Your SlideShare is downloading. ×
Rubrik Parenting   Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Rubrik Parenting Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah

601
views

Published on


0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
601
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
20
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. | Celah | Santun Berbahasa Ida S. Widayanti “…maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Israa’ [17]: 23) Di sebuah tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), seorang anak berusia dua tahun berkata pada temannya, “Aku sayang kamu, di saat sedih maupun gembira!” Tentu saja gurunya merasa heran dan melaporkan hal itu pada ibu anak tersebut. Si ibu tersenyum dan berkata bahwa kata-kata tersebut berasal dari sebuah buku kesayangan si anak. Ia kerap meminta ibunya untuk membacakan buku tersebut saat si anak bermain atau menjelang tidur. Tidak saja gurunya, bahkan ibunya pun sering terkaget-kaget sekaligus terharu saat mendengar kalimat tersebut diungkapkan sang anak pada dirinya. Di lain kesempatan, anak itu berbicara pada kakaknya, “Maaf Kakak, itu tidak sopan!” saat ia mendengar ucapan kakaknya yang memang kurang nyaman didengar. Gurunya bertanya kepada si ibu, apa rahasia mendidik anak yang santun berbahasa tersebut? Menurut sang ibu, anak tersebut sering diajak berbicara dengan bahasa positif dan dalam suasana nyaman. Selain itu, si ibu juga sering membacakan cerita, puisi atau lagu-lagu yang berbahasa indah. Ayat yang dikutip di awal tulisan ini dengan sangat gamblang melarang seorang anak berbicara kasar pada orangtuanya. Bahkan hanya perkataan ‘ah’ pun dilarang. Namun jika kita melihat realita saat ini sungguh bertolak belakang. Cermati gaya bicara anak-anak remaja, baik saat mereka berbicara maupun di jejaring sosial. Tak jarang mereka mengumpat dengan kasar juga mengolokolok, bahkan pada orangtua mereka sendiri. Ada yang salah dalam ma- syarakat kita saat ini. Menurut Thomas Lickona ‘penggunaan kata-kata yang memburuk’ merupakan salah satu aspek yang merupakan tanda-tanda kehancuran suatu bangsa. Dengan demikian memburuknya berbahasa menjadi indikator kestabilan sebuah negara. Bagaimana mengajarkan anak agar berbicara dengan santun? Menurut Joseph Joubert, “Children need models more than they need critics.” Artinya, anak lebih membutuhkan contoh daripada teguran atau kritikan. Terus usahakan agar anak mendengar kalimat-kalimat yang santun dan positif, niscaya mereka juga akan mengeluarkan kata-kata yang juga santun dan positif. Namun sayang, televisi dan lingkungan justru mengajarkan sebaliknya. Bahkan orangtua juga cenderung berkomentar negatif pada anak. Sebagai gambaran, hasil penemuan Jack Canfield, penulis terkenal, menunjukkan data mencengangkan bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif. Apa yang dikatakan Joseph Joubert sesungguhnya seperti itulah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam mengajar. Rasulullah adalah teladan yang baik, artinya contoh nyata dari apa yang diajarkannya. Rasulullah tidak hanya menyuruh dan melarang, namun melakukan semua kebaikan. Dalam hal berbicara pun Rasulullah mencontohkan berbahasa yang santun. Jika melihat hal tersebut, ALI ATHWA/SUARA HIDAYATULLAH sepertinya mindset kita tentang ayat di atas perlu kita ubah. Ayat tersebut adalah secara tidak langsung merupakan perintah pada orangtua agar mendidik anak sehingga kelak mereka tidak berbicara kasar, membentak, atau berkata ‘ah’. Ayat tersebut secara implisit menyatakan bahwa orangtua agar memberi contoh perkataan mulia dan santun. *Penulis buku SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 67
  • 2. | usrah | Ketika Orangtua MENIKAH Lagi Kedewasaan dalam menyikapinya meningkatkan kualitas diri dan membuahkan keberkahan untuk semua. U sia memang sesuatu yang tak bisa diketahui, begitu pula dengan usia pernikahan. Entah dipisahkan oleh kematian atau perceraian. Anak, tentu merupakan pihak yang paling merasakan imbas ketika orangtuanya berpisah. Apalagi ketika kemudian orangtua yang masih tinggal bersamanya memutuskan untuk menikah lagi. Begitupun yang pernah dirasakan oleh Asti, (bukan nama sebenarnya) ayahnya memilih untuk menikah lagi. Keputusan ayahnya untuk menikah setelah ibunya meninggal delapan tahun lalu, membuat Asri keberatan. Lain lagi dengan Agung, ayahnya menikah lagi justru ketika ibunya tengah menderita sakit keras. Sakit jantung yang diderita sang ibu tak membuat ayahnya berada di sisi, tetapi justru menikah lagi dengan perempuan yang seumur dengan Agung. Bahkan, setelah sang ibu wafat, Agung tak pernah menerima kehadiran istri kedua ayahnya tersebut. Menikah lagi memang hak orangtua. Apalagi jika memang salah satu di antara mereka telah wafat atau sudah tidak bisa menjalankan kewajibannya. Namun, pernikahan tentu tak hanya melibatkan mereka yang akan menikah. Ada anak-anak yang tak bisa diabaikan hak dan perasaannya, juga ada keluarga besar yang selama ini menaungi ikatan pernikahan. Ini tentu merupakan hal yang harus dipertimbangkan oleh orangtua yang memutuskan menikah lagi. Pernikahan hendaknya juga menambah kedekatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak melalaikan kewajiban kepada sesama manusia. Sehingga pernikahan pun benarbenar menjadi berkah bagi semua pihak yang terkait dengan pernikahan tersebut. 68 SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 Kedewasaan Bersikap Di sinilah dibutuhkan kedewasaan antara orangtua yang hendak menikah kembali, anak –apabila ia telah mencapai usia dewasa, dan pihak keluarga besar. Kedewasaan orangtua yang hendak menikah kembali tentu merupakan hal yang terpenting dalam hal ini. Tentu tidak ada larangan bagi orangtua yang hendak menikah lagi pasca perpisahan dengan pasangannya. Akan tetapi, hal yang sangat perlu diperhatikan adalah kondisi anak yang akan menerima pasangannya sebagai orang dengan titel orangtua tiri. Karena itu, sangat penting untuk juga memperhatikan pendapat anak tentang kriteria calon pendamping yang akan dipilihnya. Jangan sampai apa yang diharapkan menjadi kebaikan bagi pihak orangtua justru adalah mimpi buruk bagi anak. Di sisi lain, kedewasaan anak –apabila ia telah memasuki usia dewasa, pun sangat diperlukan. Bila memang orangtua telah menunjukkan komitmen untuk menikah lagi demi menjaga kehormatan dan kebaikan bersama, maka tidak ada alasan bagi anak untuk menghalangi niatan orangtua menikah kembali. Anak juga harus mengerti bahwa menikah lagi, lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan. Ini merupakan perintah Allah Yang Maha Mengetahui yang terbaik, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.” (An-Nuur [24]: 32) Dalam kasus seperti Asti, maka kelapangan hati anak untuk menerima kehadiran pasangan baru sang ayah tentu merupakan jalan terbaik. Anak juga harus mengerti bahwa apa pun yang kelak menjadi keputusan sang ayah, seperti memutuskan untuk tinggal bersama istri barunya kelak, merupakan bagian dari usaha-usaha terbaik dari ayahnya untuk kebaikan bersama. Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah kedewasaan
  • 3. MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH Jangan sampai apa yang diharapkan menjadi kebaikan bagi pihak orangtua justru adalah mimpi buruk bagi anak. pihak keluarga besar dalam menyikapi keinginan anggota keluarga untuk menikah lagi. Salah satunya adalah menjadi penengah antara orangtua yang akan menikah kembali dengan anaknya. Hal ini sangat membutuhkan kedewasaan dan kelapangan hati yang luar biasa, karena keluarga besar dalam hal ini tak boleh berpihak pada salah satu pihak dengan tendensi apa pun. Selain itu, keluarga besar juga diharapkan mampu menjadi tempat yang paling nyaman, terutama bagi anak ketika berada dalam masa adaptasi dengan orangtua tirinya. Anak juga diharapkan mendapatkan masukan-masukan positif dari pihak keluarga, sehingga ia akan cepat berlapang dada sekaligus menyesuaikan diri dengan kondisi baru orangtuanya. Namun demikian, orangtua yang akan menikah kembali, tentu harus memiliki persiapan yang lebih untuk menjemput kehidupan baru yang akan mengubah perjalanan diri dan keluarganya tersebut. Kualitas Diri Siapapun yang memutuskan untuk menikah kembali tentu memiliki harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dibandingkan dalam pernikahannya terdahulu. Harapan ini tentu harus dibarengi dengan kualitas diri yang lebih baik dibandingkan dengan kualitas diri di pernikahan sebelumnya. Orangtua harus memiliki kematangan emosi yang lebih baik dan kepribadian yang lebih dewasa, disamping kemampuan finansial yang lebih kuat. Hal ini penting karena kualitas dan kuantitas masalah yang akan dihadapi pun akan lebih kompleks dibandingkan pada pernikahan pertama. Akan tetapi, orangtua harus optimis bahwa kondisi ini tetap dapat terjalani dengan baik. Salah satunya dengan berempati pada apa yang dirasakan oleh anak serta berusaha memahami sudut pandang anak dalam menyikapi pernikahannya. Berbekal empati, orangtua tidak akan cepat berburuk sangka pada anak maupun keluarga besar. Sehingga ketika anak merespon pernikahannya dengan sikap yang buruk sekalipun, orangtua tetap dapat membuka dialog dengan anak dan siap menerima alasan yang mendasari sikap anak. Setiap orang tentu berhak memilih respon seperti apa yang diambilnya dalam menyelesaikan masalah. Namun, kecerdasan orangtua dalam mengelola emosi sekaligus tindakan apa yang akan diambilnya, bukan mustahil akan membuat anak juga akan belajar memahami keputusan orangtuanya dan membuka hati melihat kebaikan yang terkandung di dalamnya. Satu hal yang terpenting, orangtua pun harus menunjukkan pada anak dan keluarga besar tentang tujuan pernikahan yang dilakukannya. Bila keputusan untuk menikah lagi didasari oleh tujuan-tujuan mulia di jalan syariat-Nya, maka orangtua harus berusaha menunjukkan kepada anak bahwa segala kondisi yang terjadi saat ini, semata adalah sarana mencapai tujuan tersebut. Berteguhhatilah dalam proses pembuktian tujuan ini karena sedikit saja orangtua mengambil sikap yang tak semestinya, maka anak akan menganggap keputusan menikah lagi, tak lain hanya untuk kepentingan pribadi. Terakhir, yakinlah bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang didapat tanpa perjuangan dan kesabaran. Karena itu, sangat penting bagi orangtua, anak, dan keluarga besar untuk sama-sama memegang-teguh titah-Nya, “... Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak kepadanya.” (An-Nisaa [4]:19). *Kartika Trimarti, ibu rumah tangga tinggal di Bekasi, Jawa Barat SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 69
  • 4. | tarbiyah | Belajar Selesaikan KONFLIK dari Ibrahim dan Ismail Seringkali masyarakat menyelesaikan konflik dengan serangan kata, bahkan serangan fisik. M ateri Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini bebe rapa waktu lalu di Jakarta, mengingatkan kami akan dialog monumental antara Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Ismail Alaihissalam. Paparan dari dua pakar dan praktisi pendidikan anak dari Florida, Amerika Serikat, Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D itu ditujukan untuk menjawab persoalan krusial bangsa ini. Selama ini kita begitu resah dengan persoalan krisis moral, kekerasan, dan sebagainya. Solusi yang ditawarkan kedua pakar tersebut, sudah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan anaknya yang menjadi cikal bakal syariat Idul Adha. Ketika Ibrahim AS diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelih Ismail AS, ia gundah gulana. Sepanjang hari ia memikirkan perihal mimpinya. Akhirnya, ia pun memberanikan diri berdialog dengan anaknya. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat [37]:102) Sebuah masalah sangat besar dapat diselesaikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS dengan sebuah dialog yang bijak. Ibrahim tidak menggunakan kekerasan fisik untuk memaksa anaknya mengikuti perintahnya. Ia juga tak menggunakan serangan kata-kata yang bersifat keras layaknya orangtua kepada anaknya. Empat Tahapan Lakon yang dipraktekkan kedua Nabi tersebut dapat dijelaskan dalam materi “keterampilan menyelesaikan konflik” yang 70 SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 dipaparkan Pamela dan Laura. Ada empat tahapan penyelesaian konflik sesuai tahap perkembangan anak, yaitu: pasif (passive), serangan fisik (physical aggression), serangan bahasa (verbal aggression), dan bahasa (language). Tahap pertama pasif (passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya. Tahap kedua adalah serangan fisik (physical aggression). Anak-anak usia pra-TK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit, menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai perbendaharaan kata-kata untuk mengatasi persoalannya. Saat menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia akan langsung memukul. Tahap ketiga yaitu serangan kata-kata (verbal aggression). Ketika anak menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang, namun mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap ‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata: “Bajumu jelek!” Tahap keempat yaitu bahasa (language). Tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak kasar, dan tidak menghakimi. Hal itu cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya. Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS kecil menggunakan language sebagai cara menyelesaikan masalah yang luar biasa besar. Cara semacam ini justru jarang dilakukan oleh bangsa
  • 5. ini. Sekarang, mari kita simak beberapa contoh kasus berikut ini. Beberapa waktu lalu terjadi adu mulut antara anggota dewan saat sidang Pansus Century. Merujuk pada tahapan menyelesaikan konflik di atas, ternyata mereka masih berada di tahap verbal aggression karena mereka saling menyerang dengan kata-kata kasar dan tak pantas didengar. Masih ingat dengan anggota dewan yang hendak menyerang Ketua DPR RI saat sidang paripurna? Yang dilakukan ‘orang tersebut’ adalah perilaku anak yang masih berada dalam tahap physical aggression yaitu memukul, menendang, dan melempar benda yang ada didekatnya. Untuk sampai pada tahap language, kita harus melewati satu per satu tahapan dengan benar. Saat berada pada satu benar saat mereka berada pada sebuah tahapan. Sehingga ketika menyelesaikan persoalan, mereka masih menggunakan physical dan verbal aggression. Selama ini, bisa jadi kita memandang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan TK hanya sekadar bekal awal untuk mengarungi jenjang pendidikan selanjutnya. Jika anak sudah mampu membaca, menulis, dan menghitung (calistung), maka kita menganggap pendidikan yang diajarkan telah memenuhi target. Padahal, jika seorang anak memiliki masalah dalam hal perilaku dan sikap, maka akan menimbulkan masalah di usia dewasa. Kemampuan sosial emosi seperti saling menghormati dan dapat bergaul baik dengan orang lain, penting unMUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH Nabi Ibrahim dan Ismail kecil menggunakan language sebagai cara menyelesaikan masalah yang luar biasa besar tahapan, kita juga harus mendapatkan pijakan yang benar. Jika ada saja kesalahan yang diajarkan, itu akan menjadi investasi buruk bagi perkembangan dan masa depannya. Misalnya ada anak yang awalnya pasif, lalu memukul teman yang mengambil mainannya. Jika kita bereaksi, “Jangan memukul!” bisa jadi membuat anak akan menjadi pasif lagi. Yang harus kita lakukan adalah memberi pijakan pada anak cara mengambil mainan dengan berbicara, tidak dengan fisik. “Katakan pada temanmu, ‘Tidak, itu mainan punyaku!’.” Akan tetapi, jika perilaku memukul dibiarkan saja, maka anak akan menganggap bahwa memukul adalah salah satu cara menyelesaikan masalah. Ia pun akan mengulangi perbuatannya di kemudian hari, termasuk saat beranjak dewasa. Sosial Emosi Rendah Mengapa para politisi dan sebagian besar masyarakat bangsa ini masih berada pada tahapan serangan fisik dan serangan kata-kata? Boleh jadi, karena ada masalah dalam pendidikan usia dini. Mereka tidak mendapat pijakan yang tuk kesuksesan di masa dewasanya. Pam dan Laura mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini harus ditangani secara serius. Jika kita ingin mengubah perilaku seorang anak yang sudah terlanjur besar, maka akan membutuhkan waktu lama dan dana yang lebih besar. Oleh karena itu, ketika kemampuan sosial emosi sebagian besar masyarakat rendah -sehingga masih banyak yang menyelesaikan masalah dengan serangan fisik- maka dampaknya sangat mengerikan. Kerusuhan, perkelahian, hingga peristiwa pengeboman menjadi kerap terjadi. Kerugian akibat hal tersebut berupa kehilangan nyawa, harta, benda, dan ketenangan tak bisa dihitung dengan angka rupiah. Karena itu, kami berkesimpulan bahwa jawaban dari berbagai problem bangsa hari ini adalah dengan mereformasi sistem pendidikan anak usia dini. Yang dibutuhkan tidak hanya membangun kognisi –seperti calistung- namun juga aspek sosial emosi dan spiritualnya yang akan menentukan karakternya kelak, hingga mereka mampu menyelesaikan masalah sebagaimana Nabi Ibrahim AS dan putranya. *Erwyn Kurniawan, Direktur Eksekutif Sekolah Akhlak Quran (SAKURA), Bekasi dan Ida S.Widayanti, penulis buku dan artikel parenting SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 71
  • 6. KOLOM PARENTING | Mohammad Fauzil Adhim KEIMANAN Lahirkan Keteladanan I nilah Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini suatu ketika bertutur, “Tidak ada satu orang pun yang lebih para Sahabat cintai daripada Rasulullah SAW. Namun jika mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambutnya, karena mereka mengetahui ketidaksukaan beliau terhadap hal itu.” (Riwayat At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Adab dan dia berkata, “Ini adalah Hadits hasan shahih gharib dari jalur ini.”) Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa yang menyukai manusia berdiri memberi penghormatan kepadanya, hendaknya mengambil tempat duduknya di neraka.”(Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan AtTirmidzi) Di negeri tempat kita berpijak ini, sulit membayangkan ada seorang pemimpin yang kuat pengaruhnya, besar wibawanya, ditaati perintahnya dengan ringan hati, dan dinanti tutur katanya. Aparat negara hingga pimpinan sekolah banyak yang justru secara sengaja menciptakan budaya penghormatan demi terbentuknya apa yang diangankan sebagai karakter dan patriotisme. Hari ini anak-anak kita dididik untuk berdiri menghormat kepada orang-orang yang disebut pemimpin; inspektur upacara bendera dan bahkan kepada kepala desa yang datang menghadiri sebuah perhelatan. Tetapi hari ini kita melihat, tak ada ketaatan –apalagi kecintaan—yang tumbuh dengan kuat dalam diri anak-anak kita kepada para pemimpin. Lalu apa yang melahirkan kecintaan besar dari para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum ajma’in kepada Rasulullah? Kita bisa menjawab keteladanan. Tetapi keteladanan seperti apa yang melahirkan kecintaan begitu besar dan ketaatan yang sedemikian kuat? Mari kita simak firman Allah Ta’ala berikut ini, ”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas-kasihan 72 SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128) Apa yang bisa kita petik dari pribadi Rasulullah? Bukan sekadar manusia yang memiliki budi pekerti luhur. Pada dirinya ada kecintaan dan empati yang luar biasa, sedemikian besarnya kecintaan itu sehingga penderitaan kita adalah penderitaannya. Ia turut merasakan penderitaan kita yang banyak. Ada keinginan yang sangat kuat untuk mengantarkan kita pada keselamatan, dan tidak ada keselamatan tanpa iman. Dan tidak bernilai iman jika tidak berpijak pada aqidah yang lurus dan agama yang benar sehingga tidaklah kita berserah diri kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Amat besar keinginannya agar kita meraih keselamatan dan kemuliaan, bahkan meskipun untuk itu ia dimusuhi dan disakiti. Ia melakukan semua itu bukan untuk meraih dunia –yang ia tidak perlu berlelah-lelah untuk meraihnya, andaikata ia menghendaki. Ia juga bukan mengejar kekuasaan dan mahkota. Tetapi ia berbuat dengan tulus, melayani, penuh kecintaan, berjuang dengan sungguh-sungguh demi membaguskan kita. Bukan meninggikan kedudukannya. Dan justru karena itulah, kita merasakan keagungannya. Dunia mengakui kemuliaannya. Bahkan Allah Ta’ala dan para malaikat pun bershalawat untuknya. Terasa betul betapa berbedanya dengan apa yang kita jumpai hari ini. Atas nama dakwah dan muru’ah (kehormatan), banyak orang yang berburu gelar ustadz dan menyandangi dirinya dengan berbagai kemewahan. Kenapa? Karena ada persangkaan bahwa dengan itu kita akan dihormati, dengan kekayaan itu kita dimuliakan dan nasehatnya didengar. Tetapi tidak. Mereka berceramah, manusia tertawa dan mengelu-elukan, sesudah itu tak ada lagi yang berbekas. Jika agama hanya menjadi penghibur jiwa, maka sulit membayangkan terjadi perubahan mendasar pada mereka yang mendengar dan belajar. Jika para penyeru agama telah silau hatinya kepada kedudukan, gelar yang berderet, sebutan yang terucap, maka nyaris tak mungkin rasanya budaya karakter akan
  • 7. tumbuh. Kebanggaan pada sebutan, simbol, dan yang semacamnya lahir dari budaya prestasi dimana prestise lebih berharga daripada keringat dan kesungguhan. Sementara budaya karakter menyibukkan diri dengan sikap, usaha dan perjuangan, kejujuran, pelayanan kepada orang lain, ketulusan, dan yang serupa dengan itu. Tatkala karakter yang menjadi kegelisahan utama, prestasi akan menyertai. Prestasi muncul sebagai akibat. Bukan tujuan. Sehingga tak berharga sebuah prestasi, yang paling memukau sekalipun, jika diraih dengan menciderai keyakinan, keimanan, dan kejujuran. Khusus mengenai budaya prestasi dan budaya karakter, saya berharap dapat membahas lebih lanjut pada lain kesempatan. Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk kembali melihat betapa berbedanya antara apa yang kita sebut sebagai pendidikan karakter dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah SAW sehing- gah dan banyak hal lainnya yang masih dibiarkan. Ini memberi pelajaran berharga bagi kita. Kelak kita tahu dalam sejarah betapa tinggi kemuliaan akhlak para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum ajma’in, tabi’in, tabi’it tabi’in, maupun para salafush-shalih. Tetapi kemuliaan akhlak itu bukan semata-mata akibat dari pembiasaan, melainkan tumbuh di atas keyakinan yang kuat dan keimanan yang benar. Sangat berbeda kebiasaan yang muncul sematamata sebagai hasil pembiasaan dengan kebiasaan yang lahir dari keyakinan yang kuat. Yang pertama akan mudah luntur oleh situasi, sedangkan yang kedua cenderung mewarnai dan membawa pengaruh tatkala kita berada pada lingkungan yang sangat berbeda. Serupa dengan itu, sangat berbeda kaya sebagai tujuan dan kaya sebagai akibat. Berbeda juga kaya sebagai jalan. Kita kerahkan seluruh kemampuan untuk mengejar kekayaan, lalu menyiapkan sejumlah MUH. ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH Tatkala karakter yang menjadi kegelisahan utama, prestasi akan menyertai. Prestasi muncul sebagai akibat. Bukan tujuan. ga melahirkan manusia-manusia dengan karakter mulia yang luar biasa. Sesungguhnya, tidaklah Rasulullah SAW diutus kecuali untuk membentuk akhlak mulia (akhlaqul kariimah). Tetapi mari kita periksa perjalanan sejarah Nabi SAW? Apakah yang beliau lakukan di awal-awal masa kenabian? Apakah beliau melakukan serangkaian pembiasaan berkait dengan budi pekerti? Sepanjang yang saya pahami, bukan itu yang dilakukan oleh Nabi SAW. Masa-masa awal dakwah, titik tekan utamanya adalah pada penanaman keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala dan tidak mempersekutukan-Nya, membangun aqidah yang lurus, menempa mereka untuk memiliki ketundukan yang total kepada AllahTa’ala melalui qiyamul-lail yang panjang dan menafikan sesembahan selain Allah Ta’ala. Ketika itu, jilbab belum diperintahkan, minum khamr belum dice- kemuliaan sebagai alasan. Bahwa jika kaya, kita mampu beramal, meniru para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum ajma’in dan alasan lain yang serupa. Tetapi tatkala kaya sebagai jalan, kita sangat berkeinginan untuk melakukan amal mulia dan untuk itu kita siapkan bekal. Kerinduannya terletak pada amal. Bukan kekayaan. Jika dunia yang menjadi tujuan, maka dien akan menjadi alat. Jika kaya yang menjadi impian, maka surga yang menjadi agunan. Jika menolong agama Allah yang menjadi kegelisahan dan tekad kuat kita, maka kita akan siap berletih-letih untuk berjuang, termasuk mengumpulkan harta yang banyak agar dapat mengongkosi perjuangan dan dakwah kita fillah, lillah, ilallah. Nah, semoga ada yang bisa kita renungkan.* SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 73
  • 8. | profil keluarga | Dharmawan Budi Dharmawan Keluarga Lebih Penting daripada Nikah Lagi Menjadi orangtua tunggal bagi 13 anak. Bagaimana Budi membangun kembali keutuhan keluarga setelah ditinggal sang istri tercinta B udi Dharmawan tidak ingin duka meliputi keluarganya bertengger terlalu lama. Sekitar satu setengah bulan pasca kematian istrinya, Yoyoh Yosroh (anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pusat sekaligus pendiri Partai Keadilan Sejahtera), pada 21 Mei 2011, dia segera menggelar rapat keluarga. Tiga belas anaknya, dua menantu, dan sejumlah cucu hadir dalam pertemuan itu “Intinya, kita ingin membuat komitmen bersama pada tujuan bersama. Ke depannya seperti apa,” ujar Budi kepada Suara Hidayatullah yang berkunjung ke rumahnya awal Oktober lalu. Dalam pertemuan itu, Budi mengatakan kepada keluarganya, bahwa dia tidak secara otomatis menggantikan peran seorang ibu kepada anak-anaknya. Biar pun saat ini dia sebagai single parent (orangtua tunggal), bukan berarti dia menjadi ayah sekaligus ibu untuk 13 anaknya itu. “Artinya, saya tetaplah seorang ayah,” kata pria kelahiran Bandung, 17 April 1961 ini. Baginya, single parent bukan berarti satu orangtua menggantikan peran ayah atau ibu. Karena itu, ia mengajak anak- anaknya yang sudah besar untuk membantunya mendidik dan mengasuh adik-adik mereka. Syukurlah, peran Budi mengasuh anak juga dibantu oleh anak-anaknya yang telah besar. Seperti anak sulungnya, Ahmad Umar Al-Faruq dan sejumlah adiknya seraya meneruskan pesantren penghafal al-Qur`an, Ummu Habibah, di Tangerang yang telah dirintis oleh sang ibu. Anaknya yang ketiga, Asma Karimah telah menikah, sedangkan anak nomor 8, 9, dan 10 di pesantren. “Hanya anak yang ke-11, 12, 13, dan nomor 7 yang selalu tinggal di sini (di rumah bersamanya, red),” kata Budi. Kepada anak-anaknya, budi menga- MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH 74 SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432
  • 9. takan kepergian sang ibu merupakan satu bentuk kebersamaan baru. Semua anggota keluarga harus tetap komitmen mencapai tujuan bersama. “Yakni, bagaimana kita bisa mengantarkan seluruh anggota keluarga untuk masuk pintu gerbang surga,” kata Budi yang juga Wakil Sekjen PKS bidang protokoler dan rumah tangga ini. Mendahulukan kepentingan dan keutuhan keluarga, menjadi prioritas hidup Budi, daripada kepentingan pribadi. Baginya, hal itu berarti menomorduakan urusan mencari istri baru demi menjaga perasaan anakanaknya yang kebanyakan masih kecil. “Menikah belum menjadi prioritas saat ini,” ujar pria lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1987 ini. Pengaruh Sang Istri Semasa hidup, sang istri memang dikenal wanita yang sangat padat aktivitasnya. Aktvitas Yoyoh berdakwah dan sebagai anggota dewan menuntutnya sering bepergian dan meninggalkan anak-anaknya. Tapi, bukan berarti anak-anaknya menjadi telantar. Komitmen Yoyoh dan Budi dalam mengatur waktu telah memberikan karakter kuat pada anak-anaknya. Kata Budi, ketiga belas anaknya telah dibiasakan berpuasa sehari penuh selama Ramadhan sejak usia tiga tahun. Karenanya, kata Budi, semua anakanaknya cukup siap saat menerima kabar kepergian ibu mereka. Putri kedua belasnya yang masih kelas 5 SD, Helma Hamimah, bahkan sempat membuat puisi untuk ibunya saat hari ibunya meninggal. Berikut penggalan puisinya: Kabar itu datang …. Ummi sudah meninggal. Aku berusaha menahan air mata, namun Aku tak kuasa menahan. Maka bulir air mata jatuh hingga pipiku lembab karena tangisanku Ya Allah …. ia masih mempunyai 13 anak dan 1 pesantren. Menurut Budi, pengaruh didikan sang ibu bergradasi pada masing-masing anak. Tergantung sejauh mana interaksi mereka dengan sang ibu. “Kalau yang kecil-kecil tentu saja tidak se- Semua anggota keluarga harus tetap komitmen mencapai tujuan bersama. “Yakni, bagaimana kita bisa mengantarkan seluruh anggota keluarga untuk masuk pintu gerbang surga” dalam Umar, anak pertama. Secara nilai dia paham betul kiprah ibunya sebagai daiyah. Dia yang paling sabar di antara anak-anak yang lain,” ujar Budi yang dulu kerap mengisi seminar-seminar parenting bersama istrinya ini. Kerinduan Diakui Budi, perasaan kerinduan anak-anak terhadap sosok ibu memang kerap muncul. Di antaranya lewat mimpi anak-anaknya. Helma, misalnya, sepekan setelah pemakaman dia bermimpi mendapati ibunya berada di rumah. Helma menceritakan, ibunya bilang mendapat cuti satu tahun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk pulang ke dunia. “Aku senang bisa pergi ke manamana dan foto-foto sama Ummi,” tutur Budi menirukan cerita putrinya. Saat ibunya mau kembali ke Allah, kata Helma, Abi menahan Umminya untuk pergi. Namun, dalam mimpi itu Ummi berkata, kalau Ummi tidak pulang, nanti tidak dapat cuti lagi dari Allah. Kemudian Ummi pulang ketika dipanggil oleh malaikat: wahai ‘illiyyin, sudah saatnya engkau kembali kepada Allah.” Taat Suami Budi mengatakan, Yoyoh wanita kelahiran tahun 1962 yang dinikahinya pada 1985 itu adalah sosok wanita yang taat kepada suami. Sampai-sampai, katanya, soal urusan memindahkan meja makan saja dia meminta izin kepadanya. Itu sebabnya, Budi tidak pernah bisa marah hingga tiga hari kepada Yoyoh. Budi menceritakan, jika dirinya sedang marah kepada Yoyoh, dia tidak akan memberi tangannya untuk dicium sang istri ketika akan berangkat tugas. Dan, Yoyoh pun memilih tidak berangkat kerja sebelum dirinya mendapatkan ridha suaminya. Akhirnya, diberikan juga tangannya. “Dia tidak mau sisakan persoalan sekecil apa pun di rumah. Sebab, dia tahu di luar masih banyak persoalan-persoalan besar yang harus diselesaikan,” kata Budi yang pernah menjabat Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault ini. Budi di Mata Anaknya Di mata anak sulungnya, Umar, Budi adalah seorang ayah cerdas yang kerap membuat keputusan-keputusan brilian dalam masalah-masalah keluarga. Kata Umar, sang ayah yang telah lama aktif dalam gerakan dakwah selalu memahamkan kepada anak-anaknya, bahwa kepergian sang ibu adalah karena takdir Allah semata. Menurut Umar, masalah takdir penting ditekankan karena Shalahuddin Al Ayubi putra ke-5 merasa sangat bersalah atas kematian ibunya. Sebab dialah yang mengemudikan mobil saat terjadinya kecelakaan yang berujung pada tewasnya sang ibu. Kata Umar, karena sekarang ibunya telah tiada maka sang ayah menjadi sentral bagi anak-anaknya untuk berbakti kepada orangtua. “Abi jadi lebih sering berinteraksi dengan anak-anaknya. Lagi pula jam kerja Abi fleksibel, lebih banyak kerja malam hari,” kata Umar yang lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini. Umar mengatakan, sebenarnya sudah ada beberapa pihak yang menawarkan ayahnya untuk menikah lagi. Tapi hal itu belum pernah dibahas. Seandainya sang ayah menikah lagi, Umar berharap wanita itu bisa seperti ibunya. “Yang menomorsatukan keluarga, pengayom, dan hafal al-Qur`an,” pungkasnya.* Ibnu Syafa’at, Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah SUARA HIDAYATULLAH | NOPEMBER 2011/DZULHIJJAH 1432 75

×