Setiap 22 Desember Indonesia memperingati hari ibu dengan berbagai seremonial dan kegiatan. Bagaimanakah kondisi kaum ibu ...
Refleksi Hari Ibu
Refleksi Hari Ibu
Refleksi Hari Ibu
Refleksi Hari Ibu
Refleksi Hari Ibu
Refleksi Hari Ibu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Refleksi Hari Ibu

2,214

Published on

Published in: Health & Medicine, Business
1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
2,214
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
19
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Refleksi Hari Ibu"

  1. 1. Setiap 22 Desember Indonesia memperingati hari ibu dengan berbagai seremonial dan kegiatan. Bagaimanakah kondisi kaum ibu di Indonesia? Sudahkah tercapai harapan ibu-ibu pejuang dahulu; RA. Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan lainnya? Harapan akan kesempatan, kesejahteraan untuk kaum ibu.<br />Walau banyak kemajuan yang telah dicapai kaum ibu dari sisi kesempatan pendidikan, pekerjaan, berpolitik dan masih banyak lagi. Sejenak saja mari kita lihat lebih dalam, nyatakah itu semua? <br />Dasar yang menjadi pondasi peningkatan kesejahteraan para ibu adalah kesehatan. Kemajuan yang disebutkan tadi adalah bunganya saja, yang mengindikasikan kemajuan kaum ibu. Tetapi apakah bunga itu berakar kuat pada tanah yang subur terawat? Itu yang harus dicermati.<br />Mengapa kesehatan disebut sebagai pondasi kemajuan kaum ibu? Karena kesehatan adalah dasar, kebutuhan sangat dasar yang harus terpenuhi dengan baik. Bukan hanya cukup, tetapi harus baik. Kesehatan ibu menentukan kualitas bangsa. Ibulah yang mengatur keluarga (dalam skala kecil), berarti juga mengatur bangsa. Ibulah yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Otomatis ia akan melahirkan dan membesarkan generasi penerus bangsa, yang memegang masa depan Indonesia.<br />Siklus seorang ibu dimulai dari masa ia menjadi bayi, kemudian anak perempuan, remaja putri, lalu wanita dewasa, ibu hamil, ibu, wanita menopause sampai wanita lanjut usia. Banyak kondisi memprihatinkan yang terjadi pada fase-fase tersebut. Sebagian besar masalah kesehatan yang dialami berhubungan dengan gizi. Tentu saja, karena gizi adalah inti dari kesehatan. Gizi kurang mengakibatkan berbagai penyakit akibat defisiensi zat gizi makro dan mikro. Gizi lebih mengakibatkan penyakit akibat penumpukan. Kondisi gizi seimbang mudah untuk diucapkan tetapi rupanya sangat sulit untuk dicapai secara harfiah. <br />Gizi kurang<br />Sejak awal kehidupan calon ibu sebagai seorang janin dalam kandungan, ancaman kekurangan gizi sudah mengintai. Bila ibu hamil mengalami kekurangan gizi, konsekuensinya akan melahirkan bayi-bayi dengan berat badan yang rendah (BBLR).<br />Bayi BBLR bukan berarti tanpa konsekuensi lanjutan. BBLR mengindikasikan kekurangan gizi kronis yang terjadi pada sang ibu, baik sebelum dan selama kehamilan. Pertumbuhan janin dalam kandungan membutuhkan banyak sekali zat-zat gizi. Bila ibu hamilnya saja sudah kekurangan, apalagi janin yang dikandungnya. Ada 350 ribu bayi lahir dengan berat badan rendah setiap tahunnya di Indonesia. Bayi-bayi ini sangat rentan terhadap kematian akibat infeksi. Tidak heran angka kematian bayi kita masih tinggi, 35 perseribu kelahiran hidup. <br />Ibu Indonesia cenderung anemia, yang berarti kandungan hemoglobin dalam sel darah merahnya berkurang. Sebagian besar akibat kekurangan zat besi. Padahal hemoglobin bagai tukang pos yang mengantarkan paket-paket oksigen ke seluruh sel tubuh. Dalam kondisi anemia, tukang pos hemoglobin hanya mampu membawa sangat sedikit paket oksigen. Akibatnya terjadi mogok kerja, sel-sel tubuh yang merasa kebutuhannya tidak terpenuhi tidak mau/tidak mampu melaksanakan fungsinya. Sampai akhirnya sel-sel tersebut rusak dan mati. <br />Anemia pada ibu hamil meningkatkan risiko kematian saat persalinan 3,6 kali lebih besar. Akibat sel-sel otot dalam rahimnya sudah lama kekurangan oksigen, mereka mogok berkontraksi post partum. Sehingga mudah terjadi perdarahan setelah melahirkan, yang berujung pada kematian. Tidak perlu heran mengapa angka kematian ibu Indonesia tiga sampai delapan kali lipat negara ASEAN lainnya. Lima puluh persen dari ibu hamil kita mengalami anemia, beberapa propinsi bahkan mencapai 80 persen. <br />Tidak hanya mengancam ibu saja, janin yang dikandung ibu anemi cenderung mengalami masalah serupa. Pak pos hemoglobin tidak mampu mengantar oksigen yang cukup. Padahal pembentukan otak dan anggota tubuh lainnya perlu oksigen banyak. Bisa kita perkirakan, efek negatif yang ditimbulkan kepada kecerdasan dan kesehatan bayi yang dilahirkan.<br />Bayi dengan riwayat BBLR, bila ia berhasil hidup, akan menjadi balita yang rentan. Masa balita adalah periode emas yang harusnya menjadi tempat investasi terbesar bangsa. Karena sampai usia 3 tahun, balita akan berusaha mengkompensasi perkembangan dan pertumbuhan yang kurang. Bila pada fase ini diberikan nutrisi yang baik dalam jumlah tepat, perkembangannya akan optimal. Kecerdasan dan kesehatan fisik ditentukan pada fase ini. Nyatanya, prevalensi balita dengan gizi kurang di Indonesia masih yang tertinggi di ASEAN. Sekitar 27 persen balita Indonesia kekurangan gizi makro, satu diantara dua balita kekurangan gizi mikro vitamin A dan zat besi. Efek jangka panjangnya akan sukar diperbaiki. Lagi-lagi kita tidak perlu heran mengapa angka kematian balita 58 per seribu balita.<br />Balita dengan riwayat gizi kurang yang berhasil tumbuh ke usia sekolah akan menjadi anak-anak yang pendek. Bukan karena pengaruh genetis, tetapi karena kurangnya protein untuk pertumbuhan otot dan jaringan, kurangnya kalsium untuk pertumbuhan tulang dan kurangnya zat besi untuk membantu pengiriman oksigen keseluruh tubuhnya. Selain fisik, kecerdasan juga terganggu. IQ anak dengan riwayat kekurangan gizi 11 poin lebih rendah dibanding yang kecukupan gizinya terjaga. Pada usia sekolah, efek buruk yang terjadi sudah permanen. Bisa kita lihat dari jumlah anak yang harus mengulang sekolah dasar setiap tahun mencapai 900 ribu lebih! Nyaris satu juta anak Indonesia tidak dapat lulus sekolah dasar karena kemampuan berpikirnya kurang. Bila separuhnya adalah perempuan, ada lima ratus ribu calon ibu yang kecerdasannya dibawah rata-rata setiap tahun.<br />Selanjutnya anak sekolah ini beranjak remaja. Umumnya remaja putri mengalami masalah dalam pola makannya. Karena ia sudah bisa memilih sendiri, ditambah pengaruh dari teman, bintang idolanya yang langsing-langsing, informasi setengah-setengah yang ia dapat disekolah mengenai gizi, dll. Remaja putri akan cenderung mengurangi asupan makannya dengan alasan diet, takut gemuk. Padahal remaja yang sehat saja dilarang diet, apalagi yang masa balitanya tergolong gizi kurang. Remaja putri sedang mengalami pertumbuhan besar-besaran mempersiapkan dirinya menjadi seorang wanita. Diperlukan zat gizi yang lebih dari sebelumnya untuk pertumbuhan tulang, rahim, payudara, metabolism hormonal dan sebagainya. Bila zat gizinya tidak cukup, pertumbuhan ini akan mandek. <br />Remaja putri akan menjadi wanita dewasa yang pendek akibat kondisi tubuh kekurangan gizi kronis, bukan genetis. Bila ia kemudian hamil, akan menjadi ibu hamil dengan defisiensi gizi dan melahirkan bayi-bayi BBLR generasi berikutnya.<br />Bayangkan berapa banyak generasi yang hilang? <br />Gizi lebih<br />Gizi lebih rupanya mulai membayangi Indonesia. Pada berbagai survey diketahui, sekitar 10 persen wanita mengalami kelebihan berat badan dan 13 persen mengalami obesitas. Pada remaja porporsi gizi lebih bervariasi antara 2-9 persen.<br />Yang sudah diketahui luas penyebab gizi lebih adalah mengenai pemilihan jenis makanan dan aktivitas fisik ssehari-hari. Pemilihan makanan yang kaya lemak dan tinggi karbohidrat sederhana/gula akan membuat penumpukan-penumpukan energi tidak terpakai sehingga disimpan sebagai lemak bawah kulit. Seringnya mengkonsumsi makanan cepat saji, lebih suka membeli jajanan rendah serat tinggi lemak daripada memasak sendiri, aneka cemilan kaya garam disaat senggang hanyalah contoh kebiasaan yang mulai membudaya dikalangan ibu. Aktivitas fisik yang kurang dan malas berolah raga otomatis akan mengurangi pembakaran penumpukan lemak tadi. Jadilah kelebihan berat badan atau bahkan obesitas pada ibu-ibu Indonesia.<br />Sebab lain yang baru diketahui akhir-akhir ini bahwa ternyata obesitas berhubungan dengan riwayat kekurangan gizi kronis pada fase kehidupan sebelumnya. Seorang balita dengan gizi kurang lalu tumbuh menjadi remaja dan wanita dewasa. Disaat ia meningkatkan asupan gizinya saat dewasa lebih mudah menjadi obes dibanding wanita yang tidak pernah mengalami defisiensi gizi selama fase hidupnya.<br />Hal ini sangat masuk akal karena wanita dengan riwayat defisiensi gizi tentunya hidup dalam lingkungan yang kurang memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi. Sehingga ketika ia mampu untuk membiayai konsumsinya, pilihan-pilihan yang dibuat tidak bijaksana. Lebih banyak memilih makanan instant, camilan tinggi gula tinggi garam, sumber protein bukan yang segar tetapi olahan yang sudah ditambahi garam, pengawet, penguat rasa dan pewarna, meninggalkan sayuran hijau dan buah-buahan segar. <br />Perilaku ini akan diberlakukan pula pada anak-anaknya nanti. Dari pada memasak dari bahan-bahan segar, lebih sering memasak makanan olahan karena lebih mudah dan cepat. Bila memasak pun malas, ibu hanya memberikan uang jajan kepada anaknya untuk kebutuhan makanannya seharian. Terserah pada anaknya mau makan apa hari itu. Tentu saja pilihan makanan oleh seorang anak tidak bijaksana. Ia akan memilih jajanan tidak sehat yang miskin gizi. Sehingga sering kita lihat, ibu-ibu obesitas memiliki anak-anak yang kurus kurang gizi. Fenomena ini lebih banyak terjadi justru pada masyarakat menengah kebawah.<br />Ibu yang obesitas akan rentan terhadap penyakit diabetes mellitus, darah tinggi, jantung dan kanker. Penyakit ini bisa diturunkan kepada anak-anaknya. Belum lagi gangguan sendi akibat tidak kuat menahan beban tubuhnya, sehingga ibu tidak bisa mendampingi aktivitas anaknya. Kekurangan zat gizi mikro juga sering terjadi pada ibu yang obesitas. Anemia, kekurangan iodium, kekurangan kalsium mengintai dibalik lipatan lemaknya.<br />Selamatkan ibu<br />Ibu dengan gizi kurang ataupun gizi lebih akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang kurang cerdas, banyak masalah kesehatan fisik dan akan menurunkan hal serupa ke keturunan selanjutnya. Lingkaran setan ini yang harus dihentikan.<br />Banyak sekali upaya yang telah dilakukan untuk menangani masalah gizi kurang. Dari mulai pemberian suplemen besi pada ibu hamil, makanan tambahan untuk balita, makanan pendamping ASI untuk bayi dan balita, fortifikasi tepung terigu dengan vitamin dan mineral, garam beriodium dan lain sebagainya.<br />Penanganan gizi lebih juga sudah banyak dilakukan, mulai dari penyuluhan, peningkatan aktivitas fisik anak sekolah lewat pelajaran olah raga, kegiatan senam jantung di masyarakat dan sebagainya.<br />Namun banyak dari upaya-upaya ini tidak difolow up secara terratur. Bagaimanakah efisiensi dan efektivitasnya. Respon kelompok sasaran terhadap kebijakan suplemen besi dan MP ASI tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang penting untuk ditindak lanjuti. Singkatnya, kebijakan yang sudah dibuat belum menyentuh lingkungan strategisnya.<br />Sebagai contoh pertama, suplementasi besi dengan tablet merah Fe ternyata hanya bagus secara konsep. Pada pelaksanaannya, ibu-ibu hamil jarang yang mau mengkonsumsinya. Didaerah sering ditemukan bungkusan tablet Fe dibawah bantal, di kolong tempat tidur bahkan ditenpat sampah. <br />Penampilan tablet Fe yang merah kurang disukai, karena ada kebudayaan yang tidak membolehkan ibu hamil melihat warna merah karena akan mengancam bayinya. Belum lagi bau besinya yang kuat, membuat malas untuk mengkonsumsi. Terkadang efek samping meningkatkan rasa mual, timbul setelah tablet besi dikonsumsi. Untuk orang yang tidak hamil, mungkin hal-hal diatas tidak terlalu mengganggu. Namun bagi ibu hamil yang cenderung pencemas akan keselamatan bayinya, lebih sensitive penciumannya dan lebih mudah mual tentu sangat mengganggu. <br />Pemberian makanan tambahan balita berupa susu juga tidak selalu disambut dengan respon positif. Lebih sering susu yang diberikan memiliki bau khas susu yang terlalu kuat, tanpa ada variasi rasa. Masyarakat Indonesia, terutama didaerah, bukanlah pengkonsumsi susu seperti layaknya orang Amerika. Konsumsi kita sehari-hari nasi dengan lauk pauk ditambah air teh atau air putih. Sehingga toleransi terhadap susu kurang, baik secara budaya maupun secara biologis. <br />Tidak terbiasa mengkonsumsi susu (selain ASI) membuat timbul diare akibat intoleransi laktosa pada anak-anak. Hal ini tentu mengkhawatirkan ibunya. Sehingga banyak susu justru dikonsumsi oleh ayahnya, sebagai campuran minum kopi atau malah dijual lagi. Lebih tepat mungkin bila pemberian makanan tambahan tersebut disesuaikan dengan budaya dan makanan khas masing-masing daerah yang digemari anak-anak. <br />Yang juga perlu didekati adalah pengusaha yang menjual jajanan anak sekolah. Upaya memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mereka sudah pernah dilakukan memang. Bagaimana memasak yang sehat, pemilihan bahan baku yang murah namun bergizi, pengemasan yang menarik dan higienis. Tetapi lagi-lagi tidak ada follow up.<br />Peringatan hari ibu seharusnya tidak saja berupa riuh rendahnya berbagai persembahan acara televisi, atau diskon dipusat perbelanjaan. Perhatian, komitmen dan konsistensi dalam upaya penanganan berbagai masalah gizi harus menjadi prioritas. Kondisi gizi ibu mempengaruhi kesehatannya yang akan mempengaruhi kualitas generasi penerus yang dilahirkannya. Investasi besar jelas harus dialokasikan, sekarang juga. Bila tidak, apakah kita siap menghadapi kekosongan sumber daya berkualitas selama beberapa generasi? <br />

×