ku terbangun dari tidurku dan aku tersadar bahwa diluar sana
A sedang hujan, hawa dingin menyelimuti tubuhku.... bunyi
rintikan hujan membuat ku akan teringat sesuatu... kenangan
bersama akan dirimu disaat kita berdua memandu cinta kasih,
hanya hujan yang mengiringi kita saat itu. aku termenung dan terus
termenung tanpa ku sadari bahwa jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari.
aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi entah kenapa mataku ini tidak
dapat untuk tertutup kembali. ketika waktu telah menunjukan pukul 3.30
dini hari barulah aku dapat tidur.
Kicauan burung-burung gereja diatas kabel-kabel listrik rumahku
membangunkanku dari tidur, aku segera pergi ke kamar mandi untuk
menyegarkan diri, ketika jam sudah menunjukan pukul 10 pagi aku telah
bersiap diri untuk berangkat ke tempat kerjaku yang tidaklah jauh dari
rumahku, karena memang aku tinggal di daerah perkotaan, yang sangatlah
ramai jika sudah pagi hari, banyak orang yang siap-siap untuk mencari
nafkah untuk keluarga mereka, karena memang daerah tempat tinggalku
memang kota yang selalu menjadi pusat perekonomian di negaraku. ketika
aku berjalan dengan santainya tiba-tiba aku tidak sengaja bertabrakan
dengan seorang wanita, yang menurutku cukup cantik, wanita itu terlihat
seperti sedang tergesah-gesah, dia hanya meminta maaf kepadaku dan
melanjutkan perjalannya kembali, mungkin dia sudah telat pergi ke tempat
kerjanya, aku kembali melanjutkan perjalananku yang sempat tertunda
karena bertabrakan dengan wanita tadi. ketika jam sudah menunjukan
pukul 11.00 aku tiba di tempat kerjaku, dan aku melakukan aktifitas kerjaku
dengan seperti biasanya, hari semakin senja dan matahari sebentar lagi
tenggelam, aku masih sibuk dengan pekerjaanku karena atasanku
memberikan tugas yang sangatlah banyak, aku hanya bisa melihat
1
matahari dari jendela tempat duduk kerjaku, kegelapan malam telah
datang dan suasana menjadi gelap lampu-lampu jalan sudah dihidupkan
dan cahaya lampu-lampu gedung sudah banyak yang menyala, aku terlalu
sibuk dengan pekerjaanku tanpa terasa hanya tinggal aku dan kedua
temanku saja yang ada di ruangan waktu itu, ketika waktu menunjukan
pukul 10 malam aku barulah selesai mengerjakan tugas terakhirku.
Akhirnya selesailah sudah pekerjaanku hari ini, aku bersiap diri
untuk pulang ke rumah dengan tubuh yang diselimuti rasa letih, rasanya
kaki ini sangatlah berat untuk melangkah pulang, tapi aku haruslah pulang
karena besok aku harus kembali bekerja, langkah demi langkah aku
lakukan untuk pulang hanya lampu-lampu jalan yang menemani langkahku
kegelapan malam membuat mataku seakan tak tahu arah untuk jalan
pulang, ketika aku melewati taman kota aku melihat seorang wanita duduk
di bangku taman dengan sendirian. aku mencoba menghampiri wanita itu
yang menurutku dia sedang ada masalah dengan persoalan pribadinya,
aku duduk di sampingnya, ketika aku mencoba melihat wajahnya tak
kusangka dia itu adalah wanita yang tadi menabrakku ketika aku sedang
ingin berangkat ke tempat kerjaku, aku menanyakan apa yang sedang dia
lakukan di tempat ini, dia mencoba bangkit dari tempat duduknya, dan
mencoba menghindariku, mungkin dia merasa takut dengan keberadaan
orang asing di dekatnya, aku terus mencoba untuk menanyakan apa yang
dia lakukan di tempat seperti ini dengan sendirian, ketika aku berhasil
menanyakan apa yang dia lakukan aku barulah tahu bahwa dia sedang
kesal dengan orang tuanya karena akan di jodohkan dengan pria pilihan
orang tuanya, tetapi nampaknya dia tidak menginginkan perjodohan itu,
dia mencoba untuk menceritakan semua masalahnya kepadaku, aku
hanya bisa mendengarkan semua ceritanya aku tidaklah tahu apa aku
mungkin bisa untuk membantunya, tanpa ku sadari hari semakin gelap dan
2
ketika aku melihat jam tanganku waktu telah menunjukan jam 11.30
malam. aku segera beranjak dari tempat dudukku dan mengajaknya untuk
pulang karena hari telah terlalut malam untuk seorang wanita di tempat
seperti ini sendirian, nampaknya setelah dia telah menceritakan semua
masalahnya kepadaku dia mau untuk pulang kerumahnya.
Aku mencoba untuk menghantarnya pulang sampai di rumahnya
karena aku tidak tega jika dia pulang ke rumah dengan sendirian, apalagi
dia seorang wanita, dan dunia malam banyak sekali orang-orang yang
nekat berbuat kriminal, ketika dia telah sampai di depan rumahnya dia
mencoba untuk mengajakku masuk ke dalam rumahnya, karena dia
merasa telah mempunyai hutang budi kepadaku, aku tidaklah mungkin
untuk menerima tawaran wanita itu karena hari telah terlalu malam buatku
karena besok aku harus bekerja, nampaknya dia merasa kecewa karena
aku telah menolak ajakannya, dia terus mencoba untuk memaksaku
masuk ke dalam rumahnya, aku sekali lagi dengan sopan menolak ajakan
wanita tersebut. akhirnya wanita itu dengan perasaan yang berat hati
menerimanya, tetapi dia masih ingin bersih keras membalas kebaikanku,
dia mengajakku jalan besok malam jam 8 di restauran yang agak terkenal
dikotaku ini, aku setuju jika itu yang dia inginkan, lalu aku pergi mening-
galkan dia dan beranjak untuk pulang ke rumah, ketika di dalam perjalanan
pulang aku masih terbayang akan wajah wanita itu, sesampainya dirumah
aku segera lekas tidur dan aku ingin sekali cepat-cepat besok karena
dimana aku ada kencan dengan wanita yang tadi bersamaku itu. keesokan
paginya aku menjalankan aktifitasku dengan seperti biasanya pergi ke
kantor dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasanku, ketika jam
sudah menunjukan pukul 5 sore hari aku segera beranjak pulang dari
kantor dan aku mempercepat langkahku untuk sampai di rumah karena
aku ada kencan dengan seorang wanita cantik.
3
Sesampainya dirumah aku segera mempersiapkan diri untuk
bertemu dengan wanita itu aku memakai wangi-wangian agar tubuhku
yang kumal ini menjadi harum dan lebih segar, jam sudah menunjukan
pukul 07.00 malam aku segera beranjak dari rumah dan siap untuk pergi
ke tempat dimana kami akan bertemu, ketika sampai disana aku segera
mencari-cari dengan seksama di bangku mana dia duduk dan ketika aku
melihat ke ujung kiri aku melihat dia dengan busana yang sangatlah
anggun, dan dia terlihat sangat cantik pada waktu itu, kami saling
memberikan senyum ketika kami berdua saling bertemu, aku segera duduk
di tempat yang sudah dia pesan itu, ketika seorang pelayan datang
dengan membawa secarik kertas untuk mencatat apa yang akan kami
pesan nanti, aku hanya memesan spageti dengan minum orange juice,
dan dia memesan steak sapi dengan minum yang sama denganku, sambil
menunggu pesanan kami datang, kami saling berbincang-bincang dan
diselingi dengan tawa kecil dari mulut kami berdua, menurutku dia ternyata
orangnya sangatlah mudah untuk bergaul dengan orang lain, bayangkan
saja baru kemarin aku berkenalan dengan dia, dia sudah merasa
sangatlah akrab denganku, ketika makanan kami telah datang kami berdua
menghentikan sejenak pembicaraan kami untuk segera menyantap
makanan yang telah kami pesan itu, tanpa terasa kami telah menghabis-
kan makanan kami, kami segera beranjak untuk pulang, aku berniat untuk
menghantarkannya pulang, karena aku merasa itu adalah tanggung
jawabku sebagai seorang laki-laki. ketika kami sampai di depan rumah-
nya, sekali lagi dia mengajakku masuk untuk minum secangkir coffee atau
teh, aku kali ini menerima tawarannya karena memang aku besok tidaklah
masuk kerja karena memang besok adalah hari sabtu dimana aku libur
pada hari itu, akhirnya aku masuk ke rumahnya yang menurutku lumayan
besar, mungkin dia adalah seorang anak yang tingkat ekonominya
4
menengah, ketika aku masuk kedalam rumahnya aku mencium aroma
bunga, dan ternyata ketika aku menanyakan bau aroma apa itu kepadanya
ternyata itu adalah aroma bunga Lili, aku segera mencari sofa untuk
merefleksikan otot-ototku ini. dia dengan segera menuju ke dapur untuk
membuatkan aku secangkir coffe panas, aku menunggunya sambil
melihat-lihat sekeliling ruangan itu, ketika mataku tertujuh pada benda
yang menurutku aneh tiba-tiba dia muncul dari depan dengan mem-
bawakan secangkir coffe, lalu kami berdua duduk kembali di sofa yang
berwarna biru itu, dia mulai dengan pembicaraan santai sambil men-
yalakan televisi yang ada di ruangan itu, kami berdua silih berganti
berbuka rahasia kecil kami, dan tanpa terasa obrolan kami telah menjurus
ke obrolan yang romantis, dia seakan nyaman berada didekatku, dan
ketika obrolan kami sudah tidak begitu menjadi tertarik lagi tiba-tiba dia
merebahkan kepalanya ke pundakku. kami berdua seakan seperti
sepasang kekasih yang duduk di sebuah sofa, yang sedang menyaksikan
acara televisi.
Ketika dia memalingkan wajahnya ke arahku, aku mencoba untuk
mencium bibirnya, dan diapun sepertinya membiarkan wajahku mendekati
wajahnya, bibir kami pun saling berpangutan satu sama lainnya. cukup
lama kami saling berpangutan bibir, dan akupun mulai melepaskan bibirku
ke bibirnya, kami berdua diam seribu bahasa seakan kami telah menge-
tahui maksud dari semua itu. akupun mulai memberanikan diri untuk
berbicara bahwa aku sangatlah menyayanginya dan aku mau dia menjadi
kekasihku. dan diapun sepertinya juga merasakan hal yang sama dengan
ku. seketika itu juga aku dan dia kembali saling berpangutan bibir dan
seakan suasana di ruangan itu menjadi tempat kami mamandu cinta kasih
kami yang baru saja kami mulai di malam sabtu itu. ketika jam sudah
menunjukan pukul 12 malam aku ingin pulang karena badanku ini sudah
5
terasa lemas sekali karena seharian melakukan aktivitas, dan diapun
mengijinkanku untuk pulang karena memang dia mengerti denganku, aku
sudah seharian sudah melakukan aktivitas yang lumayan menguras
energiku ini. dia menghantarkanku sampai ke depan pintu, dan ketika aku
ingin pulang ke rumah dia menarik tanganku dan dia memberikan ciuman
terakhirnya untukku. akupun akhirnya pulang dengan perasaan gembira di
sertai dengan perasaan yang bahagia karena aku telah menemukan
cintaku hari ini.
Waktu demi waktu dan hari demi hari aku lalui bersama dengan
dia, kami berdua semakin mesra dan hubungan kami seakan seperi suami
dan istri saja, kami tidak bisa begitu saja dipisahkan, aku dan dia seperti-
nya merasakan hal yang sama ketika kami sedang melakukan hal-hal yang
sering kami lakukan bersama sepertinya ada getaran yang membuat kami
seakan kompak satu sama lainnya. suatu hari ketika kami ingin berkunjung
ke sebuah villa di desa terpencil untuk berlibur. Setelah hari telah malam
aku berniat untuk mencari rumah untuk bermalam karena memang kami
sudah kemalaman dijalan, kami menemukan rumah yang agak kecil di
desa itu ukuran rumah itu kira-kira 10 kali 15 meter dengan bangunan yang
terbuat dari kayu dan anyaman bambu itu, kami mengetuk pintu rumah itu
dan ketika ketukan ke 3 ada seorang nenek yang umurnya kira-kira sudah
berumur lebih dari 80 tahun lebih, kami meminta ijin untuk bermalam di
rumahnya dengan alasan kami sudah kemalam di jalan, nampaknya nenek
itu merasa senang karena dia tinggal seorang diri disana, dia merasa ada
yang menemaninya malam itu, kami dengan perasaan yang senang
karena kami telah menemukan tempat untuk bermalam, nenek itu
langsung mempersiapkan kamar untuk kami berdua, meskipun umurnya
sudah lebih dari 80 tahun nampaknya nenek itu masih kelihatan segar dan
masih terlihat sehat. kami duduk di atas kursi yang terbuat dari rotan
6
bambu, kami mengaku sama nenek itu bahwa kami adalah sepasang
suami dan istri karena tidaklah mungkin kami mengaku sebagai sepasang
kekasih, yang ingin berlibur di villa dan telah kemalaman dijalan karena
pasti tidaklah mungkin kami diberikan tumpangan untuk bermalam di
dalam rumahnya, kami akhirnya bermalam di rumah nenek itu. ketika
malam telah berganti menjadi pagi aku terbangun dari tidurku, aku melihat
ke luar rumah hawa dingin pagi menyelimuti tubuhku, karena rumah nenek
itu berada di kaki bukit, dan udara pagi menerobos dari celah-celah
anyaman bambu, membuatku badanku menjadi dingin. aku segera keluar
dari dalam kamar untuk menghirup udara segar pada pagi itu, ketika aku
termenung sejenak tiba-tiba nenek pemilik rumah itu menepuk
punggungku, aku sampai terkejut, dia menawarkan secangkir teh hangat
kepada ku yang nampaknya sangatlah nikmat jika disantap di pagi yang
dingin ini, aku dengan segera menerima teh hangat pemberian dari nenek
itu. tidak lama berselang waktu kekasihku bangun dari tidurnya dan dia
menghampiriku lalu memberikan kecupan selamat pagi kepadaku yang
sedang berbincang-bincang dengan nenek pemilik rumah itu. kami akhir
nya bertiga kumpul bersama dan berbincang-bincang kecil di selingi
dengan tawa yang keluar dari mulut kami bertiga, waktu telah menunjukan
pukul 11 aku berniat untuk melanjutkan perjalanan kami yang sempat
tertunda itu, kami berdua berpamitan dengan nenek yang telah mem-
berikan tumpangan menginap untuk kami berdua, aku memberikan sedikit
uang kepada nenek itu untuk dia belikan makanan untuk dirinya, sebagai
tanda terima kasihku kepada nenek itu, akhirnya kami melanjutkan
perjalanan kami ke sebuah villa milik kekasihku itu.
Ketika jam sudah menunjukan pukul 3 sore hari akhirnya kami
telah sampai di villa tersebut, menurutku villa itu cukup besar, kami di
sambut dengan penjaga villa itu, orangnya cukup tua dia sepertinya
7
berumur 50-60 tahun. Pria itu memberikan semua kunci-kunci yang ada di
villa itu kepada kekasihku untuk membuka setiap pintu yang ada di villa itu,
kami berdua akhirnya masuk kedalam villa itu dan aku dengan segera
mencari tempat untuk beristirahat sejenak, karena dari pagi tadi aku terus
mengemudikan mobilku itu, dan kekasihku itu langsung menuju kekamar
mandi untuk menyegarkan dirinya dan mengganti bajunya, mungkin dia
merasa kegerahan, karena kami memang dari kemarin belum mandi
karena di rumah nenek itu kami tidaklah mandi, ketika matahari sudah
mulai meninggalkan tempatnya, dan hari pun mulai menjadi gelap, aku dan
kekasihku pergi untuk membeli makanan, untuk santap malam kami, ketika
kami hendak ingin membeli makanan di restauran terdekat di kota itu, kami
melewati beberapa belokan yang amatlah terjal dan suasana di luar
sedang hujan deras, pandangan mataku tidak dapat terlihat dengan jelas
karena tertutup dengan derasnya hujan, aku dengan perlahan membawa
mobilku agar tidak terjadi kecelakaan. Kami berdua akhirnya sampai di
restauran dimana restauran itu tidaklah terlalu besar, karena memang ini
adalah kota yang tidaklah begitu ramai, aku dan kekasihku dengan segera
masuk ke dalam restauran itu, dan kami memilih makanan yang tersedia di
dalam menu makanan yang ada di meja makan, setalah makan aku dan
kekasihku tidak langsung beranjak pulang karena kami masih ingin
menikmati suasana restauran itu, karena menurutku biarpun kecil
restauran itu memiliki suasanan yang sangat romantis. Aku dan kekasihku
membicarakan hubungan kami untuk masa yang lebih serius lagi, karena
memang kami saling mencintai, satu sama lainnya. Dan ketika waktu
sudah menunjukan jam 9 malam kami baru hendak ingin pulang ke villa,
aku segera membayar apa saja yang telah kami pesan, diluar nampaknya
hujan sudah mulai mereda, dan nampaknya hanya rintikan-rintikan kecil
saja yang masih ada, kami berdua akhirnya menuju ke dalam mobil,
karena kami tidak ingin kebasahan. Aku dengan perut yang sudah terisi
8
penuh mengendarai mobil dengan santai, karena aku tidaklah mungkin
mengendarai mobil dengan tergesah-gesah, ketika kami melewati
beberapa belokan kami hampir saja tergelincir karena banyak sekali supir-
supir bis yang mengemudi dengan ugal-ugalan. Akhirnya kami sampai juga
di villa kami.
Aku dan kekasihku langsung ke tempat perapian untuk meng-
hangatkan diri, karena memang suhu udara diluar menjadi sangat dingin
karena sedang hujan, kami berdua duduk di sofa yang berwarna putih itu,
dan menghirup coklat panas, untuk menghangatkan diri di dekat perapian,
dan ketika jam sudah menunjukan pukul 11 malam, nampaknya kekasihku
sudah mulai merasakan lelah di tubuhnya, dia menaruh kepalanya di atas
pundakku, kami berdua diam sejenak sambil melihat api yang menyala-
nyala di tungku perapian, aku memalingkan wajahnya dan aku dengan
perlahan mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan kami berdua akhirnya
saling berciuman, ciuman kami sangat begitu mesra, karena suasana di
dalam villa itu membuat kami berdua merasakan hal yang begitu romantis,
kami berdua semakin tidak dapat menahan diri dan akhirnya kami berdua
berakhir di sebuah ranjang yang begitu besar, dan kami telah bermandikan
keringat, setelah kami selesai melakukan hubungan intim tersebut, badan
kami terasa lelah sekali, dan akhirnya aku tidur disebelahnya dengan tidak
menggunakan busana, hanya ditutupi dengan selembar selimut yang ada
di tempat tidur itu.
Pagi telah menyambut dan burung-burung semakin riangnya
berkicau, embun pagi membuat aroma rumput terasa di hidungku, wangi
bunga telah mengisi ruangan tempat tidurku, aku akhirnya bangun dengan
perasaan yang senang sekali, aku mencium kening kekasihku dan
mencoba untuk tidak membangunkannya, karena nampaknya dia tidur
terlalu lelap. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan segera menuju
9
kekamar mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan tubuhku ini.
setelah mandi aku segera pergi ke dapur untuk mempersiapkan sarapan
untuk kekasihku yang sedang tertidur dengan pulasnya, aku membuatkan-
nya roti bakar dengan telur mata sapi dan segelas susu. Aku membawa-
kannya dengan hati-hati agar tidak membuat dia terbangun, aku menaruh-
nya di pinggir tempat tidur, dan aku menulis secarik kertas yang bertulis-
kan “selamat pagi sayang, ini sarapanmu”, lalu aku pergi keluar rumah
untuk berolah raga sedikit, karena udara diluar sana sangatlah segar.
Setelah aku selesai berolah raga aku masuk kembali kedalam villa untuk
mengambil segelas air karena aku merasa tenggorokanku terasa amat
kering karena telah berolah raga, aku melihat kekasihku tersenyum
melihatku, mungkin dia merasa senang karena telah kubuatkan sarapan.
Dia mencium pipiku dan sedikit bercanda kepadaku, dan pada akhirnya
kami berdua mandi bersama dan mengulangi kejadian seperti semalam
dikamar mandi itu. Setelah selesai mandi aku dan dia bersiap-siap untuk
berjalan-jalan di sekitar bukit yang ada di seberang dari villa kami tinggal.
aku pergi dengannya dengan menggunakan kuda yang berada di stable
villa tersebut. Kami menunggangi kuda bersama-sama menglilingi bukit itu.
Jam sudah menunjukan 2 siang, terlalu panas untuk berkuda akhirnya
kami berniat untuk mengakhirinya dan kembali ke villa untuk beristirahat
sebentar, sore harinya aku berniat untuk memberikan cincin kepadanya
yang sudah aku beli sebelum melakukan perjalanan ke villa ini. aku berniat
untuk melamarnya. Aku berpura-pura menyuruhnya berganti pakaian, agar
mengulur waktu agar aku bisa mempersiapkan suasana menjadi romantis,
agar rencana pelamaranku berjalan dengan lancar, aku memasang
beberapa lilin di seluruh ruang, dan mempersiapkan sebotol wine dengan
hidangan kecil yang telah aku pesan dari tadi sore kepada penjaga villa itu,
setelah beberapa saat setelah selesai persiapan akhirnya, kekasihku
keluar dari kamarnya nampaknya dia sangat terkejut dengan apa yang
10
telah aku perbuat, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Aku
mempersilahkannya duduk di kursi makan, dan dengan tersenyum dia
nampaknya mau mengikuti perintahku, setelah beberapa saat aku
mengeluarkan cincin dari dalam sakuku, aku berkata kepadanya “aku
sangat mencintai kamu, maukah kamu mengenakan cincin ini untuk
menjadi istriku”, nampaknya dia terkejut mendengar perkataanku itu.
jantungku dengan cepat memompa semua aliran darahku, adrenalineku
seakan bekerja dua kali lebih cepat dibandingkan dengan biasanya.
Nampaknya dia begitu terkejut karena aku telah melamarnya. Ketika aku
menyentuh tangannya dan mencoba untuk mengenakan cincin itu di jari
manisnya, barulah dia tersadar dari keterkejutannya itu. nampaknya dia
menerima lamaranku ini. ketika aku melepaskan tanganku dari tangannya
dia menganggukan kepalanya dan nampaknya dia telah menerima
lamaranku ini.
Keesokan harinya aku dan dia berencana untuk kembali ke rumah.
Setelah lamaranku diterima olehnya, aku dengan perasaan yang gembira
aku pulang kerumahku. Aku ingin sekali menemui orangtuanya bahwa
anaknya inginku lamar, hari itu hujan sangatlah lebat dan kami mengen-
darai mobil dengan perasaan yang sangat senang, dia tidak henti-hentinya
mencium pipiku atau bibirku, dan ketika aku sampai pada belokan yang
begitu terjal tiba-tiba saja ban mobilku pecah entah kenapa aku sendiri
tidaklah tahu. Aku tidak dapat menahan laju mobilku dan pada akhirnya
aku dan kekasihku tergelincir, dan menuju ke dalam jurang. Akhirnya
kecelakaanpun tak dapat aku hindari, mobilku masuk kedalam jurang yang
berkedalaman kurang lebih 25-30 meter itu. yang dibawahnya penuh
dengan bebatuan yang cukup besar. Warga disekitar mencoba turun untuk
menolong kami dan mengeluarkan kami dari dalam mobil sebelum mobil
kami terbakar, akhirnya kamipun berhasil dikeluarkan dari dalam mobil.
11
Dan kami dibawa menggunakan ambulance ke rumah sakit terdekat untuk
diberikan perawatan medis. Waktu terus berganti dan akupun belum
menyadarkan diri dari koma yang disebabkan dari kecelakaan yang telah
aku alami tersebut. Aku tak tahu bagaimana dengan keselamatan kekasih
ku itu, satu minggu telah berlalu semenjak kecelakaan tersebut, aku baru
bisa menyadarkan diri dari koma panjangku dan aku melihat bahwa aku
sedang dikelilingi oleh teman-teman kerjaku dan para sahabat lainnya di
kamar rumah sakit. Ketika aku menanyakan kabar tentang kekasihku
orang-orang disekitarku tidak ada yang ingin membicarakannya kepadaku,
mereka seakan menyembunyikan sesuatu dariku, aku bingung apa yang
terjadi dengan keselamatannya, aku terus menanyakan keberadaan
kekasihku itu, dan tanpa sepengetahuan mereka aku mendengar dari balik
pintu ketika aku hendak ingin keluar kencing dari ruang perawatanku itu.
aku tahu bahwa kekasihku telah meninggalkanku dan pergi untuk selama-
lamanya, aku tidak percaya dengan semua itu, dan aku terus mencoba
meyakinkan diri, apa yang baru saja aku dengar itu adalah tidaklah benar,
aku langsung keluar dan ingin menemui kekasihku itu, nampaknya teman-
temanku mencoba untuk menghalangiku, aku masih bersih keras untuk
menemukan dimana dia berada, ketika aku keluar dari rumah sakit
tersebut dan aku pulang kerumahku dengan tubuh yang masih terasa
lemas itu, aku mencoba untuk sekali lagi menanyakan dimana kekasihku
berada, akhirnya ada seorang teman baikku mencoba untuk memberitahu-
kan aku apa yang sebenarnya terjadi dengan nasib kekasihku itu, ketika
temanku itu memberitahukan semuanya kepadaku aku, aku mencoba
untuk menahan air mata yang keluar dari mataku dan mencoba untuk
menenangkan diri dari apa yang telah aku dengar, tapi perasaan cintaku
tak bisa dikalahkan dengan semuanya, akhirnya aku menangis dengan
perasaan yang amat sedih. Aku meminta temanku itu untuk meng-
hantarkan aku ke tempat dimana kekasihku itu dikuburkan, dan ketika aku
12
telah sampai di kuburan kekasihku itu, aku tak kuasa menahan tangisku,
aku segera memeluk kuburan kekasihku itu, yang mungkin jika kecelakaan
itu tidaklah menghampiri kami mungkin kami telah hidup bersama di dalam
rumah yang dipenuhi dengan cinta kasih kami dan memiliki beberapa anak
dari buah cinta kasih kami, aku mengenang semua kenangan indah
bersama dengannya, aku merasa despresi dan tak bisa menerima dengan
begitu saja, aku terus menyalahkan diriku atas kematian kekasihku itu,
temanku mencoba untuk menghiburku aku mencoba untuk mengerti
maksud dari teman karibku itu, tapi aku tidaklah mungkin dapat dihibur
dengan cara bagaimanapun juga, karena aku sangatlah mencintai kekasih
ku itu. setelah waktu berjalan selama 3 tahun atas kecelakaan tersebut
akhirnya aku mulai bisa melupakan sedikit demi sedikit tentang kejadian
itu, aku terus disibuki dengan kegiatan-kegiatan kantorku yang semakin
hari semakin banyak, aku mulai hidup dengan normal kembali. Dan
mungkin itu adalah kenangan yang terindah yang pernah aku alami
selama hidupku ini.
Aku terbangun dari tidurku dan badanku penuh dengan keringat,
dan ternyata aku telah bermimpi tentang kejadian tiga tahun lalu. Aku
melihat ke arah jam ternyata sudah jam 9 pagi aku dengan segera
beranjak dari tempat tidurku dan pergi ke kamar mandi untuk berangkat
kerja. Aku sudah terlambat untuk berangkat ke kantor, dengan segera aku
mandi agar aku tidak terlambat untuk pergi ke kantor. Jam sudah
menunjukan pukul 09.30 pagi aku sudah siap untuk berangkat ke tempat
kerjaku, aku keluar dari rumah dan menyapa tetangga-tetanggaku yang
sedang membersihkan halaman rumah mereka, udara di pagi itu terasa
sesak sekali karena polusi asap di kotaku sudah tidak dapat terkendali lagi,
aku dengan cepat melangkah ke tempat kerjaku, ketika jam sudah
menunjukan pukul 11.25 pagi aku akhirnya sampai di tempat kerjaku ketika
13
sampai di ruangan kerjaku, ternyata disana ada bosku yang sudah
menungguku dari tadi di ruanganku itu, aku dengan perasaan yang was-
was dengan segera masuk dan menyapa bosku itu, dengan segera aku
meminta maaf kepada bosku karena telah datang telat, aku dengan
perasaan resah hanya menundukan kepalaku saja di hadapan bosku itu,
ketika itu bosku malah memberikan senyumnya kepadaku, ternyata beliau
tidaklah marah kepadaku, ternyata dia ingin mempromosikan aku untuk
jabatan sebagai manajer marketing di perusahaan tempatku bekerja itu,
karena dia telah puas dengan hasil kerjaku selama ini, dia bangga telah
memperkerjakan aku di perusahaannya, dengan hati yang cukup lega
akhirnya aku dapat mendapatkan posisi itu dimana dari dulu aku sudah
menginginkannya, setelah bosku memberitahukan aku untuk dipromosikan
sebagai manajer marketing aku dengan segera memberitahukan kepada
teman-teman kantorku, mereka memberikan aku selamat atas apa yang
telah aku raih selama ini, aku dengan perasaan senang berencana untuk
mentraktir teman-teman kantorku untuk makan siang di kantin, ketika jam
makan siang telah tiba aku dan beberapa teman kantorku beranjak dari
ruang kantor menuju lift untuk pergi ke kantin, ketika pintu lift terbuka aku
melihat seorang gadis dengan penampilan yang cukup menarik perhatian
ku, dia nampaknya pegawai baru di perusahaan ini, selama aku bekerja di
sini aku belum pernah melihatnya, aku dan beberapa temanku saling
bertatap wajah sambil melirik ke gadis itu, setelah pintu lift terbuka aku dan
beberapa temanku beranjak dari lift untuk segera menuju kantin
sedangkan gadis itu nampaknya tidak pergi menuju ke kantin melainkan
dia pergi ke dalam ruang administrasi, yang memang ruang itu berada di
lantai bawah kantorku itu, nampaknya dia bekerja di bagian administrasi,
aku sempat memperhatikan gerak-gerik perempuan itu dari belakang, dia
begitu anggun dan cukup cantik, parasnya seperti mantan kekasihku itu,
setibanya di kantin kantor aku sempat memikirkan gadis itu, tidak sengaja
14
temanku menengurku beberapa kali tetapi aku tetap dalam lamunanku,
sampai akhirnya ada seorang temanku memberikan aku sepotong pisang
kedalam mulutku dan aku tersadar dari lamunanku, aku menjadi bahan
tertawaan oleh teman-teman sekantorku siang itu, mereka saling meng
olok-olok aku, aku hanya dapat terdiam diri untuk menahan rasa maluku,
akhirnya setelah selesai makan dari kantin aku dan beberapa temanku
beranjak dari kantin, kami berlima menuju ke mushala untuk shalat
berjamaah, karena memang sudah waktunya untuk shalat, adzan sudah
berkumandang dengan kerasnya, kami berlima dengan segera menuju
tempat wudhu, untuk mensucikan diri kami untuk menghadap sang khalik.
Setelah kami selesai shalat berjamaah, aku dan teman-teman kerjaku tidak
langsung pergi dari mushala tetapi kami tidur-tiduran sebentar didalam
mushala itu karena memang jam masuk makan siang masih lama, aku dan
beberapa teman-temanku membicarakan tentang gadis yang kami lihat
tadi di lift, ada seorang temanku ingin menjadikannya pacar, ada yang
berencana akan langsung mengajaknya menikah, aku hanya dapat
tertawa mendengar perkataan dari teman-temanku itu, karena memang di
dalam hatiku ini terdapat suatu keinginan yang sangat untuk mengungkap-
kannya kepada teman-temanku, tetapi aku tidak ingin membicarakannya
aku ingin hidup sendiri dulu, aku masih trauma dengan kejadian tiga tahun
lalu itu, aku masih takut untuk mencintai seorang wanita, ketika kami telah
puas dengan pembicaraan konyol itu, akhirnya kami beranjak dari mushala
untuk masuk kekantor karena memang jam sudah menunjukan pukul
01.00 Siang. Kami dengan segera masuk kedalam dan kami menghampiri
lift untuk naik ke lantai 10 karena memang kami bekerja di lantai 10 ketika
pintu lift terbuka kami masuk kedalam, aku berdiri di dekat tombol lift,
ketika pintu lift sudah ingin tertutup terdengar derap langkah dari samping,
seperti ada seseorang yang sedang berlari mengejar lift agar tidak tertutup
dan terdengar suara “Tunggu” dari arah sana, aku dengan segera
15
menahan pintu lift itu agar tidak tertutup, aku menekan tombol open agar
pintu lift kembali terbuka, ternyata dengan nafas yang terengah-engah dan
rambut yang sedikit berantakan ternyata dia adalah gadis yang aku temui
di lift ketika aku hendak pergi ke kantin, dia mengucapkan terima kasih
karena telah menunggunya untuk menaiki lift itu, aku hanya tersenyum
kepada gadis itu, dan beberapa teman-temanku ada yang sedikit cari
perhatian kepadanya, dan nampaknya dia tidak memperdulikan temanku
itu, aku segera bertanya kepada gadis itu “ingin pergi kelantai berapa...?”
dan dia berkata “lantai 7”. Aku dengan segera menekan lantai yang dia
mau, setelah beberapa menit didalam lift, aku sempat memperhatikan
bentuk tubuhnya dari ujung kaki sampai kepala, walaupun itu hanya dari
pantulan kaca lift karena aku tidak ingin dipergoki oleh teman-temanku
ketika memperhatikannya, setelah sampai di lantai tujuh dia langsung
beranjak untuk keluar, dan dia tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada kami semua, sambil membawa sebuah kertas dia akhirnya keluar
dari dalam lift itu, dan sebelum pintu lift tertutup aku ingin memperhatikan-
nya sekali lagi, dan dengan perlahan-lahan pintu lift akhirnya tertutup
kembali dan lift itu melanjutkan perjalanannya ke lantai 10 tempat dimana
kami semua bekerja, setelah beberapa lama akhirnya pintu lift terbuka
dengan diiringi suara “ding” dari dalam lift. Kami semua akhirnya keluar
dari dalam lift dan melangkah ke tempat kami masing-masing, karena
memang kami berlima berlainan tempat, setelah beberapa saat waktu
terus bergulir disertai dengan kesibukanku aku tidak menyangka bahwa
waktu telah menunjukan pukul 03.25 sore pada saat itu kerjaanku semua
telah selesai, tetapi waktu untuk pulang masih lama karena aku pulang
pukul 05.00 sore. Aku menjadi sedikit resah karena aku tidak lagi
melakukan apa-apa karena semua pekerjaanku telah aku kerjakan, aku
keluar dari ruanganku untuk menghabiskan waktu yang masih tersisa itu,
aku berkeliling kantor dari lantai kelantai sambil bercanda dengan teman-
16
teman kantorku yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Dan pada
akhirnya aku bertemu dengan gadis yang tadi di lift itu. Aku kira dia hanya
lewat saja melaluiku tetapi dia malah menemui aku di depan meja kerja
temanku itu, karena memang aku sedang berada disana sambil mengobrol
dengan temanku itu, dia menanyakan namaku dan memberikan aku
beberapa berkas untuk ditanda tangani, karena aku tidak membawa
penaku, aku mengajaknya ke ruanganku, dia mengikuti aku dari belakang
dan aku dengan santai berjalan kedalam ruanganku, ketika telah sampai
didalam ruanganku aku mempersilahkannya duduk di kursi yang memang
tersedia untuk para tamu atau klienku, aku dengan segera mencari penaku
untuk menandatangani berkas yang ingin diberikan kepadaku, ketika aku
telah menerima berkas yang akan aku tanda tangani aku sedikit membuka
pembicaraan kepadanya, “kamu baru yah kerja disini....?”, “sepertinya
saya baru melihat kamu disini....!”, dengan gugup dia menjawab pertanya-
anku itu “i...iya, pak”, “s...saya memang baru bekerja d...disini...!”, “jangan
gugup gitu dong....santai aja, saya gak seram kok”, “i...ya pak” dengan
wajah yang tertunduk malu dia memberikan lagi berkas-berkas yang harus
aku tanda tangani, “nama kamu siapa...?”, “saya ninda...pak...!”, “oke,
ninda ini semua telah saya tanda tangani, apakah masih ada lagi yang
harus saya tanda tangani...?”, “tidak kok pak, saya rasa telah semua”, dan
aku mempersilahkannya keluar dari ruanganku itu. Dengan perasaan yang
sedikit gugup dia meninggalkan ruanganku, akhirnya aku telah mengetahui
nama gadis itu. Setelah dia telah keluar dari dalam ruanganku aku kembali
dengan keheningan sesaat karena aku tidak tahu apa yang harus aku
perbuat, akhirnya aku membuka beberapa situs berita di internet. Untuk
menghabiskan waktuku itu. Setelah asik membaca berita-berita yang ada
didalam situs tersebut aku kembali dikejutkan dengan ketukan dari arah
pintu ruanganku itu, dengan nada yang sedikit marah aku mempersilakan
orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.
17
Ternyata yang masuk adalah ninda aku sempat terkejut sedikit,
ada apa lagi dia masuk kedalam ruanganku itu, dengan perasaan yang
gugup dia menghampiri aku, “maaf, pak karena telah ganggu bapak...!”,
dia berkata seperti itu karena dia merasa telah mengganggu aku, sambil
tersenyum aku mempersilahkannya duduk, “ada apa, kamu kembali lagi
kesini”, “ini pak, ada yang tertinggal, berkas yang harus bapak tanda
tangani”. Dengan perasaan yang sedikit malu dia memberikan berkas itu
kepadaku, “katanya tadi sudah tidak ada lagi”, candaku kepadanya, dan
nampaknya dia merasa malu karena telah berbuat sedikit kesalahan, dan
aku akhirnya menandatangani berkas itu, setelah selesai menandatangai
berkas itu aku menyerahkannya kembali kepadanya, sambil sedikit
bercanda kepadanya, “awas yah, jika masih ada berkas yang masih
tertinggal saya akan kurung kamu didalam ruanganku ini” dengan nada
yang sedikit tinggi. Dan dia hanya tersenyum kepadaku dan menundukan
kepalanya, setelah itu dia beranjak dari kursi itu, dan meninggalkan
ruanganku, aku kembali membaca berita di internet. Setelah jam sudah
menunjukan pukul 04.50 aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Rasa
lelah menyelimuti tubuhku ini, dan setelah jam sudah pukul lima tepat aku
segera beranjak dari dalam ruanganku, aku menyapa teman-teman
sekantorku dan aku segera menuju ke dalam lift, untuk turun pulang dan
menuju tempat parkir basement dimana aku memarkirkan mobilku disana,
dan ketika aku sedang menunggu lift ke lantai basement tiba-tiba pintu lift
terbuka dilantai 3 dan ada seorang gadis masuk kedalam lift, dan ternyata
gadis itu adalah ninda dia kembali tersenyum kepadaku, nampaknya aku
hari ini selalu bertemu dengan dia, “sepertinya aku seharian selalu
bertemu dengan kamu, nin...” dengan nada yang rendah aku berbicara
dengannya. “iya, pak” jawabnya, “kamu mau kemana”, “pulang, pak”,
“jangan panggil aku pak dong, kan kita sudah diluar dari jam kerja”,
“baiklah”, “panggil saja andre”, dia hanya termangut, “kamu pulang dengan
18
siapa...?” sambil berharap akan bisa mengantarkannya pulang, “sendiri,
memang kenapa...?”, “ah...tidak, jika tidak keberatan gimana kalau aku
antar kamu pulang...?”, “memangnya bapak tidak pulang dengan teman-
teman bapak atau....!”, “atau apa...?”, “ah....tidak”, “kamu mau gak aku
antar pulang..?”, “baiklah, jika memang bapak memaksa”. Setelah itu pintu
lift terbuka di lantai satu, lalu aku dan ninda pergi ke ruangan administrasi
untuk mengambil beberapa barang milik ninda dan kami kembali menuju
ke lift setelah pintu lift terbuka dan aku menekan tombol ke lantai
basement, lalu pintu lift tertutup kembali, setelah beberapa lama akhirnya
lift telah sampai di basement, dan akhirnya kami keluar dari dalam lift dan
menuju mobilku, setelah sampai di mobilku yang memang sengaja aku
parkir didekat lift basement karena memang aku malas untuk memarkir-
kan mobilku jauh dari lift basement, setelah di dalam mobil aku memulai
sedikit pembicaraan kepadanya, “kamu mau langsung pulang atau mau
dinner sama aku, aku sangat lapar sekarang...!”, “seterah kamu aja deh”,
“baiklah kalau begitu”. Aku langsung mengemudikan mobilku ke sebuah
restauran yang cukup terkenal dikotaku itu. Kami didalam mobil sedikit
berbincang-bincang entah itu masalah kantor atau masalah pribadi.
Setelah sampai di restoran itu aku memarkirkan mobilku di depan
pintu restoran itu dan setelah itu aku dan ninda keluar dari dalam mobil,
kunci mobilku aku berikan kepada petugas Valet Parking untuk di parkirkan
ke tempat parkir di restoran itu. Aku dan ninda masuk kedalam restoran itu,
aku segera ke meja resepsionis untuk memesan tempat disana, setelah
mendapatkan tempat aku dan ninda segera ke kursi yang telah aku pesan
itu, waktu memang sudah menunjukan pukul 07.00 malam karena
memang di dalam perjalanan menuju kesini sangatlah macet karena
memang sudah jam keluar kantor, banyak sekali mobil-mobil yang keluar
dari kantornya untuk pulang atau bersinggah di suatu tempat, sama yang
19
sekarang telah aku perbuat dengan teman kantorku ini. Setelah itu aku
memesan beberapa makanan yang ada di menu makanan, dan ninda juga
melakukan hal yang sama denganku, dan sambil menunggu makanan
kami aku dan ninda kembali berbincang-bincang. Setelah beberapa lama
makanan kami datang dan kami berdua menyantap makanan yang telah
kami pesan diselingi dengan pembicaraan kecil dari mulut kami yang
sedikit dipenuhi dengan makanan, setelah beberapa saat aku dan ninda
hening sejenak untuk menikmati alunan piano dari seorang pianis yang
sedang memainkan pianonya, dengan diikuti iringan piano dari seorang
pianis itu suasana di dalam restauran menjadi sedikit romantis, aku sempat
berpikir sendainya aku disini bersama dengan kekasihku pasti suasana
hatiku lebih indah, aku termenung selama alunan piano berlangsung,
nampaknya ninda memperhatikan gerak-gerikku dia nampaknya sadar
atas apa yang sedang aku lakukan, dia dengan sengaja memanggil aku
secara perlahan, biar aku tidak terkejut, aku tersadar dalam lamunanku
dan aku kembali tersenyum ke ninda, dia mulai berani untuk menanyakan
masalah pribadiku, dia ingin tahu apakah aku tadi memikirkan kekasihku,
dia mengira kekasihku pergi ke luar kota dan menginggalkan aku sendiri
disini, aku dengan sengaja tidak ingin membahas tentang kekasihku itu,
tetapi ninda memaksa untuk aku menceritakan apa masalahku sampai aku
melamun seperti itu, dengan perasaan berat aku akhirnya menceritakan-
nya bahwa kekasihku telah lama tiada, namun sebelum aku selesai
menceritakan kisahku kepadanya dia nampaknya merasa bersalah karena
telah mengingkatkan kembali kenangan akan aku dengan kekasihku itu,
dia meminta maaf untuk apa yang telah dia perbuat, aku dengan sikapku
yang seperti sekarang ini sudah bisa menahan rasa sedihku karena aku
sekarang sudah bisa menahan emosiku tidak seperti tiga tahun yang lalu,
jika ada yang kerabat yang tidak tahu akan kejadian itu dan menanyakan
20
bagaimana kabar dia, aku dengan segera memukul diriku sendiri karena
aku merasa telah membuat terjadinya kecelakaan itu.
Dia nampaknya merasa sedikit bersalah, dan aku berusaha untuk
membuatnya kembali seperti biasa dan aku tidak ingin dia diselimuti
dengan perasaan bersalah, setelah seorang pianis itu mengakhiri pertunju-
kannya aku dan ninda segera meninggalkan restauran itu untuk beranjak
pulang, setelah jam sudah menunjukan pukul 08.30 malam aku dan ninda
akhirnya meninggalkan restauran itu, aku memberikan kartu Valet Parking
kepada petugas Valet itu untuk mengambilkan mobilku, setelah beberapa
saat aku akhirnya mendapatkan kembali mobilku, aku dan ninda segera
masuk ke-dalam mobil, aku dengan perlahan-lahan menyetir karena di
jalan sangatlah macet, dikotaku ini tidak ada hari tanpa macet, karena
memang kotaku ini adalah kota metropolitan, sebagai kota yang sangatlah
sibuk, dan juga sangatlah kotor karena udara disini sudah tidak bersih lagi,
sudah tercemar dengan polusi dari asap kendaraan, didalam perjalanan
aku sempat menanyakan apakah dia sekarang sudah memiliki seorang
suami atau pacar karena aku tidak ingin dibilang sebagai seorang ketiga di
dalam hubungan mereka, setelah dengan perasaan malu-malu dia meng-
gelengkan kepalanya itu berarti dia memang masih single, aku merasa
senang karena aku tidak akan menjadi seorang pengacau diantara
hubungan orang lain. Setelah dia memberitahukan bahwa dia sekarang
masih single, ada perasaan kecilku untuk mendapatkannya, sedangkan
aku sendiri masih belum bisa untuk mencintai seorang wanita lagi karena
aku masih sedikit dispresi atas apa yang telah terjadi kepadaku, setelah
aku sampai didepan rumahnya aku menghentikan mobilku, dia sepertinya
tidak ingin meninggalkan mobilku dengan begitu saja, dia sempat
termenung sejenak sampai akhirnya aku menegurnya bahwa kita telah
sampai di depan rumahnya, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan
21
kepadaku, setelah beberapa lama dia akhirnya tersadar juga, dan dia
mengucapkan terima kasih kepadaku, dan dia langsung mengecup
keningku dan dengan segera dia keluar dari dalam mobil, setelah dia
keluar dia sempat berkata, “mau mampir sebentar, untuk sekedar minum
teh atau coffee...?”, tetapi aku hanya tersenyum dan menggelengkan
kepalaku, aku tidak ingin kejadian ketika pertama kalinya aku bertemu
dengan kekasihku itu terulang kembali, karena itu akan mengingatkan aku
dengan kejadian dimana aku dan kekasihku mulai menjalin cinta kasih
kami, setelah itu nampaknya dia mengerti apa maksudku dan dia dengan
segera membalikan badannya dan mengucapkan terima kasih karena
telah mengantarkannya pulang, dan dia melambaikan tangannya
kepadaku, dan aku dengan segera melaju dengan mobilku untuk segera
pulang kerumahku.
Setelah sampai di rumah aku dengan segera melepaskan semua
pakaian yang melekat di tubuhku dan aku ingin sekali berendam didalam
bak air panas untuk merefleksikan kembali otot-ototku yang sudah pada
kaku ini, didalam bak mandiku aku sempat memikirkan ninda, wajahnya,
tingkah lakunya, dan bentuk tubuhnya mirip sekali dengan mantan
kekasihku itu, aku sempat berpikir apa iya bahwa dia adalah reinkarnasi
oleh kekasihku itu, tetapi itu semua tidaklah mungkin, atau itu semua
hanya sebuah kebetulan belaka, memang didunia ini banyak sekali orang
yang memiliki sifat atau kepribadian yang sama, setelah beberapa saat
merendamkan diri di dalam air panas aku dan otot-ototku terasa sudah
mulai kendur, aku dengan segera mengenakan piama tidurku untuk tidur
karena aku tidak ingin terlambat pergi ke kantor besok pagi.
22
Ketika aku sudah terlelap tidur aku bermimpi di dalam mimpiku aku
bertemu dengan ninda dia menggunakan gaun berwarna putih dan me
manggil-manggil aku, aku tidak tahu ada apa dengannya, ketika aku
menghampirinya, tanganku segera di rangkulnya dan aku di bawa ke suatu
tempat dimana tempat itu begitu indah, dan aku tidak tahu dimana
sekarang aku berada, tempat itu dipenuhi dengan beberapa bunga-bunga,
dan beberapa kupu-kupu ada berbagai macam bunga di taman itu, dia
dengan segera merebahkan tubuhnya diatas bunga-bunga itu, lalu tidak
lama berselang aku merebahkan badanku juga di sampingnya. Aku dan
dia sekarang tiduran diatas taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga,
angin bertiup melalui sela-sela rambut kami, membuat diriku seakan
berada di atas awan, aku memejamkan mataku untuk menikmati indahnya
alam ini, setelah beberapa saat, aku merasa ada yang menindih tubuhku,
aku membuka mataku dan aku melihat ninda menaruh kepalanya diatas
dadaku, aku sempat terkejut sedikit, karena aku tidak tahu ada maksud
apa dia sampai berbuat seperti itu kepadaku, tanganku mengelus bagian
rambutnya dan nampaknya dia membiarkannya, setelah beberapa lama
dia akhirnya membuka pembicaraan. “apa yang sedang kamu rasakan
sekarang dre...?”, “aku merasa kita sekarang berada dialam bebas, dan
kita dapat berbuat apa saja disini...”, “aku ingin kita seperti ini untuk
selamanya...”, “apa maksudmu nin....?” sambil mengerutkan kening-ku aku
berhenti mengelus rambutnya, dan dia mengangkat kepalanya dari
dadaku, “aku mau kita menjadi sepasang merpati yang terbang bebas
diangkasa”, sambil menunjuk ke arah merpati yang sedang terbang, ”dan
aku mau kita menjadi sepasang kekasih....”, dengan perasaan terkejut, aku
tidak menyangka bahwa dia telah mengungkapkan perasaannya kepada
ku. “kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, bukannya kita baru saja
kenal....?”, “tidak apa-apakan jika kita memang baru saja kenal, karena aku
merasa bahwa kamu adalah pria yang paling tepat untuk aku, bukannya
23
kamu juga pernah melakukan hal sama seperti itu, bahwa kamu pernah
mengutarakan isi hatimu kepada gadis yang baru saja kamu kenal....?”,
aku dengan perasaan yang sedikit curiga kepadanya, aku sempat bingung
kenapa dia bisa tahu bahwa aku pernah menyukai gadis yang baru aku
kenal, aku menjadi bingung,,,,,,,!!!. Matahari pagi menyinari mataku dan
akhirnya membuatku terbangun dari mimpiku, aku sempat terdiam
sejenak, apa yang baru saja aku alami. Aku sempat berpikir siapa ninda itu
sebenarnya...?, dan kenapa dia bisa mengetahui semua itu, setelah itu aku
beranjak dari tempat tidurku, dan pergi ke kamar mandi untuk
menyegarkan diriku, hari ini aku libur kerja, setelah selesai mandi, aku
menyiapkan sarapan, dan aku menyalakan televisi untuk mendengarkan
berita dipagi itu, dan sekarang masih jam 08.15 pagi, aku masih sempat
untuk melakukan olah raga pagi di dalam rumahku, aku menghidupkan
treadmill, sambil menyaksikan acara televisi, ketika aku sedang meng-
gunakan treadmill tidak lama berselang telepon rumahku berdering, aku
dengan segera mengangkat telepon itu, siapakah yang ingin berbicara
dengan aku, “Hallo, andre disini”, “hai...dre, kamu lagi ngapain sekarang?”,
“ini aku Ninda...”, “loh kok kamu bisa tahu nomor telepon rumah aku nin....
siapa yang memberitahu kamu...?”, “oh....itu, kamu tahukan aku kerja di
bagian apa....?, yah....aku tahulah semuanya sampai alamat rumah kamu
aku juga tahu...”, “oh....iya...yah...kamu kan kerja dibagian administrasi....
jadi kamu tahu semua data pegawai di kantor, ada apa kamu telepon aku”,
“aku cuma mau mengajak kamu makan siang nanti di restauran tempat
kemarin kita makan, bagaimana kamu mau gak...?”, “hmm....bagaimana
yah, memang sih aku sekarang tidak ada kegiatan selain berdiam diri
dirumah, hmm... mungkin nanti aku telepon balik deh ke nomor kamu yah,
jika memang aku tidak ada acara...”, “hmm...ok kamu hubungi aku ke
nomor ini yah...”, “OK”, “Bye....”, “Bye....”, setelah itu aku sempat berpikir
sejenak, ada maksud apa dia mau mengajak aku makan siang, tapi
24
seandainya jika mimpi semalam itu benar....!!!, aku harus berbuat apa...?,
aku jadi bingung, di sisi lain aku memang ingin memilikinya, tapi di sisi lain
aku masih sedikit dispresi. Atau memang dia cuma ingin berteman dengan
aku saja, baiklah nanti siang aku akan telepon balik dia, dalam benakku.
Jam sudah menunjukan pukul 11.40 siang, dan aku akhirnya
menelpon ninda kembali, tetapi setelah aku telepon dia ternyata yang
mengangkat bukannya ninda tetapi mesin penerima pesan, setelah nada
“biip”, aku segera meninggalkan pesanku, bahwa aku menerima ajakannya
untuk makan siang bersama, setelah itu aku bergegas mengganti
pakaianku, dan menggunakan beberapa minyak wangi untuk mengharum
kan tubuhku, setelah itu, aku menuju ke grasi dimana aku menaruh mobil
ku disana, dengan perasaan yang terbagi dua akhirnya aku memutuskan
untuk pergi menemuinya, di sebuah restauran yang telah kami janjikan, di
dalam perjalanan menuju kesana, di dalam benakku aku selalu memikirkan
apa yang akan dia lakukan nanti, tidak lama itu aku akhirnya sampai di
restauran tempat kami bertemu, aku segera memarkirkan mobilku, dan aku
memberikan kunci mobilku kepada petugas valet parking, setelah itu aku
menuju resepsionis untuk menanyakan apa temanku yang bernama ninda
telah memesan tempat untuk kami, ternyata dia belum memesan tempat,
maka aku segera memesan tempat untuk kami berdua, setelah aku telah
memesan tempat aku segera duduk di meja yang telah aku pesan, aku
menunggunya sambil membaca berita di internet, memang aku sengaja
membawa laptopku, untuk berjaga-jaga jika memang aku harus menunggu
nya di sana, setelah beberapa lama aku membuka situs aku akhirnya di
kejutkan oleh tepukan dari arah belakang, aku dengan refleks segera
menoleh ke belakang, dan ternyata orang itu adalah ninda, aku sempat
tersenyum kepadanya, dan melipat kembali laptopku, dan menaruhnya di
dalam tas.
25
“hey....nin”, “aku kira kamu tidak jadi datang...”, dia hanya tertawa
kecil kepadaku, “malah aku kira kamu yang tidak bisa datang...”, sambil
membuka menu makanan yang ada di meja, tidak lama aku mengikutinya,
datang seorang pelayan menghampiri kami, dan dia membawa secarik
kertas untuk mencatat apa yang ingin kami pesan, setelah kami telah
memesan makanan yang akan kami makan nanti, akhirnya pelayan itu
pergi menjauhi kami, “sudah lama yah kamu nunggu aku dre....”, “ahh....
enggak cuma beberapa menit kok, aku sudah berapa kali membuka situs
berita di halaman web...” sambil mengerutkan dahi. “ops....sorry yah, jika
aku datangnya telat, habisnya aku tadi pergi ke pasar swalayan untuk
membeli keperluanku sehari-hari”, “oh...gak apa apa kok”, lalu aku
memulai sedikit pembicaraan kepadanya. “ada apa sih kamu mengajak
aku makan disini lagi...?”, “oh...itu aku cuma ingin bertemu kamu lagi aja...
habis bete dirumah sendiri...!!”, “memangnya orang tua kamu kemana....?”,
“oh...papa sama mama berada di luar kota untuk urusan bisnis, papa
bekerja di perusahaan asing sebagai kepala mekanik kapal pesiar,
sedangkan mama bekerja di dunia modeling....!!”, “oh...jadi kamu sekarang
tinggal sendiri di rumah...?”, “yah....gitu deh....”, aku hanya tersenyum
kecil, “lalu rencana kamu sekarang apa...?”, “sehabis makan aku mau
pergi ke rumah kamu... boleh gak...?”, “hmm...gimana yah aku sih
keberatan jika ada gadis cantik yang ingin main ke rumahku, habis
rumahku sangat berantakan...”, sambil tersenyum aku memberikan ruang
untuk pelayan menaruh semua makanan yang telah kami pesan di atas
meja, setelah pelayan itu pergi aku dan ninda kembali lagi dengan obrolan-
obrolan singkat kami dan tidak lupa diselingi dengan memakan makanan
yang telah kami pesan, selama kami memakan makanan kami diiringi oleh
pertunjukan dari seorang pianis, lagu yang dimainkan begitu indah. Tetapi
masih kurang tanpa dia, aku hanya menikmati lagu itu dengan temanku,
setelah pianis itu selesai memainkan lagunya, aku segera pergi beranjak
26
dari tempat dudukku untuk pergi ke toilet, aku bergegas untuk pergi
kesana, di dalam toilet aku mencuci mukaku untuk menyegarkan diri,
sambil memandang ke arah cermin dan aku termenung sejenak, aku
sempat berpikir tentang ninda, kenapa dia begitu mirip dengan mantan
kekasihku itu, sikapnya kepadaku, pandangannya, serta senyumnya,
membuat aku teringat tentang dirinya. Aku mungkin cuma berhalusinasi
saja tentang dia, sampai-sampai aku mengira bahwa ninda itu adalah
mantan kekasihku, aku masih belum bisa sepenuhnya melupakannya,
bayang-bayang dirinya masih melekat di dalam pikiranku, aku tersadar dari
lamunanku ketika seseorang dengan tidak sengaja menyenggolku,
akhirnya aku keluar dari dalam toilet, dan aku kembali menemui ninda di
meja makan restauran itu.
Setelah selesai makan, kami akhirnya memutuskan untuk pergi
dari restauran itu, dan aku mengajaknya untuk bermain di rumahku, karena
memang itu yang diinginkannya, setelah membayar semua makanan yang
telah kami pesan, aku akhirnya pergi meninggalkan restauran itu dan
menuju ke rumah bersama dengan ninda, di dalam perjalanan ninda tidak
henti-hentinya bercerita tentang kehidupan pribadinya, dan aku selalu
menjadi pendengar yang baik, dan memberikan sedikit saran atau kritik
jika ada yang kurang di dalam kehidupannya itu, setelah beberapa lama di
dalam perjalanan, akhirnya aku tiba di rumah, aku segera membuka
gerbang pintu rumahku untuk memarkirkan mobilku di dalam gerasi
rumahku, dan ketika aku selesai memarkirkan mobilku di dalam gerasi aku
dan ninda akhirnya turun dari dalam mobil, aku mengajaknya masuk ke
dalam rumahku, meski rumahku tidak begitu besar dibandingkan dengan
rumahnya, nampaknya dia merasa nyaman berada dirumahku, dia tidak
terlihat risih dengan barang-barangku yang berserakan dimana-mana,
mungkin dia memaklumi aku, bahwa aku memang tinggal sendiri, dan aku
27
adalah seorang lelaki, dia mungkin tahu bagaimana seorang lelaki meng-
urus dirinya sendirian. Setelah didalam rumah aku mempersilahkannya
untuk duduk di sofa yang dipenuhi dengan majalah-majalah sport, dan aku
membuatkannya secangkir coffee panas, setelah beberapa lama, aku
kembali dari arah dapur, aku melihatnya sedang memperhatikan foto-foto
aku yang sedang bersama dengan mantan kekasihku, nampaknya dia ter-
tarik dengan foto-foto itu, aku menegurnya, dan nampaknya dia sedikit
terkejut, akibat teguranku itu, tetapi dia hanya tersenyum saja, “siapa
wanita yang bersamamu di foto itu”, katanya “oh...itu adalah mantan
kekasihku, kenapa...?”, “ups...maaf...yah”, “kenapa kok minta maaf...?”,
“aku cuma tidak ingin mengingatkan kamu lagi tentang mantanmu itu,
karena....”, sebelum dia berhenti berbicara aku sudah memotong pembica-
raannya, “sudahlah tidak apa-apa aku sudah bisa menerima itu kok”, “lalu,
kenapa kamu masih menyimpan fotonya disini, bukannya itu akan
membuatmu mengingat semua kenanganmu bersama dirinya...?”, jawab-
nya dan aku hanya diam sejenak, “aku sengaja tetap menaruh foto itu,
karena aku memang ingin dia tetap berada di sisiku, walaupun jiwanya
sudah pergi jauh meninggalkan aku sendiri disini, aku ingin selalu
memandangnya, walau itu hanya sebuah foto”, dia tidak lagi membahas
tentang foto itu, dia hanya menghirup cangkir coffeenya yang sudah aku
berikan itu, “kamu disini tinggal sendiri...?”, jawabnya, “iya”, jawabku
singkat, “sudah berapa lama kamu tinggal sendiri di rumah ini”, jawabnya
seakan dia ingin tahu lebih jauh tentangku, “sudah hampir 5 tahun sejak
aku ditinggalkan oleh orang tuaku”, “memangnya orang tuamu pergi ke
mana....?”, “dia sudah bercerai, dan aku memutuskan untuk hidup sendiri
di kota ini, karena aku ingin hidup mandiri, ini adalah rumah pemberian dari
ibuku, karena ibuku setelah beberapa lama bercerai dengan ayahku, dia
mempunyai penyakit kangker, dan ibu akhirnya meninggal”, sambil
mengusap air mataku aku membalikan badan untuk mengambil sesuatu di
28
dapur, dan ninda nampaknya tahu akan perasaanku, dia mengikuti aku
pergi kedapur, dan dia memeluk tubuhku dari belakang, karena dia ingin
berbagi kasih denganku, aku hanya diam saja ketika dia memeluk tubuhku
dari belakang dan meminta maaf kepadaku, “aku sungguh minta
maaf...yah dre karena aku memang tidak tahu, aku sangat bodoh....”, aku
membalikan tubuhku dan aku berkata kepadanya “sudahlah nin aku
senang kok bisa berbagi cerita dengan seseorang, sudahlah tidak usah
merasa bersalah karena ini, aku tidak apa-apa kok sekarang”, sambil
tanganku mengusap air matanya yang keluar dan membasahi pipinya itu,
lalu aku memeluknya kembali. Setelah itu aku melepaskan pelukanku dari
tubuhnya, dan aku mengajaknya ke sofa, “sudahlah nin...tidak usah sedih
seperti itu, aku ngerti kok perasaan kamu, aku juga tidak marah kok ke
kamu.”, sambil mengusap air matanya dia menyandarkan kepalanya di
dadaku, aku hanya bisa diam, sambil menyaksikan acara televisi yang
sedang diputar itu, sambil tangan ku mengusap-usap rambutnya. Didalam
hatiku aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku kepadanya, dan aku
ingin sekali menjadikannya kekasihku, “hmm...nin, aku mau bicara sama
kamu...”, dia mengangkat kepalanya dari dadaku sambil mengusap
beberapa air mata yang mengalir dari matanya itu, “ii...ya...ada apa
dre....?”, “aku mau tanya ke kamu, bagaimana perasaan kamu jika sedang
bersama denganku.... apa kamu merasa nyaman, senang, atau biasa
saja....!”, “kenapa memangnya dre...”, “aku merasa, dihatiku aku ingin
selalu bersama dengan kamu, tetapi aku masih sedikit dispresi, untuk
mencintai seseorang”, “aku juga sama seperti kamu, dre aku ingin kita
selalu bersama, karena aku merasa nyaman jika sedang bersama dengan
kamu”, “kalau begitu maukah kamu menjadi kekasihku, karena aku merasa
kamu adalah gadis yang tepat buatku”, ninda hanya diam sesaat lalu dia
dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wajahku, dan akhirnya
bibir kami saling bertemu, dia mencium aku sebagai jawaban bahwa dia
29
menerima aku sebagai kekasihnya, setelah beberapa saat aku menarik
wajahku darinya, dan aku menyakinkan dia sekali lagi menanyakan
apakah dia mau menjadi kekasiku, walaupun aku masih merasa sedikit
despresi, dan dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis, “aku
akan mencoba untuk mencintai lagi, dan aku akan mengalahkan rasa
takutku untuk mencintai seseorang”, kataku sambil mengelus pipinya yang
semula basah dari linangan air mata, sekarang sudah mulai mengering,
setelah itu. Setelah kejadian dari rumahku itu aku akhirnya hidup bersama
dengan ninda, setelah dia aku minta untuk berhenti dari tempatnya
bekerja, karena aku tidak ingin jika dia bekerja di tempat yang sama
denganku, karena itu akan menggangu karirku nantinya, dan akhirnya aku
hidup bersama dengan ninda, setelah beberapa lama aku menjalin cinta
kasih aku akhirnya memutuskan untuk menjalin ke jenjang yang lebih
serius, dan pada malam Valentine, aku melamarnya di restauran tempat
kami makan malam bersama, dan satu bulan kemudian aku akhirnya
menikah dengan ninda di sebuah mesjid yang cukup terkenal di kotaku,
dan akhirnya kami telah resmi menjadi sepasang suami istri, dan kami
sekarang memiliki dua orang anak, yang telah tercipta dari hubungan cinta
kasih kami, dan akhirnya kami hidup bahagia dengan anak-anak kami.
~THE END~
30
0 comments
Post a comment