Your SlideShare is downloading. ×
0
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Membuka usaha kecil
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Membuka usaha kecil

27,548

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
27,548
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
442
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  1. Aserani Kurdi, S.Pd Bahan Pelajaran SMK NEGERI 1 TANJUNG KELOMPOK BISNIS DAN MANAJEMEN Cetakan 1 tahun 2003 i δδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδ Judul Bahan Pelajaran Membuka Usaha Kecil Tingkat I SMK Negeri 1 Tanjung Penyusun Aserani Kurdi, S.Pd (Guru Bidang Studi SMK negeri 1 Tanjung) Desain/Pengetikan/Setting/Lay Out ROLISA Komputer Jln. Mabuun Indah II No.34 RT.04 Mabuun Tanjung Pencetak Rafi Abadi Offset Tanjung Cetakan ke I, Juli 2003 δδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδδ ii
  2. KATA PENGANTAR XAlhamdulillah, atas izin Allah SWT. dapatlah bu- ku ini disusun walau dalam bentuk yang sangat sederhana. Buku ini kami maksudkan sebagai bahan/materi pelajaran untuk menunjang pembelajaran Membuka Usaha Kecil yang disajikan di tingkat I pada SMK Negeri 1 Tan- jung. Harapan kami, kiranya buku ini dapat diperguna- kan oleh para siswa tingkat I sebagai buku teks pokok dalam mempelajari Membuka Usaha Kecil. Atas segala partisipasi semua pihak demi terga- rapnya tulisan ini dan upaya penggandaannya, terutama pi- hak orangtua siswa dan para siswa sendiri, kami haturkan banyak terimakasih. Semua ini kita lakukan demi masa de- pan pendidikan kita dan masa depan putera-puteri kita. Semoga Allah meridhai usaha dan ikhtiar serta pengorbanan kita semua. Amin. Tanjung, 14 Juli 2003 Penyusun, Aserani, S.Pd NIP. 132091026 iii DAFTAR ISI HAL : KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI iv BAB I KARAKTERISTIK USAHA KECIL 1 A. Pengertian Usaha Kecil 1 B. Fungsi dan Peranan Usaha Kecil 3 C. Beberapa Keunggulan Usaha Kecil 6 D. Kebijaksanaan Pemerintah dan Dunia Usaha Tentang Usaha Kecil 7 E. Izin Usaha Kecil 16 BAB II MEMILIH PRODUK DAN JASA 20 A. Sumber Informasi dan Cara Melihat Peluang 20 B. Teknik Pemilihan Jenis Usaha/Produk 24 C. Pemasaran Hasil Usaha/Produk 27 BAB III MEMILIH BENTUK USAHA KECIL 29 A. Proses Pemilihan Bentuk Usaha Kecil 29 B. Menyusun Studi Kelayakan Usaha Kecil 31 C. Format Studi Kelayakan Usaha Kecil 34 BAB IV MEMBUAT RENCANA USAHA DAN RENCANA KERJA USAHA KECIL 37 A. Membuat Rencana Membuka Usaha Kecil 37 B. Membuat Rencana Kerja Usaha Kecil 43 C. Contoh Rencana Kerja Usaha Kecil Di bidang Produksi/Pengolahan 45 Contoh Pembuatan Abon Daging 46 DAFTAR KEPUSTAKAAN 50 iv
  3. BAB I KARAKTERISTIK USAHA KECIL A. Pengertian Usaha Kecil Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau penjualan tahunan, serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Undang undang tentang Usaha Kecil yang sedang berlaku di negara kita adalah Undang-undang Nomor 9 tahun 1995. Menurut undang-undang ini, sebagaimana di- sebutkan pada Bab III Pasal 5 bahwa, kriteria usaha kecil adalah memiliki kekayaan bersih (asset dikurangi kewajib- an/utang dll.) maksimal Rp 200 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) atau memiliki hasil penjualan (laba bersih) per tahun maksimal Rp 1 milyar. Usaha kecil adalah usaha yang dimiliki mutlak dan sepenuhnya oleh Warga Negara Indonesia (WNI), bukan dimiliki oleh warga negara asing dan atau pemiliknya campuran antara WNI dengan WNA. Usaha kecil adalah usaha yang berdiri sen- diri, bukan merupakan bagian atau anak cabang perusahaan lain. Tidak dikuasai oleh perusahaan lain, tidak berafiliasi langsung maupun tidak langsung (dibawah kendali oleh) dengan perusahaan lain, baik perusahaan kecil lainnya, menengah maupun besar. Tidak termasuk usaha kecil yang mendapat suntikan dana dari perusahaan menengah atau 1 besar yang kita kenal dengan usaha kecil yang mempunyai bapak angkat dari perusahaan menengah atau besar seper- ti misalnya sebuah industri rumah tangga yang mempunyai bapak angkat seperti PT.PLN. Suntikan dana yang diberi- kan oleh perusahaan lain ini semata-mata hanya ingin membantu bagi kelangsungan dan pengembangan usaha ke- cil, bukan kerjasama dalam usaha atau saling membawahi. Antara usaha kecil dengan bapak angkatnya tidak ada hu- bungan usaha dalam arti secara organisasi maupun admi- nistrasi. Bentuk usaha kecil adalah usaha perseorangan (badan usaha yang tidak berbadan hukum) dan atau dalam bentuk koperasi baik yang belum maupun yang sudah berbadan hukum. Secara umum dapat kita katakan bahwa usaha ke- cil adalah perusahaan kecil yang melakukan usaha seperti di bidang perdagangan eceran berupa toko, kedai, kios, warung dan atau di bidang industri kecil (industri rumah tangga) seperti usaha kerajinan, usaha pengolahan/produksi makanan dan minuman maupun usaha jasa seperti penjahit pakaian, pertukangan, transportasi darat (punya usaha mo- bil taxi) dan sebagainya. Pada umumnya usaha kecil adalah usaha yang modalnya dikumpulkan dari tabungan pemiliknya dan ter- kadang ditambah dari modal keluarga. Biasanya usaha kecil relatif tidak memiliki karyawan yang banyak. Areal pema- saran produknya pun bersifat lokal. Usaha kecil merupakan usaha yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat kita dan ia merupakan tulang punggung perekonomian bangsa. 2
  4. B. Fungsi dan Peranan Usaha Kecil Pada umumnya fungsi dan peranan didirikannya usaha kecil adalah untuk mencari nafkah/penghasilan da- lam rangka menopang kehidupan ekonomi keluarga agar diperoleh kehidupan yang berkecukupan menuju kesejah- teraan. Keluarga adalah pusat kehidupan ekonomi. Kebu- tuhan yang relatif kecil dan sederhana dapat dipenuhi de- ngan usaha kecil, seperti usaha pertanian, perkebunan, pe- ternakan, perikanan, usaha dagang, industri kecil / rumah tangga dan usaha-usaha jasa. Dalam perkembangannya secara ekonomi, nampak- nya fungsi dan peranan usaha kecil tidak sekedar untuk mencari penghasilan sebagai penopang kehidupan ekonomi keluarga, tetapi dengan adanya usaha kecil, juga dapat berfungsi sebagai penghubung (menjembatani) sekaligus penyalur antara produsen (dalam arti perusahaan menengah atau besar) dengan konsumen. Pengelola usaha kecil inilah yang langsung berhubungan dengan konsumen untuk me- nawarkan/memasarkan/menjual hasil produk para produ- sen, sehingga usaha kecil dapat berperan langsung secara aktif dalam rangka melancarkan roda usaha dan siklus per- ekonomian secara umum. Usaha kecil yang bergerak dibidang industri/peng- olahan, biasanya hasil produk yang dibuat adalah barang/ja- sa yang langsung menyentuh keperluan masyarakat/ 3 konsumen, seperti usaha-usaha produk kerajinan, produk makanan dan minuman, produk pakaian, jasa angkutan dan sebagainya, sehingga dengan adanya usaha kecil ini dapat membantu masyarakat dalam memenuhi keperluannya se- hari-hari. Dari sekian pengusaha kecil, produk yang dihasil- kan ada pula berupa bahan mentah atau bahan setengah jadi yang tentunya sangat diperlukan oleh perusahaan industri menengah atau besar. Seperti misalnya usaha perkebunan karet, sangat diperlukan oleh perusahaan yang memproduk- si barang-barang berbahan karet. Usaha penangkapan ikan, sangat diperlukan oleh perusahaan pengalengan ikan. Usa- ha pembuatan batu bata, batako, genteng, atap sirap, usaha wantilan/penyediaan kayu/papan untuk bahan bangunan, usaha mebeler dsb. sangat diperlukan oleh perusahaan pe- ngembang perumahan, bahkan usaha kasar yang dilakukan oleh para pemulung, justeru merupakan ujung tombak bagi kelancaran produksi bagi usaha-usaha tertentu, seperti per- usahaan/pabrik plastik, perusahaan/pabrik kertas dan seba- gainya. Dari uraian ini dapat kita katakan, usaha kecil me- megang peranan penting di dalam kelancaran usaha perusa- haan menengah atau besar, terutama dari segi penyediaan bahan baku. Pada sisi lain, fungsi dan peranan usaha kecil adalah sebagai penyerap tenaga kerja. Kendati memang pada umumnya kebutuhan tenaga kerja pada tiap-tiap usaha kecil relatif sedikit, namun karena pengusaha kecil relatif banyak jumlahnya, dan usaha yang dijalankan pada 4
  5. umumnya bersifat padat karya (banyak menggunakan tena- ga kerja), maka kontribusinya di dalam penyerapan tenaga kerja cukup besar. Dengan terserapnya tenaga kerja berarti jumlah pengangguran dapat dikurangi. Ini dimungkinkan pemerataan pendapatan masyarakat semakin dapat diwu- judkan. Usaha kecil yang sudah maju selalu menantang atau mendorong para pengelolanya untuk lebih kreatif dan inovatif, sehingga produk yang dihasilkan selalu terjaga dan terpelihara mutunya yang pada gilirannya akan me- nambah jumlah pelanggan, tidak saja pelanggan lokalan, tetapi sudah menyebar ke berbagai daerah, bahkan produk yang dihasilkan perusahaannya sudah dikenal di mana-ma- na. Hal yang semacam ini tidak saja berdampak positif bagi kelangsungan usahanya, secara tidak langsung juga akan memberi nilai tambah bagi daerah di mana usahanya ber- ada. Lebih global lagi, fungsi dan peranan usaha kecil secara nasional dapat dijadikan sebagai tulang punggung perekonomian, dimana usaha kecil dapat menggalang keku- atan ekonomi secara mendasar dengan rakyat banyak seba- gai subyeknya sekaligus obyeknya. Jika semua atau seti- daknya sebagian besar rakyat Indonesia telah mempunyai masing-masing usaha, kendati usaha kecil, dan dapat men- jalankan serta menekuni usahanya, maka insyaAllah akan dapat meningkatkan taraf hidup dan kemakmuran rakyat secara umum. 5 Dari uraian di atas dapat kita butiri beberapa fung- si dan peranan usaha kecil, antara lain : 1. Usaha kecil sebagai penghubung/penyalur/distribu- tor produk yang dihasilkan perusahaan menengah atau besar; 2. Usaha kecil sebagai penghasil produk barang dan jasa yang sangat diperlukan oleh masyarakat; 3. Usaha kecil sebagai penyedia bahan baku bagi kelangsungan produksi perusahaan industri mene- ngah atau besar; 4. Usaha kecil dapat menyerap banyak tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran; 5. Usaha kecil dapat menunjang bagi upaya-upaya pe- merataan pendapatan masyarakat; 6. Usaha kecil dapat memberikan nilai tambah bagi pemerintah daerah setempat, baik moril maupun materiil; 7. Usaha kecil merupakan tulang punggung perekono- mian nasional yang dapat meningkatkan tarap hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat. C. Beberapa Keunggulan Usaha Kecil Dibandingkan dengan usaha menengah dan atau be- sar, usaha kecil memiliki beberapa keunggulan, antara lain : 1. Keberadaan usaha kecil bagi usaha menengah/besar merupakan mitra usaha yang sangat menentukan, karena dari merekalah bahan baku diperoleh; 6
  6. 2. Mendirikan usaha kecil lebih mudah, permodalan bisa menyesuaikan dan tidak terlalu birokratif; 3. Usaha kecil didalam kegiatan usahanya nampak lebih kreatif serta mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi bisnis (fleksibel), sehingga kebe- radaan pengusaha menengah/besar tidak dipandang sebagai saingan, tetapi justeru dijadikan sebagai peluang usaha/bisnis; 4. Usaha kecil pada umumnya mempunyai daerah pe- masaran yang relatif sempit, sehingga ia lebih me- ngenal watak, tabiat dan kesenangan konsumennya, hal ini dapat memudahkan dalam kegiatan pemasar- an hasil produksi; 5. Pengusaha kecil biasanya lebih akrab dengan kon- sumen, sehingga keinginan-keinginan dan keluhan- keluhan dari para konsumennya lebih mudah dide- ngar. Hal ini akan mendorong pengusaha usaha ke- cil agar lebih selektif dan inovatif; 6. Didalam pelaksanaan usahanya, usaha kecil nampak lebih luwes dan praktis. Demikian juga bentuk usa- hanya lebih sederhana, sehingga mudah mengorga- nisasikannya; D. Kebijaksanaan Pemerintah dan Dunia Usaha Tentang Usaha Kecil Berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, disebutkan bahwa kebi- jaksanaan pemerintah dan dunia usaha terhadap usaha kecil 7 kecil ini dilakukan dalam bentuk pemberdayaan, penum- buhan iklim usaha, pembinaan dan pengembangannya, pembiayaan dan penyediaan dana serta penjaminan dan kemitraan, sehingga usaha kecil mampu tumbuh dan ber- kembang serta memperkuat dirinya menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Pemberdayaan usaha kecil bertujuan : 1. Menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha ke- cil menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta ber- kembang menjadi usaha menengah; 2. Meningkatkan poeranan usaha kecil dalam membentuk produk nasional, perluasan kesempatan kerja dan ber- usaha, peningkatan ekspor, serta peningkatan dan peme- rataan pendapatan untuk mewujudkan dirinya sebagai tulang punggung serta memperkukuh struktur pereko- nomian nasional; Usaha kecil hendaknya diselenggarakan secara bersama dan kekeluargaan, agar diperoleh suasana keakrab- an dan iklim usaha yang menyenangkan. Pemerintah me- numbuhkan iklim usaha bagi pengusaha kecil ini dengan mengeluarkan dan menetapkan peraturan perundang-un- dangan yang dirangcang sedemikian rupa agar usaha kecil memperoleh kepastian, kesempatan yang sama dan du- kungan berusaha yang seluas-luasnya sehingga usaha kecil dapat berkembang menjadi usaha yang tangguh dan man- diri. Penumbuhan iklim yang kondusif ini tentunya juga harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama pihak dunia usaha dan pengambil kebijakan (pemerintah 8
  7. setempat) terlebih-lebih di era otonomi daerah seperti seka- rang ini. Penumbuhan iklim usaha berdasarkan UU No. 9 tahun 1995 ini meliputi 7 aspek, yaitu : 1. Aspek pendanaan, dimana pemerintah berusaha memperluas sumber-sumber pendanaan dan me- ningkatkan aksesnya melalui fasilitas kredit bank pemerintah dan bantuan dana lewat pemerintah daerah/instansi pemerintah, perusahaan daerah ma- upun BUMN dan BUMS bahkan kebutuhan dana dapat pula diperoleh dari pinjaman kredit melalui koperasi simpan pinjam dan melalui bank-bank syari’ah yang dibuka oleh beberapa bank, yang dikelola oleh organisasi Muhammadiyah dengan program BTM-nya dan oleh ICMI dan BKPRMI melalui BMT-nya. Disamping memperluas sum- ber-sumber dana, pemerintah juga berupaya mem- berikan pelayanan yang terbaik dan termudah bagi pengurusan dana tersebut; 2. Aspek persaingan, dimana pemerintah menganjur- kan agar pengusaha kecil dapat meningkatkan ker- ja sama dengan sesama pengusaha kecil lainnya, baik dalam bentuk koperasi, asosiasi maupun him- punan kelompok usaha, sehingga posisi usaha kecil lebih kuat didalam menghadapi berbagai persaing- an usaha. Disamping itu, pemerintah juga akan se- lalu berusaha membentuk struktur pasar yang sehat agar tidak tumbuh dan berkembang persaingan yang tidak sehat/wajar, seperti adanya monopoli, 9 oligopoli dan monopsoni serta penguasaan pasar dan pemusatan usaha yang dilakukan oleh sese- orang atau kelompok tertentu yang tentunya sangat merugikan pengusaha kecil; 3. Aspek prasarana, dimana pemerintah menyediakan berbagai prasarana umum dengan tarif yang relatif ringan / terjangkau, seperti lokasi pasar, sarana transportasi, pembuatan dan perbaikan jalan raya, penyediaan sarana telekomunikasi, listrik, penye- diaan air bersih, lokasi usaha (seperti lahan per- tanian/perkebunan) dsb. yang mana sarana-sarana tersebut dapat mendorong dan memperlancar kegi- atan usaha kecil 4. Aspek informasi, dimana pemerintah membentuk dan memanfaatkan bank data dan jaringan infor- masi bisnis melalui instansi terkait, seperti infor- masi harga sembako, sayur mayur, informasi bursa kerja dan tenaga kerja serta menyebarluaskan in- formasi tersebut ke tengah-tengah masyarakat, me- lalui pasar, teknologi informasi komunikasi (mass media baik cetak maupun elektronik), sehingga para pengusaha kecil tidak ketinggalan informasi, terutama informasi yang berhubungan dengan usaha yang dijalankannya; 5. Aspek kemitraan, dimana pemerintah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada pengusaha kecil untuk menjalin mitra kerja dengan pengusaha kecil lainnya maupun dengan pengusaha menengah atau besar dengan selalu memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling 10
  8. menguntungkan, serta mencegah terjadinya kerja sama/kemitraan yang merugikan pihak pengusaha kecil; 6. Aspek perizinan usaha, dimana pemerintah mela- kukan penyederhanaan tata cara dan jenis perizinan dengan mengupayakan terwujudnya sistem pela- yanan satu atap, serta memberikan kemudahan per- syaratan untuk memperoleh izin usaha tersebut; 7. Aspek perlindungan, dimana pemerintah menyedia- kan lokasi pasar, lokasi usaha berupa ruang toko, lokasi sentra industri, lahan pertanian rakyat, loka- si pertambangan rakyat dan lokasi yang wajar bagi pedagang kali lima serta lokasi-lokasi usaha lain- nya, agar pengusaha kecil lebih aman dan nyaman dalam melakukan kegiatan usaha. Disamping itu, pemerintah juga melakukan bantuan konsultasi dan perlindungan hukum; Dalam melakukan pembinaan dan pengembangan usaha kecil, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat ikut bertanggung jawab dan diminta partisipasinya. Pembinaan dan pengembahan usaha kecil dilaku- kan pada aspek produksi dan pengolahan, pemasaran, sumberdaya manusia dan teknologi. Dari aspek produksi dan pengolahan dilakukan dengan : 1. Meningkatkan kemampuan manajemen serta teknik pro- duksi dan pengolahan; 11 2. Meningkatkan kemampuan rancang bangun dan pereka- yasaan; 3. Memberikan kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana produksi dan pengolahan, bahan baku, bahan penolong dan kemasan; Dari aspek pemasaran, dilakukan dengan : 1. Melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran; 2. Meningkatkan kemampuan manajemen dan teknik pe- masaran; 3. Menyediakan sarana serta dukungan promosi dan uji co- ba pasar; 4. Mengembangkan lembaga pemasaran dan jaringan dis- tribusi; 5. Memasarkan produk usaha kecil; Dari aspek sumber daya manusia, dilakukan de- ngan : 1. Memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan; 2. Meningkatkan ketrampilan teknis dan manajerial; 3. Membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan, pelatihan dan konsultasi usaha kecil; 4. Menyediakan tenaga penyuluh dan konsultan usaha ke- cil; Dari aspek teknologi, dilakukan dengan : 1. Meningkatkan kemampuan di bidang teknologi produksi dan pengendalian mutu; 2. Meningkatkan kemampuan di bidang penelitian untuk meningkatkan desain dan teknologi baru; 12
  9. 3. Memberikan insentif kepada usaha kecil yang mene- rapkan teknologi baru dan melestarikan lingkungan hi- dup; 4. Meningkatkan kerja sama dan alih teknologi; 5. Meningkatkan kemampuan memenuhi standardisasi tek- nologi; 6. Menumbuhkan dan mengembangkan lembaga penelitian dan mengembangkan di bidang desain teknologi bagi usaha kecil. Pembiayaan, penyediaan dana dan penjaminan terhadap usaha kecil dilakukan secara bersama-sama yang melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, yang meliputi : 1. Kredit perbankan; 2. Pinjaman lembaga keuangan bukan bank; 3. Modal ventura; 4. Pinjaman dari dana penyisihan sebagian laba BUMN; 5. Hibah dan; 6. Jenis pembiayaan lainnya. Untuk mendapatkan sejumlah dana di atas dan termanfaatkannya dengan baik dana tersebut, kepada pe- ngusaha kecil diharapkan : 1. Dapat meningkatkan kemampuan pemupukan modal sendiri; 2. Dapat menyusun proposal studi kelayakan usaha dengan baik; 3. Dapat mengelola manajemen keuangan dengan baik; 4. Menumbuhkan dan mengembangkan lembaga penjamin. 13 Lembaga penjamin adalah lembaga yang dimiliki pemerin- tah maupun swasta yang menjamin segala pembiayaan usa- ha kecil dalam bentuk kredit perbankan, pemberian modal dengan sistem bagi hasil, dan sebagainya. Lembaga penja- min ini biasanya dari instansi pemerintah, seperti misalnya BKKBN memberikan jaminan modal kepada kelompok akseptor KB yang berstatus prasejahtera dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga melalui usaha-usaha produktif. Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan memberikan bantuan modal kepada petani, nelayan mau- pun peternak dalam rangka meningkatkan dan mengem- bangkan usahanya. Lembaga penjamin bisa juga dari kalangan perusahaan menengah/besar, dari organisasi ma- syarakat dan sebagainya. Dalam rangka peningkatan usaha, setiap usaha kecil hendaknya menjalin usaha kemitraan dengan perusa- haan menengah atau besar, baik yang mempunyai hubung- an usaha maupun yang tidak ada keterkaitan usaha. Hu- bungan kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan dan pengembangan dalam salah satu atau lebih bidang pro- duksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber da- ya manusia dan teknologi. Pola kemitraan dapat dilaksanakan sbb. : 1. Pola Inti-plasma, adalah hubungan kemitraan antara u- saha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usaha menengah/besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil sebagai plasma. Perusahaan inti melaksanakan pembi- naan, mulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan 14
  10. teknis sampai kepada pemasaran hasil produksi. Contoh usaha perkebunan karet (PIR), usaha perkebunan kelapa sawit, usaha perkebunan tebu dsb. dimana para petani hanya bertugas melaksanakan penanaman dan pemeli- haraan, sedangkan seluruh sarana prasarana dan segala pembiayaan lainnya dijamin oleh perusahaan mene- ngah/besar, dalam hal ini perusahaan/pabrik gula misal- nya; 2. Pola Subkontrak, adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usa- ha kecil bertugas melakukan produksi barang tertentu yang diperlukan oleh usaha menengah/besar sebagai salah satu komponen produksinya, atau usaha kecil melakukan tugas/kegiatan tertentu untuk menunjang ke- giatan usaha perusahaan menengah / besar. Contoh : perusahaan subkon PT. Pama Persada Nusantara atau PT. Adaro Indonesia. 3. Pola Dagang Umum, adalah hubungan kemitraan an- tara usaha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usaha kecil bertindak sebagai pemasok dan usaha me- nengah/besar bertindak sebagai pengumpul yang se- lanjutnya kumpulan hasil produksi ini dipasarkan oleh usaha menengah/besar. Contoh : Para petani yang menghasilkan buah-buahan dibeli oleh pembeli pe- ngumpul (misalnya koperasi atau sebuah usaha kecil). Kemudian buah-buahan yang sudah terkumpul dengan jumlah tertentu dikirim kepada sebuah perusahaan pe- masaran buah-buahan (perusahaan menengah), selanjut- nya dijual kepada perusahaan pengalengan buah, peru- sahaan makanan dsb. (perusahaan besar); 15 4. Pola Waralaba, adalah hubungan kemitraan antara u- saha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usaha menengah/besar memberikan hak pengguna lisensi me- rek dagang dan saluran distribusi perusahaan kepada penerima waralaba (usaha kecil) dengan disertai ban- tuan bimbingan manajemen. Contoh : sebuah perusaha- an elektronik dipercayakan menggunakan merek pro- duknya dengan nama Sony (seperti VCD dengan merek by Sony, padahal tidak dibuat langsung oleh perusahaan Sony). Barang-barang yang bermerek perusahaan luar negeri dibuat oleh perusahaan dalam negeri. Berarti perusahaan dalam negeri mendapat waralaba dari per- usahaan luar negeri tersebut; 5. Pola Keagenan, adalah hubungan kemitraan antara usa- ha kecil dengan usaha menengah/besar, dimana usaha kecil diberikan hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa yang diproduksi oleh usaha menengah/besar. Contoh : usaha agen koran dan majalah. E. Izin Usaha Kecil Membuka usaha kecil, ada yang harus mendapat izin dari pemerintah (instansi berwenang), ada pula usaha kecil yang tidak perlu mendapat izin. Hal ini tergantung jenis usaha yang akan dijalankan dan besar kecilnya usaha. Sebaiknya jika kita ingin membuka usaha kecil, meminta izin terlebih dahulu kepada pemerintah/instansi terkait. Hal ini dimaksudkan agar usaha yang kita jalankan 16
  11. terdaftar pada lembaga resmi pemerintah, sehingga diha- rapkan adanya perhatian dari pemerintah terutama dari segi bimbingan, pembinaan dan pengawasan serta bantuan modal dan fasilitas, juga agar tercapai tertib usaha, kelan- caran usaha dan pemerataan kesempatan berusaha. Adapun bentuk perizinan yang perlu dimiliki oleh usaha kecil bergantung pada jenis usahanya. Saat ini peme- rintah telah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan kemudahan dalam pemberian izin usaha kecil. Hal ini sesu- ai dengan Inpres nomor 5 tahun 1984 tentang penyederha- naan dan pengendalian perizinan di bidang usaha kecil, ser- ta dijabarkan secara praktis (operasional) melalui surat ke- putusan menteri perdagangan nomor 1458/KP/XII/1984 tanggal 19 De-sember 1984. Ada lima perizinan usaha yang sedang berlaku hingga saat ini, yaitu : 1. Izin Prinsip (IP), adalah izin persetujuan usaha yang di- keluarkan pemerintah setempat untuk usaha dibidang industri; 2. Izin Penggunaan Tanah (IPT), adalah izin yang diberi- kan oleh kantor agraria/pertanahan nasional pemerintah setempat dengan syarat, tanah yang akan digunakan su- dah jelas kepemilikannya atau setelah izin pembebasan tanah dimiliki (bukan tanah sengkekata/tak bertuan). Izin ini diberikan kepada kegiatan usaha yang menggunakan lahan/tanah, seperti usaha pertanian, perkebunan, peter- nakan, perikanan darat, pertambangan dan sebagainya; 3. Izin Mendirikan bangunan (IMB), adalah izin yang 17 diberikan oleh pemerintah setempat melalui instansi/di- nas yang berwenang seperti misalnya Dinas Pengawasan dan Pembanguan Kota (setiap daerah mungkin berbeda nama instansi/dinasnya), dengan syarat, bangunan yang akan dibuat harus sesuai dengan sketsa/denah gambar- nya yang sudah mendapat persetujuan kepala dinas ter- sebut. Surat izin ini diberikan kepada usaha-usaha yang menggunakan bangunan, seperti usaha pertokoan, mem- bangun pabrik dsb; 4. Izin Gangguan/Surat Izin Tempat Usaha (SITU), adalah surat izin yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat (instansi/dinas yang berwenang), dengan syarat sudah mendapat izin dari ketua RT, RW dan kepala desa / ke- lurahan setempat serta mendapat persetujuan warga / tetangga setempat. Surat izin ini wajib dimiliki oleh usa- ha-usaha yang mungkin dapat mengganggu ketentraman, ketenangan dan keamanan masyarakat sekitar, seperti usaha pabrik penggilingan padi, pabrik tahu, pemeliha- raan binatang ternak yang dekat masyarakat, dsb; 5. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), adalah surat izin yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi setempat. Surat izin ini diberikan kepada usaha dibidang perdagangan; 6. Wajib Daftar Perusahaan (WDP), adalah surat izin yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi setempat. WDP ini dilakukan paling lambat ti- ga bulan setelah usaha dijalankan. Dalam proses pengurusan izin usaha ini, ada be- berapa formuler isian yang harus diisi yang biasanya sudah 18
  12. sudah disediakan oleh instansi/dinas yang bersangkutan. Formuler ini pada umumnya memuat data tentang : 1. Nama perusahaan dan bentuk badan usahanya; 2. Alamat perusahaan; 3. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak); 4. Identitas pemilik dan pengurus/karyawan; 5. Jenis usaha yang dijalankan; 6. Ketenagakerjaan; 7. Golongan usaha (Contoh CV. kelas A, B. C dsb); 8. Mesin dan peralatan usaha yang digunakan; 9. Surat permohonan dan akta pendirian usaha; Dokumen permohonan izin usaha yang perlu di- persiapkan tentunya disesuaikan dengan persyaratan yang berlaku bagi setiap jenis surat izin yang dikeluarkan peme- rintah/instansi berwenang). Dokumen yang dipersiapkan, antara lain : 1. Salinan/photocopy KTP; 2. Pas photo pemilik/pengurus; 3. Salinan/photocopy akta pendirian usaha; 4. Fohocopy NPWP; 5. Fhotocopy sketsa/denah/lokasi/gambar tempat usa- ha; 6. Fhotocopy Kartu keluarga; 7. Surat Persetujuan Warga setempat, Ketua RT. RW. Kepala Desa/kelurahan; dan sebagainya. 19 BAB II MEMILIH PRODUK DAN JASA A. Sumber Informasi dan Cara Melihat Peluang Tak ada seorangpun yang tidak membutuhkan infor- masi, apapun jenis dan pekerjaan orang itu. Pejalar, maha- siswa, guru, dokter, birokrat, seniman, wartawan, pengu- saha, penulis, ahli hukum, petani, nelayan dan sebagainya, semuanya memerlukan informasi. Informasi memang kadang-kadang bisa datang sen- diri (diperoleh dengan mudah), karena berbagai media in- formasi telah banyak dan beragam jenisnya dan ada di se- kitar kita, namun informasi juga perlu kita cari, kita harus proaktif mencarinya. Terlebih-lebih jika kita ingin mendiri- kan sebuah usaha, kendati hanya usaha kecil-kecilan, infor- masi bisnis perlu kita cari, kita analisa yang pada gilirannya informasi yang kita peroleh tersebut menjadi sebuah pe- luang usaha. Sumber informasi itu sebenarnya ada di mana-ma- na, baik informasi lisan langsung, rekamam maupun infor- masi tulisan. Informasi dapat kita peroleh di pasar, di keru- munan orang, di kedai, warung, di sekolah, di tempat kerja, di tempat diskusi, seminar, loka karya, di pengajian, poster, papan penguman, majalah, surat kabar, radio dan televisi. Ketika kita jalan-jalan, melihat sesuatu, mendengar sesuatu 20
  13. merasakan sesuatu, semuanya dapat kita jadikan informasi dan sumber informasi. Tinggal kita saja lagi, apakah mampu memilih dan memilah, mana informasi yang sekira- nya dapat kita manfaatkan untuk dijadikan peluang di dalam memilih produk atau jasa usaha kecil kita nanti. Keberhasilan dunia usaha dan bisnis dewasa ini sangat tergantung pada kejelian melihat peluang melalui berbagai sumber informasi serta memanfaatkan peluang itu sebelum orang lain melihat dan memanfaatkannya. Sebagai calon usahawan kecil, kita harus mampu berpacu dalam menyerap informasi serta memperluas cakrawala berpikir dan wawasannya. Dalam menggali berbagai informasi untuk men- cari peluang usaha, kepada kita disarankan : 1. Sering-seringlah pergi ke pasar untuk melihat dan meng- amati berbagai prilaku penjual dan pembeli. Jenis pro- duk/jasa apa kira-kira yang paling diminati dan dibutuh- kan pembeli dan bagaimana persediaannya di pasar; 2. Sering-seringlah berkonsultasi/dialog dengan para peda- gang mengenai aktivitas jual beli yang dijalankannya; 3. Datanglah ke tempat usaha yang ada di sekitar kita, la- kukan pengamatan dan jalinlah persahabatan dengan pimpinan dan para karyawannya; 4. Jika perlu, ikutlah magang di tempat usaha untuk men- dapatkan pengalaman kerja; 5. Manfaatkan berbagai media seperti koran, majalah, radio televisi dsb. sebagai sumber informasi dan ikuti acara- acara yang berkaitan dengan dunia usaha; 21 Jika ke lima hal di atas dapat kita lakukan dan kita manfaatkan seoptimal mungkin, kita tentu akan banyak memperoleh informasi dan dari berbagai informasi tersebut insyaAllah kita akan mampu menentukan peluang usaha yang dapat kita garap. Bagaimana sebuah informasi dapat kita jadikan sebagai peluang usaha, dapat kita lihat tabel berikut ini : Informasi Peluang Usaha - Ada penambahan lokasi pasar. - Membuka toko untuk ber- jualan. - Membuka usaha transpor- tasi (taxi). - Pembangunan hotel baru - Membuka toko/kios/wa- rung di sekitar lokasi ho- tel. - Membuka usaha jasa transportasi (taxi). - Didirikan pabrik tahu - Membuka usaha pertani- an kedelai. - Membuka usaha pemasar- an tahu (jual tahu). - Didirikan terminal kenda- raan antar daerah/propinsi - Membuka toko/kios/wa- rung. - Membuka usaha jasa transportasi (taxi). - Mendirikan Wartel. - Membuka WC umum. 22
  14. Peluang bisnis memang ada di mana-mana. De- ngan mengamati dinamika kehidupan masyarakat, di sana ada peluang. Dengan memperhatikan potensi alam dan po- tensi daerah yang ada, juga merupakan peluang. Dengan adanya pergantian musim dan pergeseran tata nilai, pun merupakan peluang. Pendeknya peluang untuk berusaha terbuka luas buat kita. Tinggal kita saja lagi yang menentu- kan peluang usaha seperti apa yang kita inginkan dan seki- ranya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, baik ke- mampuan mental maupun kemampuan pisik, termasuk per- modalan. Jika kita telah berhasil memilih jenis usaha/ pro- duk yang akan kita garap nanti, maka hendaknya kita ta- namkan ke dalam diri kita masing-masing : 1. Sifat optimis akan kemampuan diri untuk melaksanakan- nya; 2. Berusaha menyukai jenis usaha tersebut dan punya ke- mauan yang keras untuk mewujudkannya; 3. Perjuangan yang tidak mengenal lelah dan putus asa; 4. Kesediaan menghadapi berbagai kemungkinan risiko; 5. Berpikir positif dan menjauhkan pikiran-pikiran yang negatif; 6. Dapat menerima saran-saran orang lain demi kemajuan usaha; 7. Tidak lekas puas terhadap hasil yang telah diperoleh; 8. Punya keinginan untuk maju dan berkembang serta op- timis terhadap masa depan. Seseorang yang akan menggarap suatu produk/ 23 jasa (membuka usaha), seyogyanya mempunyai tiga ktram- pilan (skill), yaitu : 1. Ketrampilan memimpin, yaitu kemampuan seseorang di- dalam memanej (mengelola) usaha, mengorganisir fak- tor-faktor produksi yang digunakan, memanfaatkan ber- bagai peluang bisnis dan kreatif dalam mencari teknik baru dalam berusaha/berproduktif; 2. Ketrampilan teknik, yaitu keahlian yang dimiliki sese- orang terhadap bidang usaha yang dijalankannya. Jadi, kalau jenis usaha yang akan ia garap dibidang ternak itik, maka seyogyanya ia mengerti benar bagaimana me- melihara/berternak itik yang baik; 3. Ketrampilan mengelola (organisir), yaitu kemampuan seseorang dalam mengatur kegiatan usaha, mengatur/ mengelola para karyawan, mengelola segala peralatan kerja dsb. B. Teknik Pemilihan Jenis Usaha/Produk Untuk menentukan jenis usaha/produk apa yang akan kita garap, kita dapat menggunakan suatu teknik ana- lisis yang disebut Analisis SWOT. Analisis SWOT adalah sebuah analisis untuk mengamati suatu keadaan dan masalah tertentu dengan melihat sisi kekuatannya (strength), kelemahannya (we- akness), peluangnya (opportunity) dan segi ancamannya (threath). Dari analisis ini, segala kekuatan kita manfaatkan kelemahan kita atasi atau minimal kita perkecil, ancaman 24
  15. kita antisipasi/tanggulangi, dan peluang kita munculkan untuk dijadikan kekuatan baru. Penerapan Analisis SWOT untuk menentukan je- nis usaha/produk yang akan kita garap, dapat kita kemuka- kan contoh berikut ini. Kita tahu bahwa kondisi alam daerah kita Taba- long cukup luas dan potensial. Tidak sedikit potensi alam yang dapat kita garap dan dijadikan lahan bisnis/usaha. Daerah kita disamping dikenal sebagai daerah tambang minyak dan batubara, sejak dulu kita juga dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan seperti duku (langsat) dan cempedak (tiwadak). Sehingga bila orang mendengar “langsat Tanjung”, “tiwadak Tanjung” maka terbanyang dibenaknya, bahwa langsat atau tiwadak tersebut enak dan manis. Nah, mari kita analisis keberadaan duku dan cempe- dak ini dengan pendekatan Analisis SWOT. 1. Kekuatannya (Strength) a. Pohon duku dan cempedak banyak tumbuh di daerah Tabalong; b. Rasanya manis dan disukai banyak orang; c. Jika musim tiba jumlahnya sangat banyak dan harga- nya murah; d. Banyak orang-orang, baik daerah setempat maupun dari daerah lain datang untuk membelinya; e. Buah duku dan cempedak tersebut sering di kirim dan dijual ke daerah lain, sehingga keberadaanya semakin terkenal. 25 2. Kelemahannya (Weakness) a. Sebagian besar pohon duku dan cempedak berada di hutan-hutan dan ditanam tidak beraturan serta tidak dipelihara sebaik mungkin; b. Pemilik pohon duku dan cempedak sebagian besar masih bersifat perorangan; c. Pohon duku dan cempedak bagi pemiliknya, masih dianggap sebagai tanaman sampingan, tidak dimanfa- atkan menjadi sebuah usaha; d. Penjualan buah duku dan cempedak masih bersifat tradisional secara turun temurun; 3. Peluangnya (Opportunity) a. Memungkinkan untuk peningkatan budidaya perke- bunan duku dan cempedak, dengan membuka lahan perkebunan; b. Memungkinkan buah duku dan cempedak dijadikan sebagai komuditi penambah penghasilan; c. Memungkinkan melakukan perdagangan duku dan cempedak lebih besar dan profesional; d. Menungkinkan mendirikan usaha pengalengan buah duku dan cempedak; 4. Ancamannya (Threath) a. Jika tidak dikelola dengan baik, buah duku dan cem- pedak terancam kepunahan; b. Akibat perluasan kota/pemukiman penduduk, dan ku- rangnya pemeliharaan, tanaman duku dan cempedak mengalami penurunan kuantitas dan kualitas; c. Munculnya daerah-daerah lain penghasil duku dan 26
  16. cempedak; Dari contoh analisis di atas, apa yang dapat kita jadikan peluang untuk memilih jenis usaha/produk bagi usaha kecil kita. 1. Pada musim duku dan cempedak, kita bisa ikut jualan; 2. Buah cempedak dapat kita jadikan kue, buat menambah kue yang ada di warung kita, atau kita jual ke warung- warung lain; 3. Buah cempedak dapat kita olah menjadi selai cempedak dan jenis makanan lainnya; 4. Buah duku dapat kita olah menjadi minuman berupa sirup buah duku; 5. Kulit cempedak dapat kita jadikan mandai tiwadak; 6. Mandai tiwadak juga dapat kita jadikan kerupuk dengan nama kerupuk mandai tiwadak. C. Pemasaran Hasil Usaha/Produk Barang/jasa yang akan dipasarkan hendaknya : 1. Benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat bagi konsumen; 2. Dapat menyesuaikan selera konsumen dan daya belinya; 3. Kuantitasnya mencukupi konsumen dan kualitasnya ter- jamin; 4. Model dan bentuk barang menarik dan tidak ketinggalan zaman; 5. Relatif dapat memuaskan konsumen (tidak mengecewa- kan). 6. Dapat bersaing dengan barang/produk lain yang sejenis; 27 7. Mudah dalam pemakaiannya (praktis); 8. Efesien dalam penggunaanya; 9. Hemat dan awet dalam pemakaiannya; Di dalam memasarkan hasil usaha/produk, hen- daknya dipertimbangkan sbb. : 1. Siapa yang akan membeli produk dan berapa jumlahnya; 2. Di mana pembeli itu berada (kota – desa) dan bagaimana penghasilan mereka (untuk mengetahui tingkat daya beli masyarakat); 3. Di mana dan siapa calon pesaing usaha kita; 4. Bagaimana perkembangan pemasaran produk tersebut dalam beberapa hari / bulan ini. Apakah ada peningkatan atau bagaimana; 5. Bagaimana perkembangan antara produksi dengan pe- masaran, apakah ada keseimbangan; 6. Perlukah menjalin kerjasama dengan pihak lain dalam pemasaran hasil usaha/produk; 28
  17. BAB III MEMILIH BENTUK USAHA KECIL A. Proses Pemilihan Bentuk Usaha Kecil Dalam proses ini, setelah memperoleh berbagai informasi dan menganalisanya sehingga terbukalah peluang usaha, yang kemudian memanfaatkan peluang itu dengan memilih suatu produk/jasa untuk dijadikan bidang garapan usaha kecil, lalu menyiapkannya untuk di pasarkan. Proses selanjutnya adalah bagaimana memilih bentuk usaha kecil, apakah dikelola secara informal yaitu usaha kecil yang di- kelola masyarakat banyak secara perorangan, tidak terorga- nisir secara modern, tanpa nama usaha, tanpa tempat usaha khusus, contohnya seperti petani karet, pedagang asongan, pedagang kaki lima, penjual sayur, ikan, pedagang di kios/ toko kecil, para tukang, buruh bangunan bebas, tukang cukur tradisional, usaha rumah tangga seperti membuat kue untuk di pasarkan ke warung-warung, pedagang pentol, es dan sebagainya. Apakah usaha kecil dikelola secara formal, yaitu usaha kecil yang dikelola dengan menggunakan alat/ sarana usaha/produksi, terorganisir, punya nama usaha dan jelas jenis usahanya, tempat usahanya jelas, ada susunan/ struktur organisasinya dsb. Contoh UD. Maju, usaha per- cetakan dan sablon seperti Rafi Abadi off sett, Prima kom- puter, LPP Bavon, Wartel Abdi Jaya, rumah makan Tama- ra, Perusahaan Kopi cap Tiga Kunci, usaha kecil rumah tangga yang memproduksi dudul, keripik, kerupuk, roti ( ada merek perusahaannya), usaha rumah tangga pembuatan 29 pakaian jadi, seperti pakaian muslim/muslimah bordir Bunga Tanjung, Ar-Raudah, usaha-usaha mini market dsb. Kemudian, berhubungan dengan bentuk usaha ke- cil ini juga, adalah bidang usahanya, apakah di bidang per- dagangan, industri maupun jasa. Apakah dikelola sendiri dan terpusat, tanpa cabang. Apakah bekerja sama dengan pengusaha lain (menjalin kemitraan), dalam bentuk/pola inti-plasma, sub kontrak, dagang umum, waralaba atau ke- agenan. Kendati usaha kecil pada umumnya berbentuk usaha perseorangan, namun tidak menutup kemungkinan usaha kecil dapat pula berbentuk CV. Fa. PT. atau koperasi, karena dalam pasal 5 UU No.9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil, disebutkan bahwa salah satu kriteria usaha kecil adalah berbentuk perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum maupun yang berbadan hukum dan kope- rasi. Namun dalam pembahasan mata pelajaran Membuka Usaha Kecil ini orientasi kita lebih terfokus pada Usaha Kecil yang berbentuk Usaha Perseorangan, karena bentuk usaha semacam ini yang paling mudah dan praktis serta da- pat dipraktekkan oleh siswa. Di dalam memilih bentuk usaha kecil seperti yang dijelaskan di atas, ada beberapa bahan pertimbangan yang perlu diperhatikan, yaitu : 1. Permodalan yang dimiliki dan pengembangannya; 2. Risiko usaha yang mungkin terjadi; 3. Strategis tidaknya usaha yang dijalankan; 30
  18. 4. Prakiraan prospek masa depan usahanya; 5. Peralatan usaha, teknis, dan tenaga kerja yang tersedia; 6. Ketersediaan bahan baku dan bahan penolong; 7. Birokrasi pengurusan pendiriannya dan besarnya pajak; 8. Keahlian/ ketrampilan teknis yang dimiliki; 9. Kemungkinan keuntungan yang diperoleh; 10. Persaingan yang muncul di pasaran; 11. Kemungkinan pemasaran hasil produk; B. Menyusun Studi Kelayakan Usaha Kecil Menetapkan jenis usaha/ produk dan bentuk usa- ha kecil yang tepat dan sesuai keinginan sebenarnya tidak- lah mudah. Ia memerlukan analisa yang cermat, pemikiran yang tepat dan pertimbangan yang matang. Agar di dalam pemilihan produk, jenis usaha dan bentuk usaha kecil dapat lebih akurat, kiranya perlu menyu- sun sebuah studi kelayakan usaha kecil Tahapan-tahapan di dalam menyusun studi kela- yakan usaha kecil adalah sebagai berikut : 1. Mempelajari hal-hal yang berkenaan dengan jenis usaha/ produk dan bentuk usaha yang akan dipilih serta perma- salahannya; 2. Menyusun rencana studi kelayakan secara rinci dan ber- urutan; 3. Mengumpulkan berbagai informasi data lapangan ber- kenaan dengan jenis produk dan bentuk usaha, kemudian 31 melakukan analisis; 4. Membuat laporan hasil analisis; 5. Membuat kesimpulan; Dalam menyusun Studi Kelayakan Usaha Kecil, perlu mencantumkan caara dan teknik pengumpulan infor- masi misalnya dengan membuat daftar pertanyaan, daftar kebutuhan informasi, sumber informasi dsb. Studi kelayakan usaha kecil sangat diperlukan, karena dari studi ini akan dapat diramal bagaimana kelang- sungan hidup usaha yang akan dipilih, sejauhmana keun- tungan yang bakal diperoleh, seberapa besar minat masya- rakat terhadap produk yang akan kita hasilkan. Di dalam menyusun studi kelayakan usaha kecil, kiranya perlu dipertimbangkan beberapa aspek berikut ini : 1. Aspek Hukum, meliputi : a. Kemudahan dalam pengurusan perizinan; b. Adanya dukungan dari masyarakat setempat; c. Adanya dukungan dari pemerintah daerah; d. Adanya kebutuhan masyarakat terhadap produk yang akan digarap; e. Adanya manfaat ekonomis terhadap masyarakat sekitar f. Dapat membantu dalam pengentasan kemiskinan ter- hadap masyarakat sekitar; g. Dapat meningkatkan sosial budaya masyarakat sekitar; h. Dapat menunjang pembangunan pemerintah daerah; i. Adanya sarana prasarana yang mencukupi; 32
  19. j. Tersedianya bahan baku, bahan penolong dan sejumlah tenaga kerja; 2. Aspek Pasar dan Pemasaran, meliputi : a. Informasi tentang kondisi permintaan pasar; b. Keadaan konsumen, meliputi identitasnya, statusnya, jumlahnya, tingkat penghasilannya, daya belinya, ke- butuhannya, seleranya dsb; c. Kedudukan dan posisi produk di pasaran; d. Situasi persaingan yang bakal terjadi; e. Gambaran masa depan pemasaran produk; f. Cara-cara promosi produk; g. Sistem distribusi, komisi, penjualan dan transaksi yang berlaku; h. Tanggapan balik konsumen tentang produk yang di- suguhkan (riset pemasaran); 3. Aspek Teknis dan Teknologi, melipti : a. Membuat rencana jangka pendek, menengah dan pan- jang; b. Menentukan sistem produksi, urutan proses produksi, bahan-bahan dan mesin peralatannya; c. Perencanaan gedung atau bangunan dan tata letak mesin peralatannya; d. Menentukan tenaga kerja yang dibutuhkan; e. Menentukan lokasi usaha yang strategis; f. Pemilihan sistem dan alat transportasi dan komuni- kasi; g. Menetapkan prakiraan dana yang diperlukan; h. Mengusahakan agar produk yang dihasilkan dapat 33 memenuhi jumlah dan kualitas yang diinginkan de- ngan biaya produksi sehemat mungkin; 4. Aspek Ekonomis dan Keuangan, meliputi : a. Perolehan dana awal usaha seperti modal tetap dan modal kerja; b. Usulan investasi dan pinjaman modal awal; c. Usulan investasi dan pinjaman modal dalam rangka perluasan usaha; d. Berapa jumlah dana yang diperlukan untuk modal awal dan perluasan usaha; e. Bagaimana struktur pembiayaan usaha; f. Bagaimana perhitungan biaya, harga, laba yang di- inginkan; g. Bagaimana teknis investasi dan peminjaman dana, sumbernya dari mana, berapa jumlahnya, persyaratan- nya bagaimana, dan bagaimana teknik dan aturan serta kemampuan pengusaha dalam pengembaliannya. 5. Aspek Lokasi, meliputi : a. Bagaimana mengurus IMB-nya; b. Menentukan lokasi usaha yang strategis; c. Lay out dan denah lokasi usaha; d. Bentuk bangunan dan tata letaknya; C. Format Studi Kelayakan Usaha Kecil 1. Pengantar, menjelaskan tentang : manfaat umum, man- faat ekonomis dan manfaat lainnya; 34
  20. 2. Umum, berisi tentang : nama usaha, pemiliknya, bentuk usaha, bidang usaha dan tempat kedudukan/lokasi usa- ha; 3. Perizinan, meliputi : izin usaha, izin prinsip, izin peng- gunaan tanah, izin mendirikan bangunan, izin undang- undang gangguan dan izin lainnya yang diperlukan; 4. Rencana Produksi, memuat tentang : jenis produksi, bentuk produksi, ukuran/volume usaha/produksi, model produksi, kapasitas produksi, bahan pembungkus/kema- san dan rencana produksi riil; 5. Pemasaran dan Saingan, meliputi : daerah pemasaran, jumlah produk yang dapat dipasarkan, sistem pema- saran produk, saingan produk sejenis, dan jumlah in- dustri/ usaha/produk sejenis; 6. Modal tetap yang Diperlukan, terdiri dari : tanah dan bangunan, mesin dan peralatan pengolahannya; 7. Modal Kerja yang Diperlukan, terdiri dari : modal untuk persediaan bahan baku dan bahan pembantu, modal untuk keperluan administrasi usaha dan operasional usaha lainnya; 8. Biaya Produksi, meliputi : biaya persediaan bahan baku dan bahan pembantu, biaya gaji dan upah pimpinan dan karyawan, biaya gaji pemilik dsb, biaya penyusutan, biaya bunga dan pinjaman modal dan biaya lain-lain 35 seperti biaya listerik, air bersih, asuransi, transportasi, kebersihan dan pemeliharaan gedung dan peralatan kan- tor dan sebagainya; 9. Rencana Pemasaran/Penjualan, terdiri dari : kegiatan pemasaran/penjualan produk, biaya pemasaran dan hasil penjualannya; 10. Pendapatan/laba sebelum dikurangi bunga dan pajak; 11. Pendapatan/laba setelah dikurangi bunga dan pajak; 12. Laba bersih usaha. 36
  21. BAB IV MEMBUAT RENCANA USAHA DAN RENCANA KERJA USAHA KECIL A. Membuat Rencana Membuka Usaha Kecil Perencanaan usaha adalah keseluruhan proses ten- tang hal-hal yang akan dikerjakan sehubungan dengan usa- ha yang akan dibuka untuk mencapai tujuan. Dengan perencanaan usaha diharapkan : 1. Ada kepastian tentang : a. Usaha apa yang akan dikerjakan; b. Kapan usaha itu dilaksanakan; c. Bagaimana cara melaksanakan usaha tersebut; d. Siapa saja yang terlibat dalam usaha tersebut; e. Di mana lokasi usaha dilakukan; 2. Dapat menjadi pedoman kegiatan usaha; 3. Menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan pimpinan/ pengelola usaha; Membuat rencana membuka usaha kecil, diperlukan langkah-langkah yang tepat dan sistematis de- ngan berpedoman pada konsep 5 W 1 H yang merupakan kata tanya dalam bahasa Inggeris, yang selanjutkan dite- rapkan ke dalam rencana membuka usaha kecil. Penerapan 5 W 1 H ini dapat kita jelaskan sbb. 37 1. WHAT ? (APA?) Pertanyaan inilah yang mula-mula muncul dalam pikiran kita manakala kita ingin berencana. What? (Apa?), maksudnya rencana apa yang ingin kita lakukan?. Kalau berhubungan dengan usaha kecil, pertanyaannya adalah : - Jenis usaha apa yang ingin kita lakukan. Apakah di- bidang industri, perdagangan atau jasa. Bentuk per- usahaan yang akan kita buka, apakah berbentuk perseroan (PT), perusahaan komanditer (CV), Firma (Fa), Koperasi, maupun perusahaan perorangan, misalnya berupa UD (usaha Dagang), Industri Ru- mah Tangga, kerajinan dsb. Apa nama perusahaan yang kita dirikan tersebut, misalnya CV. Karunia, UD. Maju dan sebagainya; - Apa maksud, sasaran dan tujuan yang ingin/akan ki- ta capai dari usaha yang akan kita lakukan tersebut. 2. WHERE ? (DI MANA ?) Setelah pertanyaan what? (apa?), sudah terjawab, dalam artian kita sudah dapat menentukan jenis usaha yang akan dibuka, bentuk perusahaan yang dipilih, bidang usaha yang akan dikerjakan, nama perusahaan yang kita tentukan, maksud, sasaran serta tujuan usaha yang ingin kita capai, maka pertanyaan ke dua biasanya muncul adalah di mana lokasi usaha tersebut kita dirikan. Pertanyaan ini menunjukkan tempat/lokasi/areal usaha yang akan dikerjakan. Pertanyaannya adalah : 38
  22. - Di mana tempat/lokasi usaha yang akan kita dirikan. Apakah di desa A, desa B, kota C, kota D, di daerah pantai/pesisir, di lokasi wisata, di dekat terminal, sta- sion, lapangan terbang, pelabuhan dan sebagainya. - Lokasi usaha yang akan kita pilih, apakah hanya ter- fokus satu tempat, dua tempat atau beberapa tempat. 3. WHEN ? (PABILA/KAPAN ?) Setelah kita menentukan jenis, macam/bidang usa- ha, nama usaha dan maksud, sasaran dan tujuan yang akan dicapai, juga penentuan lokasi/tempat beroperasinya per- usahaan kita nanti, maka pertanyaan berikutnya adalah : - Kapan / pabila operasional usaha tersebut mulai dikerjakan dan sampai kapan berakhirnya; 4. WHO ? (SIAPA ?) Pertanyaan ini berhubungan dengan personalia/para pelaksana atau orang-orang yang terlibat di dalam usaha yang akan kita garap. Pertanyaannya : - Berapa jumlah personil yang kita butuhkan dalam kegiatan usaha kita nanti; - Dari mana dan bagaimana penjaringan (merekrut) personil-personil tersebut. Apakah kita pasang iklan di media masa, kita sebarkan selebaran, 39 pengumunanan dan kita tempel di tempat-tempat strategis, atau kita cari sendiri (mungkin kita ajak beberapa orang keluarga, beberapa orang teman/ sahabat) dan sebagainya; - Siapa-siapa orangnya yang menurut kita cocok dan pantas serta dapat diajak kerja sama dalam menja- lankan usaha kita nanti; - Ketrampilan apa yang kita perlukan dari personil- personil tersebut. Misalnya kita membutuhkan tena- ga pemasaran. Kita memerlukan personil yang te- rampil dalam kegiatan pembukuan/akuntansi, dan sebagainya; 5. WHY ? (MENGAPA ?) Pertanyaan ini berhubungan dengan analisa usaha. Bisa juga merupakan pertanyaan koreksi dari empat per- tanyaan di atas. Pertanyaan yang berhubungan dengan why (mengapa) ini, seperti : - Mengapa jenis usaha yang akan dikerjakan dibidang industri? yaitu industri kerajinan rumah tangga. Mengapa bidang usaha ini yang di pilih, apa alasan- nya, bagaimana prospek masa depan usaha ini; - Mengapa perusahaan yang akan didirikan berbentuk CV. dengan nama CV. Mekar Sari? Apakah nama ini sudah cocok, atau mungkin bisa dicari nama lain; - Mengapa maksud, sasaran dan tujuan usaha ini 40
  23. sedemikian rupa, apa sudah cocok; - Mengapa lokasi usaha di daerah pasar/pusat perbe- lanjaan? Mengapa hanya satu tempat?; - Mengapa operasional usaha ini baru bisa dimulai tahun depan? Kenapa tidak segera saja dimulai?; 6. HOW ? (BAGAIMANA ?) Pertanyaan ini menunjukkan cara, metode, teknik, dan prosedur kerja yang akan dikerjakan. Yaitu, bagaimana cara, teknik dan prosedur kerja yang sebaik-baiknya dalam melaksanakan usaha nanti. Pertanyaannya : - Usaha yang akan kita kerjakan apakah mengguna- kan teknik tradisional, modern, atau campuran (semi modern); - Usaha yang akan kita kerjakan apakah bersifat padat modal atau padat karya; Dari enam pertanyaan yang terhimpun dalam rumus 5 W 1 H tersebut dapat kita terapkan ke dalam Rencana Membuka Usaha seperti bagan berikut ini : What? (Apa?) Jenis, bentuk dan nama usaha Maksud, sasaran dan tujuan usaha 41 Where?(Di mana) Lokasi usaha When? (Kapan?) Waktu Usaha Who? (Siapa?) Pelaksana Why? (Mengapa?) Analisa Usaha How? (Bagaimana?) Cara Pengerjaan Di dalam menyusun rencana membuka usaha ke- cil, hendaknya diperhatikan beberapa hal sebagai berikut : • Jenis usaha yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan tersedianya sumber-sumber bahan yang cu- kup, tenaga kerja yang mudah di dapat, pemasaran yang lumayan serta prospek masa depannya (ke- langsungan usaha); • Sebelum usaha dijalankan, hendaknya secara tegas kita sudah menentukan sasaran/target yang akan di- capai dari usaha kita tersebut dalam jangka waktu tertentu, baik secara kuantitas maupun secara kuali- tas; 42 CV. BATA INDAH JAYA Usaha Industri Batu Bata Untuk Keperluan Bahan Bangunan Di desa Pembataan Tanjung Mulai Januari 2003 - dst. Unit Produksi SMKN 1 Bata Sangat Diperlukan Dan Mudah Dikerjakan Secara Tradisional
  24. • Rencana usaha yang kita susun, hendaknya sudah terprogram secara sistematis (punya tahapan-tahap- an operasional), dari tahap awal hingga tahap pe- nyelesaian; • Rencana usaha yang akan digarap hendaknya dise- suaikan dengan pendanaan yang ada. Jangan sekali- kali memaksakan diri dengan berbuat spekulasi. B. Membuat Rencana Kerja Usaha Kecil Sejak usaha kecil didirikan, maka sejak itu pula perlu disusun rencana kerja usaha, untuk menentukan : 1. Produk/jasa apa yang akan dibuat atau dipasarkan/jual; 2. Berapa jumlah dana yang diperlukan; 3. Berapa jumlah produk yang akan dibuat; 4. Berapa karyawan atau tenaga kerja yang diperlukan dan; 5. Ke mana produk itu akan dijual atau di pasarkan. Sasaran rencana kerja usaha kecil hendaknya ha- rus menyangkut / memperhatikan : 1. Kelangsungan hidup usaha; 2. Perolehan laba / keuntungan yang memadai; 3. Penambahan modal dan kekayaan perusahaan; 4. Dapat memacu laju pertumbuhan usaha; 5. Upaya untuk menampung dan memperluas kesempatan kerja; 6. Upaya untuk memberikan pelayanan konsumen; 7. Sebagai upaya untuk mencapai sasaran lainnya yang lebih luas; 43 Bentuk-bentuk rencana kerja sekaligus merupakan tahapan-tahapan di dalam menyusun rencana kerja, adalah sbb.: 1. Rencana Kerja Jangka Panjang, adalah rencana yang dibuat untuk kurun waktu 5 s/d 25 tahun. Rencana jangka panjang ini berfungsi sebagai penunjuk arah atau gambaran kegiatan ke depan, dalam artian akan di bawa ke mana perusahaan ini nanti; 2. Rencana Kerja Jangka Pendek, adalah rencana yang dibuat untuk kurun waktu maksimal 1 tahun. Rencana ini biasanya berkenaan dengan rencana perolehan laba (profitabilitas), rencana produksi, rencana peningkatan/ inovasi usaha, rencana pemasaran, budget (anggaran biaya), rencana personalia/kekaryawanan dsb; 3. Rencana Anggaran, adalah sebuah rencana kerja yang berfungsi sebagai alat kendali atau pengawasan yang sangat efektif di dalam mengelola sebuah usaha. Renca- na Anggaran ini terdiri dari : a. Anggaran penjualan; b. Anggaran promosi; c. Anggaran distribusi; d. Anggaran produksi; e. Anggaran biaya produksi; f. Anggaran pembelian; g. Anggaran biaya karyawan; h. Anggaran biaya umum dan administrasi; i. Anggaran laba rugi; j. Anggaran lainnya yang diperlukan. 44
  25. 4. Rencana Pemasaran, adalah sebuah rencana yang dibuat dalam rangka memasarkan produk/jasa kepa- da konsumen. Rencana pemasaran bagi usaha kecil dikelompokkan menjadi tiga : a. Rencana pemasaran bagi usaha kecil yang ber- gerak di bidang penjualan barang eceran (toko, kios, warung, pedagang kaki lima dsb); b. Rencana pemasaran bagi usaha kecil yang ber- gerak di bidang produksi/industri barang (indus- tri rumah tangga, pabrik tahu, pabrik jamu dsb); c. Rencana pemasaran bagi usaha kecil yang ber- gerak di bidang jasa (tukang service jam, service radio/TV, bengkel sepeda motor/sepeda, tukang jahit pakaian dsb); 5. Rencana Keuangan, adalah suatu rencana yang di- tujukan untuk mengatur keadaan keuangan, baik da- ri segi pemasukan/pendapatan maupun dari segi pe- ngeluarannya. Rencana keuangan ini sering disebut Rencana Pendapatan dan Belanja; 6. Rencana Produksi, adalah suatu rencana untuk me- ngatur kegiatan produksi, baik mengenai jumlah- nya, kualitasnya maupun waktu dan lama pelaksa- naannya; 7. Rencana Organisasi dan Personalia, adalah suatu rencana yang berhubungan dengan pengelolaan kar- yawan, administrasi kantor dan administrasi usaha; C. Contoh Rencana Kerja Usaha Kecil Di bidang Produksi/Pengolahan 45 CONTOH PEMBUATAN ABON DAGING Abon daging merupakan hasil olahan dari daging yang dapat disimpan lama (awet), rasanya enak, banyak di- gemari dan mudah cara pembuatannya. Abon bisa dibuat dari bermacam-macam daging, antara lain : daging sapi, kerbau, kambing, rusa, ayam, kelinci dan bahkan dari ikanpun dapat dibuat abon. Oleh karena itu usaha pembuat- an abon dapat dilakukan sebagai salah satu dari kegiatan usaha kecil. A. Bahan dan Peralatan 1. Bahan-bahan yang diperlukan : NO. NAMA BAHAN BANYAKNYA 1. Daging 20 kg 2. Garam 10 senduk makan 3. Kelapa 2 biji 4. Gula merah 2 kg 5. Bawang merah 0,5 kg 6. Bawang putih 2,5 ons 7. Daun salam Secukupnya 8. Ajinomoto Secukupnya 9. Kemiri halus 6-7 senduk makan 10. Laos halus 1 ons 11. Minyak goreng 0,5 liter 2. Peralatan yang digunakan : a. Alat penumbuk/penggiling bumbu/cobek; b. Parutan kelapa; c. Pisau; 46
  26. d. Kompor; e. Panci; f. Wajan/penggorengan dan; g. Baskom. B. Proses Pembuatan Abon 1. Daging sapi dibersihkan dari lemak dan noda lainnya; 2. Kemudian daging dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil; 3. Selanjutnya daging dimasukkan ke dalam panci yang berisi air secukupnya dan di godog/rebus dengan me- nambahkan daun salam dan laos hingga empuk/lunak; 4. Setelah daging empuk/lunak, lalu diangkat dari kom- por dan didinginkan; 5. Setelah dingin, daging ditumbuk pelan-pelan dan di- suwiri (dibelah-belah kecil sesuai seratnya); 6. Buatlah campuran bumbu yang terdiri dari : a. Bawang putih halus 6 senduk makan; b. Bawang merah halus 6 senduk makan; c. Garam 10 senduk makan; d. Santan kelapa kental dari 2 biji kelapa; e. Kemiri halus 6-7 senduk makan; f. Laos halus 1 ons; g. Ajinomoto secukupnya. Bahan-bahan ini dicampur hingga merata dengan cara diaduk-aduk. 7. Daging yang telah ditumbuk dan disuwiri kemudian dimasukkan ke dalam adonan bumbu dan diaduk hingga merata; 8. Daging yang telah tercampur rata dengan bumbu 47 digoreng dalam wajan dengan menggunakan minyak kelapa hingga matang dan kering; 9. Setelah masak, daging adonan tersebut diangkat dari kompor dan diperas untuk menghilangkan minyak. Pengepresan dilakukan selagi daging masih panas sehingga lemak yang masih cair dapat dikeluarkan. Sebab abon yang terlalu banyak minyak tidak tahan lama, cepat tengik/racit/marat; 10. Setelah diperas, abon didinginkan dan ditimbang ser- ta dibungkus sesuai dengan yang diinginkan; 11. Abon daging siap untuk dipasarkan. Dari hasil penimbangan abon daging diperkirakan sebanyak 20 kg. C. Kalkulasi Biaya dan Keuntungan Usaha Pembuatan Abon Daging. 1. Biaya pembuatan : a. Pembelian 20 kg daging sapi Rp 700.000,00 b. Pembelian 2 ons bawang putih Rp 3.000,00 c. Pembelian 0,5 kg bawang merah Rp 3.000,00 d. Pembelian kemiri Rp 2.000,00 e. Pembelian 2 kg gula merah Rp 5.000,00 f. Pembelian 2 biji kelapa Rp 6.000,00 g. Pembelian Ajinomoto Rp 1.000,00 h. Pembelian 2 liter minyak tanah Rp 3.000,00 i. Pembelian minyak goreng 0,5 kg Rp 3.500,00 Jumlah biaya pembuatan Rp 726.500,00 48
  27. 2. Hasil Penjualan : Penjualan abon daging sebanyak 20 kg a Rp 50.000,00 = Rp 1.000.000,00 3. Laba kotor : Hasil penjualan Rp 1.000.000,00 Biaya pembuatan Rp 726.500,00 Laba kotor Rp 273.500,00 49 DAFTAR KEPUSTAKAAN Ating Tedjasutisna, H. MBA, Membuka Usaha Kecil, Armico Bandung, 1999; Aserani, S.Pd. Bahan Pelajaran Ekonomi Tingkat II Se- mester 3, SMK Negeri 1 Tanjung, 2002; Budi Noegroho, Ir. dkk. Teknologi Pasca Panen dan Indus- tri Rumah Tangga, Mahkota Jakarta 1991; Departemen Koperasi dan PPK Kal-Sel. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, Banjarmasin, 1996; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kewiras- wastaan jilid I dan II, Jakarta, 1982; Direktorat Penyuluhan dan Bimbingan Sosial, Materi Penyuluhan Sosial Bagi Pekerja Sosial Masyara- kat, Depsos RI jakarta, 1993; Pawit M. Yusup, MS. Pedoman Praktis Mencari Informa- si, PT. Remaja Rosdakarya Bandung, 1997; Tom Gunadi, Ekonomi dan Sistem Ekonomi Menurut Pan- casila dan UUD 45, Angkasa bandung, 1995; 50

×