• Save
BUKU :  INDONESIA EMERGENSI - 3 SUMBU MEGA ANCAMAN (EARLY WARNING THREATENING of 21 st CENTURY) Materi 5
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

BUKU : INDONESIA EMERGENSI - 3 SUMBU MEGA ANCAMAN (EARLY WARNING THREATENING of 21 st CENTURY) Materi 5

on

  • 763 views

Buku ini sangat penting dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari kalangan bawah sampai atas, terutama pemerintah dan berbagai lembaga lainnya yang memiliki tanggung jawab serta kepedulian ...

Buku ini sangat penting dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari kalangan bawah sampai atas, terutama pemerintah dan berbagai lembaga lainnya yang memiliki tanggung jawab serta kepedulian yang tinggi terhadap prediksi kuat dengan terjadinya situasi “Indonesia Emergensi”, sehingga sangat dibutuhkan adanya berbagai persiapan awal dan antisipasi dini, yang bertujuan untuk menyelematkan negara dan melindungi seluruh rakyat Indonesia.
Melalui publikasi penerbitan buku ini lapisan masyarakat Indonesia dapat menikmati berbagai informasi menarik, hangat dan crusial, oleh karenanya penting untuk disimak dan ikuti terus isi dari tulisan ini. Pembaca akan menemukan jawaban kenapa dan apa sesunguhnya yang menyebabkan “Indonesia Emergensi sebagai akibat 3 Sumbu Mega Ancaman dan menjadikan Early Warning Ancaman pada Abad 21. Dengan menyimak isi tulisan ini dan menghayati maknanya, dengan sendirinya akan tumbuh semangat kebangsaan dan bela negara sekaligus akan terwujud persatuan dan kesatuan Indonesia.
Selain itu juga pembaca akan mendapatkan berbagai hal yang bermanfaat, terutama untuk meningkatkan kewaspadaan, antisifatif dan antisipasi dini terhadap kemungkinan ancaman bahaya serta semangat untuk menyelamatkan Indonesia. Demikian juga pembaca akan memperoleh berbagai manfaat dan keuntungan lain yang cukup berguna tentang berbagai hal, seperti strategik pertahanan negara-negara maju dan kawasan Asean; konflik kawasan yang semakin memanas, millenium tatanan dan perubahan; persaingan dan perlombaan persenjataan; konstelasi letak dan posisi geografis Indonesia yang mengakibatkan tingkat kerawanan dan ancaman yang tinggi, akan tetapi pada sisi lain memberikan keuntungan terhadap Indonesia; serta seberapa besar sumber kekayaan Indonesia mengakibatkan Indonesia menjadi incaran negara-negara maju.

Statistics

Views

Total Views
763
Views on SlideShare
762
Embed Views
1

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

1 Embed 1

https://twitter.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

CC Attribution License

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

BUKU : INDONESIA EMERGENSI - 3 SUMBU MEGA ANCAMAN (EARLY WARNING THREATENING of 21 st CENTURY) Materi 5 Document Transcript

  • 1. 1 INDONESIA EMERGENSI - 3 SUMBU MEGA ANCAMAN ( EARLY WARNING THREATEN OF 21 st CENTURY ) O leh : Mayor Ir. Muhammad B. Pane, MM Lanjutan : RANGKUMAN BUKU MATERI V ( Edisi 2012 )
  • 2. 2 1. Manajemen Ketahanan Sosial (52) Budaya. Pada pertemuan ASEAN sangat diharapkan untuk melahirkan kesepakatan bersama yang disebut dengan “Deklarasi Mengawal Perdamaian dan Mempertahankan serta Melestarikan Nilai Kerukunan melalui Kerjasama Kebuyaaan antar negara- negara ASEAN”. Latar belakang konsep pemikiran ini bersumber dari dua hal utama yaitu : bahwa bangsa Asia Tenggara terlahir dari satu rumpun keturunan yang memiliki sejarah kebudayaan yang tinggi mulai sejak dulu. Berbagai aneka ragam kebudayaan bangsa Asia Tenggara yang memiliki nilai kekuatan luhur dan kekuatan mistik yang tinggi sudah terbukti dan diyakini dapat mempersatukan berbagai suku, ras dan agama antar negara-negara ASEAN. Sejalan dengan pemikiran ini, Salim Said sebagai pengamat militer pada seminar nasional bertema “Pertahanan Nasioanal dari Perspektif Sosial Budaya” yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa sosial budaya penting dalam menyiapkan pertahanan nasional. Bahkan dengan sosial budaya masyarakat dapat berperan aktif dalam pertahanan nasional. • Kawasan ASEAN memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah sebagai pemicu terjadinya konflik yang meluas (The Asean region : Great Wealth and Great Strife) Berbagai upaya dilakukan negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Pacific secara bersama-sama untuk menciptakan “Peace and Global Transformation”. Upaya tersebut diantaranya adalah untuk menghindari adanya konflik (2) terhadap penguasaan sumber daya alam dengan interlinkage-nya terhadap berbagai aspek seperti krisis ekonomi, pembangunan, sosial budaya dan politik. Negara-negara di kawasan ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations) adalah penghasil sumber daya alam yang terbesar dunia yang memberikan pengaruh yang cukup tinggi terhadap persentase prekonomian dunia, seperti : Pilipina, Brunei, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura menghasilkan antara lain : 82 % karet, 70 % kopra dan kelapa, 70 % timah, 56 % minyak sawit, dan 50 % kayu keras. Sedangkan Indonesia penghasil terbesar persediaan ikan dunia, dan sebagai urutan kedua adalah Thailand serta menyusul Pilipina sebagai eksportir ikan tuna terbesar ke pasar AS. Disamping itu Thailand juga salah satu eksportir beras terbesar di dunia, selain itu Pilipina juga membangun perkebunan nanas yang paling besar di dunia. Sebagai dampaknya timbul daya tarik yang sangat besar terhadap kekayaan sumber daya alam tersebut dan mengakibatkan timbulnya berbagai persoalan pada proses pengelolaannya yang pada akhirnya menimbulkan konflik terhadap produktifitas secara internasional. Termasuk timbulnya disposisi sumber daya alam yang menjadikan issu terhadap situasi nasional dan survival manusia, pada sisi lain timbulnya perselisihan paham dan perbedaan di dalam hal pendekatan, prioritas, dan filosofi. Konflik lain adalah batas wilayah yurisdiksi nasional antara negara-negara Asean terhadap pengelolaan bahan baku yang bernilai tinggi seperti penambangan minyak, gas bumi dan mineral lainnya seperti yang sudah dijelaskan pada halaman sebelumnya. Terdapat 6 Faktor Penyebab Utama timbulnya Konflik Internal di Kawasan Asean. Konflik internal yang tinggi ini bersumber dari kekayaan sumber daya alam dan proses ekonominya, yaitu : 50 (52) The Ethical and Social Implications of Nanotechnology (2) Conflict over Natural Resources
  • 3. 3 1. Present and Future Conflict over Marine Resources Konstelasi letak dan posisi geografis negara-negara di kawasan Asean yang cukup strategi terhadap penguasaan dan pengelolaan kekayaan sumber daya alam menimbulkan dampak yang meluas terhadap permasalahan yurisdiksi nasional masing-masin negara, dimana konstelasi dan kontijensi ini akan mendorong terjadinya konflik yang meluas pada beberapa spot area dengan tingkat ekspektasi yang sangat tinggi, seperti illustrasi Gambar 23 di bawah. Kondisi ini menimbulkan keiinginan yang tinggi dari masing-masing negara untuk memperluas wilayah yurisdiksinya. Kondisi geografis seperti ini juga akan mengakibatkan timbulnya “Comparative Advantage and Disadvantage” terhadap negara-negara di kawasan Asean dan di kawasan lainnya, dimana termasuk kondisi ini akan tetap menimbulkan konflik baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Dengan pemikiran dan asumsi ini dimana Asean mestinya menciptakan suatu program yang fokus untuk menjadikan kondisi ini menjadi sesuatu hal yang dapat menciptakan perdamaian dan keuntungan antar negara- negara di kawasan Asean. 2. Spots Kekayaan Indonesia dari Deposit Minyak Bumi dan Gas Alam Wilayah “Extended Jurisdiction (47) of Arafura Sea” diperkirakan memiliki kekayaan sebesar US$ 67.0 billion, dan “Over - Lapping Claim Areas” mencapai US$ 1.500 billion. Jika dibandingkan dengan Malaysia, dimana extended jurisdiction-nya hanya sebesar US$ 21.6 billion, demikian juga over-lapping claim Areanya hanya sebesar US$ 2.5 billion di wilayah “Dangerous Ground (DG)”. Sehingga kondisi ini akan menimbulkan ancaman terbesar terhadap Indonesia di kawasan Asean. Dan sebaliknya di sisi lain kekayaan ini akan menciptakan Indonesia menjadi negara super power di kawasan Asean apabila dengan integritas kekuatan pertahanan Indonesia terutama pertahanan lautnya mampu menjaga dan mempertahankan wilayah ini, serta melaksanakan pengelolaannya secara fokus dan serius, sehingga perusahaan raksasa dunia tidak segan-segan untuk melakukan kerja sama dengan Indonesia. Dengan kata lain bahwa pembangunan kekuatan pertahanan laut dan program pembangunannya mutlak dilaksanakan oleh Indonesia. 3. Konflik kawasan Asean dalam perebutan kekayaan Minyak Bumi dan Gas Alam Kawasan negara-negara Asean sampai saat ini masih menghadapi permasalahan besar dengan adanya “Conflicts over Oil and Gas”. Bentuk konflik ini menimbulkan intensitas permasalahan yang cukup tinggi dan kompleks, sebab melibatkan beberapa perusahaan minyak dan gas terbesar dunia. Keinginan yang besar dari masing-masing negara untuk memperluas yurisdiksi baharinya adalah sebagai akibat adanya kekayaan mineral, sedimentary hidrokarbon dan gas alam yang sangat besar di kawasan ini. Upaya penguasaan ini semakin nyata, dimana masing-masing negara menciptakan blok aliansi kekuatan dan mengklaim sebagai wilayah yurisdiksi masing-masing negara, seperti Gambar 23 di di bawah. Berdasarkan hasil survey dan kerjasama internasional bahwa kawasan ini menyimpan kekayaan yang sangat besar terhadap oil dan gas alam. Diantaranya terdapat “peta kekayaan dari hydrocarbon-bearing areas with multiple claimants” (terdapat pada buku yang dikarang oleh penulis (28) seperti pada Gambar 13 di atas) yang meliputi wilayah : The Northern Andaman Sea 51 (47) Enforcement of Maritime Jurisdiction (28) C5ISR pd SSAT TNI AL
  • 4. 4 yaitu wilayah India dan Burma; The Eastern Gulf of Thailand termasuk wilayah Vietnam, Thailand, dan Kampuchea; The South-Western Gulf of Thailand termasuk wilayah Malaysia, Thailand, dan Vietnam; dan sampai ke wilayah Utara dan Barat. Nilai kekayaan sumber daya laut dari oil dan gas antara lain : lokasi offshore Brunei sampai ke wilayah Arafura Sea yang memiliki kekayaan sebesar US$2.65 trillion ditambah kekayaan oil dan gas sebesar US$15 trillion. Dan wilayah the Eastern Gulf of Thailand dengan kekayaan mencapai USS40 billion ditambah US$400 billion dari oil dan gas. Juga wilayah Natuna menyimpan kekayaan antara US$25 billion sampai dengan US$250 billion. 4. Konflik pada Area Overlap terhadap Kekayaan Sumber Daya Perikanan. Klaim terhadap yurisdiksi marine recources masing-masing negara Asean juga terjadi sebagai akibat adanya area overlap dengan potensi perikanan dan pelabuhan yang sangat besar, antara lain : pada kawasan “Dangerous Ground (DG)” seperti gambar di atas yang memiliki potensi kekayaan sebesar US$8.4 million/yr, Kawasan Miangas sebesar US$7.4 million/yr, dan Teluk Thailand bagian Timur sekitar US$7.3 million/yr. Wilayah yang sangat potensial terhadap pencurian ikan oleh kapal-kapal asing, diantaranya : wilayah Tenasserim pantai Myanmar, teluk Thailand, teluk Tonkin, dan selat Luzon. Dalam hal ini Indonesia menangkap sedikitnya 77 kapal nelayan asing antara tahun 1974 dan 1980, jika dibandingkan dengan data pencurian ikan saat ini di wilayah Indonesia diperkirakan mencapai empat kali lipat dari sebelumnya. 5. High Trouble Spots wilayah laut : Sulawesi, Natuna, Timor dan Eastern Gulf of Thailand Kawasan pulau Sipadan dan Ligitan yang secara geografis letak dan posisinya sangat strategi terhadap kedua negara Indonesia dan Malaysia, yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar. Dimana kawasan ini semula menjadi sumber konflik antar kedua negara, yang pada akhirnya dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki NKRI kedua pulau ini lepas dari pangkuan ibu pertiwi, dengan semangat “Hari Pahlawan 10 Nopember 2012 dan KTT Asean ke-18 serta ADMM working group” yang lalu, Indonesia lebih fokus kedepan dan tanpa tawar-menawar tetap mempertahankan wilayah kedaulatan NKRI. Menyusul beberapa waktu yang lalu terjadi konflik antar kedua negara di kawasan blok Ambalat dan Karang Unarang laut Sulawesi dan Kalimantan Timur, apakah hal serupa akan terjadi terhadap wilayah NKRI lainnya…..?. Konflik yang sama terhadap yurisdiksi marine resources juga terjadi di kawasan laut Timor, laut Natuna dan Eastern Gulf of Thailand yang mengandung deposit hidrokarbon yang sangat besar. Di kawasan Natuna, antara Indonesia dan Vietnam terjadi konflik dimasa lalu, dimana terdapat tumpang-tindih area. Untuk mencegah konflik tersebut Indonesia membangun kerja sama melalui sistem blok kontrak patungan dengan perusahaan Amerika (tiga perusahaan minyak Amerika terbesar, yaitu Amoseas, Teluk, dan Marathon), namun di wilayah ini masih rawan terhadap adanya konflik dari kapal patroli kedua negara. Fenomena dan faktor “an impressive array and defence exercises” memberikan peluang bargening yang menghasilkan kesepakatan dengan imbal baliknya Indonesia membeli persenjataan dari Amerika. Kebijakan politik dan diplomasi regional dan internasional seperti ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan pada KKT Asean dan ADMM working group beberapa waktu yang lalu, dalam rangka tetap menciptakan perdamaian dan keamanan di kawasan Asean. 52
  • 5. 5 6. Konflik ALKI sebagai akses lalulintas laut Internasional (Straits and Sea-Lane Access), termasuk Perspektif Gagasan dan Pemikiran Kondisi geografis Indonesia menjadikan ALKI memiliki nilai strategik, ekonomis dan diplomasi yang cukup tinggi serta memberikan peranan penting terhadap lalulintas laut internasional, namun pada sisi lain dapat menimbulkan tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap Indonesia dan juga dapat menciptakan konflik antara negara-negara di kawasan Asean dan kawasan lainnya. Oleh sebab itu pada peluang yang cukup baik Indonesia sebagai Ketua Asean dan terhadap hasil pelaksanaan KTT Asean serta sidang ke-5 ADMM beberapa waktu yang lalu, dapat menciptakan inovasi dan trobosan pemikiran kemudian mengajukannya dalam bentuk draft paper, dengan alternatif tema sbb : a. Indonesia Pusat Lalulintas Laut Internasional (IP LLI) b. Indonesia Pusat Keamanan Lalulintas Laut Internasional (IPK LLI) c. Indonesia Pusat Ekonomi dan Perdagangan Lintas Laut Internasional (IPEP LLI) d. Indonesia Pusat Pemeliharaan Kapal Lintas Laut Internasional (IPPK LLI) e. Indonesia Pusat Pengembangan dan Pembangunan Lalulintas Laut Internasional (IP3 LLI) Gambar 23 53
  • 6. 6 Untuk memberikan gambaran terhadap arti pentingnya ALKI dan juga dapat dijadikan dasar pemikiran dan pertimbangan didalam upaya untuk mewujudkan inovasi dan trobosan dalam bentuk alternatif draft paper seperti di atas ini, maka penulis menjelaskan beberapa bagian penting terkait dengan ALKI dan lalulintas laut internasional, seperti di bawah ini. Wilayah rawan konflik yang tinggi juga dapat terjadi pada zona yurisdiksi lalulintas pelayaran internasional masing-masing negara, seperti klaim yang terjadi antara Pilipina dan Indonesia. Demikian juga Zona konflik lalulintas laut lainnya, antara lain : bagian tenggara Laut Asia, Malacca-Singapore, Lombok, Makassar, Taiwan, Luzon (mencakup Bashi, Balintang, dan Babuyan), Ombai, Wetar, dan San Bernardino. Tingkat kerawanan yang cukup tinggi terjadinya konflik adalah pada lalulintas laut antara selat Sunda dan Torres, dimana jalur ini terdiri dari : melalui selat Malaka ke Singapore, dan melintasi lautan India menuju laut China Selatan sampai selat Balabac. Tingkat kerawanan lalulintas laut lainnya, seperti Amerika menggunakan jalur ini sebagai wilayah perlintasan kapal selam nuklirnya melaui selat San Bernardino sampai Verde, yang kemungkinan besar dapat menimbulkan berbagai spekulasi tertentu dan peluang lainnya, sehingga mengakibatkan terjadinya berbagai permasalahan dan mendorong timbulnya konflik yang meluas. Sebagai contoh misalnya konflik yang terjadi di Laut Cina Selatan, yang mengakibatkan perubahan kebijakan pertahanan Amerika Serikat secara global. Mengacu pada Sustaining US Global Leadership : priorities for 21st Century Defense yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 5 Januari 2012, prioritas utama pertahanan Amerika Serikat saat ini dan ke depan adalah di kawasan Pasifik. Sebagai implementasi kebijakan tersebut, Amerika Serikat mulai memusatkan kembali sumberdaya nasionalnya ke kawasan ini, termasuk peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat yang ditempatkan di Australia. Situasi ini menggambarkan bahwa pengaruh dan kepentingan negara- negara maju terhadap Indonesia sangat tinggi, sehingga Indonesia perlu mempersiapkan rencana kedepan pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan RI dengan perspektif “Strategik Pertahanan Global Indonesia (SPGI) abad 21” yang berbasis terhadap millenium tatanan dan perubahan dunia abad 21 (sumber informasi dari buku Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA (61) ). Demikian juga yang menjadikan pertimbangan utama untuk mewujudkan program seperti alternatif draft paper di atas, dimana selat Malaka menjadi salah satu jalur ALKI yang bebas dilalui oleh semua kapal, termasuk selat ini sebagai akses kapal selam dari negara-negara di Eropa menuju selat Sunda dan wilayah lainnya. Seperti diuraikan di atas selat Sunda adalah merupakan Sumbu Mega Ancaman Indonesia sebagai akibat adanya RC of IFD, sehingga melalui berbagai kebijakan program terhadap ALKI, maka dengan sendirinya sumbu mega ancaman ini dapat diantisipasi lebih dini. Dalam kaitan tersebut lalulintas pelayaran menetapkan suatu ketentuan pada masing-masing wilyah lalulintas laut yang berbeda, misalnya ketentuan pada wilayah lalulintas laut di kawasan perairan Lombok, Makassar dan Celebes Selatan laut Mindanao. termasuk jalur Selat Malaka-Singapore yang sangat rawan, dimana ketentuan tersebut diantaranya : terhadap pembatasan fisik dari badan kapal dengan ketentuan channel depths of less than 23 m (75 ft) jika melintas melalui selat; batas keselamatan dengan 3-5 m under-keel clearance added by the three coastal states, termasuk daya muat kapal tangki tidak lebih dari 200,000 d.w.t. dan termasuk route 54 (61) Pengaruh Keamanan Regional
  • 7. 7 alternatif untuk kapal dengan Very Large Crude Carriers (VLCC) ketentuannya melintas pada kedalaman 150 m dan wide-nya 12.5 nmi. Permasalahan yang timbul sebagai akibat pelanggaran terhadap ketentuan pelayaran dapat menimbulkan internal konflik antara negara Asean dan antar negara lainnya, seperti permasalahan yang sering terjadi terhadap kapal tanker. Kapal tanker yang melintas di selat Lombok sampai dengan Makassar mencapai 28 % east-bound. Sekitar 0.35- 0.50 % kapal tanker melintas di kawasan ini mengangkut minyak mentah sekitar 1.000 ton-300.000 ton, dan pada umumnya kapal tanker ini melakukan pencucian tanki balas, sehingga mengakibatkan pencemaran laut yang sangat berbahaya. Demikian juga halnya kondisi ini sering terjadi, antara lain : di wilayah selat Malaka, laut Jawa sebelah barat, sebelah barat Madura, Balikpapan, dan laut Brunei, dll. Demikianlah karya tulis ini disampaikan kepada publik sebagai informasi, masukan dan menambah perbendaharaan dalam bidang pertahanan dan keamanan serta Iptek sistem persenjataan, termasuk sebagai masukan untuk menuju rencana pembangunan grand strategi Strategik Pertahanan Global Indonesia (SPGI) abad 21, dan menyelamatkan Indonesia dengan adanya ekspektasi terhadap 3 Sumbu Mega Ancaman sebagai akibat timbulnya The Great Transformation, World Nanotechnology and Nanoethics yang mendorong terjadinya Paradigma Era Baru Perang, Post Terorrism, Abstract War (Satellite Supporting). Selamat membaca……., dengan senang hati penulis menerima dan menunggu masukan, saran dan bahkan kritikan dan terimakasih. Jakarta, Juli 2012 Penulis Mayor Ir. Muhammad B. Pane, MM Referensi : 1. Kydd : Trust and Mistrust in International Relations, Princeton University (2005) 2. Lim Teck Ghee : Conflict over Natural Resources in South East Asia and The Pacific, The United Nations University (1990) 3. Dr. Harry R Yarger : Constellation Strategic Theory for the 21st Century / The Little Book on Big Strategy (2006) 4. Miller, Roger Gene : “To Save a City : The Berlin Airlift 1948-1949” (2000) 5. Juwono Sudarsono : Surviving Globalization / Indonesia and The World 6. Dr. SyarifudinTippe, M.Si, Rektor UNHAN : Human Capital Management / Model Pengembangan Organisasi Militer Indonesia, Editor, Humas UNHAN 5.a. A.M. Hendropriyono : Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam (2009) 55 t.t.d
  • 8. 8 7. Dr. Salim Said : Legitimizing Military Rule / Indonesian Armed Forces Ideology (2000) 8. Purnomo Yusgiantoro : Ekonomi Energi / Teori dan Praktik 9. Bourantonis : A United Nations for the Twenty-first Century : Peace, Security, and Development, Martinus Nijhoff Publishers (1996) 10. Jacobs : Focus on Terrorism,World Book (2002) 11. Major General Richard : Strategic Art / The New Discipline for the 21st Century, Strategic Studies Institute, U.S. Army War (1995) 12. Seumas Miller : Terrorism and Counter-Terrorism: Ethics and Liberal Democracy (2002) 13. Richard Behar : Cyber-Hackers Break Into IMF Computer System, FOX News (2008) 14. Julian E. B : Cyber-Attack on Defense Department computers raises concerns, Los Angeles Times (2008) 15. Jordan Robertson : China Disputes Cyber Crime Report, Washington (2007) 16. U.S Government : Global Trends 2025 / A Transformed World”, National Intelligence (2008) 17. Williamson Murray : Introduction: On Strategy, The Making of Strategy: Rulers, States, and War (1997) 18. Larry May : Aggression and Crimes Against Peace (2001) 19. C. A. J. (Tony) Coady and Igor Primoratz : Military Ethics (2001) 20. Patterson : Grand Expectations : The United States, Oxford University (1997) 21. Taubman : The Man and His Era, W. W. Norton & Company (2004) 22. Domenico Schietti : The Gobal Conspiracy to Speculate on War, Over - Population, Poverty and Climate Change (2000) 23. Near and Far - Field Effects of Tsunamis Generated by the Paroxysmal Eruptions, Explosions, Caldera Collapses and Massive Slope Failures of The Krakatau Volcano in Indonesia (1883), Science of Tsunami Hazards (1996) 24. Rastogi : The catalog of tsunami in the Indian ocean, National Geophysical Research Institute, Science of tsunami hazards (1997) 25. Gregory E : In the name of social democracy / The Great Transformation (2002) 26. Connie Rahakundini Bakrie : Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal 27. Mayor Ir. M. Binsar, MM : Prototipe FAHSBS (Fixed Array Hydrophones Sea Bed Surveillance), Anti Submarines, Edisi I, Jakarta (1998) 28. Mayor Ir. M. Binsar, MM : “C5ISR pd SSAT TNI AL (Teknologi Cyberwar, Cybernet dan Force-net)”, Edisi I, Jakarta (2009), Juara I Lomba Karya Tulis, Hari Dharma Semudera TNI AL, Skep Kasal nomor : Kep/114/I/2009 tanggal 30 Januari 2009 29. Mayor Ir. M. Binsar, MM : Perang Dunia ke-3 Abad 21 Segera Tiba (World War 3 of 21 st Century Coming Soon), Edisi I, Jakarta (2010) 30. Mayor Ir. M. Binsar, MM : Manajemen Bencana Alam Indonesia Berbasis Teknologi dengan 4 Motto On The Spot, Edisi khusus : Misteri Dibalik Bencana Alam Indonesia, Edisi I, Jakarta (2011) 56
  • 9. 9 31. Vice Admiral Mike : Sea Power 21 Series, Global Concept of Operations, U.S. Navy (2003) 32. Connie Rahakundini Bakrie : Defending Indonesia dalam Perspektif Kemandirian Iptek dan Industri Pertahanan dan Keamanan 33. Joseph S : The paradox of USA power/Why the world's only Superpower can't go it alone (2003) 34. Anthony H. Cordesman, Martin Kleiber : The Asian Conventional Military Balance in 2006 / Overview of major Asian Powers, CSIS (2006) 35. Higgs, Robert : Depression, War, and Cold War: Studies in Political Economy (2006) 36. Leffler, Melvyn : A Preponderance of Power: National Security (1992) 37. Perlmutter : Making the World Safe for Democracy, University of North Carolina (1997) 38. Richard O.N : Sonar Signal Processing, Interstate Electronics Corp, California (1992) 39. Lefeber : The Changing Political Structure of Europe, Martinus Nijhoff Publishers (1991) 40. Lackey : Moral principles and nuclear weapons, Rowman & Allanheld (1984) 41. Carter : The Korean war / Essential histories, Osprey Publishing (2001) 42. Guy Lebègue : Gulf War : Military satellites, Revue Aerospatiale (2002) 43. Squadron Leader KK Nair : The Frontiers of Modern Defence, New Delhi (1997) 44. C.LeBlanc : Handbook of Hydrophone Element Design Technology, Naval Underwater System Center 45. William J. Broad : China Tests Anti-Satellite Weapon, Unnerving U.S (2002) 46. Christopher Jones : Seismic Test Data could Save Lives where Earthquakes Strike, Univ of California, College of Engineering, Berkeley (2004) 47. HF. Olson : Enforcement of Maritime Jurisdiction, Marine Polity in Southeast Asia, California Press (1985) 48. Mathur : Physical Geology of India, National Book (1998) 49. Regional SOP training on end to end tsunami early warning system, Disaster Management Specialist, IOC, ITIC, USGS, Jakarta (2008) 50. Newcomb : Seismic history and tectonics of the Sunda Arc, USGS, NOAA, Institute of Hazard and Risk Research, Durham University, National Oceanography Centre, University of Southampton, UK (1987) 51. Fritz Allhoff : Nanotechnology & Society : Current and Emerging Ethical Issues (2006) 52. Fritz Allhoff : The Ethical and Social Implications of Nanotechnology (200) 53. Joel H. Rosenthal : Ethics and International Affairs (1987) 54. Thomas Pogge : Global Ethics and Global Justice / Seminal Essays (2004) 55. Thomas Pogge : World Poverty and Human Rights : Cosmopolitan Responsibilities and Reforms (2009) 56. Doreen Mc : The New Corporate Accountability / Corporate Social Responsibility and the Law (2008) 57. John Kleinig : Ethics and Criminal Justice / An Introduction (2006) 58. Emma Rooksby : Information Technology and Social Justice (2005) 59. Andreas Follesdal : Real World Justice: Grounds, Principles, Human Rights, and Social Institutions (2008) 57
  • 10. 10 60. Charles KB Barton : Restorative Justice / The Empowerment Model (2004) 61. Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA : Pengaruh Keamanan Regional Bagi Keamanan Nasional Indonesia (Kasus Sengketa Laut Cina Selatan) 62. Janna Thompson : Taking Responsibility for the Past / Reparation and Historical Injustice (2000) 63. Burton M. Leiser : Human Rights in Philosophy and Practice (2002) 64. Larry May : International Criminal Law and Philosophy (2007) 65. Christian Barry : Global Institutions and Responsibilities : Achieving Global Justice (2006) Catatan singkat penulis : Nama Lengkap : Ir. Muhammad Binsar Pane, MM. Pangkat/Korps/Nrp : Mayor Laut (KH), Nrp. 11197/P. Tempat/Tgl. Lahir : Sibolga/20 Mei 1960. Hobby : Membaca, menulis, meneliti, olah raga dan kerja sosial. Instansi : Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur. Telepon : 0813 141 88 022. Cita-cita : Menjadi pejuang untuk kemajuan TNI sebagai perisai negara dan bangsa yang memiliki kemampuan teknologi Alutsista yang kuat dan handal. Tantangan : Untuk mencapai kemajuan besar membutuhkan perubahan total pada semua aspek, pada sisi lain yang menjadi tantangan berat adalah merubah kebiasaan menjadi sesuatu yang baru dan berbeda, bagi sebagian pihak dianggap sesuatu hal yang aneh atau sebagai melawan arus. Namun bagi seorang pejuang bahwa pengorbanan merupakan hal yang lumrah terjadi, sebab pengorbanan adalah merupakan bagian perjalanan hidup atau kodrat dari seorang pejuang. Pandangan : • Kehormatan dan Kesetiaan adalah merupakan suatu nilai dalam kehidupan prajurit yang mutlak harus dilaksanakan dan dijunjung tinggi, namun kehormatan dan kesetiaan tetap dalam pengertian yang positif dan koridor kewajaran serta kejujuran, yang sering terjadi kehormatan dan kesetiaan semu (berpura-pura). • Perbedaan adalah menjadikan segala sesuatu lebih dinamis untuk mencapai kemajuan bersama, namun sebagian pihak atau kelompok beranggapan bahwa perbedaan adalah merupakan sesuatu hal yang negatif dan menjadi penghalang kemajuannya, sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat yang saling melemahkan dan menjatuhkan antara sesamanya. 58
  • 11. 11 • Pancasila adalah sumber inspirasi dan kekuatan besar dengan ciri khas dan hakekat “kebinnekaannya” (perbedaan yang solid) sebagai landasan untuk kemajuan pembangunan NKRI, bukan sebaliknya menjadikan perpecahan dan konflik yang meluas. Cita-cita yang kandas…? : Sesungguhnya cita-cita tidak akan pernah kandas, sebab setiap orang akan selalu bermimpi sepanjang hidupnya, dibutuhkan energi kuantum yang besar untuk membangkitkan motivasi meraih cita-cita, ibarat bahtera terombang-ambing diterjang badai dan ombak di lautan lepas, yakinlah bahwa badai pasti berlalu, ibarat kegagagalan adalah keberhasilan yang tertunda atau ibarat tidak satu jalan ke Roma, perjuangan dan pengabdian kepada negara dan bangsa masih terbentang luas di jalan yang lurus dan diridhoi Tuhan Yang Maha Kuasa. Pernah bertugas di BPPT RI, surat keputusan Menristek : 59 Halaman depan
  • 12. 1260 Halaman belakang
  • 13. Lomba karya tulis, sebagai juara I dengan judul : Cybernet dan Force-net)”, Dituntut Pembangunan dan Penerapan Kasal - Mewujudkan Kemandirian Teknologi TNI AL Piagam penghargaan Kasal RI : Lomba karya tulis, sebagai juara I dengan judul : “ System C5ISR pd SSAT TNI AL (Teknologi Cyberwar, Dituntut Pembangunan dan Penerapan - Penjabaran dan Implementasi Kebijakan Mewujudkan Kemandirian Teknologi TNI AL. 13 Teknologi Cyberwar, Implementasi Kebijakan 61
  • 14. Surat Keputusan Kasal RI : Catatan : Print out tulisan ini Jika pembaca berkeinginan untuk mem Untuk print out background paper “M • Page Layout : Reduce / Enlarge Document : By Percentage = 98 % • Main : Size / User Defined : Paper width = 21.15 cm; Paper Height = 29.82 cm mem-print out tulisan ini, maka setting printernya sbb : “Merah Putih dan Garuda” Reduce / Enlarge Document : By Percentage = 98 %. Height = 29.82 cm. Selanjutnya pd Bagian II dan III (Materi VI, VII,… dst) 14 print out tulisan ini, maka setting printernya sbb : Selanjutnya pd Bagian II dan III (Materi VI, VII,… dst) 62