Bangunan epistemologi ilmu kalam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Bangunan epistemologi ilmu kalam

on

  • 8,541 views

 

Statistics

Views

Total Views
8,541
Views on SlideShare
8,539
Embed Views
2

Actions

Likes
0
Downloads
253
Comments
2

2 Embeds 2

http://www.slideshare.net 1
https://twimg0-a.akamaihd.net 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

12 of 2

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Efistemologi llmu kalam memang menjadi perdebatan antara dua kelompok besar aliran teologi Islam. Yaitu golongan salaf dan golongan Asy'ariah yang melihat rasio sebagai penerima tuntunan wahyu dan golongan Muktazilah dan Maturidiayah yang meyakini kekuatan rasio untuk mencerap ilmu teologi secara mandiri. secara pribadi, saya cenderung memandang bahwa Efistemologi Ilmu kalam yang dikembangkan oleh kaum salaf lebih orisinil dan tidak tumpang tindih karena mengikuti alur berfikir wahyu yang konsisten. karena masalah teologi tidak semuanya dapat dicerna oleh akal. sekedar pembanding, sekaligus penegas tentang konsistensi dan ketepatan logika kaum salaf dalam teologi adalah pengetahuan tentang Tuhan. Dalam persfektif salaf, metode analogi (qiyas) untuk mengenal Allah hanya bisa digunakan dengan analogi keutamaan (Qiyas Uulawi). yaitu bahwa kalau ada yang baik maka Tuhan tentu lebih darinya. karena yang baik yang dijadikan sebagai bahan analogi itu hanyalah mahluk, lalu bagaimana dengan penciptanya ? dengan analogi ini, kaum salaf bebas dari tuduhan tajsim, sebagaimana banyak dituduhkan. sementara pemikir teolog lain, terutama Muktazilah, cenderung kontradiktif karena metodologi rasional yang digunkan dalam mengenal Tuhan adalah analogi komprehensif (qiyas syumul) yang menyamakan antara mahlik dan Tuhan. padahal kedua realitat itu berbeda. alasan lain, adalah bahwa filosof Muslim seperti al-Farabi, Ibn Sina dll kurang mapan dalam diskursusus teologi sebelum bergelut dengan filsafat Yunani. tentang alasan salaf menolak Logika Yunani, terutama dalam lingkup ketuhanan, dapat dibaca pada artikel yang berjudul 'Sikap Ahlu Sunnah Terhadap Logika (Filsafat) Aristoteles' pada Link berikut : http://idrusabidin.blogspot.com/2012/02/sikap-ahlu-sunnah-terhadap-logika.html
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • epistemologi ilmu kalam konkrit saat argumentasi teologi disandarkan pada al-qur'an,, hal ini bersebrangan dengan peradaban barat yang dipelajari secara komprehensif bagi jurusan filsafat diluar
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Bangunan epistemologi ilmu kalam Bangunan epistemologi ilmu kalam Document Transcript

    • EPISTEMOLOGI ILMU KALAM Makalah Disampaikan pada Seminar Kelas untuk Mata Kuliah Filsafat Ilmu Bersama Mohammad Muslih, MA Oleh : Anwar Ma’rufi NIM: 31.21.028 PROGRAM PASCASARJANAINSTITUT STUDI ISLAM DARUSSALAM (ISID) PONDOK MODERN GONTOR 2011
    • EPISTEMOLOGI ILMU KALAMA. Pendahuluan Dalam Dirasat Islamiyah, ilmu kalam merupakan kajian yang pokok dan sentral. Karena begitu sentralnya kedudukan ilmu kalam dalam Dirasat Islamiyah mampu mewarnai bahkan dalam taraf tertentu ‘mendominasi’ corak muatan materi kajian-kajian keislaman yang lain, seperti fikih, tafsir, filsafah Islam dan lain sebagainya. Meski disiplin ini banyak menuai kritik dari ulama klasik, namun ia masih tetap kokoh dan eksis sampai sekarang. Bahkan terlihat lebih kokoh dari sebelumnya. Karenanya menarik untuk dibahas dari sisi bangunan epistemologinya.1 Melihat ilmu kalam dari sisi epistemologi, secara umum akan ditemukan tiga persoalan pokok, yaitu (1) apa sumber-sumber ilmu kalam itu? (2) bagaimana pengetahuan itu dapat diketahui? (3) dan apa ukurannya bahwa pengetahuan itu disebut benar (valid)? Tiga pertanyaan ini yang akan memandu uraian dan ulasan penulis berikut ini. Namun, sebelum membahas lebih jauh akan penulis ulas tentang definisi ilmu kalam terlebih dahulu.B. Definisi Ilmu Kalam Ilmu kalam bisa disebut dengan beberapa nama, antara lain ilmu ushuluddin, ilmu tauhid, ilmu akidah, atau fiqh al-Akbar. Disebut ilmu ushuludin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama semisal iman kepada Allah swt, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, iman kepada wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, iman kepada hari kebangkitan dll. Disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas keesaan Allah. Dinamakan 1 Epistemologi adalah suatu cabangn filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunanu, yang terdiri dari dua kata, yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (kata, pikiran, percakapan, atau ilmu). lihat, Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hal. 37
    • ilmu akidah karena ia banyak membahas tentang ilmu-ilmu akidah agamaIslam atau membahas hukum-hukum akidah yang berkaitan dengan iman.2 Fiqh al-Akbar sendiri adalah istilah khusus yang dikemukakan olehImam Abu Hanifah, menurutnya hukum Islam yang dikenal dengan istilahfiqh terbagi atas dua bagian. Pertama fiqh al-akbar yang membahaskeyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu tauhid. Kedua, fiqh al-ashghar,membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, bukan pokok-pokok agama melainkan cabang (furu’) saja.3 Banyak kalangan orientalis yang menyamakan ilmu kalam denganistilah teologi. Seperti William L. Resse yang mendefinisikan dengan“discourse or reason concerning God” (diskursus atau pemikiran tentangTuhan). Namun, sebenarnya penyamaan ini juga tidak terlalu tepat.Alasannya karena istilah teologi berarti hanya diskursus mengenai Tuhansaja. Sesuai dengan asal katanya, ia berasal dari bahasa Yunani kuno ‘theos’(dewa, Tuhan) dan ‘logos’ (wacana, perbincangan). Sedangkan dalamliterature Islam, ilmu kalam tidak sesederhana sebagaimana definisiorientalis. Ia mencakup prinsip-prinsip keimanan dan pokok-pokok ajaranagama berdasarkan dalil-dalil naqli (wahyu) maupun ‘aqli (rasio logika).4 Ibnu Khaldun mendefinisikan ilmu kalam sebagai disiplin ilmu yangmengandung berbagai argumentasi tentang iman yang diperkuat dengan dalil-dalil rasional.5 Sementara menurut al-Iji ilmu kalam adalah ilmu yang mampumengukuhkan akidah Islam dengan memaparkan argumentasi-argumentasidan menyanggah atas beberapa kekeliruan dan keraguan. Dan menurut al-Farabi, ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas Dzat dan sifat Allahbeserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan , ‫ها‬ ‫و‬ ‫ا ذاھب ا‬ ‫, م ا م: ر‬ ‫زر‬ ‫2أ ل‬ ٢ .‫دار ا م, ٦٠٠٢(, ص‬ :‫) و ورو و‬ 3 Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, tt), hal. 13 4 Syamsudin Arif, Orientalis dan Teologi Islam: Sketsa Awal, dalam Islamia,Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, Vol II No. 3, Desember 2005, hal. 11-12 :‫، )ا ھرة‬ ‫: د ل ودر‬ ‫ا‬ ‫د ا ح ا ر ، ا رق ا‬ 5 .‫وھ , ۵٩٩١(، ص‬
    • masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan ajaran Islam, dan tujuan akhirnya adalah memproduksi ilmu ketuhanan secara filosofis.6 Ilmu kalam baru menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri setelah tokoh-tokoh Mu’tazilah mempelajari buku-buku filsafat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang selanjutnya disinergikan dengan nalar keislaman. Momen ini terjadi pada masa Khalifah al-Ma’mun (w. 218 H.). 7 Tahap penamaan Kalam sebagai ilmu dapat juga dirujuk dari fakta sejarah ketika Ibnu Sa’ad (288 H./845 M.) menggunakan istilah mutakallimun untuk mereka yang terlibat dalam diskusi pelaku dosa besar yang diangkat oleh kaum Murjiah. Namun, istilah kalam yang merujuk kepada disiplin ilmu pemikiran spekulatif muncul pada akhir abad ke-4 Hijriyah, di dalam karya Ibnu Nadim, Kitab Fihrits. 8 Sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri, ilmu kalam masih dalam rumpun kajian fiqih. Imam Abu Hanifah menamainya dengan fiqh al-Akbar.C. Sumber Pengetahuan Ilmu Kalam Semua aliran dalam pemikiran kalam berpegang kepada wahyu (al- Qur’an dan Hadits) sebagai sumber pokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung artinya memahami wahyu sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikannya tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami wahyu sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran dengan merujuk kepada ayat-ayat yang lain.9 Untuk kasus pertama sering diistilahkan dengan muhkam sedang yang kedua dinamakan dengan mutasyabih. Contoh untuk yang muhkam adalah ayat-ayat tentang halal, haram, hudud, kewajiban, janji dan ancaman. ،(١٩٩١ ، ‫وھ‬ :‫م، )ا ھرة‬ ‫ما‬ ‫درا‬ ‫،ا د لإ‬ ‫ود ا‬ ‫ن‬ 6 ١٨-١٧ .‫ص‬ 7 Tim Saluran Teologi Lirboyo 2005, Akidah Kaum Sarungan: Refleksi Mengais Keheningan Tauhid, (Lirboyo: Tamatan Aliyah Lirboyo Angkatan 2005, 2008), hal. 164 8 Hamid Fahmy Zarkasyi, Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam, dalam ISLAMIA Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, Tahun II No. 5/April-Juni 2005, hal. 20 9 A. Khudori Soleh, M. Abid al-Jabiri: Model Epistemologi Islam, dalam Buku Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003), hal. 233
    • Sementara untuk yang mutasyabih contohnya adalah ayat-ayat tentang Asma’Allah dan sifat-sifatnya. 10 Kenyataan adanya ayat muhkam dan mutasyabihini memberikan pengertian bahwa meski al-Qur’an sebagai sumber utama,tetapi ia tidak selalu memberikan ketentuan pasti.11 Secara hirarkis, al-Qur’an merupakan sumber rujukan utama dari semuaargumentasi dan dalil. Al-Qur’an adalah dalil yang membuktikan kebenaranrisalah Nabi Muhammad saw dan dalil yang membuktikan benar dan tidaknyasuatu ajaran. Sedangkan Hadits menempati urutan kedua. Namun tidak semuaHadits dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah.12 Semua aliran kalamsepakat untuk mengamalkan Hadits mutawatir.13 Namun, mereka berselisihpendapat dalam mengamalkan Hadits ahad. 14 Alasan yang menolak Haditsahad sebagai rujukan akidah, sebab akidah adalah berkenaan dengankeyakinan; dan apa yang berhubungan dengan keyakinan haruslah dalil yangbersetatus qath’i. Jadi menurut mereka, hal-hal yang berkenaan denganakidah haruslah berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan atau Hadits mutawatir.15Mereka itu adalah ulama dari kalangan Mu’tazilah.16 Sementara ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membedakan antaramasalah akidah dengan masalah lainnya. Setiap Hadits shahih yang datangdari Nabi saw mereka terima dan pakai, serta mereka mengharamkan untukmenyalahinya. Menurut Imam Ibnul Qayyim, walaupun Hadits ahad tidak 10 Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, alih bahasa: Mudzakir AS,(Bogor: Pustaka Lentera AntarNusa, 2009), hal. 306 11 A. Khudori Soleh, M. Abid al-Jabiri: Model Epistemologi Islam, dalam BukuPemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003), hal. 234 12 Muhammad Idrus Ramli, Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah?: Jawaban terhadap Aliran Salafi, (Surabaya: Khalista, 2009), hal. 183-184 13 Hadits mutawatir adalah Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawisehingga tidak mungkin seluruhnya sepakat untuk berdusta. Sedangkan Hadits ahad adalahHadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang jumlahnya tidak mencapai derajatmutawatir. Lihat Kamarudin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits,(Jakarta: Hikmah, 2009), hal. 35 14 Muhammda bin A. W. Al-‘Aqil, Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’iRahimahullah, alib bahasa: Nabhani Idris dan Saefudin Zuhri, (Tangerang: Pustaka ImamSyafi’i, tt), hal. 140 15 M. Syuhudi Ismail, Hadits Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya,(Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 95 16 Omar Bakri Muhammad, Ahlus-sunnah wal Jama’ah: Keimanan, Sifat, danKualitasnya, alih bahasa: Ummu Fauzi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hal. 103
    • menunjukan kepada ilmu yakin, namun ia menunjukan kepada zhann ghalib(dugaan kuat) sehingga boleh bagi kita untuk menetapkan asma dan sifat-sifatAllah dengannya.17 Seluruh aliran kalam, baik yang mempunyai corak rasional dan semiliberal maupun yang bercorak hadisi (tradisional) menggunakan akal sebagaisarana menyelesaikan persoalan kalam.18 Selanjutnya perbedaan yang munculadalah sejauh manakah posisi akal diperhatikan sebagai sumber pengetahuanuntuk merumuskan akidah Islam. 19 Perbedaan ini, pada akhirnya membericorak dan warna yang berbeda dan perbedaan itu semakin kokoh dalambentuk aliran-aliran kalam. Mazhab kalam yang mengedepankan akal ataurasional dalam menjelaskan berbagai persoalan akidah Islam banyakmenggunakan pendekatan filsafat meski tidak serta merta mengabaikanwahyu. Menurutnya akal memiliki kedudukan tinggi bagi manusia. Karenatingginya kedudukan akal itu, Mu’tazilah berpendapat bahwa akal mampumengenal Tuhan, mengetahui wajibnya mengenal Tuhan, memilih perbuatanbaik dan buruk, dan mengakui wajibnya berbuat baik dan menjauhi yangjahat.20 Kelompok ini diwakili oleh ulama Mu’tazilah. Di lain pihak, terdapat golongan yang menentang kaum rasionalisMu’tazilah. Kelompok ini ada yang menamainya dengan ulama tradisionalisatau ulama salaf shalih. Menurut mereka akal hanya mampu mengenal buktikeberadaan Tuhan. Adapun kewajiban mengenal Tuhan, memilah baik danburuk, dan mengetahui wajibnya berbuat baik dan menjauhi larangan hanyadapat diketahui berdasarkan wahyu. 21 Terkait dengan persoalan akidah,mereka (khususnya kelompok Asy’ari dan salaf) lebih mengutamakan teks al- 17 Muhammda bin A. W. Al-‘Aqil, Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’iRahimahullah, alib bahasa: Nabhani Idris dan Saefudin Zuhri, (Tangerang: Pustaka ImamSyafi’i, tt), hal. 141 18 Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini: Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam,(Jakarta: Erlangga, tt), hal. 12 19 A. Qadri Abdillah Azizy, Dimensi Praktis Ilmu Ushuluddin: Sebuah AlternatifPengembangan Ilmu Ushuluddin, dalam Buku Teologi Islam Terapan: Upaya Antisipasifterhada Hedonisme dan Kehidupan Modern, (Tiga Serangkai), hal. 59 20 Afrizal M., Ulama dan Cendekiawan Muslim Ibnu Rusyd: Tujuh PerdebatanUtama dalam Teologi Islam, (Jakarta: Erlangga, 2006), hal. 3-4 21 Afrizal M., Ulama…, hal. 5
    • Qur’an dan Sunnah (naql) daripada akal (‘aql). Maksudnya akal harus tunduk kepada ketentuan al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karenanya mereka menyebut dirinya sebagai kelmpok ahlusunnah wal jama’ah.22 Abu Manshur al-Maturidi, yang juga termasuk pembela ahlu sunnah, nampaknya menangkap kekurangan Imam Asy’ari dan Imam Ahmad bin Hanbal yang terlalu tekstual. Imam al-Maturidi lebih mengacu pada pendekatan yang moderat antara penafsiran rasional model Mu’tazilah dan penafsiran harfiah model salaf (Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah) dan Imam Asy’ari. Bagaimanapun juga, sambil tetap berpegang teguh dengan wahyu, menurut Imam Maturidi, dengan anugrah akal yang khas itu, manusia mampu menangkap mana yang baik dan mana yang buruk.23 Dari paparan di atas mengenai posisi akal, dapat dipahami bahwa Imam al-Maturidi sepakat dengan Mu’tazilah dalam hal baik dan buruk dapat ditemukan oleh akal berdasarkan implikasi bahaya atau manfaat yang ditimbulkan. Dan di sisi lain terjadi silang pendapat dalam menetapkan akal sebagai sumber pengetahuan, serta ketidakharusan bagi syariat bersesuaian dengan penilaian akal. Di lain pihak, Imam Maturidi sepakat dengan Imam Asy’ari tentang sumber penngetahuan al-Qur’an dan Hadits. Dan bertentangan perihal ketentuan baik dan buruk dengan Imam Asy’ari.D. Hakikat Ilmu dan Metodologi Pencapaian Ilmu Sebagaimana yang dilaporkan oleh Saiful Anwar dalam sebuah desertasinya, terdapat perbedaan persepsi di kalangan ulama ahli kalam mengenai definisi ilmu. Menurut Qadli ‘Abd al-Jabbar (325-415 H.), ulama Mu’tazilah, ilmu adalah “Apa yang menghasilkan ketenangan jiwa, kesejukan dada, dan ketentraman hati.” Menurut defines Badzawi (427-493 H.), ulama kalangan Maturidiyah: “Ilmu adalah menangkap objek ilmu sesuai kenyataannya.” Sedang menurut Juwaini (419-478 H.) dan Baqilani (338-403 22 Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, alih bahasa: Agus Efendi, (Jakarta: Mizan, 2009), hal. 19 23 Ahmad Baso, NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal, (Erlangga, 2006), hal. 324
    • H.) keduanya dari kalangan ulama Asy’ariyah: “Ilmu adalah mengetahi objekilmu sesuai realitasnya.” Lebih lengkapnya seperti yang didefiniskan olehImam al-Ghazali (Ulama dari kalangan Asy’ariyah): “Maka ilmu adalahrumusan tentang pengambilan akal terhadap gambar-gambar objek akal dankenyataannya pada dirinya, serta tercetaknya gambar-gambar itu padaakal.”24 Meski terdapat perbedaan persepsi mengenai ilmu, tapi pada dasarnyasemua ilmu itu datangnya dari Allah dan ditafsirkan oleh jiwa melalui sarana-sarana yang dianugrahkan oleh-Nya. Maka definisi yang tepat untuk hakikatilmu dengan Allah sebagai sumbernya, ialah tibanya (husul) makna (ma’na)sesuatu benda atau objek ilmu ke dalam jiwa. Dengan memandang jiwasebagai penafsir, maka ilmu adalah tibanya (wusul) diri (jiwa) kepada maknasesuatu hal atau objek ilmu.25 Secara prinsipil, pembagian ilmu menurut para mutakalimin tidakberbeda satu sama lain. Sebagian besar, mereka membagi ilmu pengetahuanmenjadi dua yakin ilmu Allah yang qadim dan ilmu manusia yang hadits(baharu). Dan ilmu hadits (baharu) ini dibagi menjadi dua, yaitu ilmu yangbersifat dharuri dan ilmu yang bersifat nadzari (penalaran). HanyaMu’tazilah yang tidak mengakui adanya ilmu Allah yang qadim, sesuaidengan prinsip mereka yang tidak mengakui adanya sifat bagi Allah.26 Ilmu dharuri adalah ilmu yang cara perolehannya tidak perlu untukdipikirkan secara mendalam seperti satu itu adalah setengah dari dua.Sedangkan ilmu nadzari adalah jenis ilmu yang cara perolehannyamemerlukan pikiran dan penalaran yang sungguh-sungguh seperti air ituterdiri dari dua molekul hidrogen dan satu molekul oksigen.27 24 Saeful Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi,(Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 90 dan 103 25 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of theFuture, (New York: 950 University Avenue, 1985), hal. 177 26 Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini: Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam,(Jakarta: Erlangga, tt), hal. 47 27 Kamarul Shukri Mohd The, Pengantar Ilmu Tauhid, (Kuala Lumpur: UtusanPublication dan Distributors Sdn Bhd, 2008), hal. 132
    • Perbedaan posisi akal sebagai sumber ilmu merupakan faktor kesulitasntersendiri untuk mengungkap metode pencapaian ilmu. Bagi pendukung akal(Mu’tazilah), mereka meyakini sepenuhnya kemampuan akal. Prinsip inimereka pergunakan untuk menghukumi berbagai hal dan berjalan begitu jauh.Mereka berpendapat bahwa alam alam punya hukum kokoh yang tundukkepada akal. Mereka tidak mengingkari naql (teks al-Qur’an dan Hadits),tetapi tanpa ragu-ragu mereka menundukkan naql kepada hukum akal (taqdimal-‘aql ‘ala naql). Untuk itu mereka menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat,menolak Hadits-hadits yang tidak diakui oleh akal. Secara umum, merekamenghindari Hadits ahad.28 Berbeda dengan rivalnya, Mazhab Asy’ariyah bertumpu pada al-Qur’andan Hadits. Mereka amat teguh memegangi al-Ma’tsur. Di dalam kitab al-Ibanah sebagaimana yang dikutip oleh Ibrahim Madkour, al-Asy’ari berkata: “Pendapat yang kami ketengahkan dan akidah yang kami pegangi adalah sikap berpegang teguh kepada Kitab Allah, Sunnah Nabi SAW dan apa yang diriwayatkan dari sahabat, Tabi’in dan Imam-imam Hadits. Kami mendukung semua itu, kami mendukung pendapat Ahmad bin Hanbal, mengangkat drajatnya dan meneguhkan kedudukannya. Sebaliknya kami menjauhi orang-orang yang menyalahi pendapatnya.”29 Kaum Asy’ariyah juga tidak menolak akal, karena bagaimana merekamenolak akal padahal Allah menganjurkan agar umat Islam melakukan kajianrasional. Pada prinsipnya, mereka tidak memberikan kebebasan sepenuhnyakepada akal seperti yang dilakukan oleh kaum Mu’tazilah, sehingga merekatidak memenangkan dan menempatkan akal di atas naql. Bahkan sebaliknyamereka secara umum berprinsip bahwa naql menempati posisi teratas. Akalmereka anggap sebagai pelayan bagi naql. Akal dan naql salingmembutuhkan. Naql bagaikan matahari yang bersinar sedangkan akal laksanamata yang sehat. Akal digunakan untuk meneguhkan naql dan membelaagama.30 Demikian juga ulama kalangan Maturidiyah. 28 Ibrahim Madkour, Alilran…, hal. 48 29 Ibrahim Madkour, Alilran…, hal. 66 30 Ibrahim Madkour, Alilran…, hal. 67-68
    • Meskipun mereka berbeda pendapat dalam memposisikan akal, namunsebagian besar dari ulama tradisional juga menggunakan logika atau mantiqsebagaimana ulama Mu’tazilah, yang menurut perkembangannya merupakanadopsi dari filsafat Yunani, khususnya logika Aristoteles.31 Bedanya, dalammengeksploralis ilmu logika Mu’tazilah lebih berani menundukkan naql diatas akal. Karenanya mereka banyak melakukan pendekatan ta’wil atauinterpretasi metaforis terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Sebaliknya, kalanganAsy’ariyah, maturidiyah atau Hanabilah lebih banyak menggunakan logikayang berpegang pada makna teks atau rasional-deduktif. Perbedaan di atas, seperti yang dilaporkan oleh Abid al-Jabiri dan yangdikutip oleh Mohammad Muslih adalah persoalan makna dan lafadz. Para ahlipikir Mu’tazilah sepakat bahwa makna itu berdasar konteks. Sedangkankalangan Asy’ariyah berpendapat bahwa makna lafadz itu berdasarkantauqifi. Pandangan Asy’ariyah ini kemudian berkonsekuensi, bahwa maknayang dimaksud dari teks itu perlu dijaga. Dari sinilah kemudian lahirlah ilmubahasa, khususnya nahwu yang menjaga dari kemungkinan terjadinyapenyimpangan makna. Adanya kenyataan bahwa syariah diturunkan dalamBahasa Arab, persoalan berikutnya adalah apakah makna ditentukan olehkebudayaan Arab atau menggunakan pendekatan lain. Dalam kasus initerdapat dua pendapat, pertama, karena al-Qur’an diturunkan dalam BahasaArab maka makna lafadz ditentukan oleh pengertian dan kebudayaan Arab;kedua, membolehkan memaknai lafadz dengan ta’wil sebagaimana dipegangioleh Mu’tazilah.32 Penggunaan logika Yunani atau mantiq yang sudah disinergikan dengannalar keislaman tidaklah berjalan mulus tanpa kecaman. Imam asy-Syafi’i,peletak dasar mazhab Syafi’i, dikenal sebagai penentang logika Aristoteles 31 Perumusan logika aristoteles dan dijadikannya sebagai dasar ilmu pengetahuansecara epistemology bertujuan untuk mengetahui dan mengenal cara manusia mencapaipengetahuan tentang kenyataan semesta baik sepenuhnya atau tidak, serta mengungkapsebuah kebenaran. Lihat Jim dan Zam, Sejarah dan Perkembangan Ilmu Mantiq, makalahtidak diterbitkan, hal. 13 32 Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigam danKerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2008), hal. 187-188
    • ini. Kritik Imam asy-Syafi’i sebagaimana yang sering dikutip oleh para pengikutnya adalah ungkapan kebodohan dan diskusi kontroversial di antara mereka hanyalah disebabkan oleh karena mereka tidak mendalami Bahasa Arab dan karena kecenderungan mereka untuk memperlajari Bahasa Aristoteles. Imam asy-Syafi’i juga berpendapat bahwa umat Islam tidak boleh menafsirkan teks-teks berbahasa Arab menurut bahasa orang-orang Yunani dan menurut logika Aristoteles yang memiliki sistem bahasa dan logika yang berbeda dengan sistem Bahasa Arab.33 Suhrawardi (549-587 H.) 34 juga tercatat sebagai penentang logika Paripatetik atau Aristoteles. Bagi Suhrawardi problem yang mendasar di dalam logika Paripatetik adalah soal “validitas pengetahuan”, di mana pemegang otoritas satu-satunya saat itu adalah logika Paripatetik ini. Ciri paling menonjol dari model pengetahuan ini adalah kebenaran silogisme, proposisi, konsep, dan problem definisi. Makanya pengetahuan itu dapat dicari meski terkait “objek yang tidak dapat dicerap.” Bagi Suhrawardi, model pengetahuan rasionalitas seperti itu banyak terjadi kelemahan.35E. Validitas Pengetahuan dalam Studi Ilmu Kalam Secara umum, dalam persoalan filsafat ilmu dikenal tiga teori klasik tentang kebenaran. Pertama, teori kebenaran korespondensi, maksudnya ialah kesesuaian atau kesepadanan antara pernyataan (ide) dengan kenyataan (realitas). Teori ini menekankan bahwa kebenaran ialah saling kesesuaian antara ide atau kepercayaan dengan realitas atau fakta, yakni dengan membandingkan atau menyamakan dengan realitas. Teori ini bersifat empiris, karena suatu ide dianggap benar jika ia cocok dengan realitas, bukan realitas 33 Mufti Ali, Aristotelianisme dalam Kacamata Para Tokoh Abad Tengah Penentang Logika, dalam jurnal Al-Qalam, vol. 24 NO. 3 (September-Desember) 2007, hal. 319-320 34 Nama lengkapnya adalah Syihab ad-Din Yahya bin Habasy bin Amirak, lahir di Suhraward, Mediterania Kuno, Iran Barat Laut. Lihat Mohammad Muslih, Pengetahuan Intuitif Model Husserl dan Suhrawardi, (Ponorogo: CIOS, 2010), hal. 12 35 Ibid., hal. 19
    • yang harus sesuai dengan ide.36 Teori ini juga telah lama diperkenalkan olehIbnu Sina, menurutnya, suatu perkataan dianggap benar jika perkataan dankeyakinan itu sesuai dengan kenyataannya.37 Kedua, teori kebenaran koherensi. Pengetahuan yang memilikikebenaran koherensi adalah pengetahuan yang diperoleh dengan mengikutihukum-hukum logika, karenanya tidak terjadi tumpang tindih daninkonsistensi. Pengetahuan ini tidak terdapat pertentangan dalam dirinya(contradiction in terminis), juga tidak bertentangan dengan pengetahuanterdahulu. Pengetahuan ini menekankan pada ketepatan berpikir.38 Yang ketiga adalah teori kebenaran pragmatisme. Teori inidikembangkan dan dianut oleh filsuf-filsuf pragmatisme dari Amerika, sepertiCharles S. Peirce dan William James. Bagi mereka, kebenaran sama artinyadengan kegunaan. Jadi, ide, konsep, pernyataan, atau hipotesis yang benaradalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampumemungkinkan sesorang -berdasarkan ide itu- melakukan sesuatu secarapaling berhasil atau tepat guna. 39 Dengan kata lain pengetahuan dianggapbenar jika bernilai praktis.40 Dari tiga macam teori klasik tentang kebenaran di atas, Ilmu Kalamsering menggunakan teori kebenaran koherensi. Sebagian besar ulama ahlikalam berpendapat bahwa akidah dan hukum akal harus meyakinkan danbersifat qath’i. Bagi kalangan rasionalis, dalam hukum akal tidak boleh adaperberbedaan pendapat, nafi dan istbat, dengan kontradiksinya sekiranyadipertentangkan dengan yang lainnya melalui dalil yang berbeda pada saatditetapkan. Jika tidak dilakukan demikian maka akan terjadi keseimbanganantara kebenaran dan kesalahan, yang benar dan yang salah sama. Sementara 36 Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-KonsepAsas Filsafah, (Kuala Lumpur: Sanon Printing Corporation SDN BHD, 2005), hal. 66 ٤٨ .‫ت، )ا ھرة: دون ط ، ٠٦٩١(، ص‬ ‫ا‬ :‫ء‬ ‫،ا‬ ‫73 إ ن‬ 38 Mohammad Muslih, Pengantar Ilmu Filsafat, (Ponorogo: Darussalam UnniversityPress, 2008), hal. 9 39 A. Sonny Keraf dan Michael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis,(Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal. 71 40 Mohammad Muslih, Pengantar Ilmu Filsafat, (Ponorogo: Darussalam UnniversityPress, 2008), hal. 10
    • masalah yang diperselisihkan tidak mungkin mengandung kebenaran dankesalahan secara bersamaan. 41 Seperti ucapan seseorang, “Ahmad ada didalam rumah pada jam tujuh pagi.” Kemudian ada orang lagi yang berkata,“Ahmad tidak ada di dalam rumah pada jam tujuh pagi.” Kedua pernyataantersebut tidak mungkin benar semua. Kebenaran koherensi ini mengharuskan adanya konsistensi berpikirlogik. Teori koherensi ini menjadi alur yang cukup kuat dalam sistem berpikirkaum Mu’tazilah. Seperti ‘Abd al-Jabar dengan penekanannya padakonsistensi antara premis mayor (mujmal), premis minor (mufashshal), dankonklusi (ta’amul). Ia memiliki system berpikir logika yang sangat ketat.Contohnya: (a) Berbuat dzalim adalah jahat (premis mayor); (b) Perbuatan iniadalah dzalim (premis minor); (c) Jadi perbuatan ini adalah jahat (konklusi).42 Menurut teori ini kebenaran suatu proposisi hanya dapat diterima jikasesuai dengan proposisi sebelumnya yang sudah diterima kebenarannya.Sebagai contoh, problematika kebebasan kehendak menurut aliran Mu’tazilahberkaitan erat dengan prinsip keadilan Tuhan yang mereka kembangkan.Mereka memandang bahwa keadilan Tuhan menjadi hilang jika seseorangdituntut harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak ia kerjakan,atau ia dihisab tentang perbuatan yang tidak ia kehendaki. Keadilan Allahmenuntut bahwa manusia harus bebas berkehendak. Karena tanpa adanyakebebasan ini, kenabian dan risalahnya tidak ada artinya, tidak ada dasar bagisyari’ah atau taklif bahkan untuk apa pengutusan para Rasul kepada orangyang tidak mempunyai kebebasan dalam mengikuti dan mendengarkan 43dakwah mereka. Dan lain lagi dengan kalangan Asy’ariyah yangmenekankan kekuasaan mutlak Tuhan. 41 Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam SejarahUmat Manusia, alih bahasa: Asywadie Syukur, (Surabaya: Bina Ilmu, 2003), hal. 183 42 Wardani, Epistemologi Kalam Abad Pertengahan, (Yogyakarta: LKiS, 2003), hal.70 43 Ibrahim Madkour, Alilran dan Teori Filsafat Islam, alih bahasa: Yudian WahyudiAsmin, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 161-162
    • Jika demikian kebenaran hanya milik mujtahid.44 Karenanya, menurut Abu al-Hasan al-Anbari sebagaimana yang dikutip oleh asy-Syahrastani, beliau menyatakan setiap mujtahid yang meneliti masalah akidah memperoleh pahala karena ia telah mengarahkan daya pikirnya terhadap apa yang ditelitinya, sekalipun hasil penelitiannya itu masih mengandung kemungkinan benar atau salah. Dari sisi ijtihad mereka memperoleh pahala dan semua ini berlaku untuk kalangan umat Islam.45 Karena kebenaran diasumsikan milik mujtahid, maka para ulama memberikan syarat-syarat yang ketat bagi seorang mujtahid. Disebutkan oleh Syahrastani, seorang ulama Asy’ariyah, syarat-syarat seorang mujtahid ada lima perkara: Pertama, mujtahid adalah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan cukup dalam bidang Bahasa Arab yang memungkinkannya dapat memahami nash secara baik. Kedua, seorang mujtahid harus memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan tafsirnya. Ketiga, memiliki pengetahuan tentang Sunnah, baik dari isi ataupun sanadnya, pengetahuan tentang keadaan para perawinya, baik dari sisi sikap adil dapat dipercaya, kritik dan penolakannya. Keempat, pengetahuannya tentang ijmak sahabat, tabi’in dan tabi’i tabi’in agar jangan sampai terjadi pertentangan antara ijtihadnya dengan ijtihad orang terdahulu. Dan yang terakhir adalah memiliki pengetahuan tentang qiyas.46F. Kritik terhadap Epistemologi Ilmu Kalam Dewasa ini, banyak terjadi kegelisahan akademik yang menimpa para pemikir muslim kontemporer, khususnya berkaitan dengan studi ilmu kalam berikut metodologinya. Kritik mereka sangat mendasar, langsung kepada epistemologi studi ilmu kalam. Mereka beranggapan bahwa bangunan 44 Menurut Ali Syari’ati mujtahid adalah seorang yang ‘tercerahkan’ dan ‘peneliti bebas’ yang mencari jawaban-jawaban baru berdasarkan ‘semangat dan orientasi agama, logika ilmiah dan empat sumber syariat yakni al-Qur’an, Hadits, ijmak (kesepakatan) dan akal. Lihat Ali Rahnema, Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, (Jakarta: Erlangga, 2002), hal. 465 45 Asy-Syahrastani, Al-Milal…, hal. 184 46 Ibid., 181-182
    • keilmuan kalam tidak cukup kokoh untuk menyediakan seperangkat teori danmetodologi yang banyak menjelaskan bagaiamana seorang agamawan yangbaik harus berhadapan, bergaul, bersentuhan, berhubungan dengan penganutagama-agama yang lain dalam alam praksis sosial, budaya, ekonomi, danpolitik.47 Sebagaimana yang dikutip oleh Amin Abdullah, berdasarkanpengamatan dalam penelitian Fazlur Rahman, salah satu penyebab tidakberkembangnya disiplin keilmuan kalam khususnya atau studi-studikeislaman pada umumnya, lebih dari segi materi maupun metodologi, adalahdipisahkannya dan dihindarinya pendekatan dan pemahaman filosofis dalambatang tubuh kerangka keilmuan kalam. Menurutnya, disiplin ilmu filsafatdan pendekatan filosofis pada umumnya sangat membantu untuk meneroboskemacetan, bahkan jalan buntu yang dihadapi oleh ilmu-ilmu apapun.48 Untuk keperluan itu, dalam sebuah artikelnya, Amin Abdullahmengemukakan beberapa pertanyaan yang mendasar, diantaranya: “Apakah mungkin mengawinkan atau setidaknya mendialogkan disiplin dan metodologi “filsafat” dan “kalam” dalam pemikiran Islam kontemporer, yang selama berabad-diupayakan namun selalu gagal? Jika memang begitu kenyataannya, apakah disiplin ilmu kalam, sebagai body of knowledge, yang disusun oleh ulama dan kaum cerdik cendekia terdahulu, dapat begitu saja terlepas dari pengaruh dan campur tangan dimensi ruang dan waktu ketika ia dirumuskan baik dahulu, sekarang maupun yang akan datang? Apakah akidah Islamiyah, khususnya yang dirumuskan dan diteorisasikan oleh ulama kalam klasik, tengah dan modern tidak boleh diubah sistematika, metodologi dan konteknya sesuai dengan pergumulan dan perubahan zaman serta perkembangan metodologi keilmuan yang mengitarinya? Bolehkah rumusan dan adagium-adagium ilmu kalam disusun ulang sesuai dengan tuntutan dan tantangan sosial-keagamaan serta perkembangan ilmu pengetahuan yang mengitarinya?” Dapatkah dominasi pendekatan tekstual dan kontektual bergulir ke arah kontektual dan praksis sosial yang aktual dalam kehidupan kongkrit sehari-hari? Puncak pertanyaannya, barangkali, adalah sebagai berikut: bolehkah apa yang biasa dan selama 47 Amin Abdullah, Kajian Ilmu Kalam di UIN, lihat http://uin-suka.info/fdak/index.php?option=com_content&task=view&id=152, diambil pada 23 Januari2011 48 Ibid
    • ini disebut-sebut sebagai “doktrin”, “dogma” atau “akidah” digagas sebagai teori” keilmuan kalam, karena adanya unsur campur tangan dan intervensi manusia Muslim (nabi, sahabat, ulama, fuqaha, mutakallimun, usuliyyun, cerdik cendekia) dalam merumuskan dan mensistematisasikannya?” Mereka mengkritik betapa studi ilmu kalam itu sangat melangit dan tidak membumi, dalam artian menurut bahasa Hasan Hanafi, Ilmu Kalam adalah milik kaum elit intelektual yang tidak banyak bermanfaat untuk kalangan bawah. Pandangan demikian sekaligus mencerminkan paradigma yang ada dalam benak mereka, yaitu paradigma materialistis sebagaimana telah diperkenalkan oleh kaum Marxis. Dan dapat ditebak, mereka menghendaki untuk beralih kepada teori kebenaran pragmatisme yang diimpor dari Amerika, sebagai ganti dari teori kebenaran koherensi. Meski demikian, sebagai pemeharti keilmuwan, kajian kritis mereka terhadap metodologi ilmu kalam perlu diapresiasi dan dipertimbangkan sekaligus dianalisa secara mendalam untuk kemashlahatan Islam di dunia dan akherat, bukan di dunia semata.G. Penutup Membaca Ilmu Kalam dari sisi epistemologi merupakan aktifitas yang menjadikan seseorang akan lebih arif dalam melihat perbedaan. Terlepas dari keabsahan epistemologi masing-masing aliran ilmu kalam, penulis beranggapan bahwa perbedaan pendapat mengenai persoalan akidah merupakan suatu keniscaayaan. Dari perbedaan epistemologi di atas, nampaknya kalangan ulama ahlusunnah wal jama’ah (salafi, asy’ariyah dan maturidiyah) yang masih kuat berpegang kepada wasiat Nabi saw untuk senantiasa berpedoman dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai landasan berpikir dan beramal. Lain halnya dengan Mu’tazilah, meski mereka terlalu ekstrim dalam menggunakan akal, namun mereka banyak menolong agama Islam dari serangan-serangan pemikiran agama lain dan kaum atheis.
    • DAFTAR PUSTAKA1. Bahasa Indonesia A. Khudori Soleh, M. Abid al-Jabiri: Model Epistemologi Islam, dalam Buku Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003) A. Qadri Abdillah Azizy, Dimensi Praktis Ilmu Ushuluddin: Sebuah Alternatif Pengembangan Ilmu Ushuluddin, dalam Buku Teologi Islam Terapan: Upaya Antisipasif terhada Hedonisme dan Kehidupan Modern, (Tiga Serangkai) A. Sonny Keraf dan Michael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis, (Yogyakarta: Kanisius, 2001) Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep- Konsep Asas Filsafah, (Kuala Lumpur: Sanon Printing Corporation SDN BHD, 2005) Afrizal M., Ulama dan Cendekiawan Muslim Ibnu Rusyd: Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, (Jakarta: Erlangga, 2006) Ahmad Baso, NU Studies: Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal, (Erlangga, 2006) Ali Rahnema, Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner, (Jakarta: Erlangga, 2002) Amin Abdullah, Kajian Ilmu Kalam di UIN, lihat http://uin- suka.info/fdak/index.php?option=com_content&task=view&id=1 52, Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam Sejarah Umat Manusia, alih bahasa: Asywadie Syukur, (Surabaya: Bina Ilmu, 2003) Hamid Fahmy Zarkasyi, Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam, dalam ISLAMIA Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, Tahun II No. 5/April-Juni 2005
    • Ibrahim Madkour, Alilran dan Teori Filsafat Islam, alih bahasa: Yudian Wahyudi Asmin, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995)Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1996)Jim dan Zam, Sejarah dan Perkembangan Ilmu Mantiq, makalah tidak diterbitkanKamarudin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits, (Jakarta: Hikmah, 2009)Kamarul Shukri Mohd The, Pengantar Ilmu Tauhid, (Kuala Lumpur: Utusan Publication dan Distributors Sdn Bhd, 2008)M. Syuhudi Ismail, Hadits Nabi Menurut Pembela Pengingkar dan Pemalsunya, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995)Manna’ Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, alih bahasa: Mudzakir AS, (Bogor: Pustaka Lentera AntarNusa, 2009)Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigam dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2008)--------------, Pengantar Ilmu Filsafat, (Ponorogo: Darussalam Unniversity Press, 2008)--------------, Pengetahuan Intuitif Model Husserl dan Suhrawardi, (Ponorogo: CIOS, 2010)Mufti Ali, Aristotelianisme dalam Kacamata Para Tokoh Abad Tengah Penentang Logika, dalam jurnal Al-Qalam, vol. 24 NO. 3 (September-Desember) 2007Muhammad Idrus Ramli, Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah? : Jawaban terhadap Aliran Salafi, (Surabaya: Khalista, 2009)Muhammda bin A. W. Al-‘Aqil, Manhaj ‘Aqidah Imam asy-Syafi’i Rahimahullah, alib bahasa: Nabhani Idris dan Saefudin Zuhri, (Tangerang: Pustaka Imam Syafi’i)Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, alih bahasa: Agus Efendi, (Jakarta: Mizan, 2009)
    • Omar Bakri Muhammad, Ahlus-sunnah wal Jama’ah: Keimanan, Sifat, dan Kualitasnya, alih bahasa: Ummu Fauzi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005) Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, tt) Saeful Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazali: Dimensi Ontologi dan Aksiologi, (Bandung: Pustaka Setia, 2007) Syamsudin Arif, Orientalis dan Teologi Islam: Sketsa Awal, dalam Islamia, Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam, Vol II No. 3, Desember 2005 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism and the Philosophy of the Future, (New York: 950 University Avenue, 1985) Tim Saluran Teologi Lirboyo 2005, Akidah Kaum Sarungan: Refleksi Mengais Keheningan Tauhid, (Lirboyo: Tamatan Aliyah Lirboyo Angkatan 2005, 2008) Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini: Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam, (Jakarta: Erlangga, tt) Wardani, Epistemologi Kalam Abad Pertengahan, (Yogyakarta: LKiS, 2003)2. Bahasa Arab ، ‫: د ل ودر‬ ‫ا‬ ‫د ا ح ا ر ، ا رق ا‬ (١٩٩۵ , ‫وھ‬ :‫)ا ھرة‬ ‫ه‬ ‫و‬ ‫ر ا ذاھب ا‬ :‫م‬ ‫, م ا‬ ‫زر‬ ‫أل‬ (٢٠٠٦ ,‫دار ا م‬ :‫, ) و ورو و‬ ‫ا‬ :‫م، )ا ھرة‬ ‫م ا‬ ‫درا‬ ‫، ا د ل إ‬ ‫ود ا‬ ‫ن‬ (١٩٩١، ‫وھ‬ (١٩٦٠ ، ‫ت، )ا ھرة: دون ط‬ ‫ا‬ :‫ء‬ ‫،ا‬ ‫إن‬