f. Secara administrative, evaluasi berfungsi untuk laporan tentang kemajuan peserta didik kepala pemerintahan, pimpinan/kepala sekolah, guru, keluarga dan peserta didik itu sendiri.
  15. 15. 15 Di samping itu, fungsi evaluasi dapat dilihat berdasarkan jenis evaluasi itu sendiri, yaitu : a. Formatif, yaitu memberikan feed back bagi guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial bagi pesera didik yang belum menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari. b. Sumatif, yaitu mengetahui tingkatan penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran, menentukan angka (nilai) sebagai bahan keputusan kenaikan kelas dan laporan perkembangan belajar, serta dapat meningkatkan motivasi belajar. c. Diagnostik. Yaitu mengetahui latar belakang peserta didik (psikologis, fisik dan lingkungan) yanf mengalami kesulitan belajar. d. Seleksi dan penempatan, yaitu hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk menyeleksi dan menempatkan peserta didik yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. 3. Prinsip-prinsip Pelaksanaan Evaluasi Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka pelaksanaan evaluasi hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip : kontinuitas, komprehensif, objektivitas, kooperatif dan praktis. Dengan demikian evaluasi pembelajaran hendaknya : a. Dirancang sedemikian rupa, sehingga jelas abilitas yang harus dievaluasi, materi yang akan dievaluasi, alat evaluasi, dan interpretasi hasil evaluasi. b. Menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. c. Agar hasilnya objektif, evaluasi harus menggunakan berbagai alat dan bersifat komperehensif d. Diikuti dengan tindak lanjut. Disamping itu, juga harus memperhatikan prinsip keterpaduan, berorientasi kepada kompetensi dan memperhatikan prinsip hidup, prinsip belajar aktif, koherensi, dan prinsip diskriminalitas 4. Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran Ruang lingkup evaluasi pembelajaran adalah : a. Dalam perspektif sistem pelajaran 1) Program pembelajaran : tujuan, materi, metode, media, dan lain-lain 2) Pelaksanaan pembelajaran : kegiatan pembelajaran, guru, peserta didik. 3) Hasil belajar : jangka panjang, menengah dan jangka pendek. b. Dalam perspektif penilaian berbasis kelas 1) Penilaian kompetensi dasar mata pelajaran
  16. 16. 16 Kompetensi dasar pada hakekatnya adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diferleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah peserta didik menyelesaikan suatu aspek atau subjek mata pelajaran tertentu. 2) Penilaian kompetensi rumpun pelajaran Rumpun pelajaran merupakan kumpulan dari mata pelajaran atau disiplin ilmu yang lebih spesifik.Dengan demikian, kompetensi rumpun pelajaran pada hakekatnya merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfliksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak yang seharusnya dicapai oleh peserta didik setelah menyelesaikan rumpun pelajaran tersebut. 3) Penilaian kompetensi lintas kurikulum Kompetensi lintas kurikulum merupakan kompetensi yang harus dicapai melalui seluruh rumpun pelajaran dalam kurikulum. Kompetensi lintas kurikulum pada hakekatnya merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak yang mencakup kecakapan belajar secara berkesinambungan.Penilaian ketercapaian kompetensi lintas kurikulum ini dilakukan terhadap hasil belajar dari setiap rumpun pelajaran dalam kurikulum. 4) Penilaian kompetensi tamatan. Kompetensi tamatan merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai- nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah peserta menyelesaikan jenjang tertentu. 5) Peniaian kompetensi life skill. Penguasaan berbagai kompetensi dasar, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi rumpun pelajaran, kompetensi mata pelajaran dan kompetensi tamatan melalui berbagai pengalaman belajar juga memberi efek positif (nurturan effects) dalam bentuk kecakapan hidup (life skill).Kecakapan hidup yang dimiliki peserta didik melalui berbagai pengalaman belajar ini, juga perlu dinilai sejauhmana kesesuaiannya dengan kebutuhan mereka untuk dapat bertahan dan berkembang dalam kehidupannya di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Jenis-jenis kecakapan hidup yang perlu dinilai antara lain :
  17. 17. 17 a) Keterampilan diri (keterampilan personal) : penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan YME, motivasi berprestasi, komitmen, percayadiri dan mandiri. b) Keterampilan berpikir rasional : berpikir kritis dan logis, berpikir sistematis, keterampilan menyusun rencana secara sistemtis, dan keterampilan memecahkan masalah secara sistematis. c) Keterampilan sosial : keterampilan berkomunikasi lisan dan tertulis; keterampilan bekerjasama, kolaborasi, lobi; keterampilan berpartisipasi; keterampilan mengelola komflik; keterampilan mempengaruhi orang lain. d) Keterampilan akademik : keterampilan merancang, melaksanakan dan melaporkan hasil penelitian ilmiah; keterampilan membuat karya tulis ilmiah; keterampilan mentrasfer dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitian untuk memecahkan masalah, baik meropakan proses maupun produk. e) Keterampilan vokalisional : keterampilan menemokan algoritma, model, prosedur untuk mengerjakan suatu tugas; keterampilan menciptakan produk dengan menggunakan konsep, prinsip, bahan dan alat yang telah dipelajari. c. Dalam perspektif hasil belajar 1) Kognitif 2) Afektif 3) Psikomotorik 5. Penyajian Hasil Evaluasi Pembelajaran Ada empat bentuk penyajian hasil evaluasi, yaitu : a. Evaluasi dengan menggunakan angka, misalnya 1 s.d 10 atau 1 s.d 100 b. Evaluasi dengan menggunakan kategori, misalnya : baik, cukup, kurang c. Evaluasi dengan menggunakan uraian atau narasi, misalnya : perlu bimbingan serius, keaktifan kurang, perlu pendalaman materi tertentu atau siswa dapat membaca dengan lancer. d. Evaluasi dengan menggunakan kombinasi angka, kategori dan uraian atau narasi. 6. Teknik dan Bentuk Evaluasi Secara keseluruhan, teknik dan bentuk evaluasi dapat digambarkan sebagai berikut :
  18. 18. 18 Gambar 3 7. Pengembangan Evaluasi Pembelajaran di MI a. Ulangan Harian Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.3 Contoh bentuk evaluasi yang sering digunakan dalam ulangan harian mata pelajaran Fiqih di MI adalah tes dalam bentuk essay. Instrumen penilaian disusun berdasarkan indikator dalam setiap Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Adapun teknik non tes yang pernah digunakan di antaranya: 1) unjuk kerja mensimulasikan atau mendemonstrasikan pelaksanaan zakat maal, zakat fitrah, shadaqah dan infaq; 2) teknik penilaian proyek dalam bentuk ulangan bergulir, dengan langkah-langkah sebagai berikut: guru memberikan lima buah soal kepada beberapa orang murid pada satu pertemuan untuk dikumpulkan pada minggu berikutnya. Sebagai bahan pembelajarannya guru memberikan materi yang akan dievaluasi. Pada 3 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007.
  19. 19. 19 minggu berikutnya guru memberikan lima buah soal kepada murid lain untuk dikerjakan di rumah sebagaimana peserta pertama, begitu seterusnya; 3) teknik penilaian proyek dalam bentuk tugas kelompok, seperti tugas menganalisis siapa saja yang termasuk mustahiqzakat yang terdapat pada surat at-Taubah ayat 60; 4) penilaian sikap yang dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran menggunakan metode jig saw, komponen yang dinilai berupa kerjasama, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Walaupun guru telah menggunakan teknik non-tes. Tetapi, instrumen yang digunakan masih sangat sederhana. Berikut ini contoh soal evaluasi pada akhir pembelajaran yang dirangkum dari RPP Kelas 4 Semester 1 di Madrasah Ibtidaiyah  Jelaskan pengertian zakat maal!  Sebutkan hukum menunaikan zakat maal!  Sebutkan harta yang wajib dizakati!  Sebutkan batas waktu untuk mengeluarkan zakat (Haul)!  Dll. b. UTS dan UAS Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.4 Teknik evaluasi yang digunakan di MI biasanya adalah tes. Instrumen tes pada UTS dikembangkan langsung oleh guru, sedangkan instrumen penilaian pada UAS dikembangkan oleh KKG dengan melibatkan seluruh guru anggota KKG. Soal tersebut kemudian dimusyawarahkan dengan tujuan untuk menghindari soal yang terlalu tinggi, penggunaan redaksi yang kurang cocok untuk anak MI dan lain-lain. Komposisi soal UAS terdiri dari 20 butir soal mudah, 20 butir soal sedang, dan 15 butir soal sulit. Semuanya tersebar dalam tiga bentuk soal, yaitu 30 soal pilihan ganda, 10 soal isian dan 5 soal essay. Pada UAS mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan biasanya menggunakan ujian praktek untuk melengkapi nilai tes. 4 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2007
  20. 20. 20 C. Evaluasi Diagnosa 1. Definisi Evaluasi Diagnosa Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan- kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat.Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya. 2. Prosedur Evaluasi Diagnosa Untuk menetapkan model terapi yang tepat dari setiap gangguan,lebih dahulu harus ditegakkan diagnosis. Demikian juga dengan kesulitanbelajar, harus ditegakkan suatu diagnosis kesulitan belajar, yaitu menentukan jenis dan penyebab kesulitan serta alternatif strategi belajar yang efektif dan efisien. Ada 7 langkah dalam prosedur diagnosis : a. Identifikasi pelaksanaan identifikasi dapat dilakukan dengan memperhatikan laporan guru kelas atau sekolah, melalui hasil tes inteligensi yang telah dilakukan, atau melalui instrumen informal, misalnya melalui lembar observasi guru atau orang tua. b. Menentukan prioritas Tidak semua anak yang oleh sekolah dinyatakan mengalami kesulitan belajar memerlukan penanganan khusus, oleh karena itu perlu ada prioritas, anak mana yang akan mendapat pelayanan khusus dan mana yang tidak. c. Menentukan potensi potensi anak biasanya didasarkan atas skor tes inteligensi. Anak yang memiliki skor IQ paling rendah 90 akan mendapatkan perhatian lebih dari para guru atau terapisnya.
  21. 21. 21 d. Menentukan penguasaan bidang studi yang perlu diremediasi Salah satu karakter anak berkesulitan belajar adalah prestasi belajar yang jauh di bawah kapasitas inteligensinya. Oleh karena itu guru remedial perlu memiliki data tentang prestasi anak dan membandingkan prestasi belajarnya dengan taraf inteligensinya. Kalau prestasinya menyimpang jauh dibawah kapasitas inteligensinya maka dapat dikelompokkan sebagai anak berkesulitan belajar. e. Menentukan gejala kesulitan pada langkah ini guru perlu melakukan observasi dan analisis cara belajar anak. Cara anak mempelajari suatu bidang studi sering dapat memberikan informasi diagnostik tentang sumber penyebab yang orisinil dari suatu kesulitan. Kesulitan dalam membedakan huruf “b” dengan “d” misalnya, sering merupakan petunjuk bahwa anak memiliki gangguan persepsi visual. Gangguan persepsi visual sering disebabkan karena adanya disfungsi otak. f. Analisis berbagai faktor yang terkait Pada langkah ini guru remedial perlu melakukan analisis terhadap hasil-hasil pemeriksaan ahli-ahli lain seperti psikolog, dokter, konselor dan pekerja sosial. Berdasarkan hasil analisis terhadap pemeriksaan berbagai bidang keahlian dan mengaitkannya dengan hasil observasi yang dilakukan sendiri, guru dapat menegakkan diagnosis yang diharapkan dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan strategi pengajaran yang efektif dan efisien. g. Menyusun rekomendasi untuk pengajaran remedial Berdasarkan hasil diagnosis yang secara cermat ditegakkan, guru remedial dapat menyusun suatu rekomendasi penyelenggaraan program pengajaran remedial bagi seorang anak berkesulitan belajar. 3. Prinsip diagnostik Ada beberapa prinsip diagnosis yang perlu diperhatikan oleh guru bagi anak berkesulitan belajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah : a. Terarah pada perumusan metode perbaikan. Dalam hal ini hendaknya dikumpulkan berbagai inforasi yang bermanfaat untuk menyusun suatu program perbaikan atau program pengajaran remedial. Ada dua tipe diagnosis etiologis(etiological diagnosis) dan diagnosis terapetik (therapeutik diagnosis). Diagnosis etiologis merupakan diagnosis yang bertujuan untuk
  22. 22. 22 mengetahui sumber orisinal dari kesulitan belajar. Diagnosis etiologis kurang bermanfaat untuk merumuskan program pengajaran remedial, sedangkan diagnosis terapetik merupakan diagnosis yang berkaitan langsung dengan kondisi anak pada saat sekarang dan sangat bermanfaat untuk menyusun program pengajaran remedial. Diagnosis ini berusaha untuk mengumpulkan informasi tentang kekuatan, keterbatasan dan karakteristik lingkungan anak saat sekarang b. Efisiensi Diagnosis harus efisien, dan berlangsung sesuai dengan derajat kesulitan anak. Evaluasi rutin, termasuk evaluasi psikologis, dapat memberikan informasi diagnostik yang berharga Diagnosis yang didasarkan atas hasil-hasil evaluasi yang dilakukan secara rutin di sekolah dapat digolongkan ke dalam taraf diagnosis umum (general diagnosis) . Bila suatu kesulitan belajar disertai dengan gejala- gejala lain, misalnya gejala neurologis, maka pemeriksaan medis sering diperlukan. Diagnosis kesulitan belajar yang ditegakkan atas hasil evaluasi semacam itu dapat digolongkan pada taraf diagnosis analitis (analitical diagnosis). Diagnosis analitis, terutama diagnosis medis-neurologis, bermanfaat untuk menentukan lokasi pada otak yang menyebabkan kesulitan belajar, sehingga dengan demikian dapat dijadikan landasan dalam menyesuaikan program pembelajaran remedial yang sesuai dengan keadaan anak. c. Menggunakan catatan kumulatif Catatan kumulatif (cumulative records) dibuat sepanjang tahun kehidupan anak di sekolah. Catatan semacam ini dapat memberikan informasi yang sangat berharga dalam pengajaran remedial. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai landasan dalam menentukan program pengajaran remedial. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai landasan untuk menentukan pengelompokan yang sesuai dengan tingkat kesulitan belajar anak. d. Memperhatikan berbagai informasi yang terkait Informasi dari berbagai sumber yang telah dikumpulkan sangat membantu untuk menentukan program pengajaran remedial. Informasi terkait dapat berasal dari berbagai sumber yang kompeten. e. Valid dan reliabel Dalam melakukan diagnosis hendaknya digunakan instrumen yang dapat mengukur apa yang seharusnya diukur (valid) dan instrumen tersebut hendaknya juga yang dapat diandalkan (reliable). Informasi yang dikumpulkan hendaknya
  23. 23. 23 juga tepat, yang dapat dijadikan landasan dalam menentukan program pengajaran remedial. Penggunaan berbagai tes yang tidak bermanfaat sebaiknya dihindari karena hanya akan membosankan anak. f. Penggunaan tes baku Tes baku adalah tes yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya. Berbagai tes psikologis, terutama tes inteligensi, umumnya merupakan tes baku yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, tetapi tidak demikian dengan tes prestasi belajar yang umumnya adalah buatan guru. Di Indonesia tes prestasi yang baku masih sangat langka. g. Penggunaan prosedur informal Meskipun tes-tes baku umumnya mampu memberikan informasi yang lebih tepat dan efisien, penggunaan prosedur informal sering memberikan manfaat yang bermakna. Guru hendaknya memiliki perasaan bebas untuk melakukan evaluasi dan tidak terlalu terikat secara kaku oleh tes baku. Di negara yang masih belum banyak dikembangkan tes baku, hasil observasi guru memegang peranan sangat penting untuk menegakkan diagnosis kesulitan belajar anak. Dari observasi informal sering dapat diperoleh informasi yang bermanfaat bagi penyusunan program pengajaran remedial. h. Kuantitatif Keputusan-keputusan dalam diagnosis kesulitan belajar hendaknya didasarkan pada pola-pola skor atau dalam bentuk angka. Bila informasi tentang kesulitan belajar telah dikumpulkan, maka informasi tersebut harus disusun sedemikian rupa sehingga skor-skor dapat dibandingkan. Hal ini sangat berguna untuk mengetahui kesenjangan antara potensi dengan prestasi belajar anak saat pengajaran remedial akan dimulai. Informasi yang kuantitatif juga memungkinkan bagi guru untuk mengetahui keberhasilan pengajaran remedial yang diberikan kepada anak. i. Berkeseimbangan Kadang-kadang anak gagal mencapai tujuan pengajaran remedial yang telah dikembang kan berdasarkan hasil diagnosis. Dalam keadaan semacam ini perlu dilakukan diagnosis ulang untuk landasan penyusunan program pengajaran remedial yang lebih efektif dan efisien. Suatu program pengajaran remedial yang berhasilpun, mungkin masih perlu dimodifikasi untuk memperoleh tingkat efektivitas dan efisiensi program pengajaran remedial.
  24. 24. 24 4. Perbedaan Evaluasi Diagnosa, Formatif dan Somatif Ada perbedaan dalam konsep dasar evaluasi diagnosis, formatif, maupun sumatif. Adapun perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
  25. 25. 25 5. Peran Evaluasi Diagnosa Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : a. faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; b. faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. D. Pembelajaran Remedial 1. Hakikat Pembelajaran Remedial Pembelajaran remedial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas 22, 23, 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap peserta didik diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan. Pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran menggunakan berbagai metode seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video,
  26. 26. 26 komputer, multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar peserta didik, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan. Apabila dijumpai adanya peserta didik yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran remedial atau perbaikan. Dengan kata lain, remedial diperlukan bagi peserta didik yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Pemberian program pembelajaran remedial didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Dengan diberikannya pembelajaran remedial bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran remedial. 2. Prinsip Pembelajaran Remedial Pembelajaran remedial merupakan pemberian perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Hambatan yang terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam mecapai kompetensi. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain: a. Adaptif Setiap peserta didik memiliki keunikan sendiri-sendiri. Oleh karena itu program pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran remedial harus mengakomodasi perbedaan individual peserta didik. b. Interaktif
  27. 27. 27 Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk secara intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar peserta didik yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan segera diberikan bantuan. c. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian Sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar peserta didik yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedial perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. d. Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut yang dialami peserta didik. e. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayanan Program pembelajaran reguler dengan pembelajaran remedial merupakan satu kesatuan, dengan demikian program pembelajaran reguler dengan remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing. 3. Pelaksanaan Pembelajaran Remedial di MI Pembelajaran remedial pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Sehubungan dengan itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam pemberian pembelajaran remedial meliputi dua langkah pokok, yaitu pertama mendiagnosis kesulitan belajar, dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remedial. a. Diagnosis Kesulitan Belajar di MI 1) Tujuan Diagnosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar peserta didik. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan ringan, sedang dan berat.
  28. 28. 28  Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada peserta didik yang kurang perhatian di saat mengikuti pembelajaran.  Kesulitan belajar sedang dijumpai pada peserta didik yang mengalami gangguan belajar yang berasal dari luar diri peserta didik, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dsb.  Kesulitan belajar berat dijumpai pada peserta didik yang mengalami ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra¸tuna daksa, dsb. 2) Teknik Teknik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar antara lain: tes prasyarat (prasyarat pengetahuan, prasyarat keterampilan), tes diagnostik, wawancara, pengamatan, dsb.  Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan.  Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.  Wawancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai kesulitan belajar yang dijumpai peserta didik.  Pengamatan (observasi) dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun penyebab kesulitan belajar peserta didik. b. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial di MI Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial. Bentuk- bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain: 1) Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi,
  29. 29. 29 variasi cara penyajian, penyederhanaan tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat. 2) Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil mencapai ketuntasan. 3) Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill) untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan. 4) Pemanfaatan tutor sebaya. Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab. c. Waktu Pelaksanaan Pembelajaran Remedial di MI Terdapat beberapa alternatif berkenaan dengan waktu atau kapan pembelajaran remedial dilaksanakan. Pertanyaan yang timbul, apakah pembelajaran remedial diberikan pada setiap akhir ulangan harian, mingguan, akhir bulan, tengah semester, atau akhir semester. Ataukah pembelajaran remedial itu diberikan setelah peserta didik mempelajari SK atau KD tertentu? Pembelajaran remedial dapat diberikan setelah peserta didik mempelajari KD tertentu. Namun karena dalam setiap SK terdapat beberapa KD, maka terlalu sulit bagi pendidik untuk melaksanakan pembelajaran remedial setiap selesai mempelajari KD tertentu. Mengingat indikator keberhasilan belajar peserta didik adalah tingkat ketuntasan dalam mencapai SK yang terdiri dari beberapa KD, maka pembelajaran remedial dapat juga diberikan setelah peserta didik
  30. 30. 30 menempuh tes SK yang terdiri dari beberapa KD. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa SK merupakan satu kebulatan kemampuan yang terdiri dari beberapa KD. Mereka yang belum mencapai penguasaan SK tertentu perlu mengikuti program pembelajaran remedial. Hasil belajar yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui penilaian diperoleh dari penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses diperoleh melalui postes, tes kinerja, observasi dan lain-lain. Sedangkan penilaian hasil diperoleh melalui ulangan harian,ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.
  31. 31. 31 BAB III PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulkan sebagai berikut: 1. Proses pembelajaran merupakan proses atau kegiatan yang memungkinkan terjadinya peristiwa belajar yang dapat menghasilkan perubahan pada pelaku belajar. 2. evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam rangka pengendalian, penjaminan dan penetapan kualitas (nilai dan arti) berbagai komponen pembelajaran berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan pembelajaran. 3. Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan- kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. 4. Pembelajaran remedial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Pembelajaran remedial pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Sehubungan dengan itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam pemberian pembelajaran remedial meliputi dua langkah pokok, yaitu pertama mendiagnosis kesulitan belajar, dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remedial.
  32. 32. 32 DAFTAR PUSTAKA Ali Mustofa Yaqub, Imam Bukhori dan Metodologi kritik dalam Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991. Djamaluddin , M. Amin, Bahaya Inkar Sunah, LPPI. H.M. Joesoep Sou’yb, Orientalisme dan Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1990 Hafsa Mutazz, Sosok Orientalisme dan Kiprahnya, dalam internet website: http://www.gaulislam.com/sosok-orientalisme-dan-kiprahnya. http://lenterahadits.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=3 6&Itemid=57 Labib Syauqi Akifahadi, “Tanggapan sarjana Muslim Terhadap Kajian Hadits Orientalist”, dalam internet website: Makalah “Kajian Sanad Hadis, antara Joseph Schacht dan M.M. A’dhami” oleh Zailani, Munzier Suparta, Ilmu Hadits, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003. Umi Sumbulah. Kajian Krtitik Ilmu Hadis, Malang: UIN-Maliki Pres (Anggota IKAPI). 2010 Nawangsari dkk. 2009. Identifikasi dan Model Intervensi Gangguan Kesulitan Belajar pada Siswa Sekolah Dasar di Surabaya. Surabaya ; Universitas Airlangga. Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Yusuf, M. Sunardi, Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Karyadi . 2009. Diagnosa Kesulitan Belajar. http: //karyadi24.wordpress.com. diakses pada tanggal 20 Maret 2009.

×