Your SlideShare is downloading. ×
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan                   Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                    ...
Badan Perencanaan                Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       ...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
Badan Perencanaan               Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025                                       P...
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
File (1)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

File (1)

865

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
865
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "File (1)"

  1. 1. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah BAB IV ARAH KEBIJAKAN UMUM PENDIDIKAN KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008-2025A. Masalah yang Perlu Dibenahi 1. Pendidikan Formal Beberapa catatan dari hasil survey menunjukkan bahwapenyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Bandung sampaiTahun 2007, antara lain: Pertama, kalau melihat data versi Dinas PendidikanKabupaten Bandung, sesungguhnya ada keberhasilan yang telahdicapai, umpamanya dalam hal peningkatan angka partisipasimurni (APM) SD/MI sederajat dari 97,29% pada Tahun 2005 menjadi97,45% pada Tahun 2006 dan target 2010 adalah 100%;Meningkatnya APM SMP/MTs sederajat dari 65,07% pada 2005menjadi 69,38% pada 2006 dan target di 2010 adalah 90%.Demikian juga APM SMA/SMK sederajat dari 24,95% pada 2005menjadi 25,36% pada 2006 dan target 2010 adalah 60%. Dilaporkanjuga tentang meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) SD/MIsederajat dari 110,03% pada 2005 menjadi 110,14% pada 2006 dantarget 2010 adalah 120 %. Di samping itu, meningkatnya APKSMP/MTS sederajat dari 84,32% pada 2005 menjadi 89,12% pada2006 dan target pada 2010 adalah 100%. Demikian jugameningkatnya APK SMA/SMK sederajat dari 30,77% pada 2005menjadi 31,25% pada 2006 dan target pada 2010 menjadi 70%.Peningkatan RLS (rata-rata lama sekolah) dari 8,26 tahun pada2005 menjadi 9,53 tahun pada 2006. Lalu meningkatnya AMH(angka melek hurup) dari 98,23% pada 2005 menjadi 98,26% pada2006. Target 2010 adalah 99,59%. Kedua, kenaikan APK/APM dan AM di jalur pendidikan formaltersebut, jika dilihat sebarannya masih bervariasi di antara masing-masing wilayah kecamatan; Sehingga pencapaian target wajardikdas 9 tahun, yang keadaannya tidak sama. Ada kecamatanyang hampir mencapai 100% , tetapi ada pula kecamatan yangkurang dari 70%. Pada jalur pendidikan nonformal pun, masihrendahnya jumLah warga belajar yang mengikuti layanan programpendidikan kesetaraan (Paket A, B, dan Paket C); Di samping itu,masih rendahnya jumlah anak luar biasa (ALB) yang membutuhkanlayanan pendidikan yang setara dengan pendidikan formal;Bab IV : Arah Kebijakan Umum 115
  2. 2. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah Ketiga, di samping keberhasilan tersebut di sisi lain masihditemukan ketimpangan dari mutu pendidikan, seperti berikut:a. Masih tingginya jumlah ruang kelas yang rusak bukan hanya terjadi di SD/MI dan SMP/MTs, SMA/SMK/MA, termasuk juga pada Kantor Dinas Pendidikan Kantor Kecamatan, sehingga Kabupaten Bandung masih menduduki peringkat kedua terbanyak jumlah sekolah yang rusak di Jawa Barat;b. Pengadaan, distribusi, penertiban, perbaikan, dan pemeliharaan tanah, gedung, perabot dan alat peraga sekolah yang bervariasi, tidak berdasarkan standarisasi.c. Masih ada tanah dan bangunan sekolah yang digugat masyarakat lalu disegel oleh pihak-pihak yang mengaku keluarga dari pemilik sah atas tanah yang dipakai bangunan sekolah tersebut, sehingga murid-murid terpaksa belajar tidak semestinya;d. Masih banyaknya sekolah yang kekurangan buku paket dan alat peraga edukatif sehingga menyulitkan guru dalam melaksanakan pembelajaran;e. Masih lemahnya sistem manajemen SDM guru dan tenaga pengelola kependidikan, terutama dalam pola rekruitmen, seleksi, penempatan dan pendistribusian, pembinaan karier, kesejahteraan dan remunerasi, serta pemberhentian tenaga guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dan tenaga kependidikan lainnya yang sering keliru;f. Masih belum meratanya distribusi guru SD di wilayah Kabupaten Bandung. Jika dilihat dari rasio murid per guru masih terdapat kelebihan guru di beberapa kecamatan dan kekurangan guru kecamatan lainnya;g. Masih kurangnya guru untuk beberapa mata pelajaran, yaitu di tingkat SLTP dan SLTA kekurangan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan BP; di tingkat SMU/SMK kekurangan guru untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, Lingkungan Hidup dan BP;h. Masih banyak guru yang belum sarjana dan relevan dengan bidang studi yang diajarkannya, sehingga mempersulit dalam mengembangkan kariernya;i. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan lainnya;j. Kurikulum pendidikan yang terlalu teoritis, kurang praktis, kurang kontekstual, sehingga kurang memberikan makna yang berarti bagi bekal kehidupan murid di masa depan, baik yangBab IV : Arah Kebijakan Umum 116
  3. 3. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah berkenaan dengan nilai-nilai religius, bekal kecakapan hidup (life skills), tata pergaulan, budi-pekerti, seni budaya lokal, kesehatan dan lingkungan hidup, serta aspek-aspek pembentuk karakter bangsa sering terabaikan;k. Masih sulitnya mengembangkan Sekolah Kejuruan di daerah yang berorientasi pada potensi daerah setempat untuk memenuhi peluang pasar kerja tingkat daerah, nasional maupun untuk pasar kerja internasional;l. Masih tingginya angka putus sekolah pada beberapa kecamatan yang tingkat geografisnya sulit untuk dijangkau, sehingga turut menyebabkan perilaku destruktif dan gangguan keamanan dan ketertiban;m. Masih belum difahaminya tentang perlunya layanan pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus, baik bagi anak karena ketunaan, kenakalan, maupun kebutuhan khusus lainnya.n. Masih berkembang anggapan bahwa anak luar biasa merupakan anak ‘sakit’ sehingga pemberian layanan pendidikan masih menggunakan pendekatan medis, bukan melalui pendekatan pendidikan kekhususan;o. Masih rendahnya perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap pentingnya kelembagaan pendidikan keagamaan, karena masih tumpang tindih kewenangan dengan instansi vertikal Departemen Agama. Akibatnya, perkembangan jumlah dan kualitas lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, khususnya di jalur nonformal masih merana;p. Pembiayaan dan anggaran penyelenggaraan satuan pendidikan masih didasarkan pada asumsi-asumsi teoritis, tidak didasarkan pada perhitungan satuan biaya operasional (SBO) secara faktual;q. Mekanisme sistem penganggaran pun tidak didasarkan pada sistem pemetaan alokasi (budget mapping alocation) untuk kebutuhan setiap penyelenggaraan satuan program pendidikan. Sekalipun sudah dibantu dengan adanya BOS, masih tetap saja belum dapat mengangkat persoalan- persoalan pembiayaan penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan;r. Masih lemahnya kemampuan administratif dan manajerial para pengelola satuan pendidikan (kepala sekolah, tata usaha sekolah, pengawas sekolah, dan komite sekolah);Bab IV : Arah Kebijakan Umum 117
  4. 4. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahs. Partisipasi dunia usaha terhadap pembiayaan program- program pendidikan yang disalurkan melalui pemerintah masih rendah. Partisipasi yang baru dilakukan hanya disalurkan sendiri terhadap lembaga-lembaga ‘binaan’ dunia usaha itu sendiri. 2. Pendidikan Nonformal (PNF) Berkenaan dengan problema pendidikan di jalur pendidikannonformal di Kabupaten Bandung sampai Tahun 2007 masihditemukan gambaran bahwa:a. Eksistensi PNF masih dianggap belum mendapat perhatian yang profesional dari pemerintah maupun masyarakat dalam sistem pembangunan daerah, baik berkenaan dengan peraturan perundangan maupun dukungan anggaran;b. Upaya memformalkan pendidikan kesetaraan (Paket A, B dan C) dengan pola pembelajaran, penyelenggaraan ujian yang harus menunggu waktu ujian dengan sertifikasi/ijasah yang mengikuti pola pendidikan formal, turut merugikan dan menyurutkan minat masyarakat untuk mengikuti program pendidikan kesetaraan;c. Kurikulum dan proses pembelajaran keaksaraan masih belum benar-benar berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, sehingga hasil pembelajaran yang diberikan pada warga belajar belum fungsional dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat;d. Masih terbatasnya jumlah dan mutu tenaga profesional pada instansi PNF mulai tingkat kabupaten sampai ke tingkat desa dalam mengelola, mengembangkan dan melembagakan PNF;e. Masih terbatasnya sarana dan prasarana edukatif PNF baik yang menunjang penyelenggaraan maupun proses pembelajaran PNF dalam rangka memperluas kesempatan, peningkatan mutu dan relevansi hasil program PNF dengan kebutuhan pembangunan daerah;f. Terselenggaranya kegiatan PNF di lapangan masih mengandalkan tenaga sukarela yang tidak ada kaitan struktural dengan pemerintah sehingga tidak ada jaminan kesinambungan pelaksanaan program PNF;g. Perhatian dan pengembangan pendidikan kesetaraan jender, pemberdayaan wanita dan sebagai ibu rumah tangga yang turut menopang ekonomi keluarga, dan kader-kader wanita pelayan pembangunan masyarakat di pedesaan, masih relatif sangat rendah; Pada beberapa daerah tertentu di KabupatenBab IV : Arah Kebijakan Umum 118
  5. 5. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah Bandung, masih ada budaya yang berpandangan bahwa perempuan tidak diwajibkan untuk sekolah lebih tinggi dibanding laki-laki. Hal tersebut menyebabkan satu kesenjangan tingkat pendidikan antara laki-laki dengan perempuan;h. Masih belum terjadinya koordinasi yang terpadu antara Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja, terhadap Lembaga Latihan Luar Sekolah (LLLS) dan LKK (Latihan Keterampilan Kerja) sehingga kedua jenis lembaga tersebut kurang berkembang;i. Masih rendahnya jumlah, sebaran pelayanan perpustakaan masyarakat, taman bacaan masyarakat, dan pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) sebagai media dan sumber belajar dan pembelajaran masyarakat;j. Masih rendahnya pelayanan pendidikan kepemudaan, baik yang menyangkut pelayanan pendidikan kepribadian, budi pekerti, kecakapan hidup, maupun yang bersifat kebangsaan. Kesepuluh problema tersebut, dapat kita nyatakan bahwasasaran PLS merupakan sasaran yang sangat besar dan multisegmen. Peserta didik dalam program PLS merentang mulaipenduduk usia dini hingga penduduk lanjut usia, dari mulai putussekolah hingga mereka yang berkeinginan untuk meningkatkanpengetahuan, keterampilan praktis untuk bekerja dan memperolehpenghasilan. Dengan kata lain, garapan pendidikan luar sekolahmelebihi garapan pendidikan sekolah dengan latar belakang dansegmen masyarakat yang beragam. Berdasarkan pemikirantersebut maka pada era baru ke depan, PLS perlu terus dibina dandikembangkan agar memiliki peran yang sama pentingnyadengan pendidikan sekolah dalam mengembangkan kualitas SDM.Untuk itu PLS perlu ditata dan dikembangkan sehingga menjadikomponen yang integral, saling membangun dan salingmelengkapi dengan komponen persekolahan. 3. Pendidikan Informal Masyarakat belum begitu memahami tentang eksistensipendidikan informal yang telah dijamin oleh undang-undang,sehingga layanan pendidikan informal masih dianggap tidakpenting bagi pendidikan anak. Di samping itu, pemerintah pun,baik pemerintah pusat, provinsi, maupun pemerintah kabupatenbelum dapat merumuskan peraturan perudang-undangantermasuk pedoman penyelenggaraan pendidikan informal bagimasyarakat. Sehingga, kecenderungan pendidikan informal yangberkembang sekarang ini lebih mirip layanan pendidikan nonformalBab IV : Arah Kebijakan Umum 119
  6. 6. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahyang diselenggarakan oleh keluarga yang tidak percaya denganpendidikan formal maupun nonformal. 4. Administrasi dan Manajemen Berita-berita keprihatinan terkait dunia pendidikan di atas,mau tidak mau seolah menafikan keberhasilan sisi lainnya di sektorpendidikan di Kabupaten Bandung. Jika pada Tahun 2008 secaranasional termasuk Kabupaten Bandung harus tuntas madia yangdicirikan dengan APM antara 86-90% dan APK mencapai angka98%, maka Kabupaten Bandung harus mengejar point standartersebut dalam kurun waktu yang tersisa tinggal 1 tahun berjalan. Problema-problema pokok dalam aspek manajerialkelembagaan berkaitan dengan: Pertama, perencanaan pembangunan pendidikan masihbersifat terpusat dan belum komprehensif. Pendidikan hanyadipandang sebagai sekolah. Padahal, jenis-jenis kelembagaansatuan pendidikan yang sering terabaikan dan banyak berperanialah lembaga satuan pendidikan luar biasa, luar sekolah(nonformal), dan keagamaan. Hal ini disebabkan oleh masihlemahnya kapasitas pemahaman, apresiasi dan keterampilan dariaparat pemerintah dan masyarakat tentang karakteristikkelembagaan pendidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis-jeniskelembagaan satuan pendidikan. Sehingga menyebabkan pulakurangnya perhatian pemerintah terutama dalam sistempenganggaran dan pembinaannya; Kedua, elemen-elemen penopang pelaksanaan kebijakanotonomi manajemen pemerintahan berdasarkan UU.No.32/2004belum memberikan keleluasaan penuh dalam manajemenpembangunan pendidikan di Kabupaten Bandung. StrukturOrganisasi dan Tata Kerja (SOTK) setiap SKPD masih berubah-ubah,kurang berorientasi pada tugas, fungsi dan tujuan. Sehinggaotoritas dan kewenangan dalam melaksanakan pembinaanpendidikan pun sering tumpang tindih, baik di lingkungan instansihorizontal (beberapa SKPD seperti Bidang Kesejahteraan Rakyat,Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja, Badan Diklat, serta SKPDlainnya yang menyelenggarakan satuan pendidikan), maupundengan instansi vertikal (Departemen teknis seperti halnyaDepartemen Agama dan departemen lain yangmenyelenggarakan pendidikan). Ketiga, masih lemahnya sistem pengawasan mutupendidikan, baik yang menyangkut kerangka acuan dan instrumenyang yang digunakan, maupun dalam aspek prosedurBab IV : Arah Kebijakan Umum 120
  7. 7. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahpelaksanaannya. Sistem pengawasan yang dilakukan cenderungbersifat administratif, temporer, dan kurang berkelanjutan, bahkanlebih mengarah pada pelaksanaan pola-pola pengawasanpembangunan di bidang di luar kependidikan yang lebih bersifatmencari-cari kesalahan. Sehingga membuat ketidaknyamanandalam melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dalam pendidikan; Keempat, masih lemahnya sistem evaluasi pendidikan, baikevaluasi hasil belajar maupun evaluasi program, sehingga seringdiintervensi oleh pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.Kebijakan UAN yang merugikan peserta didik merupakan buktimasih adanya ketidakpercayaan pemerintah pusat terhadappemerintah daerah dalam penyelenggaraan evaluasi pendidikan. Kelima, bahwa data tentang pendidikan, kesehatan danperekonomian (mulai input, proses, dan output) di KabupatenBandung juga sangat miskin. Masih sering ditemukan datapendidikan yang kurang terintegrasi secara terpadu, banyakversinya, ada versi pemerintah pusat, ada versi pemerintah provinsi,dan ada versi pemerintah kabupaten. Di lingkungan pemerintahKabupaten Bandung pun, ada data versi Dinas Pendidikan, versiDinas Kependudukan, versi Dinas Tenaga Kerja, dan versi BadanPerencana Daerah (Bapeda). Di samping itu, akses masyarakatdan pemerintah untuk mendapatkan data yang akurat sangat sulitdidapat. Sehingga setiap kebijakan tentang pembangunanpendidikan kurang menyentuh permasalahan sebenarnya. Di samping itu, komitmen “ragu-ragu” terhadap amanatForum Pendidikan Dunia (Dakar, Sinegal 26-28 April 2000) tentangEducation for All (EFA) atau Pendidikan Untuk Semua (PUS) yangmeminta pemerintah di seantero negara agar memastikan bahwatujuan-tujuan PUS dapat tercapai pada Tahun 2015, disadari atautidak turut menyebabkan munculnya problema-problemapendidikan di Kabupaten Bandung. Problema-problema itusemakin memilukan bila melihat pendidikan di desa-desa terpencil. Namun itulah kenyataannya, hal-hal yang sudah dapatdikatakan ada kemajuan tersebut telah menurunkan ‘citra’ parapengelola pendidikan di mata publik. “Karena nila setitik rusak sususebelanga”, citra yang baik begitu saja tenggelam karena satukekurangan/keteledoran dalam aspek tata kelola. Dari gambaran di atas, kebijakan tentang (1) pemerataandan perluasan akses pendidikan, (2) peningkatan mutu, relevansidan daya saing, (3) peningkatan kualitas tata kelola, akuntabilitasdan pencitraan publik, hanya sekedar komoditas politik, danBab IV : Arah Kebijakan Umum 121
  8. 8. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahkalaupun dipaksakan dengan setengah-setengah, tetap akan‘berjalan di tempat’. Sebenarnya kebijakan yang ke-3 itulah akarpermasalahannya. Karena salah satu diantaranya tak pernah(sedikit) dijamah, yaitu meningkatkan efisiensi dan efektifitasmanajemen (tata kelola). Saya menganggap bahwa bilakebijakan keempat ini memperoleh perhatian serius, maka ketigakebijakan lainnya akan dapat diselenggarakan dengan baik. Perlu diketahui bahwa organisasi kependidikan yang dikelolaoleh bukan instansi Pemerintah, adalah wadah kegiatan yangdibentuk oleh masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat.Pemerintah hanya memberikan bantuan berbentuk “TechnicalAssistance” yang pelakunya adalah Pengawas/Penilik dan atauTenaga Lapangan Dikmas (TLD), dan mungkin juga bantuan lainyang berupa barang dan atau dana. Bila unit kerja operasionalyang menyusun rencana, maka pemimpin unit kerja tersebut perludibekali dengan kemampuan untuk menyusun rencana, danmengelola unit kerjanya dengan semestinya. Di samping keenam problema dalam manajemenpendidikan di Kabupaten Bandung, perlu diperhatikan dua kondisisosial yang sangat berpengaruh terhadap pembangunanpendidikan di Kabupaten Bandung, yaitu: Pertama, kondisi umum kehidupan masyarakat KabupatenBandung dari sisi kesehatannya sangat memprihatinkan. Persoalangizi buruk, tingginya AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angkakematian bayi), penyakit lama yang menghinggapi masyarakat,menjangkitnya penyakit baru seperti HIV AIDS, Flu Burung, sertapenyakit endemis lainnya. Jumlah yang rawan terkena penyakitjuga bisa jadi masih akan bertambah jika melihat masih banyaknyajumlah keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni dan masihbanyaknya keluarga miskin (Gakin). Kedua, daya beli masyarakat yang masih rendah. Disadariatau tidak, sekalipun komoditi perekonomian masyarakat semakinsempit, karena terdesak usaha-usaha konglomerasi kaum ‘borjuis’,tetapi pada saat masyarakat Kabupaten Bandung dilanda krisisekonomi, golongan merekalah yang paling dapat bertahan hidup.Persoalannya ialah, seberapa besar tingkat perhatian pemerintahdaerah terhadap golongan masyarakat seperti itu. Kebijakan-kebijakan perekonomian khususnya yang menyangkutperlindungan dan pengembangan usaha-usaha kecil danmenengah sering digulirkan, namun kebijakan tersebut seringtergeser oleh kebijakan subsidi terhadap kaum pemilik modal yangBab IV : Arah Kebijakan Umum 122
  9. 9. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahnyata-nyatanya telah meluluhlantahkan sistem perekonomiannasional, sehingga kebijakan terhadap pengembangan usahakecil dan menengah ini sering dituding sebagai kebijakan “lain dimulut lain di hati”. Ketiga, diakui atau tidak bahwa dalam melaksanakanpembangunan pendidikan di Kabupaten Bandung terkadangmasih ditemukan fakta yang saling bertentangan antara dimensikonsumtif dengan dimensi investatif. Dimensi konsumtif berkaitandengan kebutuhan untuk memproduksi barang dan jasa,sedangkan dimensi investatif berkenaan dengan kebutuhan untukmenciptakan kemampuan menghasilkan barang dan jasa di masadepan. Pilihan terhadap kedua tujuan tersebut padakenyataannya harus melalui ‘debat politik’ dan pertimbangan-pertimbangan politis dan ekonomis. Pertimbangan politisdidasarkan kepada tujuan masyarakat secara menyeluruh, danpertimbangan ekonomis didasarkan pada kemampuan fiskalotoritas penentu anggaran pembangunan daerah. Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung betul-betulingin mengelola sistem pendidikan dengan sebaik-baiknya, makastatus atau fungsi pengelola pendidikan di setiap jenjang, jalur danjenis pendidikan yang ada di lingkungan pemerintahan kabupatenmemerlukan perangkat hukum dan perundang-undangan yangdapat memberikan keleluasaan untuk merubah pola pikir, apresiasi,dan kebiasaan dalam mengelola pendidikan yang lebih akuntabel.Sehingga, mengelola sistem pendidikan yang dilakukan baik olehSKPD (Dinas Pendidikan) maupun unit kerja yang ditugasi (SatuanPendidikan) terutama pada jalur pendidikan formal, non formaldan informal berada dalam satuan sistem tata kelola, bukannyaterpisah seperti yang sekarang ini. Investasi dalam bidang pendidikan secara dini akanmenjamin terwujudnya pemenuhan hak asasi manusia,meningkatnya kualitas SDM, pertumbuhan ekonomi yangberkelanjutan, terwujudnya masyarakat sejahtera, mempunyaikemampuan mengelola teknologi, mempunyai keunggulankompetitif yang tinggi, dan menjamin kelangsunganbermasyarakat, berbangsa dan bernegara.B. Tantangan ke Depan Globalisasi dalam tatanan kehidupan masyarakatKabupaten Bandung pengaruhnya sungguh luar biasa, seluruhtatanan hidup dan kehidupan masyarakat berubah ke arah yangBab IV : Arah Kebijakan Umum 123
  10. 10. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahtidak menentu. Secara tidak disadari, globalisasi bukan sajamembawa kehidupan masyarakat ke arah persaingan yang begituberat, tetapi juga telah melunturkan sendi-sendi keimanannya. Pengaruh yang paling berbahaya dari pengaruh globalisasibagi masyarakat kabupaten Bandung ialah lunturnya keimanansebagai masyarakat yang agamis. Terjadinya dekadensi moralatau penurunan budi pekerti (akhlakul karimah) di kalangan anak-anak dan kelompok pemuda sebaya, maraknya penyalahgunaannarkoba, meningkatnya kriminalitas di kalangan remaja sertameningkatnya jumlah anak jalanan dan anak terlantar,meningkatnya keluarga miskin, meningkatnya angka putus sekolahdan angka mengulang, meningkatnya wanita tuna susila, danderajat kesehatan masyarakat yang buruk, turut mempengaruhikualitas kehidupan dan jati diri sebagai manusia hati, manusiarasional, dan manusia spiritual, yang mengemban amanatkelangsungan peradaban masyarakat Kabupaten Bandung dimasa depan. Misalnya, berkenaan dengan rendahnya kemampuan anakdalam mengikuti pendidikan lebih lanjut, lulusan yang tidakditerima di dunia kerja, moral dan budi pekerti yang ‘amburadul’,sehingga setelah masuk dunia kerja pun bukan menunjukkankinerja yang dapat memperbaiki proses-proses pembangunan,malahan terbawa arus, bahkan lebih korup dibanding parapendahulunya. Bagaimana mungkin proses pembangunan dapatmenghasilkan tujuan dengan efektif dan efisien bila para pengelolapembangunan sendiri dalam keadaan tidak dapat memberikanketeladanan. Sekalipun visi, misi, prinsip, tujuan, strategi, programpembangunan dirumuskan dengan sangat hebat, namun tidakada maknanya manakala para pengelolanya dihasilkan darilulusan-lulusan pendidikan yang tidak berkualitas. Apabila proses-proses pembangunan pendidikan dilaksanakan seperti itu terus-menerus, maka bangsa ini selamanya tidak akan mendapathidayah untuk bangkit menuju kehidupan yang lebih baik. Bahkanakan hancur sebagaimana bangsa-bangsa terdahulu yang‘durhaka’ terhadap Alloh SWT. Gambaran di atas bukan hanya sekedar cerita, bahwapermasalahan mendasar bagi pemerintah dan masyarakatKabupaten Bandung dalam pengembangan sumber dayamanusia (SDM) sekarang ini ialah bagaimana mendayagunakansegala potensi yang dimiliki untuk mencapai berbagai tujuan hidupdan kehidupan yang dicita-citakan. Potensi-potensi tersebut terdiridari para tenaga kerja, modal, teknologi dan sumber-sumber alamBab IV : Arah Kebijakan Umum 124
  11. 11. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahlainnya. Tenaga kerja dapat dikategorikan menurut pengetahuan,kemampuan dan keterampilannya, dan sumber-sumber lainnyadapat dikategorikan menurut jumlah dan tingkatan kualitasnya. Di samping itu, disadari pula bahwa dalam perananpembangunan sebagai bagian dari Negara Kesatuan RepublikIndonesia (NKRI) yang berkecimpung dalam dunia internasional,pembangunan SDM di Kabupaten Bandung pun tidak terlepas darikebijakan pembangunan nasional maupun regional (provinsi). Dantelah menjadi kesepakatan pula bahwa penyelenggaraanpendidikan di daerah merupakan tanggung jawab bersamaantara pihak orang tua, masyarakat, dan pemerintah kabupaten. Dengan demikian, dalam rangka upaya pencapaian targetIPM berikutnya perlu dilakukan upaya-upaya yang lebih terfokuspada pencapaian komponen-komponen pembentuknya yaituindeks pendidikan, dengan merujuk pada: Pertama, amanat Pembukaan UUD 1945, yaitu: “Kemudiandaripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesiayang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpahdarah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakanketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaianabadi dan keadilan sosial, …dan teknologi, seni dan budaya, demimeningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umatmanusia”. Kemudian, pada pasal 31 ayat (1) mengamanatkanpula bahwa: “Setiap warga negara berhak mendapatpendidikan”, pasal 31 ayat (2): “Setiap warga negara wajibmengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.Pasal 31 ayat (3): “Pemerintah mengusahakan danmenyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yangmeningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur denganundang-undang”. Pasal 31 ayat (4): “Negara memprioritaskananggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaranpendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatandan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraanpendidikan nasional”. Kedua, amanat UU.No.20/2003 Bab II pasal 3, yangmenegaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsimengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangkamencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untukberkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yangBab IV : Arah Kebijakan Umum 125
  12. 12. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahberiman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlaq mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negarayang demokratis serta bertanggung jawab”. Ketiga, deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM), mengamanatkanbahwa: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuhdan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasandan diskriminasi”. Pasal 28C ayat 1: “Setiap orang berhakmengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,berhak mendapat pendidikan dan manfaat dari ilmupengetahuan. Keempat, amanat Kerangka Aksi Dakkar (KAD) tentang‘Pendidikan Untuk Semua’ (PUS), yang harus diupayakan olehbangsa-bangsa di dunia, yaitu:(1) Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak dini usia, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung;(2) Menjamin bahwa menjelang Tahun 2015 semua anak, khususnya anak perempuan, anak-anak dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk minoritas etnik, mempunyai akses dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas baik;(3) Menjamin bahwa kebutuhan belajar semua manusia muda dan orang dewasa terpenuhi melalui akses yang adil pada program- program belajar dan kecakapan hidup (life skills) yang sesuai;(4) Mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa menjelang Tahun 2015, terutama bagi kaum perempuan, dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan berkelanjutan bagi semua orang dewasa;(5) Menghapus disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah menjelang Tahun 2005 dan mencapai persamaan gender dalam pendidikan menjelang tahun 2015 dengan suatu fokus jaminan bagi perempuan atas akses penuh dalam pendidikan dengan kualitas yang baik;(6) Memperbaiki semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulannya, sehingga hasil-hasil belajar yang diakui dan terukur dapat diraih oleh semua, terutama dalam keaksaraan, angka dan kecakapan hidup (life skills) yang penting Kelima, amanat masyarakat Kabupaten Bandungsebagaimana yang dirumuskan dalam visi dan misi pembangunandaerah, yaitu ingin mewujudkan “masyarakat Kabupaten Bandungyang repeh, rapih, kertaraharja melalui akselerasi pembangunanBab IV : Arah Kebijakan Umum 126
  13. 13. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahpartisipatif yang berbasis religius, kultural dan berwawasanlingkungan dengan berorientasi pada peningkatan kinerjapembangunan desa”. Visi tersebut ingin diupayakan melalui limabutir misi pembangunan, yaitu: (1) Peningkatan pemahaman nilai-nilai luhur agama dan budaya serta penerapannya dalamkehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan; (2) Peningkatanakses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas melaluipeningkatan kualitas pelayanan pendidikan, peningkatankualitas dan kesejahteraan tenaga kependidikan, peningkatansarana/prasarana pendidikan dan penuntasan wajar dikdas 9tahun; (3) Peningkatan perekonomian daerah, melaluipemberdayaan ekonomi masyarakat (UMKM), revitalisasi pertanian,pengembangan industri manufaktur dan pengembangan iklimusaha yang kondusif; (4) Peningkatan derajat kesehatanmasyarakat, melalui peningkatan kesadaran budaya sehat,peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatanyang berkualitas, peningkatan sarana/prasarana kesehatan, danperbaikan gizi masyarakat; dan (5) Peningkatan ketersediaan dankualitas infrastruktur sebagai upaya mendukung percepatanpembangunan, peningkatan keterpaduan pemanfaatan ruangkota dan pusat pertumbuhan, peningkatan gairah investasi sertaaktivitas ekonomi lainnya. Keenam, keinginan mencapai target IPM sampai 80%merupakan sesuatu yang berat, sangat memerlukan komitmen dankeberanian politik yang sungguh-sunggung antara PemerintahKabupaten dan DPRD), untuk memberi peluang dan keleluasaanuntuk menyiapkan SDM yang memadai, terutama yang berkenaandengan pola hidup, lingkungan dan pelayanan yang sehat,tumbuh-kembang anak secara dini, perlindungan anak darieksploitasi dan kekerasan, penanggulangan HIV-AIDS, sertapelayanan pendidikan yang bermakna bagi kehidupan keluarga,masyarakat dan negara.C. Sumber Daya Manusia (SDM) yang Dibutuhkan Keenam amanat sebagaimana dijelaskan di atas, diperlukankerja keras semua pihak, terutama terhadap program-programyang memiliki kontribusi besar terhadap Indeks Pendidikan harusbenar-benar dioptimalkan untuk mengejar ketimpangan antaratarget dengan realisasinya. Untuk sampai pada kondisi tersebutmemerlukan dukungan potensi insan-insan yang memilikikemampuan untuk berkiprah pada jaman tertentu yang sesuaiBab IV : Arah Kebijakan Umum 127
  14. 14. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahdengan gambaran kondisi yang dicita-citakan masyarakatKabupaten Bandung di masa depan. Secara teoritis, untuk melihat gambaran masyarakat yangdicita-citakan oleh Pemerintah Kabupaten Bandung, sebaiknyamerujuk konsep yang pernah diilustrasi Hartanto (lihat: MengelolaPerubahan di Era Pengetahuan, 1999). Hartanto menganalisis kondisi masyarakat yang dimulai darikondisi apa yang disebutnya masyarakat peramu sampai padaakhirnya menjadi masyarakat pengetahuan. Pada kondisimasyarakat peramu, untuk kelangsungan hidupnya cukup hanyamengandalkan daya tahan fisik dan naluri. Pada masyarakatpertanian tujuan hidupnya hanya untuk kebutuhan fisiologik dancukup dengan mengandalkan kemampuan dan energi fisik. Padamasyarakat industri, masih berorientasi pada kebutuhan fisiologidari orde yang sedikit lebih meningkat, dan cukup hanyamengandalkan keterampilan dan kecekatan dalam bekerja. Padamasyarakat pelayanan, orientasi kehidupan sudah mengarahpada kebutuhan hidup yang nyaman, dan cukup hanyamengandalkan kemampuan bekerja secara cerdas. Dan padamasyarakat golongan terakhir yaitu masyarakat berpengetahuan,orientasi hidupnya sudah berada pada tingkatan yang lebih tinggi,yaitu kehidupan yang harus serba bermakna, dan tidak cukuphanya mengandalkan berbagai kemampuan dan keterampilanpada masyarakat-masyarakat sebelumnya, tetapi harus dibarengidengan kemampuan bekerja sama dengan orang lain secaracerdas. DAYA TAHAN FISIK MASYARAKAT KELANGSUNGAN DAN NALURI KEMAMPUAN DAN MASYARAKAT KEBUTUHAN ENERGI FISIK PERTANIAN FISIOLOGIK KETERAMPILAN DAN MASYARAKAT KEBUTUHAN FISIK KECEKATAN KERJA INDUSTRI DARI ORDE LEBIH TINGGI KEMAMPUAN MASYARAKAT KEHIDUPAN YANG BEKERJA CERDAS PELAYANAN NYAMAN KEMAMPUAN MASYARAKAT KEHIDUPAN YANG BEKERJA SAMA PENGETAHUAN BERMAKNA CERDAS Hartanto, Mengelola Perubahan di Era Pengetahuan, 1999 Gambar 4.1Bab IV : Arah Kebijakan Umum 128
  15. 15. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah Gambaran Kondisi Masyarakat yang Dicita-citakan Gambaran masyarakat seperti yang dikemukakan Hartantotadi, pada dasarnya berkenaan dengan aspek-aspek kehidupanyang hakiki, yaitu aspek perilaku (psiko-sosial), budaya dan politik,serta mata pencaharian. Ketiga aspek tersebut salingmempengaruhi sehingga akan berpengaruh pula terhadap tingkatkesiapan masyarakat untuk dapat menyesuaikan diri dalampersaingan global. Merujuk pada makna dasar dan dimensi yang hakikikehidupan masyarakat, maka tidak ada pilihan lain bagimasyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung untuksecepatnya mempersiapkan kondisi masyarakat yang diinginkantersebut, sehingga akan muncul kondisi masyarakat yang serbasiap dalam menghadapi segala tantangan kehidupan di masadepan. Masyarakat Kabupaten Bandung yang serba siap tersebut,dapat diamati dari indikator-indikator sebagai berikut:(1) Besarnya Rasa memiliki dari warga masyarakat Kabupaten Bandung (termasuk kelembagaannya) terhadap program- program yang dirancang atau diluncurkan oleh pemerintah, baik pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat;(2) Kepercayaan diri yang mapan dari masyarakat dan pemerintah Kabupaten Bandung terhadap potensi, sumber daya dan kemampuan untuk membangun diri, masyarakat, bangsa dan negaranya.(3) Besarnya Kemandirian atau keswadayaan masyarakat Kabupaten Bandung baik sebagai penggagas, pelaksana maupun pemanfaat hasil-hasil pembangunan; Untuk meraih kondisi masyarakat yang dicita-citakan tersebutdiperlukan SDM yang memiliki ketangguhan dalam keilmuan,keimanan, dan perilaku shaleh, baik secara pribadi maupun sosial.Keshalehan pribadi dan keshalehan sosial dibentuk darikeseimbangan antara ilmu, iman dan amal seseorang, yangdiwujudkan dalam bentuk perilaku. Insan-insan yang shaleh inisangat diperlukan, bukan hanya sekedar untuk kepentingan politikdalam mendongkrak IPM, tetapi yang lebih utama adalahmembentuk ‘kader-kader tenaga pembangunan’ yang siap‘berjihad’ membangun kembali masyarakat dan bangsanya untukbangkit dari keterpurukan.Bab IV : Arah Kebijakan Umum 129
  16. 16. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah Dimensi-dimensi keshalehan pribadi seseorang mencakupshaleh dalam aqidah, ibadah, ahlak, dan keluarga. Keshalehandalam aqidah adalah jiwa yang berwujud dalam motivasi untukhidup lebih baik, dan semangat kejuangan ke arah yang lebihbermakna. Keshalehan dalam ibadah merupakan konsistensiterhadap tujuan hidup yang berwujud dalam disiplin, komitmen,kekeluargaan, dan kemasyarakatan. Keshalehan dalam akhlakialah perilaku sehari-hari sebagai perwujudan dari aqidah danibadah. Dan kesalehan dalam keluarga merupakan perwujudandari ketiganya (Solihin Abu Izzudin, Zero to Hero, 2006). Potret individu yang memiliki keshalehan pribadi ialah orang-orang yang: (1) Suka mengajak kebaikan kepada orang lain,dengan contoh, teladan dan fasilitasi terhadap orang lain; (2)Berorientasi sebagai pemberi kontribusi, bukan sebagai peminta-minta; (3) Lapang dada terhadap perbedaan dan keragaman; (4)Respek terhadap keunikan orang lain. Sedangkan potret individu yang memiliki keshalehan sosialialah:a. Orang yang paling kokoh sikapnya (atsbatuhum mauqiifan), mencakup kekokohan dalam: maknawiyah, fikriyah, da’awiyah, jasadiyah, dan kemandirian finansial;b. Orang yang paling lapang dadanya (arhabuhum shadran), mengandung arti mampu menahan diri dan emosi ketika marah, menguasai keadaan, selalu berfikir positif dan mendoakan orang lain pada kebaikan, lapang dada dengan kebodohan orang lain, tidak mudah menyalahkan, tetapi membimbing dan mengarahkan, dan selalu berharap pada kebaikan;c. Orang yang paling dalam pemikirannya (a’maquhum fikran), berfikir alternatif dan berbeda sehingga menghasilkan solusi yang cerdas, memandang persoalan tidak dari kulitnya, tetapi mendalami hingga ke akarnya, berfikir visioner jauh ke depan, di luar ruang, lebih cepat dan lebih cerdas dari masanya, menggunakan momentum keburukan untuk dijadikan kebaikan, mengasah pengalaman dan penderitaan untuk melahirkan sikap bijak dan empati, sensitif, luwes dan antisipatif;d. Orang yang paling luas cara pandangnya (aus’uhum nazharan), belajar sepanjang hayat secara serius dalam menguatkan spesialisasinya, mau menekuni sebuah keahlian sebagai amal unggulan, melakukan pembelajaran agar ahli di bidang yang ditekuninya, menghasilkan karya sebagai buktiBab IV : Arah Kebijakan Umum 130
  17. 17. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah meski sederhana, mau belajar menguasai ilmu kontemporer untuk menguatkan dan mengembangkan ilmu yang ditekuninya, mampu menghubungkan data global menjadi sebuah kekuatan, bersiap selalu agar mampu berpindah dari suatu keadaan ke keadaan lain dengan keahlian-keahlian yang dimilikinya, dan mampu bekerjasama untuk memberdayakan potensi dirinya;e. Orang yang paling rajin amal-amalannya (ansyatuhum ‘amalan), berdisiplin tinggi, bersemangat, konsisten, kontinyu, pantang menyerah, dan berusaha memberikan yang terbaik bagi orang lain;f. Orang yang paling solid penataan organisasinya (aslabuhum tanzhiman), rajin membangun rasa kebersamaan (cohesiveness) dan memunculkan gerakan kolektif (collective movement), selalu berpartisipasi pada kepentingan bersama sebab kontribusi yang paling besar ialah partisipasi;g. Orang yang paling banyak manfaatnya (aktsaruhum naf’an), berfikir, bertindak dan berkarya menghasilkan manfaat bukan saja bagi dirinya pribadi tetapi bermanfaat bagi orang lain, seperti halnya pepatah lama, “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”, manusia mati meninggalkan amal shaleh yang bermanfaat bagi sesamanya. Keshalehan pribadi dan keshalehan sosial akan tercermindalam kehidupan keluarga, karena keluarga merupakan wujudkonkrit unit organisasi masyarakat yang paling sederhana, tetapimemiliki kekuatan pengaruh yang sangat besar. Keluarga yangshaleh merupakan keluarga dambaan setiap orang. Keluarga yangmemiliki keshalehan pribadi dan keshalehan sosial merupakantiang-tiang yang kokoh masyarakat dan bangsanya. Karena itu,bangsa yang berkualitas terdiri dari golongan masyarakat yangberkualitas, dan masyarakat yang berkualitas merupakankumpulan keluarga-keluarga yang shaleh, dan keluarga yangberkualitas terdiri dari individu-individu yang memiliki keshalehanpribadi dan keshalehan sosial.D. Tujuan dan Arah Kebijakan Pendidikan Pendidikan pada hakikatnya berlangsung seumur hidup, darisejak dalam kandungan, kemudian melalui seluruh proses dansiklus kehidupan manusia. Oleh karenanya secara hakikipembangunan pendidikan merupakan bagian yang tidakterpisahkan dalam upaya pembangunan manusia. Upaya-upayaBab IV : Arah Kebijakan Umum 131
  18. 18. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahpembangunan di bidang pendidikan pada dasarnya diarahkanuntuk mewujudkan kesejahteraan manusia itu sendiri. Dalamkontek kehidupan berbangsa dan bernegara pembangunanpendidikan merupakan wahana dan alat untuk mencerdaskandan mensejahterakan kehidupan warga negara. Karena pendidikan merupakan hak setiap warga negara,maka di dalamnya mengandung makna bahwa pemberianlayanan pendidikan kepada individu, masyarakat, dan wargaNegara adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah,masyarakat dan keluarga. Karena itu manajemen sistempembangunan pendidikan harus didesain dan dilaksanakan secaraterpadu dan diarahkan pada peningkatan akses pelayanan yangseluas-luasnya bagi warga masyarakat, bermutu, efektif dan efisiendari perspektif manajemn. Pemerintah Kabupaten Bandung memiliki tugas dalammemberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganyasebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayananpemerintahan. Visi Kabupaten Bandung yaitu gemah ripahlohjinawi, repeh rapih kertaraharja secara etis merupakankehendak, harapan, komitmen yang menjadi arah kolektifpemerintah bersama seluruh warga Kabupaten Bandung dalammencapai tujuan pembangunnya. Demikian pula bahwa pembangunan pendidikanmerupakan fondasi pertama dan utama untuk pelaksanaanpembangunan Kabupaten Bandung dalam berbagai bidanglainnya. Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagipembangunan bidang-bidang lainnya mengingat secara hakikiupaya pembangunan pendidikan adalah untuk membangunpotensi manusianya yang kelak akan menjadi pelakupembangunan diberbagai bidang pembangunan lainnya. Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuksenantiasa mempertimbangkan karakteristik dan potensi setempat.Dalam kontek ini, masyarakat Kabupaten Bandung yang mayoritassuku Sunda memiliki potensi, budaya dan karakteristik tersendiri.Secara sosiologis-antropologis falsafah kehidupan masyarakatSunda yang telah diakui memili makna yang mendalam adalahCageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer. Dalam kaitan ini filosofistersebut harus dijadikan pedoman dalam mengimplementasikansetiap rencana pembangunan termasuk dibidang pendidikan.Cageur mengandung makna sehat jasmani dan rohani. Bageurberperilaku baik, sopan santun, ramah tamah bertatakrama. BenerBab IV : Arah Kebijakan Umum 132
  19. 19. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahyaitu jujur, amanah, penyayang dan taqwa. Pinter artinya memilikiilmu pengetahuan. Singer artinya kreatif dan inovatif. Sebagai sebuah upaya untuk mewujudkan pembangunanpendidikan yang berfalsafahkan Cageur, Bageur, Bener, Pinter,Singer tersebut maka ditempuh pendekatan social cultural heritageapproach. Melalui pendekatan ini diharapkan akan lahir peran aktifmasyarakat dalam mensukseskan program pembangunanpendidikan yang digulirkan pemerintah. Aspek yang harus disadari oleh segenap komponenmasyarakat dan pemerintah di Kabupaten Bandung adalah kondisidan kenyataan pahit sebagai gambaran ‘prestasi’ pembangunanpendidikan yang dilaksanakan dewasa ini, berimplikasi luasterhadap kehidupan masyarakat Kabupaten Bandung baik yangterkait dengan masalah kehidupan agama, sosial, budaya, politikmaupun ekonomi. Dengan kata lain, kualitas pelayananpendidikan yang rendah, rendahnya akses masyarakat terhadappendidikan, buruknya manajemen sistem pendidikan akan menjadibagian dari problema yang berkepanjangan dalam menghadapitantangan dan persaingan kehidupan di masa mendatang. Mencermati realitas tersebut, diperlukan berbagai langkahinovasi dan penguatan strategi pembangunan pendidikan disetiap kecamatan dengan tidak hanya mengandalkan sumberdaya yang dimiliki oleh pemerintah (baik daerah maupun pusat),melainkan menggali keterlibatan aktif dari seluruh komponenmasyarakat. Peningkatan peranserta masyarakat dalampembangunan pendidikan tersebut diharapkan menjadi salah satuakselerator untuk menuntaskan berbagai permasalahanpendidikan di disetiap kecamatan dan pedesaan. Pembangunan pendidikan sebagai wahana pembangunanSDM yang berkualitas, tetap menjadi prioritas utama baik dalampembangunan jangka pendek, menengah maupun jangkapanjang. Hal tersebut dibuktikan dengan diprioritaskannyapembangunan pendidikan dalam dokumen-dokumenperencanaan baik di tingkat pemerintah pusat, pemerintahprovinsi, maupun pemerintah kabupaten, untuk jangka waktutahunan, lima tahunan, maupun dua puluh tahun ke depan. Hal inimenunjukkan betapa pendidikan memegang peranan yangsangat penting dalam proses pembangunan suatu negaramaupun suatu daerah. Secara umum dalam lingkup kebijakan daerah,pemerintahan daerah Kabupaten Bandung berpedoman pulakedalam lingkup kebijakan makro pembangunan Provinsi JawaBab IV : Arah Kebijakan Umum 133
  20. 20. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- DaerahBarat yang mengagendakan akselerasi dalam berbagai bidangpembangunan termasuk di dalamnya pembangunan bidangpendidikan. Upaya tersebut diaktualisasikan dalam lima misisebagai Agenda Prioritas Pembangunan untuk kurun waktu limatahun ke depan sebagaimana tertuang dalam Renstra PemerintahProvinsi Jawa Barat Tahun 2004-2009. Kelima agenda tersebutmeliputi: (1) meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber DayaManusia. (2) mengembangkan struktur Perekonomian Daerah yangtangguh. (3) memantapkan kinerja Pemerintah Daerah, (4)meningkatkan implementasi pembangunan berkelanjutan. (5)meningkatkan kualitas kehidupan sosial yang berlandaskan agamadan budaya daerah. Ada pun misi yang diemban Pemerintah KabupatenBandung telah pula dituangkan dalam RPJP 2008-2025 BidangPendidikan yaitu: (1) meningkatkan kualitas iman dan taqwamasyarakat, dan (2) meningkatnya kecerdasan kreativitas,keterampilan, produktivitas, dan kemandirian masyarakatberdasarkan iman dan taqwa. Selain itu berbagai wacana pendidikan yang berkembang dimasyarakat melalui berbagai media juga perlu mendapatkanrespon positif dari pemerintah. Wacana-wacana tersebutdiantaranya desakan dari berbagai stakeholders pendidikantentang pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20 persen daritotal APBN maupun APBD, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) danberbagai kendala yang dihadapi, tindak kekerasan yang terjadi dikalangan pelajar, moralitas dan akhlak para pelajar yang seringmenimbulkan instabilitas. Hal lain yang perlu mendapatkan kajian mendalam yaituterdapatnya keberagaman potensi sumber daya yang dimiliki danketimpangan antara realitas dan kebutuhan telah memberikanwarna terhadap pengelolaan pendidikan di Kabupaten Bandung.Di samping itu potensi yang dimiliki antara satu kecamatan dengankecamatan lainnya tidak sama. Satu kecamatan memilikikeunggulan potensi, namun daerah lain memiliki berbagaiketerbatasan. Kondisi ini menuntut perlakuan yang tidak sama agarpada akhirnya semua daerah bisa mencapai tujuan yang samadalam waktu relatif sama. Dalam garis kebijakan nasional seiring dengan diterbitkannyaPP.No:19 Tahun 2004, tentang Standar Nasional Pendidikan, makatarget pelayanan pembangunan pendidikan harus semakinditingkatkan demi penyediaan pelayanan pembangunanpendidikan yang semakin berkualitas dan berkeadilan. Seluruh garisBab IV : Arah Kebijakan Umum 134
  21. 21. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahkebijakan tersebut dipola dalam target kebijakan nasional yangmenyangkut pelayanan pembangunan pendidikan yakini: (1)Pemerataan dan Perluasan akses, (2) Peningkatan Mutu, Relevansidan Daya Saing, (3) Tata Kelola, Akuntabilitas dan PencitraanPublik. 1. Pemerataan dan Perluasan Kesempatan Pendidikan Tujuan dan sasaran dalam aspek pemerataan dan perluasankesempatan pendidikan, sebaiknya tidak hanya sekedar diarahkanpada upaya memberikan kesempatan kepada semua pendudukusia sekolah untuk memperoleh pendidikan dengan hanya sekedarmewajibkan kepada masyarakat, akan tetapi harus disertaidengan tanggungjawab dalam memberikan konsekuensi yangharus ditanggung pemerintah, serta memberikan keadilan bagiseluruh lapisan masyarakat yang pluralistik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada umumnya semakin tinggijenjang pendidikan semakin besar biaya pendidikan yangdibutuhkan, maka tidak heran jika jumlah masyarakat yang mampumenyekolahkan anaknya pada jenjang lebih rendah, jauh lebihbanyak dibandingkan dengan masyarakat yang mampumenyekolahkan pada jenjang pendidikan lebih tinggi. Makintingginya biaya pendidikan sejalan dengan makin tingginyajenjang pendidikan merupakan konsekuensi logis dari peta sebaranlembaga pendidikan terhadap persebaran penduduk, karenamateri dan proses pembelajaran yang membutuhkan alat dansumber belajar yang lebih kompleks bahkan tidak jarangberteknologi tinggi, serta metode yang variatif dan inovatifmemerlukan media yang variatif pula. Berdasarkan persoalan-persoalan terbut, maka tujuan jangkapanjang dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Bandungdalam bidang ini ialah: a. Tercapainya keseimbangan jumlah dan kapasitas pelayanan kelembagaan PAUD dengan jumlah populasi PAUD yang ada pada setiap RW; b. Tercapainya kesimbangan kesempatan dan pemerataan pelayanan jenis satuan Pendidikan Dasar formal maupun nonformal dengan populasi anak usia wajib belajar sampai ke tingkat pedesaan; c. Tercapainya keseimbangan kesempatan dan pemerataan pelayanan jenis satuan Pendidikan Menengah formal maupun nonformal dengan populasi Aanak Usia Wajib Belajar (AUWB) Dikmen 12 tahun;Bab IV : Arah Kebijakan Umum 135
  22. 22. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah d. Terpenuhinya rasio ruang kelas terhadap rombongan belajar lembaga satuan pendidikan; dengan rasio rombel dan kelas berbanding 1:1; e. Tingginya dukungan dan peranserta masyarakat, dunia usaha, dan komunitas pemerhati pendidikan, baik yang bersifat materiil, maupun non material dalam setiap perumusan, pelaksanaan, dan pengendalian program pendidikan; Untuk mewujudkannya minimal dibutuhkan 2 kondisi, yaitu:Pertama, bahwa diperlukan daya tampung yang seimbangdengan populasi anak usia sekolah pada setiap jenjangpendidikan; dan kedua, masyarakat harus memiliki kemampuanuntuk menyekolahkan anaknya. 2. Peningkatan Mutu, Relevansi dan Daya Saing Peningkatan pemerataan dan perluasan akses berbarengandengan peningkatan mutu menjadi suatu keniscayaan. Mutu,relevansi dan daya saing sebagai karakter yang melekat padakomponen input, proses dan output. Artinya output yang bermutu,memiliki relevansi dengan kebutuhan pembangunan dan pangsapasar, dan sangat berarti pula dengan kepemilikan daya saingtinggi lebih banyak dihasilkan dari input dan proses yang bermutupula. Input pendidikan berkenaan dengan kondisi dan karakteristikpeserta didik, muatan kurikulum, tenaga guru dan kependidikan,dana, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana,serta suasana lingkungan pembelajaran. Ketersediaan komponen-komponen input tersebut pada kenyataannya belum memenuhistandar yang telah ditentukan secara nasional karena berbagaialasan. Proses pendidikan adalah pemanfaatan sumber daya yangtersedia diramu dalam satu metode pembelajaran. Orientasikurikulum pada dewasa ini menuntut kreativitas dan inovasi yangtinggi pada saat terjadi proses pembelajaran. Sejalan dengankualifikasi tenaga pendidik dan kependidikan, kreativitas daninovasi belum sepenuhnya memenuhi harapan. Masih sering terjaditenaga pendidik dan kependidikan terjebak pada rutinitas yangsudah nyaman dijalani. Pembinaan professional, diklat danreorientasi yang diberikan pemerintah pun belum ditata dandilaksanakan secara terencana, terorganisasi, terkendali danberkelanjutan.Bab IV : Arah Kebijakan Umum 136
  23. 23. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah Jika hasil Ujian Nasional jadi salah satu standar ukuran mutupendidikan yang dicapai, dapat dikatakan bahwa mutu lulusanpendidikan pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan belummenggembirakan. Rata-rata nilai untuk mata pelajaran yangdiujikan dengan batas minimal kelulusan yang hanya 4,25 (Tahun2006) sama sekali belum menggambarkan ketuntasan belajar.Padahal menurut seharusnya seorang peserta didik dapatmelanjutkan ke materi berikutnya jika sudah tuntas pada materisebelumnya. Mutu output proses pembelajaran tersebut relatif lebihmudah diamati dampaknya pada level jenjang pendidikanmenengah ketika memasuki perguruan tinggi dan atau bersaingdalam meraih pasar kerja pada berbagai sektor baik di dalammaupun di luar negeri. Oleh karena itu, tujuan dan sasaran dalam peningkatanmutu proses pembelajaran, bukan hanya ditujukan padabanyaknya jumlah pembaharuan yang harus diterapkan dalamproses pembelajaran, namun diarahkan juga pada regulasituntutan perubahan yang dinamis dan akseleratif. Ujian kelulusanprogram pendidikan harus diserahkan kepada lembaga lembagasatuan pendidikan, dan Ujian Nasional harus diarahkan padaupaya mendiagnosa pencapaian standarisasi pendidikan yangditetapkan pemerintah, bukan dimaksudkan untuk menghalangikesempatan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjangyang lebih tinggi. Di samping itu, perubahan tersebut bukansemata-mata menjadi kewajiban dan tanggungjawab parapendidik secara formal di lingkungan lembaga satuan pendidikan,keluarga dan para peserta didik sebagai bagian dari subjekpembelajaran, tetapi juga harus menjadi bagian yang dinamis,adaptif, dan penuh inisiatif. Berdasarkan persoalan-persoalan terbut, maka tujuan jangkapanjang dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Bandungdalam bidang ini ialah: a. Meningkatnya kualitas sumber daya tenaga pendidikan keagamaan dan meningkatnya motivasi masyarakat terhadap pendidikan keagamaan; b. Tercapainya target-target pencapaian SNP pada setiap jenis satuan pendidikan baik yang berkenaan dengan penerapan kurikulum berbasis nilai-nilai religius (keimanan, ketaqwaan, dan amal shaleh), tata pergaulan/budi-pekerti, teknologi dasar, olahraga dan seni budaya, kesehatan dan lingkungan hidup, serta aspek-aspek pembentuk karakter kehidupan berbangsa dan bernegara;Bab IV : Arah Kebijakan Umum 137
  24. 24. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah c. Meningkatnya kompetensi dan kemampuan dan profesionalitas guru/ tutor/pamong bejlajar, dan tenaga kependidikan lainnya sesuai dengan tugas pokoknya pada setiap lembaga satuan pendidikan. Rasio siswa SD terhadap kelas 1:30; d. Terpenuhinya kebutuhan tentang sarana dan prasarana (Sapras) dan sumber-sumber belajar yang relevan dalam pendukung penerapan kurikulum berbasis budaya daerah dan kearifan lokal, budi pekerti, kecakapan hidup (life skills) dan jiwa entrepreneur, teknologi dasar, serta lingkungan hidup yang sesuai dengan Standar Internasional; e. Meningkatnya lembaga satuan pendidikan (sekolah model) berbasis keunggulan dalam kecakapan hidup (life-skills), nilai- nilai religius (keimanan, ketaqwaan, dan amal shaleh), tata pergaulan/budi-pekerti, teknologi dasar, olahraga dan seni budaya, kesehatan dan lingkungan hidup, serta aspek-aspek pembentuk karakter kebangsaan, yang memiliki daya saing internasional; f. Makin banyaknya murid, guru dan tenaga kependidikan lainnya yang memiliki kemampuan teruji untuk bersaing baik pada tingkat lokal, nasional, regional maupun internasional. Dan Makin banyaknya murid, guru dan tenaga kependidikan lainnya mendapat penghargaan yang memadai; g. Meningkatnya sekolah-sekolah kejuruan berbasis potensi wilayah dan berorientasi pasar tenaga kerja lokal, nasional dan internasional. Rasio SMA:SMK 60:40; h. Tercapainya proses pembelajaran berbasis TIK di seluruh mata pelajaran di setiap jenis kelembagaan satuan pendidikan. Terselenggaranya proses pembelajaran berbasis TIK sebesar 50% pada setiap jenis satuan pendidikan; Untuk mengatasi ketiga komponen mutu tersebut dibutuhkanbeberapa kondisi, antara lain: (1) Adanya standarisasi untuk setiapkomponen pendidikan baik yang menyangkut, input, proses, danoutput pada setiap jalur, jenis dan jenjang satuan pendidikan; (2)Adanya regulasi sosialisasi, pembinaan dan fasilitasi yangberkesinambungan dalam peningkatan kapasitas pengelolaanpendidikan pada setiap tingkatan kelembagaan pendidikan, baikyang menyangkut perencanaan dan program, pengorganisasian,pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan, evaluasi danpelaporan, serta akuntabilitas dalam penyelenggaraanpendidikan; (3) Adanya kebijakan yang mengatur standarisasiBab IV : Arah Kebijakan Umum 138
  25. 25. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahprosedur operasional tentang kerjasama kelembagaan satuanpendidikan dengan stakeholders pendidikan (masyarakat, duniausaha dan kelembagaan masyarakat lainnya); 3. Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik Tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik merupakansatu rangkaian yang memiliki hubungan sebab-akibat. Pengelolaanyang baik menjadikan proses dan output dapatdipertanggungjawabkan dan diterima oleh masyarakat dansecara organisasi tujuan tercapai dengan efektif dan efisien. Memperhatikan fenomena dan kecenderungan dimasyarakat, masalah utama yang dihadapi berkaitan pula denganetos dan budaya kerja yang masih lemah pada sebagian tingkatanpengelolaan pendidikan. Etos kerja berkaitan dengan sikap mentalyang sudah menjadi karakter kepribadian. Budaya kerja berkenaandengan pikiran, perasaan, dan kebiasaan). Etos kerja dan budayakerja akan membentuk sikap mental yang akan diwujudkan puladalam perilaku yang nampak pada saat melaksanakan tugas.Kemauan untuk berubah dari kebiasaan lama sepertinya sulitditumbuhkan pada pengelola pendidikan. Apabila kolusi, korupsi,dan nepotisme (KKN) telah menjadi perilaku para pengelolapendidikan, maka untuk mencapai tujuan tata kelola, akuntabilitasdan pencitraan publik sangat sulit dilaksanakan Di sisi lain, arus informasi dan komunikasi pada era otonomidaerah menjadi kurang intensif, kurang dapat dipercaya, kurangakurat, dan susah didapat. Pemanfaatan dan optimalisasi fungsiteknologi Sistem Informasi dan Komunikasi (SIK) ternyata tidaksemudah yang dibayangkan. Kenyataan menunjukkan bahwa diKabupaten Bandung beberapa kali diupayakan membangun SIKyang koneksitasnya menjangkau hingga tingkat kecamatan, akantetapi tidak berhasil mengkomunikasikan informasi yang akurat,bahkan imprastruktur yang telah diadakan saja cenderungdigunakan untuk kepentingan yang lain. Bukan hanya itu, perhatian para pengambil kebijakan dalammengalokasikan dana operasional dan pemeliharaan untukpengembangan SIK pun menjadi sangat menentukan untuk hiduptumbuh dan berkembangnya sistem yang dibangun. Namundemikian, kesadaran akan pentingnya teknologi informasi dankomunikasi sebetulnya masih terus hidup bahkan tumbuh danberkembang, dengan munculnya kegiatan yang berhubungandengan pembangunan teknologi SIK, baik pada berbagai SKPDmaupun komunitas-komunitas masyarakat. Namun sungguhBab IV : Arah Kebijakan Umum 139
  26. 26. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahdisesalkan, terkesan sangat parsial, insidental, dan tidakterkoordinasikan, serta cenderung hanya sekedar menyikapimasalah yang bersifat kebutuhan jangka pendek, tidak sampaimenyentuh kepentingan utama yang lebih luas. Berdasarkan persoalan-persoalan terbut, maka tujuan jangkapanjang dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Bandungdalam bidang ini ialah: a. Meningkatnya kualitas Perencanan Pembangunan Pendidikan yang dapat dijadikan arah dan pedoman oleh para pengelola dan pelaksana penyelenggaraan pembangunan pendidikan yang berkenaan dengan substansi pendidikan (bidang garapan) pada setiap satuan kelembagaan pendidikan, baik yang bersifat jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, maupun tingkatan rencana induk, rencana/program strategis dan aktivitas- aktivitas program; b. Terciptanya regulasi, ontensitas dan konsistensi pengawasan, pengendalian, evaluasi, pelaporan dan pertanggungjawaban baik internal dan eksternal, maupun administratif, termasuk spesifikasi (norma, instrumen dan prosedur) pengukurannya, sehingga dapat diterima dengan wajar tanpa syarat; c. Meningkatnya kompetensi dan kemampuan dan profesionalitas pengawas satuan pendidikan yang sesuai dengan tugas pokoknya pada setiap lembaga satuan pendidikan sertifikasi diklat reguler, studi lanjut ke perguruan tinggi ke luar negeri; d. Meningkatnya besaran anggaran untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan dengan alokasi yang lebih proporsional berdasarkan karakteristik kelembagaan satuan pendidikan pada setiap jalur, jenis, dan jenjang pengelolaan pendidikan; e. Adanya regulasi peningkatan kesejahteraan bagi guru/tutor/pamong belajar/TLD, kepala satuan pendidikan, pengawas, tenaga administrasi dan tenaga kependidikan lainnya yang sesuai dengan kemampuan anggaran daerah dan kelayakan taraf hidup, pada setiap kelembagaan satuan pendidikan, sehingga ada peningkatan motivasi dan kenyamanan dalam melaksanakan pekerjaannya, tanpa diskriminasi terhadap status kepegawaiannya;Bab IV : Arah Kebijakan Umum 140
  27. 27. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah f. Terciptanya konsistensi kebijakan dan peraturan perundang- undangan tentang penyelenggaraan pendidikan, baik yang menyangkut bidang garapan maupun proses-proses manajemen yang dapat dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan; g. Meningkatnya regulasi dan intensitas pelaksanaan sistem transparansi melalui mekanisme komunikasi dan sosialisasi perencanaan, pelaksanaan dan hasil-hasil program pendidikan kepada masyarakat; h. Meningkatnya kualitas data dan informasi pendidikan yang cepat, akurat dan dapat dipercaya dalam upaya mendukung sistem pembuatan kebijakan dan keputusan yang menyangkut manajemen pembangunan daerah; Oleh karena itu, untuk mencapai tatakelola, akuntabilitasdan pencitraan publik dalam pembangunan pendidikan diKabupaten Bandung diperlukan beberapa kondisi: (1) Adanyakebijakan yang mengatur standarisasi kinerja baik yangmenyangkut standarisasi kinerja kelembagaan maupun standarisasikinerja individu; (2) Adanya regulasi pemantauan dan evaluasipencapaian kinerja, baik individu maupun kelembagaan; (3)Adanya regulasi, fasilitasi, dan pendampingan dalammeningkatkan kompetensi individu dalam melaksanakan tugaspokok dan fungsinya dalam struktur kelembagaan, baik yangmenyangkut kepribadian, professional, dan hubungan sosial; (4)Adanya regulasi penguatan kapasitas dalam mengelola organisasipendidikan, baik yang menyangkut pemahaman tentangkebijakan dan perundang-undangan pendidikan, pemahamantentang perencanaan dan program pendidikan, pemahamantentang pengawasan, monitoring dan evaluasi programpendidikan, dan akuntabilitas/ pertanggungjawaban terhadapprogram-program yang telah dihasilkannya; (5) Tersedianya datadan informasi pendidikan yang akurat, dapat dipercaya dan dapatdiakses secara mudah dan cepat oleh semua lapisan masyarakatyang membutuhkannya.Bab IV : Arah Kebijakan Umum 141
  28. 28. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerah BAB V PENDEKATAN DAN METODOLOGI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008-2025A. Pendekatan Strategis Pembangunan pendidikan di daerah menurut UU.No.32/2004bukan lagi suatu konsep tetapi mulai diimplementasikan padasemua tingkatan manajemen, tidak terkecuali pada tatanankelembagaan SKPD (Dinas Pendidikan) maupun pada satuanpendidikan di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.Implementasi pada tatanan kelembagaan pendidikan sungguhsangat berarti, karena fungsi dan peranan kelembagaan tersebutsangat strategis dalam pembangunan peradaban masyarakanKabupaten Bandung. Sejarah mencatat bahwa pada organisasipendidikanlah kreativitas kultural kader-kader masyarakatKabupaten Bandung dapat dikembangkan. 1. Hakekat Otonomi Pengelolaan Pendidikan bagi Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Bandung Tiga persoalan mendasar yang patut diantisipasi dalamotonomi pengelolaan pendidikan, yaitu: Apakah pemberianotonomi pengelolaan pendidikan akan menjamin setiap anggotamasyarakat Kabupaten Bandung memperoleh haknya dalampendidikan? Apakah dengan pemberian kewenanganpengelolaan pendidikan kepada lembaga satuan pendidikandapat menjamin peran serta masyarakat akan meningkat? Apakahpengelolaan pendidikan yang dilakukan di setiap lembaga satuanpendidikan dapat mencapai hasil-hasil pendidikan yang bermutu? Untuk menjawab ketiga pertanyan tersebut, perlu merujuksistem perundang-undangan tentang penyelenggaraan otonomipendidikan. Karakteristik yang melekat pada UU.No.32/2004 telahmembawa implikasi terhadap manajemen pendidikan nasional,regional dan lokal. Implikasi tersebut diantaranya bahwa setiapproses pengelolaan pendidikan harus pula berlandaskan bottomup approach, karena pengelolaannya harus acceptable danaccountable dalam melayani masyarakat terhadap kebutuhanpendidikan. Secara teknis, pengelolaan pendidikan tingkatkabupaten eksistensinya tidak terlepas dari rekomendasi kebutuhanBab V : Pendekatan dan Metodologi 138
  29. 29. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahpada tingkat satuan pendidikan. Artinya, bidang garapan, proses,dan konteks pengelolaan pendidikan pada tingkat satuanpendidikan tidak mutlak sama, baik dengan daerah lainnya yangsederajat maupun dengan antar daerah kabupaten/kota. Secarateoritis, keragaman itu akan memunculkan sinergisme yangdidukung oleh keunggulan komparatif dan kompetitif masing-masing daerah dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Dengan demikian, bahwa besar dan luasnya kewenangandalam pengelolaan pendidikan pada tingkat satuan pendidikanakan tergantung kepada sistem politik dalam memberikankeleluasaan tersebut. Akan tetapi, sekalipun keleluasaan itudiberikan tidak dapat diartikan sebagai pemberian kebebasanmutlak tanpa mempertimbangkan kepentingan pemerintahdaerah, sehingga menimbulkan konflik kepentingan antarapengelola pendidikan pada tingkat kabupaten dengan pengelolapendidikan di tingkat kelembagaan satuan pendidikan.Sesungguhnya konflik kepentingan tersebut tidak perlu terjadiapabila para pengelola tingkat kabupaten memahami hakekatdan urgensi perlunya otonomi dalam pengelolaan pendidikan.Walaupun terjadi tarik menarik kepentingan, harus berdasarkanpada prinsip saling ketergantungan untuk menghasilkan sinergitasbagi tujuan-tujuan pembangunan pendidikan yang lebih luas. Dalam konsepnya, otonomi mengandung dua makna, yaitumakna politik (otonomi politik) dan makna administratif (otonomiadministrasi). Membedakan kedua istilah ini sangat penting dalampraktek pengelolaan pendidikan, karena pelayanan pemerintahkepada masyarakat dalam bidang pendidikan secara politik harusdapat menjamin hak dan masyarakat untuk memperolehpendidikan yang berkualitas, dan pelaksanaannya menyangkutbanyak pihak yang berkepentingan, sehingga memerlukankesepakatan-kesepakatan politik. Sedangkan pelayananpemerintah kepada masyarakat dalam bidang garapan, proses,dan konteks penyelenggaraan pendidikan secara administrasi danmanajerial tidak memerlukan konsensus dengan pihak-pihak di luarkelembagaan pendidikan, karena otonomi administrasi merupakanbagian dari strategi manajemen yang memungkinkan sangatvariatif sesuai karakteristik jalur, jenjang dan jenis kelembagaansatuan pendidikan di masing-masing daerah. Otonomi pengelolaan pendidikan berusaha untukmengurangi campur tangan atau intervensi pejabat atau unittingkat atas terhadap persoalan-persoalan manajemen pendidikanyang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit diBab V : Pendekatan dan Metodologi 139
  30. 30. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahtataran bawah, sehingga diharapkan terjadi pemberdayaan peranunit di tingkat bawah. Akan tetapi, walaupun begitu luasnyaotonomi dalam pengelolaan pendidikan yang diberikan kepadalembaga satuan pendidikan, tetap harus konsisten dengan sistemkonstitusi. Atas dasar alasan-alasan itu, otonomi merupakan saranauntuk mengembangkan organisasi satuan pendidikan untuk dapatbergerak lebih luwes dan alur informasi lebih bebas sesuai dengankarakteristik pembuatan keputusannya. Di samping itu untukmemenuhi kebutuhan pembangunan daerah, otonomi adalahpola yang paling tepat dan relevan dengan tuntutan otonomitersebut. Sesuai tuntutan reformasi dalam pembangunan, tampaknyapelaksanaan otonomi dalam pengelolaan pendidikan diKabupaten Bandung merupakan suatu keharusan, di sampingmemang sejumlah peraturan perundang-undangan yang sudahditetapkan menuntut untuk segera dilaksanakan. Juga, untukmelaksanakan otonomi pengelolaan pendidikan secara nasional diseluruh wilayah Indonesia tampaknya bukanlah hal yang mudah,termasuk penyerahan seluruh urusan pendidikan kepada tingkatlembaga satuan pendidikan, bukanlah hal yang gampang,dibutuhkan waktu, dan tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya,karena menyangkut sejumlah masalah dan kendala perlu diatasi,termasuk kesiapan sumber pembiayaan, SDM, dan sumber-sumberpendukung lainnya. Karena itu, pelaksanaan otonomi manajemen pendidikansampai ke tingkat lembaga satuan pendidikan berdasarkanjenjang pendidikan yang selama ini kita anut, yakni meliputi jenjangpendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.Diperlukan pola-pola otonomi yang sesuai dengan karakteristikkelembagaan satuan pendidikan dan karakteristik masyarakat dimasing-masing daerah. Otonomi jenjang pendidikan bisa dipilihapakah semua jenjang pendidikan bisa ditangani oleh pemerintahdaerah, atau hanya terbatas jenjang pendidikan tertentu sesuaidengan kemampuan pemerintah di daerah. 2. Ruang Lingkup Otonomi Pengelolaan Pendidikan yang Perlu Dikembangkan di Kabupaten Bandung Secara teoritis terdapat tiga model otonomi dalampengelolaan pendidikan, yaitu: (1) Manajemen berbasis lokasi (site-based management), (2) Pengurangan administrasi pusat, dan (3)Inovasi kurikulum. Model manajemen berbasis lokasi ialah modelBab V : Pendekatan dan Metodologi 140
  31. 31. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahyang dilaksanakan dengan meletakan semua urusanpenyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan(sekolah). Model pengurangan administrasi pusat merupakankonsekuensi dari model pertama. Pengurangan administrasi pusatdiikuti dengan peningkatan wewenang dan urusan pada masing-masing sekolah. Model ketiga, inovasi kurikulum menekankan padainovasi kurikulum sebesar mungkin untuk meningkatkan kualitas danpersamaan hak bagi semua peserta didik. Kurikulum ini disesuaikanbenar dengan kebutuhan peserta didik di sekolah-sekolah dantersebar pada daerah yang bervariasi. Akan tetapi, otonomi pengelolaan pendidikan bisamencakup seluruh bidang garapan pengelolaan pendidikan, dandapat juga hanya salah satu atau beberapa bidang garapan saja,antara lain kurikulum, tenaga kependidikan, keuangan, dansarana-prasarana pendidikan. Otonomi kurikulum dapat dibedakandari aspek jenis dan muatannya, antara kurikulum bermuataninternasional, nasional, regional dan lokal. Otonomi manajementenaga kependidikan, dapat dibedakan dari aspek rekrutmen,pendayagunaan, pembinaan profesional, penggajian danpengembangan kariernya. Otonomi keuangan dapat dibedakandari aspek alokasi kebutuhan dan penganggaran,pendayagunaan, dan pertanggungjawabannya. Otonomi sarana-prasarana pendidikan juga dapat dibedakan dari aspekpengadaan, pendayagunaan dan pemeliharaannya. Namundemikian, bidang-bidang garapan manajemen yang diotonomikanakan ditentukan oleh isi dan luas kewenangan yang diberikan,karena tidak setiap kewenangan yang diberikan disertai dengansumber pembiayaan, sarana dan prasarananya. Terlepas dari bidang garapan mana yang diotonomikan,sebetulnya aspek utama yang perlu disiapkan ialah adanyaderegulasi peraturan perundang-undangan sebagai produk darikebijakan pemerintah daerah yang dijadikan perangkat kendalisistem pengelolaan pendidikan, sekaligus yang mengatur isi danluas kewenangan setiap bidang garapan yang diotonomikan.Aspek inilah yang akan memberi corak, jenis dan bentuk otonomipengelolaan pendidikan. Bidang hukum dan perundang-undangan dalam konteksotonomi pengelolaan pendidikan, merupakan perangkat kendalimanajemen yang akan menentukan isi dan luas wewenang dantanggung jawab untuk melaksanakan setiap bidang tugas yangdiotonomikan. Setiap penataan organisasi sebagai konsekuensidari wewenang yang diterima, tidak terlepas dari adanya asasBab V : Pendekatan dan Metodologi 141
  32. 32. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahlegalitas sebagai landasan berpijak dalam membangunperangkat-perangkat operasional organisasi yang accountablebagi kepentingan masyarakat, sekaligus untuk memenuhikebutuhan masyarakatnya. Dengan demikian, maka salah satukeberhasilan dalam otonomi pengelolaan pendidikan sangattergantung pada dukungan peraturan perundang-undangantersebut. Peraturan perundang-undangan tersebut terdiri dari duasumber, yaitu: Pertama, komitmen politik yang bersumber dari amanatmasyarakat Kabupaten Bandung. Komitmen ini mencakupkomitmen internal dan eksternal. Komitmen internal berkaitandengan segala aktivitas pemenuhan kebutuhan, keinginan danharapan masyarakat untuk kesejahteraan. Sedangkan komitmeneksternal berkaitan dengan segala aktivitas masyarakat KabupatenBandung dalam percaturan regional, nasional dan global. Kedua, political will (kemauan politik) para pembuatkebijakan baik pada tatanan manajemen Pemerintah DaerahKabupaten Bandung dan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat,maupun Pemerintah Pusat. Kemauan politik ini harus konkrit dalamwujud peraturan perundang-undangan dengan segala akibathukum yang menyertainya secara konsisten. Ahirnya sampai pada kesimpulan bahwa dalam upayapelaksanaan otonomi pengelolaan pendidikan di KabupatenBandung diperlukan prasyarat: a. Kebijakan Umum Pengelolaan Pendidikan Kerangka kebijakan umum ini diwujudkan dalam bentukRencana Induk Pembangunan Pendidikan, sebagai kerangkaacuan yang memungkinkan para pengelola satuan pendidikanbeserta stakeholders serta masyarakat daerah menempatkannyasebagai acuan bersama untuk mengarahkan potensi daerahsesuai target dari tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan. Kehadiran master plan tersebut diarahkan untuk dapatmenjadi pedoman para pengelola dan penyelenggara pendidikandi daerah, sebetulnya bukanlah sebuah dokumen yang akanmenduplikasi dokumen perncanaan daerah yang ada saat ini,melainkan akan menjadi penguat bagi pelaksanaan agendapembangunan pendidikan di daerah yang secara eksplisit telahdijadikan ketentuan hukum daerah, karena perumusannya akandikonsentrasikan pada pendayagunaan elemen-elemen dasarBab V : Pendekatan dan Metodologi 142
  33. 33. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahyang menopang pengelolaan pendidikan di daerah. Dengandemikian kehadiran kebijakan umum tersebut seharusnya menjadiacuan perangkat daerah dalam mendayagunakan sumber dayadaerah sehingga mampu melakukan perannya di dalammencapai target-target yang telah tertuang dalam dokumenperncanaan pembangunan daerah. b. Restrukturisasi Organisasi Pengelola Pendidikan Bentuk dan struktur organisasi pengelolaan pendidikan yangmencerminkan jiwa otonomi, antara lain:(1) Struktur organisasinya lebih gemuk ke bawah, berbentuk piramid dengan kerucut ke atas;(2) Tidak banyak banyak unit-unit khusus, pokja, tim kerja, staf ahli yang tidak jelas eselonisasinya;(3) Beban tugas organisasi lebih banyak pada unit organisasi tingkatan bawah, tetapi tidak disertai dengan imbalan yang memadai sesuai dengan beban pekerjaannya;(4) Setiap tugas pokok dan fungsi unit-unit organisasi ditata dan diatur secara lengkap dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan tertulis;(5) Mekanisme pelaksanaan kerja, tugas, kebijakan, keputusan yang menyangkut mekanisme sistem pelaksanaan tugas pokok dan fungsi setiap unit kerja, selalu diagendakan dan dibuat secara tertulis serta disampaikan kepada seluruh anggota organisasi;(6) Mempunyai rencana strategis yang berjenjang dengan target, acuan, alat, mekanisme pengendalian dan evaluasi serta akuntabilitas yang jelas;(7) Ada transparansi dalam setiap pengelolaan sumber-sumber pembiayaan organisasi;(8) Ada perimbangan penbiayaan dan profit sharing antara unit- unit pusat dengan unit-unit pelakana pada tingkat bawah c. Revitalisasi Muatan Kurikulum Pendidikan Persyaratan utama dalam bobot muatan kurikulum harusmendasar, kuat, dan lebih luas. Mendasar, dalam arti terkaitdengan pemberian kemampuan dalam upaya memenuhikebutuhan mendasar peserta didik sebagai individu maupunanggota masyarakat. Kuat, dalam arti terkait dengan isi dan prosespembelajaran atau penyiapan peserta didik untuk menguasaipengetahuan, sikap dan keterampilan yang kuat, sehinggamemiliki kemampuan untuk mandiri dalam meningkatkan kualitasBab V : Pendekatan dan Metodologi 143
  34. 34. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahpemenuhan kebutuhan mendasarnya. Luas, dalam arti terkaitdengan pemanfaatan dan pendayagunaan potensi dan peluangyang ada dan dapat dijangkau oleh peserta didik. Potensi danpeluang tersebut didayagunakan baik pada saat prosespembelajaran maupun pada saat penerapan hasil pembelajaran.Ketiga aspek tersebut secara bersama-sama memberikankemampuan kepada peserta didik untuk dapat menyesuaikan diriterhadap berbagai kemungkinan kondisi, potensi dan peluangyang ada di lingkungannya. Kompetensi yang dituntut ialah bekal pengetahuan,keterampilan, dan kemampuan fungsional praktis serta perubahansikap untuk bekerja dan berusaha secara mandiri, membukalapangan kerja dan lapangan usaha serta memanfaatkan peluangyang dimiliki, sehingga dapat meningkatkan kualitaskesejahteraannya. Penggunaan pendekatan dalam merumuskan kurikulumharus memiliki cakupan yang luas, dapat mengitegrasikanpengetahuan dengan keterampilan yang diyakini sebagai unsurpenting untuk hidup lebih mandiri. Strategi pembelajaran dirancang untuk membimbing,melatih dan membelajarkan peserta didik agar mempunyai bekaldalam menghadapi masa depannya, dengan memanfaatkanpeluang dan tantangan yang ada. Metodologi pengajaranberpegang pada prinsip belajar untuk memperoleh pengetahuan(learning to learn), belajar untuk dapat berbuat atau bekerja(learning to do), belajar untuk menjadi orang yang berguna(learning to be) dan belajar untuk dapat hidup bersama denganorang lain (learning to live together). Pengembangan kurikulum pendidikan ini harus didasarkanpada perkembangan kehidupan masyarakat, pengembangan jatidiri manusia (insan kamil), yang dibutuhkan serta mampu hidup danmenghidupi orang lain sesuai dengan fitrahnya sebagai pengelolaalam beserta isinya. Isi dan muatan kurikulum pendidikan harusberorientasi pada dimensi-dimensi penguasaan bidangketerampilan, keahlian dan kemahiran berkiprah sebagai anggotakeluarga yang hidup bermasyarakat bangsa dan negara, danmampu pula berkiprah dalam persingan global. d. Profesionalisasi Tenaga Pengelola Kependidikan Para pengelola pendidikan pada tingkatan pengelola sistempendidikan nasional adalah seorang policy maker bagi segalakegiatan yang harus dilakukan oleh orang-orang yang terlibatBab V : Pendekatan dan Metodologi 144
  35. 35. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahdalam kegiatan pendidikan, baik di lingkungan organisasi sistempendidikan, maupun pada lingkungan organisasi satuanpendidikan. Demikian pula kegiatan-kegiatan yang menyangkutsubstansi (bidang garapan) manajemen pendidikan sangattergantung kepada putusan-putusan yang ditetapkan oleh parapengelola pendidikan sebagai pimpinan dan penanggung jawabkegiatan manajemen. Dengan demikian, upaya pencapaian tujuan pendidikan diKabupaten Bandung maupun tujuan kelembagaan sekolah akanbanyak dipengaruhi oleh keterampilan-keterampilan (skills) danwawasan (vision) yang dimiliki oleh pengelola pendidikan dalammelaksanakan tugas, peranan dan fungsinya sebagai pengelolapendidikan. Apabila para pengelola pendidikan memiliki visi,wawasan, dan kemampuan-kemampuan profesional yangdibutuhkan dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pimpinan danpenanggung jawab penyelenggaraan pendidikan di daerah, akanmemungkinkan tercapainya tujuan yang diharapkan secara efektif.Setiap tugas yang harus dilaksanakan para pengelola pendidikansebagai pimpinan satuan pendidikan menuntut sejumlahketerampilan (skills) khusus yang memungkinkan dapatmelaksanakan tugas atau peranannya secara efektif. Kebutuhan tenaga-tenaga pengelola kependidikanpotensial yang secara umum mempunyai kualitas tertentu tersebutdikelompokkan ke dalam tiga katagori utama, yaitu: (1) Tenagapengelola kependidikan berkualifikasi kemampuan berbasispendidikan tinggi di bidang administrasi dan pengelolaanpembangunan pendidikan bagi unsur-unsur pimpinan pada semuatingkatan jabatan struktural. Tenaga pengelola kependidikan inisangat diperlukan untuk menduduki jabatan pada eselon yangbersifat strategis; (2) Tenaga pengelola kependidikan berkualifikasikemampuan manajerial berbasis pendidikan tinggi dalam bidang-bidang keilmuan tertentu sesuai persyaratan tugasnya. Tenagamanajemen kependidikan ini diperlukan untuk menduduki jabatanpada eselon yang bersifat koordinatif; (3) Tenaga pengelolakependidikan berkualifikasi kemampuan teknis operasional padaeselon taktis operasional. Basis pendidikan tinggi dalam bidang administrasi danpengelolaan pendidikan bagi tenaga kependidikan ini, dalamperananannya sebagai orang profesional sangat diperlukan untukdapat mengembangkan management of educational services.Penguasaan yang tinggi tentang sistem manajemen seperti ituakan meningkatkan efisiensi dan responsiveness pemerintahBab V : Pendekatan dan Metodologi 145
  36. 36. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahdaerah dalam mengemban tugas dalam bidang pelayananpendidikan. Di samping itu, dalam peranannya sebagai aparaturpemerintah, diharapkan mampu berkerjasama dengan pihakswasta atau organisasi kemasyarakatan lainnya. Karena itu,diperlukan pula basis pendidikan tinggi dalam bidang manajemenpelayanan umum (management of public service delivery). e. Pemetaan Alokasi Anggaran Pembiayaan Pendidikan Ada empat kategori yang dapat dijadikan indikator dalammenentukan tingkat keberhasilan pendidikan yaitu: (1) Dapattidaknya seorang lulusan melanjutkan ke pendidikan yang lebihtinggi. (2) Dapat tidaknya seseorang memperoleh pekerjaan. (3)Besarnya penghasilan/gaji yang diterima. (4) Sikap perilaku dalamkonteks sosial, budaya dan politik. Apabila telah sepakat dengan perlunya otonomi dalambidang manajemen pembiayaan pendidikan, maka setiaplembaga pendidikan perlu diberi peluang dan kemampuan untukmengelola anggaran penerimaan dan pengeluaran biayapendidikan di lingkungan sistemnya masing-masing. Dengan asumsibahwa upaya dan hasil pemerataan pendidikan adalahmerupakan hak dan kewajiban bersama, partisipasi masyarakat,pemerintah, orang tua dan dunia usaha dalam pembiayaanpendidikan harus dipandang sebagai aset yang harus digali,sehingga tidak sepenuhnya menjadi beban pemerintah. Upaya-upaya dalam meningkatkan efisiensi pembiayaanpendidikan perlu diarahkan pada hal-hal pokok berikut ini: (1)Pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of access);(2) Pemerataan untuk bertahan di sekolah (equality of survival); (3)Pemerataan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar(equality of output); (4) Pemerataan kesempatan menikmatimanfaat pendidikan dalam kehidupan masyarakat (equality ofoutcome). Konsep peningkatan efisiensi pembiayaan pendidikanakan mempunyai makna jika dihubungkan dengan konsep efisiensi,baik secara internal maupun secara eksternal. Berkenaan dengan jenis dan tingkatan biaya untukpenyelenggaran pendidikan, pada dasarnya dapat dikatagorikanke dalam enam kategori, yaitu biaya langsung (direct cost), biayatidak langsung (indirect cost), biaya pribadi (private cost), biayasosial (social cost), biaya moneter (monetary cost), dan biayabukan moneter (non monetary cost). Biaya langsung adalah biayayang langsung menyentuh aspek dan proses pendidikan, misalnyagaji guru dan pegawai, pengadaan fasilitas belajar (ruang tingkat,Bab V : Pendekatan dan Metodologi 146
  37. 37. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahkantor, WC, sarana ibadah, gudang, laboratorium), ATK, bukurujukan guru dan buku pegangan siswa. Biaya tidak langsungadalah biaya yang dikeluarkan oleh siswa, orangtua ataumasyarakat untuk menunjang keperluan yang tidak langsung,seperti: biaya hidup, pakaian, kesehatan, gizi, transportasi,pemondokan, dan biaya kesempatan yang hilang selamapendidikan. Biaya tidak langsung ini memiliki sifat kepentingan dantempat pengeluaran yang berbeda serta dikeluarkan dalam waktuyang tidak terbatas dan jenis pengeluaran yang tidak pasti, sepertihilangnya pendapatan peserta didik karena sedang mengikutipendidikan atau forgone earning. Di samping itu, biaya tidaklangsung dapat pula tercermin dari bebasnya pajak bagi sekolahkarena sifat sekolah yang tidak mencari laba. Biaya pribadi adalah biaya yang dikeluarkan oleh keluargauntuk membiayai sekolah anaknya, di dalamnya termasuk biayakesempatan yang hilang (forgone opportunities). Biaya ini meliputi:uang sekolah, ongkos, dan pengeluaran lainnya yang dibayarsecara pribadi. Biaya sosial adalah biaya yang dikeluarkan olehmasyarakat untuk membiayai sekolah, termasuk di dalamnya biayayang dikeluarkan oleh keluarga secara perorangan (biaya pribadi).Namun, tidak semua biaya sosial dapat dimasukkan ke dalambiaya pribadi. Menurut Jones, biaya sosial dapat dikatakan sebagaibiaya publik, yaitu sejumlah biaya sekolah yang ditanggungmasyarakat. f. Standarisasi Kelengkapan Fasilitas Pendidikan Bertaraf Internasional Aspek fasilitas berkenaan dengan sarana dan prasaranapendidikan dan kemudahan-kemudahan dalam pelaksanaanpendidikan yang tersedia. Sarana dan prasarana pendidikan masihsangat tergantung pengadaannya dari pemerintah, sementarapendistribusiannya belum terjamin merata sampai ke tujuannyasehingga kemandirian dan rasa turut bertanggung jawab semuapihak masih dirasakan kurang maksimal. Fasilitas pendidikan ini, erat kaitannya dengan kondisi tanah,bangunan dan perabot yang menjadi penunjang terlaksananyaproses pendidikan. Dalam aspek tanah, berkaitan dengan statushukum kepemilikan tanah yang menjadi tempat pendidikan,letaknya yang kurang memenuhi persyaratan lancarnya prosespendidikan (sempit, ramai, terpencil, kumuh, labil, dan lain-lain).Aspek bangunan berkenaan dengan kondisi gedung sekolah yangkurang memadai untuk lancarnya proses pendidikan (lembab,Bab V : Pendekatan dan Metodologi 147
  38. 38. Badan Perencanaan Master Plan Pendidikan Kabupaten Bandung 2008-2025 Pendidikan 2008- Daerahgelap, sempit, rapuh, bahkan banyak yang sudah ambruk, danlain-lain) sampai membahayakan keselamatan. Aspek perabotberkenaan dengan sarana yang kurang memadai seperti meja-kursi yang reyot, alat peraga yang tidak lengkap, buku paket yangtidak cukup, sarana kesehatan termasuk fasilitas kebutuhanekstrakurikuler. Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut, maka perluditegaskan kembali bahwa Pemerintah Kabupaten Bandung dapatmenentukan perkiraan-perkiraan kebutuhan dalam menopangpengembangan pembangunan pendidikan di wilayahnya.Perkiraan-perkiraan tersebut memerlukan asumsi-asumsi yangdidasarkan pada akurasi data mengenai:(1) Kecenderungan tingkat pertumbuhan penduduk untuk 5-20 tahun ke depan;(2) Kecenderungan jumlah enrollment atau anak usia masuk lembaga pendidikan, untuk 5-20 tahun ke depan;(3) Kecenderungan tingkat penghasilan perkapita masyarakat, PDRB berdasarkan harga konstan, dan laju inflasi untuk 5-20 tahun ke depan;(4) Kecenderungan penyusutan kondisi existing kelembagaan pendidikan, baik dari aspek sarana dan prasarana, ketenagaan dan proporsi kemampuan masyarakat dalam membiayai pendidikan;(5) Kecenderungan kemampuan anggaran pemerintah daerah dalam mengalokasikan biaya pendidikan melalui APBD di luar gaji pegawai dan pendidikan kedinasan pegawai untuk 5-20 tahun ke depan;(6) Kecenderungan tuntutan perubahan masyarakat yang dituangkan dalam pembaharuan kurikulum yang relevan untuk 5-20 tahun ke depan;(7) Komitmen politik dan keberanian politik dan perhatian pemerintah, masyarakat dan dunia swasta terhadap pendidikan untuk membantu biaya dan prasarana pendidikan. Ke-7 kecenderungan tersebut merupakan pekerjaan besaryang harus dilakukan oleh Badan Perencana PembangunanDaerah yang menangani bidang pendidikan dan sosial budaya.Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan pasalahpemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatanmutu dan relevansi, efisiensi manajemen dan akuntabilitasmanajemen, sudah cukup dijadikan dasar untuk menghitungproyeksi kebutuhan pembangunan pendidikan untuk 5-20 tahun kedepan.Bab V : Pendekatan dan Metodologi 148

×