• Save
Kejamnya ukuran
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Kejamnya ukuran

on

  • 536 views

 

Statistics

Views

Total Views
536
Views on SlideShare
536
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kejamnya ukuran Kejamnya ukuran Document Transcript

  • KEJAMNYA UKURAN “Abang…abang…abang. Yak, tanah abang…tanah abang…tanah abang Bu,tanah abang Kak… ayo De’ tanah abang…tanah abang…”sopir mikrolet sudahmemulai pagi ini dengan teriakan mautnya. Merayu dan mencumbu telinga parapekerja kantoran, anak-anak sekolahan, ibu-ibu yang menjinjing keranjang belanjaanagar mereka bersedia menjejalkan diri dalam mikrolet butut berwarna biru butekdengan bemper depan keropos itu sesuai trayeknya, tanah abang-kota. Tinggal satu celah sempit lagi dari seluruh papan berlapis plastik hitam ,yangbiasa dipakai duduk para penumpang, yang tersisa. Sang sopir masih belum juga mauberangkat, kendati penumpang lainnya sudah mulai gelisah. Ibu-ibu gendut membawabakul jamu mulai keringatan, bedak putih yang dipupurinya keseluruh pipitembamnya mulai luntur oleh peluh yang mengalir dari dahi, seorang bapak berbajukemeja rapi mulai bersungut-sungut sambil bolak balik melihat jam tangannya. Tepat sebelum salah satu penumpang melancarkan protes keras kepada sopiratas kesewenang-wenangannya menunda keberangkatan, Hup! Seorang bapak tengahbaya masuk dan mengisi celah sempit tadi. Ibu gendut menghela napas lega, danpenumpang lainnya menelan kembali makian yang tak terucapkan kedalamkerongkongan mereka. Bapak yang masuk terakhir tadi memakai baju seragam kantor pemerintahan.Warna hijau kecokelatan dengan lambang ibukota di lengan kanannya, lengkapdengan bros korps pegawai dan peneng nama dari plastik kehitaman bertuliskanhuruf-huruf berwarna putih membentuk nama ‘Soewardji S’. Berhubung ia masuk terakhir, tentu saja mendapat posisi yang paling tidakenak, yaitu paling pojok sebelah dalam dan kaki yang tidak bisa diletakkan dengannyaman akibat terganjal ban serep. Belum lagi, duduknya pun tak sempurna akibat
  • celah yang tersisa, sudah ditegaskan sejak awal yaitu, sempit. Dan benar-benarsempit. Sehingga bokong abdi negara kita ini bagai melayang beberapa sentimeterdiatas tempat duduk. Tubuhnya terjepit antar pinggul besar berlemak sang ibu gendutdengan dinding belakang mikrolet. Namun tampaknya pak Soewardji tenang-tenang saja, malah seperti tidakmenyadari keadaan sekitarnya. Ia tidak mendengar kecipak-kecipuk komat-kamitanak sekolahan menghafal rumus bagai merapal mantra, tak juga diciumnya bau taksedap mulai keluar dari lipatan-lipatan kulit berlemak tebal ibu disebelahnya yangtampaknya semakin kegerahan, tak juga dirasakannya sakit kala kepalanya yang kinihanya dilindungi beberapa helai rambut terantuk kaca akibat sang sopir seringmengerem mendadak seenak perutnya. Ternyata matanya terpaku pada sebuah kertas kumal yang tertempel dikacabelakang mikrolet. Kertas tempelan tersebut adalah iklan pengobatan tradisional yangmenawarkan kesembuhan luarrr biasaa dengan cara yang… ,seringkali tidakdisebutkan bahwa, amat tak biasa. Tak jarang membutuhkan persyaratan uang,sesajen bahkan kurban hewan. Mata belo-nya yang mulai menguning seolah ingin menelan bulat-bulat tulisanwarna biru diatas kertas putih yang, sudah dijelaskan tadi, kumal dan hampir sobek.Isinya seperti ini: ‘Mbah anu..anu..ahli menyembuhkan berbagai macam penyakit:liper, darah tinggi, anu..anu.. kencing nanah, lemah syahwat dan membesarkankemaluan’. Nah dua kata terakhirlah yang menarik untuk bapak Soewardji S. Apalagidibawahnya masih ada keterangan tambahan: ‘Hasil dapat langsung dilihat ditempat,dijamin 100% uang kembali!’ Wah wah wah, pantas saja ia terperangah melihat iklan tersebut. Sedangmengalami krisis paruh baya rupanya. Asal tahu saja, pak Soewardji S yang genap
  • berusia 56 tahun 1 bulan yang lalu ini, sudah memiliki 4 orang anak dan selama iniistrinya juga tidak pernah mengeluhkan apa-apa mengenai kegiatan atas ranjangdalam 32 tahun usia perkawinan mereka. Memang istrinya bahkan tidak pernah mengeluh tentang apapun. Tentanggajinya yang pas-pasan, tentang beras pembagian yang lebih banyak gabah dantungaunya, tentang mengapa sampai sekarang mereka masih mengontrak rumah, atauapapun. Tidak pernah sama sekali. Istrinya sungguh perempuan idaman setiap lelaki,yang mungkin sudah tidak diproduksi lagi di abad 21 ini. Disaat begitu banyaktuntutan, syarat dan keinginan perempuan yang harus dipenuhi laki-laki; entahayahnya, kakak, adik, suami atau baru jadi pacar sekalipun. Pribadi seperti nyonyaSoewardji S sungguh sangat langka. Kembali ke iklan tadi, disana tercantum nomor telepon dan alamat rumah sangpenyembuh tadi. Diam-diam bapak kita ini menghafal nomor tersebut dan alamatnya,serupa dengan si anak SD yang mau ujian tadi. Mulut komat-kamit, mata sedikitmelotot bagai penyihir yang biasanya akan diikuti dengan Abrakadabra! atauAlakazaamm!. “Tok..tok..tok.., pinggir Bang.”suara pak Soerwardji terdengar sedikit serakmengakhiri ketukan pada atap mikrolet. Setelah turun, ia melenggang memasukiwilayah kantor pemerintahan daerah tersebut dengan wajah berbinar-binar. Setelahsampai di meja kerjanya, buru-buru ia keluarkan buku agenda bersampul kulit imitasiwarna hitam dari laci meja. Diambilnya bolpoin, dijilat sedikit ujungnya, lalu iamembuka halaman tertentu yang diberi tanda pembatas pita oranye. Segera iamenuliskan nomor telepon dan alamat yang didapatnya dari iklan kumal tadi padaurutan nomor sembilan.
  • Ayo kita intip sedikit urutan dalam agenda itu dari nomor satu. Oalah, ternyataisinya kurang lebih serupa walau tak sepenuhnya sama. Nomor telepon atau alamatatau keduanya, dengan keterangan disampingnya yang ditulis dalam huruf balokmiring kekanan antara lain seperti ini: Haji XXX langsung besar dengan pompa; SuhuXXX ramuan Cina untuk melancarkan darah ke kemaluan; Sinshe XXX totok jarimembesarkan penis, dan seterusnya. Hmmm ternyata punggawa pemerintah ini benar-benar bermasalah dengankemaluannya, atau kepercayaan dirinya?. Sudah banyak cara ia coba untukmembesarkan adik kecilnya. Dan karena ia masih mencatat iklan kumal tadi, bolehditebak bahwa hasil yang didapatnya selama ini belum memenuhi keinginannya. Sepulang kerja, ia langsung mencari alamat dari iklan kumal itu. Ternyatadisana sudah banyak orang mengantri, sampai keleleran dihalaman dan ke pinggirjalan becek. Ia pun membuat janji untuk keesokan harinya. Ah.. ah.. ah.. banyak jugarupanya orang-orang yang gemar berpetualang mencari kesembuhan atau pengobatandengan berbagai cara, termasuk mempercayai iklan kumal setengah sobek yangditempel di kaca belakang sebuah mikrolet butut. Keesokan hari, dengan sengaja ia meminta ijin untuk tidak masuk kerjadengan alasan tidak enak badan kepada atasannya. Pak Soewardji sudah tidak sabardan penasaran, terbayang-bayang keterangan ‘Hasil dapat langsung dilihat ditempat,dijamin 100% uang kembali!’. Ia tak mengatakan apa-apa kepada istrinya tentang rencananya hari ini, makaia pun tetap berpakaian seragam hijau cokelatnya dan berangkat pagi seperti biasanya.Namun kali ini ia tidak naik mikrolet trayek tanah abang-kota, melainkan kopaja kekampung melayu. Sesampainya disana, orang yang mengantri belum terlalu banyakseperti kemarin sore, lagipula ia sudah mendapat nomor sejak kemarin.
  • Tepat pukul sembilan pagi lewat sembilan menit, tirai batik dari kain tipismurahan yang menutupi sebuah pintu dibuka. Inilah tandanya sang Mbah siapmenerima ‘pasiennya’. Setelah 3 orang keluar dari pintu berwarna putih dekil itu,namanya pun dipanggil dan ia segera masuk. Ternyata ruangan didalamnya miripdengan tempat praktek bidan atau dokter di puskesmas, yang biasanya ia kunjungiuntuk mengambilkan jatah obat paru-paru gratis untuk istrinya. Namun pusat dariruangan yang serba putih (tetapi sudah mulai tampak dekil) itu adalah seorang laki-laki yang duduk menghadapi meja, memakai baju takwa hitam dan celana hitam, sertablangkon hitam, namun diluarnya dilapis jas putih. Tak dipedulikannya semua keganjilan yang ada, pak Soewardji mulaimenceritakan keinginanannya. Setelah mencoba ke delapan penyembuh dan sekarangyang kesembilan, ia sudah tidak malu-malu lagi mengatakan bahwa ia inginmembesarkan kemaluannya. Bahkan ia dengan gamblang menjelaskan tidak hanyabesar dalam arti bertambah diameternya, ia juga ingin bertambah panjang dan lamategangnya. Semua ini djelaskan dengan lugas dan apa adanya. Sang Mbah manggut-manggut, dan langsung menawarkan beberapa paket.Mulai paket A sampai E, dengan keistimewaan masing-masing. Bahkan paket hematmacam di restoran siap saji pun ada. Setelah mereka mencapai kesepakatan, makadiputuskan terapi akan dimulai saat itu juga. Bapak kita ini diminta berbaring di sebuah dipan, sekelilingnya dipasangi hiodan kemenyan, sehingga baunya minta ampun, sampai pusing ia dibuatnya. Saatmulai terapi ia merasakan sensai dingin luar biasa, sampai terasa kebas dikemaluannya. Ia tidak bisa melihat apa yang dilakukan Mbah tadi, karena dipasangtirai kecil sebatas pinggang. Tiba-tiba ia merasakan sensasi panas dikulit
  • kemaluannya, namun tidak berani berkata apa-apa. Tak berapa lama kemudian tiraikecil dibuka, bagai pesulap menunjukkan kelinci dalam topi panjang. ”Silahkan lihat hasilnya.” Ujar Mbah dengan suaranya yang berat. Luar biasa, ia melihat diameter kemaluannya memang sedikit membesar daribiasanya. Tak dihiraukannya bahwa ada sedikit perubahan bentuk yang tidak simetrisdan penonjolan setempat disana-sini. Hatinya berbunga-bunga, ia bahagia. Ohakhirnya apa yang kuimpikan tercapai juga. Sebelum pulang Mbah mengingatkanbahwa untuk hasil yang lebih hebat lagi, ia harus datang paling sedikit lima kali lagi.Pak Soewardji S mengangguk dengan kuat sambil tersenyum lebar, lalu melangkahkeluar pintu dekil tadi dengan bangga. Setelah itu kepercayaan dirinya meroket, dirumah dan dikantor; dihadapankeluarga atau atasannya ia tampak bahagia dan bangga dengan diri sendiri. Sore inijadwal untuk kedatangannya yang keempat. Ia tidak perlu khawatir akan antrean lagi,karena kini ia sudah menjadi pelanggan tetap disana. Pelanggan tetap selalumendapatkan nomor dengan mudah. Sebenarnya setelah tiga kali ia menjalani terapi, nyonya Soewardji sempatberkomentar mengenai bentuk kemaluannya yang mulai terlihat aneh. Tetapi iaanggap angin lalu saja, toh ukurannya membesar dan tegangnya bisa lebih lama. Ataulebih tepatnya tampak seperti selalu tegang. Ah sudahlah, yang penting cita-citaku bisa tercapai. Memiliki kemaluan yangbesar dan bisa membuatku bangga, suara egonya menghalau rasio. Saat itu sempatterlintas dibenaknya, mungkin ia dapat menikah lagi dengan janda muda cantikpenjual nasi rames didekat kantornya. Panggilan untuk masuk ke ruang Mbah,membuyarkan lamunannya.
  • Kali ini ia langsung saja naik ke dipan, dan seperti biasa tirai kecil kembaliditutup. Beberapa saat setelah ia merasa kebas, tiba-tiba rasa panas yang menjalarikulit kemaluannya lebih kuat dari biasa dan kali ini meluas ke perut dan pahanya.Lalu sebelum sempat ia mengutarakan hal tersebut pada Mbah, ia merasakan sakitluar biasa di dada kirinya. Sakit yang mencekik leher hingga ia sulit bernapas, apalagiberteriak………………………………………………………………………………… Sore itu, Mbah yang biasanya tampak berwibawa terlihat panik tergopoh-gopoh memanggil anak buahnya. Mereka menggotong tubuh seorang laki-lakisetengah baya berkepala hampir botak ke mobil lalu bergegas pergi. “Lho, Mbah mau kemana?” Tanya seorang nenek yang mengantar cucunyauntuk diobati karena sakit ayan pada petugas pemanggil pasien. “Ke rumah sakit.”jawab pemuda hitam legam berbelangkon hitam itu singkat. Dokter Aria sedang mendapat giliran jaga di Unit Gawat Darurat RS. Sentosasore itu, ketika 4 orang lelaki berpakaian hitam-hitam dengan belangkon hitammenggotong tubuh seorang laki-laki lain. Dr. Aria segera memeriksa tanda-tanda vitallaki-laki yang digotong tadi. Namun hasilnya semua nol, lelaki tersebut sudahmeninggal. Menjadi kewajibannya untuk mencari tahu seputar kematian pasien yangdatang ke UGD ini. Apalagi dianatar sekumpulan pria berpakaian hitam-hitam sepertiini tentu saja mengundang kecurigaan. Namun karena tidak berhasil mengorekketerangan, dr. Aria segera melaporkan kepada pihak kepolisian setempat. Polisi juga menganggap kematiannya mencurigakan, sehingga diperlukanpemeriksan forensik untuk mendapatkan visum. Sementara itu, pihak keluarga sudahdihubungi dan sedang dalam perjalanan ke kamar jenazah RS. Sentosa ini. Dari hasilpemeriksaan ditemukan bahwa penyebab kematian pak Soewardji S almarhum adalahakibat sumbatan pembuluh darah jantung oleh butiran-butiran silikon.
  • Rupanya, selama ini kemaluannya tampak langsung membesar akibat Mbahmenyuntikkan silikon dibawah permukaan kulit. Padahal metode itu sangatberbahaya, mengingat banyak pembuluh darah disekitarnya. Dan risiko butiran silikonmasuk ke pembuluh darah lalu menyumbat di jantung atau di otak besar sekali. Satu butir silikon sudah mampu menyumbat pembuluh darah danmenyebabkan kematian. Pada tubuh abdi negara yang bernasib tragis ini, ditemukanberatus-ratus butiran silikon di otak, jantung dan ginjalnya. Sungguh menyedihkanakhir dari sebuah obsesi yang berlarut-larut akan sebuah pengakuan, sebuahkedigjayaan yang diperoleh dari ‘ukuran’.