1                                       BAB I                               PENDAHULUAN       Bahan pakan adalah segala se...
2                                        BAB II                             TINJAUAN PUSTAKA2.1.   Bahan Pakan       Bahan...
32.2.     Analisis Proksimat         Kandungan zat gizi pada masing-masing makanan ternak berbeda.Adanyaanalisis bahan mak...
4analisis proksimat tidak memberikan nilai yang penting. Jumlah abu dalam bahanpakan hanya penting untuk menentukan kadar ...
5N total bahan (Tambunan, 2002).Kadar protein kasar dapat dipengaruhi oleh jenistanaman, umur panen, dan tinggi pemotongan...
6                                   BAB III                          MATERI DAN METODE       Praktikum Bahan Pakan dan For...
7analisis kadar lemak kasar, labu penyari untuk menampung sari pada saat analisiskadar lemak kasar, lemari asam untuk anal...
83.2.2. Kadar abu       Metode yang digunakan untuk analisis kadar abu ini adalah mencucicrucible porcelaindengan air samp...
9menunggu selama 30 menit. Menambahkan NaOH 1,5 N 25 ml serta memasaknyasampai mendidih dan menunggu selama 30 menit.     ...
10anginkan.memasukkannya dalam oven dengan suhu 110oC selama 1 jam,memasukkan ke eksikator selama 15 menit. Menimbang kert...
11larutan penangkap dengan melihat perubahan warna dari ungu menjadi hijaujernih. Selanjutnya melakukan titrasi dengan men...
12                                        BAB IV                             HASIL DAN PEMBAHASAN4.1.      HasilPraktikum ...
13inisesuaidenganpendapat Winarno dalam Katja (2012) yang menyatakan bahwakadar air pada permukaan bahan dipengaruhi oleh ...
144.2.3. Kadar seratkasar       Berdasarkanhasilpraktikum,            diperolehbahwa           kandungankadarseratkasarpad...
15jaringan atau sel dan pelarut menjadi jenuh dengan air, selanjutnya ektraksi lemakkurang efisien sehingga hasil analisis...
16umur panen, dan tinggi pemotongan. Tanaman yang berdaun banyak mempunyaikadar protein tinggi, umur panen yang terlambat ...
17                                      BAB V                         KESIMPULAN DAN SARAN5.1.   Kesimpulan       Daun kat...
18                             DAFTAR PUSTAKAAdrianton. 2010. Pertumbuhan dan nilai gizi tanaman Rumput Gajah pada     ber...
19Nugraha, A.P.D. 2008. Respon penggunaan tepung daun Katuk (Sauropus     androgynus L. Merr) dalam ransum terhadap kolest...
20                                      LAMPIRANLampiran 1. Perhitungan Kadar Air  Analisis          Berat         Berat  ...
21Lampiran 1. (lanjutan)Kadar Air rata-rata   = Kadar Air 7 + Kadar Air 8                                   2             ...
22Lampiran 2. Perhitungan Kadar Abu  Analisis        Berat            Berat             Berat            Berat          Be...
23Lampiran 2. (lanjutan)Kadar Abu rata-rata      = Kadar Abu 1 + Kadar Abu 2                                      2       ...
24Lampiran 3. Perhitungan Kadar Serat KasarAnalisis     Berat        Berat        Kertas      Kertas Berat CP Setelah     ...
25Lampiran 3. (lanjutan)SK rata-rata             = Kadar SK 7 + Kadar SK 8                                      2         ...
26Lampiran 4. Perhitungan Kadar Lemak Kasar  Analisis         Berat           Kertas         Sebelum               Sesudah...
27Lampiran 5. Perhitungan Kadar Protein Kasar Analisis       Berat           Berat              Berat            Titran   ...
28Lampiran 5. (lanjutan)Konversi dalam 100% BK   =     100     x kadar PK                               BK                ...
29Lampiran 6. Perhitungan BETNBETN = 100% - (Kadar Abu% +Kadar SK% +Kadar LK% +Kadar PK%)      = 100% - (10,60% + 29,.64% ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

LAPORAN BAHAN PAKAN DAN FORMULASI RANSUM DAUN KATUK

3,408 views
3,278 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,408
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
40
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

LAPORAN BAHAN PAKAN DAN FORMULASI RANSUM DAUN KATUK

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dapat dicernasebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yangmemakannya.Fungsi dari pakan antara lain untuk memelihara daya tahan tubuhdan kesehatan dan untuk mempertahankan hidup dan juga menghasilkan produkutama dari ternak (anak, susu, daging, telur). Agar ternak tumbuh sesuai denganyang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dandalam jumlah cukup.Daun Katuk (Sauropus androgynus L. Merr.) merupakan salahsatu tanaman yang dapat dijadikan sebagai pakan ternak. Ketersediaannya di alamsudah mulai jarang ditemukan karena ketersediannya juga dimanfaatkan manusiasebagai alternatif tanaman obat. Peranan daun Katuk dlam ransum yaitu sebagaipenyedia kebutuhan akan serat kasar. Analisis proksimat merupakan salah satu metode untuk mengetahuikandungan-kandungan nutrien yang ada di dalam bahan pakan.Analisis proksimatmeneliti tentang kandungan air, abu, serat kasar, lemak kasar, protein kasar danbahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) yang terkandung dalam bahan pakan. Tujuan dari Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum adalah agarmahasiswa dapat mengetahui kadar nutrien yang terkandung dalam daun katukdengan menggunakan analisis proksimat. Manfaat dari praktikum ini adalahmahasiswa dapat melakukan analisis bahan pakan dalam daun katukmenggunakan metode analisis proksimat.
  2. 2. 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1. Bahan Pakan Bahan pakan atau makanan ternak adalah semua bahan yang berasal daritumbuhan atau hewan yang diberikan pada ternak piaraan untuk keperluan hidupdan reproduksi(Reksohadiprodjo, 1995).Kualitas bahan pakan ditentukan olehkandungan nutrien atau komposisi kimianya. Berdasarkan sifat karakteristik dankimia, serta penggunaannya secara internasional, bahan pakan dibagi menjadidelapan kelas, yaitu hijauan kering dan jerami, pastura (tanaman padangan danhijauan segar), silase, sumber energi, sumber protein, sumber mineral, sumbervitamin, dan sumber aditif (Agus, 2007).2.1.1. Daun Katuk Daun katuk ( Sauropus androgynus L. Merr. ) merupakan alternatif tanamanobat yang telah lama digunakan sebagai pelancar asi dan juga mampu menurunkankadar kolesterol kuning telur dan karkas ayam petelur (Ibrahim dalam Nugraha 2008).Kandungan kimia daun katuk adalah protein, lemak, kalsium, fosfat, besi, vitaminA, B, C, steroid, flavonoid, dan polifenol (Astuti et al.dalam Subekti, 2007).
  3. 3. 32.2. Analisis Proksimat Kandungan zat gizi pada masing-masing makanan ternak berbeda.Adanyaanalisis bahan makanan terutama bertujuan untuk memperkirakan responsproduktivitas dari ternak bila mereka diberi ransum dengan komposisi bahanmakanan tertentu (Parakkasi dalam Hadiansyah, 2001). Metode yangdikembangkan dari Weende Experiment Station di Jerman oleh Hanneberg danStohman pada tahun 1865, yaitu sutau metode analisis di seluruh dunia dandisebut analisis proksimat (Proximate analysis). Analisis ini didasarkan ataskomposisi susunan kimia dan kegunaannya (Tillman et al., 1991). Analisisproksimat yang dilakukan dalam sebuah penelitian meliputi analisis kadar air,abu, protein, lemak, karbohidrat, serat, dan mineral (Endra, 2006). Analisis kadar air dalam padadaunkatukmengandungkadar air sebesar10,8% danbahankering 89,18% (Sartini dalam Santoso, 2009). Kadar air padapermukaan bahan dipengaruhi oleh kelembaban udara disekitarnya tinggi, makaakan terjadi penyerapan uap air dari udara sehingga bahan menjadi lembab ataukadar airnya menjadi lebih tinggi (Winarno dalam Katja, 2012). Penentuan kadarair ini dilakukan secara berulang kali agar diperoleh hasil akurat (Musfiroh et al.,2008). Analisis kadar abu dalam daun katuk(Sauropus androgynus L. Merr.)sebesar 12,71% (Sartini dalam Santoso, 2009). Penentuan kadar abu dilakukandengan cara mengoksidasikan semua zat organik pada suhu yang tinggi, yaitusekitar 500-6000C dan kemudian dilakukan penimbangan setelah prosespembakaran tersebut (Sudarmadji et al.dalam Endra, 2006). Komponen abu dalam
  4. 4. 4analisis proksimat tidak memberikan nilai yang penting. Jumlah abu dalam bahanpakan hanya penting untuk menentukan kadar BETN (Tillman et al., 1991). Analisis kadar serat kasar dalam bahan pakan berupa daun katuk (Sauropusandrogynus L. Merr.) sebesar 31,19% (Sartini dalam Santoso, 2009). Faktor umurpada tanaman pada saat pemotongan sangat berpengaruh terhadap kandungan gizitanaman tersebut. Umumnya, semakin tua umur tanaman pada saat pemotongan,maka semakin berkurang kadar proteinnya dan serat kasarnya semakin tinggi(Djajanegara et al.dalam Adrianton, 2010). Tanaman pada umur muda kualitaslebih baik karena serat kasar lebih rendah, sedangkan kadar proteinnya lebihtinggi (Susetyo et al.dalam Adrianton, 2010). Analisis kadarlemak kasar pada daun katuk (Sauropus androgynus L.Merr.) sebesar 20,08%(Sartini dalam Santoso, 2009). Istilah ekstrak eter dipakaiuntuk senyawa yang diperoleh dari ekstraksi bahan makanan denganmenggunakan pelarut lemak(Tillman et al., 1991). Heksan merupakan senyawapelarut lemak yang mengandung 98,0% sampai dengan 100,5% C13H6Cl6O2,dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan (Depkes RI dalam Erawati, 2011).Apabila bahan contoh masih mengandung air yang tinggi maka bahan pelarutakan sulit masuk kedalam jaringan atau sel dan pelarut menjadi jenuh dengan air,selanjutnya ektraksi lemak kurang efisien sehingga hasil analisisnya kurangmencerminkan hasil yang sesungguhnya (Darmasih, 2007). Analisis protein kasar dalam daun katuk (Sauropus androgynus L.Merr.)sebesar 15,02% (Sartini dalam Santoso, 2009). Metode Kjeldahlmerupakanpengukuran jumlah protein dalam bahan makanan melalui penentuan kandungan
  5. 5. 5N total bahan (Tambunan, 2002).Kadar protein kasar dapat dipengaruhi oleh jenistanaman, umur panen, dan tinggi pemotongan (Purbajanti et al., 2011). Tanamanyang berdaun banyak mempunyai kadar protein tinggi, umur panen yangterlambat akan menurunkan kadar protein kasar begitu juga sebaliknya. Kadarprotein kasar akan menurun sesuai dengan berkurangnya ketersediaan unsur haratanaman terutama unsur N (nitrogen) begitu juga sebaliknya kadar protein kasarakan meningkat seiring dengan meningkatnya unsur N (Hardjowigeno dalamSlamet et al., 2009). BETN merupakan selisih dari sisa bahan yang sudah dihitung (kadar abu,kadar lemak kasar, kadar serat kasar, dan kadar protein kasar) (Jusaidi et al.,2006).Analisis bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) pada daun katuk (Sauropusandrogynus L. Merr.) sebesar 10,15%(Sartini dalam Santoso, 2009). BETN berisizat-zat monosakarida, dsakaridai, trisakarida dan polisakarida terutama pati dankesemuanya mudah larut dalam larutan asam dan basa dalam analisis serat kasardan mempunyai daya cerna yang tinggi (Tillman et al. dalam Kusumaningrum etal., 2012) Kandungan BETN yang tinggi menggambarkan fraksi karbohidratmudah tercerna seperti pati dan gula (glukosa) (Tillman et al. dalam Qomariyah,2004).
  6. 6. 6 BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum dengan materi AnalisisProksimat dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa tanggal 17 dan 18 Desember2012 dari pukul 05.30 WIB - selesai di Laboratorium Ilmu Makanan Ternak,Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.3.1. Materi Materi yang digunakanadalah daun katuk (serbuk), H2SO4 0,3 N, NaOH1,5 N, aseton, aquadespanas, N - Heksan, katalisator (selenium), H2SO498%,H3BO3 4%, indikator (MR + MB), NaOH 45%, HCl 0,1 N. Alat yang digunakanadalah botol timbang dan timbangan analitis yang digunakan untuk menimbangsampel, oven untuk menghilangkan kadar air dan mensterilisasikan alat danbahan, eksikator untuk menyerap panas alat dan bahan yang telah dioven, penjepituntuk membantu dalam mengambil sampel, tanur listrik untuk analisis kadar abu,crucible porcelain untuk tempat sampel, labu erlenmeyer untuk menempatkanlarutan, beaker glass untuk menempatkan larutan, gelas ukur sebagai pengukurlarutan yang akan digunakan, corong buchner untuk menyaring serat kasar, kertassaring bebas abu untuk menyaring sampel pada analisis kadar serat kasar,tabungsoxhlet untuk wadah sampel analisis kadar lemak kasar, pendingin tegakuntuk analisis lemak kasar dan destilasi, labu kjeldahl untuk analisis proteinkasar,biuret untuk alat titrasi, kompor listrik untuk memanaskan sampel pada
  7. 7. 7analisis kadar lemak kasar, labu penyari untuk menampung sari pada saat analisiskadar lemak kasar, lemari asam untuk analisis protein kasar, serta kertas minyakuntuk menempatkan sampel.3.2. Metode3.2.1. Kadar air Metode yang digunakan untuk analisis kadar air adalah mencuci botoltimbang, kemudian mengeringkan dalam oven pada suhu 105oC sampai 110oCselama 1 jam, memasukkan dalam eksikator selama 15 menit, kemudianmenimbang botol timbang menggunakan timbangan analitis. Menimbangsejumlah sampel menggunakan timbangan analitis. Memasukkan sampel ke dalambotol timbang,kemudian mengovennya selama 6 jam dengan suhu 110oC,selanjutnya adalah memasukkan sampel kedalam eksikator selama 15 menit.Setelah itu menimbang botol dan sampel. Mengulang pengeringan 3 kali masing-masing 1 jam sampai berat sampel konstan (selisih maksimal 0,2 mg).Menghitung kadar air dengan rumus : –Kadar air= x100 %
  8. 8. 83.2.2. Kadar abu Metode yang digunakan untuk analisis kadar abu ini adalah mencucicrucible porcelaindengan air sampai bersih, kemudian mengeringkannya dalamoven pada suhu 110oC selama 1 jam dan mendinginkan dalam eksikator selama 15menit, kemudian menimbangnya. Menimbang sejumlah sampel, penimbangandengan menggunakancrucible porcelainsebagai tempatnya.Setelah itu memijarkansampel dan crucible porcelain dalam tanur listrik pada suhu 600oC selama 6 jam,sampai menjadi abu putih semua.Mengangkat crucible porcelaindari tanur listrikdan mendinginkannya sampai suhu 120oC, kemudian mendinginkannya kembalidalam eksikator selama 15 menit. Setelah itu menimbangnya, kemudianmenghitung kadar abu dengan rumus : –Kadar abu = x 100%3.2.3. Kadar serat kasar Metode yang digunakan untuk analisis kadar serat kasar adalahmempersiapkan semua alat-alat dan pereaksi yang akan digunakan. Mencucisemua alat dan memasukkannya ke dalam oven dengan suhu 110oC selama 1 jamdan memasukkanya ke dalam eksikator selama 15 menit. Menimbang sampel danmemasukkannya ke dalam gelas beker. Memasukkan H2SO4 0,3 N 50 ml dalamgelas beker yang berisi sampel tersebut dan memasaknya hingga mendidih dan
  9. 9. 9menunggu selama 30 menit. Menambahkan NaOH 1,5 N 25 ml serta memasaknyasampai mendidih dan menunggu selama 30 menit. Menimbang crucible porcelaindan kertas saring, memasukkan ke dalamoven selama 1 jam dengan suhu 110oC dan memasukkan di dalam eksikatorselama 15 menit. Cairan yang berisi sampel disaring dengan menggunakancrucible porcelaindan kertas saring yang dipasang corong bunchner. Mencucisampel berturut-turut dengan 50 ml aquades panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 mlaquades panas dan 25 mlaseton. Mengoven crucible porcelain dan kertas saringbeserta isinya pada suhu 1100C selama 1 jam memasukkan ke eksikator selama 15menit. Selanjutnya menimbang crucible porcelaindan isinya. Kemudianmemijarkan crucible porcelaindan isinya dalam tanur pada suhu 600oC selama 6jam sampai menjadi abu putih dan mendinginkannya dalam eksikator selama 15menit. Setelah itu menimbangnya. Penghitungan kadar serat kasar dengan rumus : – –Kadar serat kasar = x 100 %3.2.4. Kadar lemak kasar Metode yang digunakan dalam analisis kadar lemak kasar adalahmenimbang sampel dan kertas saring. Membungkus sampel dengan kertas saringdan memasukkan ke dalam oven selama 6 jam pada suhu110oC dan eksikatorselama 15 menit, serta menimbang kertas saring. Memasukkan sampel dan kertassaring dalam alat soxhlet yang telah dipasang dalam pendingin tegak, kemudianmenambahkan N-Hexan serta memasang alat pendingin tegak yang dialiri airdingin. Melakukan penyaringan selama 3 jam, sampel dikeluarkan dan diangin-
  10. 10. 10anginkan.memasukkannya dalam oven dengan suhu 110oC selama 1 jam,memasukkan ke eksikator selama 15 menit. Menimbang kertas saring yang berisisampel tersebut dengan menggunakan timbangan analitis. Perhitungan untukanalisis kadar lemak adalah sebagai berikut: –Kadar Lemak = x 100 % –Keterangan :Berat setelah oven 1 : Berat sebelum ekstraksiBerat setelah oveb 2 : Berat setelah ekstraksi3.2.5. Kadar protein kasar Metode yang digunakan dalam analisis kadar protein kasar adalah mencucilabu destruksi, kemudian memasukkannya dalam oven pada suhu 110oC selama 1jam. Menimbang sampel sebanyak 1 gram, kemudian memasukannya ke dalamlabu destruksi.Menambahkan selenium sebagai katalisatorsebanyak1gram.Menambahkan H2SO4 98% 15 ml. Memanaskan semua bahanyang ada dalam labu destruksi tersebut secara perlahan-lahan dalam lemari asamhingga berwarna hijau jernih.Perubahan warna yang terjadi secara bertahap adalahhitam, merah, hijau keruh dan kemudian hijau jernih. Proses selanjutnya adalah proses destilasi yaitu mendinginkan labu destruksitersebut lalu memasukkan larutan destruksi kedalam labu destilasi. Menambahkanaquades sebanyak 50 ml, dan NaOH 45% sebanyak 40 ml. Menyiapkan larutanpenangkap yaitu asam borat (H3BO3 4%) sebanyak 20 ml dan indikator MR+MBsebanyak 2 tetes. Menampung hasil destilasi dalam erlenmeyer yang telah berisi
  11. 11. 11larutan penangkap dengan melihat perubahan warna dari ungu menjadi hijaujernih. Selanjutnya melakukan titrasi dengan menggunakan HCl 0,125 N, hinggaterjadi perubahan warna dari hijau jernih menjadi warna ungu. Membuat larutan blanko yaitu memasukkan aquades 50 ml dan 40 mlNaOH 45% kedalam labu destilasi. Melakukan destilasi dan menangkapnyadengan campuran H3BO3 sebanyak 20 ml dan indikator MR + MB sebanyak 2tetes sampai penangkap tersebut berubah warna dari ungu menjadi hijau.Mentitrasi dengan menggunakan HCl 0,125 N sampai membentuk warna unggukembali, kemudian menghitung protein kasar dengan rumus : –Kadar protein = x 100%Keterangan :Blanko : campuran 50 ml aquades dan 40 ml NaOH 45%.
  12. 12. 12 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN4.1. HasilPraktikum BerdasarkanhasilpraktikumBahanPakanFormulasiRansumdiperolehhasilsebagaiberikut :Tabel 1.HasilPraktikumAnalisisProksimatDaunKatuk Parameter 100 % BK1 Literatur2 Kadar Air - 10,8 Kadar BahanKering (BK) 84,81 89,18 Kadar Protein Kasar (PK) 23,70 15,02 Kadar LemakKasar (LK) 7,8 20,08 Kadar Abu 10,60 12,71 Kadar SeratKasar (SK) 29,64 31,19 Kadar BETN 28,26 10,18Sumber : 1. Data PraktikumBahanPakanFormulasiRansum, 2012. 2. Sartini dalam Santoso (2009).4.2. Pembahasan4.2.1. Kadar air Berdasarkanhasilpraktikum, diperolehbahwakandunganbahankering(BK)pada daun katuk (Sauropus androgynus L.Merr.)sebesar84,81%. HasiliniberbedadenganpendapatSartini dalam Santoso (2009) yangmenyatakanbahwakandunganbahanpakanpadadaunkatukmengandungkadar airsebesar 10,8% danbahankering89,18%.Perbedaantersebutdapatterjadikarenapengaruhdaribeberapafaktor,antaralain :umurtanaman, tempatpenanaman, danfaktorlingkungan. Hal
  13. 13. 13inisesuaidenganpendapat Winarno dalam Katja (2012) yang menyatakan bahwakadar air pada permukaan bahan dipengaruhi oleh kelembaban udara disekitarnyatinggi, akan terjadi penyerapan uap air dari udara sehingga bahan menjadi lembabatau kadar airnya menjadi lebih tinggi. Perhitungan tersebut diperoleh dari prosespengeringan didalam ovenpada suhu 105-1100C selama 4-6 jam hingga beratnyakonstan. Ditambahkan oleh Musfiroh et al. (2008) bahwa penentuan kadar air inidilakukan secara berulang kali agar diperoleh hasil yang akurat.4.2.2. Kadar abu Berdasarkanhasilpraktikum, diperolehbahwa kadarabudaun katukdalambahankering 10,60%. Hal iniberbeda denganpendapat Sartini dalam Santoso(2009) bahwa kadar abu dalam daun katuk sebesar 12,71%. Kadar abu dilakukandengan cara menanur daun katuk selama 6 jam pada suhu 400-6000C, akan tetapinilai abu tersebut hanya digunakan pada perhitungan analisis kadar BETN. Hal inisesuai dengan pendapat Sudarmadji et al.dalam Endra (2006) yang menyatakanbahwa penentuan kadar abu dilakukan dengan cara mengoksidasikan semua zatorganik pada suhu yang tinggi, yaitu sekitar 500-6000C dan kemudian dilakukanpenimbangan setelah proses pembakaran tersebut. Ditambahkan oleh Tillman etal.(1991) bahwa komponen abu dalam analisis proksimat tidak memberikan nilaiyang penting. Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukankadar BETN.
  14. 14. 144.2.3. Kadar seratkasar Berdasarkanhasilpraktikum, diperolehbahwa kandungankadarseratkasarpada daunkatukdalambahankeringsebesar 29,64%. HalinisesuaidenganpendapatSartini dalam Santoso (2009) bahwa kadar serat kasardalam berupa daun katuk sebesar 31,19%. Tinggi rendahnya kadar nutrien dalambahan pakan tergantung dari kualitas tanaman tersebut, semakin tinggi umurtanaman maka semakin tinggi kadar seratnya. Hal ini sesuai dengan pendapatDjajanegara et al. dalam Adrianton (2010) yang menyatakan bahwa umurtanaman pada saat pemotongan sangat berpengaruh terhadap kandungan gizitanaman tersebut. Umumnya, semakin tua umur tanaman pada saat pemotongan,semakin berkurang kadar proteinnya dan serat kasarnya semakin tinggi.Ditambahkan oleh Susetyo et al.dalam Adrianton (2010) bahwa tanaman padaumur muda kualitas lebih baik karena serat kasar lebih rendah, sedangkan kadarproteinnya lebih tinggi.4.2.4. Kadar lemakkasar Berdasarkanhasilpraktikum, diperolehhasilbahwakandunganlemakkasardalam bahan pakan berupa daunkatuksebesar 7,8%. Haliniberbedadenganpendapat Sartini dalam Santoso (2009) bahwa kandungan lemakkasar pada daun katuk sebesar 20,08%. Perbedaan tersebutdapat terjadi karenadiperkirakan masih adanya kandungan air dalam sampel tersebut. Hal ini sesuaidengan pendapat Darmasih (1997) yang menyatakan bahwa apabila bahan contohmasih mengandung air yang tinggi maka bahan pelarut akan sulit masuk kedalam
  15. 15. 15jaringan atau sel dan pelarut menjadi jenuh dengan air, selanjutnya ektraksi lemakkurang efisien sehingga hasil analisisnya kurang mencerminkan yang sebenarnya.Kadar Lemak Kasar diperoleh dari sampel bahan kering yang di ekstraksi denganN – Hexan, kemudian dikeringkan dalam oven. Hal ini sesuai dengan pendapatTilman et al. (1991) yang menyatakan bahwa istilah ekstrak ether dipakai untuksenyawa yang diperoleh dari ekstraksi bahan makanan dengan menggunakanpelarut lemak. Ditambahkan oleh Depkes RI dalam Erawati (2011) bahwa heksanmerupakan senyawa yang mengandung 98,0% sampai dengan 100% C13H6Cl6O2,dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.4.2.5. Kadar protein kasar Berdasarkanhasilpraktikum, diperolehbahwakandunganproteinkasardaunkatuk dalam 100%bahankering diperolehsebesar23,70%. Hasil iniberbeda denganpendapatdari Sartini dalam Santoso(2009)bahwa kandungan protein kasar dalam daun katuk sebesar15,02%.Perbedaan hasil tersebut dipengaruhi dari unsur nitrogen yang terkandungdalam suatu bahan pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjowigeno dalamSlamet et al. (2009) yang menyatakan bahwa kadar protein kasar akan menurunsesuai dengan berkurangnya ketersediaan unsur hara tanaman terutama unsur Nbegitu juga sebaliknya kadar protein kasar akan meningkat seiring denganmeningkatnya unsur N. Faktor lain yang dapat mempengaruhi kadar protein kasaryaitu faktor umur dan pemotongannya. Hal ini sesuai dengan pendapat dariPurbajanti et al. (2011) bahwa kadar protein kasar dipengaruhi oleh jenis tanaman,
  16. 16. 16umur panen, dan tinggi pemotongan. Tanaman yang berdaun banyak mempunyaikadar protein tinggi, umur panen yang terlambat akan menurunkan kadar proteinkasar begitu juga sebaliknya. Penentuan kadar protein kasar ditentukanberdasarkan metoda Kjedahl. Hal ini sesuai dengan pendapat Tambunan (2002)bahwa metode Kjeldahl yaitu pengukuran jumlah protein dalam bahan makananmelalui penentuan kandungan N total bahan.4.2.6. Kadar bahanekstraktanpa nitrogen (BETN) Berdasarkanhasilpraktikum, diperolehbahwa kandunganbahanekstraktanpanitrogen (BETN)dalambahankeringsebesar28,26%. HaliniberbedadenganpendapatSartini dalam Santoso (2009) bahwa kadar BETN(Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) sebesar 10,15%. Perbedaan tersebut dapat terjadikarena tingginya kadar serat kasar dalam bahan pakan. Hal ini sesuai denganpendapat Tillman et al. dalam Kusumaningrum et al. (2012) yang menyatakanbahwa BETN berisi zat-zat mono, di, tri dan polisakarida terutama pati dankesemuanya mudah larut dalam larutan asam dan basa dalam analisis serat kasardan mempunyai daya cerna yang tinggi.Ditambahkan oleh Tillman et al.dalamQomariyah (2004) bahwa kandungan BETN yang tinggi menggambarkan fraksikarbohidrat mudah tercerna seperti pati dan gula (glukosa). Kadar BETNdiperoleh dari 100% bahan pakan dikurangi dengan jumlah dari serat kasar, lemakkasar, protein kasar, abu, dan air. Hal ini sesuai dengan pendapat Jusaidi et al.(2006) bahwa BETN merupakan selisih dari sisa bahan yang sudah dihitung.
  17. 17. 17 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN5.1. Kesimpulan Daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr.) merupakan bahan pakanklasifikasi internasional nomor 1 yaitu kelas hijauan dan jerami, karena kadarserat kasar lebih dari dua puluh persen. Berdasarkan hasil praktikum diperolehhasil bahwa kadar abu, serat kasar, dan kadar lemak kasar kurang dari standarsedangkan kadar protein kasar, kadar air dan BETN melebihi dari kadar standar.Tinggi rendahnya kadar nutrien dalam bahan pakan dapat terjadi karena beberapafaktor yaitu pengaruh dari kualitas tanaman, umur tanaman, serta waktupemotongan. Pada tanaman yang umurnya lebih muda kualitasnya lebih baikkarena serat kasar lebih rendah dan kadar protein kasar lebih tinggi.5.1. Saran Peralatan yang ada di dalam laboratorium hendaknya ditambah dandisesuaikan dengan banyaknya kelompok yang akan praktikum. Praktikan jugaharus lebih teliti dan cermat pada saat melakukan analisis, sehingga hasil yangdianalisis dapat sesuai dengan standar yang tertulis pada buku acuan.
  18. 18. 18 DAFTAR PUSTAKAAdrianton. 2010. Pertumbuhan dan nilai gizi tanaman Rumput Gajah pada berbagai interval pemotongan. Jurnal Agroland. 17(3) : 192-197.Agus, A. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. PT Citra Aji Parama, Yogyakarta.Darmasih. 1997. Penetapan kadar lemak kasar dalam makanan ternak non ruminansia dengan metode kering. Balai Penelitian Ternak, Bogor.Endra, Y. 2006. Analisis proksimat dan komposisi asam amino buah Pisang Batu (Musa balbisiana colla). Skripsi, Bogor.Erawati, A.M. 2011. Gambaran histopatologi hati dan ginjal Tikus laktasi setelah mengkonsumsi ekstrak dan fraksi Sauropus androgynus (L.) merr sejak bunting sampai 10 hari pospartus. Skripsi, Bogor.Hadiansyah, D. 2001. Evaluasi modifikasi penentuan serak kasar menurut Association Of Official Analytical Chemist (AOAC). Skripsi, Bogor.Jusaidi, D., B.A. Dewantara., dan I. Mokoginto. 2006. Pengaruh kadar L- ascorbyl-2-phospate magnesium yang berbeda sebagai sumber vitamun C dalam pakan terhadap pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius hypophthalamus) ukuran sejari. Jurnal Akuakultur Indonesia. 5 (1) : 21-29.Katja, D.G. 2012. Kualitas minyak Bunga Matahari komersial dan minyak hasil ekstraksi biji Bunga Matahari (Helianthus anuus L.). Jurnal Ilmiah Sains. 12 (1) : 59-64.Kusumaningrum, M., C.I. Sutrisno., dan B.W.H.E. Prasetiyono. 2012. Kualitas kimia ransum sapi potong berbasis limbah pertanian dan hasil samping pertanian yang difermentasikan dengan Aspergillus niger. Animal Agriculture Journal. 1 (2) : 109-119.Musfiroh, I., W. Indriyati., Muchtaridi., dan Y. Setiya. 2008. Analisis proksimat dengan penetapan kadar beta karoten dalam selai lembaran Terung Belanda (Cyphomandra betacea Sendtn.) dengan metode Spektrofotometri sinar tampak. Jurnal Farmaka. 6 (2) : 1-8.
  19. 19. 19Nugraha, A.P.D. 2008. Respon penggunaan tepung daun Katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dalam ransum terhadap kolesterol Itik Lokal. Skripsi, Bogor.Purbajanti, E.D., R.D. Soetrisno., E. Hanudin., dan S.P.S. Budhi. 2011. Produksi, kualitas, dan kecernaan in vitro tanaman Rumput Benggala (Panicum maximum) pada lahan salin. Buletin Peternakan. 35 (1) : 30-37.Qomariyah, N. 2004. Uji derajat keasaman (pH), kelarutan, kerapatan, dan sudut tumpukan untuk mengetahui kualitas bahan pakan sumber protein. Skripsi, Bogor.Reksohadiprodjo, S. 1995. Pengantar Ilmu Peternakan Tropis. BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.Santoso, U. 2009. Manfaat Daun Katuk Bagu Kesehatan Manusia dan Produkstifitas Ternak. http://uripsantoso.wordpress.com. (Diakses tanggal 22 Desember 2012).Slamet, W., F. Kusmiyati., E.D. Purbayanti., dan Surahmanto. 2009. Produksi dan kualitas hijauan Alfafa (Medicago sativa) pemotongan pertama pada media tanamn yang berbeda dan penggunaan inokulan. Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan. Hal : 295-301.Subekti, S. 2007. Komponen sterol dalam ekstrak daun Katuk (Sauropus andrygonus L. Merr) dan hubungannya dengan sistem reproduksi Puyuh. Skripsi, Bogor.Tambunan, E.E.N. 2002. Pengaruh lama penyimpanan ransum komersial ayam broiler starter bentuk crumble terhadap beberapa sifat fisik dan kandungan protein kasar. Skripsi, Bogor.Tillman, A.D., Hartadi, H., Reksohadiprodjo, S., Prawirokusowo, S., Lebdosoekojo, S. 1991. Ilmu Makanan Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  20. 20. 20 LAMPIRANLampiran 1. Perhitungan Kadar Air Analisis Berat Berat Berat Botol B. Setelah Kadar Air Kertas Sampel Kertas Timbang Oven Minyak Minyak Sisa --------------------------------------g------------------------------------ 7. 0,2320 1,0002 0,2320 17,9709 18,8137 8. 0,2435 1,0003 0,2435 21,3981 22,2518Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2012.Sampel Sebenarnya 7 =(Sampel + Kertas Minyak) – Kertas Minyak Sisa = (1,0002+0,2320) – 0,2320 = 1,0002Sampel Sebenarnya 8 = (Sampel + Kertas Minyak) – Kertas Minyak Sisa = (1,0003 + 0,2435) – 0,2435 = 1,0003Perhitungan Kadar Air :Kadar Air = (Berat Sampel+Berat Botol) - Berat Setelah Oven x 100% Sampel MasukKadar Air 7 = (1,0002 + 17,9709) – 18,8137 x 100% 1,0002 = 15,73%Kadar Air 8 = (1,0003 + 21,3981) – 22,2518 x 100% 1,0003 = 14,65%
  21. 21. 21Lampiran 1. (lanjutan)Kadar Air rata-rata = Kadar Air 7 + Kadar Air 8 2 = 15,73 + 14,65 2 = 14,65%BK = 100% - % Kadar Air rata-rataBK = 100% - 14,65% = 84,81%
  22. 22. 22Lampiran 2. Perhitungan Kadar Abu Analisis Berat Berat Berat Berat Berat Kadar Abu Kertas Sampel Kertas CP Tanur Minyak Minyak Sisa ------------------------------------------g------------------------------------- 7. 0,2776 1,0001 0,2776 20,3752 20,4660 8. 0,2460 1,0004 0,2460 21,1884 21,2777Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2012.Perhitungan Kadar Abu :Sampel Masuk7 = (Sampel + Kertas Minyak) – Kertas Minyak Sisa = (1,0001 + 0,2776) – 0,2776 = 1,0001Sampel Masuk 2 = (Sampel + Kertas Minyak) – Kertas Minyak Sisa = (1,0004 + 0,2460) – 0,2460 = 1,0004Kadar Abu = Berat setelah tanur – Berat CP x 100% Berat sampelKadar Abu 7 = 20,4660 - 20,3752 x100% 1,0001 = 9,07%Kadar Abu 8 = 21,2777 – 21,1884x100% 1,0004 = 8,92%
  23. 23. 23Lampiran 2. (lanjutan)Kadar Abu rata-rata = Kadar Abu 1 + Kadar Abu 2 2 = 9,07% + 8,92% 2 = 8,99%Konversi dalam 100% BK = 100 x rata-rata kadar Abu Rata-rata kadar air = 100 x 8,99 84,81 = 10,60%
  24. 24. 24Lampiran 3. Perhitungan Kadar Serat KasarAnalisis Berat Berat Kertas Kertas Berat CP Setelah SetelahKadar SK Kertas Sampel Sisa Saring Oven Tanur ---------------------------------------------g------------------------------------------- 7. 0,2381 1,0006 0,2398 1,0435 19,8858 21,1829 19,8915 8. 0,2495 1,0000 0,2495 1,0473 17,9858 29,2969 17,9947Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2012.Sampel Masuk 7 = (Sampel + Kertas Minyak) – Berat Kertas Minyak Sisa = (1,0006 + 0,2381) – 0,2398 = 0,9989Sampel Masuk 8 = (Sampel + Kertas Minyak) – Berat Kertas Minyak Sisa = (1,0000 + 0,2495) – 0,2495 = 1,0000Perhitungan Kadar Serat Kasar:SK =(Berat setelah oven – setelah tanur) – Berat Kertas Saringx 100% Sampel MasukSK 7 = (21,1829 – 19,8915) – 1,0435 x100% 0,9989 = 24,81%SK8 = (19,2969 – 17,9949) – 1,0473 x 100% 1,0000 = 25,47%
  25. 25. 25Lampiran 3. (lanjutan)SK rata-rata = Kadar SK 7 + Kadar SK 8 2 = 24,81% + 25,47% 2 = 25,14%Konversi dalam 100% BK = 100 x kadar SK BK = 100 x 25,14% 84,81 = 29,64%
  26. 26. 26Lampiran 4. Perhitungan Kadar Lemak Kasar Analisis Berat Kertas Sebelum Sesudah Kadar LK Sampel Saring Ekstraksi Ekstraksi --------------------------------------g----------------------------------- 7. 1,0007 0,9975 1,8642 1,7921 8. 1,0005 1,0042 1,8567 1,7945Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2012.Perhitungan Kadar Lemak Kasar:Kadar LK = Sebelum di ekstrak – Setelah di ekstrak x100% Sampel Sebelum di ekstrak – Kertas SaringKadar LK7 = 1,8642- 1,7921 x100% 1,8642 – 0,9975 = 8,31%Kadar LK8 = 1,8567 – 1,7945 x100% 1,8567 – 1,0042 = 7,29%LK rata-rata = Kadar LK 7 + Kadar LK 8 2 =8,31% + 7,29% 2 = 7,8%
  27. 27. 27Lampiran 5. Perhitungan Kadar Protein Kasar Analisis Berat Berat Berat Titran Titran Kadar PK Kertas Sampel Kertas Sisa Sampel Blanko --------------------------------------g------------------------------------ 7. 0,2400 1,0007 0,2429 23 0,65 8. 0,2430 1,0006 0,2447 15 0,65Sumber : Data Primer Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2012.Sampel Sebenarnya7 = ( Kertas Minyak + Sampel) – Kertas Minyak Sisa = (0,2400 + 1,0007) – 0,2429 = 0,9978Sampel Sebenarnya 8 = (Kertas Minyak + Sampel – Kertas Minyak Sisa = (0,2230 + 1,0006) – 0,2447 = 0,9989Perhitungan Protein Kasar :Kadar PK = (titran sampel – titran blanko) x NHCl x 0,014 x 6,25x100% Sampel MasukKadar PK 7 = ( 23 – 0,65) x 0,125 x 0,014 x 6,25 x100% 0,9978 = 24,49%Kadar PK 8 = (15 – 0,65) x 0,125 x 0,014 x 6,25 x100% 1,9989 = 15,71%PK rata-rata = Kadar PK 1 + Kadar PK 2 2 = 24,49% + 15,71 2 = 20,1%
  28. 28. 28Lampiran 5. (lanjutan)Konversi dalam 100% BK = 100 x kadar PK BK =100 x 20,1 84,81 = 23,70%
  29. 29. 29Lampiran 6. Perhitungan BETNBETN = 100% - (Kadar Abu% +Kadar SK% +Kadar LK% +Kadar PK%) = 100% - (10,60% + 29,.64% + 7,8% + 23,70%) = 100 – 71,74% = 28,26%

×