DISUSUN OLEH: DEWI AGUNG (27020131) HELYNDA DELMIYANTI (27020132) RISNA ARISTIANI (27020128)
PENDAHULUAN <ul><li>  Menurut standar pengauditan, faktor yang membedakan antara kecurangan dan kekeliruan adalah apakah t...
PEMBAHASAN <ul><li>1. PENGERTIAN FRAUD AUDITING </li></ul><ul><li>Kecurangan berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan seh...
<ul><li>Unsur-unsur dari kecurangan (keseluruhan unsur harus ada, jika ada yang tidak ada maka dianggap kecurangan tidak t...
2. Gejala Adanya Kecurangan <ul><li>a. Gejala kecurangan manajemen • Ketidakcocokan diantara manajemen puncak • Moral dan ...
3. Faktor Pendorong Kecurangan <ul><li>a. Greed (keserakahan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku ke...
4. Pencegahan Kecurangan : Faktor individu <ul><li>1. Moral: Faktor ini berhubungan dengan keserakahan (greed).  a. Misi/t...
5. Kategori Kecurangan <ul><li>Berdasarkan pencatatan </li></ul><ul><li>a. Pencurian aset yang tampak secara terbuka pada ...
6. Tindakan/perilaku pelaku kecurangan <ul><li>•  Perubahan perilaku secara signifikan, seperti: easy going, tidak seperti...
7. Ada 6 bidang yang beresiko tinggi terkena fraud <ul><li>1. Purchasing and payroll   Fraud  dalam purchasing biasanya di...
<ul><li>Pada dasarnya kecurangan sering terjadi pada suatu suatu entitas apabila : </li></ul><ul><li>a. Pengendalian inter...
8. Pencegahan Kecurangan <ul><li>Kecurangan yang mungkin terjadi harus dicegah antara lain dengan cara –cara berikut : </l...
<ul><li>b)   Mengefektifkan aktivitas pengendalian </li></ul><ul><li>1. Review Kinerja </li></ul><ul><li>  2. Pengolahan i...
<ul><li>d)   Mengefektifkan fungsi internal audit </li></ul><ul><li>(1) Internal audit departemen harus mempunyai keduduka...
<ul><li>e) Menciptakan struktur penggajian yang wajar dan pantas </li></ul><ul><li>f) Mengadakan Rotasi dan kewajiban bagi...
9. Pendeteksian Kecurangan <ul><li>1. Kecurangan Laporan Keuangan  (Financial Statement Fraud ) </li></ul><ul><li>Kecurang...
TERIMA KASIH
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Fraud auditing

15,319

Published on

Published in: Technology, Health & Medicine
6 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
15,319
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
628
Comments
6
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Fraud auditing

  1. 1. DISUSUN OLEH: DEWI AGUNG (27020131) HELYNDA DELMIYANTI (27020132) RISNA ARISTIANI (27020128)
  2. 2. PENDAHULUAN <ul><li> Menurut standar pengauditan, faktor yang membedakan antara kecurangan dan kekeliruan adalah apakah tindakan yang mendasarinya, yang berakibat terjadinya salah saji dalam laporan keuangan, berupa tindakan yang disengaja atau tidak disengaja (IAI, 2001). Terjadinya kecurangan– suatu tindakan yang disengaja - yang tidak dapat terdeteksi oleh suatu pengauditan dapat memberikan efek yang merugikan dan cacat bagi proses pelaporan keuangan. Adanya kecurangan berakibat serius dan membawa banyak kerugian. </li></ul><ul><li>Ada dua tipe salah saji yang relevan dengan pertimbangan auditor tentang kecurangan dalam audit atas laporan keuangan-salah saji yang timbul sebagai akibat dari kecurangan dalam pelaporan keuangan dan kecurangan yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva. </li></ul>
  3. 3. PEMBAHASAN <ul><li>1. PENGERTIAN FRAUD AUDITING </li></ul><ul><li>Kecurangan berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga menyebabkan informasi tidak benar, apabila suatu kesalahan adalah disengaja maka kesalahan tersebut merupakan kecurangan (fraudulent). </li></ul><ul><li>Fraud Auditing hendaknya disebut dengan istilah Audit atas Kecurangan, yang dapat didefinisikan sebagai Audit Khusus yang dimaksudkan untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya penyimpangan atau kecurangan atas transaksi keuangan. Fraud auditing termasuk dalam audit khusus yang berbeda dengan audit umum terutama dalam hal tujuan yaitu fraud auditing mempunyai tujuan yang lebih sempit (khusus) dan cenderung untuk mengungkap suatu kecurangan yang diduga terjadi dalam pengelolaan asset/aktiva. </li></ul>
  4. 4. <ul><li>Unsur-unsur dari kecurangan (keseluruhan unsur harus ada, jika ada yang tidak ada maka dianggap kecurangan tidak terjadi) adalah harus terdapat salah pernyataan (misrepresentation), dari suatu masa lampau (past) atau sekarang (present), fakta bersifat material (material fact), dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make-knowingly or recklessly), dengan maksud (intent), untuk menyebabkan suatu pihak beraksi. Pihak yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap salah pernyataan tersebut (misrepresentation) yang merugikannya (detriment). Kecurangan dalam tulisan ini termasuk (namun tidak terbatas pada) manipulasi, penyalahgunaan jabatan, penggelapan pajak, pencurian aktiva, dan tindakan buruk lainnya yang dilakukan oleh seseorang yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasi/perusahaan. </li></ul>
  5. 5. 2. Gejala Adanya Kecurangan <ul><li>a. Gejala kecurangan manajemen • Ketidakcocokan diantara manajemen puncak • Moral dan motivasi karyawan rendah • Departemen akuntansi kekurangan staf • Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak • konsumen, pemasok, atau badan otoritas • Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi • Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang meningkat • Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu yang lama • Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan • Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun buku b. Gejala kecurangan karyawan • Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa perincian/penjelasan pendukung • Pengeluaran tanpa dokumen pendukung • Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar • Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung pembayaran • Kekurangan barang yang diterima • Kemahalan harga barang yang dibeli • Faktur ganda dan penggantian mutu barang </li></ul>
  6. 6. 3. Faktor Pendorong Kecurangan <ul><li>a. Greed (keserakahan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). </li></ul><ul><li>b. Opportunity (kesempatan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Kesempatan (opportunity) untuk melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun, ada yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. Secara umum manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan. </li></ul><ul><li>c. Need (kebutuhan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). </li></ul><ul><li>d. Exposure (pengungkapan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Pengungkapan (exposure) suatu kecurangan belum menjamin tidak terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh pelaku yang lain. Oleh karena itu, setiap pelaku kecurangan seharusnya dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap. </li></ul>
  7. 7. 4. Pencegahan Kecurangan : Faktor individu <ul><li>1. Moral: Faktor ini berhubungan dengan keserakahan (greed). a. Misi/tujuan organisasi/perusahaan, ditetapkan dan dicapai dengan melibatkan seluruh pihak (manajemen dan karyawan) b. Aturan perilaku pegawai, dikaitkan dengan lingkungan dan budaya organisasi/perusahaan c. Gaya manajemen, memberikan contoh bekerja sesuai dengan misi dan aturan perilaku yang ditetapkan organisasi/perusahaan d. Praktik penerimaan pegawai, dicegah diterimanya karyawan yang bermoral tidak baik </li></ul><ul><li>2. Motivasi: Faktor ini berhubungan dengan kebutuhan (need). a. Menciptakan lingkungan yang menyenangkan, misalnya: memperlakukan pegawai secara wajar, berkomunikasi secara terbuka, dan adanya mekanisme agar setiap keluhan dapat didiskusikan dan diselesaikan b. Sistem pengukuran kinerja dan penghargaan, yang wajar sehingga karyawan merasa diperlakukan secara adil c. Bantuan konsultasi pegawai, untuk mengetahui masalah secara dini d. Proses penerimaan karyawan, untuk mengidentifikasi calon karyawan yang berisiko tinggi dan sekaligus mendiskualifikasinya e. Kehati-hatian, mengingat motivasi seseorang tidak dapat diamati mata telanjang, sebaliknya produk motivasi tersebut tidak dapat disembunyikan </li></ul>
  8. 8. 5. Kategori Kecurangan <ul><li>Berdasarkan pencatatan </li></ul><ul><li>a. Pencurian aset yang tampak secara terbuka pada buku </li></ul><ul><li>b. Pencurian aset yang tampak pada buku, namun tersembunyi diantara catatan akuntansi yang valid </li></ul><ul><li>c. Pencurian aset yang tidak tampak pada buku, dan tidak akan dapat dideteksi melalui pengujian transaksi akuntansi “yang dibukukan” </li></ul><ul><li>Berdasarkan frekuensi </li></ul><ul><li>a. Tidak berulang (non-repeating fraud) </li></ul><ul><li>b. Berulang (repeating fraud) </li></ul><ul><li>Berdasarkan konspirasi </li></ul><ul><li>Berdasarkan keunikan </li></ul><ul><li>a. Kecurangan khusus (specialized fraud) </li></ul><ul><li>b. Kecurangan umum (garden varieties of fraud) </li></ul>
  9. 9. 6. Tindakan/perilaku pelaku kecurangan <ul><li>• Perubahan perilaku secara signifikan, seperti: easy going, tidak seperti biasanya, gaya hidup mewah. • Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat kerja • Penjudi dan peminum berat • Sedang dililit utang • Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities) dianggap tidak material ketika ditemukan • Bekerja tenang, bekerja keras, bekerja melampaui jam kerja, sering bekerja sendiri </li></ul>
  10. 10. 7. Ada 6 bidang yang beresiko tinggi terkena fraud <ul><li>1. Purchasing and payroll Fraud dalam purchasing biasanya dilakukan dengan cara: - “Kickback” atau suap diberikan kepada pihak yang mengurus pembelian sebagai imbalan atas diberikannya kontrak kepada supplier. - “Invoice palsu” yang dibuat sendiri oleh pihak yang mengurus pembelian, kemudian ditagihkan ke perusahaan dan dibayar. - “Manipulasi data supplier” misalnya nomor rekening pembayaran ke supplier diubah ke rekening orang lain. Sementara fraud dalam payroll misalnya jam overtime yang berlebih. </li></ul><ul><li>2. Sales and inventory Fraud dalam jenis ini misalnya: a. Pencurian inventory baik yang sedang disimpan atau dalam pengiriman. </li></ul><ul><li>b. Transaksi penjualan dengan sengaja tidak dicatat atau dikurangi pencatatannya dan uang yang diterima atas penjualan tersebut masuk ke kantong pribadi c. Mengurangi atau menghapuskan jumlah utang konsumen atas barang yang sudah dijual secara kredit d. Mencatat transaksi penjualan palsu untuk mendapatkan komisi atau bonus terkait dengan penjualan e. Memberikan diskon berlebihan kepada konsumen (biasanya dengan imbalan ‘kickbacks’) </li></ul><ul><li>3. Cash and check Kas merupakan aset yang paling sensitif terhadap fraud karena ‘nature’ nya yang kelihatan secara fisik dan relatif lebih mudah dipindahtangankan dibandingkan aset perusahaan yang lain. Fraud atas cek biasanya terjadi ketika terdapat kelemahan dalam proses bank reconciliation dan tidak ada segregation of duties. </li></ul><ul><li>4. Physical security Kelemahan dalam physical security dapat menimbulkan asset misapropriation. </li></ul><ul><li>5. Hak kekayaan intelektual (HAKI) dan kerahasiaan informasi Ini terkait dengan fraud dalam pembajakan dan pencurian informasi penting milik perusahaan. 6. Information Technology IT fraud meliputi hacking, mail-bombing, spamming, domain name hijacking, server takeovers, denial of service, internet money laundering, electronic eavesdropping, electronic vandalism and terrorrism. </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Pada dasarnya kecurangan sering terjadi pada suatu suatu entitas apabila : </li></ul><ul><li>a. Pengendalian intern tidak ada atau lemah atau dilakukan dengan longgar dan tidak efektif. </li></ul><ul><li>b. Pegawai dipekerjakan tanpa memikirkan kejujuran dan integritas mereka. </li></ul><ul><li>c. Pegawai diatur, dieksploitasi dengan tidak baik, disalahgunakan atau ditempatkan dengan tekanan yang besar untuk mencapai sasaran dan tujuan keuangan yang mengarah tindakan kecurangan. </li></ul><ul><li>d. Model manajemen sendiri melakukan kecurangan, tidak efsien dan atau tidak efektif serta tidak taat terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. </li></ul><ul><li>e. Pegawai yang dipercaya memiliki masalah pribadi yang tidak dapat dipecahkan, biasanya masalah keuangan, kebutuhan kesehatan keluarga, gaya hidup yang berlebihan. </li></ul><ul><li>f. Industri dimana perusahaan menjadi bagiannya, memiliki sejarah atau tradisi kecurangan </li></ul>
  12. 12. 8. Pencegahan Kecurangan <ul><li>Kecurangan yang mungkin terjadi harus dicegah antara lain dengan cara –cara berikut : </li></ul><ul><li>a) Membangun struktur pengendalian intern yang baik </li></ul><ul><li>Pengendalian intern terdiri atas 5 ( lima ) komponen yang saling terkait yaitu : </li></ul><ul><li>1. Lingkungan pengendalian ( control environment ) menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur. </li></ul><ul><li>2. Penaksiran risiko ( risk assessment ) adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menenetukan bagaimana risiko harus dikelola. </li></ul><ul><li>3. Standar Pengendalian ( control activities ) adalah kebijakan dari prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. </li></ul><ul><li>4. Informasi dan komunikasi ( information and communication ) adalah pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dari waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggungjawab mereka. </li></ul><ul><li>5. Pemantauan ( monitoring ) adalah proses menentukan mutu kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan mencakup penentuan disain dan operasi pengendalian yang tepat waktu dan pengambilan tindakan koreksi. </li></ul>
  13. 13. <ul><li>b) Mengefektifkan aktivitas pengendalian </li></ul><ul><li>1. Review Kinerja </li></ul><ul><li> 2. Pengolahan informasi </li></ul><ul><li> 3. Pengendalian fisik </li></ul><ul><li> 4. Pemisahan tugas </li></ul><ul><li>c) Meningkatkan kultur organisasi </li></ul><ul><li>1. Keadilan ( Fairness ) </li></ul><ul><li>2. Transparansi </li></ul><ul><li>3. Akuntabilitas ( Accountability ) </li></ul><ul><li>4. Tanggung jawab ( Responsibility ) </li></ul><ul><li>5. Moralitas </li></ul><ul><li>6. Kehandalan ( Reliability ) </li></ul><ul><li>7. Komitmen </li></ul>
  14. 14. <ul><li>d) Mengefektifkan fungsi internal audit </li></ul><ul><li>(1) Internal audit departemen harus mempunyai kedudukan yang independen dalam organisasi perusahaan </li></ul><ul><li>(2) Internal audit departemen harus mempunyai uraian tugas secara tertulis </li></ul><ul><li>(3) Internal audit harus mempunyai internal audit manual yang berguna untuk : </li></ul><ul><li>- mencegah terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas </li></ul><ul><li>- menentukan standar yang berguna untuk mengukur dan meningkatkan performance </li></ul><ul><li>- memberi keyakinan bahwa hasil akhir internal audit departemen sesuai dengan requirement dari internal audit director </li></ul><ul><li>(4) Harus ada dukungan yang kuat dari top manajemen kepada internal audit departemen </li></ul><ul><li>(5) Internal audit departemen harus memiliki sumber daya yang profesional, capable, bisa bersikap objective dan mempunyai integritas serta loyalitas yang tinggi </li></ul><ul><li>(6) Internal auditor harus bisa bekerjasama dengan akuntan publik </li></ul>
  15. 15. <ul><li>e) Menciptakan struktur penggajian yang wajar dan pantas </li></ul><ul><li>f) Mengadakan Rotasi dan kewajiban bagi pegawai untuk mengambil hak cuti </li></ul><ul><li>g) Memberikan sanksi yang tegas kepada yang melakukan kecurangan dan berikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi </li></ul><ul><li>h) Membuat program bantuan kepada pegawai yang mendapatkan kesulitan baik dalam hal keuangan maupun non keuangan </li></ul><ul><li>i) Menetapkan kebijakan perusahaan terhadap pemberian-pemberian dari luar harus diinformasikan dan dijelaskan pada orang-orang yang dianggap perlu agar jelas mana yang hadiah dan mana yang berupa sogokan dan mana yang resmi </li></ul><ul><li>j) Menyediakan sumber-sumber tertentu dalam rangka mendeteksi kecurangan karena kecurangan sulit ditemukan dalam pemeriksaan yang biasa-biasa saja </li></ul><ul><li>k) Menyediakan saluran saluran untuk melaporkan telah terjadinya kecurangan hendaknya diketahui oleh staf agar dapat diproses pada jalur yang benar </li></ul>
  16. 16. 9. Pendeteksian Kecurangan <ul><li>1. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud ) </li></ul><ul><li>Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut: </li></ul><ul><li>– analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase. </li></ul><ul><li>– analisis horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis persentase-persentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan. </li></ul><ul><li>– analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam laporan keuangan. </li></ul><ul><li>2. Asset Misappropriation (Penyalahgunaan aset) </li></ul><ul><li>Analytical review </li></ul><ul><li> Suatu review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidak biasaan atau kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan. Sebagai contoh adalah perbandingan antara pembelian barang persediaan dengan penjualan bersihnya yang dapat mengindikasikan adanya pembelian yang terlalu tinggi atau terlalu rendah biala dibandingkan dengan tingkat penjualannya. </li></ul><ul><li>Statistical sampling </li></ul><ul><li> Sebagaimana persediaan, dokumen dasar pembelian dapat diuji secara sampling untuk menentukan ketidakbiasaan (irregularities), metode deteksi ini akan efektif jika ada kecurigaan terhadap satu attributnya, misalnya pemasok fiktif. </li></ul><ul><li>Vendor or outsider complaints </li></ul><ul><li>Komplain / keluhan dari konsumen, pemasok, atau pihak lain merupakan alat deteksi yang baik yang dapat mengarahkan auditor untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. </li></ul><ul><li>Site visit – observation </li></ul><ul><li>Observasi ke lokasi biasanya dapat mengungkapkan ada tidaknya pengendalian intern di lokasi-lokasi tersebut. </li></ul><ul><li>3. Corruption (Korupsi) , </li></ul><ul><li>Sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja yang jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan analisis terhadap tersangka atau transaksinya. </li></ul>
  17. 17. TERIMA KASIH
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×