Bioekologi dan strategi konservasi troides helena
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Bioekologi dan strategi konservasi troides helena

on

  • 1,382 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,382
Views on SlideShare
1,382
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
25
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Bioekologi dan strategi konservasi troides helena Bioekologi dan strategi konservasi troides helena Document Transcript

    • BIOEKOLOGI DAN STRATEGI KONSERVASI KUPU-KUPU RAJA HELENA (Troides helena L.) KARYA ILMIAH Oleh AFIFI RAHMADETIASSANI FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2013
    • BIOEKOLOGI DAN STRATEGI KONSERVASI KUPU-KUPU RAJA HELENA (Troides helena L.) Karya ilmiah ini diajukan untuk memenuhi persyaratan MATA KULIAH SEMINAR Oleh Afifi Rahmadetiassani 083112620150008 FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA 2013
    • FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS NASIONALKarya Ilmiah, Jakarta, Februari 2013Afifi RahmadetiassaniBioekologi dan Strategi Konservasi Kupu-Kupu Raja Helena (Troides helena L.)x + 30 halaman, 1 tabel dan 8 gambar Indonesia memiliki kekayaan jenis kupu-kupu dan nilai endemisitas tertinggidi dunia. Kupu-kupu memiliki peran yang penting dalam ekosistem, yaitu sebagaipolinator, bioindikator lingkungan, bahan makan, objek wisata dan ojek studi sertadiperjual belikan di pasar regional dan internasioanl untuk dijadikan koleksi. Salah satu kupu-kupu yang memiliki permintaan pasar yang tinggi adalahkupu-kupu raja helena (Troides helena L.). Jenis ini banyak diperjual belikan karenamemiliki warna yang indah, menarik dan memiliki nilai estetika. Eksploitasi yangberlebihan dapat berdampak terhadap kelestariannya. Saat ini, jenis ini dilindungioleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan termasuk kategori Appendiks IICITES. Upaya konservasi yang diperlukan untuk melestarikan populasi kupu-kupuraja helena dengan menggunakan prinsip perlindungan (save), penelitian (study), danpemanfaatan (use). Pada penerapannya, upaya perlindungan dilakukan scara in-situseperti pada TN. Bantimurung Bulungsaraung dan secara ex-situ pada Museum KupuTMII.Daftar bacaan: 56 (1973 -2013).
    • Judul Karya Ilmiah : BIOEKOLOGI DAN STRATEGI KONSERVASI KUPU- KUPU RAJA HELENA (Troides helena L.)Nama Mahasiswa : Afifi RahmadetiassaniNomor Pokok : 083112620150008 Menyetujui Pembimbing Pertama Pembimbing Kedua Hasni Ruslan, dra. MSi Tatang Mitra Setia, drs. MSi Dekan Imran S. L. Tobing, drs. MSiTanggal Lulus : 1 Februari 2013
    • KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis persembahkan atas kehadirat Allah SWT yangtelah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikankarya ilmiah ini. Tulisan yang bersifat telaah pustaka ini disusun guna untukmemenuhi persyaratan mata kuliah Seminar pada Fakultas Biologi UniversitasNasional. Dengan tersusunnya karya ilmiah yang berjudul Bioekologi dan StrategiKonservasi Kupu-Kupu Raja Helena (Troides helena L.), pada kesempatan iniperkenankanlah penulis untuk menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :1. Dra. Hasni Ruslan, MSi sebagai pembimbing pertama yang telah memberikan saran, bimbingannya dan dukungan kepada penulis hingga tersusunnya karya ilmiah.2. Drs. Tatang Mitra Setia, MSi sebagai pembimbing kedua yang telah memberikan saran, bimbingan dan dukungannya kepada penulis hingga tersusunnya karya ilmiah.3. Drs. Imran. S. L. Tobing, MSi selaku Dekan Fakultas Biologi Universitas Nasional. v
    • 4. Dra. Ikhsan Matondang, MSi sebagai Pembimbing Akademik Angkatan 2008 yang telah memberikan semangat dan bimbingannya dalam penulisan karya ilmiah.5. Seluruh dosen dan staf Fakultas Biologi Universitas Nasional yang telah banyak memberi dorongan serta dukungan kepada penulis.6. Untuk kedua orang tua dan keluarga besar penulis yang terus memberikan motivasi, semangat dan juga dukungannya baik moril maupun materil, serta kesabarannya dan juga ketulusan dalam setiap doanya.7. Teman-teman seperjuangan angkatan 2008: Zulfikar S.Si., Marlia, Fajar, Devi, Joandini, Angga, There, Tenno, Rika, Akbar, Anita, Dita, Hamdani, Nur, Arfan, Kiki, dan Dera yang selalu memberikan semangat, saran, kekompakan yang tidak bakal terlupakan selama perkuliahan.8. M. Arif Rifqi, S.Si. sahabat dekatku yang selalu memberikan semangat dan masukan-masukan yang bermanfaat untuk penulisan karya ilmiah.9. Teman-teman BSO KSPL “Chelonia”, BBC, JBS, KKI, WWF, IWP, TRASHI, PP-IPTEK yang memberikan persahabatan, semangat, kreativitas dan ilmu-ilmu selama ini.10. Alumni dan teman-teman semua angkatan Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta atas motivasi, saran dan nasehat kepada penulis.11. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan karya ilmiah yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. vi
    • Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam hal materi maupun teknikpenulisan karya ilmiah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan bimbingan,saran, dan kritik yang bersifat membangun agar dapat memperbaiki karya ilmiah inisehingga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan acuan oleh semua pihak. Jakarta, Februari 2013 Penulis vii
    • DAFTAR ISIKATA PENGANTAR .................................................................................................. vDAFTAR ISI ............................................................................................................. viiiDAFTAR TABEL ....................................................................................................... ixDAFTAR GAMBAR ................................................................................................... xBABI. PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1II. BIOLOGI KUPU-KUPU RAJA HELENA ............................................................. 3 A. Morfologi .............................................................................................................. 3 B. Klasifikasi ............................................................................................................. 5 C. Siklus Hidup ......................................................................................................... 6III. EKOLOGI KUPU-KUPU RAJA HELENA ......................................................... 11 A. Makanan ............................................................................................................. 11 B. Dsitribusi dan Habitat ......................................................................................... 12 C. Peran dalam Ekosistem ....................................................................................... 14IV. STRATEGI KONSERVASI KUPU-KUPU RAJA HELENA ............................ 16 A. Ancaman ............................................................................................................. 16 B. Strategi Konservasi ............................................................................................. 17 C. Studi Kasus Upaya Konservasi di TN. Bantimurung-Bulung Saraung .............. 20 D. Studi Kasus Upaya Konservasi di Taman Kupu-Kupu Taman Mini Indonesia Indah ................................................................................................................... 21V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................. 24DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 25 viii
    • DAFTAR TABELTabel Halaman Naskah 1. Persebaran Kupu-Kupu Raja Helena di Indonesia............................... 13 ix
    • DAFTAR GAMBARGambar Halaman Naskah 1. Morfologi kupu-kupu ........................................................................ 4 2. Seksual Dimorfisme Pada Kupu-Kupu Raja Helena Betina dan Jantan Serta Ciri Pembedanya .......................................................... 5 3. Siklus Hidup Kupu-Kupu Raja Helena ............................................. 6 4. Telur Kupu-Kupu Raja Helena ......................................................... 7 5. Larva Kupu-Kupu Raja Helena......................................................... 7 6. Pupa Kupu-Kupu Raja Helena ......................................................... 8 7. Pemangsaan Kupu-Kupu Raja Helena Oleh Laba-Laba ................... 10 8. Pakan Larva Kupu-Kupu Raja Helena ............................................. 11 x
    • BAB I PENDAHULUAN Indonesia memiliki sekitar 2.500 jenis kupu-kupu, jumlah tersebutmenunjukkan Indonesia menjadi salah satu negara tertiggi yang memiliki memilikikekayaan jumlah jenis kupu-kupu di dunia yang berada di bawah Brazil dan Peruyang memiliki 3.700 jenis. Namun, secara endemisitas Indonesia menempatiperingkat pertama yaitu sebanyak 35% (Peggie, 2011). Menurut Pasaribu (2012),Indonesia memiliki 121 jenis kupu-kupu dari suku Papilionidae dan 44% dari jumlahtersebut termasuk jenis endemik. Kupu-kupu merupakan salah satu hewan yang digolongkan dalam bangsaLepidoptera. Secara etimologis, Lepidoptera berasal dari bahasa Latin lepido (sisik)dan bahasa Yunani pteron (sayap). Sisik-sisik pada sayap kupu-kupu tersebuttersusun seperti genteng serta memiliki pola warna dan corak yang menarik. BangsaLepidoptera dicirikan mempunyai dua pasang sayap yang tertutup sisik, memilikiukuran tubuh kecil sampai besar dan tipe mulut pada larva adalah penggigitsedangkan pada dewasa penghisap (Hadi dkk., 2009). Kupu-kupu memiliki pola warna yang indah dan menjadikan kupu-kupubernilai tinggi, sehingga banyak orang yang tertarik dan berusaha menangkap kupu-kupu dari alam baik untuk penelitian, koleksi pribadi, maupun untuk diperdagangkan.Perdagangan kupu-kupu dilakukan di dalam negeri hingga ke dunia internasional(National Research Council, USA, 1983). Kondisi tersebut dapat menimbulkan 1
    • eksploitasi yang berlebihan dan tidak terkontrol. Selain itu, pembukaan lahan dan ahlifungsi hutan untuk keperluan ekonomi dapat menyebabkan kupu-kupu kehilanganhabitatnya (Peggie, 2011). Apabila hal ini terus terjadi akan berakibat penyusutanpopulasi dan menyebabkan kepunahan jenis kupu-kupu. Salah satu jenis kupu-kupu yang dilindungi dan bernilai di Indonesia adalahkupu-kupu raja helena (Troides helena). Secara undang-undang, jenis ini dilindungisecara nasional oleh PP. No. 7 tahun 1999 dan internasional dalam Appendix IICITES. Kupu-kupu raja helena ini merupakan salah satu jenis yang mendapatkanpermintaan pasar yang tinggi (Peggie, 2011). Nilai perdagangan awetan kupu-kupu didunia dapat mencapai US$ 100 per tahun. Seperti kasus yang terjadi di Irian Jaya,harga awetan kupu-kupu jenis Onithoptera spp. dan Triodes spp. dapat mencapaiUS$ 0,5-100 per spesimennya (Supriatna, 2008). Oleh karena itu kajian konservasiyang berhubungan dengan jenis ini menjadi sangat penting untuk mencegahkepunahannya. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penulisan karyailmiah ini adalah untuk memberikan informasi mengenai aspek bioekologi besertastrategi konservasi kupu-kupu raja helena dengan harapan dapat menjadi referensiilmiah untuk pelestariannya. 2
    • BAB II BIOLOGI KUPU-KUPU RAJA HELENA A. Morfologi Kupu-kupu raja helena termasuk ke dalam suku Papilionidae dengankarakteristik memiliki tubuh yang besar dengan pola warna yang indah (Noerdjitodan Aswari, 2003), pada umumnya mempunyai sifat sexual dimorphic yaitu yaituterdapat perbedaan morfologi antara kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina danmemiliki sifat polymorphic yaitu terdapat beberapa pola sayap pada kupu-kupu betina(Peggie dan Amir, 2006), pada beberapa jenis kupu-kupu suku ini, terdapat sayapbelakang yang memanjang seperti ekor (Vane-Wright dan de Jong, 2003). Olehkarena itu suku Papilionidae disebut juga sebagai kupu-kupu ekor burung walet atauswallow tail (Borror dkk., 1996). Menurut Fleming (1983) dan Nurjannnah (2010), secara umum, tubuh kupu-kupu dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu caput (kepala), toraks (dada) dan abdomen(perut) (Gambar 1). Kepala kupu-kupu berbentuk bulat kecil, terdapat sepasangantena, sepasang mata dan alat mulut (Smart, 1976). Antena kupu-kupu berukuranpanjang, ramping dan terdiri dari segmen-segmen. Antena tersebut berfungsi sebagaialat peraba, perasa , pengecap, pembau serta pendengar (Borror dkk., 1996). Kupu-kupu mempunyai tipe alat mulut penghisap (proboscis). Proboscis tersebut bisadigulung jika kupu-kupu tidak melakukan aktivitas makan (Scoble, 1992). 3
    • Gambar 1. Morfologi Kupu-Kupu (Nurjannah, 2010) Kupu 2010). Kupu-kupu raja helena memiliki seksual dimorfisme (Gambar 2) (Krafiani, kupu2010; Pasaribu, 2012). Kupu kupu jantan memiliki kepala hitam dengan sisik merah Kupu-kupudi bagian belakang, dada berwarna hitam, perut berwarna kuning-putih yang tertutup kuninggaris-garis hitam pada masing-masing segmen dan sisi dalam berwarna kuning, sayap garis masing masingdepan berwarna abu-abu atau hitam dengan sedikit warna putih (Simbolon dan abu abuIswari, 1990; Sutedja dkk., 1992; Sihombing, 1999) dan memiliki panjang 6-8,4 cm 6serta apabila direntangkan dapat mencapai 9,8 abila 9,8-13,8 cm (Peggie, 2011). Pada sayapbelakang berwarna kuning emas dan memiliki batas hitam pada tulang sayap(Simbolon dan Iswari, 1990; Sutedja dkk., 1992; Sihombing, 1999). Pada kupu-kupu betina memiliki kepala hitam coklat dengan memiliki kupulengkungan merah di sisi atas, dada berwarna coklat dan bersisik merah, perutumumnya berwarna abu-abu, coklat, atau kuning, yang ditutupi sisik hitam, sayap abu abu,depan berwarna abu-abu, coklat atau hitam (Simbolon dan Iswari, 1990; Sutedja dkk., abu, 4
    • 1992; Sihombing, 1999) yang memiliki panjang 7,3-9,5 cm dan apabila direntangkan 9,5dapat mencapai 11-15 cm (Peggie, 2011), sayap belakang ditandai dengan warna 15kuning keemasan dan hitam pada bagian tepi serta terdapat bintik-bintik hitam dan bintikputih (Simbolon dan Iswari, 1990; Sutedja dkk., 1992). utihGambar 2. Seksual Dimorfisme Pada Kupu-Kupu Raja Helena Betina (A) dan Jantan D(B) Serta Ciri Pembedanya : (1) Hitam Tanpa Gurat Pada Tepi Sayap, (2) Memiliki embedanya SayapTujuh Vena Lurus, (3) Bercak Hitam yang Masuk ke Dalam Hanya Sedikit, (4) Tidak ena eAda Bercak Kuning, (5) Basal Area Sisik Hitam, (6) Deretan Bercak Hitam TidakTerlalu Besar (Peggie, 2011) 2011). B. Klasifikasi Kupu-kupu raja helena atau dikenal juga dengan nama Common Birdwing ajadideskripsikan oleh Linnaeus pada tahun 1758 (Collins dan Morris, 1985). Klsifikasi 1985)kupu-kupu raja helena menurut kupu Tsukada dan Nishiyama (1982) adalah sebagai 1982)berikut : 5
    • Filum : ArthropodaKelas : InsektaSubkelas : PterygotaBangsa : LepidopteraSuku : PapilionidaeMarga : TroidesJenis : Troides helena (Linneaus, 1758) C. Siklus Hidup Kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna, dimana dalam siklus kupuhidupnya terdapat empat tahapan fase, yaitu fase telur, larva, pupa dan dewasa(Gambar 3) (Borror et al, 1996). Kupu-kupu betina setelah melakukan kopulasi akan or 199bertelur (Mardiana, 200 dan dapat menghasilkan telur lebih kurang 100 butir Mardiana, 2002)sepanjang hidupnya ( (Fitzgerald, 1999).Gambar 3. Siklus Hidup Kupu-Kupu Raja Helena (Butterfly Circle Cheeklist, 2013). Kupu Butterfly 201 6
    • Telur kupu-kupu raja helena berwarna putih, bulat licin dan dilapisi oleh cairan kupuberwarna orange yang berfungsi sebagai perekat (Gambar 4) (Mardiana, nge pere 2002).Telur-telur tersebut kemudian diletakkan pada daun atau tangkai daun oleh kupu-kupu betina agar telur yang menetas dapat langsung memakannya (Opler dan Strawn, (2000). Gambar 4. Telur Kupu-Kupu Raja Helena (Butterfly Circle Cheeklist, 2013). Kupu Butterfly 201 Saat telur menetas menjadi ulat (larva) (Gambar 5), larva tersebut akanmemakan kulit telurnya sendiri (Departemen Kehutanan, 1996) dan langsungmemperoleh makan dari tanaman inangnya untuk di makan (Opler dan Strawn, 2000).Dalam fase ini, larva akan mengala mengalami pergantian kulit, hal ini dikarenakan almengantisipasi kulit yang tidak elastis (Pasaribu, 2012). sipasi Gambar 5. Larva Kupu-Kupu Raja Helena (Butterfly Circle Cheeklist, 2013). Butterfly 201 Fase selanjutnya adalah pupa (Gambar 6), dimana masa ini merupakan masatidak ada aktivitas fisik (Sihombing, 1999). Menurut Carey-Huges dan Pickford Huges 7
    • (1977), pupa kupu-kupu raja helena akan bergerak dan mengeluarkan bunyi desis kupuapabila terganggu. Fase ini diakhiri dengan kupu kupu dewasa (imago) dimana kupu- kupu-kupu kupukupu tersebut keluar dari pupa dengan cara membuka bagian atas pupa (Pasaribu, da ian2012). Gambar 6. Pupa Kupu-Kupu Raja Helena (Butterfly Circle Cheeklist, 2013). Butterfly 201 Sayap kupu-kupu masih lemah dengan tubuh yang menggelembung ketika kupumenetas dari pupanya. Tubuh kupu-kupu akan mengempis, setelah cairan tersebut empis,mengalir ke vena sayap, sehingga sayap kupu-kupu dapat membentang. Setelah sayap kupu kupuberkembang sempurna, kupu kupu siap terbang dan dapat melakukan atifitasnya kupu-kupu(Pallister, 1986). Kupu kupu betina dapat langsung dikawini oleh pejantan sekitar dua u-kupujam setelah menjadi imago, sedangkan kupu kupu jantan baru dapat melakukan enjadi kupu-kupuperkawinan setelah satu atau dua hari setelah menetas dari pupa (Sihombing, 1999). Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan siklus hidup kupu faktor kupu-kupu rajahelana yaitu faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik meliputi suhu, .kelembaban, curah hujan dan rah cahaya matahari (Rizal, 2007). Menurut Romoser 8
    • (1973), suhu tubuh kupu-kupu sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu jugamempengaruhi kelembaban, curah hujan dan cahaya matahari pada suatu habitat. Jikasuhu suatu habitat tinggi, maka kelembaban, curah hujan pada habitat tersebut rendahdan cahaya matahari pada habitat tersebut tinggi. Suhu yang ideal bagi kupu-kupuadalah 15°C-45°C (Jumar, 2000), kelembaban ideal berkisar 84-92% (Borror dkk.,1996) dan curah hujan yang ideal berkisar 2.000-4.000 mm/tahun (Handayani, 2012).Kupu-kupu membutuhkan cahaya matahari yang optimum untuk berjemur danmenghangatkan tubuhnya. Jika suhu tubuh kupu-kupu sudah meningkat maka kupu-kupu akan mencari tempat berteduh (Sihombing , 1999). Suatu habitat bila mengalamikondisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan kupu-kupu, maka kupu-kupu tersebutakan mengalami kematian. Faktor biotik yang mempengaruhi keberhasilan siklus hidup kupu-kupu rajahelena seperti penyakit, parasitoid, predator dan pakan (Rizal, 2007). MenurutSyahputra (2011), penyakit yang sering dijumpai pada kehidupan kupu-kupu adalahinfeksi jamur dan virus. Penyakit ini sering menyerang pada fase larva dan pupa yangmenyebabkan larva atau pupa menghitam dan membusuk. Parasitoid dapatmenyerang pada fase telur, larva dan pupa yang dapat menyebabkan kematian(Ruslan, 2012). Setiap fase kehidupan kupu-kupu memiliki predator yang berbeda. MenurutSyaputra (2011), pada fase telur, predator yang sering dijumpai adalah semut, padafase larva predator yang sering dijumpai adalah kumbang, belalang, kadal dan padafase pupa predator yang sering ditemui adalah kadal dan tikus (Syaputra, 2011). 9
    • Menurut Hoi-Sen (1983), kadal, burung, semut, laba laba dan bunglon merupakan Sen laba-labapredator pada fase kupu-kupu dewasa (Gambar 7). kupuGambar 7. Pemangsaan Kupu-Kupu Raja Helena Oleh Laba-Laba (Nurjannah, 2010). aba Selain itu, faktor pakan juga mempengaruhi keberhasilan hidup kupu-kupu. aktorPakan dalam kehidupan kupu kupu memiliki peran yang penting, karena pakan kupu-kuputersebut menjadi sumber energi bagi larva dan kupu kupu-kupu. Selain digunakan untuk .memenuhi energinya, pakan digun kan sebagai tempat berlindung dan berkembang digunakanbiak (Clark dkk., 1996) 1996). 10
    • BAB III EKOLOGI KUPU-KUPU RAJA HELENA KUPU KUPU A. Makanan Kupu-kupu raja helena membutuhkan nutrisi untuk dapat melangsungkan kupuhidupnya yaitu melakukan simbiosis mutualisme bersama tumbuhan dengan caramengkonsumsi nektar bunga (Borror dkk., 1996). Tipe dan jumlah makanan yang ( ).dikonsumsi mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, reproduksi, perilaku dan dmorfologi (Sihombing, 1999). Menurut Ross dkk. (1992), kupu kupu-kupu jenis initergolong satwa herbivora atau fitofagus (pemakan tumbuhan). Salah satu jenistanaman yang digunakan sebagai tanaman inang yang paling banyak digunakan, yaitutanaman Aristolochia foveolata dan Aristolochia tagala (Gambar 8) (Salmah dkk.,2002). A B Gambar 8. Pakan Larva Kupu Kupu-Kupu Raja Helena (A) Aristolochia tagala dan (B) Aristolochia foveolata (Pasaribu, 2012). Menurut hasil penelitian Krafiani (2010), kupu-kupu raja helena di Taman kupuKupu-Kupu Taman Mini Indonesia Indah menyukai 9 tanaman berbunga yang Kupu 11
    • digunakan sebagai pakan. Jenis tanaman berbunga itu anatara lain krosandra(Crossandra infundibuliformis), tunbergia (Thunbergia laurifolia), melati (Jasminumsambac), jati emas (Cordia subcordata), kembang merak (Caesalpinia pulcherrima),kaca piring (Gardenia jasminoides), soka (Ixora paludosa), nona makan sirih(Clerodendrum thomsoniae) dan pagoda (Clerodendrum paniculatum). Selain itu, kupu-kupu raja helena juga menghisap air kubangan, kotoran danbangkai hewan untuk mendapatkan nutrisi dan mineral seperti sodium klorida danlarutan yang kaya nitrogen. Nutrisi ini digunakan untuk aktivitas sehari-hari atauaktivitas khusus seperti kawin. Kupu-kupu jantan biasanya membutuhkan mineralgaram dan asam amino pada saat melakukan perkawinan (Sihombing, 1999; Krafiani,2010). B. Distribusi dan Habitat Secara umum, kupu-kupu mampu hidup pada ketinggian 0-2.000 mdpl(Mattimu dkk, 1977) dan secara spesifik, kupu-kupu raja helena dapat hidup padaketinggian 0-1.000 m dpl (Peggie, 2011). Kupu-kupu menyukai tempat-tempat yangbersih, sejuk, tidak terpolusi (Odum, 1993 ; Amir dkk., 2003). Kupu-kupu rajahelena tersebar di Benua Asia meliputi Nepal, Kamboja, Cina, India, Brunei, Laos,Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam dan Indonesia (Tsukada danNishiyama, 1982). Distribusi di Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Bali, NusaTenggara Barat, dan Kalimantan (The Global Butterfly Information System, 2012).Menurut Peggie (2011), Indonesia memiliki 19 sub jenis yaitu (Tabel 1) : 12
    • Tabel 1. Persebaran Kupu-Kupu Raja Helena di Indonesia No. Jenis Lokasi Sumatera Barat dan Sumatera 1 Troides helena typhaon Utara 2 Troides helena demeter Pulau We, Aceh 3 Troides helena hypnos Simeulue 4 Troides helena hermes Pulau Banyak 5 Troides helena isara Nias 6 Troides helena nereis Enggano 7 Troides helena bunguranensis Natuna Besar 8 Troides helena venus Pulau Subi, Natuna 9 Troides helena rayae Belitung 10 Troides helena dempoensis Sumatera Selatan 11 Troides helena sugimotoi Karimata 12 Troides helena orientis Kalimantan 13 Troides helena Helena Jawa dan Bali 14 Troides helena nereides Bawean 15 Troides helena antileuca Kangean 16 Troides helena sagittatus Lombok 17 Troides helena hahneli Komodo 18 Troides helena propinquus Sumbawa 19 Troides helena hephaestus Sulawesi Menurut Panjaitan (2011), habitat merupakan komponen yang penting bagikelangsungan hidupnya. Keberadaan dan kondisi vegetasi digunakan oleh kupu-kupusebagai sumber pakan, berkembang biak dan sebagai tempat berlindung. Kupu-kupumenyukai tempat yang terbuka atau tempat yang memiliki tutupan kanopi yang tidakrapat. Hal tersebut merupakan adaptasi perilaku kupu-kupu yang selalu membutuhkan 13
    • sinar matahari untuk berjemur. Apabila kondisinya tidak sesuai dengan kebutuhanhidupnya, kupu-kupu akan melakukan perpindahan untuk mencari tempat baru yanglebih baik untuk melangsungkan hidupnya (Whalley, 1992; Clark dkk., 1996).Menurut Whalley (1992), kupu-kupu sangat tergantung dengan adanya tumbuhan danrentan terhadap perubahan lingkungan. Apabila terjadi perubahan yang drastisterhadap kondisi lingkungannya, beberpa jenis kupu-kupu akan mengalamikepunahan (Borror dkk., 1996). C. Peran Dalam Ekosistem Kupu-kupu raja helena memiliki fungsi yang cukup penting baik secaraekologis maupun ekonomis. Fungsi kupu-kupu secara ekologis antara lain sebagaipenyerbuk tanaman (Sembel, 1993), bioindikator lingkungan yang bersih dan tidaktercemar (Depatemen Kehutanan, 2008) dan sebagai plasma nutfah kekayaan jeniskupu-kupu di Indonesia (Peggie, 2011). Jenis ini memiliki warna yang menarik danukuran yang relatif besar, sehingga menjadi daya tarik tersendiri (Peggie, 2011). Secara ekologi, populasi kupu-kupu yang tidak terkontrol dapat potensisebagai hama, misalnya pada stadia larva dari kupu-kupu dari suku Danaidae,Amanthusidae, Nymphalidae, Papilionideae, Pieridae dan Hesperidae. Larva-larvatersebut dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian dan tanaman hias(Salmah, 1994). Apabila populasi larva tersebut terus meningkat tanpa adanyapredator alaminya, maka ia dapat menjadi hama potensial (Tresnawati, 2010). Secara ekonomis, kupu-kupu dapat digunakan sebagai bahan makanan,koleksi (Sihombing, 1999), perdagangan (Peggie, 2011), objek wisata dan objek studi 14
    • untuk masyarakat umum (Panjaitan, 2011) karena kupu-kupu memiliki warna yangindah, menarik dan memiliki nilai estetika (National Research Council, USA, 1983 ;Peggie, 2011). 15
    • BAB IV STRATEGI KONSERVASI KUPU-KUPU RAJA HELENA A. Ancaman Berkurangnya suatu habitat, dapat menurunkan populasi kupu-kupu rajahelena, dimana penurunan habitat dapat menyebabkan melemahnya kemampuanhidup dengan rusaknya tanaman inang (Mac Kinnon, 1992). Rusaknya tanaman inangterjadi karena adanya aktivitas manusia dalam mengkonversi habitat alami (Rizal,2007). Menurut McKee dkk., (2003), manusia banyak melakukan konversi habitatalami untuk dijadikan lahan pertanian maupun tempat tinggal. Tingginya populasimanusia, menyebabkan sumber kebutuhan terus meningkat, sehingga pemanfaatansumber daya alam tidak bisa dihindarkan. Jika pemakaian sumber daya alam secaraberlebih dapat mempengaruhi keanekaragam hayati (Indrawan dkk., 2007), salahsatunya adalah kupu-kupu. Selain terjadinya penurunan habitat, ancaman yang dapat menurunkanpopulasi kupu-kupu adalah perburuan dan perdagangan. Menurut Soehartono danMardiastuti (2003), pada tahun 1992-1999 kupu-kupu raja helena merupakan salahsatu kupu-kupu yang banyak diminati pada pasar perdagangan internasional. Kupu-kupu raja helena diekspor sebanyak 23.895 ekor pada tahun 1985-2005 (Simbolondan Iswari, 1990). Permintaan pasar yang terus meningkat, menyebabkan perburuanterhadap kupu-kupu sangat tinggi, khususnya kupu-kupu raja helena (Noerdjito danAswari, 2003). 16
    • Untuk mencegah kepunahan, pemantauan populasi kupu-kupu perludilakukan. Hal ini dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalamPeraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999, menyebutkan bahwa Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia (LIPI) ditetapkan sebagai otoritas keilmuwan. LIPI memilikikewenangan untuk memonitor izin perdagangan, realisasi perdagangan sertamemberikan rekomendasi kepada otoritas pengelola tentang pembatasan pemberianizin perdagangan satwa liar maupun tumbuhan (Noerdjito dan Aswari, 2003). B. Strategi Konservasi Konservasi merupakan upaya multi disiplin yang dilakukan untukmenghadapi berbagai tantangan demi melindungi jenis dan ekosistem. Padaprinsipnya, upaya tersebut dilakukan dengan melindungi keanekaragaman jenis dankomunitas biologi, mencegah dan menghambat kepunahan jenis, memeliharakompleksitas ekologi, menjaga keberlanjutan proses evolusi dan memanfaatkanpotensi secara berkelanjutan (Indrawan, dkk. 2007). Berdasarkan perumusan konseptentang konservasi, menurut Supriatna (2008), upaya tersebut dampak dilakukandengan pendekatan yang menyeluruh dengan prinisp Save (perlindungan), Study(penelitian) and Use (pemanfaatan). Menurut Supriatna (2008), upaya perlindungan dapat berupa legalisasi atauperlindungan secara hukum baik dalam skala regional maupun internasional. Upayapenelitian dapat meliputi penelitian keanekaragamana hayati, habitat, komunitas,potensi ekowisata dan lain sebagainya. Sedangkan, upaya pemanfaatan dapat 17
    • dilakukan dengan ekowisata, fungsi ekosistem, dan komoditas perdagangan yangdieksploitasi secara terbatas dengan penjelasan sebagai berikut : 1. Perlindungan (Save) Perlidungan kupu-kupu dapat dilakukan di habitat aslinya (in-situ) dan di luarhabitat asilnya (ex-situ). Perlindungan in-situ biasanya dilakukan di kawasankonservasi baik itu Taman Nasional, Cagar Alam atau yang sejenis sedangkanperlidungan ex-situ biasanya dilakukan di taman kupu-kupu buatan atau laboratoriumpenelitian (Indrawan dkk., 2007; Supriatna, 2008). Pelestarian secara in-situ dan ex-situ merupakan strategi yang saling melengkapi. Individu kupu-kupu raja helenayang berasal dari ex-situ secara bertahap bisa dilepas ke alamnya untuk mendukungupaya in-situ. Pelestarian ex-situ yang terus berkembang, akan membantu dalampengendalian perburuan di alam dan dapat memberikan informasi kepada masyarakatmengenai upaya konservasi (Indrawan dkk., 2007). Bentuk dan warna kupu-kupu raja helena yang indah, membuat jenis inibanyak diminati oleh para kolektor sehingga perlu dilakukan perlindungan untukkonservasi. Menurut Supriatna (2008), jenis ini memiliki angka perdaganganinternasional yang paling tinggi, periode 1985-2005, Indonesia mengekspor sebanyak23.895 ekor. Permintaan yang tinggi, membuat CITES (Convention on InternationalTrade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) mengkategorikan jenis inimasuk dalam Appendiks II, dimana kupu-kupu raja helena walaupun tidak masukjenis yang terancam punah berdasarkan daftar merah (redlist) IUCN, namun dapatterancam punah apabila perdagangannya terus berlangsung tanpa ada regulasi yang 18
    • jelas dan tegas (Supriatna, 2008). Hal tersebut diperkuat dengan masukanya jenis inidalam daftar tumbuhan dan satwa dilindungi pada Peraturan Pemerintah. No. 7 Tahun1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa (Krafiani, 2010). 2. Penelitian (Study) Keindahan morfologis dan fungsi yang penting dalam ekosistem menjadikankupu-kupu juga menarik ilmuan untuk meneliti. Penelitian tentang kupu-kupumenjadi sesuatu yang menarik, karena masih banyak jenis yang belum terungkap diIndonesia. Jenis kupu-kupu raja helena tersendiri saat ini sudah diteliti mengenai :biodiversitasnnya, morfologi, siklus hidup dan perilakunya (Krafiani, 2010; Pasaribu,2012). Selain itu, terdapat buku panduan kupu-kupu Indonesia yang dilindungi, didalamnya terdapat jenis termasuk kupu-kupu raja helena (Pegie, 2011). Penelitiankupu-kupu jenis ini dapat melindungi keberadaannya dengan mengetahui populasidan trend populasinya, sehingga dengan memadukan dengan analisisketerancamannya, dapat diketahui upaya mitigasi untuk mencegah hal tersebut. Selain bidang tersebut, masih banyak potensi penelitian yang masih terbuka,antara lain keanekaragaman berbasis genetik, keanekaragaman ekosistem, ekologidan dampaknya terhadap perubahan iklim, biokonservasi, manajemen pengelolaankonservasinya, analisis fragmentasi habitat, ancaman jenis eksotik dan lainsebagainya (Supriatna, 2008). 3. Pemanfaatan (Use) Pemanfaatan dalam hal ini dimaksudkan untuk mengambil manfaat setelahkedua prinsip save dan study sudah dilakukan, sehingga dapat dipertanggung 19
    • jawabkan ukuran pemanfaatannya (Indrawan, dkk., 2007). Menurut Nurjannah(2010), potensi yang dimiliki jenis kupu-kupu raja helena menjadikannya sebagaisalah satu penyumbang devisa bagi sub-sektor kehutanan Indonesia dan kupu-kupuraja helena menjadi salah satu daya tarik di Taman Nasional Bantimurung dan diakuisecara internasional sejak masa Alfred Russul Wallace (Sumah, 2012). Ketiga prinsip diatas dapat menghasilkan output yang saling terkait berupapemanfaatan berkelanjutan, perlindungan yang menguntungkan banyak pihak,penerapan etnobiologi, pemanenan satwa liar dalam batas tertentu dan lainsebagainya (Supriatna, 2008). C. Studi Kasus Upaya Konservasi di TN. Bantimurung-Bulung Saraung Pelestarian kupu-kupu di TN. Bantimurung-Bulung Saraung merupakancontoh konservasi dalam habitat aslinya (in-situ). Menurut Undang-Undang Nomor 5Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, tamannasional didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asliyang dikelola dengan sistem zonasi, yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmupengetahuan, pendidikan, pariwisata, dan rekreasi. Kawasan Taman NasionalBantimurung-Bulusaraung (TN Babul) terletak di Provinsi Sulawesi Selatan denganluas ± 43.750 ha. Secara administratif kawasan ini, terletak di Kabupaten Maros danPangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan ini ditetapkan berdasarkan KeputusanMenteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18Oktober 2004 (Sumah, 2012). 20
    • Menurut Sumah (2012), TN Babul merupakan salah satu taman nasionalyang terkenal dengan keragaman kupu-kupu, sehingga taman nasional ini dijulukisebagai Kingdom of Butterflies. Taman nasional ini merupakan habitat bagi jeniskupu-kupu yang langka dan endemik, di antaranya adalah Graphium androcles,Papilio blumei, Troides helena dan lain sebagainya. Keragaman kupu-kupu yang tinggi di kawasan ini telah banyakdilaporkan. Alfred Russel Wallace pada tahun 1890 bahwa terdapat 256 jenis kupu-kupu dalam kawasan Bantimurung (Departemen Kehutanan, 2008). Mattimu dkk.,(1987) juga melaporkan terdapat 103 jenis kupu-kupu yang ditemukan di hutanwisata Bantimurung. Noerdjito dan Amir (1992) menemukan 64 jenis kupu-kupu di sekitar kawasan taman nasional. Departemen Kehutanan, (2008)melaporkan sebanyak 82 jenis kupu-kupu di sekitar kawasan TN Babul. Saat ini, tekanan terhadap keberadaan kupu-kupu di TN Babul sangattinggi. Tekanan ini berupa perubahan ekologi pada habitat akibat pembangunan,jumlah pengunjung yang meningkat, dan penangkapan yang berlebihan untukkepentingan koleksi pribadi maupun komoditas perdagangan. Dalam prakteknya,penerapan prinsip perlindungan masih lebih rendah dibandingkan pemanfaatan. Haltersebut terlihat pada banyaknya tekanan terhadap populasinya (Sumah, 2012). D. Studi Kasus Upaya Konservasi di Taman Kupu-Kupu Taman Mini Indonesia Indah Pelestarian kupu-kupu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakancontoh konservasi di luar habitat aslinya (ex-situ). Manifestasi konsep Miniatur 21
    • Indonesia di TMII juga meliputi aspek biodiversitas. Perhimpunan Kebun Binatangseluruh Indonesia (PKBSI) dan Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) membuatinisiatif untuk membuat museum serangga. Pada bulan Maret 1992, museumserangga mulai dibangun dan pada tanggal 18 Apil 1993 sudah diresmikan. Tujuandari pembuatannya adalah untuk mengenalkan keanekaragaman serangga, sehinggadapat merangsang keinginan dan kepedulian masyarakat terhadap peran dan potensialamnya (Krafiani, 2010). Pada tahun 1998, atas bantun Yayasan Sarana Wana Jaya, di dalam museumserangga dibangun taman kupu-kupu, laboratorium, kandang penangkaran dankandang pupa sehingga diubah namanya menjadi museum serangga dan taman kupu.Kawasan ini memiliki luas 500m2 dengan kondisi fisik kawasan, dibuat sedemikianrupa menyerupai habitat alami kupu-kupu. Untuk kebutuhan air, berasal dari sumurbor dengan pompa air dan terdapat dua air terjun buatan serta kolam air. Secaraklimatologi pada tahun 1999, curah hujan rata-rata 162,5 mm (Krafiani, 2010). Kondisi vegetasi kawasan ini, ditanami jenis tanaman berbunga yangberfungsi sebagai pakan larva dan kupu-kupu, tanaman hias, tempat berlindung dantempat beristirahat. Seperti, sirsak (Annona muricata), jeruk nipis (Citrusaurantifolia), kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis), soka (Ixora paludosa), nonamakan sirih (Clerodendrum thomsonae), pagoda (Clerodendrum paniculatum),beringin (Ficus benjamina), pisan-pisangan (Heliconia sp.), belimbing wuluh(Averrhoa blimbi), jarak pagar (Jatropa curcas), bunga kupu-kupu (Bauhiniapurpurea), jambu biji (Psidium guajava), dan lain-lain. Selain itu, terdapat beberapa 22
    • hewan seperti kijang, jelarang, kancil, burung merak dan lain-lain. Pengelolaankawasan ini, dilakukan dalam bentuk ekowisata dalam penangkaran dan penelitian. Kupu-kupu di kawasan ini bersal dari pupa yang dibeli dari PT. Ikas Amboinadi Bali seperti jenis Troides helena dan berbagai jenis lainnya (Krafiani, 2010). Padalokasi ini, terdapat kandang penetasan pupa yag memperlihatkan cara peletakan pupayang akan ditetaskan. Kandang penetasan pupa dibangun secara permanen danterdapat beberapa kotak kaca yang menjadi tempat peragaan telur kupu-kupu.Menurut Alikodra (2002), taman kupu-kupu yang baik adalah kawasan yangmemadukan komponen fisik maupun biotik yang merupakan suatu kesatuan dalampenangkaran satwa liar. Seperti, keselarasan antara tumbuhan, keberadaan air,pengaturan udara, suhu, kelembaban dan keberadaan predator sangat penting untukdipertimbangkan. Menurut penelitian Krafiani (2010), jenis kupu-kupu helena dikawasan inisecara baik memfaatkan jenis bunga pagoda (Clerodendrum pangiculatum) dan jatiemas (Cordia subcordata) sebagi tanaman pakan kupu-kupu dan paling banyakdigunakan. Di dalam aktifitas hariannya, jenis ini lebih banyak hinggap di pohon cabejawa (Piper retrofractum) dan tunbergia (Thunbergia lorifolia). 23
    • BAB V KESIMPULAN DAN SARANA. Kesimpulan 1. Kupu-kupu raja helena memiliki seksual dimorfisme. 2. Kupu-kupu raja helena merupakan salah satu jenis kupu-kupu yang banyak dieksploitasi dalam perdagangan nasional dan internasional. 3. Kupu-kupu raja helena dilindungi oleh peraturan pemerintah no. 7 tahun 1999 dan termasuk dalam daftar Appendix II CITES. 4. Strategi konservasi kupu-kupu raja helena dapat dilakukan dengan Save (perlindungan), Study (penelitian) dan Use (pemanfaatan).B. Saran 1. Perlu kajian lebih lanjut tentang ekologi, konservasi kupu-kupu raja helena dan upaya konservasinya, karena masih sedikit literatur yang membahasa hal tersebut. 2. Perlu pengkajian lebih lanjut tentang status konservasi kupu-kupu raja helena pada khususnya dan kupu-kupu secara umum. 24
    • DAFTAR PUSTAKAAlikodra, H. S. Pengelolaan Satwaliar Jilid I. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan. Bogor. 2002.Amir, M., W.A. Noerdjito,dan S. Kahono. Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Barat. Bogor. BCP JICA : 123-140. 2003.Borror, D. J. , C. A.Triplehorn dan N.F. Johnson. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1996.Butterfly Circle Cheeklist. Troides helena. http://www.butterflycircle.com/ checklist%20V2/CI/index.php/start-page/startpage. Januari, 2013.Carey-Hughes, J. dan Pickford J. B. The Occurrence of Troides helena (Linn.) in Hongkong. JHKBRAS 16 : 301-304. Dalam Studi Siklus Hidup dan Morfologi Kupu-Kupu Serta Konsumsi Pakan Larva Troides helena helena Linnaeus 1758. S.F. Pasaribu. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2012.Clark L. R., Geigera P. W., Hughes R. D. dan Morris R. F. The Ecology of Insect Population in Theory Practice. The English Language Book Society and Chapmen and Hall. Canberra. 1996.Collins, N. M. dan M. G. Morris. Threatened Swallowtail Butterflies of The World The IUCN Red Data Book. Switzerland : IUCN, Glad and Cambridge. 1985. Dalam Aktivitas Harian Kupu-Kupu Troides helena (Linn.) di Museum Serangga dan Taman Kupu Taman Mini Indonesia Indah. S.S. Krafiani. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Departemen Kehutanan. Penangkaran Kupu-Kupu. Pusat Penyuluhan Kehutanan. Jakarta. 1996.Departemen Kehutanan. Identifikasi dan Pemetaan Kupu-Kupu. Direktorat Jenderal Perlindungan Konservasi dan Sumber Daya Alam. Kabupaten Maraos. Sulawesi Selatan. 2008. 25
    • Departemen Kehutanan. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung Periode 2008-2027. Direktorat Jenderal Perlindungan Konservasi dan Sumber Daya Alam. Kabupaten Maraos. Sulawesi Selatan. 2008.Fitzgerald, E. Aktif Student Guide to Butterflies. Welcome to Butterfly Farm. University of New Hampshire with Aktif Bachelor’s Degee Instar Environmental Science. http://www.butterflyfarm.co.cr/.1999. Dalam Studi Siklus Hidup dan Morfologi Kupu-Kupu Serta Konsumsi Pakan Larva Troides helena helena Linnaeus 1758. S. F. Pasaribu. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan Dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2012.Fleming, W. A. Butterflies of West Malaysia and Singapore. Second Edition. Kuala Lumpur : Longeman. 1983. Dalam Siklus Hidup dan Pertumbuhan Kupu- Kupu Graphium agamemnon L. dan Graphium doson C&R. (Papilionidae : Lepidoptera) dengan Pakan Daun Cempaka dan Daun Sirsak. E. Trenawati. Tesis Program Studi Biologi. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Hadi, H. M., U. Tarwotjo dan R. Rahadian. Biologi Insekta Entomologi. Graha Ilmu. Yogyakarta. 2009.Handayani, V. D., I. G. Sugiyanta dan Zulkarnain. Deskripsi Habitat Kupu-Kupu di Taman Kupu-Kupu Gita Persada Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung. http://fkip.unila.ac.id/ojs/data/journals/10/articles/ desember 2012/VivaDesiHandayani_0813034051.pdf. 2012.Hoi-Sen, Y. Malaysian Butterflies an Introduction. Tropical Press SDN. BHD. 1983.Indrawan, M., R.B. Primack, dan J. Supriatna. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 2007.Jumar. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta. 2000.Krafiani, S. S. Aktivitas Harian Kupu-Kupu Troides helena (Linn.) di Museum Serangga dan Taman Kupu Taman Mini Indonesia Indah. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Mac Kinnon, K. Nature’s Treasure House The Wildlife of Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1992. 26
    • Mardiana, A. Daur Hidup Kupu Raja Troides helena Linnaeus (Lepidoptera : Papilionidae) di Penangkaran Kupu Curug Cilember, Sukabumi. Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2002. Dalam Aktivitas Harian Kupu-Kupu Troides helena (Linn.) di Museum Serangga dan Taman Kupu Taman Mini Indonesia Indah. S.S. Krafiani. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Mattimu, A. A., H. Sugando dan H. Pabbitei. Identifikasi dan Inventarisasi Jenis Kupu-Kupu di Bantimurung, Sulawesi Selatan. Proyek Penelitian Universitas Hasanuddin. Makassar. 1977. Dalam Kajian Produksi dan Tingkah Laku Beberapa Jenis Kupu-Kupu yang Terdapat di Beberapa daerah di Kabupaten Bogor. O. F. M. Simanjuntak. Tesis Progam Studi Biosains. Progam Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2000.Mattimu, A. A., H. Sugondo dan H. Pabbitei. Identifikasi dan Inventarisasi Jenis Kupu-Kupu di Bantimurung, Sulawesi Selatan. Proyek Penelitian Universitas Hasanuddin. Makassar. 1987.McKee, J.K., P. W. Sciulli, C. D. Fooce dan T. A. Waite. Forecasting Global Biodiversity Threats Associated With Human Population Growth. Biological Conservation 115 : 161-164. 2003.National Research Council,USA. Butterfly Farm in Papua New Guinea. Managing Tropical Animal Resources. National Academy Press. Washinton DC. 1983. Dalam Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Barat. M. Amir, W.A. Noerdjito dan S. Kahono. Bogor. BCP JICA : 123-140. 2003.Noerdjito, W. A. dan M. Amir. Kekayaan Kupu-Kupu di Cagar Alam Bantimurung Sulawesi Selatan dan Sekitarnya. Prosiding Seminar Hasil Litbang SDH . 1992.Noerdjito, W. A. dan P. Aswari. Metode Survei Dan Pemantauan Populasi Satwa. Bidang Zoologi (Museum Zoologicum Bogoriense) Puslit Biologi-LIPI. Cibinong. 2003.Nurjannah, S. T. Biologi Troides helena helena dan Troides helena hephaestus (Papilionidae) di Penangkaran. Tesis Program Studi Biosains. Progam Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Odum, E. P. Dasar-Dasar Ekologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 1993. 27
    • Opler, P. Strawn, S. Children’s Butterfly Site. Midcontinent Ecological Science Center. http://www.mesc.usgs.gov/butterfly/butterfly-faq.html. 2000. Dalam Studi Siklus Hidup dan Morfologi Kupu-Kupu Serta Konsumsi Pakan Larva Troides helena helena Linnaeus 1758. S. F. Pasaribu. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2012.Pallister, J.C. Kupu-Kupu dan Ngengat. Di dalam : Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 6 Kehidupan Tumbuhan Kehidupan Hewan Edisi Bahasa Indonesia. Grolier Interbnational, Inc. 1986. Dalam Aktivitas Harian Kupu-Kupu Troides helena (Linn.) di Museum Serangga dan Taman Kupu Taman Mini Indonesia Indah. S.S. Krafiani. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Panjaitan, R. Komunitas Kupu-Kupu Super Famili Papilionoidea (Lepidoptera) di Kawasan Hutan Wisata Alam Gunung Meja, Manokwari, Papua Barat. Tesis Progam Studi Biosains. Progam Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2011.Pasaribu, S. F. Studi Siklus Hidup dan Morfologi Kupu-Kupu Serta Konsumsi Pakan Larva Troides helena helena Linnaeus 1758. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2012.Peggie, D. dan Amir, M. Practical Guide to The Butterflies of Bogor Botanical Garden. Pusat Penelitian Biologi, LIPI dan Nagao Natural Environment Foundation Japan. Bogor. 2006.Peggie, D. Precious and Protected Indonesian Butterflies. PT Binamitra Megawarna. Jakarta. 2011.Penang Butterfly Farm. http://www.butterfly-insect.com/yellow-birdwings/troides- helena-life-cycle.html. Januari, 2013.Rizal,S. Populasi Kupu-Kupu di Kawasan Wisata Lubuk Minturun Sumatera Barat. Mandiri 9 : 170-184. 2007.Romoser, W. S. The Science of Entomology. New York: Macmillan Publishing Co.,Inc. p 449. 1973. Dalam Biologi Troides helena helena dan Troides helena hephaestus (Papilionidae) di Penangkaran. S.T. Nurjannah. Tesis 28
    • Program Studi Biosains. Progam Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Ross, M. J. J. O’Brien dan L. Flynn. Ecological Site Classification of Florida Keys Terrestrial Habitat. Biotropica : 488-502. 1992.Ruslan, Hasni. Komunitas Kupu-Kupu Superfamili Papilionidea di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol, Sukabumi, Jawa Barat. Tesis Progam Studi Biosains. Progam Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2012.Salmah, S. Kupu-Kupu di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Anai. Sumatra Nature Study Center. Padang. 1994.Salmah, S., I. Abbas dan Dahlemi. Kupu-Kupu Papilionidae di Taman Nasional Kerinci Seblat. Balai Taman Nasional Kerinci Seblat. Jambi. 2002.Scoble, M.J. The Lepidoptera Form, Function, and Diversity. The Natural History Museum in Association with Oxford University Press. Oxford. 1992.Sembel, D. T. A Scientific Approach to the Roles of Butterflies with Special Emphasis on Pests of Crops. The Paper Presented at International Butterfly Conference. Ujung Pandang. 1993.Sihombing, D. T. H. Satwa Harapan I : Pengantar Ilmu dan Teknologi Budidaya Cacing Tanah, Bekicot, Keong Mas, Kupu-Kupu dan Ulat Sutra. Pustaka Wirausaha Muda. Bogor. 1999.Simbolon, K. dan A. Iswari. Jenis Kupu-Kupu yang Dilindungi Undang-Undang di Indonesia. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Departemen Kehutanan RI. Jakarta. 1990.Smart, P. The Illustrated Encyclopedia of Butterfly World in Colour. Paul Smart Pres. Stone. J. L. S. Keeping and Breeding Butterflies and Other Exotica. Blandford, London.1976. Dalam Kajian Produksi dan Tingkah Laku Beberapa Jenis Kupu-Kupu yang Terdapat di Beberapa Daerah di Kabupaten Bogor. O. F. M. Simanjuntak. Tesis Program Studi Biologi. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2000.Soehartono, T. dan A. Mardiastuti. Pelaksanaan Konservasi CITES di Indonesia. Japan International Cooperation Agency (JICA). Jakarta. 2003. 29
    • Sumah, A. S. W. Biodiversitas Kupu-Kupu Superfamili Papilionidea (Lepidoptera) di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tesis Progam Studi Bisains. Progam Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2012.Supriatna, J. Melestarikan Alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 2008.Sutedja, I. G. N. N., D. Pratiwi, Ruhiyat dan S. Wibowo. Mengenal Lebih Dekat Satwa yang Dilindungi Biota Laut, Kupu-Kupu dan Reptilia. Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan. Jakarta. 1992.Syaputra, M. Pengelolaan Penangkaran Kupu-Kupu di PT Ikas Amboina dan Bali Butterfly Park Tabanan Bali. Skripsi Fakultas Kehutanan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2011.The Global Butterfly Information System. Troides (Troides) helena (Linnaeus, 1758). Museum für Naturkunde Leibniz-Institut für Evolutions- und Biodiversitätsforschung, Germany. http:// http://www.globis.insects- online.de/species&v=475. Desember, 2012.Tresnawati, E. Siklus Hidup dan Pertumbuhan Kupu-Kupu Graphium agamemnon L. dan Graphium doson C&R. (Papilionidae : Lepidoptera) dengan Pakan Daun Cempaka dan Daun Sirsak. Tesis Program Studi Biosains. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Tsukada E, Nishiyama Y. Butterflies of South East Asian Islands. Volume ke-1, Papilionidae. Japan: Plapac Co,Ltd. hlm 214-224. 1982. Dalam Biologi Troides helena helena Dan Troides helena hephaestus (Papilionidae) di Penangkaran. S.T. Nurjannah. Tesis Program Studi Biosains. Progam Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010.Vane-Wright, R. I. dan de Jong. The Butterflies of Sulawesi : Annotated Checklist for A Critical Island Fauna. Zoo Verh Leiden 343:3/267. 2003.Whalley. Kupu-Kupu dan Ngengat. PT. Saksama. Jakarta.1992. 30