MAKALAH ILMIAHAnalisis Dampak Penerapan Sistem KerjaLembur (overtime) Terhadap Karyawan    Oleh Perusahaan di Kota Batam  ...
Abstrak       Pada saat ini hampir sebagian besar industri/perusahaan yang ada diKota Batam menerapkan sistem kerja lembur...
KATA PENGANTAR         Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telahmenganugerahkan rahmat, karu...
DAFTAR ISIABSTRAK ...........................................................................................................
BAB I                              PENDAHULUAN1.1    Latar Belakang Masalah       Proses produksi dalam lingkungan industr...
3. Bagaimana dampak/pengaruh sistem kerja lembur (overtime) dan             urgensinya bagi karyawan perusahaan?1.3       ...
masyarakat pada umumnya dapat memberikan pengetahuan bahwa tingkatpemberianupah yang tinggi bukan berarti akan mendapat ke...
BAB II                             TINJAUAN PUSTAKA2.1    Landasan Teori       Sesuai dengan KEP. 102/MEN/VI/2004 pasal 1,...
Idealnya lembur dilaksanakan berdasarkan permintaan dari pengusaha danpersetujuan tertulis dari karyawan. Lembur tidak dap...
Disamping itu ketentuan Keputusan Menakertrans mengenai kerja lemburpadahari istirahat mingguan dan libur resmi tidak mela...
BAB III                               PEMBAHASAN3.1    Definisi Kerja Lembur (overtime)       Kerja lembur adalah pekerjaa...
1. Tarif upah lembur: 1/173 x Gaji Pokok2. Perhitungan lembur dilakukan pada hari kerja biasa:       a. Untuk jam pertama ...
Bila pekerjaan lembur dilakukan melewati jam 19.30 WIB, bila tidakdisediakan makan oleh Perusahaan akan diberikan tunjanga...
Misalnya pengusaha menetapkan upah sebesar Rp 1.500.000 yang terdiri darikomponen sebagai berikut:- Gaji pokok            ...
Kalau kita perhatikan rasio dari upah (gaji pokok dan tunjangan tetap) sebesar79% (seperti tabel 10.2), maka acuan perkali...
permasalahan yang lain. Begitu selesai target yang satu, muncul target yang lainseolah tanpa berkesudahan.        Berikut ...
Dengan lembur, pastikan atasan anda tahu anda lembur. Hal ini sangat        berguna karena atasan pasti suka jika anda kar...
Secara sosial, mereka juga seringkali dipandang sebagai anggota masyarakatyang tidak mau bersosialisasi di lingkungannya. ...
bagaimana kalau kita re-schedule ke pagi/siang saja dihari yang sama? Atau kitaterpaksa mengatakan “Oke pak” padahal kita ...
untuk bekerja lembur berisiko 60 persen lebih tinggi menderita sakit jantung. Angkaini muncul setelah memperhitungkan berb...
Studi penelitian terdahulu telah menyebutkan adanya keterkaitan antara stresdi tempat kerja dan risiko penyakit jantung. A...
Pakar Denmark dari Institute of Cancer Epidemiology memeriksa 7.000wanita berusia 30 hingga 54 tahun. Diketahui bahwa para...
BAB III                                     PENUTUP3.1       Kesimpulan          Pada prinsipnya, kerja lembur (overtime) ...
DAFTAR PUSTAKAKepmenakertrans No. KEP.102/MEN/IV/2004 Tentang Waktu Kerja Lembur dan                 Upah Kerja Lembur.htt...
Analisis Dampak Penerapan Sistem Kerja Lembur (overtime) Terhadap karyawan Oleh Perusahaan di Kota Batam
Analisis Dampak Penerapan Sistem Kerja Lembur (overtime) Terhadap karyawan Oleh Perusahaan di Kota Batam
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Analisis Dampak Penerapan Sistem Kerja Lembur (overtime) Terhadap karyawan Oleh Perusahaan di Kota Batam

19,070 views
18,758 views

Published on

Tugas makalah pada mata kuliah bahasa Indonesia (Sebuah Kajian Ilmiah)

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
19,070
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
303
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Analisis Dampak Penerapan Sistem Kerja Lembur (overtime) Terhadap karyawan Oleh Perusahaan di Kota Batam

  1. 1. MAKALAH ILMIAHAnalisis Dampak Penerapan Sistem KerjaLembur (overtime) Terhadap Karyawan Oleh Perusahaan di Kota Batam Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia Dosen pengampu :Hendri Kremer, S.E., M.Si Asep Jaenudin 120210034 Ali Nursidik 120210103 Felry Herdiansyah 120210048 Halri Simarmata 120210032 Joni Putra 120210170 Dessy Novita Sari Br. Ginting 120210090 Agnes Elvina Manurung 120210178 Juwita Lusiana Pardede 120210203 Noveny Nindya 121010184 Verawati Tambunan 120210240 Ravika Dewi 120210133 Siska Febriana 120210190 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS PUTERA BATAM 2013
  2. 2. Abstrak Pada saat ini hampir sebagian besar industri/perusahaan yang ada diKota Batam menerapkan sistem kerja lembur (overtime) untuk mengejar hasilproduksi (output) demi memenuhi pesanan dari para pelanggan (customer) sesuaikontrak kerja. Dan secara otomatis yang menjadi subjek penerapan sistemtersebut adalah para karyawan yang bekerja pada perusahaan-perusahaan itu. Secara khusus penelitian ini lebih menekankan pada dampak/pengaruhdari sistem kerja lembur bagi para karyawan (efek positif dan negatif), secaramateriil maupun non materiil. Termasuk di dalamnya untuk mengukur seberapajauh urgensi kerja lembur (overtime)bagi karyawan/pekerja itu sendiri. Adapun Subjek penelitian ini adalah para karyawan perusahaan yang adadi Kota Batam. Metode yang digunakan adalah wawancara terstruktur denganmetode pengambilan data secara FGD (Focus Group Discusion) dalam bentukwawancara dan jajak pendapat (survey). Responden wawancara diambil secaraacak (random) dari beberapa karyawan perusahaan yang ada di Kota Batam. Berhubung sebagian besar anggota tim penulis selain sebagai mahasiswajuga berprofesi sebagai karyawan perusahaan, maka subjek wawancara jugadiambil langsung dari anggota tim ditambah beberapa rekanan anggota yangjuga berprofesi sebagai karyawan perusahaan. Dari wawancara tersebutdidapatkan kondisi (relita) yang terjadi sekaligus berpengaruh dalam kehidupanpara karyawan sebagai efek diberlakukannya sistem kerja lembur di perusahaantempat mereka bekerja.Kata Kunci: Pekerja/karyawan, sistem kerja lembur (overtime) i
  3. 3. KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telahmenganugerahkan rahmat, karunia serta ridha-Nya, sehingga kami dapatmenyelesaikan makalah ilmiah tentang ”Analisis Dampak Penerapan SistemKerja Lembur (overtime) Terhadap Karyawan Oleh Perusahaan di KotaBatam”. Makalah ilmiah ini disusun sebagai salah satu Tugas makalah pada matakuliah Bahasa Indonesia. Dalam penulisan makalah ilmiah ini, kami telah banyak menerimabimbingan dan saran-saran dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini kamiingin mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada: 1. Bapak Hendri Kremer, selaku Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Putera Batam yang telah banyak memberikan penjelasan teori yang berkaitan dengan tugas makalah ilmiah ini. 2. Rekan-rekan serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ilmiah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat berguna dan dapatdipergunakan sebagaimana mestinya. Kami mengharapkan kritik dan saran untukkemajuan di masa-masa mendatang. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.Batam, 25 Maret 2013Tim Penyusun ii
  4. 4. DAFTAR ISIABSTRAK ........................................................................................................... iKATA PENGANTAR ......................................................................................... iiDAFTAR ISI........................................................................................................ iiiBAB I. PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 2 1.3Batasan Masalah ........................................................................................ 2 1.4Tujuan Penelitian ....................................................................................... 2 1.5Manfaat Penelitian ..................................................................................... 3BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 4 2.1 Landasan Teori ......................................................................................... 4 2.2 Mekanisme Kerja Lembur ........................................................................ 5 2.3Kewajiban Perusahaan ............................................................................... 6BAB III. PEMBAHASAN .................................................................................. 7 3.1 Definisi Kerja Lembur (overtime) ............................................................ 7 3.2 Dampak Penerapan Sistem Kerja Lembur Terhadap Karyawan ............ 11BAB III. PENUTUP ............................................................................................ 19 3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 19 3.2 Saran ........................................................................................................ 19DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20 iii
  5. 5. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Proses produksi dalam lingkungan industri/perusahaan saat ini umumnyamembutuhkan waktu pelaksanaan yang cepat. Waktu pelaksanaan yang cepat iniantara lain mempunyai tujuan untuk mengejar target produksi sesuai kontra kerja ataukarena suatu alasan tertentu. Untuk mengembangkan hal ini dilakukan sistem kerjalembur (overtime).Pekerjaan lembur harus diimbangi dengan kesiapan faktor-faktorpenunjang antara lain berupa tenaga kerja (karyawan), material dan alat kerja yangsesuai dengan kebutuhan pekerjaan tersebut. Untuk mengatasi faktor-faktorpenunjang ini diperlukan pembiayaan berupa pembayaran tenaga kerja (upah),pengadaan material dan penguasaan alat-alat kerja.Kerja lembur merupakan salah satubagian rencana kerja proyek dimaksudkan untuk menyelesaikan proses produksi yangtidak mungkin diselesaikan dalam hari kerja biasa/normal shift. Dengan kerja lemburini akan menggunakan tenaga kerja yang lebih ekstra, baik dalam kualitas maupunkuantitas.Tentu dalam implementasinya akan sangat berpengaruh pada kondisi parakaryawan itu sendiri, baik fisik maupun secara psikis.1.2 Rumusan Masalah Dalam penelitian ilmiah ini, ada beberapa hal yang disoroti: 1. Apakah definisi dan mekanisme kerja lembur (overtime)? 2. Bagaimana perhitungan upah karyawan dalam sistem kerja lembur (overtime)? 1
  6. 6. 3. Bagaimana dampak/pengaruh sistem kerja lembur (overtime) dan urgensinya bagi karyawan perusahaan?1.3 Batasan Masalah Untuk lebih menjaga efektifitas pembahasan objek penelitian, maka ulasanpembahasan topik permasalahan dalam penelitian ini lebih menitikberatkan padaseputar pengertian/definisi daripada kerja lembur (overtime), kemudianuntukmengetahui dampak/pengaruh implementasi sistem kerja lembur (overtime) bagipribadi karyawan serta sekaligus untuk mengetahui seberapa besar urgensi kerjalembur (overtime) bagi karyawan.1.4 Tujuan Penelitian Mengetahui pengaruh/dampak dari penerapan sistem kerja lembur terhadapkaryawan oleh perusahaan.Secara teoritis, diharapkan penelitian yang akan dilakukanakan dapat memberimanfaat bagi pihak karyawan/pekerja pada satu sisi. Terutamadisini berkaitandengan pemahaman tentang dampak/pengaruh dari kerja lembur(overtime) dan pihak perusahaan (manajeman) pada sisi lainnya.Manfaat praktisdiharapkan penelitian ini dapat memberi pengetahuan luas padakhalayak ramai atauorganisasi/perusahaan guna meningkatkan sikap dan etos kerja karyawansehinggadapat juga menjadi acuan untuk dilakukan perbaikan secara berkelanjuatandalam pelaksanaan sistem kerja lembur (overtime),dan dapat memperbaiki iklim kerjayang kondusif di perusahaan tersebut. Bagi karyawan dapat dijadikan sebagai acuan dalam bekerjadapatmemaksimalkan kemampuan yang dipunyai Karyawan tersebut sehingga dalambekerjakaryawan dapat lebih bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan.Bagi 2
  7. 7. masyarakat pada umumnya dapat memberikan pengetahuan bahwa tingkatpemberianupah yang tinggi bukan berarti akan mendapat kepuasan kerja yang baik,tetapipekerjaan yang memang dapat memuaskan pekerja dapat dipengaruhi pulaolehadanya lingkungan perusahaan dan juga iklim kerja di tempat kerja tersebut.1.5 Manfaat Penelitian Kami berharap dengan adanya penelitian ilmiah ini akan bermanfa‟at bagipara karyawan pada khususnya dan juga bagi pihak perusahaan sebagai pembuatkebijakan, untuk lebih optimal lagi dalam implementasi kerja lembur (overtime)tersebut sekaligus juga tetap memperhatikan aspek humaniora dari karyawan sebagaisubjek (pelaku) kerja lembur, sehingga pada akhirnya sinergi antara satu sama lainakan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. 3
  8. 8. BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Landasan Teori Sesuai dengan KEP. 102/MEN/VI/2004 pasal 1, waktu kerja lembur adalahwaktu kerja yang melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu)minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 8 (delapan) jam sehari,dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) harikerja dalam 1 (satu)minggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmiyang ditetapkan Pemerintah.Jadi pada perusahaan yang menerapkan 5 hari kerja,maka waktu kerja yang seharusnya berlangsung setiap harinya adalah 8 jam. Tanpaditentukan apakah jam kerja akan dimulai pada jam 7 pagi, 8 atau 9 pagi. Hanyaditentukan waktu kerja berlangsung selama 8 jam. Apabila karyawan bekerja lebihdari 8 jam, maka ia berhak mendapatkan upah kerja lembur. Waktu kerja lembur punhanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empatbelas) jam dalam 1 (satu) minggu. Namun hal ini tidak termasuk kerja lembur yangdilakukan pada waktu istirahat mingguan atau hari libur resmi. Seorang karyawan dapat melakukan kerja lembur dengan maksimal 14 jamdalam satu minggu (terhitung Senin hingga Jumat). Lembur pada akhir minggu ataupada hari libur resmi memilik perhitungannya sendiri. Beberapa perusahaan kadangmempekerjakan karyawannya lebih dari 14 jam lembur namun hanya membayarkanupah lembur untuk 14 jam saja. Hal ini jelas tidak sesuai dengan peraturan yangberlaku.Namun tidak semua karyawan yang lembur harus mendapatkan upah lembur.Dalam pasal 4 dikatakan bahwa mereka yang memiliki tanggung jawab sebagaipemikir, perencana, pelaksana dan pengendali jalannya perusahaan, waktu kerjanyatidak dapat dibatasi menurut waktu kerja yang ditetapkan perusahaan. 4
  9. 9. Idealnya lembur dilaksanakan berdasarkan permintaan dari pengusaha danpersetujuan tertulis dari karyawan. Lembur tidak dapat dilakukan hanya berdasarkankeinginan satu pihak. Terlalu sering lembur bukan berarti Anda akan dianggapkaryawan yang loyal. Justru Anda bisa dicap lamban dalam menyelesaikan pekerjaan.Dan tidak mampu bekerja tepat waktu (on time).2.2 Mekanisme Kerja Lembur Pasal 78 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 dan Pasal3Kepmenakertrans No. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan UpahKerjaLembur menyatakan secara tegas bahwa "Waktu Kerja Lembur hanya dapatdilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jamdalam 1 (satu) minggu". Meskipun Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 telah secara tegasmembatasiwaktu kerja lembur seperti tersebut diatas, tetapi karenamempertimbangkankepentingan perusahaan dan dunia usaha, ketentuan undang-undang tersebut olehKeputusan Menakertrans No. 102/MEN/VI/2004 agak sedikitdianulir seperti diatur dalamPasal 3 ayat (2) yang menyatakan bahwa "Ketentuanwaktu kerja lembur seperti tersebut diatas termasuk kerja lembur yang dilakukanpada waktu istirahat mengguan atau harian resmi". Ketentuan Keputusan Menakertrans, hendaknya jangan dipandang darisudutketentuan tersebut bertentangan dengan peraturan perusahaan yang lebih tinggiyaituUndang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tetapi sebaiknya harus dipandang dariadanyakebutuhan dunia usaha yang memerlukan kerja lembur lebih dari 40 (empatpuluh) jamdalam seminggu yang oleh Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tidakdiakomodir. 5
  10. 10. Disamping itu ketentuan Keputusan Menakertrans mengenai kerja lemburpadahari istirahat mingguan dan libur resmi tidak melanggar kepentingan dan hakpekerja,karena untuk melakukan kerja lembur harus atas persetujuan daripekerja/buruh yangbersangkutan, sehingga pekerja tidak dapat dipaksa untukmelakukan kerja lamburDengan adanya ketentuan waktu kerja lembur pada hariistirahat mingguan dan harilibur resmi, maka dimungkinkan waktu kerja lembur lebihdari 40 (empat puluh) jamdalam seminggu.C. Kewajiban Perusahaan  Membuat daftar pelaksanaan kerja lembur yang memuat nama pekerja/buruh yangbekerja lembur dan lamanya waktu kerja lembur.  Membayar upah lembur.  Memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya. Waktu istirahat ini harus mengacupada ketentuan Pasal 79 ayat (2) huruf a Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 yangmenetapkan bahwa "Istirahat antara jam kerja, sekurang- kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tidak termasukjam kerja".  Memberikan makan dan minumnya sekurang-kurangnya 1.400 (seribu empat ratus)kalori apabila kerja lembur selama 3 (tiga) jam atau lebih. Pemberitahuan makanantidak boleh diganti dengan uang, hal ini dimaksudkan agar kesehatan ekerja dapat tetapterpelihara. 6
  11. 11. BAB III PEMBAHASAN3.1 Definisi Kerja Lembur (overtime) Kerja lembur adalah pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan, atas dasarperintah atasan, yang melebihi jam kerja biasa pada hari-hari kerja, atau pekerjaanyang dilakukan pada hari istirahat mingguan karyawan atau hari libur resmi.Prinsipkerja lembur pada dasatnya bersifat sukarela, kecuali dalam kondisi tertentu pekerjaanharus segera diselesaikan untuk kepentingan perusahaan. Menurut Thomas (2002), Pengertian kerja lembur adalah pekerjaan tambahanyang dilakukan di luar jam kerja yang melebihi 40 jam kerja per minggu atau kerjayang dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak mungkin diselesaikandalam hari kerja normal. Menurut Donal S. Barrie, Boyd C. Paulson, et al. (1995), pengertian kerjalembur adalah jadwal kerja yang direncanakan merujuk pada situasi dimana operasiitu telah dijadwalkan secara teratur untuk melampaui hari yang terdiri dari 8 jam yangnormal. 40 jam seminggu. Di Indonesia, ketentuan kerja lembur diatur oleh Menteri Tenaga Kerjadengan dikeluarkannya SK Menteri Tenaga Kerja No. 580/M/BM/BK/1992 pasal 2dan 3, yang menyebutkan bahwa kerja lembur merupakan waktu dimana seorangpekerja bekerja melebihi dari jadwal waktu yang berlaku, yaitu 7 jam sehari dan 40jam seminggu.3.2 Formula Upah Lembur (overtime) Perhitungan jam kerja lembur dan tarif upah lembur mengacu pada PeraturanMenteri Tenaga Kerja No. KEP-72/MEN/1984, dengan rumusan: 7
  12. 12. 1. Tarif upah lembur: 1/173 x Gaji Pokok2. Perhitungan lembur dilakukan pada hari kerja biasa: a. Untuk jam pertama adalah 1,5 kali TUL (Tunjangan Upah Lembur). b. Untuk jam-jam berikutnya adalah sebesar 2 kali TUL. c. Lebih dari jam 19.30 WIB akan mendapatkan 1 kali tunjangan makan. d. Lebih dari jam 22.30 WIB akan mendapatkan 1 kali tunjangan transport.3. Perhitungan lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan atau hari raya resmi: a. Untuk setiap jam dalam batas waktu 7 (tujuh) jam pertama adalah sebesar dua kali TUL. b. Untuk jam ke 8 (delapan) sebesar 3 kali TUL. c. Untuk jam ke 9 (sembilan) dan seterusnya adalah sebesar empat kali TUL.4. Pekerjaan lembur kurang dari ½ (setengah) jam sehari tidak diperhitungkan dengan upah lembur.5. Ketentuan upah lembur hanya berlaku untuk karyawan dengan golongan I-III atau dinyatakan lain dalam perjanjian kerja.6. Untuk karyawan shift, bilamana hari tugasnya jatuh pada hari libur resmi (raya), maka jam kerja pada hari tersebut dihitung sebagai kerja lembur, dan perhitungan upah lemburnya mempergunakan perhitungan jam lembur hari raya. Berkaitan dengan hari raya, ketentuannya adalah sebagai berikut:1. Hari Kerja Biasa 8
  13. 13. Bila pekerjaan lembur dilakukan melewati jam 19.30 WIB, bila tidakdisediakan makan oleh Perusahaan akan diberikan tunjangan makan yang besarnyaditetapkan oleh Perusahaan. 2. Hari Libur / Raya Karyawan yang melakukan pekerjaan lembur pada hari istirahat minguan atauhari libur resm i/hari raya akan mendapat tunjangan transport sesuai dengan ketentuanhari kerja biasa ditambah tunjangan makan jika lembur yang dijalani telah melewati 3(tiga) jam kerja. Tunjangan transport tidak berlaku bagi karyawan yang mendapat fasilitaskendaraan, sebagai kebijakan Perusahaan dapat mempertimbangkan mengganti biayatransport (mis: tol, uang parkir dll) sesuai dengan biaya sebenarnya yang dikeluarkanoleh karyawan untuk keperluan lembur tersebut. Bila pekerjaan lembur dilakukan melewati jam 19.30 WIB, bila tidakdisediakan makan oleh Perusahaan akan mendapat tunjangan makan sesuai denganyang telah ditetapkan oleh Perusahaan. Banyak orang yang tidak mengetahui cara menghitung Upah Lembur (UangLembur/Over Time). Upah Lembur ini mengacu pada Keputusan Menteri No.Kep.102/MEN/VI/2004, Pasal 10 ayat (1) dan (2) sebagai berikut:Contoh kasus #1 Pasal 10 ayat (1) Kita mulai membahas Pasal 10 ayat (1): Dalam hal upah terdiri dari upah po-kok dan tunjangan tetap maka dasar perhitungan upah lembur adalah 100% (seratusperseratus) dari upah. Makna pasal 10 ayat (1) sangat jelas, bahwa didalamkomponen upahnya hanya terdiri dari gaji pokok dan tunjangan tetap.Seperti apakah upah pokok dan tunjangan tetap? 9
  14. 14. Misalnya pengusaha menetapkan upah sebesar Rp 1.500.000 yang terdiri darikomponen sebagai berikut:- Gaji pokok Rp 1.200.000- Tunjangan Jabatan Rp 300.000 Total Upah Rp 1.500.000 Diatas telah kita ketemukan total upah yang komponennya terdiri darigaji/upah pokok dan tunjangan tetap sebesar Rp 1.500.000.Bagaimana perhitungannya? Tarif upah sejam adalah Rp 1.500.000 x 1/173 = Rp 8.670,51Contoh kasus #2 Pasal 10 ayat (2) Sedangkan ayat (2) menyatakan: Dalam hal upah terdiri dari upah pokok, tun-jangan tetap dan tunjangan tidak tetap, apabilah upah pokok tambah tunjangan tetaplebih kecil 75% (tujuh puluh lima perseratus) keseluruhan upah, maka dasarperhitungan upah lembur 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari keseluruhan upah. Seperti apakah upah pokok dan „tunjangan tetap‟ ditambah „tidak tetap‟? 10
  15. 15. Kalau kita perhatikan rasio dari upah (gaji pokok dan tunjangan tetap) sebesar79% (seperti tabel 10.2), maka acuan perkalian tidak bisa menggunakan rumus 75%dari total upah keseluruhan.Mengapa? Kalau 75% dari total upah keseluruhan berarti Rp 1.900.000 x 75% = Rp1.425.000. Sedangkan nilai komponen upah saja sebesar Rp 1.500.000. Artinya yangdigunakan adalah angka Rp 1.500.000 yaitu angka yang tertinggi dan lebih baik bagikepentingan karyawan, dengan perhitungan Rp 1.500.000 x 1/173 = Rp 8.670,51 per-jamnya.Apakah boleh boleh dari nilai upah keseluruhan? Prinsipnya, bila nilainya lebih baik dari ketentuan yang dimaksud Kepmensangat dibenarkan.Bagaimana perhitungannya? Jika menggunakan dari keseluruhan akan lebih baik, dan tarif sejamnya adalahRp 1.900.000 x 1/173 = Rp 10.983,-3.3 Dampak Penerapan Sistem Kerja Lembur Terhadap Karyawan Seringkali kita menemukan fenomena, dan ini sangat mudah dijumpai di KotaBatam khususnya, dimana orang/karyawan dalam perusahaan bekerja sangat kerasdiluar kelaziman bahkan sampai “pontang panting” tidak karuan. Mereka sudah tidakperduli lagi dengan waktu. Berangkat kerja pagi-pagi, kembali waktu malam. Catatanlembur, untuk karyawan perusahaan misalnya, sudah tidak bisa dihitung lagi. Bahkantidak jarang, mereka juga terpaksa harus masuk disaat hari-hari besar. Waktu menjadiseolah-olah sangat sempit sementara beban tugas terus semakin menumpuk danpermasalahan tidak selesai selesai. Begitu selesai permasalahan yang satu, muncul 11
  16. 16. permasalahan yang lain. Begitu selesai target yang satu, muncul target yang lainseolah tanpa berkesudahan. Berikut Dampak dari implementasi sistem kerja lembur (overtime) yangdirangkum dari hasil interview dan jajak pendapat terhadap beberapa karyawan(secara acak) yang bekerja pada perusahaan yang berbeda di Kota Batam, yakni:A. Dampak positif Kata lembur memang sudah tidak asing lagi bagi para pekerja/karyawanperusahaan, termasuk di Kota Batam.. Beberapa karyawan sangat suka mendapatjatah lembur karena mereka bisa mencari penghasilan tambahan. Bahkan sekarang inieksistensi kerja lembur menjadi semacam komponen yang sangat dibutuhkan olehkaryawan untuk menambah jumlah penghasilan. Dengan lembur, maka ada baiknyakita bisa mendapatkan banyak sekali keuntungan. Selain uang yang bertambah, kitajuga bisa mendapatkan nilai positif dari atasan. Ini penting bagi anda dan jenjang karirtentunya.Tetapi tidak bisa dipungkiri juga kalau lembur itu adalah sesuatu hal yangsulit untuk dikerjakan. Banyak kendala yang harus kita hadapi. Inilah lembur, antarasuka dan tidak yang harus kita lalui ketika menjalankan lembur.Lembur memang bisasangat menarik karena kita tidak perlu menghabiskan waktu di rumah hanya untukbermalas-malasan. Dampak positif dari sistem kerja lembur yang dirasakan karyawan, yakni:  Mendapatkan pemasukan tambahan Dengan mengikuti lembur, maka kita bisa mendapatkan pemasukan tambahan. Ini adalah hal utama dalam lembur. Jadi anda bisa menikmatinya nanti saat menerima gaji anda.  Mendapatkan nilai lebih dari atasan 12
  17. 17. Dengan lembur, pastikan atasan anda tahu anda lembur. Hal ini sangat berguna karena atasan pasti suka jika anda karyawan atau bawahannya bekerja lembur apalagi hasilnya sama produktifnya.  Hal ini bisa memberikan anda nilai plus dan ini bagus bagi karir anda. Dengan kerja lembur, maka anda akan mendapatkan pemasukan berlebih.B. Dampak Negatif Bekerja lembur memang menghasilkan banyak keuntungan, dari pekerjaanlebih efisien, bisa mendukung percepatan karier, hingga tambahan penghasilan. Tapitidak untuk aspek lain si pekerja/karyawan. Dari hasil penelitian juga ditemukan bahwa dari segi waktu, terdapatpembagian waktu yang kurang proporsional. Dimana dengan kerja lembur (overtime),secara otomatis porsi waktu terhadap pekerjaan di perusahaan lebih banyak dari padaporsi waktu untuk pemenuhan kebutuhan lainnya. Selain itu ada sisi psikologis yang perlu dicermati. Implikasinya sangatkompleks dari mulai masalah pribadi, keluarga sampai pada masalah sosial. Dari sisipribadi misalnya, faktor gangguan kesehatan seperti stress, darah tinggi bahkan strokeadalah hal yang kerap dijumpai akibat dari pola hidup yang “keluar” dari jalurfitrahnya disamping pola makan yang buruk tentunya. Umur muda bukan lagi jaminanuntuk terhindar dari resiko penyakit-penyakit tersebut. Dari sisi keluarga, waktu untuk berkumpul dengan istri dan anak-anak menjadidikorbankan. Hubungan antar anggota keluarga menjadi kurang solid dan harmonis.Disamping itu kepedulian terhadap perkembangan anak-anak juga seolah-olahterabaikan. Bahkan tidak jarang, banyak keluarga yang hancur berantakan akibatmasalah tersebut. 13
  18. 18. Secara sosial, mereka juga seringkali dipandang sebagai anggota masyarakatyang tidak mau bersosialisasi di lingkungannya. Terlalu sibuk untuk urusan sendirimenyebabkan kehilangan waktu untuk kumpul-kumpul atau bahkan untuk sekedarmenegur dan mengucapkan ucapan selamat kepada tetangganya yang baru sajamendapat suka cita. Atau sekedar bertakziyah kepada sahabat dan kerabat yangberduka cita. Sikap hidup yang tidak ideal tersebut muncul karena kita seringkali memilikipersepsi yang tidak proporsional terhadap lingkungan dimana kita berada, kepadaatasan kita, kepada kantor tempat kita bekerja, atau bahkan kepada klien atau parterbisnis yang seharusnya dalam kendali kita. Kontrol kita serahkan sepenuhnya kepadapihak luar. Atau bisa dikatakan kita seringkali hanya menjadi sekedar objek bukannyasebagai subjek. Kita seringkali bukannya mengelola tapi dikelola, bukannya mengaturtapi diatur, bukannya memanage tapi dimanage. “Kalau bukan dari mereka, rezekisaya dari mana?” mereka berkilah. Karir adalah segala-galanya seolah-olah merekamerasa tidak akan mencapai sukses apabila tidak melakukan hal seperti tersebutdiatas.Disini yang disoroti adalah sikap kita terhadap lingkungan kita dan target-targetitu. Selama kita masih bisa berjalan diatas fitrah kemanusiaan kita baik sebagaiindividu, keluarga dan masyarakat serta bisa menikmati target dan beban kerja yangkita miliki maka itu bukanlah menjadi persoalan. Menyusun skala prioritas adalahjawabannya. Misalnya, apa yang akan kita katakan apabila ada rekan bisnis perusahaan kitameminta bertemu diluar jam perusahaan atau diluar hari kerja? Apakah akan kitasetujui atau kita tolak. Tentunya ini sangat situasional karena tergantung darikepentingan dan tingkat urgensinya. Apabila merupakan pertemuan biasa-biasa saja,bisakah kita mengatakan “Maaf, saya tidak bisa meeting pada jam tersebut, 14
  19. 19. bagaimana kalau kita re-schedule ke pagi/siang saja dihari yang sama? Atau kitaterpaksa mengatakan “Oke pak” padahal kita sudah janji untuk mengajari anak-anakdirumah karena sebentar lagi mereka menghadapi ujian/test di sekolahnya. Sekali lagi,ini sangat situasional sehingga kitalah yang bisa menilainya.Bekerja lembur juga akansangat berpengaruh terhadap kondisikejiwaan/mental dan kesehatan karyawan/pekerjaperusahaan. Studi yang dipimpin Marianna Virtanen dari Finnish Institute of OccupationalHealth dan University College London ini melibatkan sekitar 2.000 pegawai sipil usiaparuh baya di Inggris. Studi menemukan hubungan kuat antara kerja lembur dan depresi. Korelasi inimuncul tanpa mengabaikan sejumlah faktor pemicu depresi seperti sosial demografi,gaya hidup, dan aktivitas lain yang memengaruhi tingkat stres. "Meski kerja lembur kadang-kadang memberikan manfaat bagi individu danmasyarakat, penting bagi kita untuk menyadari bahwa jam kerja yang berlebihanterkait dengan peningkatan risiko depresi berat," kata Dr Virtanen, yangmemublikasikan studinya di jurnal online PLoS ONE, seperti dikutip Times of India. Tuntutan lembur dan menyelesaikan beban pekerjaan di luar jam kerjaseringkali membuat pekerja tertekan. Jam kerja yang berlebih jelas akan menyitawaktu berkumpul bersama keluarga dan istirahat. Ada yang memilih berhenti kerjakarena jam kerja tak sesuai, tapi banyak pula yang bertahan karena alasan ekonomi. Berdasarkan riset terbaru di Inggris, orang yang sering bekerja lembur denganmenghabiskan waktu 10 hingga 11 jam sehari berisiko lebih tinggi mengalami sakitjantung. Kesimpulan itu adalah hasil analisa studi terhadap 6.000 pekerja sipil diInggris yang dipublikasikan dalam European Heart Journal edisi online. Dalamlaporan itu disebutkan, mereka yang menambah waktu tiga hingga empat jam sehari 15
  20. 20. untuk bekerja lembur berisiko 60 persen lebih tinggi menderita sakit jantung. Angkaini muncul setelah memperhitungkan berbagai risiko penyakit, termasuk kebiasaanmerokok. Dari data studi terungkap, ada 369 kasus kematian responden akibatpenyakit jantung. Mereka meninggal akibat mengalami serangan jantung ataupunangina pectoris. Jumlah waktu yang dihabiskan saat lembur pun memiliki kaitan eratdalam banyak kasus.Bekerja terlalu keras membuat jantung seperti dawai gitar yangditarik dengan keras. Berdasarkan penelitian Virtanen, memang ada sejumlah halyang menjelaskan hubungan ini. 1. Pekerja yang sering bekerja lembur umumnya adalah mereka dengan kepribadian tipe A. Jenis pribadi ini cenderung agresif, kompetitif, gampang tegang, sangat peduli akan waktu, dan umumnya gampang naik darah. 2. Stres psikologis yang muncul bersamaan dengan depresi dan kecemasan mungkin akibat tidak cukup tidur atau tak cukup istirahat sebelum pergi tidur. 3. Ada tekanan darah tinggi yang berhubungan dengan stres kerja yang tersembunyi. Masalah ini tak muncul saat checkup medis. 4. Pekerja yang sering bekerja lembur sering kali tetap bekerja ketika sakit, tak mempedulikan gejala masalah kesehatan, dan tidak pergi dokter untuk mengobati penyakitnya. 5. Pengalaman stres yang kronis (sering kali berhubungan dengan lamanya waktu bekerja) bisa berdampak pada proses metabolisme dalam tubuh. Sedangkan menurut sebuah penelitian, risiko menderita penyakit jantungiskemik pada para pekerja wanita meningkat akibat adanya tekanan pekerjaan yangterlalu berat. Penyakit jantung iskemik sering disebut sebagai „silent kiler‟ . banyak diantara penderita tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini karena merekatidak mengalami gejala. 16
  21. 21. Studi penelitian terdahulu telah menyebutkan adanya keterkaitan antara stresdi tempat kerja dan risiko penyakit jantung. Akan tetapi kebanyakan studi ini hanyaberfokus pada kalangan pria. Sementara riset lain dilakukan di New York terhadap 2.200 pekerja pria danwanita. Mereka disurvei mengenai pekerjaan dan efeknya terhadap kestabilankejiwaan. Rata-rata jam kerja dalam seminggu adalah 40 jam. Riset tersebutmembuktikan, para pekerja yang memiliki jam kerja lebih lama dari standar biasanyamengalami masalah dalam kejiwaannya. Tak hanya berpengaruh pada menurunnyakinerja, mental para pekerja pun bisa menjadi taruhannya. Seperti yang dikutip darireuters, Dr. Marianna Virtanen, sang peneliti, mengungkap bahwa waktu kerja yangpanjang berpengaruh pada fungsi kognitif seseorang. Saat hal itu berlangsung lama, maka akan berpengaruh pada kesehatan jiwapara pekerja tersebut. Para pekerja yang memiliki jam kerja 55 jam mengalamipenurunan kestabilan yang parah dalam lima tahun. Para ahli menilai, temuan inimembawa sebuah pesan akan pentingnya keseimbangan antara hidup dan pekerjaanbagi kesehatan. Agen Penelitian Kanker Internasional (IARC) baru-baru ini memutuskanuntuk memasukkan poin mengenai bekerja pada malam hari ke dalam daftarpekerjaan beresiko kanker. Dalam dafar tersebut juga termasuk sinar ultraviolet,karbon hitam, mesin pembuangan uap, zat-zat pewarna berbahaya, dan sebagainya. Ilmuwan Jepang dari University of Occupational and Environmental Healthmengadakan sebuah eksperimen. Mereka mengamati 14.000 orang selama 10 tahun.Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa karyawan yang bekerja dengan jam kerjafleksibel lebih banyak menderita kanker prostat dibanding mereka yang bekerjadengan jam kerja standar. 17
  22. 22. Pakar Denmark dari Institute of Cancer Epidemiology memeriksa 7.000wanita berusia 30 hingga 54 tahun. Diketahui bahwa para wanita yang bekerjasetidaknya selama enam bulan lamanya pada malam hari memiliki peluang lebihtinggi mengidap tumor payudara. Richard Stevens, seorang professor dari Connecticut University Health Centermerupakan ilmuwan pertama yang mengamati interkoneksi antara bekerja malam haridan kanker payudara pada tahun 1987. Ilmuwan menyelidiki alasan merebaknya kanker payudara pada tahun 1930-an, di mana saat itu banyak perusahaan yang mulai menetapkan 24 jam kerja penuhsehari dengan mempekerjakan wanita sebagai buruh siang dan malam. Walaupun demikian, fenomena yang terjadi sekarang ini, posisi kerja lembur(overtime) sudah bergeser menjadi suatu „kebutuhan‟ (urgent) bagi para karyawanuntuk menambah nominal pendapatan. Karena pada kenyataanya, seiring dengankenaikan harga komponen kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari sehinggaterjadi inflasi, ternyata tidak diiimbangi dengan kenaikan upah/gaji pokok yangsignifikan. Istilahnya kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) yang terjadi tidaksebanding dengan meroketnya harga-harga kebutuhan pokok di pasaran. Sehinggaseandainya tidak ada tambahan pemasukan dari kerja lembur (overtime) dan hanyamengandalkan dari gaji pokok saja tidak bisa cukup. Dan inilah fakta yang terjadi dilapangan sekarang ini. (Berdasarkan testimoni/wawancara/jajak pendapat). 18
  23. 23. BAB III PENUTUP3.1 Kesimpulan Pada prinsipnya, kerja lembur (overtime) merupakan salah satu kebijakanyang diterapkan oleh perusahaan terhadap karyawan untuk memenuhi target produksiyang telah ditetapkan bersama pelanggan. Karyawan berperan sebagai eksekutor yang mengimplementasikan kebijakantersebut (sinergi).Tentu saja hal ini akan sangat berdampak/berpengaruh bagikehidupan karyawan, baik secara kejiwaan/psikis, finansial, sosial/lingkungan,kesehatan dan keberlangsungan hidup di masa yang akan datang.3.2 Saran Agar tercipta kondusifitas kerja bagi karyawan antara tuntutan untukmemenuhi tercukupinya kebutuhan hidup dan menunaikan kewajiban sebagaikaryawan perusahaan (saling menguntungkan dan melengkapi), maka perludiperhatikan beberapa hal:  Peran pihak manajemen perusahaan untuk lebih memahami dan memperhatikan aspek humaniora karyawan agar implementasi kerja lembur tersebut berjalan dengan baik dan relevan dengan Peraturan Kerja Bersama (PKB) yang telah disepakati.  Pentingnya untuk mengembangkan paradigma karyawan tentang kerja lembur (overtime) yang merupakan nilai tambah (added value) bagi pendapatan pokok dengan tetap memperhatikan berbagai hal tentang dampak/efek dari kerja lembur sebagaimana yang telah dibahas di atas (proporsional). 19
  24. 24. DAFTAR PUSTAKAKepmenakertrans No. KEP.102/MEN/IV/2004 Tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur.http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl3235/keputusan-menteri-atas-waktu- dan-upah-kerja-lembur-http://dedylondong.blogspot.com/2012/04/memahami-perhitungan-upah-lembur.html.http://trick-tipsonline.blogspot.com/2011/04/kerja-lembur-bisa-tingkatkan-risiko.htmlhttp://hrd.indika.net.id/sop/KerjaLembur.htm. 20

×