• Save
Wana bertemu naga
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Wana bertemu naga

  • 425 views
Uploaded on

berusaha memasukkan permainan anak-anak ke dalam cerita petualangan. belum selesai.

berusaha memasukkan permainan anak-anak ke dalam cerita petualangan. belum selesai.

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
425
On Slideshare
425
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Wana bertemu NagaDitengah hutan belantara yang lebat, seiris tipis jalan setapak membelah. Memanjang dari utara keselatan, berliku-liku mengikuti lekukan sungai disisinya. Ditengah hari yang terik, seorang bocahberusaha berlindung dibawah bayang-bayang hutan nan teduh. Tampaknya sudah cukup lama ia berjalan.Pakaiannya yang compang-camping basah oleh peluh. Kain jarik usang itu tampak tidak cukupmenampung keringatnya yang membanjir. Si bocah kelana sudah terbiasa hidup sendiri. Tidak ada yangpernah memperdulikannya sejauh yang dapat diingatnya. Ia lahir ditengah sawah, entah siapa ayah danibunya. Dari hari ke hari ia tumbuh hanya karena berkat kebaikan hati para Dewa.Walaupun dengan susah payah kini Wana, begitulah ia menamakan dirinya sendiri, telah menjadi seorangremaja kurus kering namun kuat tekadnya. Lapar sudah menjadi sesuatu yang akrab baginya, ia dapathidup hanya dengan meminum air sungai dan memakan sedikit biji-bijian atau buah dari hutan selamaberminggu-minggu. Bila rasanya tak tertahankan lagi, atau bila ia memerlukan kain untuk memperbaikibajunya barulah ia mencari desa terdekat dengan mengikuti aliran sungai yang kecil namun jernih itu,lambat laun pasti akan bertemu desa.Betul saja, ketika matahari terbit keesokan paginya Wana melihat atap genting rumah-rumah tak jauh daritempatnya bermalam. Segera ia memasuki batas desa tersebut sambil membawa setumpuk kayu bakar.Wana senang sekali, ia berhasil menukar kayunya dengan setumpuk kue pisang dan lepat ketan. Perutnyamemang sudah keroncongan sejak dua hari yang lalu. Ia makan dengan lahap, lalu melanjutkanperjalanannya. Tak lama ia telah sampai ditengah sebuah desa yang cukup besar, hingga dapat disebutseperti kota kecil yang ramai. Penduduknya cukup ramah dan tampak sibuk berdagang, tetapi merekasemua terlihat tegang. Wana belum tahu, ketegangan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kota Curik-curik ini.Karena setiap menjelang hari ketujuh dalam satu bulan mereka harus menghadap pada sang naga merahdan naga emas, sesembahannya. Bukan hanya menyembahnya, tetapi juga bersiap kehilangan salah satuwarganya: anak, orangtua, suami atau istrinya untuk dijadikan anakan naga oleh tukang sihir kepercayaansang naga. Wana yang merupakan orang asing belum pernah mengikuti ritual ini.Saat ia berjalan-jalan melihat situasi kota, tiba-tiba ia tersadar masuk dalam barisan penduduk kota yangbergerak kesatu arah. Hari inilah datangnya hari ketujuh. Segenap masyarakat berpakaian yang terbaikyang mereka punya. Pakaian yang didominasi warna emas atau merah. Saat diperhatikan ternyatapenduduk berbaju emas hampir sama banyaknya dengan yang merah. Sesuai dengan naga pujaan mereka.“Kemarin bulan genap”, bisik seorang ibu penjual teh kendi yang sejak tadi berbaris disampingnyamemberi penjelasan tanpa diminta. “Masing-masing naga harus punya anakan yang sama di bulan genap”tambah si ibu, membuat Wana semakin bingung.
  • 2. Ia mulai mendengarkan dengan seksama bisik-bisik disekitarnya. “Sekarang bulan ganjil…..” “….Sangnaga merah atau emas yang duluan..” “…siapa yang akan dapat anakan naga…” adalah potonganpembicaraan yang terus bergaung disepanjang jalan menanjak dari desa menuju kuil diatas gunung. Wanamulai menyadari arah barisan penduduk ini dengan ngeri. Ia bisa melihat gunung hijau berbatu yangsebagian tertutup kabut. Bersama-sama, seluruh penduduk kota mendaki tangga-tangga batu yang terjal.Dada Wana berdebar cemas saat tiba dipintu gerbang kuil yang terbuat dari batu berukir. Ia tidak tahu apayang ada didalamnya.Bagian dalam kuil adalah lapangan luas sekali, tepat ditengahnya tampak dua pasak besar menancapberwarna merah disebelah kanan dan emas disebelah kiri. Diujung belakang ada sebuah panggung berisigamelan. Dari sanalah tiba-tiba seseorang yang duduk diatas bantalan awan empuk melayang masuk kelapangan. Orang itu tampak tua karena jenggot putihnya panjang sekali hingga menjuntai keluar dariawan empuk tadi. Wajahnya runcing dan berkeriput, matanya kecil hitam bagai ular dan tampak kejam. Iamengenakan jubah panjang seperti pendeta dengan tudung warna hitam dan membawa tongkat kayupanjang yang diatasnya bertengger bola kristal bercahaya. Penduduk kota mulai memasuki lapangan.“Ini dia sang penyihir, Ki Kerupukan”, bisik ibu penjual teh tadi sambil menjawil lengan Wana. “Awas,jangan lihat matanya nanti dia bisa membaca pikiranmu dan tahu dosa-dosamu” desis si ibumemperingatkan. Belum sempat Wana bertanya si ibu sudah melanjutkan, “Ki Kerupukan akanmembuatmu mudah tertangkap sang naga saat kita mengular nanti, karena kakimu diganduli baja seberatrasa bersalahmu”. Wana melirik sembunyi-sembunyi kearah Ki Kerupukan yang tanpa berkatamenggerakkan tongkatnya kearah seperangkat alat bunyi-bunyian dan terdengarlah bunyi menggelegar“GONG!! GONG!! GONG!!”Dengan segera bagaikan dikomando, warga kota berbaris mengular berseling-seling merah dan emas.Wana yang berkain jarik merah terpisah dari ibu penjual teh yang berkebaya merah pula. Lalu setelahakhir suara GONG mereda, semua warga sudah berbaris rapi.Tiba-tiba terdengar suara mengguntur disertai kilat menyambar. Tampak awan mega terbelah danmenyeruaklah dua naga besarnya luar biasa. Kepalanya sebesar sapi yang gemuk, tubuh panjangnya takkurang lebarnya dari batang pohon beringin usia ratusan tahun dan panjangnya bagai sungai. Keduanyaberkilat-kilat megah terbang dikelilingi kilat dan guntur lalu bertengger melingkari pasak. Naga merahpada pasak merah dan naga emas pada pasak emas. Lalu ekor keduanya yang saling bertaut membentukterowongan.Naga yang merah berkilat memiliki mata dan surai keemasan, sisiknya semerah darah. Naga yang emasberkilau menyilaukan, mata dan surainya merah bagai api. Selanjutnya terdengar alunan suara gamelandiiringi nyanyian oleh arwah leluhur yang sudah lebih dahulu menjadi anak naga. “Ular naga panjangnyabukan kepalang, menjalar-jalar....” “….umpan yang lezat itulah yang dicari……” bagai terhipnotis, kaki
  • 3. Wana berjalan meliuk-liuk mengikuti gerakan mengular warga didepannya. Pundaknya dipegang seorangbapak dibelakangnya, dan ia memegang pundak anak kecil didepannya. Seluruh warga bergerak tanpasadar dan entah setelah beberapa lama mereka mengular tiba-tiba suara nyanyian itu berhenti dan barisanpun sontak mematung. Tak disangka, Wana hampir saja berada tepat berada di bawah naungan buntutnaga. Malangnya, seorang bapak tua berbaju emas dibelakangnya belum sadar saat rantai baja tiba-tibamuncul mengikat kakinya dan buntut naga emas membelit tubuhnya.Tak sempat ia menjerit, Ki Kerupukan segera menggerakkan tongkat sihirnya dan dari bola Kristal keluarcahaya hijau keperakan yang menyilaukan dan mengubah bapak tadi menjadi sekeping sisik emas besar.Ternyata yang dikatakan ibu penjual teh sebagai “anakan naga” adalah kepingan sisik yang besarnyaseukuran seekor kambing. Belum hilang kekagetan Wana, tiba-tiba sisik itu melayang dan menempel dibuntut naga disertai percikan api keemasan dan bertambahlah panjang sang naga emas.Naga emas terbang bergelung-gelung kesenangan, memuntahkan kembali bunga api dan kilat keemasanlalu segera melesat kembali ke balik awan. Sementara naga merah menggeram marah suaranya bagaiguntur kala badai menggelora. Mata emasnya mengecil bersinar menyoroti warga desa, lalu dengan satusuara ledakan besar ia pun kembali ke angkasa. Wana hanya bisa memelototkan matanya terpana dengansemua kejadian tadi.Setelahnya penduduk kota kembali berduyun-duyun menuruni gunung batu. Ki Kerupukan sudah tidakterlihat lagi. Sayup-sayup terdengar isakan tangis perempuan. Wana beranggapan, mereka mungkinkeluarga bapak tua tadi. Sekali lagi Wana bersyukur ia masih diberi kehidupan oleh para Dewa.Bersyukur pula atas kebaikan hati ibu penjual the menasihatinya. Terlebih lagi ia lega bahwa ia pengelanayang tidak terikat di satu tempat. Dengan cepat, diayunkan kakinya menuju hutan terdekat. Sudah cukuppetualangannya hari ini, saatnya kembali ke lingkungan yang akrab dengannya. Hutan belantara.Biodata:Nama : Astari Mayang AnggaraniNo. KTP : 09.5208.510881.0169Alamat : Jl. Kakap II no. 26, Rawa mangun, Jakarta Timur, 13220No telepon : 021-478 65810, 081317641628Email : astari.0881@gmail.com; astari_m_a@yahoo.co.idPekerjaan : Mahasiswa pascasarjana