BAB 5 : Kemiskinan, Ketimpangan, dan Pembangunan
Definisi Kemiskinan
Kemiskinan merupakan ketidakmampuan untuk memenuhi st...
Mengukur Ketimpangan
Distribusi Ukuran
The Lorenz Curve

Meperkirakan Koefisien Gini

Distribusi Fungsional
Ukuran Distrib...
suatu satandar minimum di mana seorang hidup dalam “kesengsaraan absolute manusia” yaitu ketika
kesehatan seseorang sangat...
Alasan kedua yang harus dipertimbangkan menyangkutketimpangan yang terjadidiantara
penduduk yang berada diantara garis kem...
KoefisienGini

0,75

0,50
0.35
0,2
5

Pendapatannasionalbruti per kapita

Pada tahap-tahap awal pembangunan distribusi pen...
3. Pendapatan yang rendah dan standar hidup yang buruk yang dialami oleh golongan miskin.
4. Peningkatan tingkat pendapata...
Kaum wanita dan kemiskinan
Mayoritas pnduduk miskin dunia adalah kaum wanita. Jika di bandingkan standar hidup penduduk
te...
berasal dari negara miskin. Walapun tampak seperti pengamatan yang remeh, pernyataan tersebut
sebenarnya mengandung optimi...
timpang. Serta ketimpangan kesepakatan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan (penghasilan) yang
layak yang merupakan c...
timpang. Serta ketimpangan kesepakatan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan (penghasilan) yang
layak yang merupakan c...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Kemiskinan, ketimpangan, dan pembangunan

3,745

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
3,745
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
136
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Kemiskinan, ketimpangan, dan pembangunan"

  1. 1. BAB 5 : Kemiskinan, Ketimpangan, dan Pembangunan Definisi Kemiskinan Kemiskinan merupakan ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Kemiskinan ada 2 bagian: 1. Kemiskinan absolut (jumlah penduduk yg hidup dibawah garis kemiskinan yg tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya) 2. Kemiskinan relatif (pendapatan nasional yg diterima oleh masing2 Gol Pendapatan) Ukuran Kemiskinan Kemiskinan biasanya dilihat dari garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi individu. Garis kemiskinan menghitung pengeluaran yang diperlukan untuk membeli standar gizi minimum dan kebutuhan dasar(makanan pokok) Indikator kemiskinan di Indonesia BPS mengukur kemiskinan dengan 2 cara : 1. Pendekatan Kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan ini mengukur kemiskinan melalui ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar/makanan yg dipatok 2.100 kalori perhari. 2. Head Count Index, mengukur kemiskinan dg menggunakan nilai rupiah dg pendapatan Minimal $ 2 Per hari Penyebab kemiskinan  Terlalu menggantungkan diri pada sektor pertanian dg produksi yg masih tradisional  Kepemilikan sumber daya yg tidak sama yg menimbulkan distribusi pendapatan yg timpang  Perbedaan kualitas Sumber daya manusia  Perbedaan terhadap akses modal Solusi  Mobilisasi tenaga kerja pedesaan yg belum didayagunakan  Menyusun kerangka lembaga pedesaan  Transfer sumber daya pertanian ke industri  Pertanian dg teknologi Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat
  2. 2. Mengukur Ketimpangan Distribusi Ukuran The Lorenz Curve Meperkirakan Koefisien Gini Distribusi Fungsional Ukuran Distribusi pendapatan kedua yang lazim digunakan oleh kalangan ekonom adalah distribusi pendapatan fungsional atau pangsa distribusi pendapatan per faktor produksi (functional or factor share distribution of income). Ukuran ini berfokus pada bagian dari pendapatan nasional total yang diterima oleh masing-masing produksi (tanah, tenaga kerja, dan modal). Teori distribusi pendapatan fungsional ini pada dasaranya mempersoalkan persentase penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan, bukan sebagai unit-unit usaha atau faktor produksi yang terpisah secara individual, dan membandingkannya dengan persentase pendapatan total yang dibagikan dalam bentuk sewa, bunga, dan laba (masing-masing merupakan perolehan dari tanah, modal uang dan fisik). Sudah cukup banyak keputakaan teoritis yang dibangun atas dasar konsep distribusi pendapatan fungsional (functional income distribution )tersebut. Masing-masing mencba menjelaskan besar atau kecilnya pendapan dari suatu faktor produksi dengan memperhitungkan kontribusi faktor tersebut terhadap keseluruhan kegiatan produksi. MENGUKUR KEMISKINAN ABSOLUT Cakupan kemiskinan adalah Sejumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup untuk mememnuhi kebutuhan dasar. Mereka hidup di bawah tingkat pendapatan rill minimum tertentu atau di bawah “garis kemiskinan Internasional”. Garis tersebut tidak mengenal tapal batas antarnegara, tidak tergantung pada tingkat pendapatan per kapita di sautu Negara, dan juga memperhitungkan perbedaan tingkat harga antarnegara dengan mengukur penduduk miskin sebagai orang yang hidup kurang dari U$$1 atau U$$2 per hari dalam dolar PPP. Kemiskinan absolut dapat diukur dengan angka , atau “hitungan per kepala (Headaccount)”, H, Untuk Mengetahui seberapa banyak orang yang penghasilannya berada di bawah garis kemiskinan absolut, Y. Ketika Hitungan per kepala tersebut dianggap sebagai bagian dari populasi total, N, Kita memperoleh indeks per kepala (headaccount index), H/N. Garis kemiskinan ditetapkan pada tingkat yang selalu konstan secara riil, sehingga kita dapat menelusuri kemajuan yang diperoleh dalam menanggulangi kemiskinan pada level absolute sepanjang waktu. Gagasan yang mendasari penetapan level ini adalah
  3. 3. suatu satandar minimum di mana seorang hidup dalam “kesengsaraan absolute manusia” yaitu ketika kesehatan seseorang sangat buruk. Ukuran Foster-Greer-Thorbecke terkadang kita mengukur derajat ketimpangan pendapatan di antara kaum miskin, seperti koefisien Gini antarkaum miskin, Gp,atau Koefisien variasi pendapatan (CV) antarkaum miskin, CVp. Koefisien Gini atau CV antarkaum miskin tersebut penting diketahui karena dampak guncangan perekonomian terhadap Kemiskinan dapat sangat berbeda, tergantung pada tingkat distribusi sumber daya di antara kaum miskin. Seperti dalam ukuran Ketimpangan, Terdapat beberapa Kriteria ukuran kemiskinan yang diinginkan yang telah diterima secara luas oleh para ekonom pembangunan, yaitu prinsip-prinsip anonimitas, indepedensi populasi, monotonisitas, dan sensitivitas distribusional. Dua prinsip yang pertama sangat mirip karakteristiknya yang dgunakan untuk membahas indeks ketimpangan: Ukuran cakupan kemiskinan tidak boleh tergantung pada siapa yang miskin atau apakah Negara tersebut mempunyai jumlah penduduk yang banyak atau sedikit. Prinsip monotonisitas berarti bahwa jika anda memberi sejumlah uang kepada seseorang yang beradadi bawah garis kemiskinan, dan jika semua pendapatan yang lain tetap, maka kemiskinan yang terjadi tidak mungkin lebih tinggi daripada sebelumnya. Prinsip Sensitivitas distribusioanl menyatakan bahwa, dengan semua hal lainnya sama, Jika Anda Mentransfer pendapatan dari orang miskin ke orang kaya, maka akibtanya perekonomian akan menjadi lebih miskin. Ukuran rasio headacount atau per kepala memnuhi syarat anonimitas, indepedensi populasi, dan monotonisitas, namun gagal memenuhi syarat sensitivitas distribusional (dengan kata lain, rasio ini tidak akan menghitung dampak diferensial dari kenaikan harga beras). Sedangkan headacount yang sederhana gagal, bahkan untuk memenuhi prinsip indepedensi populasi. Kemiskinan, Ketimpangan, dan Kesejahteraan Sosial Masalah yang ditimbulkan oleh kemiskinan absolute sudah jelas. Tidak ada masyarakat beradab yang dapat merasa nyaman dengan kondisi dimana rekan-rekan senegaranya bearada dalam kesengsaraana bsolute karena kemiskinan yang di deritannya. Namun masuk alal juga bila ditanyakan, jika prioritas utama kita adalahpemberantasan kemiskinanabsolute, mengapa ketimpangan relatif juga harus diperhatikan? Jika ketimpangan diantara golongan miskin merupakan faktor penting untuk memahami kedalaman kemiskinan dan dampak perubahan pasar sertakebijakan terhadap rakyat miski, mengapa kita juga harus memperhatikan ketimpangan yang terjadi diantara orang-orang yang berada di atas garis kemiskinan ? Pertama, ketimpangan pendapat yang ekstrem menyebabkan efisiensi ekonomi. Penyebabnya sebagian adalah, pada tingkat pendapatan rata- rata berapa pun, ketimpangan yang semakin tinggi akan mengakibatkan semakin kecilnyabagian populasi yang memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman atau sumber kredit yang lain. Disamping itu, salah satu definisi dari kemiskinan relatif adalah ketiadaaan kolateral. Ketika individu yang berpenghasilan rendah tidak dapat meminjam uang, pada umumnya mereka tidak dapat menyediakan pendidikan yang memadai bagi anak mereka atau memulai dan mengembangkan bisnis.Disamping itu, ketimpangan dapat menyebabkan alokasi yang tidak efisien. Ketimpangan yang tinggi menyebabkan penekanan yang terlalu tinggi pada pendidikan tinggi dengan mengorbankan kualitas universal pendidikan dasar.
  4. 4. Alasan kedua yang harus dipertimbangkan menyangkutketimpangan yang terjadidiantara penduduk yang berada diantara garis kemiskinan adalah bahwa, disparitas pendapatan yang ekstrem melemahkan stabilitas sosial dan solidaritas. Lebih celaka lagi, ketimpangan yang tinggi justru memperkuat kekuatan politisi golongan karya, disamping kekuatan tawar-menawar ekonomi mereka. Ketimpangan yang tinggi mempermudah ”pemburuan rante”, yang meliputi berbagai tindakan seperti lobi, sumbangan politisi yang besar, penyuapan, dan kronisme. Akhirnya, ketimpangan yang ekstrem pada umumnya dipandang tidak adil. John rawls, seorang filsuf terkenanl, mengajukan sebuah eksperimen pikiran untuk membantumenjelaskan mengapa demikian. Seandainya, sebelum anda dilahirkan didunia ini, anda mendapat kesempatan untuk memilih keseluruhan derajat ketimpangan diantara penduduk bumi-tetapi anda tidak diperkenankan memilih identitas anda sendiri. Akibatnya, sebagian besar orang akan memilih negara dengan tingkat ketimpangan pendapatan tertentu, dengan asumsi bahwa tingkat ketimpangan berhubungan dengan insentif untuk bekerja keras atau berinovasi. Pembangunan dualistik dan Pergeseran Kurva Lorenz: Sejumlah tipologi Khusus: Dalam buku klasiknya yang berjudul Poverty, inequality, and development, gary fields menunjukan penggunaan kurva lorennz untuk menganalisis tiga kasus terbatas dalam pembangunan dualistik. Ia membedakannya menjadi tiga tipologi pembangunan. 1. Tipologi pertumbuhan perluasan sektor modern (modern-sectir enlargement), dimana usaha pengembangan ekonomi dua sektor (sektor industri modern dan sektor industri tradisional) bertumpuh pada pembinaan dan pemekaran ukuran sektor modern dengan mempertahankan tingkat upah di kedua sektor. 2. Tipologi pertumbuhan pengayaan (enrichment) sektor tradisional. Disini perekonomian memang tumbuh, tetapi yang benar-benar menikmati buah pertumbuhan itu hanya terbatas pada segelintir orang yang bberkecimpung di sektor moder, sedangkan jumlah pekerja maupun tingkat upah kaum pekerja di sektor tradisional tetap. Hal ini seperti sering dijumpai di berbagai perekonomian di amerika latin dan afrika. 3. Dalam tipologi pertumbuhan ini hampir semua manfaat pertumbuhan tercurah secara merata ke para pekerja di sektor tradisional, dan hanya sedikit saja atau bahkan tak ada yang dinikmati oleh sektor industri modern. HIPOTESIS KURVA U-TERBALIK KUZNETZ Simon kunetz mengatakan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap selanjutnya, distribusi pendapatan akan membaik. Observasi inilah yang kemudian dikenal sebagai kurva kunetz “ U-terbalik”, seiring dengan naiknya GNI per kapita, pada beberapa penelitian kuznetz.
  5. 5. KoefisienGini 0,75 0,50 0.35 0,2 5 Pendapatannasionalbruti per kapita Pada tahap-tahap awal pembangunan distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun cenderung membaik. Sebagian besar dari ulasan tersebut mengaitkannya dengan kondisi-kondisi dasar perubahan yang bersifat stuktural. Menurut model Lewis, tahapan pertumbuhan awal akan terpusat di sector industry modern, yang mempunyai lapangan kerja terbatas namun tingkat upah dan produktifitas terhitung tinggi. Disamping itu imbalan yang diperoleh dari investasi di sector pendidikan mungkin akan meningkat terlebih dahulu, karena sector modern yang muncul memerlukan tenaga kerja terampil, namun imbalan ini akan menurun karena penawaran tenaga kerja mendidik meningkat dan penawaran tenaga kerja tidak terdidik menurun. Namun kita telah melihat bahwa, dampak pengayaan sector traditional dan sector modern terhadap ketimpangan pendapatan akan cenderung bergerak berlawanan arah, sehingga perubahan neto pada ketimpangan bersifat mendua, dan validita sempiris kurva kunetz masih patut dipertanyakan. Selama bertahun-tahun, validitas kurva kunetz selalu diliputi kontroversi.Dalam penelitian crosssection, sering disebutkan bahwa banyak negara-negara berpendapatan menengah ditemukan di amerika latin yang mana dulu dikenal mempunyai ketimpangan pendapatan tertinggi didunia. Hasilnya, pengaruh efek dominan dari amerika latin telah terbukti. Bahkan, dibanyak Negara tidak ditemukan adanya kecenderungan bahwa ketimpangan pendapatan akan berubah banyak selama proses pembangunan ekonomi. Pertumbuhan Dan Kemiskinan Terdapat pendapat yang santer terdengar di kalangan pembuat kebijakan bahwa pengeluaran public yang digunakan untuk menanggulangi kemiskinan dan mengurangi dana yang dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan.Selain tabungan keuangan,golongan miskin cenderung membelanjakan tambahan pendapatan untuk memperoleh gizi yang lebih baik, pendidikan untuk anak-anak mereka, perbaikan kondisi rumah, dan pengeluaran-pengeluaran lain yang lebih mencerminkan investasi dan bukan konsumsi, khususnya jika dilihat dari sudut pandang orng miskin. Paling tidak terdapat lima alasan mengapa kebijakan yang ditunjukan untuk mengurangi kemiskinan tidak harus memperlambat lajupertumbuhan. 1. Kemiskinan yang meluas menciptakan kondisi yang membuat kaum miskin tidak mempunyai akses terhadap pinjaman kredit. 2. Akal sehat,yang didukung dengan banyak nya data empiris terbaru,menyaksikan fakta.
  6. 6. 3. Pendapatan yang rendah dan standar hidup yang buruk yang dialami oleh golongan miskin. 4. Peningkatan tingkat pendapatan golongan miskin akan mendorong kenaikan permintaan produk kebutuhan rumah tangga buatan lokal. 5. Penurunan kemiskinan secara missal dapat menstimulasi ekspansi ekonomi yang lebih sehat karena merupakan insentif materi dan psikologis yang kuat bagi meluas nya partisipasi public dalam proses pembangunan. Kondisi yang terakhir bahkan dapat menciptakan penolakan masyarakat luas terhadap kemajuan dan ketidaksabaran terhadap laju pembangunan atau terhadap kegagalan untuk mengubah kondisi material mereka. Pengurangan dramatis dalam kemiskinan tidak harus saling berlawanan dengan pertumbuhan yang tinggi,seperti yang terlihat dalam berbagai studi kasus maupun dalam data perbandingan antarnegara. Tentu saja, hubungan yang dekat antara pertumbuhan ekonomi dengan kemajuan yang terdiri di antara golongan miskin tidak begitu saja mengidikasikan hubungan sebab akibat.sebagian daris kemajuan yang dinikmati golongan miskin dapat saja berasal pendapatan pendidikan, dan kesehatan yang lebih baik di antara golongan miskin untuk mempercepat pertumbuhan secara menyeluruh (seperti yang telah diisyaratkan oleh sejumlah argument yang telah dikemukakan sebelumnya). Karakteristik Ekonomi Kelompok Masyarakat miskin Sampai sekian jauh, kita telah memperoleh gambaran secara garis besar atas masalah distribusi pendapatan dan kemiskinan di Negara-negara berkembang.kita telah memehami bahwa perpaduan tingkat pendapatan perkapita yang rendah dan distribusi pendapatan sangat tidak merata akan menghasilkan kemiskinan absolute yang parah. Tingginya tingkat pendapatan per kapita tidak menjamin lebih rendah nya tingkat kemiskinan absolute.pemahaman terhadap hakikat distribusi ukuran pendapatan merupakan landasan dasar bagi setiap analisi masalah kemiskinan di Negara-negara yang berpendapatan rendah. Kemiskinan Di Pedesaan Salah satu generasi yang terbilang paling valid mengenai penduduk miskin adalah bahwasannya mereka pada umumnya bertempat tinggal di derah-daerah pedesaan, dengan mata pencarian pokok di bidang-bidang pertanian. Telah diketahui sejak lama bahwa sekitar dua pertiga penduduk miskin di Negara-negara berkembang masih menggantungkan hidup mereka pada pertanian yang subsisten, baik sebagai petani kecil atau buruh tani yang berpenghasilan rendah.selanjutnya, sertiga penduduk miskin lainnya kebanyakan juga tinggal di pedesaan dan mereka hanya mengandalkan hidupnya dari usah jasa kecilkecilan. Yang menarik.walaupun sebagian besar penduduk dengan kemiskinan absolut tinggal di daerah pedesaan, bagian terbesar dari pengeluaran sebagian besar pemerintah Negara berkembang selama seperempat abat terakhir justru lebih tercurah ke daerah-daerah perkotaan dan berbagai sector ekonominya, yakni sector-sektor manufaktur modern dan sektor konersial. Yang perlu dikemukakan disini adalah, karena sebagian besar penduduk miskin tinggal di daerahdaerah pedesaan, maka setiap kebijakan pemerintah yang ditunjukan untuk menanggulangi kemiskinan seharusnya sebagian besar ditunjukan ke program-program pembangunan pedesaan dan melalui pembenahan sector-sektor pertanian pada khususnya.
  7. 7. Kaum wanita dan kemiskinan Mayoritas pnduduk miskin dunia adalah kaum wanita. Jika di bandingkan standar hidup penduduk termiskin di berbagai negara berkembang. Merekalah yang paling menderita, kemiskinan dan kekurangan gizi dan mereka pula yang paling sedikit menerima pelayanan kesehatan, air bersih, sanitasi dan berbagai bentuk jasa sosial lainnya. Segmen masyarakat termiskin dunia ketiga hidup dalam rumah tangga yang di kepalai wanita, karena di dalam rumah tangga itu tidak ada pria yang dapat memberi nafkah. Karena potensi mereka dalam membuat pendapatan sendiri jauh lebih rendah dari pada potensi yang di miliki oleh kaum pria, mereka dan keluarga yang di asunya merupakan anggota tetap kelompok masyarakat yang paling miskin. Di daerah-daerah perkotaan sekali pun, kaum wanita sulit mendapatkan pekerjaan formal di perusahaan swasta maupun di lembaga pemerintahan. Akibatnya, mereka terpaksa terkungkung dalam bidang-bidang kerja yang berpenghasilan atau yang berproduktivitas rendah, bahkan yang ilegal. Di pedesaan, situasinya sama sekali tidak baik kaum wanita di situ juga sulit mendapatkan yang akan memberikan sejumlah penghasilan secara tetap dan sering menjadi pokok bahasan dalam peraturanperaturan yang di tunjukan untuk melaraskan pendapatan pontesial. Namun pendapatan rumah tangga saja itu belum cukup untuk menjelaskan kesengsaraan relatif yang di derita kaum wanita karena keluarga yang di kepalai oleh wanita umumnya ditemui pada sekmen masyarakat termiskin. Selain itu, hanya sedikit di antara mereka bisa meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi karena mereka sejak dini sudah harus turut bekerja,atau sedikit mencari sedikit penghasilan dalam rangka menegakan tiang ekonomi keluarga . Indikator yang tidk bisa diandalkan untuk mengukur tinggi rendah nya kesejahtraan seseorang karena distribusi pendappatan di dalam keluarga tersebut juga berbeda-beda.berbagai penelitian tentang alokasi sumber daya dalam setiap rumah tangga meunjukan secara jelas bahwa di kawasan dunia kecukupan gizi, pelayanan kesehatan, taraf pendidikan dan warisan yang di terima oleh kaum wanita lebih rendah dari pada yang di nikmati oleh kaum pria. Kenyataannya bahwa kesejatraan wanita dan anak-anak sangat di pengaruhi rancangan kebijakan ekonomi pemerintah yang menggarisbawahi penting nya memasukan kaum wanita ke dalam program pembangunan, guna memperbaiki taraf hidup penduduk termiskinperan ekonomi kaum wanita harus di perhitungkan. Bertolak dari hal tersebutmaka penigkatan kesjahtraan keluarga hanya di harap kan setelah adanya program-program pembangunan yang secara nyata akan mampu menigkatkan partisipasi kaum wanita dalam pendidikan dan pelatihanpenciptaan lapangan kerja di sektor formal, serta dalam pengembangan pertanian. Etnik minoritas, penduduk pribumi dan kemiskinan Dalam beberapa tahun trakhir ini, konflik-konflik domestik dan bahkan perang saudara bersumber dari persepsi berbagi kelompok etnis yang menggap bahwa mereka tersisis dalam persaigan memperebutkan sumber daya dan lapangan kerja yang terbatas. Meskipun kemiskinan relatif yang diderita oleh etnis minoritas dan penduduk pribumi sulit di peroleh (karena pertimbangan –pertimbangan politik, hanya sedikit sekali negara yang bersedia mengakat masalah ini). Hasilnya secara jelas menunjukan bahwa sebagian besar penduduk pribumi itu sangat miskin dan mengalami malnutrisi, buta huruf, hidup dalam lingkungan kesehatan yang buruk serta menganggur. Akhir nya harus diingat bhwa kaum miskin
  8. 8. berasal dari negara miskin. Walapun tampak seperti pengamatan yang remeh, pernyataan tersebut sebenarnya mengandung optimisme. Lebih jauh lagi banyak negara-negara termiskin di Afrika sub-sahara yang tidak tumbuh namun justru mengalami penurunan pendapat perkapita. Di antara negara-negara yang mengalami pertumbuhan, dengan tingkat pertumbuhan yang sekarang, tampaknya di perlukan berpuluhpuluh tahun lagi mencapai tingkat pendapatan yang dapat membratas kemiskinan. Cakupan pilihan kebijakan : beberapa pertimbangan dasar Negara-negara berkembang yang berkeingian untuk mengetaskan kemiskinan serta menaggulangi ketimpang distribusi pendapatan haruslah mengetahui segenap pilihan cara yang tersedia, dan memilih yang terbaik di antaranya, untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut . Namun kebijakan-kebijakan ekonomi di negara berkembang dalam rangka menaggulangi masalah kemiskinan. Maka kita dituntut untuk mengetahui dan memahami segenap faktor penentu atau determain dari distribusi pendapatan dalam suatu perekonomian dan juga memahami intervensi pemerintah yang menimbulkan pengaruh yang benar-benar efektif. Cakupan pilihan kebijakan; Beberapa Pertimbangan Dasar Bidang-bidang intervensi Kita dapat mengidentifikasikan empat bidang luas yang terbuka bagi intervensi kebijakan pemerintah yang berkaitan erat dengan ke empat elemen pokok tersebut, keempat elemen pokok tersebut adalah sebagai berikut; 1. Mengubah distribusi fungsional 2. Memeratakan distribusi ukuran 3. Meratakan(mengurangi) distribusi ukuran golongan penduduk berpenghasilan tinggi 4. Meratakan(meningkatkan) distribusi ukuran golongan penduduk berpenghasilan rendah Perbaikan distribusi pendapatan fungsional melalui serangkaian kebijakan yang khusus dirancang untuk mengubah harga-harga relatif faktor produksi. perbaikan distribusi pendapatan fungsional adalah pendekatan khas yang sering di anjurkan oleh para tokoh ilmu ekonomi tradisional. Pendekatan ekonomi tradisional tersebut menyatakan bahwa sebagai akibat dari adanya kendala-kendala kelembagaan dan keliruan kebijakan pemerintah, harga relative tenaga kerja (tingkat upah) akan menjadi lebih tinggi daripada yang ditentukan oleh mekanisme pasar (kekuatan penawaran dan permintaan). Perbaikan distribusi ukuran melalui redistribusi progresif kepemilikan aset-aset Jika tingkat harga dan utilisasi (pendayagunaan) atas setiap jenis factor produksi (tenaga kerja,tanah,serta modal) sudah optimal, maka kita dapat dengan mudah memperkirakan penerimaan total dari masing-masing aset tersebut.determinan terpenting yang menentukan merata atau tidaknya distribusi pendapatan di suatu masyarakat atau Negara: penyebat nomor satu atas timpangnya distribusi pendapatan per kapita di hampir semua Negara berkembang adalah sangat tidak meratanya kepemilikan aset /kekayaan(asset ownership) di Negara-negara ini.oleh karena itu, strategi kebijakan kedua yang mungkin lebih penting dalam rangka mengentaskan kemiskinan serta memperbaiki distribusi pendapatan adalah upaya pengurangan pemusatan penguasaan atau kepemilikan aset tersebut, distribusi kekuasaan yang
  9. 9. timpang. Serta ketimpangan kesepakatan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan (penghasilan) yang layak yang merupakan ciri-ciri Negara berkembang. Pengurangan distribusi ukuran golongan atas melalui pajak pendapatan dan kekayaan yang progresif Salah satu sumber utama yang sangat pontensial bagi pembiayaan pembangunan itu adalah pengenaan pajak langsung dan progresif terhadap pendapatan maupun kekayaan.struktur pajak progresif, dalam pelaksanaannya, sering berubah secara ajaib menjadi pajak regresif (regressive tex).sehingga kelompok masyarakat yang berpendapatannya rerndah dan menengah membayar pajak dalam proporsi yang lebih besar dari pendapatan mereka dibandingkan kelompok yang berpenghasilan tinggi.alasannya sederhana saja. Kelompok penduduk miskin langsung di kenai pajak pada usmber pendapatan atau pengeluarannya.
  10. 10. timpang. Serta ketimpangan kesepakatan untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan (penghasilan) yang layak yang merupakan ciri-ciri Negara berkembang. Pengurangan distribusi ukuran golongan atas melalui pajak pendapatan dan kekayaan yang progresif Salah satu sumber utama yang sangat pontensial bagi pembiayaan pembangunan itu adalah pengenaan pajak langsung dan progresif terhadap pendapatan maupun kekayaan.struktur pajak progresif, dalam pelaksanaannya, sering berubah secara ajaib menjadi pajak regresif (regressive tex).sehingga kelompok masyarakat yang berpendapatannya rerndah dan menengah membayar pajak dalam proporsi yang lebih besar dari pendapatan mereka dibandingkan kelompok yang berpenghasilan tinggi.alasannya sederhana saja. Kelompok penduduk miskin langsung di kenai pajak pada usmber pendapatan atau pengeluarannya.

×