Kerajaan Pasai, Aceh, Malaka (TUGAS SEJARAH KELAS XI IPS4 SMA NEGERI 1 BINTAN)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Kerajaan Pasai, Aceh, Malaka (TUGAS SEJARAH KELAS XI IPS4 SMA NEGERI 1 BINTAN)

on

  • 4,869 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,869
Views on SlideShare
4,868
Embed Views
1

Actions

Likes
1
Downloads
77
Comments
1

1 Embed 1

http://www.slideee.com 1

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kerajaan Pasai, Aceh, Malaka (TUGAS SEJARAH KELAS XI IPS4 SMA NEGERI 1 BINTAN) Presentation Transcript

  • 1. TUGAS SEJARAH SMA NEGERI 1 BINTAN KELAS IX IPS 4 PERKEMBANGAN KESULTANAN ISLAM DI INDONESIA
  • 2. NAMA ANGGOTA KELOMPOK • • • • • • ANISA DWI HIDAYATI INTAN HANDAYANI NUR AZILA RAISYAH TRI ANGGRAYANI DHAMAS WAHYU RUFMANA NANDA ADITYA • KELAS : IX IPS4
  • 3. 1. KESULTANAN SAMUDERA PASAI (1285 M) Agama Islam merupakan Agama yang diturunkan dari langit kepada utusan yang terakhir diutus kepada umat manusia secara keseluruhan yaitu Nabi Muhammad Shallahu’alaihi wa sallam. Dengan cepat Agama Islam yang awalnya berkembang di kota Mekah dan Madinah menyebar ke seluruh dunia, pada masa khalifah Umar (pemimpin besar / pusat seluruh daerah Islam) berhasil meruntuhkan kerajaan yang menguasai separuh bumi yaitu kerajaan Romawi dan Persia. Setelah seluruh kerajaan Persia runtuh dan setengah dari kerajaan Romawi runtuh, maka dengan cepat Agama Islam menyebar ke seluruh dunia, hingga akhirnya di Indonesia, tepatnya di daerah Aceh utara berdiri kerajaan Islam Samudra Pasai. Kerajaan / kesultanan ini dipimpin pertama kali oleh sutan Malik as-Saleh. Tahun berdirinya kerajaan ini diperkirakan oleh para ahli sejarah sekitar tahun 1267. Kesultanan Samudra pasai ini juga dikenal pada masa itu dengan nama Samudera Darussalam. Kemudian Sultan Malik as-Saleh akhirnya wafat pada tahun 696 Hijriah (kalender Arab) atau 1297 Masehi. Setelah wafatnya Sultan Malik as-Saleh kemudian posisi sultan dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir. Sultan Muhammad Malik az-Zahir kemudian memerintah kerajaan / kesultanan Samudra pasai, pada pemerintahan-nya di sektor ekonomi / perdagangan penggunaan koin emas sebagai mata uang semakin dikampanyekan untuk digunakan oleh masyarakat.
  • 4. Dan pada pemerintahan-nya kesultanan samudra Pasai semakin berkembang dan menjadi salah satu kawasan perdagangan pasa masa itu dan sekaligus menjadi tempat untuk pengembangan dakwah agama Islam ke seluruh tanah Sumatra dan kemudian seluruh nusantara. Sehingga dengan perkembangan dakwah yang cukup pesat pada pemerintahan sultan Muhammad Malik az-Zahir, sehingga di masa mendatang bermunculan kerajaan yang menganut agama Islam. Sekitar tahun 1326 sultan Muhammad Malik az-Zahir wafat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Ahmad Malik az-Zahir. Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kesultanan / kerajaan Samudra Pasai diserang oleh kerajaan Majapahit sekitar antara tahun 1345 dan 1350, sehingga terpaksa sultan harus menyelamatkan diri keluar dari Ibu kota kerajaan. Dan setelah beberapa lama dari kejadian tersebut, Sultan Ahmad Malik az-Zahir sudah tidak memerintah kerajaan samudra pasai, akibat dari serangan kerajaan majapahit tersebut.
  • 5. Beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Samudra Pasai, yaitu pemberontakan yang dilakukan sekelompok orang yang ingin memberontak kepada pemerintahan kerajaan Samudra Pasai. Sehingga karena pemberontakan ini, menyebabkan beberapa pertikaian di Kerajaan Samudra Pasai, Sehingga terjadilah perang saudara yang membuat pertumpahan darah yang sia-sia. Untuk mengatasi hal ini, Sultan Kerajaan Samudra Pasai waktu itu melakukan sesuatu hal yang bijak, yaitu meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk segera menengahi dan meredam pemberontakan yang menumpahkan darah dengan sia-sia tersebut. Penyebab besar dari runtuhnya kerajaan Samudra Pasai adalah setelah diserang oleh pasukan portugis, dan pada tahun 1521 Kerajaan Samudra Pasai runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal. Pasukan Portugal ini juga sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511.
  • 6. 2. KESULTANAN MALAKA (1296 M) Kesultanan Malaka adalah sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Malaka, Malaysia. Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara, kemudian mencapai puncak kejayaan di abad ke 15 dengan menguasai jalur pelayaran Selat Malaka, sebelum ditaklukan oleh Portugal tahun 1511. Kejatuhan Malaka ini menjadi pintu masuknya kolonialisasi Eropa di kawasan Nusantara. Pembentukan negara Malaka disinyalir ada kaitannya dengan perang saudara di Majapahit setelah Hayam Wuruk (1360-89 M) meninggal dunia. Sewaktu perang saudara tersebut, Parameswara, Putra raja Sriwijaya – Palembang turut terlibat karena ia menikah dengan salah seorang putri Majapahit. Parameswara kalah dalam perang tersebut dan melarikan diri ke Tumasik (sekarang Singapura) yang berada di bawah pemerintahan Siam saat itu. Beliau membunuh penguasa Tumasik, yang bernama Temagi dan kemudian menobatkan dirinya sebagai penguasa baru. Persoalan ini diketahui oleh Kerajaan Siam dan memutuskan untuk menuntut balas atas kematian Temagi.
  • 7. Raja/Sultan yang memerintah di Malaka adalah sebagai berikut: 1. Parameswara yang bergelar Muhammad Iskandar Syah (1402—1414) 2. Megat Iskandar Syah (1414—1424) 3. Sultan Muhammad Syah (1424-1444) 4. Sri Parameswara Dewa Syah (1444—1445) 5. Sultan Mudzaffar Syah (1445—1459) 6. Sultan Mansur Syah (1459—1477) 7. Sultan Alauddin Riayat Syah (1477—1488) 8. Sultan Mahmud Syah (1488—1551) Setelah Parameswara masuk Islam, ia mengubah namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah pada tahun 1406, dan menjadi Sultan Malaka I. Kemudian, ia kawin dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Pasai. Pada tahun 1414 Parameswara wafat dan digantikan putranya, Megat Iskandar Syah. Ia memerintah selama 10 tahun, dan kemudian digantikan oleh Muhammad Syah. Putra Muhammad Syah yang kemudian menggantikannya adalah Raja Ibrahim (Sri Parameswara Dewa Syah) yang tidak menganut Islam. Namun masa pemerintahannya hanya 17 bulan, dan dia mangkat karena terbunuh pada 1445. Saudara seayahnya, Raja Kasim, kemudian menggantikannya dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah atau Sultan Malaka V. Di bawah pemerintahan Sultan Mudzaffar Syah, Malaka melakukan ekspansi di Semenanjung Malaya dan pantai timur Sumatera (Kampar dan Indragiri). Di kemudian hari secara politik, Kesultanan Malaka membangun hubungan yang baik namun hati-hati dengan Jawa (Majapahit) maupun Siam.
  • 8. Pada masa pemerintahan raja berikutnya yang naik tahta pada tahun 1459, Sultan Mansur Syah (Sultan Malaka VI), Malaka menyerbu Kedah dan Pahang, dan menjadikannya negara vassal. Di bawah sultan yang sama Johor, Jambi, Siak dan kepulauan Riau-Lingga juga takluk. Dengan demikian Malaka mengendalikan sepenuhnya kedua pesisir yang mengapit Selat Malaka. Jatuhnya Siak dibawah pengaruh Malaka mengakibatkan Malaka dapat mempengaruhi perdagangan emas di hampir seluruh semenanjung Melayu. Mansur Syah berkuasa sampai mangkatnya pada 1477. Dia digantikan oleh putranya Alauddin Riayat Syah. Sultan memerintah selama 11 tahun, saat dia meninggal dan digantikan oleh putranya Sultan Mahmud Syah.
  • 9. 3. Kesultanan aceh (1514 M) Kesultanan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan dari Samudera Pasai yang pada tahun 1360 ditaklukkan oleh Majapahithingga kemundurannya di abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain. Pada awal abad ke-16, Aceh masih menjadi bawahan kerajaan Pidie.Status kesultanan penuh baru di peroleh Aceh pada masa pemerintahan Sultan Ali Muhqayat Syah(1514-1528) Aceh melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pidie ,dan Sultan Ali menggabungkan dua Kerajaan Aceh Dar al-Kamal dan Lamuri menjadi Kesultanan Aceh. Ali Muqhayat Syah Dibawah Sultan Ali Kesultanan Aceh memperluas daerah ke Utara menaklukan Pidie,Pasai,dan Daya,sementara yang ada di daerah Selatan diperluas hingga di perbatasan Minangkabau .Dalam ekspedisinya Kesultanan Aceh biasa menggunakan pasukan dari Turki,Arab,Abesinia(sekarang Ethiopia). Keberhasilan militer juga mendorong perekonomian Aceh.Jatuhnya Malaka ke Tangan Portugis Pada tahun 1511 menjadikan Aceh menjadi Pelabuhan Utama di kawasan itu.banyak pedagang Muslim dari mancanegara dan nusantara datang untuk memperoleh rempah-rempah di selat malaka.
  • 10. MASA KEEMASAN ACEH Ali Muqhayat Syah digantikan oleh Alauddin Riayat Syah ia melakukan perluasan kekuasaan ke daerah barat atau ke Barus akan tetapi terjadi pertikaian di istana sampai sang sultan mati pertikaian baru bisa dihentikan saat Ali Riayat Syah menjadi sultan untuk periode (1586-1588). Pengganti Ali Riayat Syah adalah Iskandar Muda,puncak kejayaan ada di masa pemerintahan dia ia menaklukan Deli pantai timur sumatra,lalu melakukan ekspansi ke malaysia tapi baru sampai Pahang. ia membuat sistem uleebalang (pejabat Kesultanan)dan mukim sejumlah uleebalang mendapatkan hadiah mukim sebuah desa yang dipimpin oleh seorang ulama. Untuk memperkuat kedudukan dan wibawanya ia menjalin persahabatan dengan Imperium Ottoman Turki yang merupakan kerajaan yang paling tinggi di Islam dan menjalin persahabatan dengan Louis XIII dengan mengirim sebuah surat dan lada dalam jumlah besar. Perang Aceh Perang Aceh adalah perang terlama bagi Belanda dalam upayanya menguasai kepualuan nusantara. Berakhirnya perang tidak langsung memadamkan perlawanan orang Aceh sampai keruntuhan Hindia Belanda pada Tahun 1942 Pada tahun 1870,Belanda hampir menguasai seluruh kerajaan besar di nusantara, kecuali Aceh. Belanda terikat Traktat London dengan Inggris, yang harus membiarkan Aceh tetap merdeka.Menjelang akhir abad ke-19, keadaan Internasional langsung mengubah Status quo yang menguntungkan Aceh tersebut.