| Celah |

Perubahan Anak,
Perubahan Orang Tua
Ida S. Widayanti

S

eorang ibu begitu kaget ketika dipanggil ke
sekolah be...
| usrah |

Ketika Pasangan
Kecanduan Pornografi
Banyak pasangan yang menganggap
mengakses materi pornografi dapat membantu...
Pertama, untuk mengurangi adiksi terhadap khamr
tersebut Allah menurunkan anjuran untuk mengubah
kebiasaan minum khamr ini...
| mar’ah |

LuarMeski Tak Sempurna
Biasa
Sempurna atau tidak ada dalam
pikiran kita. Impian pun tetap
akan nyata meski buk...
pahala dan keberkahan dari sisi Allah.
Kuncinya adalah apa yang kita imani dan apa
yang kita kerjakan di dunia ini. Jika k...
KOLOM PARENTING | Mohammad Fauzil Adhim

Belajar Menakar
A

Tindakan

da saatnya diam merupakan kebaikan. Kita
berdiam dir...
ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH

Jika ini terjadi, anak akan berusaha meningkatkan
pengaruh dan daya paksanya sehingga ora...
| profil keluarga |

Yahdi Sulaiman dan Iryani

“Kalau Bukan karena Allah,
Saya Sudah Gila”
Keluarga ini menjalani ujian
y...
tikan itu tentu bakal terpukul. Termasuk Iryani (46). “Saya sebenarnya gak
kuat, tapi saya harus kuat. Saya kuatin,”
kata ...
| tarbiyah |

Lingkungan memang semakin
mengkhawatirkan tetapi kendali
pengaruhnya tetap ada di tangan orangtua.
Banyak or...
yang dijadikannya cermin. Bila tidak, mereka
pun akan membuat anak sadar betul kemana
akan mengambil alternatif lain yang ...
| konsultasi |

diasuh oleh
Ustadz Hamim Thohari

Bapak Menghajikan
Anaknya

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
P...
Rubrik Parenting - Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Rubrik Parenting - Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah

391

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
391
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
22
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Rubrik Parenting - Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah

  1. 1. | Celah | Perubahan Anak, Perubahan Orang Tua Ida S. Widayanti S eorang ibu begitu kaget ketika dipanggil ke sekolah berkaitan dengan perilaku anaknya yang berusia sepuluh tahun. Menurut sang guru, si anak mengalami kemunduran dalam berbicara dan bersikap, sehingga cenderung membuat kesal temannya. Beberapa hari kemudian laporan senada juga diberikan oleh tetangganya, bahwa si anak telah mengejek anaknya sehingga mereka sempat saling pukul. Tentu saja bagi si ibu hal itu merupakan masalah serius, ia berdiskusi dengan suaminya. Mereka sepakat untuk mengajak sang anak berdialog mengenai penyebab munculnya sikap yang tidak diharapkan baik di rumah maupun sekolah. Awalnya si anak hanya terdiam. Namun, ibu dan ayahnya terus meyakinkan bahwa ayah, ibu, juga gurunya di sekolah bermaksud membantu. Mereka tidak ingin sang anak bersikap yang menyebabkan orang lain tidak nyaman, karena hal itu hanya akan membuat dirinya tidak nyaman juga. Ketidakmampuan membangun hubungan sosial dengan teman dan lingkungan akan merugikan diri sendiri. Si anak dengan tangisan sesal akhirnya berkata, “Aku berbicara kasar karena mengikuti teman-teman di sekitar rumah.” Rumah keluarga itu memang berada di lingkungan kampung yang terbiasa berbicara kasar, sedangkan orangtua mereka juga cenderung membiarkan. Ibunya berkata, “Nah, kalau tahu penyebabnya dari anak-anak itu, apa yang harus dilakukan?” “Aku jangan sering main dengan mereka,” ujar si anak. “Makanya, Bunda jangan pulang malam supaya pulang sekolah kita buat kegiatan di dalam rumah, jadi aku tidak main sama anak-anak itu,” tambahnya. Si anak juga menyarankan untuk tidak menggunakan pembantu rumah tangga, karena salah satu pengaruh buruk berbicara kasar juga datang dari dalam rumahnya sendiri, yaitu dari pembantunya. Si ibu merenung, ia menyadari bahwa ia harus mengambil langkah yang cukup besar. Sebagai ibu tiga anak yang masih kecil, dan bekerja di luar rumah tentu tidak mudah. Ia pun memutuskan untuk bekerja setengah hari sekaligus tidak lagi menggunakan jasa pembantu rumah tangga. Rencana pun disusun. Pergantian tahun baru Hijriah dijadikan momen yang tepat untuk melakukan perubahan. Si anak berkata bahwa ia akan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Adik-adiknya pun dilibatkan, mereka berbagi tugas. Si anak bertugas menyiram bunga, mengepel lantai, serta sekali-kali ikut membantu memasak. Adik perempuannya yang berusia delapan tahun bertugas memasak nasi, menyapu lantai, dan menata meja makan. Sedangkan si kecil yang berusia menjelang tiga tahun diminta membereskan mainannya sendiri, menyimpan baju, dan piring kotor di tempatnya. Hari-hari pun dimulai, tentu saja tak selalu mudah. Ada masa transisi dari kondisi sebelumnya yang biasa sering dibantu, menjadi serba dikerjakan sendiri. Namun, mereka semua bertekad untuk menghadapi semua konsekuensinya. Seiring perjalanan waktu, si ibu kaget melihat begitu banyak perubahan. Karena banyak kegiatan di dalam rumah, si anak jadi jarang bermain ke luar. Si anak berbicara dan bersikap lebih baik, kemandirian, tanggung jawabnya lebih berkembang, bahkan ia menjadi lebih empati pada orangtuanya karena melihat orangtuanya begitu kerja keras mengerjakan semuanya. Si ibu pun makin menyadari bahwa tidak mungkin orangtua mengharapkan perubahan pada anaknya jika perubahan itu tidak dimulai dari diri mereka GETTYIMAGES sendiri.* Penulis buku. SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 65
  2. 2. | usrah | Ketika Pasangan Kecanduan Pornografi Banyak pasangan yang menganggap mengakses materi pornografi dapat membantu meningkatkan gairah seksual. Alihalih dapat hal itu, malah ketidakharmonisan rumah tangga yang dituai Sebut saja namanya Ardi. Ia dikenal oleh tetangganya sebagai sosok yang rajin shalat berjamaah di masjid. Ardi memiliki istri yang cantik dan ramah bernama Fitri. Kehidupan rumah tangga mereka terlihat harmonis dan bahagia. Namun, dalam sebuah kesempatan konsultasi Ardi mengaku telah berselingkuh dengan wanita tuna susila. Entah apa yang kurang dari Fitri sehingga Ardi seakan merasa tak cukup terpenuhi kebutuhan biologisnya ? Berdasarkan pengakuannya, Ardi mulai berubah sekitar dua tahun terakhir. Ia tak mengerti mengapa dirinya menjadi bosan dengan istrinya dan mulai mengalami ketidakpuasan secara seksual. Gairah seksual terhadap istrinya menjadi menurun, sehingga untuk membangkitkannya kembali ia terlebih dahulu melihat film atau gambar-gambar porno. Menurut pengakuannya, cara ini dirasakan cukup membantu untuk meningkatkan gairah seksual. Lambat laun hal ini menjadi kebiasaan, hingga Ardi merasakan ketergantungan olehnya. Akhirnya, kebiasaan ini membuat Ardi terperosok ke lembah yang semakin dalam. Suatu ketika Ardi mendapat tugas ke luar kota selama dua pekan. Di sela-sela tugasnya itu seorang teman memperkenalkannya dengan “dunia hitam” di hotel tempatnya menginap. Ardi begitu menikmati. Mendengar sekelumit kisah di atas, kita jangan merasa aman dan menganggap bahwa pornografi hanyalah gambar semata yang dapat membantu menumbuhkan gairah seksual dalam berhubungan dengan pasangan. Karena ternyata dampak negatif pornografi hampir-hampir tak pernah kita duga. Kebiasaan seseorang menikmati gambar dan film porno, hingga terpicu gairah seksualnya, adalah sebuah proses yang disebut ‘asosiasi’. Ketika perbuatan menonton gambar porno diasosiasikan oleh seseorang dengan gairah seksual, maka 66 SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 selanjutnya akan terjadi hubungan ketergantungan antara keduanya, hingga perlahan tapi pasti, seseorang tak lagi bisa membangkitkan gairah seksualnya tanpa bantuan gambar porno. Gejala Adiksi Pornografi Gejala yang terlihat biasanya seputar dari ketidakmampuan mereka menghindari segala sesuatu yang berbau pornografi. Maka perlu diwaspadai jika pasangan Anda mulai menjadi sangat tergantung dengan akses internet di laptopnya secara sembunyi-sembunyi. Atau jika Anda menemukan gambar-gambar porno yang disimpan pasangan Anda secara rahasia. Maka jangan merasa ragu untuk mencoba secara rutin mengecek situs-situs apa saja yang telah dibrowsing pasangan Anda jika hal itu memungkinkan. Setidaknya, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk upaya penyembuhan adiksi pornografi. 1. Pengertian dan Dukungan dari Pasangan. Kecanduan adiksi pornografi merupakan penyakit, yang meskipun berat namun tetap bisa disembuhkan. Yang sangat diperlukan dalam proses penyembuhan adalah adanya pengertian dan dukungan baik dari pasangan maupun dari keluarga. Adiksi pornografi lebih banyak berawal dari keisengan mengakses materi pornografi, kemudian terus menikmatinya dan membiarkan dirinya terjebak dalam kebiasaan tersebut hingga akhirnya menjadi sebuah candu. Ketergantungan ini membuat mereka tak berdaya dan tak tahu bagaimana memutus kesalahan ini. Disaat inilah dibutuhkan pengertian dan dukungan dari pasangan. Para pasangan ini harus bisa lebih banyak memaafkan pasangannya, memberikan pemahaman terhadap kesulitannya untuk bisa keluar dari siklus ketergantungan. Selanjutnya terus menemani pasangannya dalam melakukan tindakan-tindakan penyembuhan dengan sabar dan kasih sayang. 2. Perlahan dan Bertahap Dalam al-Qur‘an terdapat sebuah terapi adiksi yang efektif, yaitu tentang terapi menghilangkan kecanduan minuman keras (khamr) kepada bangsa Arab kala itu. Konsep penyembuhan yang langsung diterapkan Allah adalah dengan perlahan dan bertahap.
  3. 3. Pertama, untuk mengurangi adiksi terhadap khamr tersebut Allah menurunkan anjuran untuk mengubah kebiasaan minum khamr ini dengan kebiasaan memakan angggur secara langsung. Kemudian dalam firman Allah disebutkan bahwa khamr memang ada manfaatnya bagi kehidupan, namun ternyata masih lebih banyak mudharatnya. Jadi, melalui peringatan ini, dianjurkan masyarakat untuk perlahan menghindari khamr. Tahap ketiga, Allah lalu menurunkan ayat yang melarang umat Islam untuk shalat ketika sedang mabuk akibat minum khamr. Karena umat Islam harus shalat lima kali dalam sehari, maka mereka terpaksa harus lebih serius menghindari khamr agar tidak mabuk saat masuk waktu shalat. Tahap akhir terapi Allah yakni dengan menurunkan ayat yang benar-benar mengharamkan khamr. Sungguh sebuah proses terapi yang perlahan namun pasti, disesuaikan dengan kemampuan umat manusia menghadapi beratnya tantangan. Konsep yang dipergunakan Allah ini bisa diadopsi dalam hal penyembuhan adiksi pornografi. Mengingat tingkat beratnya adiksi ini tergolong sangat berat dan sangat sulit untuk diputus dan disembuhkan, maka terapi penyembuhannya bisa dilakukan sesuai dengan kondisi pasien. Sebagai contoh, bisa dibuatkan terapi tahapan awal dengan sebuah kesepakatan untuk mengurangi frekuensi menonton pornografi. Jika sebelumnya setiap hari atau dua hari sekali, bisa diubah menjadi seminggu cukup dua kali. Jika tahap satu telah berhasil, maka dilanjutkan dengan tahap berikutnya dengan semakin mengurangi frekuensinya, semisal cukup dengan sepekan sekali. Tahap berikutnya pasien dihindarkan dari akses terhadap internet. Kemudian tahap terakhir pasien benar-benar dihilangkan dari akses pornografi sama sekali. Terapi ini bisa jadi memerlukan waktu beberapa bulan. Akan lebih dipercepat jika didukung oleh kedekatan, pengertian, dan duku- ngan penuh oleh pasangannya, disertai dengan upaya meningkatan sisi kehidupan spiritualitasnya. 3. Memutus Asosiasi yang Salah Ketika awalnya seseorang merasakan gairah yang nikmat ketika melihat gambar porno, maka di saat penyembuhan ia akan diminta melihat kembali gambar tersebut, namun kali ini sambil dikejutkan oleh aliran listrik yang menyetrum tubuhnya. Hal ini akan terus berulang, setiap kali ia melihat gambar porno, ia akan selalu dikejutkan dengan rasa sakit akibat setruman listrik itu. 4. Memutus Siklus Adiksi Dalam proses terjadinya kecanduan terdapat sebuah siklus yang akan selalu berulang, yakni berupa rangkaian melingkar antara proses saat ketergantungan itu terjadi dan dilanjut dengan munculnya kepuasan. Selanjutnya akan datang masa tumbuhnya kesadaran, dimana seseorang merasa amat bersalah, lantas berjanji untuk tak mengulangi lagi. Namun masa ini kerap berakhir juga dengan datangnya kembali godaan adiksi yang membuatnya secara tak sadar terseret kembali ke tahap ketergantungan terjadi. Yang harus dilakukan adalah menghambat datangnya godaan, sehingga seseorang bisa memperGETTYIMAGES panjang masa kesadarannya. Dan di masa inilah ia harus diisi sebanyak-banyaknya dengan nilai-nilai dan motivasi spiritual yang akan menguatkan tekadnya untuk sembuh. Proses kesembuhan perlu waktu panjang sehingga masih wajar jika pasien masih harus berkali-kali gagal melawan godaan, namun yang penting diperkuat adalah menguatkan motivasi spiritualnya di saat masa kesadaran dan memperpanjang datangnya masa kesadaran itu sendiri. Dengan upaya-upaya di atas diharapkan secara perlahan pasien ketergantungan pornografi bisa disembuhkan. *Irawati Proses kesembuhan perlu waktu panjang sehingga masih wajar jika pasien masih harus berkalikali gagal melawan godaan Istadi, penulis buku-buku parenting SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 67
  4. 4. | mar’ah | LuarMeski Tak Sempurna Biasa Sempurna atau tidak ada dalam pikiran kita. Impian pun tetap akan nyata meski bukan dengan cara yang biasa Cantik dan mampu meraih seluruh keinginan diri, pastilah idaman setiap perempuan, tak terkecuali bagi Muslimah. Tak ada perempuan yang memungkiri, penampilan fisik adalah hal yang penting. Juga tak ada perempuan masa kini yang mengingkari, prestasi adalah prestise yang harus diperjuangkan dan menjadi nilai tersendiri bagi eksistensi di tengah masyarakat. Namun, di tengah idealita yang didamba tersebut, ternyata ada perempuan yang harus menerima kenyataan bahwa fisiknya tak sesempurna orang lain. Juga harus berdamai dengan kenyataan bahwa ia tak dapat bergerak bebas untuk meraih impian karena ia terlahir atau menjadi cacat. Menyempurnakan Hati Allah pun pastinya tak salah menjadikan mereka atau bahkan diri kita sendiri seseorang yang tak memiliki fisik sempurna. Ada pesan yang ingin disampaikan melalui penciptaan-Nya yang tetap sempurna tersebut. Ada sesuatu yang tetap indah dan ada prestasi yang tetap bisa dibanggakan di balik fisik yang tidak seindah mestinya itu. Sesuatu yang tetap indah itu sesungguhnya ada pada apa yang kita yakini dan pikirkan. Jika kita adalah yang terpilih untuk menjalani ketidaksempurnaan fisik tersebut, maka mulailah untuk menyempurnakan apa yang kita yakini dan apa yang kita pikirkan. 68 SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 Sungguh, Allah adalah Pencipta Yang Maha Rahman dan Maha Rahiim. Allah bahkan telah menjamin bahwa Ia menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. Dan Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putusputusnya.” (At-Tiin [95]: 4-6) Dengan demikian, Allah telah menciptakan kita pun dengan kesempurnaan. Penciptaan Yang dikaruniakan-Nya dengan segenap cinta dan kebijaksanaan. Ayat ini begitu indah. Dalam ayat ini Allah berfirman bahwa Ia telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna. Kesempurnaan itulah yang menjadi ujian, bersyukur dan mengabdi atau tidaknya seorang hamba. Bila dengan kesempurnaan tersebut ia menjadi sombong atau sebaliknya menganggap Allah tidak adil karena fisik yang tak seindah mestinya, maka Allah berjanji akan mengembalikan hamba tersebut dalam tempat yang rendah. Sebaliknya, Allah berjanji bahwa Ia akan mengaruniakan pahala yang tak terputus pada hamba yang beriman dan beramal shalih. Bukan pada hamba yang berfisik sempurna dan berwajah cantik. Konsep ini sama sekali bukan sesuatu yang abstrak. Bagi kita yang terlahir tak seindah semestinya, ayat ini tidak mengajarkan kita mengabaikan apa yang terjadi di depan mata. Ayat ini bukan berarti pembenaran untuk menganggap kosong pencapaian prestasi kita di dunia. Ayat ini justru mendorong kita untuk menjadi hamba yang selalu beruntung dengan
  5. 5. pahala dan keberkahan dari sisi Allah. Kuncinya adalah apa yang kita imani dan apa yang kita kerjakan di dunia ini. Jika kita yakin bahwa Allah menciptakan seluruh mahluk-Nya dalam bentuk yang sebaik-baiknya, maka kita pun harus yakin bahwa ketidaksempurnaan yang tampak di mata, sesungguhnya terganti dengan sesuatu yang tersimpan dalam bilik-bilik potensi yang mengendap dalam diri. Bertindak Luar Biasa Allah pasti dengan seadil-adilnya menciptakan setiap hamba-Nya. Karena tidak ada hamba-Nya yang tercipta dengan sempurna. Manusia yang terlahir dan dengan fisik yang semestinya pun memiliki banyak kekurangan, meski mungkin tak tampak mata. Bila ingin membandingkan, apa yang dikaruniakan pada diri kita yang tak sempurna, mungkin masih lebih banyak dibandingkan pada mereka yang secara fisik sempurna. Mari menengok pada sosok fenomenal ‘Amr bin Jamuh yang diberi kemuliaan oleh Allah mati syahid di medan perang. Sahabat Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki cacat pada kakinya sehingga berjalan dengan pincang ini berhasil meraih impian para sahabat yang fisiknya sempurna sekalipun. Bahkan sekaliber Khalid bin Walid, panglima Islam yang di akhir hidupnya malah menghembuskan nafas di atas tempat tidur. Begitu banyak jalan yang dan kemudahan yang Allah bentangkan bagi kita yang mau dan berusaha semaksimal mungkin menyambut perintah-Nya. Semua kesedihan dan kerendahdirian hanya akan mematikan potensi. Perlakukanlah diri kita sama dengan orang lain yang sempurna secara fisik. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan untuk ketaatan kita pada kehendak-Nya dengan cara yang dapat kita tempuh. Bila kekurangan itu membuat impian mendapatkan pendamping hidup yang indah seperti semestinya menguap, mungkin Allah ingin mempersatukan dengan kita pendamping yang tak biasa. Yang lebih indah, juga luar biasa. Yang mencintai kita bukan dengan cara yang biasa, bukan dengan standar yang digunakan oleh orang umumnya. Melainkan dengan cara mempraktikkan seluruh teladan Rasul-Nya yang selalu meri- ngankan beban istri dan membahagiakannya. Begitu pula dengan prestasi yang ingin kita capai. Bila mungkin prestasi yang biasanya dicapai oleh orang yang sempurna secara fisik terbentur dengan kekurangan yang kita miliki, maka jadilah kita pioner bagi prestasi-prestasi yang selama ini tak terpikirkan oleh orang biasa. Marilah belajar dari keteguhan Washington Roebling yang berhasil mewujudkan cita-citanya dan ayahnya. Cita-cita besar untuk membangun sebuah jembatan yang mampu menghubungkan satu kota dengan kota lainnya yang terpisah oleh sungai besar atau selat, bahkan mampu menghubungkan dua benua. Sementara di abad ke-18 tersebut, pada umumnya orang hanya mengenal jembatan batu yang menghubungkan sisi sungai yang satu dengan sisi di seberangnya. Jaraknya pun tentunya juga sangat pendek. Roebling berhasil mewujudkan cita-citanya meski ia terserang penyakit caisson. Ia menderita kerusakan otak permanen, tak bisa bicara, hampir tuli, dan seluruh badannya lumpuh. Ia hanya bisa menggerakan jari telunjuk kanan. Namun, semua kondisi yang hampir mustahil itu tak membuatnya surut semangat. Selama sepuluh tahun ia mengetukkan jari telunjuk tangan kanannya di atas leMUH. ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH ngan istrinya untuk menginstruksikan para insinyur tentang apa yang harus mereka kerjakan. Pada bulan bulan Mei 1883, jembatan yang dicita-citakannya, Jembatan Brooklyn, berhasil membentang di atas East River dan menghubungkan kota Manhattan dengan Brooklyn, New York. Belajar dari Roebling, marilah bertekad untuk menyempurnakan apa yang ada dalam pikiran kita. Karena, apa yang ada di hati bisa menjadi lemah manakala tak diiringi dengan derap kerja nyata kita. Yakinlah bahwa keajaiban bukanlah selamanya menjadi impian, bila kita percaya dan berjuang untuk mewujudkannya. Marilah tunjukkan pada dunia bahwa keajaiban adalah milik Allah Penggenggam seluruh semesta. Allah pula yang mewujudkannya bagi hamba-hamba-Nya yang berjuang dan yakin akan pertolongan-Nya. Karena, kitalah hamba-Nya yang telah diciptakan dengan sebaik-baiknya dan bukan untuk menjadi yang sia-sia.* Kartika Trimarti, ibu rumah tangga tinggal di Bekasi SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 69
  6. 6. KOLOM PARENTING | Mohammad Fauzil Adhim Belajar Menakar A Tindakan da saatnya diam merupakan kebaikan. Kita berdiam diri karena memberi kesempatan untuk berpikir dan menyadari kekeliruannya. Kita diam bukan karena tidak bertindak, tetapi justru diam itulah tindakan yang kita ambil agar anak dapat mengembangkan dirinya. Tetapi adakalanya diam justru tercela. Kita menahan diri dari bicara, padahal saat itu seharusnya kita angkat bicara agar anak tidak terjatuh pada keburukan lebih yang besar. Diam pada saat seharusnya berbicara merupakan tanda kelemahan. Sebagaimana terlalu banyak meributkan anak merupakan penanda ketidakmampuan menahan diri. Dua hal inilah PR panjang yang harus diselesaikan bagi orangtua semacam saya; orangtua yang miskin ilmu, lemah kendali diri dan serba instan. Ingin mengubah anak, tetapi tidak sabar menunggu proses. Ingin membaguskan akhlak, tetapi tidak siap mendengarkan keluhan mereka. Ada saat-saat kita harus tegas, ada pula saat kita perlu memberi kelonggaran kepada anak. Ada hal-hal yang mengharuskan kita menunjukkan kemarahan kepada anak meskipun kita tidak sedang emosi, tetapi ada pula saat dimana kita perlu berusaha keras untuk menahan diri meskipun emosi kita sedang meledakledak. Ini semua berkait erat dengan apa yang dilakukan anak sekaligus menimbang maslahat dan madharat dari setiap tindakan kita. Adapun terhadap kerasnya ucapan dan tindakan yang muncul dari lemahnya kendali emosi, secara jujur kita perlu menyadari kekeliruan kita, mengakuinya sebagai kesalahan meski belum mampu mengungkapkan secara terbuka kepada anak, dan bersedia meminta maaf kepada anak atas salah dan keliru kita. Hal yang sama juga berlaku untuk perbuatan baik mereka. Meskipun kita sedang marah dan suasana emosi kita sedang tidak enak, kita tetap harus menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka. Jika perlu, kita memaksakan diri untuk mengucapkan terima kasih dengan setulus-tulusnya meskipun kita sedang jengkel. Ini bukan tindakan pura-pura. Justru kita se- 70 SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 dang mendidik diri sendiri untuk mampu mengungkapkan rasa terima kasih kita secara sadar dan memaksakan diri untuk mengucapkannya, meskipun suasana hati kita sedang dongkol. Kalau ternyata kita tidak mampu menaklukkan raut muka kita sendiri, kita bisa secara terbuka mengatakan apa yang kita rasakan kepada anak dengan didahului permohonan maaf kepada mereka. Dengan demikian anak akan belajar mengakui kebaikan orang lain dan menyadari keadaan mereka. Ini juga bisa meningkatkan penerimaan mereka terhadap orangtua. Harus Punya Kendali Kembali pada soal kelonggaran. Anak yang dibesarkan dengan toleransi, memang akan belajar mengendalikan diri. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan kekerasan juga belajar menggunakan kekuatannya untuk memaksakan keinginannya. Tetapi ada hal yang harus kita ingat, di luar apa yang kita lakukan, anak juga sedang berkembang. Mereka secara terus-menerus belajar, termasuk belajar memegang kendali sehingga orangtua pun bahkan bisa tak berdaya. Orangtua melakukan apa pun yang diinginkan anak, meskipun tampaknya ia melakukan itu agar anaknya melakukan apa yang diinginkan oleh orangtua. Contohnya, orangtua memaksakan diri membelikan mainan untuk anak karena mainan itulah yang diminta anak ketika ia disuruh mandi. Kecenderungan anak memaksa orangtua menuruti keinginannya sebagai imbalan atas kesediaannya melakukan perintah orangtua, terutama mudah terjadi ketika orangtua memberlakukan cara pengasuhan yang tidak konsisten. Apalagi jika cara mengasuh antara kedua orangtua tidak selaras. Mereka saling menyalahkan di depan anak, atau cara pengasuhan mereka saling bertentangan. Lebih parah lagi jika salah satu pihak cenderung dominan dan mudah menyalahkan di depan anak. Artinya, ada salah satu pihak –entah ayah, entah ibu—yang sering disalahsalahkan di depan anak sehingga otoritasnya sebagai orangtua melemah dan dengan demikian perintahnya menjadi kurang efektif.
  7. 7. ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH Jika ini terjadi, anak akan berusaha meningkatkan pengaruh dan daya paksanya sehingga orangtua benar-benar di bawah kendalinya. Tak ada jalan lain kecuali orangtua harus mengambil keputusan dengan segera dan secara terencana menghentikan situasi yang tidak sehat ini. Pada saat yang sama, orangtua harus menyadari bahwa kebiasaan memaksakan keinginan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Anak belajar sedikit demi sedikit. Anak memiliki pengalaman panjang sehingga bisa memaksakan kehendak kepada orangtuanya, sementara orangtua tak berdaya menghadapinya. Sebaliknya, anak yang tidak memiliki kendali atas diri dan lingkungannya karena terbiasa dipaksa oleh orangtua, akan berangsur menjadi pribadi yang tidak mandiri. Ia sulit mengambil keputusan, sekalipun hanya untuk mengambil pilihan dalam perkara sederhana. Ia takut menghadapi risiko, yang sangat kecil sekalipun, terutama yang berimbas pada teguran orangtua. Padahal apa pun yang kita lakukan, pasti ada risikonya. Bahkan berdiam diri pun punya resiko. Ketakutan menghadapi risiko tersebut bukan hanya terjadi saat mereka masih kanak-kanak. Jika tidak disadari, lalu secara sengaja diatasi, maka ketakutan dalam mengambil keputusan tersebut bisa berlanjut sampai mereka dewasa dan menjadi orangtua. Ia tetap menjadi kanak-kanak, bahkan di saat ia seharusnya bertindak sebagai orangtua dari anak-anaknya. Serupa dengan takut menghadapi risiko adalah peragu. Ia sulit mengambil keputusan bukan terutama karena takut menghadapi risiko, tetapi karena sulit memilih. Ini mudah terjadi pada anak yang dibesarkan dengan pemanjaan. Anak tunggal, anak bungsu, atau ADA SAAT -SAAT KITA HARUS TEGAS, ADA PULA SAAT KITA PERLU MEMBERI KELONGGARAN KEPADA ANAK. anak laki-laki maupun perempuan satu-satunya dalam keluarga –begitu pula cucu laki-laki atau perempuan satu-satunya dalam keluarga besar— sering tumbuh dengan cara pengasuhan yang memanjakan. Mereka serba dilayani sehingga menyebabkan dirinya tidak memiliki keterampilan melayani dirinya sendiri. Mereka serba dituruti, sehingga tidak memperoleh kesempatan belajar menahan diri. Mereka juga sulit belajar berempati. Mereka juga terbiasa dipenuhi keinginannya, sehingga tidak ada kesempatan yang memadai untuk belajar menimbang, mengambil keputusan dan menentukan prioritas; mana yang lebih penting di antara yang penting. Bahkan boleh jadi, sulit baginya untuk membedakan mana yang penting dan mana yang tidak karena ia miskin pengalaman untuk memilah antara kebutuhan dan keinginan. Apa yang menyebabkan anak-anak itu mengalami kesulitan di masa dewasanya? Bukan sulitnya kehidupan. Bukan pula kecilnya pendapatan. Tetapi kekeliruan orangtua dalam mengasuh mereka. Bisa karena berlebihan dalam membantu anak menghadapi masalah, bisa juga karena mereka membiasakan anak hidup mudah sehingga anak kehilangan tantangan. Mereka sibuk mengurusi apa yang seharusnya diatasi sendiri oleh anak, sehingga anak akhirnya kehilangan inisiatif produktif. Ini semua tidak berhubungan dengan kekayaan dan banyaknya fasilitas hidup. Ini terkait dengan sikap kita sebagai orangtua, termasuk kemampuan kita menakar setiap tindakan. Wallahu a’lam bish-shawab. SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 71
  8. 8. | profil keluarga | Yahdi Sulaiman dan Iryani “Kalau Bukan karena Allah, Saya Sudah Gila” Keluarga ini menjalani ujian yang begitu berat. Namun, berkat pertolongan-Nya, mereka masih tetap tabah, sabar dan ikhlas. Sepeda motor itu melaju di jalan raya sisi barat Taman Margasatwa Ragunan, Kampung Pisangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Namun tak dinyana, motor yang dikendarai sepasang ayah dan anak itu oleng. Motor terpelanting dan terseret beberapa meter. Yang dibonceng, Nurul Hikmah, yang masih duduk di bangku SD kelas 3 kala itu terpental masuk ke bawah kolong mobil angkutan kota. Sedangkan sang ayah, Yahdi Sulaiman, terkapar di pinggir trotoar. Beberapa bagian tubuhnya lebam. Di jalan sekitar tempat mereka jatuh ramai penjual kambing. Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu menyangka yang masuk ke kolong mobil adalah anak kambing. Ternyata si kecil Nurul. Lama setelah kejadian itu, Nurul tak terlihat mengalami luka berarti. Ia tetap tampak sehat. Rasa sakit baru muncul saat ia duduk di kelas 4 SDN 001 Ragunan Jalan Harsono RM Jakarta. Ia sering mengeluh di kepalanya. Nyeri dan badannya juga terasa panas. Karena dianggap biasa, sakit itu ditahan saja. Namun, makin hari sakit itu kian mendera dan merasuk. Setiap rasa sakit itu 72 muncul, seringkali ia diobati dengan obat eceran yang dibeli di warung. Sembuh, tapi sebentar saja. Hanya beberapa menit. Setelah itu rasa sakitnya kambuh kembali. Pernah suatu kali, lantaran saking sakitnya, Nurul tiba-tiba lunglai tak bertenaga. Dia kemudian jatuh terduduk. Akibatnya, kakinya keseleo. Karena sakitnya semakin parah, Nurul tak sanggup lagi pergi ke sekolah. Namun sayangnya, baru dua tahun kemudian, -itupun atas bantuan derma- wan ibu-ibu di Perumahan Departemen Pertanian Yayasan Uswathun HasanahNurul dirujuk untuk berobat ke RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Entah ada hubungan atau tidak antara kecelakaan yang dialami Nurul dengan rasa sakitnya, yang jelas hasil diagnose dokter menyatakan Nurul mengidap virus kanker otak. Secara fisik gejala penyakit ini adalah kepala membesar dan rambut rontok. Siapa pun orangtuanya, saat buah hatinya divonis mengidap virus memaFOTO-FOTO: AINUDDIN CHALIK/SUARA HIDAYATULLAH Iryani dan Yahdi Sulaiman (orang tua Nurul Hikmah) : Tetap tegar dalam keterbatasannya SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432
  9. 9. tikan itu tentu bakal terpukul. Termasuk Iryani (46). “Saya sebenarnya gak kuat, tapi saya harus kuat. Saya kuatin,” kata Iryani, ibunda Nurul kepada Suara Hidayatullah yang menyambangi rumahnya di Jalan Al-Busyro, RT 04 RW 01, Desa Citayam, Kota Depok, Jawa Barat, awal bulan lalu. Karena ketiadaan biaya, Iryani membawa pulang paksa anaknya, setelah dirawat 15 hari di rumah sakit. Bukan bertambah sembuh, sakit Nurul malah menjadi lebih parah. Ia hanya bisa terbujur tak berdaya di atas tempat tidur. Dalam keadaan tak berdaya seperti itu, matanya tiba-tiba terasa gatal dan perih. Makin hari kian parah. Tentu saja ini menambah penderitaan anak perempuan yang tumbuh menjadi remaja itu. Pada usia 15 tahun, mata Nurul tak bisa diselamatkan lagi. “Tiba tiba saja saya gak bisa ngeliat,” kata Nurul. Tetap Tabah Yahdi Sulaiman (52 tahun) dan Iryani adalah pasangan keluarga Betawi tulen yang sederhana. Yahdi tidak punya ijazah jenjang pendidikan tinggi. Peluang kerja profesional pun bagi orang sepertinya seperti mimpi di siang bolong. Tak ayal, setiap hari Yahdi bekerja serabutan. Terkadang jadi tukang ojek, lain hari menjadi tukang bangunan, dan lain kali lagi jadi tukang batu. Yahdi yang diajak bincang-bincang Suara Hidayatullah lebih banyak melempar senyum ketimbang menjawab pertanyaan. Sedangkan Iryani bekerja sebagai tukang cuci di Perumahan Asri Permai Komplek Pertanian Citayam Depok. Setiap hari berangkat pagi, pulang kalau sudah tengah hari. Ia masih mampu mencuci pakaian pesanan dua sampai tiga rumah. Sebulan dalam satu rumah ada yang memberi Rp 300 ribu. Selain itu, ia kadang juga disuruh menyetrika baju. “Sekali menggosok pakaian ada yang memberi dua puluh atau tiga puluh ribu rupiah,” ujar Iryani. Dari situlah andalan sumber keuangan mengalir, termasuk untuk sekolah anak bungsunya, Yandi Sulaiman Nurul Hikmah Saking kuatnya Nurul menekan tangan saat bertasbih, ada bekas di jari-jarinya, barangkali juga karena tekanan yang begitu kuat. “Saya ibadahnya hanya bisa begini, mudah-mudah Allah menerima ibadah dan doa saya” (16) yang kini duduk di bangku SMK, dan untuk makan sehari hari. Sedangkan untuk pengobatan Nurul, sebulan sekali Iryani mengambil obat di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Republika. “Tergantung hanya kepada Allah saja. Kalau berharap kepada manusia itu tidak akan mungkin,” kata Iryani, didampingi sang suami. 16 Tahun Menanti Umur Nurul Hikmah kini sudah masuk 24 tahun, dan sakit yang dideritanya sudah 16 tahun lamanya. Sebagai ibu, Iryani jujur mengatakan tak tahan melihat penderitaan anak pertamanya itu, yang hanya bisa berbaring tak ber- daya. Kadang ia hanya bisa menangis dan berdoa agar anaknya segera diberikan kesembuhan dan normal seperti sedia kala. Namun di sisi lain, Iryani juga bersyukur. Sebab, selama sakitnya yang bertahun-tahun itu, diakui Iryani, anaknya tidak pernah mengeluh. Bagi Iryani dan Yahdi, atau bagi siapa pun, penantian selama 16 tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, mereka tetap berusaha bersabar dan menerima segalanya kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Sudah 16 tahun, Mas. Lama sekali. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mungkin saya sudah gila,” ucap Iryani, sambil menitikkan air mata. Ia mengucapkan itu seraya mengelus kaki anaknya. Hingga kini, Yahdi, Iryani, dan Yandi tak bosan-bosannya menjaga dan mendampingi Nurul. Ada kalanya mereka menggantikan pakaian dalam Nurul saat sedang datang bulan, membersihkan buang air yang kadang kala bercampur darah, menyuapi makan, dan memandikannya. Syukurnya, Nurul bukan anak yang lekas putus asa. Di pembaringannya, ia tetap istikamah menjalankan shalat lima waktu, puasa hari Senin-Kamis, dan menunaikan shalat Tahajjud sambil berbaring. Zikir pun ia tak lekang, terutama saat rasa sakit menyerang kepalanya. Saking kuatnya Nurul menekan tangan saat bertasbih, ada bekas di jari-jarinya, barangkali juga karena tekanan yang begitu kuat. “Saya ibadahnya hanya bisa begini, mudah-mudah Allah menerima ibadah dan doa saya,” tutur Nurul mengiba. Sakalipun tak berdaya. Semangat hidupnya tak berarti meredup. Bahkan, ia pun masih punya hasrat untuk menikah suatu ketika. “Iya, hasrat ada. Apalagi kalau mendengar teman-teman saya yang dulu, sudah pada nikah dan punya anak,” kata Nurul. “Saya mau sembuh, biar pun tak seratus persen. Yang penting bisa jalan,” sambungnya, suaranya bersih. Amin…. Semoga Allah Ta’ala memberikan yang terbaik. *Ainuddin Chalik/Suara Hidayatullah SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 73
  10. 10. | tarbiyah | Lingkungan memang semakin mengkhawatirkan tetapi kendali pengaruhnya tetap ada di tangan orangtua. Banyak orangtua yang hari ini semakin khawatir melihat pergaulan putra-putrinya. Pemberitaan di media massa pun tak henti-hentinya menyuguhkan tindak kriminalitas dan kenakalan yang bahkan tak disangka-sangka dilakukan oleh anak-anak usia balita. Belum lagi dampak pergaulan yang nampak di depan mata. Anakanak yang berkata-kata kasar akibat terlalu banyak menonton sinetron. Sungguh sebuah realita yang menyesakkan dan membuat orangtua tak dapat tidur dengan nyenyak karena memikirkan apa yang harus dilakukan. Akhirnya banyak orangtua yang memutuskan untuk memasukkan putra-putrinya ke berbagai institusi pendidikan yang menerapkan sistem boarding atau minimal sekolah sepanjang hari. Walhasil, anak-anak pun berada di sekolah dari pagi hingga sore hari. Mereka pun hanya bertemu dengan orangtuanya saat hari mulai gelap. Orangtua berharap dengan menyekolahkan pada institusi pendidikan seperti ini maka anak akan terjauhkan dari lingkungan yang buruk dan mendapatkan pendidikan secara islami. Benarkah ini akan efektif memproteksi anak-anak? Seorang guru yang mengajar di pesantren khusus putri menyatakan keprihatinannya terhadap ulah anak didiknya setiap kali kembali ke pesantren pasca liburan. Bila di pesantren mereka dilarang mendengarkan musik, maka sekembalinya mereka ke pesantren mereka menyeludupkan MP3 atau diam-diam mendengarkannya dari handphone. Kondisi ini tentu memberitahu bahwa proteksi yang dilakukan oleh pihak pesantren tidak sekaligus memproteksi perilaku dan psikologis anak. Konsisten Bersikap Lantas apa yang dapat kita lakukan agar lingkungan negatif tak meracuni anak?Langkah pertama, tentu kita harus dapat menjadi orangtua yang mampu menjadi cermin bagi anak. Anak dalam perkembangannya akan mengambil sesuatu menjadi model MUH. ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH Jangan “Takluk” pada Lingkungan 74 SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432
  11. 11. yang dijadikannya cermin. Bila tidak, mereka pun akan membuat anak sadar betul kemana akan mengambil alternatif lain yang bisa seharusnya ia melangkah dan menghindardijadikannya panutan. Salah satunya kannya dari pengaruh pergaulan yang adalah lingkungan. membuat tujuan serta masa depanDi antara penyebabnya adalah nya tidak jelas. sikap inkonsistensi yang dilakuTujuan takwa ini juga sekan orangtua. Misalkan saja, kaligus menjadi pegangan dasar kita selalu menyuruh anak bagi anak yang lahir dari kesauntuk memberi salam dan darannya sendiri. Tujuan takmencium tangan orang tua wa ini tidak akan membebani sebagai tanda penghormaanak dengan gelar-gelar matan. Akan tetapi, kita orangterialistik yang menekannya. tuanya seringkali lupa meTujuan takwa sesungguhnya nyapa anak dengan salam mengembalikan setiap mamanakala masuk ke rumah nusia pada kondisi fitrahnya atau bertemu dengannya sedan melakukan segala sesuatu pulang dari bepergian. Sikap berdasarkan keridaan Allah inkonsistensi ini sesungguhnya saja. Bila ia bercita-cita menjadi sangat berbahaya bagi perkempilot, lalu ternyata ia gagal dalam bangan kepribadian anak selansetiap tesnya, maka ia pun akan jutnya. dengan mudah memahami bahwa (Al-Furqoon:25) Sikap inkonsistensi akan menyeAllah lebih meridhai jalan lain baginya. babkan aturan yang menjadi pondasi utama berantakan dan anak kehilangan Zona dalam Doa pegangan. Bila ketidakjelasan ini terus didapatkan Sejatinya, orangtua adalah gerbang penentu oleh anak dari orangtuanya, maka tentu ia akan mencari diizinkan atau tidaknya pengaruh lingkungan negatif masuk kejelasan di tempat lain. Anak pun akan berhenti berharap tentang membentuk anak. Bila orangtua menutup rapat-rapat gerbang kebaikan yang datang dari orangtuanya. ini dengan menciptakan zona terindah dan ternyaman bagi anak untuk tinggal di dalam gerbang, maka anak tak akan tertarik untuk Komitmen Takwa mencari zona tumbuh lainnya. Seandainya pun sesekali ia “meloSelanjutnya, alangkah indahnya bila kita merenungkan doa ngok keluar”, ia hanya akan menikmatinya sekejap karena filter orang-orang saleh berikut ini, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah yang telah ditanamkan orangtuanya tetap memandunya untuk kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai memilah mana yang baik dan mana yang buruk. penyejuk hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orangFilter ini tumbuh dari bagaimana cara orangtua membesarkan orang yang bertaqwa.” (Al-Furqoon :25) anak. Melalui sikap, kasih sayang, aturan yang diberikan, dan Doa dari orang-orang shalih di atas berisi permohonan agar tentu saja doa yang dicurahkan untuk anak. Doa yang menjaga keluarga mereka dapat menjadi penyejuk hati dan mereka dapat anak, doa yang membuka pintu hati anak, dan doa yang menggemenjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Alangkah tarkan arsy Allah sehingga Dia berkenan melindungi dan mengaindahnya bila setiap orangtua memiliki komitmen yang tinggi runiakan yang terbaik untuk anak-anak kita. untuk menjadikan keluarga yang dipimpinnya sebagai keluarga Sungguh, doa adalah penjagaan terhebat dari orangtua terorang-orang yang bertakwa. Anak-anaknya pun yang terutama hadap anak-anaknya. Doa bahkan melampaui keterbatasan menjadi orang-orang yang bertakwa. Bukan sekadar menjadi orangtua sebagai manusia dan mewujudkan harapan yang hanya dokter, menjadi insinyur, menjadi artis, pejabat atau sejumlah dapat dianugerahkan oleh Yang Maha Perkasa. Oleh karena itu, gelar yang diidamkan sebagian besar orang. Rasulullah senantiasa mengutamakan doa bagi anak dengan Tujuan utama yang jelas dalam hidup ini akan membimbing selalu mendoakan anak sejak pertama kelahirannya. anak untuk mengetahui dengan jelas pula langkah-langkah yang Abu Musa berkata, “Ketika anak saya lahir, saya segera memharus diambil. Bila ingin memilih jalan sebagai seorang dokter bawanya kepada Rasulullah saw. Setelah menamakannya maka untuk menjadi dokter yang bertakwa, ia harus menolong Ibrahim, Beliau lalu mengusapkan saripati kurma yang sudah orang lain dengan ikhlas, rela berkorban dan semasa kuliah harus dikunyah hingga lumat ke langit-langit mulutnya kemudian menjalani perkuliahan dengan baik, sehingga ia dapat menyerap mendoakannya agar mendapat limpahan berkah. Setelah itu, seluruh ilmu dengan sempurna. Rasulullah menyerahkannya kembali kepada saya.” (Riwayat Tujuan takwa ini otomatis juga mengarahkan orangtua dalam Bukhari) memberikan motivasi dan fasilitas yang jelas bagi anak. Bukan Lingkungan, seperti apapun tidak akan lepas dari kehidupan sekadar memberi motor supaya keren atau memfasilitasi dan tumbuh kembang anak. Namun, lingkungan pergaulan yang hanpdhone supaya anak terlihat gaul. Akan tetapi, fasilitas pennegatif tidak akan pernah membentuk jiwa anak jika orangtua sudukung yang diberikan orangtua pun berkaitan dengan jalan apa dah membentuk lingkungan terbaik bagi anak. Karena itu, jangan yang dipilih anak untuk menjadi wasilah ketakwaannya. Cara ini menyerah pada lingkungan. *Ummu Arina, ibu rumahtangga tinggal di Bekasi “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 75
  12. 12. | konsultasi | diasuh oleh Ustadz Hamim Thohari Bapak Menghajikan Anaknya Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Perkenankanlah saya mengajukan pertanyaan seputar ibadah haji. Februari 2010 lalu, anak saya perempuan, kelas 2 SMU, wafat pada usia 17 tahun. Sebagai orangtua, (saya sudah naik haji) bermaksud menghajikan anak saya tersebut pada tahun 2011 (semoga Allah memampukan saya). Pertanyaan saya apakah ada dalil yang shahih yang menjadi dasar hukum bagi orangtua untuk menghajikan anaknya? Mohon diberikan dalil yang lengkap (untuk menghilangkan keragu-raguan kami atas pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada dalil atau tidak perlu orangtua menghajikan anaknya. Atas perhatian dan perkenannya saya ucapkan jazaakumullahu khairan katsiira. JP Depok, Jawa Barat 109876543210987654321098765432121098765432109876543210987654321 109876543210987654321098765432121098765432109876543210987654321 109876543210987654321098765432121098765432109876543210987654321 Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Pada dasarnya anak menghajikan orangtua atau sebaliknya hukumnya boleh, dengan ketentuan yang menghajikan tersebut sudah terlebih dulu melaksanakan kewajibannya. Artinya, dia sudah melaksanakan ibadah haji untuk dan atas nama dirinya sendiri. Karena bapak sudah melaksanakan haji atas nama diri sendiri, maka bapak bisa menghajikan anak bapak. Masalahnya, apakah anak bapak yang sudah wafat tersebut sudah memenuhi syarat istitha’ah? Apakah dia sudah terhitung wajib haji karena telah memiliki harta cukup untuk membayar ongkos haji? Jika belum memenuhi syarat istitha’ah, maka tidak ada kewajiban apa pun atas bapak untuk menghajikannya. Sebaliknya, jika anak bapak sudah berkewajiban melaksanakan ibadah haji, namun sebelum terlaksana kewajiban tersebut dia telah meninggal, maka wajib bagi ahli warisnya untuk menghajikannya. Kedua, apakah dia pernah ber-nadzar untuk haji? Jika dia telah ber-nadzar dan nadzar-nya telah terpenuhi tapi sebelum melaksanakan nadzar-nya dia sudah dipanggil Allah, maka ada kewajiban bagi ahli warisnya untk membayarnya, yaitu menghajikan untuk dan atas namanya. Jika tidak, maka tidak ada 76 SUARA HIDAYATULLAH | JANUARI 2011/MUHARRAM 1432 kewajiban untuk menggantikannya. Ada beberapa Hadits yang dijadikan hujjah mengenai kewajiban ahli waris untuk menghajikan keluarga yang sudah meninggal dunia, di antaranya: Dari Ibnu Abbas ra, “Seorang perempuan telah datang menemui Rasulullah SAW lalu ia berkata, “Ya Rasulullah, ibuku telah bernadzar akan menunaikan haji, tapi ia tidak sempat menunaikannya sampai wafatnya. Apakah aku boleh berhaji atas nama ibuku?” Rasulullah menjawab, “Ya, berhajilah engkau atas nama ibumu! Bagaimana pendapatmu jika ibumu itu mempunyai utang, apakah engkau akan membayarnya ? Bayarlah utangnya kepada Allah SWT karena Allah adalah Zat yang harus dipenuhi utangnya.” (Riwayat Imam Bukhari) Tentang menghajikan orang yang telah ber-nadzar, Rasulullah bersabda: Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata; “Seorang perempuan telah bernadzar menunaikan ibadah haji, lalu ia meninggal dunia. Kemudian saudara laki-lakinya datang menemui Rasulullah dan menanyakan tentang hal itu. Beliau pun bersabda, “Bagaimana menurutmu seandainya saudara perempuanmu itu mempunyai utang, apakah engkau akan membayarnya?” Ia menjawab, “Ya!” Rasulullah bersabda lagi, “Bayarlah utangnya kepada Allah. Sesungguhnya Allah SWT adalah Zat yang paling berhak dipenuhi.” (Riwayat Imam Nasa’i) Melaksanakan ibadah haji bagi orang yang istitha’ah merupakan sebuah kewajiban, dan di sisi Allah pelaksanaan tersebut merupakan hak-Nya. Orang yang belum memenuhi kewajibannya berarti telah berhutang kepada Allah. Dan hutang kepada Allah tentu harus diutamakan dalam pembayarannya. Beliau bersabda, “Lunasilah piutang kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang paling berhak dilunasi utang-Nya.” Syarat sah menghajikan orang lain: 1. Ia termasuk orang yang sah jika menunaikan haji fardhu atas namanya sendiri.(Muslim, sudah dewasa, merdeka, dan berakal) 2. Ia sudah melaksanakan haji fardhu atas namanya sendiri dan tidak mempunyai tanggungan haji wajib yang fardhu, qadha, atau nadzar. 3. Ia termasuk orang yang dapat dipercaya, dapat memenuhi janji dan dikenal taat 4. Ia tidak cacat (mampu menunaikan haji). Semoga jawaban tersebut dapat memperjelas sekaligus menghilangkan keraguan bapak.

×