Your SlideShare is downloading. ×
Rubrik Parenting   Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Rubrik Parenting Jendela Keluarga Majalah Hidayatullah

260
views

Published on


0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
260
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
12
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. | Celah | Memaknai Salam Ida S. Widayanti S eorang anak kelas 1 SD berkata pada ibunya, “Ummi, sekarang aku tahu mengapa kita harus mengucapkan salam dan bersalaman sebelum pergi dari rumah.” “Oya, mengapa memangnya?” sang ibu penasaran. “Karena waktu pergi dari rumah, kita tidak tahu apakah kita akan selamat kembali ke rumah. Jadi, waktu bersalaman kita harus benar-benar mendoakan dan saling memaafkan,” kata sang anak perempuan tersebut dengan ekspresi serius. Si ibu tersebut tersentak karena ternyata anaknya yang baru berusia tujuh tahun telah memahami makna dari ucapan salam. Karena salam sudah menjadi hal yang rutin dan biasa, seringkali tak disadari lagi maknanya dan mengucapkannya pun dengan sambil lalu. Seperti yang disampaikan anak tersebut, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang yang melangkah dalam keadaan selamat kembali ke rumah. Mungkin kecelakaan di jalan bisa saja mengakhiri hidupnya, atau sakit tiba-tiba bisa mengancam jiwanya. Mengucapkan salam selain dilakukan saat bertemu dan berpisah secara fisik, juga saat berbicara jarak jauh yaitu menggunakan pesawat telepon. Namun saat mengucapkan salam lewat telepon pun seringkali karena spontanitas, tidak benar-benar sambil mendoakannya. Ada seorang ibu yang jika menelepon anak remajanya bahkan tidak mengucapkan salam sama sekali. Kalimat pertama yang diucapkannya, “Putri dimana?” Karena selalu kalimat itu yang diucapkan sang ibu saat meneleponnya, maka anak gadis tersebut menyimpan nama ibunya di telepon selulernya bukan dengan nama sang ibu tapi dengan tulisan “PUTRI DIMANA.” Pertanyaan “Putri Dimana?” dengan nada cemas ternyata dirasakan tidak nyaman oleh anak gadis tersebut. Ia merasa seolah ibunya tidak mempercayainya. Ucapan salam dengan doa sepenuh hati tentu jauh lebih baik dibanding pertanyaan dengan nada mencurigai. Pentingnya mengucapkan salam banyak dimuat dalam Hadits. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah.” Salam meskipun terkesan sederhana, namun merupakan amalan yang memiliki keutamaan. Rasulullah bahkan menyebutnya sebagai perbuatan baik yang paling utama di antara perbuatan baik yang kita kerjakan. Sayang, jika dalam pelaksanaannya kurang dihayati. Sebagaimana diucapkan oleh anak di atas, saat para suami, istri, anak berpisah di pagi hari belum tentu mereka akan bertemu lagi. Jika menyadari hal itu, tentu saat salaman mereka akan melakukannya dengan sepenuh MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH hati dan dengan doa yang khusyu’ dan tulus. Dengan demikian saat sore hari mereka berkumpul kembali, ucapan salam akan diucapkan dengan penuh kesyukuran karena ternyata Allah masih memberi mereka kesempatan untuk bertemu lagi dalam keadaan sehat wal’afiat. Semoga kita senantiasa mengucapkan salam dengan sepenuh hati, yang dengan salam tersebut makin mendekatkan hubungan antara anggota keluarga dan makin menumbuhkan kasih sayang.* Penulis buku SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 1432 65
  • 2. | usrah | Tak Kunjung Hamil, Sabar... Saja! Zakaria sudah uzur, istrinya juga mandul. Tapi mereka tak putus asa berdoa. Allah akhirnya mengabulkan doa mereka S eorang perempuan yang sudah dua tahun berumah tangga mengungkapkan kesedihan hatinya. Ia gundah lantaran belum juga ada tanda-tanda akan punya momongan. Termasuk yang membuat dirinya kerap merasa tidak nyaman adalah lontaran pertanyaan dan pernyataan dari orang-orang sekitar yang sering terasa menusuk hati. Memikirkan semua itu, perempuan muda ini hanya bisa menangis, sedih, dan pilu. Siapa pun perempuan, ketika mengalami masa penantian yang panjang seperti ini, pasti memiliki sensitivitas bila ada orang yang menyinggungnya. Memang hanya pertanyaan, tapi itu sebenarnya tidaklah menyenangkan. Pun dengan saya yang telah merasakan betapa tidak nyamannya menantikan masa-masa indah itu. Setelah menikah, tentu saja setiap pasangan tidak akan menunda untuk segera mempunyai momongan. Sebab kehadiran buah cinta bagi pasangan suami istri dianggap sebagai prestise di mata orang. Ia adalah kelengkapan kebahagiaan setelah mengarungi bahtera rumah tangga. Juga kebahagiaan untuk sanak saudara dan famili kita. Banyak pasangan hari ini yang mungkin sedang resah menunggu datangnya kehamilan. Pertanyaan seperti ini tentu sering muncul: sudah isi belum? Kapan, nih nyusul? Sudah ada calon generasi kah? Kok belum hamil-hamil? Sebagai perempuan yang pernah mengalami masa penantian seperti ini, saya akui bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering membuat diri sangat tidak nyaman, tidak kuat, kadang bikin sewot, dan menohok di hati. Allah Maha Berkehendak Lantas, apa yang harus dilakukan pasangan suami istri yang tak kunjung dianugerahi anak? Pertama, berpikir postif kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,. Allah Maha Tahu atas segala keinginan dan kebutuhan kita. Apa yang kita inginkan 66 SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 1432 belum tentu kita butuhkan di mata Allah. Yang harus dipahami bahwa keinginan kita sangatlah banyak dan tidak ada batasnya, sedangkan apa yang kita butuhkan sebenarnya hanya Allah-lah yang tahu. Jika Allah belum mengaruniakan anak kepada kita, barangkali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) melihat kita belum butuh dengan itu. Semua telah diatur olehNya. Kita cukup berusaha sebaik-baiknya sedangkan hasilnya kita serahkan kepada-Nya. Kedua, tanamkan percaya diri dan keyakinan bahwa saatnya nanti pasti hamil juga. Bagi seorang lelaki (suami), tidak bisa dipungkiri, keadaan yang demikian itu bisa saja membuat diri menjadi tidak percaya diri, merasa akan dipandang orang lain, maaf, tidak jantan. Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Yakin saja bahwa memang belum saatnya untuk memiliki momongan. Allah masih menunda untuk menguji kesabaran kita sebelum kita benar-benar mempunyai keturunan. Ketiga, nikmatilah. Mungkin kita akan berpikir, kenapa kok tidak hamil-hamil juga, padahal datang bulan lancar. Nah, para pasangan yang mungkin sudah berbulan-bulan atau bertahun-tahun menanti kehamilan, nikmatilah kesempatan ini. Nikmati saat-saat berdua dengan pasangan, Allah memberikan kita kesempatan untuk bisa menikmati saat-saat berdua tersebut. Teladan Keluarga Nabi Zakaria Adalah Nabi Zakaria ‘Alaihisalam, seorang bapak yang hingga masa tuanya belum juga mendapatkan anak. Sementara istrinya seseorang perempuan tua yang belum melahirkan seseorang pun dalam hidupnya, karena ia wanita mandul. Pada usia tuanya, Nabi Zakaria menjadi semakin khawatir. Sebab, belum ada generasi yang diharapkan yang melanjutkan risalah suci yang ia emban. Zakaria selalu berdoa agar dikaruniakan seorang anak laki-laki yang dapat mewarisi ilmunya dan menjadi pelanjut risalah tauhid. Dalam usahanya itu, Zakaria tidak menyampaikan keinginannya tersebut kepada orang banyak, bahkan kepada istrinya, tetapi ia hanya mengadukannya kepada Allah. Hingga pada suatu pagi Zakaria mendapati Maryam di mihrabnya lengkap dengan buah-buahan yang sedang tidak musim ketika itu. Kejadian ini diabadikan di dalam al-Qur’an. “Zakaria berkata: ‘Hai Maryam dari mana kamu mem-
  • 3. Jangan sampai kita melontarkan pertanyaan atau perkataan yang bisa membuat saudara kita yang sedang menunggu kehamilan bersedih. peroleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.’ “ (Ali ‘Imran [3]: 37-38) Dari peristiwa tersebut, Zakaria semakin yakin Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu, termasuk masalah keturunan yang terus ia munajatkan kepada-Nya. Kondisi fisik Zakaria kala itu sudah tua renta, rambutnya sudah memutih, tulangnya tak sanggup lagi menopang tubuh. Sementara istrinya sendiri adalah wanita mandul yang tak mungkin lagi punya anak. Tapi Zakaria tetap optimis. Ia tidak berputus asa dengan keadaannya yang begitu rupa. (lihat Maryam [19]: 2-6). Hingga pada akhirnya Allah pun mendengar doa panjang yang dilafazkan Zakaria. Zakaria semakin takjub atas kehendak Allah memberikannya anak, dalam kondisi dirinya yang sudah tua dan istrinya pun wanita yang mandul. “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” (Maryam [19]:9) Pasangan yang sedang menanti kehamilan, marilah kita menyelami kisah tentang Nabi Zakaria ini. Tentang kesabarannya selama bertahun-tahun menanti kehadiran generasi penerus dan kemudian Allah menjawab doa panjang itu. Itulah dahsyatnya kekuatan kesabaran, doa, dan keyakinan. Saling Menguatkan Tentu saja pasangan yang sedang menanti kehamilan membutuhkan motivasi dari orang sekitarnya. Sebaiknya sesama Muslim saling menguatkan satu sama lain. Jangan sampai kita melontarkan pertanyaan atau perkataan yang bisa membuat saudara kita yang sedang menunggu kehamilan bersedih. Karena itu, ada baiknya kita menghindari pertanyaan-pertanyaan yang “memojokkan,” meski itu semata-mata iseng. Akan sangat elok jika kita memberikan motivasi dan menguatkannnya dengan ucapan yang baik, berbicara dari hati ke hati, siapa tahu ada problem lain yang enggan diutarakan. Selanjutnya, kita menawarkan solusi. Sikap kita terhadap saudara kita yang sedang menunggu kehamilan adalah memberikan solusi. Jadikan ia nyaman ketika ia berada di sekitar kita. Jangan sampai keberadaan kita menjadi momok yang menakutkan bagi mereka karena kata-kata kita yang kerap menyindir yang mungkin tidak kita sadari.* Fiqih Ulyana, Ibu rumah tangga tinggal di Depok, Jawa Barat SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 1432 67
  • 4. | tarbiyah | Membiasakan Anak Berpamitan PAMIT ADALAH BAGIAN UNTUK MEMBANGUN RASA AMAN DALAM KEPERCAYAAN B ukan perkara mudah ternyata bagi Bu Sofie untuk mencari keberadaan anaknya. Waktu menjelang maghrib, Ima, anak perempuannya belum juga pulang ke rumah selepas sekolah di siang hari. Setelah mencari kesana-kemari dan bertanya pada guru dan teman-teman dekat anaknya, akhirnya Ima pun terlacak keberadaannya dan berhasil dijemput pulang dari rumah teman sekelasnya. Ternyata ulah Ima selepas sekolah yang tak langsung pulang, tak hanya sesekali. Bu Sofie terlihat kerapkali kebingungan mencari keberadaan anak pertamanya tersebut. Katakata “bandel” dan “susah diatur” pun tak jarang terlontar dari ucapan sang Ibu, jika sedang mengomentari polah anaknya. Tingkah memusingkan ini tak hanya dilakukan oleh Ima seorang. Anak-anak yang lain mungkin juga melakukan hal yang sama. Tentu saja itu tak baik, karena membuat gelisah orangtua. Membangun Rasa Aman Budaya pamit, izin, dan pesan sesungguhnya merupakan salah satu bagian dari pendidikan yang sangat penting diperoleh oleh anak, terutama di usia dini. Orangtua sangat dianjurkan untuk selalu berkomunikasi dengan anak dan memberitahukan berbagai hal yang diperlukan oleh anak guna membangun ikatan dan pengetahuan anak. Berbagai informasi tentang kehidupan sangat diperlukan oleh anak dari orangtua. Hal ini menjadi keharusan karena informasi yang terpercaya bagi anak sejak berada dalam kandungan adalah informasi yang berasal dari orangtua. Karena itu, sangat penting bagi orangtua terutama seorang ibu untuk senantiasa berhubungan dan membangun jalur komunikasi yang tak terputus dengan buah hatinya. Dalam masalah pamit misalnya, seorang anak yang terbiasa untuk diberi informasi akan kemana orangtuanya beranjak, tentu akan mempercayai kata-kata orangtuanya dan merasa aman. 68 SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 1432 Saat ini, banyak orangtua yang terbiasa memilih menyelinap diam-diam saat akan pergi ke luar rumah meninggalkan anaknya. Saat menyadari orangtuanya sudah tak ada di sisi, anak yang ditinggalkan tentu akan sangat kebingungan dan ketakutan, terutama anak di usia dini. Lebih buruk lagi, bila saat akan meninggalkan anaknya, orangtua terbiasa mengalihkan perhatian sang anak, maka saat anak menyadari orangtuanya sudah tak ada, yang membekas dalam hati anak adalah rasa dibohongi dan ketidakpercayaan. Hal ini tentu akan sangat berbahaya untuk tumbuh-kembang anak selanjutnya. Anak yang terbiasa dihinggapi rasa dibohongi dan besar dalam ketidakpercayaan juga akan belajar untuk berbohong dan memiliki rasa kepercayaan diri yang rendah. Semua berangkat dari rasa ketidak-amanan yang senantiasa ia dapatkan dari orangtuanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk membiasakan memberikan informasi yang benar dan tepat bagi anak sejak masih bayi sekalipun. Meski banyak orang yang mengatakan tak ada manfaatnya bicara panjang lebar pada bayi yang belum mengerti apaapa, manfaat selalu berbicara dan memberikan informasi akan sangat terasa seiring dengan pertumbuhan bayi. Misalkan, bila saat akan menyusui sang ibu terbiasa memberikan informasi pada bayi tentang apa-apa saja yang harus dilakukan menjelang menyusu –seperti mengucapkan basmallah atau memberitahu bayi bahwa sang ibu akan menggendong dan mendekapnya agar ia merasa nyaman, maka rutinitas informasi ini akan membangun pengertian pada anak tentang proses yang harus dilakukan untuk mencapai sesuatu. Pada akhirnya, anak akan terbiasa untuk mengerti akan pentingnya proses dan bersabar untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Membangun Empati Terbiasa memberikan informasi kepada anak tentang apa-apa yang perlu diketahui olehnya juga akan membangun empati anak terhadap orang lain, terutama orangtuanya. Dengan terbiasa membudayakan salam dan berpamitan, anak akan memahami bahwa ditinggalkan dengan informasi keberadaan orangtuanya akan membuatnya nyaman. Anakpun kelak berempati pada orangtua tentang perasaan khawatir
  • 5. dan ketakutan, bila ia pergi tanpa pesan atau ke luar rumah hingga larut malam. Empati ini terbangun karena ia tidak terbiasa hidup dalam kekhawatiran dan ketakutan. Sehingga, ia pun tidak akan menganggap bahwa kekhawatiran dan ketakutan adalah hal yang “biasa saja”. Jika aktifitas berpamitan dan memberi informasi telah rutin dilakukan dengan anak, maka kemanapun orangtua akan bergerak, ia tak akan merasa repot lagi untuk memberitahukan kepada anak. Apalagi, bila orangtua telah melihat dampak positif dalam diri anak, yaitu terpolanya rutinitas memberi informasi pada otak anak. Sehingga sampai kapanpun dan dimanapun anak, ia akan terbiasa untuk memberi tahu aktivitasnya pada orangtua. Terbiasa memberi informasi dalam keluarga juga sangat kondusif untuk membangun keterbukaan. Seorang anak yang terbiasa “dimarjinalkan” oleh orangtua dalam pemberian informasi, cenderung akan tertutup dan melakukan tindakan yang tak dapat diprediksi oleh orangtua. Seperti kasus seorang anak yang mencuri uang seratus ribu dari dompet ibunya karena tak terbiasa mendapatkan informasi yang lengkap dari orangtuanya. Ketika anak tersebut ditanya tentang alasannya melakukan tindakan tak terpuji tersebut, anak perempuan usia kelas empat SD tersebut mengakui bahwa ia terpaksa mencuri uang ibunya untuk membayar biaya studi tur yang akan diselenggarakan di sekolahnya. Peristiwa ini tentu tak akan terjadi bila sejak dini orangtua terbiasa untuk memberi informasi yang lengkap kepada anak, termasuk informasi keuangan yang benar sekalipun saat anak membutuhkan sesuatu. Bekal Dewasa Tak dapat dipungkiri, orangtua pun dituntut untuk terlatih menyampaikan informasi dengan tepat dan cerdas ketika berbicara dengan anak. Misalkan ketika ingin memberitahu anak tentang kondisi keuangan yang dimiliki oleh orangtua ketika anak mengajukan permintaan. Bila uang yang tersedia tidak mencukupi untuk membayar biayanya hari itu juga, maka mintalah anak bersabar dengan menginformasikan kepada anak bahwa uang yang ada hanya cukup untuk membeli kebutuhan yang sangat mendesak hari itu, yaitu beras dan lauk pauk. Orangtua juga harus konsisten dengan hanya membeli barang-barang mendesak yang telah disebutkan. Kemudian menunjukkan upaya untuk berusaha mendapatkan uang yang diperlukan kepada anak, sehingga anak akan mempercayai kesungguhan orangtuanya. Hal ini sangat penting untuk menanamkan kesadaran menunda keinginan dan pemahaman tentang proses. Apa yang dilakukan oleh orangtua, sejatinya adalah pola yang ditanamkan pada otak anak yang akan dibawanya hingga dewasa kelak. Bila orangtua telah terbiasa untuk memberikan informasi yang lengkap tentang keberadaan dan kondisinya dalam situasi apapun, maka anak kelak akan membawa pola ini hingga dewasa. *Kartika Trimarti, ibu rumah tangga tinggal di Bekasi MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 1432 69
  • 6. KOLOM PARENTING | Mohammad Fauzil Adhim Memilih Sekolah untuk ANAK A pa pun yang Anda harapkan sebelum mema sukkan anak ke sebuah sekolah, perhatikan siapa gurunya. Mereka inilah yang paling memengaruhi perkembangan anak di masa-masa berikutnya, terlebih untuk sekolah sehari penuh (full day school) atau sekolah berasrama (boarding school), baik yang memakai label pondok pesantren ataupun tidak. Semakin efektif seorang guru, semakin besar pengaruhnya terhadap murid sehingga ia menjadi sosok yang dominan. Kata-katanya didengar, nasihat dan larangan-nya dipatuhi. Jika ia akrab dengan murid, keakrabannya tidak membuatnya kehilangan kehormatan. Jika ia tidak akrab dengan murid, ketidakrabannya bukan menjadi sebab kuatnya rasa takut dalam hati murid. Sesungguhnya wibawa yang kuat menjadikan murid merasa segan, sementara rasa takut menimbulkan rasa enggan untuk mendekat. Jadi pertanda apakah guru banyak berkeluh-kesah tentang betapa sulitnya menasihati murid? Ini menunjukkan bahwa ia termasuk guru yang tidak efektif. Jika keluhan semacam itu merata pada hampir semua guru, langkah berikutnya yang perlu Anda lakukan hanya satu: memeriksa siapakah yang mendaftarkan diri sebagai murid di sekolah tersebut? Jika anak-anak yang masuk sebagai murid baru memang sedari awal sudah bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang tidak efektif. Mereka lemah dalam strategi pengelolaan murid dan tidak memiliki visi pengasuhan yang jelas. Tetapi Anda masih mempunyai harapan jika sekolah memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengubah muridnya. Begitu pula guru-gurunya, sangat besar perhatiannya terhadap perbaikan dan kemajuan muridnya. Jika rata-rata murid yang masuk sekolah tersebut sebenarnya bukan anak bermasalah, berarti Anda sedang berada di sekolah yang sakit. Menejemen sekolah buruk dan guru-guru tidak memiliki kompetensi pengelolaan murid maupun penge- 70 SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 1432 lolaan kelas. Keadaan semacam ini akan berpengaruh besar terhadap sikap murid, perilaku, maupun prestasi akademik mereka. Tentu saja guru yang baik dan sekolah yang efektif bukan tidak pernah membicarakan masalah murid. Justru sekolah efektif kerapkali secara sengaja meluangkan waktu khusus setiap minggunya untuk membicarakan berbagai masalah yang mereka hadapi. Sekolah efektif dan guru-guru hebat selalu semangat membicarakan masalah murid dalam rangka meningkatkan kualitas anak didiknya. Jika pun masalah yang mereka bicarakan merupakan ketidakpatutan (perilaku bolos, melecehkan teman, dan sejenisnya), guru yang hebat akan fokus pada upaya menemukan jalan keluar. Bukan sibuk dengan masalah itu, apalagi sampai asyik menggunjingkan anak tersebut. Yang terakhir ini, yakni perilaku guru yang senang membicarakan masalah murid untuk menemukan keasyikan menggunjing murid atau pun berkeluh-kesah, merupakan tanda bahaya sangat serius terutama di jenjang pendidikan anak usia dini. Pastikan, Anda segera memindahkan anak ke sekolah yang lebih positif bagi perkembangan anak jika guru-guru semacam itu masih tetap bertahan. Mereka tidak mau berubah, tetapi tidak bersedia untuk berhenti menjadi guru. Di setiap jenjang pendidikan, anak-anak kita memerlukan guru yang hebat. Mereka tak hanya mampu menyampaikan materi pelajaran dengan baik. Lebih penting dari itu mereka mampu mempengaruhi pikiran, perasaan, dan sikap siswa. Mereka menginspirasikan kebaikan, nilai-nilai luhur, dan karakter yang mulia. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah. Pertama, integritas pribadi para pendidiknya. Mereka yang sangat kuat integritasnya akan mendahulukan nilai yang mereka pegang, akidah yang mereka yakini. Mereka juga sangat peka terhadap prinsip-prinsip yang harus ditegakkan dalam hidup. Kedua, motivasi dan kecintaannya terhadap profesi
  • 7. sebagai guru. Ketiga, kompetensi yang berkait dengan bidang keahlian yang diajarkan maupun kecakapan mengajarkan kepada murid. Ketiga aspek tersebut harus ada pada diri guru. Tetapi jika kita harus memilih, maka yang paling penting adalah aspek integritas. Inilah yang paling sulit dibentuk, namun sangat menentukan kualitas pribadi seorang guru. Tingginya jenjang pendidikan dan unggulnya kompetensi tidak akan bernilai apa-apa, jika guru tidak memiliki integritas yang kuat. Seorang guru harus memiliki kredibilitas yang tinggi. Sekali rusak, kredibilitas itu sulit dipulihkan. Tetapi kredibilitas masih lebih mudah dibangun kembali daripada integritas. Begitu pula motivasi. Meskipun membangun motivasi jauh lebih sulit daripada tahuan sehingga mereka memiliki kecintaan yang kuat terhadap belajar dan kecenderungan yang besar terhadap ilmu. Ini merupakan tugas guru-guru sekolah dasar yang perlu memperoleh penguatan di menengah pertama, sebelum kelak akhirnya mereka mengembangkan kompetensi akademik maupun kecakapan profesional pada jenjang pendidikan menengah atas. Yang Khas Pada Remaja Awal Satu lagi yang harus kita ingat. Pada masa remaja awal, anak memiliki dorongan kuat dalam beberapa segi. Pertama, mereka mulai menyukai lawan jenis. Ada ketertarikan secara seksual yang sekaligus menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAH Apa yang sudah Anda persiapkan untuk memastikan anakanak memperoleh pendidikan terbaik? membangun kompetensi, tetapi masih lebih mudah dibanding membangun integritas. Menyemangati guru melalui training motivasi memang mudah, tetapi membangun pribadi yang memiliki motivasi intrinsik sangat kuat memerlukan perencanaan serta kesediaan untuk bersabar dan bersungguh-sungguh. Jadi, perhatikan integritas guru dan lembaganya lebih dulu. Baru motivasi guru selaku pengajar, lalu kompetensinya baik dalam bidang yang diajarkan maupun dalam kemampuannya mengajar. Guru yang kurang kompeten, akan mudah mencapai tingkat kemampuan yang diharapkan melalui serangkaian pelatihan, proses pendidikan melalui kursus singkat maupun kuliah, atau kegiatan belajar otodidak jika mereka memiliki motivasi yang sangat kuat. Selebihnya, ada yang perlu kita perhatikan. Jika sekolah dasar berkewajiban meletakkan dasar-dasar pengetahuan agar anak mampu mengembangkan keterampilan belajar di masa-masa berikutnya serta menguasai konsep dasar yang sangat menentukan bagi upaya untuk menguasai ilmu pengetahuan yang lebih lanjut, maka jenjang pendidikan menengah pertama merupakan masa dimana anak-anak perlu mengembangkan diri serta memiliki orientasi belajar yang kuat. Pada masa ini, anak memerlukan figur yang kuat. Anak-anak juga memerlukan dasar-dasar berpenge- dewasa. Pada masa transisi ini mereka memerlukan orientasi seks yang baik, misal melalui pendidikan yang membangun wawasan keluarga sembari pada saat yang sama mereka belajar tentang etika dan aturan mengenai pergaulan dengan lawan jenis. Jika ini tidak kita perhatikan, mereka akan menyibukkan diri dengan hasrat mereka terhadap lawan jenis. Kedua, mereka sedang ingin menunjukkan siapa dirinya. Mereka memerlukan kepercayaan untuk bertanggung jawab sekaligus kesempatan untuk unjuk prestasi. Jika mereka tidak mampu secara akademik, mereka perlu prestasi yang membanggakan di bidang lain. Jika dua-duanya tidak mampu, sementara tidak ada figur yang mereka hormati, maka mereka akan mencari pengakuan melalui kegiatankegiatan negatif seperti tawuran. Ketiga, mereka sedang mempertanyakan nilainilai dasar. Pada saat yang sama, mereka sedang berada pada situasi yang sangat bersemangat untuk menjadi manusia idealis. Inilah masa ketika mereka mulai berani menunjukkan pemberontakan. Dan ini merupakan potensi besar jika ada figur kuat yang berpengaruh pada diri mereka. Di sekolah, gurulah yang harus menjadi figur berpengaruh tersebut! Nah, siapakah guru yang akan mempengaruhi anak Anda?* SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 71
  • 8. | profil keluarga | HAPSA Besarkan 11 Anak dengan Keyakinan Meski memiliki anak hampir selusin, tidak mengurangi aktivitasnya di dunia dakwah dan pendidikan. Bersama suami dia melakoni profesi mengajar, berdakwah, dan membesarkan putra-putri mereka. bertugas di pedalaman dengan gaji tak menentu, sementara Hapsa yang mengajar di Taman Kanak-Kanak dan Madrasah Ibtidaiyah di Pesantren Hidayatullah juga dengan honor ala kadarnya. Ini peluang langka, demikian yang terbersit di benak Hapsa. Hapsa paham bahwa IPB adalah perguruan tinggi negeri yang berkualitas. Dia minta suaminya segera membelikan tiket kapal laut untuk anaknya, agar segera ke Surabaya menyelesaikan berkas-berkasnya. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan Bogor. “Kami pontang-panting mencari S elepas maghrib, beberapa anak berkumpul menyesaki ruang tengah yang diterangi lampu temeram. Mereka mendengarkan nasihat-nasihat dari kedua orang tuanya. Sesekali terdengar gelak tawa. Itulah yang dikenang Hapsa puluhan tahun silam, saat-saat awal berumah tangga. Hapsa adalah pembina sebuah majleis taklim dan pengajar di Taman Kanak-Kanak di Desa Mambulungan Timur, Tarakan, Kalimantan Timur. Dia bersama aktivis dakwah lain bahu membahu membina umat Islam di lingkungannya. Namun, di sela-sela kesibukannya, dan keterbatasan dana, Hapsa pun berhasil juga mengantarkan beberapa anaknya mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Salah satu episode yang tak lekang dalam ingatan Hapsa adalah ketika anak ketiganya lulus tes di Insitut Pertanian Bogor (IPB), enam tahun silam. Gembira sekaligus miris. Sebab, saat itu sang suami hanya seorang guru yang 72 SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/RABIUL AKHIR 1432 dana untuk membiayai anak kami yang mau masuk IPB. Termasuk ketika harus membayar delapan juta rupiah,” kenang Hapsa. Hapsa merefleksikan kecintaannya pada dunia pendidikan dengan mendorong anak-anaknya menapaki jenjang pendidikan. Meski kondisi keuangan terbatas, bagi Hapsa, pendidikan tetap sesuatu yang sangat penting dan utama. Menurut Fajrin, anak laki-laki sulung Hapsa yang sedang menempuh program S2 Sosiologi Politik di Universitas Muhammadiyah Malang, orang tuanya sangat menekankan pentingnya pendiFOTO-FOTO: MUJAHID M. SALBU/SUARA HIDAYATULLAH
  • 9. dikan. “Suatu saat ayah berkata, ‘orang tua tidak memiliki harta yang bisa diwariskan, satu-satunya yang bisa ayah dan ibu wariskan adalah kesempatan untuk menuntut ilmu, maka manfaatkanlah kesempatan itu,’” tutur Fajrin. Saat ini, tiga orang anaknya sedang menempuh pendidikan pasca sarjana (S2). Selain Fajrin, anak ketiganya, Alwi, sedang menuntaskan S2 di IPB Bogor. Dan yang keempat Almi, menempuh S2 di UIKA (Universitas Ibnu Khaldun) Bogor. Anak yang kedua, telah bekerja sebagai analis kesehatan di Laboratorium Daerah di Tarakan, Kalimantan Timur. Yang kelima, anak perempuan yang telah menikah, kini membantu Hapsa sebagai murabbi (pembimbing kelompok pengajian). Sedang anak keenam sedang studi di jurusan Ilmu Syariah, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah Balikpapan. Yang lain, masih duduk di Madrasah Aliyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Ibtidaiyah di Hidayatullah Tarakan. Membesarkan Anak di Tengah Kesibukan Hapsa dilahirkan di kaki Gunung Latimojong, tepatnya di Desa Barakka, Enrekang, Sulawesi Selatan, 15 Juni 1965. Dari pernikahannya dengan Rustam (52 tahun), dia dikaruniai 7 putra dan 4 putri. Sebelum berlabuh di Tarakan, Hapsa bersama suami sempat merasakan kehidupan di negeri jiran, Malaysia, dengan bekerja sebagai pedagang “Kami sempat memiliki mobil dan rumah di Malaysia. Tetapi, entah mengapa, bapak tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan segera pulang ke Tarakan, tempat ibu saya,” ujar Hapsa menuturkan. Di Tarakan, dia bersua kembali bersama ibunya yang menetap di Pesantren Hidayatullah, di Desa Mambulungan Timur, Karungan. Pada tahun 1987, Hapsa diminta untuk mengelola Taman Kanak-Kanak (TK) yang baru dibuka. Sedangkan suaminya menjadi petani tambak milik seorang pengusaha. Namun, akhirnya sang suami mengikuti jejak Hapsa mengabdikan diri sebagai guru di sebuah sekolah di pinggiran kota. Untuk sampai ke Sekolah Dasar “Dulu, saat berangkat ke pengajian, saya harus membawa anakanak yang masih kecil karena tidak ada yang menjaga di rumah,” 032 Tanjung Batu tempat Rustam mengajar, dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Guna memangkas jarak, suaminya harus melewati hutan. Tongkat dan parang pun tak lepas dari tangannya untuk meretas jalan. “Alhamdulillah, sekarang sudah ada motor sehingga bapak tidak jalan kaki lagi,” ujar Hapsa. Sebagai seorang guru, kini Hapsa mendapat gaji sebesar 750 ribu rupiah, suaminya yang terdaftar sebagai pegawai negeri sipil mendapat gaji sekitar 2 juta rupiah lebih. Kini, Hapsa juga memiliki tambak yang bisa dipanen setiap tiga bulan. Dari gaji dan tambak itulah Hapsa menopang kehidupan rumah tangganya. Selain sebagai guru, Hapsa juga menjadi pembina Majelis Taklim AlMuhajirat yang dibentuk pada 2007. Kurikulum pembinaannya merujuk pada metode Gran MBA (Gerakan Mengajar dan Belajar al-Qur‘an), yakni pola pengajaran al-Qur‘an yang dikembangkan ormas Hidayatullah. Salah satu program Al-Muhajirat yang tengah berjalan adalah, pengajian dari RT ke RT di Desa Mambulungan Timur. Para murabbi berasal dari Muslimat Hidayatullah dan ibu-ibu yang telah dianggap mampu menjadi murabbi. Kecintaannya pada dunia pendidikan dan dakwah melekat kuat dalam jejak-jejak perjalanan hidup Hapsa. Meski harus merawat dan membesarkan anak-anak, Hapsa tetap melakoni kegiatan belajar-mengajar, juga berdakwah. “Dulu, saat berangkat ke pengajian, saya harus membawa anakanak yang masih kecil karena tidak ada yang menjaga di rumah,” kenang Hapsa. Dengan rutinitas sebagai guru yang setiap pagi harus ke sekolah, Hapsa tidak dapat menyiapkan segala sesuatunya bagi anak-anak. Namun, kondisi ini malah membentuk sikap mandiri pada anak-anaknya. “Kami harus antri kamar mandi setiap pagi, sarapan dan menyiapkan pakaian sendiri, kami hanya berkumpul setiap habis maghrib, (untuk) sekadar bersenda gurau atau mendengarkan nasihat-nasihat dari orang tua,” ujar Fajrin. Keyakinan, keteguhan dan kesabaran menjadi kata kunci bagi wanita ramah ini dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Secara logika, dengan 11 orang anak, tentu membutuhkan kesiapan mental untuk menghadapi beragam karakter anak. Dari sisi ekonomi, Hapsa dan suami harus memutar otak guna memenuhi kebutuhan anak-anak, termasuk kebutuhan pendidikan. “Saya yakin, anak-anak itu masing-masing ada rezekinya. Dan itu saya rasakan setiap kali mereka butuh, ada saja jalan untuk memenuhi kebutuhannya,” kata Hapsa. Dalam membentuk kepribadian anak-anaknya, Hapsa dan suami menekankan pentingnya shalat berjamaah. Untuk hal ini, suami Hapsa agak keras dan tegas pada anak-anaknya, khususnya yang putra. Tidak boleh ada yang luput berjamaah saat azan dikumandangkan. “Shalat yang mengubah pribadi seseorang. Semuanya dimulai dari shalat,” ujan Rustam berpesan kepada anak-anaknya.* Mujahid M. Salbu/Suara Hidayatullah SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/RABIUL AKHIR 1432 73
  • 10. | konsultasi | diasuh oleh Ustadz Hamim Thohari Istinja’ dengan Kertas Tisu Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan pergi ke luar negeri. Perjalanan yang panjang memaksa saya harus buang air besar di pesawat. Terus terang, mungkin karena belum terbiasa, saya merasa kurang nyaman menggunakan kertas tisu sebagai pembersih kotoran. Hal yang sama saya alami ketika di hotel dan di gedung-gedung modern. Untuk kali ini saya benarbenar terpaksa, apalagi setelah itu saya masih harus menjalankan ibadah shalat. Pertanyaan saya, apakah istinja’ (membersihkan kotoran yang keluar dari dua lubang) dengan kertas tisu itu diperbolehkan syariat? Apakah pembolehannya bersifat umum, atau hanya dalam keadaan darurat saja. Mohon penjelasan Ustadz. BS – Bekasi 109876543210987654321098765432121098765432109876543210987654321 109876543210987654321098765432121098765432109876543210987654321 109876543210987654321098765432121098765432109876543210987654321 Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh Di beberapa gedung modern, baik hotel, mall, maupun tempat-tempat perbelanjaan untuk kalangan atas banyak yang menyediakan toilet kering. Di tempat seperti itu biasanya tidak menyediakan air untuk membersihkan kotoran. Sebagai penggantinya, disediakan tisu yang cukup. Demikian halnya di pesawat terbang. Bagi yang belum terbiasa menggunakan tisu untuk membersihkan kotoran tersebut tentu sangat mengganggu perasaan maupun pikiran. Ada perasaan kurang bersih, bahkan timbul perasaan risih. Sebenarnya, perilaku ini juga dilakukan sebagian masyarakat pedesaan. Para petani dan penggembala yang hari-harinya di hutan dan jauh dari air, ketika buang air besar pun terpaksa membersihkannya dengan batu atau daun-daun kering. Kebiasaan ini sudah terjadi berabad-abad yang lampau hingga sekarang. Bahkan di zaman Nabi Muhammad, banyak di antara para sahabat yang melakukannya. Mereka 74 SUARA HIDAYATULLAH | JUNI 2011/JUMADIL AKHIR 1432 membersihkan kotorannya dengan batu, kayu, atau benda-benda kering lainnya. Islam sebagai agama rahmat (kasih sayang) tidak memberatkan penganutnya. Boleh-boleh saja bagi kaum Muslimin membersihkan kotorannya dengan benda-benda kering, termasuk dengan tisu, baik karena alasan terpaksa maupun disengaja. Baik karena alasan kesehatan, seperti takut tersentuh air, takut kedinginan, atau khawatir lantai kamar mandinya licin yang dapat mengganggu keselamatannya. Atau demi alasan keselamatan, seperti di atas pesawat terbang. Dalam hal ini Allah menegaskan,”Allah tidak membebani kecuali atas kemampuannya...” (Al Baqarah [2]: 286) Dan ditegaskan lagi dalam ayat yang lain, “...Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu...” (Al Baqarah [2]: 185) Tentu saja tetap ada syarat-syaratnya. Pertama, alat yang digunakan itu kering, tidak basah. Bisa batu kering, tanah kering, kayu yang sudah mengering, atau daundaun kering, juga tisu kering. Kedua, benda-benda tersebut bersifat menyerap. Benda-benda yang disebutkan sebelumnya telah cukup memenuhi persyaratan ini. Ketiga, dilakukan berulang-ulang sampai bersih. Ada yang mensyaratkan minimal tiga kali. Yang dimaksudkan tiga kali di sini adalah membersihkan kotoran sampai kering dan tidak keluar lagi, itu dihitung sekali walaupun dilakukan beberapa kali. Lalu diulang dua kali lagi hingga yakin benar-benar telah bersih. Catatan kami, mengkombinasikan dua cara istinja’ yaitu menggunakan benda padat dan kering lalu diikuti dengan mengguyurkan air secukupnya tentu lebih sempurna. Kesempurnaan ini akan membawa dampak positif terhadap ibadah kita, terutama shalat. Salah satu syarat sah shalat adalah bersih pakaian, bersih badan, dan bersih tempatnya. Dan Allah pun berfirman,”... Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah [2]:222). Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai.*