Your SlideShare is downloading. ×
Tesis rasio
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Tesis rasio

8,829
views

Published on

Published in: Business, Economy & Finance

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
8,829
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
532
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. PERANAN ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI KESEHATAN PERUSAHAAN TEKSTIL DAN ALAS KAKI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA (Periode Penelitian 2003 – 2006) TESIS Oleh DAULAT SIHOMBING 037017037/Akt SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008Daulat Sihombing : Peranan Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Kesehatan Perusahaan Tekstil…, 2008USU e-Repository © 2008
  • 2. PERANAN ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI KESEHATAN PERUSAHAAN TEKSTIL DAN ALAS KAKI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA (Periode Penelitian 2003 – 2006) TESIS Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Akuntansi Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Oleh DAULAT SIHOMBING 037017037/Akt SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008
  • 3. Judul Tesis : PERANAN ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI KESEHATAN PERUSAHAAN TEKSTIL DAN ALAS KAKI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTANama Mahasiswa : Daulat SihombingNomor Pokok : 037017037Program Studi : Ilmu Akuntansi Menyetujui Komisi Pembimbing(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak) (Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, Ak) Ketua Anggota Ketua Program Studi Direktur(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., MSc)Tanggal lulus : 24 Juni 2008
  • 4. Telah diuji pada :Tanggal 24 Juni 2008PANITIA PENGUJI TESISKetua : Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, AkAnggota : 1. Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, Ak 2. Dr. Agusni Pasaribu, MBA, Ak 3. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak 4. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak
  • 5. ABSTRACT Fundamental analysis is used to appraise the investment on stocks due to itsability to produce the determinant variables of the future stocks price. Analysisfundamental concept is to appraise the information about the stocks, then decidewhich stocks are worth buying and unworth buying. This research focused on theanalysis of fundamental factors affecting on the manufacture listed emitens in JakartaStock Exchange. The research was conducted the manufacture listed emittens in Jakarta StockExchange by employed 51 samples data used is time series data from 2004 – 2006.The indepent variables are return on equity (ROE), debt to equity ratio (DER), netbook value (NBV), divident payout ratio (DPR), dividend growth (GTH) andexpected profit (KSS), and the stck price as dependent variable, and then estimatedwith multiple linear regression to see the impact of the independent variables on thedependent variable partially and simultaneously. The estimation result shows that Net Book Value (NBV) had dominantlyimpact on stock manufacture listed emitters partially; it meant that NBV was the mostimportant factor in appraising the stocks price. Moreover, all the independentvariables simultaneously affected on the stock price of the manufacture listed emittersin Jakarta Stock Exchange.Keywords: Return on equity (ROE), Debt to equity ratio (DER), Net book value (NBV), Dividend payout ratio (DPR), Dividend growth (GTH), Expected rate of return (KSS) and Closing stock prices (CLP).
  • 6. ABSTRAK Analisis fundamental digunakan untuk menilai kelayakan investasi padasaham karena dapat menghasilkan variabel-variabel yang menentukan harga sahamdi masa mendatang. Konsep penilaian saham dengan analisis fundamental akanmenghasilkan informasi tentang apakah saham tertentu layak dibeli atau tidaklayak, dalam penelitian ini difokuskan pada analisis pengaruh faktor-faktorfundamental terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di BursaEfek Jakarta. Penelitian dilakukan terhadap 51 sampel perusahaan manufaktur yangterdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan data time series dari tahun 2004sampai dengan tahun 2006. Variabel yang digunakan adalah return on equity (ROE),debt to equity ratio (DER), net book value (NBV), dividend payout ratio (DPR),dividend growth (GTH) dan tingkat keuntungan yang diharapkan (KSS) sebagaivariabel independen dan harga saham perusahaan (CLP) sebagai variabel dependen.Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda untuk melihat besarnyakontribusi masing-masing variabel secara individu dan secara simultan dalammempengaruhi harga saham Hasil pengujian menunjukkan bahwa net book value (NBV) mempunyaipengaruh yang paling dominan terhadap harga saham perusahaan manufaktur. Hal iniberarti bahwa net book value (NBV) merupakan tolok ukur yang lebih baik dalammenilai harga saham perusahaan. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa keenamvariabel independen yaitu return on equity (ROE), debt to equity ratio (DER), netbook value (NBV), dividend payout ratio (DPR), dividend growth (GTH) dan tingkatkeuntungan yang diharapkan (KSS) berpengaruh secara simultan terhadap hargasaham perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Jakarta.Kata Kunci : Return on equity (ROE), Debt to equity ratio (DER), Net book value (NBV), Dividend payout ratio (DPR), Dividend growth (GTH), Tingkat keuntungan yang diharapkan (KSS) dan Harga saham (CLP).
  • 7. KATA PENGANTAR Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkanrahmat dan hidayah serta bimbingan-Nya selama mengikuti perkuliahan danmenyelesaikan tesis ini, yang berjudul ”Analisis Pengaruh Faktor-FaktorFundamental Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar diBursa Efek Jakarta”. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan berbagai pihak tidakmungkin tesis dapat terselesaikan. Untuk ini perkenankan penulis menyampaikan rasaterima kasih yang tulus kepada :1. Bapak Prof.Chairuddin P.Lubis, DTM&H, SpA(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan program magister.2. Ibu Prof.Dr.Ir.T.Chairun Nisa B, M.Sc dan Prof.Dr.Ir. Rahim Matondang selaku direktur dan pembantu direktur 1 sekolah pasca sarjana Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan kami menjadi mahasiswa program magister akuntansi pada sekolah pasca sarjana Universitas Sumatera Utara.3. Ibu Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak selaku ketua program studi Magister Ekonomi Akuntansi Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara atas kesempatan kami untuk menyelesaikan pendidikan program magister akuntansi.4. Ibu Prof.Dr.Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak dan Bapak Syahyunan, SE, M.Si selaku pembimbing yang telah memberikan perhatian dan dorongan melalui bimbingan dan saran dalam penyelesaian tesis ini.5. Bapak Drs.Rasdianto, MA, Ak, Bapak Drs.Idhar Yahya, MBA, Ak dan Ibu Dra.Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak selaku dosen penguji. Terima kasih atas saran dan masukannya atas kesempurnaan Tesis ini.6. Seluruh dosen dan Guru Besar pada Sekolah Pasca Sarjana Ekonomi Akuntansi.
  • 8. 7. Sembah sujud penulis kepada Ibunda tercinta, yang selalu memberikan semangat kepada penulis, dan Ayahanda tercinta, yang terus mendukung untuk menyelesaikan studi. Doa dan kasih sayang penulis selalu untuk papi dan mami.8. Abanganda Mangatas Manurung SE, M.Si dan Roy Rahmatsyah, SP, atas segala bantuan dan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan studi ini.9. Adik – adikku yang tercinta Ade dan Arif, terima kasih atas bantuannya pada abangda.10. Terima kasih juga kepada staf administrasi Sekolah Pascasarjana : Bang Ari, Kak Dori, Kak Yuli, Bang Dedi dan teman – teman seangkatan di Sekolah Pascasarjana Ilmu Akuntansi Universitas Sumatera Utara.11. Khusus Rekan – rekan di Badan Pemeriksa Keuangan dan teman – teman lainnya yang pada kesempatan ini tidak dapat penulis cantumkan namanya satu persatu. Penulis menyadari bahwa dengan keterbatasan pengetahuan penulis, maka hasil penelitian ini masih perlu disempurnakan. Karena itu dengan segala kerendahan hati penulis memohon segala kritik dan saran demi perbaikan hasil penelitian ini. Terima kasih. Medan, Maret 2008 Penulis, Amin Mozana
  • 9. RIWAYAT HIDUP1. NAMA : AMIN MOZANA2. TEMPAT / TGL LAHIR : AEK SONGSONGAN/03 MEI 19803. PEKERJAAN : AUDITOR BPK-RI4. AGAMA : ISLAM5. ORANG TUA : a. AYAH : SUDARMAN b. IBU : ELLYANA6. ALAMAT : JL. EKAWARNI NO.19 MEDAN7. PENDIDIKAN : a. SD : SD NEGERI 016397 TANJUNG GADING b. SMP : SMP NEGERI 1 MEDAN c. SMA : SMU NEGERI 5 MEDAN d. S1 : UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • 10. DAFTAR ISI HalamanABSTRAK ........................................................................................................ iABSTRACT ...................................................................................................... iiKATA PENGANTAR ...................................................................................... iiiRIWAYAT HIDUP .......................................................................................... vDAFTAR ISI ..................................................................................................... viDAFTAR TABEL ............................................................................................. ixDAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xDAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xiBAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1 1.1. Latar Belakang Penelitian ............................................................. 1 1.2. Perumusan Masalah Penelitian ..................................................... 8 1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................... 8 1.4. Manfaat Penelitian ....................................................................... 9BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 10 2.1. Tinjauan Teori .............................................................................. 10 2.1.1. Laporan Keuangan ............................................................... 10 2.1.2. Analisa Ratio Laporan Keuangan .......................................... 11 2.1.3. Pengelompokan Ratio Keuangan ........................................... 17 2.1.4. Kebangkrutan atau Kegagalan Usaha ..................................... 23 2.2. Penelitian Terdahulu .................................................................... 29 2.3. Kerangka Konseptual.................................................................... 39 2.4. Hipotesis Penelitian ...................................................................... 43BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 44 3.1. Rancangan Penelitian.................................................................... 44
  • 11. 3.2. Populasi dan Sampel .................................................................... 44 3.3. Variabel Penelitian ....................................................................... 45 3.3.1. Klasifikasi Variabel ............................................................... 45 3.3.2. Defenisi Operasional Variabel ............................................... 46 3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................... 47 3.5. Prosedur dan Pengambilan Data .................................................. 47 3.6. Metode dan Teknik Analisis Data ................................................ 48 3.6.1. Analisis Faktor ........................................................................ 48 3.6.2. Uji Asumsi Diskriminan ......................................................... 50 3.6.2.1. Uji Normalitas Data .................................................. 50 3.6.2.2. Uji Linieritas ............................................................. 51 3.6.2.3. Uji Non Multikolinieritas.......................................... 51 3.6.3. Uji Diskriminan ......................................................................... 51 3.6.4. Uji Hipotesis .............................................................................. 53 3.6.4.1. Uji Hipotesis Ke-1 ...................................................... 53 3.6.4.2. Uji Hipotesis Ke-2 ...................................................... 53BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ................................................... 54 4.1. Statistik Deskriptis ....................................................................... 54 4.2. Uji Normalitas Data ..................................................................... 55 4.3. Uji Linieritas ................................................................................. 56 4.4. Uji Multikolinearitas .................................................................... 56 4.5. Uji Diskriminan ............................................................................ 57 4.6. Pengujian Hipotesis ...................................................................... 58 4.6.1. Pengujian Hipotesis Ke-1 .................................................. 58 4.6.2. Pengujian Hipotesis Ke-2 ................................................. 64 4.7. Pembahasan Hasil Penelitian ........................................................ 64 4.7.1. Pembahasan Hasil Pengujian Hipotesis Ke-1 ..................... 64
  • 12. 4.7.2. Pembahasan Hasil Pengujian Hipotesis Ke-2 ..................... 66BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 68 5.1. Kesimpulan .................................................................................. 68 5.2. Implikasi ....................................................................................... 68 5.3. Keterbatasan Penelitian ................................................................ 69 5.3. Saran ............................................................................................ 69DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 71
  • 13. DAFTAR TABELNo. Judul Halaman2.1. Penelitian Terdahulu .............................................................................. 193.1. Definisi Operasional Variabel ................................................................ 254.1. Statistik Deskriptif ................................................................................. 354.2. Statistik Deskriptif Menurut Jenis Usaha .............................................. 364.3. Uji Normalitas ........................................................................................ 404.4. Uji Multikolinearitas .............................................................................. 414.5. Uji Autokorelasi ..................................................................................... 424.6. Uji Heteroskedastisitas ........................................................................... 434.7. Pengujian Hipotesis ............................................................................... 44
  • 14. DAFTAR GAMBARNo. Judul Halaman2.1. Kerangka Pemikiran Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur Yang Go Publik di Bursa Efek Jakarta .................................................................................. 21
  • 15. DAFTAR LAMPIRANNo. Judul Halaman1. Sampel Perusahaan Manufaktur Go-Public di Bursa Efek Jakarta dan Perkembangan Harga Saham, Tahun 2004-2006.................................... 592. Sampel Perusahaan Manufaktur Go-Public di Bursa Efek Jakarta dan Perkembangan ROE, DER dan DPR, Tahun 2004-2006........................ 643. Sampel Perusahaan Manufaktur Go-Public di Bursa Efek Jakarta dan Perkembangan GTH dan KSS, Tahun 2004-2006 .................................. 694. Uji Normalitas ........................................................................................ 745. Regresi Utama Penelitian ....................................................................... 756. Regresi Antar Variabel Bebas ................................................................ 767. Uji Heterkesdatisitas .............................................................................. 80
  • 16. BAB I PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang Penelitian Pendirian perusahaan mempunyai tujuan umum untuk memperoleh laba,meningkatkan penjualan, memaksimumkan nilai saham, dan meningkatkankesejahteraan pemegang saham. Persaingan bisnis yang ketat seiring denganperkembangan perekonomian mengakibatkan adanya tuntutan bagi perusahaan untukterus mengembangkan inovasi, memperbaiki kinerjanya, dan melakukan perluasanusaha agar dapat terus bertahan dan bersaing. Tingkat kemampuan suatu perusahaan untuk dapat bersaing sangat ditentukanoleh kinerja perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang tidak mampu bersaing untukmempertahankan kinerjanya lambat laun akan tergusur dari lingkungan industrinyadan akan mengalami kebangkrutan, agar kelangsungan hidup suatu perusahaan dapattercapai, maka pihak manajemen harus dapat meningkatkan kinerjanya. Secara umumkinerja suatu perusahaan ditunjukkan dalam laporan keuangan yang dipublikasikan. Kinerja perusahaan dapat diketahui dari hasil analisis laporan keuangan. Hasilanalisis laporan keuangan yang menunjukkan kinerja perusahaan tersebut dipakaisebagai dasar penentu kebijakan bagi pemilik. manajer dan investor. Analisis ataslaporan keuangan dan interpretasinya pada hakekatnya adalah untuk mengadakanpenilaian atas keadaan keuangan dan potensi atau kemajuan-kemajuan suatu
  • 17. perusahaan melalui laporan keuangan tersebut, dan dari laporan keuangan tersebutdapat dilakukan analisis berdasarkan rasio keuangan. Analisis rasio keuanganmerupakan alternatif untuk menguji apakah informasi keuangan bermanfaat untukmelakukan klasifikasi atau prediksi terhadap kondisi keuangan suatu perusahaan.Rasio keuangan penting untuk dianalisis karena rasio keuangan mempengaruhikinerja keuangan perusahaan yang terbentuk dari unsur-unsur laporan keuangan yangbila di interpretasikan dapat diperoleh informasi tentang kondisi keuanganperusahaan pada suatu periode tertentu sehingga dapat memberikan masukan dansaran bagi perusahaan. Rasio-rasio keuangan memberikan indikasi tentang kekuatankeuangan dari suatu perusahaan. Rasio menggambarkan suatu hubungan pertimbangan antara suatu jumlahtertentu dan jumlah yang lain. Ukuran yang lazim dipakai dalam analisis laporankeuangan adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Analisis rasiokeuangan merupakan analisis yang sering dipakai karena merupakan metode yangpaling tepat untuk diterapkan dalam penilaian kinerja perusahaan. Penggunaan alatanalisis berupa rasio dapat menunjukkan atau memberi gambaran tentang baik atauburuknya posisi keuangan perusahaan yang berakibat pada kegagalan, sehat atautidaknya suatu perusahaan, apabila dibandingkan dengan rasio tahun sebelumnya ataudengan perusahaan sejenis yang lainnya. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satusumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan
  • 18. posisi keuangan perusahaan, yang sangat berguna untuk mendukung pengambilankeputusan yang tepat. Agar informasi yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalampengambilan keputusan, data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yangberguna dalam pengambilan keputusan ekonomis. Hal ini ditempuh dengan caramelakukan analisis laporan keuangan. Model yang sering digunakan dalam melakukan analisis tersebut adalahdalam bentuk rasio-rasio keuangan. Foster (1986, dalam Almilia, 2003) menyatakanempat hal yang mendorong analisis laporan keuangan dilakukan dengan model rasiokeuangan yaitu: 1. Untuk mengendalikan pengaruh perbedaan besaran antar perusahaan atau antar waktu. 2. Untuk membuat data menjadi lebih memenuhi asumsi alat statistik yang digunakan. 3. Untuk menginvestigasi teori yang terkait dengan dengan rasio keuangan. 4. Untuk mengkaji hubungan empirik antara rasio keuangan dan estimasi atau prediksi variabel tertentu (seperti kebangkrutan atau financial distress ) Ada dua macam kegagalan, yaitu kegagalan ekonomi dan kegagalankeuangan. Kegagalan ekonomi suatu perusahaan dikaitkan dengan ketidakseimbangan antara pendapatan dengan pengeluaran. Sementara itu, sebuahperusahaan dikategorikan gagal keuangannya jika perusahaan tersebut tidak mampumembayar kewajibannya pada waktu jatuh tempo meskipun aktiva total melebihi
  • 19. kewajibannya (Aryati dan Manao, 2000). Salah satu dari kebanyakan penyebabkebangkrutan perusahaan dimulai dari kegagalan keuangan. Indikator keuanganinilah yang bisa dijadikan sebagai alat untuk mengetahui tingkat kebangkrutan suatuperusahaan. Studi mengenai rasio keuangan dalam menilai kinerja perusahaan denganprediksi kebangkrutan dimulai oleh Beaver (1967, dalam Lisetyati, 2000) yangmembuktikan bahwa secara empiris rasio keuangan dapat digunakan sebagai alatuntuk memprediksi kegagalan perusahaan. Dalam studinya, Beaver membuat limakelompok rasio keuangan dan membuat univariate analysis yaitu menghubungkantiap-tiap rasio untuk menentukan rasio mana yang paling baik digunakan sebagaiprediktor. Kelima kelompok rasio tersebut terdiri dari cash flows to total debt ratio,net income to total assets ratio, current assets to current liabilities ratio, total debt tototal assets ratio, dan working capital to total assets ratio. Kelima rasio keuangantersebut kemudian diuji tingkat kesalahannya yang menunjukkan kemungkinanterjadinya kesalahan dalam pengklasifikasian suatu perusahaan. Penelitian ini terlihatbahwa rasio-rasio keuangan memiliki kemampuan dalam memprediksi terjadinyakebangkrutan pada suatu perusahaan. Penelitian lainnya yang ditemukan jugabuktinya dilakukan oleh Altman (1968), Altman, et al. (1977), dan Gilbert, et al.(1990). Penelitian yang dilakukan oleh Altman (1968, dalam Aryati dan Manao 2000)menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan.
  • 20. Altman menggunakan multiple discriminant analysis untuk menguji manfaat limarasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan. Kelima rasio keuangan tersebutadalah working capital to total assets, retained earnings to total assets, earningsbefore interests taxes to total assets, market value of equity to book value of totaldebts, dan sales to total assets. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penurunankekuatan prediksi rasio-rasio keuangan untuk periode waktu yang lama. Altman jugamenemukan bahwa rasio-rasio tertentu terutama likuiditas dan leverage memberikansumbangan terbesar dalam mendeteksi dan memprediksi kebangkrutan perusahaan.Dan beliaulah yang memunculkan formula Z Score untuk menentukan tingkatkesehatan perusahaan. Menurut Almilia (2003). Model kebangkrutan Altman tidakdapat digunakan dewasa ini karena beberapa alas an yaitu: 1. Dalam membentuk model ini hanya memasukkan perusahaan manufaktur saja, sedangkan perusahaan yang memiliki tipe lain memiliki hubungan yang berbeda antara total modal kerja dan variabel lain yang digunakan dalam analisis rasio. 2. Penelitian yang dilakukan Altman pada tahun 1946 sampai dengan 1965, yang tentu saja berbeda dengan kondisi sekarang. Sehingga proporsi untuk setiap variabel sudah tidak tepat lagi untuk digunakan. Penelitian lain yang mengembangkan rasio keuangan dalam industriperbankan sebagai prediktor tingkat kesehatan dan kegagalan bank dibuktikan olehThomson (1991), Whalen dan Thomson (1988), dan Aryati dan Manao (2000).
  • 21. Penelitian yang menggunakan rasio keuangan untuk memprediksi perkembangan labaperusahaan dilakukan oleh Machfoedz (1994), dan Zainuddin dan Hartono (1999). Penelitian yang dilakukan oleh Aryati dan Manao (2000) bertujuan untukmengetahui apakah laporan keuangan yang dipublikasikan oleh bank-bank diIndonesia dapat digunakan sebagai prediktor tingkat kesehatan dan kemungkinankebangkrutannya melalui rasio CAMEL dan rasio keuangan lainnya, serta dapat diidentifikasi rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk memprediksi kesehatanperbankan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan tujuh variabel independendengan tingkat signifikansi α= 5%. Model analisis yang digunakan adalah univariatanalisis dan multivariat diskriminan analisis Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Lisetyati (2000) denganmenganilisis laporan keuangan sebagai alat prediksi kebangkrutan bank, variablepenelitian dipilih 11 rasio keuangan dengan menggunakan metode CAMEL sebagaialat analisis terhadap kebangkrutan. Bank yang dipilih sebanyak 161 Bank dalamtahun 1993 – 1997. Pengujian multivariate dilakukan untuk mengetahui seberapa jauhrasio keuangan yang dipilih melalui prosedur backward stepwise (conditional)bersama-sama mampu memprediksi dengan benar bank yang akan bangkrut. Penelitian berkaitan dengan prediksi kebangkrutan bank di Indonesiadilakukan oleh Wilopo (2001). Hipotesis yang diajukan bahwa “rasio keuanganmodel CAMEL, besaran (size) bank serta kepatuhan terhadap Bank Indonesia” dapatdigunakan untuk memprediksikan kegagalan bank di Indonesia.
  • 22. Penelitian lain juga dilakukan oleh Eva Rianti (2003) yang meneliti kinerjakeuangan perusahaan sebelum dan selama masa krisis ekonomi Indonesia sertaprediksi kebangkrutan perusahaan yang mengambil sample perusahaan automotiveand component yang go public di Bursa Efek Jakarta. Dalam penelitian ini digunakanmodel multiple discriminant analysis (MDA) untuk memprediksi kebangkrutandengan menghitung rasio aktiva lancar terhadap total aktiva, laba ditahan terhadaptotal asset, laba opersional terhadap total asset, total nilai saham dibursa terhadaptotal hutang, dan penjualan terhadap total asset Berdasarkan uraian dan berbagai penelitian di atas, dari bukti empiris yangmendukung analisis rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaanyang sudah ada sebelumnya memberikan hasil yang beragam. Penelitian inimenindak lanjuti penelitian sebelumnya dengan menggunakan metode analisis yangsama yaitu Univariate dan Multivariate Discriminant Analysis, namun sampel,periode penelitian dan variabel independen yang digunakan berbeda. Penelitiansebelumnya menggunakan sampel perusahaan perbankan, otmotive dan manufacturedan periode tahun sampel berkisar di masa krisis ekonomi Indonesia yaitu sebelum,semasa atau sesudahnya. Variabel independent lebih banyak menggunakan rasioCAMEL (Capital Adequacy Ratio, Return on Risked Assets, Net Profit Margin,Return on Assets, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional, KewajibanBersih call money terhadap Aktiva Lancar, Kredit terhadap Dana yang Diterima).Sedangkan penelitian ini menggunakan sampel perusahaan tekstil dan alas kaki,
  • 23. tahun sampel setelah terjadinya krisis ekonomi (2003-2006), dan variabelindependennya menggunakan rasio likuiditas (Current Ratio), solvabilitas (Debt ToAsset Ratio, Debt To Equity Ratio, Equity Multiplier), profitabilitas (Gross ProfitMargin, Net Profit Margin, Return On Investment, Return On Equity), dan aktivitas(Inventory Turn Over, Total Assets Turn Over).1.2. Rumusan Masalah PenelitianBerdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah analisis rasio keuangan mampu untuk mengukur tingkat kesehatan pada perusahaan tekstil dan alas kaki yang go public di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada periode 2003-2006? 2. Rasio manakah yang paling dominan dalam memprediksi tingkat kesehatan perusahaan tekstil dan alas kaki yang go public di BEJ?1.3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui penggunaan analisis rasio keuangan dalam penilaian tingkat kesehatan perusahaan guna memprediksi kebangkrutan pada perusahaan tekstil dan alas kaki yang go public di BEJ. 2. Untuk mengetahui, di antara rasio-rasio keuangan dalam analisis laporan keuangan, manakah yang paling membedakan (dominan) dalam penilaian
  • 24. tingkat kesehatan perusahaan guna memprediksi tingkat kebangkrutan perusahaan pada perusahaan tekstil dan alas kaki yang go public di BEJ.1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1. Peneliti Menambah pengetahuan dan pemahaman dalam penggunaan analisis rasio keuangan dalam memprediksi tingkat kesehatan perusahaan. 2. Pihak perusahaan Dapat digunakan sebagai acuan, bahan pertimbangan dan penilaian tingkat kesehatan atau kebangkrutan perusahaan, serta dapat dijadikan bahan evaluasi perusahaan untuk penentuan kebijakan perusahaan di masa yang akan datang. 3. Dunia penelitian dan akademis Dapat menambah perbandingan atau literatur dan bahan referensi untuk karya ilmiah ataupun penelitian-penelitian selanjutnya.
  • 25. B A B II TINJAUAN PUSTAKA2.1. Tinjauan Teori 2.1.1. Laporan Keuangan Dalam Darsono dan Ashari (2005), laporan keuangan adalah informasi yangmemuat tentang posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kasperusahaan. Laporan keuangan menunjukkan kinerja keuangan perusahaan yangditunjukkan dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dengansumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Laporan keuangan beserta pengungkapannya dibuat perusahaan dengan tujuanmemberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan-keputusaninvestasi dan pendanaan, seperti yang dinyatakan dalam SFAC No. 1 bahwa laporankeuangan harus memberikan informasi: (1) untuk keputusan investasi dan kredit, (2)mengenai jumlah dan timing arus kas, (3) mengenai aktiva dan kewajiban, (4)mengenai kinerja perusahaan, (5) mengenai sumber dan penggunaan kas, (6)penjelasan dan interpretif, serta (7) untuk menilai stewardship. Ketujuh tujuan initerangkum dengan disajikannya laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, danpengungkapan laporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi,laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara
  • 26. misalnya, sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana), catatan dan laporan lainserta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.Disamping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan denganlaporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografis sertapengungkapan pengaruh perubahan harga (IAI, 2004). Laporan keuangan juga dapat menurunkan asimetri informasi yaitu kondisidimana informasi yang dimiliki oleh satu pihak lebih banyak dibandingkan denganpihak lainnya. Informasi dalam laporan keuangan dapat menurunkan perbedaaninformasi dengan menurunkan: (a) adverse selection, dengan cara memindahkaninformasi privat yang dimiliki oleh manajer menjadi informasi publik. Adverseselection adalah ketidakyakinan pada manajer atau pemilik karena salah satu pihakmemiliki informasi yang lebih banyak dari lainnya, sehingga menguntungkan pihaktertentu; (b) moral hazard yang dilakukan oleh manajer, karena perilaku manajerdapat dilihat dari pengaruhnya pada laba perusahaan atau aset perusahaan. Moralhazard adalah sikap tidak melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan, atautidak melaksanakan kondisi ideal. Untuk melihat apakah perusahaan memenuhiperjanjian kredit atau tidak dapat dilihat dari laporan keuangan (Darsono dan Ashari,2005). 2.1.2 Analisa Rasio Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan pada dasarnya mengkonversikan data yang berasaldari laporan keuangan sebagai bahan mentahnya menjadi informasi yang lebih
  • 27. beragam, lebih mendalam dan lebih akurat bagi pihak-pihak yang memerlukan untukpengambilan keputusan. Analisis atas laporan keuangan dan interpretasinya padahakekatnya adalah untuk mengadakan penilaian atas keadaan keuangan dan potensisuatu perusahaan melalui laporan keuangan tersebut. Tujuan dari analisis laporan keuangan secara umum adalah sebagai berikut : 1. Investasi pada saham. 2. Pemberian kredit, dimana tujuan pokoknya adalah untuk menilai kemampuan perusahaan untuk mengembalikan pinjaman yang diberikan beserta bunga yang berkaitan dengan pinjaman tersebut. 3. Kesehatan pemasok (supplier). Mengetahui kondisi keuangan pemasok sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam melakukan negosiasi dengan pemasok. 4. Kesehatan pelanggan (customer), yang tujuannya adalah untuk mengetahui informasi mengenai kemampuan pelanggan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. 5. Kesehatan perusahaan ditinjau dari karyawan, bertujuan untuk memastikan apakah perusahaan yang akan dimasuki mempunyai prospek keuangan yang bagus. 6. Pemerintah, untuk menentukan besarnya pajak yang dibayarkan. 7. Analisis internal, tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan guna menentukan sejauh mana perkembangan perusahaan.
  • 28. 8. Analisis pesaing, untuk menentukan sejauh mana kekuatan keuangan pesaing yang dapat dipakai untuk penentuan strategi perusahaan. 9. Penilaian kerusakan. Analisis laporan keuangan sangat bergantung pada informasi yang diberikanoleh laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan tidak akan bermakna jika tidakdilakukan analisis lebih jauh terhadap angka-angka yang terkandung didalamnya.Angka-angka itulah yang kemudian dapat membentuk rasio-rasio keuangan. Rasio Keuangan dapat digunakan untuk mengidentifikasi beberapa kekuatandan kelemahan keuangan perusahaan . Rasio yang digunakan untuk membahaskinerja atau kegiatan operasi perusahaan hendaknya dapat memenuhi pertanyaanberikut ini : 1. Seberapa jauh likuiditas perusahaan; 2. Apakah manajemenmenghasilkan laba operasi yang cukup atas aktiva perusahaan ; 3. Bagaimanaperusahaan untuk mendanai aktivanya ; 4. Apakan para pemegang sahammendapatkan pengembalian yang cukup atas investasi mereka. ? Analisis rasio keuangan merupakan suatu alat yang digunakan untukmengetahui atau menggambarkan posisi kinerja keuangan perusahaan, yangmerupakan perbandingan dari dua unsur yang sistematis. Analisis dan interpretasidari macam-macam rasio dapat memberikan pandangan yang lebih baik tentangkondisi keuangan dan prestasi perusahaan dibandingkan analisis yang hanyadidasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang tidak berbentuk rasio (Van Horne,1995 dalam Sitanggang,2003). Analisis rasio adalah salah satu cara pemrosesan dan
  • 29. penginterpretasian informasi akuntansi, yang dinyatakan dalam artian relatif maupunabsolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu dengan angkayang lainnya dari suatu laporan keuangan. Dalam analisis rasio, ada dua jenis perbandingan yang digunakan yaituperbandingan internal dan perbandingan eksternal. Perbandingan internal yaitumembandingkan rasio saat ini dengan rasio masa lalu dan rasio yang akan datanguntuk perusahaan yang sama. Sedangkan perbandingan eksternal adalahmembandingkan rasio keuangan perusahaan dengan rasio perusahaan lainnya yangsejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang sama. Perbandingan inimemberikan gambaran relatif dan pemahaman yang mendalam tentang kondisi dankinerja perusahaan, serta membantu mengidentifikasi penyimpangan dari rata-rataatau standar industri (Darsono dan Ashari, 2005). Manfaat analisis rasio bagi manajer digunakan untuk menganalisis,mengendalikan dan memperbaiki operasional perusahaan, bagi analisis kreditdigunakan untuk menentukan kemampuan perusahaan membayar hutangnya, bagianalisis sekuritas atau analisis saham yang berkepentingan atas efisiensi dan prospekpertumbuhan perusahaan dan analisis obligasi yang berkepentingan atas kemampuanperusahaan dalam membayar bunga dan pokok obligasi serta nilai likuidasi aktivaapabila terjadi kepailitan. Kelebihan analisis rasio keuangan dibandingkan teknik analisis lainnya adalah(Harahap, 2002 ) :
  • 30. 1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang mudah dibaca dan ditafsirkan.2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan oleh laporan keuangan yang rumit.3. Mengetahui posisi perusahaan ditengah industri lain.4. Sangat bermanfaat untuk mengambil bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score).5. Menstandari ukuran perusahaan.6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time series.7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.Teknik analisis rasio keuangan juga memiliki kelemahan sebagai berikut :a. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya.b. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi keterbatasan teknik ini seperti: 1) Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung taksiran yang dapat dinilai bias atau subyektif. 2) Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan, bukan harga pasar.
  • 31. 3) Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio. 4) Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda. c. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio. d. Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron. e. Jika dua perusahaan yang dibandingkan, bisa saja teknik dan standar akuntansi yang dipakai tidak sama sehingga jika dilakukan perbandingan bisa menimbulkan kesalahan. Selain itu, terdapat juga keterbatasan analisis rasio antara lain adalah (Sawir,2005) : a) Kesulitan dalam mengidentifikasi kategori industri dari perusahaan yang dianalisis apabila perusahaan tersebut bergerak di beberapa bidang usaha. b) Rasio disusun dari data akuntansi dan data tersebut dipengaruhi oleh cara penafsiran yang berbeda dan bahkan bisa merupakan hasil manipulasi. c) Perbedaan metode akuntansi akan menghasilkan perhitungan yang berbeda, misalnya perbedaan metode penyusutan atau metode penilaian persediaan. Informasi rata-rata industri adalah data umum dan hanya merupakan perkiraan.
  • 32. Keterbatasan analisis rasio yakni apabila dibandingkan rasio satu perusahaandengan perusahaan lain bisa berakibat interpretasi yang berbeda karena penggunaanmetode yang berbeda dan bahkan bisa merupakan hasil manipulasi, tidak bisadikatakan bahwa suatu rasio perusahaan lebih bagus dari perusahaan lainnya tanpaadanya analisis yang mendalam, sulit mengidentifikasi kategori perusahaan dariperusahaan yang dianalisis apabila perusahaan tersebut bergerak di beberapa bidangusaha. Namun, walaupun demikian analisis rasio tetap merupakan alat yang dapatdipakai sebagai pedoman untuk membantu mengevaluasi kondisi keuanganperusahaan. 2.1.3. Pengelompokkan Rasio Keuangan Pengelompokkan rasio keuangan yang digunakan adalah sebagai berikut(Darsono dan Ashari, 2005) : 1. Rasio Likuiditas Terdiri dari Rasio Lancar ( total aktiva lancar : total utang lancar) dan rasio cair ((total aktiva lancar – persediaan) ; utang lancar). Rasio likuiditas yang umum digunakan adalah current ratio. Current ratio (rasio lancar), yaitu kemampuan aktiva lancar perusahaan dalammemenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki. Rasio lancar merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek karena rasio ini
  • 33. menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo utang. Rasio lancar yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuiditas, namun sebaliknya apabila rasio lancarnya terlalu besar menunjukkan bahwa pengelolaan aktiva lancar kurang bagus karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan laba perusahaan (Sawir, 2005).2. Rasio Solvabilitas Solvabilitas adalah kemampuan untuk membayar utang jangka panjang, baik utang pokok maupun bunganya (Kuswadi, 2006). Rasio-rasio yang dapat digunakan untuk mengukur solvabilitas adalah : a. Debt to Asset Ratio (DAR = total utang : total aktiva), atau disebut juga leverage atau debt ratio. Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang dengan jalan menunjukkan persentase aktiva perusahaan yang didukung oleh hutang. Rasio ini juga menyediakan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam mengadaptasi kondisi pengurangan aktiva akibat kerugian tanpa mengurangi pembayaran bunga pada kreditor. Nilai rasio yang tinggi menunjukkan peningkatan dari risiko pada kreditor berupa ketidakmampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya. Dari pihak pemegang saham, rasio yang tinggi
  • 34. akan mengakibatkan pembayaran bunga yang tinggi yang pada akhirnya akan mengurangi pembayaran dividen. b. Debt to Equity Ratio (DER = total utang : total ekuitas), menunjukkan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Rasio ini menggambarkan perbandingan utang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Semakin kecil angka rasio, semakin baik solvabilitas perusahaan. c. Equity Multiplier (EM = total aktiva : total ekuitas), menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan ekuitas pemegang saham. Rasio ini juga bisa diartikan sebagai besarnya porsi dari aktiva perusahaan yang dibiayai oleh pemegang saham. Semakin kecil rasio ini, berarti porsi pemegang saham akan semakin besar sehingga kinerjanya semakin baik karena persentase untuk pembayaran bunga semakin kecil.3. Rasio Profitabilitas Profitabilitas (kemampulabaan) merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan manajemen. Rasio profitabilitas akan memberikan gambaran tentang efektivitas manajemen perusahaan dan tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan (Sawir,2005). Rasio profitabilitas yang umum digunakan adalah :
  • 35. a. Gross Profit Margin (GPM = laba kotor : penjualan bersih). Rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien. Semakin tinggi angka rasio, semakin baik karena menunjukkan peningkatan presentase laba bersih operasi terhadap hasil penjualannya. Kegunaan rasio ini adalah mutu pengelolaan harga pokok produksi (yang berarti kinerja bagian produksi) dapat dimonitor dari waktu ke waktu dan untuk meramalkan besarnya laba kotor pada waktu yang akan datang atas dasar estimasi penjualan (Kuswadi, 2006).b. Net Profit Margin (NPM = laba bersih : penjualan bersih). Rasio ini digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dari waktu ke waktu dalam hal profitabilitas dan juga dapat dipakai untuk memperkirakan atau meramalkan laba bersih perusahaan pada masa yang akan datang atas dasar estimasi penjualannya (Kuswadi, 2006).c. Return On Investment (ROI = laba bersih : total aktiva). Rasio ini juga sering disebut Return On Asset (ROA). Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari setiap satu rupiah aset yang digunakan, dan juga memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan efektivitas manajemen dalam menggunakan
  • 36. aktiva untuk memperoleh pendapatan dan dapat menilai apakah perusahaan efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasional perusahaan. Rasio ini memberikan indikasi kepada kita tentang baik buruknya manajemen dalam melaksanakan kontrol biaya ataupun pengelolaan hartanya. Semakin besar rasio ini semakin baik karena berarti semakin besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (Kuswadi, 2006).d. Return On Equity (ROE = laba bersih ; total ekuitas). Rasio ini memperlihatkan sejauh manakah perusahaan mengelola modal sendiri secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau pemegang saham perusahaan. Rasio ini membuat manajemen dapat melihat secara fokus besarnya laba bersih yang dapat dihasilkan dari jumlah modal yang ditanam oleh para pemegang saham. ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut sebagai rentabilitas usaha (Sawir, 2005). Dari perspektif pemegang saham, rasio ini menunjukkan kesuksesan manajemen dalam memaksimalkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini akan semakin baik karena memberikan tingkat pengembalian yang lebih besar pada pemegang saham.
  • 37. 4. Rasio Aktivitas Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif perusahaan memanfaatkan semua sumber daya yang ada pada pengendaliannya. Rasio-rasio aktivitas yang umum digunakan adalah : a. Inventory Turn Over (ITO = harga pokok penjualan : persediaan) atau rasio perputaran persediaan. Rasio ini berguna untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mengelola persediaan, dalam arti berapa kali persediaan yang ada akan diubah menjadi penjualan (dalam bentuk produk jadi). Rasio ini juga menggambarkan perputaran persediaan–semakin besar rasio ini akan semakin baik. Semakin tinggi perputaran persediaan ini, semakin singkat atau semakin baik waktu rata-rata antara penanaman modal dalam persediaan dan transaksi penjualan. Ini menunjukkan semakin tingginya tingkat permintaan atau penjualan produk perusahaan, semakin efisiennya kerja tim manajemen persediaan, dan (mungkin) semakin tingginya laba yang diperoleh. Walaupun demikian, tingkat perputaran persediaan yang tinggi juga dapat memberikan indikasi tentang kekurangan stok persediaan, yang dapat menyebabkan kehilangan order penjualan (Kuswadi, 2006:110). Rasio perputaran persediaan yang terlalu rendah menunjukkan lambatnya penjualan atau terlalu banyaknya persediaan yang ada di tangan.
  • 38. b. Total Assets Turn Over (TATO = penjualan bersih : total aktiva). Kemampuan perusahaan dalam menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan penjualan atau berapa rupiah penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang di investasikan dalam bentuk harta perusahaan digambarkan dalam rasio ini sehingga kita dapat mengetahui efektifitas penggunaan seluruh aktiva perusahaan dalam menghasilkan penjualan. Rule of thumb rasio ini bagi perusahaan yang produktif harus di atas 1, kalau perputarannya lambat menunjukkan bahwa aktiva yang dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan untuk menjual. 2.1.4. Kebangkrutan atau Kegagalan Usaha Kebangkrutan telah digunakan sebagai istilah umum untuk menerangkankeadaan perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan (Karel & Prakash, 1987dalam Lisetiaty). Para peneliti telah menggunakan istilah failure (kegagalan) danbankruptcy (kebangkrutan) secara bergantian. Prediksi kebangkrutan usaha berfungsi untuk memberikan panduan bagipihak-pihak tentang kinerja keuangan perusahaan apakah akan mengalami kesulitankeuangan atau tidak di masa mendatang. Salah satu indikator yang dipakai untukmengetahui tingkat kebangkrutan perusahaan adalah indikator keuangan. Kebanyakan
  • 39. penyebab kebangkrutan dimulai dari adanya kesulitan keuangan. Kesulitan keuangandapat diartikan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajibankeuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan. Untuk menilai kesulitan keuangan yang akan diderita oleh perusahaanterdapat beberapa indikator yang dapat dijadikan panduan. Indikator pertama adalahinformasi arus kas sekarang dan arus kas untuk periode mendatang. Informasi aruskas memberikan gambaran sumber-sumber dan penggunaan kas perusahaan. Sumberyang kedua adalah dari analisis posisi dan strategi perusahaan dibandingkan denganpesaing. Informasi ini memberikan gambaran posisi perusahaan dalam persainganbisnis yang merujuk pada kemampuan perusahaan dalam menjual produk ataujasanya untuk menghasilkan kas (Darsono dan Ashari, 2005). Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat bagi beberapa pihak sebagai berikut : 1. Pemberi pinjaman (seperti pihak bank). Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan memonitor pinjaman yang ada. 2. Investor. Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut. Investor yang menganut strategi aktif akan mengembangkan model prediksi kebangkrutan untuk melihat tanda-tanda
  • 40. kebangkrutan sedini mungkin dan kemudian mengantisipasi kemungkinan tersebut. 3. Pihak pemerintah. Pada beberapa sektor usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk mengawasi jalannya usaha tersebut (misalnya pada sektor perbankan). Pemerintah juga mempunyai badan- badan usaha (BUMN) yang harus melihat tanda-tanda kebangkrutan lebih awal supaya tindakan-tindakan yang diperlukan bisa dilakukan lebih awal. 4. Akuntan, yang mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena akuntan akan menilai kemampuan going concern suatu perusahaan. 5. Manajemen. kebangkrutan berarti munculnya biaya-biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan dan biaya tersebut cukup besar. Apabila manajemen bisa mendeteksi kebangkrutan ini lebih awal, maka tindakan-tindakan penghematan bisa dilakukan misalnya dengan melakukan merger atau restrukturisasi keuangan sehingga biaya kebangkrutan bisa dihindari. Dalam Darsono dan Ashari (2005), secara garis besar penyebab kebangkrutanbisa dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internaladalah faktor yang berasal dari bagian internal manajemen perusahaan. Sedangkanfaktor eksternal bisa berasal dari faktor luar yang berhubungan langsung denganoperasional perusahaan atau faktor perekonomian secara makro.
  • 41. Faktor-faktor internal yang dapat menyebabkan kebangkrutan perusahaanmeliputi : a. Manajemen yang tidak efisien akan mengakibatkan kerugian terus menerus yang pada akhirnya menyebabkan perusahaan tidak dapat membayar kewajibannya. Ketidakefisienan ini diakibatkan oleh pemborosan dalam biaya, kurangnya keterampilan dan keahlian manajemen. b. Ketidakseimbangan dalam modal yang dimiliki dengan jumlah piutang- hutang yang dimiliki. Hutang yang terlalu besar akan mengakibatkan biaya bunga yang besar sehingga memperkecil laba bahkan bisa menyebabkan kerugian. Piutang yang terlalu besar juga akan merugikan karena aktiva yang menganggur terlalu banyak sehingga tidak menghasilkan pendapatan. c. Moral hazard oleh manajemen. Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan bisa mengakibatkan kebangkrutan. Kecurangan ini akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan yang pada akhirnya membangkrutkan perusahaan. Kecurangan dapat berupa manajemen yang korup atau memberikan informasi yang salah pada pemegang saham atau investor. Kasus bank yang melakukan pelanggaran batas maksimum pemberian kredit adalah contoh kasus moral hazard dimana manajemen melakukan pelanggaran terhadap rambu-rambu pengelolaan perusahaan.
  • 42. Kasus Enron adalah salah satu kasus dimana manajemen melakukan kecurangan dengan menyembunyikan kerugian yang besar. Sedangkan, faktor-faktor eksternal yang bisa mengakibatkan kebangkrutanadalah sebagai berikut : 1. Perubahan dalam keinginan pelanggan yang tidak diantisipasi oleh perusahaan yang mengakibatkan pelanggan lari atau berpindah sehingga terjadi penurunan dalam pendapatan. Untuk menjaga hal tersebut perusahaan harus selalu mengantisipasi kebutuhan pelanggan dengan menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. 2. Kesulitan bahan baku karena supplier tidak dapat memasok lagi kebutuhan bahan baku yang digunakan untuk produksi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan harus selalu menjalin hubungan baik dengan supplier dan tidak menggantungkan kebutuhan bahan baku pada satu supplier sehingga risiko kekurangan bahan baku dapat diatasi. 3. Faktor debitor juga harus diantisipasi untuk menjaga agar debitor tidak melakukan kecurangan. Terlalu banyak piutang yang diberikan kepada debitor dengan jangka waktu pengembalian yang lama akan mengakibatkan banyak aktiva menganggur yang tidak memberikan penghasilan sehingga mengakibatkan kerugian yang besar bagi perusahaan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan harus selalu
  • 43. memonitor piutang yang dimiliki dan keadaan debitor agar dapat melakukan perlindungan dini terhadap aktiva perusahaan.4. Hubungan yang tidak harmonis dengan kreditor juga bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup perusahaan. Apalagi dalam Undang-Undang No.4 tahun 1998 yang dirubah dengan Undang-Undang No 37 tahun 2004, kreditor bisa mempailitkan perusahaan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan harus bisa mengelola hutangnya dengan baik dan juga membina hubungan baik dengan kreditor.5. Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan agar selalu memperbaiki diri sehingga bisa bersaing dengan perusahaan lain dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Semakin ketatnya persaingan menuntut perusahaan agar selalu memperbaiki produk yang dihasilkan, memberikan nilai tambah yang lebih baik lagi kepada pelanggan.6. Kondisi perekonomian secara global juga harus selalu diantisipasi oleh perusahaan. Kasus perkembangan pesat ekonomi Cina yang mengakibatkan tersedotnya kebutuhan bahan baku ke Cina dan kemampuan Cina memproduksi barang dengan harga yang murah adalah contoh kasus perekonomian global yang harus diantisipasi oleh perusahaan. Tingginya kebutuhan baja di Cina yang mengakibatkan harga baja naik tajam, mengakibatkan banyak industri pengecoran logam di
  • 44. daerah Klaten bangkrut karena biaya yang mengalami kenaikan sehingga produknya menjadi tidak kompetitif.2.2. Peneliti Terdahulu Rasio-rasio keuangan memberikan indikasi tentang kekuatan keuangan darisuatu perusahaan. Dengan analisis rasio keuangan dapat diprediksi tingkat kesehatanperusahaan guna memprediksi kebangkrutan perusahaan. Rasio keuangan inibertujuan untuk mengukur kinerja perusahaan dari berbagai aspek kinerja, apakahkinerja perusahaan mengalami kemajuan atau bahkan mengalami kemunduran yangakan berakibat pada kebangkrutan. Ukuran kinerja pertama yang diukur adalahukuran likuiditas, dimana ukuran ini mengukur kemampuan perusahaan dalammemenuhi kewajiban yang jatuh tempo dalam jangka pendek. Ukuran kinerja keduaadalah solvabilitas yang mengukur kinerja perusahaan dalam memenuhi kewajibanyang jatuh tempo dalam jangka panjang. Ukuran ketiga adalah profitabilitas yangmengukur kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan sumber dayayang dimiliki. Ukuran berikutnya adalah aktivitas yang mengukur efektifitas danefisiensi dalam menggunakan aktiva. Beberapa peneliti terdahulu telah banyak melakukan penelitian mengenaikebangkrutan perusahaan. Studi kali pertama dilakukan oleh Beaver (1966) dalamAryati dan Manao (2000) yang membandingkan masing-masing rasio-rasioperusahaan bangkrut dengan perusahaan tidak bangkrut yang dilakukannya pada lima
  • 45. tahun sebelum terjadi kebangkrutan. Beaver melakukan pengamatan terhadapperkembangan rasio-rasio tersebut dengan menggunakan sampel 158 perusahaanyang terdiri dari 79 perusahaan yang mengalami kegagalan dan 79 perusahaan yangsukses selama lima tahun sebelum terjadi kebangkrutan. Dalam studinya, Beavermembuat lima kelompok rasio keuangan dan membuat univariate analysis yaitumenghubungkan tiap-tiap rasio untuk menentukan rasio mana yang paling baikdigunakan sebagai prediktor. Kelima kelompok rasio tersebut terdiri dari cash flowsto total debt ratio, net income to total assets ratio, current assets to current liabilitiesratio, total debt to total assets ratio, dan working capital to total assets ratio. Beavermenemukan sampel perusahaan yang gagal dengan perusahaan yang tidak gagalkemudian meneliti rasio keuangan selama lima tahun sebelum perusahaan gagal danmenemukan bahwa terdapat rasio keuangan perusahaan yang tidak gagal berbedadengan yang gagal. Pada perusahaan yang gagal, cash flows to total debt lebihrendah, cadangan aktiva lancar untuk melunasi kewajibannya lebih kecil danhutangnya lebih besar dibandingkan perusahaan yang tidak gagal. Kelima rasiokeuangan yang digunakan sebagai prediktor tersebut kemudian diuji tingkatkesalahannya yang menunjukkan kemungkinan terjadinya kesalahan dalampengklasifikasian suatu perusahaan. Selanjutnya hasil pengujian rasio tersebut diranking dimana tingkat persentasekesalahan terkecil dipertimbangkan sebagai “Best Predictor”, berikutnya “SecondBest Predictor” dan seterusnya hingga “The Worst Predictor”. Kesimpulannya,
  • 46. Beaver menemukan bahwa analis rasio keuangan terbukti sangat berguna untukmemprediksi kebangkrutan dan dapat digunakan untuk membedakan secara akuratperusahaan yang akan jatuh bangkrut dan yang tidak. Altman (1968) dengan judul “Financial Ratios, Discriminant Analysis andThe Prediction of Corporate Bankruptcy” yang dalam penelitiannya mencoba satupenilaian atas kualitas analisis rasio sebagai satu teknik analisis dan prediksikebangkrutan perusahaan digunakan sebagai kasus ilustrasi. Altman menggunakananalisis multiple diskriminan dengan menyusun suatu model untuk memprediksikebangkrutan perusahaan, yang mana terbukti sangat akurat dalam memprediksikebangkrutan secara benar. Data yang digunakan adalah perusahaan manufaktur.Analisis diskriminan menghasilkan suatu indeks yang memungkinkan klasifikasi darisuatu pengamatan menjadi satu dari beberapa pengelompokan yang bersifat a priori.Untuk menyelidiki kinerja perusahaan menggunakan rasio profitabilitas, likuiditasdan solvabilitas sebagai indikasi yang paling efektif dari masalah yang akan datang.Altman menemukan lima rasio yang dapat dikombinasikan untuk melihat perbedaanantara perusahaan yang bangkrut dan tidak bangkrut (Sawir, 2006:23). Lima jenisrasio yang digunakan Altmanadalah working capital to total assets, retained earnings to total assets, EBIT to totalassets, market value of equity to book value of total debts, dan sales to total assets. Dalam penelitiannya, rasio working capital to total assets digunakan untukmengukur likuiditas aktiva perusahaan relatif terhadap total kapitalisasinya. Rasio
  • 47. retained earnings to total assets digunakan untuk mengukur profitabilitas kumulatif.Rasio EBIT to total assets digunakan untuk mengukur produktivitas yang sebenarnyadari aktiva perusahaan. Rasio market value of equity to book value of total debtsdigunakan untuk mengukur seberapa banyak aktiva perusahaan dapat turun nilainyasebelum jumlah hutang lebih besar daripada aktivanya dan perusahaan menjadiinsolvable. Rasio sales to total assets digunakan untuk mengukur kemampuanmanajemen dalam menghadapi kondisi persaingan. Dari rasio-rasio tersebut (Darsono dan Ashari, 2005), Altmanmemformulasikan dalam bentuk persamaan yang kemudian dikenal dengan formulaZ-score yang merupakan kombinasi dari beberapa rasio keuangan yang dianggapdapat memprediksi terjadinya kebangkrutan perusahaan. Fungsi diskriminan Z (Zeta)yang ditemukannya adalah: Z = 1,2 WCTA + 1,4 RETA + 3,3 EBITTA + 0,6 MVEBVL + 1 STAdimana,WCTA : Working Capital to Total Assets (modal kerja dibagi total aset)RETA : Retained Eearnings to Total Assets (laba ditahan dibagi total aset)EBITTA : Earnings Before Interests and Taxes to Total Assets (laba sebelum pajak dan bunga dibagi total aset)MVEBVL : market value of equity to book value of total debt (nilai pasar ekuitas dibagi dengan nilai buku hutang)STA : sales to total assets (penjualan dibagi total aset)
  • 48. Hasil perhitungan Z-score dapat di interpretasikan sebagai berikut : Z>2,99 : perusahaan tidak mengalami masalah dengan kondisi keuangan. 2,7<Z<2,99 : perusahaan mempunyai sedikit masalah keuangan (meskipun tidak serius). 1,8<Z<2,69 : perusahaan akan mengalami permasalahan keuangan jika tidak melakukan perbaikan yang berarti dalam manajemen maupun struktur keuangan. Z<1,88 : perusahaan mengalami masalah keuangan yang serius. Versi ini dapat dipergunakan untuk perusahaan publik maupun perusahaanpribadi, dan untuk perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Z-score yangpertama kali dikembangkan untuk menentukan kecenderungan kebangkrutan dapatjuga digunakan sebagai ukuran dari keseluruhan kinerja keuangan perusahaan. Menurut Almilia (2003) Model kebangkrutan Altman tidak dapat digunakandewasa ini karena beberapa alasan yaitu: 1. Dalam membentuk model ini hanya memasukkan perusahaan manufaktur saja, sedangkan perusahaan yang memiliki tipe lain memiliki hubungan yang berbeda antara total modal kerja dan variabel lain yang digunakan dalam analisis rasio. 2. Penelitian yang dilakukan Altman pada tahun 1946 sampai dengan 1965,yang tentu saja berbeda dengan kondisi sekarang. Sehingga proporsi untuk setiap
  • 49. variabel sudah tidak tepat lagi untuk digunakan. Tahun 1984, Altman melakukanpenelitian kembali di berbagai negara. Penelitian ini memasukkan dimensiinternasional, sehingga Z scorenya diubah menjadi formula:Indeks kebangkrutan = 0.717 WC/TA + 0.847 RE/TA + 3.107 EBIT/TA + 0.420 MVE/BVD + 0.998 S/TA. Deakin (1972) mencoba untuk mengembangkan hasil penelitian yangdilakukan oleh pendahulunya Beaver (1966) dan Altman (1968). Sampel yangdigunakan sebanyak 32 perusahaan yang gagal, dan dibandingkan dengan perusahaanyang tidak gagal selama periode antara tahun 1964 sampai dengan 1970 atas dasarklasifikasi industri, ukuran aset dan tahun data. Dalam penelitiannya, Deakinmenggunakan analisis multiple discriminant dan 14 rasio keuangan yang diuji Beaverguna menemukan kombinasi variabel-variabel yang mempunyai keakuratan prediksiyang baik. Deakin menemukan bahwa rasio cash flow to total debts adalah variabelyang paling baik dalam memprediksi kebangkrutan. Penelitian Zmijewski (1983) menambah validitas rasio keuangan sebagai alatdeteksi kegagalan perusahaan. Zmijewski menelaah ulang studi di bidangkebangkrutan hasil riset sebelumnya selama dua puluh tahun. Rasio keuangan dipilihdari rasio-rasio keuangan penelitian terdahulu dan diambil sampel sebanyak 75perusahaan yang bangkrut serta 3573 perusahaan sehat periode 1972 sampai dengan1978. Indikator F-test terhadap rasio-rasio kelompok: rate of return, liquidity,leverage, turnover, fixed payment coverage, trends, firm size, dan stock returnvolality; menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara perusahaan yangsehat dan yang bangkrut.
  • 50. Peneliti lainnya di Indonesia dilakukan oleh Machfoedz (1999) yangmelakukan penelitian terhadap seluruh perusahaan go public di ASEAN (Thailand,Singapura, Malaysia, dan Indonesia), yang meliputi seluruh perusahaan maufakturyang listing di pasar modal tiap negara yang dipilih tersebut. Rasio-rasio keuanganyang digunakan adalah liquidity, solvency, profitability total, dan profitabilityinternal. Machfoedz menggunakan prosedur dan metode statistik parametrik dan non-parametrik berupa t-test uji beda dua sampel, Wilcoxon Sign Rank Test, Wilks’Lambda MANOVA, dan Friedman K-Independent Samples. Untuk memprediksi tingkat kesulitan keuangan perusahaan digunakan analisisZ- score dalam menilai kesehatan perusahaan. Dari hasil penelitiannya, dapatdisimpulkan bahwa informasi keuangan dalam bentuk rasio dapat digunakan untukmendeteksi kesehatan perusahaan. Aryati dan Manao (2000) melakukan penelitian untuk menguji apakahterdapat perbedaan rata-rata yang signifikan tingkat kesehatan bank yang diukurmenurut rasio CAMEL antara bank yang sehat dengan bank yang gagal di Indonesiadan untuk melihat rasio keuangan mana saja yang mendiskriminankan antara bankyang sehat dengan bank yang gagal. Dengan penelitian ini dapat diidentifikasi rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk memprediksi kesehatan perbankan diIndonesia. Data penelitian meliputi laporan keuangan bank-bank dari tahun 1993sampai tahun 1997. Ada tujuh variabel independen yang digunakan yaitu capitaladequacy ratio (CAR), return on risked assets (RORA), net profit margin (NPM),
  • 51. return on assets (ROA), rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional(BOPO), rasio kewajiban bersih call money terhadap aktiva lancar, dan rasio kreditterhadap dana yang diterima. Model penelitian ini adalah univariate analysis dan multivariate discriminantanalysis. Hasil dari uji univariat menunjukkan bahwa dua variabel, yaitu NPM danBOPO, tidak signifikan dengan sehat atau bangkrutnya bank-bank dalam sampel.Tidak adanya perbedaan rata-rata NPM yang signifikan antara bank yang sehatdengan bank yang gagal mungkin disebabkan adanya proporsionalitas antara netincome dengan operating income. Begitu juga dengan BOPO, adanyaproporsionalitas mungkin merupakan penyebab tidak adanya perbedaan rata-rataBOPO antara bank yang sehat dengan bank yang gagal. Sedangkan, hasil ujimultivariat menunjukkan dua variabel lain yaitu NPM dan CAR ternyata tidakmenunjukkan hubungan signifikan dengan kesehatan bank. Hasil penelitian inikonsisten dengan penelitian sebelumnya (Altman, 1968; Deakin, 1972; Ohlson, 1980)tentang kegagalan bisnis. Pengujian diskriminan menunjukkan variable ROA danrasio kredit terhadap dana yang diterima yang merupakan ukuran profitabilitasmempengaruhi keberhasilan atau kegagalan bank. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Lisetyati Eni (2000) denganmenganilisis laporan keuangan sebagai alat prediksi kebangkrutan bank, variablepenelitian dipilih 11 rasio keuangan dengan menggunakan metode CAMEL sebagaialat analisis terhadap kebangkrutan. Bank yang dipilih sebanyak 161 Bank dalam
  • 52. tahun 1993 – 1997. Pengujian multivariate dilakukan untuk mengetahui seberapa jauhrasio keuangan yang dipilih melalui prosedur backward stepwise (conditional)bersam-sama mampu memprediksi dengan benar bank yang akan bangkrut. Penelitian lain juga dilakukan oleh Eva Rianti (2003) yang meneliti kinerjakeuangan perusahaan sebelum dan selama masa krisis ekonomi Indonesia sertaprediksi kebangkrutan perusahaan yang mengambil sample perusahaan automotiveand component yang go public di Bursa Efek Jakarta. Dalam penelitian ini digunakanmodel multiple discriminant analysis (DMA) untuk memprediksi kebangkrutandengan menghitung rasio aktiva lancer terhadap total aktiva, laba ditahan terhadaptotal asset, laba opersional terhadap total asset, total nilai saham dibursa terhadaptotal hutang, dan penjualan terhadap total asset. Disimpulkan bahwa model MDAhanya dapat digunakan memprediksi kebangkrutan dalam jangka pendek yaitu 1 dan2 tahun ke depan. Penelitian berkaitan dengan prediksi kebangkrutan bank di Indonesiadilakukan oleh Wilopo (2001). Penyampelan dalam penelitian ini dilakukan secaracluster yaitu 235 bank pada akhir tahun 1996 dibagi menjadi 16 bank terlikuidasi dan219 bank yang tidakdilikuidasi, selanjutnya diambil 40% sebagai sampel estimasi, terdiri atas 7 bankterlikuidasi dan 87 bank yang tidak dilikuidasi. Kemudian dari 215 bank pada akhirtahun
  • 53. 1997 yang terdiri atas 38 bank terlikuidasi dan 177 bank pada tahun 1999 yang tidakdilikuidasi, diambil 40% sebagai sampel validasi yang terdiri atas 16 bank terlikuidasidan 70 bank yang tidak dilikuidasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian iniuntuk memprediksikan kebangkrutan bank adalah rasio keuangan model CAMEL (13rasio), besaran (size) bank yang diukur dengan log. assets, dan variabel dummy(kredit lancar dan manajemen). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secarakeseluruhan tingkat prediksi variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian initinggi (lebih dari 50% sebagai cutoff value-nya). Tetapi jika dilihat dari tipekesalahan yang terjadi tampak bahwa kekuatan prediksi untuk bank yang dilikuidasi0% karena dari sampel bank yang dilikuidasi, semuanya diprediksikan tidakdilikuidasi. Dengan demikian hasil penelitian ini tidak mendukung hipotesis yangdiajukan bahwa “rasio keuangan model CAMEL, besaran (size) bank serta kepatuhanterhadap Bank Indonesia” dapat digunakan untuk memprediksikan kegagalan bank diIndonesia. Simpulan ini diambil didasarkan atas tipe kesalahan yang terjadi, khususkasus di Indonesia ternyata rasio CAMEL serta variabel-variabel independen lainyang digunakan dalam penelitian ini belum dapat memprediksikan kegagalan bank.Dengan demikian perlu eksplorasi lebih lanjut terhadap variabel lain di luar rasiokeuangan agar diperoleh model yang lebih tepat untuk memprediksikan kegagalanbank. Simpulan teori dan bukti empiris yang telah dipaparkan sebelumnya dapatmenjadi acuan bahwa analisis rasio keuangan dapat digunakan dalam mengukur
  • 54. kebangkrutan perusahaan dan secara signifikan dapat membedakan statuspengelompokan perusahaan. Hasil dari analisis juga membuktikan bahwa ukuranprofitabilitas perusahaan menjadi ukuran yang dominan dalam memprediksikebangkrutan. Rasio-rasio keuangan dianalisis untuk dapat mengelompokkan apakahperusahaan bangkrut atau sehat (tidak bangkrut). Dari rasio-rasio keuangan tersebut,kemudian, dianalisis untuk menentukan rasio yang paling dominan mengukur tingkatkebangkrutan masing-masing kelompok dan membedakan rasio tersebut antarakategori pengelompokan perusahaan.2.3. Kerangka Konseptual Sudah banyak dilakukan penelitian khususnya di Indonesia untukmenunjukkan manfaat rasio keuanagan yang dianalisis dari laporan keuangan.Penelitian Machfoedz (1999) menunjukkan ada tiga dari sembilan rasio yangsignifikan digunakan untuk memprediksi perobahan laba perusahaan pada periodeyang akan datang di Indonesia. Rasio tersebut yaitu; laba kotor terhadap penjualan,laba bersih terhadap penjualan, dan laba bersih terhadap modal sendiri, dimanaketoga rasio ini dikatagorikan sebagai rasio probabilitas. Rerangka pemikiran teoritis untuk menganalisa kinerja perusahaan dapatdilihat pada gambar 2.1. Berdasarkan rerangka pemikiran teoritis tersebut bahwarasio keuangan untuk mengukur kinerja keuangan diwakili oleh ; CR, DAR, DER,EM, GPM, NPM, ROI, ROE, ITO dan TATO, pada laporan keuangan 2003 s/d
  • 55. 2004 dan sesudahnya yaitu laporan keuangan 2005 dan 2006. Selanjutnya dilakukananalisa kinerja keuangan perusahaan untuk memprediksi tingkat kesehatanperusahaan dengan menggunakan studi yang dilakukan Altman dengan Z score. Rasio Keungan Perusahaan Tahun Rasio Keungan Perusahaan Tahun 2003 dan 2004 : 2005 dan 2006 : CR,DAR,DER,EM,GPM, CR,DAR,DER,EM,GPM, NPM,ROI,ROE,ITO,TATO NPM,ROI,ROE,ITO,TATO Informasi Keuangan untuk Pengambilan Keputusan InvestasiSumber : Machfoedz (1999) yang dimodifikasiGambar 2.1. Analisa Rasio Keuangan Perusahaan Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Pengujian prediksi tingkat kesehatan perusahaan digunakan rerangkapemikiran teoritis yang dapat dilihat dalam gambar 2.2.
  • 56. X2 X1 X3 X4 Model Prediksi X5 P = Status Emiten akan bangkrut atau tidak X6 X7 X8 X9 X10Gambar 2.2. Model Multiple Discriminsnt Analyisis Untuk memprediksi Tingkat KesehatanPerusahaan
  • 57. RASIO RASIO KEUANGAN PERUSAHAAN PERUSAHAAN KEUANGAN PERUSAHAAN YANG SEHAT : YANG TIDAK PERUSAHAAN TAHUN :2005 DAN X1,X2…….X10 SEHAT :TAHUN :2003 DAN 2006 : X1,X2…….X10 2004 : CR,DAR,DER,EM,GCR,DAR,DER,EM,G PM, PM, NPM,ROI,ROE,ITO,NPM,ROI,ROE,ITO, TATO MODEL PREDIKSI TATO TINGKAT KESEHATAN PERUSAHAAN KINERJA PERUSAHAAN BURUK PERUSAHAAN YANG DIPREDIKSI SEHAT DAN TIDAK SEHAT INFORMASI KEUANGAN UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI Gambar 2.3. Bagan Penelitian
  • 58. 2.4. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian kuantitatif dikembangkan dari telaah teoritissebagai jawaban sementara dari masalah atau pertanyaan penelitian yang memerlukanpengujian secara empiris. Rasio-rasio keuangan dianalisis untuk dapatmengelompokkan apakah perusahaan SEHAT atau TIDAK SEHAT. Dari rasio-rasiokeuangan tersebut, kemudian dianalisis untuk menentukan rasio yang paling dominanmengukur tingkat kesehatan masing-masing kelompok dan membedakan rasiotersebut antara kategori pengelompokan perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagaiberikut : H1 : rasio keuangan yang terdiri dari CR, DAR, DER, EM, GPM, NPM, ROI, ROE, ITO, dan TATO secara signifikan dapat membedakan status tingkat kesehatan perusahaan H2 : rasio keuangan ROE yang merupakan ukuran profitabilitas perusahaan merupakan faktor dominan dalam membedakan status tingkat kesehatan perusahaan
  • 59. B A B III METODE PENELITIAN3.1 Rancangan PenelitianPenelitian ini tergolong sebagai hypotesis testing. Menurut Sekaran (2003:124)hypotesis testing merupakan suatu penelitian yang sudah memiliki kejelasan dangambaran, pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan kausalantara variabel-variabel penelitian. Penelitian ini mengidentifikasi fakta atauperistiwa sebagai variabel yang dipengaruhi (variabel dependen) dan melakukanpenyelidikan terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi (variabel independen).3.2. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan tekstil dan alas kakiyang go public yang terdaftar pada Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada periode tahun 2003sampai dengan 2006. Periode tahun tersebut dipilih untuk mengurangi pengaruhkrisis. Pemilihan perusahaan di BEJ dikarenakan pertimbangan kemudahan aksesdata dan informasi, serta biaya dan waktu penelitian. Pemilihan sampel perusahaantekstil dan alas kaki karena jenis industri ini tergolong industri yang stabil dan tahanterhadap krisis dibandingkan dengan jenis industri lainnya. Selain itu jugadimaksudkan untuk menspesialisasi jenis industri sehingga dapat difokuskan untuksatu jenis industri dan dapat menghindari bias data yang disebabkan oleh perbedaan
  • 60. jenis industri. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini ditentukan secarapurposive sampling dimana populasi yang akan dijadikan sampel penelitian yangrepresentatif adalah populasi yang memenuhi kriteria tertentu. Adapun sample yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Perusahaan termasuk ke dalam industri tekstil dan alas kaki yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) berturut-turut mulai tahun 2003 sampai dengan 2006. Hal ini untuk menghindari adanya bias data yang disebabkan oleh perbedaan umur perusahaan selama menjadi perusahaan go publik. 2. Perusahaan harus menerbitkan laporan keuangan tahun 2003 sampai dengan 2006 dan laporan tahunan berakhir pada tanggal 31 Desember. Hal ini untuk menghindari bias angka laporan keuangan karena perbedaan tanggal laporan keuangan.3.3. Variabel Penelitian 3.3.1. Klasifikasi Variabel Dalam penelitian ini, variabel ada dua yaitu variable dependen dan variabelindevenden. Variabel dependen adalah status kinerja perusahaan yangdikelompokkan menjadi kelompok rekap dan non-rekap,. yang merupakan datanominal, dengan angka 1 mewakili kelompok rekap dan angka 0 mewakili kelompoknon-rekap.
  • 61. 3.3.2. Defenisi Operasional Variabel Variable independen ditentukan dengan mengambil sepuluh rasio keuanganyaitu : Aktiva Lancar1. Current Ratio (CR) = Kewajiban Lancar Total Kewajiban2. Debt to Asset Ratio (DAR) = Total Aktiva Total Kewajiban3. Debt to Equity Ratio (DER) = Total Ekuitas Total Aktiva4. Equity Multiplier (EM) = Total Ekuitas Laba Kotor *5. Gross Profit Margin (GPM) = Penjualan Bersih (*) Laba kotor = penjualan bersih – Harga pokok penjualan Laba Bersih6. Net Profit Margin (NPM) = Penjualan Bersih Laba Bersih7. Return On Investmentt (ROI) = Total Aktiva
  • 62. Laba Bersih8. Return On Equity (ROE) = Total Ekuitas Harga Pokok Penjualan9. Inventory Turn Over (ITO) = Persediaan Penjualan Bersih10. Total Assets Turn Over (TATO) = Total Aktiva3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi pada Bursa Efek Jakarta (BEJ).Ditetapkannya Bursa Efek Jakarta sebagai tempat penelitian denganmempertimbangkan bahwa Bursa Efek Jakarta merupakan salah satu sentralpenjualan saham perusahaan yang go public di Indonesia. Disamping itu Bursa EfekJakarta merupakan bursa efek terbesar di Indonesia.3.5. Prosedur dan Pengambilan Data Data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yangdiperoleh peneliti melalui media perantara atau merupakan data yang diperoleh dandicatat oleh pihak lain. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dataakuntansi berupa laporan keuangan perusahaan sampel yaitu Laporan Laba Rugi dan
  • 63. Neraca serta rasio keuangan periode tahun 2003-2006 yang bersumber dari ICMD,www.jsx.co.id, dan www.bes.co.id. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalahmetode dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara menggunakanjurnal-jurnal, buku-buku, serta melihat dan mengambil laporan keuangan perusahaandi Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang ada di BEJ dan juga melaluibrowsing internet di http://www.jsx.co.id/d dan www.bes.co.id. Pengumpulan dataini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang neraca dan laporan laba rugi sertarasio keuangan perusahaan sampel selama periode 2003 sampai dengan tahun 20063.6. Metode dan Teknik Analisis Data 3.6.1. Analisis Faktor Analisis faktor merupakan salah satu dari analisis ketergantungan(interdependensi) antar variabel. Prinsip dasar analisis faktor adalah mengekstraksisejumlah faktor bersama (common factors) dari gugusan variabel asal X1, X2,....,Xp,sehingga : 1. banyaknya faktor lebih sedikit dibandingkan dengan banyaknya variable asal X; 2. sebagian besar informasi (ragam) variabel asal X tersimpan dalam sejumlah faktor.
  • 64. Agar terjadi kesamaan persepsi, untuk selanjutnya faktor digunakan untukmenyebut faktor bersama. Faktor ini merupakan variabel baru yang bersifatunobservable atau variabel laten atau variabel konstruks, sedangkan variabel Xmerupakan variabel yang dapat diukur atau dapat diamati sehingga sering disebutsebagai observable variable atau variabel manifest atau indikator. Salah satu tujuan dari analisis faktor adalah mereduksi jumlah variabel dengancara mirip seperti pengelompokan variabel. Di dalam analisis faktor, variabel-variabel dikelompokkan berdasarkan korelasinya. Variabel yang berkolerasi tinggiakan berada dalam kelompok tertentu membentuk suatu faktor, sedangkan denganvariabel dalam kelompok (faktor) lain mempunyai korelasi yang relatif kecil.Kegunaan dari analisis faktor adalah sebagai berikut : 1. Mengekstraks unobservable variable (variabel laten) dari manifest variabel atau indikator atau mereduksi variabel menjadi variabel baru yang jumlahnya lebih sedikit. 2. Mempermudah interpretasi hasil analisis sehingga didapatkan informasi yang realistik dan sangat berguna. 3. Pengelompokan dan pemetaan objek (mapping dan clustering) berdasarkan karakteristik yang terkandung di dalam faktor. 4. Pemeriksaan validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. 5. Dengan diperolehnya skor faktor, maka analisis faktor merupakan langkah awal (sebagai data input) dari berbagai metode analisis data yang lain,
  • 65. misalnya analisis diskriminan, analisis regresi, cluster analisis, ANOVA, MANOVA, analisis path, model struktural, dan MDS. Analisis faktor memiliki banyak kemiripan dengan analisis komponen pokok(principle component analysis) terutama bilamana proses komputasi dalam analisisfactor didekati dengan solusi analisis komponen pokok (PCA solution), sehinggaindikator dan kriteria pemilihan faktor yang bermakna (signifikan) dan interpretasifaktor dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan analisis komponen pokok. Analisa pengelompokan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakanteori Altman yang mengelompokkan perusahaan dalam dua kelompok, yaitukelompok perusahaan berkatagorikan sehat dan kelompok perusahaan denganberkatagorikan tidak sehat. 3.6.2 Uji Asumsi Diskriminan 3.6.2.1 Uji Normalitas Data Hasil analisis diskriminan sangat sensitif jika terjadi penyimpangan atasasumsi yang digunakan. Jika asumsi kenormalan data tidak terpenuhi akan berakibatpada kesalahan dalam melakukan estimasi fungsi diskriminan. Gujarati (1997;67) menuliskan bahwa asumsi kenormalan data harus dipenuhioleh sebuah model dengan beberapa alasan : 1. Data normal menghasilkan model prediksi yang tidak bias, serta memiliki varians yang minimum.
  • 66. 2. Data normal menghasilkan model yang konsisten , yaitu dengan meningkatnya jumlah sampel ke jumlah yang tidak terbatas, penaksir akan mengarah ke nilai populasi yang sebenarnya. Pengujian terhadap normalitas data dilakukan menggunakan One SampleKolmogorov-Smirnov Test dengan α=5%. Kaidah pengambilan keputusan adalah: a. Jika Probabilitas (p) > 0,05 maka data berdistribusi normal. b. Jika Probabilitas (p) < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal. 3.6.2.2 Uji Linieritas Equality of Covariance Matrices adalah asumsi bahwa keragaman samplekeseluruhan variabel bebas dari kedua kelompok yang diteliti adalah sama.Pelanggaran terhadap asumsi ini akan menimbulkan penyimpangan terhadapkeakuratan fungsi diskriminan dalam mengelompokkan sampel kedalam salah satukategori tertentu. Pengujian dilakukan menggunakan Box’s M Test dengan α=5%.Asumsi linieritas terpenuhi apabila hasil pengujian menunjukkan nilai signifikansi <0,05. 3.6.2.3 Uji Non Multikolinieritas Multikolinearitas adalah suatu kondisi antara satu variabel bebas dengan yanglain terdapat hubungan atau korelasi. Hal ini harus dihindari untuk meminimalkankesalahan dalam menentukan goodness of fit. Deteksi ada tidaknya multikolinieritasantar variabel independen dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson. Nilai
  • 67. koefisen korelasi yang lebih kecil dari 0,5 menunjukkan tidak terdapat korelasi yangserius antar variabel. 3.6.3 Uji Diskriminan Untuk melakukan uji terhadap hipotesis dalam penelitian ini, digunakanmodel analisis diskriminan yaitu Two-Group Discriminant Analysis. Penggunaananalisis diskriminan ini dimaksudkan untuk membuat pengelompokkan terhadapsuatu observasi, baik secara kuantitatif dan secara statistik sehingga dapat dibedakandengan jelas. Model fungsi diskriminan yang digunakan dalam penelitian ini adalahsebagai berikut:D = W1X1 + W2X2 + W3X3 + W4X4+ W5X5+ W6X6+ W7X7+ W8X8+ W9X9+ W10X10 Notasi: D = nilai diskriminan W1- W10 = koefisien fungsi diskriminan X1 = CR X2 = DAR X3 = DER X4 = EM X5 = GPM X6 = NPM X7 = ROI
  • 68. X8 = ROE X9 = ITO X10 = TATO 3.6.4 Uji Hipotesis 3.6.4.1 Uji Hipotesis Ke-1 Pengujian terhadap hipotesis ke-1 dilakukan dengan melihat hasil perhitunganstandardized canonical discriminant function coefficients. Jika perhitunganmenghasilkan variabel yang secara statistik dinyatakan mampu membedakan statuspengelompokan perusahaan maka hipotesis alternatif diterima. 3.6.4.2 Uji Hipotesis Ke-2 Pengujian terhadap hipotesis ke-2 dilakukan dengan melihat besarnyakoefisien diskriminan yang dihasilkan berdasarkan perhitungan canonicaldiscriminant function coefficients dan standardized canonical discriminant functioncoefficients. Nilai koefisien diskriminan yang terbesar menunjukkan pengaruhdominan dari variabel independen.
  • 69. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN4.1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif untuk perusahaan tekstil dan alas kaki yang terdaftar diBursa Efek Jakarta dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 adalah: Tabel 4.1. Statistik DeskriptifKeterangan 2003 2004 2005 2006 Mean Std Mean Std dev Mean Std dev Mean Std dev dev CR 1.3241 0.9529 1.3222 0.8408 1.0680 0.6909 0.9793 0.6999 DAR 0.7206 0.4604 0.7676 0.7009 0.8550 0.8140 1.0191 1.0369 DER -62.3119 278.4588 14.0493 53.1940 -0.5579 8.0454 -3.2848 9.6589 EM -61.3119 278.4588 15.0493 53.1940 -1.5579 8.0454 -2.2848 9.6589 GPM 0.0533 0.1505 0.0553 0.2639 -0.0370 0.3054 0.0235 0.2549 NPM -0.0724 0.1462 -0.1483 0.5080 -0.1341 0.4981 -0.0624 0.1592 ROI -0.0415 0.1052 -0.0458 0.1485 -0.0236 0.0917 -0.0355 0.0843 ROE -0.6303 1.9574 -1.0501 4.5451 -0.0712 0.4782 0.5093 1.6042 ITO 4.5974 2.6771 5.0620 3.8941 5.2414 3.6167 5.4252 3.2658 TATO 0.8524 0.5186 0.8922 0.5122 0.9440 0.6153 0.9355 0.5744 Populasi yang menjadi objek penelitian ini adalah seluruh perusahaan tekstildan alas kaki yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta . Jumlah seluruh perusahaan ada 20perusahaan. Sampel yang digunakan terdiri dari dua kelompok, yaitu perusahaandengan katagori sehat, dan perusahaan dengan katagori tidak sehat. Pengelompokanawal terhadap sampel dilakukan dengan menggunakan analisa Z Score Altman.
  • 70. Apabila Z Score lebih besar atau sama dengan 1,88 perusahaan dikatagorikan sehat,dan apabila Z Score lebih kecil dari 1,88 maka perusahaan dikatagorikan tidak sehat.4.2. Uji Normalitas Data Sedangkan untuk uji normalitas data dapat dilihat dari gambar 4.1. Normal P-P Plot dari gambar tahun 2003 sampai tahun 2006 menyebar disepanjang garisdiagonal dari atas ke bawah. Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable: Sehat 1.0 0.8 Expected Cum Prob 0.6 0.4 0.2 0.0 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 Observed Cum Prob Gambar 4.1. Normal P-P Plot4.3. Uji Linieritas Pengujian in dilakukan dengan menggunakan Box’s M Test dengan α=5%.Asumsi linieritas terpenuhi apabila hasil pengujian menunjukkan nilai signifikansi <
  • 71. 0,05. Dalam table ditunjukkan bahwa variance error dari keseluruhan variableindependen adalah konstan karena menghasilkan signifikan sebesar 0,000 (lebih kecildari 0,05) artinya data telah memenuhi asumsi linieritas. Hasil pengujian dapat dlihatpada table 4.3 berikut ini : Tabel 4.2. Hasil Uji Linieritas Box M F Approx 5.79 df1 45.00 df2 1,974.004.4. Uji Multikolinieritas Uji Multikolinieritas digunakan untuk melihat ada tidaknya korelasi antarvariabel independen. Pemenuhan terhadap asumsi non multikolinieritas dilakukandengan cara melihat besarnya koefisien korelasi antar masing-masing variableindependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan Pearson Correlation. Padalampiran 1 dapat dilihat pada bagian Correlation, nilai koefisien korelasinya hampirsemua variabel lebih kecil dari 0,5.4.5. Uji Diskriminan Uji diskriminan dilakukan dengan mengumpulkan semua populasi perusahaantekstil dan alas kaki. Kemudian dicari rasio-rasio yaitu working capital to total assets(WC/TA), retained earnings to total assets (RE/TA), earnings before interests andtaxes to total assets (EBIT/TA), market value of equity to book value of total debt
  • 72. (MVE/BVD), sales to total assets (S/TA) seperti yang digunakan oleh Altman (1984)untuk memprediksi kebangkrutan. Rasio yang diambil adalah rasio untuk tahun 2003,2004, dan 2005. Setelah itu dimasukkan rasio-rasio tersebut ke dalam persamaan Zscore Altman dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Z = 0,717WC/TA + 0,847RE/TA + 3,107EBIT/TA + 0,420MVE/BVD + 0,998S/TA Setelah mendapatkan Z score menurut Altman (1984) maka dilakukanpenggolongan perusahaan berdasarkan kriteria : group “0” adalah perusahaankatagori tidak sehat, dan group “1” adalah perusahaan katagori sehat. (Lampiran 2) Nilai Z score berdasarkan sehat dan tidak sehat adalah sebagai berikut: Z= > 1,88 : perusahaan dengan kriteria sehat (Group 1) Z< 1.88 : perusahaan dengan kriteria tidak sehat. (Group 0) Kemudian dicari rasio-rasio (variabel-variabel X) dari tahun 2004 sampai2005 yaitu current ratio (CR), debt to asset ratio (DAR), debt to equity ratio (DER),equity multiplier (EM), gross profit margin (GPM), net profit margin (NPM), returnon investment (ROI), return on equity (ROE), inventory turn over (ITO), total assetturn over (TATO) untuk perusahaan yang sehat dan tidak sehat. Setelah mendapatrasio-rasio tersebut kemudian memasukkannya kedalam uji normalitas, linieritas, danuji multikolinieritas.
  • 73. 4.6. Pengujian Hipotesis 4.6.1. Pengujian Hipotesis ke-1 Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada table 4.4. Tabel 4.3. Uji Discriminant Tests of Equality of Group Means Wilks Lambda F df1 df2 Sig. CR ,552 47,155 1 58 ,000 DAR ,892 7,033 1 58 ,010 DER ,997 ,151 1 58 ,699 EM ,997 ,151 1 58 ,699 GPM ,842 10,903 1 58 ,002 NPM ,931 4,300 1 58 ,043 ROI ,808 13,772 1 58 ,000 ROE ,982 1,081 1 58 ,303 ITO ,963 2,228 1 58 ,141 TATO ,721 22,455 1 58 ,0001. Variabel Current Ratio (CR) P-value (Sig.) 0.000 < 0.05 Level of significant sehingga Ha1.1 diterima dan Ho1.1. ditolak. Ini berarti CR dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.2. Variabel Debt to Asset Ratio (DAR) P-value (Sig.) 0.010 < 0.05 Level of significant sehingga Ha2.1 diterima dan Ho2.1. ditolak. Ini berarti DAR dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.
  • 74. 3. Variabel Debt to Equity Ratio (DER) P-value (Sig.) 0.699 > 0.05 Level of significant sehingga Ha3.1 ditolak dan Ho3.1. diterima. Ini berarti DER tidak dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.4. Variabel Equity Multiplier (EM) P-value (Sig.) 0.699 < 0.05 Level of significant sehingga Ha4.1 ditolak dan Ho4.1. diterima. Ini berarti EM tidak dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan5. Variabel Gross Profit Margin (GPM) P-value (Sig.) 0.002 < 0.05 Level of significant sehingga Ha5.1 diterima dan Ho5.1. ditolak. Ini berarti GPM dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.6. Variabel Net Profit Margin (NPM) P-value (Sig.) 0.043 < 0.05 Level of significant sehingga Ha6.1 diterima dan Ho6.1. ditolak. Ini berarti NPM dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.7. Variabel Return on Investment (ROI) P-value (Sig.) 0.000 < 0.05 Level of significant sehingga Ha7.1 diterima dan Ho7.1. ditolak. Ini berarti ROI dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.
  • 75. 8. Variabel Return On Equity (ROE) P-value (Sig.) 0.303 < 0.05 Level of significant sehingga Ha8.1 ditolak dan Ho8.1. diterima. Ini berarti ROE tidak dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.9. Variabel Inventory Turn Over (ITO) P-value (Sig.) 0.141 > 0.05 Level of significant sehingga Ha9.1 ditolak dan Ho9.1. diterima. Ini berarti ITO tidak dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan.10. Variabel Total Asset Turn Over (TATO) P-value (Sig.) 0.000 < 0.05 Level of significant sehingga Ha10.1 diterima dan Ho10.1. ditolak. Ini berarti TATO dapat digunakan untuk membedakan tingkat kesehatan perusahaan. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa kelompok perusahaan tekstil danalaskaki dapat dijelaskan oleh variabel Current Ratio (CR), Debt to Asset Ratio(DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Equity Multiplier (EM), Gross Profit Margin(GPM), Net Profit Margin (NPM), Return On Investment (ROI), Return on Equity(ROE), Inventory Turn Over (ITO), Total Asset Turn Over (TATO) sebesar 0.809 atau80,9% dan 19,100% dijelaskan oleh variable di luar variabel tersebut. (Tabel 4.5)
  • 76. Tabel 4.4. Variabel di luar variabel Eigenvalues Canonical Function Eigenvalue % of Variance Cumulative % Correlation 1 1,889 a 100,0 100,0 ,809 a. First 1 canonical discriminant functions were used in the analysis. Tabel 4.6 menunjukkan nilai p-value (Sig) 0.000 < 0.05 level of significantyang digunakan. Artinya bahwa nilai rata-rata Current Ratio (CR), Debt to AssetRatio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Equity Multiplier (EM), Gross ProfitMargin (GPM), Net Profit Margin (NPM), Return On Investment (ROI), Return onEquity (ROE), Inventory Turn Over (ITO), dan Total Asset Turn Over (TATO) duakelompok perusahaan tekstil dan alas kaki secara bersama-sama berbeda”. Tabel 4.5. Nilai p-value Wilks Lambda Wilks Test of Function(s) Lambda Chi-square df Sig. 1 ,346 56,756 9 ,000 Tabel 4.7 dapat dibentuk menjadi fungsi diskriminan sebagai berikut:D = -3,176 + 1,306 CR + 0,295 DAR – 0,002 DER + 4,870 GPM – 3.461 NPM + 2,969 ROI + 0,112 ROE - 0.032 ITO + 1,276 TATO
  • 77. Dengan mengabaikan konstanta maka fungsi diskriminan yang dibentuk adalah :D = 1,306 CR + 0,295 DAR – 0,002 DER + 4,870 GPM – 3.461 NPM + 2,969 ROI + 0,112 ROE - 0.032 ITO + 1,276 TATO Tabel 4.6. Canonical Discriminant Function Coefficients Function 1 CR 1,306 DAR ,295 DER -,002 GPM 4,870 NPM -3,461 ROI 2,969 ROE ,112 ITO -,032 TATO 1,276 (Constant) -3,176 Unstandardized coefficients Dari persamaan tersebut terlihat nilai rata-rata rasio yang paling dominanuntuk memprediksi perbedaan kelompok antara perusahaan tekstil dan alas kakiadalah rasio GPM, karena memiliki nilai koefisien tertinggi, yaitu 4,870. Sedangkanrata-rata nilai rasio yang paling lemah adalah Rasio NPM karena memiliki koefisien -3,461.
  • 78. Tabel 4.7. Standardized Canonical Discriminant Function Coefficients Function 1 CR ,829 DAR ,250 DER -,247 GPM 1,334 NPM -1,696 ROI ,367 ROE ,304 ITO -,112 TATO ,592 Dari tabel 4.8 terlihat bahwa variable diskriminan yang paling penting untukmemprediksi perbedaan dapat diurutkan berdasarkan nilai Function Coefficientssebagai berikut: 1. GPM = 1,334 2. CR = 0,829 3. TATO = 0,592 4. ROI = 0,367 5. ROE = 0,304 6. DAR = 0,250 7. ITO = - 0.112 8. DER = -0.247 9. NPM = -1.696
  • 79. 4.6.2. Pengujian Hipotesis ke-2 Hipotesis Ke-2 menyatakan bahwa rasio mana yang paling dominan dalampenilaian tingkat kesehatan guna memprediksi tingkat kesehatan perusahaan padapada perusahaan tekstil dan alas kaki yang go public di BEJ pada tahun 2005, 2006,dan 2007. Pengujian ini dilakukan dengan melihat hasil dari standardized canonocaldiscriminant function coefficients. Hasil pengujian pada tabel 4.8 Rasio-rasio yang paling sering digunakan untuk memprediksi tingkatkesehatan perusahaan tekstil dan alas kaki adalah didasarkan tabel 4.8. Standardizedcanonical discriminant function coefficients. Dari tabel tersebut kelihatan rasio yangpaling dominan untuk memprediksi tingkat kesehatan perusahaan adalah rasio GrossProfi Margin. Dengan demikian Hipotesis kedua yang mengatakan rasio Return onEquity (ROE) adalah merupakan factor yang dominan dalam membedakan statustingkat kesehatan perusahaan ditolak, karena rasio yang paling dominan untukmembedakan tingkat kesehatan perusahaan tekstil dan alas kaki yang terdaftar diBursa Efek Jakarta adalah rasio “Gross Profit Margin (GPM)”4.7. Pembahasan Hasil Penelitian 4.7.1 Pembahasan Hasil Pengujian Hipotesis Ke-1 Berdasarkan hasil pengujian terhadap hipotesis ke-1, penelitian ini mampumembuktikan bahwa analisis rasio keuangan dapat digunakan sebagai pembeda
  • 80. didalam menentukan tingkat kesehatan perusahaan tekstil dan alas kaki yang terdaftardi BEJ. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari keseluruhan variabel independenyang digunakan, variabel GPM, ROI, CR, TATO, DAR dan ROE secara statistikdinyatakan mampu membedakan status tingkat kesehatan perusahaan.. VariabelGPM, ROI dan ROE adalah merupakan ukuran dari profitabilitas perusahaan. Hasilpenelitian ini mendukung hasil penelitian Aryati dan Manao (2000), dimana hasilpenelitiannya juga mampu menunjukkan bahwa penggunaan analisis CAMELmampu digunakan sebagai pembeda status tingkat kesehatan perbankan, denganvariabel ROA sebagai pembeda. Berdasarkan hasil perhitungan summary ofcanonical discriminant function, diperoleh nilai Canonical Correlation (CC) sebesar0,809 yang berarti Rasio CR, DAR, DER, EM, GPM, NPM, ROI, ROE, ITO danTATO dapat membedakan tingkat kesehatan perusahaan yang diteliti sebesar 80,90% dan sisanya sebesar 19,10% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian. Hal inimenunjukkan bahwa model diskriminan yang digunakan memiliki tingkat keakuratanyang masih cukup tinggi dalam menjelaskan status tingkat kesehatan perusahaan..Hasil ini juga mengimplikasikan bahwa penggunaan analisis ternyata memilikikemampuan yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai alat prediksi tingkatkesehatan perusahaan, dengan demikian dapat juga memprediksi potensikebangkrutan perusahaan.
  • 81. 4.7.2 Pembahasan Hasil Pengujian Hipotesis Ke-2 Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan nilai standardizedcanonical discriminant function coefficients, diperoleh nilai koefisien diskriminanterhadap GPM adalah fungsi yang paling besar yaitu berjumlah 1,334 yang diikutirasio yang lain, dan GPM adalah salah satu rasio profitabilitas. Ukuran profitabilitas merupakan ukuran kinerja yang digunakan untukmengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periodetertentu dan mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasinya.Semakin tinggi tingkat profitabilitas, akan diikuti oleh ketercukupan aliran kasinternal yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat digunakan untuk kegiatan ekspansiataupun pembayaran dividen. Hasil pengujian yang menemukan adanya pengaruh dominan dari GPM, yangmenolak hipotesis ke-2 tetapi tetap menunjukkan bahwa ukuran kemampuanperusahaan dalam memenuhi pendapatan bagi pemegang saham masih menjadi faktorpenentu terhadap kinerja saham perusahaan. Rasio profitabilitas yang tinggi masihmenjadi ukuran utama bagi investor untuk menentukan investasinya pada suatusaham. Dengan adanya fenomena tersebut menunjukkan implikasi bahwakeberhasilan operasional perusahaan di masa depan juga sangat ditentukan olehkeberhasilan perusahaan tersebut dalam mendapatkan dana dari investor. Hal tersebutmerupakan suatu hubungan logis, dimana ketersediaan dana yang cukup merupakansyarat mutlak bagi tercapainya efisiensi operasi perusahaan.
  • 82. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN5.1. Kesimpulan Dari uraian pembahasan dapat disimpulkan bahwa:a. Rasio-rasio keuangan dari tahun 2003, s/d 2006 yang terdiri dari CR, DAR, DER, EM, GPM, NPM, ROI, ROE, ITO, dan TATO secara signifikan dapat membedakan status tingkat kesehatan perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari Test of Equality of Group Means dari tahun 2003, s/d 2006 semua P-value (Sig) < 0,05. Berarti hipotesis H1 yang dipilih.b. Rasio keuangan GPM dari tahun 2003 s/d 2006 merupakan ukuran profitabilitas perusahaan yang merupakan faktor yang paling dominan dapat membedakan status tingkat kesehatan perusahaan. Keadaan ini dapat dilihat dari Cannonical Discriminant Function Coefficients dan Standardized Cannonical Discriminat Function Coefficients yang menunjukkan nilai GPM dan bukan ROI menduduki nilai yang paling tinggi untuk tahun 2003, s/d 2006. Keadaan ini menunjukkan hipotesis alternative yang dipilih.5.2. Implikasi Bagi investor dan broker, penelitian ini bisa menunjukkan bahwa dalam mengambil keputusan perlu melakukan analisis terlebih dahulu terhadap laporan
  • 83. keuangan terutama pada rasio keuangan. Karena setelah diteliti pengaruh rasio keuangan cukup besar dalam menentukan tingkat kesehatan perusahaan. Bagi dunia akademisi diharapkan dapat mengembangkan metode pendeteksian rasio keuangan yang lebih powerful dari yang telah dikenal selama ini. Bagi mahasiswa sebagai tambahan literatur untuk mengembangkan riset-riset yang dilakukan dimasa mendatang atau selanjutnya.5.3. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini terbatas pada sampel karena perusahaan tekstil dan alas kakimasih sedikit yang terdaftar di bursa efek jakarta. Sehingga dari semua perusahaantekstil dan alas kaki rata-rata semuanya dimasukkan dalam penelitian ini. Kedua, penelitian ini tidak mencoba memperluas dengan mengambil sampeldari jenis perusahaan manufaktur dan industri. Ketiga, pengaruh kondisi ekonomi yang mengalami reformasi dari tahun2003-2006 dapat mempengaruhi hasil penelitian.5.4. Saran Saran untuk penelitian lebih lanjut dapat dikembangkan dengan pengambilansampel yang lebih besar tidak hanya perusahaan tekstil dan alas kaki tetapi diperluaspada perusahaan manufaktur dan perdagangan, serta telekomunikasi. Sehingga
  • 84. sampel penelitian tidak hanya pada perusahaan yang banyak mengalamikebangkrutan saja yang diteliti tetapi pada perusahaan yang maju. Dalam melihat tingkat kesehatan perusahaan, hendaknya peneliti selanjutnyamemasukkan variabel lain untuk rasionya seperti rasio Economic Value Added(EVA).
  • 85. DAFTAR PUSTAKAAlmilia Luciana Spica, 2006, Prediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Go Public Dengan Menggunakan Analisis Multinomial Logit. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia. Vol.XII. No.1.Aryati, Titik, SE. Msi. Ak. dan Dr. Hekinus Manao, Ak. Macc. CGFM. 2000. Rasio Keuangan Sebagai Prediktor Bank Bermasalah Di Indonesia. Makalah Simposium Nasional Akuntansi III Buku I. Jakarta. Indonesia: Universitas Indonesia.Asyik, Nur Fadjrih dan Soelistyo. 2000. Kemampuan Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Laba (Penetapan Rasio Keuangan Sebagai Discriminator). Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia. Vol.15. No.3.Atmaja, Lukas Setia. Drs. M.Sc. 2003. Manajemen Keuangan (Edisi Revisi). Edisi Ketiga. ANDI. Yogyakarta.Darsono. Drs. MBA. Akt. dan Ashari, SE, Akt. 2005. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan. Edisi Pertama. ANDI. Yogyakarta.Gujarati, Damodar. 1997. Ekonometrika Dasar. Erlangga. Jakarta.IAI. 2004. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta.Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertama. BPFE. Yogyakarta.Lisetyati Eni, Analisa Laporan Keuangan Sebagai Alat Prediksi Kebangkrutan Bank. 2000. Tesis. Universitas Gajah Mada. YoyakartaKuswadi. Ir. MBA. 2006. Memahami Rasio-Rasio Keuangan Bagi Orang Awam. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.Machfoedz, Mas’ud. 1999. Profil Kinerja Finansial Perusahaan-Perusahaan Yang Go Public Di Pasar Modal ASEAN. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia. Vol.14. No.3.Meriewaty, Dian dan Astuti Yuli Setyani. 2005. Analisis Rasio Keuangan Terhadap Perubahan Kinerja Pada Perusahaan Di Industri Food And Beverages Yang Terdaftar Di BEJ. Simposium Nasional Akuntansi VIII. Solo.
  • 86. Prihantono, Eko Yuni. 2001. Penyelesaian Bank Bermasalah: Upaya Mencari Model Solusi Perbankan. Jurnal Keuangan dan Perbankan. Th.V. No.1.Sawir, Agnes. 2005. Analisis Kinerja Keuangan Dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.Sekaran, Uma. 2003. Research Methods for Business: A Skill Building Approach. USA: John Wiley & Sons, Inc.Sitanggang, Eva Rianty Angelina. Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Di Bursa Efek Jakarta Sebelum dan Selama Masa Krisis Ekonomi Serta Prediksi Kebangkrutan Perusahaan. 2003. Tesis. Universitas Sumatera UtaraSubekti, Imam dan MAF Suprapti. 2002. Asosiasi Antara Potensi Pertumbuhan Perusahaan Dengan Volume Perdagangan Saham Dan Asimetri Informasi. Simposium Nasional Akuntansi 5. Semarang.Suhartanto, Budi Setyo dan Nur Indriantoro. 1998. Distribusi Rasio Keuangan Industri Studi Empiris Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi Dan Auditing Indonesia. Vol.2. no.2..Surifah. 2000. Manfaat Dan Keterbatasan Laporan Keuangan Suatu Tinjauan Teoritis Dan Empiris. Kompak. April. No.23.Surifah. 2002. Kinerja Keuangan Perbankan Swasta Nasional Indonesia Sebelum Dan Setelah Krisis Ekonomi. Jurnal Akuntansi Dan Auditing Indonesia. Vol.6. No.2.Susyanti, Jeni. 2004. Tinjauan Atas Kinerja Sektor Perbankan yang Listing di Bursa Efek Jakarta dengan Model Economic Value Added Sebelum dan Selama Krisis Moneter. Jurnal Ekonomi Unmer. Vol.8. No.2.Wahyudi, Setyo Tri dan Ghozali Maskie. 2004. Analisis Diskriminan Tentang Kinerja Keuangan Dan Prediksi Pengelompokan Bank (Studi Kasus Bank Rekap di Indonesia Periode 1998-2003). TEMA. Vol. 5 No. 2.