Uploaded on

Take Home Manajemen Media Akuakultur

Take Home Manajemen Media Akuakultur

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,682
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
44
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. TAKE HOME UJIAN AKHIR SEMESTERMATA KULIAH MANAJEMEN MEDIA AKUAKULTUR oleh : Farida C151110131 MAYOR ILMU AKUAKULTUR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
  • 2. 1. Jelaskan secara lengkap pertimbangan dari IPAL Bojongsoang sehingga : a. Analisa kandungan logam difokuskan hanya pada kolam anaerob! Pengolahan air yang ada di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang terjadi secara biologi dimana prosesny secara alami yaitu memisahkan zat organic tertentu yang terkandung dalam air buangan dengan memanfaatkan aktifitas mikroorganisme untuk melakukan perombakan zat organik tersebut dibantu oleh alga dan fotosintesis secara alami. Proses ini dapat terjadi secara anaerob ( tidak memerlukan oksigen) dan aerob (memerlukan oksigen). Proses yang terjadi pada kolam anaerob adalah penguraian zat organik oleh mikroorganisme secara anaerob (tidak memerlukan oksigen dalam penguraiannya (Sohuturon, 2004). Sifat biologi menunjukkan kandungan biologis dalam air yang terdiri dari golongan-golongan mikroorganisme dalam air yaitu bakteri, fungi, protozoa dan alga. Pengolahan secara biologi pada dasarnya adalah pemanfaatan mikroorganisme aktif yang dapat menstabilkan air limbah. Proses biologi ini dapat terjadi dalam empat keadaan yaitu anaerobik, aerobik, fakultatif dan maturasi. Analisa kandungan logam pada IPAL Bojongsoang hanya difokuskan pada kolam anaerob karena pada kolam anaerob memiliki fungsi untuk menurunkan bahan-bahan organik dengan bantuan mikroorganisme anaerobic. Proses yang terjadi adalah penguraian oleh bakteri anaerob dan adanya pengendapan. Proses tersebut menghasilkan penurunan kadar BOD, COD, pembentukan gas H2S, CH4 dan lain-lain serta penurunan kadar lumpur (Sohuturon, 2004). Menurut Sudarno dan D. Ekawati (2006) kolam anaerob beroperasi tanpa adanya oksigen terlarut (DO) karena bahan organik masih sangat tinggi sehingga bakteri membutuhkan banyak oksigen untuk menguraikan limbah organik. Kolam anaerob dibuat dengan kedalaman yang tinggi dengan harapan kondisi anaerob benar-benar terjadi karena dengan kedalaman kolam yang tinggi dan timbulnya scum (busa) di permukaan kolam memungkinkan tumbuhan alga tidak dapat hidup di kola mini agar tidak ada oksigen terlarut. Menurut Mahajoeno, E, B. W. Lay, S. H. Sutjahjo dan Siswanto (2008), fermentasi anaerobik adalah proses perombakan bahan organik yang dilakukan oleh sekelompok mikrobia anaerobik fakultatif maupun obligat dalam suatu reaktor tertutup pada suhu 35-55oC. perobakan bahan organik terjadi dalam empat proses yaitu pertama bakteri fermentatif menghidrolisis senyawa polimer menjadi senyawa sederhana yang bersifat terlarut. Kedua, monomer dan oligomer dirombak menjadi asam asetat, H2, CO2, asam lemak rantai pendek, dan alkohol. Ketiga disebut fase non metanogenik yang menghasilkan asam asetat, , CO2 dan H2. Keempat, pengubahan senyawa-senyawa tersebut menjadi gas metana oleh bakteri metanogenik. Proses biokonversi oleh metanogenik merupakan proses
  • 3. biologi yang sangat dipengaruhi oleh factor lingkungan terutama pH, suhu dan senyawa toksik. Secara keseluruhan factor yang mempengaruhi proses perombakan anaerob bahan organik pada pembentukan biogas mencakup faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor biotik berupa mikrobia dan jasad aktif. Sedangkan faktor abiotik meliputi pengadukan, suhu, pH, kadar substrat, kadar air, rasio C/N dan P dalam substrat dan kehadiran bahan toksik. Dengan kedalaman 6 meter diharapkan kadar oksigen terlarut dan sinar matahari tidak sampai ke dasar kolam sehingga bakteri anaerob dapat berkembang dan dapat melakukan penguraian bahan organik yang terdapat di dalam air limbah.b. Mengapa hanya sampel ikan dan lumpur yang dianalisa kandungan logamnya? Ikan digunakan sebagai sampel untuk analisa kandungan logam bahan tercemar karena ikan yang hidup pada suatu perairan melakukan tiga proses yaitu proses biomagnifikasi peningkatan kandungan suatu bahan pencemar di biota melalui rantai makanan. Selanjutnya adalah proses bioakumulasi peningkatan kandungan suatu bahan pencemar di biota baik melalui media air maupun melalui rantai makanan yang disebabkan laju intake lebih besar dari pada laju depurisasi. Kemudian proses biokonsentrasi peningkatan kandungan suatu bahan pencemar di biota melalui media air. Berdasarkan proses tersebut, ikan yang hidup pada suatu perairan secara alami terakumulasi bahan pencemar. Gambar. Kehidupan Ikan Pada Perairan Secara Alami Terakomulasi Bahan Pencemar
  • 4. Sedangkan lumpur adalah bahan organik yang mengendap di dasar perairan dikenal dengan istilah sedimentasi. Analisa kandungan logam pada lumpur, karena bahan kimia berupa logam dapat mengendap ke dasar perairan bersama-sama pertikel lumpur dan terakomulasi menjadi sedimentasi.c. Pengukuran lumpur hanya pada kolam anaerob? Kolam anaerob digunakan untuk tempat mengendapkan bahan organik (lumpur) dari limbah buangan domestik (ramah tangga) yang diproses secara biologis. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba tersuspensi yang pertama kali dilakukan di Ingris pada awal abad 19. Sejak itu proses ini diadopsi seluruh dunia sebagai pengolah air limbah domestik sekunder secara biologi. Proses ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa baru. Udara disalurkan melalui pompa blower (diffused) atau melalui aerasi mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan mengendap di tangki penjernihan (Gariel Bitton, 1994). Anna dan Malte (1994) berpendapat keberhasilan pengolahan limbah secara biologi dalam batas tertentu diatur oleh kemampuan bakteri untuk membentuk flok, dengan demikian akan memudahkan pemisahan partikel dan air limbah. Lumpur aktif adalah ekosistem yang komplek yang terdiri dari bakteri, protozoa, virus, dan organisme-organisme lain. Lumpur aktif dicirikan oleh beberapa parameter, antara lain, Indeks Volume Lumpur (Sludge Volume Index = SVI) dan Stirrd Sludge Volume Index (SSVI). Perbedaan antara dua indeks tersebut tergantung dari bentuk flok, yang diwakili oleh faktor bentuk (Shape Factor = S). Pada kesempatan lain Anna dan Malte (1997) menyatakan bahwa proses lumpur aktif dalam pengolahan air limbah tergantung pada pembentukan flok lumpur aktif yang terbentuk oleh mikroorganisme (terutama bakteri), partikel inorganik, dan polimer exoselular. Selama pengendapan flok, material yang terdispersi, seperti sel bakteri dan flok kecil, menempel pada permukaan flok. Pembentukan flok lumpur aktif dan penjernihan dengan pengendapan flok akibat agregasi bakteri dan mekanisme adesi. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa flokulasi dan sedimentasi flok tergantung pada hypobisitas internal dan eksternal dari flok dan material exopolimer dalam flok, dan tegangan permukaan larutan mempengaruhi hydropobisitas lumpur granular dari reaktor lumpur anaerobik. Frank et all, (1996) mencoba menggambarkan bahwa dalam sistem pengolah lumpur aktif baik untuk domestik maupun industri mengandung 1-5% padatan total dan 95-99% bulk water (liqour ?). Pembuangan kelebihan lumpur merupakan proses yang mahal, dilakukan dengan mengurangi volume lumpur melalui proses pengepresan (dewatering). Pada bagian lain dinyatakan pula bahwa konsentrasi besi yang tinggi
  • 5. konsentrasi besi yang tinggi, 70-90% dalam bentuk Fe (III), ditemukan dalam lumpur aktif. Akumulasi besi dapat berasal dari influent air limbah atau melalui penambahan FeSO4 yang digunakan untuk menghilangkan fosfor. Jumlah besi dalam lumpur aktif akan berkurang setelah memasuki kondisi anaerobik dan mungkin berasosiasi dengan adanya aktifitas bakteri heterotrofik. Berkurangnya fosfor dalam lumpur aktif dapat menyebabkan fosfor terlepas kedalam air. Jika ini terjadi merupakan potensi untuk terjadinya eutrofikasi pada perairan. Penumpukan lumpur yang terdapat pada kolam anaerob dilakukan pengerukan 4–6 bulan sekali, apabila tidak dilakukan pengerukan dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan terhadap saringan air ke kolam fakultatif. Hasil pengerukan lumpur di kolam anaerob digunakan untuk pupuk organik dan media tanah tanaman hias.d. Hasil pengukuran otomotik, kadar COD sekitar 240 g/L dan ketika kadar COD > 400 mg/L penyedotan air dihentikan karena diduga terdapat limbah industry pada air saluran tersebut. Apa alas an bertindak demikian? Penyedotan air dihentikan ketika kadar Chemical Oxygen Demand (COD) > 400 mg/L, karena COD tidak dapat mengoksidasi ammonia dan pengolahan limbah pada IPAL Bojongsoang hanya mampu melakukan pengolahan limbah rumah tangga saja, tidak termasuk limbah industry. Limbah yang kadar CODnya lebih dari 400 mg/L secara teknis dapat merusak system pengolahan limbah misalnya bakteri anaerob.e. BOD awal sekitar 80 mg/L dan COD 210 mg/L dan ketika diukur dioutlet IPAL tinggal 15 mg/L dan COD 50 mg/L. Jelaskan analisis saudara tentang penurunan BOD dan COD di IPAL ini! Penurunan BOD dan COD di IPAL ini sengaja dilakukan agar terjadi penurunan bahan-bahan organik secara anaerob dan aerob dengan bakteri anaerob dan mikroalga. Proses yang terjadi adalah penguraian bahan- bahan organik pada zona anaerob dan oksidasi oleh bakteri aerob. Hasil dari proses tersebut adalah penurunan kadar BOD dan COD serta peningkatan kadar oksigen. Kadar pencemar sudah agak menurun (kemungkinan zat racun masih ada), warna air hijau gelap, kadar oksigen terlarut lebih dari 3 mg/L, gas-gas yang dihasilkan mulai menurun, jenis ikan tertentu dapat hidup (Sohuturon, 2004). Proses penurunan kadar BOD dan COD ini pada IPAL Bojongsoang dilakukan pada kolam fakultatif. Proses pengolahan air limbah yang terjadi pada kolam fakultatif terdiri dari dua bagian yaitu pada lapisan atas kolam terjadi proses secara aerobik sedangkan pada dasar kolam terjadi proses secara anaerobik. Kedalaman dari kolam fakultatif antara 1-2,5 meter,
  • 6. oksigen yang tersedia karena adanya angin dan ganggang proses fotosintesis) tidak mampu menembus lapisan air dibagian dasar kolam. Efektifitas pada kolam tersebut antara lain tergantung dari lamanya waktu tinggal air limbah di dalam kolam (biasanya antara 20-40 hari) penurunan kadar BOD dapat mencapai 70-90% dari menurunkan koliform antara 60- 90%. Selanjutnya pada kolam maturasi memiliki fungsi sabagai penyempurnaan kualitas air yang telah diperoleh. Proses yang terjadi adalah oksidasi oleh bakteri aerob dan fotosintesis mikroalga. Hasil dari proses tersebut adalah peningkatan kadar oksigen terarut dan penurunan kadar BOD dan COD serta penurunan bakteri pathogen (Sohuturon, 2004). f. Mengapa nilai BOD < COD? Nilai BOD kurang dari COD disebabkan karena COD (Chemical Oxygen Deman) merupakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung di dalam air (Boyd, 1990). Hal ini disebabkan bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat sehingga segala macam bahan organik baik yang mudah terurai maupun yang kompleks dan sulit urai akan teroksidasi. Sedangkan BOD (Biochemical Oxygen Demand) merupakan suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh organisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Boyd (1990), mengatakan bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (Readily decomposable organic metter). Berdasarkan hal tersebut maka selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di perairan. Nilai BOD dan COD dapat saja sama tetapi nilai BOD tidak dapat lebih besar dari COD karena COD menggambarkan total bahan organik yang ada.2. Salah satu perusahaan tambak udang windu di Lampung selatan menggunakan kaporit dengan dosis 30 ppm untuk treatment air laut yang akan digunakannya. Mereka juga menggunakan benur SPF. Namun udang yang ditebar di tambak hampir semuanya mati terserang penyakit yang diduga adalah White spot virus. Bagaimana analisis saudara tentang kasus demikian? Kegiatan budidaya merupakan suatu kegiatan yang kompleks karena dipengaruhi oleh banyak faktor baik internal maupun eksternal. Keberhasilan kegiatan budidaya akan tercapai jika didukung dengan penggunaan benih yang berkualitas baik secara genetik dan bebas penyakit, pemberikan pakan yang
  • 7. tepat baik dalam jumlah, waktu pemberian, dan kandungan nutrien yangdibutuhkan, serta lingkungan yang baik. Saat ini yang menjadi isu pokokdalam kegiatan budidaya yaitu penggunaan benih dan benur yang resistenterhadap penyakit (specisfic pathogen resisten, SPR) atau benur yang bebasdari penyakit tertentu (specific pathogen free,SPF). Selain masalah benih,faktor lain yang membutuhkan perhatian ekstra yaitu menurunnya kualitaslingkungan yang menyebabkan penurunan produktivitas perikanan budidaya.Umumnya kegagalan kegiatan budidaya diakibatkan oleh serangan penyakit.Menurut Snieszko (1974), penyakit muncul karena adanya interaksi antarainang, patogen (parasit, jamur, virus, bakteri) dan lingkungan atau stressoreksternal.Industri udang windu mengalami kehancuran sejak mewabahnya virus WSVpada awal tahun 2000-an. Berbagai upaya telah dilakukan diantaranya denganmenjalankan strategi biosekuriti layaknya pada kegitan pembenihan. Air lautdisterilisasi dengan menggunakan kaporit 30 ppm dan benih yang ditebarberasal dari perusahaan yang dapat memberikan jaminan kualitas. Pada kasusdi Lampung strategi tersebut belum dapat menyelesaikan permasalahankarena udang yang ditebar mati oleh penyakit WSV.Penggunaan kaporit 30 ppm telah mematikan organisme dalam air mediapemeliharaan. Bakteri patogen seperti Vibrio harveyi, ikan-ikan predator,maupun organisme yang diduga sebagai carier WSV seperti udang jembret(Mesopodopsis sp) dan kepiting akan terbunuh. Virus mempunyai sifat hanyadapat hidup pada organisme hidup, sehingga air media yang dikaporit akanbebas terhadap virus.Penetralan kaporit secara alami hanya dengan pengaerasian tanpamenggunakan thiosulfat membutuhkan waktu sekitar 1 minggu. Apabila airtelah netral maka air inipun akan rawan kembali terhadap masuknya virus dariberbagai sumber. Misalnya virus yang dibawa kepiting dari tambak lain yangterinfeksi virus ini, atau yang terbawa lewat alas kaki. Berdasarkan haltersebut ada yang menggunakan sistem pemagaran keliling tambak sehinggatidak memungkinkan kepiting akan masuk ke dalam tambak danmendesinfeksi alas kaki dengan kalium permanganat (PK) ketika masuktambak. Namun demikian viruspun bisa ditularkan oleh burung saat merekamembawa udang yang mati terinfeksi WSV.Teknologi yang harus dijalankan dengan menggunakan air yang dikaporitadalah sistem tandon dan tertutup serta harus menginokulasi phytoplanktonyang steril dari laboratorium. Agar kondisi steril dapat dijaga maka harusdihindarkan sekali adanya kebocoran tambak dari saluran atau tambak-tambaklain. Teknologi ini akan menjadi sia-sia jika dilakukan tidak secara kawasandan sinergi dengan tambak yang berada di sekitarnya.Benih udang yang dihasilkan oleh perusahaan besar belum bisa memberikanjaminan kualitas karena dari beberapa riset menunjukkan bahwa induk-indukudang windu dari perairan Indonesia sudah terinfeksi virus WSV lebih dari75%. Padahal panti benih menggunakan 100% induk alam hasil penangkapan.
  • 8. Kasus di atas menunjukkan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan udang yang dibudidayakan mati oleh WSV, yaitu: 1. Melakukan strategi biosecurity secara parsial, artinya hanya air yang disterilkan tetapi faktor kontaminan lain seperti binatang carrier, alat kerja lapang, burung dan masih banyak yang lain tidak diperhatikan. 2. Tidak menebar benih yang sehat. Saat ini hatchery besar bukan lagi sebagai jaminan kualitas benur sehat. Untuk mendapatkan benur yang sehat, perlu pengecekan secara laboratorium dengan PCR dan melakukan screening benur baik dengan stressing bahan kimia atau salinitas air. 3. Kegiatan dilakukan tidak secara kawasan, artinya hanya tambak itu saja yang melakukan strategi biosecurity sementara tambak-tambak di sekitarnya tidak peduli terhadap keberadaan penyakit. 4. Tidak memperhatikan daya dukung lingkungan tambaknya. Kematian oleh WSV umumnya terjadi setelah udang berumur dua bulan dimana tambak sudah tidak dapat memberikan daya dukung bagi kehidupan udang. Untuk meningkatkan daya dukung lingkungan dapat dilakukan dengan pemberian bakteri bioremediasi. Penyelesaian kasus WSV harus dilakukan secara bersama-sama, simultan namun bertahap mengingat WSV sudah mewabah, mempunyai carrier yang cukup banyak dan kondisi lingkungan tambak sudah tidak mendukung. Teknologi yang diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi lahan dan kemampuan finansial pemilik petambak. Pemerintah perlu melakukan regulasi dan perbaikan infrastruktur tambak seperti saluran dan jalur hijau (hutan mangrove).3. Hatchery X berada di pantai utara pulau Bali. Untuk disinfeksi airnya menggunakan teknologi RO jelaskan analisis saudara sebagai masukan untuk manajemen perusahaan tentang pengelolaan air dengan menggunakan teknologi RO ini! Pengelolaan air dengan menggunakan teknologi RO merupakan suatu teknologi yang mampu menghasilkan air hampir murni berupa peningkatan mutu kualitas air hasil olahan yang dapat dimanfaatkan kemballi untuk kegiatan di hatchery. Metode pemurnian air dapat dilakukan dengan menggunakan membran secara reverse osmosis, menggunakan mikroorganisme, destilasi, elektrolisis maupun ion exchange. Metode lainnya yaitu dengan menggunakan metode kombinasi reverse osmosis dengan ion exchange. Reverse Osmosis (RO) adalah suatu proses pembalikan dari proses osmosis. Osmosis adalah proses perpindahan larutan dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut rendah menuju larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi. Osmosis merupakan suatu
  • 9. fenomena alami, tetapi aliran larutan dapat diperlambat, dihentikan, danbahkan dapat dibalikkan (hal ini dikenal dengan istilah “Reverse Osmosis”).Reverse osmosis dilakukan dengan cara memberikan tekanan pada bagianlarutan dengan konsentrasi tinggi menjadi melebihi tekanan pada bagianlarutan dengan konsentrasi rendah. Sehingga larutan akan mengalir darikonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses perpindahan larutan terjadimelalui sebuah membran yang semi permeabel dan tekanan yang diberikanadalah tekanan hidrostatik. Selama proses tersebut, kotoran dan bahan yangberbahaya akan dibuang melalui sebuah saluran sebagai air tercemar.Membran RO didesain untuk dapat melewatkan molekul-molekul air danmenahan solid, seperti ion-ion garam. Membran RO dapat memisahkan danmenyisihkan zat terlarut, zat organik, pirogen, koloid, virus, dan bakteri dariair baku. Efisiensi penyisisihan membran RO untuk zat terlarut total (TDS)dan bakteri masing-masing adalah 95-99%. Membran RO memiliki ukuranpori < 1 nm. Karena ukuran porinya yang sangat kecil, membran RO disebutjuga membran tidak berpori.Gambar 1. Posisi awal Gambar 2. Posisisi keseimbanganGambar 1 menunjukkan suatu bak berisi larutan dengan dua konsentrasiberbeda yang dipisahkan dengan sebuah membran semi permeabel. Padakondisi awal pemukaan larutan tersebut berada pada posisi sama. Denganberjalannya waktu maka tinggi pemukaan larutan di bagian yangberkonsentrasi lebih tinggi meningkat. Sedangkan hal sebaliknya terjadi padalarutan berkonsentrasi lebih rendah (Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwasebagian air dari larutan sebelah kiri bergerak menuju larutan sebalah kananmelalui membran semi permeable. Peningkatan ini akan berhenti pada suatuketinggian tertentu. Perbedaan ketinggian ini dikenal sebagai tekananosmotik.Dengan memberikan tekanan pada larutan berkonsentrasi tinggi lebih besardari tekanan osmotik, maka air akan terdorong keluar melalui membran semipermeabel tersebut, sedangkan garam-garaman tetap tertinggal di bagianlarutan berkonsentrasi tinggi. Hal inilah yang kemudian diterapkan pada filterreverse osmosis. Disebut sebagai reverse osmosis atau osmosis terbalikkarena mekanisme yang diterapkan adalah dengan cara membalikan fungsidari peristiwa osmosis.
  • 10. Keterangan :Gambar 3. Mekanisme kerja filter Riverse OsmosisGambar 3 menunjukkan diagaram suatu filter reverse osmosis. Dalam halini, air yang mengadung garam-garaman (atau berkesadahan tinggi)dimasukan dengan tekanan tertentu, sehingga melebihi tekananosmotiknya, kedalam ruangan di bagian kiri. Dengan demikian, maka air(murni) akan berjalan melewati membran semi permeabel dan tertampung diruangan sebelah kanan. Tidak semua air bisa dilewatkan melalui membrantersebut, hal ini tergantung pada tekanan yang diberikan dan karakter darimembran.Keuntungan dari penggunaan system reverse osmosis adalah :(1) Memiliki kemampuan dan efisiensi tinggi dibandingkan dengan alat sejenisnya yaitu: a). Dapat menghasilkan 189,3 air murni setiap hari (50 galon) b). Filter karbon aktif berkualitas tinggi mampu menyaring 9462,5 L air (2500 galon) c). Filter utama yang disempurnakan memiliki membran dengan 0, 0001 d). Saluran air (pipa dari air PAM dari alat RO) berkualitas tinggi, mudah dipasang dan dapat menahan tekanan air sampai 125 psi dan 100% tahan bocor e). Pompa daya tinggi, bebas getaran dan tidak bersuara, menyebabkan usia pemakaian lebih panjang(2) Aman, sistem RO memiliki keamanan yang baik dan sangat praktis penggunaannya, yaitu:
  • 11. a). Beroperasi pada voltase rendah, yaitu 24 volt, sangat aman dan tidak membahayakan, bahkan apabila terjadi hubungan pendek listrik tetap aman b). Adaptor listrik dilengkapi dengan pengindera panas, hal tersebut untuk menghindari over heating component c). Adaptor listrik langsung dipasang pada stop kontak untuk menghindari hubungan arus pendek d). Bak penyimpanan air terbuat dari plastik bermutu tinggi, hal tersebut untuk menghindari kontaminasi unsur kimia dengan menggunakan plastik untuk standar makanan ABS sehingga menjamin keamanan dan higienis(3) Sistem teknologi RO bekerja secara otomatis sehingga tidak mengganggu aktivitas bagi penggunanya, yaitu: a). Pembersih membran otomatis, yaitu melakukan pembersihan secara berkala dan otomatis (setiap jam produksi), untuk menjamin kemurnian air dan menghilangkan partikel yang tidak diinginkan b). Memilki sensor elektronis otomatis yang berguna untuk memantau volume air, mencegah kebocoran, menjamin ketersediaan air dan menghemat air dan penggunaan listrik c). Memiliki pemutus aliran listrik secara otomatis yaitu dengan switch tekanan rendah sehingga mampu mematikan peralatan dengan otomatis begitu tidak mendapatkan suplai air, hal tersebut menghemat penggunaan listrik dan menjamin keamanan d). Memiliki booster pumped otomatis, yaitu mampu mengatur kekuatan pompa dengan menyesuaikan diri dengan perubahan tekanan airSecara umum keuntungan yang diperoleh dari sistem teknologi RO adalahmampu menghasilkan air murni untuk kehidupan manusia dan terbebas darisegala macam bahan pencemar Bio Ceramics yang terkandung di dalamnyamampu mengaktifkan molekul-molekul air untuk menghasilkan air berenergiyang bermanfaat untuk menghilangkan racun, meningkatkan penyerapan airke dalam tubuh manusia, serta dapat membuang air kotor dalam tubuhmanusia dengan pH-pH netral dan yang paling utama untuk meningkatkanmetabolisme tubuh.Kerugian mengolah air dengan menggunakan teknologi RO adalah :a. Alat yang digunakan berkualitas tinggi, sehingga harganya relatif tinggi (mahal)b. Sistem RO pemurnian air melalui membran semi permeable, dimana pori- pori membran sangat kecil, sehingga bila air suplai tercemar limbah yang mengandung unsur yang membahayakan cukup tinggi, maka air tidak dapat melewati membran dan membran akan tersumbat. Proses pembersihan membran harus dilakukan, hal ini mengakibatkan keefektifan (akurasi) menurun tidak seperti pada awal penggunaannya.
  • 12. c. Sulit mendapatkan membran yang berpori-pori kecil (0,0001 mikron) bila terjadi kerusakan pada membran. d. Jika terjadi kerusakan pada mesin pompa dan mesin pengatur otomatis sukar dalam hal perbaikan dan penyaringan air terhenti dalam beberapa waktu. e. Kotoran dan bahan yang berbahaya akan dibuang sebagai air tercemar dilakukan sistem menual setiap waktu. Sedangkan untuk efektifitas penggunaan teknologi RO untuk treatment air dapat dicapai melalui cara berikut: a. Menggunakan deionizer untuk meningkatkan kemampuan sistem RO. Sehingga volume air limbah yang dapat dirubah menjadi air murni lebih banyak. Hal ini dikarenakan pada sistem RO umumnya hanya 1/3 yang akan saja yang kemudian menjadi air murni, sedangkan sisanya akan dirubah menjadi limbah. b. Menggunakan filter karbon aktif untuk membantu penyaringan beberapa ion pada sistem RO. c. Menggunakan sistem RO tenaga angin. Karena alat ini sangat efektif ubtuk menghilangkan nitrogen, selaintu sistem ini secara teknis mudah digunakan dan ramah lingkungan. Hal yang paling unik dan penting dari sistem ini adalah bahwa dapat mengolah dan mendaur ulang limbah akuakultur menggunakan energi yang dapat diperbaharui, membuat alat ini cocok digunakan pada daerah terpencil dimana energi listrik sulit didapatkan. d. Mengkombinasikan penggunaan sistem RO dengan kincir angin ganda dan membran. Melalui kombinasi ini maka kapasitas produksi dari sistem dapat ditingkatkan.4. Pada tambak yang sedang bereproduksi, orang sering menduga bahwa kualitas air tambak menjadi jelek karena kandungan H2S dan amoniak serta kadar O2 yang makin rendah. Jelaskan analisis saudara terkait dinamika ketiga parameter air tersebut dan kaitannya dengan keragaan produksi udang! Dinamika parameter kualitas air berupa H2S, amoniak dan O2 adalah dimana H2S berdisosiasi kedalam suatu kesetimbangan campuran dari HS- dan H+, proporsinya ditentukan oleh; pH, temperature dan salinitas. Kadar ammoniak (NH3) yang tinggi (dikeluarkan oleh ikan) yang bersifat toksik untuk ikan itu sendiri, sementara bakteri pengurai NH3 belum tumbuh di wadah tersebut. Jumlah maksimal O2 yang akan larut ke dalam air dipengaruhi oleh altitude, temperatur air dan salinitas. H2S, amomiak (NH3) dan kadar O2 saling keterkaitan satu sama lain dimana H2S tergantung dengan kadar oksigen (O2). Apabila O2 turun hampir seluruh asam belerang menjadi ion-ion S2- dan H+ dan apabila H2S meningkat maka amoniak juga ikut meningkat. Apabila O2 masuk dari udara ke perairan, maka H2S dan NH3 terjadi reducing ke dasar perairan dan O2 di dasar perairan terjadi oxidizing ke permukaan perairan bersamaan dengan Fe(OH)3 dan
  • 13. MnO2. Akibat yang ditimbulkan H2S terhadap kesehatan udang adalah memblok kemampuan sel insang mengambil O2, Hypoxia, laju ventilasi meningkat, laju ventilasi berhenti dan kematian menyusul dalam hitungan menit. Sedangkan akibat yang ditimbulkan oleh NH3 terhadap kesehatan udang adalah ketidak-seimbangan osmoregulasi dapat menyebabkan kegagalan fungsi ginjal, ekskresi ammonia darah terhambat sehingga mengakibatkan kegagalan neurologis dan cytologist, meningkatkan konsumsi O2 jaringan tubuh, kerusakan epithel insang dan menurunkan kemampuan darah dalam transportasi O2 ke seluruh jaringan tubuh sehingga mengakibatkan udang atau ikan mati kekurangan O2. Akibat yang ditimbulkan O2 terhadap kesehatan udang adalah anorexia (gejala sakit berupa hilangnya nafsu makan), hypoxia jaringan, stress respirasi (udang berenang di dekat permukaan air, udang megap-megap, udang loncat ke pematang) dan pingsan, rentan terhadap penyakit dan mati.5. Hasil pengamatan di lapang, sering terjadi kematian masal ikan di karamba jaring apung dan juga serangan penyakit ikan di pembenihan dan kolam ikan pada peralihan musim. Jelaskan analisis lengkap saudara untuk kejadian diatas! Budidaya ikan sistem KJA memiliki prospek yang cerah untuk peningkatan produksi ikan. Peningkatan produksi ikan sebesar 353% secara langsung akan berdampak pada meningkatnya usaha budidaya ikan intensif dengan tingkat kepadatan ikan yang tinggi dan pemberian pakan buatan. Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tinggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan yang akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau atauwaduk). Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau. Salah satu kondisi inilah yang mengakibatkan kematian massal ikan tiap tahun terjadi di berbagai danau atau waduk di Indonesia. Selain self polution (sisa pakan dan feses ikan budidaya), meningkatnya polusi di area ini diperparah oleh adanya buangan limbah pabrik tekstil dan buangan limbah rumah tangga. Melihat akibat yang ditimbulkan dari budidaya ikan sistem KJA di danau atau waduk maka budidaya ikan sistem KJA perlu mengindahkan manajemen budidaya yang berkelanjutan. Keuntungan merupakan target utama dalam menjalankan bisnis industri budidaya perikanan khususnya budidaya sistem KJA di danau/waduk. Pembudidaya ikan berpikir kearah bagaimana cara-cara
  • 14. terbaik untuk memaksimalkan keuntungan sehingga memicu berbagaipermasalahan terkait dengan sistem budidaya yang berkelanjutan.Adapapun permasalahan yang timbul yaitu penurunan fungsi ekosistem danauatau waduk berupa pencemaran perairan budidaya yang secara langsungmengakibatkan menurunnya produksi perikanan. Berdasarkan hal tersebutmaka kita harus mencari solusi dari masalah tersebut berupa manajemenbudidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan yang sesuai dengan konsepdasar pemikiran pembangunan perikanan budidaya. Manajemen budidaya ikanyang berkelanjutan adalah pengelolaan yang dapat berlanjut sepanjang waktusebagai hasil proses kebijakan sosio-politik, menghasilkan pertumbuhanekonomi dan secara ekologis harus dapat menjamin kelestarian sumberdayaperairan. Secara umum budidaya ikan sistem KJA merupakan kegiatanekonomi yang menguntukan jika dikelola dengan baik.Salah satu penyebab kematian massal ikan budidaya adalah penurunan tinggimuka air. Apabila tinggi muka air menurun maka jarak karamba jaring apungdengan dasar menjadi lebih dekat, akibatnya ikan budidaya semakinmendekati lapisan hipolimnion yang reduktif. Sementara kedalaman perairandangkal, sehingga jarak KJA dan dasar menjadi semakin dekat. Akibatnyakolom air yang reduktif semakin mendekati KJA. Kolom air menjadi anoksikatau lapisan anoksik telah mencapai permukaan sehingga dapat disebutkanbahwa penyebab kematian massal karena kekurangan oksigen dan tingginyakonsentrasi zat toksik (H2S) (Simarmata, 2007). Sebaiknya pada saat tinggimuka air minimum, padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidayadiganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah.Menurut Krismono (1999), kegiatan budaya ikan sistem KJA di danau atauwaduk, kedalaman air disyaratkan minimal 5 m pada jalur yang berarushorizontal. Kedalaman tersebut dimaksudakan untuk menghindari pengaruhlangsung kualitas air yang jelek dari dasar perairan.Menurut Soemarwoto (1991), bahwa luas areal perairan waduk yang amanuntuk kegiatan budidaya ikan di KJA adalah 1% dari luas seluruh perairanwaduk dengan pertimbangan bahwa angka 1% tersebut non significant untukluasan suatu waduk serbaguna sehingga dianggap tidak akan mengganggukepentingan fungsi utama waduk. Memperbaiki konstruksi KJA yang ramahlingkungan dengan pelampung polystyrene foam. KJA yang terbuat daribambu dengan pelampung polystyrene foam merupakan KJA yang palingramah lingkungan dibandingkan dengan KJA lainnya (Prihadi dkk, 2008).Untuk meningkatkan DO di perairan menggunakan: 1). kincir yang dapatdipasang pada setiap unit KJA atau pada satu lokasi KJA (Enan dkk, 2009),2). pompa air yang dipancarkan dari atas (Krismono, 1995), denganpenambahan oksigen murni yang diberikan pada saat oksigen kritis (dini hari)(Danakusumah, 1998).Keramba jaring apung ganda atau berlapis dikembangkan dengan tujuan untukmengurangi beban dari sisa pakan, yang dapat mencemari perairan.Kuantitas limbah pakan yang signifikan tinggi perlu diadakan restorasi waduk
  • 15. melalui pengangkatan sedimen (dredging) agar kegiatan perikanan dapat amandari tingginya bahan toksik dan limbah pencemaran ini berpeluang dijadikanpupuk pertain (Yap,2003).Pemberian pakan dengan sistem pompa akan mengakibatkan banyak pakanyang terbuang di dasar perairan danau/waduk. Untuk mengurangi pakan yangterbuang ke dasar danau atau waduk, efisiensi pakan dapat dilakukan dengancara pemberian pakan berselang-seling dalam hal ini ikan tidak setiap haridiberi makan namun diberikan berselang-seling yakni satu hari diberi makan,hari berikutnya tidak diberi makan (dipuasakan) ternyata pertumbuhan tidakterganggu dan efisiensi pakan 20–30% (Krismono, 1999). Efisiensi pakan jugadapat dilakukan dengan menggunakan benih unggul yang efektifmemanfaatkan pakan sedangkan untuk kondisi kualitas air yang jelekmenggunakan benih ikan patin (Pangasius sp) yang tahan kualitas air jelek(Prihadi, 2005). Selain itu, perlu melakukan upaya pemberian pakan dengankadar fosfor yang rendah atau pemberian enzim fitase terhadap ketersediaanfosfor dari sumber bahan nabati pakan ikan. Penerapan pemberian pakan yangefektif dengan rasio 3% dengan pakan yang rendah kandungan fosfornyadengan pemberian tepung ikan seyogyanya dikurangi, sehingga dapatmengurangi limbah (sisa pakan) yang masuk ke perairan danau. Oleh karenaitu, perlu alternatif lain sebagai substitusi tepung ikan yaitu antara lain proteinsel tunggal (PST), tepung rumput laut. Kualitas pakan, selain ditentukan olehnilai nutrisinya, dalam Suhenda et al. (2003) juga disebutkan bahwa pakanyang baik untuk pembesaran ikan dalam KJA adalah berbentuk pelet yangtidak mudah hancur, tidak cepat tenggelam serta mempunyai aroma yangmerangsang nafsu makan ikan.Jenis ikan yang dibudidayakan di KJA harus memenuhi kriteria yaitu tidakmengancam keanekaragaman hayati di perairan waduk, mempunyai nilaiekonomis tinggi, dalam proses budidaya menghasilkan limbah organik yangsedikit.Pemilihan benih bertujuan untuk mendapatkan benih yang sehat dan bermutu.Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah benih ditebar sesuai SNI yangdijamin dengan sertifikat sistem mutu perbernihan dan padat penebaran sesuaidengan SNI pembesaran di KJA, Sebelum ditebar benih harus dilakukanpenyesuaian dengan kondisi perairan.Serangan penyakit ikan di pembenihan dan kolam ikan pada peralihan musimyang sering terjadi di lapang disebabkan oleh peralihan musim dapatmempengaruhi pH dan CO2, berakibat terhadap serangan penyakit ikan dipembenihan dan kolam ikan. pH terjadi perubahan akibat air hujanmembawa melekul kimia berupa CO2, H2S dan Fe. Unsur tersebut akanmempengaruhi pH, apabila kandungan pH pada kolam dan tempatpembenihan tidak setabil (< 4) dapat menyebabkan serangan penyakit padaikan yang dipelihara. Sedangkan CO2 dalam perairan kolam dipengaruhioleh O2 dari hasil proses fotosintesis dan perombakan bahan organikmikroorganisme, CO2 lebih dari 10 ppm dapat menyebabkan serangan
  • 16. penyakit pada ikan peliharaan. Proses CO2 pada perairan akibat terjadi fotosintesis adalah : 12 H2O + 6 CO2 + sinar matahari + klorofil  C6H12O6 + 6O2 + 6H2O (gula sederhana).6. Daerah Karawang adalah daerah pertanian sawah semi intensif dengan penggunaan pestisida yang kemungkinan besar juga intensif. Sementara di hilirnya merupakan daerah pertambakan bandeng dan udang. Namun belum pernah terdengar tuntutan petani tambak akibat kegagalan panen udang mereka terhadap petani sawah terkait dengan pestisida. Sementara hal sebaliknya terjadi dimana petani tambak di Indramayu sering menuntut ganti rugi ke perusahaan minyak atas dugaan pencemaran minyak sehingga tambak mereka gagal panen. Jelaskan secara lengkap analisis saudara untuk kedua kejadian diatas! Pencemaran air oleh pestisida selain distribusinya di air, pencemaran pestisida juga terdistribusi ke sedimen. Bahkan distribusi pencemaran pestisida terbesar berada di sedimen. Sehingga pestisida yang digunakan pada persawahan di daerah Karawang tidak membahayakan pada pertambakan di daerah hilirnya, karena pestisida tersebut mengendap menjadi sedimen pada aliran air menuju hilir. Kondisi ini menyebabkan konsentrasi pestisida di daerah hilir sangat kecil bahkan tidak ada lagi, sehingga aman untuk usaha pertambakan. Proses terjadinya distribusi bahan tercemar di perairan sebagai berikut : DISTRIBUSI PENCEMAR DI AIR Plankton Bioakumulasi Air BO partklt. partklt. Udang / Pestisida Partisi Ikan Sedimen Biota bentik Eliminasi Gambar. Proses Distribusi Bahan Tercemar Di Perairan Sedangkan petani tambak Indramayu sering menuntut ganti rugi ke perusahaan minyak atas dugaan pencemaran minyak sehingga tambak mereka gagal panen, hal ini karena petani tambak Indramayu berada dibagian hulu perusahan minyak, sehingga tambak petani tercemar minyak yang terbawa bersama air ke hulu. Kita ketahui bahwa apabila minyak bercampur dengan
  • 17. air, berat molekul air lebih besar dibandingkan dengan berat molekul minyak, sehingga posisi minyak berada di atas air (air di bagian bawah). Minyak yang berada di atas air tersebut terbawa ke hulu. Kondisi ini menyebabkan tambak di daerah Indramayu tercemar oleh limbah minyak, sehingga menyebabkan kematian pada udang yang dibudidayakan.7. Hatchery A terletak dekat pantai Carita tempat wisata pantai. Untuk desinfeksi airnya menggunakan sand filter dan UV. Jelaskan analisis saudara sebagai masukan untuk manajemen perusahaan tentang manajemen air menggunakan UV demikian! Ozonation dan ult raviolet (UV) iradiasi adalah metode yang p a l i n g sering digunakan untuk pengendalian virus pada akuakultur. Kedua metodeini dapat digunakan untuk menghilangkan patogen pada air masuk, air keluar dan dalam sirkulasi air. Desinfeksi ozon dan radiasi sinar UV juga digunakanpada aplikasi akuakultur yang lain, misalnya dalam mengurangi ataumenghilangkan patogen potensial yang hidup berasosiasi dengan rotiferadalam sistem produksi larva dan desinfeksi permukaan telur ikan (Theisen etal., 1998; Munro et al., 1999; Grotmol dan Totland,2000). Biota yang dibudidayakan harus dipelihara di tempat yang mempunyai air dengan kualitas baik. Kualitas air biasanya dapat dijaga dan ditingkatkan dengan beberapa cara, tergantung pada biota yang dipelihara, kondisi fisik sistem budidaya, dan kondisi air sebelum memasuki suatu sistem budidaya. Air yang masuk ke suatu sistem akuakultur harus dijaga kejernihannya dan bebas dari predator. Predator yang ikut masuk ke tempat budidaya akan menurunkan produktifitas. Kotoran dan partikel yang larut dalam air harus dicegah sekecil mungkin. Partikel yang larut di dalam air dapat menutupi insang pada hewan yang dipelihara, dan dapat pula merusakan mesin. Partikel-partikel berukuran besar dapat disaring secara mekanik,sedangkan partikel-partikel yang berukuran kecil tetapi lebih berat dari massa air dapat diendapkan dengan sistem grafitasi. Contoh filter mekanik yaitu saringan yang dipasang pada pintu atau pipa pemasukan air dan filter pasir (sand filter). Sedangkan contoh filter grafitasi yaitu bak atau kolam pengendapan air, dan gaya sentrifugal oleh aliran air yang berputar. Nutrisi yang berlebihan di dalam air akan berbahaya karena dapat menyebabkan pertumbuhan mikroalge yang terlalu cepat (blooming). Pertumbuhan mikroalge yang tidak terkontrol akan menurunkan kwalitas air dan meracuni biota yang dipelihara (BARNABE 1990, LANDAU 1992, 1996). Nutrisi terlarut yang berlebihan tersebut dapat dihilangkan dengan sistem filter biologi, menggunakan koloni bakteri (Nitrosomonas dan Nitrobacter) yang dapat merubah amoniak (NH4) menjadi nitrit(NO2 -) kemudian menjadi nitrat (NO3). Nitrat bersifat kurang berbahaya daripada nitrit. Nitrat yang ada di dalam air oleh bakteri Pseudomonas pada kondisi tanpa oksigen (anaerobic) dapat dirubah menjadi gas nitrogen yang kemudian akan menguap keluar dari air.
  • 18. Nutrisi dan zat-zat terlarut lainnya dapat dihilangkan dengan menggunakanfilter karbonaktif. Sistem filter ini akan mengganti ion-ion yang tidakdiinginkan (meracuni) dengan ionion lain yang kurang berbahaya bagi biotayang dipelihara. Air juga perlu di „disinfeksi‟ untuk membunuh mikroba danlarva binatang yang berukuran sangat kecil dengan menggunakan penyinaranatau radiasi ultra-violet (UV), ozonisasi, dan penambahan cloor kedalam air.Desinfektan, bertujuan untuk membunuh bakteri pathogen yang masihterdapat dalam air yang sudah melalui tahap filter. Desinfektan yangdigunakan adalah substansi kimia yang merupakan oksidator kuat sepertikhlor dan kaporit.UV (ultraviolet) adalah suatu cahaya yang memiliki panjang gelombangantara 100 – 400 nm yang berfungsi dalam desinfektan suatumikroorganisme. Sinar UV membunuh patogen dengan cara mendenaturasiDNA mikroorganisme. Dimana pada kisaran panjang gelombang antara 255-265 nm, sinar UV akan diabsorpsi oleh DNA dari mikroorganisme dengansangat kuat. Hal ini mengakibatkan terjadinya kerusakan pada ikatan peptida,protein dan enzim dalam tubuh mikroorganisme.Terdenaturasinya DNA suatu miroorganisme akan menurunkan patogenitasserta menyebabkan kematian suatu mikroorganisme. Keefektifan sinar UVdalam membunuh patogen biasanya dicapai pada panjang gelombang 265 nm.Pada sistem pengolahan air, biasanya lampu UV diletakkan dalam suatutabung yang terbuat dari kaca yang dapat mentrasmisi UV sehingga lampuUV tidak langsung kontak dengan air, tetapi radiasi UV tetap masuk kedalamair dan menginaktifkan organisme target.Kelemahan penggunaan UV di sistem treatment air, antara lain :1) Cahaya UV tidak mampu melewati lapisan gelas, air atau plastik karena mereka mengabsorbsi UV.2) untuk menginaktifkan mikroorganisme akuakultur, radiasi UV harus menembus ke dalam air3) keefektifan UV dipengaruhi turbiditas dan garam-garam mineral terlarut yang ada di air budidaya.4) mudah terjadi proses solarisasi, yaitu proses penghitaman secara lambat dari kaca lampuVolume camber efektif (ECV)ECV = V(chamber) – V(tabung kecil) = πr2hc - πr2hk = 3,14 . 0,252. 1 - 3,14 . 0,12. 1 = 0,16485 m3 = 164,85 LTime expose (ET)ET = tingkat dosis / intensitas lampu = 360.000 µW.det/cm2 / 9000 µW.det/cm2 = 40 detik
  • 19. Water flow rate (WFR) WFR = ECV / ET = 164,85 L / 40 detik = 4,12 L/detik Jadi debit yang dianjurkan adalah 4,12 L/detik.8. Dari hasil fieldtrip, diketahui hatchery Y di daerah pantai Jakaarta, mendisinfeksi airnya menggunakan ozon. Jelaskan analisis saudara sebagai masukan untuk manajemen tentang pengelolaan air menggunakan ozon demikian! Ozon diterapkan di sebagian besar hatchery. Selain menjadi suatu disinfektan yang kuat, ozon dinilai memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas air jika digunakan dengan benar. Selain itu, tindakan pengobatan pada penyakit ikan dapat langsung dikurangi dengan meningkatkan kualitas air akibat kondisi stress pada lingkungan (Bullock et al.,1997). Aplikasi ozon dengan konsentrasi rendah di kombinasi dengan flotasi banyak digunakan dalam budidaya air laut untuk menghilangkan partikel dan protein. Manfaat ozonasi dalam proses pengelolaan air pada hatchery, yaitu: 1. Ozon memiliki efektifitas tinggi dalam membunuh pathogen (bakteri dan mikroorganisme lainnya). Ozon merupakan oksidator yang kuat menghasilkan oksida-oksida metal tidak larut dan dapat menjadi suatu metode penghilangkan yang lebih efektif. Dimana oksida-oksida metal tersebut dapat membunuh pathogen dengan cara merusak dinding sel sekaligus menguraikan bakteri tersebut. 2. Ozon merupakan oksidator yang kuat untuk mengoksidasi ammonia (NH3), menghilangkan warna dan bau, mengurangi turbiditas (TSS), dan mendegradasi bahan organik lainnya dalam perairan 3. Ozon dapat digunakan untuk mengendapkan mineral, bahan logam, dan bahan lainnya. 4. Ozon dapat digunakan untuk proses demineralisasi 5. Ozonasi akan menghasilkan oksida-oksida metal tidak larut dan dapat menjadi suatu metode penghilangan yang lebih efektif Kekurangan dari penggunaan ozonasi dalam proses pengelolaan air pada hatchery, yaitu : 1. Penggunaan ozon di dalam hatchery air laut, berpotensi menyebabkan terbentuknya asam bromat selama oksidasi alamiah. Asam bromat adalah penyebab kanker pada manusia dan berhubungan dengan dampak yang kronis pada kesehatan ikan. Pembentukan bromat ini sulit dihindari karena bromat biasanya terdapat secara alami dalam air laut.
  • 20. − + O3 +Br + H →HOBr +O2 2. Ozonisasi dapat bersumber dari ozon lansung melalui udara bebas atau dengan menggunakan feed gas/oksigen murni. Kedua sumber ozon ini memiliki kelemahan, yaitu pada sumber ozon dari udara bebas, dikhawatirkan terjadi pembentukan ozon yang tidak optimal karena udara bebas yang dipakai sebagai sumber ozon bersifat heterogen (tidak hanya mengandung gas oksigen sebagai sumber dari ozon). Sedangkan jika menggunakan oksigen murni, oksigen murni ini cukup mahal dan tidak tahan lama, sehingga tidak efisien digunakan pada hatchery. 3. Ozoninasi tidak akan berjalan efektif jika dalam perairan masih terdapat partikel-partikel yang tidak tersaring oleh filter fisik. Partikel-partikel yang tidak tersaring tersebut akan menghalangi ozonisasi pada pathogen. 4. Ozon bersifat sangat korosif sehingga dapat merusak generator. 5. Reaksi oksidasi antara ozon dengan kation-kation inorganik menyebabkan kerugian pada sistim kultur shellfish marin tertutup, karena garam-garam terlarut yang dibutuhkan untuk metabolisme mungkin juga dioksidasi menjadi bentuk-bentuk yang tidak larut. Efektifitas ozonisasi dapat ditingkatkan dengan cara sebagai berikut : 1. Menggunakan filter fisik untuk menyaring partikel-partikel fisik sebelum dilakukan treatment ozon. 2. Setelah treatment ozon, harus diletakan bio filter berupa arang aktif atau vaccum degasser atau CO2 stripper untuk menghilangkan residu ozon yang cukup berbahaya bagi manusia dan ikan. 3. Harus dikenali bahwa bahan organik dan inorganik pada suplai air hatchery akan menunjukkan suatu kebutuhan ozon dan meningkatkan konsentrasi O3 yang diperlukan untuk desinfeksi9. Di Kalimantan Tengah banyak terdapat penambangan emas yang menggunakan Hg sebagai katalisator memisahkan mineral emas dengan tailing. Namun kajian di sungai-sungai disekitarnya, kadar Hg dalam air sungai berada dalam jumlah yang rendah. Jelaskan analisis saudara terkait kasus diatas! Dari aspek ekologis, pencemaran logam berat dipengaruhi oleh faktor kadar dan kesinambungan logam yang masuk ke badan perairan, terutama sifat toksisitas, bioakumulasi dan persistensi baik terhadap faktoor fisik, kimia dan biologi. Logam berat yang masuk ke perairan akan mengalami pengendapan, pengenceran dan dapat disperse kemudian diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Merkuri di perairan jarang sekali terdapat dalam bentuk bebas, umumnya terkait dengan unsur-unsur lain terutama klorida (Cl) yang senyawanya diperkirakan berbentuk (HgCl4)-2, (HgCl3)-, (HgCl3Br)- . kadar logam merkuri dalam air laut sangat rendah berkisar antara 0,1-1,2 ppb. Rompas (1991) menyatakan bahwa secara alamiah merkuri yang terdapat di dalam perairan
  • 21. adalah kecil. Dengan peningkatan konsentrasi merkuri setelah masuk ke dalamwilayah perairan maka merkuri akan mengalami berbagai proses yang disebutdengan ekotoksikologi.Selain itu, merkuri dan turunannya telah lama diketahui sangat beracunsehingga kahadirannya di lingkungan perairan dapat mengakibatkan kerugianpada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringantubuh organism air. Pencemaran merkuri juga mempunyai pengaruh terhadapekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil dalam sedimen,kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya diserap danterakumulasi dalam jaringan tubuh organism air, baik melalui prosesbioakumulasi maupun biomagnefikasi yaitu melalui rantai makanan.Persenyawaan merkuri pada sedimen dasar perairan diakibatkan oleh adanyaaktifitas kehidupan bakteri yang mengubah persenyawaan merkuri menjadiHg2+ dan Hg0. Logam merkuri yang dihasilkan dari aktifitas bakteri ini karenadipengaruhi oleh faktor fisika dapat langsung menguap ke udara. Tetapi padaakhirnya merkuri yang telah menguap dan berada dalam tatanan udara akanmasuk kembali ke badan perairan oleh hujan. Ion Hg2+ yang dihasilkan dariperombakan persenyawaan merkuri pada endapan lumpur (sedimen) denganbantuan bakteri akan berubah menjadi dimetil merkuri (CH3)2Hg, dan ionmetal merkuri (CH3Hg+). Dimetil merkuri mudah menguap ke udara dan olehfaktor fisika di udara, dimetil merkuri akan terurai kembali menjadi metanaCH4, etana C2H6 dan logam Hg0. Sementara itu ion metil merkuri mudah larutdalam air dan dimakan oleh biota perairan seiring dengan rantai makananadalah manusia yang akan mengkontaminasi baik ikan maupun burung-burungair yang telah terkontaminasi oleh senyawa merkuri.Merkuri yang terdapat di perairan diubah menjadi metilmerkuri oleh bakteritertentu. Sumber merkuri yang berasal dari alam dan yang disebabkan olehaktifitas manusia ini akan masuk ke laut, danau dan sungai akan diubahmenjadi metilmerkuri oleh bakteri tertentu dan kemudian akan terakumulasipada ikan dan hewan-hewan laut lainnya.