Terjemahan shafwah attafsir
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Terjemahan shafwah attafsir

on

  • 444 views

douzo

douzo

Statistics

Views

Total Views
444
Views on SlideShare
444
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
4
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Terjemahan shafwah attafsir Terjemahan shafwah attafsir Document Transcript

  • 5. Shafwah al-Tafasir Salah satu tafsir al-Shabuni yang paling popular adalah Shafwah al-Tafasir, kitab ini terdiri dari tiga jilid didalamnya menggunakan metode-metode yang sederhana, mudah dipahami, dan tidak bertele-tele (tidak menyulitkan para pembaca). Ali al-Shabuni, telah merampungkan tafsir ini (Shafwah al-Tafasir), secara terus menerus dikerjakannya non-stop siang malam selama lebih kurang menghabiskan waktu kira-kira lima tahun, dia tidak menulis sesuatu tentang tafsir sehingga dia membaca dulu apa-apa yang telah ditulis oleh para mufasir, terutama dalam masalah pokok-pokok kitab tafsir, sambil memilih mana yag lebih relevan (yang lebih cocok dan lebih unggul). Shafwah al-Tafsir merupakan tafsir ringkas, meliputi semua ayat A-Qur’an sebagaimana yang terdapat dalam judul kitab : Jami’ baina al-Ma’tsur wa al-Ma’qul. Shafwah al-Tafasir ini berdasarkan kepada kitab-kitab tafsir terbesar seperti al-Thabari, al-Kasysyaf, al-Alusi, Ibn Katsir, Bahr al-Muhith dan lain-lain dengan uslub yang mudah, hadits yang tersusun ditunjang dengan aspek bayan dan kebahasaan. Al-Shabuni mengatakan dalam pendahuluan tafsirnya, tentang penjelasan tujuan ditulisanya kitab ini, menurutnya ‘apabila seorang muslim terpesona kepada masalah-masalah duniawi tentu waktunya akan disibukan hanya untuk menghasilkan kebutuhan hidupn saja hari-harinya sedikit waktu untuk mengambil sumber referensi kepada tafsir-tafsir besar yang dijadikan referensi ulama sebelumnya dalam mengkaji kitab Allah Ta’ala, utuk menjelaskan dan menguraikan maksud ayat-ayatnya, maka diantara kewajiban ulama saat ini adalah mengerahkan kesungguhannya untuk mempermudah pemahaman manusia pada Al-Qur’an dengan uslub yang jelas. Bayan yang terang, tidak terdapat banayak kalimat sisipan yang tidak perlu, tidak terlalu panjang, tidak mengikat, tidak dibuat-buat, dan menjelaskan apa yang berbeda dalam Al-Qur’an yaitu unsure keindahan ‘Ijaz dan Bayan bersesuaian dengan esensi pemb9caraan, memenuhi kebutuhan pemuda terpelajar, yang haus untuk menambah ilmu pengetahuan Al-Qur’an al-Karim’. Kata al-Shabuni, ‘saya belum menemukan tafsir al-Kitabullah ‘Azza Wajalla yang memenuhi kebutuhan dan permasalahannya sebagaimana disebutkan diatas dan menarik perhatian (orang) mendalaminya, maka saya terdorong untuk melakukan pekerjaan penyusunan ini. Seraya memohon pertolongan Allah al-Karim saya berinama kitab ini : “Shafwah al-Tafasir” karena merupakan kumpulan materi-materi pokok yang ada dalam tafsisr-tafsir besar yang terpisah, disertai ikhtisar, tertib, penjelasan dan bayan’. Adapun karya yang lainnya adalah :Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir, Mukhtashar Tafsir al-Thabari, Jammi al-Bayan, al-Mawarits fi al-Syari’ah al-Islamiyah ‘ala Dhau al-Kitab dan Tanwir al-Adham min Tafsir Ruh al-bayan B. Deskripsi Umum Kitab Tafsir Shafwatu Al-Tafasir 1. Latar Belakang Penulisan Sebuah karya, apapun jenisnya termasuk kitab tafsir dalam masa pembuatannya, pasti tidak dapat dimungkiri dari aspek kultur-sosial yang mengelilinginya. Hal itu yang sering menjadi latar dari terciptanya karya tersebut. Ada beberapa faktor yang mendasari dari lahirnya buah karya dari tangan-tangan telaten; permasalah jaman/kebutuhan pasar, pesanan penguasa, tuntutan ilmiah, eksplorasi murni dan lain sebagainya. Latar semacam ini yang mempengaruhi sebuah karya berorientasi sekaligus memberikan pancaran nilai yang dikandung. Pada tahun 1930 lahir
  • sebuah karya tafsir dari tangan seorang ilmuwan kelahiran Aleppo yang menambah deretan khazanan ke-ilmu-an ke-Islam-an, yaitu “Shafwah Al Tafasir” yang disusun selama kurang lebih lima tahun sekaligus memberi kesan tersendiri bagi para sebagian kalangan ulama dan para pemerhati lainnya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya karya yang dilahirkan Al Shabuni ini juga memiliki latar yang memberikan warna terhadap alur fikirannya dlam menafsirkan AlQuran. Dari data yang didapat mengenai latar belakang penyususnan kitab ini beliau menyebutkan :  Mengikuti uswah ulama salaf yang menulis karya untuk menjunjung kalimatullah hiya al‘ulya, member pemahaman terhadap kebutuhan umat dalam memahami agama.  Keberadaban Al-Quran itu sendiri yang kekal dengan penuh keajaiban-keajaiban, penuh dengan mutiara-mutiara kehidupan, senantiasa memicu akal untuk “bermain”, membuat hati resah jika tidak mengkajinya;  Kenyataan semua ilmu akan hilang dimakan jaman, kecuali ilmu Al-Quran akan tetap membuka ruang yang luas untuk dikaji bak hamparan lautan yang memerlukan penjabaran dari kalangan ahli ilmu (ulama) dengan kapasitas yang memadai guna untuk mengeluarkan manisnya kandungan Al-Quran;  Umat muslim lebih disibukan dengan urusan dunia, sedikit sekali hari-hari mereka yang dipergunakan untuk mengkaji kitab-kitab tafsir terutama kitab-kitab tafsir induk, sementara kewajiban ulama tetap mesti menjadi jembatan bagi pemahaman umat terhadap Al-Quran dengan memberikan kemudahan dalam mengkajinya;  Belum terdapat kitab tafsir pada masanya yang dapat memenuhi hajat umat, memicu semangat mereka. Dari pemaparan beliau diatas nampaknya kita bisa melihat bagaimana sosio masyarakat yang ada ketika beliau menciptakan kitab tafsir ini. Jelas siapa yang menjadi sasaran serta bagaiman respon tafsirnya terhadap laju kultur dan kebutuhan lingkungan masyarakat dimana beliau berada. 2. Tujuan Sudah barang tentu mempunyai faidah yang sangat tinggi dan berkedudukan mulia yang menjadi tujuan dari penulisan kitab ini. Kita bisa melihat dari kata sambutan yang terdapat dalam muqodimah kitab ini, tidak lebih dari tujuh ulama dan delapan termasuk beliau yang memberikan kata pengantar atau prolog. Sampai sekarang baru dapat diasumsikan hal-hal yang menjadi tujuan dari penulisan Shafwah Al Tafaasir ini :  Memeberikan pemaparan dan penjelasan dengan memepermudah gaya penyampaiannya  Memberikan faidah berupa jawaban-jawaban terhadap realita umat pada masanya. 3. Gaya Pembahasan/sistema ka penulisan Untuk memepermudah dari apa yang menjadi tujuan beliau dalam upaya memberi pencerahan dalam pemecahan permasalahan jaman maka gaya pembahasan yang beliau lakukan yaitu melalui tahapan-tahapan metode. Yaitu :  Mengumpulkan dan meng-intisari kitab-kitab tafsir induk serta mengambil argument yang paling shahih  Menyusun kategorisasi ayat-ayat untuk menjelaskan tiap-tiap permasalahan dalam surat dan ayat  Menafsirkan kandungan surat secara ijmali seraya menjelaskan maksud-maksudnya yang
  • mendasar  Membahas munasabah antar ayat sebelum dan sesudahnya  Menjelaskan aspek kebahasaannya secara etimologi dan menjelaskan perbandingannya dengan pendapat ahli Bahasa Arab  Menjelaskan Sabab al Nuzul  Menjelaskan gaya bahasanya (balaghah)  Menjelaskan faidah-faidah dan hikmah-hikmah surat dan ayat  Memberikan istinbath Pujian Ulama terhadap Kitab Al Shafatu Al Tafasir 1. Dr. Abdul Halim Mahmud (Rektor Universitas Al Azhar) * Kitab Shafwah Al Tafsir bebas/moderat dari keberfhakan * Mengambil pendapat ahli tafsir paling shahih *Berupa ringkasan dan memiliki karakter memudahkan. Apabila seseorang menggunakan dari sebagian akalnya maka sungguh ia tidak akan ragu untuk mengambil kitab ini karena penyusunnya (Al Shabuni) mencurahkan tenaga, fikiran untuk menyesuaikan pilihannya dengan mengambil dari kitab-kitab tafsir induk yang bersumberkan kepada ilmu dan bashirah (mata batin) 2. Abdullah bin Humaid (Ketua majlis ta’lim dewan agung Masjidil Haram) • Penyusun mencurahkan semua ijtihad dalam penyusunan kitab ini • Penyusun memilih pendapat mufasir yang paling sahih • Memilih tafsiran yang paling rajah • Menggabungkan metode tafsir bil ma’tsur dan bil ma’qul • Pemaparannya dengan menggunakan gaya bahasa yang jelas dan lugas • Mengambil hadits-hadits yang mudah difahami • Menyebutkan maksud asas-asas surat dengan ringkas • Menjelaskan munasabah surat dan ayat • Menjelaskan sababun nuzul surat dan ayat • Menjelaskan tafsir ayat per ayat tanpa menjelaskan kandungan I’rabnya • Mejelaskan kaitan ayat dengan mengambil istinbath • Menjelaskan makna-makna ayat dari sudut balaghahnya 3. Syaikh Abul Hasan Ali Hasan Al Nadwi * Kitab tafsir ini menunjukan dari berbagai keleluasaan ilmiyah; mulai dari tafsir, hadits, sirrah dan tarikh. Memudahkan para pembacanya, terutama pada masa sekarang lebih mendekati apa yang dibutuhkan pada pemecahan permasalahan-permasalahan kekinian sehingga orang akan melek terhadap beberapa pendapat , pandangan dan madzhab-madzhab. Oleh sebab itu, kitab ini besar faedahnya, mulya kedudukannya lantaran tidak hanya fikiran yang penulis curahkan melainkan waktu, tenaga, harta dan lain-lain * Karya ini disusun dengan upaya penilaian ilmu tafsir yang cukup lama sehingga memberikan gambaran yang mendalam dari sisi kualitas tafsirnya
  • 4. Dr. Abdullah ‘Umar Nashif * Dalam rangka memahami ayat Al-Quran, kehadiran kitab tafsir ini memberikan kemudahan kepada umat dalam penyampaiannya, karena Allah swt telah mencurahkan kepada sahibul kitab ini hidayah taufiq. 4. Sumber-sumber Dalam upaya menjelaskan maksud-maksud makna ayat dalam kitab tafsirnya ini, beliau mengambil berbagai rujukan dari kitab-kitab tafsir ulama salaf : • Dalam menjelaskan sisi kebahasaan beliau mengambil beberapa rujukan, seperti: alZamakhsyari, tafsir al-Baidlawi, Mu’jam li al-fadz Al-Qur’an milik al-Raghib al-Asfahaniy, alHarawi, al-Khothobi, Ibn Faris, Tsa’lab, al-Hajjaj, al-Asma’iy, al-Fara’, Bahr al-Muhith, alMishbah, Kasyf al-Ma’ani tafsir Ibn Jama’ah, al-Kasyasyaf, Majaz al-Qur’an, Tahdzib al-Lughah, al-Shihah milik al-Jauhari, al-Qomus, al- Shawi ‘ala al-Jalalain, Lisan al-‘Arab, dll • Dalam menafsirkan ayat beliau mengambil beberapa rujukan, seperti pendapat/fatwa sahabat; seperti Ibn ‘Abbas, tafsir Ibn Katsir dan mukhtasharnya, Tafsir Abu Su’ud, Ashab alSunan, tafsir al-Thabari dan beberapa penafsir lain termasuk mufassir yang beliau ruju’ dalam menjelaskan sisi kebahasaan • Dalam menjelaskan sisi munasabah, diantaranya beliau merujuk tafsir Abu Su’ud • Dalam menjelaskan sisi balaghah diantaranya beliau merujuk pendapat Sahabat Sa’ad, ulama ahli bahasa, seperti al-Raghib, mufassir, seperti Talkhish al-Bayan milik al-Ridha, al-Futuhat, alTafsir al-Kabir, Talkhis al-Bayan, Rawai’ al-Bayan dll • Dalam sisi sabab al-Nuzul, diantaranya beliau merujuk pendapat sahabat Ibn ‘Abbas, Zad alMaisir, Asbab al-Nuzul milik al-Wahidi, al-Bukhari dll • Dalam sisi fawaid, diantaranya beliau meruju’ pada perkataan sahabat seperti Ibn ‘Abbas, Ibn Mas’ud; tabi’in, seperti Imam Mujahid, mufassir seperti al-Qurthubiy, al-Qusyairiy, Mahasin alTa’wil, tafsit al-Qasimi, al-Tashil fi ‘Ulum al-Tanzil, Irsyad al-‘Aql al-Salim, al-Tashil milik Ibn alJizi, al-Tahqiq al-Mufashal, al-Dur al-Mantsur, Ibn al-Mardawaih, al-Bazar, al-Thabrani dll C. Kecenderungan Teologis Mengingat penulis kitab shafwatu Al-Tafasir adalah seorang ulama yang hidup pada masa dimana aliran-aliran teolog telah ada (sementara belum muncul lagi aliran teolog yang baru), maka sudah dipastikan aliran pemahaman teologisnya akan mengikuti atau sefaham dengan para aliran teolog pendahulunya. Dibawah kami akan cantumkan beberapa ayat Al-Quran yang mendeskripsikan arus pemikiran faham teologi keberfihakannya. 1. Tentang Dosa Besar (Q.s Al- Maidah 44, 45 dan 47)            Ayat ini beliau tafsirkan; “Barang siapa yang bertahkim dengan selain syari’at Allah maka orang tersebut adalah kafir”          Ayat ini beliau tafsirkan : “yaitu orang-orang yang berlebih-lebihan dalam kedzaliman untuk menyalahi syari’at Allah”              Ayat ini beliau tafsirkan : “orang yang sengaja keluar dari iman dan keta’atan terhadap Allah”.
  • 2. Tentang pahala dan siksaan (Qs. Al-Nisa : 116, 123 dan 124)                    • Ayat ini beliau tafsirkan : “Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain syirik kepada orang yang dikehendaki-Nya”.                    Ayat ini beliau tafsirkan : “ barang siapa yang berbuat dosa maka ia pasti akan mendapat siksaan dalam batas waktu yang lama atau dekat”               •     Ayat ini beliau tafsirkan : “barang siapa yang melakukan amalan-amalan shaleh baik laki-laki maupun perempuan dengan syarat iman, niscaya Allah akan memebalasnya dengan surga dengan tidak akan diingkari balasan tersebut; membalas dengan balasan yang spele. Sebab Allah memiliki sifat al-Raman al-Rohim” 3. Tentang sifat Tuhan (Qs. Al- An’am : 103 : )                    Ayat ini beliau tafsirkan : “ayat ini menafikan kemampuan akal manusia untuk dapat mengetahui Tuhan dan ayat ini pula tidak menafikan manusia dapat melihat Allah. Oleh sebab itu Allah swt tidaklah berfirman : “la tarohu al abshar”. Maka barang siapa yang meyakini manusia tidak dapat Allah pada hari kiamat nanti seperti pemahaman Mu’tazilah maka ia telah menjauh dari kebenaran dan menyesatkan karena telah menyalahi dalil dalil Quran dan Sunnah Mutawatir. Yang menyalahi Al-Quran adalah bertentangan dengan ayat ‫وﺟﻮه ﯾﻮﻣﺌﺪ ﻧﺎﺿﺮة . اﻟﻰ رﺑﮭﺎ‬ ‫ﻧﺎ ظﺮة‬sedangkan hadits mutawatirnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam alBukhori ‫“ ..……اﻧﻜﻢ ﺳﺘﺮون رﺑﻜﻢ ﻛﻤﺎ ﺗﺮون ھﺪا اﻟﻘﻤﺮ ﻻ ﺗﻀﺎ ﻣﻮن ﻓﻰ رؤﯾﺘﮫ‬ Dari ketiga tema pembahasan diatas kita belum bisa berasumsi final terkait kecenderungan paham beliau dalam urusan teologi mengingat tidak terdapatnya perbandingan antara sesama paham dalam aliran teologi yang telah ada. Dibawah kami sajikan data-data berupa perbandingan tafsir beliau dengan pemahaman aliran paham teologi, yaitu sebagai berikut: D. Kecenderungan Fiqih Sebagaimana diketahui, fikih memebicarakan banyak hal terkait perkembangan ibadah yang telah jelas nashnya didalam Al-Quran dan As Sunnah, namun diantaranya masih terdapat ruang untuk bisa ijtihad terhadapnya. Disini para fuqoha banyak melakukan kajian secara mendalam, sehingga diantaranya terlahirlah berbagai macam aliran seiring perbedaan manhaj dan thuruq yang mereka lakukan, dan pada perkembangannya, upaya fuqoha ini menjadi madzhab yang berdiri diatas khazanah ilmu-ilmu ke-Islaman. Sebagaimana diatas, disisnipun akan disajikan beberapa penafsiran beliau terkait ayat-ayat yang dipandang padanya mengandung fiqih, serta kalaupun juga dimungkinkan aspek kecenderungan aliran fiqih beliau. Yaitu sebagai berikut : 1. Tentang Basmalah, apakah ia termasuk bagian ayat dalam Al-Quran? Dalam membahas maslah ini beliau mengemukakan tiga pendapat imam madzhab :
  • a. Syafi’iyah Syafi’iah beristidlal dengan dalil-dalil naqli dan aqli yang menyatakan bahwa basmalah termasuk kedalam surat alfatihah dan semua surat dalam Al-Quran kecuali surat al Taubah. Dalil-dalil naqli tersebut adalah : Pertama : hadits yang diriwayatkan Imam Daroquthni yang diterima dari sahabat Abu Hurairah, Nabi saw bersabda : “apabila kalian membaca “Alhamdulillahi robb al‘alamin” maka bacalah “Bismillahirrahmaniorrahim” karena sesungguhnya ia Ummu Al-Quran, Ummu al-Kitab, Sab’u al-Matsani. Dan Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu ayat yang termasuk kedalamnya”. Kedua, hadits yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi yang beliau terima dai sahabat ibnu Abbas ra, beliau menerangkan bahwasanya Rosulullah saw memulai shalat dengan Bismillahirrahmanirrahim” Ketiga, hadits yang diriwayatkan dari Imam al-Bukhori yang diterima dari sahabat Anas ra bahwasanya beliau ditanya tentang bacaan Rosulullah saw, beliau menjawab : “adalah bacaan beliau bernada panjang-pnjang……” lantas beliau membacanya (Bismillahirrahmanirrahim*alhamdulillahirabbilalamin*arrahmanirahim*malikiyaumidin) Keempat, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, al-Nasai, al-Turmidzi dan Ibn Majah dari sahabat Anas ra. ; “suatu hari kami bersama Rasululloh saw, lantas beliau menengadahkan kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya :’ apa yang membuat anda tersenyum wahai Rasululloh?’, beliau menjawab ‘telah turun surat kepadaku barusan’, lantas beliau membaca :’      ‫ . ﺑﺴﻢ ﷲ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﯿﻢ‬      ”      Adapun dalil ‘aqli yang dijadikan hujjah oleh syafi’iyah adalah : mushaf al Imam dituliskan padanya basmalah pada surat al-fatihah dan semua surat dalam Al-Quran kecuali surat alTaubah, demikian pula basmalah dicantumkan dalam mushaf-mushaf yang disebar keberbagai Negara, dengan asumsi bahwa mutawatir hukumnya, bahwa dikalangan para sahabat sepakat untuk tidak menuliskan sesuatu dalam Al-Quran yang selain Al-Quran….. b. Malikiyah Mereka beristidlal bahwa basmalah bukan termasuk ayat dalam surat al-fatihah, dan bukan pula termasuk dalam surat diseluruh Al-Quran, hanya saja penulisan basmalah tersebut berupa “tabarruk” (meminta berkah). Beliau mengemukakan beberapa dalil : Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat ‘Aisyah ra, beliau berkata : “ adalah Rosululloh saw memulai shalat dengan takbir, dan membaca ‘Alhamdulillahirobbilalamin’” Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Shahihain dari sahabat Anas ra, beliau berkata : “aku shalat dibelakang Rosululloh, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, mereka memulai bacaan shalat dengan ‘Alhamdulillahirobbilalamin’” c. Hanafiyah Golongan Hanafiyah memandang bahwa pencantuman basmalah pad mushaf menunjukan bahwa ia adalah termasuk bagian Al-Quran, akan tetapi tidak menunjukan ia merupakan bagian ayat dalam seluruh surat pada Al-Quran. Beberapa hadits yang menunjukan tidak dijaharkannya basmalah ketika membaca alfatihah pada shalat jahar itu menunjukan bahwa ia bukan termasuk alfatihah. Mereka mengambil kesimpulan bahwa basmalah termasuk ayat yang sempurna yang merupakan bagian dari ayat Quran, sementara selain pada surat Al-Naml hanyalah merupakan Fasilatu al suwar. Untuk menguatkan pendapatnya, mereka
  • menggunakan dalil : Pertama, hadits riwayat abu Daud dari beberapa orang sahabat, mereka berkata : “kami tidak mengetahui ketentuan untuk surat-surat sehingga turun ayat “bismillahirrahmanirrahim” Kedua, hadits riwayat imam al hakim dan abu Daud dari ibnu Abbas ra, : “bahwasanya keadaan Rosulullah saw tidak mengetahui fashilah surat-surat sampai turun ayat “bismillahirrahmanirrahim” Pada kasus ini Ali al-Shabuni lebih cenderung kepada madzhab Hanafiyah. Pengakuan ini dapat kita lihat dalam kitab Rowai’ul Bayan Tafsiru Ayua l Ahkam Minal Quran, (Beirut : 2002), Daar al-Kutub al-Islamiyyah, cet ke 1, Juz 1, hlm. 40 beliau mengungkapkan : “setelah dihadirkan beberapa dalil dan istidlal dari setiap kelompok madzhab, maka kami berkesimpulan : semoga apa yang menjadi pendapat Hanafiyah adalah pendapat yang paling rojih dari pendapt-pendapat yang lainnya, karena ia merupakan penengah dari dua pendapat sebelumny yang berlawanan” 2. Tentang maksud had dzimmi muhson Dalam pembahasan ini beliau hanya mengemukakan dua pendapat saja : a. Hanafiyah Pertama, Hadits riwayat Ishaq ibnu Rohawaih dan al Daroquthni dari sahabat Ibn ‘Umar, tentang: “ barang siapa yang musyrik kepada Allah maka tidak termasuk kategori muhson, para sahabat berkata : yang disebut dengan muhson adalah “al rojmu” (rajam). Adapun nabi pernah merajam para yahudi adalah berdasarkan hukum taurot”. Kedua, mereka beristidlal juga bahwa ihson alqodzfu (dalam Islam) disepakati secara ijma, demikian pula ihson al-rojmi. Ketiga, mereka berpendapat, bahwa menyempurnakan nikmat hak sesama muslim adalah lebih agung, maka oleh sebab itu hukum perdata lebih ditekankan dan balasannya pun diperberat. Mereka beristidlal dengan ayat “wahai istri-istri Nabi barang siapa diantara kalian yang melakukan kejelekan yang nyata maka kelak akan mendapat balasan yang berlipat ganda” b. Syafi’iyah Pertama, mereka beristidlal dengan umumnya sabda nabi :”apabila mereka menerima jizyah maka jizyah itu untuk mereka bukan untuk kaum muslimin, dan demikian juga dosanya untuk mereka dan bukan untuk kaum muslimin” Kedua, tentang hadits :”barang siapa yang musyrik kepada Allah maka bukan termasuk muhson”. Hanya saja yang dimaksud dengan muhson diatas adalah bukan menerangkan siksaan untuk qodzaf musyrik sebagaimana wajib memperlakukan terhadap qodzaf muslim yang lemah. Ketiga, sesungguhnya pezina kafir sebagaimana yang berzina dari kalangan muslim dalam hal membutuhkan al jzru, oleh sebab itu maka ia pun dirajam. Pada pembahasan ini, Ali Al Shabuni mengambil pendapat Imam al-Syafi’i. Beliau mengatakan : “semoga apa yang menjadi pendapat Syafi’iyah lebih rojih dikarenakan kuatnya dalil-dalil mereka tentang perbuatan Rosul merajam orang Yahudi”. Wallahu ‘alam MENEMUKAN KECENDERUNGAN FIQIH IMAM ALI AL-SHABUNI DALAM KITAB TAFSIRNYA “SHAFWAH AL-TAFASSIR” DENGAN MENGAMBIL 3 CONTOH MASALAH DAN PERBANDINGANNYA DENGAN KITAB “ROWA’I AL-BAYAN TAFSIR AYAT AL-AHKAM MIN AL-QUR’AN”