Notes on indonesian economic / finance-related situations
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Notes on indonesian economic / finance-related situations

on

  • 4,651 views

This file is containg the notes on indonesian economic/finance related situations recently. The indonesian should learn hardly from their history..

This file is containg the notes on indonesian economic/finance related situations recently. The indonesian should learn hardly from their history..

Statistics

Views

Total Views
4,651
Views on SlideShare
4,651
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
92
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Notes on indonesian economic / finance-related situations Notes on indonesian economic / finance-related situations Document Transcript

    • http://www.hidayatullah.com/kolom/ilahiyah-finance/11014-belajarlah-emas-walau-sampai-negeri- china Belajarlah Emas Walau Sampai Negeri China Thursday, 11 March 2010 10:34, Oleh: Muhaimin Iqbal Menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam. Di disisi lain, emas dan perak dijadikan “hakim” yang adil dalam bermuamalah. Pada dasawarsa pertama kemerdekaan RI, negeri ini pernah memiliki cadangan emas sebesar 248 ton, tetapi kemudian cadangan emas ini juga pernah nyaris habis tahun 1971 menjadi tinggal 1.8 ton saja. Ketika Oil Boom tahun 70-an sampai puncaknya 1981, negeri ini alhamdulillah berhasil kembali membangun cadangan emasnya sampai mencapai sekitar 96 ton. Sayangnya selama seperempat abad kemudian, tepatnya sampai 2006, cadangan emas ini tidak berhasil dinaikkan dan bahkan berkurang 24%-nya pada akhir 2006 sehingga tinggal 73 ton saja. Lihat detilnya di tulisan saya tanggal 28 Desember 2008 dengan judul “Emas dan Kemakmuran Negeri Ini”. Mengapa sampai bangsa ini tidak menganggap penting cadangan emas yang bisa menjadi instrumen untuk membangun ketahanan ekonomi (Yukhsinun) selama lebih dari seperempat abad terakhir? Dugaan saya sendiri adalah karena ekonomi kita adalah ekonomi ala IMF banget. Kita tahu dalam sistem IMF, bahkan mereka melarang negara-negara anggotanya menggunakan emas sebagai rujukan mata uangnya (Article IV, Section 2. B). Akibat pelarangan ini, sampai-sampainya otoritas pasar modal kita, beberapa tahun lalu ketika ingin mempromosikan dagangannya, menggunakan iklan yang memojokkan emas. Dalam iklan tersebut investasi emas digambarkan sebagai investasinya ibu-ibu yang suka pamer, yang lagi meringis menunjukkan gigi emasnya sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi gelang emas. Inilah gambaran betapa kita termakan oleh propaganda anti-emas yang distimulasi oleh IMF melalui salah satu pasal di articles of agreement tersebut. Negara-negara yang tidak termakan propaganda IMF ini melakukan hal yang exactly sebaliknya. Kita bisa belajar dari China misalnya untuk yang terakhir ini. Ketika kita mengurangi cadangan emas sampai 24%-nya; China berhasil meningkatkan cadangan emasnya dari 600-an ton pada tahun 2003 sampai mencapai 1.054 ton akhir tahun lalu. Ketika institusi resmi pasar modal kita membuat iklan yang memojokkan orang yang berinvestasi pada emas, pemerintah China bahkan mendorong rakyatnya agar rame-rame membeli emas melalui kampanye besar-besaran yang disiarkan oleh China Central Television. Lebih jauh lagi pemerintah China juga mendirikan Shanghai Gold Exchange untuk mempermudah rakyatnya dalam berinvestasi emas. Mengapa China melakukan hal yang berlawanan dengan resep umum IMF ini? Dugaan saya lagi karena China tahu bahwa sesungguhnya emas itulah instrumen yang paling efektif dalam mengamankan kekayaan negeri itu beserta kekayaan rakyatnya. Di antara negara-negara yang paling drastis penurunan cadangan emasnya, mayoritasnya justru negara yang penduduk mayoritasnya muslim seperti Indonesia. Bangladesh contohnya, saat ini tinggal memiliki cadangan emas sebesar 3.5 ton saja; Iraq tinggal 5.9 ton; dan negeri jiran kita kini hanya memiliki 36.4 ton. Padahal sebelum krisis 1997/1998 mereka memiliki cadangan emas sekitar dua kali dari yang dimilikinya sekarang. Mungkin Anda bertanya, lho kan memang menimbun emas adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam? Betul, menimbun emas dan perak dan tidak dinafkahkan di jalan Allah diancam dengan siksa yang sangat pedih. Tetapi di sisi lain, “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 1 of 73
    • emas dan perak juga dijadikan hakim/timbangan yang adil dalam bermuamalah. Bahkan batas kewajiban orang kaya dengan hak orang miskin juga ditentukan dengan emas ini, yaitu dalam bentuk nishab zakat yang 20 Dinar. Artinya membangun cadangan emas, baik oleh negara maupun rakyat, tidak harus identik dengan menimbun. Ketika kita berhasil menjadikan emas atau Dinar kita sebagai hakim yang adil dalam menggerakkan ekonomi; maka di situlah ketahanan ekonomi umat dan bangsa ini insya Allah akan terbangun. Misi untuk menjadikan emas/Dinar sebagai penggerak sektor riil seperti yang pernah saya tulis tanggal 25 November 2009 lalu misalnya, adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk membangun ketahanan ekonomi agar kita tidak mudah terjajah – dan pada saat bersamaan kita juga terlibat langsung dalam mempercepat putaran ekonomi. Enam bulan sejak tulisan tersebut diluncurkan, kini produk-produk solusi pembiayaan berbasis emas/Dinar benar- benar telah dapat ditangani dengan baik oleh GeraiDinar beserta mitra-mitranya. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalanNya. Amin. http://www.arthadinar.com/2010/05/gold-wars-perang-terhadap-emas-dari.html Gold Wars: Perang Terhadap Emas Dari Kacamata Swiss Banker... Monday, May 17, 2010 By Muhaimin Iqbal, Wednesday, 05 May 2010 Tulisan ini saya sarikan dari buku Gold Wars: The Battle Against Sound Money As Seen From Swiss Perspective, karya Ferdinand Lips (Foundation for Advancement of Monetary Education, 2001). Menariknya, buku ini ditulis oleh seorang warga Swiss Banker - yang bahkan sempat mendirikan bank sendiri menggunakan namanya – yang sangat tahu seluk-beluk permainan terhadap emas dunia. Menurut Lips, perang terhadap emas dimulai sejak tahun 1933 ketika President Amerika (Franklin D Roosevelt) menyita seluruh emas yang dimiliki oleh warga negaranya, dan menaikan harga emas di negeri itu dari US$ 20.67/ounce ke US$ 35.00/Ounce. Perang ini menjadi semakin serius sejak ditinggalkannya Breton Woods Agreement 1971 – dimana sejak saat itu praktis tidak ada satu uang-pun di dunia yang dikaitkan dengan emas kecuali Swiss. Swiss merupakan negara yang bertahan mengkaitkan uangnya dengan emas sampai tahun 1992 – itulah sebabnya sampai tahun tersebut mata uang Swiss yaitu Swiss Franc adalah yang paling kuat di dunia. Swiss dahulu juga merupakan surga bagi warga dunia yang ingin mengamankan asetnya. Namun sejak tahun 1992, Swiss juga menjadi anggota IMF, dan sebagai anggota IMF mereka wajib tunduk pada aturan-aturan IMF yang antara lain melarang anggota IMF mengkaitkan uangnya dengan emas. Uang boleh dikaitkan dengan hasil-hasil peternakan, pertanian dan lain sebagainya atau apapun tetapi tidak boleh dikaitkan terhadap emas. Lantas mengapa bank-bank sentral dunia yang dalam koordinasi IMF ini memerangi emas?. Menurut Ferdinand Lips, ini adalah karena emas merupakan barometer standar yang dengan mudah dapat mendeteksi bila ada yang salah dalam sistem keuangan yang ada di dunia – dan para otoritas keuangan dunia tentu tidak suka kesalahannya mudah dibaca hanya dengan melihat harga emas. Dia mencontohkan apa yang terjadi di Amerika pada tahun 1960-an. Awal kesalahan sistem keuangan negeri itu terbaca dari naiknya harga emas dari US$ 35/Ounce ke US$ 40/Ounce pada masa “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 2 of 73
    • pemerintahan Kennedy. Situasi kemudian memburuk pada akhir dasawarsa 60-an tersebut ketika Amerika terjerumus dalam perang yang tidak pernah bisa dimenangkannya; perang Vietnam. Puncaknya tahun 1971 ketika Amerika benar-benar tidak bisa mengendalikan sistem keuangannya dan terpaksa melepaskan kaitan antara US$ dengan emas. Hari-hari yang mencekam dalam sistem keuangan Amerika yang belakangan menular keseluruh dunia ini – terekam dari cerita para pelaku langsung yang ditulis oleh Ferdinand Lips ini sebagai berikut: “Pada tanggal 10 Agustus 1971 sekolompok bankers dan economist berkumpul membicarakan krisis moneter yang genting di negeri itu, termasuk diantara yang hadir adalah Paul Volker yang saat itu menjabat Under-secretary of the Treasury for Monetary Affairs. Ada dua opsi solusi yang saat itu dibicarakan; pertama menaikkan suku bunga atau menaikkan harga emas – namun nampaknya Paul Volker tidak mengambil salah satunya. Dia mengambil solusi yang tidak terbayangkan waktu itu yaitu meninggalkan emas sama sekali dari referensi uang US$ Amerika. Sepekan kemudian keputusan ini dimumumkan oleh presiden AS saat itu Nixon yang kemudian menimbulkan kejadian yang mengguncang dunia yang dikenal sebagai Nixon Shock 1971.” Sejak saat itu, perang terhadap emas semakin hari semakin meningkat yang digambarkan digambarkan oleh Lips (meninggal 2005, konon meninggal tidak wajar karena terlalu banyak tahu!) antara lain sebagai berikut: “Dengan bantuan pemerintahan-pemerintahan dunia, di tahun 1990-an, perang terhadap emas memasuki fase yang sangat destruktif. Bank-bank central menjual atau meminjamkan emasnya untuk menghancurkan harga emas...”. Bila ‘perang’ yang diungkapkan oleh Ferdinand Lips tersebut benar adanya – kemungkinannya memang begitu karena sebagai ‘orang dalam’ dari sistem perbankan dunia tentu apa yang ditulisnya memiliki dasar yang kuat – maka dalam ‘perang’ ini hanya ada dua pihak, yaitu sistem uang yang adil berbasis emas dan sistem uang yang destruktif yang berbasis uang kertas. Hati kecil kitalah yang bisa menjawab, sistem yang mana yang seharusnya kita bela. http://www.arthadinar.com/2010/05/apa-yang-terjadi-bila-satu-mata-uang.html Apa Yang Terjadi Bila Satu Mata Uang Jatuh? Tuesday, May 04, 2010, by Muhaimin Iqbal, Friday, 30 April 2010 Sekitar tiga belas tahun lalu, di awal 1997, serentetan krisis dalam skala regional bermula di Thailand. Diawali dg hengkangnya para investor karena penurunan pertumbuhan ekonomi negeri itu, krisis kemudian diperburuk dengan ulah spekulator mata uang sampai-sampai bank sentral Thailand harus menguras sampai 90% dari cadangan devisanya hanya untuk mempertahankan nilai tukar uang Baht-nya. Cilakanya, krisis ini tidak berhenti di Thailand. Negara-negara tetangganya segera tertular dan bahkan yang terparah dan paling sulit sembuhnya adalah negeri kita. Pada puncak krisis, nilai uang kertas kita pernah tinggal kurang lebih seperenamnya dari nilai sebelum krisis (Akhir 1996 US$ 1 = Rp 2,350 ; Juli 1998 US$ 1 = Rp 14,000) bila dibandingkan dengan US Dollar. Padahal di negeri dimana krisis berawal; uangnya hanya mengalami koreksi 61% saja (akhir 1996 US$ 1 = Baht 25.50 ; Juli 1998 US$ 1 = Baht 41.12). “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 3 of 73
    • Pelajaran pertama yang kita ambil dari krisis 1997/1998 tersebut adalah bahwa krisis financial bersifat sangat menular karena kelemahan sistem financial global saat ini. Pelajaran keduanya adalah negara-negara yang tertular oleh krisis finansial, bisa menjadi korban yang bahkan lebih parah dari negara yang mengalami krisis yang pertama. Kini tigabelas tahun kemudian, kita melihat proses penularan krisis berulang. Belum juga dunia sembuh oleh menularnya krisis di Amerika dua tahun lalu, krisis sejenis sekarang siap mewabah di Eropa. Yunani yang menjadi pemicu pertamanya, per kemarin hutang pemerintahnya sudah jatuh ke nilai terendah pada tingkat Junk (sampah). Krisis Yunani sudah menulari Portugal, Spanyol dan bisa jadi akan segera pula menular ke negara-negara lain. Pada setiap krisis tersebut; uang kertas selalu hancur di negara-negara yang terkena krisis. Setiap kali pula uang kertas hancur, pelarian utama yang paling mudah bagi masyarakat yang ingin menyelamatkan assetnya adalah ke emas. Tidak heran bila harga emas justru melonjak pada setiap krisis terjadi; pertama karena daya beli uang kertas yang dipakainya menurun, kedua karena dorongan naiknya permintaan. Sebelum krisis melanda negeri ini 1997/1998; harga emas di Indonesia pada awal 1997 hanya di kisaran Rp 23,400 / gram; di puncak krisis 1998 emas berada pada kisaran harga Rp 147,000 / gram. Meskipun akhirnya sempat membaik ke kisaran angka Rp 65,000-an akhir 1999 / awal 2000; perlahan namun pasti harga emas menjulang sampai Rp 340,000 / gram kini. Harga emas saat ini sudah lebih dari 5 kalinya bila dibandingkan harga emas paska krisis, dan 14.5 kalinya dibandingkan harga emas sebelum krisis! Grafik yang saya sajikan diatas adalah kenaikan harga emas gradual yang terjadi dalam kondisi normal. Bila dalam kondisi normal saja harga emas naik menjadi lebih 5 kalinya dalam sepuluh tahun terakhir; apa jadinya bila krisis Yunani meluas? Dalam beberapa pekan kedepan seluruh dunia finansial akan melototi bagaimana krisis Yunani ini di handel oleh pemerintahnya dan juga pemerintah negeri-negeri yang saling terkait. Puncaknya adalah tanggal 19 Mei 2010 dimana hutang Yunani senilai 8.5 Milyar Euro akan jatuh tempo. Kita memang jauh dari Yunani baik secara fisik maupun keterkaitan ekonomi, ekonomi kita juga lagi baik-baiknya, namun karena tanpa krisispun harga emas naik seperti yang tercermin dari grafik tersebut diatas – maka penyelamatan asset ke emas/Dinar untuk mengamankan hasil jerih payah jangka panjang selalu advisable untuk dilakukan kapan saja. Jangan menunggu krisis menular....! http://www.arthadinar.com/2010/05/harga-emas-akan-naik-secara.html Harga Emas Akan Naik Secara Eksponensial? Wednesday, May 05, 2010 by Muhaimin Iqbal, Monday, 03 May 2010 07:50 The Bank for International Settlements (BIS) adalah organisasi internasional yg anggotanya bank2 sentral dari negara2 di dunia. Tujuan organisasi ini adalah untuk meningkatkan kerjasama antar bank sentral, disamping juga berfungsi menjadi bank-nya bank sentral dunia. Dengan anggota dan fungsinya ini, kita bisa bayangkan betapa powerful-nya pengaruh organisasi yang bermarkas di Basel ini. Peran mereka yang sentral dalam tata-kelola uang di dunia ini juga membuat mereka memiliki akses informasi yang sangat comprehensive dalam setiap aspek keuangan anggotanya. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 4 of 73
    • Dengan kekuatan tersebut, laporan hasil riset dan pernyataan dari BIS layak untuk menjadi masukan yg serius bagi para pengambil keputusan keuangan / ekonomi di semua negara. Di antara laporan tersebut yang menurut saya sangat perlu dipahami adalah hasil riset bulan Maret lalu dengan judul The Future of Public Debt: Prospects and Implications yang dapat kita unduh dari situs resmi mereka. Berikut adalah statements inti dari laporan tersebut yang implikasinya bisa sangat serius di masa yang akan datang. Abstrak laporan ini sudah diawali dengan: “Sejak awal krisis finansial, hutang negara2 industri terus meningkat secara dramatis, dan sejauh yang dapat dilihat kedepan hutang ini akan terus naik di masa mendatang”. Kemudian, hasil riset ini menyimpulkan 4 hal sebagai berikut: [1] problem fiskal negara industri sesungguhnya lebih serius dari laporan resmi pemerintah ybs. “Sungguh menakutkan bahwa hutang publik mereka akan tumbuh diatas 100% dari GDP...”. Lihat grafik diatas untuk trend-nya. [2] meningkatnya hutang publik tersebut telah merubah persepsi selama ini bahwa hutang jangka panjang negara dlm berbagai bentuknya yang selama ini dianggap berisiko rendah, kedepannya akan menjadi berisiko tinggi. Hutang pemerintah Yunani misalnya, kini sudah menjadi junk yaitu yang sangat rendah nilainya. [3] problem hutang yg terlalu tinggi akan menekan akumulasi modal, menurunkan pertumbuhan produktifitas & menurunkan potensi pertumbuhan jangka panjang. [4] mendung ketimpangan fiskal jangka panjang menimbulkan risiko instabilitas moneter. Dinamika hutang yg tidak stabil akan meningkatkan inflasi yg disebabkan oleh godaan pada para pengelola keuangan negara untuk menurunkan tingkat hutang dengan mencetak uang dalam berbagai bentuknya. Puncak gunung es yang merupakan tanda2 problem yg sangat besar tersebut juga sudah bermunculan dalam bentuk krisis di berbagai negara dalam dua tahun terakhir. Krisis di Amerika, Inggris, Iceland, Dubai, Latvia, Yunani, Portugal, Spanyol, dan entah negara mana lagi yang akan segera menyusul...adalah bukti2 kebenaran laporan tersebut. Lantas apa kaitannya ini semua dengan harga emas? Emas akan semakin penting perannya dalam memberikan perlindungan terhadap inflasi. Karena kesadaran terhadap hal ini akan meluas, maka sangat mungkin emas akan mengalami kenaikan harga yang eksponensial kedepan. Dua hal yang akan menjadi pendorong kenaikan eksponensial harga emas ini yaitu: [1] penurunan nilai uang kertas, [2] kenaikan demand. [1] ketika nilai uang kertas jatuh, harga emas akan menjadi mahal bila dibeli dengan uang kertas. [2] harga emas yang mahal tidak akan menurunkan minat orang untuk membeli emas, malah justru sebaliknya akan semakin banyak orang memburunya karena dalam situasi inflasi tinggi – emas inilah jaring penyelamatnya. Demand yang tinggi inilah yang mendorong kenaikan harga emas berikutnya. Well, kabar baiknya adalah kenaikan ini mungkin tidak terjadi sekarang atau dalam waktu dekat, tetapi akan seiring dengan garis-garis merah di grafik-grafik tersebut diatas. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 5 of 73
    • http://www.arthadinar.com/2010/05/menabung-untuk-mempersiapkan-masa-depan.html Menabung untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik Wednesday, May 05, 2010 Guna mempersiapkan masa depan kita & anak2 menuju kehidupan yg lebih baik & sesuai Hadist Nabi SAW agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah, maka menabung harus menjadi kebiasaan kita bersama. Ada berbagai jenis tabungan yang ada selama ini, namun dalam tulisan ini ingin lebih memperkenalkan tabungan dengan cara menabung dalam bentuk Dinar Emas. Apa itu Dinar Emas? Dinar Emas berbeda dengan Dinar Irak, Dinar Emas adalah Logam Mulia yang diproduksi oleh PT ANTAM Tbk dengan sertifikasi berat 4,25 gram, kadar 22 karat. Keunggulan Dinar Emas dibanding dengan tabungan yang ada saat ini baik dalam bentuk Rupiah maupun US Dollar adalah: [1] Dalam kurun 40 tahun terakhir, nilai Dinar Emas mengalami kenaikan nilai rata-rata 26% per tahun terhadap Rupiah, dan kenaikan rata-rata 10% per-tahun terhadap US Dollar. [2] Dinar Emas tidak terkena inflasi. Contoh, harga seekor kambing pada zaman Rasulullah SAW seharga 1 Dinar, sekarang harga seekor kambing tetap 1 Dinar. (saat ini 1 Dinar kurang lebih bernilai Rp 1.475.000,-). Hal ini menunjukan bahwa Dinar Emas memiliki daya beli yang stabil selama lebih dari 1.400 tahun. [3] Mudah menjualnya kembali apabila sewaktu-waktu diperlukan rupiah (butuh uang hari itu, maka hari itu pula akan jadi uang). [4] Aman, karena bersertifikat LM dan Anda sendiri yang menyimpannya. Beberapa ilustrasi dapat disampaikan: Ongkos Naik Haji (ONH) pada tahun 2000 senilai 70 dinar, pada tahun 2009 ONH “hanya” tinggal kurang lebih senilai 26 dinar. Diprediksi 6 tahun lagi, ONH “hanya” tinggal 15 Dinar Emas. Dinar Emas juga sangat baik untuk persiapan pendidikan anak-anak ke jenjang yang lebih tinggi. Contoh masuk perguruan tinggi seperti UGM/ITB/UI pada program Mandiri dalam beberapa tahun lagi akan lebih murah apabila dananya ditabung dalam bentuk Dinar Emas. Jadi tunggu apa lagi dan jangan sampai hasil jerih payah kita bertahun-tahun dihanguskan oleh inflasi. Maka bergegaslah menuju timbangan yang adil. http://www.arthadinar.com/2010/05/ketika-asset-anda-nilainya-ditentukan.html Ketika Asset Anda Nilainya Ditentukan Oleh Isu... Monday, May 17, 2010, by Muhaimin Iqbal, Friday, 07 May 2010 07:35 Dalam tulisan yang mengenai “Gold War”, saya ungkapkan bahwa emas ‘dibenci’ pemerintah & otoritas dunia karena begitu mudah digunakan untuk membaca masalah yang melanda sistem finansial yang ada. Melesatnya harga emas dunia semalam yang menembus angka diatas US$ 1,200/Oz membuktikan hal ini bahwa sistem keuangan dunia lagi sakit dan ada kemungkinan komplikasi yang parah. Awalnya, penyakit itu berasal dari krisis yang melanda Yunani, kemudian menular ke tetangganya yang pertahanan ‘tubuh’ ekonominya juga lemah seperti Portugal dan “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 6 of 73
    • Spanyol, kemudian seluruh Eropa terpengaruh dengan anjloknya Euro mendekati 9% sejak awal tahun ini. Dan puncaknya semalam ketika dalam beberapa jam perdagangan saja Index Dow Jones Industrials terpangkas hampir 1000 points. Secara umum dalam perdagangan bursa dunia kemarin rata-rata indeks turun diatas 3%. Dengan wabah yang ditularkan oleh Yunani ini, semua nilai Asset yang ditentukan dengan mata uang kertas menjadi semu. US$ yang nampak relatif perkasa saja bila dibandingkan dengan mata uang kertas lainnya setahun terakhir nilainya turun hampir 25% dibandingkan dg emas – atau per-pagi ini harga emas dalam US$ setahun terakhir naik sekitar 32%. Apakah dampak krisis ini juga akan menjangkau kita yang ribuan miles jauhnya dari Yunani? secara fisik memang kita berjauhan dari epicentrum krisis. Namun secara sistem, semua saling terkait. Ketika bursa dunia berjatuhan, maka bursa kita-pun ikut jatuh. Selain sistem yang saling terkait, komplikasi lain yang sifatnya internal kita juga ada, yaitu pertahanan ‘tubuh’ dari sistem keuangan kita lagi rentan isu pergantian pejabat otoritas keuangan negeri ini. Karena berbagai hal inilah nilai uang Rupiah kita dalam sepekan terakhir turun sampai sekitar 4% bila dibandingkan dengan US$, dan turun sekitar 8% bila dibandingkan dengan harga emas. Karena selama ini kita menggunakan unit of account Rupiah dlm menilai asset atau transaksi, maka ketika nilai mata uang kertas kita jatuh – nilai asset tersebut juga ikut jatuh. Misalkan sepekan lalu Anda bernegosiasi untuk membeli rumah seharga Rp 1 Milyar – saat itu nilainya setara dengan 685 Dinar; bila Anda selesaikan transaksi tersebut hari ini maka rumah yang harganya 1 Milyar tersebut kini cukup Anda beli seharga 628 Dinar. Dalam Rupiah tetap, tetapi dalam Dinar rumah tersebut telah turun nilainya sebesar 8% lebih – dalam sepekan! Proses yang sama inilah yang membuat asset negeri ini, baik yang berasal dari BUMN maupun swasta – berpindah tangan dari kepemilikan bangsa ini ketangan asing paska krisis 1997/1998. Ketika nilai uang kita paska krisis tinggal seperempatnya dibandingkan dengan sebelum krisis, betapa murahnya asset bangsa ini bila dibeli dg mata uang asing yg lebih perkasa melalui masa krisis. Jangan heran bila Anda sempat berjalan di sepanjang jalan protokol ibu kota yaitu dari ujung Jl. Thamrin di utara sampai ke ujung Jl. Sudirman di selatan – tengoklah kiri kanan dan lihatlah papan nama yang menjulang indah di pencakar langit – pencakar langit pusat bisnis kebanggaan kita tersebut, lalau bertanyalah siapa yang memiliki saham (mayoritas) perusahaan-perusahaan tersebut? jawabannya kemungkinan besar bukan kita lagi. Di pintu gerbang Jalan Thamrin ada perusahaan telekomunikasi kebanggaan bangsa ini (dahulu) – kini negeri ini tinggal memiliki saham 14.29% saja; 65%-nya milik asing dan sisanya 20.71% publik – yang bisa jadi sebagiannya juga asing. Mendekati ujung Jalan Sudirman ada bank swasta kebanggaan kita (dahulu), bank ini didirikan oleh para pengusaha pejuang yang sebagian besarnya saya kenal pribadi dengan sangat baik. Bahkan waktu mereka mendirikan bank tersebut tahun 1955 – motifnya bukan untuk mencari keuntungan, tetapi ingin mengisi kemerdekaan! Ironi sekali, karena bank tersebut kini ultimate shareholder-nya adalah suatu group perusahaan dari negeri jiran. Pengalaman memilukan banyak dialami temen2 yg bekerja di perusahaan yang diambil- alih pihak asing, bukan masalah materi – tetapi lebih kepada masalah harga diri. Setelah 65 tahun merdeka, ternyata yang banyak ‘mengisi’ kemerdekaan ini bukan lagi kita – tetapi para investor asing baik dari negeri jiran maupun dari negeri yang jauh. Lantas bagaimana kita menghindari pengalaman yg terus terulang, baik dalam skala pribadi maupun dalam skala bangsa? Jawabannya adalah pertahankan nilai kekayaan “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 7 of 73
    • kita dengan unit of account yang sesungguhnya, yg nilainya tidak mudah rusak oleh isu dan tidak terpengaruh oleh wabah penyakit global seperti penyakit yang ditularkan oleh negeri nun jauh disana – Yunani. Dinar bisa menjadi solusi yang konkrit untuk hal ini, kalau toh di tingkat perusahaan atau negara belum bisa mengambil Dinar ini sebagai solusi – toh kita sudah bisa mengamankan asset kita sendiri dengan Dinar ini. Mulai yang kita bisa, mulai yang kita tahu – insyaAllah Allah akan membimbing kita terhadap apa yang kita belum tahu.. http://www.arthadinar.com/2010/05/kali-ini-bukan-pig-flu-tetapi-piigs-flu.html Kali Ini Bukan PIG FLU, Tetapi PIIGS ‘FLU’ Yang Mewabah... Monday, May 17, 2010 Written by Muhaimin Iqbal, Wednesday, 12 May 2010 06:32 Tahun lalu wabah flu babi (Swine Flu atau Pig Flu) sempat membuat panik dunia setelah ditemukannya flu ini menjalar ke manusia di Amerika, Mexico dan Canada. Hari–hari ini dunia kembali dibuat panik tetapi bukan oleh PIG tetapi oleh PIIGS, akronim dari Portugal, Ireland, Italy, Greece dan Spain. ‘Flu’ di pasar uang dunia begitu terasa dalam beberapa hari perdagangan terakhir, bahkan ketika bailout senilai 750 Milyar Euro terhadap Yunani sudah di-commit oleh European Union dan IMF. Komitmen raksasa untuk mengatasi kebolongan di episentrum krisis tersebut nampaknya tidak membuat para pemain pasar lega. Hanya dua hari setelah bailout tersebut diumumkan, para pemain pasar kembali memburu jaring penyelamat untuk investasinya – yaitu antara lain emas. Karena permintaan yang melonjak inilah maka pagi ini – saat artikel ini saya tulis - harga emas berada di atas US$ 1,230/Oz atau dalam US$ telah mengalami peningkatan lebih dari 34% dibanding harga emas dunia tahun lalu. Harga ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya yang berada di kisaran US$ 1,226 yang tercapai di awal Desember tahun lalu. Mengapa seolah pasar tidak percaya terhadap upaya–upaya negara yang dilanda krisis tersebut untuk dapat mengatasi masalahnya? ada dua hal yang mendasar yang menyebabkan hal ini. [1] hutang yg begitu besar yg diderita oleh negara2 yang dilanda krisis tersebut, perhatikan grafik diatas faktanya. Yunani dan Italy bahkan hutangnya per-akhir tahun lalu saja sudah melebihi GDP-nya. Nenek-nenek kita dahulu juga tahu kalau problem hutang ini tidak bisa diatasi dengan hutang baru, semua bantuan baik dari EU, IMF dlsb. tidak ada yang gratis – pada waktunya harus dibayar. [2] selain menghadapi masalah hutang yang sangat besar, negara- negara tersebut juga mengalami defisit pada anggaran belanjanya, [3] sekaligus juga perekonomiannya tidak tumbuh – sebagian malah merosot seperti yang dialami Spanyol. Masalah deficit ini sungguh tidak mudah diatasi karena menyangkut budaya. Pegawai pemerintah di negara tersebut misalnya tidak akan mudah bisa diturunkan gajinya. Layanan publik juga tidak mudah diturunkan standarnya (dipotong anggarannya). Wal hasil bailout dari EU dan IMF untuk Yunani nampaknya hanya semacam obat untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi bukan obat untuk menyembuhkan penyakit. PIIGS ‘FLU’ (krisis) mungkin masih akan terus kambuh, bukan hanya terhadap Greece dan PIIGS tetapi terhadap semua negara yang memiliki ketahanan ‘tubuh’ (ekonomi) yang sama. Symptoms atau gejala-gejala ketahanan ekonomi yang lemah ini antara lain ya tiga hal diatas yaitu [1] hutangnya banyak, [2] anggarannya defisit, “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 8 of 73
    • [3] pertumbuhan ekonominya rendah atau bahkan turun atau tidak tumbuh. Jadi harga emas masih akan terus bergejolak karena dari waktu ke waktu orang butuh jaring penyelamat, dan emas-lah yang terbukti dapat berperan sebagai jaring penyelamat yang mudah diperoleh, efektif dalam mengatasi masalah inflasi dan gejolak ekonomi lainnya. http://www.arthadinar.com/2010/05/survival-strategy-beyond-currency.html Survival Strategy: Beyond Currency… Monday, May 17, 2010 Written by Muhaimin Iqbal, Sunday, 16 May 2010 12:59 Yang paling sering disalah pahami orang tentang gerakan saya menyebar-luaskan Dinar – adalah seolah saya menafikan keberadaan uang kertas. Padahal tulisan saya yang paling popular di web ini dengan judul “Mengelola Uang Berdasarkan Fungsinya…” yang telah dibaca lengkap oleh lebih dari 10,000 orang, justru mengakui fungsi uang kertas sebagai alat tukar ini. Untuk meminimise kesalah-pahaman ini, saya tidak malu untuk menyontek komunikasi yang digunakan oleh salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia yang dahulu dikenal orang sebagai British Petroleum (BP). Pada tahun 2002, ketika mereka merubah namanya menjadi BP plc.; mereka menambahkan tagline “Beyond Petroleum” dalam corporate identity-nya. Nampaknya, BP ingin mengkomunikasikan ke masyarakat dunia bahwa mereka tidak hanya bergerak di bidang perminyakan; karena setelah ber-identitas baru tersebut BP juga meluncurkan business unit baru yang disebut BP Alternative Energy. Business Unit baru inilah yang kemudian mengembangkan energi lain di luar minyak seperti energi surya, angin, hydrogen dlsb. Jadi meskipun business utama BP yang juga memberikan income terbesarnya masih dari industri perminyakan, mereka sudah berpikir diluar perminyakan – karena boleh jadi minyak tidak akan selamanya tersedia untuk mereka explore – mereka tentu ingin tetap survive meskipun sumber energi utama kelak berubah dari minyak ke energi-energi lain diluar minyak. Mirip dengan yang dilakukan oleh BP tersebut diatas – inilah yang kita lakukan dengan gerakan penyebar luasan Dinar. Kalau BP mengembangkan strateginya barangkali berdasarkan prognosis bahwa minyak tidak akan selamanya tersedia; maka gerakan Dinar menggunakan prognosis bahwa uang kertas tidak akan bisa bertahan dalam jangka panjang. Prognosis terhadap uang kertas ini didukung oleh statistik yang sangat kuat, sampai- sampai kita bisa menghitung waktu paruh daya beli uang kertas Rupiah yang hanya 4.3 tahun; US Dollar hanya 5.0 tahun dlsb. Jadi bila anak Anda lahir hari ini dan Anda mulai menabung uang kertas Rupiah untuk masa depannya; maka daya beli uang tabungan Anda tersebut tinggal 1/16 (1/2^4) pada saat anak Anda berulang tahun ke 17. Bila Anda menabungnya dalam US$, maka tabungan Anda nilai daya belinya juga tinggal 1/16 pada saat anak Anda tersebut berusia 20 tahun. Karena statistiknya demikian – bahwa daya beli uang kertas meluruh bersamaan dengan waktu dan zat yang meluruh pasti akhirnya habis; maka kita butuh alternatif lain dari uang kertas ini. Alternatif lain inilah yang saya sebut beyond currency. Bila uang kertas hanya berfungsi sebagai currency – yaitu alat tukar yang hanya berfungsi sesaat; maka yang kita butuhkan untuk survive dalam jangka panjang adalah uang yang sesungguhnya – beyond currency – yaitu uang yang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange atau currency, tetapi juga berfungsi sebagai unit pencatatan / timbangan yang adil (unit of account) dan sekaligus juga mampu mempertahankan nilai dari hasil jerih payah kita (store of “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 9 of 73
    • value). Uang yang sesungguhnya inipun tidak harus emas; benda-benda lain yang bernilai intrinsik sampai garam sekalipun dapat menjadi uang dalam arti luas tersebut. Kita pernah mengalami krisis 97/98 dimana saat itu uang kita tiba-tiba anjlog daya belinya tinggal ¼-nya dalam beberapa bulan saja (padahal seharusnya daya beli uang kita baru turun tinggal ¼-nya setelah 2 kali waktu paruh atau 8.6 tahun!), bukan hanya daya belinya yang anjlog – saat itu barang-barang kebutuhan kita juga menghilang di pasaran. Minyak goreng, susu bubuk dlsb. menjadi rebutan di toko-toko yang masih memiliki stok. Pada saat krisis, uang bisa saja menghilang atau turun daya belinya; tetapi kebutuhan kita akan makan minum, kebutuhan anak-anak kita untuk susu dlsb. tetap perlu dipenuhi. Jadi, uang selain uang kertas yang rentan krisis – harus juga menjadi bagian dari survival kit kita – bila kita ingin survive dalam jangka panjang. Selain emas atau Dinar yang praktis, kita bisa juga menggunakan ternak kambing misalnya sebagai cadangan ‘tabungan’ kita di masa yang sangat sulit sekalipun. Juga bukan hanya ternak kambing yang di-resep-kan dalam hadits sahih sebagai sumber penghasilan jangka panjang yang bisa diandalkan; antisipasi krisis melalui bercocok tanam dengan sungguh-sungguh selama tujuh tahun – bahkan resepnya ada di Al- Qur’an. Maka tidak heran bila daya tahan masyarakat pedesaan terhadap krisis seperti yang kita alami tahun 1997/1998 lebih besar ketimbang masyarakat perkotaan. Sampai- sampai ketika saya masih rajin pulang kampung di masa krismon tersebut – embok- embok di desa suka bertanya “krismon iki opo to le?” Mereka tidak terganggu dengan krisis moneter karena mereka memang sudah terbiasa hidup beyond currency. Jadi mari kita rame-rame menghidupkan kehidupan desa, dengan kambing dan ternak lainnya, dengan pohon-pohonnya, dengan sawah-sawahnya – maka bila wabah PIIGS meluas ke seluruh dunia – Insyallah kita bisa survive. Sekarang memang kita masih butuh uang kertas sebagai currency atau alat tukar, tetapi ketika uang kertas ini kehilangan daya belinya seperti yang sudah-sudah – kitapun harus siap hidup beyond currency. http://www.arthadinar.com/2010/05/kapan-waktu-beli-emasdinar-terbaik.html Kapan Waktu Beli Emas/Dinar Terbaik & Kapan Waktu Jual...? Monday, May 17, 2010 Written by Muhaimin Iqbal, Tuesday, 18 May 2010 07:14 Hal yang paling banyak ditanyakan oleh pembaca situs ini ke saya adalah pertanyaan seputar kapan waktu terbaik untuk membeli Dinar/Emas dan kapan waktu terbaik untuk menjualnya. Tulisan ini untuk memberi jawaban secara umum, agar jumlah e-mail yang saya harus jawab menurun. Untuk membeli emas atau Dinar dengan tujuan membangun ketahanan ekonomi jangka panjang, agar anak bisa sekolah sampai tuntas, agar ketika tua kita tidak menjadi beban orang lain, agar asset yang merupakan hasil jerih payah kita tidak terus menurun nilainya dari waktu–ke waktu; maka membeli emas untuk tujuan ini dapat dilakukan kapan saja. Dalam rentang waktu jangka menengah/panjang, tidak ada istilah ketinggian untuk harga emas atau Dinar. Ketika harga Dinar pertama kali menyentuh nilai Rp 1,000,000 / Dinar (emas di kisaran Rp 237,000 / gram) sekitar dua setengah tahun lalu – tepatnya tanggal 27 Oktober “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 10 of 73
    • 2007; saat itu banyak yang berpendapat harga Dinar sudah ketinggian – lalu sementara permintaan Dinar menurun. Ironinya ketika 13 bulan kemudian (27/11/2008) harga Dinar menyentuh angka Rp 1,400,000 (emas di kisaran Rp 325,000/gram), permintaan Dinar justru mencapai titik tertingginya. Kemudian 3 bulan berikutnya lagi (19/02/2009) ketika angka menyentuh Rp 1,600,000 / Dinar (emas di kisaran Rp 373,000/gram), kembali permintaan Dinar mencapai titik tertinggi berikutnya. Dari fakta diatas, Anda akan mudah memahami bahwa bila Anda menabung untuk tujuan proteksi nilai atau membangun ketahanan ekonomi dalam jangka panjang – maka tidak ada waktu yang salah untuk memindahkan asset Anda dari Asset yang berpeluang mengalami debasement (penurunan nilai) yaitu uang kertas ke asset yang terbukti memiliki daya beli stabil sepanjang zaman yaitu emas atau Dinar. Apakah trend yg seperti ditunjukkan oleh angka-angka tersebut akan terus berlangsung? dan harga emas/Dinar yang sekarang dianggap sudah benar-benar ketinggian oleh sebagian orang – akhirnya akan turun juga? Dalam jangka pendek iya, bisa jadi harga emas/Dinar akan turun. Namun sekali lagi dalam jangka panjangnya – lebih banyak faktor fundamental yang mendorongnya naik ketimbang turun. Salah satu faktor yang sangat dominan adalah realitas bahwa uang kertas dunia saat ini dibangun dengan hutang – ketika hutang menumpuk dan tidak ada lagi yang bisa/mau memberi hutangan baru – sedangkan hutang lama harus dibayar – maka pasti uang kertas jatuh nilainya. Grafik di atas adalah prediksi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk negara-negara yang konon paling kuat ekonominya. Rata-rata negara anggota OECD ternyata akan memiliki hutang (liabilities) yang melebihi GDP-nya tahun depan (2011). Dari grafik diatas, dapat kita ambil kesimpulan sederhana bahwa seluruh mata uang negara-negara anggota OECD akan turun significant (mengalami debasement) dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama – kecuali China. Ketika nilai uang kertas jatuh, apa yang terjadi dengan harga emas dan benda riil lainnya? sederhana, harga emas dan benda riil lainnya akan melambung! Untuk sementara China berkemungkinan bisa bertahan paling lama dalam hal kekuatan mata uangnya. China juga merupakan negara yang sangat pinter dalam mendorong rakyatnya membangun ketahanan ekonomi – dengan menganjurkan langsung dan mempermudah rakyatnya membeli emas – mumpung ekonomi mereka kuat dan uang mereka lagi perkasa. Jadi kalau kita mau belajar sampai ke negeri China termasuk dalam hal ketahan ekonomi ini, maka insyaAllah tidak ada waktu yang salah untuk membeli emas atau Dinar. Membeli emas/Dinar hanya akan salah bila tujuannya untuk spekulasi jangka pendek. Karena dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak – sehingga sangat mungkin Anda merugi karena fluktuasi ini. Lantas kapan waktu menjualnya yang terbaik? Yang terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk keperluan riil seperti membayar sekolah, pergi haji, membayar rumah, membayar biaya kesehatan, memindahkan ke investasi sektor riil dlsb. Anda tidak akan pernah menyesal mencairkan emas atau Dinar Anda untuk keperluan yang riil tersebut. Sebaliknya bila Anda menjual emas/Dinar hanya karena tertarik harga lagi tinggi – maka sangat mungkin Anda bisa menyesal karena angka tertinggi saat ini – bisa saja menjadi kelihatan sangat rendah hanya dalam belasan bulan kedepan seperti contoh angka- angka tersebut diatas. Ringkasnya adalah membeli emas/Dinar yang terbaik adalah “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 11 of 73
    • pada saat Anda memiliki excess fund untuk keperluan jangka panjang; dan menjualnya terbaik adalah ketika Anda membutuhkannya untuk menutup kebutuhan yang riil. Sebaliknya membeli emas/Dinar untuk tujuan spekulasi jangka pendek selalu berpeluang untuk rugi karena fluktuasi jangka pendek; dan demikian pula menjual emas/Dinar hanya karena melihat harga tinggi sesaat – juga bisa menyesal – karena rekor-rekor tertinggi harga emas akan terus bermunculan sejalan dengan debasement mata uang kertas. Wa Allahu A’lam. http://www.arthadinar.com/2008/07/mengenal-dinar.html Mengenal Dinar Sunday, July 13, 2008 Dinar yang dimaksud disini adalah Dinar Islam, yaitu uang emas 22 karat dengan berat 4.25 gram. Di Indonesia saat ini, Dinar hanya diproduksi oleh Logam Mulia – PT Aneka Tambang Tbk. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dengan kadar dan berat sesuai dengan Standar Dinar di masa awal-awal Islam. Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association (LBMA). Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar pada berat dan kadarnya – bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keeping – maka berat dan kadar emas untuk Dinar produksi Logam Mulia di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk disebut sebagai Dinar Islam zaman sekarang. Perlu diketahui bahwa Dinar Islam tidak sama dengan Dinar Iraq. Dinar Iraq adalah uang kertas biasa. http://www.arthadinar.com/2008/07/bagaimana-agar-dinar-anda-aman.html Bagaimana Agar Dinar Anda Aman Sunday, July 13, 2008 Setelah Anda membeli Dinar, lalu mau diapakan Dinar yang sudah dimiliki tersebut? Bagi sementara orang yang telah membeli Dinar terutama dalam jumlah besar akan bertanya bagaimana cara menyimpan Dinar yang aman. Ada cara bagaimana menyimpan Dinar yang aman dan tidak mengganggu pikiran Anda. Pilihan itu adalah Anda menyimpannya sendiri misalnya disimpan di safe Deposit box di bank-bank seperti Bank Mandiri, BCA, Niaga, dll. Untuk penyimpanan di safe Deposit Box harga sewanya bervariasi mulai dari ukuran mini dengan ukuran 12,5cm x 12,5cm x 60cm dengan harga sewa Rp 100.000,- per-tahun sampai dengan ukuran ekstra yang mampu menyimpan dokumen penting Anda dalam jumlah banyak. Keuntungan menyimpan sendiri di safe Deposit Box ini adalah pemilik Dinar memegang sendiri Dinarnya yang dapat digunakan setiap saat kapan dibutuhkan. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 12 of 73
    • http://www.arthadinar.com/2008/07/keuntungan-berlipat-dengan-investasi.html Keuntungan berlipat dengan investasi dinar Sunday, July 13, 2008 Paling tidak ada 4 alasan mengapa investasi Dinar menguntungkan Anda. Investasi dinar lebih menguntungkan dari pada investasi tanah atau rumah karena memberikan apresiasi/pertumbuhan lebih tinggi. Perkecualian hanya terjadi jika Anda berinvestasi tanah/rumah tepat pada pemilihan lokasi yang sangat strategis seperti akan dibangunnya jalan toll, tetapi untuk mendapatkan lokasi emas seperti itu tidaklah mudah karena harus berhadapan dengan para spekulan tanah dan luas tanah/rumah yang akan dijualpun belum tentu sesuai dengan budget Anda. Data perbandingan harga rumah baru di beberapa lokasi di Jabodetabek tahun 2005 sampai dengan 2007 dibawah dapat memberikan ilustrasi kenaikan/apresiasi per tahun. Nama Perumahan 2005 2007 Apresiasi per Lokasi / Dinar Tipe Harga (Rp) Tipe Harga (Rp) tahun Bintaro Jaya Tangerang 107/135 483 juta 109/120 617 juta 13,9% Kota Wisata Cibubur 105/220 785 juta 185/220 873 juta 5,6% Telaga Golf Sawangan 190/250 725 juta 203/249 821 juta 6,6% BSD City Serpong 165/180 826 juta 153/177 891,7 juta 3,9% Harapan Indah Bekasi 110/150 525 juta 110/160 624 juta 9,4% Sumber: Tabloid Kontan 4 Juli 2005 dan Majalah HousingEstate Oktober 2007. Apabila dibandingkan dengan harga Dinar pada tahun 2005 yaitu Rp 551.077,- per Dinar dan harga pada tahun 2007 yaitu Rp 1.090.100,- maka Dinar mengalami kenaikan/apresiasi sebesar 48,90% per-tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan investasi di beberapa tanah/rumah di lokasi tersebut diatas pada periode yang sama. Investasi dinar tahan terhadap inflasi. Untuk mudahnya kita ambil contoh paling sederhana yaitu Ongkos Naik Haji (ONH) dari tahun 2003 sampai dengan 2007 apabila didanai dengan Dinar adalah sebagai berikut: Keterangan 2003 2004 2005 2006 2007 ONH dalam Dinar 50 Dinar 45 Dinar 40 Dinar 35 Dinar 30 Dinar Dengan data diatas secara sederhana diprediksi Ongkos Naik Haji pada tahun 2012 cukup hanya 10 Dinar saja. Dinar sangat liquit (Anda butuh uang pada hari itu, hari itu pula jadi duit). Perbedaan antara harga beli dg harga jual hanya selisih 4%. Penurunah 4% tadi insya Allah akan tertutup apabila Anda investasi Dinar minimum 6 bulan karena investasi Dinar merupakan investasi menengah. Mudah dan aman mendapatkannya. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 13 of 73
    • Berbeda dengan investasi pada tanah/rumah, Anda sulit untuk bisa membeli secara pecahan sehingga menyulitkan pengaturan budget Anda, dan apabila dapat dibeli secara pecahan (misalnya luas tanah 400m2 Anda hanya berminat membeli 200m2) Anda harus merogoh saku tambahan untuk memecah sertifikat tanah, sedangkan pada Dinar dapat dibeli sesuai dengan budget karena Anda membeli 1 Dinarpun akan dilayani. Sekali lagi untuk menyakinkan sebelum Anda membeli Dinar, lihatlah perkembangan harganya dari tahun ke tahun pada tabel di bawah: Keterangan Des 2005 Des 2006 Des 2007 Des 2008 Harga Dinar (dlm Rp) 551.077 783.632 1.090.100 1.370.030 Kenaikan dari thn sebelumnya 17,6% 42,2% 39,1% 25,7% Jadi tunggu apa lagi sebelum harga semakin tinggi ... http://www.arthadinar.com/2008/07/bisnis-perdagangan-atau-investasi-dinar.html Bisnis Perdagangan atau Investasi Dinar Sunday, July 13, 2008 Dalam berbisnis, pilihan utama adalah menjalankan usaha perdagangan atau membuka usaha jasa karena akan menghasilkan keuntungan yang maksimal. Tetapi untuk dapat menjalankan usaha yang berhasil kita harus mempunyai segenap ketrampilan, mulai dari memilih usaha yang tepat, skill manajemen yang memadai, pengalaman, disiplin, kontrol yang ketat. Tanpa memiliki segenap ketrampilan tersebut sulit untuk dapat berhasil karena tingginya persaingan di dunia usaha. Disamping itu untuk menjalankan usaha perdagangan dibutuhkan kerja keras mulai dari menjalin mitra kerja untuk mensupply bahan sampai dengan cara mendapatkan pelanggan dengan program marketingnya. Bila tidak ulet dan dijalankan sendiri bisa-bisa rugi yang didapatkan. Apabila Anda belum menemukani jenis usaha yang dapat diandalkan, kami memberi solusi, salah satunya adalah investasi Dinar. Menurut statistic selama kurun waktu 40 tahun terakhir Dinar atau emas mengalami pertumbuhan nilai rata-rata 28 % per tahun terhadap Rupiah; terhadap US$ rata-rata peningkatan nilai 10 % per tahun dalam kurun waktu yang sama. Apresiasi ini tentu sangat jauh dibandingkan dengan hasil deposito Rupiah (rata-rata hanya 6 – 7 % bersih per tahun) maupun Dollar (3-4% bersih per tahun). Perhitungan investasi pada tanah maupun rumah di beberapa lokasi di Jabodetabekpun, investasi Dinar menunjukan kenaikan nilai yang lebih tinggi. Memang investasi Dinar membutuhkan sedikit kesabaran, paling tidak investasi ini butuh waktu 6 bulan lamanya agar harga naik dibandingkan bulan sebelumnya, karena bisa jadi harga waktu Anda beli lebih tinggi dibanding setelah beberapa hari pembelian. Bila hal ini terjadi janganlah panik dan menyalahkan penjual, tetapi bersabarlah karena harga yang turun itu sebetulnya bukan harga yang sebenarnya, turunnya harga tersebut bisa jadi IMF sedang menggelontorkan sebagian cadangan emasnya untuk menutup kerugiannya atau akibat yang lain. Emas seperti halnya harga minyak dunia bukannya semakin turun dari waktu ke waktu tetapi sebaliknya malah semakin tinggi dari waktu ke waktu. Demikian juga halnya dengan harga Dinar semakin tinggi karena kebutuhan lebih besar dibanding dengan kemampuan menyediakan. Jadi silakah merenungkan, apakah Anda akan memulai usaha bisnis ataukan mencoba investasi Dinar. Kedua-duanya memiliki keunggulan masing-masing. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 14 of 73
    • http://www.arthadinar.com/2008/07/bagi-anda-yang-tinggal-diluar-jakarta.html Kota-kota yang bisa dilayani untuk pembelian Dinar Sunday, July 13, 2008 Bagi Anda yang tinggal diluar Jakarta, Anda dapat dilayani pembelian Dinar. Kami bekerja sama dengan perusahaan logistic terkemuka RPX Holding / Federal Express, pengiriman Dinar dapat dilakukan dengan aman, cepat dan relative murah. Adapun kota-kota tersebut adalah Balikpapan, Bandung, Batam, Cirebon, Denpasar, Medan, Palembang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang, Solo, Surabaya, Ujung Pandang dan Jogjakarta. Sedangkan besarnya biaya pengiriman berkisar antara Rp 65.000,- tergantung kota tujuan. Biaya tersebut berlaku untuk pengiriman Dinar maksimal 1 kg atau 235 Dinar namun perlindungan asuransi-nya hanya sampai senilai Rp 20 juta. Untuk perlindungan asuransi diatas Rp 20 juta akan ada tambahan biaya sekitar 0.5% dari nilai Dinar yang dikirim. Biaya pengiriman dan asuransi menjadi tanggung jawab pembeli. Prosedur pembelian dari luar kota adalah sebagai berikut : 1) Calon pembeli menghubungi kami lewat telepon, sms, atau email ke nomor-nomor yang ada diblog ini dengan memberikan data nama lengkap, identitas diri dan alamat yang jelas. 2) Calom pembeli menginformasikan kepada kami berapa Dinar yang akan dibeli dan kapan akan dilakukan pembelian. Harga Dinar hanya berlaku kurang lebih selama lima jam; harga pagi berlaku sampai jam 1 siang; harga siang berlaku sampai jam 4 sore pada hari yang sama. 3) harga yang berlaku adalah harga pada saat transfer pembayaran. 4) untuk ketepatan waktu disarankan membayar ke Kantor Bank Mandiri ke rekening kami di Bank Mandiri. 5) karena animo masyarakat yang besar terhadap Dinar, maka kemungkinan stok tidak dapat dipenuhi terutama untuk pembelian partai besar. Apabila hal ini terjadi, kepada calon pembeli akan kami tawarkan apakah mau membeli secara pesanan / inden. 6) untuk pengiriman kami akan mengirimkan melalui paket RPX dalam amplop standar RPX yang insya Allah aman dan terproteksi asuransi. Dengan kemudahan ini, Insya Allah Dinar akan segera memasyarakat tidak hanya di Jabodetabek tetapi juga di berbagai kota tersebut diatas. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 15 of 73
    • http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=76:emas- kemakmuran&catid=1:latest-news&Itemid=50 Emas dan Kemakmuran Negeri Ini by Muhaimin Iqbal, Tuesday, 02 December 2008 05:33 Dalam beberapa tulisan saya sebelumnya saya sering menyebutkan bahwa cadangan emas Bank Indonesia hanya sekitar 96 ton. Angka 96 ton tersebut benar adanya ketika saya melakukan riset untuk buku ‘Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham’. Saya baru sempat revisit angka tersebut akhir-akhir ini ketika ada pembaca yang menanyakan sumber data yang saya gunakan. Berdasarkan data World Gold Council (WGC), yang kemudian saya verifikasi dengan data dari laporan tahunan BI – ternyata ada penurunan cadangan emas BI yang cukup significant karena hampir mencapai 24 % dari cadangan sebelumnya. Berdasarkan data WGC tersebut, sampai tahun 2006, cadangan emas BI adalah sebesar 96.4 ton, tetapi pada tahun 2007 lalu cadangan ini tinggal 73.1 ton atau mengalami penurunan 23.3 ton. Emas sebesar 23.3 ton ini tentu sangat banyak; kok “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 16 of 73
    • nggak banyak dari kita – termasuk saya sendiri - yang tahu penjualan cadangan emas ini ketika hal tersebut dilaksanakan? Jawabannya ada di laporan keuangan BI untuk tahun buku 2006 yang keluar bulan Mei 2007. Dalam penjelasan laporan perubahan ekuitas disebutkan bahwa pada tahun buku 2005, BI masih memiliki saldo emas sebesar 3,087,615.7493 TOZ (96.4 ton) tetapi pada akhir tahun buku 2006 saldo emas ini tinggal 2,347,045.9083 TOZ (73.1 ton). Sisanya berupa SSB Emas atau Gold Bond yang diijual dalam rangka mendukung kecukupan likuiditas berkaitan dengan percepatan pelunasan pinjaman IMF. Jadi nampaknya, kita terpaksa menjual asset baik kita untuk membayar hutang, apa boleh buat…Kalau kita lihat jauh kebelakang lagi sampai ke awal-awal tahun kemerdekaan kita, ternyata kita pernah cukup kaya dalam hal cadangan emas ini. Puncaknya tahun 1951 ketika cadangan kita mencapai 248.8 ton. Namun kita juga pernah sangat miskin mulai pertengahan tahun 60-an sampai akhir tahun 1970-an, puncaknya adalah tahun 1971 ketika cadangn emas kita tinggal 1.8 ton. Kemudian selama seperempat abad sejak 1981 cadangan emas kita di BI stabil pada kisaran 96 ton, sampai akhirnya dua tahun lalu cadangan emas kita mulai berkurang kembali karena kita butuh bayar hutang. Yang perlu kita renungkan adalah, kita tahu emas sebagai asset memiliki nilai atau daya beli yang stabil dan riil, 1 kg emas setengah abad lalu sama berharganya (daya belinya) dengan 1 kg emas sekarang – sama- sama cukup untuk membeli sekitar 250 ekor kambing! Emas tidak seperti uang kertas yang nilainya relatif terhadap waktu, Rp 1 juta setengah abad lalu sangat berbeda dengan Rp 1 juta sekarang. Jadi kalau di awal kemerdekaan kekayaan riil dalam wujud cadangan emas di bank sentral kita sampai 248.8 ton dan sekarang tinggal 73.1 ton (kurang dari 30%-nya!), jangan jangan kita sebagai bangsa memang tambah miskin sekarang? Memang mengukur kekayaan suatu negara tidak cukup hanya dengan satu indikator saja, banyak indikator lain yang diluar tema sentral situs ini. Namun satu iindikator yang ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagi saudara kita yang sudah sukup umur untuk merasakan kondisi ekonomi kita dalam enam dasa warsa sejak kemerdekaan, pasti mereka bisa bercerita lebih banyak dari saya soal bagaimana hidup di rentang waktu dasawarsa-dasawarsa tersebut. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 17 of 73
    • http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=82:mengelola-uang- berdasarkan-fungsinya&catid=1:latest-news&Itemid=50 Mengelola Uang Berdasarkan Fungsinya… Written by Muhaimin Iqbal, Friday, 05 December 2008 06:56 Dalam teori ekonomi, uang memiliki tiga fungsi yaitu sebagai: [1] Alat Tukar (Medium of Exchange), [2] Penyimpan Nilai (Store of Value), [3] Satuan Perhitungan / Timbangan (Unit of Account). Ketiga fungsi ini seharusnya melekat pada uang yang kita gunakan, namun penggunaan uang kertas justru tidak dapat memenuhi ketiga fungsi tersebut sekaligus. Uang kertas hanya berfungsi secara optimal sebagai Alat Tukar atau Medium of Exchange. Sebagai Store of Value, nilainya tergerus oleh inflasi dari waktu ke waktu. Karena nilainya yang terus menurun ini maka uang kertas juga tidak bisa secara konsisten dipakai sebagai Unit of Account. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 18 of 73
    • Kalau Anda memiliki rumah yang Anda beli 10 tahun lalu senilai Rp 400 juta; tanpa renovasi sekalipun sekarang nilainya diatas Rp 1 Milyar – maka dalam mata uang Rupiah seolah anda untung 150%; benarkah Anda untung? darimana untungnya? lha wong rumahnya ya tetap itu-itunya. Keuntungan semu ini terjadi karena bias Unit of Account yang Anda gunakan yaitu Rupiah. Uang Emas/Dinar atau Perak / Dirham yang sebenarnya sepanjang sejarah ribuan tahun bisa memerankan tiga fungsi uang tersebut secara sempurna. Namun karena rezim pemerintahan dunia 85 tahun terakhir hanya menggunakan uang kertas – dan bahkan 27 tahun terakhir melalui IMF melarang penggunaan emas sebagai referensi mata uang; maka Emas/Dinar dan Perak/Dirham belum bisa kita fungsikan sebagai uang dalam pengertian Alat Tukar atau Medium of Exchange secara optimal. Dalam hal uang, kita yang hidup di zaman ini menghadapi situasi dilematis. Uang kita yang resmi yaitu Rupiah, Dollar dlsb. dapat secara efektif kita gunakan sebagai alat tukar saat ini, namun uang kertas ini tidak dapat memerankan fungsi Store of Value dan Unit of Account. Uang kertas hanya secara efektif memerankan 1 dari tiga fungsi uang. Di sisi lain, kita juga memiliki uang Dinar dan Dirham yang sudah terbukti efektif memerankan ketiga fungsinya; namun secara legal tidak diakui sebagai Alat Tukar atau Medium of Exchange. Praktis Dinar dan Dirham baru bisa memerankan 2 dari tiga fungsi uang. Lantas mana yang kita gunakan? Tergantung kebutuhan kita! Komposisi uang kertas dan Dinar Anda tergantung berapa banyak yang Anda butuhkan sebagai Alat Tukar dan berapa banyak pula yang dibutuhkan sebagai Store of Value. Prinsip sederhananya seperti yang terlihat di grafik terbut diatas, semakin dekat penggunaan uang Anda – semakin besar fungsi Medium of Exchange berperan. Semakin jauh penggunaannya, semakin besar fungsi Store of Value-nya yang dibutuhkan. Untuk jual beli saat ini, kita membutuhkan uang kertas – maka tidak dianjurkan untuk menukar uang kertas ini dengan Dinar – apabila uang tersebut akan Anda butuhkan dalam waktu dekat. Sebaliknya untuk kebutuhan Anda jangka panjang seperti biaya masuk perguruan tinggi anak-anak, biaya pemeliharaan kesehatan hari tua, biaya pergi haji dlsb. Anda membutuhkan uang yang berfungsi efektif sebagai Store of Value – Dinar-lah jawaban praktisnya. Sebenarnya ada jawaban lain yang lebih baik; uang Anda tidak hanya efektif sebagi Store of Value tetapi juga menjadi Growing Assets – apabila Anda dapat berinvestasi di sector riil secara baik. Dalam hal ini ‘uang’ jangka panjang Anda dapat berupa pohon jati yang terus tumbuh, anak-anak sapi yang terus membesar, ayam dan itik yang semakin banyak, kebun-kebun yang semakin menghijau dslb.dlsb. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 19 of 73
    • http://otomotif.kompas.com/read/2009/10/14/06300288/Jumlah.Orang.Kaya.China.Naik Jumlah Orang Kaya China Naik Rabu, 14 Oktober 2009 | 06:30 WIB Pada laporan tahunan yang disebut ”Hurun Rich List” disebutkan, China memiliki 130 miliuner. Jumlah itu naik dari 101 orang tahun lalu. Jumlah miliuner AS hanya 359 orang, sedangkan Rusia 32 dan India 24. Orang-orang kaya di China bertambah kaya. Rata-rata kekayaan mereka sebesar 571 juta dollar AS, naik hampir sepertiga dari tahun lalu. Demikian dijelaskan oleh periset Rupert Hoogewerf. ”Dengan tergerusnya kekayaan secara besar-besaran dan terburuk dalam kurun waktu 70 tahun terakhir ini, kami melihat kekayaan orang China sudah naik dan berkembang pesat. Tampaknya, kekayaan mereka akan terus berkembang,” ujar Hoogewerf. ”Mereka telah dapat melewati impitan kredit dan melaluinya dengan baik. Kunci pendorong adalah urbanisasi. Banyak kota yang telah dibangun dan pembangunan itu memerlukan pengembangan properti juga produsen baja dan besi. Hal terakhir adalah penjualan mobil yang terus meningkat,” demikian Hoogewerf melanjutkan. Peringkat meloncat Dalam daftar orang terkaya di China, pada urutan pertama terpampang nama Wang Chuanfu, pemimpin perusahaan pembuat baterai dan mobil listrik BYD Co Ltd. Investor kawakan AS, Warren Buffett, memiliki saham di perusahaan itu. Diperkirakan, Wang memiliki kekayaan sebesar 5,1 miliar dollar AS. Dia merupakan bintang dalam daftar tersebut, yang peringkatnya melonjak dari urutan ke-102 ke urutan pertama. Di tempat kedua ada Zhang Yin dan keluarganya. Mereka adalah pemilik perusahaan pendaur ulang kertas Nine Dragons Paper. Di tempat ketiga terdapat Xu Rongmao dan keluarga, pemilik Shimao Property Holdings Ltd. Huang Guangyu, pendiri GOME Electrical Appliances Holdings Ltd dan memiliki bisnis properti, yang belum mencatatkan sahamnya di bursa, turun peringkat ke urutan ke-17 dari posisi puncak tahun lalu. Saat ini bahkan dia tengah menjalani serangkaian pemeriksaan karena diduga melakukan penyimpangan finansial. Hoogewerf mengatakan, jumlah miliuner China sebenarnya jauh lebih besar dari jumlah yang terpantau. ”Mungkin mereka dengan ketat menjaga rahasia atau mungkin mereka tidak muncul ke permukaan. Walaupun demikian, saat ini transparansi mengenai kekayaan lebih terbuka. Sekarang lebih banyak perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa,” ujar Hoogewerf lagi. Hoogewerf juga mengatakan, mungkin saja ada orang yang seharusnya masuk dalam daftar tetapi tidak termasuk dalam daftar karena data kekayaannya tidak diketahui dengan pasti. Dalam hal ini termasuk Liu Chuanzhi, pimpinan produsen komputer keempat terbesar di dunia, Lenovo, dan Chen Feng, pendiri Hainan Airlines. Satu nama tenar juga turun, yaitu Yao Ming, pemain NBA yang cidera. Menurut laporan itu, sepertiga dari orang yang namanya termasuk dalam daftar 1.000 orang kaya adalah anggota Partai Komunis China. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 20 of 73
    • http://umum.kompasiana.com/2009/07/26/mengapa-orang-tionghoa-banyak-yang-jadi- pengusaha/ Mengapa Orang Tionghoa Banyak Yang Jadi Pengusaha? Menjadi seorang pengusaha, tidak ada relevansinya dengan pendidikan. Belum tentu mereka yang kuliah di fakultas Ekonomi atau di sekolah bisnis akan menjadi pengusaha. Sebab banyak mereka yang dulu sekolah teknik justru menjadi pengusaha yang sukses. Beberapa hari lalu saya ketemu dengan seorang anak Muda lulusan IAIN justru bergelut dalam bidang film. Rekan bisnis saya dulu di Klaten seorang professor Sejarah di IAIN justru menjadi pengusaha Metalorgi. Jadi hampir dibilang tidak ada relevansi antara pendidikan dan menjadi pengusaha. Kalau mau melihat ke belakang, orang terkaya di Indonesia adalah lulusan SD bahkan Ayah saya pendidikannya hanya sampai dengan kelas 3 SD dan bisa menjadi pengusaha besar di Makassar pada zaman itu. Seandainya dia kuliah maka mungkin dia bisa lebih besar lagi. Lalu apa yang membetuk orang yang menjadi pengusaha? Seorang pengusaha dibentuk oleh lingkungannya. Yang mana, lingkungannya mengarahkan dia untuk menjadi pengusaha. Bisa karena ia lahir ditengah keluarga pengusaha, bisa juga ia banyak bergaul dengan pengusaha atau keadaan yang memaksa untuk jadi pengusaha. Nah untuk itulah mengapa orang Tionghoa memilih jalur menjadi pengusaha. Yang pertama mereka dianggap sebagai pendatang, sehingga agak susah untuk menjadi pegawai. Apabila pada zaman dulu, setiap warga keturunan harus mempunya surat keterngan dan sangat susah menjadi PNS. Sehingga akhirnya untuk makan ia harus berusaha kecil-kecilan kemudian lama lama menjadi besar. Kemudian punya anak, dari kecilnya anak-anak orang Tionghoa sudah terbiasa dengan kehidupan Toko, lahir di Toko, Hidup di Toko maka besarnya ia akan menjadi Ketoko-tokoan atau dalam kata lain terbiasa dengan kehidupan toko dan dagang. Jadi tidak benar kalau orang Tionghoa dilahirkan untuk menjadi pengusaha. Ia hanya dibentuk oleh lingkungannya untuk menjadi pengusaha. Sama halnya dengan orang Bugis yang banyak merantau, ini ada korelasinya dengan tingginya mahar, untuk itu para pemuda banyak keluar kampung untuk mencari rezeki, setelah punya banyak uang dia pulang kampung dan melamar gadis pujaannya. Jadi ia dibentuk oleh budaya Mahar yang tinggi sehingga bekerja keras untuk bisa memenuhi hal tersebut. http://fact4win.blogspot.com/2009/04/cara-berpikir-orang-kaya-vs-orang.html CARA BERPIKIR ORANG KAYA Vs ORANG MISKIN Seringkali saya mendengar gerutuan orang- orang yang mengatakan bahwa dunia ini tidak adil, karena yang kaya semakin kaya, dan yang miskin tetap miskin. Orang yang miskin acapkali berkata, seandainya mereka diberi kesempatan, mereka juga bisa kaya. Atau kalau mereka punya modal yang banyak atau pandai, mereka bisa mempunyai perusahaan juga. Benarkah modal bisa membuat orang kaya? Banyak orang yang menang undian berhadiah, tapi dalam sekejab pula hartanya tersebut habis karena tidak dikelola dengan baik. Kaya dan miskin dalam konteks disini bukan dalam arti fisik, namun dari cara anda memandang uang. Apabila anda mempunyai rumah bak istana dengan lima mobil, namun anda selalu merasa kekurangan uang, berarti anda adalah orang “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 21 of 73
    • miskin. Sebaliknya, seorang tukang becak yang sudah cukup puas dengan makan tiga kali sehari, bisa dianggap orang kaya. Robert Kiyosaki pernah mengatakan bahwa yang membedakan seseorang kaya dan miskin bukan uang, kepandaian atau modal, tetapi CARA BERPIKIR. Nah, cara berpikir seperti apa yang membuat orang kaya. Pertama adalah masalah tabungan (saving). Orang miskin berpikir menabung di tempat yang aman, orang kaya berpikir investasi di tempat yang nyaman. Tempat menabung yang aman menurut orang miskin adalah tempat yang paling sering didengar keberadaannya, paling banyak cabangnya, paling besar gedungnya, bunganya stabil, dan bisa memberikan jaminan keamanan apabila terjadi sesuatu. Sedang tempat menabung yang nyaman menurut orang kaya adalah tempat yang tidak banyak diketahui orang, beresiko tinggi, pendapatannya naik turun setiap saat, dan perlu keahlian khusus untuk mengelolanya. Prinsip orang miskin disini adalah “Safe Risk, Stable Return”, sedang orang kaya adalah “High Risk, High Return”. Kedua adalah masalah penghematan vs pendapatan. Orang miskin sangat mematuhi aturan“ Jangan sampai besar pasak daripada tiang”. Artinya, seandainya pendapatan kita Rp 1 juta, sedangkan pengeluaran kita 1,5 juta, maka sebisa mungkin pengeluaran ditekan hingga Rp 800 ribu, masih sisa Rp 200 ribu untuk ditabung. Disisi lain, orang kaya jika mempunyai pendapatan 1 juta dan pengeluarannya 1,5 juta, maka mereka akan bekerja lebih keras sehingga pendapatannya mencapai 2 juta. Sehingga pengeluaran 1,5 juta tertutup dan masih tersisa Rp 500 ribu untuk ditabung. Bisa kita lihat disini, bahwa orang kayapun mematuhi aturan penghematan tersebut, tapi dari sisi yang berbeda. Orang miskin melihatnya dari seberapa besar pendapatannya, lalu menekan pengeluarannya, sedang orang kaya melihat dari sisi pengeluarannya, lalu meningkatkan pendapatannya. Ketiga adalah masalah bagaimana anda dan uang bekerja bersama. Orang miskin bekerja keras demi uang. Orang kaya menempatkan uang mereka pada instrumen tertentu agar bekerja keras bagi mereka. Disini semakin keras orang miskin bekerja, mereka akan mempunyai banyak uang, tetapi mereka hampir tidak mempunyai lagi waktu luang. Sebaliknya, semakin keras uang bekerja bagi orang kaya, mereka semakin punya banyak uang serta waktu luang. Itulah sebabnya tidak usah heran melihat orang kaya dengan ribuan karyawan masih sempat main golf, sedangkan orang miskin mengatakan tidak punya waktu mengantar anak tunggalnya jalan-2 ke mall karena sibuk bekerja. Keempat adalah pengelolaan uang tambahan. Seringkali jika kita menerima uang tambahan diluar gaji bulanan seperti THR, bonus, atau hasil kerja sampingan, pikiran orang miskin akan langsung digunakan untuk membeli sesuatu, karena dianggap duit tambahan tersebut sebagai rejeki dadakan. Orang kaya akan berpikir untuk menempatkan uang tambahan tersebut pada investasi tertentu, dan bunganya baru dipakai untuk membeli sesuatu. Tiga hal yang berperan disini adalah waktu, modal awal dan bunga. Orang miskin dari segi waktu lebih cepat memperoleh barangnya, namun modal awalnya habis dan tidak memperoleh bunga. Sebaliknya, orang kaya lebih bisa menahan diri untuk membeli barang dalam waktu yang lebih lama, namun modal awalnya masih ada, karena pembelian dilakukan dengan bunga. Bagaimana cara berpikir anda, sudahkah anda berpikir seperti orang kaya? “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 22 of 73
    • http://www.dinarislam.com/political-economy/gold-reserve-mereka-mungkin-tahu-yang- dilakukannya-sedangkan-kita.html Gold Reserve: Mereka Mungkin Tahu Yang Dilakukannya, Sedangkan Kita? Posted on17 November 2009 Saya punya 2 keponakan laki-laki yang usianya hampir sebaya; 3 dan 4 tahun yang lagi lucu-lucunya. Tidak hanya lucu, anak-anak ini rupanya juga cerdas. Karena selisih umur yang sangat dekat ini, mereka suka sekali berantem berebut mainan. Rupanya, si kecil yang 3 tahun mempunyai kecerdasan yang melebihi usianya; untuk mengelabui kakaknya yang lebih tua – agar tidak merebut mainannya – dengan idenya sendiri si kecil suka berkata “jelek… jelek… jelek…” pada mainan yang lagi dimainkannya dengan asyik. Maka si kakak menduga bahwa mainan tersebut memang jelek dan akhirnya tidak tertarik untuk merebutnya. Dari memahami permainan keponakan saya tersebut, saya tersentak dengan data cadangan emas negara-negara besar dunia. Rupanya ‘permainan’ inilah yang dimainkan negara-negara besar Dunia terhadap emas. Mereka melalui jalur IMF, melarang penggunaan emas sebagai referensi mata uang dan bahkan mengawasi perdagangannya secara ketat. Mereka juga rajin ‘mencitrakan’ emas sebagai hal yang buruk. Saking besar pengaruh mereka ini, sampai-sampai otoritas pasar modal kita pun sempat beberapa tahun lalu ikut-ikutan memojokkan investasi emas dengan membuat citra buruk tentang investasi emas. Dalam iklannya mereka menggambarkan seorang ibu yang serakah dengan tumpukan emas di gelangnya kemudian nyengir memamerkan gigi emasnya pula. Nampaknya, negara-negara besar dunia, sedang mempraktekkan ilmu yang sama dengan yang dimiliki keponakan saya yang 3 tahun tersebut di atas. Mereka senang mengatakan “jelek…jelek…jelek” pada investasi emas. Padahal mereka sendiri asyik mengamankan cadangan kekayaannya dalam bentuk emas. Lihat grafik di atas buktinya, Top 10 negara dalam hal cadangan emas mayoritas adalah negara-negara barat yang suka mengkampanyekan bahwa emas adalah hal yang jelek untuk uang maupun untuk investasi. Negara yang sadar bahwa mereka selama ini ‘tertipu’ dengan pencitraan buruk emas – pun segera mengejarnya; hal “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 23 of 73
    • ini misalnya dilakukan oleh China beberapa tahun terakhir dan India baru-baru ini. Bukan hanya dari sisi kuantitif yang besar – karena rata-rata mereka memang negara besar, secara persentase terhadap total reserve mereka – cadangan emas mereka juga sangat besar. Amerika mencapai 77%, Perancis mendekati 71%, Jerman mendekati 70%, Italy mendekati 67% dan Belanda mendekati 60%. Bila dirata-rata dari top 10 tersebut, maka cadangan emas rata-rata mereka adalah 38.5% dari total reserve-nya. Lantas dimana kita dan negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam lainnya? Meskipun bagian dari syariat kita membutuhkan uang emas (Dinar) misalnya untuk menentukan nishab zakat, hukum potong tangan, uang darah (diyat), dlsb; tidak satu-pun negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Indonesia memiliki cadangan emas yang memadai. Indonesia misalnya; di bank sentral kita – Bank Indonesia – kita hanya memiliki cadangan emas sebesar 2,347,046.31 troy ounce atau sekitar 73 ton emas per-akhir tahun lalu sesuai data BI di laporan tahunan tahun buku 2008. Dengan tingkat harga saat ini US$ 1,140/oz ; maka cadangan emas kita ini hanya bernilai US$ 2.68 Milyar, atau sekitar 4.15% dari cadangan devisa terakhir yang berada pada kisaran 64.5 milyar. Trend cadangan emas kita di BI juga bukannya naik, malah turun. Setelah 1/4 abad bertengger pada posisi di kisaran 96 ton emas, sekarang tinggal 73 ton emas atau turun 24% dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini. Kemana perginya emas kita tersebut? menurut laporan BI tahun buku 2006, sebagian emas kita tersebut dilego untuk mempercepat pelunasan hutang kita ke IMF! Jadi sekarang terserah kita… keponakan saya yang usia 4 tahun saja, kini tidak mempan lagi dikibuli adiknya yang berkata “jelek…jelek…jelek” pada mainannya; masa kita tetap akan membiarkan pasar emas dunia dikuasai mereka? Padahal mereka memojokkan citra emas, dan mereka juga mengumpulkannya dari tangan bangsa-bangsa lain yang lalai mengamankan asset riil-nya. Kalau toh otoritas kita tidak mengamankan asset riil bangsa ini, masya kita sebagai pribadi juga tidak mengamankan asset kita sendiri? http://www.dinarislam.com/political-economy/g-20-gold-reserve-siapa-yang-lebih-pintar-dalam- permainan-ini.html G-20 Gold Reserve: Siapa Yang Lebih Pintar Dalam Permainan Ini? Posted on23 April 2010 “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 24 of 73
    • Melengkapi tulisan saya sebelumnya dengan judul “What To Do…” dan juga tulisan tanggal 18/11/2009 lalu, kali ini saya ingin memperdalam sedikit tulisan yang terkait dengan cadangan emas negara-negara di dunia. Saya ambilkan kelompok negara- negara G-20 yang konon inilah negara-negara yang paling berpengaruh dalam ekonomi dan sistem keuangan dunia. Data yang saya gunakan adalah data yang dikumpulkan oleh World Gold Council terbaru sampai dengan Quarter 3 tahun lalu. Agar mudah dipahami, data ini kemudian saya sajikan dalam 2 grafik; pertama grafik di samping yang menggambarkan perubahan cadangan emas masing-masing negara (dalam ton) selama 10 tahun terakhir. Grafik pertama yang saya gunakan adalah grafik logaritmic – agar semua bisa tersaji dalam 1 grafik meskipun rentang cadangan negara yang satu dengan yang lain sangat jauh. Dari grafik pertama ini kita bisa melihat bahwa China dan Rusia menaikkan “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 25 of 73
    • cadangannya secara significant dalam beberapa tahun terakhir. Kita juga dapat melihat bagaimana Argentina yang mengalami krisis 2001, berhasil me-recover posisi cadangan emasnya bahkan menjadi lebih tinggi dari cadangan semula di tahun 2004. Meksiko juga demikian, setelah mengalami trend penurunan sejak 2000 – akhirnya berhasil memulihkan cadangannya dalam 2 tahun terakhir. Lha negeri kita? Malah mengalami penurunan cadangan emasnya secara significant (sekitar 24% dari cadangan sebelumnya) sejak akhir 2006 dan belum nampak upaya untuk memulihkannya – setidaknya berdasarkan data yang disajikan World Gold Council terakhir ini. Yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah adanya 2 trend yang berlawanan arah di antara negara-negara G-20 tersebut seperti yang saya sajikan pada grafik ke-2. Grafik ke-2 ini menunjukkan rasio antara Cadangan Emas terhadap Total Cadangan dari masing-masing negara. Sekelompok negara, secara sangat jelas memiliki trend yang rasio cadangan emasnya naik. Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Jerman, Italia, Perancis dan negara-negara Uni Eropa secara umum. Sementara itu negara-negara lain dalam kelompok G-20 – termasuk Indonesia memiliki trend yang menurun atau paling banter tetap. Apa makna dari ini semua? Negara-negara barat yang mengkampanyekan emas jangan dijadikan uang – bahkan dalam salah satu pasal di Article of Agreement of IMF (Article IV, Section 2. B), digunakan sebagai referensi nilai tukar saja tidak boleh – ternyata mereka malah membangun atau setidaknya mengendalikan cadangan emasnya dari waktu ke waktu. Sementara itu, negeri-negeri yang polos begitu saja mengikuti kampanye anti emas ini tanpa menyadari bahwa cadangan emas mereka menurun secara kwantitas maupun secara rasio dari waktu ke waktu. Strategi ala rebutan mainan yang dilakukan oleh ponakan-ponakan saya, nampaknya memang juga dilakukan oleh para penguasa keuangan dunia. Patut kita renungkan permainan ini, siapa yang lebih pintar sesungguhnya – kita atau mereka? http://www.dinarislam.com/political-economy/china-bersiap-memimpin-perdagangan-dunia-tanpa- us.html China Bersiap Memimpin Perdagangan Dunia Tanpa US$? Posted on01 March 2010 Kinerja US$ terus menjadi keprihatinan para pemimpin dunia, terutama negara yang memegang US$ dalam jumlah terbesar seperti China. Di sela-sela pertemuan dengan para petinggi Amerika tahun lalu, secara terus terang Asisten Menteri Keuangan China Zhu Guang Yau mengungkapkan: “Pemerintah China sebagai pemerintahan yang bertanggung jawab, pertama dan paling penting harus bertanggung jawab pada rakyat China. Jadi tentu kami prihatin dengan keamanan aset-aset China”. Yang dimaksud aset-aset China dalam pertemuan ini adalah aset China dalam bentuk US Treasury Debt yang kini nilainya telah mencapai US$ 801.5 milyar. Meskipun pertemuan ditutup dengan penuh semangat seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton “kami telah meletakkan dasar-dasar yang positif, kooperatif dan hubungan yang komprehensif abad 21”; dunia tidak menutup mata atas upaya-upaya lain yang nampaknya juga dilakukan oleh China sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap rakyat China – seperti yang diungkapkan oleh Zhu tersebut. Ada 2 hal yang dilakukan China untuk menggantikan atau setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap US$ dalam perdagangan internasional. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 26 of 73
    • 1. Pendekatan bottom-up untuk menggantikan US$ dengan Yuan, tidak melalui sistem perbankan – tetapi melalui perdagangan. Dengan negara terbesar di Amerika selatan – Brasil misalnya, mereka telah menyepakati rencana untuk menggunakan Yuan langsung sebagai pengganti US$ dalam perdagangan antara kedua negara ini. Setelah itu, target besar berikutnya adalah OPEC yang diharapkan akan segera dapat menerima Yuan untuk pembayaran minyak produksi mereka. 2. Langkah yang masih misterius karena sangat dirahasiakan, kemungkinan besar melibatkan juga negara kuat Jerman, selain Brasil, Rusia dan India yang bersama China sebelumnya telah intensif bicara dalam forum BRIC. Yang mereka sedang persiapkan secara rahasia nampaknya semacam sistem barter yang canggih, yang tidak melibatkan uang fiat seperti US$. Hal ini sedikit bocor oleh pernyataan salah satu konsultan mereka yang antara lain mengungkapkan: “Ketika terjadi keambrukan (sistem finansial dunia yang didominasi US$), sistem ini tidak akan membutuhkan reserve currencies lagi, karena 95% dari transaksi akan berupa barter atau imbal dagang yang canggih melalui platform perdagangan yang sedang di-design untuk siap beroperasi awal 2010. Sistem baru ini akan meniadakan peran bank yang selama ini menjadi jalur sempit (bottleneck) dalam perdagangan secara lokal, nasional dan internasional”. Betapapun siapnya negara China untuk menggantikan Amerika dalam perdagangan dunia, negara-negara yang penduduk terbesarnya Muslim seharusnya memiliki langkah-langkah tersendiri dan tidak mengikuti atau terbawa arus oleh negara lain, baik itu Amerika maupun China. Keduanya tidak bersahabat dengan Dunia Islam seperti apa yang ditunjukkan Amerika di Palestina, dan apa yang dilakukan China terhadap saudara-saudara kita Muslim Uighur. Selain karena faktor politik ini, sebenarnya Dunia Islam telah memiliki platform perdagangan yang berbasis Dinar, yang memang sudah mengedepankan perdagangan benda riil ke benda riil lainnya. Dengan sistem Dinar, perdagangan tidak perlu ribet seperti dalam sistem barter – tetapi juga tidak perlu rentan terhadap fluktuasi nilai mata uang masing- masing negara karena nilai daya beli Dinar yang baku secara universal – tidak terpengaruh waktu dan tempat. Negara-negara yang mau menggunakan sistem Dinar ini juga tidak perlu re-invent the wheel karena sistem yang mengatur perdagangan berbasis Dinar ini sudah lengkap, utuh dan proven karena telah lebih dari 1000 tahun diterapkan Dunia Islam – itulah Syariah. Dengan keunggulan-keunggulan sistem Dinar ini; seharusnya Dunia Islam yang memimpin perdagangan dunia ke depan. Apalagi sumber daya alam terbesar seperti minyak, panas bumi, gas, hutan dan lain sebagainya tersedia dengan cukup di Dunia Islam tersebut. Namun kalau harapan ini terlalu jauh, bila pendekatan top-down dari pemimpin-peminpin negara Islam untuk rakyatnya sulit diharapkan; maka umat Islam yang cerdas-pun dapat memulainya dengan pola bottom-up. Umat sendiri yang secara luas menyebarkan dan menggunakan sistem perdagangan berbasis Dinar yang adil, maka setelah itu pemerintah-pemerintah negeri muslim suka atau tidak suka akan mengikuti kemauan dan kepentingan rakyatnya. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 27 of 73
    • US Treasuries http://www.dinarislam.com/entrepreneurship/greenspan-guidotti-rule-harga-emas-dunia-peluang- meraih-kemerdekaan-kita.html Greenspan-Guidotti Rule: Harga Emas Dunia & Peluang Meraih Kemerdekaan Kita Posted on 02 December 2009. Ketika saya mulai menyempatkan diri untuk menulis di blog 2 tahun lalu, ada tulisan awal saya bertanggal 30 Desember 2007 yang berjudul Kehancuran Uang Kertas Mengikuti Deret Fibonacci. Karena pembaca saya saat itu belum sebanyak sekarang, dan orang belum melihat buktinya – maka tentu lebih banyak yang tidak percaya daripada yang percaya – saya tentu memaklumi hal ini. Kini hampir 2 tahun kemudian coba kita tengok kembali ke belakang. Ketika tulisan tersebut saya buat, harga Dinar masih Rp 1,096,900 dan harga emas dunia berada pada angka US$ 833.75; Menjelang 2 tahun harga Dinar kini sudah mencapai Rp 1,597,770,- dan harga emas dunia sudah berada pada angka US$ 1,215.70. Deret Fibonacci saya belum terbukti 100% memang, tetapi sudah sangat dekat – tinggal sejengkal langkah lagi – untuk terbukti. Ini mengerikan saya sendiri yang menulisnya karena berarti kehancuran uang kertas itu begitu dekatnya. Kalau uang kertas merepresentasikan peradaban jaman ini, mungkin ini salah satu tafsir Al-Qur’an berikut: “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (QS. Al Ma’aarij (70): 5 – 7) Karena penasaran saya, kemudian saya berusaha mencari bukti ilmiah lain yang bisa menjelaskan ke masyarakat zaman ini tentang fenomena kehancuran uang kertas ini. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 28 of 73
    • Maka saya ambillah teori dari dedengkotnya uang kertas abad ini yaitu Alan Greenspan (dahulunya The Federal Reserve Chairman) dan Pablo Guidotti (dahulunya Deputi Minister of Finance – Argentina). Kedua orang ini kemudian menghasilkan apa yang disebut Greenspan-Guidotti Rule, saya singkat saja menjadi GGR untuk kemudahan penulisan berikutnya. Inti dari GGR ini sebenarnya sangat sederhana yaitu: “Suatu negara harus memiliki cadangan yang minimal setara dengan hutang external jangka pendek (jatuh tempo setahun atau kurang)”. Dengan kata lain rasio antara reserve (cadangan) dan hutang jangka pendek minimal 1; bila kurang dari ini maka negara dalam bahaya kebangkrutan ekonomi. Untuk contoh, lagi-lagi saya nggak mau menggunakan negeri sendiri takut ada yang marah. Maka saya ambil contoh negara yang sering secara misleading disebut sebagai adi kuasa atau super power – Amerika Serikat. Alasan lain saya pilih negara ini karena uangnya US$ selama ini dipakai untuk mengukur harga emas internasional. Bila GGR mensyaratkan rasio minimal 1 agar negara bebas dari ancaman kebangkrutan, maka seperti apa peluang AS untuk bangkrut dalam jangka pendek? Marilah kita lihat cadangan dan hutang jangka pendeknya. Untuk cadangan, saat ini AS memiliki: a) 8,133.5 ton emas senilai sekitar US$ 300 Milyar. b) Cadangan strategis berupa minyak 725 juta barrel senilai sekitar US$ 58 Milyar. c) Amerika juga memiliki cadangan dalam mata uang asing sebesar US$ 136 Milyar (data IMF). Total dari 3 cadangan utama ini hanya US$ 494 milyar, katakanlah ditambah lain-lain kita bulatkan saja jadi US$ 500 Milyar. Mari sekarang kita lihat hutang jangka pendeknya. Menurut US Treasury, Amerika saat ini harus me-refinance- sekitar US$ 2 trilyun hutang jangka pendek; ini diluar defisit anggaran belanjanya yang mencapai US$ 1.5 trilyun, atau Amerika membutuhkan US$ 3.5 trilyun dalam 12 bulan kedepan. Ambil yang US$ 2 trilyun hutang jangka pendeknya dahulu; kemudian kita lihat kemana mereka berhutang. Ternyata sejak tahun 1985 Amerika sudah menjadi negara yang hutangnya lebih besar ketimbang piutangnya ke negara lain (net debtor). Sekarang sekitar 44% dari US$ 2 trilyun hutang tersebut adalah hutang terhadap pihak luar. Artinya hutang Amerika jangka pendek yang harus segera dilunasi ke pihak di luar Amerika saja telah mencapai US$ 880 milyar, yang jauh lebih besar dari cadangan mereka yang hanya US$ 500 Milyar tersebut di atas. Dari sini saja jelas Amerika akan segera menjadi negara yang GAGAL berdasarkan Greenspan- Guidotti Rule. Mungkin Anda akan berpikir bahwa sebagai negara besar, Amerika pasti bisa mengatasi masalah ini. Tetapi nanti dulu, perlu diingat bahwa bukan hanya terhadap hutang jangka pendek terhadap pihak luar yang Amerika akan gagal – untuk membiayai total hutang yang US$ 2 trilyun dan defisit belanja yang US$ 1.5 trilyun atau total US$ 3.5 trilyun – sampai saat ini para ahli negeri itu juga belum ketemu solusi yang berkelanjutan (sustainable). Saving bangsa Amerika saat ini hanya di kisaran US$ 600 Milyar pertahun; jadi kalau seluruh saving ini untuk membiayai hutang dan kebutuhan jangka pendek-pun tidak akan memadai. Mereka masih kekurangan dana sekitar US$ 3 Trilyun atau sekitar 40% dari GDP mereka. Well, tentu mereka akhirnya punya solusi untuk ini – meskipun bukan solusi yang sustainable, apa solusi itu? Mencetak uang dari awang-awang – atau dalam bahasa awam mereka “printing money out of thin air”. Bahasa teknisnya bisa keren-keren seperti quantitative easing, debt monetizing, dlsb. Tetapi pertanyaannya sampai kapan “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 29 of 73
    • mereka dapat melakukan ini? Kalau ada orang berhutang kepada Anda, setiap kali ditagih terus menunda atau malah minta hutangan baru – apakah akan Anda terus berikan? Inilah nampaknya yang mulai dilakukan China dan India dengan mengurangi ketergantungannya pada US$ dan mulai secara serius meningkatkan cadangan emasnya. Lantas apa hubungan ini semua dengan harga emas dunia? Sederhana saja, kalau harga emas sekarang senilai US$ 1,215.70; apa jadinya kalau US$ tidak lagi dipercaya orang dan nilainya terus menurun, tinggal 1/2, tinggal 1/4 (seperti yang kita alami tahun 97/98) dan seterusnya. Maka harga emas dunia bisa berlipat ganda melebihi kelipatan yang sebelumnya saya perhitungkan dalam Deret Fibonacci tersebut di atas. Fibonacci bisa keliru, demikian pula dengan Greenspan dan Guidotti. Tetapi kehancuran sistem ribawi sudah dipastikan di Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah (2): 276) jadi 100% saya percayai kebenarannya. Lantas apa solusinya bagi kita sebagai bangsa dan pribadi? Lagi-lagi balik ke Al-Qur’an (QS. Yusuf (12): 47-48) yang kebenarannya pasti: “….Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan…”. Ini cara Qur’ani untuk mempersiapkan diri menghadapi paceklik panjang dimulai dari gempa financial dahsyat yang epicentrum-nya US$ tersebut di atas. Dalam skala bangsa, kita punya seluruh sumber alam yang kita butuhkan berupa laut, hutan, tambang, lahan-lahan yang subur… maka tidak cukupkah waktu 7 tahun ke depan untuk mengolahnya secara sungguh-sungguh dan mengelola penggunaannya secara efisien? Kalau ini dapat kita lakukan, maka insya Allah negeri ini akan dapat bener-bener merdeka – mumpung sistem yang penjajah kita akan segera kalah perang (ekonomi) – ingat tahun 45 kita diberi rahmat Allah berupa kemerdekaan (baru kemerdekaan fisik, belum kemerdekaan ekonomi, pemikiran, dlsb.) melalui kekalahan perang negeri penjajah kita waktu itu! Ok, bicara negara dan bangsa mungkin terlalu luas; bagaimana kalau kita mulai dari diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita berusaha secara maksimal untuk bisa memakmurkan bumi tempat kita berpijak – sehingga dalam 7 tahun ke depan kita bisa benar-benar merdeka dari segala bentuk ketergantungan terhadap sesama manusia – menjadi semata-mata hanya mengabdi, menyembah dan bergantung hanya kepadaNya, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas (112):2). Insya Allah Bisa! Bagi yang ingin membuat langkah konkrit dalam hal ini, dapat bergabung dengan para peserta Pesantren Wirausaha – yang saat ini tengah mulai berjibaku untuk bisa belajar memakmurkan sejengkal bumi Allah yang diamanahkan ke kita di Jonggol-Bogor. Semoga Allah permudah kita dengan amal yang diridhoiNya. http://www.dinarislam.com/political-economy/bila-bric-membuat-uangnya-sendiri-bagaimana- dengan-kita.html Bila BRIC Membuat Uangnya Sendiri, Bagaimana Dengan Kita? Posted on28 February 2010 BRIC adalah sebutan untuk 4 negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yaitu Brasil, Rusia, India dan China. Pada pertengahan tahun lalu (Juni 2009) para pemimpin negara mereka bertemu di Yekaterinburg, wilayah pegunungan Ural – Rusia. Yang menarik sekali kita ikuti adalah agenda pertemuan mereka ini, yaitu membahas rencana penggantian mata uang US$ sebagai alat transaksi Global. Ke-4 negara tersebut juga bertekad untuk membentuk sistem “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 30 of 73
    • finansial global baru, menggantikan sistem finansial yang selama ini dianut oleh seluruh negara-negara di dunia. Entah kapan uang dan sistem finansial baru versi BRIC ini bisa terwujud, namun pertemuan para pemimpin negara-negara BRIC tersebut sudah selayaknya menjadi pelajaran bagi negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang juga sering disebut MDC (Muslim Dominated Countries) ini. Pelajaran pertama adalah kenyataan bahwa mata uang US$ tidak akan selamanya bisa bertahan sebagai mata uang utama dunia, sehingga harus secara serius segera dipikirkan penggantinya – sampai melibatkan pertemuan tingkat tinggi antar pimpinan Negara. Bersamaan dengan penggantian mata uang ini, sistem finansial dunia yang selama ini IMF-minded juga selayaknya diganti. Pelajaran kedua adalah, kalau pemimpin-pemimpin dunia yang sama sekali tidak memiliki kesamaan ideologis satu sama lain saja bisa bertemu untuk mencari solusi bersama yang terkait dengan uang dan sistem finansial; sudah selayaknya pemimpin-pemimpin Dunia Islam lebih potensi lagi untuk bertemu mengatasi masalah uang dan sistem finansial ini. Gross Domestic Product (GDP) Para pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini setidaknya memiliki kesamaan ideologis dan memiliki kesamaan tanggung jawab terhadap rakyatnya, yaitu membebaskan rakyatnya dari penindasan/penjajahan ekonomi yang antara lain termanifestasikan dalam bentuk penggunaan mata uang negara lain sebagai alat transaksi antar mereka. Bagi Dunia Islam pencarian mata uang pengganti US$ dan sistem keuangan ala IMF ini jauh lebih mudah ketimbang negara-negara di Eropa membentuk Euro atau negara- negara BRIC dalam melakukan pencarian mata uang barunya. Dunia Islam sudah memiliki Dinar yang telah dipakai lebih dari 1400 tahun, dan satu-satunya mata uang dunia yang bebas dari inflasi sepanjang sejarah. Dari sisi ukuran-pun kalau negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim ini bergabung, skala ekonomi yang diukur dari total GDP-nya juga lumayan besar; lihat grafik-grafik di atas yang menujukkan total GDP dari MDC, untuk data tahun 2008 memang baru sekitar ½ total GDP dari BRIC, dan ¼ total GDP dari EU; tetapi potensinya tidak kalah besar dengan Negara-negara di EU maupun BRIC karena kekayaan alam yang melimpah di MDC ini. Kendalanya memang mungkin tidak mudah menyatukan visi 32 negara-negara MDC; tetapi lagi-lagi negara yang tidak memiliki kesamaan ideologis seperti 27 negara-negara yang tergabung dalam “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 31 of 73
    • European Union (EU) saja bisa bersatu dalam masalah uang dan perdagangan; masa kita tidak dapat bersatu? Well, kalau toh pemimpin-pemimpin Dunia Islam ini belum memiliki visi untuk bersatu seperti yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin EU dan BRIC – tidak ada salahnya juga kita memulai sesuatu yang sudah bisa kita lakukan yang kelak insya Allah bisa menjadi alat pemersatu umat – setidaknya dalam masalah uang dan sistem keuangan ini. Inilah big picture dari sistem keuangan bebas Riba berbasis Dinar yang mulai kita rintis dalam beberapa tahun terakhir. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita tempuh ini. Amin http://www.dinarislam.com/financial-plan/what-to-do-ketika-rupiah-perkasa.html What To Do Ketika Rupiah Perkasa? Posted on20 April 2010 Hari-hari ini Rupiah mencapai angka terkuat terhadap US$ sejak 3 tahun terakhir dengan nilai tukar di bawah Rp 9,000/US$. Rupiah memiliki nilai tukar di bawah Rp 9,000/US$ terakhir sebelumnya adalah pada bulan Juni 2007. Kekuatan Rupiah ini juga bisa dipantau secara lebih akurat melaui Rupiah Index (RIX) yang sudah saya perkenalkan di situs ini sejak Desember 2009 lalu. Bila pada saat saya perkenalkan RIX berada pada angka 56.28; angka RIX tersebut kini berada pada angka 62.97 – kenaikan yang luar biasa selama 5 bulan terakhir. Baguskah keperkasaan Rupiah ini bagi kita? Secara umum tentu bagus karena penghasilan kita yang rata-rata dalam Rupiah memiliki daya beli yang lebih baik. Apalagi mengingat berbagai kebutuhan kita seperti bahan pangan, susu, pakaian, komputer, mobil, dlsb; sebagiannya masih harus diimpor. Hanya saja Rupiah yang terlalu kuat bila berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama, dapat menurunkan daya saing produk-produk ekspor kita. Jadi para otoritas moneter dan perdagangan negeri ini kudu waspada – agar Rupiah tetap perkasa namun tidak sampai menurunkan kemampuan kita untuk menghasilkan devisa. Lantas apa yang perlu kita lakukan selagi Rupiah perkasa seperti sekarang ini? Untuk skala individu, inilah waktu yang baik untuk mengamankan jerih payah kita dalam bentuk benda riil seperti emas/Dinar, mesin-mesin produksi, stok barang “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 32 of 73
    • dagangan, stok bibit ternak (yang sebagiannya sekarang masih impor) dan lain sebagainya. Gold / Total Reserves Untuk skala negara menurut saya inilah waktu terbaik untuk mengembalikan cadangan emas kita ke tingkat yang wajar – minimal setara dengan yang dimiliki oleh negara-negara lain. Kita tahu bahwa Indonesia pernah memiliki cadangan emas sekitar 249 ton tahun 1951; kini cadangan tersebut hanya sekitar 73 ton saja. Bahkan 4 tahun yang lalu kita menjual sekitar 24% cadangan emas kita untuk mempercepat pembayaran hutang ke IMF. Bila kita berhasil mengembalikan cadangan emas kita ke tingkat yang pernah kita miliki pada awal kemerdekaan tersebut; maka ini akan mengangkat persentase cadangan emas kita terhadap Total Reserves ke tingkat yang kurang lebih sama dengan rata-rata persentase cadangan emas negara lain terhadap Total Reserves-nya masing-masing. Peningkatan cadangan emas inilah yang dilakukan oleh negara-negara di benua Eropa sepanjang 10 tahun terakhir (sebelum krisis), sehingga persentase cadangan emas mereka terhadap Total Reserves-nya meningkat dari rata-rata 30% ke angka rata-rata 55%, seperti yang ditunjukkan oleh grafik di atas yang datanya saya ambil dari data Dewan Emas Dunia (World Gold Council). Dari grafik yang sama tersebut selama 10 tahun terakhir ini, Indonesia memiliki persentase cadangan emas terhadap Total Reserves yang kurang lebih hanya 1/3 dari yang dimiliki oleh negara-negara di dunia. Bila dibandingkan dengan persentase sejenis untuk negara-negara Eropa, maka persentase cadangan emas kita terhadap Total Reserves turun dari sekitar 1/10 dari yang dimiliki oleh rata-rata negara-negara di Eropa tersebut 10 tahun lalu, menjadi tinggal kurang lebih 1/18 -nya sekarang. Hal ini karena cadangan emas negara-negara di Eropa naik sedangkan kita malah turun (akhir 2006). Mengapa cadangan emas ini penting? Karena semakin besar cadangan emas kita terhadap Total Reserves, semakin stabil daya beli uang kita – semakin aman dari guncangan nilai mata uang seperti yang pernah kita alami secara berulang kali dalam 40 tahun terakhir. Bila hal ini dilakukan oleh negeri ini, insya Allah ini menjadi “hasil panenan yang dipertahankan di bulirnya” seperti yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf A.S. dalam Al- Qur’an ketika menyiapkan rakyatnya untuk menghadapi paceklik panjang. Paceklik panjang di zaman modern ini bisa terjadi melalui hancurnya nilai mata uang seperti yang pernah kita alami tahun 1997/1998. Bila otoritas negeri ini tidak memandang perlu akan hal ini; maka kita secara pribadi-pun bisa melakukan langkah-langkah antisipatif ini – selagi Rupiah masih perkasa. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 33 of 73
    • http://www.dinarislam.com/financial-plan/paradox-us-rupiah-harga-emas.html Paradox US$, Rupiah & Harga Emas Posted on03 March 2010 Melalui beberapa tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengungkapkan ‘keperkasaan’ uang kertas US$ maupun Rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Rupiah misalnya saat artikel ini saya tulis berada pada nilai tukar Rp 9,257/US$ ; ini angka yang luar biasa ‘perkasa’ mengingat Rupiah sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$ pada puncak krisis akhir 2008. Logikanya adalah apabila Rupiah lagi perkasa, bukankah barang-barang kebutuhan kita bisa kita beli dengan murah saat ini? Ternyata tidak seluruhnya demikian. Untuk barang-barang yang biasa kita beli dari luar seperti komputer, software, dlsb.; memang terasa penurunan harga barang-barang ini dalam Rupiah. Namun untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gula, dlsb; ibu-ibu yang suka belanja lebih tahu – harga barang-barang kebutuhan seperti ini tidak mengenal turun. Bahkan khususnya beras, saat ini lagi dirasakan mahal-mahalnya oleh masyarakat kita. Mengapa demikian? Karena menguat atau melemahnya Rupiah bukan diukur dari daya beli riil terhadap kebutuhan kita sehari-hari; melainkan diukur relatif terhadap kekuatan mata uang lain. Padahal mata uang negara lain ini baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama tidak mencerminkan daya beli riilnya juga. Paradox kekuatan mata uang terhadap daya beli riilnya ini lebih mudah bila dilihat dengan harga barang yang bersifat baku. Lagi-lagi saya gunakan emas sebagai barang yang memiliki nilai daya beli baku karena sudah terbukti lebih dari 1400 tahun 4.25 gram emas (1 Dinar) cukup untuk membeli 1 ekor kambing. Perhatikan grafik di samping untuk melihat Paradox daya beli US$ ini secara visual. Anda bisa lihat pada umumnya harga emas turun ketika kekuatan US$ yang diukur dengan US$ Index naik, namun beberapa bulan terakhir meskipun US$ Index naik – harga emas dalam US$ juga tetap naik. Apa maknanya ini? Inilah tanda-tanda menurunnya daya beli secara keseluruhan dari sistem mata uang dunia. US$ yang sedang menunjukkan keperkasaannya saja, daya belinya secara significant menurun sampai lebih dari 50% dalam waktu kurang dari 5 tahun saja (tepatnya sejak januari 2006). Apalagi mata uang negara lain yang pada umumnya lemah! Trend inilah yang saya duga juga dipahami oleh petinggi IMF, sehingga merekapun mendorong bangsa-bangsa di dunia untuk siap-siap meninggalkan US$ – terlepas dibalik ini sangat bisa jadi mereka juga memiliki agenda lain untuk mengantisipasi kehancuran US$ ini. Lantas apa langkah antisipasi kita untuk terhindar dari depresiasi “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 34 of 73
    • nilai terhadap hasil jerih payah kita berpuluh tahun? Usahakan simpanan jangka panjang Anda dalam bentuk benda-benda atau investasi yang memiliki aset riil seperti Emas/Dinar, kebun, barang dagangan, dlsb. http://www.dinarislam.com/dinar-prospecting/dinar-emas-di-antara-uang-kertas-yang-perkasa- yang-lunglai.html Dinar/Emas Di Antara Uang Kertas Yang Perkasa & Yang Lunglai Posted on16 February 2010 Meskipun hari-hari ini harga emas fisik di pasaran Indonesia di kisaran Rp 345 ribu/gram tidak bisa dibilang murah, sesungguhnya relatif terhadap harga emas dunia – kita lagi beruntung, harga emas dalam Rupiah lagi murah-murahnya bila dibandingkan dengan harga emas setahun yang lalu. Bila dalam setahun terakhir harga emas dunia dalam US$ mengalami kenaikan sekitar 19% dan dalam Euro mengalami kenaikan sekitar 11%; Dengan uang Rupiah kita yang lagi perkasa – harga emas atau Dinar dalam Rupiah turun 9%. Kinerja Rupiah yang tidak biasa, yang keperkasaannya melebihi mata uang kuat dunia ini di satu sisi menggembirakan karena tidak hanya kita bisa membeli emas atau Dinar dengan relatif murah; tetapi juga inflasi terhadap barang-barang impor yang mau nggak mau masih kita perlukan menjadi rendah. Saat ini adalah kesempatan yang baik bagi Anda yang mau ganti komputer misalnya, karena komputer juga lagi murah, dlsb. Di sisi lain kita juga perlu waspada karena bila situasi ini berlangsung dalam waktu yang lama, belum tentu menguntungkan negeri ini. Konsumsi barang impor akan meningkat sedangkan ekspor akan kurang dapat bersaing. Hal lain yang juga perlu diwaspadai adalah ketika Rupiah kembali ke jalurnya semula, yang cenderung berkinerja lebih lemah dari mata uang kuat lainnya di dunia – ada kemungkinan harga emas dalam Rupiah akan melonjak. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 35 of 73
    • 10 Years Gold Perhatikan misalnya grafik di samping; dalam 10 tahun terakhir harga emas dalam Rupiah naik sekitar 406%, sementara dalam US$ hanya naik 294% dan dalam Euro hanya naik 190%. Artinya kinerja Rupiah setahun terakhir yang lebih kuat dari US$ dan Euro, lagi tidak sejalan dengan kinerja jangka panjangnya yang cenderung lebih lemah dari kedua mata uang kuat tersebut. Ketika Anda berenang melawan arus, maka Anda akan lebih cepat capek karena tenaga Anda terkuras. Demikianlah yang nampaknya terjadi dengan Rupiah setahun terakhir, mudah- mudahan saja dia tidak cepat capek dan berbalik arah – meskipun kita tetap harus waspadai arus balik ini. http://www.dinarislam.com/financial-plan/mengalahkan-inflasi-insya-allah-kita-bisa.html Mengalahkan Inflasi, Insya Allah Kita Bisa Posted on14 March 2010 Dalam Ilmu Ekonomi, yang dimaksud dengan inflasi adalah kenaikan harga-harga terhadap barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu. Menurut para penganut Teori Monetarist, penyebab utama inflasi ini adalah supply uang. Bahkan dalam pandangan Monetarist Economist terkenal Milton Friedman “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.” Dalam sistem ekonomi barat ada yang berpendapat bahwa inflasi ini ada positifnya karena antara lain berguna untuk mendorong investasi sektor riil. Ketika inflasi tinggi orang cenderung untuk tidak mempertahankan assetnya dalam bentuk uang – tetapi dalam bentuk barang, kebutuhan akan barang inilah yang mengangkat produksi dan memutar ekonomi. Dalam Islam, produksi di sektor riil tidak didorong oleh inflasi tetapi oleh putaran uang yang lebih cepat. Kekayaan bukan untuk ditimbun tetapi berputar ke masyarakat luas – berputar tidak hanya pada yang kaya tetapi juga pada yang miskin. Dalam pandangan Ibnu Taimiyyah, pemerintah yang mencetak fulus melebihi kebutuhan transaksi – dus menyebabkan inflasi – adalah pemerintah yang mendhalimi rakyatnya. Pandangan Ibnu Taimiyyah inilah yang sebenarnya lebih pas untuk manusia modern di zaman ini sekalipun. Pemerintah-pemerintah dunia akan mampu menjaga kemakmuran rakyatnya bila mereka bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan inflasi – kalau saja mereka mau! “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 36 of 73
    • Contoh betapa inflasi menyengsarakan rakyat seluruh dunia dapat Anda lihat pada grafik di samping. Grafik yang saya buat berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Rice Research Institute (IRRI) ini menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir saja, harga beras di dunia telah mengalami kenaikan rata-rata hampir 2X lipat. Padahal sangat sedikit porsi penduduk dunia yang bisa meningkatkan penghasilannya 2X lipat dalam periode tersebut. Artinya, rata-rata penduduk dunia menurun tingkat kemakmurannya – karena penurunan daya beli uangnya ini. Hal ini juga bisa kita rasakan di rumah tangga kita masing- masing. Bisa saja penghasilan kita meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kok beban hidup tidak terasa lebih ringan ya? Bila Anda merasakan hal yang sama – sangat bisa jadi ini karena kenaikan penghasilan Anda kalah cepat dengan inflasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok Anda. Yang bisa mengendalikan inflasi ini adalah pemerintah khususnya otoritas moneter; rakyat seperti kita tidak bisa mengendalikan inflasi ini. Meskipun demikian, sebenarnya ada yang bisa dilakukan oleh rakyat seperti kita-kita untuk tidak menjadi korban inflasi ini. Dengan apa kita dapat melakukan ‘perlawanan’ terhadap inflasi ini? Dengan meminimumkan penggunaan uang yang menjadi penyebab inflasi tersebut. Menurut para penganut paham Monetarist di atas, inflasi kan disebabkan oleh supply uang – ya jangan taruh kekayaan Anda yang kegunaannya bersifat jangka panjang dalam bentuk uang. Bila Mayoritas kekayaan Anda tersimpan dalam nominal mata uang (Rupiah, US$, dlsb), maka daya beli kekayaan Anda tersebut akan terus menurun bersamaan dengan waktu. Bila dalam 5 tahun terakhir saja harga beras internasional rata-rata naik 2X, berarti daya beli uang Anda terhadap beras turun tinggal ½-nya – maka bisa Anda bayangkan bila 15 tahun dari sekarang Anda pensiun misalnya – maka saat itu daya beli asset Anda bisa jadi sangat tidak memadai untuk kehidupan saat itu. Dalam situasi inflasi yang sangat tinggi sekalipun (hyper inflasi), harga barang-barang naik relatif bersamaan – maka nilai tukar benda riil yang satu relatif stabil terhadap benda riil yang lain. Artinya bila asset Anda berupa benda riil yang tidak aus atau rusak, maka daya beli asset Anda tersebut insya Allah akan relatif stabil. Salah satu benda riil yang tidak aus/rusak, sangat likuid dan statitisk daya belinya terbukti sepanjang zaman adalah Emas atau Dinar. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 37 of 73
    • Emas atau Dinar terbukti memiliki daya beli relatif stabil sepanjang lebih dari 1, 400 tahun; bukan hanya dengan 1 Dinar tetap dapat membeli 1 ekor kambing sejak zaman Nabi – sampai sekarang; untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras pun insya Allah relatif stabil. Bila data dari IRRI tersebut saya sajikan kembali dalam nilai emas; maka Anda akan bisa lihat pada grafik di samping bahwa harga beras rata-rata berfluktuasi di sekitar 0.7 oz emas/ton beras. Ada yang di kisaran 1 oz emas/ton beras, namun ada juga yang di 0.5 oz emas/ton beras. Perbedaan harga karena jenis/kwalitas ini wajar, karena di barang apapun termasuk di kambing pun juga demikian. Kambing-kambing yang kami pelihara di Pesantren Daarul Muttaqiin untuk indukan rata-rata 2 Dinar, bahkan pejantan unggul bisa berharga di atas 10 Dinar. Tetapi secara umum di pasar 1 Dinar akan tetap dapat untuk membeli kambing yang cukup baik. Demikian pula di beras; ada beras Jepang yang sangat mahal, tetapi dengan 0.7 Oz emas atau sekitar 5 Dinar Anda tetap dapat membeli beras 1 ton di sepanjang masa. Masih ada satu lagi, dalam 5 tahun terakhir setelah ditimbang/dinilai dengan emas-pun harga beras tidak menjadi datar – tetapi bergelombang membentuk gelombang sinus; inilah dampak dari naik turunnya harga yang fitrah karena mekanisme pasar supply and demand – bukan lagi faktor inflasi. Karena inflasi bisa dilawan dengan pertukaran barang yang satu dengan yang lain tanpa menggunakan uang; maka inilah yang melatar belakangi bangsa-bangsa di dunia sedang berlomba menciptakan Sistem Barter Modern – seperti juga yang sedang kita kaji dalam IndoBarter Project. Tidak akan mudah memang, tetapi untuk sesuatu problem yang tidak pernah bisa diatasi oleh pemerintah-pemerintah dunia – yaitu problem inflasi; maka hal yang sulit tersebut cukup menantang untuk dicoba. http://www.dinarislam.com/dinar-prospecting/and-the-winner-is.html And The Winner Is…? Posted on22 February 2010 Untuk bisa melihat kinerja uang kertas kita dalam perspektif yang lebih luas, pada kesempatan ini saya ingin menyajikan perkembangan harga emas sampai 5 tahun terakhir dilihat dari kaca mata uang Rupiah, US$, Euro dan Yen. Kita gunakan harga emas dalam mata uang masing-masing – karena harga emas inilah alat ukur yang paling universal dan stabil sepanjang zaman. Kita patut bersyukur bahwasanya dalam 6 – 12 bulan terakhir, mata uang kita jauh lebih perkasa dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia yaitu US$, Euro dan Yen. Hal ini dapat kita lihat bahwa di antara 4 mata uang yang kita observasi daya belinya terhadap emas; dalam 6 – 12 bulan terakhir harga emas dalam Rupiah-lah yang kenaikannya paling rendah. Dalam Rupiah kenaikan harga emas malah minus atau mengalami penurunan selama 12 bulan terakhir. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 38 of 73
    • Meskipun kita dapat berbangga dengan Rupiah kita dalam jangka pendek, namun kita tetap harus mewaspadai daya beli uang kita ini karena dalam jangka menengah 5 tahun saja Rupiah berkinerja paling lemah bila dibandingkan dengan 3 mata uang kuat dunia Yen, US$ dan Euro tersebut di atas. Dalam timbangan emas, harga emas dunia telah mengalami kenaikan 161% selama 5 tahun terakhir bila dibeli dengan Rupiah. Sementara bila dibeli dengan Yen, US$ dan Euro masing-masing hanya mengalami kenaikan 125%, 157% dan 150%. Apa maknanya ini semua? Karena mata uang merepresentasikan kekuatan ekonomi suatu negara. Maka selama kurun waktu 5 tahun terakhir, Jepang masih paling kuat fundamental ekonominya dibandingkan dengan negara-negara Uni Eropa, Amerika dan Indonesia. Kita tentu berharap stamina kita yang lagi fit sehingga memiliki ke-unggul-an dalam 6-12 bulan terakhir dibandingkan dengan negara-negara yang secara umum memiliki fundamental ekonomi yang lebih kuat dari kita tersebut – dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun mendatang. Bagaimana kalau kondisi unggul ini tidak bisa bertahan lama? Ada cara lain untuk mempertahankan hasil jerih payah kita agar tetap memiliki daya beli unggul sepanjang zaman – yaitu emas atau Dinar. Selagi Rupiah perkasa seperti hari-hari ini, harga emas sesungguhnya lagi rendah-rendahnya dalam Rupiah – relatif terhadap mata uang lain di dunia. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 39 of 73
    • http://www.dinarislam.com/islamic-view/antara-mekanisme-pasar-yang-fitrah-inflasi-yang-harus- dicegah.html Antara Mekanisme Pasar Yang Fitrah & Inflasi Yang Harus Dicegah Posted on10 March 2010 Sudah beberapa hari ini harga emas mengalami penurunan dan puncaknya semalam ketika pasar internasional turun secara significant dari US$ 1,121/Oz ke angka US$ 1,108/Oz. Akibatnya pagi ini harga Dinar kembali turun mendekati angka Rp 1.4 juta lagi. Ini kabar baik bagi kita yang di Indonesia, bahwa uang kita masih bernilai baik – meskipun (mungkin) ini hanya bersifat jangka pendek. Pada kesempatan ini saya ingin share data harga emas dalam Rupiah yang sudah terkumpul di sistem kami sejak 14 September 2007. Pada grafik di bawah Anda akan lihat pergerakan naik turunnya harga emas harian, yang kurang lebih berimbang antara hari-hari dimana harga emas naik dan hari-hari dimana harga emas turun. Naik turunnya harga emas harian ini lebih banyak didorong oleh mekanisme pasar yang bekerja secara global; ketika harga tinggi orang banyak yang menjual emasnya sehingga supply meningkat dan akan mendorong harga turun. Demikian pula ketika harga rendah, banyak peminat akan berburu emas sehingga demand meningkat dan harga kembali naik, demikian seterusnya. Kalau harga emas hanya didorong oleh mekanisme pasar, maka seharusnya angka berfluktuasi pada kisaran nilai tertentu – seperti bandul jam yang berayun di sekitar angka 6. Namun ternyata tidak demikian yang terjadi pada harga emas; di awal sistem kami mulai mencatat harga emas harian, harga ini berada di kisaran Rp 220,000/gram ; kini harga berada pada kisaran Rp 330,000/gram atau naik sekitar 50% dalam 2.5 tahun terakhir. Artinya selain mekanisme pasar yang mendorong berayunnya harga emas secara harian tersebut; ada kekuatan lain yang hari demi hari mendorong harga emas ke atas. Kekuatan lain ini hanya nampak bila kita lihat dalam rentang waktu yang panjang - kekuatan apa ini? Inilah yang namanya inflasi atau penurunan daya beli uang kertas terhadap benda riil yang dalam hal ini diwakili oleh emas. Naik turunnya harga karena mekanisme pasar ini tidak boleh dicampuri oleh siapapun; bahkan dalam Islam, Rasulullah SAW-pun tidak mau mempengaruhi-nya sebagaimana Hadits Ashabus Sunan dengan perawi yang shahih sebagai berikut: Telah meriwayatkan dari Anas R.A., ia berkata:” Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami. Rasulullah SAW lalu menjawab, ‘Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi rizki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 40 of 73
    • seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta.” Sebaliknya dorongan kenaikan harga secara terus menerus yang disebabkan oleh inflasi mata uang kertas, ini tidak boleh terjadi. Penguasa negeri wajib mengendalikan jumlah uang (fulus) yang beredar sehingga rakyat tidak terdhalimi oleh penurunan nilainya. Inilah yang sudah juga diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah berikut: “Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga, kertas, dlsb.) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka.” Masalahnya sekarang adalah kita hidup di zaman uang kertas; di seluruh dunia uang kertas inilah yang digunakan – dan tidak ada satu negarapun yang terbukti bisa mengendalikan inflasi. Maka sangat bisa jadi kini zamannya sudah semakin dekat prediksi pemenang hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1974 Friedrich August Von Hayek, dan juga prediksi ‘Dewa’ Ekonomi-nya dunia barat John Naisbitt untuk terbukti: masanya uang ‘swasta’ untuk berjaya menggantikan uang nasional. Bila megatrend itu bener-bener terjadi, maka insya Allah kita-pun sudah siap untuk menyongsongnya. Semoga Allah selalu menunjuki kita ke JalanNya. http://www.dinarislam.com/political-economy/emas-diantara-yang-pesimis-optimis.html Emas Diantara Yang Pesimis & Optimis Posted on14 February 2010 “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 41 of 73
    • Hari-hari ini bila Anda rajin mengikuti perkembangan harga emas dunia akan melihat trend tahunan yang tidak biasa. Dalam Rupiah harga emas saat ini lebih rendah sekitar 8.5% dibandingkan dengan harga emas setahun lalu – lihat grafik di samping; sebaliknya bila Anda sempat lihat harga emas dunia di Kitco.com – dalam US$ harga emas dunia pagi ini masih 15% lebih tinggi dari harga setahun lalu. Jadi pertanyaannya adalah apakah harga emas saat ini lagi rendah atau lagi tinggi? Akan naik atau akan turun? Tidak mudah menjawabnya dan bahkan para analis pasar emas dunia-pun berbeda pendapat dalam hal ini. Dalam kaitan harga emas ke depan, saya pisahkan pendapat para analis ini dalam 2 golongan – yaitu yang Pesimis dan yang Optimis (terhadap harga emas). Yang Pesimis pada umumnya melihat emas sebagai komoditi biasa yang harganya naik dan turun sesuai dengan supply dan demand; mereka berpendapat bahwa harga emas dunia saat ini sudah ketinggian dan akan berkecenderungan turun. Bukti yang mereka gunakan adalah kecenderungan menurunnya harga emas yang terjadi dalam 2 bulan terakhir. Setelah sempat mencapai angka di atas US$ 1,200/Oz; saat ini emas hanya diperdagangkan dikisaran US$ 1,093/Oz. Penyebabnya antara lain adalah economic recovery di Amerika Serikat sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan GDP negeri itu Kwartal ke IV 2009 yang mencapai angka yang fantastis 5.7%. Pada saat ekonomi baik, orang meninggalkan emas sebagai aset penyimpan nilai modal (capital preservation asset) dan menginvestasikannya ke dalam bentuk investasi yang berpotensi memberikan hasil lebih. Maka sejalan dengan proses economic recovery di Amerika yang bisa berlangsung sampai 2012; maka kelompok yang Pesimis ini-pun memperkirakan bahwa harga emas akan cenderung turun sampai tahun 2012 – yang saat itu diperkirakannya harga emas hanya akan berada dikisaran US$ 750/Oz. Kelompok yang Optimis melihat data yang sama justru dari sudut pandang yang sebaliknya. Recovery saat ini lebih banyak didorong oleh serangkaian bailout yang berarti pencetakan uang kertas lebih dari biasanya. Supply uang kertas yang dipaksakan ini pada akhirnya akan menghancurkan daya beli uang kertas itu sendiri. Bila daya beli uang kertas jatuh, maka semua barang akan melonjak nilainya – dan tentu saja juga harga emas. Salah satu pendukung teori ini adalah Marc Faber seperti yang diungkap di www.commodityonline.com 2 hari lalu. Fund Manager kondang yang berasal dari Swiss ini dalam forum resmi Russia’s Troika Dialog pekan lalu menyatakan “Saya yakin bahwa pemerintahan Amerika akan bangkrut, mungkin tidak besok, tetapi sebelum ini terjadi mereka akan mencetak uang sangat banyak – dan Anda akan menghadapi inflasi yang sangat tinggi”. Karena langkah yang dilakukan oleh Amerika dalam aksi bailout ini juga dilakukan oleh negara-negara lain seperti Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya; maka praktis ini akan melanda dunia finansial secara keseluruhan. Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi ini? Marc Faber merumuskannya dengan sederhana : “satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah menjual emas saya”. Lantas seberapa tinggi harga emas akan naik menurut golongan yang optimis ini? Perkiraan mereka beberapa kali saya kutip di situs ini, antara lain tanggal 20 November 2009 dengan judul Exchange Rate Chaos. Menurut kelompok ini harga emas akan mencapai US$ 2,000 dalam waktu yang tidak terlalu lama dan tidak dengan susah payah. Lantas bagaimana saya sendiri berpendapat? Saya cenderung ke pendapat yang kedua. Meskipun pada saat yang bersamaan saya selalu mengingatkan bahwa dalam jangka pendek harga emas akan terus bergejolak. Bahkan kepada para agen Dinar-pun; setiap membekali mereka saya selalu katakan untuk transparan dan fair memberikan gambaran prospek Dinar ini ke para nasabahnya. Memang kita Optimis “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 42 of 73
    • Dinar akan berkecenderungan naik dalam jangka panjang; tetapi jalannya akan bergelombang seperti grafik-grafik bulanan, tahunan dan 10 tahunan yang ada di situs ini. Jadi dalam jangka pendek harga Dinar tidak hanya bisa naik, bisa juga turun. http://www.dinarislam.com/dinar-prospecting/elliot-wave-theory-harga-emas-dunia.html Elliot Wave Theory & Harga Emas Dunia Posted on 21 February 2010 Beberapa kali saya menulis tentang teori yang berkembang di pasar modal yang juga berlaku di pasar emas dalam skala global. Di antara yang pernah saya tulis tersebut adalah tentang Deret Fibonacci; analisa Moving Average, Trend Polynomial dan lain sebagainya. Meskipun tidak ada yang bisa menjamin kebenaran teori manusia untuk memprediksi masa depan tersebut, paling tidak analisa-analisa yang menggunakan data statistik ini dapat menambah wacana kita untuk lebih memahami apa yang terjadi di masa lalu, yang terjadi sekarang, dan menduga apa yang sekiranya mungkin terjadi berikutnya. Ada 1 lagi teori yang juga banyak digunakan untuk memahami perilaku pasar ini yaitu yang disebut Elliot Wave Theory. Teori yang dikembangkan oleh seorang accountant Ralph Nelson Elliot (1871-1948) ini mendasarkan pada asumsi bahwa manusia secara bersama-sama memiliki perilaku yang rhythmical, maka keputusan- keputusannya dalam berinvestasi, dlsb; juga pada umumnya bersifat ritmis. Psikologi investor secara kolektif (crowd psychology) bergerak dari optimisme ke pesimisme secara berulang membentuk pola tertentu seperti dalam grafik di atas. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 43 of 73
    • Pada saat pasar sedang bullish (berkecenderungan naik), gerakan naik ini didorong oleh gelombang motive yaitu gelombang no 1, 3 dan 5 dalam gambar. Dalam perjalanan naik ini dari waktu ke waktu ada koreksi seperti yang ditunjukkan oleh gelombang corrective 2 dan 4. Satu gelombang motive terdiri dari 5 sub gelombang, dan satu gelombangcorrective terdiri dari 3 sub gelombang. Pada saat pasar Bearish (berkecenderungan turun), sebaliknya terjadi – gelombang penurunan menurut Elliot akan secara simetris mengikuti pola yang berkebalikan dengan kenaikannya membentuk segitiga sama kaki (di grafik perhatikan rangkaian gelombang 2-3-4-5-A-B- C). Elliot Wave Theory Untuk contoh penerapan Elliot Wave Theory pada harga emas saat ini, saya tidak perlu membuatnya sendiri karena di internet sudah ada yang membuatnya yaitu antara lain Nadeem Walayat dari www.walayatstreet.com atau www.marketoracle.co.uk. yang analisa grafisnya saya sajikan di samping. Berdasarkan analisa si Walayat ini, saat ini harga emas sedang berada pada gelombang corrective 4 dimana harga emas bisa turun sampai kisaran US$ 1,050/oz. karena gelombang corrective terdiri dari setidaknya 5 sub gelombang- maka bisa saja terjadi beberapa kali koreksi yang berujung pada kisaran angka tersebut di atas. Maka bila saat artikel ini saya tulis harga emas dunia berada pada angka US$ 1,118.50 – jangan terkejut bila dalam waktu tidak terlalu lama bisa saja harga emas kembali turun ke kisaran US$ 1,050/Oz. Meskipun demikian, karena gelombang utamanya sedang berada di gelombang corrective 4; sangat mungkin juga dalam waktu tahun ini juga harga emas akan kembali bergerak ke atas mengikuti gelombang motive 5. Karakter puncak gelombang motive ini selalu melebihi puncak gelombang motive sebelumnya. Maka bila puncak gelombang motive 3 berada pada angka US$ 1,226.30 yang terjadi awal Desember tahun lalu, puncak gelombang motive 5 menurut Walayat akan mencapai US$ 1,333/Oz yang bisa terjadi sebelum akhir tahun ini. Setelah mencapai puncak gelombang motive 5 – kemudian menurut Teori Elliot Wave ini harga emas akan berbalik arah menjadi bearish market yang memiliki kaki-kaki simetris dengan kenaikannya. Jadi kalau mengikuti teorinya si Elliot ini harga emas akan berkecenderungan turun tahun depan (2011), benarkah ini yang akan terjadi? Sekali lagi tidak ada yang bisa memprediksi masa depan secara akurat; Teori Elliot Wave mungkin ada benarnya, namun juga ada cacatnya. Cacat di Teori Elliot Wave ini tidak pernah saya jumpai diulas di buku-buku yang biasanya menjadi rujukan para “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 44 of 73
    • analis. Cacat tersebut adalah cacat sejarah, yaitu ketika teori tersebut diperkenalkan melalui buku The Wave Principle (1938) dan juga revisi komplitnya pada Nature’s Laws – The Secret of Universe (1946) – rezim uang saat itu masih menggunakan emas sebagai back-upnya. Artinya, Teori Elliot Wave mempunyai kemungkinan benar lebih besar bila uang yang dipakai di pasar memiliki daya beli relatif tetap. Sebaliknya ketika nilai uang terus mengalami penurunan karena seluruh uang kertas dunia saat ini tidak lagi memiliki daya beli tetap, maka kaki-kaki bearish A, B, C tidak akan mudah terjadi dan bila toh terjadi tidak akan pernah sama panjang dengan kaki-kaki bullish 1,2 dan 3. Apa makna dari ini semua pada harga emas tahun ini atau tahun depan? Saya masih berpegang dengan teori saya sendiri, yaitu dalam jangka pendek harga emas bisa turun – tetapi kecenderungan jangka panjangnya akan lebih berpeluang naik ketimbang turun. Bukan karena emas semakin mahal sesungguhnya, melainkan karena daya beli uang kertas yang digunakan untuk membelinya yang akan terus menurun. http://www.dinarislam.com/financial-plan/trend-polynomial-harga-emas.html Trend Polynomial Harga Emas Posted on03 February 2010 Dalam beberapa tulisan saya sebelumnya saya sudah gunakan pendekatan rata-rata bergerak (Moving Average) untuk mengetahui trend harga emas jangka pendek maupun jangka panjang. Kali ini saya akan gunakan pendekatan trend lainnya yang disebut trend atau regresi Polynomial untuk memprediksi kearah mana harga emas “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 45 of 73
    • akan bergerak. Meskipun formulanya njlimet (y=b+c1x+c2x2+c3x3…), namun fungsi trend Polynomial ini sama dengan trend Moving Average yang termasuk disediakan di aplikasi standar Excel – jadi mudah bagi Anda untuk membuat analisa-nya sendiri. Caranya sederhana, dari kumpulan data yang Anda miliki – baik mengumpulkan sendiri atau mengambil dari data yang tersedia di internet seperti dari Kitco.com, tampilkan data tersebut di Excel kemudian buat grafiknya. Arahkan mouse pada garis grafiknya (pas pada garis yang naik turun) dan klik kanan – maka Anda akan melihat menu Add Trendline; setelah Anda klik akan muncul beberapa pilihan trend/regression type – untuk contoh ini pilihlah Polynomial. Setelah Anda klik OK, maka garis trend akan muncul otomatis di grafik Anda. Long Term Polynomial Trend Untuk contoh analisa trend Polynomial ini saya ambilkan dari harga emas harian 3 bulan terakhir sejak 1 November 2009 untuk memprediksi trend jangka pendek; dan rata-rata bulanan 10 tahun terakhir sejak Januari 2000 untuk memprediksi trend harga emas jangka panjang. Hasilnya Anda bisa lihat di 2 grafik yang saya sajikan di tulisan ini; grafik pertama untuk jangka pendek dan yang kedua untuk jangka panjang. Dari grafik pertama kita tahu bahwa dalam jangka pendek harga emas berkemungkinan lebih besar untuk turun, sedangkan sebaliknya dari grafik kedua kita bisa tahu bahwa dalam jangka panjang harga emas lebih berkemungkinan untuk naik. Tergantung tujuan dari investasi Anda apakah untuk keperluan jangka pendek atau jangka panjang, maka Anda dapat pilih grafik yang sesuai untuk tujuan tersebut. http://www.dinarislam.com/dinar-prospecting/harga-emas-dunia-bad-news-good-news.html Harga Emas Dunia: Bad News & Good News Posted on26 January 2010 Tulisan saya tanggal 25 Januari 2010 lalu memperkenalkan konsep Moving Average atau rata-rata bergerak untuk mengetahui posisi ‘jam 6’, pada ayunan bandul jam yang memvisualisasikan pergerakan harga emas sebagai hasil mekanisme pasar. Melengkapi tulisan tersebut, kali ini saya gunakan data yang lebih lama yaitu 11 tahun sejak Januari 2000 untuk harga emas dunia dalam US$/Oz. Data ini saya kumpulkan dari Kitco.com karena data yang saya kumpulkan sendiri baru mulai September 2007. Hasilnya saya sajikan dalam grafik di atas yang menunjukkan pergerakan harga bulanan dan rata-rata “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 46 of 73
    • bergerak tahunannya. Kita bisa melihat grafik tersebut dari 2 sisi, tergantung apakah kita lebih suka kabar baik, kabar buruk atau keduanya. Untuk lengkapnya saya sajikan saja keduanya sebagai berikut. Kabar buruknya adalah harga emas yang beberapa minggu terakhir cenderung turun; masih mungkin terus turun sampai posisi di sekitar ‘jam 6’ dari pergerakan harga emas atau bahkan melewatinya. Posisi ‘jam 6’ dari perhitungan rata-rata bergerak tahunan selama 11 tahun terakhir saat ini berada pada kisaran angka US$ 975/Oz. Karena per pagi ini harga emas dunia berada pada US$ 1098/Oz; maka bila gerakan turun harga emas dunia ini berlanjut, angka yang berpeluang untuk dicapai dalam waktu dekat adalah di kisaran US$ 975/Oz atau berpeluang turun sampai sekitar 11% dari posisi sekarang. Karena saya termasuk orang yang cenderung optimis, maka dari satu kabar buruk ini – ada 3 kabar baik yang saya juga ingin sampaikan. Kabar baik pertama adalah namanya bandul jam, tidak selamanya dia berayun ke 1 arah. Setelah melewati posisi terendah di ‘jam 6’ dia akan berbalik arah; ini fitrah gravitasi bumi yang juga fitrahnya mekanisme pasar. Kabar baik kedua, trend posisi ‘jam 6’ yang dihasilkan dari perhitungan rata-rata bergerak tahunan – ternyata bergerak naik dari waktu ke waktu – setidaknya ini yang terjadi 11 tahun terakhir. Pergerakan yang ini, bukan karena mekanisme pasar tetapi karena rusaknya daya beli uang kertas terhadap emas. Ringkasnya adalah dalam jangka pendek harga emas bergerak naik turun disebabkan oleh dorongan mekanisme pasar; tetapi dalam jangka panjang nampak dari statistik bahwa harga emas yang dinilai dengan mata uang kertas cenderung terus naik – bukan oleh mekanisme pasar lagi tetapi oleh penurunan nilai uang yang digunakan untuk membeli emas tersebut. Jadi kabar “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 47 of 73
    • baik ketiganya adalah, Anda yang ingin mengamankan masa depan biaya sekolah anak-anak; biaya kesehatan hari tua, biaya hidup masa pensiun, dlsb – Anda insya Allah akan menemukan waktu-waktu yang baik untuk membeli emas atau Dinar dalam hari- hari atau minggu-minggu ke depan – mumpung bandul jam bergerak ke posisi ‘jam 6’. http://www.dinarislam.com/dinar-prospecting/kemana-harga-emas-akan-didorong-oleh-pasar.html Kemana Harga Emas Akan Didorong Oleh Pasar? Posted on24 January 2010 Seperti bandul jam dinding yang berayun beraturan di sekitar posisi jam 6 karena gravitasi bumi– jam 6 adalah titik terendah dalam lingkaran jam; demikian pula mekanisme pasar membentuk harga. Untuk pasar emas saya pernah menjelaskan hal ini dalam tulisan saya pada pertengahan tahun lalu dengan judul “Kemana Harga Emas Akan Berayun“. Tulisan kali ini menyempurnakan tulisan sebelumnya tersebut dengan fokus pada upaya memahami dimana titik ‘jam 6’ tersebut pada pasar emas. Untuk ini saya gunakan harga emas rata-rata harian untuk 180 hari (6 bulan) dan rata-rata harian untuk 360 hari (1 tahun). Dalam istilah teknis disebut Daily Moving Average (DMA), jadi ada 2 DMA yang kita gunakan 180 DMA dan 360 DMA. Dasar pemikirannya adalah harga emas akan bergerak naik turun di sekitar angka rata-rata-nya. Bila terlalu tinggi akan tertarik ke bawah mendekati harga rata-rata oleh supply dari aksi jual masyarakat, dan sebaliknya bila terlalu rendah akan tertarik ke atas oleh kenaikan demand dari aksi beli masyarakat. Dari data harga emas di pasar Indonesia yang dikumpulkan oleh kami sejak pertengahan September 2007, kita bisa “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 48 of 73
    • sajikan pergerakan harga ini lengkap dengan grafik 180 DMA dan 360 DMA-nya seperti di atas. Lantas bagaimana kita membaca grafik tersebut? Pada posisi penutupan pekan lalu, harga jual emas di emas24.com maupun DinarIslam.com adalah berada pada angka Rp 339,196/gram; sedangkan angka DMA pada tanggal penutupan tersebut masing-masing berada pada Rp 332,091/gram (180DMA) dan Rp 330,068/gram (360DMA). Jadi seperti bandul jam saja, harga emas sekarang masih lebih tinggi dari DMA-nya atau masih mungkin berayun ke bawah ke arah Rp 332 ribu, Rp 330 ribu atau bahkan lebih rendah dari itu – sebelum akhirnya terayun balik ke atas. Bagi investor jangka panjang, ayunan ini tidak perlu menjadi pikiran karena DMA untuk jangka panjang (360 DMA) cenderung lurus ke atas. Artinya semakin panjang fokus investasi kita, semakin jelas arah hasilnya – yaitu positif ke atas. Sebaliknya untuk jangka pendek – 6 bulan atau kurang misalnya; arah gerakan harga ini masih naik turun seperti yang ditunjukkan oleh grafik 180 DMA tersebut. Itulah sebabnya saya tidak pernah menganjurkan Anda untuk berspekulasi dengan harga emas jangka pendek. http://www.dinarislam.com/dinar-prospecting/cara-awam-memahami-trend-harga-emas.html Cara Awam Memahami Trend Harga Emas Posted on07 April 2010. Dalam tulisan saya akhir pekan lalu telah saya ungkapkan berbagai pendekatan teoritis untuk menduga harga emas ke depan yang ternyata tidak ada satupun yang akurat. Bisa kita lihat hasilnya dari pendekatan teoritis yang satu dengan yang lain perbedaannya bisa sangat besar. Lantas apakah dengan demikian kita tidak bisa menduga ke depannya bakal seperti apa harga emas ini? Secara garis besar bisa, namun tidak akan akurat (nggak masalah, lha wong dugaan para ahli-pun ternyata tidak akurat juga). Dan bagi yang tidak menggunakan harga emas sebagai ajang spekulasi, “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 49 of 73
    • dugaan secara garis besar ini sudah memadai untuk Perencanaan Keuangan kita dalam jangka panjang. Salah satu pendekatan ‘awam’ tersebut saya sajikan dalam grafik di samping yang datanya saya ambil dari harga emas di pasar penutupan London. Saya ambil harga terendah dan tertinggi setiap bulan sejak Januari 2000. Logika awamnya begini; meskipun berbagai pihak berusaha mempengaruhi harga emas dunia – harga emas di pasar internasional masih merupakan cerminan mekanisme pasar yang efektif. Mekanisme pembentukan harga di pasar mengikuti hukum penawaran dan permintaan (supply and demand). Seperti ayunan bandul jam – yang ujung satu sejajar dengan ujung lainnya. Demikian pula ayunan harga emas di pasar. Bila kita ambil dari titik A (suatu titik terendah bulanan), kemudian kita tarik garis yang menuju titik terendah lainnya. Maka Ayunan titik-titik tertinggi berikutnya seharusnya sejajar dengan titik-titik terendah – perhatikan 2 garis biru sejajar yang dimulai dari titik A dan B. Demikian pula garis sejajar berikutnya berwarna merah antara titik-titik terendah dan tertinggi yang dilalui garis merah C dan D. Bila harga-harga emas lebih tinggi dari garis-garis sejajar titik tertinggi tersebut, maka harga emas sudah terlalu tinggi dan pasti akan terkoreksi balik – persis seperti bandul jam yang mengayun tinggi, pasti ketarik gravitasi bumi untuk kembali ke arah normalnya. Yang mendorong turunnya harga emas ketika melampui rentang harga yang seharusnya adalah mekanisme supply and demand tersebut di atas. Kita bisa lihat periode antara Desember 2007 – Maret 2008; saat itu harga emas melewati garis sejajar tertinggi-nya; yang kemudian terkoreksi sampai November 2008. Demikian pula ketika bulan Desember 2009 lalu, harga emas melaju melewati garis sejajar tertinggi – segera saja terkoreksi sampai kini. Pagi ini harga emas berada pada kisaran harga US$ 1,148/Oz ; masih berada pada angka yang wajar untuk saat ini; artinya bisa saja masih naik lagi atau juga turun – keduanya memungkinkan. Dugaan kasar semacam ini ada gunanya kah? Tidak akan bermanfaat kalau tujuan kita untuk spekulasi jangka pendek. Namun kalau kita perhatikan trend yang ditunjukkan oleh 2 garis sejajar biru dan merah tersebut; kita bisa lihat bahwa yang sedang terjadi adalah adanya higher highs dan higher lows selama 10 tahun terakhir – menunjukkan emas berada pada trend yang menaik. Karena trend jangka panjang semacam ini tidak mudah serta merta berbalik arah; maka besar kemungkinannya harga emas masih akan cenderung menaik beberapa tahun ke depan – meskipun kita tidak tahu persis sampai berapa nantinya. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 50 of 73
    • http://www.dinarislam.com/political-economy/gold-and-goldman.html Gold and Goldman Posted on18 April 2010 Marcus Goldman (1821-1904) adalah nama pendiri investment bank kesohor Goldman Sachs yang kini tengah meramaikan pasar dunia. Sejak didirikan pada tahun 1869, kinerja perusahaan tersebut terus meroket – hingga menjadi portfolio favorit investment guru di zaman modern ini seperti Warren Buffet, dlsb. Namun keperkasaan Goldman kini tengah diuji karena sepanjang akhir pekan lalu, Goldman Sachs dirundung gugatan yang awalnya hanya diajukan oleh US Securities and Exchange Commission (SEC) atas adanya dugaan penipuan yang dilakukan oleh salah satu raksasa financial dunia tersebut. Setelah gugatan awal di negerinya sendiri ini, Goldman Sachs nampaknya juga akan menghadapi gugatan sejenis di Eropa oleh pemerintah Jerman. Lantas apa hubungannya antara tuntutan ke Goldman Sachs ini dengan harga emas dunia yang turun drastis akhir pekan lalu? Bukankah biasanya kalau ada guncangan di bursa saham, harga emas justru naik karena orang mencari pelarian yang aman atas aset investasinya? Kali ini tidak, karena sebagian portfolio yang terkait dengan Goldman Sachs juga berupa Gold ETF (Exchange-Traded Fund); gejolak yang menimpa Goldman Sachs juga mendorong penjualan investasi berupa Gold ETF ini; Penjualan Gold ETF kemudian mendorong pelepasan cadangan emas yang dimiliki para pengelola Gold ETF tersebut. Pelepasan cadangan emas, mendorong bertambahnya supply emas di pasaran. Penambahan supply ketika demand relatif stabil tentu berdampak menurunkan harga. Jadi sepanjang pekan ini – tergantung perkembangan tuntutan SEC terhadap Goldman Sachs – maka harga emas dunia akan cenderung turun atau rendah. Ini menjadi kesempatan baik bagi yang ingin merencanakan menabung emas/Dinar untuk keperluan jangka panjang. Untuk yang ingin berspekulasi jangka pendek – saya tetap menyarankan “jangan“, karena prospek harga emas untuk jangka pendek terlalu sulit diprediksi bahkan oleh para ahli sekalipun. http://www.dinarislam.com/political-economy/efek-us-healthcare-reform-krisis-yunani-pada-masa- depan-harga-emas.html Efek US Healthcare Reform & Krisis Yunani Pada Masa Depan Harga Emas Posted on23 March 2010 Harga emas dunia bergerak tidak menentu dan menjadi semakin sulit diprediksi untuk sementara ini. Faktor-faktor penggerak harga-nya begitu banyak, sehingga gejolak jangka pendeknya menjadi significant. Faktor dalam negeri Amerika yang berpengaruh langsung pada harga emas dunia (US$/Oz) antara lain adalah kemenangan Presiden Obama untuk meng-goal-kan reformasi pelayanan kesehatan yang menjadi salah satu agenda utama ketika dia mencalonkan diri sebagai presiden negeri itu. Keberhasilan ini meningkatkan kepercayaan dunia usaha terhadap kepemimpinannya – dus memperkuat uangnya. Saat ini US$ Index berada di kisaran angka 81, yang merupakan salah satu puncak tertinggi selama 3 bulan terakhir. Dengan US$ yang lagi perkasa ini, maka harga emas dunia dalam US$ untuk sementara tentu cenderung tertekan. Namun ini bisa jadi hanyak efek sementara, pendapat yang menolak reformasi pelayanan kesehatan tersebut juga berpeluang yang sama untuk benarnya. Mereka yang menolak memiliki argumen yang kuat bahwa dengan adanya reformasi pelayanan kesehatan ini, anggaran belanja pemerintah bisa membengkak dari rata- “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 51 of 73
    • rata 20% terhadap GDP meningkat ke kisaran 30% dari GDP. Hal ini akan menimbulkan structural deficit yang semakin tidak bisa diatasi dan akhirnya bisa mengakibatkan fiscal meltdown. Amerika akan semakin sulit menjual hutang-hutangnya dan daya beli uang mereka akan hancur. Bila ini terjadi semua barang tidak terkecuali emas akan melambung harganya bila dibeli dengan US$. Di luar faktor dalam negeri Amerika (yang berpengaruh terhadap daya beli US$), ada puncak gunung es potensi krisis financial dunia yang bisa di trigger oleh problem di Yunani yang kini bagaikan buah simalakama di Eropa. Jerman yang merupakan salah satu negara terkuat di Uni Eropa sudah terang- terangan tidak akan mau melibatkan diri dalam bailout Yunani. Pada saat yang bersamaan European Central Bank President Jean-Claude Trichet dan French President Nicolas Sarkozy tidak merasa nyaman dengan ide George Papandreou – Perdana Menteri Yunani untuk mencari pertolongan ‘bail us out’ ke IMF. Rupanya Perancis merasa malu bila ada bangsa Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa – harus menjalani operasi penyelamatan ala IMF. Walhasil krisis Yunani akan semakin ruwet – dan yang paling jelas efeknya akan kemana-mana. Efek langsungnya adalah, entah sumbernya dari manapun – di sistem keuangan dunia akan ada pihak yang terpaksa perlu ‘mencetak uang’ dalam jumlah besar untuk aksi penyelamatan krisis ini. Aksi ‘pencetakan uang’ ini – apalagi dalam jumlah yang tidak terkendali bila situasi krisis meluas – pada akhirnya akan melambungkan harga-harga secara umum, termasuk tentu saja harga emas. Jadi konsisten dengan pikiran utama saya di situs ini, bahwa dalam jangka pendek bisa saja harga emas tertekan turun – tetapi untuk jangka menengah panjang, insya Allah lebih banyak faktor pendorong untuk naik ketimbang sebaliknya. http://www.dinarislam.com/political-economy/emas-ibarat-cermin.html Emas Ibarat Cermin Posted on19 May 2010 Sekitar 9 abad yang lalu Imam Al Ghazali (1058–1111) dengan kejernihan pemikirannya mengungkapkan bahwa sejatinya emas sebagai timbangan yang adil, dirinya sendiri ibarat cermin yang dengannya barang-barang dapat ditentukan nilainya dengan akurat. Sekarang saya akan gunakan cermin Imam Ghazali ini untuk melihat krisis yang sekarang sedang menghebohkan dunia. Kita lihat krisis tersebut dari kacamata harga emas yang mencerminkan daya beli uang negara-negara di dunia. Saya ambil case negara kita dibandingkan negara yang menjadi epicentrum krisis sekarang ini yaitu Yunani secara khusus dan European Union secara umum. Perhatikan grafik di samping, dalam mata uang Greek Drachmas (GRD) yaitu mata uang Yunani – harga emas setahun terakhir mengalami kenaikan 41%. Dalam Euro kenaikan ini bahkan mencapai 44%, sedangkan “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 52 of 73
    • dalam Rupiah hanya mengalami kenaikan 16%. Dari kacamata kenaikan harga emas ini kita bisa tahu bahwa krisis yang melanda Yunani setahun terakhir memang sangat parah, sehingga daya beli uangnya terhadap emas anjlog sekitar 30% (100%/141%). Karena emas ini cerminan harga barang-barang di sekitarnya – maka daya beli uang mereka terhadap barang-barang juga turun kurang lebih pada persentase yang sama. Bisa dibayangkan penderitaan rakyat negeri itu sebagai dampak dari penurunan daya beli uangnya ini. Namun ternyata Yunani tidak sendirian mengalami krisis ini, secara bersama-sama negara-negara yang tergabung dalam European Union – juga lagi tenggelam bersama. Ini bisa dilihat dari kenaikan harga emas dalam Euro bahkan lebih tinggi ketimbang dalam Drachmas – yaitu mencapai 44%, atau daya beli Euro mengalami penurunan sekitar 31%. Kita yang di Indonesia, juga tentu tidak terlepas dari wabah PIIGS ini; tetapi dalam Rupiah rata-rata harga emas setahun terakhir hanya naik sekitar 16% saja. Maka bersyukur memang sudah sepatutnya bahwa ekonomi kita lagi perkasa, namun untuk berbangga dengan kinerja kita – ini yang tidak boleh. Selain berbangga menimbulkan kesombongan yang dilarang agama, kenyataannya memang belum ada yang bisa kita banggakan. Mengapa demikian? Coba kita bercermin kembali dengan cerminnya Imam Ghazali tersebut di atas – sekarang kita lihat harga emas 10 tahun terakhir. Dalam 10 tahun terakhir, di Yunani yang menjadi epicentrum krisis saja-harga emasnya hanya naik sebesar 253% (dalam Drachmas); dalam Euro kenaikan ini hanya 249%; dalam Rupiah kenaikan ini mencapai 445%. Bila pada Januari 2000 kita bisa membeli emas 1 gram seharga Rp 66,000,- ; kini harga emas tersebut menjadi Rp 360,000/gram. Maka bercermin dengan cermin yang utuh kita perlu – agar kita tahu seperti apa kinerja kita sesungguhnya; dengan cermin itu pula kita bisa memperbaiki diri – agar dari waktu-kewaktu semakin indah wajah kita. Jangan pula sampai terjadi ‘Buruk Muka Cermin Dibelah’ seperti yang diungkapkan oleh Ferdinand Lips dalam “Gold Wars” ; bahwa bank sentral dari negara-negara di dunia memerangi emas karena ingin membelah cermin ini; mereka tidak mau wajahnya terlihat buruk di depan cermin yang adil. http://www.dinarislam.com/political-economy/mungkinkah-harga-emas-akan-turun-terus-seperti- tahun-1980-an.html Mungkinkah Harga Emas Akan Turun Terus Seperti Tahun 1980-an? Posted on08 March 2010 “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 53 of 73
    • Saya pernah menulis tentang Misery Index atau Index Kesengsaraan suatu negara yang diukur dengan 4 komponen yaitu Inflasi, Pengangguran, Interest Rate dan GDP. Kali ini saya ingin meng-elaborate salah satu dari unsur yang menyengsarakan rakyat tersebut yaitu inflasi. Banyak cara untuk mengukur inflasi, namun di negara maju sekalipun data inflasi dari pemerintah sering diragukan oleh rakyatnya. Di Amerika misalnya yang menganggap dirinya paling transparan, data inflasinya dibantah oleh seorang kakek-kakek John Williams dari Shadow Government Statistics. Ada data inflasi yang sebenarnya tidak bisa berbohong yaitu harga barang yang satu dibandingkan dengan barang yang lain yang bersifat baku. Yang selalu kita contohkan di sini adalah harga emas, 1 Dinar terbukti stabil cukup untuk membeli seekor kambing selama lebih dari 1400 tahun. Jadi harga emas ini bisa untuk mendeteksi apakah suatu negara mampu mengendalikan inflasi atau tidak, bila negara tidak bisa mengendalikan inflasi – maka negara tersebut tidak akan bisa memakmurkan rakyatnya – lihat di tulisan saya mengenai Misery Index tersebut untuk detilnya. Contoh konkrit dari korelasi antara harga emas dengan inflasi yang juga merupakan indikator kemakmuran ini dapat dilihat dari sejarah harga emas di Amerika 100 tahun terakhir seperti dalam grafik di bawah. Sampai tahun 1971 ketika harga emas dipatok pada nilai US$ 35/Oz (US$ 21/Oz sampai 1930) – rakyat seharusnya cukup makmur karena daya beli uang mereka tetap. Namun perhatikan setelah tahun 1971 ketika negeri itu tidak lagi mengkaitkan pencetakan uangnya dengan emas; inflasi langsung melonjak dan puncaknya tahun 1980 ketika negeri itu berada dalam keterpurukan yang serius yang ditandai dengan inflasi yang mencapai angka 13.2%. Yang menarik adalah negeri itu pernah berhasil mengendalikan inflasi ini dengan sangat baik yaitu ketika presidennya Ronald Reagan. 3 tahun di awal pemerintahannya dia berhasil menurunkan tingkat inflasinya menjadi tinggal 3.2% saja. Anda bisa perhatikan dari grafik di atas bahwa puncak inflasi bersamaan dengan puncak harga emas tertinggi tahun 80-an yaitu US$ 615/Oz; kemudian awal penurunan harga emas dimulai dari keberhasilan Reagan mengendalikan inflasi ini. Di awali dengan kemampuan pemerintah AS mengendalikan inflasi ini, harga emas terus turun dan mencapai titik terendahnya tahun 2001 ketika harga emas tinggal hanya US$ 278/Oz saja. Pertanyaannya adalah, kalau harga emas dalam US$ pernah begitu lama mengalami penurunan (bearish) – mungkinkah ini akan terjadi kembali ke depan diawali dengan era Obama sekarang? Saya berpendapat hal ini kecil sekali kemungkinannya terjadi, karena Obama dan pemerintahan dunia saat ini tidak melakukan 4 hal esensial yang dilakukan oleh Reagan yaitu: “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 54 of 73
    • 1) Di awal pemerintahannya Reagan mencanangkan pemotongan pajak untuk merangsang investasi, tumbuhnya enterpreneurship dan membangkitkan etos kerja. Kita tahu kemudian dalam sejarah bahwa raksasa-raksasa industri teknologi tumbuh pesat saat itu dan mereka tetap ada sampai sekarang. 2) Langkah kedua adalah menghilangkan unnecessary cost on the economy. (Kita perlu belajar banyak dari langkah kedua ini bila kita ingin bangun dari keterpurukan kita saat ini yang dalam skala dunia berada di urutan 122 dari 183 negara dalam hal kemudahan berusaha.) 3) Mengendalikan anggaran belanja pemerintah. (Lagi –lagi di bidang ini kita juga perlu belajar; ketika kita lagi terpuruk ya jangan membeli mobil baru yang mahal untuk para pejabat, jangan memekarkan daerah karena akan menambah beban negara, jangan memperbanyak Pilkada, Pileg , Pilpres, dlsb. yang semuanya berdampak pada beban biaya yang harus ditanggung rakyat.) 4) Yang ke-4 Reagan mencanangkan anti-inflation monetary policy yang kemudian terbukti ampuh menurunkan tingkat inflasi tinggal ¼-nya saja hanya dalam waktu 3 tahun. 4 hal tersebut di atas tidak dilakukan oleh pemerintahan Obama sekarang dan negara- negara lain yang senangnya meniru apa yang mereka lakukan, kini mereka mendapatkan guru yang ‘…’ berdiri, maka muridpun ‘…’ berlari. Harga emas yang menjulang selama dasawarsa terakhir belum ada tanda-tanda berakhir, karena ini juga cerminan inflasi yang sesungguhnya dari uang kertas maka rakyat di seluruh dunia harus mulai berikhtiar sekuat tenaga untuk bisa memakmurkan diri dan keluarganya karena policy pemerintahnya masing-masing nampaknya tidak atau belum akan membawa kemakmuran bagi mereka dalam waktu dekat. Wa Allahu A’lam dan saya bisa saja keliru. http://www.vibiznews.com/news/business/2010/05/17/negara-dan-institusi-dunia-pemegang-aset- emas-terbesar-di-dunia Negara dan Institusi Dunia Pemegang Aset Emas Terbesar di Dunia Senin, 17 Mei 2010 16:00 WIB (Vibiznews – Business) – Harga emas telah beberapa kali mencetak rekor tertingginya selama satu minggu terakhir ini (17/05). Harga emas terakhir mencetak rekor tertingginya pada perdagangan Jumat malam lalu mencapai posisi 1249 dolar per troy ons. Maraknya perburuan emas tidak lepas dari minat para investor terhadap aset safe haven. Di saat ekonomi global masih dipenuhi ketidakpastian, emas merupakan investasi terbaik. Dalam edisi business news kali ini akan diulas mengenai institusi- institusi dunia yang menjadi pemegang aset emas terbesar di dunia. Diperkirakan bahwa bank-bank sentral, institusi bertaraf global, dan pemerintah negara-negara menjadi pemegang dari 20.5% cadangan emas dunia atau mencapai 29,787 ton emas. Amerika Serikat Menjadi Negara Pemegang Emas Terbesar di Dunia Amerika Serikat merupakan pemegang emas terbesar di dunia. Penyimpanan Emas AS di Kentucky, lebih dikenal dengan Fort Knox, merupakan lembaga penyimpanan emas paling ternama di dunia. Fort Knox merupakan lembaga yang menyimpan cadangan emas terbesar di AS. Cadangan emas AS yang lain sebagian disimpan di Philadelphia Mint, Denver Mint, Lembaga Penyimpanan Emas West Point, dan San Francisco Assay Office. Jumlah emas total yang dimiliki oleh Amerika Serikat tercatat mencapai 8965.65 ton dengan nilai moneter sebesar 358.63 miliar dolar AS. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 55 of 73
    • Jerman Negara dengan ekonomi terbesar di Eropa, Jerman, menjadi negara dengan cadangan emas terbesar kedua di dunia. Negara ini juga merupakan negara yang cadangan devisanya sebagian besar berbentuk emas. Dilaporkan bahwa emas mencakup 66.1% dari cadangan devisa Jerman. Negara yang saat ini tergabung dalam Uni Eropa ini dikabarkan memiliki cadangan emas sebanyak 3754.29 ton dengan nilai moneter mencapai angka 150.17 miliar dolar AS. IMF Pemegang koleksi logam mulia terbesar ketiga di dunia adalah lembaga kreditur dunia, IMF. International Monetary Fund memiliki cadangan dana dalam bentuk emas sebesar 3311.84 ton dengan nilai moneter mencapai angka 132.4 miliar dolar AS. Lembaga ini beroperasi di 185 negara dunia yang merupakan anggotanya. Kebijakan IMF mengenai cadangan emas telah mengalami berbagai perubahan dalam 25 tahun belakangan, akan tetapi cadangan emas dipertahankan dalam porsi besar untuk menjaga stabilitas pasar internasional dan membantu ekonomi di berbagai negara yang membutuhkan bantuan. Pada bulan Desemebr tahun 1999 lalu IMF pernah menjual sebagian besar cadangan emasnya untuk memberikan dana bantuan HIPC (Heavily Indebted Poor Countries). Italia Negara Italia menjadi pemegang cadangan emas terbesar keempat di dunia. The Banca D’Italia yang berwenang mengatur cadangan devisa Italia, dilaporkan memiliki cadangan emas sebesar 2701.9 ton. Nilai moneter dari cadangan emas yang dimiliki pemerintah Negeri Pasta ini mencapai angka fantastis 108.08 miliar dolar. Dalam cadangan devisanya emas memperoleh porsi sebesar 64.9%. Perancis Negara Perancis menjadi pemegang cadangan emas terbesar kelima di dunia. Banque De France, bank sentral Perancis yang berwenang mengatur cadangan devisa negara ini, dilaporkan memiliki cadangan emas sebesar 2683.81 ton. Nilai moneter dari cadangan emas yang dimiliki pemerintah Negeri Mode ini mencapai angka fantastis 107.35 miliar dolar. Dalam cadangan devisanya emas memperoleh porsi sebesar 65.7%. (Ika Akbarwati/IA/vbn) http://www.detikfinance.com/read/2010/02/15/182018/1300072/4/china-berpeluang-miliki- cadangan-emas-terbesar-di-dunia Senin, 15/02/2010 18:20 WIB China Berpeluang Miliki Cadangan Emas Terbesar di Dunia Indro Bagus SU - detikFinance Jakarta - China diprediksi menjadi negara dengan posisi cadangan emas terbesar di dunia. Saat ini posisi cadangan emas China sebanyak 1.159,4 ton. "Dalam waktu beberapa tahun ke depan, China bisa menjadi negara dengan cadangan emas terbesar di dunia," ujar VP Research & Analyst PT Valbury Asia Futures, Nico Omer Jonchere di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (15/2/2010). Menurut Nico, saat ini China berada di posisi ke 6 dengan cadangan emas sebanyak 1.159,4 ton. Indonesia berada di posisi 37 dengan cadangan emas sebanyak 73,1 ton. Swiss berada di posisi 7 dengan cadangan emas sebanyak 1.144,1 ton. Perancis di posisi 5 sebanyak 2.445,1 ton. Italia di posisi ke 4 sebanyak 2.451,8 ton. International Monetary Fund (IMF) berada di posisi ke 3 dengan cadangan emas sebanyak 3.217,3 “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 56 of 73
    • ton. IMF baru saja menjual cadangan emasnya sebanyak 403 ton ke India, Mauritius dan Srilanka. Sebelumnya, IMF berada di posisi ke 2. Posisi ke 2 diduduki oleh Jerman dengan cadangan emas sebanyak 3.408,3 ton. Sedangkan di posisi pertama adalah Amerika Serikat dengan cadangan emas sebanyak 8.133,5 ton. "Posisi AS ini dipertanyakan banyak orang. Banyak yang mengatakan kalau emas AS sudah hampir habis karena banyak diperdagangkan dengan mekanisme pinjam meminjam dengan pihak lain," ujar Nico. Menurut Nico, jika China menggunakan seluruh cadangan devisanya yang mencapai US$ 2,2 triliun itu untuk membeli emas, jumlah cadangan emas China bisa langsung bertambah 6.000 ton. "Tapi mereka tidak melakukan itu. China juga sebelumnya tidak masuk 10 besar. Mereka masuk dengan cara melakukan pembelian emas dari tambang-tambang mereka sendiri," ujarnya. Nico mengatakan, China saat ini menjadi negara dengan produksi emas terbesar di dunia. Namun emas yang diproduksi negara tersebut kebanyakan dibeli oleh bank sentral untuk meningkatkan cadangan emas mereka. "Dengan cara ini, pembelian emas oleh bank sentral China tidak mempengaruhi harga pasar. Dan ini mereka lakukan terus. Proyeksi mengatakan dalam beberapa tahun ke depan cadangan emas China bisa menjadi yang terbesar di dunia," jelas Nico. Selain itu, Nico mengatakan dunia sedang dalam peralihan menuju perburuan emas. Dan menurutya, China pun kini melakukan perubahan budaya masyarakat dalam perburuan emas. "Pemerintah China sekarang menganjurkann rakyatnya menabung dan membeli produk-produk emas. Mereka sadar bahwa ke depan, emas menjadi salah satu komoditas penting yang menjaga perekonomian. Jadi siapa yang pegang emas akan lebih aman di masa depan," ujarnya. http://umum.kompasiana.com/2009/06/11/gawat-cadangan-emas-indonesia-cuman-43-saja/ Gawat! Cadangan Emas Indonesia Cuman 4.3% saja! OPINI, Drusle, 11 Juni 2009, 16:36 Dollar menumpuk, Emas menipis Capres Mega dan JK tentu bisa menjadikan fakta ini sebagai pembenaran atas klaim mengurat-akarnya paham neoliberalisme di Indonesia. Bayangkan, cadangan emas - yang merupakan aktiva sejati dalam neraca kekayaan kita cuman 73 ton atau sejumlah 4.3% dari total valuta asing yang kita miliki sebagaimana dirilis Wikipedia. Artinya adalah bahwa pemerintah Indonesia kita lebih suka menumpuk valuta asing - terutama US Dollar sebesar 95.7% sebagai simpanan dibandingkan emas yang sesungguhnya lebih stabil meski tanpa di-hedging. Mengingat tingkat keamanan mata uang Dollar saat ini yang cenderung labil oleh ancaman krisis global, maka strategi ekonomi seperti ini sungguh sangat riskan. Perilaku riskan seperti ini juga dipraktekkan oleh negara-negara Asia lainnya. China yang dianggap punya cadangan devisa hingga US$ 2 Trilyun pun ternyata hanya punya cadangan emas 0.9% dari valuta nya atau senilai 1,054 Ton. Anehnya, negara-negara kapitalis yang dinilai mempraktekkan liberalisme pasar malah lebih mempercayakan simpanannya dalam bentuk emas. Amerika Serikat, induk ekonomi berbasis Dollar, malah berada di peringkat hampir teratas dalam cadangan emas 8,000 ton, kalau dibandingkan dengan valuta asingnya lumayan tinggi sebesar 78.9%. Amerika hanya kalah oleh Bank Central Eropa yang punya simpanan emas 11,000 ton atau 76.5% dari valuta asingnya. Negara Eropa lainnya juga punya cadangan emas berlimpah. Cadangan Emas Amerika dari Timika? “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 57 of 73
    • Darimana cadangan emas Amerika Serikat itu? Tidak usah berpaling terlalu jauh, di Timika Papua, tambang emas Erstberg (sejak 1967) dan Grasberg (sejak 1988) yang konsesinya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc asal Amerika Serikat, berhasil menambang emas dari tanah Papua sebanyak minimal 300 ton setiap tahunnya atau senilai US$ 1.8 Milyar. Indonesia cuman kebagian 9.36% percikan saja. Jadi bisa ditebak darimana sebagian besar cadangan emas Amerika Serikat itu berasal. Kira-kira apa yang terjadi sekiranya tiba-tiba nilai US Dollar ambruk ke titik terendah? Maka yang akan selamat hanya yang punya cadangan emas besar, mengingat emas adalah aktiva yang paling acceptable untuk ditukarkan dengan komoditas apapun. Jadilah bangsa mandiri Bagaimana keadaan Indonesia kalau nilai US Dollar tiba-tiba terpuruk? Wallahu’ alam. Dengan cadangan emas cuma 4,3% saja, maka sulit rasanya leluasa bergerak. Kecuali mungkin membangun kemandirian dengan mengurangi ketergantungan atas valuta Dollar. Gold’s share Gold of total Rank Country/Organization (tonnes) forex reserves (%)[ 1 Eurozone 11,065.0 76.5% 2 United States 8,133.5 78.9% 3 Germany 3,412.6 71.5% 4 International Monetary Fund 3,217.3 - 5 France 2,487.1 72.6% 6 Italy 2,451.8 66.5% SPDR Gold Trust (a Gold - 1,104[8] - exchange-traded fund) 7 People’s Republic of China 1,054.0[9] 0.9% 8 Switzerland 1,040.1 41.1% 9 Japan 765.2 2.2% 10 Netherlands 612.5 61.7% 11 European Central Bank 536.9 23.7% 12 Russia 523.7 4.0% 13 Republic of China (Taiwan) 423.6 4.2% 14 Portugal 382.5 90.2% 15 Venezuela 363.9 35.5% 16 India 357.7 4.2% 17 United Kingdom 310.3 18.7% 18 Lebanon 286.8 30.0% 19 Spain 281.6 40.5% 20 Austria 280.0 50.5% 21 Belgium 227.5 42.5% 22 Algeria 173.6 3.6% 23 Philippines 153.9 12.3% 24 Libya 143.8 4.5% 25 Saudi Arabia 143.0 12.4% 26 Sweden 135.9 14.2% “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 58 of 73
    • 27 Singapore 127.4 2.2% 28 Bank for International Settlements 125.0 - 29 South Africa 124.7 11.0% 30 Turkey 116.1 4.7% 31 Greece 112.5 92.8% 32 Romania 103.7 8.4% 33 Poland 102.9 5.0% 34 Thailand 84.0 2.2% 35 Australia 79.8 7.3% 36 Kuwait 79.0 11.9% 37 Egypt 75.6 6.4% 38 Indonesia 73.1 4.3% http://us.detikfinance.com/read/2010/05/15/170612/1357641/4/utang-ri-pada-3-kreditur-besar- capai-us--4857-miliar Sabtu, 15/05/2010 17:06 WIB Utang RI Pada 3 Kreditur Besar Capai US$ 48,57 Miliar Wahyu Daniel - detikFinance Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia sampai saat ini mencapai US$ 64,37 miliar. Dari jumlah itu ada 3 kreditur besar utama, utang Indonesia kepada 3 kreditur ini mencapai US$ 48,57 miliar atau 75,5%. Berdasarkan data yang dikutip dari Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Sabtu (15/5/2010), 3 kreditur yang terbesar memberikan utang ke Indonesia adalah Jepang, Bank Pembangunan Asia (ADB/Asian Development Bank), dan Bank Dunia. Data terakhir per 31 Maret 2010, utang Indonesia ke Jepang mencapai US$ 27,36 miliar atau memiliki porsi 42,5% dari total keseluruhan utang luar negeri pemerintah Indonesia. Lalu utang Indonesia ke ADB mencapai US$ 11,24 miliar atau 17,5%, dan ke Bank Dunia mencapai US$ 9,97 miliar atau 15,5%. Total utang luar negeri pemerintah Indonesia per 31 Maret 2010 mengalami penurunan yang tipis dibandingkan dengan posisi akhir 2009 yang sebesar US$ 65,02 miliar. Seperti diketahui, jumlah utang pemerintah sampai akhir Maret 2010 naik US$ 1,35 miliar menjadi US$ 174,89 miliar. Dari jumlah di akhir Februari 2010 yang sebesar US$ 173,54 miliar. Namun jika dikonversi ke rupiah, jumlah utang pemerintah sampai akhir Maret 2010 mencapai Rp 1.594,15 triliun. Turun dibandingkan dengan jumlah di akhir Februari 2010 yang sebesar Rp 1.619,96 triliun. Karena penguatan nilai tukar. Utang pemerintah di bulan Maret 2010 tersebut terdiri dari pinjaman luar negeri US$ 64,37 miliar dan surat berharga US$ 110,52 miliar. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/04/19/16501581/Utang.Indonesia..Senayan.Pun.Gak.Nampun g Utang Indonesia, Senayan Pun Gak Nampung Senin, 19 April 2010 | 16:50 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Total utang pemerintah pusat pada Februari 2010 mencapai Rp 1.619 triliun dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 27 persen. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 59 of 73
    • Saking banyaknya, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang kementrian Keuangan Rahmat Waluyanto tidak bisa memerkirakan banyaknya uang dari total utang tersebut. "Outstanding utang Rp 1.619 triliun. Banyak ya, mungkin kalau (uangnya) ditumpuk, berapa gedung itu. Gelora Senayan juga nggak akan cukup menampung," kata Rahmat sambil tertawa, di sela-sela jumpa pers, di Kantornya, Jakarta, Senin ( 19/4/2010 ). Utang ini terdiri dari pinjaman luar negeri dan Surat Berharga Negara (SBN). Angka tersebut, merupakan penghitungan sementara dengan menggunakan PDB asumsi APBN 2010 . Dia mengakui, nominal utang terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya defisit anggaran dari waktu ke waktu. Faktor lain, disebabkan oleh utang lama yang telah jatuh tempo. Tambahan nominal utang pemerintah didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN) yang terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) dan sukuk yang diterbitkan oleh pemerintah dalaj denominasi valas dan rupiah. Adapun untuk pinjaman luar negeri justru semakin berkurang setiap tahunnya. "Porsi SBN valas meningkat karena daya serap pasar domestik masih terbatas. SBN valas ini digunakan untuk benchmarking dan memperkuat cadangan devisa," jelas Rahmat. Menurut Rahmat, dalam menerbitkan SBN diprioritaskan karena membantu pengembangan pasar keuangan, seperti sukuk. Kemudian, untuk memperkuat basis investor domestik seperti Obligasi Ritel Indinesia (ORI) dan Suku Ritel Indonesia (Sukri), mendukung kebijakan moneter Bank Indonesia, serta mengurangi ketergantungan pada pinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri sendiri dibatasi untuk pinjaman lunak guna pembangunan infrastruktur dan energi, perubahan iklim dan pembangunan lainnya. Selain itu, juga untuk pembiayaan alutsista TNI dan alut POLRI berupa barang yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. http://politik.kompasiana.com/2010/04/26/beban-ekonomi-dan-kebijakan-penguasa-catatan-renungan/ Beban Ekonomi Dan Kebijakan Penguasa, Catatan Renungan OPINI, Bang Kemal, 26 April 2010 Sumber penghasilan negara, yang umum kita ketahui, penulis kategorikan dua, berdasarkan kecenderungan fluktuasinya. Statis, cenderung fix, dan dinamis, bisa meningkat ataupun menurun lebih dinamis. Contoh dinamis, hasil dari perusahaan negara, pajak dan royalti, dan utang negara. Statis sebaliknya, seperti pampasan perang, denda denda, hibah, dan lain lain yang tidak rutin diterima, kondisional dan tidak dinamis. Penerimaan dinamis lain, adalah pencetakan uang (deficit spending). Ini tentu bukan pilihan terbaik. Tapi saya fokus saja pada penghasilan utama yang berkategori sangat dinamis. Terdiri dari pajak, hasil pengelolaan kekayaan dan pelayanan negara (kekayaan atau modalnya dari pemerintah), dan utang. Dulu (rezim Soeharto), penerimaan migas jadi idola. Terakhir, berhasil meningkat penerimaan nonmigas. Sayang, lepas landasnya, terjun bebas dalam lumpur utang. Yang jelas, penerimaan negara karena migas dan nonmigas adalah bagian dari pengelolaan kekayaan negara. Tapi sekarang apa yang diandalkan? Pajak, bea cukai, dan sejenisnya adalah hasil pindahnya kekayaan swata ke pemerintah, yang wajib atau bisa dipaksa oleh UU, Keputusan Menteri, atau aturan pemerintah pusat dan daerah, lainnya. Penerimaan pajak, bea cukai, royalti mulai ditingkatkan. Dan jenisnya diperluas, sampai sekarang. Jika jenis penerimaan negara itu, meningkat tinggi, dan hasilnya tidak dirasakan masyarakat (pembangunan “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 60 of 73
    • berjalan ditempat), maka tak ada bedanya negara dengan calo atau penjajah bagi rakyatnya sendiri. Bayangkan, hal hal terkait kalau bangun rumah atau mau usaha dan kerja. Beli tanah, ijin bangunan, materi bangunan, atau mau kredit rumah. Ijin usaha, buat pabrik, pajak gaji karyawan, dan lain lain yang berhubungan. Prosentasinya kecil, tapi banyak, dan jumah nominalnya tidak kecil. Maka saya kurang setuju, retorika pemerintah, bahwa penerimaan pajak adalah andalan utama penghasilan negara. Dengung lain, peningkatan pajak harus meningkat dengan prinsip keadilan. Jadi pajak harus direformasi. Pajak kita masih rendah dibandingkan dengan negara lain. Retorika ini gampang dicerna. Prinsip keadilan dan reformasinya bisa dimengerti. Tapi mengandalkan pajak? Makin kurang beban yang wajib dan bisa dipaksakan dengan UU dan peraturan lainnya, oleh pemerintah yang mengatas namakan negara, makin leluasa rakyat berusaha. Pajak tidak memberatkan. Prinsipnya sama, negara dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Bukan sebaliknya. Rakyat dari negara, oleh negara dan untuk negara. Beban total utang kita saat ini, dibagi perkepala rakyat Indonesia (1.619T / 230 juta), tak lebih tak kurang 7 juta. Faktanya, pengembalian utang ini diandalkan dari pajak yang nilainya makin meningkat. Ini bukan bukti hubungan negara rakyat yang terbalik di atas? Penghasilan negara untuk memenuhi APBN, masih mengandalkan utang. Pengeluaran anggaran membesar, juga untuk membayar utang. Sekarang utang bertambah, APBN defisit. Jika gali lubang tutup lubang jadi prinsip, jangankan utang tak terbayar sampai ke anak cucu. Sampai ke anaknya cucu pun belum selesai. Karena apa? Karena tetap mengandalkan utang. Bukan sektor lain. Utang, dari pandangan beberapa ekonom, tetap bermanfaat untuk pembangunan. Asalkan pengalokasiannya tepat dan utang tidak semakin bertambah. Penerimaan negara dari hasil pengelolaan kekayaan negara, salah satu yang pernah diandalkan, adalah penjualan saham pemerintah. Diprivatisasi, di launching sahamnya di Bursa Efek. Atau ditender langsung kepada investor dalam negeri dan asing. Yang dijual, aset kekayaan negara. Apakah tidak ada prioritas kebijakan lain, selain mengambil cara cara termudah dalam kondisi terdesak? Apakah cara penyelesaian ekonomi makro bisa diandalkan tuntas? Kalau niat ada, maka ada usaha keras. Termasuk meminta penjadwalan utang. Pengambilan keputusan karena senang dengan jalan pintas (nambah utang dan jual aset), atau karena keadaan terpaksa (pengeluaran APBN; gaji pegawai, utang jatuh tempo, dll), maka kreativitas pengambil kebijakan perlu dipertanyakan. Mari sejenak lihat indikator kebehasilan pembangunan negara tetangga. Kutipan dari Inilah.com, Politik 25/12/2007 - 01:02, Harapan Menuju Welfare State, penulis Ahluwalia. Pada pertengahan 1960-an, GNP Indonesia, Malaysia, Thailand, Taipei nyaris sama, yaitu kurang dari US$ 100 per kapita. Di masa itu, China bahkan jauh lebih rendah, US$ 50 per kapita. Tapi, pada 2005, ketika GNP per kapita Indonesia hanya US$ 1.260, Malaysia membukukan empat kali lipat lebih tinggi, Korea Selatan 13 kali lipat, Thailand dua kali lipat, Taipei 12 kali lipat, dan China 14 kali lipat. Keterangan dalam gambarnya (pic) tertulis, Indonesia masih punya banyak potensi untuk menjadi negara sejahtera. Dibutuhkan kebersamaan, kerja keras, dan komitmen kuat untuk mewujudkannya.(iPhA/Subekti). Catatan tambahan data Bang Dunia 1 Juli 2009, Malaysia nilai GNP nya dibandingkan dengan Indonesia, 3,5 kali lipat. Padahal PDB Indonesia tinggi, kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kesejahteraan rakyatnya? Untuk membuat rakyat maju dan mandiri, pemerintah membentuk komite atau lembaga (thingtank dan sosialisasi) inovasi usaha rakyat. Saya tambahkan usul sebaliknya (yah usul boleh toh). Berkacalah pada diri sendiri. Jadwalkan lagi kerja Wapres dan para “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 61 of 73
    • Menteri terkait, untuk, segera melakukan studi dan uji kelayakan, semua ide kreatif dan inovatif, yang mampu meningkatkan nilai tambah dari potensi pengelolaan kekayaan/ aset negara (termasuk perusahaan perusahaan negara) yang tersisa sekarang. Perluasan pengelolaan kekayaan negara (penambahan usaha atau perusahaan sektor stategis), termasuk dari sumber kekayaan alam, bidang pelayanan masyarakat, yang memberi manfaat dan nilai tambah tinggi. Nilai tambah inilah cara terbaik mengurangi utang dan anggaran defisit. Jangan dipisahkan lagi tujuannya. Nilai tambah ini harus melebihi beban bunga utang. Sisanya untuk cicilan. Pemerintah harusnya berani melakukan negosiasi, mereposisi kembali (sebagai pengutang), baru selanjutnya, minta penjadwalan ulang utang luar negeri. Tak ada istilah terlambat. Utang dari SBN, penjualannya fokuskan saja ke jenis jatuh tempo lama. Dengan beban utang besar dan terus meningkat, maka peran pemerintah yang diharapkan ideal dalam negara civil society, hanya sebagai fasilisator, belum saatnya jadi pembenaran tak perlu mengurangi utang. Fasilitator cocok untuk negara kesejahteraan (welfare state). Negara yang sejahtera karena mampu mengurangi utang, gilirannya mampu membangun rakyat jadi sejahtera dan mandiri. Seperti cerita dulu, andalan penerimaan negara adalah dari sektor migas atau nonmigas “sektor lain” selain utang dan pajak negara. Ide yang kreatif pernah muncul dari Prabowo Subianto (mengacu ke ide, bukan pribadi) waktu kampanye dulu. Jadwalkan utang. Tanam kelapa sawit. Buat industri sumber energi pengganti dari tumbuh tumbuhan (bukan bahan makanan). Seperti jarak pagar untuk diesel dan singkong genderuwo untuk bio-ethanol, penganti minyak tanah. Lahan kosong jadi bermanfaat, tenaga kerja bertambah. Hasilnya bisa diekspor dan utang dibayar lebih cepat. Asumsi tanpa kebocoran dana harus tegas dijaga. Kalau tenaganya kurang, aktivis kejahatan keuangan, aktivis kejahatan pajak, yang dipenjara dan dihidupkan oleh negara, tidak mampu mengembalikan semua uang rakyat, kekayaan negara yang dikorup, dirantai dan dikaryakan saja dibidang ini, sebagai ganti rugi materiil. Dengan praktek manusiawi tentunya. Ada ekonom mengatakan, ini wilayah sektor riil. Sehingga menyayangkan tumpukan dana di bank yang digunakan untuk produk bursa efek (termasuk SBN). Bukan untuk sektor padat karya (sektor riil). Bayangkan akibat dari produk beresiko bursa efek ini, jika negara jatuh lagi dalam krisis kepercayaan. Sementara jaminan utang SBN (dengan persetujuan DPR) adalah aset negara. Tulisan di atas saya konstruksikan gamblang (awam), campur uneg uneg, untuk wacana umum tentang beban ekonomi dan kebijakan penguasa (politik). Saya malah mohon dikoreksi (karena bukan ahli). Sektor riil, produktivitas pengelolaan aset dan kekayaan negara, jarang saya dengar sebagai andalan untuk menutup utang. Mengandalkan utang dan pajak adalah jalan tak kreatif. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 62 of 73
    • http://www.hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/gaya-hidup-muslim/11827-utang-bikin-hidup-tidak-tenang Utang, Bikin Hidup Tidak Tenang Monday, 24 May 2010 15:23 Islam tidak mengharamkan utang-piutang. Tapi Islam melarang menjadikan utang sebagai budaya Hidayatullah.com—Suatu hari ada tamu asal Jawa Tengah. Di tengah-tengah obrolan, sang tamu memberikan sebuah tips agar mudah mendapat pinjaman uang untuk modal usaha. “Jadi caranya begini, kamu harus mencari kepercayaan orang terdahulu. Mula- mula, kamu coba pinjam uang, dan simpan uang tersebut hingga tiba waktu untuk mengembalikannya. Setelah itu, serahkanlah uang tersebut pada si empunya. Lakukanlah hal demikian hingga beberapa kali. Dengan trik tersebut, kamu telah membangun stigma baik dirimu terhadapnya,” ujar si tamu. “Hasilnya, ketika suatu hari kamu benar-benar butuh uang untuk modal usaha, maka dengan lapang dada ia akan meminjamimu modal, tanpa banyak tanya. Dan itu terjadi, karena kamu telah mampu membangun kepercayaan kepadanya.” Bila kita perhatikan, realitas gaya hidup masyarakat saat ini, tidak sedikit dari mereka yang menjadikan utang bagian dari hidup mereka. Parahnya lagi, para pemodal sepertinya memanfaatkan situasi ini. Sekedar untuk memberikan contoh kecil, coba kita perhatikan brosur-brosur, iklan-iklan di media massa yang memasarkan produknya dengan sistem kredit. Cukup membayar uang yang tidak terlalu besar, mereka bisa membawa barang yang diinginkan, sepeda motor, misalnya. Kemudian, untuk pembayaran selanjutnya, akan dicicil setiap bulan dengan besar dana yang telah ditentukan. Gayung bersambut, tidak sedikit dari masyarakat kita yang tertarik dengan tawaran ini. Maka, jadilah mereka memiliki utang yang dibalut dengan nama kredit. Pada dasarnya utang-piutang bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Namun, bukan berarti umat Islam diperkenankan untuk membudayakannya hal ini dalam konsep kehidupan mereka. Rasulullah sendiri, seringkali berlindung dalam do’anya agar supaya dihindarkan dari utang. Ini menunjukkan, kalau beliau sejatinya tidak berkenan dililit utang. Simaklah hadits dari Urwah berikut ini, bahwa ‘Aisyah ra. memberitahunya bahwa Rasulullah saw. selalu berdo’a dalam shalatnya: ”Ya Allah, aku berlindung padamu dari dosa dan utang”. Lalu ada orang yang berkata kepada beliau,”berapa sering engkau wahai Rasulullah berdo’a berlindung (kepada Allah) dari utang?” beliau menjawab,”sesungguhnya seseorang itu jika berutang, dia berbicara lalu berdusta, dia berjanji lalu mengingkari.” (HR. Bukhari) Lihatlah Rasulullah, betapa beliau sangat mewaspada diri terhadap utang, sekalipun ia (utang) termasuk perkara yang dihalalkan. Kenapa demikian? Karena memang utang itu bisa membuat seseorang gelisah, tidak tenang dalam menjalani kehidupan. Ketika datang malam, si pengutang akan senantiasa memikirkan beban utang yang melilitnya, sehingga membuat dirinya tidak nyaman untuk istirahat. Belum lagi kalau sudah jatuh tempo, dan di kantong, sepeser uang pun tidak ada, kecemasannya akan semakin meninggi. Ketika malam berganti siang, “volume” cemasnya akan tambah meningkat, sebab ia khawatir, kalau-kalau yang meminjaminya uang datang ke rumah, dan menagih utang. Karena itu, sebisa mungkin ia akan menghindari untuk bertatap muka dengan si pemodal. Adakah orang yang merasa tenang/tentram kehidupannya dengan kondisi demikian ini? Tentu tidak akan ia dapati. Penjelasan ini, sejalan dengan sabda Rasulullah dalam sebuah riwayat, “Hammun billaili wa madzallatun binnahaari” (hutang itu membuat sedih di malam hari dan hina di siang hari). Selain kondisi demikian ini, utang sangat “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 63 of 73
    • memicu seseorang untuk berbuat dusta dan mengingkari janji, sebagaimana yang tercantum dalam hadits di atas (sesungguhnya seseorang itu jika berutang, dia berbicara lalu berdusta, dia berjanji lalu mengingkari). Padahal, sebagaimana yang telah diketahui bahwa dua perkara ini termasuk tiga dari ciri-ciri orang munafik. Rasulullah bersabda, “Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, apa bila dia berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanah, dia bekhianat.” (Al-Hadits). Selanjutnya, resiko buruk bagi orang yang berutang yang tidak bisa melunasi utang- utangnya hingga ia meninggal, adalah ia terhalang untuk memasuki surga, sekalipun ia mati dalam keadaan syahid. Sabda Rasulullah, “Semua dosa itu diampuni bagi orang yang mati syahid kecuali utang.” Dalam riwayat lain, “Mati di jalan Allah itu menebus segala sesuatu (dosa-dosa) selain utang.” (HR. Muslim). Demikianlah di antara dampak-dampak buruk yang bisa menimpa kita di kemudian hari, apa bila kita memiliki beban utang pada orang lain. Tidak hanya wibawa kita di dunia yang bisa runtuh, nasib kita di akhirat, pun tergantung padanya. Melihat begitu besarnya resiko utang, seyogyanya kita menghindarinya. Jangan sampai, karena hanya untuk memenuhi hawa nafsu yang menginginkan ini dan itu, ia (hawa nafsu) senantiasa kita turutkan, sekalipun dengan jalur utang. Akan tetapi, sekiranya kita dalam kondisi genting, dan seluruh alternatif tidak mampu mengeluarkan kita dari permasalahan tersebut, kecuali dengan berutang, maka, apa boleh buat, kita pun harus pinjam uang. Dan untuk mencegah hal-hal buruk yang telah dipaparkan di atas, berikut adalah etika-etika dalam berutang: 1. Menghindari Utang Sebisa Mungkin Bagaimana pun besar manfaat utang, tetaplah ia berposisi sebagai beban kehidupan, yang secara langsung akan mengganggu ketenangan hidup kita, ataupun keluarga kita. Mencari solusi lain sebelum berutang, tentulah perkara yang jauh lebih bijak. Dan termasuk dari gaya hidup yang kurang dibenarkan, kalau ada seseorang (muslim) mencari kenikmatan, kemewahan hidup dengan cara berutang, sebagaimana yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini. 2. Berniat Untuk Melunasi “Setiap perkara itu tergantung pada niatnya”. Demikianlah penjelasan Rasulullah dalam sebuah riwayat yang menganjurkan kita untuk senantiasa menjaga/meluruskan niat setiap kali melakukan kegiatan/aktivitas. Begitu pula dalam hal berutang. Berniat untuk melunasnya dengan sungguh-sungguh, merupakan suatu keharusan bagi siapa yang hendak berutang. Dan termasuk orang yang berkhianatlah, apa bila ada seseorang yang meminjam uang, tapi dalam lubuk hatinya sudah tertancap niat untuk tidak mengembalikan uang tersebut. Selain itu, niat untuk membayar utang, juga akan mengundang keterlibatan Allah dalam melunasi utang tersebut. Begitu pula sebaliknya, apa bila ada yang berazam untuk tidak melunasi utang tersebut, maka ancaman Allah akan kebinasaan bagi dirinya. Dari Abi Hurairah. Dari Nabi Shollallahu ’alaihi wasaallama bersabda, ”Barangsiapa mengambil (berutang) orang sedang dia berniat untuk melunasinya, niscaya Allah akan (membantu) melunasi bagi pihaknya. Dan barangsiapa mengambilnya (mengutangnya) dengan niat merusaknya (mengemplangnya), niscaya Allah akan membinasakannya.” (HR. Al- Bukhari) 3. Mencatat Utang Piutang Tidak dipungkiri, kebanyakan orang yang lalai membayar utang, karena dilandasi dasar lupa. Untuk mencegah hal tersebut, maka proses catat-mencatat utang-piutang sangat “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 64 of 73
    • dianjurkan. Dan ini sesuai dengan apa yang dituntunkan dalam Al-Quran, surat Al- Baqoroh, 282, yang membahas secara terperinci tentang utang-piutang. 4. Hadirnya Dua Saksi Untuk mempertegas akan kebenaran transaksi utang-piutang antardua orang atau lebih, selain menggunakan proses catat-mencatat antar yang meminjam dan yang meminjami, akan lebih baik bagi mereka apabila menghadirkan dua saksi yang menjadi saksi akan keabsahan transaksi antar mereka. Ini pun masih merupakan petunjuk Al-Quran yang ada di surat dan ayat yang sama dengan etika nomor 4. 5. Melunasi Tepat pada Waktu Biasanya, di dalam kesepakatan utang-piutang terdapat perjanjian, kapan utang tersebut akan dilunasi. Membayar utang tepat pada waktu (akan lebih baik sebelum jatuh tempo) merupakan suatu keharusan. Seseorang harus berusaha sekuat tenaga untuk menyiapkan dana tepat pada waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian, berarti kita telah berkomitmen dengan apa yang telah disepakati. Jangan sampai kita mengecewakan orang yang telah meringankan urusan kita dengan meminjamkan uangnya, tapi kita balas dengan pengingkaran janji. Lebih-lebih, kalau penangguhan tersebut, sengaja kita rencanakan. Sungguh hal ini termasuk kedzaliman yang nyata terhadap diri sendiri, ataupun orang lain. Rasulullah bersabda, ”Penangguhan orang kaya (dalam pembayaran utangnya) itu adalah kedzaliman.” (HR. Bukhari dan Muslim). 6. Melunasi Utang Sebelum Harta Warisan Dibagi Di antara kewajiban ahli waris (orang yang berhak mendapat harta warisan dari saudaranya yang meninggal) terhadap harta yang ditinggalkan adalah melunasi utang si mayit, sebelum dibagi-bagikan kepada ahli waris. Demikianlah ketentuan dari syariat Islam. Sekiranya harta tersebut ternyata kurang, maka masing-masing pihak (terutama keluarga) berkewajiban untuk melunasinya. 7. Menyedekahkan Utang Atas Nama Pemilik Piutang Tidak menutup kemungkinan, dalam membayar utang, kita kehilangan jejak orang yang telah memberi kita utang. Hal ini bisa terjadi karena beberapa sebab, misal pindah alamat ataupun meninggal dunia. Bila ahli warisnya masih ada dan kita mengetahui keberadaan mereka, maka kewajiban kita menyerahkan uang pinjaman tersebut kepada mereka (ahli waris). Akan tetapi, apa bila kita benar-benar tidak mengetahui keberadaan mereka, maka kita menyerahkan uang tersebut untuk fi sabii lillah atau kita sedekahkan atas namanya. A-Hasan berkata, ”Jika seseorang meninggal sedang ia mempunyai piutang dan ahli warisnya tidak diketahui, maka hendaknya piutang tersebut dijadikan fi sabilillah. Jika ia seorang muslim dan tidak diketahui ahli warisnya, maka hendaknya piutang itu disedekahkan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah). Demikianlah adab- adab dalam berutang yang harus kita laksanakan, sekiranya kita memang harus terpaksa mengutang untuk suatu kepentingan. Kita berdoa kepada Allah, mudah- mudahan Ia (Allah) menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang terbebas dari utang, sebagaimana yang senantiasa beliau (Rasulullah) ucapkan setiap kali selesai shalat, sehingga, kegundahan hati karena merasa dikejar-kejar penagih utang, bisa diterelakkan. ”Allahumma innie a’udzubika minal maktsami wal maghrami.” (Ya Allah, aku berlindung padamu dari dosa dan utang). (HR. Bukhari). Wallahu ’alam bisshowaab. [Robin Sah/hidayatullah.com] “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 65 of 73
    • http://www.wartaekonomi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2691%3Autang-rp1700- triliun-siapa-tanggung-jawab&catid=46%3Asiumum&Itemid=66&showall=1 Utang Rp1.700 Triliun, Siapa Tanggung Jawab?Dalam pemilihan presiden tahun ini, isu utang negara ikut mencuat. Pihak incumbent mendapat tudingan sebagai pemerintahan yang “hobi” berutang. Namun, fakta menunjukkan, sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah diwarisi masalah utang dan setiap era kepresidenan yang ada selalu terbelit masalah utang. Bahkan, negara-negara maju juga mengalami masalah serupa. Barangkali masalah utang negara adalah topik yang tidak pernah akan bisa surut dari negeri ini. Menengok perjalanan sejarah bangsa, sejak berdirinya NKRI, pemerintah Indonesia telah memiliki utang dan bahkan jumlahnya sudah mencapai miliaran dolar AS, angka yang terbilang sangat fantastis untuk ukuran tahun 1950-an. Dan, pada ajang pemilihan presiden tahun ini, isu utang pemerintah kembali mencuat dan ramai dibahas. Kubu pasangan calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan calon wakil presiden Boediono mendapat serangan isu utang ini karena dituding saat berkuasa sekarang ini bak pemerintahan yang “hobi” berutang. Dalam harian Kompas (8/4) dituliskan bahwa selama pemerintahan SBY, utang pemerintah justru bertambah Rp 80 triliun tiap tahun. Berdasarkan data Departemen Keuangan, utang Indonesia saat ini berjumlah Rp1.700 triliun, terdiri dari Rp 968 triliun utang dalam negeri (57%) dan Rp 732 triliun utang luar negeri (43%). Jumlah Rp1.700 triliun tentu angka yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan jumlah PDB Indonesia yang sekitar Rp 5.500 triliun, sehingga rasio utang terhadap PDB negara ini bergerak di sekitar angka 32%. Angka ini merupakan akumulasi utang yang dimiliki Indonesia sejak negara ini mulai berdiri. Selama masa Orde Baru, skema utang yang dilakukan pemerintah saat itu relatif kurang transparan, terutama mengenai peruntukan utang. Salah satu faktor penting penyebabnya adalah definisi dari utang itu sendiri. Sebelum tahun 2000, oleh pemerintah, utang didefinisikan sebagai penerimaan negara yang dibutuhkan untuk memenuhi belanja pemerintah. Namun, setelah tahun 2000, ada perjanjian bersama antara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Departemen Keuangan (Depkeu)—atas permintaan International Monetary Fund (IMF) pada saat itu—untuk meredefinisi arti utang menjadi sumber pembiayaan yang dibutuhkan ketika pendapatan negara lebih kecil daripada pengeluarannya. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 66 of 73
    • Utang Era Soekarno (1945–1966) Presiden Soekarno adalah sosok pemimpin yang sebenarnya anti utang. Salah satu bapak pendiri bangsa ini pernah memberikan satu pernyataan terkenal yaitu “Go To Hell with Your Aid” yang menyikapi campur tangan IMF pada peristiwa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia pada 1956. Dari pernyataan tersebut, Soekarno dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang tegas dan berani mengambil sikap untuk menolak intervensi asing. Namun, pada akhir pemerintahan Soekarno, negara ini ternyata dibebani oleh utang. Seperti dikutip dari harian Republika (17/4/2006), jumlah utang Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno sebesar US$ 6,3 miliar, terdiri dari US$ 4 miliar adalah warisan utang Hindia Belanda dan US$ 2,3 miliar adalah utang baru. Utang warisan Hindia Belanda disepakati dibayar dengan tenor 35 tahun sejak 1968 yang jatuh tempo pada 2003 lalu, sementara utang baru pemerintahan Soekarno memiliki tenor 30 tahun sejak 1970 yang jatuh tempo pada 1999. Utang Era Soeharto (1966–1998) Pada masa Orde Baru, utang didefinisikan menjadi penerimaan negara. Implikasi dari definisi ini tentu saja besar karena berarti pemerintah saat itu membiayai program-program pemerintah melalui instrumen pendapatan yang salah satunya adalah utang. Jika dilihat dari struktur anggaran pemerintah, maka utang dimasukkan ke dalam porsi penerimaan selain pajak. Selama 32 tahun berkuasa, ciri kuat pemerintahan Orde Baru adalah sangat sentralistik dan sering disindir berasaskan “Asal Bapak Senang” (ABS) sehingga kerap membuat masalah utang negara menjadi hal yang “tabu” untuk dibicarakan. Akibatnya, pengelolaan utang negara pun menjadi sangat tidak transparan. Orde Baru “diklaim” berutang sebesar Rp 1.500 triliun yang jika dirata-ratakan selama 32 tahun pemerintahannya maka utang negara bertambah sekitar Rp 46,88 triliun tiap tahun. Sampai 1998, dari total utang luar negeri sebesar US$ 171,8 miliar, hanya sekitar 73% yang dapat disalurkan ke dalam bentuk proyek dan program, sedangkan sisanya (27%) menjadi pinjaman yang idle dan tidak efektif. Alhasil, di masa Orde Baru, utang negara tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini disebabkan sistem pemerintahan yang sentralistik yang mengakibatkan pemerintah sulit untuk melakukan pemerataan pembangunan berdasarkan kebutuhan daerah, bukan berdasarkan keinginan pusat. Pada masa Orde Baru, kredit Indonesia mendapat rating BBB dari Standard & Poor's (S&P), lembaga penilai keuangan internasional. Rating BBB, yang hanya satu tingkat di bawah BBB+, membuat iklim investasi dan utang Indonesia pada masa Orde Baru dinilai favorable bagi para investor, baik domestik maupun asing. Komposisi utang Orde Baru terdiri atas utang jangka panjang dengan tenor 10–30 tahun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengeluarkan pernyataan bahwa utang Orde Baru jatuh tempo pada 2009 dengan struktur utang yang jatuh tempo sepanjang tahun 2009 adalah sebesar Rp94 triliun, terdiri dari Rp30 triliun berupa utang domestik dan Rp64 triliun berupa utang luar negeri. Utang Era Habibie (1998–1999) Masa pemerintahan B. J. Habibie merupakan pemerintahan transisi dari Orde Baru menuju era Reformasi. Habibie hanya memerintah kurang lebih setahun, 1998–1999. Pada 1998 terjadi krisis moneter yang menghempaskan perekonomian Indonesia dan pada saat yang bersamaan juga terjadi reformasi politik. Kedua hal ini mengakibatkan rating kredit Indonesia oleh S&P terjun bebas dari BBB hingga terpuruk ke tingkat CCC. Artinya, iklim bisnis yang ada tidak kondusif dan cenderung berbahaya bagi investasi. Pada masa pemerintahan Habibie, utang luar negeri Indonesia sebesar US$178,4 “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 67 of 73
    • miliar dengan yang terserap ke dalam pembangunan sebesar 70%, dan sisanya idle. Terjadinya penurunan penyerapan utang, yaitu dari 73% pada 1998 menjadi 70% pada 1999, disebabkan pada 1999 berlangsung pemilihan umum yang menjadi tonggak peralihan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Banyak keraguan baik di kalangan investor domestik maupun investor asing terhadap kestabilan perekonomian, sementara pemerintah sendiri saat itu tampak lebih “disibukkan” dengan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Utang Era Gus Dur (1999–2001) Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, naik sebagai Presiden RI ke-4 setelah menang dalam Pemilu 1999. Namun, pada masa pemerintahan Gus Dur kerap terjadi ketegangan politik yang kemudian membuat Gus Dur terpaksa lengser setelah berkuasa selama kurang lebih dua tahun 1999–2001. Pada masa Gus Dur, rating kredit Indonesia mengalami fluktuasi, dari peringkat CCC turun menjadi DDD lalu naik kembali ke CCC. Salah satu penyebab utamanya adalah imbas dari krisis moneter pada 1998 yang masih terbawa hingga pemerintahannya. Saat itu utang pemerintah mencapai Rp1.234,28 triliun yang menggerogoti 89% PDB Indonesia. Porsi yang cukup membahayakan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Selain porsi utang yang besar pada PDB, terjadi pula peningkatan porsi bunga utang terhadap pendapatan dan belanja negara. Rasio bunga utang terhadap pendapatan pada 2001 meningkat sekitar 4,6%, dari 24,4% menjadi 29%, sedangkan terhadap belanja meningkat sebanyak 2,9% menjadi 25,5% pada tahun yang sama. Saat itu Indonesia dikhawatirkan akan jatuh ke dalam perangkap utang (debt trap). Pemerintahan Gus Dur mencatatkan hal yang positif dalam hal utang, yaitu terjadi penurunan jumlah utang luar negeri sebesar US$21,1 miliar, dari US$178 miliar pada 1999 menjadi US$157,3 miliar pada 2001. Namun, utang nasional secara keseluruhan tetap meningkat, sebesar Rp38,9 triliun, dari Rp1.234,28 triliun pada 2000 menjadi Rp1.273,18 triliun pada 2001. Sementara itu, porsi utang terhadap PDB juga mengalami penurunan, dari 89% pada 2000 menjadi 77% pada 2001. Utang Era Megawati (2001–2004) Masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri hanya berlangsung selama tiga tahun (2001–2004). Namun, pada masa pemerintahan presiden wanita Indonesia pertama ini banyak terjadi kasus-kasus yang kontroversial mengenai penjualan aset negara dan BUMN. Pada masanya, Megawati melakukan privatisasi dengan alasan untuk menutupi utang negara yang makin membengkak dan imbas dari krisis moneter pada 1998/1999 yang terbawa sampai saat pemerintahannya. Maka, menurut pemerintah saat itu, satu- satunya cara untuk menutup APBN adalah melego aset negara. Privatisasi pun dilakukan terhadap saham-saham perusahaan yang diambil alih pemerintah sebagai kompensasi pengembalian kredit BLBI dengan nilai penjualan hanya sekitar 20% dari total nilai BLBI. Bahkan, BUMN sehat seperti PT Indosat, PT Aneka Tambang, dan PT Timah pun ikut diprivatisasi. Selama tiga tahun pemerintahan ini terjadi privatisasi BUMN dengan nilai Rp3,5 triliun (2001), Rp7,7 triliun (2002), dan Rp7,3 triliun (2003). Jadi, total Rp18,5 triliun masuk ke kantong negara. Alhasil, selama masa pemerintahan Megawati terjadi penurunan jumlah utang negara dengan salah satu sumber pembiayaan pembayaran utangnya adalah melalui penjualan aset-aset negara. Pada 2001 utang Indonesia sebesar Rp1.273,18 triliun turun menjadi Rp1.225,15 triliun pada 2002, atau turun sekitar Rp48,3 triliun. Namun, pada tahun-tahun berikutnya utang Indonesia terus meningkat sehingga pada 2004, total utang Indonesia menjadi Rp1.299,5 triliun. Rata-rata peningkatan utang pada tiga “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 68 of 73
    • tahun pemerintahan Megawati adalah sekitar Rp25 triliun tiap tahunnya. Namun, terdapat hal positif lain yang terjadi pada masa pemerintahan Megawati, yaitu naiknya tingkat penyerapan pinjaman luar negeri Indonesia. Sejak 2002 hingga 2004, penyerapan utang mencapai 88% dari total utang luar negeri yang ada. Hal ini memperlihatkan bahwa pemerintah makin serius menggunakan fasilitas utang yang ada untuk kegiatan pembangunan. Keseriusan pemerintah dapat dilihat dari porsi utang terhadap PDB yang makin turun, yakni dari 77% pada 2001 menjadi 47% pada 2004. Menurunnya rasio utang terhadap PDB turut menyumbang meningkatnya rating kredit yang dilakukan oleh S&P dari CCC+ pada 2002 menjadi B pada 2004. Utang Era SBY (2004–2009) Pemerintahan SBY-JK dengan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB)-nya menjadi pemerintahan pertama yang dipilih melalui sistem pemilihan umum langsung di Indonesia. Sistem politik yang makin solid membawa ekspektasi dan respons positif pada kondisi perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari nilai PDB Indonesia yang terus meningkat hingga mendekati angka Rp1.000 triliun pada 2009. Tingkat kemiskinan pun diklaim “turun” oleh pemerintah (meskipun sampai saat ini definisi mengenai kemiskinan masih menjadi perdebatan). Namun, bagaimana dengan masalah pengelolaan utang negara pada pemerintahan ini? “Diwarisi” utang oleh pemerintahan sebelumnya sebesar Rp1.299,5 triliun, jumlah utang pada masa pemerintahan SBY justru terus bertambah hingga menjadi Rp1.700 triliun per Maret 2009. Dengan kata lain, rata-rata terjadi peningkatan utang sebesar Rp80 triliun setiap tahunnya atau hampir setara dengan 8% PDB tahun 2009. Utang pemerintah sebesar Rp1.700 triliun itu terdiri dari Rp968 triliun utang dalam negeri (57%) dan Rp732 triliun utang luar negeri (43%). Pinjaman luar negeri digunakan untuk membiayai program-program dan proyek-proyek pemerintah yang berkaitan dengan kemanusiaan, kemiskinan, lingkungan, dan infrastruktur. Meski jumlah utang bertambah besar, dalam lima tahun pemerintahan SBY, penyerapan utang terhitung maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat penyerapan yang rata-rata mencapai 95% dari total utang. Lalu, apa implikasi dari penyerapan ini? Nilai PDB Indonesia pun makin tinggi. Apabila ditelusuri lebih jauh, selama lima tahun terakhir, rasio utang negara terhadap PDB terlihat makin kecil, hingga menyentuh 32% pada 2009. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan fakta-fakta bahwa utang makin besar, tetapi tingkat penyerapan tinggi, PDB makin tinggi, dan rasio utang terhadap PDB makin rendah? Dengan jumlah utang meningkat rata-rata Rp80 triliun per tahun selama lima tahun terakhir, sementara nilai PDB rata-rata meningkat 6,35% tiap tahun pada 2005– 2008 (dengan memakai tahun dasar 2000 sesuai data Bank Indonesia) dengan target PDB 2009 mendekati angka Rp1.000 triliun, dan rasio utang terhadap PDB makin kecil, maka dapat dikatakan bahwa salah satu faktor kunci pembangunan negara ini adalah utang. Rasio utang yang makin mengecil terhadap PDB bukanlah karena utangnya yang mengecil, melainkan karena PDB-nya yang makin membesar. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan RI, dapat dilihat bahwa pada APBN tahun anggaran 2009 terdapat kekurangan pembiayaan anggaran sebesar Rp 204,837 miliar, yang terdiri dari Rp116,996 miliar untuk kebutuhan pembayaran utang (57%) dan Rp139,515 miliar untuk menutupi defisit (68%). Lalu, dari manakah sumber pembiayaan untuk menutupi kekurangan pembiayaan anggaran ini? Lagi-lagi berasal dari utang, sebesar 99% atau Rp 201,772 miliar, baik berupa utang dalam negeri maupun utang luar negeri. Jadi, boleh dibilang, Indonesia membayar utang dengan berutang alias gali lubang tutup lubang. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 69 of 73
    • Masih menurut sumber data yang sama, pada 2033, atau 24 tahun dari sekarang, 98% utang dalam negeri pemerintah senilai Rp129 triliun akan jatuh tempo. Menurut data The Indonesia Economic Intelligence (IEI), dana sebesar Rp129 triliun itu merupakan dana eks Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang memang sudah harus dibayarkan kepada Bank Indonesia. BLBI sendiri hingga kini masih menjadi isu yang kontroversial dan belum tuntas penyelesaiannya. Saat membuka Sidang Pleno I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta (10/3), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pernyataan bahwa pemerintah sekarang boleh dibilang sedang bangkrut atau tidak punya cukup uang untuk membangun dan membiayai perekonomian negara ini. "Government is broke. Penerimaan pemerintah berkurang karena pajak yang masuk berkurang," kata Presiden ketika menyikapi kondisi perekonomian Indonesia saat krisis global terjadi. Pernyataan tersebut merefleksikan kondisi ekonomi nasional yang sangat rapuh saat menghadapi krisis. Maka, jalan untuk keluar dari masalah ini adalah lagi-lagi dengan berutang. Utang Negara-Negara Lain Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang sedang bergulat dengan utang. Banyak negara lain juga mengalami hal serupa. Bahkan, data menunjukkan tidak sedikit negara-negara yang PDB-nya digerogoti utang. Negara-negara lain sebenarnya juga memiliki rasio utang terhadap PDB yang relatif besar. Namun, hal itu diimbangi dengan besarnya cadangan devisa yang mereka miliki. Selain cadangan devisa yang besar, negara-negara ini memiliki aset yang banyak dan pengelolaan aset yang baik. Berikut negara- negara yang rasio utangnya terhadap PDB terhitung tinggi. 1. Zimbabwe Berada di peringkat pertama negara-negara yang PDB-nya digerogoti utang adalah Zimbabwe, dengan porsi utang terhadap PDB sebesar 218%. Dengan kata lain, Zimbabwe memiliki kekayaan 1 juta, tetapi utangnya sebesar 2,18 juta alias lebih dari dua kali lipat. Zimbabwe merupakan negara dunia ketiga yang selalu dirundung perang saudara dan perang antaretnis. Inflasi di Zimbabwe masuk dalam kategori hyperinflation (>100%). Negara yang terletak di Benua Afrika ini juga tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Hal ini menyebabkan PDB Zimbabwe cenderung rendah. 2. Jepang Peringkat kedua diduduki oleh Jepang dengan rasio 199% utang terhadap PDB. Namun, yang cukup mengherankan di sini, Jepang adalah juga negara yang paling “royal” kepada Indonesia dalam memberikan pinjaman, dan pinjaman luar negeri Jepang cenderung berupa soft loan atau pinjaman lunak (berbunga rendah, yang bergerak di kisaran 0,1%–1%). Berdasarkan data pengelolaan utang negara, Jepang menyumbang 40% dari total utang luar negeri Indonesia. Namun, di sisi lain, rasio utang Jepang terhadap PDB-nya sendiri juga tinggi. Jadi, ada dua hal yang terlihat sangat kontradiktif dalam hal utang Jepang ini. Salah satu faktor penjelasannya adalah “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 70 of 73
    • tingginya tingkat tabungan masyarakat Jepang. Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat yang hemat dan giat menabung, sehingga utang Jepang mayoritas merupakan utang negara kepada masyarakatnya (publik) dan memiliki bunga yang rendah (berbanding terbalik dengan Indonesia yang bunga SBN-nya mencapai 12%). Oleh karena itu, meski rasio utang terhadap PDB-nya 199%, Jepang masih dapat memberikan pinjaman kepada negara lain. 3. Amerika Serikat Posisi keempat ditempati oleh Amerika Serikat. Negeri Paman Sam ini memiliki rasio utang terhadap PDB sebesar 80%. Dengan kata lain, dari 1 juta kekayaan PDB Amerika, 800.000 di antaranya adalah utang. Negara kreditur terbesar untuk Amerika adalah Cina. Negeri Tirai Bambu ini memberikan pinjaman hampir US$1 miliar. Tahun ini saja Amerika mengalami defisit sebesar 6%, dan 50% dari government expenditure Amerika dialokasikan untuk kepentingan militer. Sebagai negara adikuasa, dengan defisit seperti itu Amerika tampaknya tidak terlalu khawatir mengingat posisi mata uangnya, yaitu dolar Amerika (US$) sebagai reserve currency bagi dunia. Dengan posisi ini, permintaan akan dolar Amerika tidak akan pernah berkurang, sehingga Amerika tidak pernah dipusingkan oleh gejolak nilai tukar dan inflasi. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya suku bunga di Amerika. Nurhifen Kania; (redaksi@wartaekonomi.com); Tulisan ini dikutip dari majalah Warta Ekonomi edisi 13/XXI/2009, 29 Juni-12 Juli 2009. Halaman 26-32. Judul asli tulisan ini adalah “Utang Rp1.700 Triliun, Siapa Tanggung Jawab?.” http://bisnis.vivanews.com/news/read/39906-prabowo___kemana_devisa_kita_us_250_miliar__ Prabowo: "Kemana Devisa Kita US$250 Miliar?" Pencapaian neraca ekspor impor sejak 1960-an telah terjadi kebocoran keluar kekayaan. Kamis, 12 Maret 2009, 13:04 WIB, Antique, Elly Setyo Rini VIVAnews - Calon Presiden yang diusung partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto kembali melancarkan kritik untuk pemerintah. "Selama ini, kemana devisa kita?" katanya saat meluncurkan buku "Membangun Kembali Indonesia Raya- Haluan Baru Menuju Kemakmuran" di Hotel Dharmawangsa Jakarta, Kamis, 12 Maret 2009. Prabowo menilai, pencapaian neraca ekspor impor sejak 1960-an telah terjadi kebocoran keluar kekayaan Indonesia secara totalitas. "Neraca ekspor impor sebagai alat bukti bahwa terdapat gejala net outflow of national wealth," katanya. Akibatnya, dia menambahkan, kebocoran tersebut membuat tidak terakumulasinya kekayaan nasional di dalam negeri. Neraca ekspor impor, diperlihatkan Prabowo, selama 12 tahun ini mengalami surplus devisa gemilang dengan rata-rata US$27 miliar, meski pada 2008 sempat turun hanya US$8 miliar karena krisis global. "Sebagai ilustrasi, ekspor kita adalah US$74 miliar per tahun sedangkan impor sebesar US$49 miliar per tahun, sehingga seharusnya devisa selama 12 tahun bisa mencapai US$300 miliar," kata Prabowo. Namun, dia menambahkan, beberapa waktu lalu pemerintah hanya melansir devisa negara kita hanya US$ 50 miliar. "Lalu kemana yang US$250 miliar?" katanya. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 71 of 73
    • http://bisnis.vivanews.com/news/read/39889- prabowo__2045__indonesia_miskin_mirip_rwanda Ekonomi Tumbuh Hanya 5 Persen Prabowo: 2045, Indonesia Miskin Mirip Rwanda Prabowo tidak yakin pemerintah bisa mencapai pertumbuhan 7 persen. Kamis, 12 Maret 2009, 12:28 WIB, Heri Susanto, Elly Setyo Rini VIVAnews - Calon presiden RI, Prabowo Subianto memperkirakan negara Indonesia masih akan tergolong negara miskin pada 2045, jika pertumbuhan ekonomi negeri ini hanya 5 persen. "Indonesia akan tetap miskin mirip Rwanda atau Haiti," kata Prabowo saat meluncurkan buku "Membangun Kembali Indonesia Raya "Haluan Baru Menuju Kemakmuran" yang ditulisnya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Maret 2009. "Apalagi, jika ekonomi cuma tumbuh 4 persen seperti tahun ini," ujarnya. "Masak, saat memperingati 100 tahun kemerdekaan, Indonesia tetap miskin." Dengan model pembangunan ekonomi seperti sekarang, Prabowo tidak yakin pemerintah bisa mencapai pertumbuhan ekonomi jangka panjang sebesar 7 persen per tahun. Bahkan, seandainya proyeksi itu tercapai, maka pada 2065, pendapatan masyarakat Indonesia akan tetap di bawah US$ 2000 per kapita. "Itu masuk kategori negara papan bawah." Dia menilai pola pembangunan yang diterapkan pemerintah saat ini masih sebatas penyuplai bahan baku dan kuli. Dia mengkritik program pemerintah bagi orang miskin, seperti lewat bantuan langsung tunai. "Negara sudah bangkrut, malah bagi-bagi duit." Karena itu, dia menekankan pola pembangunan seperti itu harus diubah. Apalagi, negeri ini memiliki kekayaan sumber daya alam, sumber energi, dan pasar besar. "Indonesia harus lepas landas dengan pertumbuhan ekonomi 10 persen atau dua digit," katanya. Calon presiden RI dari Partai Gerindra mengingatkan pemerintah harus turun tangan menjadi lokomotif untuk menggerakkan perekonomian, seperti dilakukan China dan Singapura. Dengan begitu, ekonomi Indonesia bisa tumbuh seperti China. "Pemerintah jangan hanya menjadi wasit atau regulator," ujarnya. "Itulah bedanya saya dengan penganut paham neoliberalisme." China selama ini rata-rata tumbuh di atas 10 persen per tahun. Namun, akibat krisis, pertumbuhannya memang turun, meski masih tinggi tak jauh dari 10 persen. http://bisnis.vivanews.com/news/read/39231- prabowo__indonesia_bisa_tumbuh_seperti_china Prabowo: Ekonomi RI Bisa Tumbuh Seperti China Pemerintah harus turun tangan menjadi lokomotif untuk menggerakkan perekonomian. Rabu, 11 Maret 2009, 13:36 WIB, Heri Susanto, Elly Setyo Rini VIVAnews - Prabowo Subianto, calon presiden RI dari Partai Gerindra mengingatkan pemerintah harus turun tangan menjadi lokomotif untuk menggerakkan perekonomian. Dengan begitu, Indonesia berpeluang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti China. "Saya tanya kepada pelaku ekonomi, mampu tidak pertumbuhan ekonomi Indonesia dua digit? Mereka jawab sulit," ujar Prabowo menyampaikan kisah perbincangan dengan pelaku ekonomi di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2009. Dia kembali “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 72 of 73
    • bertanya, lalu mengapa China bisa? Pengusaha menjawab, "Karena Deng Xiaoping, pemimpin China." China selama ini rata-rata tumbuh di atas 10 persen per tahun. Namun, akibat krisis, pertumbuhannya memang turun, namun masih tetap masih tinggi tak jauh dari 10 persen. Bermula dari diskusi itu, Prabowo menganggap bahwa Indonesia mempunyai peluang seperti halnya China. "Deng Xiaoping dan Lee Kuan Yew (Singapura) bisa maju karena 70 persen BUMN menjadi ujung tombak," katanya. "Itulah mengapa Singapore Airlines dan Temasek Holding menjadi BUMN terbaik di dunia." Karena itu, Prabowo menekankan pemerintah harus turun tangan menjadi lokomotif pertumbuhan seperti halnya di China dan Singapura. "Pemerintah jangan hanya menjadi wasit atau regulator," ujarnya. "Itulah bedanya saya dengan penganut paham neoliberalisme." Prabowo pun punya seribu alasan mengapa Indonesia bisa maju. Menurut dia, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif, lahan luas, dan sumber energi, serta punya pasar besar. "Kita bisa dorong pertumbuhan berbasis energi dan agrikultur, serta industri pengolahan untuk nilai tambah." Caranya, menurut dia, adalah melalui investasi di bidang pertanian dan biofuel. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Petani akan naik penghasilannya, daya beli naik, sektor riil bergerak. Apalagi, 60 persen rakyat adalah petani. Jadi, menurut dia, daripada tergantung dengan pasar lain, sebaiknya Indonesia memanfaatkan pasar besar domestik yang mencapai 230 juta jiwa penduduk. "Itu hampir setengahnya pasar Eropa, semua negara incar pasar kita." Dia mengkritik perancang ekonomi sejak era Presiden Soeharto hingga sekarang. Menurut dia, tim ekonomi selalu mengumumkan target pertumbuhan jangka panjang 7 persen dan dalam situasi krisis seperti sekarang mungkin hanya 4 persen. Jika mengikuti target optimistis 7 persen, pada 2060 pendapatan per kapita Indonesia masih di bawah US$ 2 ribu. "Itu masih termasuk negara miskin. Apalagi, jika memakai asumsi di bawah 7 persen, akan lebih parah." Padahal, menurut dia, angka kelahiran naik 4 juta jiwa tiap tahun. Jumlah pengangguran juga mencapai 10 juta orang. Prabowo pun mengutip data Bapenas yang mencanangkan untuk mencapai pertumbuhan 1 persen perlu dana US$ 5 miliar. Dana itu dibutuhkan untuk mendorong pertanian beras, jagung, singkong dan tebu dengan membuka lahan 2 juta hektare. "Itu paham neoliberal." Jika mengacu pada ekonomi kerakyatan, dengan dana US$ 5 miliar bisa mencetak 2,5 juta hektare lahan. Dari jumlah itu sebanyak 1 hektare untuk 6 orang pekerja sehingga total akan menyerap 15 juta orang. Itu sama dengan 37,5 kali lipat. Itu sangat bisa dilakukan karena Indonesia punya keunggulan kompetitif di situ. “Notes on Indonesian Economic / Finance-Related Situations”, Page: 73 of 73