Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
Jtptiain gdl-mohamadsho-5520-1-m.shokh-1
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Jtptiain gdl-mohamadsho-5520-1-m.shokh-1

  • 1,678 views
Published

 

Published in Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
1,678
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
25
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUANPENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam Oleh MOHAMAD SHOKEH NIM 093111371 FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011 i
  • 2. PERNYATAAN KEASLIANYang bertanda tangan di bawah ini:Nama : Mohamad ShokehNIM : 093111371Jurusan/Progam Studi : Pendidikan Agama Islammenyatakan bahwa skripsi ini keseluruhan adalah hasil penelitian/karya sayasendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya. Semarang, 01 Juni 2011 Saya yang menyatakan Mohamad Shokeh NIM: 093111371 ii
  • 3. KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH Jl. Pro f.Dr. Hamka ( Kampus II) Ngaliyan Semarang Telp. 024-7601295 Fax 7615387 PENGESAHANNaskah skripsi dengan:Judul : IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL- QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011Nama : Mohamad ShokehNIM : 093111371Jurusan : Pendidikan Agama IslamProgam Studi : Pendidikan Agama Islamtelah diujuikan dalam sidang munaqasyah oleh Dewan Penguji Fakultas TarbiyahIAIN Walisingo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelarsarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Semarang, 11 Juni 2011 DEWAN PENGUJI Ketua, Sekretaris, Ismail, M.Ag. Dra. Siti Mariam, M.Pd. NIP : 197110211997031002 NIP :196507271992030002 Penguji I, Penguji II, Drs. Karnadi, M.Pd. Dr. H. Saefuddin Zuhri, M.Ag. NIP :196803171994031003 NIP :1958080519870301002 Pembimbing Tuti Qurrotul Aini, M.SI NIP : 197210161997032001 iii
  • 4. NOTA PEMBIMBING Semarang 01 Juni 2011KepadaYth. Dekan Fakultas TarbiyahIAIN Walisongodi SemarangAssalamu’alaikum Wr. Wb.Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan, dankoreksi naskah skripsi dengan:Judul : IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL- QUR’AN - HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011Nama : Mohamad ShokehNIM : 093111371Jurusan : Pendidikan Agama IslamProgam Studi : Pendidikan Agama IslamSaya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepdaFakultas Tarbiyah IAIN Walisingo untuk dijadikan dalam sid ang Munaqasyah.Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Pembimbing I, Tuti Qurrotul Aini, M.SI NIP : 197210161997032001 iv
  • 5. ABSTRAK Judul : Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al- Qur’an - Hadits di MA Ma’ahid Kudus Tahun Ajaran 2010/2011 Penulis : Mohamad Shokeh NIM : 093111371 Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimanaimplementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahidKudus? (2) Apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalamimplementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahidKudus? Permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan atau penelitiankualitatif lapangan yang dilaksanakan di MA Ma’ahid Krapyak Kudus. Datanyadiperoleh dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Semua datadianalisis dengan menggunakan metode analisis diskriptif kualitatif denganlangkah-langkah pengumpulan data (data collection), reduksi data (datareduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atauverification. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Implementasi KTSP PadaMata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus tahun ajaran 2010/2011sudah menerapkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditekankan dalam KTSP.(2) Faktor Pendukung Implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Haditsadalah Sarana prasarana sudah cukup memadai, adanya sosialisasi mengenaikonsep-konsep dasar KTSP, Pembentukan kepanitiaan KTSP, Adanya timpengembang dan penyusun KTSP, Adanya pelajaran lain yang berhubungandengan pelajaran Al-Qur’an Hadits, serta dukungan yang kuat dari para alumniMA Ma’ahid Kudus. Sedangkan faktor penghamabat Implementasi KTSP padamata pelajaran Al-Qur’an Hadits adalah kemampuan guru dalam melakukanpenilaian secara mandiri atau berkelanjutan yang masih kurang, terbatasnya (dana,waktu, serta tenaga) dalam penggunaan metode pembelajaran, kurangnyakesiapan siswa untuk belajar mandiri. v
  • 6. TRANSLITERASI ARAB-LATINPenulisan transliterasi huruf- huruf Arab Latin dalam skripsi ini berpedoman padaSKB Menteri dan Menteri Pendidikan Kebudayaan R.I. Nomor: 158/1987 danNomor 0543b/U/1987. Penyimpangan penulisan kata sandang [al-] disengajasecara konsisten supaya sesuai tek Arabnya. a ţ b z· t ٬ ś g j f ĥ q kh k D l ż m r n z w S h sy ٫ ş y ďBacaan Madd Bacaan Diftongā = a panjang = auĩ = i panjang =aū = u panjang vi
  • 7. KATA PENGANTAR ‫بسم اهلل الرحمن الرحيم‬ Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq danhidayah-Nya, sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan skripsiini. Skripsi yang berjudul “ IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKATSATUAN PENDIDIKAN PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITSDI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011 ”, ini disusun gunamemenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (satu) dalam IlmuPendidikan Islam pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dansaran-saran dari berbagai pihak, sehingga penyusunan skripsi ini dapatterealisasikan. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :1. Dr. Suja’i, M.Ag., selaku Dekan fakultas tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang telah memberikan arahan tentang penyusunan skripsi ini.2. Hj.Tuti Qurrotul Aini, M.SI selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, pengarahan dalam penyusunan skripsi ini..3. Zumam Efendi, selaku kepala Madrasah Aliyah Maahid Kudus beserta dewan guru dan karyawan, yang telah memberikan izin, bantuan dan dukungan kepada penulis untuk melakukan penelitian di MA Maahid Kudus.4. Ali Mahmudi,Lc dan Ahmad Ahid, Lc selaku guru Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus yang bersedia membantu dan mendukung penulis untuk melakukan penelitian di MA Ma’ahid Kudus.5. Para dosen dan staf pengajar di lingkungan IAIN Walisongo Semarang yang membekali berbagai pengetahuan, sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini.6. Seluruh keluarga yang senantiasa memotivasi baik materiil maupun spirituil dengan tanpa lelah dan bosan untuk membantu proses diri menjadi sosok vii
  • 8. manusia pembelajar yang selalu didambakan keberhasilannya.7. Semua pihak dan teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu, sedikit maupun banyak telah membantu proses dalam penulisan skripsi ini. Semoga amal baik beliau tersebut di atas dan juga semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. Amien. Akhirnya penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh mencapai kesempurnaan dalam arti sebenarnya, namun penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca pada umumnya. Kudus, 01 Juni 2011 Penulis, Mohamad Shokeh NIM : 093111371 viii
  • 9. DAFTAR ISI HalamanHALAMAN JUDUL…………………………………………… iPERNYATAAN KEASLIAN ….………………………....…... iiPENGESAHAN……………………………………..…………. iiiNOTA PEMBIMBING ………………………………………… ivABSTRAK …………………….………………………………. vTRANSLITERASI ………………....…………………………… viKATA PENGANTAR …………………………………………... viiDAFTAR ISI…………………………………………………….. ixBAB I : PENDAHULUAN………………………………...…… 1 A. Latar Belakang Masalah…………………..…............ 1 B. Rumusan Masalah………………………...…………. 4 C. Manfaat Penelitian ………………….......................... 4BAB II : LANDASAN TEORI ………….……..………………. 6 A. Kajian Pustaka ……………………...……................. 6 B. Kerangka Teoritik ………….…..…………………… 7 1. Implementasi…….………..…….……................. 7 a. Pengertian Implementasi……………………… 7 b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi 8 c. Kekuatan Pokok Implementasi ……..………… 8 2. Pengertian Kurikulum ….………………………… 9 3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 13 a. Pengertian KTSP………………………. ……… 13 b. Komponen-komponen KTSP…………………… 13 4. Landasan Yuridis KTSP ……………….…………. 15 5. Pembelajaran Berdasarkan KTSP ………..……….. 19 6. Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis ix
  • 10. Kelas Dalam KTSP..................................….….. 26 7. Pelaporan KTSP ...………………………..……. 33 8. Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits…….…..….......... 35 a. Pengertian Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits….. 35 b. Karakteristik Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits… 35 c. Standar Kompetensi Kelulusan Al-Qur’an Hadits MA 38BAB III : METODE PENELITIAN …………….……………….. 39 A. Jenis Penelitian ……………………………………. 39 B. Tempat dan Waktu Penelitian ……………….……... 40 C. Sumber Penelitian …………………..…………….. 40 D. Fokus Penelitan ……………….………………….. 41 E. Teknik Pengumpulan Data ………………………… 41 F. Teknik Analisis Data ……..……………………….. 43BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS ………………………….…… 46 A. Deskripsi Data Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di MA Ma’ahid Kudus…………………………. 46 1. Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus…………… 46 2. Faktor Pendukung dan faktor Penghambat Dalam Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits …..……………………............ 56 B. Analisis Pelaksanaan KTSP di MA Ma’ahid Kudus….… 60 1. Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus…………… 60 2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Dalam Implementasi KTSP Pada Mata Pelajaran x
  • 11. Al-Qur’an Hadits …..……………………............ 73BAB V :PENUTUP……………………………………………… 76 A. Simpulan…………………………………………… 76 B. Saran….…………………………………………… 77DAFTAR PUSTAKADAFTAR TABELDAFTAR GAMBARDAFTAR SINGKATANDAFTAR LAMPIRANRIWAYAT HIDUP xi
  • 12. DAFTAR GAMBARGambar 1 Tiga kemungkinan hasil penelitian, 24Gamabr 2 Menejemen kegiatan pembelajaran tuntas, 25Gambar 3 Peta Laporan guru, 33Gambar 4 Laporan Wali Kelas, 34Gamabr 5 Laporan Kepala Sekolah, 35 DAFTAR SINGKATANKTSP : Kurikulum Tingkat Satuan PendidkanRPP : Rencana PelaksanaanKBM : Kegiatan Belajar MengajarKKM : Kriteria Ketuntasan Minimal DAFTAR LAMPIRANLampiran 1 : Pedoman wawancara, observasi dan dokumentasiLampiran 2 : Penunjukan pembimbing skripsiLampiran 3 : Nilai ujian komprehensifLampiran 4 : Piagam Kuliah Kerja NyataLampiran 4 : Surat izin rizet kepada MA Ma’ahid KudusLampiran 5 : Surat keterangan sudah melakukan izin rizet di MA Ma’ahid KudusLampiran 6 : Foto copy contoh Silabus RPP MA Ma’ahid Tahun Pelajaran 2010/2011 dan sistem penilaian/evaluasinya xii
  • 13. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika (KTSP) adalah kurikulum yang disusun dan dilaksanakan dimasing- masing satuan pendidikan. 1 KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip – prinsip sebagai berikut: a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan potensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap serta tanggung jawab. b. Beragam dan terpadu.Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. e. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran direncanakan dan disajikan secara berksinambungan antar semua jenjang pendidikan. 1 Khaeruddin dan Mahfud Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan (Konsep danImplementsainya di Madrasah), (Jogjakarta: Pilar Media, 2007), hlm. 79. 1
  • 14. f. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 2 Prinsip-prinsip tersebut perlu diterapkan oleh sekolah atau madrasahyang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tanpaterkecuali, dengan harapan sekolah akan lebih baik dalam standarkelulusannya,Madrasah Aliyah Maahid, adalah sebuah pendidikan Islamyang berlandaskan Al-Qur’an Hadits, yang berdiri sejak tahun 1937 , telahmengalami pula beberapa pergantian kurikulum, mulai dari kurikulum tahun1950, kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984,kurikulum 1994 dan kurikulum 2004 atau yang lebih kita kenal sebagaikurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi ). Sedangkan modelkurikulum terakhir adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)sebagai respon terhadap kondisi yang senantiasa berkembang setiap saat. Sejak pemerintah meresmikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) pada tanggal 7 Juli 2006 Madrash Aliyah Ma’ahid juga meresponKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk diterapkan. Namun,dalam pelaksanaann dan penerapannya apakah ada hambatan? MengingatMA Ma’ahid Kudus adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah tua, hal iniyang menarik untuk diadakan penelitian. Sarana prasarana pendukung yangkurang maksimal, kesiapan siswa yang kurang dan minimnya informasi yangdiperoleh oleh guru mengenai KTSP, akan menghambat dalam implementasiKurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP), hal ini pulalah yang membuatpeniliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits adalah salah satu mata pelajaran yangada dalam kurikulum Madrasah baik itu Madrasah Aliyah (MA), Madrasah 2 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 80 – 81. 2
  • 15. Tsanawiyah (MTs), maupun Madrasah Ibtidaiyah (MI). Ini sesuai denganstruktur KTSP dasar dan menengah yang tertuang dalam standar isi (SI).Diantara satu dari kelompok standar isi tersebut adalah mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. Di MA Ma’ahid Kudus mata pelajaran Al-Qur’an Hadits merupakansalah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan dengan harapan lulusan MAMa’ahid Kudus mampu membaca dan memahami Al-Qur’an Hadits denganbaik , dan pelajaran ini tidak berdiri sendiri tetapi didukung oleh beberapamata pelajaran lokal MA Ma’ahid Kudus antara lain adalah Ilmu Nahwu,Shorof, Lhugot Qur’an dan Al-Qur’an Hadits (Ilmu Mushtolah Hadits), yangtentunya medukung sekali dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. Akantetapi dalam penerapan KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MAMa’ahid Kudus, apakah sudah sesuai? Baik masalah kesesuain denganprinsip-prinsip KTSP, maupun delapan standar pendidikan yang harusdipenuhi. Kedelapan standar pendidikan meliputi standar isi (SI), standarproses, standar kompetensi kelulusan (SKL), standar tenega kependidikan,standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan danstandar penilaian pendidikan. Kesesuaian dengan prinsip-prinsip KTSP maupun delapan standarpendidikan yang harus dipenuhi oleh sekolah/madrasah, sangat menentukanberhasil tidaknya sebuah lembaga pendidikan di mata pemerintah saat ini, halinilah yang membuat penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang“IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN(KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MAMA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011“. 3
  • 16. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut : 1. Bagaimana implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus ? 2. Apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus?C. Manfaat Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) serta dapat menambah pemahaman dan wawasan mengenai kurikulum baru yang menyempurnakan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di sekolah menengah atas. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru : Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi untuk dapat : 1. Meningkatkan kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. 2. Membantu dalam pencapaian tujuan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). 3. Mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat di dalam pelaksanaan KTSP. 4
  • 17. 4. Menganalisis sejauh mana optimalisasi KTSP pada mata pelajaran Al- Qur’an Hadits. 5. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman dalam ruang lingkup yang lebih luas guna menunjang profesinya sebagai guru.b. Bagi Siswa 1. Menambah wawasan dan pemahaman mengenai KTSP. 2. Meningkatkan minat belajar Al-Qur’an Hadits. 3. Meningkatkan kepekaan siswa terhadap perkembangan IPTEK dan kaitannya dengan pelajaran Al-Qur’an Haditsc. Bagi MA Ma’ahid Kudus 1. Sebagai studi banding pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran Al- Qur’an Hadits. 2. Pengembangan jaringan dan kerjasama strategis antara sekolah dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan sekolah.d. Bagi Peneliti Memperoleh wawasan dan pemahaman baru mengenai salah satu aspek yang penting dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan demikian, diharapkan peneliti sebagai calon guru agama Islam siap melaksanakan tugas sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. 5
  • 18. BAB II LANDASAN TEORIA. Kajian Pustaka 1. Penelitian Muhammad Sakdullah (NIM 3104128) yang berjudul : Konsepsi Ibnu Khaldun Tentang Belajar dan Relevansinya terhdap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) : dalam penelitian ini dijelaskan konsep belajar Ibnu Khaldun dan Relevansinya terhadap KTSP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belajar menurut Ibnu Khaldun harus diarahkan pada pencapaian malakah semaksimal mungkin. Malakah tidak hanya intelektualitas tetapi juga skill dan sikap. Jadi wawasan malakah memberi kemungkinan pembentuan pribadi yang utuh. Menurut Ibnu Khaldun, pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas belajarnya. Murid sendiri yang membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkan dengan apa yang telah ia ketahui, serta menyelesaikan ketegangan antara apa yang telah ia ketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman yang baru. Pelajar harus membentuk pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu seba gai mediator dan fasilitator dalam proses pembentukan itu. Hal ini serupa dengan apa yang telah dicanangkan oleh pemerintah melalui kuriulum terbaru yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP lebih sederhana dari kurikulum sebelumnya dan memberikan keluasaan guru untuk berimprovisasi dalam praktik kegiatan belajar mengajar. Visi KTSP masih mengedepankan kompetensi siswa yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah atau sekolah. Jadi antara pemikiran Ibnu Khaldun dengan visi kurikulum KTSP berjalan searah yakni mengedepankan kompetensi peserta didik, namun komptensi dalam istilah Ibnu Khaldun sendiri disebut malakah.1 2. Penelitian Noor Rohman (NIM 3102328) yang berujudul : Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada mata pelajaran Pendidikan 1 Muhammd Sakdullah, “Konsepsi Ibnu Khaldun Tentang Belajar dan Relevansinyaterhdap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan )”, skripsi (Semarang: Fakultas TarbiyahIAIN Walisongo, 2009), hlm. 60. 6
  • 19. Agama Islam di SMP N 18 Semarang: Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa, kurikulum yang diterapkan sudah sesuai. Indikasi kesesuai dapat dilihat dari beberapa hal, diantaranya: 1. Standar isi/kurikulum 2. Kegiatan Belajar Mengajar 3. Kompetensi kelulusan 4. Tenaga kependidikan 5. Sarana prasarana 6. Evaluasi hasil belajar. 2 Dari beberapa hasil penelitian yang ada terlihat bahwa ada kemiripan judul penelitian yang akan peneliti lakukan. Letak perbedaan terletak pada apakah MA Ma’ahid Kudus dalam menerapkan (mengimplementasikan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran Al-Qur’an Hadits suadah sesuai dengan prinsip –prinsip KTSP? Peneliti menitik beratkan pada implementasi KTSP, serta faktor pendukung dan faktor penghambat implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus.B. Kerangka Teoritik 1. Implementasi a. Pengertian Implementasi Implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai, dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something 3 into effect” (penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak). Berdasarkan definisi implementasi tersebut, implementasi kurikulum didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas mata pelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. 2 Noor Roh man, “Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada matapelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP N 18 Semarang”, skripsi (Semarang: Faku ltasTarbiyah IAIN Walisongo, 2009), h lm. 61-65. 3 Muhamad Joko Susilo , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Menjemen Pelaksanaandan Kesiapan sekoLah Menyongsongnya), ) Yogyakarta: Pustaka Pelajar , 2006), hlm. 174. 7
  • 20. b. Fakto-faktor yang me mpengaruhi Implementasi Dalam hal ini Hasan yang dikutip Mulyasa (2002) mengungkapkan bahwa implementasi kurikulum adalah hasil terjemahan guru terhadap kurikulum sebagai rencana tertulis yang sedikitnya dipengaruhi oleh tiga foktor berikut: 1) Karakteristik kurikulum; yang mencakup ruang lingkup ide baru sauatu kurikulum dan kejelasan bagi pengguna dilapangan. 2) Strategi implementasi yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penataran, lokakarya, penyediaan buku kurikulum, dan kegaiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan. 3) Karakteristik penggunaan kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap guru terhadap kurikulum, serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum (curriculum planning) dalam pembelajaran. 4 c. Kekuatan pokok Imple mentasi Secara garis besarnya implementasi kurikulum mencakup tiga kekuatan pokok, yaitu pengembangan program, pelaksanaaan pembelajaran, dan evaluasi. a. Pengembangan program. Pengembangan kurikulum mencakup pengembangan progam tahunan, progam semester, progam modul (pokok bahasan) program mingguan dan harian, progam pengayaan dan remedial, serta progam bimbingan dan konseling. b. Pelaksnaan pembelajaran. Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang 4 E Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kemandirian Guru dan KepalaSekolah) , ) Jakarta: Bu mi A kasara , 2008), hlm. 180. 8
  • 21. dari lingkungan. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. c. Evaluasi Hasil Belajar. Evaluasi hasil belajar dam implementasi kurikulum dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi , bench marking dan penilaian program. 5 Berdasarkan uraian tersebut, implementasi mata pelajaran berbasis KTSP dapat didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan KTSP dalam suatu aktivitas mata pelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Implementasi KTSP juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum operasional dalam bentuk mata pelajaran. 2. Pengertian Kurikulum Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curricule”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan memperoleh ijazah. 6 Menurut Harold Alberty curriculum is is all activities that are provided for students.7 (semua aktifitas yang disediakan untuk siswa)Menurut susan Feez dan Helen Joyce curriculum is a general statement of goals and outcomes , learning arrangements, evalution, and documentions relating to the management of programs with in educational institution.8 5 Joko Susilo , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 177. 6 Joko susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 77. 7 Harsono Tjokrosujoso”Curricu lu m and Material Develop men”, (Jakarta: DepartemenPendidikan Nasional,2003), hlm. 13 8 Susan Feez dan Helen Joyce, “Text -Based Syllabus Design”. (Sydney:MacquireUniversity, 1998), hlm. 9. 9
  • 22. Pengertian kurikulum berdasarkan pemahamannya dapat dipandang sebagai kurikulum tradisional dan kurikulum secara modern. a. Pengertian kurikulum menurut pandangan tradisional Dalam kamus Webster’s New international Dictionary (1953) kurikulum diartikan sebagai : “ 1. A course of study, 2. All the courses of study given in an educationl institution” ( Lewis M. Adam, 1965 :247). Menurut Oemar Hamalik kurikulum menurut pandangan lama adalah: Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Pengertian ini mempunyai implikasi bahwa mata pelajaran pada hakekatnya pengalaman masa lampau, tujuannya untuk memperoleh ijazah (Hamalik,1993:8). Menurut S. Nasution kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarakan disekolah. Pengertian kurikulum yang dianggap tradisonal ini masih banyak dianut sampai sekarang termasuk juga di Indonesia. Pada pertengahan abad ke XX kurikulum diartikan sebagai “ sejumlah pelajaran yang harus ditempuholeh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah” (Hendayat, 1993:12). Dari definisi kurikulum secara tradisional masih tampak adanya kecendrungan penekanan pada rencana pelajaran untuk menyampaikan mata pelajaran yang masih banyak mengandung kebudayaan nenek moyang dan pengertian tersebut masih mengacu pada masa lampau. Kurikulum juga diartikan secara sempit hanya pada penyampaian mata pelajaran kepada anak didik. 9 b. Pengertian kurikulum menurut pandangan modern Dewasa ini kurikulum tidak hanya sebatas sebagai hal yang berhubungan dengan pendidikan, tetapi hendaknya kurikulum bisa lebih mengacu pada kemajuan teknologi dan pengetahuan. Jelaslah bahwa kurikulum bukan sekedar seperangakat mata pelajaran atau bidang9 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 25. 10
  • 23. studi, tetapi sudah menjadi ajang politik, dan sudah menjadi bekal paralulusan untuk menjawab tuntutan masyarakat. Menurut Hilda Taba dalam bukunya Curriculum Development,menuliskan menuliskan “ Curriculum is, after all, a way of preparingyoung people to participate as productive members of ourculture”(Taba,1962:10). Tampaknya Hilda Taba mendefinisikankurikulum dengan lebih cenderung pada metodologi, yaitu caramempersiapkan manusia untuk berpartisipasi sebagai anggota yangproduktif dari suatu budaya. Sesuai dengan perkembangan,David Pratt dalam Curriculum,Design and Development menyatakan bahwa : A curriculum is anorganized set of formal educational and or training intentions(Pratt,1980: 4). Maksudnya kurikulum yaitu seperangakat organisasipendidikan formal atau pusat-pusat latihan. Selanjutnya ia membuatimplikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang dikemukakannyatersebut menjadi enam hal yaitu:1. Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa perencanaan (mental) saja, tetapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan;2. Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;3. Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus dkembangkan pada diri siswa,evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan peralatan yang dipergunakan, kua litas guru yang dituntut, dan sebagainya;4. Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal maka ia sengaja mempromosikan belajar dan menolak sifat rambang, tanpa rencana, atau kegiatan tanpa belajar;5. Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai komponen seperti tujuan, isi, sistem penilaian dalam satu 11
  • 24. kesatuan yang tak terpisahkan atau dengan kata lain kurikulum adalah suatu sistem; 6. Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalah pahaman yang terjadi jika suatu hal dilalaikan. 10 Menurut Winarno, sebagaimana dikutip oleh Burhan Nurgiyantoro, mendifinisikan kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu (Burhan,tt: 6) Abdul Qadir yusuf dalam kitabnya At –tarbiyah wal mujtami’ mendefinisikan kurikulum sebagai berikut: “ Kurikulum adalah sejumlah pengalaman dan uji coba dalam proses belajar mengajar siswa di bawah bimbingan lembaga (sekolah)”. Berbagai pengertian atau definisi yang telah disebutkan diatas, menurut s. Nasution dapat diperoleh penggolangan sebagi berikut: a. Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangkan dalam bentuk buku atau pedoman kurikulum, misalnya berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarakan. b. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh sekolah untuk mencapai tujuaannya. Ini dapat berupa mengajarkan berbagai mata pelajaran tetapi dapat juaga meliputi segala kegiatan yang dianggap dapat mempengaruhi perkembangan siswa misalnya perkumpulan sekolah, pertandingan, pramuka, warung sekolah, dan lain- lain. c. Kurikulum dapat pula dipandang seabagai hal- hal yang diharapkan akan dipelajari siswa, yakni pengetahuan, sikap, ketrampilan tertentu. Apa yang diharapakan akan dipelajarai tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar dipelajari.10 Junaidi, Kurikulum Tingk at Satuan Penddikan, hlm. 26. 12
  • 25. d. Kurikulum sebagai pengalaman siswa. Ketiga pandangan di atas berkenaan dengan perencanaan kurikulum sedangakan pandangan ini mengenai apa yang secara aktual menjadi kenyataan pada tiap siswa. Pada hakikatnya kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang berproduktif dalam masyarakatnya. Dalam kurikulum terdapat komponen-komponen tertentu yaitu pernyataan tentang tujuan dan sasaran, seleksi dan organisasi bahan dan isi pelajaran, bentuk dan kegiatan belajar mengajar dan evaluasi hasil belajar. 113. Kurikulum Tingkat Satuan Pe ndidikan (KTSP) a. Pengertian KTSP Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang disusun dan dilaksanakan di masing –masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus . 12 b. Komponen-komponen KTSP Komponen –Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) komponen-komponen KTSP terdiri dari sebagai berikut : 1. Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. 11 S Nasution. Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bu mi Aksara, 2003), hlm. 7. 12 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan, hlm. 79. 13
  • 26. a) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. b) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. c) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.2. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan mata pelajaran. Kedalaman muatan kurikulum setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut : 1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. 2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. 3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknlogi. 4) Kelompok mata pelajaran estetika. 5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan mata pelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 pasal 7. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi 14
  • 27. muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk kedalam isi kurikulum. 3. Kalender Pendidikan Kurikulum tingkat satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kelender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan mata pelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu mata pelajaran efektif dan hari libur. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing- masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu pada dokumen standar isi dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah 13 4. Landasan Yuridis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh Undang- Undang dan Peraturan Pemerintah sebagai berikut : a. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Dalam Undang-Undang tentang Sisdiknas dikemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP) terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Selain itu juga dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat : pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, IPA, IPS, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan 13 E Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya , 2006), h lm. 86. 15
  • 28. supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP)14 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 adalah peraturan tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terdapat 8 standar nasional pendidikan yang harus diacu oleh sekolah dalam penyelenggaraan kegiatannya. Ke 8 standar tersebut yaitu : 1) Standar isi 2) Standar proses 3) Standar kompetensi lulusan 4) Standar tenaga kependidikan 5) Standar sarana dan prasarana 6) Standar pengelolaan 7) Standar pembiayaan 8) Standar penilaian pendidikan Dalam peraturan tersebut dikemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan mata pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Selain itu, dalam peraturan tersebut juga dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan (SKL), dan standar isi (SI). SKL adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sedangkan standar isi adalah ruang lingkup materi dan14 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 271. 16
  • 29. tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah diorganisasikan ke dalam lima kelompok, yaitu : 1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; 2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; 3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; 4) Kelompok mata pelajaran estetika; 5) Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan. 15 c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 mengatur tentang standar isi yang mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Secara keseluruhan standar isi mencakup: 1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan KTSP; 2) Beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah; 3) KTSP yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi; 4) Kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendid ikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 1615 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 329.16 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 365. 17
  • 30. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan meliputi : 1) Standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah; 2) Standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajarn; dan 3) Standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 17 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 24 tahun 2006 mengatur tentang pelaksanaan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah serta peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, dalam Permendiknas tersebut dikemukakan pula bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan panduan penyusunan KTSP pada satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sementara bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum atau tidak mampu mengembangkan kurikulum sendiri dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP, ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah / madrasah.17 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 375 18
  • 31. 5. Pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Implementasi KTSP akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran, yakni bagaimana agar isi atau pesan-pesan kurikulum (SK- KD) dapat dicerna oleh peserta didik secara tepat dan optimal. Guru harus berupaya agar peserta didik dapat membentuk kompetensi dirinya sesuai dengan apa yang digariskan dalam kurikulum (SK-KD), sebagaimana dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam hal ini akan terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam hal ini tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku tersebut. Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yakni pembukaan, pembentukan kompetensi dan penutup. a. Pembukaan Pembukaan adalah kegiatan awal yang harus dilakukan guru untuk memulai atau membuka pembelajaran. Membuka pembelajaran merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya untuk belajar. Untuk kepentingan tersebut, guru dapat melakukan upaya-upaya sebagai berikut: 1. Menghubungkan kompetensi yang telah dimiliki peserta didik dengan materi yang akan disajikan. 2. Menyampaikan tujuan yang akan dicapai dan garis besar materi yang akan dipelajari (dalam hal tertentu,tujuan bisa dirumuskan bersama peserta didik). 3. Menyampaikan langkah – langkah kegiatan pembelajaran dan tugas- tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. 4. Mendayagunakan media dan sumber belajar yang bervariasi sesuai dengan materi yang disajikan. 19
  • 32. 5. Mengajukan pertanyaan, baik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran yang telah lalu maupun untuk menjajagi kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari. Disamping upaya – upaya di atas, dalam implementasi KTSP banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk memulai atau membuka pembelajaran, antara lain melalui pembinaan keakraban dan pretes. 1. Pembinaan keakraban Pembinaan keakraban merupakan upaya yang harus dilakukan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mempersiapkan peserta didik memasuki proses pembelajaran. Suasana yang akrab akan menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik. Pembinaan kekraban ini dapat dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut : a) Pada awal pertemuan pertama, guru memperkenalkan diri kepada peserta didik dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, pendidikan terakhir, dan tugas pokoknya di sekolah. b) Guru melakukan pengecekan kehadiran peserta didik dengan cara memanggil nama-nama mereka berdasarkan buku daftar hadir. c) Berdasrkan urutan dalam daftar hadir, seluruh peserta didik diminta memperkenalkan diri dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, pengalaman dalam kehidupan sehari- hari, alasan memilih belajar disekolah ini, dan harapan-harapan mereka terhadap sekolah. 18 2. Pretes (tes awal) Setelah pembinaan keakraban, kegiatan dilanjutkan dengan pretes. Pretes adalah tes yang dilaksanakan sebelum sebelum kegiatan inti pembelajaran dan pembentukan kompetensi dimualai, sebagai 18 E Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kemandirian Guru dan KepalaSekolah), hlm. 183 20
  • 33. penjajagan terhadap kemampuan peserta didik terhadap pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu pretes memegang peranan yang cukup penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Fungsi pretes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut : 1) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses be lajar, karena dengan pretes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka kerjakan. 2) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pretes dengan post tes. 3) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran. 4) Untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dikuasai peserta didik, serta kompetensi dasar mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus. b. Pembentukan Kompetensi19 Pembentukan kompetensi peserta didik merupakan kegiatan inti pembelajaran, antara lain mencakup penyampaian informasi tentang materi pokok atau materi standar, membahas materi standar untuk membentuk kompetensi peserta didik, serta melakukan tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi standar atau memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Dalam pembelajaran, peserta didik dibantu oleh guru untuk membentuk kompetensi serta mengembangkan dan memodifikasi kegiatan pembelajaran, apabila19 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 183 21
  • 34. kegiatan itu menuntut adanya pengembangan atau modifikasi. Pembentukan kompetensi peserta didik perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya. Pembentukan kompentsi ini ditandai dengan keikutsertaa peserta didik dalam pengelolaan pembelajaran (participative instruction) berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab mereka dalam menyelanggarakan progam pembelajaran. Tugas peserta didik adalah belajar, sedangkan tanggung jawabnya mencakup keterlibatan mereka dalam membina dan mengembangkan kegiatan belajar yang telah disepakati dan ditetapkan bersama pada saat penyusunan program. Pembentukan kompetensi mencakup berbagai langkah yang perlu ditempuh oleh peserta didik dan guru sebagai fasilitator untuk mewujudkan standar kompetensi dan komptensi dasar. Hal ini ditempuh melalui berbagai cara, bergantung pada situasi, kondisi, kebutuhan, sertakemampuan peseta didik. Prosedur yang ditempuh dalam pembentukan kompetensi adalah sebagai berikut : 20 1) Berdasarkan kompetensi dasar dan materi standar yang telah dituangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), guru menjelaskan stnadar kompetensi minimal (SKM) yang harus dicapai peserta didik dan cara belajar untuk mencapai kompetensi tersebut. 2) Guru menjelaskan materi standar secara logis dan sistematis, materi pokok dikemukakan dengan jelas atau ditulis dipapan tulis. Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya sampai materi standar tersebut benar-benar dapat dikuasai.20 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 184 22
  • 35. 3) Membagikan materi standar atau sumber belajar berupa hand out dan fotokopi beberapa bahan yang akan dipelajari. Materi standar tersebut sebagian terdapat diperpustakaan. Jika materi standar yang diperlukan tidak tersedia diperpustkaan maka guru memfotokopi dari sumber lain seperti majalah, surat kabar, atau men-down load dari internet. 4) Membagikan lembaran kegiatan untuk setiap peserta didik. Lembaran kegiatan berisi tugas tentang materi standar yang telah dijelaskan oleh guru dan dipelajari oleh pesrta didik. 5) Guru memantau dan memeriksa kegiatan peserta didik dalam mengerjakan lembaran kegiatan, sekaligus memberikan bantuan dan arahan bagi mereka yang menghadapi kesulitan belajar. 6) Setelah selesai diperiksa bersama-sama dengan cara menukar pekerjaan dengan teman lain, lalu guru menjelaskan setiap jawabannya. 7) Kekeliruan dn kesalahan jawaban diperbiki oleh peserta didik. Jika ada yang kurang jelas, guru memberikan kesempatan bertanya, tugas, atau kegiatan mana yang perlu penjelasan lebih lanjut. Dalam pembentukan kompetensi perlu diusahakan untuk melibatkan peserta didik seoptimal mungkin, dengan memberikan kesempatan dan mengikutsertakan mereka turut ambil bagian dalam proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk saling bertukar informasi antara peserta didik dengan guru mengenai materi yang dibahas, untuk mencapai kesepakatan, kesamaan, kecocokan dan keselarasan pikiran. Hal ini penting untuk menentukan persetujuan atau kesimpulan tentang gagasan yang bisa diambil atau tindakan yang akan dilakukan 21 berkenaan dengan topik yang dibicarakan. Pada pembelajaran tuntas, kriteria pencapaian kompetensi yang ditetapkan adalah minimal 75 % oleh karena itu setiap kegiatan21 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 185 23
  • 36. belajar mengajar diakhiri dengan penilaian pencapaian kompetensi siswa dan diikuti rencana tindak lanjutnya. Hasil penilaian ada tiga kemungkinan, yaitu kompetensi 75-85% dalam waktu terjadwal, kompetensi lebih dari 85 % dalam waktu kurang dari alokasi atau kompetensi dalam waktu terjadwal, sebagaimana yang tergambar berikut : Gambar 1 : Tiga Kemungkinan Hasil Penelitian 22 Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka tindak lanjutnya ada tiga kemungkinan, yaitu pemberian remedi, pemberian pengayaan, dan atau akselerasi. Perbedaan tindak lanjut tersebut berdasarkan variasi pencapaian kompetensi siswa sebagai berikut : 1) Melanjutkan ke KBM berikutnya secara klasikal bila dalam waktu terjadwal sebagian besar siswa mencapai kompetensi minimal 85 %. 2) Pemberian remedi secara individual / kelompok kepada siswa yang dalam waktu terjadwal belum mencapai kompetensi minimal 75 %, sehingga siswa tersebut belum diizinkan melanjutkan ke KBM berikutnya.22 Susilo , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 160 24
  • 37. 3) Pemberian pengayaan kepada siswa yang sudah mencapai kompetensi antara 75-85 % sedangkan waktu terjadwal masih tersisa. 4) Pemberian izin akselerasi (percepatan) ke pembelajaran Kompetensi Dasar (KD) berikutnya secara individual kepada siswa yang sudah kompeten lebih dari 85 % sedangkan waktu terjadwal belum habis. Ilustrasi kegiatan tersebut di atas dapat diperjelas dengan gambar berikut: Gambar 2 : Manajemen kegiatan pembelajaran tuntas. 23 c. Pentup Penutup merupakan kegiatan akhir yang dilakukan guru untuk mengakhiri pembelajaran. Dalam kegiaatan penutup ini guru harus berupaya untuk mengetahui pembentukan kompetensi dan pencapaian tujuan pembelajaran, serta pemahaman peseta didik terhadap materi yang telah dipelajari, sekaligus mengakhiri kegaiatan pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut guru dapat melak ukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :23 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 161 25
  • 38. 1) Menarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari (kesimpulan bisa dilakukan oleh guru, oleh peserta didik atas permintaan guru, atau oleh peserta didik bersama guru) 2) Mengjaukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat tingkat pencapaian tujuan dan keefektifan pembelajaran yang telah dilaksanakan 3) Menyampaikan bahan-bahan pendalaman yang harus dipelajari dan tugas-tugas yang harus dikerjakan (baik tugas individual maupun tugas kelompok) sesuai dengan pokok bahasan yang telah dipelajari. 4) Memberikan protes baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan. 246. Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kelas Dalam KTSP a. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan oleh guru secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar. Ada pula yang menyebut dengan Penilaian Berbasis Kemampuan Dasar (PBKD) karena penilaian yang dilakukan oleh guru dikembangkan berdasarkan kemampuan dasar yang harus dikuasai peserta didik. PBK/PBKD dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain pengumpulan hasil kerja peserta didik (portofolio); hasil karya (produk); penugasan (proyek); kinerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Dalam hal ini guru menilai kompetensi dan hasil belajar peserta didik berdasarkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), yang dijabarkan lebih lanjut menjadi indicator- indikator pencapaian (IP). 25 24 Mulyasa , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 186 25 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 223. 26
  • 39. b. Prinsip-prinsip PBK Pada saat guru melaksanakan penilaian berbasis kelas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yiatu : 1) Valid, artinya menilai yang seharusnya dinilai. 2) Mendidik, ada sumbangan positif terhadap pencapaian belajar peserta didik. 3) Berorientasi pada kompetensi, artinya menilai kompetensi yang ada pada kurikulum. 4) Adil, artinya tidak membedakan latar belakang peserta didik. 5) Terbuka, artinya kriteria dan acuannya jelas dan diinformasikan 6) Berkesinambungan, artinya dilakukan terencan, bertahap dan kontinu. 7) Menyeluruh, artinya meliputi teknik, prosedur, materi maupun aspeknya. 26 8) Bermakna, ditindak lanjuti oleh semua fihak. c. Karakteristik Sistem Pengujian 1) Sistem penilaian Berkelanjutan Untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik telah memiliki kompetensi dilakukan ujian. Sistem ujian yang dilakukan harus mencakup semua kompetensi dasar dengan menggunakan indikator yang ditetapkan oleh guru. Sistem ujian berbasis kompetensi yang direncanakan adalah sistem ujian berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua komponen indikator dibuat soalnya, hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi yang telah dimiliki dan yang belum serta kesulitan peserta didik. Untuk itu digunakan berbagai bentuk tes, yaitu pertanyaan lisan dikelas, kuis ulangan harian, tugas rumah, ulangan semester.26 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 375. 27
  • 40. Hasil Ujian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, atau berupa progam remidi. Pendidikan berbasis kompetensi yang menekankan pada pencapaian kemampuan dasar, menggunakan berbagai teknik ujian dalam usaha untuk mengetahui tingkat pencapaian kemampuan dasar dan mentukan progam perbaikan. Oleh karena itu dalam sistem ujian berkelanjutan, guru harus membuat kisi-kisi ujian secara menyeluruh untuk satu semester dengan memilih teknik ujian yang tepat. Pengembangan sistem pengujian berbasis kemampuan dasar mencakup masalah: a) Standar Kompetensi (SK) b) Kemapuan Dasar (KD) c) Rencana Penilaian. Dikembangkan bersamaan dengan pengembangan silabus. d) Proses Pengujian. e) Proses Implementasi f) Pencatatan dan pelaporan 2) Teknik Penilaian Teknik penilaian adalah berbagai bentuk ulangan atau tugas untuk menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan soal ujian harus mencakup mulai yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan. Pada jenjang pendidikan menengah tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya terbanyak pada tingkat pemahaman, aplikasi, dan aanalisis. Teknik penilaian yang dapat digunakan adalah : 2727 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 224. 28
  • 41. a) Kuis: Waktu ujian singkat kurang lebih 15 menit dan hanya menanyakan hal-hal yang prinsip saja dan bentuknya berupa isian singkat. b) Pertanyaan lisan dikelas c) Ulangan Harian: Ulangan harian dilakukan secara periodik misalnya empat minggu sekali. d) Tugas individu: Tugas ini dapat diberikan setiap minggu dengan bentuk soal uraian objektif atau non objektif. e) Tugas Kelompok: Tugas ini digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok f) Ulangan Blok: Cakupan materi terdiri dari satu atu lebih kemapuan dasar. 3) Bentuk Tes Ada beberapa bentuk soal pengujian berbasis kemampuan dasar. Bentuk soal yang dapat digunakan adalah: a) Pertanyaan lisan dikelas. b) Pilihan ganda c) Urian objektif d) Jawab singkat atau isian singkat e) Menjodohkan f) Unjuk kerja g) Portofolio d. Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 28 1) Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal adalah tingkat pencapaian kompetensi dasar mata pelajaran oleh peserta didik per mata pelajaran. 2) Rambu-rambu28 Junaidi, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan, hlm. 233. 29
  • 42. a) Nilai KKM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0-100 b) Nilai KKM maksimum adalah 100 c) Madrasah dapat menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal di bawah 100, namun madrasah harus merencanakan target dalam waktu tertentu untuk mencapai nilai maksimum. d) Nilai KKM ditetapkan pada awal tahun pelajaran untuk setiap mata pelajaran dan dievaluasi ketercapaiannya pada setiap semester. e) Penetapan KKM dilakukan oleh forum guru baik yang berada dilingkungan madrasah yang bersangkutan maupun dengan madrasah/sekolah lain yang terdekat (yang telah melaksanakan KTSP) atu forum KKG?MGMP setempat. f) Penetapan nilai KKM dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimum pada setiap Kompetensi Dasar (KD). g) Penetapan nilai KKM setiap KD dimaksud, dilakukan melalui analisis Indikator Pencapaian (IP) pada KD yang terkait. h) Nilai KKM setiap KD merupakan rata-rata nilai setiap indikator3) Kriteria Penetapan KKM a) Esensial  Sangat Esensial, karena berfungsi sebagai indikator kunci.  Cukup Esensial, karena berfunsi sebagai Indikator pendukung yang dapt melengkapi. b) Kompleksitas Indikator c) Daya Pendukung Yaitu tenaga, sarana prasarana pendidikan, biaya, menajemen, komite madrasah dan stakeholders madrsah. d) Intake peserta didik Intake merupakan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik yang meliputi Hasil seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB), 30
  • 43. Rapor kelas terakhir dari tahun sebelumny, tes seleksi masuk atau psikotes dan nilai ujian Nasional bagi jenjang MTs dan MA.4) Menafsirkan KKM a) Dengan memberikan point pada setiap kriteria yang ditetapkan a. Esensial - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 b. Kompleksitas - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 c. Daya Dukung - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 d. Intake - Tinggi :3 - Sedang :2 - Rendah :1 Jika indikator memilki kriteria : Esensial tinggi, kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi dan intake sedang maka KKM menjadi: (3 + 3 + 3 + 2) x 100 = 91, 67 12 b) Dengan menggunakan rentang nilai pada setiap kriteria: a. Esensial - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 31
  • 44. - Rendah : 50-64 e. Kompleksitas - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 - Rendah : 50-64 f. Daya Dukung - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 - Rendah : 50-64 g. Intake - Tinggi : 81-100 - Sedang : 65-80 - Rendah : 50-64 Jika indikator memiliki kriteria Esensial tinggi ((90), kompleksitas sedang (70), daya dukung tinggi (90) dan intake sedang (70) maka KKM adalah rata-rata setiap unsur dari kriteria yang kita tentukan.5) Analisis pencapaian kriteria ketuntasan belajar peserta didik a) Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan analisis rata-rata hasil pencapaian peserta didik terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditetapkan pada setiap mata pelajaran. b) Melalui analisis dimaksud, diharapkan akan diperoleh data antara lain tentang: a. KD, yang dapat dcapai oleh 75% -100% dari jumlah peserta didik. b. KD, yang dapat dcapai oleh 50% -74% dari jumlah peserta didik. c. KD, yang dapat dcapai oleh £ 49% dari jumlah peserta didik. 32
  • 45. c) Mnafaat hasil analisis: sebagai dasar untuk meningkatkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada setia semester atau tahun berikutnya dalam rangka mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. d) Mekanisme Pelaksanaan analisa pencapaian standar ketuntasan belajar. a. Analisa Pencapaian Standar Ketuntasan Belajar dilakukan berdasarkan hasil pengolahan data perolehan nilai setiap peserta didik. Per mata pelajaran yang saat bersangkutan mengkuti pelajaran. b. Hasil pengkajian dimaksud, selanjutnya dianalisis dan direkap.7. Pelaporan KTSP Pelaporan mencakup laporan guru, laporan wali kelas, dan laporan kepala sekolah. Untuk lebih jelasnya dijelaskan sebagai berikut : a. Laporan guru Memuat hasil pembelajaran (mencapai kompetensi siswa) dan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan guru disampaikan kepada wali kelas. Guru bisa melengkapi laporannya dengan informasi tentang hambatan yang dihadapi, upaya yang telah ditempuh, dan atau kegagalan yang terjadi karena adanya hambatan yang tidak bisa diatasi. Informasi tersebut merupakan bahan laporan wali kelas kepada kepala sekolah dan sebagai bahan menyusun program kerja tahun berikutnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut : 33
  • 46. Gambar 3 : Laporan Guru29 b. Laporan wali kelas Memuat pretasi (pencapaian kompetensi) dari kelas binaannya untuk disampaikan kepada orang tua siswa dan siswa yang bersangkutan. Wali kelas juga membuat laporan tentang profil kompetensi siswa dan pembinaan yang pernah dilakukan atau kasus yang terjadi dari kelas binaannya untuk disampaikan kepada kepala sekolah. Laporan tersebut sebagai bahan kepala sekolah membuat laporan sekolah. Gambar 4 : Laporan wali kelas. 30 c. Laporan Kepala Sekolah Memuat hasil evaluasi kinerja sekolah secara keseluruhan, profil kompetensi siswa di sekolah yang dipimpinnya, serta pertanggungjawaban keuangan sekolah. Laporan kinerja sekolah secara keseluruhan, yang diharapkan dalam pedoman ini, lebih menekankan pada laporan akuntabilitas, yaitu laporan pertanggungjawaban berdasarkan kebenaran esensial dan faktual disamping berdasarkan dokumen tertulis. Laporan dibuat berdasarkan hasil evaluasi, akreditasi, dan hasil analisis faktual. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut :29 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 16630 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 167 34
  • 47. Gambar 5 : Pola laporan Kepala Sekolah. 31 8. Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits a. Pengertian Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Mapel Al-Qur’an Hadits di Madrasah Aliyah adalah salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari Al-Qur’an Hadits yang telah dipelajari leh peserta didik di MTs/SMP. 32 Sebagaimana yang tertera Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP) MA Ma’ahid, mata pelajaran Al-Qur’an Hadits bertujuan agar peserta didik gemar untuk membaca Al-Qur’an dan Hadits dengan benar, serta mempelajarinya, memahami, meyakini, kebenarannya, dan mengamalkan ajaran-ajaran dan nilai- nilai yaang terkandung didalamnya sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya. b. Karakteristik Mata pelajaran Al-Qur’an-Hadits Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits merupakan unsur mata pelajaran PAI pada madrasah yang memberikan pendidikan kepada peserta didik. Untuk memahami dan mencintai Al-Qur’an Hadits sebagai sumber ajaran Islam dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari- hari. 1) Tujuan 31 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan, hlm. 168 32 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 82 35
  • 48. Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits bertujuan agar peserta didik gemar untuk membaca Al-Qur’an dengan benar serta mempelajarinya, memahami, meyakini kebenarannya dan mengamalkan ajaran nilai- nilai yang terkandung didalmnya sebagai petunjuk dan pedoman seluruh aspek kehidupannya. Tujuan Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di Madrasah Aliyah adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap Al-Qur’an Hadits. b. Membekali peserta didik dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an Hadits sebagai pedoman dalam menyikapi dan mengahadapi kehidupan. c. Meningkatkan pemahaman dan pengalaman isi kandungan al- Qur’an dan hadits yang dilandasi oleh dasar-dasar keilmuan tentang al-Qur’an dan hadits. 33 2) Fungsi Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits pada Madrasah Aliyah memiliki fungsi sebagai berikut a. Pemahaman, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan cara membaca dan menulis Al-Qur’an serta kandungan Al-Qur’an. b. Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. c. Sumber motivasi, yaitu memberikan dorongan untuk meningkatkan kualitas hidup beragama, bermasyarakat, dan bernegara. d. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik dalam meyakini kebenaran agama Islam. e. Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajararan Islam peserta didik dalam keyakinan. 33 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 83 36
  • 49. f. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal- hal negatif dari lingkungan atau budaya lain yang dapat membahayakan diri peserta didik dan menghambat perkembangan menuju manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. g. Pembiasaan, yaitu menyampaikan pengetahuan dan pemahaman nilai- nilai Al-Qur’an Hadits pada peseta didik sebagai petunjuk dan pedoman.3) Ruang Lingkup Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits a. Masalah dasar –dasar ilmu al-Qur’an dan al-Hadits, melipti : 1. Pengetahuan Al Qur’an menurut para ahli 2. Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar dan hadits qudsi 3. Bukti keotentikan al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatan, dan sejarahnya 4. Isi pokok ajaran al-Qur’an dan pemahaman kandungan ayat- ayat yang terkait dengan isi pokok ajaran al-Qur’an 5. Funsi al-Qur’an dalam kehidupan 6. Fungsi hadits terhadap al-Qur’an 7. Pengenalan kitab-kitab yang berhubungan dengan cara-cara mencari surat dan ayat dalam al-Qur’an 8. Pembagian hadits dari segi kuantitas dan kualitasnya. b. Tema-tema yang ditinjau dari perspektif al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu : 1. Manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi 2. Demokrasi. 3. Keikhlasan dalam beribadah. 4. Nikmat Allah dan cara mensyukurinya. 5. Perintah menjaga kelistarian lingkungan hidup. 6. Pola hidup sederhana dan perintah menyantuni para dhuafa. 7. Berkompetensi dalam kebaikan 8. Amar ma’ruf nahi mungkar 9. Ujian dan cobaan manusia 37
  • 50. 10. Tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat 11. Berlaku adil dan jujur 12. Toleransi dan etika pergaulan 13. Etos kerja 14. Makanan yang halal dan baik 15. Ilmu Pengetahuan dan teknologi. 34 c. Standar Kompetensi Kelulusan Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Memahami isi pokok Al-Qur’an, fungsi, dan bukti-bukti kemurniaannya, istilah- istilah hadits terhadap Al-Qur’an, pembagian hadits ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasny, serta memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits tentang manusia dan tanggung jawabnya di muka bumi, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 35 34 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 87-88 35 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusandan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 5. 38
  • 51. 39
  • 52. BAB III METODE PENELITIANA. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan untuk mengkaji mengenai Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai instrumen kunci. Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. 1 Penelitian kualitatif sering disebut penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting). Disebut sebagai penelitian kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Filsafat postpositivisme sering juga disebut sebagai paradigma interpretatif dan konstruktif, yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Penelitian dilakukan pada obyek yang alamiah, obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu 2 mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut. Penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena pada umumnya permasalahannya belum jelas, holistik, dinamis, dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut diperoleh dengan 1 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung:Alfabeta, 2006), h lm.15 2 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, hlm.14 39
  • 53. penelitian kuantitatif dengan instrumen seperti test, kuesioner, pedoman wawancara. Selain itu peneliti bermaksud memahami situasi sosial secara mendalam, menemukan pola, hipotesis dan teori. 3 Terkait dengan jenis penelitian tersebut, maka penelitian bertumpu pada penelitian fenomenologis, yakni usaha untuk memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu. 4 Dalam hal ini, peneliti berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subyek yang diteliti sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka disekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari- hari. Dengan penelitian inilah diharapkan bahwa Implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus tahun ajaran 2010/2011 dapat dideskripsikan secara lebih teliti dan mendalam.B. Tempat dan Waktu Penelitian Dalam penelitian ini yang dijadikan lokasi atau tempat penelitian adalah MA Ma’ahid Krapayak Kudus, Jl. K.H Muhammad Arwani Krapyak Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Adapun waktu penelitian adalah tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei tahun 2011.C. Sumber Penelitian Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. 5 Sedangkan menurut Lofland dan Lofland menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain- lain. 6 3 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, hlm.399 4 Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif; Edisi Revisi. PT Remaja ( Bandung:Rosdakarya, 2004), h lm.9 5 Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktek, Edisis Revisi VI. (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), Hlm.129 6 J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 157 40
  • 54. Dengan demikian, sumber data penelitian yang bersifat kualitatif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Sumber data primer Yaitu sebagai sumber data yang bersifat utama dan langsung berkaitan dengan objek yang diteliti, 7 yaitu Kepala Sekolah, dua guru Al- Qur’an - Hadits, dan lima siswa MA Ma’ahid kudus sebagai sumber data. Pengambilan data dilakuakan dengan wawancara (interview). Sampel sumber data dalam penelitian ini bersifat purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek yang diteliti. 8 b. Sumber data sekunder Yaitu sumber data yang bersifat kedua. Sumber data ini di peroleh dari literatur, yaitu berupa buku Al-Qur’an Hadits yang digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits, foto-foto yang terkait seperti foto Kegiatan Belajar Mengar (KBM), RPP, maupun silabus mata pelajaran Al- Qur’an Hadits.D. Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan untuk meneliti tentang Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Mata Pelajaran Al- Qur’an Hadits di Ma Ma’ahid Kudus Tahun Ajaran 2010/2011.E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam 7 Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan , (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1996), h lm. 83 8 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV A LFA BETA, 2005), hlm.53-54 41
  • 55. penelitian kualitatif lapangan, data yang dikumpulkan dalam penelitian iniberupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapatdiamati, maka metode yang digunakan untuk proses pengumpulan data dalampenelitian ini adalah :a. Observasi Dengan observasi, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Susan Stainback menyatakan “in observation the researcher observes what people do, listent to what they say, and participates in their activities” maksudnya dalam observasi, peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka 9 ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka.b. Wawancara (Interview) Wawancara/interview yaitu cara mengumpulkan data dengan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan kepada tujuan penelitian. 10 Penulis akan melakukan tanya jawab kepada pihak- pihak yang terkait. Adapun pihak –pihak yang di wawancarai adalah sebagai berikut : 1. Waka Kurikulum, materi wawancara seputar kurikulum sebelumnya, kurikulum yang sekarang diterapkan di sana, dan pelaksanaan KTSP, apa saja faktor penghambat dan faktor pendukung yang dihadapi dalam mengimplementasikan KTSP. 2. Guru Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits, materi wawancara seputar materi pelajaran Al-Qur’an Hadits, respon terhadap pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, sumber belajar, media yang digunakan, serta bagaimana penyusunan perenca naan mata pelajaran Al-Qur’an Hadits.c. Meteode Dokumentasi 9 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, hlm. 331 10 Hadi, Metodologi Research , hlm. 151 42
  • 56. Studi dokumentasi adalah mencari data mengenai hal- hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya. 11 Studi dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya- karya monumental dari seseorang. 12 Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto- foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah lalu. Akan tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. Informasi atau data yang dikumpulkan melalui dokumentasi antara lain : 1. Data tentang kurikulum mata pelajaran Al-Qur’an Hadits 2. Data tentang kondisi lingkungan sekolah, data guru, staf tata usaha, siswa dan organisasi sekolah 3. Data tentang (RPP) dan silabus tetulis milik guru, progam tahunan, semesteran, atau ulangan harian dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Qur’an dan Hadits. 4. Buku mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, yang digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits.F. Teknik Analisis Data Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah- langkah yang ditempuh yaitu sebagai berikut : a. Pengumpulan data (data collection) Dilaksanakan dengan cara pencarian data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan, 11 Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan, hlm. 231. 12 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, hlm. 329. 43
  • 57. kemudian melaksanakan pencatatan data di lapangan, untuk dipilih dan kumpulkan data yang bermanfaat dan data yang akan digunakan penelitan lebih lanjut mengenai implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits.b. Reduksi data (data reduction) Apabila data sudah terkumpul langkah selanjutnya adalah mereduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal- hal yang pokok, memfokuskan pada hal- hal yang penting, dicari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan. 13 Proses reduksi data dalam penelitian ini dapat peneliti uraikan sebagai berikut : pertama, peneliti merangkum hasil catatan lapangan selama proses penelitian berlangsung yang masih bersifat kasar atau acak ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Kedua, peneliti menyusun satuan dalam wujud kalimat faktual sederhana berkaitan dengan fokus dan masalah. Langkah ini dilakukan dengan terlebih dahulu peneliti membaca dan mempelajari semua jenis data yang sudah terkumpul. Penyusunan satuan tersebut tidak hanya dalam bentuk kalimat faktual saja tetapi berupa paragrap penuh. Ketiga, setelah satuan diperoleh, peneliti membuat koding. Koding berarti memberikan kode pada setiap satuan. Tujuan koding agar dapat ditelusuri data atau satuan dari sumbernya.c. Penyajian data (data display) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Melalui penyajian data tersebut, maka data 13 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, hlm. 338. 44
  • 58. terorganisasikan tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan mudah dipahami. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Selain itu, dengan adanya penyajian data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Penyajian data dalam penelitian ini peneliti paparkan dengan teks yang bersifat naratif. Peneliti juga menyajikan data dalam gambar- gambar proses pembelajaran Al-Qur’an - Hadits di MA Ma’ahid Kudus, tujuannya untuk memperjelas dan melengkapi sajian data. d. Penarikan kesimpulan atau verification Setelah dilakukan penyajian data, maka langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan atau verification ini didasarkan pada reduksi data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Membuat Conclusion Drawing/verification, yaitu menarik kesimpulan melalui analisa yang sudah dilakukan terhadap masalah yang sedang diamati. dengan menggunakan pola pikir induktif yaitu pengambilan kesimpulan dari pernyataan/fakta yang bersifat khusus menuju kesimpulan yang bersifat umum. 14 14 Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, (Bandung: Sinar Baru, 1996), hlm.17 45
  • 59. 46
  • 60. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUSA. Deskripsi Data Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di MA Ma’ahid Kudus Untuk mendiskripsikan mengenai implementasi KTSP pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits serta faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada mata pelajaranAl-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus, berikut ini disajikan hasil wawancara dengan beberapa informan dalam penelitian, yaitu yang terdiri dari dua orang guru Al-Qur’an Hadits, kemudian seorang wakil Kepala MA Ma’ahid, serta lima orang siswa MA Ma’ahid Kudus. Selain itu peneliti juga akan mendiskripsikan data dari hasil observasi dan studi dokumentasi. 1. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus a. Tujuan Pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus Untuk tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus mengacu pada Peraturan Menteri Agama RI No.2 tahun 2008 yaitu: 1. Meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap Al-Qur’an Hadits. 2. Membekali peserta didik dengan dalil- dalil yang terdapat dalam Al- Qur’an Hadits sebagai pedoman dalam menyikapi dan mengahadapi kehidupan. 3. Meningkatkan pemahaman dan pengalaman isi kandungan al-Qur’an dan hadits yang dilandasi oleh dasar-dasar keilmuan tentang al-Qur’an dan hadits. 1 b. Materi Pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus 1 Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan danStandar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , hlm. 83 46
  • 61. Salah satu materi pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus yang peneliti lihat proses KBM adalah Memahami ayat- ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah, adapun sumber belajar yang dipakai adalah Buku Pelajaran siswa, Depag. Al-Qur’an dan terjemahannya dan lain- lain sesuai yang tertuang dalam RPP. 2 c. Persiapan Pembelajaran Berdasarkan hasil wawancara, observasi atau pengamatan serta studi dokumentasi yang dapat diketahui persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus. Secara garis besarnya meliputi sebagai berikut : 1) Pengembangan Program Langkah pertama persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus adalah melakukan pengembangan program. Dalam KTSP pengembangan program mencakup program tahunan, program semester, program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial serta program bimbingan dan konseling. 3 Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk jangka waktu satu tahun dalam rangka mengefektifkan program pembelajaran. Program ini dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran baru, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya yaitu program semester, program mingguan dan harian, dan program harian atau program pembelajaran setiap kompetensi dasar. Program tahunan yang disusun oleh guru Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus diantaranya memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa 2 Observasi hari senin tanggal 16 Mei 2011 3 Ali Mah mudi, guru Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid, kelas 1 dan 2 Wawancara Langsung,tanggal 10 Mei 2011 47
  • 62. setelah mempelajari pokok bahasan tertentu, alokasi waktu serta keterangan. 4 Program semester berisikan garis- garis besar mengenai hal- hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan. Program semester yang disusun oleh guru Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus berisikan tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, alokasi waktu serta keterangan-keterangan. 5 Program mingguan dan harian merupakan penjabaran dari program semester dan program modul. Dari program ini dapat teridentifikasi siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar akan dilayani melalui kegiatan remedial, sedangkan untuk siswa yang cemerlang akan dilayani melalui kegiatan pengayaan agar siswa 6 tersebut tetap mempertahankan kecepatan belajarnya. Program pengayaan dan remedial merupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan dan harian. Program ini dilaksanakan berdasarkan hasil analisis terhadap kegiatan belajar dan terhadap tugas-tugas, hasil tes, dan ulangan. Pelaksanaan program remidi diberlakukan untuk siswa yang nilainya masih dibawah standar nilai ketuntasan, siswa tersebut diberi kesempatan untuk menuntaskan kompetensi-kompetensi dasar yang belum tuntas. Siswa yang belum tuntas dalam kompetensi dasarnya nilainya tidak dicantumkan dalam raport, siswa tersebut hanya menerima raport bayangan. Setelah siswa mengikuti program remidi,4 Ali Mah mudi, , Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 20115 Ali Mah mudi, , Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 20116 Ali Mah mudi, , Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 48
  • 63. serta dievaluasi ternyata sudah tuntas kompetensi dasarnya maka siswa tersebut baru berhak menerima raport. 7 2) Penyusunan persiapan mengajar Sebagai persiapan mengajar guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu. Silabus yang disusun mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Dalam KTSP pengembangan silabus diserahkan sepenuhnya kepada setiap satuan pendidikan, khususnya bagi yang sudah mampu melaksanakannya. Berkaitan dengan hal tersebut guru Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus sudah sudah berusaha menyusun silabus sendiri, karena pelajaran Al-Qur’an Hadits merupakan pelajaran yang ada kaitannya dengan mata pelajaran lain yang ada MA Ma’ahid seperti Ilmu Hadits (Ilmu Mushtolah Hadits). 8 Pernyataan guru tersebut diperkuat dengan pernyataan wakil Kepala Sekolah MA Ma’ahid Kudus, yang mengatakan bahwa pengembangan silabus disusun secara mandiri oleh guru masing- masing, mengacu kepada standar yang ditetapkan oleh Pemerintah. 9 Persiapan pembelajaran berikutnya yang disusun oleh guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan perencanaan 7 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 8 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung,tanggal 10 Mei 2011 9 Bastian Hilmawan, Wakil Kepala MA Ma’ahid, Wawancara Langsung, tanggal 12 Mei2011 49
  • 64. jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berisi tentang : alokasi waktu, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pokok atau pembelajaran, metode, strategi pembelajaran, sumber belajar, serta penilaian. 10 Adapun dalam penyusunan RPP, guru Al-Qur’an Hadits sudah membuat setiap kali pertemuan sesauai dengan progam semester yang telah dibuat oleh guru MA Ma’ahid, namun dalam pembauatannya di lakukan sekaligus dalam satu semester, hal ini dikarenakan adanya kesibukan-kesibukan yang harus diselesaikan, namun dalam pelaksanaanya tetap melihat situasi dan kondisi yang ada.11 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus sebagai persipan pelaksanaan kegiatan pembelajaran tidak mengalami hambatan yang berarti. 12 b. Proses Pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus 1) Kegiatan awal atau pembukaan Dari hasil observasi atau pengamatan dan wawancara secara mendalam pada tanggal 01 Mei-30 Mei 2011 dapat diketahui bahwa kegiatan awal atau pembukaan pembelajaran selalu dimulai dengan kegiatan apersepsi serta persiapan bahan pembelajaran baik oleh guru atau siswa. 10 Ahmad Ahid, guru Al-Qu r’an Hadits Kelas 3 MA Ma’ahid, Wawancara Langsung,tanggal 10 Mei 2011 11 Ahmad Ahid, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 12 Ahmad Ahid, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 50
  • 65. Sebelum proses pembelajaran dimulai, guru Al-Qur’an Hadits absensi siswa terlebih dahulu, selanjutnya guru Al-Qur’an Hadits selalu berusaha untuk mengkondisikan siswa supaya tenang terlebih dahulu, serta menanyakan materi- materi pada pertemuan sebelumnya, setelah itu guru Al-Qur’an Hadits baru memulai materi pelajaran. 13 Selanjutnya mengenai kegiatan pretest, guru Al-Qur’an Hadits tidak melakukan pretest terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai, hal ini disebabkan waktu yang tersedia sangat terbatas sedangkan kompetensi yang harus dicapai banyak. 14 Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan salah seorang siswa MA Ma’ahid Kudus yang mengatakan bahwa dalam pembelajaran jarang bahkan hampir tidak pernah melakukan pretest sebelum melakukan pembelajaran. 15 2) Kegiatan inti pembelajaran atau pembentukan kompetensi Dari hasil wawancara secara mendalam, observasi atau pengamatan serta studi dokumentasi dapat diketahui kegiatan yang dilakukan pada proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Metode atau strategi pembelajaran Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dapat diketahui bahwa dalam proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus menerapkan metode ceramah, tanya jawab, serta penugasan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi atau materi yang harus dikuasai siswa dan 13 Ahmad Ahid, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 14 Ahmad Ahid, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 15 Ziyadul Muttaqin, Siswa kelas XI MA Ma’ahid Kudus, Wawancara Langsung, tanggal10 Mei 2011 51
  • 66. waktu yang tersedia. Sebagaimana disampaikan oleh guru Al- Qur’an Hadits bahwa dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits berbasis KTSP, keaktifan siswa sangat diprioritaskan. Sekarang metode ceramah sudah jarang digunakan, kalau digunakan itupun menggunakan metode ceramah bervariasi. Guru Al-Qur’an Hadits tetap menggunakan ceramah karena untuk mengantarkan siswa, seandainya tidak berceramah siswa akan mengalami kesulitan. 16 Selain ceramah, guru Al-Qur’an Hadits juga menggunakan metode pengulangan. Dengan pengulangan, siswa dilatih untuk senantiasa belajar dan mengulang- ulang pelajaran yang sudah didapatkannya pada periode sebelumnya, sehingga pengetahuan siswa lebih terjaga dengan metode tersebut. 17 Pernyataan-pernyataan guru tersebut diperkuat dengan pernyataan dari salah seorang siswa MA Ma’ahid Kudus. Dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits selalu menggunakan metode ceramah dan juga menggunakan metode pengulangan dengan teknik tanya jawab. 18 . Sementara itu, salah seorang siswa kelas XI MA Ma’ahid Kudus yang lain mengatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, kadang siswa merasa pasif karena kurang begitu dilibatkan dalam pembelajaran karena menggunakan metode ceramah. Namun disamping itu, pak Ali juga senantiasa melakukan pengulangan terhadap pelajaran yang telah lampau 16 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, Tanggal 10 Mei 2011 17 Ahmad Ahid, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 18 Abdul Wakhid, Siswa kelas XI MA Ma’ah id Kudus, Wawancara Langsung, Tanggal 12Mei 2011 52
  • 67. dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan sebelum melakukan 19 pembelajaran. b) Sumber belajar Dari hasil observasi atau pengamatan dapat diketahui bahwa selama proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits guru menggunakan berbagai sumber belajar, antara lain : buku Al- Qur’an Hadits terbitan Tiga Serangkai, serta referensi lain di perpustakaan. Sebagaimana diungkapkan oleh guru Al-Qur’an Hadits bahwa dalam proses pembelajaran menggunakan buku Al-Qur’an Hadits terbitan Tiga Serangkai, serta referensi lain di perpustakaan. Sedangkan untuk buku penunjang sifatnya tidak wajib hanya sebagai tambahan saja. 20 Pernyataan-pernyataan diatas diperkuat dengan pernyataan dari beberapa siswa-siswi MA Ma’ahid Kudus bahwa pak Ali dalam pembelajaran menggunakan buku Al-Qur’an Hadits yang disusun oleh Tiga Serangkai. 21 Sedangkan siswa yang mengemukakan bahwa sumber belajar yang sering digunakan oleh Pak Ali antara lain buku Al- Qur’an Hadits terbitan Tiga Serangakai, serta referensi lain di perpustakaan. 22 Wakil Kepala Sekolah MA Ma’ahid Kudus, memperkuat pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa siswa-siswi dapat 19 Ziyadul Muttaqin, Siswa kelas XI MA Ma’ah id Kudus, Wawancara Langsung, tanggal12 Mei 2011 20 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 21 Ziyadul Muttaqin, Wawancara Langsung, Tanggal 12 Mei 2011 22 Abdul Wakhid, Siswa kelas XI MA Ma’ahid Kudus, Wawancara Langsung, tanggal 12Mei 2011 53
  • 68. menggunakan sumber belajar berupa buku Al-Qur’an Hadits terbitan Tiga Serangakai, serta referensi lain di perpustakaan. 23 c) Media Pembelajaran Media pada dasarnya merupakan alat bantu pembelajaran yang digunakan dalam rangka untuk mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Berdasarkan wawancara dan observasi dapat diketahui bahwa pelaksanaan belajar mengajar (KBM) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus sudah menggunakan media pembelajaran yang variatif seperti LCD, laptop, majalah, gambar, internet dan masih banyak lagi. Untuk menunjang pemahaman siswa terhadap meteri pelajaran. dalam pembelajaran, sudah menggunakan media yang sudah tersedia, hal ini sesuai yang tertuang dalam silabus MA Ma’ahid Kudus tahun pelajaran 2010/2011 .24 Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan wakil kepala sekolah MA Ma’ahid Kudus yang mengatakan media pembelajaran di sekolah ini secara umum sudah baik, media yang telah tersedia seperti LCD, laptop, majalah, gambar, dan masih banyak lagi, dan sudah banyak guru yang mempergunakannya. 25 Salah seorang siswa MA Ma’ahid Kudus juga mengatakan bahwa Pak Ali sudah pernah memakai media dalam pembelajaran seperti LCD, laptop, majalah, internet dan lain- lain. 26 23 Bastian Hilmawan, Wawancara Langsung, tanggal 12 Mei 2011 24 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 25 Bastian Hilmawan, Wawancara Langsung, tanggal 12 Mei 2011 26 Fah mi Ubaidillah, siswa kelas XI MA Ma’ahid, wawancara langsung, tanggal 13 Mei2011 54
  • 69. 3) Kegiatan akhir atau penutup Berdasarkan observasi atau pengamatan pada kegiatan akhir atau penutup dapat diketahui bahwa guru selalu memberitahukan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya, karena dalam KTSP siswa dituntut untuk tidak hanya diam, oleh karena itu siswa harus mengetahui terlebih dahulu materi yang akan dipelajari. Selain itu, guru memberikan tugas untuk mengerjakan soal dari buku atau LKS.c. Evaluasi Hasil Belajar atau Penilaian berkaitan dengan kegiatan evaluasi hasil belajar guru Al-Qur’an Hadits dalam melakukan evaluasi menggunakan model penilaian berbasis kelas seperti model test berupa uraian, tes lesan dengan bertanya langsung kepada siswa untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa. 27 Guru Al-Qur’an Hadits juga selalu mengadakan program remidi untuk siswa yang nilainya masih dibawah standar nilai ketuntasan. Dalam aturannya, penilaian dilakukan setiap selesai satu kompetensi dasar (KD), akan tetapi dalam pelaksanaannya penilaian dilakukan rata- rata tiga (3) kali dalam satu semester, kemudian penilaian diambil dari uluangan block I dan block II serta ulangan lesan dan nilai diambil dari akumulasi semua jenis tes. 28 Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan siswa MA Ma’ahid Kudus yang mengatakan bahwa pak Ali sering melakukan penilaian kelas seperti model uraian dan test lisan (pertanyaan langsung). Pak Ali pernah27 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 201128 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, tanggal 10 Mei 2011 55
  • 70. mengadakan program remidi yaitu setelah ulangan block dan semester penilaian kelas dilakukan sebanyak 2 – 3 kali. 29 Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan wakil kepala sekolah MA Ma’ahid Kudus bahwa di MA Ma’ahid Kudus program remidi dilaksanakan dan diprogramkan oleh urusan kurikulum yang waktunya ketika setelah melaksanakan tes baik block maupun semesteran bagi siswa yang belum mencapai kompetensi yang ditetapkan sebelumnya. 30 Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan siswa MA Ma’ahid Kudus bahwa pak Ali melakukan penilaian kelas berupa model uraian dan test lisan (pertanyaan langsung). 31 2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Imple mentasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits 1. Faktor Pendukung dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mempunyai karakteristik yaitu memberi keleluasaan penuh pada setiap sekolah untuk mengembangkan potensi sekolah dan potensi daerah, sehingga akan mendorong sekolah untuk lebih kreatif dan inovatif. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi (tanggal 01 Mei-30 Mei 2011) dapat diketahui bahwa sarana prasarana pembelajaran di MA Ma’ahid Kudus secara kuantitatif (jumlah) maupun kulitatif (kualitas) sudah memadai, bahkan pembangunan gedung-gedung penunjang terus dilakukan. Selain itu, setiap tahun ada program perbaikan serta penambahan terhadap sarana prasarana tersebut. 29 Fah mi Ubaidillah, siswa kelas 2 MA Ma’ahid, wawancara langsung, tanggal 13 Mei2011 30 Bastian Hilmawan, Wawancara Langsung, tanggal 12 Mei 2011 31 Ziyadul Muttaqin, Wawancara Langsung, tanggal 12 Mei 2011 56
  • 71. Menurut guru Al-Qur’an Hadits, yang mendukung implementasi KTSP di sekolah ini adalah sarana prasarananya sudah memadai dibandingkan sekolah lain, misalnya sudah tersedia komputer, laptop, laboratorium bahasa, internet, kamus dan ensiklopedi, LCD. Setiap tahun ada penambahan terhadap sarana prasarana tersebut. Selain itu di sekolah ini ada tim pengembang dan penyusun KTSP, namun penggunaannya belum bisa optimal. 32 Disamping itu, adanya mata pelajaran lain yang berhubungan dengan pelajaran Al-Qur’an Hadits juga sangat mendukung pembelajaran, diantaranya pelajaran Lughot Al-Qur’an, Hadits Ahkam yang menggunakan kitab Bulughul Maram, yang dengan kitab tersebut, siswa bisa langsung mempraktekkan pengetahuan tentang Al-Qur’an Hadits dengan hadits- hadits yang ada dalam kitab tersebut. 33 Dalam mempersiapkan KTSP di sekolah ini tidak membutuhkan waktu yang lama, karena pada saat sosialisasi rekan-rekan guru telah memahami tugasnya masing- masing. Di sekolah ini juga ada tim pengembang dan penyusun KTSP yang kinerjanya sangat solid, karena tidak semua guru dapat masuk dalam tim ini. Syarat-syaratnya untuk masuk tim ini antara lain loyalitas tinggi, punya dedikasi kerja, mau bekerja keras. Sampai sekarang tim ini terus melakukan pengembangan- pengambangan serta evaluasi demi kemajuan sekolah ini. 34 Disamping itu, adanya prestasi dari para alumni madrasah yang banyak tersebar di setiap aspek kehidupan. Dikarenakan MA Maahid Kudus merupakan madrasah yang telah lama berdiri di Kudus ini, maka tidak mengherankan ketika banyak alumni-alumninya yang sudah banyak berkecimpung dalam berbagai32 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, tanggal 10 mei 201133 Ali Mah mudi, Wawancara Langsung, tanggal 10 mei 201134 Bastian Hilmawan, Wawancara Langsung, tanggal 12 Mei 2011 57
  • 72. profesi yang ada. Ada yang menjadi anggota DPRD (Provinsi dan Kabupaten ), menjadi guru, pengusaha, teknokrat, seniman, pegawai negeri, dan masih banyak lagi prosfesi-profesi yang lainya. Yang tidak kalah menggembirakan adalah sebagian besar alumni yang ada merupakan tokoh masyarakat dan Kiyai yang gigih berjuang di masyarakat untuk berdakwah amar makruf nahi munkar. 35 Adapun, bagi mereka yang mempunyai kelebihan rejeki untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, maka banyak alumni-alumni MA Maahid Kudus yang belajar di perguruan tinggi yang tersebar diseluruh Indonesia, baik perguruan tinggi negeri atau swasta bahkan perguruan tinggi di luar negeri. Diantaranya ialah UNDIP, UNNES, Polines, IKIP PGRI, STAN, UNS, UMS, UMY, UNY, UIN Syar if Hidayatullah, LIPIA Jakarta, An Nuaimi Jakarta, STAIN Ternate, STAIN Kudus, dan masih banyak PTN/PTS lainnya. Sedangkan untuk perguruan tinggi luar negeri mereka tersebar di berbagai Negara di antaranya Mesir (Al Azhar), Sudan, Makkah, Libya dan juga d i Malaysia. 36 Dua tahun yang lalu, salah satu siswi MA Maahid Kudus yang bernama Naila Mabruroh juga berprestasi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kabupaten sebagai juara III Fisika, bahkan secara umum dari seluruh siswa yang di ikutkan olimpiade tersebut memperoleh prestasi yang tidak kalah dengan prestasi siswa-siswa dari sekolah umum negeri/swasta dan madrasah negeri/swasta se-Kabupaten Kudus tahun 2008. Disamping prestasi dibidang akademik, siswa MA Maahid Kudus juga memperoleh prestasi dibidang olahraga. Prestasi yang terbaru adalah prestasi Titis Alfiyanti siswi kelas XII IPS I MA Maahid yang35 dari arsip doku mentasi TU MA Ma’ah id, dikutip pada tanggal 5 Mei 201136 dari arsip doku mentasi TU MA Ma’ahid, d ikutip pada tanggal 5 Mei 2011 58
  • 73. baru saja memperoleh juara I (Kumite Senior Pi), Juara II (Fukugo Pi), Juara II (Kata Perorangan Pi), Juara II (Enbu Pa-Pi) pada Kejuaraan Terbuka Karate Tradisional Junior-Senior "Bowo Jenggot Cup" Tingkat Nasional yang berlangsung di Wonosobo pada tanggal 8-9 Nopember 2008 silam. 37 Sehingga dari itu semua, memberikan dampak positif dilingkungan sekolahan terutama siswa dan guru berupa motivasi yang tinggi, bahwa mereka mampu memperoleh prestasi yang menggembirakan, baik disisi akademik maupun non akademik, baik yang berupa pelajaran kurikuler maupun ekstra kulikuler. Saat ini madrasah sedang melakukan pembinaan terhadap siswa- siswi yang berprestasi untuk diikutkan dalam event Olimpiade Sains Nasional, sekarang sudah melewati tahap seleksi dan pemantapan, sehingga ketika olimpiade dilaksanakan, maka mereka sudah siap untuk bertanding. Prestasi-prestasi yang sudah diperoleh oleh siswa siswi tersebut diperoleh sejak diberlakukan KTSP di madrasah tersebut, yaitu tahun pelajaran 2007 samapai sekarang. Hal ini membuktikan bahwa adanya peningkatan prestasi di bidang akademik maupun non akademik dari siswa-siswi mereka. Hal ini dampak dari proses pembelajaran yang lebih terarah dan efektif yang di terapkan para guru dalam melakukan proses belajar mengajar dengan metode yang bervariasi yang membuat para siswa benar-benar menikmati belajar.2. Faktor Penghambat dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis37 dari arsip doku mentasi TU MA Ma’ahid, d ikutip pada tanggal 5 Mei 2010 59
  • 74. Kompetensi (KBK) dalam pelaksanaannya tidak lepas dari berbagai kendala atau hambatan. Wakil Kepala Sekolah MA Ma’ahid Kudus mengemukakan bahwa secara umum hambatan yang dialami hampir tidak ada, namun komponen muatan lokal yang banyak di MA Ma’ahid Kudus yang membutuhkan penyesuian dengan muatan dari Depag yang membutuhkan pemikiran yang lebih untuk melaksanakannya. 38 Adapun para siswa Ma’ahid Kudus mengatakan bahwa guru Al- Qur’an Hadits sedikit mengalami hambatan yaitu harus dituntut lebih mandiri dalam belajar, tidak seperti waktu di SD/MI, pada saat itu guru yang menerangkan kemudian siswa bertanya, sedangkan sekarang siswa bertanya telebih dahulu baru nanti dijelaskan oleh gurunya. 39 Dalam KTSP tersebut proses pembelajarannya lebih detail dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, sehingga sedikit sulit. 40B. Analisis pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di MA Ma’ahid Kudus 1. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits a. Persiapan Pembelajaran Al-Qur’an Hadits 1) Pengembangan Program “Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien”. 41 38 Bastian Hilmawan, Wawancara Langsung, tanggal 12 Mei 2011 39 Agung Rifqi Hidayat, Siswa kelas X MA M’ahid, wawancara langsung, tanggal 13 Mei2011 40 Ziyadul Muttaqin, Wawancara Langsung, tanggal 13 Mei 2011 41 Peraturan Pemerintah RI. No. 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, BabIV Standar Proses pasal 19 ayat 3 60
  • 75. Dalam KTSP guru diberi kewenangan penuh untuk prencanaanproses pembelajaran. Prencanaan proses pembelajaran tersebutmencakup antara lain : Pertama, program tahunan. Program ini dipersiapkan dandikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran, karena merupakanpedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yaituprogram semester, program mingguan, dan program harian atauprogram pembelajaran setiap kompetensi dasar. Kedua, program semester. Program ini berisikan garis-garisbesar mengenai hal- hal yang hendak dilaksanakan dan akan dicapaidalam semester tersebut. Program semester ini merupakanpenjabaran dari program tahunan. Ketiga, program mingguan dan harian. Program ini merupakanpenjabaran dari program semester dan program modul. Melaluiprogram ini dapat diketahui tujuan-tujuan yang telah dicapai danyang perlu diulang bagi setiap peserta didik. Keempat, program pengayaan dan remidial. Program inimerupakan pelengkap dan penjabaran dari program mingguan danharian. Dari program ini dapat teridentifikasi siswa-siswa yangmengalami kesulitan belajar akan dilayani dengan kegiatan remidial,sedangkan untuk siswa yang cemerlang akan dilayani dengankegiatan pengayaan agar tetap mempertahankan kecepatanbelajarnya. Kelima, Program pengembangan diri. Program ini sebagianbesar diberikan melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun melalui 61
  • 76. bimbingan dan konseling atau konselor kepada para siswa yang menyangkut pribadi, sosial, belajar, dan karier. 42 Adapun pengembangan program tahunan, program semester, program mingguan dan harian yang disusun oleh guru Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus telah disusun sesuai dengan ac uan dalam KTSP. Biasanya program tersebut disusun pada awal tahun pelajaran. Hal-hal yang seharusnya dilakukan guru dalam penyusunan Program Tahunan (prota) dan Program Semester (promes) adalah sebagai berikut : 1) Mendaftar kompetensi dasar pada setiap unit berdasarkan hasil pemetaan kompetensi dasar per unit yang telah disusun 2) Mengisi jumlah jam pelajaran setiap unit berdasarkan hasil analisis alokasi waktu yang telah disusun 3) Menentukan meteri pembelajaran pokok pada setiap kompetensi dasar yang didapatkan dari pengembangan silabus 4) Membagi habis jumlah jam pelajaran efektif ke semua unit pembelajaran dan semua jenis ulangan berdasar pengalokasian waktu. 43 Pelaksanaan program pengayaan dan remedial oleh guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid Kudus sudah sesuai dalam konsep KTSP yaitu berdasarkan teori belajar tuntas. Seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65 % dari seluruh tujuan pembelajaran. Di MA Ma’ahid Kudus 42 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 177 43 Masnur Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman danPengembangan Pedoman Bagi Pengelola Lembaga Pendidikan, Pengawas Sekolah, KepalaSekolah, Komite Sekolah, Dewan Sekolah, dan Guru,(Jakarta: PT Bu mi Aksara.Muslich, 2009),hlm. 44 62
  • 77. Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang harus dicapai adalah 70 untuk pelajaran Al-Qur’an Hadits. Sedangkan pada pembelajaran tuntas, kriteria pencapaian kompetensi yang ditetapkan adalah minimal 75 % oleh karena itu setiap kegiatan belajar mengajar diakhiri dengan penilaian pencapaian kompetensi siswa dan diikuti rencana tindak lanjutnya. 44 Dalam konsep KTSP sekolah berkewajiban memberikan program pengembangan diri melalui bimbingan dan konseling kepada peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar, dan karier. Konsep ini sudah diterapkan di MA Ma’ahid Kudus, di sekolah ini pengembangan diri sebagian besar melalui kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan konseling melalui k anselor. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut bahkan telah mampu berprestasi ditingkat lokal maupun nasional. 2) Penyusunan persiapan mengajar “Perencanaan Proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang- kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”. 45 Dalam prinsip pengembangan silabus berbasis KTSP, setiap satuan pendidikan diberi kebebasan dan keleluasaan dalam mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing- masing sekolah. Prinsip ini sudah dilaksanakan oleh guru Al- Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus dalam mengembangkan silabus tersebut. Hal ini dapat dapat dilihat dalam pembuatan silabus disesuaikan dengan acuan KTSP. 44 Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hlm. 159 45 Peraturan Pemerintah RI. No. 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, BabIV Standar Proses pasal 20 63
  • 78. Untuk menyusun silabus yang sesuai dengan acuan KTSP perlu diperhatikan langkah- langkah sebagai berikut : (1) mengkaji Standar Kompetensi (KD) dan Kompetensi Dasar (KD). (2) mengidentifikasi materi pokok. (3) mengembangkan pengalaman belajar. (4) merumuskan indikator keberhasilan belajar. (5) penentuan jenis penilaian. (6) menentukan alokasi waktu. (7) menentukan sumber belajar. 46 Sedangkan dalam hal penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru-guru Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus sudah melaksanakan sesuai dengan konsep KTSP. Hal ini dapat dilihat dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di MA Ma’ahid Kudus. Untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan acuan KTSP perlu diperhatikan langkah- langkah yang patut dilakukan guru sebagai berikut : (1) ambilah satu unit pembelajaran (dalam silabus) yang akan diterapkan dalam pembelajaran. (2) tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar. (3) tentukan indikator (4) tentukan alokasi waktu (5) rumuskan tujuan pembelajaran (6) tentukan materi pembelajaran (7) pilihlah metode pembelajaran (8) susunlah langkah- langkah kegiatan pembelajaran (9) sebutkan sumber/media belajar (10) tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penilaian. 47 b. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran “Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inpiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang46 Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), hlm. 28-3047 Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), hlm. 45 64
  • 79. cukup bagi prakarsa, kreatifitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik secara psikologis peserta didik”. 48 Kegiatan belajar mengajar (KBM) dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif, yaitu kegiatan yang berfokus pada kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dalam KBM guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar tetap berada pada diri siswa, dan guru hanya bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar secara berkelanjutan atau sapanjang hayat. 49 a) Penggunaan metode atau strategi pembelajaran Pemilihan dan penggunaan strategi atau metode pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus belum mengarah pada pemilihan strategi atau metode pembelajaran yang dianjurkan dalam KTSP. Dalam konsep KTSP, guru harus mampu menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan, menantang, dan konstekstual. Untuk menciptakan kondisi kelas yang menyenangkan, menantang dan konstekstual, guru belum mampu mengurangi metode ceramah dalam pembelajaran. Diantara metode penyampaian pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus metode ceramah, tanya jawab, serta penugasan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi atau materi yang harus dikuasai siswa dan waktu yang tersedia. 48 Peraturan Pemerintah RI. No. 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, BabIV Standar Proses pasal 19 ayat 1 49 Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) , hlm. 48. 65
  • 80. Dengan hanya mengacu kepada metode ceramah dan Tanya jawab saja, maka keaktifan siswa dalam belajar Al-Qur’an Hadits dirasa kurang. b) Penggunaan Sumber Belajar Dalam pembelajaran mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus menggunakan media pembelajaran buku Al- Qur’an Hadits terbitan Tiga Serangkai dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang wajib dimiliki oleh seluruh siswa untuk mempermudah pembelajaran. Hal ini sekaligus supaya pembelajaran sesuai dengan model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (Pakem). Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri pesrta didik, antara lain sebegai berikut: 1.Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif 2.Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran 3.Tersedia fasilitas, sumber belajar, dan lingkungan yang mendukung 4. Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik 5. Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru dalam KBM 6. Adanya pemberian penguatan dalam KBM 7. Jenis kegiatan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan menantang 8. Penilaian hasil belajar dilakukan serius, objektif, teliti, dan terbuka. 50 Kedelapan hal ini sudah diterapkan oleh guru Al-Qur’an Hadits MA Ma’ahid, hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam mengikuti KBM. c) Penggunaan Media Pembelajaran “Setiap satuan pendidikan wajib memilki sarana yang meliputi prabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain50 Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) , hlm. 67-70 66
  • 81. yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan”. 51 Dalam konsep KTSP proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Dalam pelaksanaan belajar mengajar pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus guru sudah menggunakan media pembelajaran yang variatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan, dan pelaksanaannya tidak hanya berada didalam kelas saja, karena secara sarana media pembelajaran yang disediakan oleh sekolah sudah mencukupi seperti komputer, laptop, internet, koleksi perpustakaan, LCD dll, dan sudah dimanfaatkan secara optimal oleh guru Al-Qur’an Hadits. Hal ini dapat dilihat pada tabel sarana prasarana di MA Ma’ahid. d) Evaluasi Hasil Belajar Penilaian dalam KTSP menganut prinsip penilaian berkelanjutan dan komprehensif guna mendukung upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri. Penilaian hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan penilaian program. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 19 Tahun 2007, penilaian hasil belajar peserta didik meliputi : 51 Peraturan Pemerintah RI. No. 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, BabVII Standar Sarana dan Prasarana pasal 42 ayat 1 67
  • 82. 1) Sekolah/Madrasah menyusun progam penilaian hasil be lajar yang berkeadilan, bertanggung jawab dan berkesinambungan.2) Penyusunan progam penilaian hasi belajar didasarkan pada Standar Penilaian Pendidikan.3) Sekolah/Madrsah menilai hasil belajar untuk seluruh kelompok mata pelajaran dan membuat catatan keseluruhan, untuk menjadi bahan progam remedial, klasifikasi pencapaian ketuntasan yang direncanakan, laporan kepada pihak yang memerlukan, pertimbangan kenaikan kelas atau kelulusan dan dokumentasi.4) Seluruh progam penilaian hasil belajar disosialisaikan kepada guru.5) Progam penilaian hasil belajar perlu ditinjau secara periodik, berdasarkan data kegagalan/kendala pelaksanaan progam termasuk temuan penguji eksternal dalam rangka mendapatkan rencana penilaian yang lebih adail dan tanggung jawab.6) Sekolah/Madrasah menetapkan prosedur yang mengatur transparasi system evaluasi hasil belajar untuk penilaian formal yang berkelajutan.7) Semua guru menggembalikan hasil kerja siswa yang telah diteliti.8) Sekolah/Madrasah menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional yang mengatur mekanisme peyampaian ketidakpuasaan peserta didik dan penyelesaiannya mengenai penilaian hasil belajar.9) Penilain meliputi semua kompetensi dan materi yang diajarkan.10) Seperangkat metode penilain perlu disiapkan dan digunakan secara terencana untuk tujuan diagnostik, formatif dan 68
  • 83. sumatif, sesuai dengan metode/strategi pembelajaran yang digunakan. 11) Sekolah/Madrsah menyusun ketentuan pelaksanaan penilaian hasil belajar sesuai dengan satandar pendidikan 12) Kemajuan yang dicapai oleh peserta didik dipantau dan didokumentasikan secara sistematis dan digunakan sebagai balikan kepada peserta didik untuk perbaikan secara berkala. 13) Penilaian yang didokumentasikan disertai bukti keshahihan, keandalan, dan evaluasi secara periodik untuk perbaikan metode penilaian. 14) Sekolah/Madrasah melaporkan hasil belajar kepada orang tua peserta didik, komite sekolah/Madrasah dan institusi diatasnya. 52 Dari 14 kriteria penilaian hasil belajar pada peserta didik yang ada sudah sebagian diterapkan di MA Ma’ahid, hal ini terbukti dengan adanya penilain dari segi kognitif, psikomotorik dan afektif, dan penilaiannya melalui proses, tidak langsung nilai jadi. Selain itu dengan adanya raport sebagai laporan kepada orang tua peserta didik. Dalam Surat Al Anbiyaa’ ayat 47 diterangkan sebagai berikut:                       “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan 52 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 19 tahun 2007, tentang standar penilaianpendidikan, (Jakarta: BP Pustaka Citra Mandiri: 2007), hlm.171. 69
  • 84. jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan. (Q.S. Al Anbiyaa’:47) 53     “Maka tidak seorangpun akan diperlakukan secara dhalim pahala yang dia berhak menerimanya, tidak akan dikurangi sedikitpun, dan azabnya tidak akan ditambahkan lebih dari ukuran perbuatan buruk yang dengan itu dia mengotori dirinya. 54 Kalau sikap itu dikembalikan dalam dunia pendidikan, maka tanpa adanya penilaian evaluasi, tidak akan diketahui sejauh mana tingkat perkembangan proses belajar mengajar. Adapun penilaian yang dilakukan oleh guru Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus sudah mengikuti penilaian yang disyaratkan dalam KTSP yaitu setiap kompetensi dasar (KD) dilakukan penilaian/evaluasi. Pendekatan penilaian menggunakan Penilaian Berbasis Kelas (PBK) dinyatakan bahwa penilaian berbasis kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan, guru MA Ma’ahid dalam pelaksanaan penilaiannya dilakukan rata-rata hanya 3 kali dalam satu semester, kemudian penilaian diambil dari ulangan block I dan bock II. Penilaian berbasis kelas berorientasi pada kompetensi yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Ketercapaian ini bisa mengacu pada patokan tertentu dan/atau 53 Al-Qur’am, surat Al Anbiyaa’: 21, Al-Qur’an dan Terjemahnya hadiah dari Khadim alHaramain asy Syarifain, (Jakarta: Departemen Agama, 1971, h lm. 501. 54 A. Musthofa Al Maraghy, Tafsir Al Maraghy(XVII), (Mesir: Daru l Fikri, 346 H) 70
  • 85. ketuntasan belajar yang dilakukan melalui berbagai cara misalnya melalui portofolio, produk, proyek, kinerja, tertulis, atau penilaian diri (self assessment).55 Hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam melaksanakan penilaian berbasis kelas adalah sebagai berikut : 1) Memandang penilaian sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran 2) Strategi yang digunakan mencerminkan kemampuan anak secara autentik. 3) Penilaian menggunakan acuan patokan/kriteria. 4) Menggunakan berbagai cara dan alat penilaian 5) Mempertimbangkan kebutuhan khusus siswa 6) Bersisat holistis, penilaian yang menggunakan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. 56 Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pelaksanaan penilaian hasil belajar peserta didik didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut : 1) Mendidik, yaitu mampu memberikan sumbangan positif terhadap peningkatan pencapaian belajar peserta didik. Hasil belajar harus dapat memberikan umpan balik dan memotivasi peserta didik untuk lebih giat belajar. 2) Terbuka/transparan, yaitu prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan diketahui oleh pihak yang terkait. 3) Menyeluruh, yaitu meliputi berbagai aspek kompetensi yang akan dinilai yaitu meliputi ranah pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan nilai (afektif) yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.55 Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) , hlm. 7856 Muslich. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) , hlm. 79 71
  • 86. 4) Terpadu dengan pembelajaran, yaitu menilai apapun yang dikerjakan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar itu dinilai, baik kognitif, psikomotorik dan afektifnya.5) Objektif, yaitu tidak terpengaruh oleh pertimbangan subjektif penilai.6) Sistematis, yaitu penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik sebagai hasil kegiatan belajarnya.7) Berkesinambungan, yaitu dilakukan secara terus menerus sepanjang berlangsungnya kegiatan pembelajaran8) Adil, yaitu tidak ada peserta didik yang diuntungkan atau dirugikan berdasarkan latar belakang social-ekonomi, budaya, agama, bahasa, suku, bangsa, warna kulit, dan jender.9) Menggunakan acuan kriteria, yaitu menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Model penilaian kelas yang diterapkan guru Al-Qur’anHadits di MA Ma’ahid Kudus meliputi dua model yaitu non tes dantes. Model non tes meliputi pengamatan terhadap sikap pesertadidik dalam proses pembelajaran, sedangkan model tes meliputi teslisan, tes tertulis (tes tertulis uraian dan objektif). Evaluasi hasil belajar pada mata pelajaran Al-Qur’an Haditsdengan menggunakan KTSP di MA Ma’ahid Kudus menyangkuttiga ranah yaitu ranah kognitif (pemahaman konsep), ranahpsikomotorik (Praktik) dan ranah afektif (penerapan konsep). DiMA Ma’ahid Kudus telah ditentukan Kriteria Ketuntasan Minimum(KKM) sebesar 60. Di MA Ma’ahid Kudus telah diterapkan sistem belajartuntas yaitu seorang siswa dianggap tuntas belajar jika siswatersebut mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi ataumencapai tujuan pembelajaran yaitu mampu memperoleh nilai 60. 72
  • 87. Sedangkan untuk siswa yang belum mencapai nilai tersebut maka siswa tersebut dikatakan belum tuntas belajarnya. Untuk keperluan tersebut, sekolah dalam hal ini guru memberikan perlakuan khusus terhadap siswa yang masih mendapat kesulitan belajar melalui program remedial teaching.2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits a. Faktor Pendukung dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits. Dari hasil deskripsi dan analisis data dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung dalam implementasi KTSP pada pembelajaran Al- Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus antara lain : 1) Sarana prasarana pembelajaran di MA Ma’ahid Kudus secara kwantitatif maupun kualitatif sudah cukup memadai. Sarana prasarana tersebut seperti tersedianya fasilitas internet, laboratorium komputer, LCD, Laptop, koran, majalah , perpustakaan yang lengkap, selain itu pembangunan gedung- gedung penunjang juga terus dilakukan. 2) Adanya program-program sekolah dalam rangka implementasi KTSP antara lain : a) Mengadakan sosialisasi mengenai konsep-konsep dasar KTSP dengan melibatkan dari unsur yayasan, moderator yang kompeten dan instruktur Dinas Pendidikan. b) Pembentukan kepanitiaan KTSP, hal ini melibatkan stakeholder antara lain kepala sekolah, guru, konselor, komite sekolah. c) Adanya tim pengembang dan penyusun KTSP yang kinerjanya sangat solid. Tim ini bertugas antara lain menjadi koordinator penyusunan dan pengembangan KTSP, membuat struktur 73
  • 88. program KTSP untuk satu tahun ajaran, menjadi motor penggerak bagi terlaksananya KTSP. 3) Adanya pelajaran lain yang berhubungan dengan pelajaran Al- Qur’an Hadits diantaranya pelajaran Lughot Al-Qur’an, hadits ahkam yang memakai kitab Bulughul Maram, sehingga memudahkan untuk mempelajari Al-Qur’an Hadits. 4) Adanya prestasi siswa maupun alumni yang banyak tersebar disetiap aspek kehidupan. Dikarenakan MA Maahid Kudus merupakan madrasah yang telah lama berdiri di Kudus ini, maka tidak mengherankan ketika banyak alumni-alumninya yang sudah banyak berkecimpung dalam berbagai profesi yang ada. Hal ini menjadikan spirit para guru dan terutama para siswa untuk bisa meraih prestasi seperti para alumni MA Ma’ahid kudus yang telah sukses.b. Faktor Penghambat dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Dari hasil deskripsi data maka dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus adalah sebagai berikut : 1) Dalam KTSP guru dituntut untuk melaksanakan sistem penilaian secara mandiri atau berkelanjutan, namun dalam pelaksanaannya guru Al-Qur’an Hadits belum mampu memenuhi tuntutan tersebut. Adapun faktor yang menjadi penghambat dalam proses penilaian tersebut antara lain adanya perbedaan karakteristik setiap peserta didik, sehingga guru merasa kesulitan untuk mengidentifikasi atau menghafal satu per satu peserta didik tersebut. 2) Dalam KTSP guru dituntut untuk menggunakan metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan seperti : metode inquiry, discovery, contextual, problem solving dan sebagainya. Namun dalam pelaksanaannya guru mengalami beberapa hambatan 74
  • 89. yang cukup serius seperti terbatasnya dana, waktu, serta te naga,sehingga penggunaan metode pembelajaran selama ini belum bisaberlangsung secara optimal. 75
  • 90. BAB V PENUTUPA. Kesimpulan Berdasarkan penelitian mengenai implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits sebagian besar sudah diterapkan sebagaimana mestinya yaitu mengacu pada prinsip-prinsip KTSP, yang meliputi: a. persiapan pembelajaran (pengembangan progam dan penyusunan persiapan mengajar), b. pelaksanaan kegiatan pembelajaran (penggunaan metode atau strategi pembelajran, pengunaan sumber belajar, penggunaan media pembelajaran dan evaluasi hasil belajar). 2. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP di MA Ma’ahid Kudus a. Faktor pendukung dalam implementasi KTSP di MA Ma’ahid Kudus pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits antara lain : Sarana prasarana sudah cukup memadai, adanya sosialisasi mengenai konsep-konsep dasar KTSP, Pembentukan kepanitiaan KTSP, Adanya tim pengembang dan penyusun KTSP, Adanya pelajaran lain yang berhubungan dengan pelajaran Al-Qur’an Hadits, serta dukungan yang kuat dari para alumni MA Ma’ahid Kudus. b. Faktor penghambat dalam implementasi KTSP di MA Ma’ahid Kudus pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits antara lain : Kemampuan guru dalam melakukan penilaian secara mandiri atau berkelanjutan yang masih kurang, terbatasnya (dana, waktu, serta tenaga) dalam penggunaan metode pembelajaran, kurangnya kesiapan siswa untuk belajar mandiri. 76
  • 91. B. Saran Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan prinsip Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), khususnya pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus, maka peneliti menyarankan sebagai berikut : 1. Bagi Guru Al-Qur’an Hadits a. Selalu meningkatkan pemahaman mengenai KTSP dengan mengikuti seminar, workshop, rapat kerja KTSP atau mempelajari buku-buku KTSP, selian itu guru hendaknya menerapkan KTSP secara profesional sehingga proses pembelajaran akan semakin berkualitas. b. Berkaitan dengan penyusunan RPP, guru hendaknya menyususun setiap pertemuan, supaya kondisi lingkungan yang setiap saat dapat berubah bisa disesusuaikan dengan situasi dan kondisi . c. Berkaitan dengan proses pembelajaran guru hendaknya melakukan pretest selain itu, guru dituntut harus lebih inovatif dan kreatif dalam penggunaan metode pembelajaran. d. Berkaitan dengan evaluasi hasil belajar, guru hendaknya meningkatkan kemampuannya dalam proses penilaian secara mandiri atau berkelanjutan. 2. Bagi MA Ma’ahid Kudus a. Pihak sekolah secara berkala melakukan kegiatan seminar, workshop serta rapat kerja mengenai KTSP, sehingga pemahaman guru-guru tentang KTSP akan semakin meningkat. b. Pihak sekolah hendaknya membangun laboratorium multimedia untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an Hadits. 77
  • 92. DAFTAR KEPUSTAKAANArikunto Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktek, Edisis Revisi V. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.Al Maraghy A. Musthofa, Tafsir Al Maraghy(XVII), Mesir: Darul Fikri, 346 H.Feez Susan dan Joyce Helen, “Text-Based Syllabus Design”. Sydney:Macquire University, 1998Hadi Sutrisno, Metodologi Research II, Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1995Hajar Ibnu, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996Khaeruddin dan Junaidi Mahfud, Kurikulum Tingkat Satuan Penddikan (Konsep dan Implementasinya di Madrasah , Jogjakarta: Pilar Media,2007Moleong Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif; Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004Mulyasa E, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006.----------- , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah, Jakarta: Bumi Akasara, 2008.Muslich Masnur. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan Pedoman Bagi Pengelola Lembaga Pendidikan, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Dewan Sekolah, dan Guru, Jakarta: PT Bumi Aksara.Muslich, 2009.Nasution S., Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
  • 93. Peratauran Menteri Agama RI No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah , Jakarta: 2008Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Pendidikan, Jakarta: BP PUSTAKA CITRA MANDIRI, 2007.Rohman Noor, “Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP N 18 Semarang”, skripsi Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2009.Susilo Muhamad Joko , Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(Menejemen Pelaksanaan dan Kesiapan Seklah Menyngsongnya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar , 2006.Sakdullah Muhammd, “Konsepsi Ibnu Khaldun Tentang Belajar dan Relevansinya terhdap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan )”, skripsi Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2009.Sudjana Nana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung: Sinar Baru, 1996.Tjokrosujoso Harsono, “Curriculum and Material Developmen”, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional,2003.Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung : Alfabeta, 2006.----------, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: CV ALFABETA, 2005
  • 94. PEDOMAN WAWANCARA, OBSERVASI DAN DOKUMENTASIIMPLEMENTASI KTSP PADA PEMBELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011A. Pedoman Wawancara 1. Wawancara Untuk Waka Kurikulum a. Apa saja program-program yang telah dilakukan oleh MA Ma’ahid Kudus dalam rangka implementasi KTSP? b. Bagaimana penyusunan silabus Al-Qur’an Hadits di MA Ma’ahid Kudus? c. Sumber belajar apa saja yang dipakai dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits? d. Media pembelajaran apa saja yang dipakai oleh guru Al-Qur’an Hadits dalam pembelajarannya? e. Program apa saja yang dilakukan oleh guru ketika siswa belum mencapai KKM? f. Apa saja faktor pendukung pelaksanaan KTSP di MA Ma’ahid Kudus? g. Apa saja faktor penghambat pelaksanaan KTSP di MA Ma’ahid Kudus? 2. Wawancara Untuk Guru Al-Qur’an Hadits a. Bagaimana pendapat anda tentang KTSP dan apa perbedaannya dengan KBK? b. Apa saja prinsip2 yang harus ada dalam KTSP? c. Langkah apa saja untuk pengembangan program pembelajaran? d. Apa yang anda ketahui dan harus ada dalam penyusunan prota Al- Qur’an Hadits? e. Apa yang anda ketahui dan harus ada dalam penyusunan promes Al- Qur’an Hadits? f. Bagaimana anda menyusun silabus pelajaran Al-Qur’an Hadits g. Hambatan apa saja yang anda alami ketika menyusun silabus
  • 95. h. Apakah anda sudah membuat RPP setiap akan melaksanakan pembelajaran? i. Apa saja yang anda lakukan ketika akan memulai pembelajaran? j. Apakah anda melakukan pre-test ketika akan memulai pembelajaran? k. Metode apa saja yang digunakan dalam proses pembelajaran? l. Apa saja sumber-sumber belajar yang digunakanan dalam proses pembelajaran? m. Media pembelajaran apa saja yang sering anda gunakan dalam mengajar? n. Model penilaian apa saja yang anda gunakan dalam melakukan evaluasi pembelajaran? o. Faktor apa saja yang mendukung terlaksananya KTSP terutama dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits di sekolah ini? p. Hambatan apa saja yang dihadapi ketika melaksanakan KTSP terutama dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits di sekolah ini? 3. Wawancara dengan siswa a. Apakah guru Al-Qur’an Hadits ketika memulai pelajaran melakukan pre-test terlebih dahulu? b. Metode apa saja yang di lakukan oleh guru Al-Qur’an Hadits dalam pembelajaran? c. Sumber belajar apa saja yang dipakai dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits? d. Media pembelajaran apa saja yang dipakai dalam pembelajaran Al- Qur’an Hadits? e. Apa model penilaian yang dipakai oleh guru Al-Qur’an Hadits? f. Hambatan apa saja ketika pembelajaran Al-Qur’an Hadits?B. Pedoman Observasi dan Dokumentasi 1. Pedoman Observasi a. Letak dan keadaan geografis MA Maahid Kudus
  • 96. b. Kondisi dan situasi di dalam dan di luar kelas c. Sarana dan fasilitas untuk kelancaran program pendidikan d. Pengamatan terhadap guru dan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran di MA Maahid Kudus2. Pedoman Dokumentasi a. Sejarah berdirinya dan perkembangan MA Maahid Kudus b. Jumlah guru, latar belakang pendidikan guru c. Jumlah siswa dan perinciannya d. Struktur organisasi MA Maahid Kudus e. Dokumen kurikulum yang di laksanakan di MA Maahid Kudus f. Dokumentasi lain yang berhubungan dengan penelitian.
  • 97. KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH PROGAM KUALIFIKASI S1 GURU RA DAN MADRASAH Alamat: Jl. Prof.Dr. Hamka ( Kampus II) Ngaliyan Semarang Telp. 024-7601295 Fax 7615387Nomor : In.06.3/J1/PP.00.9/ Semarang 28 Januari 2011Lamp :Hal : Penunjukan Pembimbingan Kepada Yth : Sdri Tuti Qurrotul Aini, M.SI. Di Semarang Assalamu’alikum Wr. Wb. Berdasarkan hasil pembahasan usulan judul penelitian di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), maka Fakultas Tarbiyah menyetujui judul skripsi mahasiswa: Nama : Mohamad Shokeh NIM : 093111371 Judul :“IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL- QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011”. dan menunjuk saudari Tuti Qurrotul aini, M.SI. sebagai pembimbing skripsi Wassalamu’alikum Wr. Wb. a.n. Dekan ketua program Ahmad Muthohar, M.Ag. NIP. 196911071996031001Tembusan1. Dekan2. Mahasiswa yang bersangsukatan3. Arsip
  • 98. KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH Jl. Pro f.Dr. Hamka Kampus II Ngaliyan Telp. 7601295 Fax 7615387 Semarang 50185Nomor : In.06.3/D.I/TL.00/2060/2011 Semarang, 25 Mei 2011Lamp : 1(satu) ProposalHal : Mohon Izin Riset A.n. : Mohamad Shokeh NIM : 093111371 Kepada Yth. : Kepala MA Ma’ahid Krapyak Di Kudus Assalamu’alaikum Wr. Wb. Diberitahukan dengan hormat, bahwa mahasiswa kami yang bernama Mohamad Shokeh NIM : 093111371 sangat membutuhkan data sehubungan dengan penulisan skripsi yang berjudul: “IMPLEMENTASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS DI MA MA’AHID KUDUS TAHUN AJARAN 2010/2011” di bawah bimbingan saudara Tuti Qurrotul Aini, M.SI. Untuk itu kami mohon agar Mahasiswa tersebut diberi izin untuk melaksanakan penelitian di MA Ma’ahid Krapyak Kudus selama 30 hari Atas izin yang diberikan kami ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. A.n Dekan Pembantu Dekan I Dr. H. Ruswan, MA NIP. 196804241993031004Tembusan :Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
  • 99. RIWAYAT HIDUPA. Identitas Diri 1. Nama Lengkap : Mohamad Shokeh 2. Tempat & Tgl. Lahir : Demak, 04 Juli 1983 3. NIM : 093111371 4. Alamat Rumah : Desa Undaan Lor Rt. 07 Rw. II Gang 12 Undaan Kudus HP : 081326736176 E-Mail : shoceh_boyle@yahoo.comB. Riwayat Pendidikan 1. Pendidikan Formal a. SD 1 Wates Undaan Kudus lulus tahun 1996 b. Madrasah Tsanawiyah Ma’ahid Krapyak Kudus lulus tahun 1999 c. Madrasah Aliyah Ma’ahid Krapyak Kudus lulus tahun 2003 d. D2 STAIN Kudus lulus tahun 2006 2. Pendidikan Non Formal a. -C. Prestasi Akademik 1. –D. Karya Ilmiah 1. – Semarang, 1 Juni 2011 Mohamad Shokeh NIM : 093111371