PENDAHULUAN<br />Situasi terkini dari sector kesehatan memiliki ciri adanya harapan yang besar dari sisi pasien dan pening...
Evaluasi Pada Manajemen Risiko
Evaluasi Pada Manajemen Risiko
Evaluasi Pada Manajemen Risiko
Evaluasi Pada Manajemen Risiko
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Evaluasi Pada Manajemen Risiko

5,187

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
5,187
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
129
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Evaluasi Pada Manajemen Risiko

  1. 1. PENDAHULUAN<br />Situasi terkini dari sector kesehatan memiliki ciri adanya harapan yang besar dari sisi pasien dan peningkatan aksi masyarakat dengan menumpuknya klaim untuk kompensasi dari nyeri dan penderitaan. Sementara itu masyarakat umum lebih percaya diri untuk mempertanyakan tindakan yang dilakukan rumah sakit.<br />Teknologi kesehatan yang semakin canggih memberikan berbagai keuntungan sekaligus sumber dari eror dan kerugian. Tekanan dari sisi hukum dan upaya mengurangi lama pasien dirawat memberikan tekanan besar pada staf medis. Sementara itu rumah sakit juga ditekan untuk mencari tenaga yang bisa dibayar serendah mungkin namun berkualitas.<br />Ditambah dengan tersedianya informasi dari berbagai media untuk masyarakat membuat pasien semakin kritis. Dalam lingkungan peradilan hakim dan juri semakin bergeser memberikan kemenangan pada pihak pasien, walaupun tanpa bukti. Akhir-akhir ini pihak penuntut tidak di haruskan memberikan bukti, cukup adanya kerugian dan kesakitan dari pasien ditambah kesalahan prosedur dari pihak pemberi layanan. <br />ISI<br />Risiko dapat didefinisikan sebagai kemungkinan sesuatu terjadi atau potensi bahaya yang terjadi, yang dapat memberikan pengaruh terhadap hasil akhir. Istilah ini seringkali berkonotasi negative. Namun perencanaan risiko dan evaluasi risiko untuk mempertahankan perkembangan dan peningkatan organisasi dapat menjadi ukuran kesuksesan.1<br />Kategorisasi risiko untuk organisasi public dapat mencontoh milik NHS yaitu, <br />Kategori risiko startegi yang berhubungan dengan kemampuan organisasi untuk mempertahankan viabilitas dan mengusung prioritasnya. <br />Kategori performa adalah kemampuan organisasi utnuk memberikan kualitas tinggi dari layanan kesehatan pada pasien yang terikat dalam rencana bisnisnya. <br />Kategori keuangan adalah risiko dimana kelemahan control financial dapat menghasilkan kegagalan untuk mempertahankan asset dan berpengaruh kepada keseluruhan kemampuan viabilitas. <br />Kategori reputasi, risiko dimana organisasi menerima publisitas negative yang berpengaruh pada kepercayaan masyarakat pada organisasi.1<br />Evaluasi dan pengelolaan risiko adalah langkah lebih lanjut dari proses manajemen risiko. Dimana tahapan manajemen risiko sesungguhnya mulai dari identifikasi risiko yang terdiri dari pembuatan daftar kategorisasi risiko,lalu mendeskripsikan risiko. <br />Selanjutnya adalah pengelolaan risiko yang terdiri dari estimasi awal risiko, yaitu mempertimbangkan akibat yang mungkin terjadi bila risiko terjadi dengan menggunakan system scoring misalnya cara NHS. Kemudian evaluasi terhadap risiko yang telah diestimasi dengan toleransi skor risiko yang disarankan oleh NHS adalah 6. Bila skornya lebih besar dari 6 mitigation cukup dimasukkan kedalam daftar risiko saja. Namun bila skor risiko kurang dari 6 selain dimasukkan dalam daftar juga harus dibuatkan rencana tindak lanjutnya. 2<br />Langkah berikutnya memutuskan tindakan untuk mengelola risiko. Dengan cara memilih dan menerapkan kegiatan yang sesuai lalu mengontrol atau memodifikasi risiko. Pilihan kegiatannya dapat berupa: mengambil kesempatan untuk kondisi ada kemungkinan keuntungan lebih besar dibanding kerugiannya, mentoleransi risiko secukupnya dalam level yang masih dapat ditoleransi, mentransfer risiko kepada pihak ketiga seperti asuransi atau yang terakhir bisa dengan menghentikan aktivitas yang menimbulkan risiko.2<br />Eskalasi risiko terjadi bila pada proses mendefinisian dan memasukkan kedalam register membuat terjadinya perubahan level risiko. Hal ini akan menekan manajemen untuk mengambil tindakan yang memungkinkan, diantaranya; menerima risiko apa adanya, merubah atau memodifikasi risiko atau menolak eskalasi risiko.2<br />Beberapa kejadian yang mungkin menjadi risiko dalam kegiatan sehari-hari dirumah sakit adalah adverse event dan risiko klinis. Adverse incident adalah kejadian atau kondisi yang dapat membawa kerugian yang tidak disengaja dan tidak diharapkan pada orang, property atau organisasi. Risiko klinis adalah kejadian yang tidak pasti atau sekelompok kejadian yang bila itu terjadi akan memberikan efek negative kepada layanan pasien.2<br />Lesson learned dari California3<br />Negara bagian California membuat peraturan baru dalam pelaporan adverse event dan inspeksi fasilitas layanan kesehatan. Setiap adverse event yang tidak dilaporkan akan didenda seratus dolar per harinya. Peraturan ini diharapkan akan memberikan dorongan dalam operasional dan manajemen risiko rumah sakit untuk menjadi lebih baik. <br />Yang termasuk kedalam adverse event semakin luas termasuk eror dalam sisi medis, farmakologis dan asuhan keperawatan. Secara umum, adverse event dapat dibagi dalam 2 kategori. <br />Pertama, kejadian berhubungan dengan pembedahan, seperti salah mengoperasi bagian tubuh dengan yang di tandatangani dalam persetujuan. Kedua, kejadian yang berhubungan dengan produk atau outcome dari suatu proses, seperti kematian atau kecacatan pasien akibat kontaminasi; perlindungan pasien terhadap suatu kejadian, seperti bayi tertukar; kejadian yang berhubungan dengan manajemen layanan, seperti kejadian eror medis yang menyebabkan kematian pasien; kejadian yang berhubungan dengan lingkungan; kejadian criminal seperti adanya dokter palsu; kejadian kematian atau kecacatan yang terjadi atas pasien, staf ataupun pengunjung. <br />Seluruh adverse event ini harus dilaporkan sesegera mungkin. Dalam hal yang kasusnya non urgen atau non emergen harus dilaporkan dalam waktu kurang dari 5 hari sejak ditemukan. Namun bila kasus yang gawat darurat atau mengancam pasien, personil ataupun pengunjung rumah sakit harus melaporkan dalam 24 jam setelah terdeteksi. Dan bila kejadiannya mengancam jiwa, departemen kesehatan harus melakukan inspeksi dalam 48 jam dan menyelesaikan investigasi dalam 45 hari. Bila depkes belum menyatakan adverse event terselesaikan akan ada inspeksi mendadak minimal sekali setiap tahunnya.<br />Inspeksi depkes akan diadakan mendadak, tanpa pemberitahuan sebelumnya, hal ini berbeda dengan peraturan sebelumnya. Frekuensi inspeksi tergantung dari tipe fasilitas kesehatan dan ada/tidaknya complain serta perubahan manajerial.untuk rumah sakit umum dan spesialis minimaldiinspeksi sekali setiap 3 tahun atau sesering yang ddibutuhkan. Fasilitas kesehatan selain rumah sakit akan diinspeksi minimal sekali tiap 2 tahun.<br />Disini bisa dilihat keseriusan dalam pengelolaan risiko yang berupa adverse event serta evaluasinya. Keseriusannya dari sisi rumah sakit dan didukung penuh oleh pemerintah serta departemen kesehatannya.<br />Di Indonesia bagaimana? Dewasa ini rumah sakit bagai ayam kehilangan induknya. Karena kurangnya dukungan baik bimbingan maupun pengawasan dari depkes dan dinkes terkait. Sehingga bila terjadi adverse event maupun risiko lainnya harus mampu mengelola sendiri. disinilah tantangan berat dunia perumah sakitan Indonesia.<br />KESIMPULAN<br />Evaluasi risiko merupakan proses berkelanjutan yang terus menerus dilakukan terhadap risiko yang telah terdaftar<br />Pengelolaan risiko dilakukan terhadap kejadian berpotensi bahaya yang telah terjadi.<br />Perlu dukungan pemerintah selain komitmen rumah sakit untuk menghasilkan manajemen risiko yang terlaksana dengan baik di Indonesia.<br />

×