• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Makalah tentang limbah pabrik
 

Makalah tentang limbah pabrik

on

  • 28,381 views

 

Statistics

Views

Total Views
28,381
Views on SlideShare
28,381
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
262
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • cara downloadnya gmna ?
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Makalah tentang limbah pabrik Makalah tentang limbah pabrik Presentation Transcript

    • Disusun Oleh :• Adwin Arga Putra (01)•Augustinus Gunawan (06)•Ayu Larissa Maharani (07)•Ayu Nani Septiana (08)•Linda Ayu Rahmawati (21)•Septa Ayu Ningtyas (34)
    • DAFTAR ISI• HALAMAN JUDUL…………………………………………………………… i• DAFTAR ISI……………………………………………………………………… ii• BAB I PENDAHULUAN• 1.1 Latar Belakang …………………………………….. 1• 1.2 Rumusan Masalah…….............................. 3• BAB II PEMBAHASAN• 2.1 Pengertian Limbah Pabrik……………………. 4• 2.2 Dampak Limbah Pabrik………………………… 7• 2.3 Mengatasi Limbah Pabrik…………………….. 15• 2.4 Limbah Menurut Pandangan Agama…….. 16• BAB III PENUTUP• 3.1 Kesimpulan…………………………………......... 24• 3.2. Saran………………………………………………….. 24• DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 25 ii
    • BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara latin yang gandrungmemakai teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara maju (core industry) untukpembangunan ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distorsi tujuan. Keadaan ini terjadikarena aspek-aspek dasar dari manfaat teknologi bukannya dinikmati oleh negara importir, tetapimemakmurkan negara pengekpor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadikonsumen dan ladang pembuangan produk teknologi karena tingginya tingkat ketergantungan akansuplai berbagai jenis produk teknologi dan industri dari negara maju. Alasan umum yang digunakanoleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah denganpemikiran Alfin Toffler maupun John Naisbitt yang menyebutkan bahwa untuk masuk dalam eraglobalisasi dalam ekonomi dan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis.Hal ini didukung oleh itikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satutahapan pembangunan ke tahapan pembangunan berikutnya. Tetapi akibat tindakan penyesuaian yang harus dipenuhi dalam memenuhi permintaan akanberbagai jenis sumber daya (resources), agar proses industri dapat menghasilkan berbagai produkyang dibutuhkan oleh manusia, seringkali harus mengorbankan ekologi dan lingkungan hidupmanusia. Hal ini dapat kita lihat dari pesatnya perkembangan berbagai industri yang dibangundalam rangka peningkatan pendapatan (devisa) negara dan pemenuhan berbagai produk yangdibutuhkan oleh manusia. 1
    • Disamping itu, iptek dan teknologi dikembangkan dalam bidang antariksa dan militer,menyebabkan terjadinya eksploitasi energi, sumber daya alam dan lingkungan yang dilakukanuntuk memenuhi berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Gejala memanasnya bola bumi akibat efek rumah kaca (greenhouse effect) akibatmenipisnya lapisan ozone, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernyalapisan es di Kutub Utara dan Selatan bumi dapat dijadikan sebagai indikasi dari terjadinyapencemaran lingkungan karena penggunaan energi dan berbagai bahan kimia secara tidakseimbang. Selain itu, terdapat juga indikasi yang memperlihatkan tidak terkendalinya polusi danpencemaran lingkungan akibat banyak zat-zat buangan dan limbah industri dan rumah tanggayang memperlihatkan ketidak-perdulian terhadap lingkungan hidup. Akibat-akibat dari ketidak-perdulian terhadap lingkungan ini tentu saja sangat merugikan manusia, yang dapatmendatangkan bencana bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, masalah pencemaranlingkungan baik oleh karena industri maupun konsumsi manusia, memerlukan suatu pola sikapyang dapat dijadikan sebagai modal dalam mengelola dan menyiasati permasalahan lingkungan. Pengertian dan persepsi yang berbeda mengenai masalah lingkungan hidup seringmenimbulkan ketidak-harmonisan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Akibatnya seringkaliterjadi kekurang-tepatan dalam menerapkan berbagai perangkat peraturan, yang justrumenguntungkan perusak lingkungan dan merugikan masyarakat dan pemerintah. Itikad penanganan dan pemecahan masalah lingkungan telah ditunjukkan oleh pemerintahmelalui Kantor Menteri Lingkungan Hidup yang mempersyaratkan seluruh bentuk kegiatan industriharus memenuhi ketentuan Amdal dan menata hasil buangan industri baik dalam bentuk padat, cairmaupun gas. Disamping itu, berbagai seruan dan ajakan telah disampaikan kepada konsumen danrumah tangga pengguna produk industri yang buangannya tidak dapat diperbaharui ataupun didaurulang. 2
    • 1.2. Rumusan MasalahDari uraian latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :1. Apa yang dimaksud dengan limbah pabrik?2. Bagaimana dampak limbah industri terhadap lingkungan hidup ?3. Bagaimana upaya-upaya untuk mengatasi limbah pabrik ?4. Bagaimana pencemaran lingkungan pabrik dan industri menurut sudut pandang agama? 3
    • BAB II PEMBAHASAN2.1 Pengertian Limbah Pabrik Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baikindustri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalahberbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), danada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendakikehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi,limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengankonsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadaplingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penangananterhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantungpada jenis dan karakteristik limbah.Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:1. Limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaranair pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik dan bahanbuangan anorganik2. Limbah padat3. Limbah gas dan partikel 4
    • Proses pencemaran udara semua spesies kimia yang dimasukkanatau masuk ke atmosfer yang “bersih” disebut kontaminan. Kontaminanpada konsentrasi yang cukup tinggi dapat mengakibatkan efek negatifterhadap penerima (receptor), bila ini terjadi, kontaminan disebutcemaran (pollutant). Cemaran udara diklasifihasikan menjadi 2 kategori menurut caracemaran masuk atau dimasukkan ke atmosfer yaitu: cemaran primerdan cemaran sekunder. Cemaran primer adalah cemaran yangdiemisikan secara langsung dari sumber cemaran. Cemaran sekunderadalah cemaran yang terbentuk oleh proses kimia di atmosfer. Sumber cemaran dari aktivitas manusia (antropogenik) adalahsetiap kendaraan bermotor, fasilitas, pabrik, instalasi atau aktivitas yangmengemisikan cemaran udara primer ke atmosfer. Ada 2 kategorisumber antropogenik yaitu: sumber tetap (stationery source) seperti:pembangkit energi listrik dengan bakar fosil, pabrik, rumah tangga,jasa,dan lain-lain dan sumber bergerak (mobile source) seperti: truk,bus,pesawat terbang, dan kereta api. 5
    • Lima pencemaran primer yang secara total memberikan sumbanganlebih dari 90% pencemaran udara global adalah:a. Karbon monoksida (CO)b. Nitrogen oksida (Nox)c. Hidrokarbon (HC)d. Sulfur oksida (SOx)e. Partikulat. Ada beberapa pencemaran sekunder yang dapat mengakibatkandampak penting baik lokal,regional maupun global yaitu:a. CO2 (karbon monoksida),b. Cemaran asbut (asap kabut) atau smog (smoke fog),c. Hujan asam,d. CFC (Chloro-Fluoro-Carbon/Freon),e. CH4 (metana). 6
    • 2.2 Dampak Limbah Pabrik1. Dampak Industri dan Teknologi terhadap Lingkungan Joseph Schumpeter (dalam Marchinelli dan Smelser,1990 :14-20)mengisyaratkan tentang pentingnya inovasi dalam proses pembangunan ekonomi disuatu negara. Dalam hal ini, pesatnya hasil penemuan baru dapat dijadikan sebagaiukuran kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa.Dari berbagai tantangan yang dihadapi dari perjalanan sejarah umat manusia, kiranyadapat ditarik selalu benang merah yang dapat digunakan sebagai pegangan mengapamanusia "survival" yaitu oleh karena teknologi. Teknologi memberikan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut,kereta api, industri mobil, yang memperkaya peradaban manusia.. Teknologi jugamampu menghasilkan sulfur dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buangan lainyang mengancam kelangsungan hidup manusia akibat memanasnya bumi akibat efek"rumah kaca". Teknologi yang diandalkan sebagai instrumen utama dalam "revolusi hijau"mampu meningkatkan hasil pertanian, karena adanya bibit unggul, bermacam jenispupuk yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida. Dibalik itu, teknologi yangsama juga menghasilkan berbagai jenis racun yang berbahaya bagi manusia danlingkungannya, bahkan akibat rutinnya digunakan berbagi jenis pestisida ataupuninsektisida mampu memperkuat daya tahan hama tananam misalnya wereng dan kutuloncat. 7
    • Teknologi juga memberi rasa aman dan kenyamanan bagi manusia akibatmampu menyediakan berbagai kebutuhan seperti tabung gas kebakaran, alat-alatpendingin (lemari es dan AC), berbagai jenis aroma parfum dalam kemasan yangmenawan, atau obat anti nyamuk yang praktis untuk disemprotkan, dan sebagainya.Serangkai dengan proses tersebut, ternyata CFC (chlorofluorocarbon) dan tetrafluoro ethylene polymer yang digunakan justru memiliki kontribusi bagi menipisnyalapisan ozone di stratosfer. Teknologi memungkinkan negara-negara tropis (terutama negara berkembang) untukmemanfaatkan kekayaan hutan alamnya dalam rangka meningkatkan sumber devisa negaradan berbagai pembiayaan pembangunan, tetapi akibat yang ditimbulkannya merusak hutantropis sekaligus berbagai jenis tanaman berkhasiat obat dan beragam jenis fauna yang langka. Terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan yang disumbangkan olehteknologi dan sektor industri di Indonesia, sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumberdaya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan, khususnya pada kota-kota yang sedangberkembang seperti Gresik, Surabaya, Jakarta, Bandung Lhokseumawe, Medan, dansebagainya. Bahkan hampir seluruh daerah di Jawa telah ikut mengalami peningkatan suhuudara, sehingga banyak penduduk yang merasakan kegerahan walaupun di daerah tersebuttergolong berhawa sejuk dan tidak pesat industrinya. 8
    • Kerusakan lingkungan akibat industrialisasi di beberapa kota diIndonesia, yaitu: Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri. Konsentrasi bahan pencemar yang berbahaya bagi kesehatanpenduduk seperti merkuri, kadmium, timah hitam, pestisida, pcb,meningkat tajam dalam kandungan air permukaan dan biotaairnya. Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di musimkemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi banjiryang melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibatkondisi ekosistemnya yang telah rusak. Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah,bahkan temperatur tertinggi di beberapa kola seperti Jakarta sudahmencapai 37 derajat celcius. Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara seperti CO,NO2r SO2, dan debu.Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia terasa semakinmenipis, seperti minyak bumi dan batu bara yang diperkirakanakan habis pada tahun 2020.. Luas hutan Indonesia semakin sempit akibat tidak terkendalinyaperambahan yang disengaja atau oleh bencana kebakaran. Kondisihara tanah semakin tidak subur, dan lahan pertanian semakinmenyempit dan mengalami pencemaran. 9
    • 2. Klasifikasi Pencemaran Lingkungan Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalamUU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, danatau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan olehkegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkattertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagi berfungsisesuai peruntukannya. Dari definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga unsur dalam pencemaran, yaitu: sumber perubahan oleh kegiatan manusia atau proses alam, bentuk perubahannya adalahberubahnya konsentrasi suatu bahan (hidup/mati) pada lingkungan, dan merosotnya fungsilingkungan dalam menunjang kehidupan. Pencemaran dapat diklasifikasikan dalam bermacam-macam bentuk menurutpola pengelompokannya. Berkaitan dengan itu, Amsyari (1996: 102), mengelompokkanpencemaran atas dasar :a) bahan pencemar yang menghasilkan bentuk pencemaran biologis, kimiawi, fisik, danbudayab) pengelompokan menurut medium lingkungan menghasilkan bentuk pencemaran udara,air, tanah, makanan, dan socialc) pengelompokan menurut sifat sumber menghasilkan pencemaran dalam bentuk primerdan sekunder. Namun apapun klasifikasi dari pencemaran lingkungan, pada dasarnya terletakpada esensi kegiatan manusia yang mengakibatkan terjadinya kerusakan yang merugikanmasyarakat banyak dan lingkungan hidupnya. 10
    • C. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) danKesehatan Dalam Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentangKesehatan, pada pasal 1 butir 1 disebutkan bahwa yang dimaksuddengan kesehatan adalah keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa dansosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosialdan ekonomis. Adapun derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor,yaitu : Faktor Lingkungan Faktor Perilaku Faktor Pelayanan Kesehatan Faktor Bawaan (Keturunan) Dari keempat faktor tersebut, faktor lingkungan merupakanfaktor yang paling besar pengaruhnya dibandingkan dengan ketigafaktor yang lain. 11
    • Perilaku manusia yang tidak sehat, akan memperburuk kondisi lingkungandengan timbulnya “man made breeding places” bagi kuman dan vektor penyakit maupunsumber pencemar yang dapat memajani manusia. Selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bertambahnyajumlah penduduk dengan mobilitas yang cepat, sangat berpengaruh terhadap kebutuhanmanusia yang tidak hanya kebutuhan dasar saja. Dari kebutuhan dasar yang berupamakanan dan sandang sampai pada kebutuhan materi sebagai hasil proses industri,memunculkan kecenderungan semakin meningkatnya tempat / kegiatan yang jugamenghasilkan limbah berupa bahan berbahaya dan beracun bagi kehidupan manusiamaupun makhluk hidup lainnya. Kondisi tersebut, bila tidak terkendali akan menimbulkan masalah kesehatanyang semakin berat dan luas dengan semakin tingginya angka kesakitan, baik karenapenyakit infeksi maupun non infeksi sebagai akibat dari pencemaran lingkungan olehbahan-bahan yang tidak diinginkan. Beberapa tahun terakhir ini telah terjadi transisi epidemiologik, yaitubergesernya pola penyakit yang sebelumnya didominasi oleh penyakit infeksi, pada saat inipenyakit non infeksi antara lain hipertensi, jantung, diabetes melitus, gangguan fungsiginjal, kanker, lebih menonjol dibanding tahun-tahun sebelumnya. 12
    • D. Limbah dan Masalahnya Karena limbah dibuang ke lingkungan, maka masalah yang ditimbulkannya merata danmenyebar di lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu tempat ke tempatlainnya. Limbah cair atau padat yang dibuang ke sungai, dihanyutkan dari hulu sampai jauh kehilir, melampaui batas-batas wilayah akhirnya bermuara di laut atau danau, seolah-olah lautatau danau menjadi tong sampah. Limbah bermasalah antara lain berasal dari kegiatanpemukiman, industri, pertanian, pertambangan dan rekreasi. Limbah pemukiman selain berupa limbah padat yaitu sampah rumah tangga, jugaberupa tinja dan limbah cair yang semuanya dapat mencemari lingkungan perairan. Air yangtercemar akan menjadi sumber penyakit menular. Limbah industri baik berupa gas, cair maupun padat umumnya termasuk kategori ataudengan sifat limbah B3. Kegiatan industri disamping bertujuan untuk meningkatkankesejahteraan, ternyata juga menghasilkan limbah sebagai pencemar lingkungan perairan,tanah, dan udara. Limbah cair, yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang dipergunakanuntuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota air. Limbah padat akan mencemaritanah dan sumber air tanah. Limbah gas yang dibuang ke udara pada umumnya mengandung senyawa kimiaberupa SOx, NOx, CO, dan gas-gas lain yang tidak diinginkan. Adanya SO2 dan NOx di udara dapatmenyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat menimbulkan kerugian karena merusakbangunan, ekosistem perairan, lahan pertanian dan hutan.Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah limbah dari industrikimia. Limbah dari industri kimia pada umumnya mengandung berbagai macam unsur logamberat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun (toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatanmanusia. 13
    • Karena limbah industri pada umumnya bersifat sebagai bahanberbahaya dan beracun (B3), maka substansi atau zat beracun dilingkungan yang sangat menjadi perhatian ialah yang bersumber padakegiatan manusia yang dibuang ke lingkungan sebagai limbah. Limbah B3 diidentifikasi sebagai bahan kimia dengan satu ataulebih karakteristik : mudah meledak mudah terbakar bersifat reaktif Beracun penyebab infeksi bersifat korosif. kenyataannya adalah bahwa yang paling merasakan dampaksuatu kegiatan adalah manusia, bagian dari makhluk hidup. Limbah B3 dari kegiatan industri yang terbuang ke lingkunganakhirnya akan berdampak pada kesehatan manusia. Dampak itu dapatlangsung dari sumber ke manusia, misalnya meminum air yangterkontaminasi atau melalui rantai makanan, seperti memakan ikanyang telah menggandakan (biological magnification) pencemar karenamemakan mangsa yang tercemar. 14
    • 2.3 Mengatasi Limbah Pabrik Cara mengatasi limbah pabrik adalah : Sebaiknya dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungan yang dilakukan olehdunia industri tidak hanya bertujuan meningkatkan keuntungan ekonomi semata, haruspula diiringi dengan kemauan untuk menyisihkan biaya bagi penelitian dan pemeliharaanlingkungan hidup. Perlu dilibatkan masyarakat dalam pengawasan pengolahan limbah buangan industriagar lebih intens dalam menjaga mutu lingkungan hidup. Upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan adalah upaya promotif,preventif, pengobatan dan pemulihan; dengan menitik beratkan pada upaya promotif danpreventif. Filosofi kesehatan yang menyatakan bahwa mencegah lebih mudah dan murahdari pengobatan, sebaiknya dapat menjadi rujukan. Limbah B3 sebelum dibuang ke media lingkungan seharusnya diolah / ditreatment lebihdulu.Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan yang berhubungan dengan masalahlingkungan hidup, antara lain yang mengatur bahwa limbah yang dihasilkan oleh suatukegiatan (misal : industri) yang dibuang ke lingkungan (udara dan perairan) harus sesuaidengan baku mutu lingkungan baik itu baku mutu untuk udara maupun baku mutu untukair. Maksud dan tujuan peraturan tersebut adalah sebagai upaya pencegahan agar dayadukung lingkungan dan daya tampung lingkungan untuk kelangsungan hidup manusiadapat dipertahankan. Biaya yang dikeluarkan dari pada untuk pengobatan atau pemulihankesehatan lebih baik untuk menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan agarmanusia dapat tetap produktif dan dapat menikmati hidupnya. 15
    • 2.4 Limbah Menurut Pandangan Agama Limbah menurut pandangan agama Kristen adalah dalam cerita penciptaan dikatakanbahwa manusia diciptakan bersama dengan seluruh alam semesta. Itu berarti bahwa manusiamemunyai keterkaitan dan kesatuan dengan lingkungan hidupnya. Akan tetapi, diceritakanpula bahwa hanya manusia yang diciptakan sebagai gambar Allah ("Imago Dei") dan yangdiberikan kewenangan untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan segala isinya. Jadi disatu segi, manusia adalah bagian integral dari ciptaan (lingkungan), akan tetapi di lain segi, iadiberikan kekuasaan untuk memerintah dan memelihara bumi. Maka hubungan manusiadengan lingkungan hidupnya seperti dua sisi dari mata uang yang mesti dijalani secaraseimbang.1. Kesatuan Manusia dengan Alam Alkitab menggambarkan kesatuan manusia dengan alam dalam cerita tentangpenciptaan manusia: "Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah" (Kej. 2:7), sepertiIa juga "membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara" (Kej. 2:19).Dalam bahasa Ibrani, manusia disebut "adam". Nama itu memunyai akar yang sama dengankata untuk tanah, "adamah", yang berarti warna merah kecokelatan yang mengungkapkanwarna kulit manusia dan warna tanah. Dalam bahasa Latin, manusia disebut "homo", yang jugamemunyai makna yang berkaitan dengan "humus", yaitu tanah. Dalam artian itu, tanah yangbiasa diartikan dengan bumi, memunyai hubungan lipat tiga yang kait-mengait denganmanusia: manusia diciptakan dari tanah (Kej. 2:7; 3:19, 23), ia harus hidup dari menggaraptanah (Kej. 3:23), dan ia pasti akan kembali kepada tanah (Kej. 3:19; Maz. 90:3). Di sini nyatabahwa manusia dan alam (lingkungan hidup) hidup saling bergantung -- sesuai dengan hukumekosistem. Karena itu, kalau manusia merusak alam, maka secara otomatis berarti ia jugamerusak dirinya sendiri. 16
    • 2. Kepemimpinan Manusia Atas Alam Walaupun manusia dengan alam saling bergantung, Alkitab jugamencatat dengan jelas adanya perbedaan manusia dengan unsur-unsur alamyang lain. Hanya manusia yang diciptakan segambar dengan Allah dan yangdiberikan kuasa untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan seluruhciptaan yang lain (Kej. 2:26-28), dan untuk mengelola dan memeliharalingkungan hidupnya (Kej. 2:15). Jadi, manusia memunyai kuasa yang lebihbesar daripada makhluk yang lain. Ia dinobatkan menjadi "raja" di bumi yangdimahkotai kemuliaan dan hormat (Maz. 8:6). Ia menjadi wakil Allah yangmemerintah atas nama Allah terhadap makhluk-makhluk yang lain. Ia hidup didunia sebagai duta Allah. Ia adalah citra, maka ia ditunjuk menjadi mitra Allah.Karena ia menjadi wakil dan mitra Allah, maka kekuasaan manusia adalahkekuasaan perwakilan dan perwalian. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yangterbatas dan yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa, yaituAllah. Itu sebabnya manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap alam. Iatidak boleh menjadi "raja lalim". Kekuasaan manusia adalah kekuasaan "care-taker". Maka sebaiknya manusia memberlakukan secara seimbang, artinyapengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber alam diimbangi dengan usahapemeliharaan atau pelestarian alam. 17
    • 3. Kegagalan Manusia Memelihara Alam Alkitab mencatat secara khusus adanya "keinginan" dalam diri manusia untukmenjadi sama seperti Allah dan karena keinginan itu ia "melanggar" amanat Allah (Kej. 3:5-6). Tindakan melanggar amanat Allah membawa dampak bukan hanya rusaknya hubunganmanusia dengan Allah, tetapi juga dengan sesamanya dan dengan alam. Manusiamenghadapi alam tidak lagi dalam konteks "sesama ciptaan", tetapi mengarah padahubungan "tuan dengan miliknya". Manusia memperlakukan alam sebagai objek yangsemata-mata berguna untuk dimiliki dan dikonsumsi. Alam diperhatikan hanya dalamkonteks kegunaan (utilistik-materialistik). Manusia hanya memerhatikan tugas menguasai,tetapi tidak memerhatikan tugas memelihara. Dengan demikian, manusia gagalmelaksanakan tugas kepemimpinannya atas alam. Akar perlakuan buruk manusia terhadap alam terungkap dalam istilah seperti:"tanah yang terkutuk", "susah payah kerja", dan "semak duri dan rumput duri yang akandihasilkan bumi" (Kej. 3:17-19). Manusia selalu dibayangi oleh rasa kuatir akan hari esokyang mendorongnya cenderung rakus dan materialistik (baca Mat. 6:19-25 par.). Secarateologis, dapat dikatakan bahwa akar kerusakan lingkungan alam dewasa ini terletak dalamsikap rakus manusia yang dirumuskan oleh John Stott sebagai "economic gain byenvironmental loss". Manusia berdosa menghadapi alam tidak lagi sekadar untukmemenuhi kebutuhannya, tetapi sekaligus untuk memenuhi keserakahannya. Dengan katalain, manusia berdosa adalah manusia yang hakikatnya berubah dari "a needy being"menjadi "a greedy being". Kegagalan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan atas alammerupakan pula kegagalan manusia dalam mengendalikan dirinya, khususnya keinginan-keinginannya. 18
    • 4. Hubungan Baru Manusia-Alam Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, mencatat bahwa Allah yang Mahakasihmengasihi dunia ciptaan-Nya (kosmos) sehingga Ia mengutus anak-Nya yang tunggal kedalam dunia, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 3:16). Tuhan Yesus Kristus yang disebutFirman (logos) penciptaan (Kol. 1:15-17; Yoh. 1:3, 10a) telah berinkarnasi (mengambilbentuk materi dengan menjelma menjadi manusia: Yoh. 1:1, 14); dan melaluipengorbanan-Nya di atas kayu salib serta kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Iatelah mendamaikan Allah dengan segala sesuatu (ta panta) atau dunia (kosmos) ini(Kol. 1:19- 20; 2 Kor. 5:18-19). Tuhan Yesus telah memulihkan hubungan Allah denganmanusia dan dengan seluruh ciptaan-Nya dan memulihkan hubungan manusia denganalam. Atas dasar itu, maka hubungan harmonis dalam Eden (Firdaus) telah dipulihkan. Apa yang dibayangkan dalam Perjanjian Lama sebagai nubuat tentangkedamaian seluruh bumi dan di antara seluruh makhluk (Yes. 11:6-9; 65:17; 66:22;Hos. 2:18-23) telah dipenuhi dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Maka dalam iman Kristen,hubungan baru manusia dengan alam bukan saja hubungan "dominio" (menguasai)tetapi juga hubungan "comunio" (persekutuan). Itu sebabnya Tuhan Yesus yang telahberinkarnasi itu menggunakan pula unsur-unsur alam, yaitu "air, angggur, dan roti"dalam sakramen yang menjadi tanda dan meterai hubungan baru manusia denganAllah. Dengan kata lain, hubungan manusia dengan Allah yang baik harus tercermindalam hubungan yang baik antara manusia dengan alam. Persekutuan dengan Allahharus tercermin dalam persekutuan dengan alam. Hubungan yang baik dengan alam,sekaligus mengarahkan kita pada penyempurnaan ciptaan dalam "langit dan bumiyang baru" (Why. 21:1-5) yang menjadi tujuan akhir dari karya penebusan Allahmelalui Tuhan Yesus Kristus. Dalam langit dan bumi yang baru itulah Firdaus yanghilang akan dipulihkan. 19
    • Pandangan pertama, yaitu antroposentris ini sering dihubungkan dengan pandangan Barat yangmelihat lingkungan hidup sebatas maknanya bagi kesejahteraan dan kemakmuran manusia. Manusia Baratmenganut pandangan mengenai hubungan diskontinuitas antara manusia dengan alam. Hanya manusia yangsubjek, sedangkan alam atau lingkungan adalah objek. Maka alam diteliti, dieksplorasi, lalu dieksploitasi.Maka etika antroposentris ini tidak sejalan dengan etika Kristen yang menekankan adanya kontinuitas antaramanusia dengan alam (adam-adamah, homo-humus). Pandangan yang kedua adalah biosentris. Penganut pandangan ini berpendirian bahwa semuaunsur dalam alam memunyai nilai bawaan (inherent value), misalnya kayu memunyai nilai bawaan bagi kayusendiri sebagai alasan berada. Jadi kayu tidak berada demi untuk kepentingan manusia saja. Demikianlahseluruh makhluk hidup memiliki nilai inheren lepas dari kepentingannya bagi manusia. Manusia danmakhluk-makhluk hidup lainnya memunyai hubungan kontiunitas, maka manusia dan lingkungan memunyaitujuannya masing-masing. Maka tiap makhluk memunyai hak mendapatkan perlakuan sesuai dengan hakyang melekat padanya. Pandangan ini misalnya dianut oleh Paul Taylor, Peter Singer, dan Albert Schweitzer. Pandangan ketiga, yaitu ekosentris, berpendirian bahwa bumi sebagai keseluruhan atau sebagaisistem tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Maka lingkungan harus diperhatikan karena manusiahanyalah salah satu subsistem atau bagian kecil dari seluruh ekosistem. Pandangan ini dianut umumnya olehmanusia Timur, termasuk orang Indonesia, yang sangat menekankan hubungan erat antara manusia denganlingkungan hidupnya. Manusia adalah mikro dari makro kosmos. Menurut pandangan ini, bumi memiliki nilaihakiki (intrinsic value) yang harus dihormati oleh manusia. Maka alam atau lingkungan tidak bolehdiperlakukan semena-mena, karena bumi memunyai nilainya yang luhur yang harus dijaga, dihormati, dandianggap suci. 20
    • 1. Solidaritas dengan Alam Karena manusia dengan lingkungan hidup adalah sesama ciptaan yang telahdipulihkan hubungannya oleh Tuhan Yesus Kristus, maka manusia, khususnya manusia barudalam Kristus (2 Kor. 5:7), seharusnya membangun hubungan solider dengan alam. Hubungansolider (sesama ciptaan dan sesama tebusan) berarti alam mestinya diperlakukan dengan penuhbelas kasihan. Manusia harus merasakan penderitaan alam sebagai penderitaannya dankerusakan alam sebagai kerusakannya juga. Seluruh makhluk dan lingkungan sekitar tidakdiperlakukan semena- mena, tidak dirusak, tidak dicemari dan semua isinya tidak dibiarkanmusnah atau punah. Manusia tidak boleh bersikap kejam terhadap alam, khususnya terhadapsesama makhluk. Dengan cara itu, manusia dan alam secara bersama (kooperatif) menjaga danmemelihara ekosistem . Contoh konkret: manusia berdisiplin dalam membuang sampah ataulimbah (individu, rumah tangga, industri, kantor, dan sebagainya) agar tidak mencemarilingkungan dan merusak ekosistem. Pencemaran/polusi mestinya dicegah, diminimalisir, dandihapuskan supaya alam tidak sakit atau rusak. Kita bertanggung jawab atas kesehatan dankesegaran alam kita. Sikap solider dengan alam dapat pula ditunjukkan dengan sikap hormat danmenghargai (respek) terhadap alam. Tidak berarti alam disembah, tetapi alam dihargai sebagaiciptaan yang dikaruniakan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus yang menjadicerminan kemuliaan Allah. Menghargai alam berarti menghargai Sang Pencipta dan SangPenebus. Contoh konkret misalnya tidak membabat hutan sembarangan sebab membabat hutandapat memusnahkan aneka ragam spesies dalam hutan. Contoh lain, tidak menangkap ikandengan menggunakan bahan peledak atau bahan pemusnah lainnya. Sebaliknya, usahamenghargai dapat dilakukan melalui usaha-usaha kreatif mendukung dan melindungi kehidupanseluruh makhluk dan lingkungan hidup misalnya dengan tidak hanya penghijauan,pembudidayaan, tetapi juga usaha pemulihan dengan membersihkan lingkungan yang terlanjurrusak. Pokoknya, sikap solidaritas dengan alam dapat ditunjukkan dengan pola hidup berdisiplindalam menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem secara konstan. 21
    • 2. Pelayanan yang Bertanggung Jawab (Stewardship) Alam adalah titipan dari Allah untuk dimanfaatkan/dipakai/digunakan manusia memenuhikebutuhan hidupnya, tetapi sekaligus adalah rumahnya. Maka sumber-sumber alam diberikan kepadamanusia tidak untuk diboroskan. Manusia harus menggunakan dan memanfaatkan sumber- sumber alam itusecara bertanggung jawab. Maka pemanfaatan/penggunaan sumber- sumber alam haruslah dilihat sebagaibagian dari pelayanan. Alam digunakan dengan memerhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusiadengan kebutuhan lingkungan, yaitu menjaga ekosistem. Tetapi alam juga digunakan dengan memerhatikankebutuhan sesama, termasuk generasi yang akan datang. Memanfaatkan alam adalah bagian dari pertanggungjawaban talenta yang diberikan/dipercayakanoleh Tuhan kepada manusia (Mat. 25:14-30 par.). Allah telah memercayakan alam ini untuk dimanfaatkan dandipakai. Untuk dilipatgandakan hasilnya, untuk disuburkan, dan dijaga agar tetap sehat sehingga produknyatetap optimal. Oleh karena itu, alam mesti dipelihara dan keuntungan yang didapat dari alam sebagiandikembalikan sebagai deposit terhadap alam. Tetapi juga dipergunakan secara adil dengan semua orang.Ketidakadilan dalam memanfaatkan sumber-sumber alam adalah juga salah satu penyebab rusaknya alam.Sebab mereka yang merasa kurang akan mengambil kebutuhannnya dari alam dengan cara yang sering kurangmemerhatikan kelestarian alam, misalnya dengan membakar hutan, mengebom bunga karang untuk ikan, dansebagainya. Sebaliknya, mereka yang tergoda akan kekayaan melakukan pengurasan sumber alam secaratanpa batas. Panggilan untuk memanfaatkan sumber-sumber alam sebagai pelayanan danpertanggungjawaban talenta akan mendorong kita melestarikan sumber- sumber alam, sekaligus melakukankeadilan terhadap sesama. Contoh konkret: manusia menghemat menggunakan sumber-sumber alam (bahanbakar fosil, hutan, mineral, dan sebagainya) agar tetap mencukupi kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainsecara berkesinambungan. Penghematan ini tidak hanya berarti penggunaan seminimal mungkin sumber-sumber alam sesuai kebutuhan (air, energi, kayu, dan sebagainya), tetapi mencakup pula pola 4R -- "reduce","reuse", "recycle", "replace" (atau mengurangi, menggunakan ulang, mendaur ulang, dan mengganti) sumber-sumber alam yang kita pergunakan setiap hari. Dunia modern yang sangat praktis mengajar kita memakai lalumembuang. Sayangnya, yang sering dibuang itu adalah yang semestinya masih berguna kalau didaur. Tidakjarang pula yang dibuang itu sekaligus merusak lingkungan, misalnya bahan kimia atau kemasan kaleng danplastik. Karena itu, bahan-bahan yang merusak alam sebaiknya tidak digunakan terlalu banyak dan tidakdibuang sembarangan. 22
    • 3. Pertobatan dan Pengendalian Diri Kerusakan lingkungan berakar dalam keserakahan dan kerakusan manusia. Itusebabnya manusia yang dikuasai dosa keserakahan dan kerakusan itu cenderung sangatkonsumtif. Secara teologis, dapat dikatakan bahwa dosa telah menyebabkan krisismoral/krisis etika dan krisis moral ini menyebabkan krisis ekologis, krisis lingkungan. Dengandemikian, setiap perilaku yang merusak lingkungan adalah pencerminan krisis moral yangberarti tindakan dosa. Dalam arti itu, maka upaya pelestarian lingkungan hidup harus dilihatsebagai tindakan pertobatan dan pengendalian diri. Dilihat dari sudut pandang Kristen,maka tugas pelestarian lingkungan hidup yang pertama dan utama adalah mempraktikkanpola hidup baru, hidup yang penuh pertobatan dan pengendalian diri, sehingga hidup kitatidak dikendalikan dosa dan keinginannya, tetapi dikendalikan oleh cinta kasih. Materialisme adalah akar kerusakan lingkungan hidup. Maka materialismemenjadi praktik penyembahan alam (dinamisme modern). Alam dalam bentuk bendamenjadi tujuan yang diprioritaskan bahkan disembah menggantikan Allah. Kristusmengingatkan bahaya mamonisme (cinta uang/harta) yang dapat disamakan dengan sikaprakus terhadap sumber-sumber alam (Mat. 6:19-24 par.; 1 Tim. 6:6-10). Karena mencintaimateri, alam dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan material. Maka supaya alamdapat dipelihara dan dijaga kelestariannya, manusia harus berubah (bertobat) danmengendalikan dirinya. Manusia harus menyembah Allah dan bukan materi. Dalam artiitulah maka usaha pelestarian alam harus dilihat sebagai ibadah kepada Allah melawanpenyembahan alam, khususnya penyembahan alam modern aliasmaterialisme/mamonisme. Pelestarian alam juga harus dilihat sebagai wujud kecintaan kitakepada sesama sesuai ajaran Yesus Kristus, di mana salah satu penjabarannya adalahterhadap seluruh ciptaan Allah sebagai sesama ciptaan. 23
    • BAB III PENUTUP3.1. Kesimpulan 1. Pembangunan yang mengandalkan teknologi dan industri dalam mempertahankan tingkatpertumbuhan ekonomi seringkali membawa dampak negatif bagi lingkungan hidup manusia. 2. Pencemaran lingkungan akan menyebabkan menurunnya mutu lingkungan hidup, sehinggaakan mengancam kelangsungan makhluk hidup, terutama ketenangan dan ketentraman hidup manusia. 3. Adanya pengertian dan persepsi yang sama dalam memahami pentingnya lingkungan hidupbagi kelangsungan hidup manusia akan dapat mengendalikan tindakan dan perilaku manusia untuk lebihmementingkan lingkungan hidup. 4. Kemauan untuk saling menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup merupakanitikad yang luhur dari dalam diri manusia dalam memandang hakekat dirinya sebagai warga dunia.3.2. Saran Limbah industri harus ditangani dengan baik dan serius oleh Pemerintah Daerah dimanawilayahnya terdapat industri. Pemerintah harus mengawasi pembuangan limbah industri dengan sungguh-sungguh. Pelaku industri harus melakukan cara-cara pencegahan pencemaran lingkungan denganmelaksanakan teknologi bersih, memasang alat pencegahan pencemaran, melakukan proses daur ulang danyang terpenting harus melakukan pengolahan limbah industri guna menghilangkan bahan pencemaran ataupaling tidak meminimalkan bahan pencemaran hingga batas yang diperbolehkan. Di samping itu perludilakukan penelitian atau kajian-kajian lebih banyak lagi mengenai dampak limbah industri yang spesifik(sesuai jenis industrinya) terhadap lingkungan serta mencari metode atau teknologi tepat guna untukpencegahan masalahnya. 24
    • DAFTAR PUSTAKAShalahuddin Djalal Tanjung. Toksikologi Lingkungan. Pusat Studi LingkunganHidup. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta, 2002.www.google.co.id/pengaruh_industri_terhadap_lingkungan_hidup. DiaksesPebruari 2008. 25