Proposal mimi yuni
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Proposal mimi yuni

on

  • 2,225 views

contoh proposal skripsi pendidikan fisika

contoh proposal skripsi pendidikan fisika

Statistics

Views

Total Views
2,225
Views on SlideShare
2,225
Embed Views
0

Actions

Likes
4
Downloads
80
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Proposal mimi yuni Proposal mimi yuni Document Transcript

  • BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagipembangunan bangsa. Pendidikan membantu manusia mengembangkan dirinya danmenghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Dalam UU SistemPendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 1, dijelaskan bahwa pendidikan adalahusaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan prosespembelajaran agar siswa aktif mengembangkan potensi dirinya, sehingga mampumenghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam hidup dan kehidupannya. Siswadituntut mempelajari berbagai macam ilmu seperti ilmu sains, sosial, agama, seni danlainnya. Ilmu sains adalah salah satu bidang ilmu yang dapat menunjang teknologi, danfisika merupakan salah satu unsur dalam ilmu sains. Fisika berhubungan denganfakta-fakta dan prinsip-prinsip yang ada pada fenomena alam serta cara memperolehfakta-fakta dan prinsip-prinsip tersebut. Mata pelajaran fisika merupakan matapelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analisis, induktif, dandeduktif dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan peristiwa alamsekitar, baik kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika. Matapelajaran fisika dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan serta sikap
  • percaya diri. Fisika sangat perlu dipelajari pada setiap jenjang pendidikan mulai darisekolah dasar, sekolah menengah sampai perguruan tinggi. (Depdiknas, 2006) Menyadari pentingnya mata pelajaran ini, berbagai usaha telah dilakukanpemerintah untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran fisika. Beberapadiantaranya adalah peningkatan kompetensi guru dengan mengaktifkan MusyawarahGuru Mata Pelajaran (MGMP), pengoptimalan sarana pendukung baik berupalaboratorium, dan perpustakaan melalui pemberian bantuan dana BOS. Pemerintahjuga berusaha untuk menyempurnakan kurikulum. Walaupun demikian, fisika masihmenjadi mata pelajaran yang menakutkan, membosankan dan dianggap sulit olehsiswa. Hal ini membuat siswa di kelas menjadi pasif, dan mengakibatkan hasil belajarsiswa menjadi rendah. Kenyataan ini juga ditemui di SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik denganketuntasan nilai ulangan fisika siswa kelas X pada semester ganjil yang belummencapai target yang diinginkan, seperti Tabel 1:Tabel 1.1 Persentase Ketuntasan Belajar Fisika Siswa pada Ulangan Harian Semester I di Kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik Jumlah siswa yang X.5 X.8 nilainya (%) (%) 75 20,6 17,1 < 75 79,4 82,9Sumber : Guru fisika kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik Tabel 1 di atas terlihat bahwa nilai ulangan harian semester I mata pelajaranfisika siswa kelas X pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 sebagian besarberada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Berdasarkan keterangan dari
  • guru fisika SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik yang ditetapkan adalah 75. Kriteriauntuk menentukan KKM ini antara lain dengan memperhatikan (1) Kompleksitas ataukesulitan dimana kompleksitas tinggi dalam pelaksanaannya menuntut SDMmemahami kompetensi yang harus dicapai siswa, (2) Kemampuan sumber dayadukung yaitu ketersediaan sarana dan prasarana yang sesuai kompetensi yang dicapai,(3) Tingkat kemampuan rata-rata siswa. Faktor yang menyebabkan belum tuntasnya hasil belajar fisika siswadiantaranya berkaitan dengan proses pembelajaran. Umumnya proses pembelajaranbersifat verbalistis. Guru hanya dikenal sebagai informator, dan pembelajaran yangberlangsung berpusat pada guru, yang mana guru menentukan bahan pelajaran dansiswa hanya duduk, melihat, mendengar dan menerima pelajaran secara pasif. Gurujarang memberikan berbagai variasi cara dalam pembelajaran materi, menjelaskanmateri kepada siswa bersifat satu arah atau monoton tanpa memperdulikan umpanbalik dari siswa. Hal ini membuat siswa menjadi bosan dan pasif dalam mengikutipembelajaran fisika, serta tidak jarang ditemui siswa yang mengeluh dalam belajardan menyatakan fisika pelajaran yang sulit dan membosankan. Guru juga jarang menyuruh siswa untuk melakukan berbagai aktivitas sepertidiskusi, bertanya, memberi tanggapan atas penjelasan yang diberikan padahal denganadanya aktivitas yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung akanmenjadikan siswa aktif serta memudahkannya dalam menguasai pelajaran. Hal inisesuai dengan pendapat Nasution (1995:85) yang menyatakan bahwa:
  • Pelajaran yang tidak segera dikuasai dengan mendengarkan atau membacanya saja. Masih perlu lagi kegiatan-kegiatan lain seperti membuat rangkuman, mengadakan tanya jawab, atau diskusi dengan teman-teman dan mencoba menjelaskannya kepada orang lain. Salah satu aktivitas siswa dalam pembelajaran fisika yang jarang dilakukanselama proses pembelajaran berlangsung adalah diskusi kelompok berdasarkantingkat akademisnya. Diskusi yang sering dilaksanakan biasanya diambil berdasarkanurutan bangku terdekat tanpa memperhatikan tingkat akademisnya. Kedua kelompokyang berbeda tingkat penguasaannya ini dijadikan satu, maka akan terjadiketimpangan dalam penerimaan pelajaran. Bentuk ketimpangan itu adalah siswa yangcepat menguasai pelajaran harus menunggu pada siswa yang kurang cepat menguasaipelajaran sampai siswa tersebut menguasai pelajaran. Gurunya pun tidak bisamenerapkan satu cara dalam satu kelas yang sama. Akibatnya, baik siswa maupunguru sama-sama mengalami kesulitan. Siswa yang pandai memerlukan layananpembelajaran yang berbeda dengan siswa yang kurang pandai. Siswa yang pandaicenderung lebih cepat menerima pelajaran dan lebih mudah menerima pelajarandibandingkan dengan siswa yang kurang pandai. Mengingat jika hal ini tidak segera diantisipasi tentu akan merugikan siswa,sehingga siswa akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam memahami materiselanjutnya. Ini akan mengakibatkan siswa yang tidak paham mengalami kegagalandalam pembelajaran serta guru pun sulit mencapai tujuan instruksional yangdiharapkan dan akhirnya tujuan pembelajaran fisika berdasarkan kurikulum belumbisa diwujudkan. Guru dituntut untuk berperan sebagai fasilitator, motivator dan
  • mediator. Guru tidak hanya sebagai penyampai materi saja tetapi juga bertanggungjawab dalam memotivasi dan membimbing siswa dalam proses pembelajran.Sebaiknya guru harus pandai memilih model pembelajaran yang pas untuk masalahsiswa sehingga siswa menjadi lebih berminat dalam mengikuti pelajaran danmenjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini yang menjadipokok permasalahan adalah penggunaan model pembelajaran terutama sekali modelcooperative learning dengan memperhatikan kemampuan kelompok atau “abilitygrouping”. Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik. Berdasarkansurvei awal terhadap kemampuan siswa di sekolah ini, terlihat bahwa siswa memilikikemampuan yang bervariasi. Oleh sebab itu, memungkinkan untuk dikelompokkanberdasarkan kemampuan mereka. Siswa juga sudah terbiasa melakukan diskusi, tetapibaru pada taraf diskusi kelompok berdasarkan meja terdekat. Ability grouping adalah salah satu pandangan dalam diskusi yangmemperhatikan kemampuan tiap-tiap kelompok. Menurut Ngalim (2008) “abilitygrouping adalah pengelompokan siswa dalam kelas berdasarkan kemampuanakademisnya, siswa yang tingkat kemampuan akademisnya baik dijadikan satukelompok, dan dipisahkan dengan kelompok siswa yang tingkat akademisnya kurangbaik”. Dengan menerapkan ability grouping ini diharapkan guru akan lebih mudahmengontrol dan melihat sejauh mana pemahaman materi siswa yang kemampuanakademisnnya rendah. Selain itu, siswa yang awalnya tidak biasa berbicara di depankelas diharapkan mampu berbicara mengeluarkan pendapatnya.
  • Permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian denganjudul: “Pengaruh Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Ability GroupingTerhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X SMA Negeri 1 VII Koto Sungai Sarik”.B. Identifikasi Masalah Latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi sebagai berikut:1. Hasil belajar fisika masih ada yang belum tuntas.2. Guru hanya dikenal sebagai informator sehingga siswa menerima pelajaran secara pasif.3. Guru biasanya menjelaskan materi kepada siswa bersifat satu arah.4. Guru jarang menyuruh siswa untuk melakukan berbagai aktifitas seperti diskusi.5. Guru jarang memberikan berbagai variasi cara dalam pembelajaran materi.C. Pembatasan Masalah Agar penelitian ini lebih terarah dan terkontrol, maka penulis perlu membatasimasalah yang akan diteliti. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulismembatasi masalah pada:1. Materi pelajaran yang berkenaan dengan penelitian adalah materi pelajaran fisika yang diberikan pada kelas X semester 2 Tahun ajaran 2011/2012, yakni Listrik Dinamis.2. Model pembelajaran yang diterapkan adalah model cooperative learning tipe ability grouping.3. Hasil belajar yang diteliti pada penelitian ini adalah pada ranah kognitif.
  • D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitianini adalah: “Apakah terdapat pengaruh penerapan model cooperative learning tipeability grouping terhadap hasil belajar fisika siswa kelas X SMA N 1 VII KotoSungai Sarik”.E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan modelcooperative learning tipe ability grouping terhadap hasil belajar fisika siswa kelas XSMA N 1 VII Koto Sungai Sarik.F. Manfaat Penelitian Bertolak dari tujuan penelitian di atas, maka diharapkan penelitian ini dapatdimanfaatkan untuk:1. Pengalaman dan bekal bagi penulis untuk melaksanakan proses pembelajaran dimasa yang akan datang.2. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi guru-guru sebagai pendekatan alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.3. Sebagai sumber ide, informasi dan referensi dalam pengembangan penelitian dalam bidang pendidikan.4. Memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Pendidikan Fisika STKIP YDB Lubuk Alung.
  • BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Landasan Teori 1. Belajar dan Pembelajaran Proses belajar merupakan suatu rangkaian peristiwa yang komplek, dimanaterdapat hubungan timbal balik antara guru sebagai pendidik dan siswa sebagai siswa.Dalam proses pembelajaran tersebut timbul perubahan tingkah laku peserta didikyang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pendapat tersebutdidukug oleh Slameto (1998:2) “Belajar adalah usaha yang dilakukan individu untukmemperoleh perubahan tingkah laku yang baru, sebagai hasil dari pengalamanpembelajaran individu itu sendiri”. Proses belajar dilakukan berkesinambungan,bertahap, bergilir dan terpadu yang keseluruhan itu menimbulkan warna dankarakteristik terhadap hasil belajar itu sendiri. Ciri-ciri perubahan tingkah laku seperti yang diungkapkan Slameto (1998:3)adalah: “(a) Perubahan yang terjadi secara sadar, (b) Perubahan dalam belajar terjadisecara kontinu dan fungsional, (c) Perubahan dalam belajar bersifat tetap, dan (d)Perubahan dalam belajar bersifat aktif dan positif”. Sadirman (2001:20) menyatakan“belajar adalah perubahan tingkah laku atau penampilan, serangkaian kegiatanmisalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya”.
  • Proses belajar dan pembelajaran haruslah sesuai dengan kebutuhan dan minat,sehingga memperoleh hasil yang memuaskan. Hal ini sesuai dengan pendapatNasution (1992:23) bahwa; “Belajar akan menjadi lebih menarik, manakala bahanpelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan minat anak”. Walaupun siswa berbedasecara individual, tetapi membutuhkan pengetahuan-pengetahuan yang relevan untukkehidupannya. Salah satu diantaranya adalah pengetahuan pada bidang IlmuPengetahuan Alam (IPA). 2. Pembelajaran Fisika Menurut KTSP Salah satu komponen penting dari KTSP adalah pelaksanaan. Pembelajaranyang berbasis KTSP dapat diartikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dankebijakan KTSP dalam suatu aktivitas pembelajaran sehingga siswa menguasaiseperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.Pelaksanaan pembelajaran yang berbasis KTSP tersebut dapat dilihat dari pendidikanIPA. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untukmempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta dapat menerapkannya dalamkehidupan sehari-hari. Melalui proses pembelajaran yang memberikan pengalamanlangsung, diharapkan siswa lebih memahami alam sekitar secara ilmiah. Fisika sebagai cabang dari IPA, yang mempelajari mengenai fenomena alam,diharapkan dapat memberikan pelajaran yang baik untuk keselarasan dalamkehidupan. Untuk itu, pembelajaran fisika menuntut siswa lebih banyak melakukan
  • kegiatan melalui pengamatan terhadap fakta. Dalam pembelajaran siswa diikutsertakan secara aktif agar dapat mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya.Dalam BSNP (2006:6) dijelaskan bahwa: Kegiatan mata pelajaran fisika dilakukan melalui kegiatan keterampilan proses meliputi eksplorasi (untuk memperoleh informasi, fakta), eksperimen dan pemecahan masalah (untuk penguatan pemahaman konsep dan prinsip). Setiap kegiatan pembelajaran bertujuan untuk mencapai kompetensi dasar yang dijabarkan dalam indikator dengan intesitas pencapaian kompetensi yang beragam. Melalui kegiatan keterampilan proses, siswa bisa mengkonstruksi pengetahuandan pengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yag lebih baik. Siswamembangun sendiri konsep yang dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan olehguru. Walaupun konsep yang ditemukan kurang tepat atau terjadi kesalahan, guruberperan memberi bantuan dan arahan (scalfolding). Kesalahan siswa merupakanbagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu menunjukkan bahwa ia sedangbelajar, ikut berpartisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. Prinsip belajar yang diterapkan adalah siswa sebagai subjek belajar, dimanadengan melakukan-mengkomunikasikan maka kecerdasan emosionalnya dapatberkembang, seperti kemampuan sosialisasi, empati dan pengendalian diri. Hal inibisa terlatih melalui kerja individual-kelompok, diskusi, presentasi, tanya-jawab,sehingga memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin diri. 3. Pembelajaran Kelompok Pembelajaran secara kelompok merupakan pembelajaran yang dilaksanakanoleh beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu. Belajar kelompok terutama
  • ditujukan untuk mengembangkan konsep/sub konsep yang sekaligusmengembangkan aktivitas sosial siswa, sikap dan nilai. Sesuai yang dikemukakanErnest (1975:8) “group methods are the strategier and tactics of dealing with groupinterpersonal relation and task function through the application of knowledge aboutgroup process and dynamics”. Menurut Robert L. Cilstrap dan Wilian R Martin dalam anonim (2009):“pembelajaran kelompok sebagai kegiatan yang biasanya berjumlah kecil yangdiorganisir untuk kepentingan belajar. Pengelompokan ini memberi solusi untukmengaktifkan siswa, karena menuntut kooperativitas dari beberapa individu”. Kelebihan kerja kelompok menurut Syaiful (200:67) antara lain sebagai berikut:a. Membiasakan siswa bekerja sama menurut paham demokrasi, memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan sikap musyawarah dan bertanggung jawab.b. Kesadaran akan adanya kelompok menimbulkan rasa kompetitif yang sehat, sehingga membangkitkan kemauan belajar dengan sungguh-sungguh.c. Melatih ketua kelompok menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan membiasakan anggotanya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.Dalam kerja kelompok terjadi interaksi antara anggota kelompok. Sifat egosentrissiswa akan berkurang dengan adanya pendekatan antar siswa dalam berbagai cara,terutama melalui diskusi. Siswa akan memperoleh pengalaman mental yangmemungkinkan otak bekerja dan mengembangkan cara-cara baru untukmelaksanakan presepsi dan memecahkan masalah. 4. Model Cooperative Learning
  • Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dansumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran ini, guru harusmemahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagaimodel pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar denganperencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu modelpembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaranCooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompokyang terstruktur. Struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993),yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal,keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Falsafah yang mendasari pembelajaranCooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homohomini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Cooperative Learning adalah suatu model belajar mengajar yang menekankanpada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesamadalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orangatau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yangberdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan model belajardengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannyaberbeda. Menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harussaling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.
  • Pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalamkelompok belum menguasai bahan pelajaran. Menurut Anita Lie (2002:28), bahwa “Model pembelajaran CooperativeLearning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasaryang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan”.Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisadianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur modelpembelajaran gotong royong yaitu :a. Saling ketergantungan positif Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untukmenciptakan kelompok kerja yang efektif, guru perlu menyusun tugas sedemikianrupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agaryang lain dapat mencapai tujuan mereka.b. Tanggung jawab perseorangan Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaranCooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukanyang terbaik. Guru yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learningmembuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masinganggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugasselanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.c. Tatap muka
  • Pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus diberikan kesempatanuntuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan parapembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti darisinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisikekurangan.d. Komunikasi antar anggota Unsur ini menghendaki agar siswa dibekali dengan berbagai keterampilanberkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaanpara anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untukmengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok jugamerupakan proses panjang. Proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat danperlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaanperkembangan mental dan emosional siswa.e. Evaluasi proses kelompok Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasiproses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama dengan lebih efektif. Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatifyang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat pada Table 2:Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Kooperatif
  • Fase Tingkah Laku Guru Fase 1: Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran Menyampaikan tujuan dan yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa memotivasi siswa belajar Fase 2: Guru menyajikan informasi kepada siswa Menyajikan informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan Fase 3: Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana Mengorganisasikan siswa ke caranya membentuk kelompok belajar dan dalam kelompok-kelompok membantu setiap kelompok agar melakukan belajar transisi secara efisien Fase 4: Guru membimbing kelompok-kelompok Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas bekerja dan belajar mereka Fase 5: Guru mengevaluasi hasil belajar tentang Evaluasi materi yang telah dipelajari atau masing- masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Fase 6: Guru mencari cara-cara untuk menghargai Memberikan penghargaan baik upaya maupun hasil belajar individu kelompok 5. Pembelajaran Ability Grouping Menurut John dan Hasan (2007) “ability adalah kemampuan, kecakapansedangkan grouping artinya kelompok”. Jadi, ability grouping adalah pembelajaranyang menuntut kemauan dan kecakapan siswa yang telah dikelompokkan berdasarkankemampuannya di dalam kelas.
  • Menurut Ngalim (2008) “ability grouping adalah pengelompokan siswa dalamkelas yang sama berdasarkan kemampuan akademisnya. Siswa yang tingkatpenguasaan akademisnya baik, dijadikan satu dan terpisah dengan kelompok siswadengan tingkat penguasaan akademisnya kurang baik”. Menurut Anita (2005:39)“ability grouping adalah praktik memasukkan beberapa siswa dengan kemampuansetara dalam kelompok yang sama”. Praktik ini bisa dilakukan pada pembagiankelompok di dalam satu kelas atau pembagian kelas di dalam satu sekolah. Jadi, didalam satu kelas ada kelompok siswa pandai dan kelompok siswa yang lemah, ataudalam satu sekolah terdapat kelas unggul dan kelas reguler biasa. Pengelompokan homogen berdasarkan prestasi belajar sangat disukai karenatampaknya memang bermanfaat. Pertama, pengelompokan cara ini sangat praktis danmudah dilakukan secara administratif. Kedua, pengelompokan homogen berdasarkanhasil prestasi dilakukan untuk memudahkan pembelajaran. Guru memangmenghadapi tantangan yang lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran yangberlainan kemampuan dalam satu kelompok atau satu kelas. Jika pembelajaran terlalucepat, siswa yang lambat akan tertinggal. Sebaliknya jika pembelajaran terlalulambat, siswa yang cerdas akan merasa bosan dan akhirnya mengabaikan ataumengacau kelas. Oleh karena itu, pengelompokan homogen dianggap bisamenyelesaikan masalah. Langkah pertama dalam membentuk pengelompokan homogenitas berdasarkankemampuan akademis siswa adalah mengurutkan siswa berdasarkan nilai rata-rata
  • ulangan harian, selanjutnya membentuk kelompok dengan melihat urutan nilainya,siswa yang nilainya berdekatan dijadikan satu kelompok. 6. Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Ability Grouping Sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian terdahulu, dalam pembelajaranmodel cooperative learning tipe ability grouping siswa di bagi berdasarkankemampuan akademisnya. Jadi siswa yang akademisnya baik ditempatkan samadengan yang kemampuan akademisnya baik juga. Begitu juga sebaliknya siswa yangkemampuan akademisnya kurang dijadikan satu kelompok dengan temannya yangmemiliki kemampuan yang sama, nantinya mereka berdiskusi dan saling berinteraksi. Anita (2005:41) menjelaskan langkah – langkah pembelajaran modelcooperative learning tipe ability grouping adalah sebagai berikut:a. Guru menjelaskan materi secara ringkas yang akan dipelajari siswab. Mengelompokan siswa secara homogen berdasarkan kemampuan akademisnya. Siswa diurutkan berdasarkan rata – rata nilai ulangan harian, kemudian dibentuklah kelompok dimana satu kelompok terdiri maksimal atas lima orang.c. Menentukan jenis diskusi yaitu diskusi kelompok kecil.d. Guru memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi, menyampaikan tujuan yang ingin dicapai dan aturan – aturan diskusi serta membagikan LDS.e. Dalam diskusi guru sebagai pemantau keaktifan kelompok.f. Guru mewajibkan kepada setiap kelompok untuk mengumpulkan LDS.g. Mendiskusikan materi yang telah didiskusikan oleh siswa bersama guru. Disini guru merangsang pertanyaan siswa.h. Guru menjelaskan materi pembelajaran secara lebih mendalam sebagai kelanjutan penjelasan pertemuan awal.i. Siswa diwajibkan membuat kesimpulan pada pokok materi yang telah dipelajari.j. Siswa mengumpulkan kesimpulan.Pembelajaran model cooperative learning tipe ability grouping siswa tidak menerimainformasi dan pengetahuan secara pasif tetapi secara aktif belajar bersama–sama,
  • saling membantu dengan teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.Dengan pemberian tugas membaca dan membuat kesimpulan materi siswa dapatmempertahankan pekerjaan kelompoknya. Tanya jawab dalam diskusi diharapkan dapat membantu tumbuhnya perhatiansiswa pada pelajaran, serta mengembangkan kemampuan untuk menggunakanpengetahuan dan pengalamannya, sehingga menghasilkan pengetahuan yang benar –benar bermakna. 7. Hasil Belajar Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari apapun yang terjadi dalam kegiatanbelajar baik di kelas, di sekolah, maupun di luar sekolah. Pengalaman yang di alamisiswa dalam proses pengembangan kemampuannya merupakan apa yangdiperolehnya dalam satu kegiatan atau secara terus menerus hampir dalam setiapkegiatan. Menurut Nana (1992:22) “hasil belajar adalah kemampuan – kemampuan yangdimiliki siswa setelah mengalami proses pembelajaran”. Selain itu Nana (1952:22)“membagi keterampilan dalam tiga macam yaitu: (1) keterampilan dan kebiasaan (2)pengetahuan dan pengertian (3) sikap dan cita – cita. Sedangkan menurut Gagnedalam Sudjana (1992:22) “membagi lima kategori dalam belajar yakni: (1) informasiverbal (2) keterampilan intelektual (3) strategi kognitif (4) sikap, dan (5)keterampilan motorik”. Menurut Bloom dalam Gulo (2002:28) proses pembelajaran
  • menempatkan hasil belajar dalam tiga ranah yaitu aspek kognitif, afektif, danpsikomotor. Hasil belajar ranah kognitif meliputi kemampuan yang menyatakan kembalikonsep atau prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan intelektual. Menurut Bloomdalam suharsimi (2006:117) “hasil belajar ranah kognitif meliputi: mengenal(recognition), mengingat (remember), memahami (comprehension), menerapkan(aplication), menganalisis (analysis), sintesis (syntesis), mengevaluasi (evaluation)”. Hasil belajar ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai yang dimiliki siswadalam proses pembelajaran. Menurut Gagne dalam Muslim (2005:15) “Sikap adalahsuatu keadaan yang ada di dalam diri seseorang yang mempengaruhi dan mengubahtindakan yang dipilihnya”.B. Kerangka Konseptual Pelaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan KTSP dituntut pembelajaranyang dapat meningkatkan aktivitas siswa. Dengan menerapkan model cooperativelearning tipe ability grouping diharapkan siswa menjadi lebih aktif, namun masihbanyak siswa yang kemampuannya rendah cenderung bergntung pada siswa yangkemampuannya tinggi, salah satu solusi yang dapat mengatasinya adalah denganpenerapan model cooperative learning tipe ability grouping. Dengan menerapkanmodel cooperative learning tipe ability grouping diharapkan guru akan lebih mudahmengontrol dan melihat sejauh mana pemahaman materi siswa yang kemampuanakademisnya rendah sehingga terjadi peningkatan hasil belajar. Selain itu siswa yang
  • awalnya tidak biasa berbicara di depan kelas diharapkan mampu berbicaramengeluarkan pendapatnya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1. Pembelajaran Berdasarkan KTSP Pembelajaran Fisika pada Model Siswa Cooperative Learning Tipe Guru Ability Grouping Hasil Belajar Gambar 1. Kerangka PemikiranC. Hipotesis Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan, makadapat dirumuskan sebagai berikut:Hi: Terdapat pengaruh yang berarti penerapan model cooperative learning tipe ability grouping terhadap hasil belajar fisika siswa kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik.Ho: Tidak terdapat pengaruh yang berarti penerapan model cooperative learning tipe ability grouping terhadap hasil belajar fisika siswa kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik.
  • BAB III MATODE PENELITIANA. Jenis Penelitian Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian ini adalaheksperimen semu menggunakan dua kelas sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelaskontrol. Arikunto (2005:207) menyatakan bahwa Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek selidik. Caranya adalah dengan membandingkan satu atau dua kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok pembanding yang tidak penerima perlakuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Control Group OnlyDesign. Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen adalah pembelajaran modelcooperative leearning tipe ability grouping, sedangkan pada kelas kontroldilaksanakan pembelajaran tanpa model cooperative leearning tipe ability grouping.Rancangan penelitian ini digambarkan pada Tabel 3.Tabel 3.1 Rancangan Penelitian Kelas Perlakuan Tes Akhir Eksperimen X T Kontrol - TSumber : Suryasubroto (2006:105)Keterangan :
  • X = Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimenT = Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrolB. Populasi dan Sampel1. Populasi Populasi merupakan keseluruhan dari objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik yang terdaftar pada semester II tahun ajaran 2011/2012 seperti yang terdapat pada Tabel 4. Tabel 3.2 Distribusi Siswa Kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik pada Tahun Ajaran 2011/2012 Kelas Jumlah Siswa X1 24 X2 39 X3 39 X4 38 X5 38 X6 39 X7 36 X8 37 X9 39 Sumber : Tata Usaha SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel yang diambil haruslah representatif, yang menggambarkan keseluruhan karakteristik dari suatu populasi. Teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah purposive sampling.
  • Penulis hanya memerlukan dua kelas yaitu, kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka pengambilan sampel dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut: a. Menetapkan kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai kelas sampel. b. Untuk melihat apakah kedua kelas ini memiliki kemampuan yang sama maka dilakukan uji kesamaan dua rata-rata dengan terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas kedua kelas sampel untuk melihat apakah kedua sampel tersebar normal. c. Setelah dilakukan uji normalitas, kemudian dilakukan uji homogenitas kedua kelas sampel. d. Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas kemudian dilakukan uji kesamaan dua rata-rata e. Setelah diperoleh dua kelas sampel yang terdistribusi normal dan homogen, maka diambil secara random, maka di dapat kelas eksperimen dan kelas kontrol/C. Variabel dan Data1. Variabel Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol. a. Variabel bebas yaitu model cooperative learning tipe ability grouping Variabel terikat yaitu hasil belajar siswa ranah kognitif setelah perlakuan diberikan
  • b. Variabel kontrol yaitu guru, materi pelajaran, buku sumber dan jumlah jam pelajaran yang diberikan adalah sama.2. Data Adapun data dalam penelitian ini adalah berupa data hasil belajar fisika siswa kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik setelah perlakuan diberikan, berupa data primer yang diperoleh langsung dari sampel yang diteliti. Data sekunder meliputi jumlah dan keadaan siswa.D. Prosedur Penelitian Secara umum, prosedur penelitian ini dapat dibagi atas tiga bagian:1. Tahap Persiapan a. Menetapkan jadwal penelitian b. Mengurus izin penelitian c. Menentukan populasi dan sampel d. Mempelajari materi fisika kelas X SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik e. Mempersiapkan dan menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi yang akan diajarkan f. Mempersiapkan instrumen penelitian g. Membagi kelompok untuk kelas eksperimen berdasarkan kemampuannya dengan mengetahui nilai ulangan harian yang sebelumnya h. Menyusun soal untuk tes akhir2. Tahap Pelaksanaan
  • Tabel 3.6. Skenario Pembelajaran Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol 1 2 1. Pendahulan 1. Pendahulan a. Guru menyampaikan apersepsi dan a. Guru menyampaikan apersepsi dan meminta siswa mengaitkan pelajaran meminta siswa mengaitkan yang lalu dengan pelajaran yang pelajaran yang lalu dengan akan dipelajari. pelajaran yang akan dipelajari. b. Guru memotivasi siswa dengan b. Guru memotivasi siswa dengan menyebutkan beberapa contoh menyebutkan beberapa contoh penerapan fisika yang ada penerapan fisika yang ada dilingkungan. dilingkungan. c. Menyampaikan indikator yang harus c. Menyampaikan indikator yang dicapai siswa setelah mempelajari harus dicapai siswa setelah materi tersebut. mempelajari materi tersebut. 2. Kegiatan Inti 2. Kegiatan Inti Eksplorasi Eksplorasi a. Guru menyampaikan pokok-pokok a. Guru menyampaikan pokok-pokok materi pelajaran dalam bentuk materi pelajaran dalam bentuk ceramah singkat (sintak a). ceramah singkat. b. Guru membentuk siswa dalam b. Guru memberikan contoh soal dan beberapa kelompok kecil soal latihan kepada siswa untuk berdasarkan kemampuannya untuk dikerjakan secara individu. membahas beberapa persoalan yang diberikan guru dalam lembar diskusi siswa (sintak b). c. Guru menentukan jenis diskusi yaitu c. Guru meminta siswa untuk diskusi kelompok kecil (sintak c). menyelesaikan soal latihan di
  • depan kelas secara individu.d. Guru memberikan pengarahan d. Siswa mengerjakan soal latihan di sebelum melaksanakan diskusi, depan kelas secara individu. menyampaikan aturan-aturan diskusi serta membagikan LDS (sintak d).e. Siswa melaksanakan diskusi e. Guru bersama siswa mengoreksi dikelompok, guru memantau kerja jawaban yang telah dikerjakan siswa sesuai dengan „ability’ oleh siswa. kelompoknya (sintak e).f. Hasil diskusi dipajang didepan kelas f. Siswa yang menjawab dengan dan dilanjutkan dengan diskusi kelas benar mendapat penghargaan dari yang dipandu guru, serta penekanan guru. pemahaman konsep fisika (sintak f).g. Siswa mendiskusikan materi yang g. Siswa yang mendapat telah didiskusikan oleh siswa penghargaan merasa termotivasi bersama guru dan guru merangsang untuk belajar. pertanyaan siswa (sintak g).h. Guru menjelaskan materi pembelajaran secara lebih mendalam sebagai kelanjutan kejelasan pertemuan awal (sintak h).i. Siswa diwajibkan membuat kesimpulan pada pokok materi yang telah dipelajari (sintak i).j. Siswa mengumpulkan kesimpulan (sintak j).Elaborasi Elaborasia. Guru menjelaskan secara singkat a. Guru menjelaskan materi kepada
  • tentang materi kepada siswa. siswa secara singkat.b. Guru memberikan kesempatan b. Guru memberikan kesempatan bertanya kepada siswa mengenai bertanya kepada siswa mengenai hal-hal yang belum dimengerti oleh hal-hal yang belum dimengerti siswa. oleh siswaKonfirmasi Konfirmasia. Guru memberikan komentar hasil a. Guru memperiksa jawaban, diskusi dan meluruskan konsep- memberikan penguatan, dan konsep yang salah. umpan balik terhadap jawabanb. Guru memberikan kesempatan siswa. bertanya kepada siswa mengenai hal-hal yang masih belum dimengerti.3. Penutup 3. Penutupa. Siswa bersama guru menyimpulkan a. Siswa bersama guru pelajaran. menyimpulkan pelajaran.b. Guru memberikan tugas rumah b. Guru memberikan tugas rumah berupa soal-soal sesuai dengan berupa soal-soal sesuai dengan materi yang telah dipelajari. materi yang telah dipelajari.c. Guru menyebutkan materi yang akan c. Guru menyebutkan materi yang dibahas pada pertemuan berikutnya. akan dibahas pada pertemuan berikutnya.3. Tahap Akhir a. Memberikan tes akhir pada kedua kelas sampel, guna melihat hasil perlakuan yang diberikan.
  • b. Mengolah data dari kedua sampel, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. c. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil yang didapatkan sesuai dengan teknik analisis data yang diinginkan.E. Instrumen Penelitian Instrumen merupakan alat pengambilan data untuk mengungkapkan hasilbelajar siswa. Pada ranah kognitif dengan tes hasil belajar, sedangkan pada ranahafektif dengan lembaran observasi. Pada penelitian ini hasil belajar yang ditinjauadalah hasil belajar fisika pada ranah kognitif.1. Instrumen Ranah Kognitif Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen berbentuktes hasil belajar ranah kognitif. Tes yang diberikan berupa soal objektif yang disusunsesuai dengan materi yang diberikan selama perlakuan berlangsung dan dilakukansetelah penelitian berakhir. Agar instrumen menjadi alat ukur yang baik, maka perludilakukan langkah-langkah sebagai berikut :1. Membuat kisi-kisi tes2. Menyusun tes berdasarkan kisi-kisi tes3. Uji coba tes
  • Sebelum tes diberikan kepada siswa kelas sampel, terlebih dahulu tes diuji pada kelas lain di sekolah SMAN 1 2x11 Enam Lingkung. Sekolah ini dipilih karena nilai rata-rata kelasnya sebanding dengan kelas sampel di SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik.3. Analisis soal tes Untuk mendapatkan kualitas soal yang baik maka dilakukan beberapa langkah berikut:a. Analisis Validitas Validitas adalah ukuran yang menujukan tingkat-tingkat kevalidan ataukesahihan sesuatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 2002:144). Sebuah instrumendikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang ingin hendak diukur. Dalampenelitian ini validitas yang dilihat adalah validitas isi. Sebuah tes dikatakan memilikivaliditas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atauisi pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan soal yang validmaka dalam penyusunan soal disesuaikan dengan kurikulum dan materi yangdiberikan.b. Analisis Reliabilitas Reliabilitas menunjukkan bahwa suatu tes cukup dapat dipercaya untukdigunakan sebagai pengumpulan data karena tes tersebut sudah baik. Untuk
  • menentukan reliabilitas tes dalam penelitian digunakan rumus Kuder Richarson-20(KR-20) yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2008:100) yaitu : 2 n s pqr11 2 ..................................................................................... (1) n 1 sDengan : r11 = Reliabilitas tes secara keseluruhan p = Proporsi siswa yang menjawab benar q = Proporsi siswa yang menjawab salah Ʃpq = Jumlah hasil kali p.q n = Banyak item S = Standar deviasi tesDengan kriteria sebagai berikut : 0 . 80 r11 1 . 00 reliabilitas tinggi sekali 0 . 60 r11 0 . 80 reliabilitas tinggi 0 . 40 r11 0 . 60 reliabilitas sedang 0 . 20 r11 0 . 40 reliabilitas rendah 0 . 00 r11 0 . 20 sangat rendahReliabel yang digunakan adalah yang besar dari 0,40 dan kecil dari 0,60.
  • c. Analisis Daya Beda Daya beda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yangpandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuanrendah). Untuk menentukan besarnya daya beda soal digunakan rumus yangdinyatakan oleh Arikunto (2008:213) yaitu: BA BB D PA PB ……..…………………………………….(2) JA JBDengan : D = daya pembeda JA = banyak peserta kelompok atas JB = banyak peserta kelompok bawah BA = banyak peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar BB = banyak peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar PB = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benarKriteria yang digunakan untuk menentukan daya beda adalah : 0,00 ≤ D ˂ 0,20 : jelek 0,20 ≤ D ˂ 0,40 : cukup 0,40 ≤ D ˂ 0,70 : baik 0,70 ≤ D ˂ 1,00 : baik sekali
  • Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka soal yang diambil adalah soal yangmemiliki daya pembeda ≥ 0,02d. Analisis Indeks Kesukaran Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar.“Bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya suatu soal disebut indekskesukaran” (Arikunto, 2008:207). Untuk menentukan besar tingkat kesukaran soaldigunakan rumus – rumus yang dinyatakan oleh Arikunto (2008:208), yaitu: B P ……………….…………………………………..(3) JS Dengan : P = indeks kesukaran B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar JS = jumlah seluruh peserta tesKriteria yang digunakan untuk menentukan daya beda adalah: 0,00 ˂P ≤ 0,30 : sukar 0,30 ˂P ≤ 0,70 : sedang 0,70 ˂P ≤ 1,00 : mudahBerdasarkan kriteria yang telah ditetapkan maka soal yang diambil adalah yang indekkesukarannya antara 0,30 ˂ P ≤ 0,70. Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah tes hasil yang berbentukobjektif. Penyusunan soal dengan menggunakan validitas isi yaitu sesuai dengantujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Selanjutnya dilakukan uji coba pada kelas
  • X di SMA N 1 2x11 Enam Lingkung. Soal yang diujikan adalah sebanyak 40 butirsoal, setelah dianalisis soal maka diperoleh 25 butir soal yang layak pakai. Jadi, ada25 soal yang digunakan untuk soal tes akhir yang memenuhi tujuan pembelajaran(Lampiran XIII).F. Teknik Analisis Data Analisis data pada penelitian ini hanya dilakukan pada kognitif dan afektif.Analisis data bertujuan untuk menguji diterima atau ditolaknya hipotesis yangdiajukan dalam penelitian.1. Ranah Kognitif Teknik analisis data menggunakan uji kesamaan dua rata-rata. Sebelum ujikesamaan dua rata-rata, terlebih dahulu dilakukan uji parameter populasi sehubungandengan uji normalitas dan uji homogenitas.a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasiyang terdistribusi normal. Uji normalitas ini menggunakan uji lilliefors denganmengikuti langkah-langkah sebagai berikut:1) Data (X1, X2, . . . . ,Xn) yang diperoleh diurutkan dari data yang paling kecil hingga data terbesar2) Data (X1, X2, . . . ,Xn) dijadikan bilangan baku (Z1, Z2, . . . ,Zn) dengan rumus: Zi = Dengan : Xi = skor yang diperoleh siswa ke-i
  • Xr = skor rata-rata S = simpangan baku3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (Zi) = P (Z < Zi)4) Denngan menggunakan proporsi Z1, Z2, Z3, . . . ,Zn yang lebih kecil atau nama dengan Z, jika proporsi ini sama dengan S (Zi) maka: S (Zi) =5) Menghitung selisih F (Zi) – S (Zi) yang kemudian ditentukan harga mutlaknya6) Mengambil harga mutlak selisih yang paling besar yang disebut Lo7) Membandingkan nilai Lo dengan nilai kritis Lt yang terdapat pada α = 0,05. Kriteria adalah hipotesis tersebut normal jika Lo lebih kecil dari Lt.b. Uji homogenitasUji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai variansyang homogen atau tidak, dengan langkah-langkah:1) Mencari varians masing-masing data kemudian dihitung harga F F= Dengan : F = varians kelompok data S1 = varians terbesar S2 = varians terkecil
  • 2) Jika harga F dapat diperoleh, bandingkan harga F tersebut dengan harga Ft, jika F < Ft maka kedua kelompok data mempunyai varians yang homogen dan demikian pula sebaliknya.c. Uji Hipotesis Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah hipotesis penelitian diterimaatau ditolak. Untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan dua rata-rata. Sampelterdistribusi normal dan dua kelompok data homogen, maka digunakan uji t denganpersamaan: t= S2 =Dengan : = nilai rata-rata kelas eksperimen = nilai rata-rata kelas kontrol S1 = standar deviasi kelas eksperimen S2 = standar deviasi kelas kontrol S = standar deviasi gabungan n1 = jumlah siswa kelas eksperimen n2 = jumlah siswa kelas kontrolKriteria pengujian adalah terima Ho jika: -t1-1/2 α < t < t1-1/2 α pada taraf signifikan 0,05.