Buku "Logika Penemuan Ilmiah" (armstrong sompotan)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Buku "Logika Penemuan Ilmiah" (armstrong sompotan)

on

  • 6,288 views

Buku Popper Logika Penemuan Ilmiah adalah terjemahan dari buku Popper "Logic of Scientific Discovery" oleh Armstrong Sompotan dkk.

Buku Popper Logika Penemuan Ilmiah adalah terjemahan dari buku Popper "Logic of Scientific Discovery" oleh Armstrong Sompotan dkk.

Statistics

Views

Total Views
6,288
Views on SlideShare
6,283
Embed Views
5

Actions

Likes
6
Downloads
240
Comments
3

2 Embeds 5

http://layangga.blogspot.com 4
http://layangga.blogspot.kr 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • trims banyak
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • ribet
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • ribet
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Buku "Logika Penemuan Ilmiah" (armstrong sompotan) Buku "Logika Penemuan Ilmiah" (armstrong sompotan) Document Transcript

  • Logika Penemuan Ilmiah‘Salah satu karya filsafat yang paling penting di abad ini.’ Richard Wollheim, The Observer‘Sangat menggembirakan.’ Naomi Bliven, New Yorker
  • KarlPopperLogika Penemuan Ilmiah Diterjemahkan Oleh : Armstrong F. Sompotan, Hendro Nugroho, Muliadi Elza Surmaini, Andri Ramdhani, Aries Kristianto Perpustakaan Sains Kebumian Institut Teknologi Bandung, 2011
  • Logik der Forschung first published 1935by Verlag von Julius Springer, Vienna, AustriaFirst English edition published 1959by Hutchinson & Co.First published by Routledge 1992First published in Routledge Classics 2002by Routledge11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE29 West 35th Street, New York, NY 10001Routledge is an imprint of the Taylor & Francis GroupPublished in the Taylor & Francis e-Library, 2005.“To purchase your own copy of this or any of Taylor & Francis or Routledge’scollection of thousands of eBooks please go to www.eBookstore.tandf.co.uk.”© 1959, 1968, 1972, 1980 Karl Popper© 1999, 2002 The Estate of Karl PopperAll rights reserved. No part of this book may be reprintedor reproduced or utilised in any form or by any electronic,mechanical, or other means, now known or hereafterinvented, including photocopying and recording, or inany information storage or retrieval system, withoutpermission in writing from the publishers.British Library Cataloguing in Publication DataA catalogue record for this book is available from the British LibraryLibrary of Congress Cataloging in Publication DataA catalogue record for this book has been requestedISBN 0-203-99462-0 Master e-book ISBNISBN 0–415–27843–0 (hbk)ISBN 0–415–27844–9 (pbk)
  • Diterjemahkan Oleh :Armstrong F. Sompotan, Hendro Nugroho, Muliadi Elza Surmaini, Andri Ramdhani, Aries Kristianto Institut Teknologi Bandung, 2011
  • Hipotesis adalah jala: hanya dia yang menebar yang akan menangkap. NOVALIS
  • Daftar IsiBab I. Pendahuluan Logika Sains1. Survey Terhadap Beberapa Masalah Mendasar 1 a. Masalah induktif b. Penghilangan psychologisme c. Pengujian deduktif sebuah teori d. Masalah demarkasi e. pengalaman sebagai sebuah metode f. kepalsuan sebagai kriteria demarkasi g. Masalah dasar empiris h. Obyektivitas ilmiah dah keyakinan subyektif2. Seputar Permasalahan Teori Metode Ilmiah 36 a. Mengapa keputusan-keputusan metodologis sangat diperlukan? b. Pendekatan naturalistik kepada teori metode ilmiah c. Aturan-aturan metodologi sebagai konvensi-konvensiBab II. Beberapa Struktur Komponen Teori Pengalaman3. Teori 49 a. Pendahuluan b. Kausalitas, Penjelasan, dan Deduksi Prediksi c. Pernyataan Tegas Universal dan Numerik Universal d. Konsep Universal dan Konsep Individual e. Pernyataan Tegas Eksistensial f. Sistem Teoritis g. Diskusi4. Falsiabilitas 64 a. Pendahuluan b. Falsifikasionalisme vs konvensionalisme c. Kaidah untuk menghindari siasat konvensionalis d. Logika falsifiabilitas e. Kejadian dan peristiwa f. Falsifibialitas dan konsistensi g. Kesimpulan5. Permasalahan Dasar Empiris 79 a. Pengalaman Sebagai Dasar Empiris b. Objektifitas Dasar-Dasar Empiris c. Pernyataan Dasar (Basic Statement) a. Relativitas Pernyataan Dasar Berdasarkan Fries’s Trilema b. Teori dan Percobaan6. Kesederhanaan (Simplicity) 92 a. Eliminasi estetika dan pragmatik dari konsep simplicity b. Masalah metodologi dalam kesederhanaan (simplicity) c. Simplicity dan tingkat falsifiability d. Bentuk geometric dan bentuk fungsional e. Paham konvesional dan konsep keserdehanaan f. Kesimpulan
  • 1SEBUAH SURVEY TERHADAP BEBERAPA PERMASALAHAN MENDASAR Oleh: HENDRO NUGROHO NIM.32409301
  • 2 SURVEY TERHADAP BEBERAPA MASALAH MENDASARSeorang ilmuwan, baik dia seorang teoritikus atau seorangeksperimentalis, akan mengajukan pernyataan, atau gabungan daripernyataan-pernyataan, kemudian menguji pernyataan tersebutsatu persatu. Dalam bidang ilmu-ilmu empiris, lebih khusus lagi, iamembangun hipotesis, atau sistem teori, dan menguji kelayakanhipotesis atau teori yang disusunnya tersebut dengan melakukanpengamatan dan percobaan/eksperimen.Saya anggap ini adalah fungsi dari logika penemuan ilmiah, ataulogika pengetahuan, yaitu untuk memberikan analisis logis dariprosedur yang digunakan untuk menganalisis metode ilmu-ilmuempiris ini.Tetapi apakah itu metode sains empiris‟? Dan apa yang kita sebut„sains empiris‟?1. MASALAH INDUKTIFMenurut pandangan yang banyak dianut –yang akandipertentangkan dalam buku ini- sains empiris dapat dikenalikarena ia menggunakan metode induktif . Menurut pandangan inipula, logika penemuan ilmiah akan sama dengan logika induktif,yaitu dengan analisis logis terhadap metode-metode induktif.Sebuah proses penarikan kesimpulan dapat dikatakan sebagaiproses „induktif‟ apabila ia berawal dari pernyataan tunggal(terkadang disebut juga pernyataan „khusus‟), yang merupakan
  • 3hasil pengamatan atau percobaan, kemudian berkembang menjadipernyataan pernyataan universal seperti hipotesis atau teori.Dari sudut pandang logis, saat ini sangat tak jelas bahwa kitadibenarkan untuk menarik kesimpulan universal berdasarkanpernyataan tunggal, tidak perduli berapapun banyaknya pernyataanseperti itu; karena setiap kesimpulan yang diambil dengan caraseperti ini cenderung salah, sebagai contoh; tidak perduli berapapun banyaknya jumlah angsa yang putih yang telah kita amati,hal ini tidak membenarkan kesimpulan bahwa semua angsaberwarna putih.Pertanyaan tentang apakah penarikan kesimpulan secara induktifdibenarkan, atau dalam kondisi apa saja ia dapat dibenarkan,dikenal dengan masalah induktif.Masalah induktif juga dapat dirumuskan sebagai pertanyaantentang validitas atau kebenaran dari pernyataan universal yangdidasarkan pada pengalaman, seperti hipotesis dan sistem teoritisilmu-ilmu empiris. Bagi banyak orang yang percaya bahwakebenaran pernyataan universal adalah berdasarkan pengalaman,jelas bahwa pentingnya pengalaman -dari sebuah pengamatan atauhasil dari eksperimen-dapat hanya berupa pernyataan tunggal danbukan merupakan pernyataan universal. Oleh karena itu, orangyang menyampaikan pernyataan universal, yang kita tahukebenarannya dari pengalaman, biasanya mengartikan bahwakebenaran pernyataan universal bagaimanapun juga dapatdireduksi menjadi kebenaran dari pernyataan tunggal, dan bahwapernyataan pernyataan tunggal tersebut berdasarkan pengalaman
  • 4adalah benar; sehingga dapat dikatakan bahwa pernyataanuniversal didasarkan pada penarikan kesimpulan secara induktif.Jadi ketika kita bertanya apakah hukum alam memang benar,sebetulnya hanyalah cara lain untuk menanyakan apakahkesimpulan induktif secara logis dapat dibenarkan.Namun jika kita ingin menemukan cara untuk membenarkankesimpulan induktif, pertama kali kita harus mencoba membangunprinsip induktif. Sebuah prinsip induktif akan berupa suatupernyataan yang dengannya kita bisa menyajikan kesimpulaninduktif menjadi suatu bentuk logis yang dapat diterima. Di matamereka yang sangat mementingkan logika induktif, prinsipinduktif merupakan metode ilmiah yang paling penting:Reichenbach berkata1 , prinsip ini menentukan kebenaran teori-teori ilmiah‟. Menghilangkan prinsip tersebut dari sains artinyamencabut kekuatan sains untuk menentukan benar atau tidaknyateori-teori. Tanpa prinsip tersebut maka sains tidak lagi dapatmembedakan antara yang benar dan yang tidak atau membedakanmana yang berasal dari pemikiran fantasi yang bebas dari seorangpenyair dan mana yang merupakan teori.Saat ini prinsip induksi tidak hanya merupakan kebenaran logikamurni seperti tautologi atau pernyataan analitik. Memang, jikaada hal yang merupakan prinsip logika murni dari induksi, makatidak akan ada masalah induksi, karena dalam kasus ini, semua1 H. Reichenbach, Erkenntnis 1, 1930, hal. 186 (lihat juga ha. 64 f.). paragraph akhir tulisan Russellbab xii, pada Hume, dalam bukunya History of Western Philosophy. 1946, p.699.
  • 5kesimpulan induktif harus dianggap sebagai transformasi logisatau tautologis murni, seperti halnya kesimpulan dalam logikadeduktif . Dengan demikian prinsip induksi harus berupapernyataan sintetik, yaitu pernyataan yang negasi nya tidakberlawanan dengan pernyataan itu sendiri, tetapi secara logismungkin. Karena itu timbul pertanyaan mengapa prinsip yangdemikian itu harus diterima secara keseluruhan, dan bagaimanakita bisa membenarkan penerimaannya dengan alasan rasional.Beberapa orang yang percaya pada logika induktif inginmenunjukkan bahwa, sejalan dengan Reichenbach2, prinsipinduksi telah diterima tanpa syarat oleh seluruh ilmu pengetahuandan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat meragukan prinsip inidalam kehidupan sehari-hari . "Namun jika hal ini berlaku untuksemua cabang ilmu, maka para pengguna ilmu tersebut harusmenerima pendapat bahwa prinsip induksi cenderung berlebihan,dan sering mengarah pada inkonsistensi logis.Bahwa inkonsistensi dapat dengan mudah timbul sehubungandengan prinsip induksi sudah dijelaskan dalam karya Hume3; jugabahwa inkonsistensi amat sulit untuk dapat dihindari. Karenaprinsip induksi harus merupakan pernyataan universal, jadi jikakita mencoba mengetahui kebenarannya berdasarkan pengalaman,maka masalah yang sama seperti yang sudah disebutkan di awaltulisan ini akan timbul lagi. Untuk membenarkan itu, kita harus2 Reichenbach ibid., p. 67.3 Paragraph yang menjelaskan ini diambil dari Hume appendix *vii. teks untuk catatan kaki 4, 5, and6; lihat juga catatan 2 untuk bab 81.
  • 6harus menggunakan kesimpulan induktif, dan untuk lebihmengetahui kebenarannya maka kita harus mengasumsikan prinsipinduksi pada tatanan yang lebih tinggi, dan seterusnya. Dengandemikian upaya untuk mendasarkan prinsip induksi padapengalaman terus mengalami penurunan, karena justru mengarahpada sebuah kemunduran yang tak terbatas.Kant berusaha memecahkan kesulitan ini dengan menggunakanprinsip induksi (yang dirumuskan olehnya sebagai prinsip sebab-akibatuniversal) untuk menjadi teori yang valid sebelumnya,tetapi saya tidak berpendapat bahwa yang dilakukannya berhasil.Pendapat saya adalah bahwa berbagai kesulitan logika induktifyang digambarkan di sini sebenarnya dapat diatasi. Namundemikian saya khawatir jika inferensi induktif tersebut, yang sudahbegitu melekat sebagai doktrin yang telah diterima luas saatini,meskipun tidak valid secara mutlak namun dapat dianggapmemiliki derajat realibiltas dan probabilitas yang tinggi.Reichenbach berkata, “Menurut doktrin ini, penarikan kesimpulansecara induktif adalah inferensi yang mungkin dicapai denganmenggunakan proses induksi agar sains dapat menentukankebenaran. Lebih tepatnya dikatakan bahwa penarikan kesimpulansecara induktif dapat berfungsi berdasarkan probabilitas. Sainstidak mutlak menentukan kebenaran atau kesalahan ... namunpernyataan ilmiah hanya dapat memiliki probabilitas yang tinggiapabiladibatasi oleh batas atas dan batas bawah berupa kebenarandan kesalahan
  • 7Pada tahap ini saya bisa mengabaikan fakta bahwa para pendukunglogika induktif menyukai ide probabilitas yang selanjutnya sayatolak sebagai sangat tidak cocok untuk tujuan mereka sendiri (lihatbagian 80, di bawah). Alasan saya adalah bahwa kesulitan yangtelah disebutkan tadi bahkan tidak tersentuh probabilitas. Sebabjika suatu tingkat probabilitas tertentu diterapkan pada pernyataanyang didasarkan pada inferensi induktif, maka hal ini harusdijustikasi dengan menerapkan prinsip baru induksi, tepatdimodifikasi. Dan prinsip baru pada gilirannya akan harusdijustifikasi, demikian seterusnya. Tidak ada hasil yang diperoleh,apalagi, jika prinsip induksi, pada gilirannya, diambil bukansebagai benar tetapi hanya sebagai mungkin. Singkatnya, sepertisemua bentuk lain dari logika induktif, logika inferensikemungkinan, atau logika probabilitas , akan mengarah kekemunduran tak terbatas, atau doktrin apriorisme.4Teori yang akan dikembangkan di halaman selanjutnya akandengan tegas menentang semua upaya untuk menggunakan ide-idelogika induktif5. Hal ini dapat digambarkan sebagai teori metode4 J Cf. J. M. Keynes, A Irectise on Probability, 1921; O. Kulpe, Vorle.sungen iiber Logic (ed. by Selz,1923); Reichenbach (yang memakai istilahprobability implications), Axiomatik derWahrscheinlidllieitsrechnung, Mathern. Zeitschr. 34, 1932; dan beberapa sumber lainnya.Lihat juga Bab 10, di bawah, terutama catatan 2 ke bagian 81, dan bab * ii dari Postscript untukpernyataan lengkap kritik ini.5 Liebig (dalam Deduktion Induktion und, 1865) mungkin yang pertama 10 menolak metodeinduktif dari sudut pandang ilmu alam, serangan diarahkan terhadap Bacon. Duhem (dalam LaTheorie physique, son objel er so structure, 1906; terjemahan bahasa Inggris oleh PP Wiener:
  • 8deduktif pengujian, atau sebagai pandangan bahwa sebuahhipotesis hanya dapat diuji secara empiris-dan hanya dapatdilakukan sebelumnya.Sebelum saya dapat bisa menguraikan pandangan ini (yang bisadisebut deductivisme, berbeda dengan „inductivisme‟) terlebihdahulu saya harus menjelaskan perbedaan antara psikologipengetahuan yang berkaitan dengan fakta empiris, dan logikapengetahuan yang hanya mementingkan hubungan logis. Karenakeyakinan dalam logika induktif ini terutama disebabkan olehkebingungan atas masalah logika sehubungan dengn istilah, kitadapat melihat bahwa masalah penamaan dan istilah tersebutmenyebabkan kesulitan tak hanya pada logika pengetahuan sajatetapi juga pada untuk psikologi pengetahuan.2. PENGHILANGAN PSYCHOLOGISMEDi atas saya sudah katakan bahwa ilmuwan mengajukan danmenguji teori.Tahap awal, yaitu tahap perumusan atau penciptaan teori, menurutsaya tidak dapat disebut sebagai analisis logika. Pertanyaanbagaimana bisa terjadi bahwa sebuah ide baru muncul begitu saja(Tujuan dan Struktur Teori Fisik, Princeron, 1954) menggunakan pandangan deductivist. (tetapipandangan inductivist juga dapat ditemukan dalam buku Duherri, misalnya pada bab ketiga, BagianPertama, di mana kita diberitahu bahwa percobaan, induksi, dan generalisasi yang telahmemungkinkan Descartes memformulasikan Hukum Refraksi. terjemahan bahasa Inggris. ., hal 34)Begitu juga V Kraft, Die Grundformen der Wissmschafdichen Methoden, 1925, lihat juga Camap,Erkenntnis 1, 1932, hal 44)
  • 9pada seseorang, apakah itu tentang musik, konflik dramatis, atauteori-ilmiah, mungkin akan sangat menarik bagi psikologiempiris, tetapi tidak relevan dengan analisis logis dari pengetahuanilmiah. Analisis logis dari pengetahuan ilmiah tidakberkaitandengan pertanyaan-pertanyaan tentang fakta (judexpound Kant?), tetapi hanya dengan pertanyaan-pertanyaan tentangpembenaran atau validitas (juris pound Kant?). Jenis pertanyaanyang relevan adalah sebagai berikut. Apakah sebuah pernyataandapat dibenarkan? Dan jika demikian, bagaimana? Apakah dapatdiuji? Apakah secara logis ia tergantung pada pernyataan tertentulainnya? Atau apakah justru bertentangan dengan pernyataan2tersebut? Agar sebuah pernyataan dapat secara logis diperiksadengan cara ini, maka pernyataan tersebut harus diformulasikandan disusun sesuai penjelasan yang logis.Dengan demikian saya akan dengan jelas membedakan antaraproses penyusunan ide baru, dengan metode dan hasil pengujianitu secara logis. Adapun untuk logika pengetahuan-berbeda denganpengetahuan psikologi- saya akan melanjutkan dengan asumsibahwa hal itu merupakan metode yang digunakan dalam tes sistematik untuk menguji setiap ide baru dan mengetahui apakah ideitu dapat digunakan atau tidak.Beberapa orang mungkin keberatan jika hal ini akan lebihmenjurus kepada masalah penggunaan istilah epistemologi untukmenghasilkan apa yang telah disebut rekonstruksi rasional darilangkah-langkah yang telah memungkinkan ilmuwan untuk untukmenciptakan penemuan dan menemukan beberapa kebenaran baru.
  • 10Tapi pertanyaannya adalah: apakah, tepatnya, yang kita inginrekonstruksi? Jika yang harus direkonstruksi adalah proses yangterlibat dalam stimulasi dan pelepasan inspirasi, maka saya harusmenolak untuk menganggapnya sebagai ranah dari logikapengetahuan. Proses tersebut menjadi perhatian psikologi empiristapi hampir tidak berhubungan dengan logika. Lain halnya jika kitaingin secara rasional merekonstruksi tes selanjutnya dimanasebuah inspirasi dapat dianggap sebagai suatu penemuan, ataumenjadi dikenal sebagai pengetahuan. Sejauh mana para ilmuwanmengkritisi, mengubah, atau menolak inspirasinya sendiri, kalaukita mau kita bisa saja menganggap analisis metodologis yangdilakukan di sini sebagai semacam rekonstruksi rasional dariproses berpikir terkait. Tetapi rekonstruksi ini tidak akanmenjelaskan proses-proses ini sebagaimana benar-benar terjadi: iahanya dapat memberikan kerangka logis dari prosedur pengujian.Namun, mungkin saja ini adalah yang yang dimaksudkan olehmereka yang berbicara tentang rekonstruksi rasional sebagai salahsatu cara memperoleh pengetahuan.Nampaknya argumen saya dalam buku ini cukup terbebas darimasalah tersebut. Namun, pandangan saya tentang materi adalahbahwa tidak ada metode logika dalam menuangkan ide-ide baru,atau tidak ada rekonstruksi logis dari proses ini. Pandangan sayabisa dinyatakan dengan mengatakan bahwa setiap penemuanmengandung unsur irasional, atau intuisi yang kreatif sesuaipandapat Bergson. Dalam cara yang sama Einstein berbicara
  • 11tentang mencari hukum-hukum yang sangat universal ... denganmana penggambaran dunia dapat diperoleh dengan deduksi murni.Tidak ada alur yang logis , katanya, yang mengarah ke hukum ini.Mereka hanya dapat dicapai dengan intuisi, berdasarkan apa yangdikenal dengan cinta intelektual pada obyek pengalaman.63. PENGUJIAN DEDUKTIF SEBUAH TEORIMenurut pandangan yang akan dikemukakan di sini, metodepengujian teori secara kritis, dan pemilihan metode sesuai denganhasil tes, selalu mengikuti pola tertentu. Dari sebuah ide baru,disiapkan secara tentatif, dan belum dijustifikasi ke arah mana pun,baru kemudian disusun menjadi sebuah hypothesis, sistem teoritis,atau apa pun kesimpulan Anda- yang ditarik dengan cara deduksioflogical. Beberapa kesimpulan ini kemudian dibandingkan satusama lain dan dengan pernyataan terkait lainnya, sehingga dapatditemukanbentuk hubungan logis di antaranya (seperti kesetaraan,derivabilititas, kompatibilitas, atau ketidakcocokan).Kita dapat membedakan empat pola yang berbeda dalammelakukan pengujian teori. Pertama ada perbandingan di antarakesimpulan kesimpulan yan ada, di mana konsistensi internal dari6 Disampaikan pada ulang tahun Max Planck ke 60th (1918). Diawali dengan kaalimat, Tugas muliaahli fisika adalah mencari hukum-hukum universal tang tinggi. (dikutipdari A. Einstein, MeinWeJtbild, 1934, p. 168; terjemahan Inggris oleh A. Harris:The WOlld as I see It, 1935, p. 125). Ide yang sama diytemukan pada Liebig. op. cit.; d. Juga Mach,Principien del Walmelehre, 1896, pp. 443 fl. *kata Einfuhlung dalam bahasa Jerman sulitditerjemahkan. Harris menterjemahkan: pengalaman pemahaman yang simpatik
  • 12sistem diuji. Kedua, ada investigasi terhadap bentuk logis dari teoriini, dengan tujuan untuk menentukan apakah itu bersifat teoriempiris atau ilmiah, atau apakah itu, misalnya, tautologis. Ketiga,ada perbandingan dengan teori lain, terutama dengan tujuan untukmenentukan apakah teori itu akan merupakan kemajuan ilmiahsetelah berhasil diujimelalui serangkaian pengujian. Dan akhirnya,ada pengujian teori dengan menerapkan aplikasi empiris darikesimpulan yang dapat diturunkan dari teori itu.Tujuan tes terakhir yang disebut di atas adalah untuk mengetahuisejauh mana konsekuensi baru dari teori-apa pun hal baru yangmungkin dibawakannya- dapat digunakan untuk kepentinganpraktik, baik yang didapatkan dengan oleh percobaan sains murni,atau dengan praktik aplikasi teknologi. Di sini juga terbuktibahwaprosedur pengujian ternyata deduktif. Dengan bantuanpernyataan lain yang sudah diterima sebelumnya, beberapapernyataan tunggal –yang bisa kita sebut sebagai „prediksi‟dideduksi dari teori; terutama prediksi yang mudah diuji atauditerapkan. Dari pernyataan pernyataan tersebut, beberapa dipilihyang tidak dapat diturunkan dari teori yang berlaku, terutamayang kontradiksi dengan teori yang sudah ada. Berikutnya kitamerumuskan kesimpulan dari pernyataan pernyataan turunandengan cara membandingkannya dengan hasil aplikasi praktis daneksperimen. Jika keputusannya adalah positif, yaitu, jikakesimpulan tunggal ternyata dapat diterima atau diverifikasi,pernyataan aslinya dianggap lulus pengujian: kita tidakmenemukan alasan untuk membuangnya. Tetapi jika keputusan
  • 13negatif, atau dengan kata lain, jika kesimpulan telah dipalsukan,maka pemalsuan mereka juga memalsukan teori asal yang merekasimpulkan secara logis.Perlu diperhatikan bahwa keputusan yang positif hanya dapatmendukung teori sementara saja, karena bisa saja terjadi yangberikutnya adalah negatif. Jadi selama teori dapat melaluipengujian-pengujian terperinci dan tidak dikalahkan oleh teorilainnya teori lain dalam proses kemajuan ilmiah, kita dapatmengatakan bahwa teori tersebut telah terbukti kebenarannya‟atau „dikuatkan/dikoroborosikan7‟ oleh pengalaman masa lalu.Tidak ada satu pun yang menyerupai logika induktif muncul dalamprosedur yang dibahas di sini. Saya tidak pernah menganggapbahwa kita bisa berdebat dari kebenaran pernyataan tunggal untukkebenaran teori. Saya tidak pernah menganggap bahwa dengankekuatan kesimpulan yang sudahdiverifikasi, teori dapatditetapkan sebagai benar, atau bahkan hanya sebagai mungkin.Dalam buku ini saya bermaksud untuk memberikan analisa yanglebih rinci tentang metode pengujian deduktif. Dan saya akanmencoba untuk menunjukkan bahwa, dalam kerangka analisis ini,semua masalah bisa ditangani dengan yang apa yang disebutdengan epistemologis. Permasalahan tersebut, khususnya yangmenimbulkan logika induktif, dapat dihilangkan tanpamenimbulkan masalah yang baru.4. MASALAH DEMARKASI7 Utuk istilah ini, lihat catatan I sebelum bagian 79, dan bagian *29 dari Postscript saya.
  • 14Dari banyak keberatan yang mungkin diajukan terhadappandangan yang sebelumnya kita bahas di sisni, berikut disebutkanbeberapa yang paling serius. Dalam menolak metode induksi dapatdikatakan bahwa sayamencabut ilmu empiris dari apa yangtampaknya menjadi ciri khasnya yang paling penting, dan iniberarti bahwa saya menghilangkanpenghalang yang memisahkansains dari spekulasi metafisik. Jawaban saya untuk keberatan iniadalah bahwa alasan utama saya untuk menolak logika induktiftepatnya adalah bahwa ia tidak dapat memeberikan tandaperbedaan yang jelas untuk karakter empiris, non-metafisik, darikarakter sistem teoritis, atau dengan kata lain, bahwa ia tidakmemberikan kriteria demarkasi yang cocok.Masalah menemukan kriteria yang akan memungkinkan kita untukmembedakan antara ilmu-ilmu empiris di satu sisi, denganmatematis dan logis serta sistem metafisik di sisi lainnya, sayasebut dengan masalah demarkasi.Masalah ini dikenali oleh Hume yang berusaha mencaripemecahannya, dengan Kant sebagai masalah utama dari teoripengetahuan. Jika mengikuti Kant maka masalah ini yang dikenalsebagai masalah induksi Burne dapat kita sebut sebagai masalahdemarkasi Kant.Dari dua masalah yang menjadi sumber dari dari hampir semuamasalah lain, teori pengetahuan masalah demarkasi, saya kira,lebih mendasar. Memang, alasan utama mengapa epistemologistsdengan kecenderungan empiris cenderung mendukung metodeinduksi tampaknya menjadi keyakinan mereka bahwa metode ini
  • 15dapat memberikan kriteria yang sesuai untuk demarkasi. Hal iniberlaku khususnya bagi mereka ahli empiris yang mendukungpositivismePara positivis terdahulu hanya mau mengakui, sebagai ilmiah atauyang sah, konsep-konsep (atau gagasan atau ide) yang, sepertiyang mereka katakan, berasal dari pengalaman; konsep-konsep,yaitu, yang mereka yakini secara logis direduksi elemen rasa-pengalamannya, seperti sensasi (atau akal-data), kesan, persepsi,kenangan visual atau pendengaran, dan sebagainya. Positivismodern cenderung untuk melihat lebih jelas bahwa ilmu bukanlahsuatu sistem konsep melainkan sistem dari pernyatan pernyataan.Oleh karena itu, mereka hanya mengakui,sebagai ilmiah atau yangsah; pernyataan pernyatan yang dapat direduksi menjadipernyataan atau pengalaman paling dasar (atau „atomic‟) -penilaian dari persepsi atau atom proposisi atau protokol-kalimat atau apa yang tidak seperti itu. Jelas bahwa kriteria tersiratdemarkasi adalah sama dengan permintaan untuk logika induktif.Karena saya menolak logika induktif saya juga harus menolaksemua upaya untuk memecahkan masalah demarkasi. Denganpenolakan ini , masalah demarkasi menjadi penting untuk8menemukan kriteria demarkasi yang dapat diterima harus menjadi8 Ketika saya menulis ini saya agak berlebihan mengenai positivis modern, sebagaimana saya lihatsekarang. Harus diingat bagian awal yang menjanjikan dari Wittgenstein Trectorue +-Dunia adalahtotalitas fakta, bukan hanya benda-dibatalkan oleh bagian akhir yang mengecam orang yang tidakmemberikan arti untuk tanda-tanda tertentu dalam proposisinya . Lihat juga “Masyarakat Terbukadan Musuh-nya”, bab 11, bagian ii, dan bab bagian * i dari Postscript saya, terutama * ii (catatan 5),* 24 (lima terakhir paragraf), dan * 25.
  • 16tugas penting bagi setiap epistemologi yang tidak menerima logikainduktif.Positivis biasanya menafsirkan masalah demarkasi dengan carayang naturalis ; mereka menafsirkan seolah-olah itu adalahmasalah ilmu alam. Alih-alih mengambil itu sebagai tugas merekauntuk mengajukan konvensi yang sesuai, mereka percaya bahwamereka harus menemukan perbedaan, yang ada dalam sifatsesuatu, seperti perbedaan antara ilmu empiris di satu sisi danmetafisika di sisi lain. Mereka terus mencoba untuk membuktikanbahwa metafisika sifatnya tidak lain hanyalah ilusi danmenyesatkan omong kosong tak masuk akal, seperti Hume yangmengatakan, “kita harus membakar."!Katakata tidak masuk akal atau tak berarti digunakan untukmengungkapkan , menurut definisi,bahwa hal ini tidak termasukilmu empiris, maka karakterisasi metafisika sebagai omongkosong bermakna akan menjadi konotasi pernyataan persepsisepele 9, karena metafisika biasanya sudah didefinisikan sebagainon-empiris. Tapi tentu saja, positivis percaya bahwa mereka dapatmengatakan lebih banyak tentang meta fisika dari itu beberapa9 Tentu saja tidak ada yang tergantung pada nama. Ketika saya menemukan nama baru pernyataandasar (proposisi dasar atau; lihat di bawah, bagian 7 dan 28) saya melakukannya hanya karenasaya membutuhkan sebuah istilah yang tidak terbebani dengan konotasi pernyataan persepsi. Tapisayangnya ia segera diadopsi oleh orang lain, dan digunakan untuk menyampaikan tepat jenismakna yang saya ingin hindari. Postscript, * 29.Karenanya Hume, seperti Sextus, mengutuk Enquiry sendiri pada halaman terakhir, sama sepertiWittgenstein yang kemudian mengutuk Troctatus pada halaman terakhir. (Lihat catatan 2 kebagian 10.)
  • 17pernyataan non-empiris. Kata-kata berarti atau masuk akalmemang menyampaikan, dan dimaksudkan untuk menyampaikan,evaluasi menghina, dan karenanya tidak ada keraguan bahwa apayang positivis benar-benar ingin dicapai oleh positivis tidak begituberhasil menentukan demarkasi yang sukses sebagai finalpenggulingan dan penghancuran metafisika. Namun demikian, jikakita menemukan bahwa setiap kali positivis mencoba untukmengatakan lebih jelas apa yang dimaksud berarti‟, upayatersebut mengarah ke hasil yang sama-untuk definisi kalimatbermakna (bertentangan dengan kalimat semu yang berarti ) yanghanya menegaskan kriteria demarkasi logika induktif mereka. 10Hal ini menunjukkan dirinya sangat jelas dalam kasusWittgenstein, menurutnya setiap proposisi logis harus dapatdireduksi menjadi proposisi mendasar atau atomic yang dapatdicirikan sebagai deskripsi atau gambar realitas "(karakterisasiyang dapat mencakup semua proposisi bermakna). Dari sini kitatahu bahwa kriteria Wittgenstein dari kebermaknaan sangat tepatdengan kriteria demarkasi inductivists, asalkan kita menggantikata-kata ilmiah atau sah dengan bermakna . Hal ini tepat sekalimenggambarkan masalah induksi bahwa keinginan positivis untukmenyelesaikan masalah demarkasi untuk menghilangkanmetafisik ternyata juga telah menghilangkan ilmu alam. Hukum10 Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus (1918 and 1922), Proposition 5. *Sebagaimanaditulis pada 1934,saya hanya membahas Tractatus.
  • 18sains juga tak dapat secara logis direduksi menjadi pernyataandasar atau pengalaman dasar. Jika diterapkan secara konsisten,kriteria Wittgenstein tentang kebermaknaan akan menolak hukum-hukum alam sebagai tidak berarti sebagaimana sebagaimanadisebut Einstein, sebgai " tugas tertinggi fisikawan: hukum alamtersebut tidak dapat diterima sebagai pernyataan asli atau sah.Upaya Wittgensteinuntuk mencoba membuka kedok masalahinduksi sebagai masalah-pseudo kosong dirumuskan oleh Schhcksebagai berikut : Masalah induksi terdiri dari pertanyaan atasjustifikasi logis terhadap pernyataan universal tentang realitas. Kitamengetahui, seperti halnya Hume, bahwa tidak ada justifikasi logiskarena tidak ada pernyataan yang jujur. 1111 Ide memperlakukan hukum ilmiah sebagai posisi pseudo-pro-sehingga memecahkan masalah-induksi ini diajukan oleh Schlick untuk Wittgenstein. (Cr. Open Society, catatan 46 dan 51 f. pasal11.) Tapi itu benar-benar jauh lebih tua. Ini adalah bagian dari tradisi instrumentalis yang dapatditelusuri kembali ke Berkeley, dan lebih lanjut. (Lihat misalnya makalah saya Tiga PandanganMengenai Pengetahuan Manusia, di Inggris Filsafat Kontemporer, 1956; dan Sebuah catatantentang Berkeley sebagai Prekursor Mach, dalam The British Journal untuk Filsafat Ilmu 4, 1953,hlm 26 dst., sekarang di dugaan saya dan refutations, 1 959 referensi lebih lanjut. dalam catatan *1 sebelum ayat 12 (hal. 37) Masalah tsb juga dibahas di Postscript saya, bagian * II * 14, dan * 19 *26 .)Schlick, Naturwissenschoften 19,1931, p. 156. . Mengenai hukum-hukum alam Schlick menulis (hal.151), "Sering dikatakan bahwa kita tidak pernah bisa berbicara tentang sebuah verifikasi mutlakhukum, karena kita selalu membuat berbagai keberatan yang mungkin diubah setelah ada berbagaimacam pengalaman lebih lanjut. Schlick meneruskan, Jika 1 dapat menambahkan, beberapa katapada situasi logis, fakta tersebut di atas berarti bahwa hukum alam, pada prinsipnya, tidak memilikikarakter logis dari pernyataan, tetapi lebih merupakan rumus untuk menyusun pernyataan " *(Forma tidak diragukan lagi ini dimaksudkan untuk memasukkan transformasi atau derivasi.)Schlick mengkaitkankan teori ini untuk berkomunikasi secara pribadi dengan Wittgenstein. Lihatjuga bagian * 12 dari Postscript saya
  • 19Hal ini menunjukkan bagaimana kriteria demarkasi kauminductivist gagal untuk menarik garis pemisah antara sistem ilmiahdan metafisik, dan mengapa keduanya memiliki status yang sama,karena kemakna putusan dogma positivis adalah bahwa keduanyamerupakan sistem pernyataan semu yang tak berarti. Jadibukannya memberantas metafisika dari ilmu-ilmu empiris,positivisme mengarah pada invasi metafisika ke dalam duniailmiah.8Berbeda dengan para anti-metafisik sesungguhnya dan pendukunganti-metafisis, seperti yang saya lihat, tidak mengemukakan upayapenggulingan metafisika. Hal ini, lebih tepatnya, untukmerumuskan karakter ilmu pengetahuan empiris yang sesuai, atauuntuk mendefinisikan ilmu empiris konsep dan metafisikasedemikian rupa sehingga kita akan mampu mengatakan apakahsuatu pernyataan lebih menjadi perhatian ilmu pengetahuanempiris.SURVEY MASALAH MENDASARKriteria saya tentang demarkasi harus dianggap sebagai proposaluntuk suatu perjanjian atau konvensi. Adapun kesesuaian setiappendapat konvensi tersebut dapat berbeda, dan sebuah diskusiyang masuk akal dari pertanyaan ini adalah hanya mungkin antarapihak yang memiliki beberapa tujuan yang sama. Pilihan tujuantentu saja harus berhubungan dengan masalah keputusan yangakan melampaui argumen rasional.
  • 20Jadi siapa saja yang memandang suatu sistem mutlak tertentu, padaakhirnya akhir pasti akan menolak usulan di sini. Dan akan merekayang melihat esensi ilmu ... dalam martabat ilmu pengetahuan. ,yang menurut mereka berada di keutuhan dan yang merupakan kebenaran nyata dan esensial . Mereka tidak akan siap untukmemberikan martabat ini untuk fisika teoritis modern di mana sayadan orang lain melihat realisasi paling lengkap untuk menandaiapa yang saya sebut sebagai ilmu empiris .Tujuan ilmu yang ada di benak saya berbeda. Saya tidak mencobauntuk membenarkan mereka, bagaimanapun, dengan menyebutmereka sebagai tujuan yang benar atau esensial dari ilmupengetahuan. Ini hanya akan mendistorsi masalah ini, dan itu akanberarti kembali ke dogmatisme positivis. Hanya ada satu cara,sejauh yang saya bisa melihat, untuk berargumentasi secararasional dalam mendukung proposal saya. Hal ini untukmenganalisis konsekuensi logis mereka: menunjukkan kesuburanmereka-kekuasaan mereka untuk menjelaskan masalah teoripengetahuan.Tapi saya berharap bahwa proposal saya mungkin diterima bagimereka yang tidak hanya menilai kekakuan logis tetapi jugakebebasan dari dogmatisme; yang mencari penerapan praktis,tetapi bahkan lebih tertarik dengan petualangan ilmu pengetahuan,dan dengan penemuan yang selalu menghadapkan kita padapertanyaan tak terduga, menantang kita untuk melakukanpengujian baru dan menantang kita untuk mendapatkan jawabanyang diimpi-impikan .
  • 21Fakta bahwa pertimbangan nilai mempengaruhi proposal sayatidak berarti bahwa saya membuat kesalahan yang saya telahtuduhkan pada para positivis yang mencoba untuk membunuhmetafisika. Saya bahkan tidak membahas terlalu jauh denganmenyatakan bahwa metafisika tidak memiliki nilai bagi ilmuempiris. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa seiring dengan ide-ide metafisik yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, adaie-ide lain-seperti spekulatif atomisme-yang telah membantu itu.Dan melihat masalah dari sudut psikologis, saya cenderungberpikir bahwa penemuan ilmiah adalah mustahil tanpa ide imanyang memang murni spekulatif, dan kadang-kadang bahkan sangatkabur, sebuah iman yang sangat tidak beralasan dari sudutpandang ilmu pengetahuan, dan sampai tingkat tertentu merupakanhal yang bersifat metafisik .11Namun setelah dikeluarkannya semua peringatan ini, saya masihberpendapat bahwa tugas utama dari logika pengetahuan adalahuntuk mengajukan konsep ilmu pengetahuan empiris, dalamrangka untuk membuat penggunaan linguistik, yang sekarang agaktidak pasti, menjadi sepasti mungkin, dan untuk menarik garisdemarkasi yang jelas antara gagasan sains dan metafisik-meskipunide-ide ini mungkin telah ditindaklanjuti oleh kemajuan ilmupengetahuan sepanjang sejarah.5. PENGALAMAN SEBAGAI SEBUAH METODETugas merumuskan definisi tentang ide ilmu empiris yang dapatditerima bukan tanpa kesulitan. Beberapa timbul dari pendapat
  • 22bahwa harus ada banyak sistem teoritis dengan struktur logis yangsangat mirip dengan salah satu sistem yang telah diterima olehilmu pengetahuan empiris. Situasi ini terkadang digambarkandengan mengatakan bahwa ada sejumlah besar dunia -kemungkinan jumlahnya tak terbatas- yang secara logis mungkin.Namun sistem yang disebut „sains empiris‟ ini dimaksudkan untukmewakili hanya satu dunia: dunia nyata atau dunia pengalamankita‟.Untuk membuat ide ini sedikit lebih tepat, kita dapat membedakantiga persyaratan yang harus dienuhi oleh sistem empiris teoritiskita. Pertama, harus sintetik, sehingga bisa mewakili dunia yangmungkin. Kedua, harus memenuhi kriteria dan indikator demarkasi(lih. bagian 6 dan 21), yakni tidak boleh meta fisik, tetapi harusmewakili dunia pengalaman yang mungkin. Ketiga, harusmerupakan sistem yang dapat dibedakan dalam beberapa cara darisistem lainnya sebagai satu satunya yang mewakili duniapengalamankita.Tetapi bagaimana sistem yang mewakili dunia pengalaman kitaharus dibedakan? Jawabannya adalah: oleh kenyataan bahwa iatelah menjalani serangkaian pengujian, dan telah berhasil melewatiujian ujian tersebut. Ini berarti bahwa ia dapat dibedakan denganmenerapkan metode deduktif yang bertujuan untuk menganalisisdan mendeskripsikan.Pengalaman, pada pandangan ini, muncul sebagai metode yangberbeda dimana satu sistem teoritis dapat dibedakan dari teori lain,sehingga ilmu pengetahuan empiris tampaknya tidak hanya
  • 23ditandai oleh bentuk logis tetapi, tetapi juga oleh metode yangkhas. (Hal ini, tentu saja, sesuai juga dengan pandanganinductivists, yang mencoba untuk menggambarkan ilmupengetahuan empiris dengan penggunaan metode induktif).Teori pengetahuan, yang tugasnya adalah menganalisis metodeatau prosedur khusus untuk ilmu empiris, dapat digambarkansebagai teori metode empiris - teori yang biasa disebutpengalaman.6. KEPALSUAN SEBAGAI KRITERIA DEMARKASI" Kriteria demarkasi yang melekat dalam logika induktif-yaitu,dogma positivistik dari makna-setara dengan persyaratan bahwasemua pernyataan ilmu pengetahuan empiris (atau semuapernyataan yang berarti) harus mampu menjadi keputusan akhir,dengan mengacu kepada kebenaran dan kepalsuan: kita akanmengatakan bahwa kriteria tersebut harus dapat diputuskan secarameyakinkan. Ini berarti bahwa bentuk mereka harus sedemikianrupa sehingga selogis mungkin dapat memverifikasi danmenentukan kepalsuannya. Jadi Schlick mengatakan: "...pernyataan asli harus memiliki kemampuan verifikasi konklusif ;dan Waismann mengatakan dengan lebih jelas: Jika tidak ada carayang mungkin untuk menentukan apakah sebuah pernyataanadalah benar maka pernyataan itu tidak memiliki arti sama sekali.Metode untuk mengetahui arti sebuah pernyataan adalah metodeverifikasi.
  • 24Sekarang dalam pandangan saya tidak ada hal yang disebut induksi"!. Jadi inferensi untuk teori, dari pernyataan tunggal yangdiverifikasi oleh pengalaman (apapun artinya itu), secara logisdapat diterima. Teori, oleh karenanya, tidak pernah dapatdiverifikasi secara empiris. Jika kita ingin menghindari kesalahanpositivis tentang pengeliminasian, dengan kriteria demarkasi, atausistem teoritis ilmu pengetahuan alam, * 2 maka kita harusmemilih kriteria yang memungkinkan kita untuk mengakui domainilmu empiris, bahkan pernyataan yang tidak dapat diverifikasi.Tetapi saya akan mengakui suatu sistem sebagai empiris atauilmiah hanya jika ia mampu teruji oleh pengalaman. Pertimbanganini menunjukkan bahwa bukan verifiability yang harus diambilsebagai kriteria demarkasi, melainkan falsifiability. Dengan katalain: Saya tidak akan memerlukan sebuah sistem ilmiah yang harusmampu terpilih dalam arti yang positif, tetapi saya harusmensyaratkan bahwa bentuk logisnya yang harus sedemikian rupasehingga dapat terpilih dengan melakukan pengujian empiris,dalam arti negatif: sistem ilmiah empiris tersebut mungkin akandisangkal oleh pengalaman.Di sini saya tidak membahas apa yang disebut induksimatematika. Yang saya sangkal adalah bahwa ada yang disebutinduksi dalam ilmu-ilmu induktif yaitu bahwa ada kesimpulaninduktif dan prosedur induktif.Perhatikan bahwa saya menyarankan falsifiability sebagai kriteriademarkasi, tetapi tidak untuk maknanya. Perlu dicatat bahwa sayasudah (bagian 4) dengan tajam mengkritik penggunaan gagasan
  • 25makna sebagai kriteria demarkasi, dan bahwa saya menyerangdogma makna lagi, bahkan lebih tajam, di bagian 9 karena hal ituadalah mitos belaka (meskipun sejumlah reputasi dari teori sayatelah didasarkan pada mitos ini), bahwa saya pernah mengusulkanfalsiability sebagai kriteria makna. Falsifiability memisahkan duajenis pernyataan yang bermakna sempurna yaitu yang difalsifikasidan non-difalsifikasi.Berbagai keberatan mungkin diajukan terhadap kriteria demarkasiyang diusulkan di sini. Pertama, mungkin nampaknya salah untukmenunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, yang seharusnyamemberikan kita informasi positif, harus dianggap juga memenuhipersyaratan negatif seperti refutability. Namun, saya akanmenunjukkan bahwa keberatan ini tak beralasan, karena dengansemakin besar jumlah informasi positif tentang dunia yangdisampaikan oleh pernyataan ilmiah maka semakin besarpulakemungkinan untuk terjadi bentrokan, diakibatkan olehkarakter yang logis, yang mungkin saja berupa pernyataan tunggal.(Kita menyebut hukum alam‟ bukan tanpa alasan: semakindilarang, semakin banyak yang dikatakan.)Sekali lagi, mungkin akan ada banyak upaya untuk melawan kritiksaya terhadap kriteria demarkasi para inductivist, karena nampakbahwa keberatan dapat diajukan terhadap penunjukan falsifiabilitysebagai kriteria demarkasi yang sama dengan kriteria yang sayaajukan terhadap verifiabilitySerangan ini tidak akan mengganggu saya. Proposal saya disusunberdasarkan pada adanya suatu asimetri antara verifiability dan
  • 26falsifiability: suatu asimetri yang dihasilkan dari bentuk logispernyataan universal. Pernyatan pernyataan tersebut tidak pernahditurunkan dari pernyataan tunggal, tetapi dapat dikontrakdisikandengan pernyaan tunggal. Akibatnya adalah, dengan carakesimpulan deduktif murni (dengan bantuan dari modus logikaklasik) kita dapat memperdebatkan kebenaran pernyataan tunggaldengan kepalsuan pernyataan universal. Argumen terhadapkepalsuan dari pernyataan universal adalah satu-satunya jeniskesimpulan yang sangat deduktif dalam pelaksanaannya, seolah-olah merupakan arah induktif, dari pernyataan tunggal sampaipernyataan universal.Keberatan yang ketiga nampaknya lebih serius. Dapat dikatakanbahwa bahkan jika asimetri diakui, karena berbagai alasan, makasetiap sistem teoritis pernah dianggap palsu. Karenanya selalu adakemungkinan untuk menemukan beberapa cara dalam menghindaripemalsuan, misalnya dengan memperkenalkan suatu hipotesis adhoc tambahan, atau dengan mengubah ad hoc definisi. Hal inibahkan mungkin dilakukan tanpa inkonsistensi logis untukmengadopsi posisi dalam menolak mengakui pengalamanpemalsuan apapun. Diakui bahwa para ilmuwan biasanya tidakmelanjutkan dengan cara ini, tetapi secara logis prosedur tersebutdapat dilakukan, dan fakta ini, mungkin dapat diklaim dapatmembuat nilai logis dari kriteria demarkasi yang saya usulkansetidaknya menjadi meragukan.Saya harus mengakui keadilan kritik ini, tetapi saya tidak perlumenarik proposal saya untuk mengadopsi falsifiability sebagai
  • 27kriteria demarkasi. Karena saya akan mengusulkan bahwa metodeempiris harus ditandai sebagai metode yang tepat dalammenghindari cara-cara pemalsuan yang, khayalan saya bersikerasmengkritiknya, secara logis mungkin terjadi. Menurut proposalsaya, yang menjadi ciri khas metode empiris adalah bagaimanamemperlihatkan pemalsuan, di setiap cara yang mungkin, terhadapsistem yang akan diuji. Tujuannya bukan untuk mempertahankanpenggunan sistem yang tidak bisa dipertahankan, tetapi sebaliknya,untuk memilih satu yang terkuat setelah memperbandingkannya.Pengajuan kriteria demarkasi juga membawa kita pada solusimasalah Hume tentang induksi- yaitu masalah keabsahan hukumalam. Akar masalah ini adalah pertentangan nyata antara apa yangdapat disebut sebagai fundamental tesis dari empirisme dengantesis bahwa pengalaman saja dapat memutuskan kebenaran ataukesalahan sebuah pernyataan ilmiah- dan realisasi Hume darikeadaan tak dpt diterimanya suatu argumen induktif. Kontradiksiini muncul hanya jika diasumsikan bahwa semua pernyataanilmiah empiris harus dapat disimpulkan secara konklusif, yaitubahwa verifikasinya dan falsifikasinya keduanya harus dapatdilakukan. Jika kita menolak persyaratan ini dan mengakuinyasebagai empiris sekaligus sebagai pernyataan yang dapat diambilkeputusannya dalam arti hanya satu-secara sepihak yang mampudan khususnya dapat difalsifikasi-, mama kontradiksi menghilang:metode pemalsuan mengandaikan tidak adanya ada inferensiinduktif, tetapi hanya transformasi tautologis pada logika deduktifyang validitas tidak dipertanyakan "
  • 287. MASALAH DASAR EMPIRISJika falsifiability berlaku semuanya sebagai kriteria demarkasi,maka harus tersedia pernyataan tunggal yang dapat berfungsisebagai premis dalam pemalsuan kesimpulan. Oleh karena itukriteria kita hanya muncul dengan menggeser masalah untukmembawa kita kembali dari pertanyaan tentang karakter empiristeori ke pertanyaan tentang karakter empiris pernyataan tunggal.Namun demikian, sesuatu telah diperoleh. Dalam praktekpenelitian ilmiah, pembatasan/demarkasi kadang-kadangmendesak adanya koneksi segera dengan sistem teoritis, sedangkanuntuk pernyataan tunggal, jarang muncul keraguan tentangkarakter empiris. Memang benar bahwa kesalahan pengamatandapat saja teradi dan bahwa kesalahan tersebut menyebabkanpernyataan tunggal yang palsu, tetapi ilmuwan hampir tidakpernah memiliki kesempatan untuk menggambarkan sebuahpernyataan tunggal sebagai non-empiris maupun metafisik.Masalah dasar empiris-yaitu masalah mengenai karakter empirispernyataan tunggal, dan bagaimana pernyataan diuji- sehinggaberperan dalam logika ilmu yang agak berbeda dari yangdimainkan oleh sebagian besar masalah lain yang akan menjadiperhatian kita. Untuk sebagian besar pernyatan yang berkaitan eratdengan praktek penelitian, sementara masalah dasar empiristerutama berhubungan dengan teori pengetahuan. Saya tetap harusmempertimbangkannya, karena mereka telah memunculkanbanyak ketidakjelasan. Hal ini terutama berlaku pada hubungan
  • 29antara pengalaman persepsi dan pernyataan dasar. (Apa yang sayasebut pernyataan dasar atau proposisi dasar adalah pernyataanyang dapat berfungsi sebagai premise dalam pemalsuan empiris,singkatnya merupakan pernyataan dari fakta tunggal.)Pengalaman perseptual sering dianggap sebagai pembenaranuntuk pernyatan dasar. Hal ini menyatakan bahwa pernyataantersebut didasarkan pada pengalaman-pengalaman; bahwakebenaran mereka menjadi nyata dengan inspeksi melaluipengalaman-pengalaman, atau bahwa itu adalah dibuat jelas olehpengalaman-pengalaman ini, dsb. Semua ekspresi ini menunjukkankecenderungan sempurna untuk menekankan hubungan yang eratantara pernyataan dasar dan pengalaman persepsi kita. Namundibenarkan juga bahwa suatu pernyataan dapat secara logisdibenarkan hanya oleh pernyataan. Dengan demikian hubunganantara persepsi dan pernyataan menjadi tidak jelas dandigambarkan dengan ekspresi tak jelas yang tidak menjelaskanapa-apa, tetapi tetap dengan kesulitan yang ada atau paling tidakmenggambarkannya dengan metafora.Di sini juga akan dapat ditemukan solusi, saya percaya, jika kitajelas memisahkan psikologi dari aspek logis dan metodologis suatumasalah. Kita harus membedakan antara, di satu sisi, pengalamansubyektif kita atau perasaan tentang keyakinan, yang tidak pernahdapat membenarkan pernyataan apapun (meskipun mereka dapatdijadikan subjek penyelidikan psikologis) dan, di sisi lain,hubungan logis tujuan hidup dari di antara berbagai sistem
  • 30pernyatan pernyatan ilmiah, dan di dalam masing-masingpernyataan.8. OBYEKTIVITAS ILMIAH DAH KEYAKINANSUBYEKTIFKata-kata „obyektif‟ dan subyektif adalah istilah filsafat yangsangat terbebani dengan warisan penggunaan kontradiktif dandiskusi tidak meyakinkan dan berkesudahan.Penggunaan istilah „obyektif‟ dan subyektif menurut saya tidakseperti yang digunakan oleh Kant.Dia menggunakan kata objektif untuk mengindikasikan bahwapengetahuan ilmiah harus dibenarkan, terlepas dari siapa pun yangberkata: pembenaran diktakan obyektis jika pada prinsipnya dapatdiuji dan dipahami oleh siapa pun. "Jika ada sesuatu yang valid ,ia menulis, untuk siapa pun yang memiliki alasannya, makaalasannya tentu bersifat obyektif dan memadai."Sekarang saya percaya bahwa teori-teori ilmiah tidak pernahsepenuhnya dapat dibenarkan atau dapat diverifikasi, tetapi merekatetap dapat diuji berulang kali . Karena itu saya katakan bahwaobjektivitas laporan ilmiah terletak pada kenyataan bahwa merekadapat diuji antar-subjektif, setelah menggeneralisasikan formulasiini; pengujian inter-subjective adalah merupakan aspek pentingdari ide kritik inter-subjective criticism, atau dengan kata lain idetersebut merupakan ide tentang pengawasan rasional mutualmelalui diskusi yang kritis.
  • 31Kata „Subjektif diterapkan oleh Kant untuk menggambarkanperasaanakan keyakinan (dari berbagai derajat); Untuk mengkajibagaimana ini menjadi ranah psikologi bisnis. Mereka mungkintimbul, misalnya, sesuai dengan hukum asosiasi. Alasan obyektifjuga dapat berfungsi sebagai penyebab penilaian subyektif sejauhkita bisa merenungkan alasan ini, dan menjadi yakin akan hal ygmeyakinkan mereka.Kant mungkin orang pertama yang menyadari bahwa objektivitaslaporan ilmiah sangat berhubungan dengan pembangunan teoridengan menggunakan hipotesis dan pernyataan universal. Hanyabila ada kejadian tertentu berulang sesuai dengan aturan atauketeraturan, seperti halnya dengan percobaan diulang, pengamatankita bisa diuji-prinsip-oleh siapapun. Kita tidak menganggappengamatan kita sendiri cukup serius, atau menerima merekasebagai pengamatan ilmiah, sampai kita mengulangi dan mengujimereka. Hanya dengan pengulangan tersebut kitadapatmeyakinkan diri sendiri bahwa kita tidak berurusan dengankebetulan belaka, namun dengan peristiwa yang, karenaketeraturan dan reproduktifitas, yang pada prinsipnya dapat diuji. "Setiap fisikawan eksperimental tahu tentang efek mengejutkan dilaboratoriumnya yang mungkin bisa direproduksi selama beberapawaktu, namun yang akhirnya menghilang tanpa jejak. Tentu saja,tidak ada fisikawa yang mengatakan dalam kasus seperti inibahwa ia telah membuat penemuan ilmiah (meskipun ia mungkinmencoba untuk mengatur ulang eksperimennya sehingga membuatefeknya bisa diulang kembali). Memang pengaruh efek fisik secara
  • 32ilmiah dan signifikan dapat didefinisikan sebagai sesuatu yangdapat secara teratur diulangi oleh siapa pun yang mengikutiprosedur prosedur tersebut.Kant menyadari bahwa dari objektivitas yang diperlukan olehpernyataan ilmiah adalah bahwa mereka harus setiap antar-waktudapat diuji secara subyektif, dan bahwa karena itu mereka harusmemiliki bentuk hukum universal atau teori. Ia merumuskanpenemuan ini agak samar-samar dengan mengemukakan prinsipsuksesi temporal sesuai dengan hukum kausalitas "( prinsip yang iapercaya bisa membuktikan a priori dengan menggunakan nalaryang dibahas di sini). Saya tidak mengemukakan prinsip tersebut,tetapi saya setuju bahwa pernyataan ilmiah, karena mereka harusdiuji antar-subyektif, harus selalu bersifat hipotesis universal.Tidak ada fisikawan yang serius akan menawarkan untuk publikasi,sebagai penemuan ilmiah, pengaruh gaib seperti itu, sebagaimanasaya usulkan untuk menyebutnya satu untuk reproduksi yangdilakukan tanpa petunjuk. Penemuan tersebut akan terlalu cepatditolak sebagai tdk masuk akal, hanya karena upaya untuk mengujihal itu akan menyebabkan hasil negatif "(. Hal berikut bahwakontroversi atas pertanyaan apakah peristiwa yang pada prinsipnyadapat terulang dan unik memang pernah terjadi tidak dapatdiputuskan oleh ilmu pengetahuan: itu akan menjadi kontroversimetafisik).Kita sekarang dapat kembali ke titik yang dibuat pada bagiansebelumnya: bahwa tesis saya tentang pengalaman subyektif, atauperasaan keyakinan, tidak pernah dapat membenarkan pernyataan
  • 33ilmiah, dan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berperan kecualisebagai sebuah objek dari penyelidikan empiris (atau psikologis).Tidak peduli seberapa kuat rasa keyakinan, ia tidak pernah dapatmembenarkan sebuah pernyataan. Jadi saya mungkin benar-benaryakin akan kebenaran dari sebuah pernyataan; tertentu dari buktipersepsi saya, diperkuat oleh intensitas pengalaman saya: setiapkeraguan tampak absurd bagi saya.Tetapi apakah ini memberikan alasan sedikit pun bagi ilmupengetahuan untuk menerima pernyataan saya? Dapat pernyataanapapun dibenarkan oleh fakta bahwa KRP sangat meyakinkan darikebenarannya? Jawabannya adalah, Tidak, dan jawaban lain akanbertentangan dengan gagasan objektivitas ilmiah. Bahkan fakta,bagi saya untuk jadi mapan, bahwa saya mengalami perasaankeyakinan sebagaimana dimaksud oleh para psikologist, dalambentuk hipotesis psikologis yang, tentu saja, merupakan prediksiatas perilaku saya, dan dapat diyakinkan dengan menjalaniserangkaian tes ekperimental.Tetapi dari sudut pandang epistemologis, sangat tidak relevanapakah perasaan saya tentang keyakinan kuat atau lemah, apakahitu datang dari kesan kuat atau bahkan tak tertahankan, kepastian,atau hanya dari keraguam. Semua hal ini mempunyai kaitan padapertanyaan tentang bagaimana pernyataan ilmiah dapatdibenarkan.Dalam literatur fisika dapat ditemukan beberapa kasus laporan,oleh penyidik serius, tentang terjadinya efek yang tidak bisadireproduksi, karena pemeriksaan lebih lanjut mendapatkan hasil
  • 34negatif. Contoh yang terkenal dari waktu terakhir adalah hasilpositif yang tak dapat dijelaskan dari eksperimen Michelsonssebagaimana diamati oleh Miller (1921-1926) di Gunung Wilson.,Setelah ia sendiri (serta Morley) sebelumnya mereproduksi hasilnegatif Michelsons. Tapi karena tes kemudian kembalimemberikan hasil negatif sekarang mendiputuskan untukmenganggap yang kedua ini sebagai yang menentukan, dan untukmenjelaskan hasil berbeda yang didapat Miller sebagai " kesalahankarena sumber yang tidak diketahui .Pertimbangan seperti ini tentu saja tidak memberikan jawabanterhadap masalah dasar empiris. Tapi setidaknya telah membantukita untuk melihat kesulitan utama. Dalam menuntut objektivitasuntuk pernyataan dasar serta untuk pernyataan ilmiah lainnya, kitamenghilangkan setiap sarana logis di mana kita mungkin berharapuntuk mengurangi kebenaran pernyataan ilmiah berdasarkanpengalaman kita. Apalagi kita menghalangi diri kita dari setiappemberian status terhadap pernyataan yang menggambarkanpengalaman, seperti pernyatan yang menggambarkan persepsi kita(dan yang beberapa kali disebut kalimat protokol). Hal haltersebut dapat terjadi dalam sains hanya sebagai pernyataanpsikologis, dan ini berarti, sebagai hipotesis pengujian antar-subjektif (mengingat keadaan psikologi sekarang ) standarnyatentu tidak terlalu tinggi.Apapun yang mungkin menjadi jawaban akhir terhadap pertanyaanempiris dasar, satu hal harus jelas: jika kita mematuhi ketentuan
  • 35bahwa pernyataan ilmiah harus objektif, maka pernyataan tersebutyang termasuk ke dalam dasar empiris sains juga harus objektif,yaitu dapat diuji antar-subjektif. Jadi jikapernyataan dasar ternyatadapat teruji inter-subyektif, maka tidak ada pernyataan utamadalam sains; tidak ada laporan di bidang sains yang tidak dapatdiuji, dan karena itu tidak ada yang tidak dapat secara prinsipdisanggah, dengan memalsukan beberapa kesimpulan yang dapatdideduksi dari mereka.Dengan demikian kita sampai pada pandangan berikut. Sistemteori diuji dengan menyusun kesimpulan dari pernyataan yangtingkat universalitasnya lebih rendah. Pernyataan tersebut padagilirannya harus diuji antar-subyektif diuji, harus diuji secaraberulang ulang.Mungkin terpikirkan bahwa pandangan ini mengarah ke regresi takterbatas, karenanya itu tidak bisa dipertahankan, Pada bagian 1,ketika mengkritik induksi, saya mengangkat keberatan bahwa halini mungkin mengakibatkan regresi tak terbatas, dan mungkintampak bagi pembaca sekarang bahwa ada keberatan yang samaterhadap prosedur pengujian deduktif yang saya advokasi sendiri.Namun, tidak demikian halnya.
  • 36SEPUTAR PERMASALAHAN TEORI METODE ILMIAH Oleh: MULIADI NIM.32410001
  • 37 SEPUTAR PERMASALAHAN TEORI METODE ILMIAHSesuai dengan yang telah diajukan Popper di atas bahwaepistemologi atau logika penemuan ilmiah harusditemukan/diidentifikasi dari teori metode ilmiah. Teori tersebut,sejauh melampaui analisis logis murni dari hubungan-hubunganantara pernyataan-pernyataan ilmiah, disangkutpautkan denganpilihan metode-metode, dengan keputusan tentang cara dimanapernyataan-pernyataan ilmiah diberikan. Keputusan-keputusantersebut tentu saja akan bergantung pada tujuan yang dipilih diantara sejumlah pilihan yang mungkin. Keputusan yang diajukandi sini memberikan aturan-aturan yang sesuai dengan apa yangdisebut metode empiris yang berhubungan erat dengan kriteriademarkasi Popper. Popper mengajukan untuk mengadopsi aturan-aturan tersebut untuk memastikan keterujian pernyataan-pernyataan ilmiah yakni falsiabilitasnya.1. MENGAPA KEPUTUSAN-KEPUTUSAN METODOLOGIS SANGAT DIPERLUKAN?Aturan-aturan apa saja dari metode ilmiah itu dan mengapadiperlukan? Apakah mungkin teori mengenai aturan-aturan sepertiitu ada, sebuah metodologi?Cara seseorang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan inisebagian besar tergantung pada sikapnya terhadap ilmu. Kaumpositivis menganggap ilmu empiris sebagai sebuah sistem
  • 38pernyataan yang memenuhi kriteria logis tertentu, misalnyakebermaknaan atau verifiabilitas yang akan memberikan satujawaban. Jawaban yang sangat berbeda akan diberikan oleh orang-orang yang cenderung melihat (sebagaimana yang dilakukan olehPopper) sifat mencolok dari pernyataan-pernyataan empiris yangrentan untuk direvisi serta orang menganggapnya sebagai tugasmereka untuk menganalisis kemampuan ilmu yang khas untukmaju dan cara yang khas dimana suatu pilihan diambil di antarasistem-sistem teori yang bertentangan.Popper siap mengakui bahwa dibutuhkan suatu analisis logis murniterhadap suatu teori, karena suatu analisis tidak memperhitungkanbagaimana teori tersebut berubah dan berkembang. Akan tetapijenis analisis ini tidak menjelaskan aspek-aspek dari ilmu empiris,yang karena suatu hal Popper sangat hargai. Suatu sistem misalnyamekanika klasik bisa saja bersifat ilmiah dalam tingkatan di manasaja yang disenangi ; akan tetapi bagi orang yang menjunjungnyasecara dogmatis barangkali percaya bahwa tugas merekalahmempertahankan sistem yang berhasil itu dari kritik sejauh ia tidakdisangkal secara meyakinkan. Orang yang menjunjungnya secaradogmatis tersebut sedang mengadopsi persis kebalikan sifat kritisyang dalam pandangan Popper adalah sikap yang tepat bagiseorang ilmuwan. Dalam kenyataannya tidak ada sangkalanmeyakinkan terhadap sebuah teori yang pernah dapat dihasilkan;karena selalu memungkinkan untuk mengatakan bahwa hasil-hasileksperimental tidak dapat dipercaya. Ketidaksesuaian antara hasil-
  • 39hasil eksperimen dengan teori hanya tampak dan lenyap bersamaanmajunya pemahaman kita terhadap permasalahan tersebut. (Dalamperjuangan melawan Einstein, kedua argumen ini sering digunakanuntuk mendukung mekanika Newtonian. Argumen-argumen yangserupa juga ditemui dalam bidang ilmu-ilmu sosial). Jika andabersikeras pada pembuktian yang ketat (atau penyangkalan yangketat) dalam ilmu-ilmu empiris, anda tidak akan pernah beruntungdari pengalaman dan tidak akan pernah belajar darinya betapakelirunya anda.Oleh karena itu jika kita mencirikan ilmu empiris hanya denganstruktur pernyataannya formal atau logis, kita tidak akan dapatmenyisihkan darinya bahwa bentuk metafisika lazim yangdihasilkan melalui sebuah teori ilmiah yang usang menjadi suatukebenaran yang tak terbantahkan.Inilah alasan-alasan yang Popper ajukan bahwa ilmu empiris harusdicirikan oleh metode-metodenya: dengan cara kitamemperlakukan sistem-sistem ilmiah: oleh apa yang kita lakukandengannya dan apa yang kita lakukan kepadanya. Karena ituPopper akan mencoba menetapkan aturan-aturan, norma-normayang membimbing seorang ilmuwan ketika ia sibuk dalam risetatau dalam penemuan dalam arti yang dipahami di sini.2. PENDEKATAN NATURALISTIK KEPADA TEORI METODE ILMIAH
  • 40Petunjuk yang berikan diberikan oleh Popper pada bagiansebelumnya mengenai perbedaan mendalam antara posisi Popperdengan posisi para positivis membutuhkan beberapa penjelasantambahan.Para positivis tidak menyukai ide bahwa mestinya ada persoalan-persoalan bermakna di luar bidang ilmu empiris „positif‟ –persoalan-persoalan berkenaan dengan teori filosofis yang sejati. Iatidak menyukai bahwa mestinya ada suatu teori sejati ataspengetahuan, suatu epistemologi atau suatu metodologi. Ia inginmelihat di dalam apa yang disebut persoalan-persoalan filosofis„pseudo-problem‟ atau „teka-teki‟ filosofis belaka. Tetapikeinginan ini selalu dapat dipuaskan . Ia tidak menyatakan sebagaisuatu keinginan atau usulan melainkan lebih tepatnya sebagaisuatu pernyataan mengenai fakta . Tidak ada yang lebih mudahdaripada membuka kedok sebuah persoalan „tak bermakna‟ atau„pseudo‟. Yang perlu anda lakukan adalah menetapkan arti yangsempit untuk kata „makna‟ dan anda akan segera mengajukanpertanyaan apa saja yang menyusahkan sehingga anda tak mampulagi mendeteksi makna apapun di dalamnya. Lagi pula, jika andamengakui persoalan apapun sebagai hal yang bermakna selainpersoalan-persoalan yang ada dalam ilmu alam maka setiapperdebatan tentang konsep „makna‟ juga ternyata mejadi tidakbermakna. Dogma dari konsep „makna‟ tersebut, sekalidinobatkan, selamanya diangkat di atas pertentangan. Ia tidak
  • 41dapat lagi diserang. Ia telah menjadi (dengan kata-kata Wittgeneinsendiri) tak terbantah dan definitif.Pertanyaan yang kontroversial apakah filsafat itu ada, ataumempunyai hak untuk berada, nyaris setua filsafat itu sendiri.Waktu dan sekali lagi suatu gerakan filosofis yang sama sekalibaru muncul, akhirnya membuka kedok persoalan-persoalanfilosofis lama sebagai persoalan-persoalan palsu dan menghadapiomong kosong filsafat yang sangat buruk dengan pengertian ilmuyan baik, bermakna, positif dan empiris. Waktu dan sekali lagipara pembela „filsafat tradisional‟ yang dianggap rendah benar-benar berusaha menjelaskan kepada para pemimpin seragampositivis terbaru bahwa pesoalan utama filsafat adalah analisiskritis terhadap keterpakuan pada otoritas pengalaman. Akan tetapiuntuk menanggapi keberatan itu tidak berarti apa-apa baginyakarena tidak termasuk dalam ilmu empiris yang satu-satunyamerupakan hal bermakna. „Pengalaman‟ baginya adalah suatuprogram, bukan persoalan (kecuali kalau dipelajari oleh psikologisempiris).Popper tidak menganggap bahwa para positivis mungkin akanmenanggapi dengan berbeda usaha Popper sendiri menganalisis„pengalaman‟ yang ditafsirkan oleh Popper sebagai metode ilmuempiris. Karena bagi mereka, yang ada hanya dua jenispernyataan: pernyataan tautologis dan pernyataan empiris. Jikametodologi bukan logika, maka mereka akan menyimpulkan, iapastilah cabang ilmu empiris tertentu.
  • 42Pandangan ini menganggap metodologi merupakan sebuah ilmuempiris yang pada gilirannya dapat dideskripsikan sebagai„naturalistik‟. Suatu metodologi naturalistik (kadang-kadangdisebut suatu „teori ilmu induktif), mempunyai nilai dan tidakdiragukan. Seorang mahasiswa yang mempelajari logika ilmupengetahuan mungkin tertarik padanya; dan belajar darinya. Tetapiapa yang disebut Popper „metodologi‟ jangan dianggap sebagaiilmu empiris. Dengan menggunakan metode ilmu empiris, Poppertidak percaya bahwa memungkinkan untuk memutuskanpertanyaan-pertanyaan kontroversial seperti apakah ilmusesungguhnya menggunakan suatu prinsip induksi atau tidak.Popper bertambah ragu ketika mengingat bahwa apa yang disebut„ilmu‟ dan siapa yang disebut ilmuwan mesti selalu menyisakansuatu persoalan konvensi atau putusan.Popper percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan jenis ini harusdiperlakukan dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh, kita bisamemandang dan membandingkan dua sistem aturan metodologisyang berbeda; yang satu sesuai dengan prinsip induksi dan yanglainnya tidak, dan kemudian kita bisa menguji apakah prinsiptersebut dapat diterapkan tanpa menimbukan inkonsistensi; apakahia membantu kita, dan apakah kita benar-benar memerlukannya.Tipe cara bertanya inilah yang menuntun Popper untuk membuangprinsip induksi; bukan karena prinsip tersebut dalam kenyataannyatidak pernah dipakai dalam ilmu, melainkan karena Poppermenganggap bahwa itu tidak dibutuhkan; bahwa ia tidak
  • 43membantu kita; dan bahkan ia mengakibakan inkonsistensi-inkonsistensi. Dengan demikian Popper menolak pandangannaturalistik. Para penganutnya gagal memperhatikan bahwabilamana mereka mempercayai dirinya telah menemukan sebuahfakta, mereka hanya mengajukan suatu konvensi. Karenanyakonvensi itu mudah berubah menjadi sebuah dogma. Kritik ataspandangan naturalistik ini diterapkan tidak hanya pada kriteriamaknanya tetapi juga pada idenya akan ilmu.3. ATURAN-ATURAN METODOLOGI SEBAGAI KONVENSI-KONVENSIAturan-aturan metodologis dipandang sebagai konvensi-konvensi.Aturan tersebut dapat digambarkan sebagai aturan-aturanpermainan pengetahuan ilmu empiris. Ia berbeda dari aturan-aturanlogika murni atau lebih tepatnya seperti aturan-aturan catur. Olehsegelintir orang, aturan tersebut dipandang sebagai bagian darilogika murni: mengingat bahwa aturan-aturan logika murnimengatur transformasi-transformasi rumus linguistik. Hasilpenelitian pada aturan-aturan catur barangkali dapat disebut„Logika Catur‟, tetapi hampir bukan „logika‟ yang murni dansederhana. (Demikian pula, hasil penelitian aturan-aturanpermainan ilmu – yakni penemuan ilmiah – dapat dinamai „LogikaPenemuan Ilmiah‟).Dua contoh sederhana tentang aturan-aturan metodologis dapatdiberikan. Ia akan memadai untuk memperlihatkan bahwa tidak
  • 44cocok untuk menempatkan sebuah penelitian di atas metode padalevel yang sama dengan penelitian logis murni.(1) Permainan ilmu, pada prinsipnya, tanpa akhir. Orang yang memutuskan bahwa pada suatu ketika pernyataan-pernyataan ilmiah tidak memerlukan pengujian lebih lanjut, dan dapat dianggap diverifikasi secara tuntas, berarti ia telah mengundurkan diri dari permainan itu.(2) Sekali sebuah hipotesis telah diajukan dan diuji, dan telah membuktikan keberaniannya, ia tidak boleh dibiarkan mengundurkan diri tanpa alasan yang tepat. Mungkin sebuah „alasan yang baik‟, misalnya: pergantian suatu hipotesis dengan hipotesis lain yang dapat diuji dengan lebih baik; atau falsifikasi dari salah satu akibat hipotesis itu. Konsep „dapat diuji lebih baik‟nanti akan dianalisis secara tuntas.)Kedua contoh ini menunjukkan seperti apa aturan-aturanmetodologis itu. Yang jelas aturan-aturan tersebut sangat berbedadari dari aturan-aturan yang biasanya „logis‟. Walaupun logikabarangkali menyusun kriteria untuk memutuskan apakah suatupernyataan dapat diuji, ia tidak berhubungan dengan pernyataan,apakah seseorang mendesak dirinya sendiri untuk mengujinya.Dalam bab Falsiabilitas Popper mencoba mendefiniskan ilmuempiris dengan bantuan kriteria falsiabilitas; tetapi karena Popperwajib mengakui keadilan keberatan-keberatan tertentu, Poppermenjanjikan lampiran metodologis bagi definisi Popper. Persis
  • 45seperti catur yang dapat didefinisikan dengan aturan-aturan yangcocok baginya, begitulah ilmu empiris dapat didefinisikan melaluiaturan-aturan metodologisnya. Dalam menetapkan aturan ini kitadapat memulai secara sistematis. Pertama suatu aturan tertinggiyang ditetapkan berlaku sebagai sejenis norma untuk memutuskanaturan-aturan lainnya, dan kemudian menjadi aturan dengan tipeyang lebih tinggi. Aturan itulah yang mengatakan bahwa aturan-aturan prosedur ilmiah lainnya harus dirancang sedemikian rupaagar tidak melindungi pernyataan apapun yang ada di dalam ilmudari falsifikasi.Dengan demikian, aturan-aturan metodologis berhubungan eratbaik dengan aturan-aturan metodologis lain maupun dengankriteria demarkasi kita. Tetapi hubungan itu bukanlah suatuhubungan deduktif atau logis yang ketat. Aturan tersebutdihasilkan, dari fakta bahwa aturan-aturan itu dikonstruksi dengantujuan untuk menjamin penerapan kriteria demarkasi kita; dengandemikian perumusan dan penerimaannya dimulai berdasarkanaturan praktis dari tipe yang lebih tinggi. Sebuah contoh mengenaihal ini telah diberikan di atas yakni teori-teori yang kita putuskantidak diajukan kepada pengujian lebih lanjut dan tidak dapat lagidifalsifikasi. Hubungan sistematis diantara aturan-aturan inilahyang membuat kita patut membicarakan sebuah teori metodeilmiah. Kebenaran-kebenaran mendalam tidak diharapkan darimetodologi. Kendati demikian, ia bisa membantu kita dalambanyak kasus untuk menjelaskan situasi logis, dan bahkan
  • 46memecahkan persoalan-persoalan yang berjangkauan-jauh yangsampai sekarang ini tidak mudah ditangani. Salah satu daripersoalan ini misalnya persoalan memutuskan kapan sebuahpernyataan probabilitas harus diterima atau ditolak.Telah sering diragukan apakah berbagai persoalan teoripengetahuan berada dalam hubungan yang sistematik satu samalain, dan juga apakah ia dapat diperlakukan secara sistematis.Dalam buku ini Popper berharap menunjukkan bahwa keragu-raguan ini tidak pada tempatnya. Satu-satunya alasan Poppermengajukan kriteria demarkasi ialah karena ia bermanfaat: karenabanyak masalah dapat dijelaskan dan dijernihkan denganbantuannya. Menurut Menger bahwa definisi-definisi adalahdoma-dogma; hanya kesimpulan-kesimpulan yang ditarik darinyayang dapat memberi kita wawasan yang baru. Ini tentu saja benarmengenai definisi konsep „ilmu‟. Hanya dari konsekwensi-konsekwensi definisi Popper mengenai ilmu empiris, dan dariputusan-putusan metodologis yang tergantung pada definisi inilah,seorang ilmuwan bisa melihat seberapa jauh definisi itu sesuaidengan ide intuitifnya mengenai tujuan usaha-usahanya.Seorang ahli filsafat juga akan menerima definisi Popper bergunahanya jika ia dapat menerima konsekwensi-konsekwensinya. Kitaharus meyakinkannya bahwa konsekwensi-konsekwensi inimemungkinkan kita mendeteksi inkonsistensi-inkonsistensi danketidakmemadaian dalam teori pengetahuan yang lebih tua, danmelacak kembali hal ini pada asumsi-asumsi fundamental dan
  • 47konvensi-konvensi yang menumbuhkannya. Tetapi kita juga harusmeyakinkannya bahwa usulan-usulan kita sendiri tidak terancamoleh jenis kesulitan yang sama. Metode mendeteksi danmemecahkan kontradiksi ini diterapkan juga dalam ilmu itusendiri, tetapi ia mempunyai kepentingan khusus dalam teoripengetahuan. Dengan metode inilah, konvensi-konvensimetodologis dapat dibenarkan dan dapat dibuktikan nilainya.Apakah para filsuf akan memandang penyelidikan-penyelidikanmetodologis ini termasuk pada filsafat, Popper takut dan ragu,namun hal ini sebenarnya bukan masalah besar. Namun barangkaliberguna untuk menyebutkan dalam kaitan ini bahwa tidak sedikitdoktrin yang bersifat metafisik, dan dengan begitu tentu sajafilosofis dapat ditafsirkan sebagai penghipotesisan aturan-aturanmetodologis yang tipikal. Sebuah contoh mengenai hal ini, dalambentuk apa yang disebut „prinsip kausalitas‟. Contoh lain yangtelah kita hadapi adalah persoalan objektivitas. Karena persyaratanobjektivitas ilmiah dapat juga ditafsirkan sebagai aturanmetodologis: aturan bahwa hanya pernyataan-pernyataan tersebutyang dapat diperkenalkan di dalam ilmu sebagaimana yang dapatdiuji secara inter-subjektif. Memang dapat dikatakan bahwasebagian besar persoalan teoretis filsafat, dan persoalan yangpaling menarik, dapat ditafsirkan kembali dengan cara ini sebagaipersoalan-persoalan metode.
  • 48Pustaka:Popper,K.R , 1959, The Logic of Scientific Discovery.
  • 49BEBERAPA STRUKTUR KOMPONEN TEORI PENGALAMAN; TEORI Oleh: ARMSTRONG F. SOMPOTAN NIM.32410002
  • 50 BEBERAPA STRUKTUR KOMPONEN TEORI PENGALAMAN; TEORI Armstrong F. Sompotan Teori adalah dasar ilmu pengetahuan yang bersifat intersubjektif dan bukan subjektif, dimana ilmu pengetahuan ilmiah merupakan konsensus antar subjek kegiatan ilmiah sehingga harus ditopang komunitas ilmiah.PendahuluanIlmu-ilmu empiris adalah sistem dari kumpulan teori, sehinggalogika ilmu pengetahuan dapat digambarkan sebagai sebuah teoridari kumpulan teori yang ada. Teori-teori ilmiah adalah pernyataanuniversal, seperti representasi ilmu linguistik yang merupakansistem dari tanda-tanda atau simbol. Teori adalah jaring yangdilemparkan untuk menangkap apa yang kita sebut dunia untukmerasionalkan, menjelaskan, dan untuk menguasainya.Kausalitas, Penjelasan, dan Deduksi PrediksiUntuk memberikan penjelasan sebab-akibat suatu peristiwa berartiperlu untuk menyimpulkan suatu pernyataan yang menggambarkanhal itu, menggunakannya sebagai premis deduksi atau hukum-hukum universal, bersama-sama dengan sebuah pernyataansebagai kondisi awal. Adapun pernyataan dibagi atas dua jenis,
  • 51yaitu pernyataan universal dan pernyataan tunggal. Pernyataanuniversal adalah hipotesis dari karakter hukum-hukum alam,sedangkan pernyataan tunggal adalah pertanyaan spesifik padasuatu kejadian yang disebut kondisi inisial. Pertanyaan tersebutberasal dari pernyataan universal dengan kondisi inisial yang kitadeduksi sebagai pernyataan tunggal yang nantinya akandipecahkan sebagai prediksi tunggal atau prediksi spesifik. Adapunkondisi inisial menggambarkan apa yang kita sebut denganpenyebab suatu kejadian dalam bentuk pertanyaan, sedangkanprediksi menggambarkan apa yang disebut dengan efek atauakhibat dari kejadian tersebut. Prinsip sebab akhibat/kausalitasadalah sebuah pernyataan tegas bahwa segala sesuatu yang terjadidapat dijelaskan secara kausal atau dapat diprediksi secaradeduktif, atau dengan kata lain selalu logis untuk membangunpenjelasan kausal, karena di setiap prediksi selalu ditemukanpernyataan universal dan kondisi inisial dari mana prediksiditurunkan.Pernyataan Tegas Universal dan Numerik UniversalKita dapat membedakan dua jenis pernyataan sintetik universal,yaitu pernyataan tegas universal dan numerikuniversal. Pernyataan tegas universal berhubungan dengan teoriatau hukum-hukum alam, sedangkan pernyataan numerik universalsetara dengan pernyataan tunggal atau gabungan beberapapernyataan yang digabungkan dalam satu klas sebagai pernyataantunggal. Konsep pernyataan tegas universal tidak harus merupakan
  • 52gabungan beberapa pernyataan tunggal seperti halnya prinsippernyataan sintetik universal pada umumnya. Hal inilah yangmenyebabkan banyak ilmuwan menolak pernyataan tersebutkarena beranggapan bahwa konsep pernyataan tegas universaltidak bisa diverifikasi.Beberapa hukum-hukum alam menunjukan tidak adanyaperbedaan antara pernyataan tunggal dan universal, dimanamasalah induksi nampaknya harus diselesaikan karena kesimpulanpernyataan universal lebih mungkin diterima dibandingkesimpulan pernyataan tunggal. Akan tetapi sangat jelas terlihatbahwa masalah metodologis induksi tidak terpengaruh oleh solusiini. Untuk verifikasi hukum-hukum alam hanya dapat dilakukandengan memastikan secara empiris setiap peristiwa yang terjadidimana hukum tersebut dapat diterapkan, atau juga denganmembuktikan bahwa setiap kejadian tersebut benar-benar sesuaidengan hukum tersebut, yang sebenarnya mustahil dilakukan.Adapun pertanyaan apakah hukum-hukum dalam ilmupengetahuan baik secara tegas universal atau numerik universaltidak dapat diselesaikan dengan argumen, hanya dapat dijawabatau diselesaikan dengan sebuah persetujuan ataupun melaluikonvensi. Perbedaan antara pernyataan tegas universal danpernyataan numerik universal diterapkan hanya pada pernyataansintetik saja, walaupun juga ada kemungkinan bisa diterapkandalam pernyataan analitik seperti pernyataan matematis.
  • 53Konsep Universal dan Konsep IndividualPerbedaan antara pernyataan universal dan pernyataan tunggalberhubungan erat dengan perbedaan antara konsep universal dankonsep individual, dimana perbedaan antara kedua konsep tersebutsangat mendasar. Setiap aplikasi ilmu didasarkan pada kesimpulanhipotesis ilmiah yang universal untuk setiap kasus, yaitu pada saatdeduksi prediksi tunggal. Namun konsep individual harus adadalam setiap pernyataan tunggal. Konsep individual yang beradadalam pernyataan tunggal ilmu pengetahuan sering kali munculberupa koordinat spatio-temporal. Hal ini mudah dipahami jikakita mempertimbangkan bahwa penerapan sistem koordinat spatio-temporal selalu melibatkan referensi konsep individual, dimanadengan metode ini sejumlah konsep individual berupa nama-namaindividual yang beragam dapat direduksi menjadi satu namauniversal sesuai kelompok atau klas yang sesuai, dalam hal iniberhubungan dengan pernyataan tunggal. Hal tersebut menjelaskanhubungan konsep universal dan konsep individual, dimana konsepindividual adalah sebuah konsep dalam mendefinisikan nama-nama yang tegas atau tanda-tanda yang setara sesuai kebutuhan,jika referensi nama-nama tersebut dihilangkan maka konseptersebut menjadi konsep universal. Namun, definisi seperti itubernilai kecil, karena konsep tersebut mengurangi ide konsepindividual yaitu mengurangi fungsi kekhususan nama dari suatuindividu, seperti memanggil semua jenis unggas dengan sebutanunggas.
  • 54Antara masalah universal dan masalah induksi terdapat analogilengkap, dimana segala upaya untuk mengidentifikasi halindividual dengan hanya berdasarkan sifat universal, ditakdirkangagal. Prosedur seperti itu bukan akan menjelaskan hal individualmelainkan akan menjelaskan klas universal dari semua individudalam klas tersebut. Bahkan penggunaan sistem koordinat spatio-temporal universal akan mengubahnya menjadi tidak berarti.Setiap upaya untuk mendefinisikan nama-nama universal denganbantuan nama-nama individual akan gagal. Fakta ini seringdiabaikan, bahkan secara luas diyakini adanya kemungkinan untukmeningkatkan proses abstraksi konsep individual terhadap konsep-konsep universal, dimana pandangan ini sangat dekat berhubungandengan logika induktif. Logikanya, prosedur ini tidak dapatdipraktekkan. Memang benar bahwa seseorang dapat memperolehklas individual dengan cara ini, tetapi klas-klas ini masih tetapsebagai konsep-konsep individual. Oleh karena itu terlihat bahwaperbedaan antara konsep universal dengan konsep individual tidakada hubungannya dengan perbedaan antara klas universal dan klasindividual ataupun perbedaan antara elemen universal denganelemen individual. Baik konsep universal maupun konsepindividual tetap ada sebagai nama dari beberapa klas, sebegitu juganama-nama elemen dari beberapa klas, sehingga tidak mungkinuntuk menghapuskan perbedaan antara konsep individual danuniversal.
  • 55Pernyataan Tegas EksistensialTidak cukup menandai pernyataan universal sebagai pernyataantanpa nama individual. Sebuah pernyataan tanpa nama individualdan hanya memiliki nama universal disebut pernyataan tegasuniversal atau murni universal. Teori-teori ilmu pengetahuan alamkhususnya yang disebut hukum alam, memiliki bentuk logis daripernyataan tegas universal, dengan demikian mereka dapatdinyatakan dalam bentuk pernyataan non-eksistensial atau tanpapernyataan. Dalam formula ini terlihat bahwa hukum-hukum alambisa dibandingkan dengan sebuah larangan, karena hukum-hukumtersebut tidak menyatakan sesuatu yang ada atau terjadi melainkanhanya berupa sangkalan. Hal inilah justru yang menyebabkanhukum-hukum alam tersebut difalsifikasi. Jika kita menerimakebenaran dari satu pernyataan tunggal, seakan-akan kitamelanggar larangan tersebut dengan menegaskan adanya suatu halatau terjadinya suatu peristiwa, sehingga dengan sendirinyahukum-hukum tersebut disangkal, sebaliknya pernyataan tegaseksistensial tidak bisa difalsifikasi. Tidak ada pernyataan tunggalyang dapat bertentangan dengan pernyataan eksistensial, karena itupernyataan eksistensial secara tegas harus diperlakukan sebagaipernyataan yang non-empiris atau metafisik. karakterisasi inimungkin terlihat meragukan pada pandangan pertama dan tidakcukup sesuai dengan praktek ilmu empiris. Dengan cara objection,mungkin bisa ditegaskan bahwa ada teori yang memiliki bentukpernyataan tegas eksistensial. Sebagai contoh deduksi sistemperiodik unsur kimia yang menegaskan adanya unsur nomor atom
  • 56tertentu, tetapi jika hipotesis tersebut dirumuskan sehingga dapatdiuji, maka akan jauh lebih dibutuhkan dari sebuah pernyataaneksistensial murni. Sebagai contoh, unsur dengan nomor atom 72(Hafnium) tidak ditemukan hanya berdasarkan sebuah pernyataanyang terisolasi murni eksistensial. Sebaliknya, semua upaya untukmenemukannya mengalami kesulitan sampai Bohr berhasilmemprediksi beberapa sifat dengan menyusun kesimpulanberdasarkan teorinya. Tetapi teori Bohr dan kesimpulannya yangrelevan dengan elemen ini membantu penemuan yang jauh daripernyataan terisolasi murni eksistensial, yaitu pernyataan tegasuniversal. Adapun anggapan bahwa pernyataan tegas eksistensialmerupakan pernyataan non-empiris yang tidak bisa difalsifikasi,sangat membantu dan juga sesuai dengan fungsi penggunaannya.Pernyataan tegas atau murni, apakah universal atau eksistensial,tidak terbatas ruang dan waktu serta tidak merujuk pada individual,batasan ataupun wilayah spatio-temporal. Inilah alasan mengapapernyataan tegas eksistensial tidak difalsifikasi. Kita tidak dapatmencari di seluruh dunia untuk menetapkan bahwa sesuatu tidakada, belum pernah ada, dan tidak akan pernah ada atau untukmembuktikan bahwa pernyataan tegas universal tidak bisadiverifikasi. Sekali lagi, kita tidak dapat mencari di seluruh duniabukti-bukti untuk memastikan bahwa tidak ada hukum yangmelarang. Sehingga pernyataan tegas eksistensial dan tegasuniversal pada prinsipnya dapat diputuskan secara empiris,sehingga secara tidak langsung pernyataan tegas eksistensial dapatdiverifikasi, atau difalsifikasi.
  • 57Sistem TeoritisTeori-teori ilmiah terus menerus berubah, hal ini bukan kebetulantapi mungkin diharapkan sesuai karakter ilmu empiris. Itulahsebabnya hanya cabang ilmu yang mempunyai bentuk terperincidan logis yang membangun sistem teori dengan baik. Meskipundemikian, sistem tentatif sebaiknya disurvei secara keseluruhandengan segala konsekuensi yang ada untuk memastikankeakuratannya dan membuatnya mustahil dimodifikasi asumsibaru. Upaya ini dilakukan untuk mengumpulkan semua asumsiyang dibutuhkan untuk membentuk puncak dari sistem yangbiasanya disebut aksioma atau dalil dalam teori fisika. Aksiomadipilih sedemikian rupa sehingga semua pernyataan sistem teoritisdapat diturunkan dari aksioma dengan transformasi logis murniatau matematis. Sebuah sistem teoritis dapat dikatakan aksiomatisjika satu set pernyataan aksioma telah dirumuskan dan memenuhiempat syarat berikut; pertama sistem aksioma harus bebas darikontradiksi, kemudian sistem ini harus mandiri, dimana aksiomaharus cukup untuk deduksi dan tidak mengandung asumsiberlebihan.Secara umum dapat dikatakan ilmu pengetahuan bersifat sistematisartinya selalu berdasarkan teori untuk menjelaskan setiap gejala,atau dapat dikatakan bahwa teori dipergunakan sebagai saranauntuk menjelaskan segala gejala kehidupan sehari-hari. Akantetapi teori bersifat abstrak dan merupakan puncak piramida darisusunan tahapan proses ilmiah yang biasanya dimulai dari sebuah
  • 58persepsi, kemudian melalui sebuah observasi untuk menjadisebuah hipotesis yang nantinya akan menjadi landasan hukum danakhirnya menjadi sebuah teori. Gambar 1: Piramida Ilmu Pengetahuan (Noerhadi, 1998)Persepsi terhadap sebuah fenomena atau fakta yang biasanyadisampaikan dalam bentuk bahasa sehari-hari harus diobservasiagar bermakna, dimana dari observasi ini akan dihasilkan sebuahkonsep ilmiah. Adapun untuk memperoleh konsep ilmiah ataudalam menyusun konsep ilmiah perlu adanya definisi, dimanadalam menyusun definisi perlu diperhatikan bahwa dalam sebuahdefinisi tidak boleh terdapat kata yang didefinisikan. Terdapat duajenis definisi, yaitu; definisi sejati dan definisi nir-sejati. Definisisejati dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu; definisi leksikalyang dapat ditemukan dalam kamus dan biasanya bersifatdeskriptif, kemudian definisi stipulatif yaitu sebuah definisi yangdisusun berkaitan dengan tujuan tertentu sehingga tidak dapatdinyatakan apakah definisi tersebut benar atau salah. Benar atausalah tidak menjadi masalah, tetapi yang penting adalah konsisten.Berikutnya definisi operasional, biasanya berkaitan dengan
  • 59pengukuran (assessment) yang banyak dipergunakan oleh ilmupengetahuan ilmiah. Definisi ini memiliki kekurangan karenaseringkali apa yang didefinisikan terdapat atau disebut dalamdefinisi, sehingga terjadi pengulangan. Definisi yang keempatadalah definisi teoritis yang menjelaskan sesuatu fakta ataufenomena atau istilah berdasarkan teori tertentu. Definisi nir-sejatidibedakan menjadi dua, yaitu: definisi ostensif yang menjelaskansesuatu dengan menunjuk barangnya dan definisi persuasif yangmengandung anjuran (persuasif). Dalam definisi ini terkandunganjuran agar orang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Darikonsep ilmiah yang merupakan pernyataan-pernyataan yangmengandung informasi, dua pernyataan digabung menjadiproposisi, dimana proposisi yang perlu diuji kebenarannya disebuthipotesis. Adapun hipotesis yang sudah diuji kebenarannya disebutdalil atau hukum dan keseluruhan dalil-dalil atau hukum-hukumyang tidak bertentangan satu sama lain serta dapat menjelaskanfenomena disebut teori.Ilmu pengetahuan ilmiah dapat dipertanggung jawabkan melaluitiga macam sistem, yaitu; sistem axiomatis, yang berusahamembuktikan kebenaran suatu fenomena atau gejala sehari-hari,mulai dari kaidah atau rumus umum menuju rumus khusus ataukonkret, atau mulai dari teori umum menuju fenomena/gejalakonkret. Cara ini disebut deduktif-nomologis. Umumnya yangmenggunakan metode ini adalah ilmu-ilmu formal sepertimatematika. Kemudian sistem empiris, yang berusaha
  • 60membuktikan kebenaran suatu teori mulai dari sebuah gejala ataufenomena khusus menuju rumusan umum atau sebuah teori.Sistem ini bersifat induktif, dimana untuk menghasilkan rumusanumum digunakan alat bantu statistik. Umumnya yangmenggunakan metode ini adalah ilmu pengetahuan alam dansosial. Sistem yang ketiga adalah sistem semantik/linguistik,dimana dalam sistem ini kebenaran didapatkan dengan caramenyusun proposisi-proposisi secara ketat. Umumnya yangmenggunakan metode ini adalah ilmu bahasa/linguistik. Cara kerjailmu pengetahuan ilmiah untuk mendapatkan kebenaran, oleh KarlPopper disebut Siklus Empiris, yang dapat digambarkan sebagaiberikut: Gambar 6: Siklus Empiris (Noerhadi, 1998)Keterangan Gambar (Basuki, 2006):
  • 61Gambar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) komponen, yaitu:1) Komponen Informasi (digambarkan dengan bentuk kotak),terdiri dari: a. Problem b. Teori c. Hipotesis d. Observasi e. Generalisasi Empiris2) Komponen langkah-langkah Metodologis (digambarkan dengan bentuk elips), yang terdiri 6 langkah metodologis, yaitu: a. Inferensi logis b. Deduksi logis c. Interpretasi, instrumentasi, penetapan sampel, penyusun skala. d. Pengukuran, penyimpulan sampel, estimasi parameter. e. Pengujian hipotesis. f. Pembentukan konsep, pembentukan dan penyusunan proposisi.Penjelasan tentang langkah-langkah Metodologis adalah sebagai berikut (Basuki, 2006): Langkah pertama. Ada masalah yang harus dipecahkan. Seluruh langkah ini (5 langkah) oleh Popper disebut Epistomology Problem Solving. Untuk pemecahan masalah tersebut diperlukan kajian pustaka (inferensi logis) guna mendapatkan teori-teori yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah.
  • 62 Langkah kedua. Dari teori disusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis diperlukan metode deduksi logis. Langkah ketiga. Untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis perlu adanya observasi. Sebelum melakukan observasi perlu melakukan interpretasi teori yang digunakan sebagai landasan penyusunan hipotesis dalam penelitian adalah penyusunan kisi- kisi/dimensi-dimensi, kemudian penyusunan instrumen pengumpulan data, penetapan sampel dan penyusunan skala. Langkah keempat. Melakukan pengukuran (assessment), penetapan sampel, estimasi kriteria (parameter estimation). Langkah tersebut dilakukan guna mendapatkan generalisasi empiris (empirical generalization). Langkah kelima. Generalisasi emperis tersebut pada hakekatnya merupakan hasil pembuktian hipotesis. Apabila hipotesis benar akan memperkuat teori (verifikasi). Apabila hipotesis tidak terbukti akan memperlemah teori (falsifikasi). Langkah keenam. Hasil dari generalisasi empiris tersebut dipergunakan sebagai bahan untuk pembentukan konsep, pembentukan proposisi. Pembentukan atau penyusunan proposisi ini dipergunakan untuk memperkuat atau memantapkan teori, atau menyusun teori baru apabila hipotesis tidak terbukti.DiskusiTeori adalah dasar ilmu pengetahuan, atau dapat dikatakan bahwateori dipergunakan sebagai sarana untuk menjelaskan semua gejala
  • 63kehidupan. Adapun ilmu pengetahuan ilmiah bersifat otonom danmandiri serta milik semua orang (intersubjektif) dan bukan milikperorangan (subjektif), dimana ilmu pengetahuan ilmiahmerupakan konsensus antar subjek/pelaku kegiatan ilmiah, atauharus ditopang oleh komunitas ilmiah. Daftar PustakaBasuki, A. H. M., 2006, Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-IlmuKemanusiaan dan Budaya, Jakarta.Noerhadi, T. H., 1998, Diktat Kuliah: Filsafat Ilmu Pengetahuan.Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta.Popper, K., 2005, The Logic of Scientific Discovery, the Taylor &Francis e-Library, London.
  • 64FALSIABILITAS Oleh: ELZA SURMAINI NIM.32410003
  • 65 FALSIABILITASPENDAHULUAN Makalah ini menguraikan mengenai konsep falsifiabiltasyang dikemukan oeh Sir Karl Raimund Popper dan keberatan paraaliran filsuf lain terutama penganut paham konvensionalis,persyaratan suatu teori untuk dapat difalsifikasi, kaidah-kaidahyang digunakan untuk membuktikan teori ilmiah dan untukmematahkan paham konvensionalisme mengenai teori ilmiah. Sebelum membahas lebih jauh teori falsifikasi Popper,diuraikan beberapa terminologi yang digunakan untukmemudahkan dalam pemahamannya. Beberapa terminolgi yangdigunakan adalah falsify, falsifiable, falsification, danfalsifiability. Falsify merupakan kata kerja yang dalam kontek iniditerjemahkan sebagai menyempurnakan. Bentuk kata sifatnyaadalah falsifiable yang diartikan dengan dapat disempurnakan.Falsification merupakan bentuk kata benda dari falsifiable yangditerjemahkan sebagai falsifikasi adalah penyempurnaan yangdilakukan untuk memperbaiki suatu hipotesis. Falsifiabillity yangditerjemahkan dengan falsifiabilitas adalah kemampuan suatuuntuk disempurnakan. Sesuatu yang dapat disempurnakan adalahyang masih mengandung kesalahan/kelemahan atau perludilengkapi. Suatu teori ilmiah tidak ada mutlak kebenarannya,sehingga perlu terus disempurnakan. Menurut Popper, suatu teori ilmiah harus memenuhi syaratfundamental yaitu dapat disempurnakan. Hipotesis yang digunakan
  • 66untuk menyempurnakan (falsifying hypothesis) harus mempunyaihubungan logis terhadap hipotesis dasar dan dapat dibuktikansecara empiris kontradiksi/perbedaanya dengan hipotesis dasar.Contoh pernyataan ilmiah sebagai berikut (1) tidak pernah turunhujan pada hari Rabu dan (2) semua substansi akan memuai jikadipanaskan. Pernyataan (1) dapat disempurnakan karena dengansuatu observasi kita dapat menunjukkan bahwa pada hari Rabutertentu ada hujan. Pernyataan (2) juga dapat disempurnakankarena melalui observasi kita dapat memperlihatkan bahwa adasubstansi tidak memuai jika dipanaskan. Berbeda denganpernyataan berikut ini “Baik pada hari hujan maupun tidak hujansaya datang”. Tidak ada observasi yang logis yang dapatmembantah pernyataan tersebut karena semua kemungkinan yangakan terjadi disampaikan. Menurut Popper pernyataan tersebutbenar tetapi tidak ilmiah. Sejatinya ilmu pengetahuan adalah kumpulanhipotesis/dugaan dengan menggunakan asumsi-asumsi dan tidakmutlak kebenarannya Falsifikasi tidak selalu mengubah secararadikal suatu teori ilmiah, melainkan untuk mengeliminasikekurangan atau menyempurnakan teori ilmiah tersebut.Perubahan tersebut namun juga bisa meneguhkan dengan berbagaitambahan argumentatif baru, atau bisa juga mengoreksi danmenambal sulam sebuah kebenaran. Apabila suatu teori ilmiahterbukti tidak dapat disempurnakan lagi maka dapat diterimasebagai suatu kebenaran. Kebenaran tersebut juga bersifatsementara, karena jika suatu saat teori tersebut dapat dibuktikan
  • 67kelemahan/kesalahannya maka akan tereliminasi. Selanjuntyateori baru yang digunakan karena dianggap lebih mendekatikebenaran. Rangkaian falsifikasi akan terus berputar dan mencarikebenaran-kebenaran baru, sehingga dengan begitu ilmupengetahuan mencapai kemajuan yang pesat.FALSIFIKASIONALISME VS KONVENSIONALISME Falsifikasionalisme adalah suatu faham yang menyatakanbahwa untuk membuktikan suatu teori ilmiah, teori tersebut harusdapat difalsifikasi. Sedangkan menurut pandangan penganutpaham konvensionalisme suatu teori ilmiah dirumuskan atau diujikebenarannya berdasarkan bukti bukti empiris. Paham yangdikemukakan Popper ini digunakannya untuk membantah beberapapandangan para penganut paham konvensionalisme. Demikianjuga sebaliknya, para pilsuf konvensionalis juga mengajukankeberatan atas paham falsifikasionalisme. Popper menyatakan bahwa suatu teori ilmiah yang telahteruji kebenarannya secara empiris bukan berarti tidakmengandung kesalahan. Sebagai contoh Teori Newton telahmemberikan kontribusi yang sangat besar dalam pengembanganilmu pengetahuan dengan tingkat akurasi yang sangatmenakjubkan selama ratusan tahun. Selama ratusan tahun teoriNewton telah diverifikasi ribuan bahkan jutaan kali. Teori tersebuttelah digunakan secara luas dalam pengembangan sektor industridan transportasi di dunia. Sistem tata surya, gerakan gelombanglaut, revolusi dan rotasi bumi maupun bulan, sampai orbit planet
  • 68yang belum diketahui keberadaannya mampu diungkap oleh TeoriNewton. Pengujian yang telah dilakukan sekian lama ternyata belumsepenuh diverifikasi secara konklusif dan menyeluruh bahkandalam beberapa hal keliru. Hal ini terbukti ketika Einsteinmengumumkan Teori Relativitas, fakta yang dianggap benar dantak tergoyahkan mulai dipertanyakan kebenarannya. Berdasarkanpengujian ilmiah dan bukti bukti empiris kemudian terbukti bahwateori-teori Einstein lebih mendekati kebenaran. Para konvensionalis berpendapat bahwa hukum hukumalam tidak dapat disangkal dengan observasi. Hukum alammerupakan penyederhanaan yang dilakukan manusia untukmenggambarkan kompleksitas dunia. Hukum alam tidak dapatdisederhanakan. Sedangkan observasi dilakukan melaluipengukuran dengan menggunakan instrumen yang juga mengalamipenyederhanaan. Mereka berpendapat bahwa hukum alam tidakdapat disangkal dengan observasi melainkan hanya dapatdibuktikan kebenarannya. Dilain pihak, Popper memuji para konvensionalis denganmetode yang mereka gunakan untuk membuktikan hubunganantara teori ilmiah dan eksperimen. Popper berpendapatkonvensionalis mempunyai metode yang komprehensif dalammempertahankan kebenaran suatu teori ilmiah. Namun kebenaransuatu teori ilmiah tidak akan pernah didapatkan, apabila upayauntuk menemukan kesalahan/kelemahannya tidak dilakukan.Dengan menemukan kelemahannya akan menyebabkan ilmu
  • 69pengetahuan berkembang pesat karena suatu teori ilmiah akanselalu disempurnakan. Pemikiran tersebut ditentang oleh parakonvensionalis yang berpendapatkan bahwa ketidakkonsistenandalam suatu teori ilmiah disebabkan oleh terbatasnya penguasaanterhadap teori ilmiah tersebut. Menurut Popper pahamkonvensionalisme akan menyebabkan terhambatnyaperkembangan ilmu pengetahuan. Perbedaan pandangan Popper dengan penganut pahamkonvensionalis bukan tidak mungkin dipertemukan. Parakonvensionalis berpendapat bahwa teori ilmu pengetahuan alamtidak dapat diverifikasi dan menurut Popper teori tersebut dapatdisempurnakanl. Untuk hal ini dapat dicapai kesepakatan terhadapsistim yang dengan dalil yang disebut “hubungan dengankenyataan. Kita dapat mencari kebenaran dan mencapaikebenaran, tetapi kita tidak akan pernah mencapai kepastian(Popper, 1999). Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukanhipotesis khusus (auxiliary hipothesis), dengan memodifikasidefinisi menjadi lebih tegas, bersikap skeptis terhadap hasilobservasi, menganggapnya tidak ilmiah atas dasar kurangnyabukti pendukung.KAIDAH UNTUK MENGHINDARI SIASATKONVENSIONALIS Popper mengutip peryataan Joseph Black bahwa adaptasiyang baik menyebabkan apapun hipotesis yang dibuat akanmengarah pada fenomena yang sedang terjadi. Adalah sangat
  • 70menyenangkan untuk dapat membuktikan bahwa hipotesis kitasesuai dengan fenomena yang terjadi, namun tidak akanmenyebabkan pengetahuan tidak berkembang. Hal inilah yangdilakukan para penganut konvensionalis dalam upayamembuktikan kebenaran suatu teori ilmiah (Keuth, 2005). Satu satunya cara untuk menghindari pahamkonvensionalisme adalah tidak terjebak dengan siasatkonvensionalis (conventionalist stratagem). Ada empat aturanmain yang digunakan para konvensionalis yaitu (1) diperbolehkanmenggunakan hipotesis pembantu (ad-hoc hypothesis) apabilasuatu teori ilmiah sepertinya dapat ditolak, (2) diperbolehkanmemodifikasi definisi untuk menyangkal kejadian yang tidakrelevan, (3) diperboleh meragukan kehandalan suatu ekperimenyang tidak sesuai teori ilmiah, (4) boleh meragukan ketajamansuatu teori ilmiah yang tidak dapat mempertahankan teori yangdiuji (Keuth, 2005). Popper menguraikan penyaratan yang harus dipenuhi agarkita tidak terjebak dalam teori konvensionalis sebagai berikut :1. Hipotesis pembantu hanya dapat diterima apabila tidak mengurangi tingkat falsiabilitasnya atau testabilitasnya atau bahkan meningkatkannya. Misalnya diprediksi sebuah comet akan berada pada suatu tempat pada waktu tertentu. Namun kemudian berdasarkan observasi ternyata komet tersebut tidak berada pada posisi yang telah ditentukan pada waktu yang telah ditentukan. Secara logika penyataan dasar tersebut berlawanan dengan teori orbit dan observasi lainnya yang
  • 71 menyatakan bahwa komet tersebut berada pada posisi yang ditentukan pada waktu yang lebih awal. Kedua pernyataan tersebut merupakan falsifikasi terhadap hipotesis. Tetapi sebelum memutuskan untuk menerima falsifikasi tersebut, kita mencek kembali keakuratan instrumen yang digunakan dan mengetahui bahwa jam kita salah. Pernyataan bahwa jam kita salah dapat diajukan sebagai hipotesis pembantu. Dengan demikian kontradiksi antara hipotesis dan teori tidak dapat dieliminasi. Sebetulnya hipotesis pembantu menerangkan bahwa observasi pertama dan pernyataan dasar kita salah, sehingga teori dapat diselamatkan dengan mengeliminasi hasil observasi kita yang salah. Apakah dengan hipotesis tambahan dapat meningkatkan falsifiabiltas dari hipotesis? Menurut Popper jika hipotesis pembantu tersebut juga mempunyai konsekuensi untuk difalsifikasi, juga harus diuji secara terpisah.2. Popper melarang untuk melakukan perubahan hipotesis secara diam diam. Dengan kata lain sangat dilarang untuk memperbaiki atau memodifikasi strukturnya atau merubah sisi non sains dari suatu teori. Hal ini dapat merusak kemajuan ilmu pengetahuan.3. Suatu teori ilmiah yang telah diuji kehandalannya dan terbukti namun tidak mendukung atau bertolak belakang dengan suatu teori yang telah diterima tidak boleh ditolak. Karena teori ilmiah tersebut dapat sangat menentukan perkembangan ilmu pengetahuan.
  • 724. Teori yang telah terbukti dan dapat mengeliminasi teori ilmiah yang selama ini digunakan tidak boleh diragukan sampai kita dapat menemukan teori ilmiah yang dapat mematahkannya.LOGIKA FALSIFIABILITAS Suatu sistim akan dapat difalsifikasi jika memenuhi kaidah-kaidah empiris sehingga dapat mengatasi siasat parakonvensionalis. Karakterisitk logis falsifibialitas suatu teori dapatdilihat melalui hubungan logis antara teori ilmiah dengankelompok pernyataan dasar. Kelompok pernyataan dasarmerupakan serangkaian semua pernyataan tunggal tidak dapatberubah. Pernyataan dasar tidak merujuk pada suatu pernyataanyang telah diterima. Sistim pernyataan dasar adalah sekumpulanpenyataan tunggal yang bersifat konsisten. Semua pernyataantunggal dari suatu fakta, sehingga sistim akan terdiri berbagaipenyataan yang saling bertentangan. Suatu teori ilmiah dapat disimpulkan berdasarkanserangkaian pernyataan dasar empiris ini berarti penarikankesimpulan harus berdasarkan serangkaian pernyataan tunggal.Teori ilmiah dapat disebut empiris atau dapat difalsifikasi jikamempunyai serangkaian pernyataan dasar yang dapatdikelompokkan menjadi dua. Pertama, sekelompok pernyataaandasar yang tidak konsisten, sehingga berpotensi untuk difalsifikasi.Kedua, sekelompok pernyataan dasar yang tidak bertentangan.Suatu teori ilmiah dapat difalsifikasi apabila terdapat kelompok
  • 73yang berpotensi untuk disangkal. Suatu teori dapat menonjolkarena potensinya untuk difalsifikasi. Pernyataan dasar mempunyai dua fungsi. Pertama untukmembantu mengarahkan dalam menemukan logika yang kita caridalam bentuk pernyataan empiris. Kedua penyataan dasar yangtelah diterima berfungsi untuk menguatkan hipotesis, dan jikapenyataan tersebut berlawan dengan suatu teori ilmiah, dan kitadapat memberikan alasan untuk memfalsifikasinya hanya jika padasaat sama hipotesis sanggahan yang dapat menjelaskannya.KEJADIAN DAN PERISTIWA Penyataan dasar dapat digambarkan sebagai “sebuahkejadian”. Apabila sebuah pernyataan dasar yang berlawanandengan teori ilmiah, dapat dikatakan teori ilmiah tersebutmenyingkirkan kemungkinan suatu kejadian tertentu. Dan teoriilmiah tersebut dapat difalsifikasi karena kejadian tersebut benarbenar terjadi (Popper, 2002). Untuk membuat suatu pernyataan tunggal pk menjadi lebihbermakna, dapat diberikan pernyataan tambahan untukmenerangkan menjadi serangkaian pernyataan yang disebutkejadian pk. Contohnya sebuah pernyataan tunggal “sekarangsedang gemuruh disini”. Maknanya akan tetap sama apabiladiberikan tambahan keterangan sebagai berikut : “Sekaranggemuruh di daerah Dago Bandung pada tanggal 9 Desember 2010jam 5.30 sore. Kejadian pk harus mempunyai makna yang sama
  • 74dengan pernyataan tunggal pk. Jika kejadian pk bertentang denganteori maka seluruh pernyataan yang menyertainya juga berlawandengan teori tersebut, sehigga mempunyai potensi untukdifalsifikasi. Terminologi peristiwa (event) digunakan untukmenggambarkan suatu kejadian secara lebih universal. Kitadefinisikan bahwa Pk, Pl, …… merupakan bagian dari serangkaiankejadian sama namun melibatkan individu yang berbeda secaraspasial dan temporal. Contohnya pernyataan “segelas air baru sajatumpah disini”, untuk menggambarkan pernyataan tersebut bagiandari sebuah peritiwa ”menumpahkan segelas air”. Sebuahpernyataan tunggal Pk yang menggambarkan kejadian Pk dapatdianalogkan dengan serangkaian kejadian Pk dari suatu penyataantunggal sama dengan Pk merupakan bagian dari suatu peristiwa(P). Suatu teori ilmiah tidak dapat difalsifikasi berdasarkansuatu kejadian, tetapi sekurang-kurangnya satu peristiwa. Untukdapat difalsifikasi suatu teori ilmiah harus berisikan pernyataandasar yang tidak terbatas dan tidak merujuk pada penyataanindividu. Suatu pernyataan tunggal yang menjadi bagian darisebuah peristiwa yang sejenis dapat menerangkan suatu kejadiandan pernyataan yang sejenis menerangkan suatu peristiwa. Dapatdisimpulkan bahwa setiap teori ilmiah yang berpotensi untukdifalsifikasi setidaknya mempunyai satu pernyataan dasar yangsejenis.
  • 75 Sekelompok pernyataan dasar yang mungkin terjadidigambarkan terletak dalam sebuah area yang berbentuk lingkaran.Lingkaran tersebut berisi seluruh kemungkinan kata yangbermakna pengalaman atau berisi semua yang bersifat empiris.Selanjutnya diumpamakan setiap peristiwa diwakili oleh satu areayang sempit yang berada di sepanjang satu radius lingkarantersebuti. Setiap dua kejadian dalam satu kordinat terjadi padatempat yang mempunyai jarak yang sama dari titik pusat lingkaran.Kaidah falsifibilitas dapat digambarkan dengan persyaratan bahwasetiap teori empiris sekurang kurangnya harus terletak dalam saturadius atau wilayah yang sangat sempit dalam lingkaran tersebut.Pernyataan-pernyataan akan menjadi milik suatu peristiwa terletakdalam satu radius. Kemudian berbagai pernyataan dasar yangtergabung dalam suatu peristiwa akan diuji satu per satu untukmendapatkan pernyataan yang paling benar. Pengujian suatupernyataan dapat dilakukan dengan menguji suatu konsekuensilogisnya untuk membuktikan bahwa pernyataan tersebut benar,dan jika pernyataan tersebut salah dapat disangkal.FALSIFIBIALITAS DAN KONSISTENSI Konsistensi merupakan persyaratan utama setiap sistimteori, baik itu empiris atau non empiris (Popper, 2002). Untukmenunjukkan sangat mendasarnya prinsip konsistensi tidak cukupdengan menyebutkan bahwa sebuah fakta yang bertentanganadalah salah . Kita sering bekerja dengan pernyataan yangwalaupun salah namun memberikan hasil yang cukup untuk tujuan
  • 76tertentu. Tapi pentingnya persyaratan konsistensi akan sangatdihargai apabila seseorang menyadari bahwa bahwa sistim yangkontradiktif tidak informatif, karena berbagai kesimpulan yangsalah dapat ditarik dari pernyataan yang bersifat kontradiktif.Karena setiap kesimpulan yang disukai dapat diperoleh dan tidakada penyataan yang dipilih, baik yang bertentangan ataumendukung. Sebuah sistim yang konsisten mempunyai pernyataanyang dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu yang pernyataanyang bertentangan dan pernyataan yang sejalan. Ini alasanmengapa konsistensi menjadi persyaratan yang paling umun untukmenentukan suatu sistim empiris atau tidak empiris. Selain konsisten, sebuah sistim empiris juga harus dapatdifalsifikasi. Pernyataan tidak dapat memenuhi kaidah konsistensitidak akan bisa membedakan dua buah pernyataan darisekumpulan kemungkinan pernyataan. Penyataan yang tidakmemenuhi persyaratan falsifiabilitas tidak akan dapat membedakandua buah pernyataan dari sekumpulan kemungkinan pernyataandasar yang bersifat empiris.KESIMPULAN Salah satu prinsip dalam ilmu pengetahuan bahwa setiaphipotesis ilmiah harus dapat dibuktikan kesalahannya. Falsifikasiakan menghasilkan teori-teori ilmiah yang teruji kesalahannya danlebih mendekati kebenaran. Falsifikasi bukanlah untuk menolaksama sekali suatu teori ilmiah, melainkan untuk mengeliminasikekurangan atau kesalahan-kesalahan teori ilmiah tersebut.
  • 77Dengan demikian ilmu pengetahuan dapat berkembang denganpesat. Popper tidak sependapat dengan penganut pahamkonvensionalis yang berpendapat bahwa suatu hipotesis atau teoridapat dikatakan ilmiah jika kebenarannya dapat dibuktikan.Dalam pandangan Popper kebenaran suatu teori ilmiah tidak akanpernah didapatkan, apabila upaya untuk menemukankesalahan/kelemahannya tidak dilakukan. Pahamkonvensionalisme akan menghambat perkembangan ilmupengetahuan. Sebaliknya konvensionalis berpendapat bahwaketidakkonsistenan suatu teori ilmiah disebabkan oleh terbatasnyapenguasaan terhadap teori tersebut. Suatu teori ilmiah tidak dapat difalsifikasi berdasarkansuatu kejadian, tetapi sekurang-kurangnya satu peristiwa. Untukdapat difalsifikasi suatu teori ilmiah harus berisikan pernyataandasar yang tidak terbatas dan tidak merujuk pada penyataanindividu. Suatu teori ilmiah harus memenuhi kaidah konsistensi danfalsiabilitas. Pernyataan tidak dapat memenuhi kaidah konsistensidan falsiabilitas tidak akan bisa membedakan dua buah pernyataandari sekumpulan kemungkinan pernyataan bersifat empiris.DAFTAR PUSTAKAPopper, K.R. 1999. All Life is Problem Solving. Routledge. New York
  • 78Popper, K.R. 2002. The Logic of Scientific Discovery. Routledge. New York.Keuth, H. The Phlosophy of Karl Popper. Cambridge University Press. New York. http://www.cambridge.org
  • 79PERMASALAHAN DASAR EMPIRIS Oleh: ANDRI RAMDHANI NIM.32410004
  • 80 THE PROBLEM OF THE EMPIRCAL BASIS ( PERMASALAHAN DASAR EMPIRIS)I.Pengalaman Sebagai Dasar Empiris Popper memulai pembahasan mengenai dasar-dasar sainsempiris dengan menempatkan pengalaman sebagai pondasi dariadanya sains empiris. Kemudian Popper mengungkapkan sebuahdoktrin yang menyatakan bahwa sains empiris direduksi kepadapersepsi indra manusia adalah sebuah doktrin yang paling banyakditerima, meskipun demikian doktrin ini bisa terus terus ada karenaadanya logika induktif , yang mana pada bahasan disini merupakansuatu hal yang ditolak. Terdapat sebuah perdebatan dalammemandang ilmu matematika dan logika sebagai ilmu-ilmu alamatau ilmu nyata yang berdasarkan dari persepsi akal. Tapi yangjelas semua perdebatan ini tidak akan pernah berujung danperdebatan ini merupakan salah satu permasalah yang terusdibahas dalam kajian ilmu epistomologi. Fries berpendapat bahwa jika ada sebuah pernyataan dariilmu sains tidak diterima sebagai hal yang dogmatik maka kitaharus membuat falsification atau membuat pernyataan baru yanglebih baik. Artinya bahwa jika kita tidak dapat menerima sebuahpernyataan maka kita harus menemukan pernyataan yang baruyang dapat di terima secara logika.Tapi walaupun demikianternyata sebuah pernyataan juga di justifikasi tidak hanya denganteori baru tetapi dapat juga dengan sebuah pandangan ataupendapat yang di dasari oleh pengalaman.
  • 81 Fries kemudian mengenalkan sebuah teori mengenai sainsini, yaitu yang dikenal sebagai Fries‟s Trilema. Fries Trilemamenempatkan pernyataan sains pada tiga pilihan yaitu dogmatik,infinite regress dan psychologism. Pernyataan yang bersifatdogmatik adalah pernyataan yang diterima secara mentah-mentahtanpa mempedulikan kesesuaiannya dengan logika atau tidak,Sedangkan infinite progress merupakan sebuah pandangan yangberpendapat bahwa sebuah pernyataan perlu terus untukdibuktikan ke absahan teorinya, sehingga tidak ada keputusan yangbisa diambil atau disimpulkann, sehingga berada pada kondisiyang terus menerus tanpa ada ujungnya. Sedangkan psychologism,yaitu sebuah pandangan yang berpendapat bahwa sebuahpernyataan dasar selalu berhubungan dengan pengalaman. Denganadanya pengalaman ini dapat membuktikan dari sebuah teori yangdiungkapkan, sehingga pada akhirnya berada pada suatukesimpulan atau keputusan pernyataan yang berbasis empiris. Sains empiris mempunyai sebuah ciri yang tidak dapatdihilangkan yaitu bahwa semua teori atau pernyataan harusberdasarkan pada sebuah pengalaman. Arti dari pengalaman disinidapat berupa percobaan atau uji teori dari sebuah pemikiran atauhipotesa. Popper berpendapat bahwa bagaimana kita mendapatkansebuah pengetahuan atau sesuatu kalau kita hanya mengandalkanpemikiran atau hipotesa kita tanpa didasari oleh sebuahpembuktian melalu mekanisme pengujian atau percobaan yangdapat mendukung teori atau pemikiran kita. Dengan demikian kitadapat menyatakan bahwa pengalaman atau percobaan adalah
  • 82sebagai sebuah sumber dari pengetahuan. Jadi disini dapat kitasimpulkan bahwa pengalaman adalah merupakan dasar ataupondasinya sains empiris. Namun semua pengalaman ini harusdiikuti dengan sebuah pernyataan atau teori atau juga hipotesisyang dapat menggambarkan apa yang kita dapatkan melaluipemikiran yang berdasarkan sebuah pengalama atau percobaantersebut. Adanya pernyataa atau teori merupakan sebuahProtocol Sentences Popper membuat istilah psychologism sebagai representasisebuah teori modern yang yang berdasarkan dari dasar-dasarempiris, yaitu yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan harusberdasarkan sebuah pengalaman, pernyataan inilah yang olehCarnap dan Neurath disebut sebagai protocol sentences. Popperkemudian membandingkan teorinya ini dengan apa yang sudahdisampaikan oleh Reinenger yaitu yang menyimpulkan bahwasebuah pernyataan hanya bisa dibandingkan dengan pernyataanlain, berdasarkan pandangan ini dapat dikatakan bahwa sebuahpernyataan yang di iringi dengan fakta tidak lain adalah sebuahkesesuaian logika antara pernyataan tersebut dengan apa yangterjadi di alam semesta, walaupun pada tingkat yang berbeda-beda. Lain halnya dengan Carnaps, dia mencoba menungkapteori ini dengan sebuah pernyataan yang agak berbeda denganyang lainnya. Tesis dia adalah bahwa semua investigasi yangbersifat filosopis tergantung dari apa yang disampaikan melaluisebuah ungkapan kata-kata filosopis, dan hal ini juga di analogikan
  • 83terhadap apa yang terjadi pada sains. Dimana sains atau ilmupengetahuan juga di investigasi dengan kemampuan bahasailmiahnya. Dari dua pendapat diatas baik Carnaps maupun Reinengermempunyai pandangan yang hampir sama yaitu bahwa pada sainslogika, sebuah pernyataan di uji dengan cara membandingkannyadengan pengalaman atau pernyataan lain yang berdasarkan padapengalaman dan tidak pada logika persepsi belaka. Sedangkanmenurut pandangan Neurath sebuah protocol sentences memangtidak dapat dibantahkan tetapi kadang-kadang dapat ditolak, hal iniberbeda dengan pandangan Carnaps yang menganggap bahwaprotocol sentences merupakan sesuatu yang tidak perlu dikonfirmasi lagi. Bagi Popper pandangan Neurath merupakansebuah catatan yang menarik, tetapi harus dipisahkan mana yangdapat ditolak dan mana yang tidak, hal ini berkaitan dengan teoriyang di ungkapkan oleh Fries pada bahasan sebelumnya yangmenyatakan bahwa yang dapat di revisi adalah yang merupakanpengetahuan yang instan atau immediacy knowledge yangberdasarkan dari persepsi. Memang betul Neurath memberikansolusi dengan membuat tahapan dalam menghilangkan ataumenghapus sebuah protocol science tetapi pada tahapanselanjutnya tidak ada aturan yang jelas bagaimana mekanismedalam memandang sebuah protocol science dapat di tolak atau dihapus. Jadi tanpa sebuah aturan yang jelas maka sebuahpernyataan empiris tidak dapat lagi dibedakan dengan pernyataan-pernyataan lainnya.
  • 84 Dari uraian diatas kita dapat mengatakan bahwa tidakmudah bagi kita untuk menerima mekanisme sebuah protocalsentences jika berdasarkan pada skema nya Neurath, yangmemandang bahwa setiap protocol sentences akan dengan mudahuntuk direvisi. Hal ini sangat berbeda dengan pandangan Carnapsyang menganggap bahwa sebuah protocol sentences datang ataubersumber dari sesuati yang telah di uji dengan berbagai pendapatdari sains empiris lainnya sehingga protocol sentences itu menjadihal ”irrefutable” atau tidak dapat di tolak atau dibantahkan.Objektifitas Dasar-Dasar Empiris. Popper berpendapat bahwa pengamatan atas sesuatumemberikan kita pengetahuan atas sebuah kejadian begitupun jugasebaliknya bahwa kita menjadi perhatian terhadap sebuah kejadiandikarenakan kita mengamati hal tersebut, dari pandangan iniPopper menyimpulkan bahwa timbulnya pengetahuan didasari olehkita dalam mengamati sesuatu. Tetapi tidak semua pengetahuanatau perhatian kita terhadap sesuatu menjadi sebuah pernyataanatau teori. Konsep objektifitas dalam kontek dasar-dasar empirisini adalah melalui pendekatan bahwa secara umum semua teoriempiris dapat diterima apabila memperhatikan hal yang dapatditerima secara logika. Sebuah kesimpulan yang berdasarkanlogika tampaknya harus di justifikasi karena hal ini hanyaberdasarkan dari pengalaman sebuah pemikiran yang dipaksauntuk memecahkan atau mengungkapkan sesuatu tanpa ada sebuahfakta yang dapat membuktikannya.
  • 85 Menjadi hal yang berbeda apabila pernyataan itumerupakan sebuah pernyataan empiris dimana setiap orangmempercayainya sebagai hasil dari pemikiran yang didasarkanoleh sebuah pengalaman apalagi pernyataan itu telah menjadisebuah protocol stentences. Dari dua hal diatas kita dapat melihatbahwa ada 2 macam pernyataan yaitu pernyataan yang berdasarkanlogika dimana pernyataan ini masih menimbulkan banyakpertanyaan dan satu lagi pernyataan empiris. Menurut Popperjawaban untuk menggambarkan dua pernyataan diatas adalahbahwa pengetahuan kita digambarkan sebagai sesuatu yang masihburam dan merupakan sebuah sistem bawaan yang lebih condongkepada aspek psikologi yang mementingkan perasaan keyakinanakah sesuatu hal sehingga mendorong kita untuk membuat sebuahpernyataan logika dan juga pernyataan empiris yang keduanyalahir atau timbul dari sebuah pandangan sebuah kepastian persepsi. Menurut Popper hanya ada satu cara untuk memastikanvaliditas dari sebuah alasan logika yaitu dengan melaluimekanisme pengujian. Bisa dimulai dengan hal yang sederhanayang bisa diuji juga oleh orang lain, misalkan sebuah pernyataanyang berdasarkan dari logika matematika yang dipelajari olehorang banyak. Jika cara sederhana ini pun masih menyisakankeraguan bagi orang maka kita dapat meminta orang tersebutuntuk menunjukan poin bagian mana yang masih menyisakankesahalan atau error dalam pembuktiannya. Sedangkan untukpernyataan empiris dapat di tampilkan melalui metode yangberdasarkan dari sebuah percobaan yang tersusun, sehingga orang
  • 86dapat dengan mudah mempelajarinya dengan teknik yang sama.Apabila dia masih menolaknya maka kita akan meminta dia untukmembuat pendapat atau formulasi yang baru yang berbeda denganteori kita dan mencoba untuk menguji nya, jika dia gagal, makakita bisa mengatakan pada dia bahwa harus hati-hati dalammenolak sebuah teori dan harus selalu berpikir lebih dalam lagisebelum menolaknya. Ilmu pengetahuan dapat dilihat dari berbagai sudutpandang, tidak hanya sudut pandang estimologis saja tapi jugadapat dilihat dari sudut pandangan fenomena biologis atauberbasarkan sudut pandang sosiologis. Ilmu pengetahuan jugadapat di artikan sebagai sebuah alat dalam produktivitas industrimodern.Pernyataan Dasar ( Basic Statement ) Sebuah pernyataan dasar harus dapat memenuhi beberapakondisi dibawah ini yaitu: a. Merupakan sebuah pernyataan yang universal tanpa sesuatu kondisi awal, sehingga tidak ada pernyataan dasar yang dapat disimpulkan. b. Dengan kata lain, sebuah pernyataan universal dan pernyataan dasar dapat berkontradiksi satu dengan yang lainnya.Kondisi (a) dapat dipenuhi jika memungkinkan untuk dapatmenyangkal pernyataan dasar dari sebuah teori yang kontradiktif.Dari kondisi (a) ini dapat disimpulkan bahwa pernyataan dasar
  • 87harus mempunyai dasar logika yang kuat sehingga tidak ada celahuntuk dapat menyangkalnya. Pada perkembangan selanjutnya Popper kemudianmengungkapkan sebuah aturan terkait pernyataan dasar ini, yaitubahwa pernyataan dasar harus merupakan bentuk dari sebuaheksitensi pernyataan tunggal, artinya bahwa pernyataan dasar iniharus memenuhi kondisi sebagai berikut : a. pernyataan dasar tidak dapat disimpulkan dari sebuah pernyataan universal yang kaku b. pernyataan dasar ini harus memenuhi kondisi sebagai fakta yang berdasarkan ekistensi sebuah pernyataan tunggal.Relativitas Pernyataan Dasar Berdasarkan Fries’s Trilema Setiap proses dalam menguji sebuah teori apakah itumenghasilkan sebuah falsification ataupun tidak harus dapatberhenti pada sebuah pernyataan dasar atau hal lainnya yang manasesuatu tersebut merupakan hal yang dapat kita terima. Jika kitatidak dapat menemukan sebuah keputusan apapun maka prosespengujian yang terjadi tidak mempunyai arti apa-apa. Bagi sebuahpernyataan dasar apapun memerlukan sebuah test atau ujian yangberdasarkan fakta sehingga kita dapat mensimpulkannya darisebuah teori yang ada. Pada bahasan ini adalah untuk mencoba membahaspernyataan dasar ini berdasarkan Fries‟s Trilema yaitu pilihanantara dogmatisme, infinite regress dan psychologism. Pernyataandasar ini ditempatkan pada tiga pilihan apakah nantinya akan
  • 88berupa dogmatisme yaitu sesuatu hal yang diterima secara mentah-mentah dengan mengeyampingkan logika. Pernyataan yangbersifat dogmatik ini bisa berada pada kondisi yang tidakmembahayakan karena sangat mudah untuk di justifikasi dan di ujicoba. Sedangkan infinite progress merupakan sebuah pandanganyang berpendapat bahwa sebuah pernyataan perlu terus untukdibuktikan ke absahan teorinya, sehingga tidak ada keputusan yangbisa diambil atau disimpulkan. kondisi inifinite regress bisamenjadi tidak berbahaya apabila pada teori kita tidak ada suatu hallagi yang dapat dipertanyakan pembuktiannya karena sudah cukuptest dan uji coba dalam membuktikan teori nya. Pilihan terakhirdan yang paling baik menuru Popper adalah psychologism, yaitusebuah pandangan yang berpendapat bahwa sebuah pernyataandasar selalu berhubungan dengan pengalaman atau persepsipengalaman, tetapi kita tidak menjustifikasi pernyataan ini denganpengalaman melainkan pengalaman hanyalah dijadikan sebagaimotivasi dalam membuat keputusan atas kesimpulan teori kita.Teori dan Percobaan Sebuah pernyataan dasar (basic statement ) dapat diterimasebagai hasil sebuah keputusan atau kesepakatan apabilakeputusan tersebut berdasarkan pada sebuah kelaziman dan jugaberdasarkan pada sebuah prosedur yang mempunyai aturan yangjelas. Sebuah kesepakatan baik itu yang diterima maupun yangditolak merupakan sebuat pernyataan dasar yang menjelaskansebuah teori, sehingga kesepakatan disini dapat diartikan sebagai
  • 89suatu hal kesengajaan untuk dapat memecahkan sebuahpermasalahan yang berdasarkan petunjuk dari sebuah teoritas yangtelah dirembukan sebelumnya. Sebuah logika induktif yang mempercayai bahwa semuasains berasal dari sebuah persepsi dasar harus ditempatkan padasebuah hal yang kebetulan, kemudian ini dijadikan sebagai sebuahpernyataan yang bersifat keberuntungan dapat diterima secaralogika. Semua diskusi atau rembukan ini merupakan sesuatu halyang sangat penting dalam ilmu epistemologi yang membahasteori percobaan. Sebuah teori menyisakan berbagai pertanyaanyang memerlukan percobaan dan secara bertahap dengan adanyapercobaan ini dapat menjawab sedikti demi sedikit pertanyaanyang ditimbulkan dari teori tersebut. Selanjutnya bagi kita sampai pada sebuah pertanyaan yaitubagaimana dan mengapa kita menerima sebuah teori dari padateori yang lainnya. Pilihan kita terhadap suatu teori daripada teoriyang lainnya bukan disebabkan oleh percobaan yang menyertaiteorinya atau juga bukan karena logika yang menyertai percobantersebut, melainkan bahwa kita memilih teori yang terbaikberdasarkan seleksi alam, dimana teori yang dapat membuktikanhiptesisnya akan terus bertahan dibandingkan dengan teori yangtidak dapat dibuktikan baik secara logika maupun percobaannya. Pada pandangan logika menguji sebuah teori tergantungpada pernyataan dasar yang ditolak atau diterima yangkesemuanya bergantung pada keputusan atau kesimpulan yangdiambil dari teori tersebut. Keputusan ini lah yang menentukan
  • 90nasib dari sebuah teori apakah menjadi teori yang menjadi pilihanorang banyak atau ditinggalkan. Bagi orang-orang konvensionalpenerimaan nya bagi sebuah pernyataan universal dikuasi olehprinsip kesederhanaan. Mereka memilih sebuah sistem yang lebihsederhana yang dapat dengan mudah dicerna oleh akal dan pikiran.Popper mempunyai padangan yang berbeda dengan parakonvensionalis ini yaitu Popper berpegangan pada pada sebuahpandangan bahwa yang menentukan nasib dari sebuah teori adalahhasil dari test atau uji teori tersebut, artinya disini adalah bahwasebuah teori harus didukung oleh sebuah percobaan yang dapatmenjawab atau menguji teori tersebut. Merupakan suatu hal yang sangat penting dalammembedakan antara justification dengan sebuah kesimpulan dariteori. Kesimpulan datang dari sebuah proses yang didasari olehprosedur-prosedur aturan yang telah disepakati, dimana proseduretersebut telah disepakati dan diputuskan oleh juri atau pemberikeputusan. Para juri menguji sebuah percobaan denganmemberikan pertanyaan apakah percobaan tersebut dapatmengungkapkan fakta sebeneranya. Jika kita dapat memberikansuatu jawaban yang tajam dan dapat di pahami secara logika, makateori kita dapat menjadi sebuat pernyataan dasar. Dari semua uraian diatas dapat disimpulkan dasar empirisadalah sebuah objektifitas dari sains yang tidak akan menjadiberarti apabila itu menjadi sebuah kebenaran yang absolut, arrtinyadisini adalah bahwa sains selalu berpeluang untuk di falsifikasiatau disempurnakan. Ilmu pengetahuan juga dapat digambarkan
  • 91sebagai sebuah gedung yang dibangun dengan sebuah tumpukan,dimana tumpukan dimulai dari yang paling bawah sampai padasuatu titik diatas yang kita tidak dapat mencapainya lagi, artinyadisini bahwa manusia mempunyai keterbatasan dalammengungkap semua fenomena alam semesta, sehingga pada suatutitik dimana akal manusia tidak dapat mencapainya. Akhirnyasemuanya dapat menyadarkan kita bahwa ada sesuatu kekuatanyang mengendalikan itu semua dan manusia merupakan mahlukyang penuh dengan keterbatasan.Daftar Pustaka 1. Popper, Karl , Chapter : The Problem of The Empirical Basis
  • 92KESEDERHANAAN (SIMPLICITY) Oleh: ARIES KRISTIANTO NIM.32410005
  • 93 KESEDERHANAAN (SIMPLICITY) Masalah kesederhanaan (simplicity) dalam beberapa waktuyang lalu merupakan hal yang penting dalam epistemology ilmupengetahuan alam (Weyl). Walaupun ketertarikan pada masalah initerlihat mengalami kemunduran, yang mungkin disebabkan karenamunculnya analisis penetrasi Weyl. Sampai saat ini, ide kesederhanaan (simplicity) telah digunakansecara tidak kritis, meskipun sudah jelas apa itu kesederhanaan(simplicity) dan mengapa seharusnya kesederhanaan (simplicity)dapat bermanfaat. Tidak banyak para filosof sains yang telahmenggunakan konsep kesederhanaan (simplicity) ini ke dalamteorinya, bahkan tanpa memperhatikan kesulitan – kesulitan yangmungkin akan muncul. Sebagai contoh filosof seperti Mach,Kirchhoff dan Avenarius yang mencoba menggantikan idepenjelasan causal (idea of clausal explanation) dengan sesuatu“deskripsi yang paling sederhana (simplest description)”, namuntanpa menyertakan kata sifat “paling sederhana / simplest” ataukata yang menyerupainya.A. ELIMINASI ESTETIKA DAN PRAGMATIK DARI KONSEP SIMPLICITY Kata kesederhanaan (simplicity) digunakan dalam pengertianyang berbeda, misalnya :
  • 94- Dalam teori Schrodinger merupakan kesederhanaan (simplicity) yang baik dalam pengertian/ penggunaan metodologi, namun dalam pengertian/ penggunaan lainnya mungkin dinamakan “rumit/ kompleks”.- Solusi dari suatu masalah sering dikatakan sulit, bukannya tidak sederhana.- Presentasi atau eksposisi selaku dikatakan rumit / berbelit – belit, bukan tidak sederhana. Istilah kesederhanaan (simplicity) dibedakan dengan sedikitketertarikan dalam cara pandang terhadap teori pengetahuan,dimana tidak dalam wewenang logika, tetapi lebihmengindikasikan pada karakter estetika atau pragmatis.Penyelesaian suatu masalah dengan menggunakan cara yang lebihsederhana dibanding dengan cara yang lain, berartipenyelesaiannya dilakukan dengan cara yang lebih mudah atauhanya dibutuhkan sedikit pengetahuan / pelatihan. Dan dalam haltersebut, maka kata “sederhana (simple)” dapat dengan mudahdieliminasi, dan yang digunakan sebagai extra-logical.B. MASALAH METODOLOGI DALAM KESEDERHANAAN (SIMPLICITY) Setelah mengeliminasi estika dan pragmatis dari idekesederhanaan (simplicity), maka akan muncul beberapapertanyaan, seperti :
  • 95- Apakah ada konsep kesederhanaan (simplicity) yang penting untuk para ahli logika ?- Apakah memungkinkan untuk membedakan teori – teori dimana secara logika tidak sepadan dengan derajat kesederhanaan (simplicity) ? Untuk dapat menjawab hal tersebut masih muncul keraguan,seberapa besar keberhasilan untuk mendefinisikan konsep tersebut.Menurut Schlick :- Simplicity adalah konsep yang mengindikasikan pilihan antara sebagian praktek dan sebagian karakter estetika.- Pendapatnya merupakan konsep epistemology dari kesederhanaan (simplicity), dimana menyatakan walau tidak dapat menjelaskan tentang kesederhanaan (simplicity), namun kenyataannya para scientist telah berhasil melakukan rangkaian percobaan dengan formula yang sangat sederhana, yang kemudian diakui menghasilkan hukum – hukum penting.- Kesederhanaan (simplicity) merupakan konsep yang secara utuh relatif dan sama- samar, tidak ada definisi causal yang tepat dapat diperoleh, maupun tidak ada hukum atau kesempatan dapat dibedakan secara tepat (Konsep simplicity diharapkan untuk dicapai). Pandangan ini serupa dengan Fiegl, yaitu ide dari pendefinisian tingkat keteraturan atau hukum persamaan dengan bantuan konsep kesederhanaan (simplicity).
  • 96 Ide epistemology dari kesederhanaan (simplicity) memerankanbagian khusus dalam teori logika induktif, misalnya dalamhubungan masalah kurva yang paling sederhana. Dalam hal iniWittgenstein berpendapat proses induksi terdiri dari asumsi hukumyang paling sederhana yang dapat mengharmonisasi denganpengalaman kita. Sedang Weyl menolak percobaan yangberdasarkan kesederhanaan (simplicity) pada probability. Pendapat Popper tentang konsep kesederhanaan (simplicity)antara lain :- Analisis epistemology pada konsep kesederhanaan (simplicity) masih belum secara tepat dapat ditentukan, sehingga dimungkinkan untuk menolak beberapa percobaan untuk membuat konsep ini lebih tepat.- Tidak dapat memberi jawaban tentang pentingnya kata “kesederhanaan (simplicity)”, karena Popper bukan yang mengemukakan dan tahu tentang kerugiannya.- Menegaskan bahwa hanya mengklarifikasi dalam membantu memberi jawaban atas pertanyaan yang sering muncul oleh para filosof sains dalam hubungannya dengan masalah kesederhanaan (simplicity).C. SIMPLICITY DAN TINGKAT FALSIFIABILITY Pertanyaan epistemology yang muncul dalam hubungankonsep kesederhanaan (simplicity) dapat semuanya terjawab, jikadisamakan dengan tingkat falsifiability. Popper menyatakan :
  • 97- Teori dengan dimensi yang lebih rendah lebih mudah difalsifikasi dibanding teori dengan dimensi yang lebih tinggi.- Tingkat universality dan ketepatan teori meningkat dengan tingkat falsifiabilitinya.- Tingkat testability juga berhubungan dengan masalah kesederhanaan (simplicity).- Konsep teori dimensi memberikan ketepatan pada ide menggunakan beberapa parameter untuk menentukan konsep kesederhanaan (simplicity). Untuk mengukur (simplicity), dapat disajikan dengan skemaberikut (menurut Harold Jeffreys dan Dorothy Wrinch) : Simplicity = paucity of parameter = High prior probability Dan testability dapat diketahui dengan skema berikut : Testability = High prior probability = paucity of parameter =Simplicity Walau kedua skema terlihat sama, namun secara tegas berbeda,yaitu probability dengan improbability. Semua teori tersebut digunakan untuk menjelaskan mengapakesederhanaan (simplicity) sangat sekali diinginkan (desirable).Untuk menjawabnya hanya dibutuhkan pernyataan sederhana
  • 98(simple) , yaitu jika pengetahuan adalah obyek kita, maka haruslebih dihargai dibandingkan dengan menyederhanakannya, karenahal tersebut akan memberikan lebih banyak, karena kandunganempirisnya juga lebih tinggi, dan karena akan lebih baik dalamhal pengujian.D. BENTUK GEOMETRIC DAN BENTUK FUNGSIONAL Konsep kesederhanaan (simplicity) memungkinkan untukmenyelesaikan beberapa kontradiksi yang menimbukan keraguanapakah konsep ini dapat digunakan dalam beberapa hal. Dalam halbentuk geometric dapat dikatakan, bahwa kurva logaritmik sebagaisesuatu yang sederhana dan istimewa (particularly simple), namunsuatu hukum yang diwakili oleh fungsi logaritmik biasanya jugasebagai particularly simple. Begitu juga dengan fungsi sinusdikatakan sederhana, meskipun bentuk geometrinya tidaksesederhana itu. Untuk menyelesaikan kesulitan tersebut, dapat dilihat darihubungan antara jumlah parameter dan tingkat falsifiability.Dan juga harus diperhatikan perbedaan antara reduksi dimensisecara formal dan material.E. KESEDERHANAAN DARI EULIDEAN GEOMETRIC Isu penting yang berperan utama pada diskusi tentang teorirelatifitas adalah kesederhanaan (simplicity) dari geometriEuclidean, dimana tidak diragukan merupakan geometri yang lebihsederhana dibandingkan geometri lainnya dalam membuat kurva
  • 99yang konstan. Walaupun sekilas kesederhanaan (simplicity)terlihat hanya sedikit kaitannya dengan tingkat falsifiability,namun jika diformulasikan sebagai hipotesis empirik, maka konsepkesederhanaan (simplicity) dan falsifiability hampir serupa. Untukmenguji hipotesis tersebut misalnya dilakukan percobaan geometrimetric tertentu dengan jari- jari (radius) sebuah kurva. GeometriEuclidean adalah hanya geometry metric dengan kurva yang pastidengan tranformasi serupa dimungkinkan, sehingga geometriEuclidean dapat bervariasi dalam tranformasi yang lebih banyak,termasuk dalam dimensi yang lebih rendah, dan tentunya lebihsederhana.F. PAHAM KONVESIONAL DAN KONSEP KESERDEHANAAN Ide utama penganut paham conventionalist tentangkesederhanaan (simplicity) berawal dengan pernyataan bahwatidak ada teori yang sudah jelas/ terang ditentukan olehpengalaman, sehingga dipilih teori yang paling sederhana.Conventionalist mengartikan kesederhanaan (simplicity) sebagaisesuatu yang berbeda dengan tingkat falsifiability, dimanakonsepnya sebagian estetika dan sebagian praktikal. Pandangan Popper :- suatu sistem harus digambarkan sebagai kompleksitas dalam tingkat yang paling tinggi (complex in the high degrees).
  • 100- Sistem yang dihasilkan secara cepat dan untuk waktu yang lama yang ditentukan dari sekedar membantu dalam keadaan mendesak melalui hipotesis pelengkap (auxiliary hypotesis).- Tingkat falsifiability dari sebuah sistem yang diproteksi adalah sama dengan nol.- Konsep kesederhanaan (simplicity) berdasarkan aturan metodelogi dan prinsip yang mampu mengendalikan dari hipotesis khusus (ad Hoc hypotesis) dan hipotesis pelengkap (auxiliary hypotesis).G. KESIMPULAN Popper berusaha menjelaskan bagaimana tingkatkeserdehanaan (degree of simplicity) dapat diidentifikasi dengantingkat pengujian (degree of testability), sehingga dapat diketahuiesensi kesederhanaan, antara lain :- Kesederhanaan (simplicity) telah diakui dengan tegas oleh banyak filosof dan scientist akan manfaatnya untuk ilmu pengetahuan, dan seharusnya penegasan ini bukan hanya sekedar kata – kata tapi juga telah dapat diuji dalam pikiran (mind).- Dua hal penting dalam kesederhanaan (simplicity), pertama teori dapat dibandingkan hanya dengan kemampuan pengujiannya (testability), jika sedikitnya beberapa masalah dapat dipecahkan secara tepat. Kedua, hipotesis khusus (ad hoc hypotesis) tidak dapat dibandingkan pada cara ini.
  • 101H. CATATAN PENTING / KOMENTAR- Kesederhanaan (simplicity) merupakan hal yang penting dalam epistemology ilmu pengetahuan alam.- Istilah kesederhanaan (simplicity) masih digunakan dalam pengertian yang berbeda.- Istilah kesederhanaan (simplicity) dibedakan dengan mengindikasikan pada karakter estetika atau pragmatis.- Kata “sederhana (simple)” dapat dengan mudah dieliminasi, dan digunakan sebagai extra-logical.- Konsep kesederhanaan (simplicity) berhubungan dengan dengan tingkat falsifiability, dan tingkat testability.- “Kesederhanaan (simplicity) merupakan kesempurnaan”.Daftar PustakaPopper,K, 1959, The Logic of Scientific Discovery