Tasawuf
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Tasawuf

on

  • 10,413 views

 

Statistics

Views

Total Views
10,413
Views on SlideShare
10,377
Embed Views
36

Actions

Likes
1
Downloads
277
Comments
0

3 Embeds 36

http://www.slideshare.net 26
http://gadogado.wordpress.com 9
http://webcache.googleusercontent.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Tasawuf Tasawuf Presentation Transcript

  • TASAWUF
    • Pengertian
    • Pertumbuhan
    • Perkembangan
    • Desi Yesiana
    • Nenti Herawati
    • Tuning Oktaria
    • Yulita
    Kelompok A Dipresentasikan oleh:
  • Pengertian
    • Asal Kata Tasawuf
    • Berbagai asal – usul kata Tasawuf :
    • a. Al Shifa (Kesucian, kebersihan)
    • b. Al Shaf (Barisan, keserasian)
    • c. Al Shuffah (Orang yang suci, khusyuk)
    • d. Al Shuf (Pakaian dari wol/bulu domba)
    • e. Al Shafwah (Yang terpilih/Terbaik)
    • f. Al Shaufanah (Sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh dipadang pasir Jazirah Arab)
    lih. selengkapnya: Dr. Harapandi Dahri, Meluruskan Pemikiran Tasawuf, Hal 1,Pustaka Irfani, dan Ensiklopedi Tematis DUNIA ISLAM, PEMIKIRAN dan PERADABAN hal 139, PT Ichtiar Baru Van Hoeve
    • Secara Etimologis
    Terlihat bahwa asal kata yang paling dekat sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Al Qusyairi adalah kata Al Tasawuf yang teridentifikasikan kepada pemakai wol bulu domba (Labisa Al Shuf) . Apapun asalnya, istilah Tasawuf berarti orang – orang yang tertarik dan intens dengan pengetahuan –pengetahuan yang terkait dengan bathin seseorang, dan orang – orang yang tertarik untuk mencari jalan atau praktek – praktek kearah kesadaran dan pencerahan diri.
    • lih. selengkapnya: Dr. Harapandi Dahri, Meluruskan Pemikiran Tasawuf, Hal 4, Pustaka Irfani
    • Sama dengan saat memaknai secara Lughowiyah, terdapat banyak persepsi ulama.
    • a. Imam Junaid Al Baghdadi (w. 910 M)
    • mendefinisikan Tasawuf sebagai mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah.
    • b. Al syaikh Abu al Hasan al Syadzii (w. 1258 M)
    • Syeikh sufi besar dari Afrika Utara memberikan definisi Tasawuf sebagai praktek dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan.
    • c. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    • Tasawuf sebagai orang yang selalu berkata, berbuat dan bertingkah laku benar dan jujur dalam segala hal, beribadah dan melakukan amaliyah sesuai dengan standar Allah Swt dan Rasul-Nya.
    • lih. selengkapnya: Dr. Harapandi Dahri, Meluruskan Pemikiran Tasawuf, Hal 5, Pustaka Irfani
    • Secara Terminologis
    • WAMY, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran Jilid 1-2, Al Itishom, dan Ensiklopedi tematis DUNIA ISLAM, PEMIKIRAN dan PERADABAN hal 139, PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
    • Tasawuf adalah gerakan keagamaan yang tersebar didunia Islam setelah semakin luasnya daerah penaklukan Islam, dan semakin pesatnya kemajuan ekonomi.
    • Ibrahim Basyuni – sarjana muslim berkebangsaan Mesir, mengategorikan Pengertian Tasawuf pada tiga kategori :
    • 1. Kategori al bidayah
    • Yang menekankan kecenderungan jiwa dan kerinduannya secara fitrah kepada yang Maha Mutlak, sehingga orang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt.
    • 2. Kategori al-mujahadat
    • Pengertian yang membatasi tasawuf pada pengamalan yang lebih menonjolkan akhlak dan amal dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt yang didasarkan atas kesungguhan.
    • 3. Kategori al-mazaqat
    • Pengertian yang cenderung membatasi tasawuf pada pengalaman batin dan perasaan keberagaman, terutama dalam mendekati Zat Yang Mutlak.
  • Pertumbuhan
    • Pandangan Pertama, dikemukakan oleh Ibnu Khaldun
    • Awal mula pertumbuhan tasawuf bukan dari masa-masa awal Islam, namun generasi ketiga setelah Nabi wafat dan yang menjadi dasar dari ilmu ini adalah orientasi ibadah hanya kepada Allah semata dan memutuskan hubungan dengan selain Allah juga memalingkan diri dari kegemerlapan duniawi.
    • Argumentasi kedua
    • Saat Islam datang, ajaran dan praktek sufi telah berkembang diseluruh penjuru yang ditaklukan Islam.
    • Syeikhul Ibnu Taimiyah mengambil jalan tengah bahwa pertumbuhanTasawuf telah dimulai pada awal abad kedua Hijriyah, namun perkembangannya baru terlihat pada abad ketiga hijriyah.
    • lih. selengkapnya: Dr. Harapandi Dahri, Meluruskan Pemikiran Tasawuf, Hal 9, Pustaka Irfani
  • Perkembangan
    • 1. Marhalah (Periode) al-Ubbad wa al-Zuhhad
    • Para Ulama sufi lebih mengedepankan ibadah individu dan cenderung menjauhkan dirinya dari keramaian manusia, walau demikian mereka masih tetap pada koridor syariah al islamiyah.
    lih. selengkapnya: Dr. Harapandi Dahri, Meluruskan Pemikiran Tasawuf hal 14, Pustaka Irfani, dan Drs. Totok Jumantoro, MA, dan Drs Samsul Munir Amin, Mag, Kamus Ilmu Tasawuf, hal 254 2. Marhalah (Periode) Penyimpangan dalam berbagai macam sikap, ungkapan maupun bentuk-bentuk aktivitas al-khurafatiyyah dan al-aqwal al syathahat, dan berbagai bentuk khawariq li al-’adat. Pada masa ini muncul berbagai ilmu seperti ilmu Dzahir, ilmu bathin, dan berbagai ungkapan dan pernyataan tentang terbebasnya seorang yang telah tergolong dalam kategori sufi dari ilmu-ilmu syariat.
    • 3. Marhalah (Periode) yang oleh pengamat Tasawuf lebih berorientasi pada pengaruh-pengaruh filsafat Yunani, metode-metode paris dan Majusi, dan juga terpengaruh oleh agama-agama Yahudi dan Nashrani.
    Sedangkan, Amin Syukur dalam karyanya “Menggugat Tasawuf” membagi periodesasi sejarah perkembangan Tasawuf menjadi lima masa, yaitu : 1. Masa Pembentukan Dalam abad ke-1 Hijriyah bagian kedua, lahirlah Hasan Bashri (w. 110 H) dengan ajaran Khauf, mempertebal takut kepada Tuhan. Kemudian pada akhir abad ke-1 H, Hasan Bashri diikuti Rabi’ah Al Adawiyah (w. 185 H) yang terkenal dengan ajaran cintanya. Selanjutnya pada abad ke-2 H, tasawuf tidak banyak berbeda dengan abad sebelumnya, yakni sama dalam corak ke-zuhud- annya, meskipun penyebabnya berbeda.
  • 2. Masa Pengembangan Tasawuf pada abad ke-3 dan ke-4 H sudah mempunyai corak yang berbeda sekali dengan tasawuf sebelumnya. Pada abad ini tasawuf sudah bercorak ke-fana-an yang menjurus ke persatuan (hamba dengan khaliq). Tasawuf pada abad ke-3 dan ke-4 H sudah sedemikian berkembang sehingga sudah merupakan mazhab, bahkan seolah-olah agama yang berdiri sendiri. 3. Masa Konsolidasi Masa ini ditandai adanya kompetisi dan pertarungan antara “Tasawuf semi falsafi” dan “Tasawuf sunni”. Pertarungan dimenangkan tasawuf sunni, dan berkembang dengan pesat, sedang tasawuf semi falsafi tenggelam dan hilang serta muncul kembali pada abad ke-6 H dalam bentuk yang berbeda Lih selengkapnya : Drs. Totok Jumantoro, MA, dan Drs Samsul Munir Amin, Mag, Kamus Ilmu Tasawuf, hal 254
    • Tasawuf pada masa ini cenderung mengadakan pembaruan atau menurut istilah Annemarie Schimmel dengan periode konsolidasi, yaitu periode yang ditandai pemantapan dan pengembalian tasawuf ke landasannya, Al Qur’an dan hadits.
    4. Masa Falsafi Tasawuf filosofis muncul dengan jelas dalam khazanah Islam sejak abad ke-6 H, meskipun tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Ciri tasawuf pada abad ke-6 adalah tasawuf yang bercampur dengan ajaran filsafat, kompromi, dan pemakaian term-term filsafat yang maknanya disesuaikan dengan tasawuf. Lih selengkapnya : Drs. Totok Jumantoro, MA, dan Drs Samsul Munir Amin, Mag, Kamus Ilmu Tasawuf, hal 254
    • 5. Masa Pemurnian
    • Pada masa ini juga terlihat adanya tanda-tanda keruntuhan dan penyelewengan serta skandal melanda. Dalam kondisi demikian muncullah Ibnu Taimiyah yang dengan tegas menyerang penyelewenan para sufi tersebut. Kepercayaan yang menyimpang diluruskan, seperti kepercayaan kepada wali, khurafat, dan bentuk-bentuk bid’ah pada umumnya. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa wali (Kekasih Allah) adalah orang yang berprilaku baik (Shalih), konsisten dengan syari’at Islamiyah.
    Lih selengkapnya : Drs. Totok Jumantoro, MA, dan Drs Samsul Munir Amin, Mag, Kamus Ilmu Tasawuf, hal 254
  • Maroji’
    • Dr. Harapandi Dahri, Meluruskan Pemikiran Tasawuf, Pustaka Irfani, Jakarta, 2004.
    • Drs. Totok Jumantoro, MA, dan Drs Samsul Munir Amin, Mag, Kamus Ilmu Tasawuf , Jakarta.
    • Ensiklopedi tematis DUNIA ISLAM , PEMIKIRAN dan PERADABAN, PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
    • WAMY , Gerakan Keagamaan dan Pemikiran Jilid 1-2, Al Itishom.