Your SlideShare is downloading. ×
Cerpen - Pelajaran Unik
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Cerpen - Pelajaran Unik

1,323

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,323
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
4
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. TUGAS BAHASA INDONESIA NilaiNama : Apit NopiyantiKelas : XI IPA 2Tugas : Membuat Cerpen Berdasarkan Pengalaman PribadiJudul : Pelajaran UnikIde Pokok : 1. Tugas cerpen yang membuat otak berpikir keras 2. Mulai mencoba mencari inspirasi 3. Mengeluh dan mulai menyerah untuk dapat mencari sesuatu hal yang menarik dari pengalaman pribadi 4. Omelan Riri 5. Suatu hal aneh mulai muncul yaitu bertemu teman lama yang sudah sangat lama tidak bertemu 6. Muncul kejutan lagi, ternyata Riri menyukai teman lamaku itu 7. Riri salah paham dan marah besar 8. Semua mulai kacau 9. Ternyata semuanya telah diatur 10. Hikmah dibalik semuanya Pelajaran Unik Cerita pendek, itulah dua kata yang membuatku pusing belakangan ini. Tugas akhirsemester untuk pelajaran Bahasa Indonesia ini sangat membuat otakku berpikir keras. Cerpen yangdibuat harus berdasarkan pengalaman pribadi. Itulah inti dari permasalahanku. Pengalamanpribadiku bukanlah sesuatu hal yang menarik untuk dijadikan cerpen menurutku. Tugas ini mungkinsangatlah mudah bagi teman-temanku yang lain. Apalagi Riri. Riri adalah sahabatku yang palingdekat. Ya, dia adalah orang yang sangat periang dan ekspresif. Banyak cerita unik yang ia alami.Mulai dari cerita cinta pertamanya di SD, ketinggalan bus saat study tour di SMP, hinggamemenangkan kuis konyol di majalah. Semua ceritanya menarik bagiku. Tidak heran mengapa iadapat dengan mudah menulis cerpennya. Dia sudah menyelesaikan tugas ini sejak seminggu yanglalu. Sedangkan aku belum mulai menulis apapun. Setiap hari Riri selalu mengingatkanku untuksegera menyelesaikan cerpenku karena tinggal dua minggu lagi harus sudah dikumpulkan. “Risa!Cepetan selesain cerpennya. Tinggal dua minggu lagi. Emang dikira gampang cari inspirasinya, ayocepetan dikerjain Ris!”, omel Riri tiap hari padaku. Sebenarnya aku juga ingin cepat-cepatmenyelesaikannya, tapi ya bagaimana lagi. Pikiranku terasa tersumbat. Aku tidak bisa menemukanide apapun. Sempat terlintas olehku untuk menulis apa saja yang bukan merupakan pengalamanpribadiku. Menurutku itu tidak terlalu buruk. Toh Pak Harun, guru Bahasa Indonesiaku tidak akan
  • 2. tahu kebenaran ceritaku itu. Tapi akhirnya aku berpikir dua kali untuk melakukannya karena ceritaRiri tempo hari. Riri bilang bahwa Pak Harun bisa mengetahui mana cerita yang palsu dan asli. Jelasaku tidak percaya, bagaimana mungkin, memangnya ia seorang cenayang? Tapi, Riri bercerita kalaubeberapa orang di kelas sebelah sudah menjadi buktinya. Mereka semua mendapat omel dari PakHarun. Riri menceritakannya dengan serius tanpa ada ekspresi bercanda. “Beneran Ris, mau kayakmereka? Ih Riri sih ogah”, katanya menakuti. Sepanjang perjalanan pulang sekolah, pikiranku masih tertuju ke tugas cerpenku. Aku palingtidak suka dengan urusan karang-mengarang. Apalagi masalah pengalaman pribadi. Menurutku,cerita hidupku itu terlalu datar untuk dijadikan sebuah cerpen. Setahuku cerpen haruslah menarik,penuh kejutan, dan berkesan. Lalu, kalau harus berdasarkan pengalaman pribadiku, menyerahlahaku. Kuputar otak mengingat hal menarik apa yang pernah kualami untuk dijadikan bahan cerpen.Lama aku berpikir. Dan hasilnya kosong, aku tidak bisa menemukan hal apapun yang menarik. Malam harinya aku mencoba mencari inspirasi dengan membaca cerpen di majalah, mencaridi internet, hingga menghayati drama di televisi. Tidak ada yang berhasil. Semua cerita yang kulihatitu terlalu langka bagiku. Mengapa? Ya, karena aku merasa tidak pernah dan tidak akan mungkinmengalaminya. Mulai dari cerita cinta pertama yang ditemui dengan cara yang unik, seorang biasabisa hidup bersama seorang yang hebat, seseorang yang sederhana bisa dicintai seseorang yangsempurna, keberhasilan menggapai mimpi, keberuntungan yang tiada henti. Ah semua itu terlaluwah bagiku. Seperti yang kubilang tadi, terlalu indah untuk jadi kenyataan. Dan akhirnya akumenyerah dan memutuskan untuk tidur. Keesokan harinya seperti biasa, Riri menginterogasiku lagi. Aku bilang menyerah, danmenceritakan semua yang membebaniku. Mulai dari caraku mencari inspirasi melalui majalah,internet, dan televisi hingga kejengkelanku akan cerita hidupku yang sedatar papan triplek sehinggamembuatku harus jungkir balik untuk membuat sebuah cerpen. Mendengar ceritaku, Riri geram danmengomel. “Risa, Risa, emang ada apa sih sama hidup lo? Kayaknya asik-asik aja. Lo aja yang aneh.Emang lo mau punya kehidupan kayak drama di tv? Hah?”, omelnya. Mendengar perkataan Riri, akujadi berpikir, andaikan semua cerita itu bisa terjadi di hidupku, mungkin akan menarik. Setiap haripenuh dengan kejutan yang tak pernah kubayangkan. Biasanya aku pulang bersama Riri. Tapi hari ini Riri harus pergi ke rumah saudaranya. Jaditerpaksa aku pulang sendiri. Hari ini aku memutuskan untuk pulang lewat jalan lain yang lebih jauh,sehingga aku bisa jalan lebih jauh. Menurutku, mungkin saja dengan hal itu aku bisa mencariinspirasi cerpen dengan lebih mudah. Lagi-lagi cerpen. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya.Tugas ini sangat membebaniku. Saat aku berjalan sambil merenung, tiba-tiba seseorang menyapaku.“Arisa? Arisa kan?”, sapanya ramah. Aku mencoba fokus dan melihat siapa yang menyapaku.“Andi??”, jawabku heran. “Hai Ris, gimana kabarnya? Udah lama banget ya ga ketemu.”, balasnya.“Apa? Ah iya baik. Iya lama banget.”, jawabku bingung. “Oh ya gimana sekarang sekolahnya?”,tanyanya sambil tersenyum. “Hmm, ya gitu biasa aja haha”, jawabku singkat. “Oh gitu, haha. Eh iyaduluan ya Ris, ga nyangka bisa ketemu disini.”, katanya ramah. “Oh iya Di haha”, jawabku masihbingung. Andi pun pergi dan aku masih kaget bercampur bingung. Itu Andi, teman lama yang sangatlama. Sudah hampir tiga tahun aku tidak bertemu dengannya. Dan yang lebih anehnya, diamenyapaku seperti itu. Dulu kami jarang bertegur sapa seperti itu. Penyebabnya sangat konyol,sikap anak kecil yang karena persaingan kecil dan masalah tidak jelas bisa dengan mudah
  • 3. menyebabkan permusuhan tanpa ujung. Dan kami malu untuk saling meminta maaf. Tapi tadi, Andimenyapaku ramah. Itulah sebabnya aku heran dan salah tingkah. Aku senang akhirnya kami bisabertingkah normal tanpa harus malu dan menjaga citra seperti dulu. Aku tak sabar inginmenceritakan hal ini pada Riri. Riri juga mengenal Andi, karena dulu kami juga satu sekolah. Keesokan harinya aku menceritakan kejadian itu kepada Riri. Riri kaget dan sangat antusiasmendengarnya. Ia sangat penasaran dan memberondongku dengan sejumlah pertanyaan. “Eh demiapa? Ya ampun, sekarang dia kayak gimana? Udah ga kaku gimana? Ramah gitu? Aduh jadipenasaran deh Ris”, tanya Riri panjang. Sebenarnya aku agak sedikit bingung dengan reaksi Riribarusan. Aku mulai berpikir jangan-jangan Riri menyukai Andi. Pada awalnya Riri dengan cepatmenyanggah dugaanku itu, tapi setelah kupancing lagi akhirnya ia mengaku. Jadi, cinta pertamanyayang selama ini ia ceritakan kepadaku adalah Andi. Aku benar-benar kaget. Sebenarnya aku agaksedikit kecewa karena Riri baru menceritakannya sekarang. Dulu Riri pernah bercerita bahwa iasangat menyukai orang itu, yang sekarang kuketahui yaitu Andi. Riri sangat mengaguminya, dantidak ada orang lain yang bisa menarik perhatiannya seperti Andi. Setiap mendengar ceritanya itu,aku selalu senang. Bahkan pernah aku berpikir untuk menjadi mak comblang Riri dengan orang itu.Ya, karena aku tahu seberapa sukanya Riri terhadap orang itu. Tapi, setelah aku tahu orang ituadalah Andi, hmm aku jadi agak sedikit bingung dan malas untuk memikirkannya. Aku juga tidaktahu kenapa. Hari ini aku tidak pulang sendiri lagi, karena ada Riri. Dan tak kusangka, sepulang sekolahkami bertemu dengan Andi. Aku sangat kaget dan merasa ini terlalu aneh, terlalu kebetulan sepertiadegan di sinetron saja. Andi tersenyum dan menyapa kami berdua. Aku menengok ke arah Riri, danbenar saja, Riri tampak sangat senang dan membalas sapaan Andi dengan sangat semangat. Akuhanya bisa tersenyum aneh. Mereka mengobrol lumayan panjang. Aku baru tahu ternyata merekaberdua bisa sedekat ini. Aku lama-lama bosan dan tanpa kusadari aku menarik tangan Riri danmemaksanya pulang. “Andi, kita duluan pulang ya, udah sore”, kataku cepat. Riri bingung dan heran,tapi karena tarikanku lumayan keras, Riri tidak bisa mengelak. Riri agak sedikit kesal dengan sikapkutadi. Ia bertanya kenapa aku harus menariknya buru-buru. Aku juga bingung dan tidak bisamenjawab apa-apa. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan pengalamanku hari ini. Hari ini tidak sepertibiasanya yang berjalan normal. Hari ini agak aneh menurutku. Mulai dari pengakuan Riri,pertemuanku dan Riri dengan Andi, sampai sikap anehku menarik Riri tadi. Benar-benar anehpikirku. Besoknya di sekolah, tampaknya Riri sudah tidak terlalu kesal denganku. Ia menghampirikusambil tersenyum lebar. “Risa, Risa, aduh senangnya kemarin akhirnya bisa ketemu sama Andi juga.Iya loh beneran beda dia sekarang. Jadi bisa ngobrol gitu hehe. Tapi, kenapa sih harus ada tarik-tarikan kemarin?”, tanya Riri penasaran. Aku menjawabnya dengan tenang, “Oh ga, ya karenakemarin itu udah sore.” Waktu istirahat tiba, Riri menghampiriku. Dan, lagi-lagi ia bercerita tentang Andi. Awalnyaaku maklum, tapi lama-lama ia semakin menjadi. Dan tanpa kusadari aku menerobos, “Aduh Ri,capek deh dengerin cerita Andi mulu dari tadi. Ga ada topik lain apa? Emang segitu senengnya apaketemu sama dia sampai seharian diceritain melulu?” Seketika Riri diam dan ekspresi wajahnyaberubah muram. Ia pun pergi meninggalkan mejaku tanpa berkata apapun.
  • 4. Sepanjang sisa pelajaran Riri diam dan muram. Ia tidak mau menoleh ke arahku. Setiapkutanya ia selalu menghindar. Aku pusing dan merasa bersalah dengan ucapanku ke Riri tadi. Akumerasa sangat jahat berkata seperti tadi. Dan sepertinya Riri marah besar kepadaku. Semenjak kejadian itu, Riri seakan sangat menjauhiku. Sudah lima hari kami tidak pulangbersama lagi. Aku sudah mencoba meminta maaf padanya, tapi ia sepertinya tidakmendengarkanku. Aku sadar bahwa ucapanku waktu itu memang sangat keterlaluan. Harusnya akutidak bersikap seperti itu, apa salahnya mendengar cerita kebahagiaan sahabat sendiri. Aku jugasebenarnya tidak tahu alasanku bersikap kasar begitu. Aku sungguh menyesal. Riri adalah sahabatterdekatku, ia sudah seperti saudara perempuanku. Kami selalu mengobrol bersama, bekerjabersama, tertawa terbahak-bahak bersama. Dan saat ia menjauhiku, itu sangat tidak menyenangkan.Aku merasa tidak nyaman dan malas melakukan apapun. Apalagi di sekolah. Aku tidak fokus, danpikiranku melayang-layang. Aku semakin sulit menemukan ide untuk cerpenku. Padahal batas waktupengumpulan semakin dekat. Hah, semua kacau. Semua terbengkalai. Masalah baru setiap harimuncul. Aku jadi rindu kehidupanku yang sederhana dan tidak aneh-aneh seperti sekarang.Mengapa waktu itu aku kesal dengan kehidupan yang kupunya, dengan mudahnya aku bilanghidupku sedatar papan triplek. Hah, aku baru sadar kehidupanku dulu sebenarnya lebihmenyenangkan, hanya saja aku yang kurang mensyukurinya. Saat sedang termenung memikirkan hal itu, Riri tiba-tiba menghampiriku. Ia tersenyum danberkata, “Gimana Ris, udah bosen sama cerita sinetron yang Riri buat? Ga enak kan?” Aku bingungmendengar ucapan Riri. “Iya, cerita tentang sahabat yang ternyata menyukai orang yang sama-samadisukai, bertingkah aneh sampai bikin sahabatnya itu marah terus ngejauhin dia, semuaterbengkalai, sampai cari ide buat cerpen gadapet-dapet karena menurutnya hidupnya terlaludatar”, lanjutnya panjang. Aku terbelalak karena akhirnya aku mengerti maksud ucapan Riri. “Iya Ris,Riri Cuma pura-pura. Pura-pura bilang kalau Riri suka sama Andi, pura-pura ngobrol deket samaAndi, sampai pura-pura marah sama Risa waktu itu. Haha, akting Riri keren ya?”, jelas Riri. “Tapi buatapa Ri?”, balasku lemas. “Ya, Cuma mau bikin Risa sadar kalau ga semua yang kita lihatmenyenangkan itu bener-bener menyenangkan. Banyak hal menarik yang tanpa kita sadari terjadiloh sama kita. Jadi, jangan ngiri sama kehidupan kayak di cerpen majalah, atau drama di televisi Ris.Ga enak kan?”, ceritanya lebar lalu tersenyum. Karena terlalu senang bahwa ternyata Riri tidakbenar-benar marah padaku, aku terdiam dan memeluk Riri. Riri tertawa dan berkata, “Maaf ya Ris,jadi bikin sedih dan pusing belakangan ini haha.” “Huh, dasar. Tapi ya, yang harus anda tahu. Sayatidak menyukai Andi seperti yang anda pikir. Inget itu!”, omelku. Riri hanya tertawa mendengaromelanku itu. Aku tidak menyangka Riri punya cara seunik ini untuk memberi pelajaran bagiku. Caranyabenar-benar ampuh dan terbukti. Aku berterima kasih sekali kepada Riri karena banyak hikmah yangkudapat dari cerita drama yang dibuatnya untukku. Selain sekarang aku sadar akan pentingnyamensyukuri hidup, sekarang aku juga sudah punya ide untuk dijadikan bahan menulis cerpenku. Ya,aku akan menulis tentang pengalamanku ditipu Riri. -SELESAI -

×