• Save
Delivery service
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Delivery service

on

  • 322 views

 

Statistics

Views

Total Views
322
Views on SlideShare
322
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Delivery service Delivery service Document Transcript

    • Kulihat berulang kali kertas bertuliskan alamat yang baru saja diserahkanpadaku.’Kamar Jenazah, RS Bintang Kejora’ . Berulang kali dilihat alamat itutidak juga berubah, lalu kugosok-gosok kedua mata untuk mengusir rasa kantuk yangmulai menyerang. Mungkin aku masih bermimpi? Ternyata tidak juga. KuhampiriDidi kawan sekerjaku di bagian operator “Hei Di, beneran nih alamat yang kamu kasih?” Didi yang sedang sibukmenerima telepon hanya bisa mengangguk sambil memberi isyarat ‘jangan ganggu,ini ada order lagi dan cepat pergi!’. Sambil mengangkat bahu kubalikkan tubuhkuuntuk segera melaksananakan tugasku malam itu. Sambil mengendarai sepeda motor kantor, saat udara tengah malam yangdingin menyentuh kulitku, aku menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas.Pekerjaan yang tampaknya spepele ini sudah memberikan bermacam-macampengalaman padaku. Petugas delivery service memang tampaknya merupakanpekerjaan remeh, namun aku selalu berusaha mengerjakan pekerjaan ini sebaik-baiknya. Kupikir semua pekerjaan itu penting dan jauh lebih bermartabat dibandingmenjadi pengemis atau merampok. Maka setiap tugas yang dibebankan padaku selalukukerjakan sebaik mungkin, kuantar pesanan secepat mungkin selagi makananhangat, bahkan aku sendiri punya target agar eskrim atau minuman yang dipesanbelum mencair saat aku sampai ditempat tujuan dan selalu bersikap sopan padakonsumen yang memesan jasa ini apapun respons yang kuterima. Yah konsumen kan juga manusia biasa, bermacam-macam jenis dankarakternya. Ada konsumen yang ramah, sopan, acuh tak acuh seakan aku tak ada,judes, sampai tukang cari gara-gara yang berusaha mengambil keuntungan dariapapun. Saat sampai ditempat tujuan pun berberapa kali aku menghadapi situasi yangtidak pernah diajarkan pada masa pelatihanku. Kalau pelanggan yang tidak puas dengan pelayanan kami, aku sudah dibekalicara menghadapinya. Namun pelanggan suami istri yang bertengkar dan melibatkanaku yang baru datang dalam pertengkaran mereka, pasangan muda yang sepertinyamasih berusia belasan tahun menyambut kedatanganku dengan setengah telanjangsampai aku sendiri merasa malu melihatnya, keluarga yang sedang berduka cita akibatkehilangan ayahnya, bahkan mengantarkan makanan pada para dokter yang bekerja diunit gawat darurat RS. Bintang Kejora yang memang terletak tidak jauh darirestoranku harus kuhadapi dengan caraku sendiri. 1
    • Tempat-tempat yang harus kudatangi pun bervariasi, mulai dari rumah danperumahan biasa atau apartemen, kamar hotel, sampai kantor polisi. Senyum kecilterkembang diwajahku mengingat-ingat bahwa pekerjaan ini ternyata memilikidinamikanya sendiri. Yah pokoknya aku tetap bersyukur memiliki pekerjaan ini,ditambah lagi adanya motor perusahaan yang terkadang boleh kupinjam diluar jamkerja karena aku selalu merawatnya dengan baik.Sekali lagi kusentuh saku baju untuk mengecek kertas bon pemesanan serta alamattujuan yang tersimpan disana, dan pikiranku tertuju pada tempat yang akan kudatangi.Aku belum pernah dapat tugas mengantar ke kamar jenazah saat siang hari, apalagitengah malam sekitar jam 1 pagi ini, kulirik alroji hadiah pegawai terbaik tahun inidari perusahaan. Sebuah penghargaan yang selalu membuat dadaku sedikit terbusungkedepan dan hidungku kembang kempis karena bangga. Kembali mengenai kamar jenazah ini, aku merasa segan datang ketempatseperti itu, bukanya karena aku takut pada hantu dan sebagainya. Tapi lebih karenaaku tidak suka memikirkan tentang kematian hmmm.. yah ….mungkin sedikit takutjuga. Sialan, ini akibat sering menonton film-film horor dari dvd milik si Didi. Kalau pekerjaanku yang seperti ini saja sudah berdinamuka, aku tidak dapatmembayangkan pengalaman apa saja yang dimiliki orang yang bekerja dikamarjenazah. Pasti pengalamanku tampak tidak ada artinya. Yah sudahlah, aku harussegera menyelesaikan tugas ini dengan baik, lalu cepat kembali kekantor. Kubelokkansepeda motor ke pintu gerbang RS. Bintang Kejora, mengangguk pada satpam yangtampak berjuang keras menahan kantuk, lalu memutari lapangan parkirnya kearahbelakang. Kamar jenazah menempati lokasi paling belakang, paling jauh dan paling sepidari RS ini, hmmm juga paling gelap rupanya. Kuhentikan sepeda motor danmemarkirnya tak jauh dari pintu gerbang kamar jenazah. Kubaca papan yang terteradi pintu gerbang ‘ Instalasi Pemulasaraan Jenazah RS. Bintang Kejora. Yangtidak berkepentingan, selain petugas dan staf dilarang masuk’ . Sambil kubuka jaket, aku celingukan mencari pintu lain, atau tanda-tandaorang yang menungguku datang. Tidak ada. Kubaca bon pemesanan bahwa makananini dipesan atas nama dokter Andika. Wah bagaimana cara menghubunginya ya?Akhirnya kuambil kantung pesanan, lalu kuhampiri pintu gerbang dan mulaimengetuk. “Permisi, pesanan Super Burger!” seruku. Tidak ada respon dari dalam, 2
    • kuulangi lagi dengan suara lebih keras “Super Burger layanan pesan antar!” tidak jugaada respons, kuketuk-ketuk lebih keras lagi. Lalu tiba-tiba terasa ada angin dingin menyapu tengkukku, kubalikkantubuhku secara refleks. Tidak ada apa-apa, hanya tempat parkir yang luas dan gelapdengan sebuah pohon beringin besar yang tampak seperti raksasa berdirimengancamku. Keringat dingin tiba-tiba muncul didahi tanpa dapat kucegah. Apa-apaan sih, kok jadi deg-degan begini, pikirku. Saat aku masih berusaha menenangkandiriku, tiba-tiba terdengar suara pintu berderit “Krrrrriet…Krrrrriet..” Kupikir gerbang dibelakangku membuka, ternyata tidak juga. Kudekap erat-erat bungkusan makanan didadaku lalu mataku berusaha menembus kegelapanmencari-cari sumber suara tersebut. Dari ujung sayap sebelah kiri bangunan ini, dekatraksasa beringin tadi tampak seberkas cahaya menyeruak dari pintu yang tidak terlihatolehku sebelumnya. Lalu… kutunggu-tunggu keluarnya seseorang, ternyata …koktidak ada yang keluar? Dengan perlahan aku mulai mengarahkan kakiku kesana, dengan berjuta rasasegan menggayuti kakiku hingga terasa berat. Keringat dingin terus mengucur didahiku. Tiba-tiba keluar seseorang atau……..sesosok…orangkah itu? pikiranku mulaimelayang pada film horornya Didi. Karena sosok itu tampak melayang dengan bajuputih melambai-lambai ditiup angin malam, rambut panjangnya menjuntai kedepan. Kakiku mulai bergetar, jantungku berlari-lari dalam dada, dan keberaniankusurut, kuhentikan kakiku sambil mulai mengucapkan doa-doa dari yang hanya sedikitkutahu. Dalam kegelapan malam dan sinar dibelakangnya, aku tidak bisa melihatsosok itu dengan jelas, dan sejujurnya aku tidak ingin melihat apapun dengan jelas.Aku ingin memejamkan mata tapi pandanganku terpaku dan aku hanya bisa melototkearah sosok yang semakin dekat kearahku. Semakin dekat…dekat…15 meter….10meter lagi….6 meter..4 meter……aku tak kuat lagi… kupejamkan mataku kuat-kuat. “Ya tuhan tolong aku!” jeritku dalam hati. Aku bisa merasakan kehadirannyadidepanku, dekat sekali dengan aku dan aku mencium….wangi?…kok bukan baukemenyan? pikirku. Wanginya segar lagi, seperti wanginya pelanggan-pelangganwanita yang keluar masuk restoranku. “Dari Super Burger ya mas?” terdengar suara jernih, suara seorang perempuanmenyapaku. Segera kubuka mataku, kulihat seorang wanita cantik, berambut panjang 3
    • tergerai mengenakan jubah atau jas yang mirip jas dokter tapi lebih panjang…………….ooooohhh ternyata…… Dengan canggung akibat rasa malu, aku terbata-bata menjawab “Oh…eh…i…iyya…emm…” Perempuan didepanku tersenyum maklum, ”Mas ketakutan ya? Yaudah ayo masuk kedalam dulu, kasihan sekali” ajaknyadengan ramah, lalu berjalan kembali kearah pintu tadi. Aku pun mengikutinya, sambilmengutuki diri sendiri sebagai penakut, pengecut, payah, dan berjuta umpatan lain. Begitu kumasuki pintu tadi, hilang semua kesan seram yang tadi kurasakan.Didalamnya terdapat ruangan terang benderang dengan sofa-sofa, televisi danbeberapa orang, sepertinya dokter, sedang bercengkrama mengobrol sambil tertawa.Tidak kulihat perempuan yang tadi, aku lalu berdehem untuk menarik perhatian “Ehhem, pesanan Super Burger.” Mereka segera menoleh, “Wah ini dia yang ditunggu-tunggu dari tadi!” seru salah seorang pria dansegera menghampiriku lalu mengambil bungkusan makanan tersebut dari tanganku. “Terimakasih ya mas!” senyumnya padaku lalu berjalan kembali kearahtelevisi sambil berteriak kearah ruangan lain yang tidak terlihat dari posisikudiambang pintu. ”Andikaaa, uangnya mana tadi?” “Masuk aja dulu mas, duduk dulu sini nonton tv.” ajak pria yang satu lagimelihatku yang masih berdiri kebingungan. “Iiiya terima kasih” aku maju beberapa langkah lagi, dan kulihat perempuanyang tadi membawa dompet dan segelas air. “Nih mas minum dulu, biar nggak deg-degan lagi.”ucapnya sambilmengangsurkan gelas kehadapanku, yang segera kuterima dengan senang hati. “Tadi mas ini ketakutan di luar sana, mukanya pucat sampe keringatan lho.”Ia memberitahu teman-temannya yang sedang menonton televisi, yang lalu disambutdengan senyum-senyum maklum dan tawa kecil. “Belum pernah ke sini ya mas? Gerbangnya selalu ditutup, karena hanya untukmasuk mobil jenazah atau ambulans. Biasanya delivery service yang lain langsungmengetuk pintu ini.” Kata perempuan yang ternyata dr. Andika itu menunjuk pintudibelakangku. Aku hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyum malu. “Iya terimakasih air minumnya.” ujarku, kuambil bon dari sakuku danmenyerahkannya pada dr. Andika ”Ini bonnnya bu.” 4
    • “Oh iya, berapa mas?mmm seratus satu ribu tiga ratus ya, ini.”iamengangsurnya satu lembar uang kertas seratus ribu dan satu lembar uang sepuluhribuan. Aku mengeluarkan dompetku untuk mengambil uang kembaliannya, “Kembalinya nggak usah mas, hitung-hitung buat mengurangi ketakutan yangtadi.”tambahnya sambil tersenyum. “Wah jangan bu, saya ada kok kembalinya” aku berkeras mengembalikan. “Sudah nggak apa-apa bawa aja.” Tandasnya. Maka kuterima uang itu, “Terima kasih bu, saya permisi dulu. Selamat malam.” Kuanggukan kepalaku,dan berjalan kembali kepintu. Kulihat ia hanya mengangguk dan tersenyum, laluberbalik pada teman-temannya. Kututup pintu itu dengan hati-hati. Kali ini lapangan parkir tidak tampaksegelap sebelumnya, dan bahkan pohon beringin tampak ramah. Kuhela napaskusekali lagi sambil berjalan ke arah motorku. Satu lagi pengalaman menarik daritugasku. Kali ini aku terjebak dengan permainan pikiranku sendiri, dasar penakut!Wah kalau Didi sampai tahu, aku bisa dioloknya habis-habissan. Sepeda motorkumenyala dengan lembut, lalu kuarahkan kembali ke gerbang RS dimana satpam taditampak tertidur pulas. Saatnya pulang.(Based on true story from my dearest colleague, UNO, resident at forensicdepartment) 5
    • “Oh iya, berapa mas?mmm seratus satu ribu tiga ratus ya, ini.”iamengangsurnya satu lembar uang kertas seratus ribu dan satu lembar uang sepuluhribuan. Aku mengeluarkan dompetku untuk mengambil uang kembaliannya, “Kembalinya nggak usah mas, hitung-hitung buat mengurangi ketakutan yangtadi.”tambahnya sambil tersenyum. “Wah jangan bu, saya ada kok kembalinya” aku berkeras mengembalikan. “Sudah nggak apa-apa bawa aja.” Tandasnya. Maka kuterima uang itu, “Terima kasih bu, saya permisi dulu. Selamat malam.” Kuanggukan kepalaku,dan berjalan kembali kepintu. Kulihat ia hanya mengangguk dan tersenyum, laluberbalik pada teman-temannya. Kututup pintu itu dengan hati-hati. Kali ini lapangan parkir tidak tampaksegelap sebelumnya, dan bahkan pohon beringin tampak ramah. Kuhela napaskusekali lagi sambil berjalan ke arah motorku. Satu lagi pengalaman menarik daritugasku. Kali ini aku terjebak dengan permainan pikiranku sendiri, dasar penakut!Wah kalau Didi sampai tahu, aku bisa dioloknya habis-habissan. Sepeda motorkumenyala dengan lembut, lalu kuarahkan kembali ke gerbang RS dimana satpam taditampak tertidur pulas. Saatnya pulang.(Based on true story from my dearest colleague, UNO, resident at forensicdepartment) 5