Revolusi ketergantungan internasional mentah

3,637 views
3,453 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,637
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Revolusi ketergantungan internasional mentah

  1. 1. Revolusi Ketergantungan InternasionalModel ketergantungan NeokolonialAliran pemikiran yang pertama, yang kita sebut sebagai model ketegantunganneokolonian (neokolonian dependence model), secara tidak langsung mengembangkanpemikiran kaum Marxis. Model ini menghubungkan keberadaan dan kelanggengannegara-negara terbelakang terhadap evolusi sejarah hubungan internasional yangsama sekali tidak seimbang antara negara-negara kaya dengan negara-negara miskindalam suatu sistem kapitalis internasional. Terlepas dari sengaja atau tidaknya sikapdan praktik eksploitatif negara-negara kaya terhadap negara-negara berkembang,koeksistensi itu digambarkan sebagai hubungan kekuasaan yang sangat tidakberimbang antara pusat (center, core) yang terdiri dari negara-negara maju, sertapinggiran (periphery), yakni kelompok yang sedang berkembang. Sampai batas tertentupemikiran radikal ini telah mendorong negara-negara miskin untuk mencoba lebihmandiri dan independen dalam upaya-upaya pembangunannya.Pendeknya, pandangan Neo-Marxis atau dalam hal ini pandangan terbelakangneokolonian, mencoba menghubungkan kemiskinan yang terus berlanjut dan semakinparah disebagian besar negara-negara Dunia ketiga dengan keberadaan dan kebijakankelompok negara-negara industri kapitalis dari belahan bumi Utara yang dapatmenyebar luas melalui kelompok-kelompok domestik kecil elit dunia yang berkuasa,yang mereka sebut kelompok comprador (comprador group), di semua negaraberkembang.Model Paradigma PalsuCabang atau aliran yang kedua dari teori ketergantungan internasional terhadap topikpembangunan ini relatif tidak begitu radikal. Aliran ini biasa disebut sebagai model
  2. 2. paradigma palsu (false- paradigm model), yang mencoba menghubungkanketerbelakangan negara-negara Dunia Ketiga dengan kesalahan dan ketidak tepatansaran yang diberikan oleh para pengamat atau "pakar" internasional.Faktor-faktor kelembagaan di negara-negara Dunia Ketiga, seperti masih pentingnyastruktur sosiol tradisional (yakni, kesukuan, kasta, kelas, dan sebagaina); sangat tidakmeratanya hak kepemilikan tanah dan kekayaan lainnya. Karena hanya melayanikepentingan sepihak kelompok-kelompok domestik maupun internasional yang sedangberkuasa. Disamping itu, para cendikiawan di berbagai universitas terkemuka, parapemimpin serikat-serikat pekerja, pas ekonom di lembaga pemerintahan dan pejabatnegara-negara berkembang pada umumnya, mendapat didikan dan latihan darilembaga-lembaga di negara-negara maju. Akibat ketiadaan atau terbatasnyapengetahuan yang tepat guna untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan, makakalangan elit tersebut justru cenderung menjadi pembela keyakinan asing yangmelakukan atau mengabaikan adanya sistem kebijakan elitis serta strukturkelembagaan yang khas negara-negara berkembang. Sebagai contoh, dalam kuliah-kuliah ilmu ekonomi di berbagai universitas, yang paling banyak diajarkan adalahkonsep-konsep dan model-model barat yang sepenuhnya asing, atau sekurang-kurangnya tidak relevan untuk di terapkan di negara-negara berkembang.Tesis Pembangunan-DualistikUnsur pemikiran pokok yang secara implisit terkandung di dalam teori-teori perubahanstruktural dan secara eksplisit telah dinyatakan dalam teori ketergantungan inter-nasional adalah gagasan akan adanya sebuah dunia bermasyarakat ganda (a world ofdual societies). Dualisme (dualism) adalah konsep yang menunjukkan adanya jurangpemisah yang kian lama terus melebar antara negara-negara kaya dan miskin, serta di
  3. 3. antara orang-orang kaya dan miskin pada berbagai tingkatan di setiap negara. Padadasarnya, konsep dualisme ini terdiri dari empat elemen kunci sebagai berikut:1. Beberapa kondisi yang berneda, yang terdiri dari elemen "superior" dan "inferior",hadir secara bersamaan dalam waktu dan tempat yang sama.2. Koeksistensi ini bukan merupakan fenomena sesaat yang akan mengikiskesenjangan antara elemen superior dan inferior seiring dengan berlalunya waktu.3. Kadar superioritas serta inferioritas dari masing-masing elemen tersebut bukanhanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, melainkan cenderungmeningkat.4. Hubungan saling-keterkaitan antara elemen-elemen yang superior dengan elemen-elemen inferior tersebut terbentuk dan berlangsung sedemikian rupa sehinggakeberadaan elemen-elemen superior sangat sedikit atau sama sekali tidak membawamanfaat untuk meningkatkan kedudukan elemen-elemen inferior.Kontrarevolusi Neoklasik: Fundamentalisme PasarTantangan bagi Model Statis: pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik, dan PendekatanRamah-PasarMemasuki dekade 1980-an, pengaruh politik dari pemerintah konservatif di AmerikaSerikat, Kanada, Inggris, dan Jerman Barat menghadirkan kembali KontrarevolusiNeoklasik (neoclassical counterrevolution) dalam teori dan kebijakan ekonomi. Baginegara-negara maju, kontrarevolusi merupakan aliran kebijakan makroekonomi yang
  4. 4. lebih mementingkan sisi penawaran (supply-side macroeconomics), teori ekspektasirasional, dan gelombang swastanisasi perusahaan-perusahaan milik negara,Sedangkan bagi negara-negara berkembang, kontrarevolusi berarti pasar yang lebihbebas dan ditinggalkannya berbagai bentuk campur tangan pemerintah dalamperekonomian nasional, yang berupa kepemilikan perusahaan-perusahaan oleh pihakpemerintah, perencanaan statis atas perekonomian nasional dan regulasi pemerintahterhadap aneka kegiatan ekonomi. Ini antara lain dikarenakan para pendukung teorineoklasik memiliki pengaruh besar dalam dua lembaga keuangan internasional yangpaling penting, serta merosotnya pamor berbagai organisasi internasional lainnya yangseringkali lebih lantang dalam menyuarakan kepentingan negara-negara Dunia Ketiga,seperti Labor Organization (ILO), United Nations Development Program (UNDP), sertaUnited Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Lemahnya perananriil dari organisasi-organisasi tersebut turut membuka jalan bagi naiknya kontrarevolusineoklasik.Para tokoh kontra-revolusi neoklasik, seperti Lord Peter Bauer, Deepak Lal, Ian Little,Harry Johnson, Bela Balassa, Jagdish Bhagwati, dan Anne Krueger, menyatakanbahwa campur tangan pemerintah yang berlebihan dalam kegiatan ekonomi, tidakdiragukan lagi, merupakan sumber utama terjadinya penurunan laju pertumbuhan dibanyak negara berkembang. Menurut tokoh-tokoh neoliberal tersebut, denganmembiarkan pasar bebas (free markets) hadir dan beroperasi secara penuh,melaksanakan swastanisasi perusahaan milik pemerintah, mempromosikanperdagangan bebas dan pengembangan ekspor, menarik investasi asing (misalnya,investor dari negara maju), serta menghapuskan regulasi pemerintah yang berlebihandan distorsi harga pada pasar input, pasar output maupun pasar keuangan, makaefisiensi pertumbuhan ekonomi akan terpacu lebih optimal. Selain itu, bertentangandengan argumen para teoretasi ketergantungan, para penganjur kontrarevolusi
  5. 5. neoklasik menyatakan bahwa negara-negara Dunia Ketiga berada dalam kondisiketerbelakangan bukan dikarenakan oleh sifat predator negara-negara Dunia Pertamamaupun badan-badan Internasional yang memang dikuasai oleh negara-negara DuniaPertama tersebut, melainkan karena korupsi dan campur tangan pemerintah yangkelewat batas, inefisiensi di berbagai sektor, serta terbatasnya insentif ekonomi yangberpengaruh secara meluas di dalam perekonomian negara-negara berkembang itusendiri.Tantangan neoklasik terhadap pembangunan yang ortodoks dapat dipilah menjadi tigakomponen, yakni: pendekatan pasar-bebas; pendekatan pilihan publik (atau "ekonomipolitik baru"), serta pendekatan "ramah terhadap pasar".Teori Pertumbuhan Neoklasik TradisionalPijakan berikutnya bagi argumen pasar-bebas neoklasik adalah keyakinan bahwasanyaliberalisasi (pembukaan) pasar-pasar nasional akan merangsang investasi, baik ituinvestasi domestik maupun luar negeri, sehingga dengan sendirinya akan memacutingkat akumulasi modal.Model pertumbuhan neoklasik Solow (Solow neoclassical growth model) merupakanpilar yang sangat memberi kontribusi terhadap teori pertumbuhan neoklasik. Padaintinya, model ini merupakan pengembangan dari formulasi Harrod-Domar denganmenambahkan faktor kedua, yakni tenaga kerja, serta memperkenalkan variabelindependen ketiga, yakni teknologi kedalam persamaan pertumbuhan (growthequation). Namun, berbeda dengan Harrod-Domar yang mengasumsikan skala hasiltetap (constant return to scale) dengan koefisien baku, model pertumbuhan neoklasikSolow berpegang pada konsep skala hasil yang terus berkurang (diminishing returns)dari input tenaga kerja dan modal jika keduanya dianalisis secara terpisah; jikakeduanya dianalisis secara bersamaan atau sekaligus, Solow juga memakai asumsi
  6. 6. skala hasil tetap tersebut.Menurut teori pertumbuhan neoklasik tradisional (traditional neoclassical growth theory),pertumbuhan output selalu bersumber dari satu atau lebih dari tiga faktor: kenaikankuantitas dan kualitas tenaga kerja (melalui pertumbuhan jumlah penduduk danperbaikan pendidikan), penambahan modal (melalui tabungan dan investasi), sertapenyempurnaan tekhnologi.Di lain pihak, perekonomian terbuka (open economy), yakni yang mengadakanhubungan perdagangan, investasi, dan sebagainya dengan negara atau pihak-pihakluar, pasti akan mengalami suatu konvergensi peningkatan pendapatan perkapita,karena arus permodalan akan mengalir deras dari negara-negara kaya ke negara-negara miskin dimana rasio modal-tenaga kerjanya masih rendah sehinggapengembalian atas investasi (returns on investments) lebih tinggi. Itulah sebabnya, didalam konteks ini pemerintah dikatakan sebagai penghambat pertumbuhan yangselanjutnya menciptakan kemacetan atau stagnasi ekonomi nasional secarakeseluruhan.Teori-teori Pembanguna Klasik: Usaha Mempertemukan Berbagai Perbedaan.Dari model perubahan struktural dua sektor rumusan Lewis, kita bisa mengetahuibetapa pentingnya upaya-upaya untuk menganalisis keterkaitan tertentu yang terdapatdi antara sektor pertanian tradisional dengan sektor industri modern. Pemikiran parateoretisi ketergantungan internasional juga bermanfaat karena telah berhasilmenonjolkan pentingnya struktur dan fungsi perekonomian dunia, dan keputusan yangdiambil oleh negara maju ternyata sedemikian rupa sehingga selalu memberi pengaruhterhadap kehidupan jutaan penduduk di negara berkembang.
  7. 7. Studi kasusBeberapa Aliran Pemikiran dan Penerapannya: Korea Selatan dan ArgentinaPengamatan yang seksama terhadap dua negara ini menghasilkan kesimpulan bahwamasing-masing dari empat pendekatan utama dalam pembangunan- yaitu tahapanpertumbuhan, pola struktural pembangunan, ketergantungan, dan neoklasik-memberikan wawasan yang penting mengenai proses dan kebijakan pembangunan.Kedua negara tersebut termasuk negara berpendudukan sedang (38 juta di Argentinadan 48 juta di Korea selatan pada tahun 2002), dan hingga tahun 2007 keduanya digolongkan sebagai negara berpendapatan menengah. Namun sekarang korea selatandigolongkan oleh Bank dunia sebagai negara berpendapatan tinggi, dimanapendapatan perkapitanya dua kali Argentina, yang 30 tahun silam yang terjadi malahkebalikannya.Korea Selatan-tahapan pertumbuhan Korea Selatan menegaskan beberapa pandangan mengenaitahapan linear, meskipun dengan cara yang terbatas. Dalam beberapa tahun terkhir ini,beberapa investasi dalam pendapatan nasionalnya adalah yang tertinggi di dunia.Korea Selatan kini masih dipandang dalam teori Rostow sebagai negara yangekonominya tengah "menuju kematangan," tetapi dengan tingkat penguasaanteknologinya yang seperti sekarang, pada tahun 2000-an nampaknya Korea Selatanakan memasuki tahap "age of mass consumption" atau era konsumsi massal. Rostowberpendapat bahwa kematangan (maturity) dapat dicapai kira-kira 60 tahun setelah era
  8. 8. tinggal landas (take off) dimulai, tetapi ia tidak menyangkal pengalaman unik dari setiapnegara, dan bahwa kesenjangan antara teknomogi tradisional dan modern dapatdengan lebih cepat diatasi pada tahapan pembangunan selanjutnya. Korea Selatanhampir pasti memenuhi kriteria "kematangan" setelah terintegrasi denganperekonomian dunia melalui jenis ekspor dan impor yang baru.-pola strukturalKasus korea selatan juga menunjukkan beberapa pola dari model perubahan strukturalpembangunan. Secara khusus, pertumbuhan Korea Selatan selama beberapa generasiyang silam ditandai dengan peningkatan produktivitas sektor pertanian secara cepat,pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri, pertumbuhan stokmodal dan pendidikan serta ketrampilan yang stabil, dan transisi demografi dari tingkatfertilitas yang tinggi menjadi rendah. Pada akhir tahun 1940-an dan 1950-an, KoreaSelatan mencanangkan land reform secara menyeluruh, sehingga sektor pertaniantidak terabaikan; namun sebaliknya pertumbuhan presentase angkatan kerja di bidangindustri yang cepat dan terus-menerus ini sesuai dengan model pembangunan Lewis.-Revolusi ketergantunganNamun Korea Selatan adalah sebuah tantangan yang serius bagi model revolusiketergantungan (depence revolution). Karena Korea Selatan adalah sebuah negaramiskin yang tergantung pada perekonomian internasional. Korea dahulu adalah kolonijepang hingga tahun 1945 dan setelah itu sangan tergantung hubungan baik denganAmerika Serikat demi mempertahankan wilayahnya terhadap invasi dari Korea Utara.Namun Korea Selatan sekarang ini telah dipandang sebagai salah satu kandidat untukmemperoleh status negara maju (tingkat pendapatannya saat ini sudah sebandingdengan Yunani dan Portugal). Selain itu, pemerintah Korea juga mengeluarkanbeberapa kebijakan khusus yang disambut gembira oleh para penganut aliran teori
  9. 9. ketergantungan, seperti kebijakan yang sangat aktif mendukung peningkatan sektorindustri. Korea Selatan juga merupakan salah satu negara yang menerapkan programland reform yang paling ambisius di antara negara-negara berkembang, dan sangatmenekankan pada pendidikan dasar daripada universitas, yaitu dua kebijakan yangpenting.-Kontrarevolusi NeoklasikKorea Selatan merupakan sebuah tantangan yang serius bagi model kontrarevolusineoklasik. Hingga sekarang, sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa negaraini sangat mendukung intervensi baik di pasar dalam negeri maupun dalamperdagangan internasionalnya, dimana pemerintahannya aktif membuat perencanaanpembangunan yang ekstensif, menggunakan instrumen seperti pengurangan pajak danpemberian intensif untuk mendorong perusahaan-perusahaan menerima intervensi danarahan dari pemerintah, menetapkan target ekspor peruhasaan individu, mengaturusaha dari berbagai industi untuk menaikkan tingkat rata-rata penguasaanteknologinya.ArgentinaSebaliknya dalam kasus Argentina, teori tahapan dan pola pembangunan hanyamenjelaskan sebagian kecil dari sejarah perekonomian, sementara teori revolusiketergantungan dan kontrarevolusi neoklasik sama-sama menawarkan wawasan yangpenting.Tahapan PertumbuhanSejarah Aegentina menjadi tantangan yang berat bagi pendekatan tahapan linear.
  10. 10. Rostow mendefinisikan tinggal landas sebagai "interval ketika hambatan-hambatanlama dan resistensi terhadap pertumbuhan yang stabil akhirnya bisa diatasi. . .Pertumbuhan menjadi hal yang wajar baginya"Pada tahun 1870, Argentina menduduki peringkat ke-11 di dunia dari segi pendapatanperkapita (melebihi Jerman); sekarang Argentina bahkan tidak termasuk dalam 50besar.Namun sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di Argentina semenjak Rostowmengedepankan negara tersebut sebagai contoh teorinya. Menurut data Bank Dunia,Argentina mengalami tingkat pertumbuhan yang negatif selama periode 1965-1990, danpada tahun 1980-an, investasi menyusut hingga -8,3%, sehingga investasi juga turunhingga tepat di bawah tingkat yang diasumsikan Rostwo untuk tinggal landas.Pola StrukturalArgentina memiliki banyak pola-pola struktural pembangunan yang umum sepertikenaikan produktivitas sektor pertanian, tumbuhnya kesempatan kerja di sektor industri(meskipun lambat), terjadinya urbanisasi, turunnya tingkat fertilitas, dan sebagainya.Revolusi ketergantunganBerlawanan dengan Korea Selatan, Kasus Argentina menawarkan beberapapembuktian bagi teori ketergantungan bahwa negara tersebut sangat tergantung padaekspor barang-barang primer, Perusahan-perusahan multinasional memainkan perananyang besar, dan Argentina tidak mampu menciptakan industri manufaktir berorientasiekspor sendiri yang mampu bersaing.Kontrarevolusi NeoklasikNamun Argentina juga menawarkan beberapa pembelaan bagi teori kontrarevolusineoklasik bahwa intervensi dan pembatasan yang salah oleh pemerintah, perusahaan
  11. 11. yang tidak efisien, biar terhadap produksi untuk ekspor, dan "pita merah" yang tidakdibutuhkan akan menyengsarakan industri dan kewirausahaan. Kebijakan pemerintahsecara konsisten nampaknya lebih mengakomodasi kepentingan beberapa kelompokdaripada tujuan pembangunan yang lebih luas, dan kegagalan pemerintah biasanyalebih buruk dampaknya dari pada kegagalan pasar di dalam negeri.

×