Edi Cahyono’s Experience: [ http://www.geocities.com/edicahy ]                           Soe Hok Gie                      ...
Di Bawah    Lentera Merah                     Soe Hok GieYayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1999                  Modifie...
Selamanja saja hidoep, selamanja                        saja akan berichtiar menjerahkan djiwa                            ...
sumber sejarah.Akhirnya secara khusus penulis perlu menyampaikanpenghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnyak...
- I S I -“Ucapan Terima Kasih” ......iiiBab 1: “Pendahuluan” ......1Bab 2: “Latar Belakang Sosial” ......6Bab 3: “Dari Kon...
BAB I: PendahuluanB    eberapa tahun yang lalu, ketika meneliti koran-koran     awal tahun tiga puluhan, saya kadang-kadan...
Padahal, berita dari koran-koran pada waktu itu, justrucenderung menarik kesimpulan bahwa kemiskinan adalahsebab yang mela...
kita jumpai banyak aliran yang kadang-kadang salingbertentangan. Kita temui partai-partai yang saling cakar, disamping sar...
dari zaman lampaunya. Alam yang mendahuluinya, alamtradisional. Ide tokoh-tokohnya mau tidak mau merupakanlanjutan dan ber...
itupun jarang yang saya inginkan. Membaca koran punmempunyai kesulitannya terutama karena ketuaan koran dandi sana-sini ku...
BAB II: Latar Belakang SosialP    ada tanggal 6 Mei 1917, 1 Presiden Sarekat Islam     Semarang yang lama, Moehammad Joeso...
menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu sangat pentingartinya bagi sejarah modern Indonesia, karena dari sinilahirla...
penduduknya secara massal dijadikan kulinya.3 Nasib kaumtani ini sama sekali dilalaikan. Para lurah yang seharusnyamenjadi...
semakin santer pula. Bila produksi tebu (gula) di tahun 1900berjumlah 744.257 ton, maka di tahun 1915, ia menjadi1.319.087...
sulitnya kehidupan kaum tani di daerah-daerah perkebunan.Di desa-desa, tidak seorangpun yang membela para petaniitu. Lurah...
cita-citakan adalah dewan legislatif yang sungguh-sungguh.Dalam tahun ini, masalah Indie Weerbaar yaitu satu gerakanyang m...
Angka Kematian Penduduk Semarang per 1000 jiwa (1917)Daerah          Triwulan            Triwulan                Pertama  ...
1917 di Semarang itu, membuat keadaan masak untukgerakan-gerakan radikal revolusioner dari Semaoen dankawan-kawannya.Persd...
pertimbangan (kritiek) dalam soerat kabar diantjam oleh       justitie jang berat sebelah, sebab itoe justitie kepoenjaann...
Ruslad jalan kemenangan.”Karena artikel itu ia diseret ke muka pengadilan dengan tu-duhan yang bermacam-macam, antara lain...
perdebatan telah mengasah ketajaman pikiran pada politikusIndonesia di masa itu.Dalam buku pergerakan nasional, faktor lua...
jawaban sebenarnya.                      - 17 -            Edi Cahyono’s experiencE
BAB III: Dari Kongres NasionalCentraal Sarekat Islam ke-2 Sampaike-3W      alaupun sejak bulan Mei 1917, Golongan “Marxis”...
Selanjutnya, sebelum kita meninjau dan membahas tindakan-tindakan Sarekat Islam Semarang ini, akan kita lihat lebihdahulu ...
ada, yaitu struktur masyarakat tanah jajahan yang diperasoleh kaum kapitalis.Dengan kekuasaan keuangannya, sejumlah orang ...
jalannya air di malam hari. Sedangkan rakyat pada siangharinya sudah bekerja, malamnya terpaksa begadang lagi.8Bila panen ...
menangkapi pemogok.14Dalam pernyataan-pernyataannya, pemerintah menggunakanbahasa etis, selalu menjanjikan bahwa suatu ket...
tahun atau denda sebanyak-banyaknya 300 rupiah    Belanda (Gulden).17    Pasal 156: Barangsiapa mengeluarkan pernyataan di...
Said Ismail, bukan wakil Kromo,    Soeselisa, idem    Stokvis (etisi), idem    Major Pabst, idem    Koning, musuhnya Kromo...
juga mengharapkan agar diusahakan hapusnya III RR, 47RR dan pasal 155 dan 156. Kata terakhir Semaoen menyata-kan supaya pa...
selama mereka belum sadar, semua usaha akan gagal. Caramenyadarkannya, hanya satu. Yaitu, bicara “blak-blakan”,nyata dan j...
soal tanah pertikelir, perkebunan tebu, Volksraad dan masalahnasib buruh. Dan untuk pertama kalinya pula masalah-masalah i...
orangnya.31 Seperti diketahui, Abdoel Moeis waktu itu barusaja datang dari negeri Belanda sebagai perutusan IndieWeerbaar....
dengan sepatoetnja semoea haknja penduduk negri, maka    Central Sarekat Islam menimbang ta’ boleh tidak perloelah    didj...
yang dipecat, diberi uang pesangon 3 bulan gaji. Dalam pro-klamasi pemogokan itu, mahalnya biaya hidup, juga digu-gat.38 P...
aktif menentang Pemerintah/Kapitalis, seperti Indie Weerbaardan Volksraad serta lainnya juga tetap diaktifkan. Dalamsetiap...
cakap.Yang pertama adalah Darsono, seorang pemuda yangbaru berusia 19 tahun. Anak seorang pegawai negeri dan sejakkecil ia...
dan ia sendiri menjadi ketuanya. Setahun kemudian iadipenjarakan selama setahun karena memuat tulisanseseorang (mungkin Dr...
menolong buruh-buruh yang masih mogok. Setelah beberapawaktu lamanya, banyak buruh yang masuk kerja kembali.Secara moril h...
politiknya. Pemuda-pemuda yang sedikitnya punya diplomakelien-ambtenar-eksamen, yang suka menjadi pemimpinbangsanya, terut...
akan digunakan pertimbangan-pertimbangan.Kapitalisme             Tetapi kedua kelompok itu setujubahwa untuk mencapai keme...
Bahwa mereka selamanya menjadi lid bestuur SI akan tetap      meneguhkan azasnya SI      Bahwa mereka berjanji kalau sekir...
Konsepsi-konsepsi tentang perlunya kerjasama antara kaum komunis danborjuis nasional dalam menghadapi Imperialis, seperti ...
(Freinburg: Artiaginelli-Monza, 1914), hal. 210-211.20     Chadirin, “Pemandangan”, Sinar Hindia, 19 Januari 1919.21     S...
45  Mengenai biografi Marco, lihat paper Soe Hok Gie untuk mata kuliahSejarah Pergerakan Nasional, Tjatatan Singkat Atas R...
BAB IV: Dari Kongres Nasional CSIke-3 Sampai PKIP   ergeseran ke kiri dari Kongres ke-3 ini, dengan sen dirinya    berhubu...
memperkuat kedudukan Semaoen di dalam Sarekat Islamdan kaum yang masih percaya makin terdesak karenanya.Dalam bulan Septem...
sidang ini. Jika pada tahun 1917, Semaoen dikalahkan denganmayoritas sedikit, kini usulnya menang. Tjokroaminotobertanya k...
Tindakan-Tindakan PemerintahPergeseran situasi ke kiri memang merupakan kemenanganSarekat Islam Semarang. Tetapi hal ini b...
mulai waspada dan mungkin sekali ada hubungannya antarapenindasan yang keras dengan menangnya ide-ide SarekatIslam Semaran...
Dengan Kere menjelma Kapitalisme mesti kasih    derma Takut gombal nanti mara.15Napoleon pernah mengatakan bahwa 4 surat k...
pengurusnya dibentuk, terlihat pula bahwa wartawan darigrup sosialis berhasil menguasai organisasi mi. Susunan yangpertama...
Leles (Garut) adalah seorang petani yang menolakmenyerahkan padinya kepada Pemerintah. Dalam usahaPemerintah untuk memerik...
menghadiri Kongres CSI ke-4. Juga dengan ditangkapnyaSosrokardono, orang yang dekat dengan Semaoen, timbulkesan bahwa Bela...
Komisaris-Komisaris    Djajadiningrat, Semaoen, Soekirno,                           Haji Agoes Salim, Haji Sjadzili,      ...
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Di bawah lentera merah   buku indonesia
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Di bawah lentera merah buku indonesia

1,959
-1

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,959
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
39
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Di bawah lentera merah buku indonesia

  1. 1. Edi Cahyono’s Experience: [ http://www.geocities.com/edicahy ] Soe Hok Gie Di BawahEdi Cahyono’s experiencE Lentera Merah
  2. 2. Di Bawah Lentera Merah Soe Hok GieYayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1999 Modified & Authorised by: Edi Cahyono, Webmaster Disclaimer & Copyright Notice © 2005 Edi Cahyono’s Experience Edi Cahyono’s experiencE
  3. 3. Selamanja saja hidoep, selamanja saja akan berichtiar menjerahkan djiwa saja goena keperloean ra’jat Boeat orang jang merasa perboetannja baik goena sesama manoesia, boeat orang seperti itoe, tiada ada maksoed takloek dan teroes TETAP menerangkan ichtiarnja mentjapai Maksoednja jaitoe HINDIA MERDIKA DAN SLAMAT SAMA RATA SAMA KAJA SEMOEA RA’JAT HINDIA (Semaoen, 24 Djoeli 1919) Ucapan Terima KasihK arangan kecil ini adalah skripsi yang diajukan untuk menempuh ujian Sarjana Muda jurusan Sejarah FakultasSastra Universitas Indonesia. Pembuatan skripsi inimerupakan pengalaman pertama penulis, sehingga penulismohon maaf jika sekiranya dalam karangan ini terdapatkejanggalan-kejanggalan, baik isi maupun cara pembuatannyayang masih banyak terdapat kesalahan.Selama proses penulisan skripsi ini, penulis menerima banyakbantuan dari berbagai pihak, baik berupa peminjaman buku,sumbangan kertas maupun dorongan moril. Juga dari segenapstaf perpustakaan musium, bantuan yang diberikan sangatpenulis hargai. Ucapan terima kasih penulis sampaikankepada staf pengajar jurusan Sejarah, terutama kepada IbuMarwati D. Pusponegoro yang telah mendidik penulis selamabelajar di jurusan Sejarah dengan tekunnya, kepada Drs.Abdurrachman Suryomiharjo yang telah membimbingpembuatan skripsi ini, dan kepada Drs. NugrohoNotosusanto yang telah mengajarkan kepada penulis tentangmetode-metode membuat skripsi dan cara-cara menggunakan - iii - Edi Cahyono’s experiencE
  4. 4. sumber sejarah.Akhirnya secara khusus penulis perlu menyampaikanpenghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnyakepada Bapak Darsono dan Bapak Semaoen, yang telahberjam-jam menyediakan waktu dan telah sudi membaca danmemberikan petunjuk kepada penulis tentang banyakkekurangan pada skripsi ini serta melayani pertanyaan-pertanyaan yang penulis ajukan. Tanpa bantuan beliau yangberharga, skripsi ini akan jauh kurang lengkap.Walaupun demikian, semua kekurangan dan kesalahan padapenulisan skripsi ini adalah karena kelalaian penulis sendiri,terutama kesalahan ketik dan cara-cara membuat catatan kaki.Sekali lagi penulis memohon maaf. Semoga karangan yangsederhana ini akan ada manfaatnya.Jakarta, 6 September 1964Soe Hok Gie - iv - Edi Cahyono’s experiencE
  5. 5. - I S I -“Ucapan Terima Kasih” ......iiiBab 1: “Pendahuluan” ......1Bab 2: “Latar Belakang Sosial” ......6Bab 3: “Dari Kongres Nasional CentraalSarekat Islam ke-2 Sampai ke-3” ......18Bab 4: “Dari Kongres Nasional CSI ke-3Sampai PKI”......41Bab 5: “Sekadar Catatan” ......58 -v- Edi Cahyono’s experiencE
  6. 6. BAB I: PendahuluanB eberapa tahun yang lalu, ketika meneliti koran-koran awal tahun tiga puluhan, saya kadang-kadang membacaberita-berita di sekitar proses pengadilan terhadap kaumkomunis. Mereka ini, bukanlah tokoh-tokoh utamanya,melainkan hanya peserta biasa saja. Di dalam mengemukakanalasan mengapa mereka ikut memberontak di tahun-tahun1926-1927, kebanyakan data menunjukkan kepada sebab-sebab kemiskinan. Biografi “rakyat kecil” ini pun sangatmenarik. Terkadang, hanya karena hutang 50 sen, atau karenasoal-soal kecil lainnya, mereka berani melawan Belanda. Danwaktu itu juga sering terbaca betapa keadaan orang-orangbuangan di Digul. Saya pernah membaca betapa kerasnyawatak Mas Marco, Boedisoetjitro, Winanta dan Najoan yangmenolak utusan Gubernur jenderal menemui mereka.Padahal pertemuan dengan utusan Hilman itu mungkin akanmembebaskan mereka dari neraka Digul. Kadang-kadangsaya membaca beberapa segi dari kehidupan tokoh-tokohkomunis ini. Misalnya, tentang kebandelan Mas Marco dankedermawanan Najoan, kesemuanya sangat menarik hati.Dan saya berminat untuk mengetahui lebih banyak lagitentang bagaimana keadaan perkembangan komunisme diIndonesia sebelum tahun-tahun 1926. Tetapi, jika kitamembaca buku-buku penulis asing dari luar negeri, gambaranyang kita peroleh menjadi agak berbeda. Harry J. Bendamisalnya, menganalisis pemberontakan itu terjadi ketikaterdapat sejumlah kenaikan pendapatan dan perbaikanpenghidupan. Dengan menunjuk kepada data-data yanglengkap, Benda menarik kesimpulan bahwa ...”The revoltewere not certainly not bred in misery among poverty-stickenor exploited peasant and labores living under the yoke ofwestern imperialist”.11 Harry J. Benda, The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam Under -1- Edi Cahyono’s experiencE
  7. 7. Padahal, berita dari koran-koran pada waktu itu, justrucenderung menarik kesimpulan bahwa kemiskinan adalahsebab yang melatar belakangi pemberontakan itu. Kondisiini juga yang melatar belakangi saya untuk melihat secaralebih mendetail sebab-sebab dari pemberontakan tahun 1926.Dan untuk menunjang keinginan itu saya pun mulaimembaca buku-buku sekitar pemberontakan, sepanjang yangdapat saya peroleh. Pembacaan ini malah telah merangsangsaya untuk mengetahui awal mulanya pergerakan komunisdi Indonesia, karena tanpa tahu awal mulanya, sama sajadengan membaca sebuah koran dari tengah-tengah.Itulah sebabnya maka studi mengenai pemberontakan 1926,harus dimulai dari studi terhadap awal mulanya pergerakankaum “Marxis” Indonesia. Dan dalam hal ini kita harus mulaidengan Sarekat Islam Semarang. Permulaan abad keduapuluhmerupakan salah satu periode yang paling menarik dalamsejarah Indonesia, karena sekitar tahun-tahun itulah terjadiperubahan-perubahan sosial yang besar di tanah air kita.Pesatnya perkembangan pendidikan Barat, pertumbuhanpenduduk yang meningkat cepat dan mulai digunakanteknologi modern, kesemuanya menimbulkan perubahansosial di Indonesia. Nilai-nilai tradisional yang telah mengakardi bumi Indonesia, tiba-tiba dikonfrontasikan secara intensifdengan nilai-nilai tradisional mereka dan malah ada yangsudah mulai melepaskannya, walaupun pegangan yang barubelum mereka peroleh. Ketiadaan pegangan menciptakanrangsangan untuk mendapatkan suatu pegangan. Sebagiandari mereka mencarinya di dalam pemikiran-pemikiran Is-lam, sedang yang lain mencari dengan menggali kembalikebudayaan lama untuk disesuaikan dengan dunia merekayang modern. Sebagian lainnya lagi mencarinya di dalamalam pemikiran Barat.Dengan berbaju modern, pada awal abad kedua puluh ituThe Japanese Occupation 1942-1945. The Hague: W. van Hoeve,1958,hlm. 13-16. -2- Edi Cahyono’s experiencE
  8. 8. kita jumpai banyak aliran yang kadang-kadang salingbertentangan. Kita temui partai-partai yang saling cakar, disamping sarikat-sarikat buruh, gerakan pemuda, gerakanperempuan dan lain-lain. Dan jika mulai sedikit sajamengorek “kulit modern” itu, kita akan menemukan maknayang sesungguhnya dari gerakan-gerakan itu. Mereka tidaklain dari padanya merupakan kelanjutan bentuk darikelompok-kelompok yang sudah ada dalam masyarakattradisional. Apalagi jika kita memperhatikan dasar darikonsepsi-konsepsi mereka yang dikemukakan secara teliti,maka dengan tidak terlalu sulit kita dapat merasakanhubungannya dengan pemikiran-pemikiran pra abad ke-20.Apa memangnya secara kebetulan saja, maka kaum priyayibergabung ke dalam Boedi Oetomo dan kaum santri ke dalamSarekat Islam di sementara tempat? Apakah ini bukanmerupakan perwujudan dari struktur masyarakat yang lebihtua dari kaum priyayi dan santri itu sendiri? Suatu gerakanhanya mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebutmempunyai akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ideyang jatuh dari langit tidak mungkin subur tumbuhnya.Hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin tumbuhdengan baik. Demikian juga halnya dengan gerakan sosialistikSarekat Islam Semarang. Saya pikir, bukanlah hal yangkebetulan saja menghebatnya gerakan-gerakan Samin ditahun 1917, bersamaan waktunya dengan munculnya ide-ide sosialis Sarekat Islam Semarang. Bahkan Sarekat Islammerasa adanya persamaan dasar, walaupun yang satudicetuskan dalam suasana tradisional, sedang yang lainnyadengan jubah modern. Gerakan komunis bahkan merekaterjemahkan dengan gerakan Saminis.2 Dan jika kaumSaminis menggunakan bahasa Jawa kasar untuk siapa saja,maka dalam masa yang bersamaan kita juga menemui gerakanJawa Dwipa. Yang satu bergerak di desa, sedang yang lainnyadi Surabaya. Sarekat Islam Semarang merupakan gerakan darisekelompok manusia yang tak mungkin melepaskan dirinya2 Sinar Hindia,10 Maret 1920. -3- Edi Cahyono’s experiencE
  9. 9. dari zaman lampaunya. Alam yang mendahuluinya, alamtradisional. Ide tokoh-tokohnya mau tidak mau merupakanlanjutan dan berhubungan dengan gagasan-gagasan yanghidup pada pra abad ke-20. Persoalannya sekarang,bagaimana hubungan abad tradisional itu dengan abad ke20,bagaimana perkembangan dan perubahannya. Hanyapenyelidikan dan penelitian yang lebih mendalam yang akanmenjawab pertanyaan menarik ini.“Di Bawah Lentera Merah” hanyalah sebuah usaha kecil yangmencoba melihat salah satu bentuk pergerakan rakyat Indo-nesia di awal abad ke-20. Dan untuk membatasi persoalan,is memilih pergerakan Sarekat Islam di Semarang di dalammasa antara tahun1917-1920. Mengapa dimulai dengantahun 1917, karena mulai tahun itulah tendensi-tendensisosialistik mulai jelas, sedang batas Mei 1920, adalah bulandidirikannya Partai Komunis Indonesia. Dengan demikian,tulisan ini terhindar dari berkepanjangan tanpa batas.Yang lebih menjadi perhatian karangan ini adalah ide-idedari para tokoh Sarekat Islam Semarang dan tindak tandukuntuk mewujudkannya. Sangatlah mustahil untuk berbicaratentang sesuatu ide tanpa berbicara tentang latar belakangyang membentuk ide-ide itu. Karena ia lahir atau dilahirkanoleh keadaan masyarakatnya. Saya memang tidakmemberikan perhatian kepada segi hukum, tindakan maupunperubahan aturan Hindia Belanda, karena baik Robert vanNiel (The Emergence of Modern Indonesia Elite) maupun VonAex (L’evolution politique en Indonesien 1900-1944) telahmengupasnya secara panjang lebar. Sedangkan gerakan-gerakan rakyat lain, termasuk Sarekat Islam lokal di luarSemarang akan disinggung hanya dalam hubungannyadengan SI Semarang. Hal yang sama akan berlaku jugaterhadap Central Sarekat Islam.Sumber tulisan ini adalah surat-surat kabar. Buku-bukuperbandingan agak kurang terpakai karena kesulitanmemperolehnya. Lagipula pengupasan terhadap buku-buku -4- Edi Cahyono’s experiencE
  10. 10. itupun jarang yang saya inginkan. Membaca koran punmempunyai kesulitannya terutama karena ketuaan koran dandi sana-sini kurang lengkap. Kekurangan perawatanmengakibatkan kerapuhan dan kadang-kadang tak terbacatintanya. Pengecekan kembali sumber-sumber juga kadang-kadang tidak dapat dilakukan karena koran-koran itu dibawaike tempat perbaikan. Inilah sebabnya maka catatan-catatankaki ada kalanya tak tersusun sempurna.Tokoh-tokoh Sarekat Islam Semarang sebagian terbesar sudahmeninggal dunia. Namun syukur sekali Semaoen danDarsono (ketika tulisan ini dibuat tahun 1964, ed.) masihhidup. Dari beliaulah saya mendapatkan banyak keteranganmelalui wawancara langsung. Walau sayang banyak jugaperistiwa-peristiwa yang lama berlalu itu terlupa.Sebenarnya “Di Bawah Lentera Merah” ini lebih tepat jikadinamakan sebuah laporan pembacaan daripada sebuahskripsi, karena apa yang dibicarakan di sini masih jauh dariselesai. -5- Edi Cahyono’s experiencE
  11. 11. BAB II: Latar Belakang SosialP ada tanggal 6 Mei 1917, 1 Presiden Sarekat Islam Semarang yang lama, Moehammad Joesoef, menyerah-kan kedudukannya kepada Presiden yang baru, Semaoen,yang pada waktu itu baru berumur sembilan belas tahun.Pada hari itu juga diumumkan komposisi yang baru, yangterdiri dari: Presiden : Semaoen Wakil Presiden : Noorsalam Sekretaris : Kadarisman Komisaris : Soepardi Aloei Jahja Aldjoefri H. Boesro Amathadi Mertodidjojo KasrinDari susunan pengurus baru ini, enam orang merupakanwajah baru. Mereka adalah, Semaoen, Noorsalam, Soepardi,Aloei, H. Boesro, Amathadi, Mertodidjojo, dan Kasrin.Peristiwa pergantian pengurus ini mencerminkan adanyaperubahan dalam masyarakat pendukung SI di Semarang.Pada mulanya SI Semarang dipimpin oleh mereka dari ka-langan kaum menengah dan pegawai negeri yang mulai keluardari Sarekat Islam, termasuk Soedjono.Kini, di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung SI ber-asal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil.2 Pergantianpengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakanSarekat Islam Semarang. Dari gerakan kaum menengah1 Sinar Djawa, 7 Mei 19172 Robert van Niel, The Emergence of Modern Indonesian Elite, (Brussels’Gravenhage: Manteau van Hoeve,1960), h1m. 109. -6- Edi Cahyono’s experiencE
  12. 12. menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu sangat pentingartinya bagi sejarah modern Indonesia, karena dari sinilahirlah gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.Proses perevolusioneran Sarekat Islam Semarang ini bukansaja dipengaruhi, tetapi juga ditentukan oleh keadaanmasyarakat Indonesia dan Semarang menjelang berakhirnyaPerang Dunia I. Sebelum membicarakan perkembangannyalebih lanjut, baiklah kita melihat beberapa persoalan yangikut mempengaruhi kehidupan Semarang masa itu, baik dibidang sosial ekonomi maupun intelektual.AgrariaSemenjak tahun 1870, Pemerintah Hindia Belanda membuatbeberapa peraturan baru yang mengubah Indonesia darisistem jajahan ala VOC menjadi sebuah jajahan yangbersistem liberal. Perkebunan yang dulunya dimonopoliPemerintah, kini boleh diusahakan modal-modal swasta.Sistem kerja paksa dan rodi dihapus dan diganti dengan sistemkerja upah secara bebas.Mulai sejak itu mengalirlah modal-modal asing ke Indone-sia, menggarap pertambangan, perkebunan dan pabrik-pabrik. Perkembangan ini bukan mendatangkan kebaikanbagi rakyat Indonesia. Ia bahkan merupakan malapetaka,karena liberalisme bagi rakyat Indonesia merupakan “freefigth competition to exploit Indonesian”. Strukturkemasyarakatan Indonesia yang terdapat di Jawa masa itu,justru dipergunakan kaum kapitalis asing (Belanda) untukmencapai tujuan-tujuan mereka. Walaupun pengusaha-pengusaha perkebunan tidak dapat memiliki tanah, namunmereka dapat dan berhak menyewa dari Pemerintah atau“Bumiputra”. Dan dengan kekuasaan uangnya merekaberhasil memaksa desa-desa menyewakan tanah-tanah desadan biasanya dengan memberikan premi tertentu kepadakepala-kepala desa. Sawah milik desa (komunal) dari petanilalu dijadikan perkebunan-perkebunan. Sedang -7- Edi Cahyono’s experiencE
  13. 13. penduduknya secara massal dijadikan kulinya.3 Nasib kaumtani ini sama sekali dilalaikan. Para lurah yang seharusnyamenjadi kepala desa, kini menjadi alat pemerintah semata-mata dan dengan sendirinya mereka menjadi praktis alat parapengusaha perkebunan.4 Misalnya, pada tahun 1919, parapengusaha perkebunan memberikan premi f 2,50 (duasetengah rupiah Belanda) untuk setiap bau kepada lurah-lurah yang dapat mengubah sawah-sawah desa menjadiperkebunan tebu.5 (1 bau = 7096,50 m2).Para petani itu kini tidak lebih daripada budak-budak belian.6Areal perkebunan yang semakin lama semakin meluas ini,mengakibatkan semakin berkurangnya areal persawahan.Padahal penduduk Jawa kian lama kian padat sebagai akibatperbaikan kesehatan. Dengan mudah dapat dilihat bahwaproduksi beras menjadi terus-menerus berkurang dalamperbandingan penduduk yang mengakibatkan naiknya hargaberas. Mulai dari sekitaran Cirebon, Pekalongan, Semarangdan terus ke Solo dan Yogyakarta berhamparan kebun-kebuntebu. Tetapi kehidupan kaum buruh dan tani yangmenggerakkan produksi tebu dan pabrik gula itu, kian lamakian buruk. Sebuah komisi Belanda sendiri di tahun 1900telah melaporkan bahwa kehidupan rakyat Jawa dari hari kehari semakin sengsara. (Onderzoek naar de mindere welvaartde Inlandsche bevolking op Java en Madura). Dan keadaan itubertambah memburuk antara tahun 1913-1923.7 Di tahun1916 hingga 1920, proses perluasan produksi tebu terusberlangsung, walaupun tuntutan untuk menguranginya3 Secara detail hal ini dikemukakan oleh Bruno Lasker dalam HumanBondage in South Asia, (Chapel Hill, 1950).4 George Mc.Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia, (Ithaca:Cornell University Press, 1952).5 Darsono, “Giftage Waarheispeiklen (Panah Pengadilan Beracun),” dalamSinar Hindia, 5 Mei 1918.6 Lasker, hlm. 80.7 Kahin, hlm. 26. -8- Edi Cahyono’s experiencE
  14. 14. semakin santer pula. Bila produksi tebu (gula) di tahun 1900berjumlah 744.257 ton, maka di tahun 1915, ia menjadi1.319.087, 1.629.827 di tahun 1916 dan 1.822.188 padatahun 1917.8 Ini berarti berlanjutnya pengurangan arealpersawahan dan produksi padi. Harga beras dengan demikianmeningkat dan peningkatan itu diperhebat lagi olehkurangnya pengangkutan antara Indonesia dengan negeri-negeri penghasil beras lainnya di Asia Tenggara sebagai akibatPerang Dunia I.Karena para lurah disuap dengan f 2,50 untuk setiap bahusawah yang dapat disewa bagi perkebunan tebu, maka di desa-desa terjadi “pemaksaan” atas kaum tani untuk tidakmenanam padi dan menggantinya dengan tebu. Secaraterperinci hal ini dikemukakan Bruno Lasker dalam “Hu-man Bondage in South Asia,” Chapel Hill, 1950.Biasanya, para pengusaha perkebunan menyewa satu bulanlahan persawahan dengan f 66,- untuk selama delapan belasbulan. Bila satu bahu sawah itu ditanami padi (selama delapanbelas bulan), maka ia menghasilkan tiga kali panen, atausekurang-kurangnya dua kali (ditambah dengan palawija) danitu berarti 3 x f 100,- sama dengan f 300.9 Demikianlahmaka penanaman tebu itu berarti penyengsaraan rakyat. Uangsewa lahan persawahan yang 66,- itu tidak cukup untuk hidupselama delapan belas bulan. Dan kaum tani biasanya pergike kota untuk bekerja sebagai kuli. Manakala mereka tidakke kota berkuli, mereka dapat juga berkuli di perkebunandengan gaji antara 20 hingga 40 sen sehari. Atau merekajuga dapat menggali lubang. Tetapi, manakala tuan besarkurang puas dengan hasil kerja mereka, upah merekadikurangi menjadi separo, jadi satu setengah sen. Itupunsesudah mereka dicaci maki.10 Dapat dibayangkan betapa8 Encyclopedie van Nederlandsch Indie, Leiden: Suiicker, Matinus Nijhoof-E.J. Brill, Jilid IV, 1931).9 Mas Marco, “Apakah Pabrik Goela itoe Ratjoen Boet Bangsa Kita”,dalam Sinar Djawa, 26. Tidak tercantum bulan dan tahun. -9- Edi Cahyono’s experiencE
  15. 15. sulitnya kehidupan kaum tani di daerah-daerah perkebunan.Di desa-desa, tidak seorangpun yang membela para petaniitu. Lurah-lurah mereka sudah sepenuhnya menjadi alat parapengusaha perkebunan. Untuk melepaskan diri dari keadaanini, hanya ada dua jalan tersedia bagi mereka. Pertama, larike kota-kota dan kedua, membakari kebun-kebun tebu itusebagai pernyataan protes. Angka-angka statistikmemperlihatkan kepada kita bahwa semakin kejampenindasan di desa-desa, semakin banyak kebun-kebun tebuyang dibakari. Setelah tahun 1900, angka itu melonjak “at aterific rate”, tulis Wertheim.11 Di Kediri misalnya, pada tahun1918, kebun-kebun tebu dibakari dan para petani merampasitanaman kaspo (cassava).12 Sementara itu, para ibu menjualanak-anak mereka di pasar. Makanan pokok mereka telahberganti dengan jagung dan apar pisang.13Persoalan agraria ini mempengaruhi iklim pergerakan SarekatIslam Semarang dan sekitarnya dalam tahun 17-an danmenjadikan organisasi itu lebih revolusioner. Kenyataan-kenyataan sosial yang mereka lihat, dengar dan alami,menggugah perasaan para tokoh organisasi itu.Ketidakpuasaan umum, ketidak percayaan pada niat baikpemerintah dan lain sebagainya, akhirnya membuat SarekatIslam Semarang lebih revolusioner.Volksraad dan Indie WeebaarDalam tahun 1917, Gubernur Jenderal van Limburg Stirummenjanjikan akan membentuk sebuah “dewan rakyat” yangmerupakan dewan penasihat kekuasaan legislatif. Hal inimengecewakan tokoh prgerakan rakyat, karena yang mereka10 Sartunus, “Kromo di Djawa “, Sinar Djawa, 20 Februari 1918 (Lihatjuga Darsono, op. cit.).11 W.F. Wertheim, Indonesian Society in Transition, (Bandung: SumurBandung 1956), hlm. 209.12 Chadirini, Pemandangan, Sinar Hindia, 18 Januari 1918.13 Sinar Djawa, 31 Januari dan 9 Februari 1918. - 10 - Edi Cahyono’s experiencE
  16. 16. cita-citakan adalah dewan legislatif yang sungguh-sungguh.Dalam tahun ini, masalah Indie Weerbaar yaitu satu gerakanyang menginginkan diadakan milisi “bumiputra” untukmempertahankan Hindia Belanda dari musuh-musuh luarmenjadi bahan perdebatan yang sengit sekali. Tokoh-tokohpegerakan kiri (Sneevliet dan Tjipto Mangunkusumo) tidaksetuju diselenggarakan suatu milisi “bumiputra” itu, karenakegiatan ini mereka lihat sebagai usaha untuk mempertahan-kan kepentingan Belanda dengan menjadikan rakyat Indo-nesia sebagai umpan peluru. Kedua persoalan ini lebih bersifatIntelektualistik, sedang massa rakyat agak pasif.Wabah PesDisamping persoalan yang bersifat nasional seperti agraria,Volksraad dan Indie Weerbaar itu, terdapat pula persoalanlokal, yaitu penyakit pes di Semarang dan sekitarnya. Dalammenghadapi wabah ini Kotapraja Semarang bertindak tidakbijaksana sehingga massa rakyat semakin diperlakukansewenang-wenang.Dalam triwulan pertama tahun 1917 di Semarang berjangkitpenyakit pes. Wabah ini timbul dan meluas terutama karenaperumahan rakyat di kampung-kampung sangat buruk.Mereka tinggal di dalam gang-gang yang berjejal-jejal, sempitdan becek. Rumah yang terbuat dari atap rumbia dan bambumerupakan sarang tikus. Keadaannya yang berjejal-jejal itumembuat sinar matahari tidak masuk ke dalam ruanganrumah dan keadaan ini merupakan sorga bagi tikus. Keku-rangan makan (nilai gizi yang rendah), tidak adanyapemeliharaan kesehatan masyarakat oleh Pemerintah HindiaBelanda, akhirnya menimbulkan wabah pes. Belanda hanyamemperhatikan hal kesehatan ini apabila penyakit itumenulari mereka. Angka Kematian di bawah ini memperli-hatkan betapa hebatnya korban wabah pes itu.14 - 11 - Edi Cahyono’s experiencE
  17. 17. Angka Kematian Penduduk Semarang per 1000 jiwa (1917)Daerah Triwulan Triwulan Pertama KeduaSemarang Kulon 48 67Semarang Kidul 32 57Semarang Wetan 59 72Semarang Tengah 45 49Genuk 24 64Pendurungan 26 90Srondol 13 23Maranggen 26 151Karangun 24 115Kebonbatu 20 98Rata-rata 31,2 78,6Angka kematian yang luar biasa tingginya ini pastimenggugah perasaan rakyat dan pemimpin-pemimpinnya.Kotapraja lalu mengambil beberapa tindakan. Perumahanrakyat yang merupakan sarang-sarang tikus itu dibongkar(dibakari dan rakyat diberi waktu 8 hari untuk pindah).15Penduduk miskin yang tidak mempunyai apa-apa terangtidak mampu membangun perumahan yang patut dalamwaktu delapan hari. Memang pada akhirnya, Kotapraja, atastekanan berbagai organisasi rakyat, membangun jugaperumahan rakyat. Tetapi tindakan-tindakan pertamaPemerintah sangat menyakitkan hati dan membangkitkankemarahan rakyat. Maka itu agitasi Sarekat Islam Semarangtentang wabah pes mendapat sambutan hangat daripenduduk kampung-kampung. Namun situasi itu menjadisemakin buruk pada akhir tahun 1917, berhubung dengantibanya musim hujan. Gang-gang menjadi kubangan lumpurdan kekurangan sinar matahari yang masuk ke rumah-rumahpenduduk tetap memperhebat menjalarnya wabah. Bagikalangan rakyat jelata yang buta huruf dan miskin, situasi14 Darsono, op.cit., 18 Mei 1918. Ia mengutip laporan resmi kota praja.15 Semaoen, “Gemeente Bestuur Semarang Mendjadi Revosioner”, SinarDjawa, 7 Desember 1917. - 12 - Edi Cahyono’s experiencE
  18. 18. 1917 di Semarang itu, membuat keadaan masak untukgerakan-gerakan radikal revolusioner dari Semaoen dankawan-kawannya.Persdelict Sneevliet16Pada tanggal 8 dan 9 Maret (penanggalan baru) 1917, kaumperempuan dan buruh yang lapar mengadakan demonstrasisambil menyanyikan Mareseillaise. Tentara yang dikirimuntuk membubarkan demonstrasi itu menolak untukmenembak “kaum yang lapar” ini. Dan dengan demikianmeledaklah revolusi Rusia. Tsar turun takhta dan PemerintahProvesional Rusia dibentuk.Berita-berita pertama tentang revolusi dan demonstrasi kaumburuh ini sampai ke Indonesia 10 hari kemudian. Dan or-ang yang tergerak untuk menuliskannya adalah H. Sneevliet,ketua ISDV. Yang setelah menerima berita itu segera menulisartikel Zegepraal (kemenangan). Keesokan harinya iamenyerahkan tulisan itu kepada redaksi De Indier (organdari NIP-Nederlandsch Indische Partij). Later, penanggungjawab dari organ itu memperlunak tulisan H. Sneevlietdengan persetujuan. Namun masih sangat keras bagi telingaBelanda. Antara lain kita baca (saya mengutip terjemahanSemaoen): Apakah soeara-soeara boengah masoek dalam kota desa dalam ini negeri? Di sini hidoeplah soeatoe ra’jat, dalam negeri jang terkaja sendiri. Di sini hidoeplah soeatoe ra’jat, miskin, bodo. Di sini hidoeplah soeatoe ra’jat mengeloearkan kekajaan jang soedah bertahoen mengalir (ke) kantong-kantongnja bangsa jang memerintah, kantong-kantong di Eropah Barat, teroetama pergi sama negeri ketjil jang ada di sini pegang kekoeasaannja politik. Di sini hidoeplah soeatoe ra’jat jang menoeroet sadja dengan lembek. Koempoelan politik dilarang .... hak bikin vergadering disangoepi, tetapi beloem diadakan teroes,16 Proses pengadilan ini dimuat dalam Sinar Djawa (antara 21 Oktober- 7 Desember) tetapi tidak setiap hari. - 13 - Edi Cahyono’s experiencE
  19. 19. pertimbangan (kritiek) dalam soerat kabar diantjam oleh justitie jang berat sebelah, sebab itoe justitie kepoenjaannja jang memerintah daja oepaja bergerak dilawan dengan keboeasaannja pemboengan. Pergerakan politiek hanja diperkenankan kalau itoe pergerakan kepoenjaannja jang memerentah, sebagai bikin maloe pada ra’jat... seoempamanja pergerakan memperkoeat balatentara boeat melindoengi tanah air,17 tanah air jang mana soedah diambil dari tangannja ra’jat oleh pemerintah asing. Di sini hidoeplah soeatoe ra’jat jang sabar, soeka menoeroet sadja bertahoen-tahoen...dan sesoedahnja Diponegoro tidak ada satoe pemoeka jang menggerakkan ra’jat boeat pegang nasibnja sendiri dalam tangannja sendiri. Ra’jat Djawa Revolutie di Rusland djoega memberi tjontoh pengadjaran pada kamoe. Djoega ra’jat di Rusland sabar dan soeka menoeroet dan memikoel sadja tindasan bertahoen-tahoen, is djoega miskin dan sebagian besar tidak bisa toelis dan batja seperti kamoe Ra’jat dapat kemenangan lantaran berkelahi teroes meneroes memoesoehi (i) pemerintah boeas dan boedjoekan. Djoega di negeri Rusland koempoelankoempoelan kaoem boeroeh jang mempertimbangi itoe perkoempoelan-perkoempoe- lan. Pekerdjaan oentoek mentjapai kemerdekaan jalah pekerdjaan berat. Pekerdjaan ini tidak bisa berboeat dalam tengah-tengah, djalan kekoeatiran atau djalan koerang tetap, pekerdjaan ini meminta seloeroeh djiwa, keberanian, jalan keberanian nomor satoe. Apakah soeara-soeara boengah sebab kemenangan itu masoek di hati kita? Apakah terlebih kentjang dan keras daja oepaja si penjiar- penjiar benih boet menggerakkan keras gojangnya ra’jat berpohtiek dan berichtiar dalam pentjarian hidoepnja. Dan apakah ia teroes sadja bekerja menanam benih meskipoen beberapa benih djatoeh di batoe-batoe dan tjoekoel sedikit sadja. Dan apakah ia teroes sadja berten- tangan dengan daja oepaja tindasan atas kemerdekaan pergerakan? Maka tida lainlah ra’jat tanah Djawa, tanah Hindia tentu akan dapat apa jang soedah didapat ra’jat17 Maksudnya Indie Weerbaar. - 14 - Edi Cahyono’s experiencE
  20. 20. Ruslad jalan kemenangan.”Karena artikel itu ia diseret ke muka pengadilan dengan tu-duhan yang bermacam-macam, antara lain menghasut rakyatJawa, menghina pengadilan, menuduh Pemerintah berbuatsewenang-wenang dan tuduhan sebangsanya. Akhir Novem-ber 1917 persidangan Sneevliet dimulai. Dalam tahap per-tama pergerakan nasional, proses pengadilan politik sangatlahpenting artinya. Dalam persidangan yang terbuka, terjadi de-bat dakwa dan penuntut. Terdakwa biasanya membela rakyat,sedang penuntut selalu mewakili kepentingan pemerintahkolonial. Pengunjung persidangan biasanya para wartawandan kader-kader politik. Di sana mereka belajar tentang cara-cara berdebat dan menjatuhkan argumentasi lawan. Sneevlietyang terkenal sebagai “orator” dengan gaya memikat danmeyakinkan berhasil menunjukkan kejahatan sistem kolonialdi Indonesia. Selama persidangan berlangsung, kolom-kolomsurat-surat kabar di Semarang memuat jalannya perdebatan.Bagi pembaca Indonesia, pemuatan itu sangat menarik karenakebohongan pemerintah disoroti. Walaupun Jaksa menuntutsupaya Sneevliet dijatuhi hukuman 9 bulan penjara, tetapihakim menyatakan ia bebas dan tak lama kemudian ia di-buang. Rupanya, pembebasan itu untuk memudahkan prosespembuangannya. Ketika Semaoen menggerakkan SarekatIslam ke jalan sosialistik revolusioner, kondisi-kondisi sosialtelah tersedia, karena tanpa kondisi ini semua usaha-usahaSemaoen itu akan sia-sia saja. Keempat faktor di atas dengansendirinya saling melengkapi. Persoalan tanah dan kemiskin-an di desa-desa memungkinkan Sarekat Islam Semarang men-dapatkan massanya dari kalangan kaum tani. Pembakaranrumah-rumah rakyat (akibat pes) memungkinkannyamenggerakkan massa kampung-kampung di kota. Dan IndieWeerbaar dan Volksraad serta persdelict Sneevliet lebih mem-pertajam pengertian pada kader secara teoritis mengenaimasalah-masalah penjajahan. Pada waktu itu pergerakanpolitik jarang sekali, kalau tidak akan dikatakan tidak adayang mempunyai basis-basis ideologis-teoretis. Perdebatan- - 15 - Edi Cahyono’s experiencE
  21. 21. perdebatan telah mengasah ketajaman pikiran pada politikusIndonesia di masa itu.Dalam buku pergerakan nasional, faktor luar negeri seringdijadikan faktor penyebab dari peristiwa-peristiwa di dalampergerakan nasional kita. Kemenangan Jepang atas Rusia(1905) diasosiasikan dengan kelahiran Budi Utomo. RevolusiTiongkok 1911 dihubungkan dengan kelahiran SarekatDagang Islam (SDI). Dan juga Revolusi Rusia diasosiasikandengan perevolusioneran gerakan rakyat ke kiri. Lembagasejarah PKI misalnya, menulis, “Revolusi Sosialis Oktober1971 di Rusia mempunyai pengaruh sangat besar” padapergerakan revolusioner Rakyat Indonesia.18Tetapi, jika kita menilik pada pers Indonesia, juga pada suratkabar Sinar Djawa (di bawah asuhan Semaoen, Alimin, danlain-lain) Revolusi Rusia tidak mendapat tempat yang besar.Nama-nama Lenin, Trotsky dan Stalin hampir tak pernahdisebut-sebut. Perdamaian Brest-Litowsky hanya sekali men-jadi bahan sebuah artikel Kadarisman.19 Bahkan dalammengenang tahun 1917 yang telah berlalu, Revolusi Oktober1917 itu tak disebut-sebut, tetapi pengarang-pengarang lain-nya disebut.20 Hanya melalui Sneevliet-lah Revolusi Rusiaitu pernah menarik perhatian publik di Indonesia dan barusesudah tahun 1920, ketika kaum “Marxist” Indonesia mulaimengadakan hubungan internasional, hal-hal di sekitarRevolusi Rusia menarik perhatian Indonesia. Menurutpendapat saya, pengaruh kejadian-kejadian luar negeri barumendapat perhatian di tanah air kita ini, setelah tahun-tahun1926. Sebelumnya berita-berita luar negeri amat pendek-pen-dek dan hanya merupakan kutipan kawat. Masalah pengaruhluar negeri sampai sekarang masih sangat dilebih-lebihkandan hanya penelitian yang lebih lanjut yang akan memberikan18 Lembaga Sejarah PKI, 40 Tahun PKI, (Jakarta: Yayasan Pembaruan,1960). hlm, 10-11.19 Sinar Djawa, 27 Desember 1917.20 Sinar Djawa, 2 Januari 1918. - 16 - Edi Cahyono’s experiencE
  22. 22. jawaban sebenarnya. - 17 - Edi Cahyono’s experiencE
  23. 23. BAB III: Dari Kongres NasionalCentraal Sarekat Islam ke-2 Sampaike-3W alaupun sejak bulan Mei 1917, Golongan “Marxis” di bawah Semaoen sudah berhasil menguasai SarekatIslam Semarang, namun tidaklah berarti bahwa SI di kotaSemarang berubah dengan segera. Sebelum dipimpinSemaoen, SI Semarang dikenal sebagai organisasi yang lembekdan yang menyatakan ini adalah INSULINDE, sebuahorganisasi yang juga “lembek.”1Perlahan-lahan Semaoen mempengaruhi para pemimpin SISemarang. Dan lama-kelamaan is berhasil membawa gerakanini bergeser ke arah sosialis revolusioner. Sebagai puncakusahanya merevolusionerkan SI Semarang, mulai 19 Novem-ber 1917, organ SI Semarang yakni harian Sinar Hindia(kemudian berganti nama menjadi Sinar Djawa) berhasildikuasainya. Perubahan-perubahan redaksi segera diadakandengan memasukkan tenaga-tenaga muda yang militan.Sebagai pemimpin redaksi, dipimpin oleh Semaoen, dengandi bantu oleh Moh. Joesoef (berita-berita Indonesia danSemarang), Kadarisman (telegram), Notowidjojo (ekonomi),Aloei (rapat-rapat dan reseve), Alimin (berita kesewenang-wenangan dan luar negeri), dan Semaoen sendiri menjadiredaktur politik. Alimin dimasukkan ke dalam redaksi,walaupun ia berdiam diri di Jakarta. Mereka masing-masingbertanggung jawab sendiri-sendiri di muka pengadilan dansemua tidak dibayar.Dalam kata pengantarnya mereka menyatakan bahwa haluanSinar Djawa akan lebih radikal dan terhadap pemerintahmereka akan menilainya secara jujur, sedangkan terhadapkaum kapitalis dan kaum priyayi yang memeras akan merekamusuhi.2 - 18 - Edi Cahyono’s experiencE
  24. 24. Selanjutnya, sebelum kita meninjau dan membahas tindakan-tindakan Sarekat Islam Semarang ini, akan kita lihat lebihdahulu gagasan-gagasan perjuangannya. Jika kita telahmelihatnya, maka tindakan-tindakan revolusionernya akanmenjadi lebih mudah dipahami.Sebab-sebab dan Cara Mengubah KemacetanMasyarakatKeadaan buruk yang terjadi pada tahun-tahun 1917-1918tidaklah disangkal oleh dunia Pergerakan Indonesia baik yangberhaluan “keras” maupun “lembek”. Bahkan orang-orangBelanda pun tidak menyangkalnya. Keadaan sosial yangburuk itu merupakan tantangan bagi setiap pemikir politiksosial Indonesia.Mereka mulai mencari latar belakang kondisi sosial yangpincang ini dan saling mengajukan berbagai konsep untukmenyelesaikannya. Pers Indonesia pada waktu itu penuhdengan karangan-karangan yang mencoba memberikanjawaban atas persoalan-persoalan keburukan kondisi sosial.Sebagian ada yang menyalahkan kemajuan teknik, sebagianlagi mengeluarkan konsepsi kebejatan moral, dan ada pulaorang yang menyalahkan orang Jawa (Indonesia) sendiri,karena mereka itu malas dan pemboros.Tetapi ada pula kelompok yang mengajukan konsepsiMarxistis dalam membahas realitas sosial ini, dan tokohutamanya adalah Hendricus Fransiscus Marei Sneevliet, ketuaISDV. 3 Sneevliet bersama kaum ISDVnya berhasilmempengaruhi sekelompok angkatan muda dari Sl baik diSemarang (Semaoen, Darsono, dan lain-lain), Jakarta (Alimindan Muso), Solo (H. Misbach) maupun di kota-kota lainnya.Dari Sneevliet-lah mereka belajar menggunakan analisisMarxistis untuk memahami realitas sosial yang dialami.Mereka berpendapat bahwa sebab dari kesengsaraan rakyatIndonesia adalah akibat dari struktur kemasyarakatan yang - 19 - Edi Cahyono’s experiencE
  25. 25. ada, yaitu struktur masyarakat tanah jajahan yang diperasoleh kaum kapitalis.Dengan kekuasaan keuangannya, sejumlah orang berhasilmemeras kekayaaan alam Indonesia, sekaligus memerasrakyatnya. Kemiskinan yang lahir sebagai akibatnyamenumbuhkan kriminalitas di kalangan rakyat Indonesiadalam bentuk perampokan dan kelaparan.4 Kesengsaraan itumenjadi semakin berat lagi oleh peperangan (Perang DuniaI). Perang ini disebabkan adanya persaingan antarakepentingan kaum kapitalis Eropa (Kapitalis Inggris melawanJerman). Di dalam analisisnya mereka melihat perkebunan,terutama perkebunan tebu sebagai penyebab kemiskinan yangnyata. Dan cara untuk mengatasinya hanyalah dengansosialisme, yaitu menasionalisasikan perusahaan-perusahaanyang penting bagi hajat hidup rakyat.Pernerintah yang seyogyanya memperhatikan kepentinganrakyat terbanyak, tidak memperhatikannya dan malahmemihak kepada kaum kapitalis. Menurut merekapemerintah masa itu mewakili kaum uang.5 Karena itu iabertentangan dengan kepentingan kaum Kromo, denganrakyat terbanyak.6 Bahkan para anggota Tweede Kamersendiri, berkepentingan dengan adanya pabrik-pabrik gula.Mereka mempunyai saham-sahamnya di sana.7 Pemerintahdan para pengusaha tidak memperhatikan rakyat dan bahkankarena mempunyai banyak uang mereka dapat membeli danmenyogok pegawai-pegawai pemerintah.Banyak sekali tuntutan yang diajukan kelompok ini. Dalampersoalan agraria jelas sekali terlihat bahwa pemerintah lebihmementingkan kaum kapitalis daripada rakyat jelata. Dariberbagai pajak yang dibayar rakyat jelata, pemerintahmembangun irigasi-irigasi. Tetapi airnya diberikan untukmengairi perkebunan dan baru kemudian untuk sawahrakyat. Siang hari yang diairi adalah perkebunan dan malamharinya untuk sawah rakyat. Padahal para pengusahaperkebunan itu mampu membayar orang untuk mengawasi - 20 - Edi Cahyono’s experiencE
  26. 26. jalannya air di malam hari. Sedangkan rakyat pada siangharinya sudah bekerja, malamnya terpaksa begadang lagi.8Bila panen tebu sudah dekat, di beberapa daerah Pasuruan,rakyat disuruh lagi berjaga malam bagi perkebunan itu.9Semuanya itu untuk kepentingan para pengusahaperkebunan. “Ra’jat Hindia tidak poenya keperloean samasekali fatsal adanya fabrik goela, ondermening thee, koffie, rub-ber dan sebagainja jang bagitoe banjak, sebab hasilnja kapitalisloear Hindia dan loear negri Belanda, sebab adanja ini semoeameroesak kemadjoen peroesahaan tanah boemipoetra,peroesahaan jang mana perloe sekali boeat keselamatan ra’jatHindia jang sebagian besar bikin merdeka boemipoetra dalampentjarian idoepnja dan bikin makanan di sini.”10 Bahkanketika banyak kelaparan sudah nyata di Jawa, usul-usulpengurangan areal tebu sebanyak 50% masih ditolak denganpelbagai alasan tanpa mau peduli apakah rakyat sudahkelaparan.11Tetapi ketika adanya bahaya yang mengancam dari luar.Tanpa malu-malu kaum kapitalis/pemerintah menganjurkanadanya milisi Bumiputra. Padahal milisi ini bertujuan untukmelindungi kapital mereka sendiri, dengan menjadikan or-ang Indonesia sebagai umpan peluru.12 Secara sarkastis MasMacro mensajakkan: Indie Weebaar jang dibitjarakan Sana sini sama mengatakan Indie Weerbaar akan memasoekkan anak Hindia di lobang meriam.13Karena itu, demi kepentingan Indonesia sendiri, IndieWeerbaar harus dilawan. Dalam bidang perburuhan punPemerintah berpihak kepada kaum majikan. Dan tidak maupeduli pada pihak kaum buruh.Jam kerja dan syarat-syarat perburuhan tidak ditetapkan.Tetapi jika kaum buruh bertindak sendiri menuntut danmemperjuangkan nasibnya, Pemerintah lalu turun tanganmembela “setan uang” dengan mendatangkan tentara - 21 - Edi Cahyono’s experiencE
  27. 27. menangkapi pemogok.14Dalam pernyataan-pernyataannya, pemerintah menggunakanbahasa etis, selalu menjanjikan bahwa suatu ketika rakyatIndonesia akan mendapat zelfsbestuur. Tetapi waktunya bukansekarang sehingga rakyat Indonesia harus bersabar. Untuksampai taraf ini, yang diperlukan ialah pendidikan. Danpemerintah tidak pernah sebenarnya mendidik rakyat Indo-nesia. Yang banyak didirikan hanya sekolah-sekolah guru danpertanian. Seperti mendirikan Stovia dan KWSPHS.15 Guru-guru yang ada sengaja dibayar murah, sehingga minat menjadiguru tidak besar.16 Sadar akan pentingnya pendidikan inilah,maka kemudian di dalam rencana-rencana kerja Sarekat Is-lam Semarang (dan juga organisasi-organisasi rakyat lainnya)mencantumkan pendidikan sebagai program perjuangannya.Pemerintah wakil kaum kapitalis juga membuat pasal-pasalhukum pidana yang bersifat karet untuk menjerat tokoh-tokoh pergerakan dan para wartawan yang berani mengkritikdan mengungkapkan ketidakadilan di dalam kehidupanmasyarakat. Pasal-pasal itu adalah 63 b dan 66 b yang ber-bunyi:Barang siapa dengan perkataan atau dengan tanda-tanda ataudengan pertunjukan atau dengan cara-cara lainnya bertujuanmenimbulkan atau menunjukkan perasaan permusuhan,benci atau mencela di antara berbagai golongan rakyatBelanda atau penduduk Hindia Belanda akan dihukum:63 b dengan hukuman penjara 6 bulan sampai 6 tahun.66 b dengan hukuman kerja paksa di luar penjara (rantai) selama5 tahun.Pasal ini pada tahun 1918 dicabut dan diganti dengan pasal154 dan pasal 156 yang lebih berat lagi dan bunyinya: Pasal 154: Barang siapa mengeluarkan pernyataan di tempat umum yang dapat menimbulkan perasaan permusuhan, benci kepada pemerin tah di Nederland atau Hindia Belanda, dihukum penjara selama-lamanya 7 - 22 - Edi Cahyono’s experiencE
  28. 28. tahun atau denda sebanyak-banyaknya 300 rupiah Belanda (Gulden).17 Pasal 156: Barangsiapa mengeluarkan pernyataan di tempat umum yang dapat menimbulkan perasaan permusuhan, kebencian kepada beberapa golongan penduduk di Hindia Belanda, dihukum penjara selama- lamanya 4 tahun atau denda sebanyak-banyaknya 300 ru- piah Belanda (Gulden).18Pasal-pasal yang bersifat karet ini terang merintangi kemajuanrakyat dan karena itu harus dilawan tanpa peduli akibat-akibatnya.Sebagai pelaksanaan janji Pemerintah untuk mengikut-sertakan rakyat ke dalam soal Pemerintahan, dibentuklahVolksraad di mana wakil-wakil dari penduduk Indonesiadapat menyatakan pendapat-pendapatnya tentang soal-soalpemerintah. Dari 39 orang anggotanya,19 orang dipilih olehdewan lokal (10 Indonesia, 9 Eropa dan Timur Asing), 19diangkat (5 Indonesia, 14 Eropa dan Timur asing). Dengandemikian, dari 39 anggota, hanya ada 15 orang Indonesia.19Jelas sekali mengapa susunannya yang sedemikian, tidakmemuaskan Sarekat Islam Semarang dan karena itu merekamenolaknya. Bagi mereka, Volksraad hanya suatu “DewanRayap”20 dan anggota-anggotanya tidak lebih dari “anakkomedi.” 21 Lebih-lebih setelah susunan yang diangkatPemerintah diumumkan, ketidakpercayaan Sarekat IslamSemarang bertambah besar. Di dalam menganalisis 19anggota dewan yang diangkat itu, Semaoen menyatakanpandangannya sebagai berikut: Prangwedono (Mataram), ningrat etisi Tengku Tjik Mohamad Thajeb (Peruela), ningrat Bergmeyer (guru), tak dikenal Schmutzer (saudagar), kapitalis, musuh Kromo Ir. Cramer, bukan sosialis demokrat tulen bagi bumiputra H.H.Kah (Kan Hok Hoey), musuh Kromo di tanah partikelir Liem A Pat (Muntok), yang terang bukan wakil Kromo - 23 - Edi Cahyono’s experiencE
  29. 29. Said Ismail, bukan wakil Kromo, Soeselisa, idem Stokvis (etisi), idem Major Pabst, idem Koning, musuhnya Kromo Birne, musuhnya Kromo Coster, musuhnya Kromo F. Laoh, musuhnya Kromo Dr. Tjipto Mangunkusumo, nasionalis luntur (verwater- denasionalist) Teeuwen, bukannya Kromo Dwidjosewojo, penganjur Indie Weerbaar Oemar Said Tjokroaminoto, wakil Kromo dan seorang “dip- lomat”.Terhadap orang-orang itu Semaoen menganalisis lebih lanjutsebagai berikut: Dua puluh orang ini (sebenarnya 19),terdapat 5 orang kapitalis yang terang-terangan berlawanandengan kepentingan Kromo. Dua orang ningrat yang biladilihat dari kelasnya tidak akan memihak Kromo, 4 orangBelanda yang dalam batinnya bukan kawan Kromo, 3 orangasing yang tidak mempunyai kepentingan dengankemerdekaan Indonesia, 2 orang Manado yang dijadikan alatBelanda, seorang weerbaar yang memperjuangkan kepen-tingan kapitalis dan hanya seorang Kromo yang diplomatis.Di antara 39 anggota itu, diperinci lebih lanjut, 18 Belanda,(9 orang ambtenar dan 9 orang kapitalis) yang di dalam batin-nya memusuhi Kromo, 11 orang alat kapitalis (5 orang ning-rat, kecuali Regen Serang, Hasan Djajadiningrat), 3 orang“toekang weerbaar”, 3 orang Ambon (dan Menado) sebagaialat militer. Di samping itu terdapat pula 3 orang asing. Me-mang 5 orang yang sebenarnya dapat menjadi wakilnya Kro-mo, tetapi sayangnya mereka masih setengah masak. Merekaitu adalah 3 orang dari Insulinde dan 2 orang netral. HanyaTjokroaminoto seorang saja yang wakil Kromo. Namundemikian, Semaoen tetap mengharapkan kepada anggota-anggota Volksraad itu supaya mereka memberikan kritikankepada pemerintah dan jangan menjadi “yes men” saja. Ia - 24 - Edi Cahyono’s experiencE
  30. 30. juga mengharapkan agar diusahakan hapusnya III RR, 47RR dan pasal 155 dan 156. Kata terakhir Semaoen menyata-kan supaya para wakil rakyat yang sesungguhnya tidak perlumembuang waktu. “Wakil rakyat tidak suka jadi wayang da-lam tonil Volksraad.”22Kenyataan-kenyataan itu menunjukkan bahwa justru daripemerintah sendiri yang merupakan wakil kapitalis, penin-dasan-penindasan itu berasal. Dan ini menyadarkan merekabahwa di pundak rakyat sendiri terletak kewajiban untukmencapai cita-cita perbaikan. Dengan persatuan yang teguhantara rakyat yang tertindas, dapat diciptakan kekuatan yangmampu memaksa Pemerintah/kapitalis tunduk padatuntutan-tuntutan rakyat. Karena itu persatuan sangatlahpenting. Persatuan antara bumiputra dan Tionghoa, antarakalangan wartawan dan yang lain-lainnya. Denganmengambil pelajaran dari revolusi-revolusi di Eropa (Lenindi Rusia, Bela Khoon di Hongaria, dan kaum Spartacus diJerman). Pimpinan Sarekat Islam Semarang menjadi selalumenekankan betapa pentingnya persatuan antara buruh dantentara (istilah mereka, buruh berseragam). Persatuandemikian sangat ditakuti kaum imperalis. Antara kaum buruhdan tentara pada hakikatnya tidak ada perbedaan, karenakeduanya adalah rakyat miskin, yang diperas oleh kaumkapitalis. Pada waktu itu, gaji tentara hanyalah 25 sen sehari.23Dengan persatuan yang kuat, kaum kapitalis dapat dihadapi,dapat dipaksa untuk menerima tuntutan-tuntutan kaumburuh. Misalnya ketika Gubernur Jenderal menolak usulpengurangan areal tebu sebanyak 50%, Darsono menganjur-kan pemogokan sebagai demonstrasi kekuataan.24Dan suatu yang menarik dari konsensi-konsensi “kaumMarxis” ini ialah jelas terbayangnya tendensi-tendensi nihilis.Mereka sadar bahwa untuk melawan penindasan, kalau perlumenjalankan gerakan-gerakan bawah tanah dan secara samar-samar menganjurkan teror.25 Rakyat dan buruh hanya dapatdipersatukan manakala mereka sadar akan keperluannya. Dan - 25 - Edi Cahyono’s experiencE
  31. 31. selama mereka belum sadar, semua usaha akan gagal. Caramenyadarkannya, hanya satu. Yaitu, bicara “blak-blakan”,nyata dan jelas, agar dimengerti oleh rakyat. Rakyat Jawamasih bodoh, kata Darsono dan untuk menyadarkannya di-perlukan cambuk, yaitu artikel-artikel (tulisan) yang berani.Tulisan-tulisan yang logis dan ilmiah, tidak ada gunanya,karena tidak dimengerti oleh rakyat. Sekarang ini yangdiperlukan adalah orang-orang berani. Bukannya orang yangterdidik dan pandai. Orang yang berani, menunjukkan gigi.Bukannya lidah, kata Mas Marco.26 Mereka juga sadar tu-lisan-tulisannya akan mengantarkan mereka ke dalam penjara.Tetapi karena ini jalan satu-satunya, maka harus ditempuh.Orang sering menganggap bahwa cara-cara “hantam kromo”pergerakan nasional dalam periode awalnya, merupakan caraperjuangan yang ngawur. Tidak berstrategi dan hanya dido-rong sentimen saja. Menurut pendapat saya, pendapatdemikian kurang tepat. Sebab, setiap zaman mempunyai cara-caranya sendiri untuk menyadarkan massa. Dan seperti yangtelah dinyatakan Darsono, untuk periode tahun belasan, carayang tepat adalah cara hantam kromo. Cara “intelektualistis”jika sekiranya digunakan mungkin tidak akan pernahmembangunkan semangat rakyat. Prinsip “hantam kromo”ini pernah pula dilakukan oleh Suwardi Suryaningrat(bersama dengan Dr. Tjipto Mangunkusumo dan DouwesDekker) pada tahun 1913 ketika ia menulis “Als ik enn Ne-derlander was” (seandainya saya orang Nederland). Walaupunia sudah diperingatkan oleh Abdul Moeis akan akibat-aki-batnya, Suwardi tetap melakukannya.27 Dengan “shock thera-phy” ini pergerakan rakyat bertambah militan dan tegas.Aksi-Aksi Sarekat Islam Semarang (Mei1917-Oktober 1918)Setelah melihat sejumlah konsep pemikiran Sl Semarang,akan kita lihat sekarang tindakan-tindakan dari SI Semarang,sebagai pelaksanaan konsep-konsep pemikiran itu. JabatanPresiden SI masa ini untuk pertama kalinya muncul soal- - 26 - Edi Cahyono’s experiencE
  32. 32. soal tanah pertikelir, perkebunan tebu, Volksraad dan masalahnasib buruh. Dan untuk pertama kalinya pula masalah-masalah itu dibawa ke dalam Kongres Nasional Sarekat Is-lam ke-2 di Jakarta yang diselenggarakan dari tanggal 20hingga 27 Oktober 1917. Kongres itu dihadiri para utusanSarekat Islam dari seluruh Indonesia. Di sinilah Semaoendan kawan-kawannya mencoba mempengaruhi para pesertakongres dengan konsepsi-konsepsinya tentang masalahperbaikan sosial. Usaha menyebarkan ide-idenya tentangMarxistis berhadapan dengan Abdoel Moeis yang tegas-tegasmenolaknya. Mereka berbeda dalam hal Indie Weerbaar dansoal-soal Nasionalisme. Kongres ternyata mendukung adanyamilisi bumiputra (Indie Weerbaar). Semaoen mencoba untukmencabut mosi tersebut. Tetapi tidak berhasil.28 Namunakhirnya dicapai suatu kompromi. Mosi yang mendukungpemecatan Semaoen atau Sarekat Islam Semarang dan mosiSemaoen dan kawan-kawan yang menolak Indie Weerbaar,kedua-duanya dicabut. 29 Dalam hal nasionalisme jugaterdapat perbedaan antara Semaoen dan Abdoel Moeis. Didalam perasaan mengenai Nasionalisme, Abdoel Moeismenyatakan bahwa kemerdekaan merupakan hal yang tidakdapat ditolak. Kita harus mempunyai rasa Nasionalisme dansekarang ini kita perlu mengobarkannya. Pihak Belanda“Tropen koolers” mempunyai beberapa cara untukmenentangnya. Pertama, secara terang-terangan. Kedua,mengadu domba antara peranakan dan “Boemipoetra”. Tetapiyang paling berbahaya ialah Belanda yang bertopengmembela Indonesia dengan mulut manisnya. Melalui orang-orangnya, mereka menindas perasaan cinta tanah air danbangsa dan memecah persekutuan Indonesia (yang dimaksudialah ISDV dan Het Vrije Woordt). Kita tidak keberatan bilaada orang Belanda yang proIndonesia. Tetapi mereka tidakboleh memegang pimpinan pergerakan, yang harus tetap ditangan orang Indonesia.30Semaoen yang merasa disindir, segera membantah. Tetapi A.Moeis menjawab bahwa siapa yang merasa tersinggung, dialah - 27 - Edi Cahyono’s experiencE
  33. 33. orangnya.31 Seperti diketahui, Abdoel Moeis waktu itu barusaja datang dari negeri Belanda sebagai perutusan IndieWeerbaar. Dan di sinilah ia dipengaruhi kaum nasionalisIndische Partij.32Dalam hal kapitalisme, Semaoen dan kawan-kawannya jugaberbeda pendapat mengenai “kapitalisme bumiputra” yangtidak jahat. Jadi tidak usah ditentang. Sidang Kongres CSIke-2 akhirnya mengambil jalan tengah. Yaitu, menentangkapitalisme yang jahat. Istilah kapitalisme jahat inimengandung pengertian bahwa ada kapitalisme yang baik.33Namun demikian, dari anggaran dasar yang disusun Kongres,jelas terlihat adanya pengaruh sosialisme.Kongres CSI ke-2 itu selanjutnya membahas hubungan antaraagama, kekuasaan dan kapitalisme, dan kesimpulan yangdirumuskannya: Dengan tiada ferdoelikan segala igama jang lain, dan mengoesahakan kesabaran hati sebagai jang terboeka oleh Al-Qoeran dalam soerat Qoelya, maka Central Sarekat Islam pertjaja igama Islam itoe memboeka rasa fikiran demokratis. Sambil mendjoendjoeng tinggi pada koeasa negeri. Maka Centraal Sarekat Islam menoentoet bertambah-tambah koeasa negeri, pengaroehnya segala golongan ra’jat Hindia di atas djalannja Pemerintahan agar soepaja kelak mendapat koeasa pemerintah sendiri (zelfsbestuur). Boeat mentjapai hal itoe maka Centraal SI akan menggoenakan segala kekoeatannja menoeroet djalan jang patoet. Centraal Sarekat Islam tidak menjoekai soeatoe bangsa berkoeasa di atas bangsa jang lain dan menoentoet dari pihak koeasa negri akan memberikan perlindoengan jang besar oentoek orang-orang jang lembek dan miskin baik boeat keperloean mentjari kepandaian, moepoen boeat keperloean mentjari makan. Central Sarekat Islam memerangi kekoeasaannja kapitalisme jang djahat jang pada kejakinannja bahagian terbesar daripada pendoedoek boemipoetra amat boeroek adanja. Boeat mendjalankan - 28 - Edi Cahyono’s experiencE
  34. 34. dengan sepatoetnja semoea haknja penduduk negri, maka Central Sarekat Islam menimbang ta’ boleh tidak perloelah didjalankannja boedi aqal masing-masing orang itoe akan bersama-sama dengan boedi pekerti, jang pada pendapatnja CSI igama itoelah daja oepaja jang teroetama boleh dipergunakan dalam maksoet itoe dan CSI pertjaja igama Islam adalah sebaiknja igama oentoek mendidik boedi pekertinja ra’jat. Dalam itoepoen negri hendaklah tiada terkena pengaroehnja pertjampoeran barang soeatoe igama itoe. CSI mentjari hoeboengan bantoe-membantoe kerdja bersama-sama dengan semoea perhimpunan politik dan orang-orang jang bersetoedjoe dengan azasnja.34Pengaruh kelompok Semarang atas progam kerja yang diha-silkan Kongres ini, tampak jelas. Mereka juga memperjuang-kan nasionalisasi perusahaan-perusahaan besar atau yangmendapat keuntungan-keuntungan besar. Bagi Sarekat Is-lam Semarang, Kongres Ke-2 CSI ini punya arti penting.Golongan yang anti Indie Weerbaar dan memihak SISemarang, hampir separo.35 Semaoen merasa puas dan inijuga diakui koran Abdoel Moeis, Kaoem Moeda dalam pener-bitannya tanggal 29 Oktober 1917. Katanya, “Sarekat Islamsekarang sudah bernada sosialis”. Perihal tengah antara kapi-talisme, Semaoen belum mau mengemukakan pandangan-nya. la masih berharap Tjokroaminoto sendiri akan memberi-kan garis lurus untuk menghantam kapitalisme.36 Setelahkongres selesai, Sarekat Islam Semarang mulai mengadakanaksi-aksi untuk memperjuangkan cita-citanya. Desembertahun itu juga SI Semarang mengadakan rapat anggota danmenyerang ketidakberesan di tanah-tanah partikulir.37 Jugakaum buruh diorganisasi supaya lebih militan danmengadakan pemogokan terhadap perusahaan-perusahaanyang sewenang-wenang. Korban pertama pemogokan ini ada-lah sebuah perusahaan mebel yang memecat 15 orang buruh-nya. Atas nama Sarekat Islam, Semaoen dan Kadarismanmemproklamasikan pemogokan dan menuntut 3 hal.Pertama, pengurangan jam kerja dari 8,5 jam menjadi 8 jam.Kedua, selama mogok, gaji dibayar penuh dan ketiga, setiap - 29 - Edi Cahyono’s experiencE
  35. 35. yang dipecat, diberi uang pesangon 3 bulan gaji. Dalam pro-klamasi pemogokan itu, mahalnya biaya hidup, juga digu-gat.38 Pemogokan ini temyata merupakan senjata yang am-puh. Dalam waktu 5 hari saja, majikan menerima tuntutanSI Semarang dan pemogokan pun dihentikan.Kesadaran betapa ampuhnya senjata mogok yang diorganisasidan dibantu Serekat Islam ini, sebulan kemudian dipakaikembali. Yang menjadi permasalahan ialah seorang mandorgalak di sebuah bengkel mobil memukul kulinya. SarekatIslam Semarang menyatakan mogok dan akan terus mogok,bila tidak diambil tindakan39 dan beberapa hari kemudiantuntutan SI Semarang itu diterima oleh majikan bengkel mo-bil tadi.40Usaha pertama Semaoen dalam bidang perburuhan yang ber-hasil baik ini, dengan sendirinya menaikkan daya dan sema-ngat juang Sarekat Islam Semarang. Setelah ini mereka mulaiberjuang melawan tuan-tuan tanah yang memeras pendudukdesa di tanah-tanah partikulir. Langkah permulaan merekaialah menulis surat terbuka kepada setiap tuan tanah di Sema-rang. Dalam surat itu dinyatakan harapan agar mereka maumenjual tanah-tanah mereka kepada pemerintah dan peme-rintah agar mengurangi sewa tanah dengan 50%. Di sampingitu diminta agar kerja rodi seperti gugur gunung dan jagagedung dihapuskan. Akhirnya dikabulkan juga oleh tuan-tuan tanah dan SI Semarang, tetapi para petani tetap sajamenjalankan “aksi sepihak”. Waktu itu saja sudah ada limaorang petani yang ditangkap karena memotong padi di sawahyang mereka anggap sawah mereka. Dalam hal seperti itu, SISemarang tetap membela kaum tani.43 Pengalaman dalamhal tanah ini merupakan pengalaman yang pahit bagi SI Se-marang. Semenjak itu usaha-usaha kongkret mengenai tanahini tidak lagi dikerjakan. Ketika SI Semarang membuat lapor-an kerja anggota tahunan, usaha melawan tuan-tuan tanahdiakui sebagai sesuatu yang kurang berhasil.44Di samping usaha ke dalam tubuh SI Semarang, usaha untuk - 30 - Edi Cahyono’s experiencE
  36. 36. aktif menentang Pemerintah/Kapitalis, seperti Indie Weerbaardan Volksraad serta lainnya juga tetap diaktifkan. Dalamsetiap resolusi dan tulisan-tulisan, hal-hal itu tetap diserang.Namun, hal ini akan lebih besar arti politis psikologisnya,manakala yang menyatakannya adalah Central Serekat Is-lam atau cabang-cabang SI lainnya.Maka itu penebaran ide-ide sosialistis dilakukan SI Semarangdengan giat sekali. Abdoel Moeis yang dianggap sebagai lawandari Central Serekat Islam (waktu itu ia wakil Presiden),dimaki-maki, baik oleh ISDV maupun oleh SI Semarang.Sebagai “Boedak Setan Oeang”. Serekat Islam Semarang atasnama 20.000 anggotanya meminta agar Abdoel Moeis dipecatsebagai wakil presiden CSI. Ketika Tjokroaminoto ditunjukPemerintah sebagai anggota Volksraad, ia ragu dan memintapendapat cabang-cabang SI Semarang dengan cepat menulisicabang-cabang lainnya, agar mereka menyatakan tidak setujududuknya Tjokroaminoto di Volksraad. Dalam surat SISemarang itu antara lain dinyatakan bahwa Belanda tidakmemandang mata kepada SI yang besar tetapi hanya diberisatu kursi. Abdoel Moeis sendiri bukanlah Wakil SI diVolksraad, karena ia mewakili Indie Weerbaar. SedangkanISDP (pecahan dari ISDV) mendapat 2 kursi. Tjokroaminotodiangkat rakyat supaya tidak berteriakteriak. Kepada cabang-cabang SI lainnya, dianjurkan agar mereka menuntutpemilihan umum. Goena apa menoelis soerat Kalau masih dapat berjoempa Goena apa dapat Volksraad Kalau masih koerang SempoernaTetapi usaha mereka ini gagal. Ternyata suara yang menyetujuiTjokro ke Volksraad berjumlah 27, yang anti-26, 1 blangkodan tak sah. Dari kalangan pimpinan CSI sendiri yang dudukdalam Volksraad.Selama triwulan pertama dan bulan-bulan berikutnya SarekatIslam Semarang mendapatkan dua orang tenaga yang - 31 - Edi Cahyono’s experiencE
  37. 37. cakap.Yang pertama adalah Darsono, seorang pemuda yangbaru berusia 19 tahun. Anak seorang pegawai negeri dan sejakkecil ia hidup di kalangan anak-anak kaum tani. Setelah iamenamatkan pendidikan sebagai “ahli” pertanian, ia bekerjadi sebuah perkebunan. Di sini ia lihat kemiskinan dan sistemsosial yang sangat buruk. Selama itu ia membacai segalamacam buku yang dapat ia peroleh. Ketika usahanya untukmelanjutkan pelajarannya ke Sekolah Dokter Hewan ditolak,ia keluar dari pekerjaannya dan kembali ke Semarang. Padasuatu hari is mengikuti persidangan Sneevliet dan ia sangatterkesan pada adann ya orang Belanda yang memihak rakyat.Pada mulanya ia ragu. Tetapi setelah ia ketahui bagaimanaSneevliet karirnya di kantor dagang yang bergaji f. 1000,-,kemudian aktif membela rakyat, hormatnya pun bertambah-tambah. Di pengadilan itu ia bertemu dengan Semaoen yangsegera mengajaknya aktif dalam Sarekat Islam Semarang.Proses kejiwaannya yang mendorong ia mencari suatu sistemyang baru, membawa Darsono ke jalan Sosialisme. Semaoendalam kenangan-kenangannya mengenai Darsono menulis...“la (Darsono, Soe) melihat, bagaimana mereka makan koerangtjoekoep. Bodo-bodo seperti kanak-kanak, meskipoen soedahbesar. Sakit koerang jang memelihara jang sebaik-baiknya,beroemah dalam kombong-kombong dengan kekoerangansemoea perkara”. Di samping itu juga ia melihat oran-gorangyang kaya raya. Terjadilah pergulatan di dalam pikiran untukmendapatkan jawaban. Islam, Kristen dan Budha tidakmenjawabnya. Sampai ia menemukannya di dalam ilmuSosialisme. Semaoenlah yang menempatkan Darsono keredaksi Sinar Djawa sejak 27 Februari 1918, untuk bagiantelegram.Orang kedua yang ditemukan Semaoen adalah MarcoKartodikromo, seorang wartawan yang berani. Marcodilahirkan di Cepu. Ia pernah mernimpin redaksi Swatatomodi Solo ketika Sarekat Islam Tirtoadhisurjo (1913). Ia jugapernah menjadi sekretaris I Sarekat Islam. Dalam tahun 1914,Mas Marco mendirikan Inlands journalisten Bond di Solo - 32 - Edi Cahyono’s experiencE
  38. 38. dan ia sendiri menjadi ketuanya. Setahun kemudian iadipenjarakan selama setahun karena memuat tulisanseseorang (mungkin Dr. Tjipto Mangunkusumo) tentangpergerakan nasional. Secara pikiran politik Marco sangatdekat dengan Tjipto Mangunkusumo. Tahun 1916, setelahkeluar dari penjara, Mas Marco pergi ke Negeri Belanda dandi sini ia dekat dan dipengaruhi oleh tokoh-tokohnasionalisme kiri seperti Suwardi Suryadiningrat. MenurutDarsono, Mas Marco lebih nasionalis dari pada sosialis.Dibidang jurnalistik Mas Marco lebih terkenal sebagaiwartawan yang berani dan bandel. Nederland ternyata bukantempatnya untuk berjuang bagi Marco dan tak lamakemudian ia kembali ke Indonesia. Selama di dalamperjalanana pulang ke Indonesia, Marco menulis “Samaratasamarasa”. Sebuah tulisan yang sangat tajam bagi Belanda.Sebelum tulisan ini habis dimuat, Mas Marco sudahdilemparkan kembali ke penjara dan dihukum setahun lagi.21 Februari 1918 ia keluar dari penjara dan ditawari kerja diSinar Djawa di mana ia bekerja bersama Semaoen dan kawan-kawannya.45Semakin lama SI Semarang kembali radikal. Yang kurangradikal satu persatu mulai meninggalkan Sl mulai 28 Februari,Moh. Joesoef yang pertama-tama keluar dari Sinar Djawa.46Disusul kemudian Aloie dan Martowidjojo dari kalanganpimpinan SI Semarang. Kedua orang itu diganti oleh Darsonodan Mas Marco. Darsono diangkat menjadi Komisaris danMas Marco sebagai pejabat Presiden SI Semarang, bilaSemaoen berada di luar Semarang atau dalam perjalanan.47Dalam bulan April 1918, SI Semarang kembali menghadapipersoalan yang sulit. Ia harus menangani pemogokan yangterjadi di Niuwe Courant, sebuah harian dimana terdapat jugapercetakan. Pemogokan ini merupakan perjuangan yang lamadan sengit. Majikan ternyata tidak menyerah pada tuntutan-tuntutan Sarekat Islam. Sampai Juli kaum buruhnya masihada yang mogok dan SI Semarang mengerahkan dana untuk - 33 - Edi Cahyono’s experiencE
  39. 39. menolong buruh-buruh yang masih mogok. Setelah beberapawaktu lamanya, banyak buruh yang masuk kerja kembali.Secara moril hal ini merupakan kekalahan SI Semarang.Salah satu perjuangan lain dari SI Semarang yang gagal ialahusahanya bersama ISDV untuk ikut dalam pemilihan anggotaGemeente Raad Semarang. Calon SI Semarang (Semaoen,Marco, Darsono, Soepardi, Kadarisman, Moh. Joesoef danMoh. Ali) memperoleh suara yang sangat sedikit. Mas Marcohanya memperoleh 42, Kadarisman 38, Moh. Ali 32, Moh.Joesoef 71, Semaoen 53, Soepardi 36, sedangkan Darsonosudah pindah ke Surabaya ketika itu. 48 Kekalahan inidisebabkan oleh aturan pemilihan yang berdasarkan pajak.Hanya mereka yang berpenghasilan f.600, setahun yang bolehmemilih. Rakyat miskin yang justru menjadi tulangpunggung SI Semarang, praktis tak memenuhi syarat ini dankarena itu tidak boleh memilih.49Jika kita melihat pengaruh ide-ide sosialis revolusioner dikalangan SI di kota-kota lainnya, ternyata bahwa Semaoenberhasil mempengaruhi hampir separuh jumlah SI lokal. Didalam sidang-sidang Kongres CSI, banyak cabangmenyokong Semaoen dan kawan-kawannya yang hampir-hampir saja mengalahkan suara lawan-lawan mereka. IndieWeerbaar dan Volksraad, misalnya. Tokoh-tokoh SI Semarangmenyadari hal itu. Dan mereka secara intensif mengadakankursus-kursus kader untuk kemudian menyebarkannya kekota lainnya. Darsono, dikirim Semaoen ke Surabaya (PusatSarekat Islam), justru menyerang golongan-golonganmoderat.50 Di Pekalongan misalnya, terdapat Z. Mohamad,seorang tokoh Marxis yang berpengaruh. Di Jawa Timurtercatat Sukirno, dan di Solo Haji Misbach. Kader-kaderitulah yang diharapkan dapat menguasai SI Lokal danmeyongkong ide-ide sosialistisme di dalam bahasa Melayu.51Dan bulan Juni tahun itu juga, kursus demikian telahdilakukan sendiri oleh SI Semarang yang mengiklankan halitu di harian mereka sendiri, dan melalui kader-kader - 34 - Edi Cahyono’s experiencE
  40. 40. politiknya. Pemuda-pemuda yang sedikitnya punya diplomakelien-ambtenar-eksamen, yang suka menjadi pemimpinbangsanya, terutama Kaum Kromo dan yang suka bicara didalam rapat-rapat (vergadering) besar. Pemuda akan diberididikan oleh bestuur SI Semarang buat memimpin. BestuurSI akan berikhtiar supaya mereka bisa dapat tempat di lokal-lokal SI yang meminta pemimpin mereka dengan dapatbelanja dan lokal-lokal.52Sampai di mana kursus-kursus itu, kurang jelas. Tetapi yangterang niat untuk menyebarkan ide-ide sosialisme ke kota-kota lain telah pernah dilakukan SI Semarang.Menjelang pertengahan 1918, persiapan untuk Kongres ke-2 Central Sarekat Islam telah mulai diadakan oleh SISemarang. Di dalam sebuah rapat anggota ditentukan bahwayang akan mewakili Semarang adalah Semaoen, Darsono,Kasrin, Kadarisman, Soepardi dan Soegeng. Tugas merekaialah memperjuangkan keringanan pajak untuk rakyat danpemberatan pajak buat kapitalis.53 Kongres tersebut akandiadakan di Surabaya dari 29 September hingga 6 Oktoberdengan dihadiri 87 cabang Sarekat Islam.54 Nada Kongresini, seperti juga kongres ke-2, bersifat sosialistik. Dan sepertijuga di Kongres ke-2, pertentangan Abdoel Moeis danSemaoen berulang kembali. Kongres berlangsung tegangAbdoel Moeis yang sejak Kongres ke-2 diserang kelompokSemarang, kini berusaha menjatuhkan Semaoen. Perten-tangan ini berkisar kepada beberapa soal pokok, yaitu:Agama Grup Abdoel Moeis agar agama Islam diperkembang-kan. Sedang kelompok Semaoen sudah puas apabila agamaIslam tidak dibelakangkan dari agama lain di Indonesia.Nasionalisme Kelompok Moeis menolak pertuananbangsa yang satu oleh bangsa yang lain. Di sinilah terletakhakekat perjuangan Semaoen menganggap perjuangan me-lawan kapitalisme adalah terpokok, walaupun dalam meng-hadapi kapitalisme “Bumiputra” dan tuan tanah “Bumiputra” - 35 - Edi Cahyono’s experiencE
  41. 41. akan digunakan pertimbangan-pertimbangan.Kapitalisme Tetapi kedua kelompok itu setujubahwa untuk mencapai kemerdekaan diperlukan penum-pukan kapital. Tetapi Moeis ingin supaya kapital itu dimilikiorang Indonesia. Sedangkan Semaoen ingin kapital-kapitalbesar hanya dimiliki oleh koperasi-koperasi. Mengenaiperusahaan besar-besar yang banyak mendatangkan ke-untungan, kedua tokoh itu sependapat bila diadakannasionalisasi. Bila Moeis masih mengharapkan pemerintahmemberi bantuan, Semaoen hanya percaya pada ikhtiarsendiri.Lain-lain Dalam mengemukakan masalah-masalah,terlihat bahwa Moeis lebih mementingkan hal-hal umum,sedangkan Semaoen lebih mementingkan hal-hal rakyat.5 5Pertentangan ini begitu hebatnya sehingga dibicarakan di da-lam rapat tertutup pimpinan. Semaoen mengancam akanmelepaskan diri dari Sarekat Islam, bila tuntutan-tuntutannyatidak diterima. Dalam hal ini Tjokroaminoto banyakmemberi konsesi kepada Semarang. Semaoen dijadikanKomisaris SI untuk Jawa Tengah, sedangkan Darsonodiangkat sebagai propagandis resmi Sarekat Islam.5 6 Di dalamrapat pimpinai itu juga Semaoen menggugat Moeis sebagairedaksi Harian Neratja (sebuah harian di Jakarta yangmembawa suara Belanda), yang disubsidi Pemerintah Belan-da. Semaoen berhasil meyakinkan sidang dan mendesakMoeis membuat sebuah surat pengakuan yang berbunyi: Bahwa ia berjanji selamanja menjadi lid bestuur CSI Akan tetap menegakkan azas CSI. Bahwa ia di dalam jabatannja selaku hoofdredacteur Surat Kabar Neratja, ia tidak ada perjanjian atau lain kesanggupan bahwa ia tidak di dalam pengaruh penerbitan Neratja dan mempunyai kalam merdika. Tetapi esok harinya juga di dalam sidang tertutup, Semaoen dan Darsono yang dituntut Moeis untuk membuat surat serupa: - 36 - Edi Cahyono’s experiencE
  42. 42. Bahwa mereka selamanya menjadi lid bestuur SI akan tetap meneguhkan azasnya SI Bahwa mereka berjanji kalau sekiranja ada perselisihan antara Vice President CSI, saudara Abdoel Moeis dengan pihak SI Semarang, sebelum perselisihan itu disiar-siarkan dalam surat kabar, akan diichtiarkan supaya perselisihan tadi diputuskan di dalam kalangannya bestuur CSI dengan perdamaian dan sekiranya perlu mereka menyerang di dalam surat kabar, mereka tidak akan menyerang orangnya, tetapi perbuatannya saja.57Kongres ke-2 CSI ini akhirnya dapat berjalan baik, karenakepemimpinan Tjokroaminoto yang tanpa kehadirannya,maka pertentangan Moeis dan Semaoen tak terhindarkan dantak terpecahkan.58 Di antara keputusan yang diambil Kongres,salah satu yang sangat penting bagi SI Semarang ialah tekaduntuk menentang kapitalisme dengan mengorganisasi kaumburuh di kota-kota. Karena dari sinilah tumbuh akarperjuangan mati-matian kaum sosialis revolusioner dimulaisampai pada tahun 1926.Catatan1Sinar Hindia, 14 Januari 1919, dinyatakan dalam laporan SI Semarang,medio Mei 1917-Mei 1918.2 Sinar Djawa, 19 Nopember 1917.3 Sneevliet lahir pada tahun 1883 di Roterdam dan setelah menamatkanH.B.S., di kota is aktif dalam gerakan buruh kereta api. Selama tahun1902-1909 is berselisih dengan Toelstra, karena Toelstra cenderung padagerakan sosial demokrat. Dalam tahun 1913 is datang ke Indonesia sebagaisekretaris sebuah perkumpulan dagang. la sangat terharu melihatkemiskinan rakyat Indonesia. Dan di Semarang mulai tahun 1914 ismengorgansir ISDV, sebuah gerakan sosial kiri Belanda. Karena ia dilarangberpolitik oleh perusahaannya, lalu ia keluar dari pekerjaannya ini. Sikapmemihak rakyat Indonesia dan kefasihan berpidato, memungkinkannyamen dapat hubungan yang luas dengan rakyat Indonesia. Ia seringdiundang dalam rapat-rapat dan kongres-kongres perkumpulan nasionaldan perlahan-lahan akhimya is mendapat pengikut. Setelah diusir dariIndonesia (1918), kemudian is berdiam di Kanton sebagai Komintrendan berhubungan dengan Komintern Sun Yat Sen. - 37 - Edi Cahyono’s experiencE
  43. 43. Konsepsi-konsepsi tentang perlunya kerjasama antara kaum komunis danborjuis nasional dalam menghadapi Imperialis, seperti yang dilakukandi Indonesia (SI Semarang yang sosialis dan SI lain yang borjuistis) sangatmempengaruhi kaum komunis di Tiongkok. Teori-teori Mao TseTungtentang hal ini banyak dipengaruhi Sneevliet. Setelah Stalin berkuasa diKomintern. la berselisih dengan Stalin (bersama Darsono, Tan Malaka,Tohir, dan lain-lain). Dalam tahun 1942 karena aktivitas-aktivitasnyamenentang Nazi is ditembak mati. Lihat Sinar Djawa, 21 November1917; Kahin, hal. 72; D.M Koch, on deVrijheid (Jakarta: Pembangunan,1950), hal. 50; Winkler Paris Encyclopaidi, Jilid XVI, hal. 722, danwawancara dengan Darsono, 21 Agustus 1964 di Jakarta.4 Dalam menyusun gambaran dari kaum Marxist ini, saga mendapatkansedikit kesukaran. Mereka tidak mengemukakan teori ini secara jelas dansistematis, melainkan hanya menggunakan di sana-sini dalam artikel-artikelnya. Karena itu dalam menyusun sistematikanya saya bebas. Yaitudari pidato Semaoen, dalam Sinar Djawa dan Sinar Hindia.5 Semaoen, Persdelict Semaoen (SI Semarang 1919), hal. 17.6 Pernyataan Soerjopranoto, Sinar Djawa, 20 Desember 1917.7 Semaoen, “Bestuurstelsel dan Demokratie,” Sinar Hindia, 1 Mei 1918.8 Semaoen Persdelict, hal. 12.9 Loc.cit.10 Ibid., hal. 17.11 Usul Gubernur Jenderal Stirum agar areal kebun tebu dikurangi 25%ditolak Tweede Kamer.12 Pernyataan Darsono, Sinar Hindia, 8 Mei 1918.13 Marco, “Comite Indie Veerbaar”, Sinar Hindia, 2 September1918.Karena sajak ini (ditambah dengan yang lainnya) ia masuk penjara selamasetahun.14 Semaoen, ibid., hal. 12.15 Gatolotjo, “Boeah Pikiran”, Sinar Hindia, 26 Juni 1918.16 Onostrad, “Is did Been Waarheid” (apa ini tidak betul), Sinar Djawa,6 April 1918.17 Darsono, “Giftige Waarheispeijlen”, Sinar Hindia,13 Agustus1918.18 Marco, “Awas Kaoem Joemalist”, Sinar Hindia,14 Agustus 1918.19 Soal Volkraad, lihat Von Arx, L’evolution politique en Indonesia - 38 - Edi Cahyono’s experiencE
  44. 44. (Freinburg: Artiaginelli-Monza, 1914), hal. 210-211.20 Chadirin, “Pemandangan”, Sinar Hindia, 19 Januari 1919.21 Sinar Hindia, 6 Juli 1918.22 Catatan kaki tidak dicantumkan oleh penulis (Ed.).23 “Soentoek pada akal”, Soeara Ra’jat (Surabaya) 1, No. 8, 19 April 1918.242526 Marco, “Dorongan Oentoek si Pendjilat”, Sinar Hindia, 28 Agustus1918.27 M. Balfas, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sejati, (Djakarta:Djambatan, 1957).28 Sinar Djawa, 27 Oktober 1917.29 Sinar Djawa, 5 November 1917.30 Sinar Djawa, 24 Agustus 1917.31 Sinar Djawa, 25 Agustus 1917.32 Ibid., hal. 13633 Van Niel, hal. 137.34 Sinar Djawa, 27 November 1917. Dalam buku ini Van Niel yangdicantumkan hanya rencana anggaran dasar. Lihat hal. 135-136.35 Semaoen, “Pikiran atas Nationale Congres jang kedoea di Betawi”,Sinar Djawa, 2 November 1917.36 Loc. cit.37 Sinar Djawa, 24 Desember 1917.38 Sinar Djawa, 6 Februari 1917.39 Sinar Djawa, 11 Pebruari 1917.40 Sinar Djawa, 11 Maret 1917.41 Sinar Djawa, 13 Maret 1917.42 Sinar Djawa, 8 Maret 1918.43 Sinar Djawa, 23, 24, 27, 29 April 1918.44 Sinar Hindia, 14, 15 Januari 1919. - 39 - Edi Cahyono’s experiencE
  45. 45. 45 Mengenai biografi Marco, lihat paper Soe Hok Gie untuk mata kuliahSejarah Pergerakan Nasional, Tjatatan Singkat Atas Riwajat Hidoep(1932).46 Sinar Djawa, 28 Februari 1918.47 Sinar Djawa, 23 April 1918.48 Sinar Hindia, 30 Juli 1918.49 Pada bulan Mei tahun 1918 dari 26.900 anggota SI Semarang, kaumsaudagar hanya berjumlah 100 orang, sedang kelas menengahnya (pegawainegeri dan klerk) hanya berjumlah 150 orang. Yang lainnya terdiri darirakyat Murba. Dimuat dalam laporan SI Semarang periode Mei 1917-1918, lihat Sinar Hindia, 14-15 Januari 1919.50 Van Niel, hal. 142.51 Sinar Hindia, 14 Februari 1918.52 Sinar Hindia, 5 Juni 1918.53 Sinar Hindia, 2 Mei 1918.54 Encylopaedie Van Nederlandsch Indie, lihat Bab Sarekat Islam.55 Semaoen, “Tidak Berobah”, dalam Oetoesan Hindia, 18 Oktober 1918.56 Van Niel, hal. 142.57 Sidang-sidang tertutup sebenarnya tidak diumumkan. Tetapi setelahkongres berakhir, di koran-koran mulai timbul cerita-cerita di balik layartentang pertentangan antara Semaoen dengan Abdul Moeis. KoranNeratja membuat ulasan seakan-akan pendapat Moeis berhasilmendominasi sidang. Demikian pula De Indier (Insulinde) menyatakanbahwa Semaoen hanyalah alat ISDV. Untuk membantah semua iniakhirnya ia menulis sebuah surat pembaca di harian Oetoesan Hindia,menceritakan “sedikit” jalannya rapat tertutup. Lihat edisi 18 Oktober1918 dengan judul “Tidak Berobah”.58 Amelz, Tjokroaminoto: Hidoep dan Perdjoengannja. Jakarta: BulanBintang, 1952, hal. 112. - 40 - Edi Cahyono’s experiencE
  46. 46. BAB IV: Dari Kongres Nasional CSIke-3 Sampai PKIP ergeseran ke kiri dari Kongres ke-3 ini, dengan sen dirinya berhubungan erat dengan semakin memburuknya situasipenghidupan rakyat pada umumnya. Tindakan pemerintahterhadap dunia pergerakan kian lama kian terasa. Sneevlietdiusir dari Indonesia pada akhir 1917 (1918). Darsonosementara itu dipenjarakan di Surabaya pada bulan Septem-ber 1918 karena alasan persdelict.1 Walaupun demikian,perjuangan melawan kenaikan harga makanan tetapberlangsung dengan hebatnya. Akhir 1918 harga-harga telahmencapai puncaknya. Misalnya, harga beras di Pekalonganmencapai f.16,- sepikulnya.2 Harga ini terang berada di luardaya beli rakyat. Di Tangerang, pada awal 1919, rakyatyang”lapar” menyerbu sebuah toko beras dan menimbulkaninsiden-insiden. Bala bantuan tentara bersepeda terpaksadikerahkan dari Jakarta. Begitu parah keadaan bahanmakanan, sehingga setiap hari kita membaca berita-beritatentang kelaparan di surat-surat kabar.Di Volksraad, Dr. Tjipto Mangunkusumo berteriak-teriakmenuntut pengurangan areal tebu dan perbaikan nasib rakyat.Masalah ini diperdebatkan dengan sengit di dalam dewan.Akhirnya datang berita bahwa Volksraad menolak idepengurangan areal tebu dengan perbandingan suara 10 lawan20. Sosrokardono yang dalam hal pikiran dekat dengankelompok Semarang,3 merasa begitu kecewa dan menyatakanbahwa Volksraad bukannya “menjadi” raadnya rakyat (yolks),tetapi raadnya gula (suiker), suiker raad.4Penolakan Volksraad itu membenarkan pendapat Semaoenbahwa tidak ada gunanya percaya pada niat baik pemerintah,wakil kaum tebu itu. Hanya pada kekuatan sendirilah usahamembina pergerakan harus terwujud. Penolakan itu berarti - 41 - Edi Cahyono’s experiencE
  47. 47. memperkuat kedudukan Semaoen di dalam Sarekat Islamdan kaum yang masih percaya makin terdesak karenanya.Dalam bulan September 1918, Sarekat Islam mengadakanlagi sidangnya yang dihadiri oleh pengurus Centraal dan paraKomisaris Daerah. Sidang diadakan di Surabaya. Tujuannyauntuk membicarakan situasi politik yang semakinmemburuk. Harga-harga semakin membumbung tinggi. NiatPemerintah untuk mengadakan perubahan dalam aturan-aturan Pemerintahan, tekanantekanan yang semakin terasalagi bagi tokoh-tokoh pergerakan, akan merupakan masalahdi dalam sidang itu. Sidang yang diselenggarakan secepatnyaitu hanya dihadiri 10 orang, yaitu: Tjokroaminoto, Semaoen,Soekirno dan Sosrokardono. Anggota pimpinan yang lainnya,seperti Abdoel Moeis, Hasan Djajaningrat, Moh. Joesoef,M.H. Nizam Zoeny, Moh. Arief, Wignjadisastra, danBrotosoehardjo tidak dapat datang. Pimpinan Sarekat IslamMedan tidak diundang (tidak sempat), sedangkan H.Achmad Dahlan tidak memberi kabar.5Di dalam sidang ini diputuskan untuk membentuk sebuahbadan yang bertujuan menyokong tokoh-tokoh pergerakanrakyat yang menjadi korban tindakan-tindakan pemerintah.Termasuk mereka yang berada di luar Sarekat Islam. Badanini dinamakan Kas Wakaf Pergerakan Kemerdekaan SI dandiketuai oleh Tjokrosoedarso. Segera sesudah badan iniberdiri, Semaoen meminta agar mendapat bantuan keuangankarena la korban pergerakan. Semaoen juga meminta agarSneevliet diangkat menjadi wakil Sarekat Islam di Nederland.Lagipula ia mempunyai massa yang dapat menolongpergerakan di Indonesia. Banyak tokoh SI yang berkeberatan,karena dikhawatirkan SI hanya akan menjadi alat dariSneevliet. Akhirnya diadakan usul kompromi, yaitu Sneevlietdiangkat menjadi wakil SI, tetapi dengan mandat terbatasyang dapat dicabut. Usul itu diterima sidang denganperbandingan suara 5:4 dan 1 abstain.6Persoalan Indie Weerbaar menjadi masalah kembali di dalam - 42 - Edi Cahyono’s experiencE
  48. 48. sidang ini. Jika pada tahun 1917, Semaoen dikalahkan denganmayoritas sedikit, kini usulnya menang. Tjokroaminotobertanya kepada sidang, apakah sidang setuju bila ia mintaduduk dalam komite ini. Ia sendiri menyatakan tidak setuju.Semuanya menjawab tidak, kecuali satu. Perubahan sikapini dengan sendirinya berhubungan erat dengan semakinmemburuknya situasi serta sikap Belanda yang “lebihmementingkan tebu daripada rakyat”. Mengenai KomisiReform dan Komisi Bahan Makanan yang sedang dibentukPemerintah, sidang tidak menyokong dan tidak jugamenentangnya. Perihal Radicale Concentratie, Sarekat Islamhanya akan ikut serta bila tuntutan SI dijadikan landasanperjuangannya. Hal lain yang juga diputuskan sidang ialahsikap terhadap orang Tionghoa. Yaitu, bila ada usulperdamaian dari mereka, usul itu akan diterima (waktu ituPeristiwa Kudus, di mana rumah orang-orang Tionghoadibakari dan beberapa orang Tionghoa terbunuh, masihsedang hangat-hangatnya), dengan syarat mereka ikutmembantu usaha-usaha pergerakan, ikut membantumenghilangkan perbedaan-perbedaan dan tidak menentangusaha-usaha Sarekat Islam melawan kapitalisme. Usul inidatang dari Semaoen yang meyakinkan sidang bahwaperjuangan melawan orang-orang Tionghoa tidak adagunanya karena musuh “kita” adalah kapitalis. Denganditerimanya pandangan Semaoen ini, maka Sarekat Islamsebagai dicita-citakan untuk melawan pedagang Tionghoa,sudah tamat riwayatnya.Hasil-hasil sidang memperlihatkan bahwa konsepsi-konsepsiSemaoen menguasai jalannya persidangan. Penolakan atasIndie Weerbaar, Perdamaian dengan orang Tionghoa,Pengangkatan Sneevliet sebagai wakil Sarekat Islam diNederland adalah perjuangan Semaoen yang berhasil baik.Mungkin ketidakhadiran Moeis telah memperlancar sidangini. Sebab, jika Semaoen dan Moeis hadir, selalu saja terjadipertentangan-pertentangan yang sengit. - 43 - Edi Cahyono’s experiencE
  49. 49. Tindakan-Tindakan PemerintahPergeseran situasi ke kiri memang merupakan kemenanganSarekat Islam Semarang. Tetapi hal ini berarti perjuanganakan semakin berat. Pemerintah tidak tinggal diam. Merekaberusaha menindas pergerakan SI Semarang. Cara yangdilakukan ialah mengadakan penangkapan-penangkapanterhadap tokoh-tokoh sosialis revolusioner. Korban pertamaadalah Sneevliet yang sejak Desember 1918 telah diangkatke kapal untuk dikirim balik ke Eropa.7 Korban kedua,Darsono yang sejak September 1918 telah dikeram di penjaraSurabaya, dituduh menyiarkan hal yang berisi pernyataankebencian terhadap Pemerintah. la dikenakan 9 persdelict.Sementara itu, Douwes Dekker juga dituntut Pemerintahkarena dituduh menyebarkan surat-surat selebaran kepadaserdadu-serdadu Belanda dengan tu juan menghasutnya.Semaoen dituntut karena menterjemahkan tulisan Sneevliet.Padahal pemuatannya di luar tanggung jawabnya, karenategas-tegas sudah ditulis di luar tanggung jawab redaksi.Marco, musuh tradisional Belanda, hampir-hampir puladijerat Asisten Residen karena ia menulis sebuah sajak yangdapat ditafsirkan sebagai anjuran mengusir kaum “kafir”.8Partoatmodjo, Ketua Seksi Perburuhan SI Semarang yangjuga anggota redaksi Sinar Hindia, dikenakan persdelict dandalam bulan Mei 1919 is dihukum penjara 3 bulan.Penindasan dan penuntutan terhadap anggota-anggota SISemarang dan tokoh SI lainnya yang anti Pemerintah,mungkin sekali ada hubungannya dengan keputusan-keputusan yang diambil di dalam Kongres Nasional ke-3 CSI.Seperti kita ketahui, di dalam Kongres ini sudah terdengarsuara-suara untuk mengaktifkan pekerjaan di kalangan kaumburuh. Dan sebagai realisasinya, Mei 1919 di Bandung,diadakan Kongres PPPB yang dipimpin Sosrokardono.9 DiKongres itu dicetuskan ajakan kepada sarekat-sarekat buruhuntuk memperkuat diri dengan mendirikan sebuah Vakbond.Usul ini disambut hangat oleh VSTP. Pemerintah Belanda - 44 - Edi Cahyono’s experiencE
  50. 50. mulai waspada dan mungkin sekali ada hubungannya antarapenindasan yang keras dengan menangnya ide-ide SarekatIslam Semarang.10Penindasan itu, malah lebih memilitankan Sarekat IslamSemarang. Semaoen terpilih lagi sebagai ketua, sedangkanMarco terpilih kembali sebagai komisaris dan Pejabat Ketua.Demikian pula Partoatmodjo, terpilih kembali sebagai KetuaSeksi Perburuhan, sedangkan Moh. Josoef kini kehilangankedudukannya. Josoef kini hanya sebagai penasehat saja.11Pada bulan-bulan pertama tahun 1919, penghimpunan massadiintensifkan. Sarekat Islam Seksi Perempuan dibentuk danmenghimpun 3041 Anggota. Kegiatan ini telah mulai dibinasejak September 1918. Sebagai perangsang untuk mengge-rakkan kaum perempuan ini, dikobarkobarkan bahwa di pa-sar-pasar pun kaum perempuan diperlakukan sewenang-wenang. Oleh karena itu, bergeraklah.12Golongan terendah dari masyarakat kota juga tidak dilupakanoleh Sarekat Islam Semarang. Golongan ini sangat ditakutiorang-orang Eropa. Golongan kaum gembel ini, siap untukmendengarkan “the cry of agitator.”13 Kaum yang tidak mem-punyai apa-apa ini dengan sendirinya mempunyai keberanianyang lebih besar untuk bertindak dan sangat mudah dibakarsemangatnya. Atas inisiatif pimpinan Sarekat Islam, didirikanSarekat Kere dalam bulan Februari. Tujuannya menghimpunorang-orang yang selalu miskin dan tidak punya “bondo”,tanpa memandang bangsa. Dalam Sarekat Kere inidihimpunlah gembel-gembel “bumiputra Tionghoa” yang“tumpah darahnya” di Hindia. Orang-orang kaya ditolak jadianggota. Mereka hanya boleh jadi penyumbang. Sarekat Kereini dipimpin oleh Kromoleo, sedangkan aktor intelektualnyaialah Partoatmodjo.14Mereka pun sadar bahwa kere-kere ini ditakuti oleh orang-orang kaya. Bumiputra dan Tionghoa menjadi gumbira - 45 - Edi Cahyono’s experiencE
  51. 51. Dengan Kere menjelma Kapitalisme mesti kasih derma Takut gombal nanti mara.15Napoleon pernah mengatakan bahwa 4 surat kabar yangmemusuhi Pemerintah lebih berbahaya dari beribu-ributentara. Pada waktu itu pers yang anti pemerintah memangsangat banyak. Tetapi tidak terarahkan. Antara mereka seringterjadi perang pena. Ide untuk mempersatukan merekapernah dilakukan Mas Marco pada tahun 1914. Tetapisetahun kemudian perkumpulan wartawan itu mati, ketikaketuanya, Mas Marco sendiri dilemparkan ke dalam penjara.Antara tahun 1915 dan 1919 terjadi beberapa perubahandalam peraturan-peraturan yang menyangkut pers. Bila dulupersdelict diperiksa oleh Raad van Justitie, kini hal itudilakukan oleh Landraad. Dan fasal 154 dan 156 yang kejamitu diganti oleh peraturan 63b dan 66b yang dianggap jugakeras. Karena itu di antara para wartawan sendiri terasakebutuhan yang mendesak untuk bersatu melawancengkeraman Pemerintah yang semakin tajam. Dalam tahun1919, sejumlah besar wartawan dipenjarakan Pemerintah.Keresahan ini digunakan dengan tepat oleh SI Semaranguntuk membentuk kembali Persatuan Wartawan Indonesiayang kedua, sebagai ganti dari yang tahun 1915. Atas inisiatifSI Semarang, antara 8 dan 9 Maret 1919, diselenggarakanpertemuan-pertemuan wartawan dari seluruh Indonesia(Jawa). Hadir 32 utusan mewakili 13 surat kabar dan majalah33 wartawan. Sebagai ketua sidang terpilih Dr. TjiptoMangunkusumo, yang mengusulkan dibentuknya kembalisebuah organisasi wartawan. Dalam sidang kemudian, timbulpersoalan apakah wartawan-wartawan keturunan Tionghoadapat menjadi anggotanya. Sebagian besar menerima (27suara) dan sebagian kecil (7 suara) tidak. Akhirnya sidangmemutuskan menerima wartawan keturunan Tionghoamenjadi anggotanya. Maka itu nama organisasi tersebut ada-lah Indiers Journalist Bond.16 Dari keputusan ini terlihat ide-ide sempit dari kaum nasionalis lainnya. Ketika susunan - 46 - Edi Cahyono’s experiencE
  52. 52. pengurusnya dibentuk, terlihat pula bahwa wartawan darigrup sosialis berhasil menguasai organisasi mi. Susunan yangpertama adalah sebagai berikut Ketua : Dr. Tjipto Mangunkusumo Sekretaris : H. Misbach (Islam Bergerak) Bendahara : Hardjasoemitro (Darmo Kondo) Komisaris-Komisaris: Sosrokardono (Surabaya), Semaoen (Semarang), H. Agoes Salim (Jakarta), Darnakoesoemah (Bandung)Dari kaum non-kooperasi (anti-Pemerintah) terdapatSosrokardono, Semaoen, dan Haji Misbach, sedangkanlawannya hanya Haji Agoes Salim dan Darnakoesoemah.Hardjosoemitro tidak jelas, dan Dr. Tjipto adalah tokoh yangdapat diterima oleh semua. Mosi pertama sidang parawartawan itu adalah menuntut pembebasan Darsono yangmasih di penjara di Surabaya.17Banyaknya aktivitas dengan sendirinya memerlukan banyakkader yang cakap. Dalam usahanya mempertinggi nilaikadernya tentang soal-soal sosialisme, Sarekat Islam Semarangmembentuk sebuah perkumpulan diskusi bernama “Social-ist Ontwikkeling Club”.18 Tetapi tidak pernah berjalan karenaditindas (?). Yang terang, aktivitas seperti yang tercantumdalam anggaran dasarnya tidak pernah berjalan.Memburuknya penghidupan rakyat, penindasan Pemerintahyang semakin keras dan aktivitas-aktivitas yang luar biasadari SI Semarang dengan sendirinya saling berjalan satu samalain. Keadaan yang genting itu akhirnya meletuskan peristiwaToli-Toli dan Cimamere. Peristiwa Toli-Toli adalah kerusuhan(Juni 1919) yang meminta korban beberapa orang pegawaiPemerintah dan satu di antaranya seorang Belanda. 19Peristiwa Cimamere lebih-lebih menimbulkan kegoncanganmasyarakat, terjadi sebulan sesudah Toli-Toli. Haji Flasan di - 47 - Edi Cahyono’s experiencE
  53. 53. Leles (Garut) adalah seorang petani yang menolakmenyerahkan padinya kepada Pemerintah. Dalam usahaPemerintah untuk memeriksa Haji Hasan menyerahkanpadinya, Haji Hasan melawan dan ia tewas dalam perlawananitu. Ketika diadakan pemeriksaan, ternyata ada petunjuk-petunjuk yang menyatakan adanya organisasi Sarekat Islamrahasia dengan menggunakan istilah Afdeling B, tujuan dariorganisasi ini adalah mengusir Belanda dan Tionghoa dariIndonesia. Dan ternyata pula bahwa pimpinan yang aktifmembinanya di Jawa Barat adalah Sosrokardono, SekretarisCentraal Serekat Islam (CSI) merangkap ketua PPKB. lasegera ditangkap.20 Peristiwa ini menyebabkan iklim politikIndonesia semakin panas. Kini, Sarekat Islam sendiri yangdituduh ikut terlibat dalam gerakan untuk menumbangkankekuasaan Belanda. Sarekat Islam Semarang menjadikan isuCimamere ini untuk lebih mengerahkan massa denganmengadakan rapat-rapat protes. Tetapi hal ini berarti tekananterhadap gerakan Semaoen menjadi lebih keras lagi. Semaoenlalu dituduh menterjemahkan karangan Sneevliet olehLandraad dan karenanya ia dihukum 2 bulan penjara.21 Tetapiketika ia naik banding, hukuman diubah menjadi 4 bulan.22la masuk penjara Yogyakarta dalam bulan Juli dan itu berartiis tidak dapat datang menghadiri Kongres Centraal SarekatIslam ke4. Partoatmodjo seorang tokoh buruh Sarekat Islamyang seringkah memimpin pemogokan-pemogokan, denganalasan persdelict, dihukum penjara 2 bulan.23 Darsono sejakSeptember 1918 telah dipenjarakan dan dijatuhi hukuman3 bulan. 24 Tetapi karena ia naik banding, hukumannyadiubah menjadi 1 tahun penjara.25Sarekat Islam Semarang kini benar-benar terkena akibatnya.Semaoen, orang pertamanya berada dalam penjara Yogya.Darsono. Orang keduanya (de Facto) di penjara Surabaya.Partoatmodjo, tokoh buruhnya, salah satu kegiatan yangterpenting juga berada di dalam penjara Semarang. Jika kitamemperhatikan tanggal penghukuman dan lamanyahukuman, praktis ketiga tokoh ini sudah tidak dapat - 48 - Edi Cahyono’s experiencE
  54. 54. menghadiri Kongres CSI ke-4. Juga dengan ditangkapnyaSosrokardono, orang yang dekat dengan Semaoen, timbulkesan bahwa Belanda berusaha mencegah hadirnya golonganyang paling militan dan agresif menyerang Pemerintah padaKongres Sarekat Islam.26 Delegasi yang dikirim SI Semarangke Kongres, bukanlah delegasi yang kuat. Mereka adalah MasMarco, Kadarisman dan Kasrin.27Dalam proses perkembangan Sarekat Islam, semenjak 1911hingga 1919, terjadi pergeseran pada pedagang menjadipergerakan rakyat. Pergerakan kerakyatan ini berakar di desa-desa. Dan sampai 1918, dapat dikatakan bahwa minat danmasalah-masalah yang dibahas dan diperjuangkankebanyakan berkisar di sekitar masalah agraria dankemelaratan kaum tani. Tapi perlahan-lahan kegiatan semakinbergeser ke kota dan soal-soal perburuhan makin mengambilperan yang penting. Di Semarang sendiri sejak konferensidengan tuan tanah yang tidak berhasil, perjuangan di bidangagraria telah ditinggalkan.Dukungan kaum pedagang dan kaum tani makin lama makinberkurang. Kondisi inilah yang menyebabkan perjuangan CSIbergeser semakin ke kota.28 Dalam Kongres CSI ke-4 diSurabaya antara tanggal 26 Oktober sampai 2 November1919 soal-soal yang dibahas adalah tentang perlunyamendirikan sebuah organisasi sentral kaum buruh.Tjokroaminoto, Haji Agoes Salim, Alimin, SuwardiSuryaningrat dan Soerjopranoto dalam pidato-pidatonyamenekankan perlunya dengan segera mendirikan sebuahsentral organisasi buruh. Susunan pengurus CSI punmemperlihatkan kecenderungan pergeseran di bidangperjuangan. Susunan pengurus barn tersebut adalah:29 Ketua/ Bendahara Tjokroaminoto Wakil-Wakil Ketua Abdoel Moeis, Soerjopranoto Sekretaris Sosrokardono, Brotosuharyo dan Rachman - 49 - Edi Cahyono’s experiencE
  55. 55. Komisaris-Komisaris Djajadiningrat, Semaoen, Soekirno, Haji Agoes Salim, Haji Sjadzili, Alimin, Mas Marco, H. Fachroeddin, Abikoesno Tjokrosoejoso, Moh. Samin (Sumatera Utara), Bratanata (Sumatera Selatan) dan Amir Hasan (Kalimantan).Dari susunan pengurus yang baru kelihatan ada nyaperubahan yang penting, yang menunjukkan perubahanmedan perjuangan. Sebagai wakil ketua, di samping Moeisdiangkat pula Soerjopranoto yang kemudian lebih terkenalsebagai Raja Mogok. Semaoen dan Sosrokardono, walaupunmasih dalam penjara, tetap terpilih lagi. Dan inimenunjukkan bahwa mereka sebagai kaum yang paling anti-Belanda, tetap berpengaruh. Moh. Joesoef sebagai wakil darikalangan kaum menengah, kini digantikan Mas Marco yangjuga dari kalangan Semaoen. Soekirno dan Alimin yangmerupakan tokoh-tokoh ISDV kini berhasil masuk pimpinanCSI. Komposisi seksi-seksi pun menunjukkan pergeseran kejalan sosialis-revolusioner. Di dalam seksi politik, di sampingTjokroaminoto dan Hasan Djajaningrat, duduk pulaDarsono dan Sosrokardono, yang kedua-duanya masih beradadi penjara. Di dalam seksi-seksi perubahan, di sampingSoerjopranoto, duduk juga Semaoen, Kadarisman danAlimin. Kini kaum sosialis-revolusioner sudah merupakanfaktor yang ikut menguasai CSI. Bila kita bandingkan dengantahun 1917, terlihatlah betapa besar hasil Semaoen dankawan-kawannya untuk menguasai CSI.Sebagai realisasi keputusan-keputusan tersebut, tokohtokohSarekat Islam Semarang mengambil inisiatif menyebarkanundangan kepada seluruh organisasi buruh untukmengadakan pertemuan di Yogya pada akhir Desember 1919untuk mendirikan Revolusionere Socialistisct Vakcentrale diHindia. Sebagai pengundangnya antara lain Semaoen.30Ketika pertemuan itu berlangsung, terjadi lagi pertentangan - 50 - Edi Cahyono’s experiencE

×