True Love

Loading...

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

0 comments

Post a comment

    Post a comment
    Embed Video
    Edit your comment Cancel

    Favorites, Groups & Events

    True Love - Presentation Transcript

    1. ku terbangun dari tidurku dan aku tersadar bahwa diluar sana A sedang hujan, hawa dingin menyelimuti tubuhku.... bunyi rintikan hujan membuat ku akan teringat sesuatu... kenangan bersama akan dirimu disaat kita berdua memandu cinta kasih, hanya hujan yang mengiringi kita saat itu. aku termenung dan terus termenung tanpa ku sadari bahwa jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari. aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi entah kenapa mataku ini tidak dapat untuk tertutup kembali. ketika waktu telah menunjukan pukul 3.30 dini hari barulah aku dapat tidur. Kicauan burung-burung gereja diatas kabel-kabel listrik rumahku membangunkanku dari tidur, aku segera pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, ketika jam sudah menunjukan pukul 10 pagi aku telah bersiap diri untuk berangkat ke tempat kerjaku yang tidaklah jauh dari rumahku, karena memang aku tinggal di daerah perkotaan, yang sangatlah ramai jika sudah pagi hari, banyak orang yang siap-siap untuk mencari nafkah untuk keluarga mereka, karena memang daerah tempat tinggalku memang kota yang selalu menjadi pusat perekonomian di negaraku. ketika aku berjalan dengan santainya tiba-tiba aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita, yang menurutku cukup cantik, wanita itu terlihat seperti sedang tergesah-gesah, dia hanya meminta maaf kepadaku dan melanjutkan perjalannya kembali, mungkin dia sudah telat pergi ke tempat kerjanya, aku kembali melanjutkan perjalananku yang sempat tertunda karena bertabrakan dengan wanita tadi. ketika jam sudah menunjukan pukul 11.00 aku tiba di tempat kerjaku, dan aku melakukan aktifitas kerjaku dengan seperti biasanya, hari semakin senja dan matahari sebentar lagi tenggelam, aku masih sibuk dengan pekerjaanku karena atasanku memberikan tugas yang sangatlah banyak, aku hanya bisa melihat 1
    2. matahari dari jendela tempat duduk kerjaku, kegelapan malam telah datang dan suasana menjadi gelap lampu-lampu jalan sudah dihidupkan dan cahaya lampu-lampu gedung sudah banyak yang menyala, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku tanpa terasa hanya tinggal aku dan kedua temanku saja yang ada di ruangan waktu itu, ketika waktu menunjukan pukul 10 malam aku barulah selesai mengerjakan tugas terakhirku. Akhirnya selesailah sudah pekerjaanku hari ini, aku bersiap diri untuk pulang ke rumah dengan tubuh yang diselimuti rasa letih, rasanya kaki ini sangatlah berat untuk melangkah pulang, tapi aku haruslah pulang karena besok aku harus kembali bekerja, langkah demi langkah aku lakukan untuk pulang hanya lampu-lampu jalan yang menemani langkahku kegelapan malam membuat mataku seakan tak tahu arah untuk jalan pulang, ketika aku melewati taman kota aku melihat seorang wanita duduk di bangku taman dengan sendirian. aku mencoba menghampiri wanita itu yang menurutku dia sedang ada masalah dengan persoalan pribadinya, aku duduk di sampingnya, ketika aku mencoba melihat wajahnya tak kusangka dia itu adalah wanita yang tadi menabrakku ketika aku sedang ingin berangkat ke tempat kerjaku, aku menanyakan apa yang sedang dia lakukan di tempat ini, dia mencoba bangkit dari tempat duduknya, dan mencoba menghindariku, mungkin dia merasa takut dengan keberadaan orang asing di dekatnya, aku terus mencoba untuk menanyakan apa yang dia lakukan di tempat seperti ini dengan sendirian, ketika aku berhasil menanyakan apa yang dia lakukan aku barulah tahu bahwa dia sedang kesal dengan orang tuanya karena akan di jodohkan dengan pria pilihan orang tuanya, tetapi nampaknya dia tidak menginginkan perjodohan itu, dia mencoba untuk menceritakan semua masalahnya kepadaku, aku hanya bisa mendengarkan semua ceritanya aku tidaklah tahu apa aku mungkin bisa untuk membantunya, tanpa ku sadari hari semakin gelap dan 2
    3. ketika aku melihat jam tanganku waktu telah menunjukan jam 11.30 malam. aku segera beranjak dari tempat dudukku dan mengajaknya untuk pulang karena hari telah terlalut malam untuk seorang wanita di tempat seperti ini sendirian, nampaknya setelah dia telah menceritakan semua masalahnya kepadaku dia mau untuk pulang kerumahnya. Aku mencoba untuk menghantarnya pulang sampai di rumahnya karena aku tidak tega jika dia pulang ke rumah dengan sendirian, apalagi dia seorang wanita, dan dunia malam banyak sekali orang-orang yang nekat berbuat kriminal, ketika dia telah sampai di depan rumahnya dia mencoba untuk mengajakku masuk ke dalam rumahnya, karena dia merasa telah mempunyai hutang budi kepadaku, aku tidaklah mungkin untuk menerima tawaran wanita itu karena hari telah terlalu malam buatku karena besok aku harus bekerja, nampaknya dia merasa kecewa karena aku telah menolak ajakannya, dia terus mencoba untuk memaksaku masuk ke dalam rumahnya, aku sekali lagi dengan sopan menolak ajakan wanita tersebut. akhirnya wanita itu dengan perasaan yang berat hati menerimanya, tetapi dia masih ingin bersih keras membalas kebaikanku, dia mengajakku jalan besok malam jam 8 di restauran yang agak terkenal dikotaku ini, aku setuju jika itu yang dia inginkan, lalu aku pergi mening- galkan dia dan beranjak untuk pulang ke rumah, ketika di dalam perjalanan pulang aku masih terbayang akan wajah wanita itu, sesampainya dirumah aku segera lekas tidur dan aku ingin sekali cepat-cepat besok karena dimana aku ada kencan dengan wanita yang tadi bersamaku itu. keesokan paginya aku menjalankan aktifitasku dengan seperti biasanya pergi ke kantor dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasanku, ketika jam sudah menunjukan pukul 5 sore hari aku segera beranjak pulang dari kantor dan aku mempercepat langkahku untuk sampai di rumah karena aku ada kencan dengan seorang wanita cantik. 3
    4. Sesampainya dirumah aku segera mempersiapkan diri untuk bertemu dengan wanita itu aku memakai wangi-wangian agar tubuhku yang kumal ini menjadi harum dan lebih segar, jam sudah menunjukan pukul 07.00 malam aku segera beranjak dari rumah dan siap untuk pergi ke tempat dimana kami akan bertemu, ketika sampai disana aku segera mencari-cari dengan seksama di bangku mana dia duduk dan ketika aku melihat ke ujung kiri aku melihat dia dengan busana yang sangatlah anggun, dan dia terlihat sangat cantik pada waktu itu, kami saling memberikan senyum ketika kami berdua saling bertemu, aku segera duduk di tempat yang sudah dia pesan itu, ketika seorang pelayan datang dengan membawa secarik kertas untuk mencatat apa yang akan kami pesan nanti, aku hanya memesan spageti dengan minum orange juice, dan dia memesan steak sapi dengan minum yang sama denganku, sambil menunggu pesanan kami datang, kami saling berbincang-bincang dan diselingi dengan tawa kecil dari mulut kami berdua, menurutku dia ternyata orangnya sangatlah mudah untuk bergaul dengan orang lain, bayangkan saja baru kemarin aku berkenalan dengan dia, dia sudah merasa sangatlah akrab denganku, ketika makanan kami telah datang kami berdua menghentikan sejenak pembicaraan kami untuk segera menyantap makanan yang telah kami pesan itu, tanpa terasa kami telah menghabis- kan makanan kami, kami segera beranjak untuk pulang, aku berniat untuk menghantarkannya pulang, karena aku merasa itu adalah tanggung jawabku sebagai seorang laki-laki. ketika kami sampai di depan rumah- nya, sekali lagi dia mengajakku masuk untuk minum secangkir coffee atau teh, aku kali ini menerima tawarannya karena memang aku besok tidaklah masuk kerja karena memang besok adalah hari sabtu dimana aku libur pada hari itu, akhirnya aku masuk ke rumahnya yang menurutku lumayan besar, mungkin dia adalah seorang anak yang tingkat ekonominya 4
    5. menengah, ketika aku masuk kedalam rumahnya aku mencium aroma bunga, dan ternyata ketika aku menanyakan bau aroma apa itu kepadanya ternyata itu adalah aroma bunga Lili, aku segera mencari sofa untuk merefleksikan otot-ototku ini. dia dengan segera menuju ke dapur untuk membuatkan aku secangkir coffe panas, aku menunggunya sambil melihat-lihat sekeliling ruangan itu, ketika mataku tertujuh pada benda yang menurutku aneh tiba-tiba dia muncul dari depan dengan mem- bawakan secangkir coffe, lalu kami berdua duduk kembali di sofa yang berwarna biru itu, dia mulai dengan pembicaraan santai sambil men- yalakan televisi yang ada di ruangan itu, kami berdua silih berganti berbuka rahasia kecil kami, dan tanpa terasa obrolan kami telah menjurus ke obrolan yang romantis, dia seakan nyaman berada didekatku, dan ketika obrolan kami sudah tidak begitu menjadi tertarik lagi tiba-tiba dia merebahkan kepalanya ke pundakku. kami berdua seakan seperti sepasang kekasih yang duduk di sebuah sofa, yang sedang menyaksikan acara televisi. Ketika dia memalingkan wajahnya ke arahku, aku mencoba untuk mencium bibirnya, dan diapun sepertinya membiarkan wajahku mendekati wajahnya, bibir kami pun saling berpangutan satu sama lainnya. cukup lama kami saling berpangutan bibir, dan akupun mulai melepaskan bibirku ke bibirnya, kami berdua diam seribu bahasa seakan kami telah menge- tahui maksud dari semua itu. akupun mulai memberanikan diri untuk berbicara bahwa aku sangatlah menyayanginya dan aku mau dia menjadi kekasihku. dan diapun sepertinya juga merasakan hal yang sama dengan ku. seketika itu juga aku dan dia kembali saling berpangutan bibir dan seakan suasana di ruangan itu menjadi tempat kami mamandu cinta kasih kami yang baru saja kami mulai di malam sabtu itu. ketika jam sudah menunjukan pukul 12 malam aku ingin pulang karena badanku ini sudah 5
    6. terasa lemas sekali karena seharian melakukan aktivitas, dan diapun mengijinkanku untuk pulang karena memang dia mengerti denganku, aku sudah seharian sudah melakukan aktivitas yang lumayan menguras energiku ini. dia menghantarkanku sampai ke depan pintu, dan ketika aku ingin pulang ke rumah dia menarik tanganku dan dia memberikan ciuman terakhirnya untukku. akupun akhirnya pulang dengan perasaan gembira di sertai dengan perasaan yang bahagia karena aku telah menemukan cintaku hari ini. Waktu demi waktu dan hari demi hari aku lalui bersama dengan dia, kami berdua semakin mesra dan hubungan kami seakan seperi suami dan istri saja, kami tidak bisa begitu saja dipisahkan, aku dan dia seperti- nya merasakan hal yang sama ketika kami sedang melakukan hal-hal yang sering kami lakukan bersama sepertinya ada getaran yang membuat kami seakan kompak satu sama lainnya. suatu hari ketika kami ingin berkunjung ke sebuah villa di desa terpencil untuk berlibur. Setelah hari telah malam aku berniat untuk mencari rumah untuk bermalam karena memang kami sudah kemalaman dijalan, kami menemukan rumah yang agak kecil di desa itu ukuran rumah itu kira-kira 10 kali 15 meter dengan bangunan yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu itu, kami mengetuk pintu rumah itu dan ketika ketukan ke 3 ada seorang nenek yang umurnya kira-kira sudah berumur lebih dari 80 tahun lebih, kami meminta ijin untuk bermalam di rumahnya dengan alasan kami sudah kemalam di jalan, nampaknya nenek itu merasa senang karena dia tinggal seorang diri disana, dia merasa ada yang menemaninya malam itu, kami dengan perasaan yang senang karena kami telah menemukan tempat untuk bermalam, nenek itu langsung mempersiapkan kamar untuk kami berdua, meskipun umurnya sudah lebih dari 80 tahun nampaknya nenek itu masih kelihatan segar dan masih terlihat sehat. kami duduk di atas kursi yang terbuat dari rotan 6
    7. bambu, kami mengaku sama nenek itu bahwa kami adalah sepasang suami dan istri karena tidaklah mungkin kami mengaku sebagai sepasang kekasih, yang ingin berlibur di villa dan telah kemalaman dijalan karena pasti tidaklah mungkin kami diberikan tumpangan untuk bermalam di dalam rumahnya, kami akhirnya bermalam di rumah nenek itu. ketika malam telah berganti menjadi pagi aku terbangun dari tidurku, aku melihat ke luar rumah hawa dingin pagi menyelimuti tubuhku, karena rumah nenek itu berada di kaki bukit, dan udara pagi menerobos dari celah-celah anyaman bambu, membuatku badanku menjadi dingin. aku segera keluar dari dalam kamar untuk menghirup udara segar pada pagi itu, ketika aku termenung sejenak tiba-tiba nenek pemilik rumah itu menepuk punggungku, aku sampai terkejut, dia menawarkan secangkir teh hangat kepada ku yang nampaknya sangatlah nikmat jika disantap di pagi yang dingin ini, aku dengan segera menerima teh hangat pemberian dari nenek itu. tidak lama berselang waktu kekasihku bangun dari tidurnya dan dia menghampiriku lalu memberikan kecupan selamat pagi kepadaku yang sedang berbincang-bincang dengan nenek pemilik rumah itu. kami akhir nya bertiga kumpul bersama dan berbincang-bincang kecil di selingi dengan tawa yang keluar dari mulut kami bertiga, waktu telah menunjukan pukul 11 aku berniat untuk melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda itu, kami berdua berpamitan dengan nenek yang telah mem- berikan tumpangan menginap untuk kami berdua, aku memberikan sedikit uang kepada nenek itu untuk dia belikan makanan untuk dirinya, sebagai tanda terima kasihku kepada nenek itu, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami ke sebuah villa milik kekasihku itu. Ketika jam sudah menunjukan pukul 3 sore hari akhirnya kami telah sampai di villa tersebut, menurutku villa itu cukup besar, kami di sambut dengan penjaga villa itu, orangnya cukup tua dia sepertinya 7
    8. berumur 50-60 tahun. Pria itu memberikan semua kunci-kunci yang ada di villa itu kepada kekasihku untuk membuka setiap pintu yang ada di villa itu, kami berdua akhirnya masuk kedalam villa itu dan aku dengan segera mencari tempat untuk beristirahat sejenak, karena dari pagi tadi aku terus mengemudikan mobilku itu, dan kekasihku itu langsung menuju kekamar mandi untuk menyegarkan dirinya dan mengganti bajunya, mungkin dia merasa kegerahan, karena kami memang dari kemarin belum mandi karena di rumah nenek itu kami tidaklah mandi, ketika matahari sudah mulai meninggalkan tempatnya, dan hari pun mulai menjadi gelap, aku dan kekasihku pergi untuk membeli makanan, untuk santap malam kami, ketika kami hendak ingin membeli makanan di restauran terdekat di kota itu, kami melewati beberapa belokan yang amatlah terjal dan suasana di luar sedang hujan deras, pandangan mataku tidak dapat terlihat dengan jelas karena tertutup dengan derasnya hujan, aku dengan perlahan membawa mobilku agar tidak terjadi kecelakaan. Kami berdua akhirnya sampai di restauran dimana restauran itu tidaklah terlalu besar, karena memang ini adalah kota yang tidaklah begitu ramai, aku dan kekasihku dengan segera masuk ke dalam restauran itu, dan kami memilih makanan yang tersedia di dalam menu makanan yang ada di meja makan, setalah makan aku dan kekasihku tidak langsung beranjak pulang karena kami masih ingin menikmati suasana restauran itu, karena menurutku biarpun kecil restauran itu memiliki suasanan yang sangat romantis. Aku dan kekasihku membicarakan hubungan kami untuk masa yang lebih serius lagi, karena memang kami saling mencintai, satu sama lainnya. Dan ketika waktu sudah menunjukan jam 9 malam kami baru hendak ingin pulang ke villa, aku segera membayar apa saja yang telah kami pesan, diluar nampaknya hujan sudah mulai mereda, dan nampaknya hanya rintikan-rintikan kecil saja yang masih ada, kami berdua akhirnya menuju ke dalam mobil, karena kami tidak ingin kebasahan. Aku dengan perut yang sudah terisi 8
    9. penuh mengendarai mobil dengan santai, karena aku tidaklah mungkin mengendarai mobil dengan tergesah-gesah, ketika kami melewati beberapa belokan kami hampir saja tergelincir karena banyak sekali supir- supir bis yang mengemudi dengan ugal-ugalan. Akhirnya kami sampai juga di villa kami. Aku dan kekasihku langsung ke tempat perapian untuk meng- hangatkan diri, karena memang suhu udara diluar menjadi sangat dingin karena sedang hujan, kami berdua duduk di sofa yang berwarna putih itu, dan menghirup coklat panas, untuk menghangatkan diri di dekat perapian, dan ketika jam sudah menunjukan pukul 11 malam, nampaknya kekasihku sudah mulai merasakan lelah di tubuhnya, dia menaruh kepalanya di atas pundakku, kami berdua diam sejenak sambil melihat api yang menyala- nyala di tungku perapian, aku memalingkan wajahnya dan aku dengan perlahan mendekatkan wajahku ke wajahnya, dan kami berdua akhirnya saling berciuman, ciuman kami sangat begitu mesra, karena suasana di dalam villa itu membuat kami berdua merasakan hal yang begitu romantis, kami berdua semakin tidak dapat menahan diri dan akhirnya kami berdua berakhir di sebuah ranjang yang begitu besar, dan kami telah bermandikan keringat, setelah kami selesai melakukan hubungan intim tersebut, badan kami terasa lelah sekali, dan akhirnya aku tidur disebelahnya dengan tidak menggunakan busana, hanya ditutupi dengan selembar selimut yang ada di tempat tidur itu. Pagi telah menyambut dan burung-burung semakin riangnya berkicau, embun pagi membuat aroma rumput terasa di hidungku, wangi bunga telah mengisi ruangan tempat tidurku, aku akhirnya bangun dengan perasaan yang senang sekali, aku mencium kening kekasihku dan mencoba untuk tidak membangunkannya, karena nampaknya dia tidur terlalu lelap. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan segera menuju 9
    10. kekamar mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan tubuhku ini. setelah mandi aku segera pergi ke dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk kekasihku yang sedang tertidur dengan pulasnya, aku membuatkan- nya roti bakar dengan telur mata sapi dan segelas susu. Aku membawa- kannya dengan hati-hati agar tidak membuat dia terbangun, aku menaruh- nya di pinggir tempat tidur, dan aku menulis secarik kertas yang bertulis- kan “selamat pagi sayang, ini sarapanmu”, lalu aku pergi keluar rumah untuk berolah raga sedikit, karena udara diluar sana sangatlah segar. Setelah aku selesai berolah raga aku masuk kembali kedalam villa untuk mengambil segelas air karena aku merasa tenggorokanku terasa amat kering karena telah berolah raga, aku melihat kekasihku tersenyum melihatku, mungkin dia merasa senang karena telah kubuatkan sarapan. Dia mencium pipiku dan sedikit bercanda kepadaku, dan pada akhirnya kami berdua mandi bersama dan mengulangi kejadian seperti semalam dikamar mandi itu. Setelah selesai mandi aku dan dia bersiap-siap untuk berjalan-jalan di sekitar bukit yang ada di seberang dari villa kami tinggal. aku pergi dengannya dengan menggunakan kuda yang berada di stable villa tersebut. Kami menunggangi kuda bersama-sama menglilingi bukit itu. Jam sudah menunjukan 2 siang, terlalu panas untuk berkuda akhirnya kami berniat untuk mengakhirinya dan kembali ke villa untuk beristirahat sebentar, sore harinya aku berniat untuk memberikan cincin kepadanya yang sudah aku beli sebelum melakukan perjalanan ke villa ini. aku berniat untuk melamarnya. Aku berpura-pura menyuruhnya berganti pakaian, agar mengulur waktu agar aku bisa mempersiapkan suasana menjadi romantis, agar rencana pelamaranku berjalan dengan lancar, aku memasang beberapa lilin di seluruh ruang, dan mempersiapkan sebotol wine dengan hidangan kecil yang telah aku pesan dari tadi sore kepada penjaga villa itu, setelah beberapa saat setelah selesai persiapan akhirnya, kekasihku keluar dari kamarnya nampaknya dia sangat terkejut dengan apa yang 10
    11. telah aku perbuat, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Aku mempersilahkannya duduk di kursi makan, dan dengan tersenyum dia nampaknya mau mengikuti perintahku, setelah beberapa saat aku mengeluarkan cincin dari dalam sakuku, aku berkata kepadanya “aku sangat mencintai kamu, maukah kamu mengenakan cincin ini untuk menjadi istriku”, nampaknya dia terkejut mendengar perkataanku itu. jantungku dengan cepat memompa semua aliran darahku, adrenalineku seakan bekerja dua kali lebih cepat dibandingkan dengan biasanya. Nampaknya dia begitu terkejut karena aku telah melamarnya. Ketika aku menyentuh tangannya dan mencoba untuk mengenakan cincin itu di jari manisnya, barulah dia tersadar dari keterkejutannya itu. nampaknya dia menerima lamaranku ini. ketika aku melepaskan tanganku dari tangannya dia menganggukan kepalanya dan nampaknya dia telah menerima lamaranku ini. Keesokan harinya aku dan dia berencana untuk kembali ke rumah. Setelah lamaranku diterima olehnya, aku dengan perasaan yang gembira aku pulang kerumahku. Aku ingin sekali menemui orangtuanya bahwa anaknya inginku lamar, hari itu hujan sangatlah lebat dan kami mengen- darai mobil dengan perasaan yang sangat senang, dia tidak henti-hentinya mencium pipiku atau bibirku, dan ketika aku sampai pada belokan yang begitu terjal tiba-tiba saja ban mobilku pecah entah kenapa aku sendiri tidaklah tahu. Aku tidak dapat menahan laju mobilku dan pada akhirnya aku dan kekasihku tergelincir, dan menuju ke dalam jurang. Akhirnya kecelakaanpun tak dapat aku hindari, mobilku masuk kedalam jurang yang berkedalaman kurang lebih 25-30 meter itu. yang dibawahnya penuh dengan bebatuan yang cukup besar. Warga disekitar mencoba turun untuk menolong kami dan mengeluarkan kami dari dalam mobil sebelum mobil kami terbakar, akhirnya kamipun berhasil dikeluarkan dari dalam mobil. 11
    12. Dan kami dibawa menggunakan ambulance ke rumah sakit terdekat untuk diberikan perawatan medis. Waktu terus berganti dan akupun belum menyadarkan diri dari koma yang disebabkan dari kecelakaan yang telah aku alami tersebut. Aku tak tahu bagaimana dengan keselamatan kekasih ku itu, satu minggu telah berlalu semenjak kecelakaan tersebut, aku baru bisa menyadarkan diri dari koma panjangku dan aku melihat bahwa aku sedang dikelilingi oleh teman-teman kerjaku dan para sahabat lainnya di kamar rumah sakit. Ketika aku menanyakan kabar tentang kekasihku orang-orang disekitarku tidak ada yang ingin membicarakannya kepadaku, mereka seakan menyembunyikan sesuatu dariku, aku bingung apa yang terjadi dengan keselamatannya, aku terus menanyakan keberadaan kekasihku itu, dan tanpa sepengetahuan mereka aku mendengar dari balik pintu ketika aku hendak ingin keluar kencing dari ruang perawatanku itu. aku tahu bahwa kekasihku telah meninggalkanku dan pergi untuk selama- lamanya, aku tidak percaya dengan semua itu, dan aku terus mencoba meyakinkan diri, apa yang baru saja aku dengar itu adalah tidaklah benar, aku langsung keluar dan ingin menemui kekasihku itu, nampaknya teman- temanku mencoba untuk menghalangiku, aku masih bersih keras untuk menemukan dimana dia berada, ketika aku keluar dari rumah sakit tersebut dan aku pulang kerumahku dengan tubuh yang masih terasa lemas itu, aku mencoba untuk sekali lagi menanyakan dimana kekasihku berada, akhirnya ada seorang teman baikku mencoba untuk memberitahu- kan aku apa yang sebenarnya terjadi dengan nasib kekasihku itu, ketika temanku itu memberitahukan semuanya kepadaku aku, aku mencoba untuk menahan air mata yang keluar dari mataku dan mencoba untuk menenangkan diri dari apa yang telah aku dengar, tapi perasaan cintaku tak bisa dikalahkan dengan semuanya, akhirnya aku menangis dengan perasaan yang amat sedih. Aku meminta temanku itu untuk meng- hantarkan aku ke tempat dimana kekasihku itu dikuburkan, dan ketika aku 12
    13. telah sampai di kuburan kekasihku itu, aku tak kuasa menahan tangisku, aku segera memeluk kuburan kekasihku itu, yang mungkin jika kecelakaan itu tidaklah menghampiri kami mungkin kami telah hidup bersama di dalam rumah yang dipenuhi dengan cinta kasih kami dan memiliki beberapa anak dari buah cinta kasih kami, aku mengenang semua kenangan indah bersama dengannya, aku merasa despresi dan tak bisa menerima dengan begitu saja, aku terus menyalahkan diriku atas kematian kekasihku itu, temanku mencoba untuk menghiburku aku mencoba untuk mengerti maksud dari teman karibku itu, tapi aku tidaklah mungkin dapat dihibur dengan cara bagaimanapun juga, karena aku sangatlah mencintai kekasih ku itu. setelah waktu berjalan selama 3 tahun atas kecelakaan tersebut akhirnya aku mulai bisa melupakan sedikit demi sedikit tentang kejadian itu, aku terus disibuki dengan kegiatan-kegiatan kantorku yang semakin hari semakin banyak, aku mulai hidup dengan normal kembali. Dan mungkin itu adalah kenangan yang terindah yang pernah aku alami selama hidupku ini. Aku terbangun dari tidurku dan badanku penuh dengan keringat, dan ternyata aku telah bermimpi tentang kejadian tiga tahun lalu. Aku melihat ke arah jam ternyata sudah jam 9 pagi aku dengan segera beranjak dari tempat tidurku dan pergi ke kamar mandi untuk berangkat kerja. Aku sudah terlambat untuk berangkat ke kantor, dengan segera aku mandi agar aku tidak terlambat untuk pergi ke kantor. Jam sudah menunjukan pukul 09.30 pagi aku sudah siap untuk berangkat ke tempat kerjaku, aku keluar dari rumah dan menyapa tetangga-tetanggaku yang sedang membersihkan halaman rumah mereka, udara di pagi itu terasa sesak sekali karena polusi asap di kotaku sudah tidak dapat terkendali lagi, aku dengan cepat melangkah ke tempat kerjaku, ketika jam sudah menunjukan pukul 11.25 pagi aku akhirnya sampai di tempat kerjaku ketika 13
    14. sampai di ruangan kerjaku, ternyata disana ada bosku yang sudah menungguku dari tadi di ruanganku itu, aku dengan perasaan yang was- was dengan segera masuk dan menyapa bosku itu, dengan segera aku meminta maaf kepada bosku karena telah datang telat, aku dengan perasaan resah hanya menundukan kepalaku saja di hadapan bosku itu, ketika itu bosku malah memberikan senyumnya kepadaku, ternyata beliau tidaklah marah kepadaku, ternyata dia ingin mempromosikan aku untuk jabatan sebagai manajer marketing di perusahaan tempatku bekerja itu, karena dia telah puas dengan hasil kerjaku selama ini, dia bangga telah memperkerjakan aku di perusahaannya, dengan hati yang cukup lega akhirnya aku dapat mendapatkan posisi itu dimana dari dulu aku sudah menginginkannya, setelah bosku memberitahukan aku untuk dipromosikan sebagai manajer marketing aku dengan segera memberitahukan kepada teman-teman kantorku, mereka memberikan aku selamat atas apa yang telah aku raih selama ini, aku dengan perasaan senang berencana untuk mentraktir teman-teman kantorku untuk makan siang di kantin, ketika jam makan siang telah tiba aku dan beberapa teman kantorku beranjak dari ruang kantor menuju lift untuk pergi ke kantin, ketika pintu lift terbuka aku melihat seorang gadis dengan penampilan yang cukup menarik perhatian ku, dia nampaknya pegawai baru di perusahaan ini, selama aku bekerja di sini aku belum pernah melihatnya, aku dan beberapa temanku saling bertatap wajah sambil melirik ke gadis itu, setelah pintu lift terbuka aku dan beberapa temanku beranjak dari lift untuk segera menuju kantin sedangkan gadis itu nampaknya tidak pergi menuju ke kantin melainkan dia pergi ke dalam ruang administrasi, yang memang ruang itu berada di lantai bawah kantorku itu, nampaknya dia bekerja di bagian administrasi, aku sempat memperhatikan gerak-gerik perempuan itu dari belakang, dia begitu anggun dan cukup cantik, parasnya seperti mantan kekasihku itu, setibanya di kantin kantor aku sempat memikirkan gadis itu, tidak sengaja 14
    15. temanku menengurku beberapa kali tetapi aku tetap dalam lamunanku, sampai akhirnya ada seorang temanku memberikan aku sepotong pisang kedalam mulutku dan aku tersadar dari lamunanku, aku menjadi bahan tertawaan oleh teman-teman sekantorku siang itu, mereka saling meng olok-olok aku, aku hanya dapat terdiam diri untuk menahan rasa maluku, akhirnya setelah selesai makan dari kantin aku dan beberapa temanku beranjak dari kantin, kami berlima menuju ke mushala untuk shalat berjamaah, karena memang sudah waktunya untuk shalat, adzan sudah berkumandang dengan kerasnya, kami berlima dengan segera menuju tempat wudhu, untuk mensucikan diri kami untuk menghadap sang khalik. Setelah kami selesai shalat berjamaah, aku dan teman-teman kerjaku tidak langsung pergi dari mushala tetapi kami tidur-tiduran sebentar didalam mushala itu karena memang jam masuk makan siang masih lama, aku dan beberapa teman-temanku membicarakan tentang gadis yang kami lihat tadi di lift, ada seorang temanku ingin menjadikannya pacar, ada yang berencana akan langsung mengajaknya menikah, aku hanya dapat tertawa mendengar perkataan dari teman-temanku itu, karena memang di dalam hatiku ini terdapat suatu keinginan yang sangat untuk mengungkap- kannya kepada teman-temanku, tetapi aku tidak ingin membicarakannya aku ingin hidup sendiri dulu, aku masih trauma dengan kejadian tiga tahun lalu itu, aku masih takut untuk mencintai seorang wanita, ketika kami telah puas dengan pembicaraan konyol itu, akhirnya kami beranjak dari mushala untuk masuk kekantor karena memang jam sudah menunjukan pukul 01.00 Siang. Kami dengan segera masuk kedalam dan kami menghampiri lift untuk naik ke lantai 10 karena memang kami bekerja di lantai 10 ketika pintu lift terbuka kami masuk kedalam, aku berdiri di dekat tombol lift, ketika pintu lift sudah ingin tertutup terdengar derap langkah dari samping, seperti ada seseorang yang sedang berlari mengejar lift agar tidak tertutup dan terdengar suara “Tunggu” dari arah sana, aku dengan segera 15
    16. menahan pintu lift itu agar tidak tertutup, aku menekan tombol open agar pintu lift kembali terbuka, ternyata dengan nafas yang terengah-engah dan rambut yang sedikit berantakan ternyata dia adalah gadis yang aku temui di lift ketika aku hendak pergi ke kantin, dia mengucapkan terima kasih karena telah menunggunya untuk menaiki lift itu, aku hanya tersenyum kepada gadis itu, dan beberapa teman-temanku ada yang sedikit cari perhatian kepadanya, dan nampaknya dia tidak memperdulikan temanku itu, aku segera bertanya kepada gadis itu “ingin pergi kelantai berapa...?” dan dia berkata “lantai 7”. Aku dengan segera menekan lantai yang dia mau, setelah beberapa menit didalam lift, aku sempat memperhatikan bentuk tubuhnya dari ujung kaki sampai kepala, walaupun itu hanya dari pantulan kaca lift karena aku tidak ingin dipergoki oleh teman-temanku ketika memperhatikannya, setelah sampai di lantai tujuh dia langsung beranjak untuk keluar, dan dia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada kami semua, sambil membawa sebuah kertas dia akhirnya keluar dari dalam lift itu, dan sebelum pintu lift tertutup aku ingin memperhatikan- nya sekali lagi, dan dengan perlahan-lahan pintu lift akhirnya tertutup kembali dan lift itu melanjutkan perjalanannya ke lantai 10 tempat dimana kami semua bekerja, setelah beberapa lama akhirnya pintu lift terbuka dengan diiringi suara “ding” dari dalam lift. Kami semua akhirnya keluar dari dalam lift dan melangkah ke tempat kami masing-masing, karena memang kami berlima berlainan tempat, setelah beberapa saat waktu terus bergulir disertai dengan kesibukanku aku tidak menyangka bahwa waktu telah menunjukan pukul 03.25 sore pada saat itu kerjaanku semua telah selesai, tetapi waktu untuk pulang masih lama karena aku pulang pukul 05.00 sore. Aku menjadi sedikit resah karena aku tidak lagi melakukan apa-apa karena semua pekerjaanku telah aku kerjakan, aku keluar dari ruanganku untuk menghabiskan waktu yang masih tersisa itu, aku berkeliling kantor dari lantai kelantai sambil bercanda dengan teman- 16
    17. teman kantorku yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Dan pada akhirnya aku bertemu dengan gadis yang tadi di lift itu. Aku kira dia hanya lewat saja melaluiku tetapi dia malah menemui aku di depan meja kerja temanku itu, karena memang aku sedang berada disana sambil mengobrol dengan temanku itu, dia menanyakan namaku dan memberikan aku beberapa berkas untuk ditanda tangani, karena aku tidak membawa penaku, aku mengajaknya ke ruanganku, dia mengikuti aku dari belakang dan aku dengan santai berjalan kedalam ruanganku, ketika telah sampai didalam ruanganku aku mempersilahkannya duduk di kursi yang memang tersedia untuk para tamu atau klienku, aku dengan segera mencari penaku untuk menandatangani berkas yang ingin diberikan kepadaku, ketika aku telah menerima berkas yang akan aku tanda tangani aku sedikit membuka pembicaraan kepadanya, “kamu baru yah kerja disini....?”, “sepertinya saya baru melihat kamu disini....!”, dengan gugup dia menjawab pertanya- anku itu “i...iya, pak”, “s...saya memang baru bekerja d...disini...!”, “jangan gugup gitu dong....santai aja, saya gak seram kok”, “i...ya pak” dengan wajah yang tertunduk malu dia memberikan lagi berkas-berkas yang harus aku tanda tangani, “nama kamu siapa...?”, “saya ninda...pak...!”, “oke, ninda ini semua telah saya tanda tangani, apakah masih ada lagi yang harus saya tanda tangani...?”, “tidak kok pak, saya rasa telah semua”, dan aku mempersilahkannya keluar dari ruanganku itu. Dengan perasaan yang sedikit gugup dia meninggalkan ruanganku, akhirnya aku telah mengetahui nama gadis itu. Setelah dia telah keluar dari dalam ruanganku aku kembali dengan keheningan sesaat karena aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat, akhirnya aku membuka beberapa situs berita di internet. Untuk menghabiskan waktuku itu. Setelah asik membaca berita-berita yang ada didalam situs tersebut aku kembali dikejutkan dengan ketukan dari arah pintu ruanganku itu, dengan nada yang sedikit marah aku mempersilakan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. 17
    18. Ternyata yang masuk adalah ninda aku sempat terkejut sedikit, ada apa lagi dia masuk kedalam ruanganku itu, dengan perasaan yang gugup dia menghampiri aku, “maaf, pak karena telah ganggu bapak...!”, dia berkata seperti itu karena dia merasa telah mengganggu aku, sambil tersenyum aku mempersilahkannya duduk, “ada apa, kamu kembali lagi kesini”, “ini pak, ada yang tertinggal, berkas yang harus bapak tanda tangani”. Dengan perasaan yang sedikit malu dia memberikan berkas itu kepadaku, “katanya tadi sudah tidak ada lagi”, candaku kepadanya, dan nampaknya dia merasa malu karena telah berbuat sedikit kesalahan, dan aku akhirnya menandatangani berkas itu, setelah selesai menandatangai berkas itu aku menyerahkannya kembali kepadanya, sambil sedikit bercanda kepadanya, “awas yah, jika masih ada berkas yang masih tertinggal saya akan kurung kamu didalam ruanganku ini” dengan nada yang sedikit tinggi. Dan dia hanya tersenyum kepadaku dan menundukan kepalanya, setelah itu dia beranjak dari kursi itu, dan meninggalkan ruanganku, aku kembali membaca berita di internet. Setelah jam sudah menunjukan pukul 04.50 aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Rasa lelah menyelimuti tubuhku ini, dan setelah jam sudah pukul lima tepat aku segera beranjak dari dalam ruanganku, aku menyapa teman-teman sekantorku dan aku segera menuju ke dalam lift, untuk turun pulang dan menuju tempat parkir basement dimana aku memarkirkan mobilku disana, dan ketika aku sedang menunggu lift ke lantai basement tiba-tiba pintu lift terbuka dilantai 3 dan ada seorang gadis masuk kedalam lift, dan ternyata gadis itu adalah ninda dia kembali tersenyum kepadaku, nampaknya aku hari ini selalu bertemu dengan dia, “sepertinya aku seharian selalu bertemu dengan kamu, nin...” dengan nada yang rendah aku berbicara dengannya. “iya, pak” jawabnya, “kamu mau kemana”, “pulang, pak”, “jangan panggil aku pak dong, kan kita sudah diluar dari jam kerja”, “baiklah”, “panggil saja andre”, dia hanya termangut, “kamu pulang dengan 18
    19. siapa...?” sambil berharap akan bisa mengantarkannya pulang, “sendiri, memang kenapa...?”, “ah...tidak, jika tidak keberatan gimana kalau aku antar kamu pulang...?”, “memangnya bapak tidak pulang dengan teman- teman bapak atau....!”, “atau apa...?”, “ah....tidak”, “kamu mau gak aku antar pulang..?”, “baiklah, jika memang bapak memaksa”. Setelah itu pintu lift terbuka di lantai satu, lalu aku dan ninda pergi ke ruangan administrasi untuk mengambil beberapa barang milik ninda dan kami kembali menuju ke lift setelah pintu lift terbuka dan aku menekan tombol ke lantai basement, lalu pintu lift tertutup kembali, setelah beberapa lama akhirnya lift telah sampai di basement, dan akhirnya kami keluar dari dalam lift dan menuju mobilku, setelah sampai di mobilku yang memang sengaja aku parkir didekat lift basement karena memang aku malas untuk memarkir- kan mobilku jauh dari lift basement, setelah di dalam mobil aku memulai sedikit pembicaraan kepadanya, “kamu mau langsung pulang atau mau dinner sama aku, aku sangat lapar sekarang...!”, “seterah kamu aja deh”, “baiklah kalau begitu”. Aku langsung mengemudikan mobilku ke sebuah restauran yang cukup terkenal dikotaku itu. Kami didalam mobil sedikit berbincang-bincang entah itu masalah kantor atau masalah pribadi. Setelah sampai di restoran itu aku memarkirkan mobilku di depan pintu restoran itu dan setelah itu aku dan ninda keluar dari dalam mobil, kunci mobilku aku berikan kepada petugas Valet Parking untuk di parkirkan ke tempat parkir di restoran itu. Aku dan ninda masuk kedalam restoran itu, aku segera ke meja resepsionis untuk memesan tempat disana, setelah mendapatkan tempat aku dan ninda segera ke kursi yang telah aku pesan itu, waktu memang sudah menunjukan pukul 07.00 malam karena memang di dalam perjalanan menuju kesini sangatlah macet karena memang sudah jam keluar kantor, banyak sekali mobil-mobil yang keluar dari kantornya untuk pulang atau bersinggah di suatu tempat, sama yang 19
    20. sekarang telah aku perbuat dengan teman kantorku ini. Setelah itu aku memesan beberapa makanan yang ada di menu makanan, dan ninda juga melakukan hal yang sama denganku, dan sambil menunggu makanan kami aku dan ninda kembali berbincang-bincang. Setelah beberapa lama makanan kami datang dan kami berdua menyantap makanan yang telah kami pesan diselingi dengan pembicaraan kecil dari mulut kami yang sedikit dipenuhi dengan makanan, setelah beberapa saat aku dan ninda hening sejenak untuk menikmati alunan piano dari seorang pianis yang sedang memainkan pianonya, dengan diikuti iringan piano dari seorang pianis itu suasana di dalam restauran menjadi sedikit romantis, aku sempat berpikir sendainya aku disini bersama dengan kekasihku pasti suasana hatiku lebih indah, aku termenung selama alunan piano berlangsung, nampaknya ninda memperhatikan gerak-gerikku dia nampaknya sadar atas apa yang sedang aku lakukan, dia dengan sengaja memanggil aku secara perlahan, biar aku tidak terkejut, aku tersadar dalam lamunanku dan aku kembali tersenyum ke ninda, dia mulai berani untuk menanyakan masalah pribadiku, dia ingin tahu apakah aku tadi memikirkan kekasihku, dia mengira kekasihku pergi ke luar kota dan menginggalkan aku sendiri disini, aku dengan sengaja tidak ingin membahas tentang kekasihku itu, tetapi ninda memaksa untuk aku menceritakan apa masalahku sampai aku melamun seperti itu, dengan perasaan berat aku akhirnya menceritakan- nya bahwa kekasihku telah lama tiada, namun sebelum aku selesai menceritakan kisahku kepadanya dia nampaknya merasa bersalah karena telah mengingkatkan kembali kenangan akan aku dengan kekasihku itu, dia meminta maaf untuk apa yang telah dia perbuat, aku dengan sikapku yang seperti sekarang ini sudah bisa menahan rasa sedihku karena aku sekarang sudah bisa menahan emosiku tidak seperti tiga tahun yang lalu, jika ada yang kerabat yang tidak tahu akan kejadian itu dan menanyakan 20
    21. bagaimana kabar dia, aku dengan segera memukul diriku sendiri karena aku merasa telah membuat terjadinya kecelakaan itu. Dia nampaknya merasa sedikit bersalah, dan aku berusaha untuk membuatnya kembali seperti biasa dan aku tidak ingin dia diselimuti dengan perasaan bersalah, setelah seorang pianis itu mengakhiri pertunju- kannya aku dan ninda segera meninggalkan restauran itu untuk beranjak pulang, setelah jam sudah menunjukan pukul 08.30 malam aku dan ninda akhirnya meninggalkan restauran itu, aku memberikan kartu Valet Parking kepada petugas Valet itu untuk mengambilkan mobilku, setelah beberapa saat aku akhirnya mendapatkan kembali mobilku, aku dan ninda segera masuk ke-dalam mobil, aku dengan perlahan-lahan menyetir karena di jalan sangatlah macet, dikotaku ini tidak ada hari tanpa macet, karena memang kotaku ini adalah kota metropolitan, sebagai kota yang sangatlah sibuk, dan juga sangatlah kotor karena udara disini sudah tidak bersih lagi, sudah tercemar dengan polusi dari asap kendaraan, didalam perjalanan aku sempat menanyakan apakah dia sekarang sudah memiliki seorang suami atau pacar karena aku tidak ingin dibilang sebagai seorang ketiga di dalam hubungan mereka, setelah dengan perasaan malu-malu dia meng- gelengkan kepalanya itu berarti dia memang masih single, aku merasa senang karena aku tidak akan menjadi seorang pengacau diantara hubungan orang lain. Setelah dia memberitahukan bahwa dia sekarang masih single, ada perasaan kecilku untuk mendapatkannya, sedangkan aku sendiri masih belum bisa untuk mencintai seorang wanita lagi karena aku masih sedikit dispresi atas apa yang telah terjadi kepadaku, setelah aku sampai didepan rumahnya aku menghentikan mobilku, dia sepertinya tidak ingin meninggalkan mobilku dengan begitu saja, dia sempat termenung sejenak sampai akhirnya aku menegurnya bahwa kita telah sampai di depan rumahnya, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan 21
    22. kepadaku, setelah beberapa lama dia akhirnya tersadar juga, dan dia mengucapkan terima kasih kepadaku, dan dia langsung mengecup keningku dan dengan segera dia keluar dari dalam mobil, setelah dia keluar dia sempat berkata, “mau mampir sebentar, untuk sekedar minum teh atau coffee...?”, tetapi aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku, aku tidak ingin kejadian ketika pertama kalinya aku bertemu dengan kekasihku itu terulang kembali, karena itu akan mengingatkan aku dengan kejadian dimana aku dan kekasihku mulai menjalin cinta kasih kami, setelah itu nampaknya dia mengerti apa maksudku dan dia dengan segera membalikan badannya dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkannya pulang, dan dia melambaikan tangannya kepadaku, dan aku dengan segera melaju dengan mobilku untuk segera pulang kerumahku. Setelah sampai di rumah aku dengan segera melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhku dan aku ingin sekali berendam didalam bak air panas untuk merefleksikan kembali otot-ototku yang sudah pada kaku ini, didalam bak mandiku aku sempat memikirkan ninda, wajahnya, tingkah lakunya, dan bentuk tubuhnya mirip sekali dengan mantan kekasihku itu, aku sempat berpikir apa iya bahwa dia adalah reinkarnasi oleh kekasihku itu, tetapi itu semua tidaklah mungkin, atau itu semua hanya sebuah kebetulan belaka, memang didunia ini banyak sekali orang yang memiliki sifat atau kepribadian yang sama, setelah beberapa saat merendamkan diri di dalam air panas aku dan otot-ototku terasa sudah mulai kendur, aku dengan segera mengenakan piama tidurku untuk tidur karena aku tidak ingin terlambat pergi ke kantor besok pagi. 22
    23. Ketika aku sudah terlelap tidur aku bermimpi di dalam mimpiku aku bertemu dengan ninda dia menggunakan gaun berwarna putih dan me manggil-manggil aku, aku tidak tahu ada apa dengannya, ketika aku menghampirinya, tanganku segera di rangkulnya dan aku di bawa ke suatu tempat dimana tempat itu begitu indah, dan aku tidak tahu dimana sekarang aku berada, tempat itu dipenuhi dengan beberapa bunga-bunga, dan beberapa kupu-kupu ada berbagai macam bunga di taman itu, dia dengan segera merebahkan tubuhnya diatas bunga-bunga itu, lalu tidak lama berselang aku merebahkan badanku juga di sampingnya. Aku dan dia sekarang tiduran diatas taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga, angin bertiup melalui sela-sela rambut kami, membuat diriku seakan berada di atas awan, aku memejamkan mataku untuk menikmati indahnya alam ini, setelah beberapa saat, aku merasa ada yang menindih tubuhku, aku membuka mataku dan aku melihat ninda menaruh kepalanya diatas dadaku, aku sempat terkejut sedikit, karena aku tidak tahu ada maksud apa dia sampai berbuat seperti itu kepadaku, tanganku mengelus bagian rambutnya dan nampaknya dia membiarkannya, setelah beberapa lama dia akhirnya membuka pembicaraan. “apa yang sedang kamu rasakan sekarang dre...?”, “aku merasa kita sekarang berada dialam bebas, dan kita dapat berbuat apa saja disini...”, “aku ingin kita seperti ini untuk selamanya...”, “apa maksudmu nin....?” sambil mengerutkan kening-ku aku berhenti mengelus rambutnya, dan dia mengangkat kepalanya dari dadaku, “aku mau kita menjadi sepasang merpati yang terbang bebas diangkasa”, sambil menunjuk ke arah merpati yang sedang terbang, ”dan aku mau kita menjadi sepasang kekasih....”, dengan perasaan terkejut, aku tidak menyangka bahwa dia telah mengungkapkan perasaannya kepada ku. “kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, bukannya kita baru saja kenal....?”, “tidak apa-apakan jika kita memang baru saja kenal, karena aku merasa bahwa kamu adalah pria yang paling tepat untuk aku, bukannya 23
    24. kamu juga pernah melakukan hal sama seperti itu, bahwa kamu pernah mengutarakan isi hatimu kepada gadis yang baru saja kamu kenal....?”, aku dengan perasaan yang sedikit curiga kepadanya, aku sempat bingung kenapa dia bisa tahu bahwa aku pernah menyukai gadis yang baru aku kenal, aku menjadi bingung,,,,,,,!!!. Matahari pagi menyinari mataku dan akhirnya membuatku terbangun dari mimpiku, aku sempat terdiam sejenak, apa yang baru saja aku alami. Aku sempat berpikir siapa ninda itu sebenarnya...?, dan kenapa dia bisa mengetahui semua itu, setelah itu aku beranjak dari tempat tidurku, dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diriku, hari ini aku libur kerja, setelah selesai mandi, aku menyiapkan sarapan, dan aku menyalakan televisi untuk mendengarkan berita dipagi itu, dan sekarang masih jam 08.15 pagi, aku masih sempat untuk melakukan olah raga pagi di dalam rumahku, aku menghidupkan treadmill, sambil menyaksikan acara televisi, ketika aku sedang meng- gunakan treadmill tidak lama berselang telepon rumahku berdering, aku dengan segera mengangkat telepon itu, siapakah yang ingin berbicara dengan aku, “Hallo, andre disini”, “hai...dre, kamu lagi ngapain sekarang?”, “ini aku Ninda...”, “loh kok kamu bisa tahu nomor telepon rumah aku nin.... siapa yang memberitahu kamu...?”, “oh....itu, kamu tahukan aku kerja di bagian apa....?, yah....aku tahulah semuanya sampai alamat rumah kamu aku juga tahu...”, “oh....iya...yah...kamu kan kerja dibagian administrasi.... jadi kamu tahu semua data pegawai di kantor, ada apa kamu telepon aku”, “aku cuma mau mengajak kamu makan siang nanti di restauran tempat kemarin kita makan, bagaimana kamu mau gak...?”, “hmm....bagaimana yah, memang sih aku sekarang tidak ada kegiatan selain berdiam diri dirumah, hmm... mungkin nanti aku telepon balik deh ke nomor kamu yah, jika memang aku tidak ada acara...”, “hmm...ok kamu hubungi aku ke nomor ini yah...”, “OK”, “Bye....”, “Bye....”, setelah itu aku sempat berpikir sejenak, ada maksud apa dia mau mengajak aku makan siang, tapi 24
    25. seandainya jika mimpi semalam itu benar....!!!, aku harus berbuat apa...?, aku jadi bingung, di sisi lain aku memang ingin memilikinya, tapi di sisi lain aku masih sedikit dispresi. Atau memang dia cuma ingin berteman dengan aku saja, baiklah nanti siang aku akan telepon balik dia, dalam benakku. Jam sudah menunjukan pukul 11.40 siang, dan aku akhirnya menelpon ninda kembali, tetapi setelah aku telepon dia ternyata yang mengangkat bukannya ninda tetapi mesin penerima pesan, setelah nada “biip”, aku segera meninggalkan pesanku, bahwa aku menerima ajakannya untuk makan siang bersama, setelah itu aku bergegas mengganti pakaianku, dan menggunakan beberapa minyak wangi untuk mengharum kan tubuhku, setelah itu, aku menuju ke grasi dimana aku menaruh mobil ku disana, dengan perasaan yang terbagi dua akhirnya aku memutuskan untuk pergi menemuinya, di sebuah restauran yang telah kami janjikan, di dalam perjalanan menuju kesana, di dalam benakku aku selalu memikirkan apa yang akan dia lakukan nanti, tidak lama itu aku akhirnya sampai di restauran tempat kami bertemu, aku segera memarkirkan mobilku, dan aku memberikan kunci mobilku kepada petugas valet parking, setelah itu aku menuju resepsionis untuk menanyakan apa temanku yang bernama ninda telah memesan tempat untuk kami, ternyata dia belum memesan tempat, maka aku segera memesan tempat untuk kami berdua, setelah aku telah memesan tempat aku segera duduk di meja yang telah aku pesan, aku menunggunya sambil membaca berita di internet, memang aku sengaja membawa laptopku, untuk berjaga-jaga jika memang aku harus menunggu nya di sana, setelah beberapa lama aku membuka situs aku akhirnya di kejutkan oleh tepukan dari arah belakang, aku dengan refleks segera menoleh ke belakang, dan ternyata orang itu adalah ninda, aku sempat tersenyum kepadanya, dan melipat kembali laptopku, dan menaruhnya di dalam tas. 25
    26. “hey....nin”, “aku kira kamu tidak jadi datang...”, dia hanya tertawa kecil kepadaku, “malah aku kira kamu yang tidak bisa datang...”, sambil membuka menu makanan yang ada di meja, tidak lama aku mengikutinya, datang seorang pelayan menghampiri kami, dan dia membawa secarik kertas untuk mencatat apa yang ingin kami pesan, setelah kami telah memesan makanan yang akan kami makan nanti, akhirnya pelayan itu pergi menjauhi kami, “sudah lama yah kamu nunggu aku dre....”, “ahh.... enggak cuma beberapa menit kok, aku sudah berapa kali membuka situs berita di halaman web...” sambil mengerutkan dahi. “ops....sorry yah, jika aku datangnya telat, habisnya aku tadi pergi ke pasar swalayan untuk membeli keperluanku sehari-hari”, “oh...gak apa apa kok”, lalu aku memulai sedikit pembicaraan kepadanya. “ada apa sih kamu mengajak aku makan disini lagi...?”, “oh...itu aku cuma ingin bertemu kamu lagi aja... habis bete dirumah sendiri...!!”, “memangnya orang tua kamu kemana....?”, “oh...papa sama mama berada di luar kota untuk urusan bisnis, papa bekerja di perusahaan asing sebagai kepala mekanik kapal pesiar, sedangkan mama bekerja di dunia modeling....!!”, “oh...jadi kamu sekarang tinggal sendiri di rumah...?”, “yah....gitu deh....”, aku hanya tersenyum kecil, “lalu rencana kamu sekarang apa...?”, “sehabis makan aku mau pergi ke rumah kamu... boleh gak...?”, “hmm...gimana yah aku sih keberatan jika ada gadis cantik yang ingin main ke rumahku, habis rumahku sangat berantakan...”, sambil tersenyum aku memberikan ruang untuk pelayan menaruh semua makanan yang telah kami pesan di atas meja, setelah pelayan itu pergi aku dan ninda kembali lagi dengan obrolan- obrolan singkat kami dan tidak lupa diselingi dengan memakan makanan yang telah kami pesan, selama kami memakan makanan kami diiringi oleh pertunjukan dari seorang pianis, lagu yang dimainkan begitu indah. Tetapi masih kurang tanpa dia, aku hanya menikmati lagu itu dengan temanku, setelah pianis itu selesai memainkan lagunya, aku segera pergi beranjak 26
    27. dari tempat dudukku untuk pergi ke toilet, aku bergegas untuk pergi kesana, di dalam toilet aku mencuci mukaku untuk menyegarkan diri, sambil memandang ke arah cermin dan aku termenung sejenak, aku sempat berpikir tentang ninda, kenapa dia begitu mirip dengan mantan kekasihku itu, sikapnya kepadaku, pandangannya, serta senyumnya, membuat aku teringat tentang dirinya. Aku mungkin cuma berhalusinasi saja tentang dia, sampai-sampai aku mengira bahwa ninda itu adalah mantan kekasihku, aku masih belum bisa sepenuhnya melupakannya, bayang-bayang dirinya masih melekat di dalam pikiranku, aku tersadar dari lamunanku ketika seseorang dengan tidak sengaja menyenggolku, akhirnya aku keluar dari dalam toilet, dan aku kembali menemui ninda di meja makan restauran itu. Setelah selesai makan, kami akhirnya memutuskan untuk pergi dari restauran itu, dan aku mengajaknya untuk bermain di rumahku, karena memang itu yang diinginkannya, setelah membayar semua makanan yang telah kami pesan, aku akhirnya pergi meninggalkan restauran itu dan menuju ke rumah bersama dengan ninda, di dalam perjalanan ninda tidak henti-hentinya bercerita tentang kehidupan pribadinya, dan aku selalu menjadi pendengar yang baik, dan memberikan sedikit saran atau kritik jika ada yang kurang di dalam kehidupannya itu, setelah beberapa lama di dalam perjalanan, akhirnya aku tiba di rumah, aku segera membuka gerbang pintu rumahku untuk memarkirkan mobilku di dalam gerasi rumahku, dan ketika aku selesai memarkirkan mobilku di dalam gerasi aku dan ninda akhirnya turun dari dalam mobil, aku mengajaknya masuk ke dalam rumahku, meski rumahku tidak begitu besar dibandingkan dengan rumahnya, nampaknya dia merasa nyaman berada dirumahku, dia tidak terlihat risih dengan barang-barangku yang berserakan dimana-mana, mungkin dia memaklumi aku, bahwa aku memang tinggal sendiri, dan aku 27
    28. adalah seorang lelaki, dia mungkin tahu bagaimana seorang lelaki meng- urus dirinya sendirian. Setelah didalam rumah aku mempersilahkannya untuk duduk di sofa yang dipenuhi dengan majalah-majalah sport, dan aku membuatkannya secangkir coffee panas, setelah beberapa lama, aku kembali dari arah dapur, aku melihatnya sedang memperhatikan foto-foto aku yang sedang bersama dengan mantan kekasihku, nampaknya dia ter- tarik dengan foto-foto itu, aku menegurnya, dan nampaknya dia sedikit terkejut, akibat teguranku itu, tetapi dia hanya tersenyum saja, “siapa wanita yang bersamamu di foto itu”, katanya “oh...itu adalah mantan kekasihku, kenapa...?”, “ups...maaf...yah”, “kenapa kok minta maaf...?”, “aku cuma tidak ingin mengingatkan kamu lagi tentang mantanmu itu, karena....”, sebelum dia berhenti berbicara aku sudah memotong pembica- raannya, “sudahlah tidak apa-apa aku sudah bisa menerima itu kok”, “lalu, kenapa kamu masih menyimpan fotonya disini, bukannya itu akan membuatmu mengingat semua kenanganmu bersama dirinya...?”, jawab- nya dan aku hanya diam sejenak, “aku sengaja tetap menaruh foto itu, karena aku memang ingin dia tetap berada di sisiku, walaupun jiwanya sudah pergi jauh meninggalkan aku sendiri disini, aku ingin selalu memandangnya, walau itu hanya sebuah foto”, dia tidak lagi membahas tentang foto itu, dia hanya menghirup cangkir coffeenya yang sudah aku berikan itu, “kamu disini tinggal sendiri...?”, jawabnya, “iya”, jawabku singkat, “sudah berapa lama kamu tinggal sendiri di rumah ini”, jawabnya seakan dia ingin tahu lebih jauh tentangku, “sudah hampir 5 tahun sejak aku ditinggalkan oleh orang tuaku”, “memangnya orang tuamu pergi ke mana....?”, “dia sudah bercerai, dan aku memutuskan untuk hidup sendiri di kota ini, karena aku ingin hidup mandiri, ini adalah rumah pemberian dari ibuku, karena ibuku setelah beberapa lama bercerai dengan ayahku, dia mempunyai penyakit kangker, dan ibu akhirnya meninggal”, sambil mengusap air mataku aku membalikan badan untuk mengambil sesuatu di 28
    29. dapur, dan ninda nampaknya tahu akan perasaanku, dia mengikuti aku pergi kedapur, dan dia memeluk tubuhku dari belakang, karena dia ingin berbagi kasih denganku, aku hanya diam saja ketika dia memeluk tubuhku dari belakang dan meminta maaf kepadaku, “aku sungguh minta maaf...yah dre karena aku memang tidak tahu, aku sangat bodoh....”, aku membalikan tubuhku dan aku berkata kepadanya “sudahlah nin aku senang kok bisa berbagi cerita dengan seseorang, sudahlah tidak usah merasa bersalah karena ini, aku tidak apa-apa kok sekarang”, sambil tanganku mengusap air matanya yang keluar dan membasahi pipinya itu, lalu aku memeluknya kembali. Setelah itu aku melepaskan pelukanku dari tubuhnya, dan aku mengajaknya ke sofa, “sudahlah nin...tidak usah sedih seperti itu, aku ngerti kok perasaan kamu, aku juga tidak marah kok ke kamu.”, sambil mengusap air matanya dia menyandarkan kepalanya di dadaku, aku hanya bisa diam, sambil menyaksikan acara televisi yang sedang diputar itu, sambil tangan ku mengusap-usap rambutnya. Didalam hatiku aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku kepadanya, dan aku ingin sekali menjadikannya kekasihku, “hmm...nin, aku mau bicara sama kamu...”, dia mengangkat kepalanya dari dadaku sambil mengusap beberapa air mata yang mengalir dari matanya itu, “ii...ya...ada apa dre....?”, “aku mau tanya ke kamu, bagaimana perasaan kamu jika sedang bersama denganku.... apa kamu merasa nyaman, senang, atau biasa saja....!”, “kenapa memangnya dre...”, “aku merasa, dihatiku aku ingin selalu bersama dengan kamu, tetapi aku masih sedikit dispresi, untuk mencintai seseorang”, “aku juga sama seperti kamu, dre aku ingin kita selalu bersama, karena aku merasa nyaman jika sedang bersama dengan kamu”, “kalau begitu maukah kamu menjadi kekasihku, karena aku merasa kamu adalah gadis yang tepat buatku”, ninda hanya diam sesaat lalu dia dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wajahku, dan akhirnya bibir kami saling bertemu, dia mencium aku sebagai jawaban bahwa dia 29
    30. menerima aku sebagai kekasihnya, setelah beberapa saat aku menarik wajahku darinya, dan aku menyakinkan dia sekali lagi menanyakan apakah dia mau menjadi kekasiku, walaupun aku masih merasa sedikit despresi, dan dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis, “aku akan mencoba untuk mencintai lagi, dan aku akan mengalahkan rasa takutku untuk mencintai seseorang”, kataku sambil mengelus pipinya yang semula basah dari linangan air mata, sekarang sudah mulai mengering, setelah itu. Setelah kejadian dari rumahku itu aku akhirnya hidup bersama dengan ninda, setelah dia aku minta untuk berhenti dari tempatnya bekerja, karena aku tidak ingin jika dia bekerja di tempat yang sama denganku, karena itu akan menggangu karirku nantinya, dan akhirnya aku hidup bersama dengan ninda, setelah beberapa lama aku menjalin cinta kasih aku akhirnya memutuskan untuk menjalin ke jenjang yang lebih serius, dan pada malam Valentine, aku melamarnya di restauran tempat kami makan malam bersama, dan satu bulan kemudian aku akhirnya menikah dengan ninda di sebuah mesjid yang cukup terkenal di kotaku, dan akhirnya kami telah resmi menjadi sepasang suami istri, dan kami sekarang memiliki dua orang anak, yang telah tercipta dari hubungan cinta kasih kami, dan akhirnya kami hidup bahagia dengan anak-anak kami. ~THE END~ 30
    SlideShare Zeitgeist 2009

    + Muh Lilik Hendra JayaMuh Lilik Hendra Jaya Nominate

    custom

    122 views, 0 favs, 1 embeds more stats

    Cerpen Buatan gw sendiri

    More info about this document

    © All Rights Reserved

    Go to text version

    • Total Views 122
      • 121 on SlideShare
      • 1 from embeds
    • Comments 0
    • Favorites 0
    • Downloads 0
    Most viewed embeds
    • 1 views on http://antixbonn.co.cc

    more

    All embeds
    • 1 views on http://antixbonn.co.cc

    less

    Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
    Flag as inappropriate

    Select your reason for flagging this presentation as inappropriate. If needed, use the feedback form to let us know more details.

    Cancel
    File a copyright complaint
    Having problems? Go to our helpdesk?

    Categories