• Like
Proposal al qur'an baru
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

Proposal al qur'an baru

  • 416 views
Published

materi kuliah

materi kuliah

Published in Self Improvement
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
416
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2

Actions

Shares
Downloads
4
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN Untuk mewujudkan ketiga fungsi Perguruan Tinggi yang berisi di dalamnya berupa pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat seperti disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 5/1980 tentang kedudukan, tugas pokok dan fungsi Perguruan Tinggi maka kegiatan dan kemampuan baca tulis Al-Qur’an tidak dapat dipisahkan sebagai penunjang terlaksananya program pendidikan khusunya pendidikan agama. Kemampuan membaca Al-Qur’an sangat perlu ditanamkan kepada mahasiswa, sebab fungsi yang disandang mahasiswa ada dua, pertama bagaimana seorang mahasiswa dapat memahami ilmu-ilmu umum dibangku kuliah dan kedua, mahasiswa sebagai makhluk sosial memegang tatanan etika moral masyarakat, yang dilandasi atas dasar iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dua peran mahasiswa tersebut tidak terlepas dari ajaran agama yang dipedomaninya melalui kitab agama yang dianut yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Tentunya dari kitab yang ada tersebut perlu dibaca dan dipahami dengan baik oleh mahasiswa, karena kitab Al-Qur’an mempunyai tulisan yang tidak boleh dirubah dan walaupun ada terjemahannya kita dituntut untuk bisa membaca Al- Qur’an dengan huruf asalnya. Membaca Al-Qur’an bagi mahasiswa tidak terlepas dalam program pengajaran agama Islam, karena dalam pelaksanaaan program pendidikan agama akan mudah di ikuti apabila mahasiswa dapat mebaca Al-Qur’an dengan
  • 2. 2 baik dan akan timbul proses belajar mengajar yang dinamis, karena dalil-dalil agama dapat dipahami oleh mahasiswa. Untuk itu staf pengajar harus lebih memaksimalkan perhatiannya kepada kemampuan individu mahasiswa dengan mencari literature yang praktis dan mudah untuk dipelajari. Pentingnya mahasiswa mengetahui dan bisa membaca Al-Qur’an tersebut akan dapat dirasakan bukan saja untuk masa perkuliahan, namun akan menjadi pembuka pengetahuan yang lebih luas lagi yang terkandung Al-Qur’an tersebut, makna umum lainnya adalah dimana mahasiswa sebagai manusia terdidik dan berpengatahuan dapat memberikan ilmunya kepada masayarakat sesuai dengan garisan norma-norma agama. Suatu anggapan yang salah apabila kita hanya cukup membaca terjemahan Al-Qur’an saja. Namun yang patut dipegang adalah disamping untuk mendalami makna agama dan kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih luas lagi, juga untuk menjaga kemurnian yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut, disamping membaca Al-Qur’an tersebut mengandung nilai ibadah,sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ل‬َ‫ث‬‫ـ‬َ‫م‬َ‫و‬ ٌ‫ب‬ِ‫ـي‬َ‫ط‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ـ‬ُ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ط‬َ‫و‬ ٌ‫ب‬ِ‫ـي‬َ‫ط‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ـ‬ُ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ ِ‫ة‬َّ‫ج‬ُ‫ر‬ْ‫ت‬ُ‫أل‬ْ‫ا‬ ِ‫ل‬َ‫ث‬َ‫م‬َ‫ك‬ َ‫آن‬ْ‫ر‬ُ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫أ‬َ‫ر‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ل‬َ‫ث‬‫ـ‬َ‫م‬ِ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫م‬ ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ق‬ِ‫ف‬‫ا‬َ‫ن‬‫ـ‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ل‬َ‫ث‬‫ـ‬َ‫ـ‬‫م‬َ‫و‬ ٌ‫و‬ْ‫ل‬ُ‫ح‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ـ‬ُ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ط‬َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ل‬ َ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ َ‫ال‬ ِ‫ة‬َ‫ر‬ْ‫م‬َّ‫ت‬‫ال‬ ِ‫ل‬َ‫ث‬‫ـ‬َ‫م‬َ‫ك‬ َ‫آن‬ْ‫ر‬ُ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫أ‬َ‫ر‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ َ‫ال‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ُ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫أ‬َ‫ر‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ ‫ي‬َ‫آن‬ْ‫ر‬ ِ‫ل‬َ‫ث‬‫ـ‬َ‫م‬َ‫ك‬ َ‫آن‬ْ‫ر‬ُ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫أ‬َ‫ر‬ْ‫ق‬َ‫ي‬ َ‫ال‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ق‬ِ‫ف‬‫ا‬َ‫ن‬‫ـ‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ل‬َ‫ث‬‫ـ‬َ‫ـ‬‫م‬َ‫و‬ ٌّ‫ر‬ُ‫م‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ـ‬ُ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ط‬َ‫و‬ ٌ‫ب‬ِ‫ي‬َ‫ط‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ـ‬ُ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ ِ‫ة‬َ‫ن‬‫ا‬َ‫ح‬ْ‫ي‬َّ‫الر‬ ُ‫ل‬َ‫ث‬‫ـ‬َ‫م‬ََْ‫ن‬‫ـ‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ِ‫ة‬َ‫ل‬ ٌّ‫ر‬ُ‫م‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ـ‬ُ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ط‬َ‫و‬ ٌ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ل‬ َ‫ْس‬‫ي‬‫ـ‬َ‫ل‬. ‫مسلم‬ ‫و‬ ‫البخاري‬ ‫رواه‬ “perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Qur’an bagikan buah jeruk baunya harum rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Perumpamaan munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan bunga, berbau harum rasanya pahit. Perumpamaan munafik yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah hanzalah (sejenis labu) tidak berbau dan rasanya pahit.” (H.R.Buchari Muslim)
  • 3. 3 Menjadi keharusan kita bersama untuk berusaha dan membina untuk mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, khususnya bagi para mahasiswa Muslim agar lebih mudah mencerna dan memahami apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan juga untuk lebih memudahkan komunikasi dalam penyampaian metode belajar mengajar di perguruan tinngi.
  • 4. 4 BAB II PERUMUSAN MASALAH Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, dimana intinya adalah berupa larangan, perintah dan ilmu pengetahuan serta hukum-hukum Tuhan yang harus ditaati oleh semua umat manusia. Apabila semua umat manusia selalu menurut terhadap apa yang terkandung didalam Al-Qur’an tersebut niscaya akan selamat baik didunia maupun diakhirat nanti, serta mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT. Untuk itu sebagai umat Islam diwajibkan membaca dan memahaminya dengan baik, sebab kalau tidak diimbangi dengan kemampuan mebaca akan terjadi kesulitan didalam pemahaman terhadap Al-Qur’an itu, walaupun kita secara pasif bisa mendengarnya dari juru dakwah namun tidaklah cukup kalau hanya demikian. Bagi kalangan perguruan tinggi hal ini perlu menjadi perhatian penuh terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an dikalangan mahasiswa yang merupakan calon pengabdi kepada masyarakat. Karena pembekalan dengam muatan moral yang telah digariskan didalam Al-Qur’an dapat ditransformasikan dengan baik apabila kemampuan membacanya cukup baik pula, terutama didalam penyampaian materi perkuliahan agama islam. Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa kita sebenarnya tidak cukup hanya mampu membacanya saja, lebih dari itu kita perlu pula mengetahui arti atau terjemahannya, namun hal tersebut tidak sulit dilakukan karena sekarang telah
  • 5. 5 banyak beredar kitab Al-Qur’an yang menyatu dengan terjemahannya, sehingga kita dengan mengetahui artinya. Maka lebih lanjut alangkah baiknya perlu adanya peningkatan pemahaman terhadap makna yang tersurat didalam Al- Qur’an itu. Sering terjadi kendala pada proses belajar mengajar di perguran tinggi dimana kalangan mahasiswa masih ada yang beum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, hal seperti ini akan menjadikan kesulitan bagi dosen pengajar agama Islam untuk melaksanakan materi perkuliahan secara baik dan sempurna, karena secara dominan inti materi perkuliahan mengandung unsure yang tertera bacaan dalil-dalil Al-Qur’an dah Hadist. Bertitik tolak dari permasalahn di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Bagaimana tingkat kemampuan mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda membaca Al-Qur’an”
  • 6. 6 BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Al-Qur’an selain merupakan wahyu, juga merupakan bagian kehidupan umat yang mau membukakan mata hatinya. Bahkan, kitab suci sudah dipandang sebagai kehidupan itu sendiri dan tidak semata-mata kitab biasa. Untuk dapat memahami kehidupannya, biasanya diperlukan alat bantu yang kadangkala tidak sedikit. Oleh karena itu, firman Ilahi yang mengiringi kehidupan umat Islam (dan juga seluruh umat manusia) telah tersedia dalam bentuk terulis, bahkan berbentuk sebuah kitab. Sebagai konsekwensi bahwa pada masa-masa permulaaan turunnya Al-Qur’an lebih banyak dihapal dan dipahami oleh para sahabat nabi Muhammad SAW. Sehingga kemudian tidak ada alternative lain bagi para sahabat kecuali berupaya menuliskannya. Apabila tidak dituliskan maka mutiara yang demikian bernilai luhur, dikhawatirkan akan bercampur dengan hal-hal lain yang tidak diinginkan. Disamping menyulitkan generasi pelanjut untuk mempelajari kitab tersebut. Al-Qur’an merupakan himpunan wahyu Allah yang ditujukan bagi seluruh umat manusia. Di dalamnya terkandung pesan-pesan Ilahi kepada manusia, oleh karena ia berkedudukan amat penting bagi kita semua. Agar dapat menyerap intisari pesan yag dikandungnya, maka setiap orang diseyogyakan untuk memahami Al-Qur’an secara mendalam dan rinci. Dalam kenyataan mereka yang sepanjang kehidupannya diisi dengan kegiatan membaca,
  • 7. 7 mengkaji kandungan Al-Qur’an, dan kemudian berupaya untuk mewujudkan secara bertahap, baik secara lahiriah ataupun rohaniah maka atas izin Allah biasanya mereka akan dapat menampak makna baru dan implikasi yang terkandung. Al Qur,an adalah risalah Allah untuk manusia seluruhnya. Nash-nash mutawir yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan sunnah, itulah bacaaan yang mulia, kitab yang terpelihara (Luh Mahfudz) tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang yang disucikan. Yang dikemukakan ini tidak terdapat dalam kitab-kitab lainnya, yaitu kitab-kitab langit yang terdahulu. Al-Qur’anulkarim adalah mukjizat Islam yang abadi. Kemajuan ilmu itu tidak akan bertambah kecuali dengan meresapkan Al-Qur’an ini ke dalam jiwa. Al-Qur’an adalah mukjizat yang tiada taranya diturunkan kepada Rasul kita Nabi Muhammad SAW untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada terang benderang, dan menunjukkan kepada jalan yang lurus. Definisi Al-Qur’an berasal dari Qara’a yang berarti berkumpul dan menghimpun. Qira’ah, menghimpun huruf-huruf dan kata-kata itu antara satu sama lain pada waktu membaca Al-Qur’an berasal dari qira’ah. Berasal dari kata-kata qara’a, qira’atan dan qur, aanan. Bacaan Al-Qur’an yang baik menurut Ahmad Von Denffer : Cara membaca Al-Qur’an yang baik tersebut (tilawah) tersebut akan dapat dicapai dengan memahami tajwid. Tajwid yang artinya memperbaiki, atau membuat jadi baik. Secara teknis ada dua pengertian : - Pengucapan yang benar - Membaca dengan kecepatan sedang.
  • 8. 8 Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ubaida al Maliki, Rasulullah SAW bersabda : “Wahai mereka yang mengimani Al-Qur’an, janganlah engkau jadikan dia sebagai bantam, tetapi bacalah siang dan maam, dan biasakanlah unuk mebacanya, ucapkanlah kata-katanya dengan tepat dan apapun yang diucapkan dalam Al-Qur’an maka petiklah ia sebagai tuntutan bagimu, sehingga engkau menjadi orang yang berhasil, yang tidak hanya memikirkan keuntungan duniawi, dan bacalah semata-mata demi memperoleh ridha Ilahi.” Ahmad von Denffer menambahkan : “Di dalam Al-Qur’an adanya kesempurnaan tiada tara. Kecanggihannya membersitkan berbagai studi.” B. Kriteria Bacaan Ahmad von Denffer memberikan batasan sebagai berikut : “pada dasarnya ilmu tajwid mempunyai dua syarat utama yaitu : - Cara mengucapkan yang benar, khususnya berkaitan dengan tata letak huruf di berbagai posisi. - Panjang pendek bacaan dan juga tentang huruf hidup yang diberbagai keadaan.” Dengan demikian membaca Al-Qur’an tidak dapat dilakukan secara tidak sempurna, banyak aturan yang mengiringinya agar permaknaan dari si yang dikandungnya sesuai dengan penafsiran. C. Bagaimana Mengkaji Al-Qur’an Kewajiban yang dbebankan Al-Qur’an kepada setiap muslim adalah sebagai berikut :
  • 9. 9 o Bahwa setiap muslim selayaknya mempercayai (beriman) kepada Al- Qur’an. o Bahwa setiap muslim harus berupaya untuk selalu membacanya . o Bahwa setiap muslim dituntut untuk memahaminya. o Bahwa setiap muslim diminta untuk berbuat sesuai dengan ajaran yang disampaikannya. o Bahwa setiam muslim dianjurkan untuk mengajarkan (pada orang lain) apa yang telah dipahaminya dari orang tersebut. Beberapa pedoman untuk mengkaji Al-Qur’an dikemukakan oleh Abul A’la al Maududi sebagai berikut : o Bacalah Al-Qur’an dengan pikiran yang terbebas dari bias dari bayangan gagasan-gagasan lain, sebagaimana anda tengah membaca catatan diri anda dalam sebuah buku. o Bacalah kitab tersebut lebih dari satu kali, sehingga anda akan mendapatkan pandangan yang sahih. o Catat pertanyaaan apa saja yang mungkin muncul, sementara anda akan dapat pulsa mencatat jawaban atas pertanyaan tersebut, yang hal tersebut akan diperoleh apabila bacaan Al-Qur’an anda terus bertambah o Sementara anda membaca, secara khusus carilah perintah-perintah Al-Qur’an yang sudah dapat anda tangkap dan rasakan.
  • 10. 10 o Sesudah membaca pertama kali, segera lakukan pembacaan yang semakin rinci, dan fikirkan tentang berbagai aspek ajaran Islam dan bagaimana hal tersebut akan diterapkan. o Jangan lupa bahwa kunci nyata untuk memahami Al-Qur’an adalah melaksanakan secara praktis ajaran Al-Qur’an D. Makhraj Al-Qur’an Yang dimaksud dengan makhraj huruf adalah tempat-tempat keluarnya bacaaan Al-Qur’an pada rongga mulut manusia. Huruf-huruf Al-Qur’an itu harus dibaca menurut ketentuan yang telah ditetapkan di dalam ilmu tajwid. Hukum membaca Al-Qur’an tepat pada makhrajnya bagi orang yang ingin membaca Al-Qur’an adalah fardhu ‘ain. Oleh karena itu bacalah Al-Qur’an itu menurut makhraj yang telah ditetapkan sehingga mendapat pahal dari Allah SWT. Makhraj dapat dibagi kepada 5 bagian, diantaranya seperti dibawah ini : a. Al-Jauf (‫ف‬ ‫جلو‬ ‫ا‬) Yang dimaksud dengan Al-Jauf ialah : Rongga mulut. Dan huruf Al- Qur’an yang keluar dari mulut adalah tiga huruf mad, yaitu : - Alif, yang sebelumnya berharokat fathah - ‫ي‬ (Ya) sukun, yang sebelumnya berharokat kasroh - ‫و‬ (waw sukun yang sebelumnya berharokat dlmmah
  • 11. 11 b. Al-Khalqu ( ‫خللق‬ ‫ا‬) Yang dimaksud dengan Al-Khalqu ialah : tenggorokan. Huruf-huruf yang keluar dari padanya 6 (enam) buah, yang disebut dengan istilah huruf halaq. Huruf-huruf itu adalah : - ‫ھ‬ - ‫ء‬: tempat keluarnya huruf H (besar)dan hamzah, adalah pada kerongkongan bagian bawah. - ‫ع‬ - ‫ح‬ : tempat keluarnya huruf H (kecil) dan ain adalah pada kerongkongan bagian tengah. - ‫غ‬ - ‫خ‬: tempat keluarnya huruf Kha dan Ghain adalah pada kerongkongan bagian atas c. Al-Lisan ( ‫ن‬ ‫للسا‬ ‫ا‬ ) Yang dimaksud dengan Al-Lisan ialah lidah. Huruf-huruf yang keluar disini berjumlah sebanyak 18 (delapan belas) buah huruf, dan dapat dikelompokkan kepada 10 (sepuluh) tempat diantaranya adalah : - ‫ق‬ (Qaf) dikeluarkan pada pangkal lidah dan dekat pangkal langit-langit sebelah atas. - ‫ك‬ (Kaf) dikeluarkan di sebelah depan sedikit dari makhraj Qaf - ‫ج‬ (jim), ‫ش‬ (Syin) , ‫ي‬ (Ya), dikeluarkan pada pertengahan lidah dengan langit-langit. - ‫ض‬ (Dhad) dikeluarkan pada tepi lidah dengan geraham sebelah kiri dan kanan.
  • 12. 12 - ‫ل‬ (Lam), dikeluarkan pda sebelum ujung lidah dekat langit sebelah atas. - ‫ن‬ (Nun), dikeluarkan di sebelah ke muka dari tempat keluar Lam degan bunyi sengau. - ‫ر‬ (Ra), dikeluarkan pada punggung ujung lidah dekat makhraj Nun. - ‫ط‬ (Tha), ‫د‬ (Dal), ‫ت‬ (Ta), dikeluarkan pada ujung lidah dengan urat gigi sebelah atas - ‫س‬ (Sin), ‫ز‬ (Zai )‫ص‬ (Shad), dikeluarkan pada ujung lidah dekat gigdepan sebelah atas. - ‫ث‬ (Tsa), ‫ذ‬ (Djal), ‫ظ‬ (Zha), dikeluarkan pada ujung lidah dengan ujung gigi sebelah atas. d. Asy-Syafatani ) ‫لش‬ ‫ا‬‫فتني‬ ) Yang dimaksud dengan Asy-Syafatani, ialah : dua bibir. Huruf-huruf yang keluar daripadanya ada 4 (empat) macam diantaranya : - ‫ب‬ ( Ba) yang dikeluarkan pada ujung perut bibir bagian sebelah dalam - ‫م‬ (Mim) yang dikeluarkan pada ujung perut bibir bagian sebelah luar.
  • 13. 13 - ‫ف‬ (Fa) yang dikeluarkan dari antara dua perut bibir agak kedalam bersama ujung gigi bagian sebelah atas - ‫و‬ (waw) bibir atas dan bibir bawah renggang e. Al-Kahisyum ( ‫م‬ ‫يشو‬‫خل‬ ‫ا‬) Yang dimaksud dengan Al-Kahisyum ialah : Rongga yang terdapat dalam hidung. Di sini dikeluarkan bunyi : - ‫ن‬ (Nun mati) waktu di dengungkan. - ٍ (Tanwin) waktu didengungkan - ‫ن‬-‫م‬ (Nun dengan Mim) diwaktu bertasydid dengan didengungkan.
  • 14. 14 Skema Makhraj Huruf (skema arab) ‫حروف‬ ‫خمرج‬ ً ٍ ‫ن‬ ّ‫م‬ ّ‫ن‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫و‬ ‫ف‬ ‫ح‬ ‫ك‬ ‫ق‬ ‫ض‬ ‫ى‬ ‫س‬ ‫ر‬ ‫ن‬ ‫ل‬ ‫ت‬ ‫د‬ ‫ط‬ ‫ص‬ ‫ذ‬ ‫ش‬ ‫ظ‬ ‫ذ‬ ‫ث‬ ‫ء‬‫ه‬ ‫ع‬‫ح‬ ‫غ‬‫خ‬ ‫ا‬-‫و‬-‫ى‬ ‫م‬ْ‫و‬ ُ‫ْش‬‫ي‬َ‫خل‬‫ا‬ ُ ْ‫ني‬َ‫ت‬َ‫ف‬َّ‫ث‬‫ل‬‫ا‬ ْ‫ان‬ َ‫س‬ِّّ‫ل‬‫ل‬‫ا‬ ْ‫ق‬َ‫ل‬َ‫حل‬‫ا‬ ‫ف‬ْ‫َو‬‫جل‬‫ا‬
  • 15. 15 E. Sifat Huruf Shifatul huruf (sifat-sifat huruf) maksudnya ialah : keadaan yang berlaku pada tiap-tiap huruf, setelah ia tepat keluar dari makrajnya. Berbeda dengan hukum huruf. Sifat-sifat huruf ini tidak dapat berubah- ubah keadaannya. Misalnya ada huruf yang dinafaskan, ada yang dibesarkan, ada yang tidak dibesarkan, dan lain sebagainya waktu membacanya. Hal yang demikian itu akan tetap berlaku pada huruf-huruf yang memiliki sifat tertentu, walaupun ada pembagian sifat lain menurut pembagian/pendirian ulama yang lain pula. Setiap huruf setidak-tidaknya memiliki lima macam sifat, dan ada yang mempunyai sampai tujuh sifat . Pembagian sifat adalah : 1. Jahar, ialah membunyikan huruf dengan tidak berdesis. Dalam hal ini tidak boleh kedengaran desisi angin sedikitpun waktu membunyikan huruf itu, baik waktu huruf itu berharkat, ataupun diwaktu mati. Hal ini dapat diperlaukan dengan cara menumpulkan lidah pelan-pelan dan hati-hati sekali ke tempat sandarannya waktu menyebut huruf itu. Banyak huruf 19 (Sembilan belas) yaitu huruf-huruf : ‫ض‬ - ‫ق‬ - ‫غ‬ - ‫ع‬ - ‫-ج‬ ‫د‬ -‫ي‬ ‫ب‬ -‫ل‬ - ‫ا‬ -‫ن‬ - ‫م‬ - ‫ط‬ -‫ر‬ -‫و‬ -‫ز‬ - ‫ظ‬
  • 16. 16 2. (Mahmus), ialah membunyikan huruf dengan berdesis, Jadi huruf-huruf mahmus keadaannya berlawanan dengan huruf-huruf jahar. Di sini hendaklah dibunyikan huruf itu dengan memperdengarkan desis angin. Banyak huruf 10 (sepuluh), yaitu huruf-huruf : ‫ف‬ ‫ح‬ ‫ت‬ ‫ه‬ ‫ش‬ ‫خ‬ ‫ص‬ ‫س‬ ‫ك‬ ‫ث‬ Huruf “kaf” dan “Ta” diperlakukan desisnya diwaktu huruf itu mati, atau waqaf saja. Sedangkan desis ini kedengaran sesudah huruf itu dibunyikan. Huruf-huruf mahmus yang lain dari itu diperlukan desisnya baik waktu berbaris, mati, ataupun waqaf. Apabila huruf-huruf itu berbaris, desisnya harus kedengaran sebelum huruf itu lahir (dibunyikan ) . 3. ‫ّة‬‫د‬ِ‫ش‬ (Syiddah) , ialah membunyikan huruf dengan tidak bergerumut. Dalam hal ini tidak boleh kedengaran sedikitpun gerumut suara di dalam mulut yaitu di waktu membunyikan huruf mati dan bertasydid. Jadi jelaslah huruf Syiddah yang dimaksud berlakunya hanya waktu huruf itu mati dan bertasydid saja. ‫ا‬ ‫ج‬ ‫د‬ ‫ق‬ ‫ط‬ ‫ب‬ ‫ك‬ ‫ت‬
  • 17. 17 4. ‫ة‬ ‫و‬ ‫رخا‬(Rakhwah), ialah membunyikan huruf dengan bergerumut. Dalam hal ini harus dibunyikan huruf-huruf itu, dengan memperdengarkan gerumut suara selama tidak kurang satu Alif (dua harkat) sewaktu dia mati dan bertasydid. Banyaknya huruf 16 (enam belas) yaitu huruf-huruf : ‫خ‬ ‫ذ‬ ‫ع‬ ‫ث‬ ‫ح‬ ‫ظ‬ ‫ف‬ ‫ض‬ ‫ش‬ ‫و‬ ‫ص‬ ‫ز‬ ‫و‬ ‫س‬ ‫ا‬ ‫ه‬ Dikumpulkan dalam kalimat yang berbunyi : ‫سا‬ ‫ى‬ ‫د‬ ‫فض‬ ‫حظ‬ ‫غث‬ ‫خذ‬ Harus diingat bahwa membunyikan huruf Rakhwah diwaktu bertasydid, tidak boleh diputuskan gerumut suara itu, yaitu bunyi yang timbul antara huruf yang mati dengan huruf yang berharkat. Jadi jelasnya dibaca dengan bunyi yang tidak tertahan. 5. ْ‫ط‬ ُ‫اس‬َ‫َو‬‫ت‬ (Tawasuth), membunyikan huruf antara suara lalu dengan suara tertahan. Tegasnya antara Syiddah dan Rakhwah. Banyak huruf 5 (lima) yaitu huruf-huruf : ‫ر‬‫ل‬ ‫ن‬ ‫ع‬ ‫م‬ Dikumpulkan dalam kalimat yang berbunyi : ‫ععر‬ ‫لن‬ Tasawuth juga hanya berlaku sewaktu hurufnya mati dan bertasydid saja.
  • 18. 18 6. ‫ال‬ْ‫ع‬ِّ‫ت‬‫اس‬ْ‫ء‬ (isti’lak) yang dimaksud dengan isti’lak ialah membunyikan huruf dengan mengangkat pangkal lidah ke langi-langit hingga huruf itu kedengarannya berat (besar) Banyaknya hurufnya 7 (tujuh) yaitu huruf-huruf : ‫خ‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ق‬ ‫ظ‬ Dikumpulkan dalam kalimat yang berbunyi : ‫قظ‬ ‫ضغط‬ ‫خص‬ Huruf Isti’lak dapat pula dibagi dua. Yang lebih berat huruf-hurufnya : ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ Yag tidak begitu berat huruf-hurufnya : ‫خ‬ ‫غ‬ ‫ق‬ 7. ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ف‬ِّ‫ت‬ ْ‫س‬ ‫ا‬ (Istifal), ialah membunyikan huruf dengan tidak mengangkat pangkal lidah ke langit-langit hingga kedengarannya kecil saja (ringan). Banyak hurufnya 22 (dua puluh dua( yaitu huruf-hurufnya : ‫ج‬ ‫و‬ ‫د‬ ‫ر‬ ‫ف‬ ‫ن‬ ‫ه‬ ‫ث‬ ‫ء‬ ‫ب‬ ‫ذ‬ ‫ت‬ ‫س‬ ‫ع‬ ‫ل‬ ‫ذ‬ ‫ش‬ ‫م‬ ‫ك‬ ‫ى‬ ‫ا‬ Karena huruf-huruf itu ringan , perlu sekali diperhatikan, apabila huruf- huruf itu berdekatan dengan huruf-huruf berat. Orang yang kurang memperhatikan, apabila yang kurang latihan membaca, akan sering membunyikan hurufnay berat pula. Misalanya : ‫وا‬ُ ِّ‫ِب‬ ْ‫اتص‬kan kedengaran : َ‫ط‬َ‫ا‬‫و‬ُ ِّ‫ِب‬ ْ‫ص‬ Hal itu terjadi adalah disebabkan pengaruh huruf Shad kepada huruf “Tha” 8. ‫ق‬ ‫با‬‫ط‬ ‫ا‬ (Ithbaq) , ialah membunyikan huruf dengan mengangkat pangkal idah, serta menaikkan keliling lidah ke langit-langit, hingga hurufnya kedengarannya lebih berat. Banyaknya hurufnya ada 4 (empat) yaitu huruf-huruf :
  • 19. 19 ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ Dikumpulkan dalam kalimat yang berbunyi : ‫صضطظ‬ Jadi huruf-huruf I bIthbaq adalah juga huruf-huruf isti’lak. Oleh sebab itu ia lebih berat daripada huruf yang semata-mata bersifat Isti’lak. Membunyikan huruf yang bersifat Isthbaq dan Isti’lak itu ada 4 cara : - Lebih dibesarkan, apabila ia berharkat di depan misalnya : ‫ق‬ ُ‫ظ‬ ُ‫ط‬ ُ‫ص‬ُُ - Dibesarkan apabila ia berharkat di atas misalnya : َ‫ق‬ َ‫ط‬ َ‫غ‬ َ‫ض‬ - Agak dikecilkan, apabila ia mati (sakin) missal : ْ‫ظ‬َ‫ا‬ ْ‫خ‬َ‫ا‬ ْ‫ص‬َ‫ا‬ ْ‫غ‬ َ‫ا‬ - Lebih dikecilkan, apabila ia berharkat dibawah missal : ِّ‫ض‬ ِّ‫ط‬ ِّ‫خ‬ ِّ‫غ‬ 9. ْ‫اح‬َ‫ت‬ِّ‫ف‬ْ‫ن‬ِّ‫ا‬ (Infitah) ialah membunyikan huruf dengan tidak mengangkat keliling lidah ke langit-langit, hingga huruf itu kedengarannya tidak begitu besar. Banyak huruf itu kedengarannya tidak begitu besar. Banyak hurufnya 25 (dua puluh lima ) yaitu huruf-huruf : ‫ج‬ ‫د‬ ‫س‬ ‫ع‬ ‫ت‬ ‫ف‬ ‫ز‬ ‫ك‬ ‫ا‬ ‫ح‬ ‫ق‬ ‫ش‬ ‫ر‬ ‫ب‬ ‫غ‬ ‫ى‬ ‫ث‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫ء‬ ‫خ‬ ‫ذ‬ ‫و‬‫ل‬ ‫ه‬ Dikumpulkan dalam kalimat yang berbunyi : ‫غيث‬ ‫رشب‬ ‫هل‬ ‫حق‬ ‫فذاك‬ ‫سعه‬ ‫وجد‬ ‫اجذ‬ ‫صن‬
  • 20. 20 Huruf-huruf ‫خ‬ ‫ع‬ ‫ق‬ adalah juga huruf-huruf Isti’lak oleh karena itu membunyikannya harus lebih besar daripada huruf-huruf Infitnah Lainnya. Penjelasan Tentang Bunyi Seperti dapat diketahui bahwa bunyi yang ditimbulkan oleh harkat (baris) di dalam Al-Qur’an, hanya tiga saja, yaitu bunyi : “a” bunyi “I”, dan bunyi “u”. Maka melahirkan bunyi yang tiga macam itu hendaklah setepat- tepatnya hingga tidak kedengaran bunyi antara (miring) Seperti harkat di atas dibaca “a”, jangan sampai kedengaran berbunyi “e”. harkat I depan berbunyi “u”, jangan sampai kedengaran bebrbunyi “o”. Begitu juga dengan huruf harkat “I”. Untuk sampai kepada maksud yang demikian, hendaknya jangan tanggung-tanngung membuka/membentuk mulut serta melahirkan suara. Membuka mulut waktu berharkat di atas membulatkan (mengucapkannya) waktu brharkat di depan, menarik bibir ke bawah waktu berjarkat di bawah. Hingga dengan demikian dapat didengar bacaaan yang jelas dan terang, tidak sangau dan samar-samar. Hal ini adalah juga menjadi kunic rahasia terhadap indahnya suatu bacaan.
  • 21. 21 F. Ragam Bacaan Al-Qur’an Al-Qira’ah diturunkan dari kata qara’a, yang artinya bacaan, kutipan dari kata tersebut pula istilah Al-Qur’an berasal. Iam merupakan verbal noun, yang artinya adalah bacaaan. Dalam pengertian praktis, sebutan tersebut merujuk padabacaaan lisan Al-Qur’an, sebagaimana halnya juga ragam tulisan yang bertaut erat dengan bacaaan Lisan. Para ulama terdahulu telah meletakkan tiga kriteria untuk menerima suatu qira’ah atas qira’ah lainnya. Penyampaian yang terbaik tentu saja yang termasuk dalam mutawatir. Tiga kriteria untuk suatu penerimaan adalah : - Ketetapan sesuai dengan tata bahasa Arab - Kesesuaian dengan naskah tertulis pada masa Usman - Keandalannya dapat dilacak hingga samapai pada Rasul. Tiga Kriteria keutamaannya adalah : - Ketetapannya , apabila ditilik dari tata bahasa Arab. - Kesesuaiannya dengan naskah tertulis susunan Usman. - Diriwayatkan / diutamkan oleh banyak orang. Setiap jenis bacaaan yang sesuai dengan tata bahasa Arab, kendati hanya dalam beberapa hal saja, dan sesuai dengan salah satu mashaf Usman, walau hanya dalam bentuk kemungkinan, dan dengan mata rantai penyapampaian yang benar, jelas merupakan bacaan yang shahih. Yang tidak mungkin untuk ditolak, tidak boleh dibaikan, melainkan ia merupakan bagian dari
  • 22. 22 enam bentuk dimana Al-Qur’an pernah diwahyukan dan kita semua wajib mentaaatinya. G. Kerangka Pemikiran Kemampuan membaca huruf Al-Qur’an dengan baik adalah satu aktifitas dan kreatifitas yang banyak ditentukan oleh dua faktor yakni, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berfungsi sebagai modal utama bagi pelaku karena nalurinya sudah tertanam dalam diri individu tersebut. Sedangkan faktor eksternal hanyalah motivator untuk menumbuhkan kreatifitas yang ada ada diri individu. Dalam kaitan penulisan penelitian ini, maka hubungan antara kedua belah faktor itu terwujud pada praktek keseharian dalam ibadah membaca Al- Qur’an itu sendiri. Pembacaan Al-Qur’an yang baik dapat dilihat bagaimana pengucapan huruf demi huruf dan tajwid dilakukan dengan benar atau sesuai dengan aturan yang ditentukan, agar sesuai dengan makna yang ada dalam Al-Qur’an.
  • 23. 23 BAB IV TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Sejalan dengan permasalahan yang dikemukakan di atas maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk memproleh data yang bersifat empiris mengenai faktor-faktor yang mempunyai pengaruh pada pembacaan Al- Qur’an. Kemudian secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan keterangan mengenai : a. Karakterisitik kemampuan membaca Al-Qur’an bagi mahasiswa, baik kalau dilihat dari segi kenal akan huruf itu sendiri maupun kemampuan merangkai serta penguasaan hukum bacaan yang telah ditentukan untuk Al-Qur’an itu. b. Faktor-faktor eksternal dan internal dalam proses agar biasa membaca Al- Qur’an dengan baik. Peranan eksternal di sini adalah dukungan dari lingkungan sekitar dimana mahasiswa itu berada dalam menunjang dan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an itu dengan baik. Sedangkan dari internal berawal dari dua sisi dimana dari unsur mahasiswa itu sendiri dan pihak pengajar, dalam hal ini dosen. Atas keinginan mahasiswa secara sadar untuk mengkaji lebih jauh penguasaan membaca Al-Qur’an. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah bagi mahasiswa sebagai makhluk sosial perlu mampu membaca Al-Qur’an dengan baik
  • 24. 24 dan benar untuk itu perlu dicarikan metode yang tepat dan mudah dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi tetang bagaimana penguasaan secara cepat membaca Al-Qur’an. Sedangkan bagi dosen pengajar diharapkan sadar bahwa begitu pentingnya faktor eksternal dalam membantu program pengajaran, khususnya dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam membaca Al-Qur’an. Karena bagaimanapun sempurnanya upaya faktor internal dalam hal ini bagi pengajar, kalau tidak ditunjang dari lingkungan luar atau masayarakat, maka rencana program yang ada akan sulit tercapai dengan berhasil.
  • 25. 25 BAB V METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Definisi operasional merupakan salah satu yang mempunyai peranan penting dalam penelitian, dimana definisi operasional itu digunakan sebagai petunjuk tentang bagaimana suatu variable diukur. Dengan adanya definisi operasional dalam sebuah penelitian akan mempermudah mengenai bobot suatu penelitian, apakah penelitian itu baik atau tidak, begitu pula dengan hasil penelitian itu apakah dapat diaplikasikan sesuai dengan tujuannya. Sebagai landasan untuk sampai kepada tujuan. Kemampuan membaca Al-Qur’an berarti kecakapan dalam mengenal huruf yang tertera didalamnya, dalam artian mampu membaca sesuai aturan yang telah ditentukan dan sesuai dengan makna yang ada dalam Al-Qur’an itu. Dengan demikian seseorang dapat dikatakan mampu membaca Al-Qur’an apabila dapat dengan baik meragkai huruf dan kalimat Al-Qur’an tersebut dengan sesuai pada hukum bacaannya.Dan akan lebih baik lagi kalau mampu menterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia yang selanjutnya diprediksikan sebagai pemahaman untuk menambah pengetahuan baru yang ada terkandung di dalam Al-Qur’an. Adapun yang dapat dijadikan syarat untuk melihat bahwa seseorang itu mampu membaca Al-Qur’an, adalah sebagai berikut :
  • 26. 26 a. Kenal huruf : dalam pembacaaan Al-Qur’an yag terpenting adalah bagaimana mengenal huruf dengan pengucapannya yang tepat, sebab jika terjadi kesalahan dalam pengucapan salah satu huruf maka akan merubah makna dari Al-Qur’an itu. Jumlah huruf hija’iyah yang ada dalam Al-Qur’an sebanyak 28 buah seminimal mungkin harus dikenal sebagi dasar untuk dapat membaca Al-Qur’an itu harus dapat dihapalkan dengan baik disamping dengan diiringi kemampuan penyebutan huruf tersebut secara tepat. b. Kemampuan merangkai huruf dan penguasaan hukum bacaan merupaan keharusan pokok selanjutnya dalam membaca Al-Qur’an aturan yang telah ditetapkan tentang bacaan yang benar mengenai panjang dan pendeknya bacaaan, dan tinggi rendahnya irama bacaan. Tentang aturan bacaaan ini perlu juga diketahui karena mempunyai peranan penting tentang makna dan arti dari Al-Qur’an tersebut. B. Jangkauan Penelitian Penelitian dilakukan pada mahasiswa semester I Politeknik Negeri Samarinda jurusan Administrasi Bisnis dan program studi Pemasaran tahun akademik 2010/2011 C. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, sejak bulan Desember 2010 sampai dengan April 2011 D. Data Yang Diperlukan
  • 27. 27 Sebagai bahan analisis dan pembahasan, sangat mutlak diperlukan data sebagai berikut : 1. Gambaran tentang pemahaman membaca Al-Qur’an 2. Pengujian kemampuan mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda jurusan Administrasi Bisnis dan program studi Pemasaran tahun akademik 2010/2011 dalam membaca Al-Qur’an 3. Serta data lain yang erat hubungannya dengan penelitian. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian dan penulisan ini adalah : 1. Penelitian Kepustakaan, untuk sumber yang disajikan dan dipergunakan dala penuisan bersumber dari buku-buku literature serta laporan tertulis perusahaan yang erat hubungannya dengan penelitian ini. 2. Penelitian lapangan, untuk mendapatkan data dikumpulkan langsung dari lapangan, berupa hasil observasi/wawancara dengan para mahasiswa. F. Analisa Data Data yang sudah terkumpul akan diklasifikasikan dalam bentuk tabulasi. Pentabulasi data akan dipisahkan antara variable bebas dan terikat untuk mempermudah pemberian skor pada unur-unsur yang dinilai.
  • 28. 28 Karakteristik membaca Al-Qur’an yang benar. Bebas Tingkat Terikat Kenal huruf X1 Kenal huruf X2 Kenal huruf X3 Kemampuan Membaca Al-Qur’an 1 2 3 4 5 6
  • 29. 29 Nilai atau skor yang diperoleh dari setiap tingkatan dibuatkan table sebagai berikut : Skor (x) Tingkat 1 2 3 4 5 6 Rumus : X =F(x) x =nilai akhir rata-rata (skor) n = jumlah F = frekwensi x = skor 1. Prosedur Bacaan yang telah dipergakan mahasiswa tadi. Jenis bacaan-bacaan dibagi tiga, yakni : baik, sedang dan rendah. Penilaian bacaaan ini diambil dari pengujian langsung pada 124 mahasiswa sebagai responden. 2. Kriteria Pemberian skor Tajwid sebagai cabang pengetahuan tentang membaca Al-Qur’an yang memberikan ukuran sebagai berikut : - Pengetahuan cara membaca yang benar dan tepat terhadapa susunan huruf hijaiyah sebagaimana terlamir pada halaman . . . - Penguasaan meragkai huruf Al-Qur’an - Pengetahuan tentang berbagai cara membaca dan hukum bacaan seperti :
  • 30. 30 a. hadr, kecepatan pembicaan formal b. tartil, lambat untuk membaca dan menghayati. Daftar Huruf Hijaiyah No Huruf Namanya Suara latin Dibaca dengan 1. ‫ا‬ Alif - Ikut baris 2. ‫ب‬ Ba B B (biasa) 3. ‫ت‬ Ta T t(biasa) 4. ‫ث‬ Tsa Ts t(lepas) 5. ‫ج‬ Ja J j(biasa) 6. ‫ح‬ Him H H(ringan) 7. ‫خ‬ Kha Kh H(korek) 8. ‫د‬ Dal D D(biasa) 9. ‫ظ‬ Dzal Dz Dz(tipis) 10. ‫ر‬ Ra R R(biasa) 11. ‫ز‬ Zai Z Z(biasa) 12. ‫س‬ Sin S S(biasa) 13. ‫ش‬ Syin Sy S(desis) 14. ‫ص‬ Shad Sh S(tebal) 15. ‫ض‬ Dhad Dh D(tebal) 16. ‫ط‬ Tha Th T(tebal) 17. ‫ظ‬ Zha Zh Z(tebal) 18. ‫ع‬ ‘Ain - Ikut baris
  • 31. 31 19. ‫غ‬ Ghain Gh G(tebal) 20. ‫ف‬ Fa F F(biasa) 21. ‫ق‬ Qaf Q Q(tebal) 22. ‫ك‬ Kaf K K(tebal) 23. ‫ل‬ Lam L L(biasa) 24. ‫م‬ Mim M M(biasa) 25. ‫ن‬ Nun N N(biasa) 26. ‫و‬ Waw W w(biasa) 27. ‫ه‬ Hha H h(tebal) 28. ‫ء‬ Hamzah - ikut baris 29. ‫ي‬ Ya Y y(biasa)
  • 32. 32 Contoh Merangkai Huruf (Bacaan)
  • 33. 33 Rekapitulasi Semua syarat yang disebutkan di atas dapat diidentifikasikan dengan, A; Tentang tajwid B; Cara merangkai huruf, C; Penguasaan Hukum bacaan. Rentang nilai terendah adalah 0, sedangkan nilai tertinggi adalah 10, nilai inilah yang akan digunakan sebagai indikator dalam penilaian kemampuan bacaan. Seperti sebagai berikut ; Tingkat kemampuan Nilai Tinggi 7 – 10 Sedang 5 – 6,99 Rendah 0 – 4,99
  • 34. 34 BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kemampuan Penguasaan Huruf Al Qur’an Tingkat kemampuan mengenai tajwid diukur berdasarkan pada penguasaan huruf dan bisa membacanya dengan benar dan tepat. Apabila semua itu dapat dikuasai maka ukurannya dapat dikategorikan baik. Apabila membaca Al-Qur’an itu dlakukan dengan baik dan benar maka bagi yang mendengarnya akan ada rasa keindahan dan menimbulkan rasa keteduhan perasaan. Dalam kaitan ini maka pengukuran didasarkan pada tingkat pengenalan huruf. Tabel 1.Kemampuan Penguasaan Huruf Penguasaan Keterangan Tinggi Sedang Rendah Jumlah Responden 71 26 27 124 Persentase 57,26% 20,97% 21,77% 100% Dengan memperhatikan table di atas dimengerti bahwa tingkat pengetahuan tentang tajwid khususnya dilihat dari pengenalan huruf dapat dikategorikan tinggi, karena presentasinya adalah sebagai berikut ; dimana
  • 35. 35 57,26% dengan 71 responden, kategori sedang 20,97% dengan 26 responden, dan 21,77% dengan 27 responden adalah rendah. B. Kemampuan Merangkai Huruf Al-Qur’an Pada tingkat kemampuan mahasiswa dalam merangkai huruf Al-Qur’an perlu diukur karena merupakan indikasi untuk melihat seluruh kemampuan dalam membaca Al-Qur’an. Berikut kita lihat presentase kemampuan mahasiswa merangkai huruf Al-Qur’an. Tabel 2. Kemampuan Merangkai Huruf Merangkai Keterangan Tinggi Sedang Rendah Jumlah Responden 34 70 20 124 Persentase 27,42% 56,45% 16,13% 100% Dari data diatas menunjukkan bahwa tingkat kemampuan mahasiswa merangkai huruf Al-Qur’an dapat dikategorikan sedang, dimana terdapat sebanyak 56,45% dengan 70 responden, kategori tinggi sebanyak 27,42% dengan 34 responden, sedangkan kategori rendah sebanyak 16,13% dengan 20 responden. C. Kemampuan Penguasaan Hukum Bacaan
  • 36. 36 Dalam penguasaaan membaca Al-Qur’an, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kemampuan membaca dengan menentukan panjang pendeknya suatu bacaaan. Dengan melakukan membaca Al-Qur’an berpedoman kepada aturan yang teah ditetapkan maka keindahan bagi yang mendengarnya akan dirasakan. Berikut kita perhatikan table yang mengukur bagaimana kemampuan mahasiswa terhadap penguasaan lagu, panjang pendek membaca Al-Qur’an. Tabel 3. Kemampuan Menguasai Hukum Bacaaan Hukum Keterangan Tinggi Sedang Rendah Jumlah Responden 21 53 50 124 Presentase 16,94% 42,74% 40,32% 100% Dengan memperhatikan tabel di atas mengenai presentase kemampuan membaca Al-Qur’an dengan memperhatikan panjang pendeknya suatu bacaan dimana kemampuan mahasiswa terhadap lagu dan panjang pendeknya membaca Al-Qur’an dapat dikategorikan masih sedang dimana terdapat 42,74% dengan 53 responden,. Sedangkan kategori baik dan sedang hanya 16,94% dan 40,32 % yang masing-masing 21 dan 50 responden.
  • 37. 37 Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dari penelitian mengenai tingkat kemampuan mahasiswa membaca Al-Qur’an melalui pengujian langsung kepada semua populasi yang ada sebanyak 124 responden untuk dijadikan objek penelitian Dari hasil penelitian tersebut mengenai kemampuan mahasiswa mengusai huruf Al-Qur’an dapat dikategorikan baik walaupun masih ada yang dapat dikategorikan baik walaupun masih ada yang dikategorikan sedang dan rendah namun presentasenya kecil. Selanjutnya mengenai kemampuan dilihat dari tingkat kemampuan merangkai huruf Al-Qur’an, terlihat dari data yang ada maka termasuk dalam kategori sedang dimana terdapat 56,45% atau 70 responden. Sedangkan kemampuan dilihat dari kemampuan membaca dengan menggunaan hukum bacaan yang sesuai dengan ilmu tajwid, juga masih termasuk kategori sedang karena dari data dapat dilihat bahwa sebanyak 42,74% atau 53 responden kemampuannya masih sedang. Berarti dapat kita analisis bahwa tingkat kemampuan mahasiswa membaca Al-Qur’an dapat penulis tarik kesimpulan sedang, dimana rata-rata kemampuan mahasiswa mengenal huruf dan menguasai hukum bacaan cukup baik dan selanjutnya perlu ditingkatkan peranan aktif semua pihak baik intern mapun ekstern untuk meningkatkan aktifitasnya agar terus diusahakan secara semaksimal mungkin. Karena tingkat kemampuan mahasiswa dalam penguasaan hukum bacaan Al-Qur’an dimana dalam hal ini panjang pendeknya
  • 38. 38 suatu bacaaan dan kemampuan mengenai kenal huruf dan merangkai huruf Al- Qur’an itu masih perlu ditingkatkan.
  • 39. 39 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan analisis di atas sebagai berikut : 1. Kemampuan mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda jurusan Administrasi Bisnis dan program studi Pemasaran menguasai (membaca) huruf Al Qur’an dapat digolongan baik, namun secara keseluruhan masih perlu ditingkatkan agar lebih baik lagi. 2. Kemampuan yang dimiliki tentang merangkai huruf Al Qur’an bagi mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda jurusan Administrasi Bisnis dan program studi Pemasaran dapat digolongkan sedang. 3. Terakhir tentang kemampuan mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda terhadap hukum bacaan, dalam hal ini tajwidnya dapat digolongkan sedang, karena mahasiswa belum secara serius atau mendalam terhadap pendalaman bagaimana hukum bacaan Al Qur’an itu dikuasai. Padahal hukum bacaan ini mempunyai peranan penting terhadap pemaknaan isi kandungan Al Qur’an B. Saran Sebaiknya mahasiswa perlu terus menambah pengetahuannya mengenai membaca Al Qur’an. Upaya peningkatan ini perlu ditempuh dengan dua cara, pertama memanfaatkan lingkungan eksternal untuk dapat membantu melatih kemampuan mahasiswa tersebut. Yang kedua, terus ditingkatkan keseriusan
  • 40. 40 dalam mengikuti pendidikan agama Islam dalam upaya pemahaman isi kandungan Al Qur’an.