• Save
Sistem sosial budaya indonesia   diktat
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Sistem sosial budaya indonesia diktat

on

  • 9,516 views

Describe about culture and system of Indonesia in Communication Perspectif

Describe about culture and system of Indonesia in Communication Perspectif

Statistics

Views

Total Views
9,516
Views on SlideShare
9,512
Embed Views
4

Actions

Likes
11
Downloads
66
Comments
4

3 Embeds 4

http://www.facebook.com 2
http://www.slashdocs.com 1
http://www.docshut.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Sistem sosial budaya indonesia   diktat Sistem sosial budaya indonesia diktat Document Transcript

  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 DIKTAT SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA OLEH: ANGEL PURWANTI S.SOS., M.I.Kom NANA JUANA S.Sos UNIVERSITAS PUTERA BATAM
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telahmemberikan Rahmat dan Anugerah-Nya yang begitu besar sehingga diktat mata kuliahSistem Sosial Budaya Indonesia ini dapat berjalan dan terselesaikan dengan baik. Diktat ini dimaksudkan untuk memenuhi sebahagian syarat-syarat atau sebagaisatu kewajiban staf pengajar dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi danpengabdian ini memenuhi Tri Dharma pada Universitas Putera Batam. Diktat ini ditujukan untuk Mahasiswa Universitas Putera Batam, khususnya jurusan Sosial sepertiprodi Komunikasi, prodi Hukum dan prodi Ilmu Administrasi Negara. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan diktat ini terdapatbanyak kekurangan, untuk itu mohon masukannya agar diktat ini terlihatsempurna. Batam, 28 Mei 2010 Penulis
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 PERSEMBAHAN “Selalu ada Kesempatan jika ada Kemauan” -UnAuthor-
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 DAFTAR ISIHALAMAN PERSEMBAHANKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENGENALAN ILMU DAN SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA 1.1 Definisi ilmu 1.2 Sifat-sifat Ilmu 1.3 Mengapa Ilmu Hadir? 1.4 Bagaimanakah Manusia Mendapatkan Ilmu 1.5 Dengan apa manusia memperoleh memelihara dan meningkatkan ilmu 1.6 Tiga pendapat mengenai pendefinisian ilmu dan pengetahuan 1.7 Sistem Sosial Budaya IndonesiaBAB II KAITAN SSBI DENGAN SOSIOLOGI DAN ATROPOLOGI 2.1 Pengertian Sosiologi 2.2 Definisi Antropologi 2.3 Pengertian Sistem 2.4 Pengertian Sistem Sosial Budaya
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 2.5 Sistem Sosial Budaya IndonesiaBAB III KEDUDUKAN BUDAYA DAN SENI DALAM MASYARAKAT 3.1 Pengertian Budaya dan Kebudayaan 3.2 Unsur-unsur Kebudayaan 3.3 Wujud Kebudayaan 3.4 Kebudayaan Sebagai Peradaban 3.5 Sistem KebudayaanBAB IV KOMPONEN KEBUDAYAAN 4.1 Dua Komponen Kebudayaan 4.2 Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial 4.3 Bahasa dan Sistem Kepercayaan 4.5 Proses Sosial dan Agen SosialBAB V NORMA-NORMA DALAM MASYARAKAT 5.1 Elemen-elemen Masyarakat 5.2 Norma-norma Dalam Masyarakat 5.3 Lembaga Sosial 5.4 Group SosialBAB VI RELATIVISME BUDAYA DAN PERUBAHAN SOSIAL 6.1 Relativisme Budaya
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 6.2 Perubahan Sosial Budaya 6.3 Penetrasi Budya 6.4 Kebudayaan Sebagai Mekanisme Stabilisasi 6.5 Perilaku Menyimpang 6.6 Asimilasi 6.7 Akulturasi 6.8 NilaiBAB VII SISTEM SOSIAL DALAM PROSES SOSIAL 7.1 Unsur-unsur Sistem dan Proses Sosial 7.2 Sistem Nilai dan Stratifikasi Sosial 7.3 Interaksi-Komunikasi SosialBAB VIII KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT 8.1 Sekilas Tentang Kepemimpinan 8.2 Pengertian kepemimpinan 8.3 Teori Lahirnya Kepemimpinan 8.4 Tipe-tipe Pemimpin 8.5 Sifat-sifat Pemimpin Yang BaikBAB IX MOBILITAS SOSIAL 9.1 Pengertian Mobilitas Sosial 9.2 Cara-cara Melakukan Mobilitas Sosial 9.3 Lima Bentuk Mobilitas Sosial
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 9.4 Faktor Yang Mempengaruhi Mobilitas Sosial 9.5 Saluran Dan Dampak Mobilitas Sosial 9.6 Dampak Mobilitas SosialBAB X NORMA SOSIAL DAN PERILAKU KOMUNIKASI 10.1 Pengertian Kontrol Sosial 10.2 Gerakan Reformasi 10.3 Sarana Kontrol Sosial 10.4 Pesan Moral Kontrol Sosial 10.5 Jenis dan Macam-macam NormaBAB XI PERAN KOMUNIKASI DALAM PROSES SOSIAL 11.1 Komunikasi Sebagai Proses Perubahan 11.2 Hakikat Komunikasi Sebagai Proses Sosial 11.3 Komunikasi dan Perubahan Sosial 11.4 Komunikasi Sebagai Proses Sosial 11.5 Komunikasi sebagai Proses budaya 11.6 Unsur Budaya Didalam Proses Komunikasi 11.7 Komunikasi Didalam Sistem Politik 11.8 Komunikasi Sebagai Proses PolitikBAB XII PERAN MEDIA LOKAL DALAM MASYARAKAT MULTIBUDAYA 12.1 Budaya Lokal dan Kehidupan Bermasyarakat
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 12.2 Film dan Budaya Lokal 12.3 Kendala Penyebaran Informasi di IndonesiaBAB XIII KEPEMIMPINAN MASYARAKAT ADAT 13.1 Kepemimpinan Masyarakat Adat 13.2 Konsep Kepemimpinan Tradisional 13.3 Perubahan Pola Kepemimpinan Masyarakat Adat 13.4 Pola KepemimpinanDAFTAR GAMBARDAFTAR PUSTAKA
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 DAFTAR GAMBAR 1. Gambar 1. Belajar 2. Gambar 2. Peta Wilayah Indonesia 3. Gambar 3. Skema Sistem 4. Gambar 4. Tari Pendet, berasal dari Bali 5. Gambar 5. Olah Raga, Bentuk dari komunikasi Sosia 6. Gambar 6. Sukarno, Pemimpin Berkharismatik 7. Gambar 7. Facebook, Contoh Dari Kontrol Sosial
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB I PENGENALAN ILMU DAN SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA1.1 DEFINISI ILMU a) AsianBrain.com Content Team Definisi Ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukumsebab-akibat dalam suatu golongan masalah yang sama sifatnya, baik menurutkedudukannya (apabila dilihat dari luar), maupun menurut hubungannya (jikadilihat dari dalam). b) Mohammad Hatta: Definisi ilmu dapat dimaknai sebagai akumulasi pengetahuan yangdisistematisasikan---Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruhdunia empiris. Ilmu dapat diamati panca indera manusia---Suatu caramenganalisis yang mengizinkan kepada para ahlinya untuk menyatakan -suatuproposisi dalam bentuk: "jika,...maka..." c) Harsojo (Guru Besar Antropolog, Universitas Pajajaran) Definisi ilmu bergantung pada cara kerja indera-indera masing-masingindividu dalam menyerap pengetahuan dan juga cara berpikir setiap individudalam memproses pengetahuan yang diperolehnya. Selain itu juga, definisi ilmubisa berlandaskan aktivitas yang dilakukan ilmu itu sendiri. Kita dapat melihat halitu melalui metode yang digunakannya.1.2 SIFAT-SIFAT ILMU Dari definisi yang diungkapkan Mohammad Hatta dan Harjono di atas,kita dapat melihat bahwa sifat-sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuanmengenai suatu bidang tertentu yang mencakup:.  Berdiri secara satu kesatuan,
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10  Tersusun secara sistematis,  Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data),  Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.  Communicable, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat dimengerti dan dipahami maknanya.  Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku di mana saja dan kapan saja di seluruh alam semesta ini.  Berkembang, ilmu sebaiknya mampu mendorong pengetahuan- pengatahuan dan penemuan-penemuan baru. Sehingga, manusia mampu menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari sebelumnya. Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa tidak semua pengetahuandikategorikan ilmu. Sebab, definisi pengetahuan itu sendiri sebagai berikut:Segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas panca indera untukmengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak adakeraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh, luas, dan dalamdari pengetahuan.1.3 MENGAPA ILMU HADIR? Pada hakekatnya, manusia memiliki keingintahuan pada setiap hal yangada maupun yang sedang terjadi di sekitarnya. Sebab, banyak sekali sisi-sisikehidupan yang menjadi pertanyaan dalam dirinya. Oleh sebab itulah, timbulpengetahuan (yang suatu saat) setelah melalui beberapa proses beranjak menjadiilmu1.4 BAGAIMANAKAH MANUSIA MENDAPATKAN ILMU?
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sempurna, yaitudilengkapi dengan seperangkat akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran inilah,manusia mendapatkan ilmu, seperti ilmu pengetahuan sosial, ilmu pertanian, ilmupendidikan, ilmu kesehatan, dan lain-lain. Akal dan pikiran memroses setiappengetahuan yang diserap oleh indera-indera yang dimiliki manusia.1.5 DENGAN APA MANUSIA MEMPEROLEH, MEMELIHARA, DAN MENINGKATKAN ILMU? Pengetahuan kaidah berpikir atau logika merupakan sarana untukmemperoleh, memelihara, dan meningkatkan ilmu. Jadi, ilmu tidak hanya diam disatu tempat atau di satu keadaan. Ilmu pun dapat berkembang sesuai denganperkembangan cara berpikir manusia. Gambar 1. Belajar1.6 TIGA PENDAPAT MENGENAI PENDEFINISIAN ILMU DAN PENGETAHUAN: Pengetahuan itu tidak bisa didefinisikan, karena pengetahuan itu bersifatgamblang dan aksiomatik. Dan pendefinisian bagi perkara-perkara yang gamblangdan aksiomatik adalah hal yang mustahil (yakni akan terjadi daur atau lingkaransetan). Untuk menegaskan kegamblangan ilmu dan pengetahuan itu bisa berpijakpada beberapa hal: i. Pengetahuan itu sendiri merupakan perkara-perkara kejiwaan dan kefitraan. Dan Setiap perkara kefitraan dan kejiwaan itu bersifat aksiomatik dan badihi. ii. Pengetahuan yang mutlak bersumber dari pengetahuan yang khusus dan terbatas seperti pengetahuan manusia pada wujudnya sendiri yang bersifat
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 aksiomatik. Dan pengetahuan yang berasal dari hal-hal yang aksiomatik adalah juga bersifat aksiomatik dan gamblang. iii. Apabila pengetahuan itu bisa didefinisikan, maka akan berkonsekuensi pada kemustahilan pengetahuan manusia terhadap realitas bahwa “ia mengetahui sesuatu”, yakni pengetahuan manusia itu sendiri pertama-tama harus didefinisikan, barulah kemudian ia memahami bahwa dirinya memiliki pengetahuan terhadap sesuatu. Hal ini mustahil, karena keberadaan pengetahuan bagi manusia adalahbersifat fitri dan pengetahuan kepada perkara fitrawi ialah hal yang mungkin,yakni tidak butuh kepada definisi sebelumnya. Dengan demikian, ilmu manusia,tanpa pendefinisian sebelumnya, kepada realitas bahwa “ia memahami sesuatu”ialah bersifat mungkin. Pengetahuan manusia bahwa “ia mengetahui sesuatu” adalah ilmukepada “hubungan zatnya dengan ilmu”, dan ilmu kepada “hubungan suatuperkara kepada perkara lain” ialah bergantung atas ilmu pada salah satu darisubjek dan predikatnya. Pengetahuan itu bisa didefinisikan, namun sangat sulit. Pengetahuan itu mudah didefinisikan. Di sini kami tidak akan menyebutkan semua definisi yang telah digagasdan dirumuskan oleh para filosof dan teolog muslim. Untuk lebih luasnyawawasan dalam pembahasan definisi ilmu dan pengetahuan silahkan merujukpada kitab-kitab filsafat dalam bab pengetahuan. Di bawah ini kami hanya akanmenyebutkan beberapa definisi yang mayoritas diterima oleh kalangan filosof:a) Pengetahuan didefinisikan sebagai pencerminan objek-objek eksternal di alam pikiran. Dalam kitab klasik ilmu logika, pengetahuan itu didefinisikan sebagai suatu gambaran objek-objek eksternal yang hadir dalam pikiran manusia. Definisi ini juga disepakati oleh sebelas orang filosof dan ilmuwan Rusia.b) Pengetahuan didefinisikan sebagai sejenis kesatuan wujud antara ‘âqil (intelligent) dan ma’qûl (intellected)
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10c) Pengetahuan didefinisikan sebagai kehadiran sesuatu yang nonmateri pada maujud yang nonmateri (jiwa) jugad) Pengetahuan didefinisikan sebagai “keyakinan pasti” yang sesuai dengan realitas eskternale) Pengetahuan adalah sesuatu yang menyatu dengan perbuatan (dan sangat mungkin perbuatan yang terpancar dari pengetahuan itu adalah lebih kuat dan lebih pasti)f) Pengetahuan merupakan hubungan khusus yang terwujud antara subjek (‘âlim) dan objek-objek eksternal (ma’lûm)g) Pengetahuan diartikan sebagai kehadiran bayangan dari objek-objek eksternal di alam pikiranh) Pengetahuan didefinisikan sebagai cahaya dan kehadirani) Pengetahuan didefinsikan sebagai “wujud itu sendiri”j) Pengetahuan didefinisikan sebagai kehadiran objek pengetahuan (ma’lûm) pada subjek yang mengetahui (‘âlim)k) Pengetahuan didefinisikan sebagai “keyakinan tetap” yang sesuai dengan realitas1.7 SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Sistem Sosial Budaya Indonesia mendeskripsikan tentang pengertianSistem Sosial Budaya, pengertian pranata sosial, budaya dan masyarakatIndonesia, karakter dan pendekatan sistem sosial budaya, karakter masyarakat,pluralisme sebagai realitas objektif masyarakat Indonesia, faktor-faktor penentuSistem Sosial Budaya Indonesia. Ditelaah pula teori-teori teori-teori sistem sosial budaya, realitas hubungansistem sosial budaya dengan lingkungan, pengaruh adat istiadat dan kebudayaanterhadap struktur sosial Indonesia. Pada sisi lain, dalam kuliah Sistem sosial
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10budaya sekaligus menyoroti keragaman (kemajemukan) suku bangsa dan agamadalam masyarakat Indonesia. Tentu kondisi plural tidak terlepas dari ma-salah perbedaan, pertentangan,perselisihan dan konflik yang dihadapi bangsa Indonesia se-bagai negaraberkembang. Sistem sosial dan budaya demikian terwujud dalam strukturmasyarakat yang unik, di mana integrasi nasional justeru ditentukan oleh interaksidan kohesi antar kera-gaman sosial budaya. Meskipun tak sedikit pula perkembangan pluralisme menimbulkanmasalah yang mengancam in-tegrasi nasional, namum ada strategi interaksi dankomunikasi sosial budaya untuk memelihara, me-revitalisasi dan mengentaskandisintegritas. Ada pula kaitan kajian sosial budaya dengan per-kembangan strukturorganisasi dan kepartaian di Indonesia, yang nampak kian menembus maknademokratis tanpa batas. Dalam perkembangannya seiring dengan kema-juan teknologi yangsemakin canggih, kebudayaan atau budaya Indonesia semakin tidak di per-ha-tikan keberadaanya, bahkan belakangan ini ba-nyak sekali budaya Indonesia yangdiklaim oleh pihak lain, lantaran mereka tahu kalau pe-miliknya kurang peduli.Padahal Indonesia ada-lah Negara yang kaya, subur dan seharusnya ju-gamakmur, termasuk kemakmuran budaya dan etnis yang beranekaragam. Dari sudut pandang Sistem Sosial dan Budaya di Indonesia, padakenyataannya dalam kurun waktu yang singkat telah banyak unsur-unsur budayayang terlepas dari bingkainya, terjadi pengikisan makna budaya di mana-manadan telah terjadi penyimpangan-penyimpangan dari kemurnian Sistem Sosial danBudaya Indonesia. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tek-nologi,khususnya teknologi informasi dan ko-munikasi, ternyata telah memperlancar arusma-suknya budaya asing yang tak terkendali. Dalam kondisi terbuka tanpa filter, tanpa prinsip yang kuat, rendahnyasosialisasi, tanpa peme-liharaan nilai-nilai budaya, dan rendahnya kepe-dulianterhadap pelestarian budaya nasional, maka budaya bangsa ini akan tergilas dan
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10punah. Bukan bangsa lain yang harus dipersalahkan, akan tetapi bangsa sendiriyang tidak menjaga nilai-nilai luhur kebudayaannya. Jika kondisi ini dibiarkan berlanjut, maka bangsa Indonesia akankehilangan jatidirinya sebagai negara yang kaya raya akan budayanya. Olehkarena itu, pentingnya mengikuti mata kuliah sistem sosial dan budaya Indonesiaini agar generasi muda dapat mengenal, mengetahui dan memahami lebih dalamtentang pentingnya melestarikan ciri khas budaya bangsa ini. Setelah mengikutimatakuliah Sistem Sosial Bu-daya Indonesia ini, mahasiswa mampu menge-naldan mengidentifikasi berbagai masalah yang timbul di dalam proses pembangunandi Indo-nesia. Paling tidak secara umum mengeta-hui dan memahami bahwa Indonesiamempu-nyai paling banyak ragam budaya dengan pen-duduk yang terdiri dariberbagai suku bangsa/ etnis. Kekayaan budaya dan suku bangsa meru-pakan salahsatu kebanggaan Indonesia, oleh ka-rena itu agar tak luntur oleh infiltrasi budayaasing, maka anak bangsa ini amat perlu me-mahaminya dengan mempelajari danmema-hami sistem sosial budaya Indonesia. Gambar 2. Peta Wilayah Indonesia
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB II KAITAN SSBI DENGAN SOSIOLOGI & ANTROPOLOGI2.1 PENGERTIAN SOSIOLOGI Sosiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata socius dan logos, di mana sociusmemiliki arti kawan/teman dan logos berarti kata atau berbicara. Beberapa ahli memilikibeberapa definisi antara lain 1. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial,termasuk perubahan-perubahan sosial. 2. Emile Durkheim Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yangmengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di manafakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu. 3. Pitirim Sorokin Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balikantara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejalamoral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balikantara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmuyang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain. 4. J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proseskemasyarakatan yang bersifat stabil. 5. Paul B. Horton Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompokdan produk kehidupan kelompok tersebut.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 102.2 DEFINISI ANTROPOLOGI Antropologi berasal dari kata Yunani, anthropos yang berarti "manusia" atau"orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagaimakhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Beberapa ahli mengungkapkan pendapatnya ,antara lain : a) David Hunter: Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia. b) Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. c) William A. Haviland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. d) Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.2.3 PENGERTIAN SISTEM Sistem berasal dari bahasa Latin dan Yunani, istilah "sistem" diartikan sebagaimenggabungkan untuk mendirikan, untuk menempatkan bersama. Jadi, Sistem adalahkumpulan elemen berhubungan yang merupakan suatu kesatuan. Sistem adalah Suatu
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.System is an organized scheme or method (Sistem adalah kumpulan skema ataumetode). Gambar 3. Skema Sistem2.4 PENGERTIAN SOSIAL BUDAYA Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yangmerupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yangberkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebutculture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisadiartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadangditerjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Beberapa ahli memiliki pendapattentang suatu budaya, seperti : a) Andreas Eppink: kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 b) Edward B. Tylor: kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Perubahan sosial budaya dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontakdengan kebudayaan asing. Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnyastruktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat.2.5 SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Sistem Sosial Budaya Indonesia mendeskripsikan tentang pengertian SistemSosial Budaya, pengertian pranata sosial, budaya dan masyarakat Indonesia, karakterdan pendekatan sistem sosial budaya, karakter masyarakat, pluralisme sebagai realitasobjektif masyarakat Indonesia, faktor-faktor penentu Sistem Sosial Budaya Indonesia.Ditelaah pula teori-teori teori-teori sistem sosial budaya, realitas hubungan sistem sosialbudaya dengan lingkungan, pengaruh adat istiadat dan kebudayaan terhadap struktursosial Indonesia. Pada sisi lain, dalam kuliah Sistem sosial budaya sekaligus menyoroti keragaman(kemajemukan) suku bangsa dan agama dalam masyarakat Indonesia. Tentu kondisiplural tidak terlepas dari masalah perbedaan, pertentangan, perselisihan dan konflik yangdihadapi bangsa Indonesia sebagai negara berkembang. Sistem sosial dan budayademikian terwujud dalam struktur masyarakat yang unik, di mana integrasi nasionaljusteru ditentukan oleh interaksi dan kohesi antar keragaman sosial budaya. Meskipun tak sedikit pula perkembangan pluralisme menimbulkan masalah yangmengancam integrasi nasional, namum ada strategi interaksi dan komunikasi sosialbudaya untuk memelihara, merevitalisasi dan mengentaskan disintegritas. Ada pula kaitankajian sosial budaya dengan perkembangan struktur organisasi dan kepartaian diIndonesia, yang nampak kian menembus makna demokratis tanpa batas.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Dalam perkembangannya seiring dengan kemajuan teknologi yang semakincanggih, kebudayaan atau budaya Indonesia semakin tidak di perhatikan keberadaanya,bahkan belakangan ini banyak sekali budaya Indonesia yang diklaim oleh pihak lain,lantaran mereka tahu kalau pemiliknya kurang peduli. Padahal Indonesia adalah Negarayang kaya, subur dan seharusnya juga makmur, termasuk kemakmuran budaya dan etnisyang beranekaragam. Dari sudut pandang Sistem Sosial dan Budaya di Indonesia, pada kenyataannyadalam kurun waktu yang singkat telah banyak unsur-unsur budaya yang terlepas daribingkainya, terjadi pengikisan makna budaya di mana-mana dan telah terjadipenyimpangan-penyimpangan dari kemurnian Sistem Sosial dan Budaya Indonesia. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologiinformasi dan komunikasi, ternyata telah memperlancar arus masuknya budaya asingyang tak terkendali. Dalam kondisi terbuka tanpa filter, tanpa prinsip yang kuat,rendahnya sosialisasi, tanpa pemeliharaan nilai-nilai budaya, dan rendahnya kepedulianterhadap pelestarian budaya nasional, maka budaya bangsa ini akan tergilas dan punah. Bukan bangsa lain yang harus dipersalahkan, akan tetapi bangsa sendiri yangtidak menjaga nilai-nilai luhur kebudayaannya. Jika kondisi ini dibiarkan berlanjut, makabangsa Indonesia akan kehilangan jatidirinya sebagai negara yang kaya raya akanbudayanya. Oleh karena itu, pentingnya mengikuti mata kuliah sistem sosial dan budayaIndonesia ini agar generasi muda dapat mengenal, mengetahui dan memahami lebihdalam tentang pentingnya melestarikan ciri khas budaya bangsa ini. Dengan mempelajarinya mata kuliah Sistem Sosial Budaya Indonesia ini,mahasiswa diharapkan mampu mengenal dan mengidentifikasi berbagai masalah yangtimbul di dalam proses pembangunan di Indonesia. Paling tidak secara umum mengetahuidan memahami bahwa Indonesia mempunyai paling banyak ragam budaya denganpenduduk yang terdiri dari berbagai suku bangsa/etnis. Kekayaan budaya dan sukubangsa merupakan salah satu kebanggaan Indonesia, oleh karena itu agar tak luntur olehinfiltrasi budaya asing, maka anak bangsa ini amat perlu memahaminya denganmempelajari dan memahami sistem sosial budaya Indonesia.***
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB III KEDUDUKAN BUDAYA DAN SENI DI DALAM MASYARAKAT3.1 PENGERTIAN BUDAYA DAN KEBUDAYAAN3.1.1 Pengertian Budaya Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki artimengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo1993). Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalahsebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial,seni, agama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatukelompok manusia. Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistemgagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yangdijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.3.1.2 Pengertian kebudayaan Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovitsdan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalammasyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilahuntuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satugenerasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. MenurutAndreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,normasosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain,tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatumasyarakat. Menurut EDWARD BURNETT TYLOR, kebudayaan merupakan keseluruhanyang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorangsebagai anggota masyarakat. Menurut SELO SUMARDJAN dan SOELAIMAN SOEMARDI, kebudayaanadalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaanadalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ideatau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan olehmanusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yangbersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalammelangsungkan kehidupan bermasyarakat.3.2 UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atauunsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut: a) Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu: 1. Alat-alat teknologi 2. Sistem ekonomi 3. Keluarga 4. Kekuasaan politik
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 b) Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: 1. Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya. 2. Organisasi ekonomi. 3. Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama). 4. Organisasi kekuatan (politik)3.3 WUJUD KEBUDAYAAN Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan,aktivitas, dan artefak. 1. Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide,gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidakdapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau dialam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan merekaitu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangandan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. 2. Aktivitas (Tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusiadalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosialini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak,serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adattata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamatidan didokumentasikan. 3. Artefak (Karya) Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas,perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketigawujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujudkebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagaicontoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas)dan karya (artefak) manusia.3.4 KEBUDAYAAN SEBAGAI PERADABAN Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang dikembangkan diEropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang "budaya" ini merefleksikanadanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yangdijajahnya. Mereka menganggap kebudayaan sebagai "peradaban" sebagai lawan katadari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapatdiperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture) oleh Edgar Degas. Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang"elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musikklasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yangmengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musikyang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagaimusik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalahorang yang sudah "berkebudayaan". Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya adakebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu danmenjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorangyang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebutsebagai orang yang "tidak berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yanglain." Orang yang "tidak berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamatseringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untukmenekan pemikiran "manusia alami" (human nature).
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antaraberkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dantidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalamansebagai perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan danmenyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakanoleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami"(natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan. Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antarakebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggapbahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalahsama - masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapatdiperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kulturpopuler (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yangdiproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.3.5 SISTEM KEBUDAYAAN Menurut Koentjoroningrat (1986), kebudayaan dibagi ke dalam tiga sistem,pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-istiadat, kedua sistem sosial di manamerupakan suatu rangkaian tindakan yang berpola dari manusia. Ketiga, sistem teknologisebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbatasan jasmaniahnya. Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan adanya sejarahdari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu mempunyai kelompok pendukungyang memiliki fungsi berbeda. Adanya perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahanyang hasil-hasil seninya disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan polatingkah laku dalam konteks kemasyarakatan. Koentjoroningrat mengatakan, Kebudayaan Nasional Indonesia adalah hasilkarya putera Indonesia dari suku bangsa manapun asalnya, yang penting khas danbermutu sehingga sebagian besar orang Indonesia bisa mengidentifikasikan diri danmerasa bangga dengan karyanya.Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemukkarena ia bermodalkan berbagai kebudayaan, yang berkembang menurut tuntutansejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan daerah itu memberikan jawaban
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10terhadap masing-masing tantangan yang member bentuk kesenian, yang merupakanbagian dari kebudayaan. Apa-apa saja yang menggambarkan kebudayaan, misalnya ciri khas : a. Rumah adat Daerah yang berbeda satu dengan daerah lainnya, sebagai contoh cirri khas rumah adat di Jawa mempergunakan joglo sedangkan rumah adat di Sumatera dan rumah adat Hooi berbentuk panggung. b. Alat musik Di setiap daerah pun berbeda dengan alat musik di daerah lainnya. Jika dilihat dari perbedaan jenis bentuk serta motif ragam hiasnya beberapa alat musik sudah dikenal di berbagai wilayah, pengetahuan kita bertambah setelah mengetahui alat musik seperti Grantang, Tifa dan Sampe. c. Seni Tari, Seperti tari Saman dari Aceh dan tari Merak dari Jawa Barat. Gambar 4. Tari Pendet, berasal dari Bali d. Kriya ragam hias Dengan motif-motif tradisional, dan batik yang sangat beragam dari daerah tertentu, dibuat di atas media kain, dan kayu.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 e. Properti Kesenian. Kesenian Indonesia memiliki beragam-ragam bentuk selain seni musik, seni tari, seni teater, kesenian wayang golek dan topeng merupakan ragam kesenian yang kita miliki. Wayang golek adalah salah satu bentuk seni pertunjukan teater yang menggunakan media wayang, sedangkan topeng adalah bentuk seni pertunjukan tari yang menggunakan topeng untuk pendukung. f. Pakaian Daerah. Setiap propinsi memiliki kesenian, pakaian dan benda seni yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. g. Benda Seni. Karya seni yang tidak dapat dihitung ragamnya, merupakan identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia. Benda seni atau souvenir yang terbuat dari perak yang beasal dari Kota Gede di Yogyakarta adalah salah satu karya seni bangsa yang menjadi ciri khas daerah Yogyakarta, karya seni dapat menjadi sumber mata pencaharian dan objek wisata. Kesenian khas yang mempunyai nilai-nilai filosofi misalnya kesenian Ondel- ondel dianggap sebagai boneka raksasa mempunyai nilai filosofi sebagai pelindung untuk menolak bala, nilai filosofi dari kesenian Reog Ponorogo mempunyai nilai kepahlawanan yakni rombongan tentara kerajaan Bantarangin (Ponorogo) yang akan melamar putrid Kediri dapat diartikan Ponorogo menjadi pahlawan dari serangan ancaman musuh, selain hal-hal tersebut, adat istiadat, agama, mata pencaharian, system kekerabatan dan system kemasyarakatan, makanan khas, juga merupakan bagian dari kebudayaan. h. Adat Istiadat. Setiap suku mempunyai adata istiadat masing-masing seperti suku Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut Rambu Tuka. Di Bali adalah adat istiadat Ngaben. Ngaben adalah upacara pembakaran mayat, khususnya oleh mereka yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu Pura ini. Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga. Tak sembarangan orang bisa menindik diri hanya pemimpin suku
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 atau panglima perang yang mengenakan tindik di kuping, sedangkan kaum wanita Dayak menggunakan anting-anting pemberat untuk memperbesar daun telinga, menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga semakin cantik, dan semakin tinggi status sosialnya di masyarakat***
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB IV KOMPONEN KEBUDAYAAN YANG HIDUP DALAM MASYARAKAT INDONESIA4.1 Dua Komponen Kebudayaan Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satutidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujudkebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya(artefak) manusia. Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas duakomponen utama: (Honingmann—Koentjaraningrat 2003:74) 1. Kebudayaan Material Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata,konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkandari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang,stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. 2. Kebudayaan Nonmaterial Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan darigenerasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tariantradisional. Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi). Teknologi merupakan salah satukomponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi,memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalamcara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasakeindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidupdari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut jugasistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu: 1. Alat-alat produktif 2. Senjata 3. Wadah 4. Alat-alat menyalakan api 5. Makanan 6. Pakaian 7. Tempat berlindung dan perumahan 8. Alat-alat transportasi Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya: 1. Berburu dan meramu 2. Beternak 3. Bercocok tanam di ladang 4.Menangkap ikan (Sistem kekerabatan dan organisasi social)4.2 Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial.Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memilikihubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik,paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, adabeberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar.Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti,keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral. Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk olehmasyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yangberfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosialuntuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.4.3 Bahasa dan Sistem Kepercayaan4.3.1 Bahasa Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuksaling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan(bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawanbicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adatistiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinyadengan segala bentuk masyarakat. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum danfungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi,berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkanfungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulansehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untukmengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 104.3.2 Sistem Kepercayaan Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalammenguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan,muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang jugamengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu,baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan darireligi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengankebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare,yang berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalamsejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi danAgama) mendefinisikan Agama sebagai berikut: ... sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpulbersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan halyang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkankebahagiaan sejati. Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti "10 Firman" dalam agamaKristen atau "5 rukun Islam" dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkandalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama jugamempengaruhi kesenian.4.3.3 Agama Samawi Tiga agama besar, Yahudi, Kristen dan Islam, sering dikelompokkan sebagaiagama Samawi atau agama Abrahamik. Ketiga agama tersebut memiliki sejumlah tradisiyang sama namun juga perbedaan-perbedaan yang mendasar dalam inti ajarannya.Ketiganya telah memberikan pengaruh yang besar dalam kebudayaan manusia diberbagai belahan dunia.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 a) Yahudi adalah salah satu agama, yang jika tidak disebut sebagai yang pertama, adalah agama monotheistik dan salah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang. Terdapat nilai-nilai dan sejarah umat Yahudi yang juga direferensikan dalam agama Abrahamik lainnya, seperti Kristen dan Islam. Saat ini umat Yahudi berjumlah lebih dari 13 juta jiwa. b) Kristen (Protestan dan Katolik) adalah agama yang banyak mengubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsuf Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus. Saat ini diperkirakan terdapat antara 1,5 s.d. 2,1 milyar pemeluk agama Kristen di seluruh dunia. c) Islam memiliki nilai-nilai dan norma agama yang banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan sebagian wilayah Asia Tenggara. Saat ini terdapat lebih dari 1,5 milyar pemeluk agama Islam di dunia. (Agama dan filosofi dari Timur)4.3.4 Agni, dewa api agama Hindu Agama dan filosofi seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia.Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China, dan menyebar disepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan migrasi. Hinduisme adalah sumberdari Buddhisme, cabang Mahāyāna yang menyebar di sepanjang utara dan timur Indiasampai Tibet, China, Mongolia, Jepang, Korea dan China selatan sampai Vietnam.Theravāda Buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri Lanka, bagianbarat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.4.3.5 Agama Tradisional Agama tradisional, atau terkadang disebut sebagai "agama nenek moyang",dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika. Pengaruh merekacukup besar; mungkin bisa dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkanmenjadi agama negara, seperti misalnya agama Shinto. Seperti kebanyakan agamalainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10saat bermasalah, tertimpa musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untukkebahagiaan manusia itu sendiri.4.4 Proses Sosial dan Agen Sosialisasi4.4.1 Proses Sosial Lawang, Robert M.Z. (1985--Proses sosialisasi adalah proses mempelajarinorma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkanpartisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, Proses sosialisasiadalah suatu tahapan tahapan dalam pembentukan sikap atau perilaku seorang anaksesuai dengan perilaku atau norma norma dalam kelompok atau keluarga. Proses Sosialisasi Dibagi Menjadi Dua Macam 1. Proses Sosialisasi Primer Proses sosialisasi yang terjadi di lingkungan keluarga. Dalam proses ini diharapkan banyak ditanamkan perilaku positif pada anak anak agar mereka tumbuh dengan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan harapan masyarakat 2. Proses Sosialisi Sekunder Proses sosialisasi yang terjadi di luar lingkungan keluarga dan dapat berlangsung selama hidup seseorang.4.4.2 Agen Sosialisasi Dalam proses sosialisasi, terdapat pihak-pihak yang berfungsi sebagai pelaksanaproses sosialisasi atau yang serimg disebut sebagai agen sosialisasi. Ada 4 agensosialisasi sebagaimana yang disebutkan Fuller dan Jacobs yaitu: 1. Keluarga Sejak seorang anak lahir, keluarga merupakan lingkungan pertama seorang anak memulai proses sosialisasinya, yakni berinteraksi dengan ayah, ibu, dan
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 saudara kandungnya (keluarga inti) maupun dengan kakek, nenek , sepupu paman, bibi, dan lainnya (keluarga luas). Peranan yang paling penting di dalam proses sosialisasi adalah orang tua. Karena melalui orang tua, untuk pertama kalinya seorang anak diberi pendidikan tentang dasar-dasar bersosialisasi. Peranan keluarga juga sangat penting karena mendidik seorang anak menjadi individu yang siap bersosialisasi di luar keluarga. 2. Teman Bermain Seiring dengan bertambahnya usia, lingkungan berinteraksi seorang anakpun semakin luas. Tidak hanya di lingkungan keluarga, teman bermain juga merupakan media sosialisasi di luar lingkungan keluarga. Pada agen sosialisasi ini, seorang anak dapat berinteraksi dengan lingkungan sebayanya, yang cenderung memiliki kesamaan minat atau kepentingan, sehinga kemudian teman bermain dapat berkembang menjadi suatu hubungan yang bersahabat 3. Sekolah Agen sosialisasi yang dikenal seorang anak selain keluarga dan teman sebaya adalah sekolah. Sekolah bisa juga dikatakan sebagai rumah kedua bagi seorang anak, yang mempunyai peranan penting sebagai sarana belajar untuk seorang anak. Guru merupakan agen sosialisasi di sekolah yang berperan penting terhadap pembentukan kepribadian seorang anak. 4. Media Massa Agen sosialisasi media massa dapat berupa media cetak yaitu (koran, majalah, brosur, dan sebagainya) . Selain media cetak, juga terdapat media elektronik seperti: Radio, film, internet, televisi, dan sejenisnya.4.4.3 Pola Sosialisasi Menurut para ahli sosiologi, terdapat dua pola sosialisasi yaitu pola sosialisasiyang bersifat represif dan partisipartoris. a) Pola sosialisasi yang bersifat (represif socialization) 1. Pemberian sanksi atau hukuman terhadap kesalahan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 2. Pemberian materi sebagai hukuman atau imbalan 3. Penekanan pada kepatuhan seorang anak terhadap orang tua 4. Komunikasi yang berjalan satu arah, fisik, dan berisi perintah 5. Pusat atau fokus terletak pada orang tua dan keinginan orang tua b) Pola sosialisasi yang bersifat partisipatoris (participatory socialization) 1. Hukuman dan imbalan yang bersifat simbolis 2. Pemberian imbalan ketika anak berperilaku baik 3. Kebebasan yang di berikan anak 4. Komunikasi berjalan dua arah 5. Pusat atau fokus terletrak pada anak dan keperluan anak. ****
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB V NORMA-NORMA DALAM MASYARAKAT5.1 Elemen-elemen Masyarakat Istilah masyarakat yang paling mendasar untuk sosiologi. Hal ini berasal dari kataLatin socius yang berarti teman atau persahabatan. Persahabatan berarti keramahan.Menurut George Simmel adalah unsur keramahan yang mendefinisikan esensi sejati darimasyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia selalu hidup di perusahaan oranglain. Manusia adalah hewan sosial kata Aristoteles berabad-abad yang lalu. Kita bisamendefinisikan masyarakat sebagai sekelompok orang yang memiliki kebudayaan umum,menempati wilayah teritorial tertentu dan merasa diri merupakan entitas yang bersatu danberbeda. Ini adalah interaksi bersama dan interrelations individu dan kelompok. Minimum mengacu pada koleksi orang di wilayah geografis. Tiga elemenpengertian masyarakat: 1. Masyarakat dapat dianggap sebagai kumpulan orang dengan struktur sosial tertentu, ada, oleh karena itu, koleksi yang tidak masyarakat. Gagasan tersebut sering menyamakan masyarakat dengan masyarakat pedesaan atau pra-industri dan mungkin, di samping itu, memperlakukan masyarakat perkotaan atau industri sebagai positif destruktif. 2. Rasa memiliki atau semangat masyarakat. 3. Semua kegiatan sehari-hari masyarakat, bekerja dan bekerja non, berlangsung dalam wilayah geografis yang mandiri.Rekening yang berbeda-beda masyarakat akan berisi salah satu atau semua unsur-unsur tambahan. Karakteristik masyarakat sebagai berikut: 1. Wilayah 5. Tutup dan hubungan informal
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 2. Mutuality Pemberian pertolongan 6. Nilai-nilai dan keyakinan 3. Organized interaksi 7. Feeling Kelompok kuat perasaan 4. Budaya kesamaan Talcott Parsons mendefinisikan masyarakat sebagai kolektivitas anggota yangberbagi wilayah teritorial umum sebagai dasar operasi mereka untuk kegiatan sehari-hari.Menurut masyarakat Tonnies didefinisikan sebagai jenis alami organik dari kelompoksosial yang anggotanya terikat oleh rasa memiliki, diciptakan dari kontak sehari-hari yangmencakup seluruh jajaran aktivitas manusia. Dia telah disajikan gambar yang ideal-khas bentuk asosiasi sosial yang kontrassifat solidaritas dari hubungan sosial di masyarakat dengan skala besar dan hubunganpribadi berpikir menjadi ciri masyarakat industrialisasi. Kingsley Davis mendefinisikansebagai kelompok teritorial terkecil yang dapat merangkul semua aspek kehidupan sosial.Untuk komunitas Karl Mannheim adalah setiap lingkaran orang-orang yang hidupbersama dan milik bersama dalam sedemikian rupa sehingga mereka tidak berbagi iniatau itu saja tetapi seluruh set kepentingan.5.2 Norma-Norma dalam Masyarakat Norma yang ditetapkan, baik tersirat maupun tersurat, dan berlaku di dalammasyarakat adalah berupa tata aturan atau peraturan yang mengikat kelompok individudalam suatu daerah atau wilayah dan berlangsung dalam kurun waktu tertentu untukmengendalikan (controlling) tingkah laku yang dianggap baik. Dalam definisi laindisebutkan bahwa norma-norma merupakan aturan atau rambu-rambu yang membatasikelompok masyarakat dalam bertingkah laku, agar tidak menyimpang dari kebenaran,batas kepatutan atau etika pergaulan, dan aturan yang telah ditetapkan dalam peraturanatau hukum negara. Norma juga bisa berisikan tentang aturan atau kaidah yang dipakaisebagai tolok ukur untuk menilai sesuatu, atau ukuran yang dapat dipakai untukmemperbandingkan sesuatu.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat, khususnya di Indonesia, diantaranya adalah: 1. Norma agama, adalah aturan atau tatanan tindakan manusia dalam pergaulan dengan sesamanya, agar tidak menyimpang dari kebenaran, 2. Norma sosial, adalah konsep yang mengatur dan mengikat manusia agar bertindak baik dalam pergaulan dengan sesamanya, 3. Norma susila, adalah konsep yang mengatur tindakan manusia dalam pergaulan sehari-hari, dan 4. Norma adat atau etika pergaulan yang berlaku setempat maupun internasional, serta norma-norma yang tidak tertulis lainnya, namun berlaku umum (culture). Begitu pula dengan norma atau hukum yang diterapkan oleh masyarakat, meliputihukum agama (syariat agama), hukum negara dengan segala bentuk produk hukumlainnya, dan hukum alam atau hukum rimba. Namun, perlu diingat, menurut HerySantoso seorang peneliti dan psikoterapis,3) sekaligus penulis dengan nama pena HSHarding, disebutkan bahwa perilaku menyimpang yang "keluar" dari norma-normakepatutan itu tidak berlaku hanya dibebankan kepada individu saja, melainkan bisa sajaterjadi pada kelompok masyarakat itu sendiri. Misal sesuatu yang telah terlanjur "salahkaprah". Sedangkan orang-orang yang tetap berpegang teguh pada norma disebuttindakan yang bersifat normatif.5.2.1 Norma Tidak Tertulis Norma tidak tertulis adalah aturan main yang tidak tampak jelas produkhukumnya dan siapa yang membuatnya, namun berlaku dalam pergaulan antar individu ditengah pergaulan masyarakat baik di perkotaan (kota besar) maupun di daerah pelosokpedesaan, seperti hukum adat yang humanis dan lugu, polos, atau begitu sederhana,namun mengikat yang tiada pandang bulu siapa pelakunya. Contoh kasus: Pada kelompok masyarakat tertentu tidak akan dengan mudahnyadapat menerima atau menghilangkan ingatan dari dalam diri mereka tentang masa lalu
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10seseorang yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma, agama, negara dan hukumyang berlaku. Di mana, mereka seolah-olah tidak dapat melegitimasi perubahan sikap dansifat seseorang yang bisa berubah secara spontan. Misalnya, mantan seorang napi yang secara tiba-tiba dan dalam waktu sekejabberubah menjadi seorang Mubaligh atau ahli Zikir. Sebaliknya masyarakat umum telahterlanjur melegitimasi suatu kebenaran yang salah kaprah. Di mana mereka tidak dapatdengan mudah menerima atau percaya begitu saja kalau seseorang pada hari sebelumnyaadalah pemain judi, tetapi saat keesokan malamnya menjadi seorang Imam dalam suatuMajelis Zikir di Masjid maupun Musholla.5.2.3 Norma Tertulis Norma tertulis adalah peraturan atau aturan main yang tampak jelas bentukproduk hukum (legalistas)-nya dan siapa pembuatnya, di antaranya yaitu; 1. Negara berupa norma, aturan protokoler, undang-undang, dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagai produk hukum negara, dan 2. Agama atau syariat Agama, adalah berupa kaidah-kaidah yang diturunkan langsung oleh Allah Tuhan Yang Esa melalui para Nabi dan Rasul-Nya.5.2.4 4 Macam Norma Dalam Masyarakat 1. Cara (usage)-- Cara adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu masyarakat tetapi tidak secara terus-menerus. Contoh: cara makan yang wajar dan baik apabila tidak mengeluarkan suara seperti hewan. 2. Kebiasaan (Folkways)--Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dengan bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas, dianggap baik dan benar. Contoh: Memberi hadiah kepada orang-orang yang berprestasi dalam suatu kegiatan atau kedudukan, memakai baju yang bagus pada waktu pesta.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 3. Tata kelakuan (Mores)-- Tata kelakuan adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh sekelompok masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Dalam tata kelakuan terdapat unsur memaksa atau melarang suatu perbuatan. Contoh: Melarang pembunuhan, pemerkosaan, atau menikahi saudara kandung. 4. Adat istiadat (Custom)--Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.5.2.5 Kode Etik Kode etik adalah tatanan etika yang disepakati oleh suatu kelompok masyarakattertentu. Contoh: kode etik jurnalistik, kode etik perwira, kode etik kedokteran. Kode etikumumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sangsiyang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum.5.2.6 Norma Sosial Norma-norma sosial tumbuh dari nilai sosial dan keduanya berfungsi untukmembedakan perilaku sosial manusia dari spesies lainnya. Pentingnya belajar dalamperilaku bervariasi dari spesies ke spesies dan berhubungan erat dengan proseskomunikasi. Hanya manusia mampu komunikasi simbolis yang rumit dan penataanperilaku mereka dalam hal preferensi abstrak yang kita sebut nilai-nilai. Norma adalahalat melalui mana nilai-nilai yang disajikan dalam perilaku. Norma umum merupakan aturan-aturan dan peraturan yang hidup dalamkelompok. Atau mungkin karena kata-kata, aturan dan peraturan, panggilan ke pikiransemacam daftar formal, kita bisa lihat norma sebagai standar perilaku kelompok. Untuksementara beberapa yang sesuai standar perilaku di masyarakat kebanyakan ditulis,banyak dari mereka yang tidak formal. Banyak belajar, informal, dalam interaksi denganorang lain dan diwariskan "demikian dari generasi ke generasi.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Istilah "norma" mencakup rentang yang sangat luas, sehingga seluruh jajaranperilaku mungkin termasuk didalamnya. Sosiolog telah menawarkan definisi sebagaiberikut. Norma-norma sosial adalah aturan yang dikembangkan oleh sekelompok orangyang menentukan bagaimana orang harus, mungkin, tidak boleh, dan tidak harus bersikapdalam berbagai situasi. "Mei" dalam definisi norma menunjukkan bahwa, di kebanyakan kelompok, adaberbagai perilaku di mana individu diberikan pilihan yang cukup. Anak perempuannegara-negara Barat dapat memilih untuk mengenakan gaun atau halters dan celana jins.Pemakaman dapat diadakan dengan atau tanpa bunga, dengan peti mati terbuka atautertutup, dengan atau tanpa partisipasi agama, dan sebagainya. Sisa dari definisi, termasuk perilaku harus-bukan dan harus-tidak, mungkintidak memerlukan ilustrasi panjang karena contoh tersebut tersirat dalam apa yang telahdikatakan. Kita tidak harus bersendawa di depan umum, membuang sampah di jalan,jalankan tanda-tanda berhenti, atau berbohong. Kita tidak harus membunuh orang lainatau melakukan hubungan seksual dengan adik seseorang atau saudara.5.3 Lembaga Sosial Sebuah lembaga sosial kompleks, terintegrasi seperangkat norma-norma sosialyang diselenggarakan di sekitar pelestarian nilai sosial dasar. Sosiolog tidakmendefinisikan lembaga dengan cara yang sama seperti halnya orang di jalan. Orangcenderung menggunakan istilah "lembaga" sangat longgar, untuk gereja-gereja, rumahsakit, penjara, dan banyak hal lainnya sebagai lembaga. Sosiolog sering berpandangan bahwa lembaga "istilah" untuk menggambarkansistem normatif yang beroperasi di lima bidang dasar kehidupan, yang dapat ditunjuksebagai lembaga utama. (1) Dalam menentukan kekerabatan; (2) dalam penyediaan untukpenggunaan kekuatan yang sah, (3) dalam mengatur distribusi barang dan jasa; (4) dalamtransmisi pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan (5) dalam mengaturkami sehubungan dengan supranatural. Dalam bentuk singkat, atau sebagai konsep,kelima institusi dasar yang disebut keluarga, pemerintah, ekonomi, pendidikan danagama.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Lima lembaga utama yang ditemukan di antara semua kelompok manusia.Mereka tidak selalu seperti yang diuraikan atau yang berbeda dari satu sama lain, namundalam bentuk dasar akhirnya, mereka ada di mana-mana. Universalitas menunjukkanbahwa mereka berakar di alam manusia dan bahwa mereka sangat penting dalampengembangan dan pemeliharaan perintah. Sosiolog operasi dalam hal modelfungsionalis masyarakat telah memberikan penjelasan yang paling jelas dari fungsi yangdilayani oleh lembaga-lembaga sosial.5.4 Grup Sosial Sebuah kelompok sosial terdiri dari dua atau lebih orang-orang yang berinteraksisatu sama lain dan yang mengenali diri mereka sebagai sebuah unit sosial yang berbeda.Definisi ini cukup sederhana, tetapi memiliki implikasi yang signifikan. Seringmenyebabkan interaksi orang untuk berbagi nilai-nilai dan keyakinan. Kesamaan daninteraksi yang menyebabkan mereka untuk mengidentifikasi satu sama lain. Identifikasidan lampiran, pada gilirannya, merangsang lebih sering dan intens interaksi. Setiapkelompok memelihara solidaritas dengan semua kelompok lainnya dan jenis lain darisistem sosial. Kelompok yang paling stabil dan bertahan lama adalah unit sosial. Mereka yangpenting baik kepada anggota mereka dan masyarakat luas. Melalui perilaku yang teraturdan dapat diprediksi mendorong, kelompok membentuk fondasi yang terletak dimasyarakat. Dengan demikian, keluarga, desa, partai politik dengan serikat buruh adalahsemua kelompok sosial. Ini, perlu dicatat adalah berbeda dari kelas-kelas sosial,kelompok status atau orang banyak, yang tidak hanya struktur kurangnya tetapi yanganggotanya kurang menyadari atau bahkan tidak menyadari keberadaan kelompok. Initelah disebut kuasi-kelompok atau pengelompokan. Namun demikian, perbedaan antarakelompok-kelompok sosial dan kuasi-kelompok ini adalah cairan dan variabel sejakkuasi-kelompok yang sangat sering menimbulkan kelompok-kelompok sosial, sepertimisalnya, kelas sosial menimbulkan partai politik.****
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB VI RELATIVESME BUDAYA DAN PERUBAHAN SOSIAL6.1 Relativisme Budaya Ini adalah metode dimana masyarakat yang berbeda atau budaya dianalisis secaraobjektif tanpa menggunakan nilai-nilai budaya satu untuk menilai nilai lain. Kita tidakmungkin memahami tindakan kelompok lain jika kita menganalisis mereka dalam halmotif dan nilai-nilai. Kita harus menafsirkan perilaku mereka dalam terang motif mereka,kebiasaan dan nilai-nilai jika kita ingin memahami mereka. Relativisme budaya berarti bahwa fungsi dan makna dari suatu sifat yang relatifterhadap setting budayanya. Sifat A adalah baik ataupun buruk pada dirinya sendiri. Itubaik atau buruk hanya dengan mengacu pada budaya di mana ia berfungsi. Pakaian yangbaik di Kutub Utara tetapi tidak di daerah tropis. Di beberapa masyarakat yang seringberburu wajah lama kelaparan menjadi lemak yang baik, melainkan memiliki nilai hidupyang nyata dan orang gemuk yang dikagumi. Dalam masyarakat kita menjadi lemak tidakhanya tidak perlu tapi dikenal tidak sehat dan lemak orang tidak dikagumi. Konsep relativisme budaya tidak berarti bahwa semua kebiasaan yang sama-samaberharga, juga tidak berarti bahwa tidak ada kebiasaan yang berbahaya. Beberapa polaperilaku dapat merugikan di mana-mana, tapi bahkan pola seperti melayani beberapatujuan dalam budaya dan masyarakat akan menderita kecuali pengganti disediakan. Titiksentral dalam relativisme budaya adalah bahwa dalam suatu ciri khusus tertentupengaturan budaya benar karena mereka bekerja dengan baik dalam menetapkan bahwameskipun sifat-sifat lainnya yang salah karena mereka akan berbenturan dengan bagian-bagian menyakitkan budaya itu.6.2 Perubahan Sosial Budaya Perubahan sosial budaya dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontakdengan kebudayaan asing. Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnyastruktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat.Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu inginmengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnyamerupakan penyebab dari perubahan. Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sosial:1. Tekanan kerja dalam masyarakat2. Keefektifan komunikasi3. Perubahan lingkungan alam. Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkunganmasyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh,berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudianmemancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.6.3 Penetrasi Kebudayaan Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatukebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara: 1. Penetrasi Damai (Penetration Pasifique) Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknyapengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macamkebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budayamasyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkanhilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat. Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi,atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaanbaru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan CandiBorobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaanIndia.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentukkebudayaan baru. Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknyasebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli. 2. Penetrasi Kekerasan (Penetration Violante) Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya,masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengankekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangandalam masyarakat. Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belandayang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat diIndonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.6.4 Kebudayaan Sebagai Mekanisme Stabilisasi Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalahsebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaandan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.(Kebudayaan di antara masyarakat). Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebutsub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilakudan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan olehbeberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama,pekerjaan, pandangan politik dan gender. Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigrandan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakattergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaanminoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifandan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa:
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 1. Monokulturalisme Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama. 2. Leitkultur (kebudayaan inti) Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli. 3. Melting Pot Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah. 4. Multikulturalisme Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.6.5 Perilaku Menyimpang Perilaku menyimpang secara sosiologis dan generallly dapat diartikan sebagaisetiap perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalamsudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagaibagian daripada makhluk sosial. Menurut arti bahasa yang termuat dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia(KLBI)1), perilaku menyimpang diterjemahkan sebagai tingkah laku, perbuatan, atautanggapan seseorang terhadap lingkungan yang mengacu pada norma-norma dan hukumyang ada di dalam masyarakat. Perilaku seperti itu__penyimpangan perilaku atau perilakumenyimpang__terjadi karena seseorang mengabaikan norma, aturan, atau tidak mematuhipatokan baku, berupa produk hukum baik yang tersirat maupun tersurat dan berlaku ditengah masyarakat. Sehingga perilaku (pelaku)nya sering disematkan dengan istilah-
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10istilah negatif, yang notabene dianggap kontraproduktif dengan aturan yang sudahditetapkan atau terdapat di dalam norma-norma maupun hukum Agama dan negara. Beberapa defenisi perilaku menyimpang, yang diajukan oleh beberapa Sosiolog,antara lain : 1. J James Vander Zanden, Perilaku meyimpang Perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang. 2. J Robert M. Z. Lawang, Perilaku menyimpang Semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial (masyarakat) dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang untuk memperbaiki hal tersebut. 3. J Bruce J. Cohen, Perilaku menyimmpang Setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri (tidak bisa bersosialisasi/beradaptasi) dengan kehendak-kehendak masyarakat. 4. J Paul B. Horton, Perilaku menyimpang Setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat Perilaku menyimpang atau penyimpangan perilaku itu sendiri dapat dipetakandalam tinjauan beberapa aspek dan sudut pandang, di antaranya: 1. Seks, atau berkenaan dengan kebutuhan biologis individu maupun kelompok, perilakunya disebut sebagai penyimpangan seks atau seks menyimpang. 2. Hukum Negara dan Agama, atau hak hidup individu, atau berkenaan dengan motif seseorang dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya yang esensial, perilakunya disebut dengan penyimpangan atau pelanggaran hukum dan/atau norma agama. 3. Perilaku, berkenaan dengan cara berfikir atau pandangan dan perbuatan atau tingkah laku individu yang tidak sesuai dengan etika pergaulan yang berlaku di dalam masyarakat, perilakunya disebut dengan perilaku menyimpang.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 4. Keilmuan, berkenaan dengan cara berfikir (kognitif), konsep, pandangan, gagasan, dogma, teori yang diajukan ke tengah masyarakat berpengetahuan (knowledge society) dan tidak sejalan dengan hukum, ketetapan, postulat yang telah berlaku (mapan) sebelumnya, disebut dengan penyimpangan konsep atau teori.6.5.1 Bias Perilaku Perilaku menyimpang dalam konteks agama, secara ekstrem perilakunyadiberikan stempel sebagai pendosa atau orang sesat, termasuk ajaran dan faham yangdisiarkannya kepada masyarakat dianggap bertentangan dengan syariat maupun akidahagama disebut sebagai ajaran sesat. Dalam beberapa bukunya, seperti yang tercamtum di bawah, Hery Santoso (HSHarding) banyak mengungkapkan contoh-contoh kasus yang telah lama berkembang dantersembunyi di dalam kehidupan seharihari, terutama tentang perilakuperilaku yangmenyimpang di luar dari batas kelaziman dan norma-norma yang berlaku di dalammasyarakat.6.5.2 Penyimpangan Individualistik Penyimpangan perilaku yang bersifat individual atau personal (pribadi) dan tidakmenggeret pada seseorang, orang kedua, atau pihak lain di luar dirinya, dapat terjadidikarenakan adanya pengaruh dari pengalaman di masa lalunya yang kebanyakan "kurangmenyenangkan", hingga menumbuhkan rasa (sense) semacam "virus" yang keliru didalam pandangan (persepsi dan interpretasi)nya. Misalnya, perlakuan kasar yang kerap diterimanya di masa kecil (lampau) akanmembentuk karakter yang tertanam kuat dalam ingatan hingga terbawa pada saat ia telahmenginjak usia dewasa. Di mana orang itu akan berlaku "kasar" dalam urusan seks saat iatelah memasuki kehidupan berumah tangga. Tidak hanya sampai di situ saja, keadaanyang terbentuk pada dirinya akan terbawa pula dalam sifat menurun, bawaan, gnosis,kromosom dalam turunannya. Sehingga ada kemungkinan dapat timbul konflik dalam
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10kehidupan domestik berumah tangganya, atau dikenal dengan konflik rumah tangga yangsalah satunya terpicu oleh faktor perilaku menyimpang dalam seks pribadi orang tersebut.6.6 Asimilasi Asimilasi Istilah lagi adalah dalam penggunaan umum, yang paling seringditerapkan pada proses dimana sejumlah besar migran dari Eropa terserap ke dalampopulasi Amerika selama 19 dan bagian awal abad ke-20. Asimilasi imigran adalah satuset dramatis dan sangat terlihat dari peristiwa dan menggambarkan proses dengan baik.Ada jenis lain dari asimilasi tetapi, dan ada aspek asimilasi migran Eropa yang dapatdimasukkan dalam bentuk proposisional. Pertama, asimilasi adalah proses dua arah.Kedua, asimilasi kelompok maupun individu terjadi. Ketiga beberapa asimilasi mungkinterjadi di semua situasi interpersonal abadi. Keempat, asimilasi sering tidak lengkap danmenciptakan masalah penyesuaian bagi individu. Dan, kelima, asimilasi tidak berjalansama cepat dan sama efektif dalam semua situasi antar-kelompok. Menurut Young dan Mack, Asimilasi adalah fusi atau campuran dari duakelompok sebelumnya yang berbeda menjadi satu. Untuk Bogardus Asimilasi adalahproses sosial dimana sikap banyak orang bersatu dan dengan demikian berkembangmenjadi kelompok bersatu. Biesanz menjelaskan Asimilasi adalah proses sosial dimanaindividu atau kelompok datang untuk berbagi sentimen yang sama dan tujuan. UntukOgburh dan Nimkoff; Asimilasi adalah proses dimana individu atau kelompok yang samasekali berbeda dan diidentifikasi menjadi kepentingan mereka dan pandangan. Asimilasi adalah proses lambat dan bertahap. Butuh waktu. Misalnya, imigranmeluangkan waktu untuk mendapatkan berasimilasi dengan kelompok mayoritas.Asimilasi berkaitan dengan penyerapan dan penggabungan budaya dengan yang lain.6.7 Akulturasi Istilah ini digunakan untuk menggambarkan baik proses kontak antara budayayang berbeda dan juga kebiasaan kontak tersebut. Sebagai proses kontak antara budaya,akulturasi mungkin melibatkan interaksi sosial baik langsung atau hubungan ke budayalain melalui media komunikasi massa. Sebagai hasil dari kontak tersebut, mengacu pada
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10asimilasi akulturasi dengan satu kelompok budaya lain yang memodifikasi budaya yangada dan jadi identitas perubahan grup. Mungkin ada ketegangan antara lama dan budayabaru yang mengarah pada mengadaptasi dari baru serta lama.6.8 Nilai Nilai Istilah memiliki makna dalam sosiologi yang baik mirip dengan namunberbeda dari makna yang ditugaskan dalam percakapan sehari-hari. Dalam penggunaansosiologis, nilai-nilai kelompok konsepsi keinginan hal-hal yang relatif. Kadang-kadangnilai harga berarti. Tetapi konsep sosiologis nilai jauh lebih luas daripada di sini tak satupun dari obyek yang dibandingkan dapat diberi harga. Apa nilai, untuk ilustrasi, hak setiap manusia untuk martabat dibandingkandengan kebutuhan untuk meningkatkan aspek-aspek teknis pendidikan? Masalah inisecara langsung terlibat dalam desegregasi sekolah umum dan telah diperdebatkan sengit.Beberapa upaya telah dilakukan untuk memperkirakan biaya dolar dari sistem yang lamasekolah terpisah dan, baru-baru ini, telah dibuat estimasi biaya menggunakan baik hitamdan putih anak-anak untuk mengakhiri segregasi. Sebagian besar biaya sosial dari duasistem, Namun, menentang pernyataan dalam hal moneter dan kebanyakan orangmengambil posisi mereka mengenai masalah ini dalam hal keyakinan yang dipegangteguh tentang apa yang penting dalam hidup. Gagasan keyakinan yang dipegang teguh lebih ilustrasi dari konsep nilaisosiologis daripada konsep harga. Selain itu, ada empat aspek lain dari konsep nilaisosiologis. Mereka adalah: (1) nilai-nilai yang ada pada berbagai tingkat umum atauabstraksi, (2) nilai cenderung disusun secara hirarkis (3) nilai-nilai yang eksplisit danimplisit dalam berbagai derajat, dan (4) nilai-nilai yang sering bertentangan dengan satusama lain***
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB VII SISTEM SOSIAL DALAM PROSES SOSIAL7.1 Unsur-unsur Sistem dan Proses Sosial Sistem adalah suatu kesatuan dari banyak unsur yang dapat menghasilkan outputtertentu. Sistem terbentuk oleh adanya komponen-komponen atau unsur-unsur yangberhubungan satu sama lain membentuk suatu jaringan. Masing-masing komponenmempunyai fungsi sendiri yang berbeda satu dengan lainnya. Fungsi komponen yang satudipengaruhi oleh fungsi komponen lain yang berhubungan dengannya. Kualitas output sistem tergantung pada kualitas fungsi setiap komponen. Kalausalah satu komponen tak ada atau tak berfungsi maka fungsi sistem akan terganggu atautak berfungsi sama sekali. Kelompok sebagai suatu Sistem Sosial, Kelompok : 1. Orang-orang yang saling berinteraksi. 2. Mempunyai pola perilaku : teratur, sistematis. 3. Bisa diidentifikasi bagian-bagiannya. 4. Bisa dilihat sebagai suatu sistem sosial.7.1.1 Unsur- unsur Pokok Sistem Sosial: 1) Tujuan (Goal) Segala sesuatu yang ingin dicapai Kelompok. 2) Keyakinan (Beliefs) Pengetahuan atau aspek kognitif yang dimiliki oleh sistem/Kelompok. Segala sesuatu yang dianggap benar oleh sistem/Kelompok. 3) Sentimen atau perasaan (Sentiments/Feeling) Perasaan-perasaan dan emosi (aspek affektif) yang ada dalam Sistem/Kelompok.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 4) Norma (Norms) Perilaku baku (standar) yang dapat diterima oleh Sistem/ Kelompok. 5) Sanksi (Sanctions): Sistem penghargaan dan hukuman. 6) Peranan Kedudukan (Status Roles) i. Setiap kedudukan memiliki seperangkat peranan yang harus dilaksanakan oleh orang yang bersangkutan. ii.Peranan-peranan itu lalu menjadi seperangkat norma. iii.Konsep-konsep yang terkait :  role collision (tabrakan)  role incompatibility (tidak cocok/ tidak sesuai)  role confusion (membingungkan). 7) Kewenangan/Kekuasaan/ (Power/Authority): a. Kewenangan mengontrol/mengendalikan orang lain. b. Kewenangan mengambil keputusan c. Berpengaruh kepada orang lain dalam kelompok. 8) Jenjang Sosial (Social Rank) a. Kedudukan b. Prestise (gengsi) 9) Fasilitas (Facility): Wahana ataupun alat yang perlu untuk mencapai tujuan kelompok. 10) Tekanan dan Ketegangan (Stress and Strain): a. Tekanan mental b. Ketegangan jiwa. Secara teoritis Kelompok sebagai Sistem Sosial yang sehat harus memilikikesepuluh unsur pokok itu. Perlu diteliti apakah Kelompok yang dalampengamatan memang memiliki unsur-unsur pokok itu. Masing-masing unsurmerupakan perubah, yang mempunyai pengaruh pada interaksi anggota dalamkelompok, juga akan berpengaruh pada perilaku individu dan perilaku kelompok.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 107.1.2 Proses Sosial (Social Process) a) Komunikasi Mutlak untuk terjadinya interaks. b) Memelihara Batas Batas antara kelompok dan diluarnya harus jelas dan dijaga dari pengaruh- pengaruh luar yang merugikan. c) Kaitan Sistemik (Systemic linkage) Setiap kelompok perlu memiliki hubungan dengan sistem sosial yang lain. 1. Untuk mendapatkan inputs untuk kelompok. 2. Untuk menyalurkan output dari kelompok. d) Pelembagaan (Institutionalization) Proses pemantapan segala sesuatu yang perlu bagi kehidupan yang baik dari kelompok, termasuk : struktur, norma, kewenangan, dll. e) Sosialisasi (Socialization) “mendidik” anggota baru agar cepat dapat menyesuaikan diri dengan kelompok, dan dapat berperilaku yang dapat diterima oleh kelompok. f) Kontrol Sosial (Social Control) Ada mekanis-me yang memantau dan mengevaluasi serta menja-tuhkan sanksi kepada anggota sistem yang menyim-pang dari norma. Proses sosial ini dapat dianalogikan dengan proses fisiologi yang terjadi padatubuh hewan dan manusia. Kalau proses ini tak ada/tak baik, maka hewan akansakit/mati. Unsur-unsur Proses Sosial itu juga merupakan variables yang kondisinya bisabaik, tetapi bisa juga kondisinya tidak baik. Sistem Sosial yang sehat (dinamis, produktif,efektif) adalah yang unsur-unsurnya berproses atau berfungsi secara baik.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Sistem Sosial yang tidak dinamis (tidak produktif, tidak efektif, dll) biasanyayang salah satu atau lebih dari unsur-unsur prosesnya tidak berfungsi secara baik, atausalah satu atau beberapa unsur pokoknya tidak dalam kondisi yang baik. Untukmeningkatkan dinamika sistem sosial bisa dilaku-kan dengan cara memperbaiki unsurpokok dan atau unsur proses sosial yang keadaannya kurang baik7.2 Sistem Nilai dan Stratifikasi Sosial Basrowi menyatakan, sistim nilai adalah nilai inti (core value) dari masyarakatyang dijunjung tinggi dan diakui oleh setiap manusia di dunia untuk berprilaku. Sistimnilai sering diasosiasikan dengan “value” dan “norms”. Menurut Giddens, “value” adalah suatu konsep yang memberikan makna danmenyediakan tuntunan untuk umat manusia sebagaimana mereka berinteraksi dalamlingkungan sosialnya. Sedangkan “norms” adalah aturan atau perilaku yangmerefleksikan atau menjelma dalam sebuah nilai budaya. “Value” dan “Norms” bekerjabersama untuk mengarahkan dan menentukan bagaimana anggota dari suatu budayaberperilaku sesuai dengan lingkungannya.(Giddens, 2004). Ibrahim (2002), menyatakan, sistim norma merupakan sejumlah norma yangterangkai dan berkaitan satu sama lain. Norma norma ini mempunyai kekuatan yangmengikat yang berbeda beda dan atas dasar kekuatan mengikatnya ini maka dikenaldengan istilah kebiasaan, tata kelakuan, dan adat istiadat7.2.1 Stratifikasi Sosial Stratifikasi Sosial berasal dari kata stratum yang berarti : strata atau lapisan.Menurut Sorokin, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas kelas secara bertingkat (hirarkis). Dasar dan inti pelapisan dalam masyarakatadalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajibandi antara anggota anggota masyarakat. Ibrahim (2002) berpendapat bahwa pelapisan sosial merupakan prosespenempatan diri di dalam suatu lapisan (subyektif) atau menempatkan orang ke dalam
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10lapisan (obyektif). Secara sederhana, pelapisan sosial dalam masyarakat muncul karena“ada sesuatu yang bernilai” dibanding dengan yang lainnya. Menurut Basrowi, stratifikasisosial dalam masyarakat pada prinsipnya dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam : 1. Stratifikasi berdasarkan ekonomis 2. Stratifikasi berdasarkan politis 3. Stratifikasi berdasarkan jabatan jabatan tertentu dalam masyarakat. Ketiga dasar stratifikasi tersebut satu sama lain saling berhubungan. Dalam sistimsosial komunitas desa, mereka yang digolongkan dalam strata atas di desa adalah parapamong desa, orang kaya desa, golongan terdidik setempat, para ulama, dsb. Stratamenengah adalah orang yang tingkat ekonominya sedang, para pedagang, petani kecil,dll. Strata bawah adalah para buruh dan orang yang tidak memiliki tanah (landless)7.2.3 Bagaimana Stratifikasi Sosial Stratifikasi sosial memiliki tiga dimensi, yaitu : 1. Kekuasaan, kesempatan yang ada pada seseorang untuk melaksanakan kemauannya dalam suatu tindakan sosial. 2. Previlege, berarti hak istimewa, hak mendahului, dan hak untuk memperoleh perlakuan khusus dalam kehidupan bersama. 3. Prestise, berarti kehormatan dan harus dikaitkan dengan suatu sistim sosial tertentu. Pelapisan-pelapisan sosial mengalami perkembangan atau perubahantergantung dari kehidupan masyarakat setempat atau masyarakat lainnya dalamlingkup yang lebih luas. Ada dua sifat pelapisan sosial yang mempengaruhiperubahannya, yaitu : 1. Stratifikasi sosial yang bersifat tertutup,
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 bercirikan sulitnya seseorang untuk berpindah dari satu lapisan ke lapisan lainnya. Ex. Kasta. 2. Stratifikasi sosial yang bersifat terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berpindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan usaha berdasar kecakapan sendiri.7.2.4 Unsur-unsur lapisan dalam masyarakat: 1. Kedudukan (status) Tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. a. Ascribed status adalah status seseorang karena kelahirannya. b. Achieved status adalah kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha yang disengaja. c. Assigned status adalah kedudukan yang diberikan oleh orang lain 2. Peranan (role), Akan mengatur perilaku seseorang, juga dapat meramalkan perbuatan orang lain dalam batas tertentu sehingga orang yang bersangkutan akan dapat menyesuaikan perilakunya dengan perilaku orang orang dikelompoknya.7.3 Interaksi-Komunikasi Sosial7.3.1 Ciri-ciri Interaksi Sosial Interaksi sosial (Giddens, 2004) adalah suatu proses yang mana kita bertindakdan bereaksi atau memberikan respon terhadap orang-orang disekitar kita. Ciri ciriinteraksi sosial : a. Jumlah pelaku lebih dari satu orang b. Terjadinya komunikasi antara pelaku melalui kontak sosial c. Mempunyai maksud dan tujuan tertentu d. Dilaksanakan melalui suatu pola sistem tertentu
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Pola sistem sosial kelak akan menciptakan suatu pola hubungan sosial yangrelatif baku atau tetap apabila interaksi sosial itu terjadi berulang-ulang dalam kurunwaktu yang relatif lama. Pola seperti ini dapat di jumpai dalam bentuk sistem nilai dannorma. 1. Tujuan yang jelas 2. Kebutuhan yang jelas dan bermanfaat 3. Adanya kesesuaian dan berhasil guna, serta 4. Adanya kesesuaian dengan kaidah-kaidah sosial yang berlaku7.3.2 Komunikasi Sosial Dasar terjadinya interaksi sosial adalah kontak sosial dan komunikasi. Syani(2002) berpendapat, bahwa kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebihmelalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing masingdalam kehidupan masyarakat. a. Dalam Kontak sosial dapat terjadi hubungan positif atau negatif tergantung dari saling pengertian akan tujuan masing masing. b. Kontak sosial dapat berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Komunikasi adalah suatu proses saling memberikan tafsiran kepada atau dariperilaku pihak lain: a. Melalui tafsiran pada perilaku orang lain, seseorang mewujudkan perilaku sebagai reaksi terhadap maksud atau peran yang ingin disampaikan oleh pihak lain itu. b. Komunikasi dapat diwujudkan dengan pembicaraan, gerak gerik fisik ataupun perasaan. c. Komunikasi menuntut adanya pemahaman makna atas suatu pesan dan tujuan bersama masing masing pihak. Sitorus (2000) berpendapat selain karena kontak dan komunikasi, interaksi sosialjuga dapat berlangsung atas dasar:
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 1. Imitasi , yaitu suatu proses belajar dengan cara meniru atau mengikuti perilaku orang lain 2. Sugesti, adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh tersebut tanpa berfikir panjang. 3. Identifikasi, adalah kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. 4. Simpati, adalah perasaan “tertarik” yang timbul dalam diri seseorang dan membuatnya merasa seolah olah berada dalam keadaan orang lain.7.3.3 4 Bentuk Interaksi Sosial Secara mendasar ada empat macam bentuk interaksi sosial yang ada dalammasyarakat: 1. Kerjasama, suatu bentuk proses sosial dimana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami terhadap aktivitas masing masing. 2. Persaingan, merupakan suatu usaha dari seseorang untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada yang lainnya. 3. Akomodasi, suatu keadaan hubungan antara kedua belah pihak yang menunjukkan keseimbangan yang berhubungan denagn nilai dan norma norma sosial yang berlaku di masyarakat. 4. Pertikaian (pertentangan), bentuk persaingan yang berkembang ke arah negatif
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10Gambar 5. Olahraga merupakan salah satu bentuk dari Komunikasi Sosia
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB VIII Kepemimpinan8.1 Sekilas Tentang Kepemimpinan Manusia merupakan Method yang terpenting dan sangat menentukan bagiberhasil atau tidaknya sesuatu usaha pencapaian tujuan yang telah ditentukan, yangseharusnya dapat dicapai dengan cara yang efisien dan ekonomis. Sebaik–baiknya dan serasionil–serasionilnya sesuatu rencana disusun disertaidengan pengorganisasian yang efektif, serta dilengkapi dengan peralatan yang modern,Method kerja yang baik dan biaya yang cukup, namun apabila manusia yangmelaksanakan tidak cakap dan tidak mempunyai moril atau semangat kerja yang cukuptinggi, maka hasilnyapun akan belum memuaskan, bahkan mungkin menimbulkankegagalan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan efisien tersebut. Agar sesuatu penyelenggaraan kerja di dalam mencapai tujuan efisien danekonomis dapat berhasil dengan sukses diperlukan adanya kemampuan dan kecakapansetiap manager pimpinan penyelenggaraan kerja di dalam memimpin orang–orangbawahannya sedemikian rupa sehingga mereka mempunyai kemampuan dan kemauankerja dalam suatu kerjasama yang harmonis untuk melaksanakan tugas–tugas denganteratur serta tertib. Salah satu cara untuk menguasai dan menggerakan orang–orang agar mempunyainiat kerja dengan penuh keinsyafan dan keikhlasan ialah dengan melaksanakan fungsikepemimpinan dengan baik dalam setiap melaksanakan tugas.8.2 Pengertian Kepemimpinan Kepemimpinan ialah suatu usaha kegiatan untuk mempengaruhi prilaku oranglain atau kelompok agar bekerjasama menuju kepada suatu tujuan tertentu yang merekainginkan bersama.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10Dengan demikian pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi prilaku oranglain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan.8.3 Teori lahirnya kepemimpinan. Mengenai timbulnya seorang pemimpin oleh para ahli teori kepemimpinan telahdikemukakan beberapa teori yang berbeda–beda. Namun demikian, apabila beberapa teoriitu dianalisa, akan terlihat adanya tiga teori yang menonjol, ialah: a) Teori Genetis Dalam teori Genetis mengatakan bahwa “Leader are born and not made”seseorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat–bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang itu ditempatkanbekerja, karena ia telah ditakdirkan jadi pemimpin, satu saat akan timbul jadi pemimpin. b) Teori Sosial Dalam teori sosial mengatakan “Leaders are made and not born”. Merupakankebalikan teori genetis. Para penganut teori sosial mengetengahkan pendapat yangmengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan danpengalaman yang cukup. Biasanya ada seorang pemimpin pada waktu masa kanak–kanak, namun ia sama saja dengan anak–anak lain teman sepermainannya, tidak adatanda–tanda menonjol tentang bakat kepemimpinannya. Tetapi setelah selesaipendidikannya ditempatkan bekerja dalam suatu unit organisasi, kemudian diangkat jadikepala pemimpin, ternyata ia menjadi seorang pemimpin yang baik. c) Teori Ekologis Karena teori genetis dan teori sosial tidak seluruhnya mengandung kebenaran,maka sebagai reaksi kepada kedua teori tersebut, teori ekologis yang pada intinya berartibahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia pada waktulahirnya memiliki bakat–bakat kepemimpinan, kemudian dikembangkan melalui
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkannya mengembangkan bakatyang dimiliki sejak kecil. Teori ekologis menggabungkan segi–segi positif dari teorigenetis dan teori sosial dan dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekatikebenaran.8.4 Tipe–tipe Pemimpin Sepanjang diketahui sekarang ini, para pemimpin dalam berbagai bentukorganisasi dapat digolongkan kepada 5 tipe pemimpin, yaitu :1. Tipe pemimpin yang otokratis2. Tipe pemimpin yang militeristis3. Tipe pemimpin yang paternalistis4. Tipe pemimpin yang kharismatis5. Tipe pemimpin yang demokratisAdapun ciri–ciri masing–masing tipe pemimpin itu adalah sebagai berikut : a) Tipe Pemimpin yang Otokratis 1. Menganggap organisasi sebagai milik pribadi 2. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. 3. Menganggap bawahan sebagai alat semata–mata. 4. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat. 5. Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya. 6. Dalam tindakan penggerakannya sering mengandung unsur paksaan. b) Tipe Pemimpin yang Militeristis 1. Sistim perintah lebih sering digunakan. 2. Senang bergantung pada pangkat dan jabatannya. 3. Senang pada formalitas yang berlebih–lebihan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 4. Kaku dari bawahan dan menuntut disiplin yang tinggi. 5. Sukar menerima kritikan. 6. Menggemari upacara–upacara berbagai keadaan. c) Tipe Pemimpin yang Paternalistis 1. Bawahan dianggap manusia yang tidak dewasa 2. Bersikap terlalu melindungi. 3. Bersikap maha tahu. 4. Jarang memberi kesempatan bawahan untuk mengambil keputusan. 5. Jarang memberi kesempatan bawahan untuk mengambil inisiatif. 6. Jarang memberi kesempatan bawahan untuk mengembangkan daya dan jasa. d) Tipe Pemimpin yang Kharismatik Diberkahi kekuatan gaib (supernatural powers) sehingga mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar. Gambar 6. Sukarno, Pemimpin berkharismatik e) Tipe Pemimpin yang Demokratis 1. Selalu ingin meningkatkan dan mengembangkan kapasitas dirinya sebagai pemimpin. 2. Mensinkronkan kepentingan organisasi dengan kepentingan pribadi bawahannya. 3. Bersifat terbuka dan demokratis serta mau menerima saran dan pendapat dari bawahannya.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 4. Mengutamakan kerjasama dalam kelompok. 5. Bersifat mendidik/membina dan menginginkan bawahannya lebih sukses dari padanya. 6. Selalu memandang bawahan itu sebagai sebagai makhluk termulia di dunia dan pola tingkah lakunya menjadi panutan. 7. Dalam menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia (manusiawi). Disamping lima topik pemimpin yang telah diuraikan, masih ada tipe pemimpinyang perlu dikemukakan yakni :Tipe pemimpin yang “Leissezfaire” yang mempunyai ciri–ciri antara lain : a. Pemimpin berkedudukan sebagai simbol. b. Pemimpin hanya berfungsi sebagai penasihat. c. Membebaskan kebebasan sepenuhnya kepada orang yang dipimpin berbuat dan mengambil keputusan. d. Kebebasan tidak terarah sehingga perwujudan kerja menjadi simpang siur. e. Wewenang menjadi tidak jelas dan tanggung jawab menjadi kacau8.5 Sifat–sifat Pemimpin yang Baik Tugas terpenting dan utama dari seorang pemimpin ialah untuk memimpin orang,memimpin pelaksanaan pekerjaan dan menggerakkan menggunakan sumber–sumbermaterial. Untuk melaksanakan tugas itu dengan baik, seorang pemimpin harus memilikiciri–ciri sebagai berikut : a. Sehat jasmani dan rohani. b. Berpengetahuan luas. c. Berkeyakinan, tidak ragu–ragu. d. Mengetahui dengan jelas sifat hakiki tujuan yang hendak dicapai. e. Memiliki stamina dan daya kerja yang besar. f. Cepat dan tepat mengambil keputusan. g. Obyektif dan rasional. h. Adil dalam memperlakukan bawahan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 i. Menguasai prinsip–prinsip Human Relation. j. Menguasai tehnik–tehnik berkomunikasi. k. Dapat dan mampu bertindak sebagai penasehat, guru dan kepala terhadap bawahannya. l. Generalist, mempunyai gambaran menyeluruh tentang semua aspek kegiatan organisasi. Pemimpin selalu motivator mampu menggerakkan bawahan menjalankantugasnya, seharusnya menguasai prinsip–prinsip Human Relations yang disebut The LenCommandement of Human Relation, yakni : 1. Harus ada sinkronisasi antara tujuan organisasi dengan tujuan individu dalam organisasi tersebut. 2. Suasana kerja yang menyenangkan. 3. Informalitas yang wajar dalam hubungan kerja. 4. Manusia bawahan bukan mesin ( manusiawi ). 5. Kembangkan kemampuan bawahan sampai tingkat maksimal. 6. Pekerjaan yang menarik dan penuh tantangan. 7. Pengakuan dan penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik. 8. Alat perlengkapan yang cukup. 9. Penempatan personil dengan tepat, The right men in the right place. 10. Balas jasa harus setimpal dengan jasa yang diberikan Equal pay for equal work.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB IX MOBILITAS SOSIAL9.1 Pengertian Mobilitas Sosial Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan,ataupun penurunan status dan peran anggota masyarakat. Misalnya, seorang pensiunanpegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusahadan berhasil dengan gemilang. Contoh lain, seorang anak pengusaha ingin mengikutijejak ayahnya yang berhasil. Ia melakukan investasi di suatu bidang yang berbeda denganayahnya, namun ia gagal dan jatuh miskin. Proses perpindahan posisi atau status sosialyang dialami seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial masyarakat inilahyang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (social mobility). Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan darisatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke stratayang lainnya. Sementara menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitassosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengaturorganisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antaraindividu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial.Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia danmemungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka.Mereka merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan yang lebih tinggi.Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalamstatus nenek moyang mereka, hidup dalam kelas sosial tertutup. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebihmemungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnyatertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat yangmenganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahirdari kasta yang paling rendah maka untuk selamanya ia akan tetap berada pada kasta yang
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memilikikemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan.Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebihtinggi.9.2 Cara-Cara Melakukan Mobilitas Sosial Untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas diantaranya dapat dicapaidengan cara: 1. Perubahan standar hidup Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan mempengaruhi peningkatan status. Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Manejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan. 2. Perkawinan Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan. Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut. 3. Perubahan tempat tinggal
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas. 4. Perubahan tingkah laku Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya. Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah- istilah asing. 5. Perubahan nama Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi. Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan "mas" di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesai dengan kedudukannya yang baru seperti "Raden" Sementara itu ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitassosial. Faktor-faktor penghambat itu antara lain: 1. Perbedaan Kelas Rasial
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Apa yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan 2. Agama Di negara yang masih menggunakan sistem kasta seperti di India, telah menghambat terjadinya mobilitas sosial ke tingkat yang lebih tinggi. 3. Diskriminasi Kelas Dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas ke atas. Hal ini terbukti dengan adanya pembatasan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan, sehingga hanya sedikit orang yang mampu mendapatkannya, misalnya pembatasan jumlah anggota DPR. 4. Kemiskinan Kemiskinan dapat membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai suatu sosial tertentu. Contoh: "A" memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena kedua orangtuanya tidak bisa membiayai, sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan status sosialnya. 5. Perbedaan jenis kelamin Gender atau jenis kelamin dalam masyarakat kita masih sangat berpengaruh terhadap prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesempatan untuk meningkatkan status sosialya seseorang.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 109.3 5 Bentuk Mobilitas Sosial 1. Mobilitas Sosial Horizontal Mobilitas horizontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosiallainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Tidakterjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya.Misalnya orang yang berpindah kewarganegaraan. 2. Mobilitas Sosial Vertikal Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial darisuatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Sesuai denganarahnya, mobilitas sosial vertikal dapat dibagi menjadi dua: a. Mobilitas Vertikal ke Atas (Social climbing) Mobilitas vertikal ke atas atau social climbing mempunyai dua bentuk: 1. Masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, di mana kedudukan tersebut telah ada sebelumnya. 2. Membentuk kelompok baru. Pembentukan suatu kelompok baru memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosialnya, misalnya dengan mengangkat diri menjadi ketua organisasi b. Mobilitas Vertikal ke Bawah (Social sinking) Mobilitas vertikal ke bawah mempunyai dua bentuk utama yaitu: 1. Turunnya kedudukan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Kedudukan individu turun ke kedudukan yang derajatnya lebih rendah. Misalnya seorang prajurit dipecat karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya. 2. Turunnya derajat kelompok. Derajat sekelompok individu menjadi turun yang berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan. Contoh: Korban Lumpur Lapindo yang sebelumnya telah mempunyai rumah permanen, tetapi sekarang harus hidup di pengungsian yang menempati tenda-tenda atau barak. Prinsip umum dalam mobilitas Vertikal (Sorokin, 1959) : 1. Hampir tidak ada yang sistim pelapisannya mutlak tertutup 2. Betapapun terbukanya sistim pelapisan dalam masyarakat, tak mungkin mobilitas vertikal bisa dilakukan dengan sebebas bebasnya. 3. Tidak ada mobilitas vertikal yang secara umum berlaku pada semua masyarakat 4. Terdapat perbedaan laju mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor faktor ekonomi, politik, dan pekerjaan 5. Dilihat dari sejarah, mobilitas sosial vertikal yang disebabkan faktor faktor ekonomis, politik dan pekerjaan tak ada kecenderungan yang kontinu tentang bertambah atau berkurangnya laju mobilitas sosial. 3. Mobilitas Antargenerasi Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi atau lebih,misalnya generasi ayah-ibu, generasi anak, generasi cucu, dan seterusnya. Mobilitas iniditandai dengan perkembangan taraf hidup, baik naik atau turun dalam suatu generasi.Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan padaperpindahan status sosial suatu generasi ke generasi lainnya. Contoh: Pak Parjo adalahseorang tukang becak. Ia hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, tetapiia berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pengacara. Contoh ini menunjukkan telahterjadi mobilitas vertikal antargenerasi.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 4. Mobilitas Intragenerasi Mobilitas sosial intragenerasi adalah mobilitas yang dialami oleh seseorangatau sekelompok orang dalam satu generasi. Contoh: Pak Darjo awalnya adalah seorangburuh. Namun, karena ketekunannya dalam bekerja dan mungkin juga keberuntungan, iakemudian memiliki unit usaha sendiri yang akhirnya semakin besar. 5. Mobilitas Geografis Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah kedaerah lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi.9.4 Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas Sosial Mobilitas sosial dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: 1. Perubahan kondisi sosial Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru. 2. Ekspansi teritorial dan gerak populasi Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk. 3. Komunikasi yang bebas Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas serta
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial yang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang. 4. Pembagian kerja Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan menuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut. 5. Tingkat Fertilitas (Kelahiran) yang Berbeda Kelompok masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat fertilitas yang tinggi. Pada pihak lain, masyarakat kelas sosial yang lebih tinggi cenderung membatasi tingkat reproduksi dan angka kelahiran. Pada saat itu, orang-orang dari tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih rendah mempunyai kesempatan untuk banyak bereproduksi dan memperbaiki kualitas keturunan. Dalam situasi itu, mobilitas sosial dapat terjadi. 6. Kemudahan dalam akses pendidikan Jika pendidikan berkualitas mudah didapat, tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu, menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus, kesulitan untuk mengubah status, akibat dari kurangnya pengetahuan.9.5 Saluran dan Dampak Mobilitas Sosial A. Angkatan bersenjata
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Angkatan bersenjata merupakan salah satu saluran mobilitas sosial. Angkatanbersenjata merupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikalke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. Misalnya, seorang prajurit yangberjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan, ia akanmendapatkan penghargaan dari masyarakat. Dia mungkin dapat diberikanpangkat/kedudukan yang lebih tinggi, walaupun berasal dari golongan masyarakatrendah. B. Lembaga-lembaga keagamaan Lembaga-lembaga keagamaan dapat mengangkat status sosial seseorang,misalnya yang berjasa dalam perkembangan Agama seperti ustad, pendeta, biksu dan lainlain. C. Lembaga pendidikan Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkretdari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai social elevator (perangkat) yangbergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikanmemberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebihtinggi. Contoh: Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjangyang tinggi. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakanpengetahuannya itu untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya,yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya. D. Organisasi politik Seperti angkatan bersenjata, organisasi politik memungkinkan anggotanya yangloyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, sehingga statussosialnya meningkat. E. Organisasi ekonomi Organisasi ekonomi (seperti perusahaan, koperasi, BUMN dan lain-lain) dapatmeningkatkan tingkat pendapatan seseorang. Semakin besar prestasinya, maka semakinbesar jabatannya. Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya bertambah. Karenapendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah. Dan karena kekayaannyabertambah akibatnya status sosialnya di masyarakat meningkat.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 F. Organisasi keahlian Orang yang rajin menulis dan menyumbangkan pengetahuan/ keahliannya kepadakelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada anggota biasa. G. Perkawinan Sebuah perkawinan dapat menaikkan status seseorang. Seorang yang menikahdengan orang yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruhpasangannya.9.6 Dampak mobilitas sosial Gejala naik turunnya status sosial tentu memberikan konsekuensi-konsekuensitertentu terhadap struktur sosial masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudianmendatangkan berbagai reaksi. Reaksi ini dapat berbentuk konflik. Ada berbagai macamkonflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas. A. Dampak Negatif 1. Konflik antarkelas: Dalam masyarakat, terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan, kekuasaan, dan pendidikan. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas. Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah, menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha. 2. Konflik antarkelompok sosial: Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi, profesi, agama, suku, dan ras. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi pemaksaan, maka timbul konflik. Contoh: tawuran pelajar, perang antarkampung.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 3. Konflik antargenerasi: Konflik antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan. Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua. 4. Penyesuaian kembali: Setiap konflik pada dasarnya ingin menguasai atau mengalahkan lawan. Bagi pihak-pihak yang berkonflik bila menyadari bahwa konflik itu lebih banyak merugikan kelompoknya, maka akan timbul penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa saling menghargai. Penyesuaian semacam ini disebut Akomodasi. B. Dampak Positif Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karenaadanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk maubersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. Contoh: Seorang anak miskinberusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan. Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat kearah yang lebih baik. Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan darimasyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jikadidukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung denganpeningkatan dalam bidang pendidikan.***
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB X NORMA SOSIAL DAN PERILAKU KOMUNIKASI10.1 Pengertian Kontrol Sosial Kata kontrol sosial berasal dari kata ‘social control’. ‘Social Control’ atau sistempengendalian sosial dalam percakapan sehari-hari diartikan sebagai pengawasan olehmasyarakat terhadap jalannya pemerintahan, khususnya pemerintah beserta aparatnya.Soekanto (1990), menjelaskan bahwa arti sesungguhnya dari pengendalian sosial jauhlebih luas. Dalam pengertian pengendalian sosial tercakup segala proses(direncanakan/tidak), bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa wargamasyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial yang berlaku. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa pengendalian sosial adalah suatutindakan seseorang/kelompok yang dilakukan melalui proses terencana maupun tidakdengan tujuan untuk mendidik, mengajak (paksaan/tidak) untuk mematuhi kaidah dannilai sosial tertentu yang dianggap benar pada saat itu. Selain itu perlu diketahui pulabahwa tindakan pengendalian sosial dapat dilakukan antara (1) individu (i) terhadapindividu lain, (2) individu terhadap kelompok (k), (3)kelompok terhadap kelompok, dan(4)kelompok terhadap individu. Contoh kasus yang paling hangat adalah tuntutan para mahasiswa (kelompok)kepada kelompok lain (pejabat pemerintah) untuk segera memberantas korupsi, kolusidan nepotisme (KKN) yang melanda birokrat dan sektor swasta dalam menjalankansegala aktivitasnya. Sebenarnya pemuda/mahasiswa cenderung ‘menjaga jarak’ denganpemerintah, hal ini dikarenakan mereka memiliki aktivitas akademik di dalamsekolah/kampus untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Tetapi jika pemerintahmulai menunjukkan ketidakbenaran dalam menjalankan aktivitasnya maka dalam diripemuda/mahasiswa muncul sikap kritisnya. Sikap kritis ini terbangun dari kebiasaanaktivitas di lingkungan kampusnya yang memang merangsang mereka untuk berpikir danmenyampaikan pendapatnya sesuai norma akademik.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Oleh karena itu secara umum, pemuda/mahasiswa walaupun sibuk dengankegiatannya dan posisinya berada di luar lingkungan pemerintah, mereka tetap melakukanpengendalian sosial yang kritis. Secara umum tujuan pengendalian sosial yang dilakukanpemuda/mahasiswa biasanya adalah untuk mencapai: 1. Keserasian antara kestabilan dengan perubahan dalam masyarakat; 2. Keadaan damai melalui keserasian antara kepastian dengan keadilan/ kesebandingan. Tidaklah mudah bagi pemuda/mahasiswa untuk menyampaikan pengendaliansosial tersebut. Hal ini disebabkan mereka sering dipandang sebelah mata oleh pihakpenguasa. Mereka sering lebih banyak dilihat dari segi lahiriah sebagai anak-muda yangbaru lahir dan tidak tahu persoalan. Padahal mereka lebih sering berpikir kritis dan bebasdari pengaruh manapun termasuk pribadinya sendiri. Pengendalian sosial oleh pemuda/mahasiswa lebih banyak bersifat pasif, namunjika dipandang penyimpangan telah berlebihan, mereka dapat melakukan cara yang lebihaktif untuk menekan pihak-pihak terkait. Cara pengendalian sosial dapat dilakukandengan cara-cara sebagai berikut : 1. Persuasif yaitu pengendalian sosial dengan cara damai. Misalnya dengan melayangkansurat protes, usulan, ajakan dialog, dan lain-lain. Cara ini dapat dilakukan secara langsungmaupun dengan memanfaatkan media massa. 2. Coercive adalah cara paksaan yang biasanya mengarah terjadinya kekerasan. Misalnyamelakukan demonstrasi yang mengerahkan massa secara besar-besaran denganmelakukan ajakan untuk menekan pihak yang dikontrol. Gerakan massa ini biasanyadiramaikan dengan yel-yel yang menjadi misi demontrasi tersebut.10.2 Gerakan Reformasi Salah satu gerakan pengendalian sosial yang masih hangat diingatan kita adalahgerakan pada masa reformasi yang dilakukan hampir seluruh mahasiswa di wilayahIndonesia. Pada saat itu nampaknya mahasiswa melihat adanya suatu yang tidak benar
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10dalam pelaksanaan pemerintahan. Kondisi itu telah berjalan cukup lama dan pemerintahtelah mendapat kritikan dari para akademisi, pengamat politik, maupun lembagainternational, di mana korupsi telah merajalela di Indonesia. Selain itu para pengusaha luar negeri yang mengatakan bahwa di Indonesiamembutuhkan biaya tinggi karena banyaknya biaya siluman. Selain itu pemerintahanOrde Baru dianggap telah melenceng dari rel yang semestinya, tidak demokratis dancenderung otoriter. Tuduhan lain terhadap pemerintah orde baru adalah merajalelanyakolusi dan nepotisme, baik dari mulai kegiatan kecil sampai pengucuran kredit yangtrilyunan rupiah. Serta pelanggaran hak asasi manusia baik karena alasan kepentingannegara maupun perorangan yang tidak pernah diusut tuntas. Gerakan reformasi pada saat itu mengajukan beberapa tuntutan, antara laintuntutan untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Terkenal dengan singkatanKKN. Tuntutan lain yang dikumandangkan oleh 11 Senat Mahasiswa Perguruan Tinggidi Bandung tanggal 12 April 1998 adalah penurunan harga kebutuhan pokok, penggantiankabinet, pencabutan paket UU politik dan penegakan hak asasi manusia (Mandayundalam Hadad, 1998). Karena pemerintah pada saat itu kurang merespon dan mengakomodasi denganbaik tuntutan mahasiswa, selanjutnya tuntutan mereka menjadi lebih keras yaitu turunkanPresiden Soeharto. Menurut Ridya La Ode dalam Hadad (1998), alasan mahasiswamenuntut turunnya Presiden Soeharto pada saat itu karena alasan tingkat ketergantunganelit politik di negeri ini terhadap Soeharto sangat besar. Sehingga kunci perubahan itusendiri ada pada Presiden Soeharto. Gerakan mahasiswa ini mempunyai misi untuk menuntut adanya perubahandalam kehidupan yang selama ini diikat oleh rezim orde baru. Penurunan PresidenSoeharto tersebut diharapkan memudahkan jalan kepada sistem pemerintahan yang lebihdemokratis. Keberhasilan tuntutan gerakan reformasi sehingga terjadi perubahan yangcukup drastis di negeri ini menurut Agung Wicaksono dalam Hamzah, Musa K, dan M.Ikhsan (1998) adalah karena beberapa hal, antara lain:1. Mahasiswa memiliki satu ‘musuh bersama’, punya satu titik sentral perjuangan: turunkan Soeharto. Hal ini sangat berpengaruh terhadap bergulirnya tuntutan seperti ‘bola salju’, untuk mencapai sasaran yang sesungguhnya.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 102. Dukungan rakyat yang sangat besar. Dukungan rakyat muncul karena krisis ekonomi telah menyentuh kebutuhan dasar dan kebutuhan fisik dari rakyat. Gerakan mahasiswa menjadi pemicu solideritas dari rakyat karena mereka sadar akan fenomena yang ada pada saat itu. Ketiga, persoalan yang dihadapi bangsa terlihat secara nyata. Kegagalan-kegagalan pemerintah dapat dilihat secara nyata dengan adanya indikator-indikator kuantitatif seperti kurs dolar, harga kebutuhan pokok yang melangit, dan sebagainya. Kondisi ini hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang yang diuntungkan karen sistem yang dijalankan orde baru. Dalam hal ini mahasiswa menempatkan diri sebagai agen kontrol sosial, di managagasan-gagasannya dilontarkan dalam bentuk kritik-kritik yang tajam (karena penguasapada saat itu tidak lagi mendengarkan aspirasi dan persoalan masyarakat). Dalam kontekgerakan reformasi nampaknya pemuda tidak saja memerankan agen kontrol sosial tetapijuga sebagai agen pembaharu (selanjutnya akan dijelaskan kemudian). Mengapa pemuda/mahasiswa pada saat itu menempatkan diri sebagai agenkontrol sosial. Hal ini dikarenakan beberapa alasan seperti adanya kekosongan komponenyang mampu menjembatani antara kepentingan rakyat dan kepentingan penguasa.Walaupun pada saat itu ada kalangan yang juga menyuarakan tuntutan seperti tuntutanpemuda/ mahasiswa namun penguasa dengan mudah membungkamnya dengan alasankepentingan sepihak bukan suara rakyat. Hal ini berbeda dengan posisi mahasiswa yangdianggap lebih netral tanpa kepentingan tertentu. Gerakan pemuda/mahasiswa merupakanlambang kekuatan moral yang bersih. Dalam melakukan kontrol sosial tidakdilatarbelakangi unsur politik. Idealisme pemuda/mahasiswa serta rasa cinta tanah air menjadi alasan lainmelakukan kontrol sosial. Pemuda/mahasiswa adalah komponen masyarakat yang selaluberpikir terbuka dan bebas sebagai akademisi, sehingga menyadarkan mereka terhadappermasalahan yang dihadapi masyarakat. Pemuda/mahasiswa juga memandang bahwadirinyalah sebagai ujung tombak proses kontrol sosial yang selama ini selalu terganjaloleh penguasa. Alasan lain, pada saat itu hubungan komunikasi antar organisasipemuda/mahasiswa cukup solid, sehingga memungkinkan mereka melakukan koordinasidengan baik. Seperti yang diungkapkan pengamat politik Arbi Sanit dalam suatuwawancara tentang ‘ajakan dialog oleh ABRI’ yang dimuat dalam Hadad (1998):
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 ”Sejauh yang saya ketahui mereka mampu. Apalagi mereka sekarang solid,kompak dan sepakat bekerja sama mencari kesepakatan siapa yang mau berbicara. Yangsaya dengar mereka mandiri tidak mau diperalat oleh siapapun. Ini nilai tambahmahasiswa sekarang, menunjukkan bebas dari intervensi, tidak mau pakai perantara. Sayayakin bila kondisi mahasiswa kompak dan solid mereka bisa jadi tumpuan harapanrakyat…..”. Kritik yang dilontarkan merupakan bentuk-bentuk pemikiran yang dikeluarkanpemuda/mahasiswa bersih dari kepentingan pihak tertentu. Namun kadang-kadanggerakan pemuda/mahasiswa dimanfaatkan oleh pihak tertentu, sehingga tidak lagimenjadi kontrol sosial yang murni dengan pesan moral. Keadaan ini terlihat denganadanya kerusakan, tindakan anarkhis, dan gangguan secara sengaja terhadap aktivitasmasyarakat lainnya pada saat terjadi demonstrasi atau unjuk rasa. Kerusakan fasilitas umum, dan gangguan terhadap pemakai jalan (termasuk jalantol) mewarnai aksi unjuk rasa. Beberapa pihak menggambarkan peristiwa ini sebagaibagian dari demokrasi dan usaha menarik perhatian penguasa, tetapi sebagian lainmengganggap sebagai pelanggaran hak asasi warga masyarakat yang terganggu. Padahalpelaku perusakan tersebut hanyalah oleh segelintir oknum pemuda/mahasiswa. Tetapisempat mencoreng muka gerakan mahasiswa karena publikasi media massa yang sangatcepat dan atraktif.10.3 Sarana Kontrol Sosial Hasil pemikiran pemuda/mahasiswa tidak akan ada gunanya jiga tidak disalurkandengan benar dan efektif. Oleh karena itu perlu adanya sarana yang tepat agar fungsikontrol sosial tercapai. Sarana ini menjadi penting karena pemerintah dan masyarakatdapat melihat secara jelas apa sebenarnya pesan kontrol sosial yang diinginkan olehpemuda atau mahasiswa. Selain itu, karena wilayah kita sangat luas serta pusat kekuasaansentralistis di Jakarta, maka peranan media massa menjadi sangat penting dalam gerakanini. Beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai sarana penyampaian pesan kontrolsosial adalah:
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 101. Pesan kontrol sosial ini biasanya dilontarkan pada diskusi-diskusi maupun pada seminar. Namun sarana ini dipandang sering tidak efektif karena khalayaknya terbatas, kecuali jika disiarkan melalui media massa. Selain itu pada acara tersebut mudah dilakukan rekayasa dan manipulasi. Sarana ini mungkin lebih cocok untuk ‘brainstorming’ tentang suatu permasalahan.2. Sarana kontrol sosial lainnya yang banyak dipakai adalah dengan memanfaatkan media massa secara langsung, seperti surat kabar, radio, dan televisi. Sarana kontrol sosial melalui media massa ini cukup efektif jika yang dinginkan sekedar penyampaian informasi (perubahan kognitif). Untuk mencapai kepada perubahan perilaku khalayaknya agak sulit. Tetapi memiliki kelebihan lain yang sangat signifikan. Berupa kemampuan mencapai jangkaun yang sangat luas pada waktu yang sangat singkat (terutama yang tergolong media massa elektronik). Jumpa pers/pers realise merupakan contoh yang paling sering digunakan suatu organisasi pemuda/mahasiswa untuk menyikapi suatu peristiwa.3. Sarana kontrol sosial yang sangat populer pada era reformasi adalah dengan cara melakukan demonstrasi, dimana pesan kontrol sosial dapat langsung diarahkan pada lembaga/instansi yang dituju.4. Dialog dengan instansi/pejabat pemerintah yang dianggap representatif (seperti DPR) dengan substansi kontrol sosial juga merupakan sarana yang populer digunakan. Namun sarana ini juga kadang ditolak karena berbagai alasan. Misalnya, saat ajakan dialog antara mahasiswa dengan ABRI dan presiden, mahasiswa menolak dengan alasan seperti: bersifat seremonial saja, simbolik, dan pemuas sementara.10.4 Pesan Moral Kontrol Sosial Ada kalangan yang mengatakan bahwa gerakan reformasi dari mahasiwa kadangmelenceng dari pesan moral sebenarnya. Ada gerakan pemuda/mahasiswa yang ternyatabergeser dari pesan moral yang non-partisan ke arah gerakan moral yang partisan. Artinyakadang-kadang pesan kontrol sosial tidak dilandasi prinsip-prinsip demokrasi danpenghargaan terhadap orang lain. Kondisi seperti ini berbahaya karena suara moralpemuda/mahasiswa dianggap suara rakyat.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Denny JA. (1999) menjelaskan kadang-kadang terjadi kemunduran ideologisdalam gerakan mahasiswa. Ini disebabkan oleh beberapa hal, khususnya gerakanpemuda/mahasiswa menjelang jatuhnya Soeharto. Pertama, gerakan yang sudah setahun, biasanya mengalami fragmentasi.Fragmentasi gerakan ini terurai, mungkin dari sifat gerakan yang moderat sampaiekstrem. Kemunduran gerakan mahasiswa ini karena terjadinya radikalisasi/ekstrimisasigerakan. Dalam kasus ini biasanya berbagai rambu prinsip demokrasi sering dilupakandan dilanggar. Kedua, adanya perubahan latar belakang gerakan itu sendiri. Semula gerakanbersandar pada kekuatan moral perlahan-lahan berubah menjadi gerakan politik. Sebagaigerakan moral, umumnya gerakan mahasiswa bersifat non-partisan dan tidak berdiri diatas kelompok partai tertentu. Namun kenyataannya cenderung memihak partai nonGolkar dan menolak pemilu, terutama mereka yang memilih kelompok politik radikal.Alasan ketiga terjadi pergeseran dalam ideologi gerakan pemuda/mahasiswa. Gerakannyatidak benar-benar menghayati ideologi yang mereka perjuangakan. Dalam slogan, merekamengklaim sebagai kekuatan reformasi dan demokrasi. Tetapi kenyataanya mereka lupainti dari reformasi dan demokrasi, yang harus mereka hayati dan menjadi acuan dalammenyikapi berbagai isu politik. Dari uraian tersebut di atas kiranya dapat dimengerti bahwa gerakanpemuda/mahasiswa dapat digolongkan sebagai usaha kontrol sosial. Hal ini disebabkanposisi pemuda/mahasiswa relatif netral dan mengandalkan pada kekuatan moral sebagaiinti kebenaran universal. Selain itu pemuda dan mahasiswa memiliki kesempatan untukberpikir lebih luas dan jernih.10.5 Jenis dan Macam-macam Norma Norma memiliki fungsi sebagai pedoman dan pengatur dasar kehidupanseseorang dalam bermasyarakat untuk mewujudkan kehidupan antara manusia yangaman, tentram dan sejahtera.10.5.1 Norma Sopan Santun Norma sopan santun adalah norma yang mengatur tata pergaulan sesama manusiadi dalam masyarakat.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10Contoh : - Hormat terhadap orang tua dan guru - Berbicara dengan bahasa yang sopan kepada semua orang - Tidak suka berbohong - Berteman dengan siapa saja - Memberikan tempat duduk di bis umum pada lansia dan wanita hamil10.5.2 Norma Agama Norma agama adalah norma yang mengatur kehidupan manusia yang berasal dariperaturan kitab suci melalui wahyu yang diturunkan nabi berdasarkan atas agama ataukepercayaannya masing-masing. Agama adalah sesuatu hal yang pribadi yang tidak dapatdipaksakan yang tercantum dalam undang-undang dasar 45 pasal 29.Contoh : - Membayar zakat tepat pada waktunya bagi penganut agama islam - Menjalankan perintah Tuhan YME - Menjauhi apa-apa yang dilarang oleh agama10.5.3 Norma Hukum Norma hukum adalah norma yang mengatur kehidupan sosial kemasyarakatanyang berasal dari kitab undang-undang hukum yang berlaku di negara kesatuan republikindonesia untuk menciptakan kondisi negara yang damai, tertib, aman, sejahtera, makmurdan sebagainya.Contoh : - Tidak melanggar rambu lalu-lintas walaupun tidak ada polantas - Menghormati pengadilan dan peradilan di Indonesia - Taat membayar pajak - Menghindari KKN / korupsi kolusi dan nepotisme
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Gambar 7. Facebook contoh dari Kontrol Sosial
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB XI PERAN KOMUNIKASI DALAM PROSES SOSIAL11.1 Komunikasi sebagai Proses Perubahan Komunikasi dilihat sebagai faktor penunjang modernisasi dan pembangunan.Tetapi teori pembangunan Barat terasa historis dalam tingkat praksis di negara-negaradunia ketiga. Sebab ia lebih menekankan pada faktor internal masyarakat daripada faktoreksternal sebagai penyebab utama keterbelakangan dan kemiskinan. Mereka melihatperkembangan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern tidak lain darieksistensi intelektual kontemporer evolusi sosial Darwin. Ini bisa dilacak dari pemikiranFerdinand Tonnies dengan konsep gammeinschaft dan gesselscaft atau Emile Durkheimdengan konsep solidaritas mekanis dan organisnya. Kritik paling radikal diajukan oleh intelektual asal Amerika Latin Andre GunderFrank yang intinya melihat kapitalisme negara-negara industri majulah sebagai penyebabutama pemerasan, ketimpangan, keterbelakangan dan kemiskinan negara-negara duniaketiga (Nasution, 1988). Komunikasi tidak selamanya sebagai penyebab perubahansosial, serta tidak selamanya pula tidak relevan dengan perubahan sosial. Artinya, adaperubahan sosial yang tidak disebabkan oleh komunikasi dan ada pula komunikasi yangditujukan untuk menghalangi perubahan sosial itu. Misalnya, komunikasi yang bersifatritual yang pada dasarnya untuk memelihara status quo. Padahal disisi lain, saat ini kita telah memasuki era yang disebut ”RevolusiKomunikasi”__Daniel Lerner, ”Masyarakat Pasca Industri” (The Post Industrial Society)dari Daniel Bell, ”Abad Komunikasi” atau ”Gelombang Ketiga” (The Third Wave) dariAlvin Toffler. Salah satu ciri yang menyertai berbagai sebutan era dari para ahli tersebutadalah penggunaan alat komunikasi sebagai media yang sangat penting di dalampergaulan manusia. Globalisasi sendiri telah memporakporandakan sebuah negara yangberusaha mengisolasi diri dari pergaulan dunia, bahkan Marshall McLuhan mengatakanbahwa kita telah memasuki Global Village (kampung global).
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Global Village artinya dunia diibaratkan sebuah kampung dengan suatu ciri apayang terjadi di sebuah wilayah negara dalam waktu singkat segera diketahui oleh negaralain. Sama persis suatu kejadian yang ada di sebuah sudut kampung dalam waktu singkatcepat diketahui oleh seluruh masyarakat di kampung tersebut. Menurut Collin Cherry kasus semacam itu sering diistilahkan dengan ledakankomunikasi massa. Ledakan komunikasi massa ternyata membawa implikasi geografisdan geometris. Implikasi geografis artinya suatu negara pada akhirnya akan terseret aruspada jaringan komunikasi dunia. Sedangkan implikasi geometris adalah berlipatnyajumlah lalu lintas pesan yang dibawa dalam sistem komunikasi yang jumlahnya berlipat-lipat. Saat ini kita tidak bisa membayangkan bahwa satelit kita dilewati (menjadiperantara) banyak informasi dan pesan. Berbagai perkembangan komunikasi tersebut sebenarnya merupakan proses yangterus menerus diperbaharui dari hari ke hari. Kalau dahulu sistem komunikasi dilakukanlewat pelayanan pos (Curtus Publicus) yang terjadi di kota Roma, kemudian berkembangmenjadi lebih maju dengan ditemukannya telegraf satu abad sesudahnya, penemuankristal transistor pada 1948, satelit dan saat ini sudah ada bentuk komunikasi yangsemakin canggih dengan menggunakan istilah electronic memory chips (chips) berupaperalatan mikro komputer. Daniel Lerner, dalam tulisannya yang berjudul Technology, Communication, andChange pada 1976, mencatat lima revolusi komunikasi yang pernah terjadi di duniasebelum tahun 1975. Lima revolusi komunikasi tersebut yakni sebagai berikut. Teknologi Media Rentang Waktu ke Tahun 1975 Mesin cetak cetakan + 500 tahun Kamera atau film visual 100 tahun Transmitter atau tabung hampa audio 50 tahun
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Transistor atau tabung gambar audio visual 20 tahun Satelit Jaringan dunia pertama 10 tahun Setiap revolusi komunikasi berbeda rentang waktunya,antara revolusi pertama kerevolusi kedua membutuhkan waktu lebih dari 400 tahun. Waktu selama empat abad itudibutuhkan untuk mengembangkan sebuah kelas sosial yang bisa memanfaatkanteknologi cetak tersebut. Di Indonesia perkembangan tersebut juga terasa sekali.Komunikasi antarpersona yang dahulu menjadi andalan dalam proses komunikasi lambatlaun posisinya sudah tergeser oleh media radio dan surat kabar yang digunakan untuk alatperjuangan. Kemudian tergeser oleh peran media televisi ketika di tanah air sudah adasiaran televisi pada 1962.11.2 Hakikat Komunikasi sebagai Proses Sosial Studi tentang peranan komunikasi dalam proses sosial banyak dikaitkan denganasumsi-asumsi bahwa perubahan sosial (social change) dapat disebabkan karenakomunikasi. Para ahli umumnya menitikberatkan perhatiannya pada studi tentang efekkomunikasi. Para pakar dari berbagai disiplin ilmu sangat percaya bahwa komunikasimerupakan sebuah kekuatan yang bisa digunakan secara sadar untuk mempengaruhi danmengubah perilaku masyarakat, terutama dalam menerima gagasan-gagasan baru danteknologi baru. Arifin mencatat bahwa keyakinan tersebut telah menyebabkan berkembangnyakajian tentang difusi. Sesungguhnya kajian difusi ini telah dilakukan oleh Lazarsfeld,Barelson, dan Gandet, tahun 1948, yang berkembang tahun 1955. Para pakar psikologi inimenemukan bahwa peranan yang dimainkan oleh media massa dalam mempengaruhikhalayak sangat kecil, bila dibandingkan dengan komunikasi langsung. Lain lagi yang dicatat Wilbur Schramm dan Daniel Lezner bahwa konsep difusidan adopsi inovasi pada akhirnya melandasi terjadinya dua revolusi besar yang melandaDunia Ketiga, yakni revolusi hijau dan revolusi pengendalian penduduk. Pada masa yang
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10akan datang, masalah difusi dan inovasi terasa masih sangat urgent atau penting. Bukansaja diharapkan masyarakat dapat menerima dan menyebarkan inovasi pembangunan,tetapi juga mampu berpartisipasi secara aktif dalam proses perubahan sosial yangdirencanakan (development). Santoso S. Hamijoyo mengemukakan konsep tentang komunikasi partisipatorisdi mana partisipasi masyarakat secara sadar, kritis, sukarela, murni, danbertanggungjawab memang baik. ”Baik” bukan sekedar karena bahwa dengan demikianada kemungkinan biaya pembangunan menjadi murah, tetapi ”baik” karena memangsesuai dengan prinsip-prinsip dasar membangun masyarakat, bangsa, dan negara. Kendalapartisipasi tersebut, menurut Santoso S. Hamijoyo, bukan hanya karena tingkatpendidikan dan peradaban, tetapi juga karena sulitnya pelaksanaan partisipasi masyarakat.Dengan kata lain, kendala partisipasi tersebut lebih banyak bersumber dari kurangnyakemauan atau itikad baik, komitmen moralitas dan kejujuran dari sebagian parakomunikator, pemimpin dan penguasa, baik di kalangan pemerintah, swasta, maupunmasyarakat dari semua tingkatan. Maka dari itu, masalah komunikasi pembangunan bukan hanya menyangkutbagaimana melakukan transformasi ide dan pesan melalui penyebaran informasi. Difusidan inovasi merupakan problem struktural. Artinya, penerimaan dan penyebarluasan idebaru tersebut sangat tergantung pada sifat atau karakteristik lapisan masyarakat(stratifikasi sosial).11.3 Komunikasi dan Perubahan Sosial Jurnal Komunikasi Audientia, Vol. I, 2 April – Juni 1993, menurunkan tulisanBruce H. Westley. Ia sudah sejak lama menekuni pemikiran di sekitar komunikasisebagai domain perubahan sosial. Dalam buku Process and Phenomena of Social Changepada 1978, Westley menulis panjang lebar tentang komunikasi dan perubahan sosial. Beberapa asumsi yang mendasari kajian perubahan sosial di mana komunikasiterlibat di dalamnya antara lain: 1. Proses komunikasi menghasilkan perubahan-perubahan pengertian.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Hal itu bukan saja terjadi secara individual, bahkan bisa bersifat sistemik. YoungYun Kim mendefinisikan komunikasi sebagai pertukaran informasi di antara dua sistemyang mengatur dirinya sendiri. 2. Pertukaran informasi mempunyai tujuan pendidikan, hiburan, persuasi, dan sebagainya. Melalui proses inilah teori pembelajaran sosial melihat bahwa setiap manusiamemiliki suatu sikap atau nilai atau pandangan tertentu terhadap dunianya. Sebaliknya,dunia sekitarnya membangun dan mempengaruhi persepsi kita. Peranan media massadalam hubungannya dengan teori pembelajaran sosial tersebut bisa mengisi keempatproses yang diajukan oleh Albert Bandura, yakni proses memperhatikan, prosesmengingatkan kembali, proses gerakan untuk menciptakan kembali, dan prosesmengarahkan gerakan sesuai dorongan. 3. Dalam proses komunikasi terjadi sosialisasi nilai. Wilbur Schramm menyatakan bahwa kegiatan komunikasi juga dapat dilihat darikedudukan fenomena dalam kehidupan sosial. Komunikasi pada dasarnya membuatindividu menjadi bagian dari lingkungan sosial. Hubungan yang terbentuk akibatinformasi, jika memiliki pola (pattern), akan disebut sebagai instruksi atau perantarakomunikasi. Rogers dan Kincaid menggambarkan terbentuknya suatu realitas sosial(social reality) akibat proses komunikasi, yakni berupa saling pengertian (mutualunderstanding), persetujuan bersama (mutual agreement), dan tindakan bersama(collective action). 4. Bahwa kegiatan komunikasi mempunyai efek yang spesifik. Teori komunikasi yang paling banyak membahas masalah efek adalah komunikasimassa, khususnya efek media. Horton Cooley sejak awal abad ke-20 sudah mengatakanbahwa media massa dapat memanusiakan dan meningkatkan kemampuan masyarakat,dalam menanggapi persoalan-persoalan baru, dan memberikan konteks umum dalamrangka pengambilan keputusan yang demokratis serta menghentikan monopolipengetahuan yang aristokratis (sebuah sistem pemerintahan yang dipimpin oleh individuyang terbaik). Dalam pandangan strukturalisme, C. Wright Mills mengatakan sebaliknyabahwa kekuatan elite dalam mengontrol massa adalah dengan mengontrol ekses terhadapmedia massa.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 5. Komunikasi telah terbukti sebagai cara yang efektif dalam penyebaran ide-ide baru kepada masyarakat yang terdiri atas inovasi. Kemudian, asumsi keenam ialah komunikasi merupakan cara penularan perilaku.Asumsi ketujuh bahwa motivasi berprestasi secara korelatif digunakan dengan caramemanfaatkan media massa. Asumsi kedelapan bahwa komunikasi memiliki keterbatasandalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan. Karena, komunikasi bukan satu-satunya komponen yang menentukan perubahan.11.4 Komunikasi Sebagai Proses Sosial Menurut Peter L. Berger, hubungan antara manusia dengan masyarakatberlangsung secara dialektis dalam tiga momen: eksternalisasi, objektivasi, daninternalisasi. Berikut ini adalah penjelasannya. 1. Eksternalisasi ialah proses penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia.Dimulai dari interaksi antara pesan iklan dengan individu pemirsa melalui tayangantelevisi. Tahap pertama ini merupakan bagian yang penting dan mendasar dalam satu polainteraksi antara individu dengan produk-produk sosial masyarakatnya. Yang dimaksuddalam proses ini ialah ketika suatu produk sosial telah menjadi sebuah bagian pentingdalam masyarakat yang setiap saat dibutuhkan oleh individu, maka produk sosial itumenjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk melihat dunia luar; 2. Objektivasi ialah tahap di mana interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yangdilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi. Pada tahap ini, sebuah produksosial berada proses institusionalisasi, sedangkan individu memanifestasikan diri dalamproduk-produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen-produsennya maupunbagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama. Objektivasi ini bertahan lama sampaimelampaui batas tatap muka di mana mereka bisa dipahami secara langsung. Dengandemikian, individu melakukan objektivasi terhadap produk sosial, baik penciptanyamaupun individu lain. Kondisi ini berlangsung tanpa harus mereka saling bertemu.Artinya, proses ini bisa terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk sosial yangberkembang di masyarakat melalui diskursus opini masyarakat tentang produk sosial, dantanpa harus terjadi tatap muka antarindividu dan pencipta produk sosial;
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 3. Internalisasi ialah proses di mana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya. Terdapat duapemahaman dasar dari proses internalisasi secara umum; pertama, bagi pemahamanmengenai ‘sesama saya’ yaitu pemahaman mengenai individu dan orang lain; kedua,pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial. Kenyataan yang berhadapan antara masyarakat dengan manusia ada hubungansaling mempengaruhi tersebut dibangun tak lain dengan proses komunikasi. Artinya,komunikasi dalam hal ini, adalah sebuah proses sosial di masyarakat. Proses sosialdiartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai kehidupan bersama. Dalamhubungannya dengan proses sosial, komunikasi menjadi sebuah cara dalam melakukanperubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani perbedaan dalammasyarakat karena mampu merekatkan kembali sistem sosial masyarakat dalam usahanyamelakukan perubahan. Namun begitu, komunikasi juga tak akan lepas dari kontekssosialnya. Dapat dikatakan bahwa ia akan diwarnai oleh sikap, perilaku, norma, danpranata masyarakatnya. Jadi antara komunikasi dan proses sosial saling melengkapi dansaling mempengaruhi. Seperti halnya, hubungan antara manusia dengan masyarakat yangdikemukakan Berger di atas. Goran Hedebro mengamati hubungan antara perubahan sosial dengankomunikasi, berikut adalah hasil pengamatannya: 1. Teori komunikasi Mengandung makna pertukaran pesan. Tidak ada perubahan dalam masyarakat tanpa peran komunikasi. Dapat dijelaskan bahwa komunikasi hadir pada semua upaya yang bertujuan membawa ke arah perubahan. 2. Meskipun komunikasi Hadir dengan tujuan membawa perubahan, namun ia bukan satu-satunya alat yang dapat membawa perubahan sosial. Komunikasi hanyalah salah satu dari banyak faktor yang menimbulkan perubahan masyarakat. 3. Media
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Yang digunakan dalam komunikasi berperan melegitimasi bangunan sosial yang ada. Media adalah pembentuk kesadaran yang pada akhirnya menentukan persepsi orang terhadap dunia dan masyarakat sebagai tempat mereka hidup. 4. Komunikasi Adalah alat yang luar biasa guna mengawasi salah satu kekuatan penting masyarakat; konsepsi mental yang membentuk wawasan orang mengenai kehidupan. Mereka yang berada dalam posisi mengawasi media, bisa menggerakkan pengaruh yang menentukan menuju arah perubahan sosial. Komunikasi sebagai proses sosial adalah bagian integral dari masyarakat. Secaragaris besar komunikasi sebagai proses sosial di masyarakat memiliki fungsi-fungsisebagai berikut: 1. Komunikasi menghubungkan antar berbagai komponen masyarakat. Komponen di sini tidak hanya individu dan masyarakat saja, tetapi juga lembaga-lembaga sosial (pers, humas, universitas), asosiasi pers, asosiasi humas, organisasi desa,dan berbagai lembaga lainnya. Bentuk lembaga tersebut dapat dipertahankan dan tidaksangat tergantung dari peran komunikasi. Jika dalam musyawarah anggota memutuskansuatu asosiasi bubar, tentu tidak dapat dipertahankan lagi. 2. Komunikasi membuka peradaban (civilization) baru bagi manusia. Menurut Koentjaraningrat istilah peradaban dipakai untuk bagian-bagian danunsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian dan ilmupengetahuan. Komunikasi telah mengantarkan peradaban negara Barat menjadi majudalam ilmu pengetahuan. 3. Komunikasi ialah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat. Berbagai nilai (value), norma (norm), peran (role), cara (usage), kebiasaan, tatakelakuan, dan adat dalam masyarakat yang mengalami penyimpangan akan dikontroldengan komunikasi, baik melalui bahasa lisan maupun perilaku nonverbal individu. 4. Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan di dalam sosialisasi nilai ke masyarakat.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Misalnya saja, bagaimana sebuah norma kesopanan disosialisasikan kepadagenerasi muda dengan menggunakan contoh perilaku orang tua dan nasihat langsung. 5. Individu berkomunikasi dengan orang lain menunjukkan jati diri kemanusiaannya. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai manusia karena menggunakankomunikasi. Komunikasi juga berarti mencerminkan identitas sosial individu tersebut dilingkungan masyarakat.11.5 Komunikasi Sebagai Proses Budaya Menurut Jalaluddin Rakhmat dan Deddy Mulyana, di dalam bukunya yangberjudul Komunikasi Antarbudaya, sekurang-kurangnya ada tiga pandangan terhadapkomunikasi, yaitu: 1. Komunikasi sebagai aktifitas simbolik Ketika sedang berkomunikasi, kita biasanya menggunakan simbol-simbolbermakna yang diubah ke dalam kata-kata verbal (nonverbal) untuk diperagakan. Simbol-simbol komunikasi yang dimaksud dapat berbentuk tindakan, aktifitas, atau tampilanobjek yang mewakili makna tertentu. Makna adalah persepsi, pikiran, atau perasaan yangdialami seseorang yang selanjutnya akan dikomunikasikan kepada orang lain. 2. Komunikasi sebagai proses Komunikasi merupakan aktifitas yang terjadi secara terus berlangsung, dinamis,dan berkesinambungan sehingga selalu mengalami perubahan. 3. Komunikasi sebagai pertukaran makna Makna adalah pesan yang dimaksudkan oleh pengirim dan diharapkan dimengertipula oleh penerima. Permasalahannya adalah bagaimana setiap orang mampu membuatkata-kata menjadi bermakna. Asumsi dasarnya adalah komunikasi merupakan suatu proses budaya. Artinya,komunikasi yang ditujukan pada orang atau kelompok lain adalah sebuah pertukarankebudayaan. Misalnya, anda berkomunikasi dengan suku Aborigin Australia, secara tidaklangsung Anda sedang berkomunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu milik Anda
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10untuk menjalin kerja sama atau mempengaruhi kebudayaan lain. Dalam proses tersebutterkandung unsur-unsur kebudayaan, salah satunya ialah bahasa. Sedangkan bahasaadalah alat komunikasi. Maka, komunikasi juga disebut proses budaya.11.6 Unsur Budaya di dalam Proses Komunikasi Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dankarya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasilbudi dan karyanya. Dari definisi yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat, kita bisamelihat bahwa di dalam kebudayaan terdapat gagasan, budi, dan karya manusia yangakan menjadi kebudayaan setelah dipelajari terlebih dahulu oleh manusia. Wujud darikebudayaan ialah sebagai berikut:  Wujud sebagai suatu kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia;  Wujud sebagai suatu kompleks aktivitas manusia;  Wujud sebagai benda; Wujud Kebudayaan secara operasional bisa terbagi menjadi beberapa unsur yangterangkum dalam cultural universal, mencakup: peralatan dan perlengkapan kehidupanmanusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan,bahasa (lisan maupun tertulis), kesenian, sistem pengetahuan, sistem kepercayaan ataureligi. Dalam konteks komunikasi sebagai proses budaya, kita tidak terlepas daripenggunaan bahasa verbal dan nonverbal. Bahasa verbal dan nonverbal yang digunakanmanusia dalam mengadakan kontak dengan lingkungannya memiliki kesamaan antaralain: 1. Menggunakan sistem lambang; 2. Merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh individu manusia; 3. Orang lain juga memberikan arti pada simbol yang dihasilkan tadi.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Sehingga terjadi proses saling memberikan arti pada simbol-simbol yangdisampaikan oleh individu-individu yang saling berkomunikasi. Tanda atau simbolmerupakan alat yang digunakan dalam interaksi. Pembahasan mengenai simbol harusdiawali dengan konsep ‘tanda’ (sign). Tanda dapat disebut sebagai unsur yang digunakanuntuk mewakili unsur lain. Dari tanda dan simbol tersebut, kita memberikan makna.Setiap orang akan memberikan makna berdasarkan pengalaman pribadinya. Manusiadapat memiliki makna sama hanya ketika mereka mempunyai pengalaman yang samaatau dapat mengantisipasi pengalaman-pengalaman yang sama. Dilihat dari fungsinya, bahasa merupakan alat yang dimiliki bersama untukmengungkapkan gagasan (socially shared), karena bahasa hanya dapat dipahami apabilaada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya.Bahasa diungkapkan dengan kata-kata dan kata-kata tersebut sering diberi arti arbiter(semaunya). Contoh: terhadap buah pisang orang Sunda menyebutnya cau dan orang jawamenyebutnya gedang. Kemudian definisi bahasa secara formal ialah semua kalimat yangterbayangkan dan bisa dibuat menurut peraturan bahasa. Setiap bahasa bisa dikatakanmempunyai tata bahasanya sendiri. Dalam studi kebudayaan, bahasa ditempatkan sebagai sebuah unsur pentingselain unsur-unsur lain, seperti sistem pengetahuan, mata pencaharian, adat istiadat,kesenian, dan sistem peralatan hidup. Bahkan bahasa bisa dikategorikan sebagai unsurkebudayaan yang membentuk non-material selain nilai, norma, dan kepercayaan. Bahasamerupakan komponen budaya yang sangat penting yang mempengaruhi penerimaan kita,perilaku kita, perasaan, dan kecenderungan kita untuk bertindak menanggapi lingkungankita. Atau dengan kata lain, bahasa mempengaruhi kesadaran kita, aktivitas, dan gagasankita, benar atau salah, moral atau tidak bermoral, serta baik atau buruk. Bahasa dari suatubudaya berbeda dengan bahasa dari budaya lain dan bahasa dari sebuah subkultur tertentuberbeda dengan bahasa dari subkultur yang lain.11.7 Komunikasi di dalam Sistem Politik Sebagaimana diketahui konsep komunikasi politik di dalam ilmu politik telahmengalami perkembangan dalam pengertiannya. Gabriel Almond pernahmengkategorikannya sebagai salah satu dari empat fungsi input sistem politik. KemudianAlfian, di dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Politik dan Sistem Politik Indonesia,
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10menjadikan komunikasi politik sebagai penyebab bekerjanya semua fungsi dalam sistempolitik. Komunikasi politik diibaratkan sebagai sirkulasi darah di dalam tubuh. Bukan darahnya, tapi apa yang terkandung di dalam darah itu yang menjadikansistem politik itu hidup. Lebih lanjut Alfian menjelaskan komunikasi politik, sebagailayaknya darah, mengalirkan pesan-pesan politik berupa tuntutan, protes, dan dukunganyang berupa aspirasi dan kepentingan, untuk dibawa ke jantung sebagai pusat pemrosesansistem politik. Lalu hasil pemrosesan itu disimpulkan dalam bentuk fungsi-fungsi outputuntuk dialirkan kembali oleh komunikasi politik yang selanjutnya menjadi feedback didalam sistem politik. Dengan kata lain, komunikasi politik menyambungkan semua bagian dari sistempolitik dan juga masa kini dengan masa lampau, sehingga dengan demikian aspirasi dankepentingan dikonversikan menjadi berbagai kebijakan. Apabila komunikasi itu berjalanlancar, wajar, dan sehat, maka sistem politik itu akan mencapai tingkat kualitas responsifyang tinggi terhadap perkembangan aspirasi dan kepentingan masyarakat serta tuntutanperubahan zaman. Hal itu biasanya terjadi pada suatu sistem politik yang mampumengembangkan kapasitas dan kapabilitasnya secara terus-menerus. Bagaimana komunikasi politik menyambungkan seluruh bagian dari sistempolitik? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan contoh berikut ini. Orang tua, sekolah,pemuka agama, dan tokoh masyarakat melalui komunikasi politik menanamkan nilai-nilaike dalam masyarakat. Para pemimpin organisasi politik dan kelompok kepentinganmengkomunikasikan aspirasi dan kepentingan masyarakat sebagai kehendak mereka sertarekomendasi kebijakan untuk memenuhinya. Setelah menerima informasi dari berbagai pihak, mereka yang bertugasmelaksanakan fungsi legislatif membuat undang-undang yang dianggap perlu danrelevan, yang kemudian dikomunikasikan kepada pihak yang berwenang untukmelaksanakannya. Proses pelaksanaannya dikomunikasikan kepada masyarakat dandinilai oleh masyarakat sehingga penilaian itu dikomunikasikan lagi. Dalam seluruhproses komunikasi politik, media massa baik cetak maupun elektronik, memainkan peranpenting, selain saluran-saluran lainnya seperti tatap muka, surat-menyurat, mediatradisional, organisasi, keluarga, dan kelompok pergaulan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Sebagaimana bisa ditinjau, pada setiap bagian dari sistem politik terjadikomunikasi politik, mulai dari proses penanaman nilai (sosialisasi politik atau pendidikanpolitik) sampai kepada pengartikulasian dan penggabungan aspirasi dan kepentingan,terus kepada proses pengambilan kebijakan, pelaksanaan, dan penghakiman terhadapkebijakan tersebut. Tiap-tiap bagian atau tahap-tahap itu disambungkan pula olehkomunikasi politik. Demikianlah, secara simultan, timbal-balik, vertikal maupun horizontal dalamsuatu sistem politik yang handal, sehat, dan demokratis, komunikasi politik terjadi padasetiap bagian dari keseluruhan sistem politik. Sistem politik seperti itu sudah berhasilmenjadikan dirinya sistem politik yang mapan dan handal, yakni sistem politik yangmemiliki kualitas kemandirian yang tinggi untuk mengembangkan dirinya secarakontinyu. Itulah sistem politik yang sudah tinggal landas secara self-sustainable. Lebihjauh bisa digambarkan peranan penting komunikasi politik dalam memelihara danmeningkatkan kualitas kehandalan suatu sistem politik yang sudah mapan. Ia berperanpenting sekali dalam memelihara dan mengembangkan budaya politik yang ada danberlaku yang telah menjadi landasan yang mantap dari sistem politik yang mapan danhandal itu. Komunikasi politik mentransmisikan nilai-nilai budaya politik yang bersumberdari pandangan hidup atau ideologi bersama masyarakatnya kepada generasi baru (anak-anak, remaja, dan pemuda, termasuk mahasiswa) dan memperkuat prosespembudayaannya dalam diri generasi yang lebih tua. Maka dari itu, budaya politikmampu terpelihara dengan baik, bahkan mungkin berakar dan terus berkembang dari satugenerasi ke generasi berikutnya. Bersamaan dengan itu, komunikasi politik bisa menyatudan menjadi bagian integral dari budaya politik tersebut. Komunikasi politik berakar,hidup, dan berkembang bersama-sama dengan budaya politiknya.11.8 Komunikasi sebagai Proses Politik Dengan komunikasi, maka realitas, sejarah, tradisi politik bisa dihubungan dandirangkaikan dari masa lalu untuk dijadikan acuan ke masa depan. Dengan komunikasi
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10sebagai proses politik, berbagai tatanan politik berubah sesuai dengan tuntutanmasyarakat akan berubah. Misalnya, tradisionalisme. Berbagai adopsi tradisi luar juga tidak akan mudah diterima begitu saja dan suatusaat akan mengalami kegagalan seandainya bertentangan dengan tradisi yang sudah ada.Ada beberapa catatan yang bisa ditarik ketika kita memperbincangkan komunikasisebagai proses politik, yakni sebagai berikut:1. Komunikasi memiliki peran signifikan dalam menentukan proses perubahan politik di Indonesia. Ini bisa dilihat dari perubahan format lembaga kepresidenan yang dahulunya sakral kemudian menjadi tidak sakral. Ini semua diakibatkan terbinanya komunikasi politik yang baik antara masyarakat dan pemerintah.2. Kita pernah mewarisi komunikasi politik yang tertutup sehingga mengakibatkan ideologi politik yang tidak terbuka. Kemudian timbul penafsiran ada pada pihak penguasa yang mendominasi dan mengontrol semua bagian, sehingga memunculkan hegemoni dan pola atau arus komunikasi top down yang indoktrinatif.3. Komunikasi masih dipengaruhi oleh tradisi politik masa lalu. Tradisi politik yang mementingkan keseimbangan, harmoni, dan keserasian masih diwujudkan meskipun dalam kenyataannya tradisi itu justru dijadikan alat legitimasi politik penguasa atas nama stabilitas. Keterpengaruhan ini juga termanifestasikan pada budaya sungkan yang masih kental dalam tradisi komunikasi kita.4. Sebagai proses politik, komunikasi menjadi alat yang mampu untuk mengalirkan pesan politik (berupa tuntutan dan dukungan) ke pusat kekuasaan untuk diproses. Proses itu kemudian dikeluarkan kembali dan selanjutnya menjadi umpan balik. Ini artinya, komunikasi sebagai proses politik adalah aktivitas tanpa henti.****
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB XII PERAN MEDIA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT12.1 Budaya Lokal dan Kehidupan Masyarakat Media Lokal/pers adalah media/pers yang dibangun oleh dan untuk orang-oranglokal. Lokal dapat berarti suatu kota, kabupaten atau propinsi atau wilayah yang dihuniatau suatu kelompok suku, dalam suatu wilayah geografis yang lebih besar. Fungsi media/pers lokal pada dasarnya untuk memebuhi kebutuhan masyarakatyang bersangkutan, apakah itu dalam segi pendidikan, informasi, kebudayaan atauhiburan. Akan tetapi yang terpenting yaitu untuk membangun dan mengembangkan jatidiri (identitas) masyarakat lokal tersebut. Namun dalam kenyataan sekarang masyakat Indonesia termasuk birokratdipemerintahan, umumnya menganut pandangan objektif terhadap budaya. Merekamemandang bahwa budaya adalah suatu entitas yang cenderung statis yang terutamaberbentuk aspek-aspek yang dapat di lihat dan diraba seperti artefak, kerajinan tangan,tarian bangunan, dsb. Hal ini bisa di lihat dengan adanya kementrian kebudayaan, namunyang diurusinya hanya hal-hal yang bersifat nyata. Sebagai kita yang hanya memandang budaya secara objektif, maka sebagaiakibatnya mengundang beberapa persoalan, diantanya: 1. Kita cenderung etnosentrik, menganggap budaya kita sebagai yang terbaik dan mengukur budaya yang lain dengan standar kita. Maka kita pun menganut otostereotip “masyarakat kita ramah tamah” “masyarakat kita religius” dsb padahal bangsa-bangsa lain pun boleh jadi menganggap diri mereka ramah tamah. 2. Kita menjadi kurang kritis terhadap aspek-aspek budaya yang kita warisi dari nenek moyang kita, karena kita menganggap sebagai bawaan yang tak perlu
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 dipersoalkan lagi. Padahal sebagai aspek budaya mana pun yang merupakan hasil kreasi manusia selalu ada aspek positif dan negatif. Aspek budaya yang negative adalah kebiasaan jam karet, etos kerja yang rendah sehingga kita menjadi bangsa yang lembek dan tidak mampu bersaing dengan bangsa lain. Ironisnya kita justru malah lebih suka mengadopsi budaya asing yang justru merusak semisal sifat hedonisme (memuja kesenangan) Contoh lain yang harus kita kritisi dari budaya kita adalah kolektivisme/gotong royong. Dalam bahasa Sunda Bongkong ngaronjok bengkung ngariung atau bahasa jawa mangan ora mangan asal kumpul. Disana memang ada nilai harmoni/keselarasan tetapi dengan mengorbankan kebiasaan atau kemampuan berbeda pendapat. Akibatnya kita menjadi orang-orang yang emosional, temperamental dan berangasa. Dalam batas-batas tertentu kolektivisme boleh-boleh saja dipertahankan, misalnya saling berkunjung dan kerja bakti. Akan tetapi kalau tidak hati-hati ini bisa menimbulkan terjadinga KKN dalam berbagai bentuk dan diberbagai bidang. 3. Kita menjadi kaku dan kurang luwes dalam bergaul dengan budaya lain. Kita menjadi gagap dan gamang untuk berinteraksi dengan suku-suku lain atau bangsa-bangsa lain yang ada disekitar kita, kita kerap kali hanya terbawa arus ikut-ikutan, tidak percaya diri, tidak mandiri. Menurut Dr.Ide Anak Agung Gde Agung mantan Dubes Indonesia untuk Austriamenjadi salah satu factor yang menyebabkan lemahnya para diplomat Indonesia di luarnegeri. Mereka kurang menguasai bahasa asing dan kurang mampu bergaul dengan orangasing. Mengubah pandangan budaya dari objektif ke interpretif yang mengisyaratkanbahwa budaya itu dinamis, bahwa kita bukan sekedar orang yang harus mengikuti nilai-nilai budaya yang diwarisi dari terdahulu, tetapi harus mengkritisinya, memperbaharuinya
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10sesuai nilai-nilai positif yang kita prioritaskan. Sikap kita yang benar adalah bagaimanakita mampu memelihara nilai-nilai budaya local yang positif yang sesuai dengan agamakita, dan bagaimana pula kita mampu menyaring budaya asing. WS Rendra: kita dapat mengadopsi aspek-aspek budaya dari mana pun sejauh halitu meningkatkan martabat kemanusiaan kita. Sayangnya yang lebih banyak ditiru daribarat yaitu hal-hal yang negative. Salah satu misi terpenting pers lokal adalah misi pendidikan yaitu bagaimanamembangkitkan jati diri yang selama ini dianggap memble jika berhadapan dengan sukulain.12.2 Film dan Budaya Lokal Melvin DeFleur lewat teori norma budaya (the cultural norm theory): padadasarnya media massa lewat sajiannya yang selektif dan tekanannya pada tema-tematertentu menciptakan kesan pada khalayak bahwa norma-norma budaya bersamamengenai topic yang ditonjolkan didefinisikan dengan suatu cara tertentu. Artinya mediamassa berkuasa mendefinisikan norma-norma budaya buat khalayaknya dan secra tidaklangsung media akan mempengaruhi individu. Menurutnya, ada tiga pola pembentukan pengaruh melalui media massa: 1. Pengaruh norma yang ada (mis: kekeluargaan, cinta tanah air,atau agresivitas). 2. Kedua, menciptakan norma yang baru (pakaian dengan perut terbuka, topi kupluk, dll). 3. Ketiga, mengubah norma yang ada (mis: selera makanan cepat saji, jilbab yang lebih fashionable). Adakah Budaya Indonesia? Deddy Mulyana: Budaya Indonesia seperti budayayang lainnya masih dalam proses “menjadi” alih-alih sebagai entitas yang sudah jadi. Danpertanyaan lainnya, nilai-nilai budaya apa yang hendak dibangun? Sayangnyapembangunan budaya kita tanpa “Cetak Biru” yang jelas. Sejak kita merdeka kita belum
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10pernaha punya strategi budaya nasional yang ditetapkan oleh pemerintah. Karena ituperkembangan budaya kita bersifat centang-perenang, zig zag dan tanpa arah yang jelas. Jika orang Amerika ditanya tentang nilai budaya mereka, mereka akanmenyebutkan seperti yang diungkapkan Vander Zanden yaitu: kekeyaan, keberhasilan,kerja dan aktivitas, kemajuan, rasionalitas, demokrasi dan kemanusiaan. Sedangkanbangsa Jerman mencakup sifat rajin, ambisi, ketelitian, dan kerja keras, baik, adil, dapatdipercaya, suka menolong, dan pencari gelar. Sedangkan kita sebagai bangsa Indonesia jika ditanya, nilai-nilai utama apa yangdianut? Kita cenderung bingung, atau gagap menyebutnya, karena kalau pun kitasebutkan hingga saat ini belum menginternalisasikannilai-nilai positif tersebut secarautuh. Di jaman Orba kerap mengklaim punya seperangkat nilai budaya seperti religius,keramahtamahan, dan toleransi antar suku dan antar agama. Itu dalam kenyataannyahanya sebagai slogan atau bahkan mitos. Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia” yang menandai manusiaIndonesia sebagai: munafik, tak bertanggungjawab, berjiwa feodalpercaya takhayul,berwatak lemah, dan boros. Bahkan Media massa Malaysia memberikan julukan INDONuntuk menandai bangsa kita yang liar, bringas, dan suka melanggar hokum. Bangsa ini cenderung membebek kepada bangsa asing. Kaum remaja lebih sukamemuja selebritis asing. Sudjoko mantan dosen ITB pernah menjuluki bangsa Indonesiasebagai bangsa yang menderita KROCOJIWA yang rendah diri dihadapan bangsa baratyang mereka kagumi dan secara membabi buta mereka tiru dalam sikap, peri laku danpenampilan. Ibnu Khaldun sosiolog Muslim abad 14 “Muqadimah”Orang-orang taklukanselalu meniru penakluknya baik dalam pakaian, perhiasan, kepercayaan, dan adaptistiadat lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya keinginan untuk menyamai merekayang telah mengalahkan dan menaklukannya. Orang-orang taklukan menghargai parapenakluknya secara berlebihan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 1012.3 Kendala Penyebaran Informasi di Indonesia Sebagian besar masyarakat Indonesia belum melek infor-masi, meskipunglobalisasi telah melanda Indonesia, dan hanya wilayah perkotaan yang terimbas prosestersebut. Masih banyak pulau, desa dan daerah terpencil yang tetap tradisional dan masihmenganut serta mempraktikan budaya mereka yang boleh jadi menghambat penyebaraninformasi yang dilakukan oleh agen-agen pembaharuan termasuk pemerintah. Beberapa kendala terhadap penerimaan dan penggunaan yang berguna bagikehidupan mereka berkaitan dengan kepercayaan dan nilai budaya mereka, sebagianbersifat mistis dan merupakan mitos yang tidak kondusif bahkan kontra produktif denganusaha-usaha untuk memajukan kesejahteraan mereka. Banyak tanah di Sumatera Barat, Kalimantan, dan Papua yang tidak bisadikembangkan untuk pembangunan pari-wisata, karena masyarakat menganggap lahantersebut sebagai tanah adapt yang tidak boleh dikomersilkan atau sebagai tanah yangbersifat sakral. Masalah utama komunikasi sosial yang dihadapi oleh negara-negara dunia ketigaumumnya dan Indonesia khususnya dapat dipetakan sebagai berikut: Pertama, organisasisosialnya terfrag-mentasi berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan).Kedua, tarik-menarik antara budaya feodal (peasant culture) dengan budaya borjuismasyarakat industri (industrial culture). Ketiga, norma kelompok yang terbelah di antaramemberships group dan reference group yang kontradiktif. Secara singkat dapat disimpulkan karakter masyarakat majemuk sebagai berikut:struktur sosialnya terpecah dalam beberapa subsistem yang berdiri sendiri dalam ikatanprimordial yang nonkomplementer; segmentasi kultural yang saling berbeda yang tidakpunya konsensus dan loyalitas terhadap nilai-nilai dasar; konflik sosial berbentuk vertikaldan horizontal; intergrasi sosial bersifat koersif dan dominasi politik bersifat rasial(Nasikun, 1989). Struktur sosial masyarakat majemuk di Indonesia (plural society) terdiri atas duaelemen yang berdiri sendiri tanpa pembauran sebagai masyarakat politik (polity). Inidapat dicermati dengan pendekatan konflik (conflict approach) dan pendekatan struktural-fungsional (functional-structural approach).
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Seorang sosiolog bernama JS Furnivall dalam karyanya Netherland India: AStudy of Plural Economy (Cambridge University Press, 1967) melihat masyarakatIndonesia terbelah secara vertikal: kelas sosial ekonomi dan secara horizontal: SARA.Kekuasaan politik didominasi ras tertentu (baca: Jawa) tanpa ada kehendak bersama(common will). Dalam karyanya yang lain Colonial Policy and Practice: A ComparativeStudy of Burma and Net-herlands India (New York University Press, 1956), Furnivallmenyebutkan dalam masyarakat majemuk seperti ini tidak ada common social demand.Artinya, hubungan sosial di antara elemen-elemen masyarakat majemuk semata-matadidasari oleh proses produksi material. Kepentingan ekonomi berimpit dengan perbedaan ras yang mengerucut sepertipiramida: pribumi sebagai alasnya dalam bidang pertanian sawah (wet rice cultivation) diJawa dan pertanian ladang (shifting cultivation) di luar Jawa, posisi tengah ditempati olehTimur Asing (Tionghoa; Arab; India) sebagai pedagang perantara dan puncaknya ditem-pati oleh bangsa Eropa yang komandani oleh Belanda di sektor perkebunan. Pascarevolusi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 lapisan atas bergeser ditempati olehsegelintir elite pribumi. Lapisan lainnya nyaris tidak berubah. Masalahnya, pembangunan yang tidak lain dari perubahan sosial yang terencanadengan budaya (culture), situasi (situation) dan waktu (time) yang berbeda antara suatunegara dengan negara lainnya. Dengan demikian, tidak bisa konsep-konsep modernisasiBarat dicangkokkan begitu saja dalam proyek rekaya sosial masyarakat di negara-negaradunia ketiga termasuk Indonesia. Seperti terlihat dalam pemikiran David Mc Clellanddengan konsep N-Ach (Need for Achievement) dalam karyanya The Achieving Society(Princeton van Nostrand, 1961) yang mirip dengan karya sosiolog Jerman Max WebberThe Protestant Ethics and The Rise of Capitalism yang intinya melihat kerja keras dandisiplin tinggi sebagai panggilan Illahi (calling) sebagai dasar modernisasi Barat. Inilah yang tidak dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di negara-negara duniaketiga ter-masuk Indonesia. Intinya mereka terbelakang dan miskin karena malas. Untukitulah perlu disusun strategi komunikasi yang bisa mengubah mental masyarakat yangselaras dengan modernisasi. Pemikiran ini diadobsi oleh rezim Orde Baru dulu. Tayangan“Ria Jenaka” di TVRI yang memanfaatkan komunikasi tradisional dengan tokohpunakawan dalam dunia perwayangan sebagai agen modernisasi. Atau drama radio“Butir-Butir Pasir Laut” di RRI yang memuat pesan KB Nasional bisa dijadikan sekedar
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10ilustrasi.Begitu pula Daniel Lerner dalam karyanya The Pas-sing of Traditional Society:Modernizing The Mid-dle East (New York: Free Press, 1965). Pemikirannya khasseorang pengamat Barat. Ia mirip Rostow yang percaya bahwa media massa bisa menjadialat percepatan sejarah (acceleration of history) dan mobilisasi massa (mobilization ofperiphery***.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 BAB XIII KEPEMIMPINAN MASYARAKAT ADAT13.1 Kepemimpinan Masyarakat Adat Ketika sebuah komunitas menjadi lebih kompleks dalam bentuk keluarga luasdan etnis, maka pemimpin telah ditentukan melalui proses “memilih”. Hanya saja prosesdan aturan memilih ini kebanyakan sudah ditentukan misalnya berdarah bangsawan, darikelompok marga tertua, secara turun menurun, dll. Dalam kedua kasus di atas makakekuasaan yang melekat pada seseorang adalah given. Oleh karena itu kadang-kadanglebih ba-nyak bersifat sabda penguasa. Pola-pola pemilihan dan kepemimpinan semacam itu belum tentu tidakdemokratis, dalam arti terbuka, trans-paran, dan menyelesaikan persoalan secara damai.Ada jenis “demokrasi” yang berbeda antara yang ber-laku dimasyarakat adat dengan yangkita kenal selama ini. Kalau standard demokrasi seperti yang kita kenal ini yang dipakai,tentu saja komunitas adat bisa dilihat sebagai yang tidak demokratis. Persoalannyaapakah ini yang disebut metode partisipatory?! Memang benar bahwa kondisi kepemimpinan masyara-kat adat saat ini dalamdilema, yang disebabkan oleh berlakunya UU no. 5 Tahun 1979 mengenai tata peme-rintahan desa. Perundangan tersebut secara formal ti-dak mengakui lagi kepemimpinaninformal di tingkat komunitas asli, dan diganti dengan kepemimpinan for-mal dalambentuk pemerintahan desa yang segala ke-pemilihan dan strukturnya telah ditentukan olehpeme-rintah pusat. Sejak saat itu “dualisme” kepemimpinan terjadi di tingkat bawahkhususnya di komunitas-komu-nitas di luar Jawa. Selain dualisme kepemimpinan, kemudian terjadi ke-cenderungan bahwa tradisikepemimpinan informal se-makin lama semakin memudar karena kurang dipakai olehmasyarakat. Tidaklah mudah untuk membangkit-kan kembali pola strukturkepemimpinan semacam itu. Mungkin yang hanya bisa dilakukan adalah menegak-kankembali nilai tradisinya yang mampu menumbuh-kan semangat kebersamaan, simbolidentitas, dan hukum-hukum adat yang masih relevan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 1013.2 Konsep Kepemimpinan Tradisional 3 (tiga) konsep kepemimpinan, yaitu: 1. Kepemimpinan tradisional mengacu pada aturan lama yang sangat statis, biasanya mengacu pada agama atau adat. 2. Kepemimpinan rasional mendapat kewe-nangannya dari aturan formal, serta hu-kum yang disepakati 3. Kepemimpinan kharismatis lebih menon-jolkan kewibawaan dan kharisma seseo-rang di tengah masyarakat yang dipim-pinnya. Otoritas kepemimpinan seseo-rang didapat dari proses yang lama, yang diakui oleh masyarakat. Sejak zaman pra-penjajahan hingga saat ini, model kepemimpinan yang dianutmasyarakat adat menga-lami fluktuasi yang dapat digambarkan sebagai be-rikut: 1. Sebelum kedatangan penjajah, setiap masyarakat adat memiliki model kepe- mimpinan asli, belum terkooptasi oleh kekuatan manapun di luar masyarakat adat itu sendiri. 2. Pada masa kolonialisme, tatanan masya-rakat adat mulai dicampuri oleh penjajah. Sebagian dielaborasikan pada sistem kolonialisme, sebagian dihilangkan. 3. Tahun 1948, setelah Indonesia merdeka, terdapat UU yang mengatur tentang se-truktur pemerintahan: propinsi, kabupa-ten, desa/dengan nama lain (masyarakat adat masih diakomodir). 4. Tahun 1979, melalui UU No. 5/1979, ter-jadi penyeragaman wilayah pemerinta-han terendah; desa adat dilebur menjadi desa. 5. Tahun 1999, dalam UU No. 22/1999 ten-tang Otonomi Daerah, masyarakat adat kembali diakomodir.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Kepemimpinan masyarakat adat, saat ini, mempu-nyai 3 muka: 1. Berhubungan dengan negara/pemerintah 2. Berhubungan dengan konstituennya, masyarakat 3. Berhubungan dengan pasar (bisnis). Bagan di atas merupakan salah satu alat bantu untuk menganalisa polakepemimpinan masyarakat adat saat ini. Masyarakat adat yang berhadapan dengan negaradan kelompok bisnis bisa dilihat dari 3 (tiga) pendekatan: politik, ekonomi, dan sosial-buda-ya. Benturan-benturan masyarakat adat dengan 2 elemen lain tersebut, selanjutnyaberdampak pada ma-najemen kepemimpinan masyarakat adat, pola rek-rutmenpemimpin, struktur dan fungsi kepemimpinan serta hak pengelolaan sumberdaya alam. Dalam kerangka otonomi daerah, apakah pola kepe-mimpinan adat yang lamamasih bisa diberlangsung-kan? Bagaimanakah strategi kepemimpinan adat untukmengakomodir perubahan-perubahan yang terjadi pada masa kini?13.3 Perubahan Pola Kepemimpinan Masyarakat Adat13.3.1 Kondisi di Sumbar (Pra-kolonialisme) Sebagai unit pemerintahan otonom, kekuasaan peme-rintahan nagari dipegangoleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang berfungsi sebagai badan eksekutif, legislatif danyudikatif. Dalam KAN berkumpul para ninik-mamak yang mewakili kaumnya dan secaramusyawarah mu-fakat melaksanakan pemilihan Wali Nagari, melakukan peradilan atasanggotanya, dan menetapkan peraturan demi kepentingan anak Nagari. a. Kolonialisme Nagari diperintah oleh dewan kepala panghulu. Belanda menetapkan seorangkepala nagari sebagai wakil dan pegawai pemerintah paling tinggi dalam hubungannya
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10dengan Belanda. Untuk tujuan sistem pengolahan ta-nam paksa komoditas kopi, Belandamembuat batasan jumlah kepala kaum administratif (dinamakan panghulu rodi). b. Orde Lama Melalui UU No. 22/1948 ditetapkanlah satu hierarki ad-ministratif resmi yangtergabung dalam organisasi pe-merintah lokal. Ini terdiri dari Wali Nagari dan KerapatanNagari, dimana sejumlah tetua adat yang terpilih selalu memainkan peran pentingdisamping ulama dan kaum cerdik pandai. c. Orde Baru Melalui UU No.5/1979, dilakukan penyeragaman peme-rintahan terendah, yaitumengikuti pola desa Jawa. Kebijakan ini diberlakukan secara efektif di Sumatera Baratpada tahun 1983. Pembentukan desa didasarkan pada jorong (subdivisi nagari).Alasannya, supaya mendapat lebih banyak bantuan karena jumlah jorong lebih banyakdaripada nagari, yang secara substansial lebih besar daripada desa di wilayah lain diIndonesia. Dengan pelaksanaan UU No.5/1979, nagari bukan lagi sebuah unit administratifyang resmi. Namun, sebuah perda tahun 1983 mengizinkan nagari sebagai “masya-rakathukum adat” dan mengakui Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai institusi yangmewakili masyarakat ini. Pada periode ini terjadi dualisme kepemimpinan. Meski nagari hancur, namuntataran adat nagari masih eksis. Dalam konteks kepemimpinan adminis-tratif, ditetapkankepala desa sebagai pemimpinnya. Dan seringkali kepala desa tampil sebagai pemimpinyang otoriter meskipun kurang legitimate. Pada ma-sa ini, masyarakat adat dipimpin olehpemangku adat yang lebih bisa diterima oleh komunitas adat. Keppemimpinan adat dalam konteks otonomi daerah. Kepemimpinan masyarakatadat dalam rela-sinya dengan semangat otonomi daerah di Sumatra Barat dapatdigambarkan sebagai berikut: Kepemimpinan adat masih bisa diterima. Pemimpin adatbisa menjadi pemimpin administratif, meski tidak dianut oleh seluruh komunitas. Ada 4 kepe-mimpinan nagari: eksekutif, legislatif, yudikatif, dan pelestarian adat.Tiga fungsi pertama mengabsorbsi pola kepemimpinan yang rasional; Wali Nagari dipilih
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10oleh rakyat dan di-SK-kan (ditetapkan) oleh bupati. Sedang fungsi keempat, tidak bisadiintervensi negara. Kerapatan adat nagari yang menjalankan fungsi ini tumbuh daribawah dan turun-temurun.13.3.2 Kondisi di Bali (Pra-Orde Baru) Desa adat mempunyai kewenangan meliputi: pa-rahyangan, pawingan danpembangunan. Sejak diberlakukannya UU No.5/1979, terjadi dualisme pe-merintahan,yaitu desa adat dan desa dinas. Hal ini menimbulkan kerancuan dan mengurangi otonomidesa adat sebelumnya. Desa adat hanya berwenang mengelola urusan parahyangan. Bendesa tidak memiliki wewenang seperti ketua adat di wilayah lain. Kekuasaantertinggi ada di paruman (rapat desa adat) yang diadakan secara rutin dlmkurun waktutertentu. Di satu sisi, berdampak positif, yaitu mengontrol wewenang bendesa sehinggatidak menyimpang dari adat. Di sisi lain, berdampak negatif, respon bendesa terhadappersoalan dari luar menjadi lamban. Desa adat terdiri dari satu banjar. Dalam pola kepemimpinan lama, banjardipimpin oleh kepala banjar. Sejak diberlakukan UU No.5/1979, kepala banjar digantikepala dusun. Dari rapat kepala dusun inilah dihasilkan keputusan desa adat.Pamor desa adat meredup. Sistem pemilihan bendesa adat sebagian menggu-nakan sistem keturunan dan adajuga yang meng-gunakan model pemilihan secara langsung. Bahkan sekarang masajabatannya dibatasi. Kalaupun ada yang menjabat dalam waktu lama, ada dua kemung-kinan: pertama, memang disegani. Kedua, masih ter-sangkut hutang pada desa adat.Bendesa biasanya tampil one man show. Sering terjadi perebutan wewenang antara pemimpin desa dinas dengan desa adatberkaitan dengan masuknya investor. Kalau hanya disahkan pemimpin desa adat, makakerjasama itu tidak punya kekuatan legal-formal. Sedangkan jika hanya disahkanpemimpin desa dinas, kerjasama itu dianggap tidak legitimate di kalangan masyarakatadat. Namun sekarang ini desa adat lebih diperhatikan.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 1013.3.3 Kondisi di Kalimantan Barat (Orde Baru) Seperti yang terkandung dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika, pemerintahannegara dibagi dua, yaitu negeri dan adat. Namun sebenarnya, sebelum tahun 1975,pemerintahan adat hanya satu untuk menja-lankan dua fungsi, yaitu: administrasi danadat. Ketika pemerintah Orde Baru mengisyaratkan perubahan struktur pemerintahan adatmasyarakat Landak tidak mau mengganti. Resikonya, tidak ada SK atau tunja-ngan daripemerintah. pembentukan desa model Jawa kurang diterima oleh masyarakat adat lokal.Otoritas kepala desa dalam bidang sosial-budaya tidak menda-pat legitimasi sosial. Pada pertengahan 1980 pemerintah membentuk De-wan Adat dan Majelis Adatpada tingkat propinsi. Tu-juannya adalah memperoleh dukungan kultural dari masyarakatadat. Selain itu untuk kepentingan mobili-sasi politik karena yang duduk di sanadipastikan Golkar.13.3.4 Kondisi di Nusa Tenggara Timur Sebelum kehadiran kolonial, eksistensi masyarakat adat masih kuat dalamberbagai aktivitas. Masyarakat adat Meto memiliki sebuah mekanisme pergantiankepemimpinan yang unggul. Jika tiba masa pergantian pemimpin, masyarakat secarasadar datang tanpa di-undang dan tidak ada kampanye. Ketika kolonial ma-suk, sebagianhak masyarakat adat diambil alih. Ketika orba berkuasa, mekanisme kepemimpinan lokalhilang. Untuk Camat atau kepala desa, pemerintah mencari orang yang mampu secaraadministrasi tapi juga legitimate secara adat; pemimpin tidak berbasis pada masyarakatlokal.Kepemimpinan adat dalam konteks otonomi daerah Pola kepemimpinan tempo dulu bisa diterapkan dengan melakukan redefinisi dankontekstualisasi pada situasi saat ini. Saat ini terjadi dualisme kepemimpinan. Ada tokohadat yang dihormati masyarakat dan diakui secara formal oleh pemerintah. Di sisi lain,terdapat pula kepala desa yang memegang kekuasaan secara administratif.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Secara de jure, tidak ada pengakuan legal-formal terhadap eksistensi pemimpinadat, tapi secara de facto pengakuan ini kuat sekali. Misalnya: jika kepala desamengundang warga untuk membangun jalan, 99% masyarakat tidak akan datang. Tapijika kepala desa mendekati pemangku adat, maka 100% warga masyarakat akan bersedia.13.3.5 Kondisi di Sumatera Selatan Pola kepemimpinan di Sumatera Selatan sangat dipengaruhi oleh beberapakerajaan pendahulunya, antara lain: Kalingga, Majapajit serta invasi dari Laos dan Cina.Yang berkembang adalah pemerintahan marga yang dipimpin oleh pasirah. Pasirah inidike-palai oleh pamong praja (residen). Marga mempu-nyai wakil dan dibantu pemimpinkelompok-kelom-pok terkecil, yaitu grindo yang memimpin desa kota dan griyo yangmemimpin desa dalam (masyarakat adat asli). Marga dibantu juga oleh ketip (tokohagama) dalam pemerintah pasirah. Pada zaman kolonial, Belanda banyak melakukan intervensi, diantaranyamunculnya pemerintahan pa-sirah dalam marga, dimana residen dipilih atas saranBelanda. Orang yang dipilih sebagai residen biasa-nya kuat secara ekonomi. Pascakemerdekaan, sia-papun bisa ikut dalam pemilihan pemimpin dengan kriteria: karismatik,dituakan, dan mempunyai kele-bihan dibanding warga lainnya. Kepemimpinan tra-disional tidak berbenturan dengan masyarakat, kare-na masyarakat cenderung tradisionaljuga.13.3.6 Kepemimpinan Sosial dalam Masyarakat Dayak. Sebelum tahun 1980-an, dalam masyarakat Dayak sendiri, peranan dankewibawaan tokoh masyarakat, pemuka adat, orang-orang yang dituakan dan pe-mukaagama masih sangat besar dan daya kepe-ngikutan para anggota kelompok ini terhadapme-reka cukup tinggi. Sejak akhir 1980, terutama ketika sumberdaya hutan (SDH) diKalbar mulai mengalami kehancuran (deforestation process), oposisi terha-dap sumberkehancuran itu mulai timbul (Alqadrie, 1994a) yang diikuti secara perlahan dan pastibersa-maan dengan menurunnya kewibawaan, kepercaya-an dan peranan tokoh ataupemuka adat dalam masyarakat mereka.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Krisis kepercayaan terhadap adat dan sekaligus terhadap pemuka adat mencapaiklimaksnya, dan ini terlihat jelas ketika dalam pertikaian antara anggota komunitas Dayakdengan komunitas Madura pedala-man yang terjadi tahun 1996/1997. Pada kasus Sang-gau Ledo, Kabupaten Bengkayang dan Kasus Salatiga, Kabupaten Landak, sebagianbesar pemuda dan mahasiswa Dayak menendang tempayan (simbol upa-cara adat dalammasyarakat Dayak) dan tidak mau lagi mendengarkan himbauan tokoh adat merekamaupun pemuka agama Nasrani (Katolik dan Protestan) agar tidak bertindak anarkis.Para pemuda ini menganggap bahwa pemuka adat dan agama tidak lagi mampumelindungi mereka dan tidak juga dapat merealisasikan harapan keakhiratan(eschatological expectation).13.4 Pola Kepemimpinan Model kepemimpinan suatu masyarakat selalu mengikuti perkembangan sosialmasyarakat itu sendiri. Pada awalnya, ketika komunitas-komunitas adat masih berbentukkelompok suku yang biasanya dalam satu garis keturunan, maka pemimpinannya adalahberdasar senioritas baik menurut umur maupun kekuatan yang dimiliki. Soekanto (2003) mendefinisikan kepemimpinan (leader-ship) sebagaikemampuan seseorang untuk mempe-ngaruhi orang lain sehingga orang lain tersebut ber-tingkah laku sebagaimana dikehendaki pemimpin ter-sebut. Berdasarkan sifatnyakepemimpinan dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu : 1. Kepemimpinan formal, yaitu kepemimpinan yang tersimpul dalam suatu jabatan yang formal yang dalam pelaksanaannya harus berada di atas landasan atau peraturan res-mi sehingga daya cakupnya agak terbatas. 2. Kepemimpinan informal, merupakan kepe-mimpinan karena kepercayaan masyarakat akan kemampuan seseorang untuk menjadi pemimpin. Lebih fleksibel dengan ruang lingkup tanpa batas resmi.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 Kepemimpinan merupakan hasil organisasi sosial yang telah terbentuk atausebagai hasil dinamika interaksi sosial. Margono Slamet menyatakan bahwa seorangpemimpin harus mempunyai syarat dan sifat sbb: 1. Mempunyai visi yang jelas tentang lembaga yang dipimpinnya dan mampu mengkomu-nikasikan visinya 2. Mempunyai kemampuan untuk bekerja keras 3. Mempunyai ketekunan dan ketabahan 4. Mempunyai disiplin kerja 5. Mempunyai sifat pelayanan 6. Mempunyai pengaruh pada orang lain 7. Mempunyai sikap yang tenang dalam mengambil keputusan 8. Memberdayakan orang lain atau anggo-tanya Secara garis besar ada tiga ciri umum kepemimpinan, yaitu otoriter, demokrasi,dan leizessfaire. Kepemimpinan seseorang akan efektif bila disesuaikan dengan keadaanyang dihadapi oleh si pemimpin dalam ber-komunikasi dengan bawahan (kepemimpinansitua-sional)Kepemimpinan situasional didasarkan atas (ibrahim, 2002) : 1. Kadar bimbingan dan arahan yang dibe-rikan pimpinan 2. Kadar dukungan emosional yang disedia-kan pemimpin 3. Peringkat kesiapan yang diperlihatkan pengikut dalam pelaksanaan tugas, fung-si, atas tujuan tertentu.****
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 10 DAFTAR PUSTAKA Effendy, Prof.Onong Uchana M.A. Ilmu, Teori, Dan Filsafat Komunikasi. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. 2003. Mustopo, M.Habib. Ilmu Budaya Dasar. Usaha N asional. Surabaya. 1983. Lewis, Richard D. Komunikasi Bisnis Lintas Budaya. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2005. Wiryanto. Teori Komunikasi Massa. Grasindo. Jakarta. 2000. Efriza S.IP. Ilmu Politik. Alfabeta. Bandung. 2008. Van Peursen, Prof.Dr.C.A. Strategi Kebudayaan. Kanisius. Yogyakarta. 1988. Usman Pelly dan Asih Menanti. 1994. Teori-teori Sosial Budaya. Jakarta: Proyek P&PMTK Dirjen PT. Depdikbud. Soerjono Soekanto. 2004. Sosiologi Suatu Pengantar. Cetakan ke-37. Jakarta Raja Grafindo Persada. Alfian, ed. 1985. Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan Kumpulan Karangan. Jakarta: Gramedia. Koentjaraningrat. 2003. Pengantar Antropologi –Jilid 1, cetakan kedua, Jakarta: Rineka Cipta.
  • SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Pertemuan 1 188