Bahasa United Nations Post-2015 New Global Partnership Development Agenda by High Level Panel of Eminent Persons
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Bahasa United Nations Post-2015 New Global Partnership Development Agenda by High Level Panel of Eminent Persons

on

  • 859 views

Bahasa United Nations Post-2015 New Global Partnership Development Agenda by High Level Panel of Eminent Persons,andrewwilliamsjr

Bahasa United Nations Post-2015 New Global Partnership Development Agenda by High Level Panel of Eminent Persons,andrewwilliamsjr

Statistics

Views

Total Views
859
Slideshare-icon Views on SlideShare
854
Embed Views
5

Actions

Likes
0
Downloads
4
Comments
0

2 Embeds 5

http://www.slideee.com 4
https://twitter.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Bahasa United Nations Post-2015 New Global Partnership Development Agenda by High Level Panel of Eminent Persons Bahasa United Nations Post-2015 New Global Partnership Development Agenda by High Level Panel of Eminent Persons Document Transcript

    • SEBUAH KEMITRAAN GLOBAL YANG BARU: HAPUSKAN KEMISKINAN DAN TRANSFORMASIKAN EKONOMI MELALUI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Laporan Panel Tingkat Tinggi Para Tokoh Terkemuka tentang Agenda Pembangunan Pasca-2015
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • New York, 25 September 2012 Pertemuan Pertama Panel di NewYork untuk mendiskusikan kerangka kerja Panel dan struktur pertemuan selama sembilan bulan ke depan. New York, 30 Mei 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan Laporan kepada Sekretaris-Jenderal PBB Ban Ki-moon setelah selesai memimpin Rapat HLPEP Kelima pada tanggal 29 Mei 2013
    • Penerjemahan Laporan HLPEP dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Komite Nasional Perumusan Agenda dan Visi Pembangunan Pasca Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium Tahun 2015 (Komnas APP 2015) dengan dukungan dari United Nations Office for REDD+ Coordination in Indonesia (UNORCID). Walaupun segala upaya telah dilakukan untuk memastikan bahwa versi bahasa Indonesia ini mewakili isi dari HLPEP versi bahasa Inggris, harap diingat bahwa versi bahasa Inggris yang dikeluarkan pada 30 Mei adalah versi yang resmi. Silahkan merujuk pada HLPEP versi bahasa Inggris sebagai pedoman ketika dibutuhkan. SEBUAH KEMITRAAN GLOBAL YANG BARU: HAPUSKAN KEMISKINAN DAN TRANSFORMASIKAN EKONOMI MELALUI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Copyright©2013, United Nations All rights reserved Semua pertanyaan tentang hak dan izin, termasuk hak-hak tambahan, harus dialamatkan ke: United Nations Publications, 300 E 42nd Street, New York, NY 10017 email: publications@un.org web: un.org/publications Catatan: Para anggota Panel bisa tidak sepenuhnya bersepakat terhadap setiap butir dan detil khusus dari laporan ini, namun mereka semua mendukung laporan ini
    • POST-2015 30 Mei 2013 Sekretaris Jenderal, Pada bulan Juli 2012 Anda menugaskan kami untuk bersama-sama mengetuai panel yang beranggotakan dua puluh tujuh orang guna menyusun rekomendasi bagi Anda tentang agenda pembangunan setelah tahun 2015. Kami harap laporan kami tegas dan praktis. Kami telah berkonsultasi secara luas, di setiap kawasan dan mencakup banyak sektor, termasuk langsung mendengarkan suara dan prioritas rakyat miskin. Kami sangat berterima kasih atas dukungan berharga yang diberikan kepada kami oleh sekretariat Panel yang dipimpin oleh Dr Homi Kharas dan sangat terbantu dengan konsultasi di tingkat regional nasional dan konsultasi bertema yang diselenggarakan oleh Badan PBB dan negara-negara anggota. Panel kami bekerja dengan semangat kerjasama yang sangat positif. Melalui perdebatan kuat dan penuh semangat kami belajar banyak dari satu sama lain. Kami mengirimkan rekomendasi kepada Anda dengan perasaan optimisme yang besar bahwa transformasi untuk mengakhiri kemiskinan melalui pembangunan berkelanjutan mungkin untuk dilakukan pada generasi kita. Kami menguraikan lima pergeseran transformasional, yang berlaku baik bagi negara-negara maju maupun negara-negara berkembang, termasuk Kemitraan Global baru sebagai dasar untuk satu agenda pasca-2015 universal yang akan mencapai visi ini demi kepentingan kemanusiaan. Laporan kami memberikan contoh tentang bagaimana tujuan baru dan target terukur dapat dibingkai sebagai hasil dari pergeseran-pergeseran transformatif ini. Daftar ini lebih berupa ilustrasi dan bukanlah resep jadi. Walaupun tentunya ada berbagai pandangan yang berbeda dalam panel ini tentang penggunaan kata-kata tujuan atau target ilustratif tertentu, kami bersepakat bahwa laporan kami akan dianggap ingin, tanpa upaya khusus bersama, mendemonstrasikan bagaimana agenda yang jelas dan sederhana berdasarkan MDG dan proses Rio+20 dapat diuraikan. Kami harap hal ini akan merangsang perdebatan tentang penetapan prioritas yang akan dibutuhkan jika masyarakat internasional akan menyepakati kerangka pembangunan yang baru sebelum berakhirnya Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium (MDG). Hormat kami, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono Ellen Johnson Sirleaf David Cameron SURAT OLEH KETUA BERSAMA PANEL TINGKAT TINGGI PARA TOKOH TERKEMUKA TENTANG AGENDA PEMBANGUNAN PASCA-2015
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 UCAPAN TERIMA KASIH Anggota Panel Tingkat Tinggi Para Tokoh Terkemuka tentang Agenda Pembangunan Pasca-2015 yang diberi amanah oleh Sekretaris Jenderal ingin memberikan penghargaan sedalam-dalamnya kepada Pemerintah, organisasi, lembaga, entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa dan perorangan yang memberikan sudut pandang berharga, gagasan dan dukungan selama berjalannya kerja Panel. Panel ini mengucapkan rasa terima kasihnya yang tulus atas kontribusi keuangan dan barang/jasa yang diterima dari Pemerintah Kolombia, Pemerintah Denmark, Pemerintah Jerman, Pemerintah Indonesia, Pemerintah Jepang, Pemerintah Liberia, Pemerintah Meksiko, Pemerintah Belanda, Pemerintah Swedia, Pemerintah Inggris, Pemerintah Amerika Serikat, serta dari Ford Foundation, Havas, dan Hewlett Foundation. Musyawarah Panel ini memanfaatkan informasi dari proses konsultasi yang dilaksanakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagaimana arahan Sekretaris Jenderal dalam kerangka acuan kerja kami. Hal ini meliputi konsultasi di tingkat nasional dan konsultasi tematik di tingkat global dengan dukungan dari United Nations Development Group (UNDG), konsultasi tingkat regional yang dilaksanakan oleh Komisi Regional, konsultasi dengan badan-badan usaha di seluruh belahan dunia dengan panduan dari UN Global Compact, dan pandangan-pandangan dari komunitas ilmiah dan akademisi sebagaimana yang disampaikan melalui Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Solutions Network, SDSN). Kami berterima kasih atas masukan yang diberikan oleh konsultasi-konsultasi ekstensif ini. Panel ini juga ingin berterima kasih kepada anggota-anggota lebih dari 5000 organisasi masyarakat sipil dan 250 eksekutif tertinggi (CEO) perusahaan-perusahaan besar yang membagi gagasan dan pandangan mereka yang berharga selama seri konsultasi, baik secara langsung maupun secara daring (online). Kami berterima kasih kepada semua yang memberikan ikhtisar kebijakan, penelitian dan masukan untuk proses ini, yang daftar lengkapnya dapat dilihat di www.post2015hlp.org. Anggota panel ingin mengekspresikan penghargaan mereka yang tulus atas dedikasi dan ketegasan intelektual sekretariat Panel (tercantum dalam Lampiran VI), yang dipimpin oleh Dr. HomiKharas, dan kepada lembaga-lembaga yangtelah mengijinkan mereka untuk melaksanakan tugas mendukung Panel ini. Mereka memberikan penghargaan kepada penasihat mereka atas dukungan dan dedikasi yang diberikan selama pengembangan laporan ini. Semua kontribusi dan dukungan ini diakui dan dihargai dengan penuh rasa terima kasih.
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 RINGKASAN EKSEKUTIF “Visi dan tanggung jawab kita adalah untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem dalam segala bentuknya dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan meletakkan dasar-dasar kesejahteraan yang berkesinambungan bagi semua.”1 Panel ini bersatu dalam semangat optimisme dan rasa hormat yang dalam terhadap Tujuan- Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs). Tiga belas tahun sejak milenium ini menjadi saksi pengurangan kemiskinan tercepat dalam sejarah manusia: orang yang hidup di bawah garis kemiskinan internasional, yaitu $1,25 per hari, berkurang setengah miliar. Laju kematian anak turun lebih dari 30%, dengan sekitar tiga juta jiwa anak terselamatkan setiap tahun dibandingkan tahun 2000. Kematian akibat malaria turun hingga seperempatnya. Kemajuan ini didorong oleh adanya pertumbuhan ekonomi, kebijakan yang lebih baik, dan komitmen global terhadap MDGs, yang memicu seruan inspiratif di seluruh dunia. Mengingat keberhasilan luar biasa ini, membongkar MDGs dan mulai kembali dari awal, akan menjadi sebuah kesalahan. Seperti yang disepakati oleh para pemimpin dunia di Rio pada tahun 2012, sasaran dan target baru perlu dilengkapi dengan informasi dasar sehubungan dengan HAM universal, dan menyelesaikan kerja yang telah dimulai oleh MDGs. Dalam hal ini yang terpenting adalah penghapusan kemiskinan ekstrem dari muka bumi ini menjelang 2030. Ini merupakan sesuatu yang sudah dijanjikan para pemimpin berulang kali sepanjang sejarah. Kini, hal ini benar- benar dapat dilakukan. Oleh karena itu, agenda pembangunan yang baru harus meneruskan semangat Deklarasi Milenium dan hal-hal terbaik dari MDGs, dengan fokus praktis pada isu-isu seperti kemiskinan, kelaparan, air, sanitasi, pendidikan dan pelayanan kesehatan. Namun, guna mencapai visi kita untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, kita harus mengupayakan lebih dari MDGs. Fokus MDGs kurang menjangkaua mereka yang paling miskin dan terkucil. MDGs tidak menjawab persoalandaridampakyangparahakibatkonflikdankekerasandalampembangunan.Pentingnya pengembangan tata kelola dan lembaga yang baik yang menjamin berlakunya prinsip hukum, kebebasan berbicara serta pemerintahan yang terbuka dan akuntabel tidak dicakup dalam MDGs, begitu pula dengan perlunya pertumbuhan inklusif untuk menyediakan lapangan kerja. Yang paling utama, kekurangan dari MDGs adalah tidak mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan sebagaimana yang dimaksudkan dalam Deklarasi Milenium, dan tidak mendorong perlunya pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Hasilnya adalah bahwa isu-isu lingkungan dan pembangunan belum pernah dipertemukan secara memadai. Banyak pihak bekerja keras – tetapi seringkali sendiri-sendiri – menangani masalah-masalah yang saling terkait. Oleh karena itu, Panel memberikan beberapa pertanyaan sederhana: mulai dengan MDGs saat ini, apa yang harus dipertahankan, apa yang harus diubah, dan apa yang harus ditambahkan. Mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami mendengarkan pandangan-pandangan dari perempuan dan laki-laki, anak-anak muda, anggota parlemen, organisasi masyarakat sipil, masyarakat adat dan komunitas lokal, migran, pakar, sektor bisnis, serikat buruh dan pemerintah. Yang terpenting, kami mendengarkan langsung suara ratusan ribu orang dari seluruh belahan dunia, dalam pertemuan tatap muka serta melalui survei, wawancara dengan masyarakat, dan pengambilan suara melalui telepon genggam dan internet. Kami mempertimbangkan perubahan besar di dunia sejak tahun 2000 dan perubahan yang mungkin akan terjadi pada tahun 2030. Ada satu miliar orang lebih banyak saat ini, dengan jumlah penduduk dunia tujuh miliar, dan diperkirakan bertambah satu miliar lagi pada tahun 2030. Lebih dari setengahnya kini tinggal di daerah-daerah perkotaan. Investasi swasta di negara-negara berkembang saat ini mengerdilkan aliran bantuan. Jumlah pelanggan telepon genggam naik dari kurang dari satu miliar menjadi lebih dari enam miliar. Berkat internet, 1 Monrovia Communique of the High Level Panel, 1 Februari 2013, http://www.post2015hlp.org/wp-content/ uploads/2013/02/Monrovia-Communique-1-February-2013.pdf
    • RINGKASAN EKSEKUTIF mencari peluang usaha atau informasi dari belahan dunia lain merupakan hal yang umum bagi banyak orang sekarang. Namun, ketimpangan tetap ada dan peluang tidak terbuka bagi semua orang. 1,2 miliar rakyat termiskin mengkonsumsi hanya 1 persen dari total konsumsi dunia sementara satu miliar terkaya mengkonsumsi 72 persen. Dari semuanya, ada kecenderungan yang paling penting – perubahan iklim – yang akan menentukan apakah kita dapat mencapai ambisi kita atau tidak. Bukti-bukti ilmiah ancaman langsung dari perubahan iklim semakin banyak. Penekanan pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan menjadi semakin jelas, dalam bidang-bidang seperti deforestasi, kelangkaan air, limbah makanan, dan emisi karbon yang tinggi. Kerugian dari bencana alam–termasuk kekeringan, banjir, dan angin topan– meningkat dengan laju yang mengkhawatirkan. Rakyat yang hidup dalam kemiskinan adalah mereka yang pertama akan menderita dari perubahan iklim. Biaya untuk bertindak sekarang akan jauh lebih rendah dibandingkan biaya untuk menangani akibatnya nanti. Memikirkan dan memperdebatkan kecenderungan- kecenderungan dan isu-isu sekaligus, para Panelis telah melewati penjelajahan yang panjang. Pada pertemuan pertama kami di New York, Sekretaris Jenderal menugaskan kami untuk menghasilkan visi yang tegas namun praktis untuk pembangunan pasca-2015. Di London, kami berdiskusi tentang kemiskinan rumah tangga: realitas hidup sehari-hari yang merupakan bagian dari kelangsungan hidup. Kami mempertimbangkan banyaknya dimensi kemiskinan, yang meliputi kesehatan, pendidikan dan pencaharian, serta tuntutan atas lebih tegaknya keadilan, akuntabilitas yang lebih baik, dan pengakhiran kekerasan terhadap perempuan. Kami juga mendengarkan kisah- kisah inspiratif tentang bagaimana individu dan masyarakat berupaya meningkatkan kesejahteraan. Di Monrovia, kami berbicara tentang transformasi ekonomi dan dasar-dasar yang dibutuhkan bagi pertumbuhan yang menghasilkan inklusi sosial dan penghormatan terhadap lingkungan: bagaimana mengasah kecerdikan dan dinamika bisnis demi pembangunan berkelanjutan. Dan kami melihat secara langsung kemajuan luar biasa yang dapat dicapai saat sebuah negara yang pernah diporakporandakan oleh konflik mampu membangun kembali perdamaian dan keamanan. Di Bali, kami menyepakati pentingnya semangat baru untuk memandu sebuah kemitraan global bagi agenda yang berpusat-pada-manusia dan peka-bumi (people-centred and planet-sensitive), berdasar pada prinsip-prinsip kemanusiaan. Kami bersepakat untuk mendorong negara-negara maju untuk memenuhi apa yang sudah mereka janjikan – dengan menghormati komitmen bantuan mereka, tetapi juga dengan mereformasi kebijakan perdagangan, pajak dan transparansi mereka, dengan memberikan perhatian lebih pada pengaturan pasar keuangan dan komoditas global yang lebih baik dan dengan memimpin jalan menuju pembangunan berkelanjutan. Kami bersepakat bahwa negara-negara berkembang telah berbuat banyak untuk mendanai pembangunan di negara mereka sendiri, dan akan dapat berbuat lebih dengan naiknya pendapatan. Kami juga menyepakati perlunya mengelola pola konsumsi dan produksi dunia dengan cara yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.Yang terpenting, kami sepakat bahwa sebuah visi baru ini harus bersifat universal: memberikan harapan – tetapi juga tanggung jawab – kepada setiap pihak di dunia ini. Pertemuan-pertemuan dan konsultasi-konsultasi ini membuat kami bersemangat, terinspirasi dan yakin tentang perlunya paradigma baru. Dalam pandangan kami, business- as-usual bukanlah pilihan. Kami menyimpulkan bahwa agenda pasca-2015 merupakan agenda universal. Agenda ini perlu didorong oleh lima pergeseran transformasi besar: 1. Tidak meninggalkan siapapun. Kita harus tetap yakin pada janji awal MDG, dan sekarang menyelesaikan tugas itu. Setelah 2015 kita harus beralih dari mengurangi ke mengakhiri kemiskinan ekstrem, dalam segala bentuknya. Kita harus memastikan bahwa tidak seorang pun –terlepas dari etnis, jenis kelamin, wilayah geografi, keterbatasan fisik, ras atau status lainnya– ditolak pemenuhan HAM universal dan kesempatan ekonomi dasarnya. Kita harus merancang sasaran yang berfokus pada penjangkauan kelompok- kelompok terkucil, misalnya dengan memastikan kita menelusuri kemajuan di semua tingkat pendapatan, dan dengan memberikan perlindungan sosial untuk membantu masyarakat membangun daya tahan terhadap ketidakpastian dalam hidup. Kita dapat menjadi generasi pertama dalam sejarah manusia yang mengakhiri kelaparan dan menjamin bahwa setiap orang mencapai standar kesejahteraan dasar. Tidak boleh ada alasan. Ini adalah agenda universal, dan setiap orang harus menerima bagian tanggung jawab mereka masing-masing. 2. Menempatkan pembangunan berkelanjutan sebagai inti. Selama dua puluh tahun, masyarakat internasional bercita-cita untuk memadukan dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan dari keberlanjutan, tetapi belum ada satu pun negara yang berhasil melakukannya. Kita harus bertindak sekarang untuk menghentikan laju perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, yang menjadi ancaman yang belum pernah ada sebelumnya terhadap umat manusia. Kita harus melaksanakan lebih banyak inklusi sosial. Ini merupakan tantangan universal, bagi setiap negara dan setiap orang di muka bumi. Hal ini akan membutuhkan perubahan struktural, dengan solusi baru, dan akan memberikan kesempatan baru. Negara-negara maju memiliki peran khusus yang harus dimainkan, mengembangkan teknologi baru dan membuat kemajuan tercepat dalam menurunkan konsumsi yang tidak berkelanjutan. Banyak perusahaan terbesar di dunia sudah memulai transformasi menuju ekonomi-hijau (green economy) dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan pemberantasan kemiskinan. Hanya dengan memobilisasi aksi sosial, ekonomi dan lingkungan secara bersama-sama, kita dapat memberantas tuntas kemiskinan dan memenuhi aspirasi delapan miliar orang pada tahun 2030.
    • POST-2015 | 11 3. Mentransformasikan ekonomi untuk lapangan kerja dan pertumbuhan inklusif. Kami menyerukan perlunya lompatan dalammelahirkankesempatanekonomitransformasiekonomi untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem dan meningkatkan taraf hidup. Hal ini berarti pergeseran cepat ke pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan—memanfaatkan inovasi, teknologi, dan potensi sektor swasta untuk menciptakan nilai lebih dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif. Ekonomi yang terdiversifikasi, dengan kesempatan yang setara bagi semua pihak, dapat menciptakan dinamika yang menciptakan lapangan kerja dan pencaharian, terutama bagi anak-anak muda dan perempuan. Ini merupakan tantangan bagi setiap negara di bumi ini: untuk menjamin adanya lapangan kerja yang baik ketika sedang beralih ke pola kerja dan hidup yang berkelanjutan yang akan dibutuhkan di dunia dengan sumber daya alam yang terbatas. Kita harus menjamin bahwa setiap pihak memiliki apa yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan sejahtera, termasuk akses terhadap pendidikan dan keahlian yang berkualitas, pelayanan kesehatan, air bersih, listrik, telekomunikasi dan transportasi. Kita harus mempermudah mereka yang ingin berinvestasi, memulai usaha dan berdagang. Dan kita dapat berbuat lebih untuk memanfaatkan urbanisasi yang cepat: daerah-daerah perkotaan merupakan mesin usaha dan inovasi dunia. Dengan manajemen yang baik mesin-mesin ini dapat memberikan lapangan kerja, harapan dan pertumbuhan, sementara membina keberlanjutan. 4. Membangun perdamaian dan kelembagaan yang efektif, terbuka dan akuntabel. Bebas dari rasa takut, konflik dan kekerasan merupakan Hak Azazi Manusia (HAM) yang paling mendasar, dan pondasi yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera. Di saat yang sama, masyarakat dunia terlalu berharap pemerintah mereka jujur, akuntabel, dan tanggap terhadap kebutuhan mereka. Kita membutuhkan pergeseran mendasar –untuk mengakui perdamaian dan pemerintahan yang baik sebagai unsur pokok kesejahteraan, bukan pelengkap. Ini merupakan agenda universal bagi semua negara. Institusi-institusi yang tanggap dan sah harus mendorong prinsip negara hukum, hak kepemilikan, kebebasan berbicara dan media massa, pilihan politik terbuka, akses terhadap keadilan, dan pemerintah dan kelembagaan publik yang akuntabel. Kita membutuhkan revolusi transparansi, sehingga warga dapat melihat dengan tepat di mana dan bagaimana pajak, bantuan dan pendapatan dari industri ekstraktif dibelanjakan. Ini semua merupakan sasaran akhir sekaligus sarana. 5.Membangunsebuahkemitraanglobalyangbaru.Pergeseran transformasi yang paling penting mungkin adalah pergeseran menuju semangat solidaritas, kerjasama, dan akuntabilitas yang harus melandasi agenda pasca-2015. Sebuah kemitraan yang baru ini harus didasarkan pada pemahaman bersama tentang rasa kemanusiaan kita, yang mendukung rasa hormat dan kemanfaatan bersama di dunia yang terasa makin kecil ini. Kemitraan ini harus melibatkan pemerintah dan pihak- pihak lainnya: rakyat yang hidup dalam kemiskinan, mereka dengan keterbatasan fisik, perempuan, masyarakat sipil dan masyarakat adat serta komunitas lokal, kelompok-kelompok yang secara tradisional termarjinalisasi, lembaga-lembaga multilateral, pemerintah daerah dan pemerintah nasional, komunitas usaha, akademisi dan filantropi bisnis. Masing- masing bidang prioritas yang diidentifikasikan dalam agenda pasca-2015 harus didukung oleh kemitraan yang dinamis. Ini saatnya masyarakat internasional menggunakan cara kerja yang baru, melampaui agenda bantuan dan mulai menata instansi mereka sendiri: untuk mempercepat penurunan angka korupsi, aliran dana ilegal, pencucian uang, penghindaran pajak, dan kepemilikan aset tersembunyi. Kita harus memerangi perubahan iklim, memperjuangkan perdagangan yang bebas dan adil, inovasi, transfer dan difusi teknologi, serta mendorong stabilitas keuangan. Dan karena kemitraan ini didasarkan pada prinsip rasa kemanusiaan dan rasa saling hormat, kemitraan ini juga harus memiliki semangat baru dan harus sepenuhnya transparan. Setiap pihak yang terlibat harus sepenuhnya akuntabel. Dari visi ke aksi. Kami percaya bahwa kelima pergeseran ini merupakan hal yang tepat, cerdas, dan perlu dilakukan. Tetapi dampaknya akan tergantung pada bagaimana pergeseran- pergeseran ini diterjemahkan ke dalam prioritas dan aksi spesifik. Kami menyadari bahwa visi ini tidak akan lengkap jika ia tidak menetapkan serangkaian tujuan dan target ilustratif untuk memperlihatkan bagaimana pergeseran-pergeseran transformatif ini dapat diekspresikan dengan tepat dan terukur. Kerangka ilustratif ini dicantumkan dalam Lampiran I, dengan penjelasan lebih terperinci dalam Lampiran II. Kami berharap contoh-contoh ini akan membantu memfokuskan perhatian dan mendorong perdebatan. Target yang diusulkan berani, namun praktis. Seperti MDGs, target ini tidak akan mengikat, tetapi harus dipantau dengan saksama. Indikator-indikator untuk melacaknya harus bisa diurai (disaggregated) untuk menjamin tidak seorang pun terlupakan dan target-target tersebut hanya bisa dianggap ‘tercapai’ jika capaiannya mencakup semua kelompok ekonomi dan sosial yang relevan. Kami merekomendasikan agar setiap tujuan baru harus dibarengi dengan sistem pengawasan yang independen dan ketat, dengan kesempatan yang rutin untuk melaporkan kemajuan dan kekurangan pada tingkat politik yang tinggi. Kami juga menyerukan adanya revolusi data untuk pembangunan berkelanjutan, dengan inisiatif internasional baru untuk meningkatkan kualitas statistika dan informasi yang tersedia bagi warga masyarakat. Kita harus aktif memanfaatkan teknologi baru, crowdsourcing atau metode mencari pemecahan masalah dengan bertanya langsung kepada khalayak pengguna, dan konektivitas yang lebih baik untuk memberdayakan rakyat dengan informasi tentang perkembangan dalam pencapaian target-target tersebut. Secara keseluruhan, Panel ini percaya bahwa kelima pergeseran mendasar ini dapat menghilangkan penghalang yang menghambat kemajuan rakyat, dan mengakhiri ketimpangan kesempatan yang membinasakan kehidupan amat banyak orang di bumi ini. Kelima pergeseran ini, pada akhirnya, dapat mempertemukan isu sosial, isu ekonomi dan isu lingkungan dengan cara yang koheren, efektif, dan berkelanjutan. Yang terpenting, kami berharap mereka dapat memberikan inspirasi bagi generasi baru agar percaya bahwa dunia yang lebih baik dapat diraih, dan bertindak untuk mencapainya.
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 DAFTAR ISI Bab 1: Visi dan Kerangka Kerja untuk Agenda Pembangunan Pasca 2015  15 Menetapkan Arah Baru  15 Pencapaian Luar Biasa sejak Tahun 2000  15 Berkonsultasi dengan Masyarakat, Memperoleh Sudut Pandang  15 Perjalanan Panel  17 Kesempatan dan Tantangan di Dunia yang Berubah  17 Satu Dunia: Satu Agenda Pembangunan Berkelanjutan  19 Bab 2: Dari Visi ke Aksi – Transformasi Prioritas untuk Agenda Pasca-2015  23 Lima Pergeseran Transformasi  23 1. Tidak Meninggalkan Siapapun  23 2. Menempatkan Pembangunan Berkelanjutan sebagai Inti  24 3. Mentransformasikan Ekonomi untuk Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Inklusif  25 4. Membangun Perdamaian dan Kelembagaan yang Efektif, Terbuka dan Akuntabel  25 5. Membina Sebuah Kemitraan Global yang Baru  26 Menjamin Lebih Banyak Pendanaan Jangka Panjang yang Lebih Baik  29 Bab 3: Tujuan Ilustratif dan Dampak Global  31 Bentuk Agenda Pasca-2015  31 Risiko yang Harus Dikelola dalam Agenda Tunggal  32 Pembelajaran dari MDG 8 (Kemitraan Global untuk Pembangunan)  33 Tujuan Ilustratif  34 Menghadapi Isu Lintas Bidang  35 Dampak Global Menjelang Tahun 2030  36 Bab 4: Pelaksanaan, Akuntabilitas dan Membangun Konsensus  39 Melaksanakan Agenda Pasca-2015  39 Menyatukan Tujuan Global dengan Rencana Pembangunan Nasional  39 Pemantauan Global dan Peninjauan Sesama  39 Pemangku Kepentingan Bermitra Berdasarkan Tema  41 Meminta Pertanggungjawaban Mitra  41 Dibutuhkan: Sebuah Revolusi Data Baru  42 Bekerjasama dengan Pihak Lain  42 Membangun Konsensus Politik  43 Bab 5: Kata-Kata Penutup  45 Lampiran I: Tujuan dan Target Ilustratif  47 Lampiran II: Bukti Dampak: Penjelasan Tujuan Ilustratif  51 Lampiran III: Tujuan, Target dan Indikator: Menggunakan Istilah Umum  79 Lampiran IV: Kesimpulan dari Upaya Outreach  81 Lampiran V: Kerangka Acuan Kerja Panel dan Anggota Panel  87 Lampiran VI: Sekretariat Panel Tingkat Tinggi dan Lembaga-Lembaga Afiliasinya  91
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 | 15 BAB 1: VISI DAN KERANGKA KERJA UNTUK AGENDA PEMBANGUNAN PASCA-2015 Menetapkan Arah Baru Kami, Panel Tingkat Tinggi tentang Agenda Pembangunan pasca-2015, diminta untuk memberikan rekomendasi yang akan “membantu menjawab tantangan global abad ke-21, didasarkan pada Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) dan dengan sasaran untuk mengakhiri kemiskinan”1II Kami mendiskusikan dua tantangan terbesar yang dihadapi dunia ini – bagaimana cara mengakhiri kemiskinan dan bagaimana cara mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Kami belum menemukan semua jawabannya, tetapi kami percaya tingkat kehidupan miliaran orang dapat ditingkatkan, dengan cara yang melindungi kekayaan sumber daya alam bumi ini demi generasi masa depan. Kemajuan pada skala ini mungkin terjadi, tetapi hanya jika pemerintah (di semua tingkat), lembaga-lembaga multilateral, bisnis, dan organisasi-organisasi masyarakat sipil bersedia untuk merubah arah dan menghentikan business-as-usual. Mereka memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjalankan agenda baru: agenda yang langsung menjawab tantangan dunia modern. Mereka memiliki kesempatan untuk mentransformasikan pemikiran mereka, dan praktik mereka, untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dengan cara kerja yang baru. Mereka dapat menggabungkan kekuatan, menangani kemiskinan, ekonomi dan lingkungan bersama- sama, dan menghasilkan pergeseran paradigma. Pencapaian Luar Biasa Sejak Tahun 2000 Setelah MDGs diadopsi, puluhan kementerian perencanaan di negara-negara berkembang, ratusan badan internasional dan ribuan organisasi masyarakat sipil (OMS) bersatu di belakangnya. Bersama-sama, mereka berkontribusi terhadap pencapaian yang luar biasa: berkurangnya setengah miliar orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem; sekitar tiga juta jiwa anak terselamatkan setiap tahun. Empat dari lima anak sekarang mendapatkan vaksinasi untuk beragam penyakit. Angka kematian ibu menjadi fokus perhatian sebagaimana mestinya. Kematian akibat malaria turun hingga seperempatnya. Tertular HIV bukan lagi vonis bahwa mereka yang tertular otomatis akan mati. Pada tahun 2011, 590 juta anak di negara-negara berkembang – berdasarkan catatan – masuk SD. Kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini didorong oleh gabungan dari pertumbuhan ekonomi, kebijakan pemerintah, keterlibatan masyarakat sipil dan komitmen dunia terhadap MDGs. Mengingat keberhasilan ini, memulai agenda pembangunan yang baru dari awal samasekali merupakan suatu kesalahan. Ada banyak hal yang belum terselesaikan dari MDGs. Beberapa negara mencapai banyak hal, tetapi pencapaian di beberapa negara lain, terutama di negara- negara terdampak konflik yang berpendapatan rendah, jauh lebih sedikit. Sepanjang diskusi kami, kami menyadari ada kesenjangan antara realitas di lapangan dengan target statistik yang terlacak. Kami menyadari bahwa agenda pembangunan selanjutnya harus didasarkan pada pengalaman nyata, kisah, gagasan dan solusi dari masyarakat akar rumput (grassroot), dan bahwa kami, sebagai satu Panel, harus berusaha sebaik-baiknya untuk memahami dunia ini melalui pandangan mereka dan merefleksikan isu-isu yang akan memberikan perubahan terhadap kehidupan mereka. Berkonsultasi dengan Masyarakat, Memperoleh Sudut Pandang Selama sembilan bulan terakhir, Panel ini telah berbicara dengan semua lapisan masyarakat. Kami telah membaca hampir seribu pendapat tertulis yang diajukan oleh masyarakat sipil dan bisnis dari seluruh belahan dunia. Kami telah berkonsultasi dengan para pakar dari organisasi-
    • 16 | BAB 1: VISI DAN KERANGKA KERJA UNTUK AGENDA PEMBANGUNAN PASCA-2015 organisasi multilateral, pemerintah-pemerintah nasional dan otorita-otorita setempat. Dengan penuh semangat dan gairah, kami saling berdebat. Kami sepakat bahwa agenda pasca-2015 harus mencerminkan kepedulian masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, yang suaranya seringkali tidak didengar atau bahkan diabaikan. Untuk mengumpulkan sudut-sudut pandang ini, para anggota Panel berbicara kepada para petani, masyarakat adat dan komunitas lokal, para pekerja di sektor informal, migran, orang-orang cacat, para pemilik usaha kecil, para pedagang, pemuda dan anak-anak, kelompok-kelompok perempuan, para lanjut usia, kelompok-kelompok agama dan keyakinan, serikat buruh dan banyak yang lainnya. Kami juga mendengarkan pendapat dari akademisi dan para pakar, politisi dan filsuf. Seluruhnya, kami mendengarkan suara dan meneliti rekomendasi tentang tujuan dan target dari lebih dari 5000 organisasi masyarakat sipil – mulai dari organisasi-organisasi akar rumput hingga aliansi-aliansi global– yang bekerja di sekitar 120 negara di seluruh wilayah di dunia. Kami juga berkonsultasi dengan eksekutif-eksekutif tertinggi dari 250 perusahaan di 30 negara, dengan pendapatan tahunan melebihi $8 triliun, akademisi dari negara-negara berkembang dan negara-negara maju, organisasi-organisasi non-pemerintah dan pergerakan masyarakat sipil di tingkat internasional dan lokal, dan anggota-anggota parlemen. Dalam pertemuan-pertemuan ini, masyarakat yang hidup dalam kemiskinan memberi tahu kami betapa tidak berdayanya mereka karena pekerjaan dan pencaharian mereka dalam keadaan yang tidak pasti. Mereka berkata mereka merasa khawatir jatuh sakit, dan tiadanya keamanan. Mereka berbicara tentang ketidakamanan, korupsi, dan kekerasan di rumah. Mereka berbicara tentang dikucilkan dan dianiaya oleh lembaga-lembaga masyarakat dan pentingnya pemerintah yang transparan, terbuka dan tanggap yang mengakui martabat dan HAM mereka. Panel ini mendengarkan beberapa prioritas serupa yang disuarakan oleh para pempinan dan pejabat daerah yang terpilih. Para pemimpin ini sehari-hari berurusan dengan kelompok-kelompok marjinal yang meminta bantuan untuk mendapatkan makanan, tempat berteduh, pelayanan kesehatan, makanan di sekolah, pendidikan dan peralatan sekolah. Mereka berjuang memberikan kepada rakyat di daerah mereka air bersih, sanitasi, dan penerangan di jalan. Mereka memberi tahu kami bahwa rakyat miskin di daerah perkotaan ingin pekerjaan yang lebih baik daripada menjual barang-barang di jalan atau memulung sampah. Dan, seperti orang lain di mana pun, mereka menginginkan keamanan agar keluarga mereka dapat menjalani hidup mereka dengan rasa aman. Anak-anak muda menuntut pendidikan lanjutan setelah pendidikan dasar, bukan hanya pembelajaran formal tapi juga keahlian hidup dan pelatihan kejuruan untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Di negara-negara yang anak- anak mudanya memperoleh pendidikan dan keahlian yang baik, mereka menginginkan akses terhadap pekerjaan yang layak. Mereka menginginkan kesempatan untuk mengangkat diri mereka dari kemiskinan. Mereka sangat mengharapkan bimbingan, pengembangan karier, dan program-program yang dipimpin oleh anak-anak muda, yang melayani anak- anak muda. Anak-anak muda berkata mereka ingin dapat membuat keputusan terinformasi (informed decision) tentang kesehatan dan tubuh mereka, untuk sepenuhnya menyadari kesehatan dan hak seksual dan reproduksi mereka (sexual and reproductive health and rights, SRHR). Mereka menginginkan akses terhadap informasi dan teknologi agar mereka dapat berpartisipasi dalam kehidupan publik bangsa mereka, terutama memetakan jalan menuju pengembangan ekonomi. Mereka ingin dapat meminta pertanggungjawaban mereka yang memang seharusnya bertanggung jawab, memiliki hak kebebasan berbicara dan berasosiasi dan memantau penggunaan uang oleh pemerintah mereka. Perempuan dan anak-anak perempuan, terutama meminta perlindungan atas hak kepemilikan mereka, akses terhadap lahan, dan memiliki suara dan berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi dan politik. Mereka juga meminta Panel untuk berfokus pada upaya mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan diskriminasi di tempat kerja, di sekolah dan di muka hukum. Orang-orang dengan keterbatasan fisik juga meminta diakhirinya diskriminasi dan diberikannya kesempatan yang setara. Mereka mencari jaminan standar hidup dasar minimal. Perwakilan-perwakilan dari masyarakat adat dan komunitas lokal menginginkan pengakuan atas kebutu- han mereka untuk menjalani hidup yang lebih seimbang yang selaras dengan alam. Mereka menginginkan pemuli- han atau restitusi, tidadanya diskriminasi dan rasa hormat terhadap cara nenek moyang mereka. Mereka yang beker- ja di sektor informal juga meminta perlindungan sosial dan pengurangan ketimpangan, serta kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan pencaharian yang baik dan layak. Dunia usaha berbicara tentang potensi kontribusi mereka terhadap agenda pembangunan pasca-2015. Bukan hanya memberikan lapangan kerja dan pertumbuhan yang baik dan layak, melainkan juga memberikan layanan yang sangat penting dan membantu miliaran orang mengakses energi bersih dan berkelanjutan dan beradaptasi dengan perubahan iklim. Mereka berbicara tentang kesediaan mereka untuk berbagi tanggung jawab untuk agenda selanjutnya, dan tentang apa yang mereka perlukan dari pemerintah jika mereka ingin berbuat lebih –kebijakan-kebijakan ekonomi makro yang sehat, infrastruktur yang baik, pekerja yang memiliki keahlian, pasar terbuka, medan bermain yang sama, dan administrasi negara yang efisien dan akuntabel. Semua kelompok ini meminta bahwa ketika agenda pasca-2015 diberlakukan, agenda ini mencakup rencana untuk mengukur kemajuan yang membandingkan bagaimana masyarakat dengan berbagai tingkat pendapatan,
    • POST-2015 | 17 jenis kelamin, keterbatasan fisik dan usia, dan mereka yang tinggal di berbagai lokasi, tercukupi – dan agar informasi ini dapat mudah diakses oleh semua pihak. Perjalanan Panel Pendapat dan sudut pandang ini membantu kami memahami dengan lebih baik apa yang harus kami pikirkan tentang agenda pasca -2015 dan rincian apa yang harus ditambahkan pada gagasan visi pembangunan yang berani namun praktis yang merupakan tantangan dari Sekretaris Jenderal untuk kami hasilkan pada pertemuan pertama kami di New York. Di London, kami mendiskusikan kemiskinan di tingkat rumah tangga: realitas hidup sehari-hari yang merupakan bagian dari kelangsungan hidup. Kami bersepakat untuk berupaya mengakhiri kemiskinan ekstrem pada tahun 2030. Kami menyadari betapa pentingnya mengatasi kemiskinan dalam segala dimensinya, termasuk kebutuhan dasar manusia seperti kesehatan, pendidikan, air bersih dan tempat berteduh serta HAM dasar: keamanan pribadi, martabat, keadilan, suara dan pemberdayaan, kesetaraan kesempatan, dan akses terhadap SRHR. Beberapa dari isu-isu ini tidak dicakup dalam MDGs dan kami bersepakat isu-isu ini harus ditambahkan di dalam agenda yang baru. Kami mengakui perlunya berfokus pada kualitas pelayanan publik, serta pada akses terhadap pemberian pelayanan publik. Kami menyadari bahwa memberikan akses terhadap makanan bergizi dan air minum tidak akan bertahan lama jika sistem makanan dan air tidak ditangani. Di Monrovia, kami berbicara tentang transformasi ekonomi dan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk pertumbuhan guna mencapai inklusi sosial dan menghormati lingkungan – bagaimana cara memanfaatkan kecerdasan dan dinamika bisnis untuk pembangunan berkelanjutan. Kami melihat langsung kemajuan luar biasa yang dapat dihasilkan ketika suatu negara yang pernah diporakporandakan oleh konflik dapat membangun perdamaian dan keamanan, tetapi juga menghadapi tantangan besar dalam memberikan pelayanan dasar, seperti listrik, jalan dan telekomunikasi untuk menghubungkan orang dan perusahaan dengan ekonomi modern. Kami mendengar tentang kesempatan bisnis dalam mengupayakan pertumbuhan hijau (green growth) untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, dan tentang potensi wirausahawan perorangan untuk mencapai mimpi mereka, dan perusahaan besar untuk berhubungan dengan petani kecil. Kami mendapati bahwa ada kekurangan jumlah profesional ahli yang dibutuhkan untuk membuat pemerintah dan badan usaha menjadi lebih efisien. Kami melihat perlunya agenda ini untuk memasukkan lapangan kerja, lembaga, dan energi modern, terpercaya dan berkelanjutan. Di Bali, kami mendiskusikan tantangan-tantangan global bersama, termasuk bahaya yang ditimbulkan oleh perubahan iklimdanperlunyastrategipembangunanuntukmemasukkan sasaran membuat rumah tangga dan negara lebih berdaya tahan. Kami berfokus pada unsur-unsur sebuah kemitraan global yang baru. Kami bersepakat bahwa negara-negara maju harus berbuat lebih untuk membenahi diri. Mereka harus menghormati komitmen bantuan mereka tetapi juga melakukan lebih dari sekedar memberi bantuan untuk memimpin upaya global guna mereformasi perdagangan, mengambil tindakan keras terhadap aliran modal ilegal, mengembalikan aset hasil curian, dan mendorong pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Kami bertanya dari mana asal uang untuk mendanai investasi skala besar yang akan dibutuhkan untuk infrastruktur di negara- negara berkembang, dan menyimpulkan bahwa kita perlu menemukan cara baru penggunaan bantuan dan dana publik lainnya guna menggalang modal swasta. Kesempatan dan Tantangan di Dunia yang Berubah Percakapankamidenganmasyarakatmenambahpengalaman kami tentang seberapa besar perubahan yang dialami dunia ini sejak Deklarasi Milenium diadopsi pada tahun 2000. Kami juga menyadari bahwa dunia akan berubah lebih banyak pada tahun 2030. Ia akan makin meng-kota, makin banyak kelas menengah, makin tua, makin terhubung, makin saling bergantung, makin rawan dan makin terbatas sumber dayanya – dan masih berupaya menjamin bahwa globalisasi membawa manfaat maksimal bagi semua pihak. Bagi banyak pihak, dunia saat ini terasa lebih tidak pasti dibandingkan dengan tahun 2000. Di negara-negara maju, krisis keuangan telah menggoyahkan keyakinan bahwa setiap generasi akan hidup lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Negara-negara berkembang sendiri jadi lebih optimis dan percaya diri sebagai akibat dari percepatan Memvisikan Kemitraan Global Baru “Kami menyepakati perlu diperbaharuinya Kemitraan Global yang memungkinkan adanya agenda pembangunan transformatif yang berpusat-pada-manusia (people-centred) dan peka bumi (planet-sensitive) yang diwujudkan melalui kemitraan setara semua pemangku kepentingan. Kemitraan tersebut harus didasarkan pada prinsip keadilan, keberlanjutan, solidaritas, rasa hormat terhadap umat manusia, dan tanggung jawab bersama sesuai dengan kemampuan masing-masing.” Bali Communique, 28 Maret 20133IV
    • 18 | BAB 1: VISI DAN KERANGKA KERJA UNTUK AGENDA PEMBANGUNAN PASCA-2015 pertumbuhan selama beberapa dekade, tetapi banyak negara berkembang juga merasa khawatir bahwa lambatnya reformasi perdagangan global dan upaya menstabilkan sistem keuangan dunia dapat membahayakan prospek mereka. Setengah dari rakyat dunia yang sangat miskin tinggal di negara-negara konflik, sedangkan banyak yang lainnya mengalami dampak bencana alam yang telah mendatangkan kerugian sebesar $2,5 triliun sejauh ini di abad ini.III Di dunia saat ini, kami lihat tidak satu pun negara, betapapun berkuasa atau kayanya, dapat mempertahankan kemakmurannya tanpa bermitra untuk menemukan solusi terpadu. Ini adalah dunia yang penuh tantangan, tetapi tantangan- tantangan ini juga dapat memberikan kesempatan, jika merekamengobarkansemangatsolidaritas,salinghormatdan kemanfaatan bersama, berdasarkan rasa kemanusiaan dan prinsip-prinsip Rio. Semangat seperti ini dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk mengatasi tantangan-tantangan global melalui kemitraan global baru, mempertemukan banyak kelompok di dunia ini yang berkepentingan dengan kemajuan ekonomi, sosial dan lingkungan: rakyat yang hidup dalam kemiskinan, perempuan, anak-anak muda, penyandang cacat, masyarakat adat dan komunitas lokal, kelompok-kelompok marjinal, lembaga-lembaga multilateral, pemerintah daerah dan pemerintah nasional, bisnis, masyarakat sipil dan donor swasta, ilmuwan dan akademisi lainnya. Kelompok-kelompok ini lebih terorganisir dibandingkan sebelumnya, dapat saling berkomunikasi dengan lebih baik, mau belajar tentang pengalaman dan tantangan nyata dalam pembuatan kebijakan, berkomitmen untuk memecahkan masalah bersama-sama. Kami sangat menyadari tentang kelaparan, kerentanan, dan perampasan yang masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lebih dari satu miliar orang di dunia ini. Di saat yang sama kami dikejutkan dengan tingkat ketimpangan di dunia ini, baik antar negara maupun di dalam negara. Dari semua barang dan jasa yang dikonsumsi di dunia ini setiap tahun, 1,2 miliar orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem hanya mengkonsumsi satu persennya, sedangkan 1 miliar penduduk yang paling kaya mengkonsumsi 72 persen.V Setiap tahun, satu miliar perempuan menjadi korban kekerasan seksual atau kekerasan fisik karena mereka tidak mendapatkan perlindungan setara di mata hukum;VI dan 200 juta anak muda putus asa karena mereka tidak mendapatkan kesempatan yang setara untuk memperoleh keahlian yang mereka butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan dan pencaharian yang layak.VII Di saat yang sama, kemakmuran dan dinamika ditemukan di banyak negara. Dua miliar orang sudah menikmati gaya hidup kelas menengah, dan tiga miliar lainnya direncanakan akan dapat melakukannya pada tahun 2030 nanti. Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah sekarang tumbuh lebih cepat dibandingkan negara-negara berpendapatan tinggi – yang membantu mengurangi ketimpangan global. Dan banyak negara memanfaatkan program perindungan sosial masyarakat dan peraturan sosial dan lingkungan untuk menurunkan tingginya tingkat ketimpangan di dalam negeri dengan meningkatkan kehidupan rakyat termiskin, sementara juga merubah perekonomian mereka agar pertumbuhan dapat dipertahankan untuk jangka panjang dan memberikan lebih banyak lapangan kerja yang baik dan menjamin pencaharian. Hal ini berarti tidak meninggalkan siapapun – memberikan kepada setiap anak kesempatan yang adil dalam hidup, dan mencapai pola pembangunan di mana martabat dan HAM terwujud bagi semua pihak, di mana agenda dapat didasarkan pada keamanan manusia, dapat dilakukan. Saat kami menyusun laporan ini, dunia ini melampaui ambang batas yang mengkhawatirkan: konsentrasi karbon dioksida atmosfer diukur di lebih dari 400 bagian per juta, kemungkinan merupakan tingkat tertinggi dalam setidaknya 800.000 tahun. Belum ada bukti bahwa kecenderungan yang baik ini telah diperlambat atau dibalik, yang pasti dapat dilakukan jika perubahan iklim yang kemungkinan merusak ini dapat dihindari. Disamping semua retorika tentang sumber energi alternatif, bahan bakar fosil masih menyumbangkan 81 persen dari total produksi energi global–tidak berubah sejak tahun 1990. Terus berada pada jalur business-as-usual ini akan sangat berbahaya. Perubahan pola konsumsi dan produksi sangat penting, dan harus dipimpin oleh negara-negara maju. Krisis pangan dan energi belakangan ini, dan tingginya harga banyak komoditas, menunjuk pada dunia di mana peningkatan kelangkaan sumber daya merupakan hal yang biasa. Di “hotspot-hotspot” lingkungan, bahaya yang diakibatkan jika kita tidak menghentikan kecenderungan yang ada ini tidak akan dapat dipulihkan. Dari 24 cara penting rakyat miskin bergantung pada sumber daya alam, 15 diantaranya mengalami penurunan tajam, termasuk: lebih dari 40 persen perikanan dunia telah jatuh atau mengalami penangkapan ikan berlebih; hilangnya 130 juta hektar hutan dalam satu dekade terakhir; hilangnya 20 persen hutan bakau sejak tahun 1980; ancaman terhadap 75 persen terumbu karang dunia, sebagian besar di negara-negara berkembang kepulauan kecil di mana terjadi ketergantungan yang tinggi pada karang.X Namun, Panel ini terkesan dengan inovasi luar biasa yang telah terjadi, terutama laju adopsi dan penyebaran teknologi baru, dan dengan kesempatan yang diberikan oleh teknologi baru ini untuk pembangunan berkelanjutan. Jumlah pelanggan telepon genggam naik dari kurang dari satu miliar menjadi lebih dari 6 miliar, dan dengan dengan berlangganan telepon genggam, banyak aplikasi telepon genggam (m-) –m-banking, m-health, m-learning, m-taxes– yang dapat merubah ekonomi secara drastis dan memberikan pelayanan dengan cara yang berkelanjutan. Mereka yang berkuasa di dunia sekarang tidak lagi dapat berharap aturan-aturan yang mereka tetapkan tak akan ditentang. Orang di mana pun mengharapkan bisnis dan pemerintah untuk terbuka, akuntabel, dan tanggap terhadap kebutuhan mereka. Sekarang ada kesempatan untuk memberikan kepada rakyat kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan segala hal dalam kehidupan sehari- hari mereka, dan memberikan kepada semua negara lebih banyak hak suara tentang bagaimana dunia ini dikelola.
    • POST-2015 | 19 Tanpa lembaga dalam negeri dan lembaga global yang sehat, tidak akan ada kesempatan untuk membuat menurunnya kemiskinan menjadi permanen, dengan menangani penyebab kemiskinan serta gejalanya. Ada 21 negara yang telah mengalami konflik bersenjata sejak tahun 2000 dan di banyak negara lain kekerasan pidana umum terjadi. Diantaranya, konflik dan kekerasan ini memakan korban 7,9 juta jiwa tiap tahun.XI Agar dapat berkembang secara damai, negara-negara yang mengalami konflik atau yang muncul sebagai akibat dari konflik perlu lembaga yang memiliki kapabilitas dan tanggap, dan dapat memenuhi tuntutan inti rakyat atas keamanan, keadilan dan kesejahteraan. Perlengkapan negara yang berfungsi secara minimal merupakan prasyarat dan pondasi bagi pembangunan yang berkesinambungan yang memutus siklus konflik dan ketidakpercayaan. Rakyat tidak terlalu peduli tentang lembaga yang sehat, tidak seperti mereka peduli tentang mencegah penyakit atau menjamin bahwa anak-anak mereka dapat membaca dan menulis – jika saja mereka memahami bahwa lembaga yang sehat berperan sangat penting dalam mencapai pencegahan penyakit atau jaminan anak-anak mereka dapat membaca dan menulis. Lembaga yang baik, pada kenyataannya, merupakan unsur dasar yang sangat penting demi masa depan yang sejahtera dan berkelanjutan. Prinsip negara hukum, kebebasan berbicara dan media masa, pilihan politik terbuka dan partisipasi aktif dari warga negara, akses terhadap keadilan, pemerintah dan kelembagaan publik yang tidak diskriminatif dan akuntabel membantu mendorong pembangunan dan memiliki nilai intrinsik sendiri. Semuanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan dan tujuan itu sendiri. Satu Dunia: Satu Agenda Pembangunan Berkelanjutan Panel ini percaya saat ini ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya – memberantas kemiskinan ekstrem, sekali untuk selamanya, dan mengakhiri kelaparan, buta huruf, dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Ini akan menjadi pencapaian yang sangat bersejarah. Tetapi kami ingin berbuat lebih dan kami berpikir: mengakhiri kemiskinan ekstrem hanya awal, bukan akhir. Ini sangat penting, tetapi visi kita harus lebih luas: guna mengarahkan negara-negara pada jalur pembangunan berkelanjutan – didasarkan pada pondasi yang ditetapkan oleh Konferensi PBB 2012 tentang Pembangunan Berkelanjutan di Rio de Janeiro9XII , dan memenuhi tantangan yang sejauh ini belum berhasil dipenuhi oleh negara manapun, maju maupun berkembang. Kami merekomendasikan Sekretaris Jenderal bahwa pertimbangan tentang agenda pembangunan baru harus dipandu oleh visi memberantas kemiskinan ekstrem secara tuntas, dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Kami mencapai kesimpulan bahwa ini merupakan saat yang tepat untuk menggabungkan dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan yang merupakan bagian dari keberlanjutan yang memandu pembangunan internasional. Mengapa sekarang? Karena tahun 2015 merupakan tahun sasaran yang ditetapkan di tahun 2000 untuk pencapaian MDGs dan tahun yang logis untuk memulai fase kedua guna menyelesaikan pekerjaan yang telah mereka mulai dan didasarkan pada capaian- capaian mereka. Negara-negara anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah sepakat di Rio+20 untuk mengembangkan serangkaian tujuan pembangunan berkelanjutan yang koheren dengan dan terintegrasi ke dalam agenda pembangunan pasca-2015. Tahun 2015 juga menandaibataswaktubagitiapnegarauntukmenegosiasikan traktat baru untuk membatasi emisi gas rumah kaca. Mengembangkan satu agenda pembangunan berkelanjutan sangat penting. Tanpa mengakhiri kemiskinan, kita tidak dapat mengusahakan kesejahteraan; terlalu banyak orang terlupakan. Tanpa mengusahakan kesejahteraan, kita tidak dapat mengatasi tantangan-tantangan lingkungan; kita perlu menggalang investasi skala besar dalam teknologi baru untuk menurunkan jejak kaki pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan. Tanpa kelestarian lingkungan, kita tidak dapat mengakhiri kemiskinan; rakyat miskin terdampak terlalu dalam dan terlalu tergantung pada lautan, hutan dan tanah yang semakin menurun kualitasnya. Visi dan Tanggung Jawab Kita Visi dan tanggung jawab kita adalah mengakhiri kemiskinan ekstrem dalam segala bentuknya, dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan meletakkan dasar-dasar kesejahteraan bagi semua pihak. Hasil dari pemberantasan kemiskinan harus abadi. Ini merupakan agenda global yang berfokus-pada-manusia (people-centred) dan peka bumi (planet-sensitive) untuk menjawab tantangan-tantangan universal abad ke-21: mendorong pembangunan berkelanjutan, mendukung pertumbuhan jumlah lapangan kerja, melindungi lingkungan dan memberikan perdamaian, keamanan, keadilan, kebebasan dan kesetaraan di semua tingkat. Monrovia Communique Panel Tingkat Tinggi, 1 Februari 2013
    • 20 | BAB 1: VISI DAN KERANGKA KERJA UNTUK AGENDA PEMBANGUNAN PASCA-2015 Perlunya satu agenda tunggal membersit, ketika kami mulai berpikir praktis tentang apa yang perlu dilakukan. Saat ini, pembangunan, pembangunan berkelanjutan dan perubahan iklim seringkali dilihat sebagai tiga isu terpisah. Isu-isu ini memiliki amanat yang terpisah, arus pendanaan terpisah, dan proses yang terpisah untuk menelusuri kemajuan dan meminta pertanggungjawaban parapihak. Hal ini menciptakan tumpang tindih dan kebingungan ketika saatnya mengembangkan program dan proyek tertentu di lapangan. Sekarang saatnya untuk merampingkan agenda ini. Berpikir bahwa kita dapat membantu satu miliar orang lagi untuk mengangkat diri mereka dari kemiskinan dengan menumbuhkan perekonomian nasional mereka tanpa membuat perubahan struktural dalam ekonomi dunia, juga tidak realistis. Ada kebutuhan mendesak bagi negara-negara maju untuk membayangkan kembali model pertumbuhan mereka. Negara-negara maju harus memimpin dunia ini menujusolusiterhadapperubahaniklimdenganmenciptakan dan mengadopsi teknologi rendah karbon dan teknologi pembangunan berkelanjutan lainnya dan meneruskannya ke negara-negara lain. Jika tidak, beban lebih pada pasokan pangan, air dan energi serta peningkatan emisi karbon dunia tidak akan dapat dielakkan– dengan tekanan tambahan dari miliaran orang lagi yang diperkirakan akan menyusul masuk ke kelas menengah dalam dua dekade mendatang. Orang- orang yang masih hidup dalam kemiskinan, atau mereka yang rawan miskin, yang paling rentan terhadap krisis pangan, bahan bakar dan keuangan, kemudian akan terancam tergelincir kembali ke dalam kemiskinan sekali lagi. Inilah mengapa kita perlu berpikir dengan cara yang berbeda. Mengakhiri kemiskinan bukan masalah hanya bagi bantuan atau kerjasama internasional. Ini merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang. Negara-negara maju memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi janji yang mereka buat untuk membantu yang kurang beruntung. Bantuan senilai miliaran dolar yang mereka berikan tiap tahun sangat penting bagi banyak negara berpendapatan rendah. Tetapi jumlah ini tidak cukup: mereka juga dapat bekerjasama dengan lebih efektif untuk membendung penghindaran pajak, dan aliran modal ilegal. Pemerintah dapat bekerja bersama dunia usaha untuk menciptakan sistem yang lebih koheren, transparan dan berkeadilan untuk mengumpulkan pajak perusahaan di dunia yang sudah terglobalisasi. Mereka dapat memperketat penegakan aturan yang melarang perusahaan menyuap pejabat asing. Mereka dapat mendesak perusahaan-perusahaan multinasional besar mereka untuk melaporkan dampak sosial, lingkungan dan ekonomi dari kegiatan-kegiatan mereka. Negara-negara berkembang, juga, memiliki peran penting untuk dimainkan dalam pergeseran transformatif yang dibutuhkan. Sebagian besar negara berkembang tumbuh dengan cepat dan menggalang sumber sendiri untuk mendanai pembangunan di negara mereka. Mereka sudah berkontribusi paling banyak terhadap pertumbuhan dan perluasan perdagangan dunia. Mereka memiliki penduduk muda yang dinamis. Mereka meng-urban, memodernisasi dan menyerap teknologi baru lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Tetapi mereka menghadapi pilihan yang kritis. Investasi infrastruktur yang mereka lakukan saat ini akan mempersulit pemanfaatan energi dan menghasilkan tingkat polusi di masa depan. Cara mereka mengelola pendapatan sumber daya alam saat ini akan menentukan opsi yang tersedia bagi generasi muda negara tersebut di masa depan. Mereka harus membuat pilihan yang cerdas, untuk merubah kota menjadi tempat yang sibuk, penuh kesempatan, pelayanan dan berbagai gaya hidup, tempat orang ingin bekerja dan hidup. Ada etika global untuk dunia globalisasi, didasarkan pada kemanusiaan, prinsip-prinsip Rio dan etos bersama semua tradisi: “lakukan seperti kamu ingin diperlakukan (do as you would be done by)”Selain itu, berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan memberikan banyak manfaat. Setiap dolar yang diinvestasikan dalam menghentikan gizi buruk kronis mengembalikan $30 dalam produktivitas yang lebih tinggi seumur hidup.XIII Tersebarnya imunisasi untuk anak-anak meningkatkan kesehatan hidup nantinya, dengan manfaat senilai 20 kali lebih besar daripada biayanya.XIV Nilai dari waktu produktif yang diperoleh ketika keluarga memiliki akses terhadap air minum yang aman di rumah adalah 3 kali lebih besar daripada biaya memberikan akses terhadap air minum yang aman.12XV Dan kami tidak sabar menunggu untuk beralih pada pembangunan berkelanjutan. Banyak ilmuwan yang memperingatkan kami bahwa kita harus secara agresif beralih, bukan hanya dengan janji sukarela dan komitmen yang ada saat ini untuk menurunkan emisi karbon; karena jika tidak, kita akan berada pada jalur menuju pemanasan setidaknya 4 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri menjelang berakhirnya abad ini. Menurut Bank Dunia, “skenario 4°C” tersebut akan amat merusak.XVI Mengupayakan satu agenda pembangunan berkelanjutan merupakan langkah yang tepat, cerdas dan perlu dilakukan.
    • POST-2015 | 21 II Lihat Kerangka Acuan Kerja, Lampiran V III Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, 15 Mei 2013, http://www.un.org/sg/statements/index.asp?nid=6821 IV Bali Communique Panel Tingkat Tinggi, 27 Maret 2013, http://www.post2015hlp.org/wp-content/uploads/2013/03/Final-Communique-Bali.pdf V Kalkulasi Sekretariat HLP VI UNITE to end violence against women. Fact Sheet. http://www.un.org/en/women/endviolence/pdf/VAW.pdf VII Laporan monitoring Education For All (EFA) (2012). Youth and Skills: Putting Education to Work. (hal. 16) VIII Luthi dkk., 2008, Nature 453, 379-382 IX World Energy Outlook Factsheet, 2011, International Energy Agency, http://www.worldenergyoutlook.org/media/weowebsite/factsheets/factsheets.pdf X UN Millennium Ecosystem Assessment (2005). Ini merupakan penilaian ilmiah multi volum tiap empat tahun sekali oleh lebih dari 1.000 pakar. XI The World Development Report, 2011: Conflict, Security and Development, World Bank XII The Future We Want, United Nations, A/RES/66/288*, 11 September 2012 XIII Copenhagen Consensus (2012). Expert Panel Findings, (hal. 4) dan Hoddinott dkk. (2012). Hunger and Malnutrition. Challenge Paper Copenhagen Consensus 2012 (hal. 68) XIV Jamison, D., Jha, P., Bloom, D. (2008). The Challenge of Diseases. Challenge Paper Copenhagen Consensus 2008 (hal. 51) XV Whittington, D. dkk. (2008). The Challenge of Water and Sanitation. Challenge Paper Copenhagen Consensus 2008 (hal. 126) XVI Turn Down the Heat, World Bank, November 2012, http://climatechange.worldbank.org/sites/default/files/Turn_Down_the_heat_Why_a_4_degree_ centrigrade_warmer_world_must_be_avoided.pdf
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 | 23 BAB 2: DARI VISI KE AKSI – TRANSFORMASI PRIORITAS UNTUK AGENDA PASCA-2015 Lima Pergeseran Transformasi Panel ini memandang lima pergeseran transformasi besar sebagai prioritas untuk agenda pembangunan berkelanjutan yang melihat ke masa depan, menarik dan terpadu berdasarkan prinsip-prinsip Rio. Empat pergeseran pertama merupakan pergeseran di mana fokus aksinya umumnya di tingkat negara, sedangkan pergeseran transformasi kelima, membina kemitraan globalyangbaru,merupakanperubahanyangbersifatmenyeluruhdalamkerjasamainternasional yang memberikan ruang kebijakan bagi transformasi di dalam negeri. Kami percaya pergeseran paradigma dibutuhkan, sebuah transformasi struktural yang sangat besar yang akan mengatasi hambatan-hambatan yang menghadang kesejahteraan yang berkelanjutan. Transformasi yang digambarkan di bawah berlaku bagi semua negara. Transformasi-transformasi ini secara universal relevan dan dapat ditindaklanjuti. Rinciannya mungkin akan bervariasi, dan tanggung jawab dan akuntabilitas akan berbeda-beda, sejalan dengan situasi dan kapabilitas masing-masing negara. Kami mengakui bahwa ada perbedaan besar antar negara dalam hal sumber daya dan kapabilitas, perbedaan yang berakar dalam sejarah dan seringkali di luar kendali mereka. Tetapi setiap negara memiliki sesuatu yang dapat dikontribusikan. Bukan memberi tahu negara apa yang harus mereka lakukan: tiap negara ditanya apa yang ingin mereka lakukan, secara sukarela, baik di dalam negeri maupun untuk membantu negara lainnya dalam bersama-sama menjawab tantangan-tantangan yang teridentifikasi. 1. Tidak Meninggalkan Siapapun Agenda pembangunan berikutnya harus menjamin bahwa di masa depan, pendapatan, jenis kelamin, etnis, keterbatasan fisik, maupun wilayah tidak akan menentukan apakah seseorang hidup atau tidak, apakah seorang ibu dapat melahirkan dengan aman, atau apakah anaknya memilikikesempatanyangadiluntukhidup.KitaharustetapyakindenganjanjiMDGsdansekarang menyelesaikan tugas kita. MDGs bercita-cita mengurangi kemiskinan hingga separuhnya. Setelah tahun 2015 kita harus bercita-cita untuk mengakhiri kelaparan dan kemiskinan ekstrem serta mengatasi kemiskinan dalam segala bentuknya. Ini merupakan komitmen besar terhadap siapapun di bumi ini yang merasa termarjinalisasi atau terkucilkan, dan kepada mereka yang paling membutuhkan dan paling rentan, untuk memastikan kekhawatiran mereka terjawab dan bahwa mereka dapat menikmati hak asasi mereka. Agenda yang baru harus mengatasi penyebab kemiskinan, pengucilan dan ketimpangan. Agenda ini harus menghubungkan orang-orang di daerah-daerah perkotaan dan daerah-daerah pedesaan dengan ekonomi modern melalui infrastruktur yang berkualitas – listrik, irigasi, jalan, pelabuhan, dan telekomunikasi. Agenda ini harus memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan pendidikan bagi semua pihak. Agenda ini harus menetapkan dan menegakkan aturan-aturan yang jelas, tanpa diskriminasi, agar perempuan dapat mewarisi dan memiliki properti dan menjalankan usaha, masyarakat dapat mengendalikan sumber daya lingkungan setempat, dan petani dan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah kumuh di perkotaan memiliki hak kepemilikan. Agenda ini harus memberikan kepada masyarakat kepastian atas keselamatan pribadi. Agenda ini harus mempermudah mereka untuk mengikuti mimpi mereka dan memulai usaha. Agenda ini harus memberikan kepada mereka hak suara tentang apa yang pemerintah mereka lakukan bagi mereka, dan bagaimana pemerintah membelanjakan uang hasil pajak. Agenda ini harus mengakhiri diskriminasi dan mempromosikan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, dewasa maupun anak-anak. Semuanya ini merupakan masalah keadilan sosial dasar. Banyak orang yang hidup dalam kemiskinan belum mendapatkan kesempatan yang adil dalam hidup karena mereka merupakan korban dari penyakit atau pelayanan kesehatan yang buruk, tidak tersedianya lapangan kerja, bencana alam, perubahan iklim, konflik setempat, ketidakstabilan, kepemimpinan setempat
    • 24 | BAB 2: DARI VISI KE AKSI – TRANSFORMASI PRIORITAS UNTUK AGENDA PASCA-2015 yang buruk, atau pendidikan yang berkualitas rendah – atau bahkan sama sekali tidak bersekolah.Yang lainnya mengalami diskriminasi. Memperbaiki ketimpangan dan ketidakadilan dasar ini terkait dengan masalah penghormatan terhadap hak asasi manusia yang universal. Fokus pada rakyat yang paling miskin dan paling termarjinalisasi, yang sebagian besar adalah perempuan, mengikuti langsung prinsip-prinsip yang disepakati dalam Deklarasi Milenium dan Rio. Prinsip-prinsip ini harus tetap menjadi landasan agenda pasca-2015. Untuk menjamin bahwa aksi kita membantu bukan hanya banyak orang, melainkan juga yang paling membutuhkan dan yang paling rentan, kita akan memerlukan cara baru guna mengukur keberhasilan. Strategi dan rencana akan harus dikembangkan untuk mengjangkau mereka yang tidak dicakup dengan memadai oleh program-program yang ada. Biaya memberikan pelayanan di daerah-daerah terpencil mungkin sekitar 15 hingga 20 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata, dinilai dari pengalaman praktis di banyak negara. Ini sepertinya masuk akal dan terjangkau, mengingat sebagian besar negara diperkirakan akan memiliki pendapatan pajak yang lebih tinggi, dan bantuan yang terus diberikan kepada negara-negara berpendapatan paling rendah. Yang terpenting, ini merupakan langkah yang tepat. 2. Menempatkan Pembangunan Berkelanjutan sebagai Inti Selama duapuluh tahun, masyarakat internasional bercita-cita untuk memadukan dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan dari keberlanjutan, tetapi belum ada satu negara pun yang berhasil mencapai pola konsumsi dan produksi yang dapat mempertahankan kesejahteraan dunia dalam beberapa dekade mendatang. Agenda baru akan perlu menetapkan unsur-unsur inti pola hidup berkelanjutan yang dapat berlaku bagi semua pihak. Panel ini yakin bahwa pemerintah nasional dan sub- nasional, bisnis dan perorangan harus merubah cara mereka menghasilkan dan mengkonsumsi energi, berpergian dan mengangkut barang, menggunakan air dan menanam tanaman pangan. Terutama di negara-negara maju, insentif dan pola pikir baru dapat mencetuskan investasi skala besar untuk beralih menuju ekonomi hijau dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan pemberantasan kemiskinan, sementara mempromosikan konsumsi dan produksi yang lebih berkelanjutan dan lebih efisien. Negara- negara berkembang, ketika mereka mendapatkan akses terhadap teknologi baru, dapat langsung menuju konsumsi dan produksi yang lebih berkelanjutan dan lebih efisien. Kedua pendekatan di atas merupakan kebijakan publik yang cerdas. Terkadang, terjadi perdebatan atas batas global emisi karbon akan memaksa negara-negara berkembang untuk mengorbankan pertumbuhan guna mengakomodasi gaya hidup kelompok kaya, atau bahwa negara-negara maju akan harus menghentikan pertumbuhan agar negara-negara berkembang dapat mencapai kemajuan – menggantikan satu sumber polusi dengan sumber polusi yang lain. Kami tidak percaya bahwa pertukaran seperti itu dibutuhkan. Kapasitas manusia untuk inovasi, dan banyaknya alternatif yang telah tersedia, memiliki makna bahwa pembangunan berkelanjutan dapat, dan harus, memungkinkan penduduk di semua negara untuk mencapai cita-cita mereka. Setidaknya sepertiga kegiatan yang dibutuhkan untuk menurunkan emisi karbon global ke tingkat yang masuk akal, seperti beralih ke lampu LED untuk menghemat listrik, lebih memberikan manfaat bagi mereka sendiri dalam kondisi pasar saat ini. Konsumen akan membayar lebih di muka jika mereka dapat melihat dengan jelas penghematan di masa depan dan jika insentif yang tepat diberlakukan untuk melakukan peralihan. Ada banyak contoh bahwa kebijakan ekonomi hijau yang cerdas, dapat dilakukan, dan efektif dari segi biaya: peningkatan aerodinamika kendaraan, membangun gedung untuk efisiensi energi, mendaur ulang sampah, menghasilkan listrik dari gas tempat pembuangan akhir sampah (TPA) – dan teknologi baru terus digunakan dalam produksi. Tetapi upaya terpadu diperlukan untuk mengembangkan dan mengadopsinya. Ada cara lain untuk menurunkan emisi karbon dengan biaya yang sangat sedikit: misalnya memulihkan kondisi tanah, mengelola lahan rumput dan hutan dengan cara yang berkelanjutan.vii Biaya pelayanan kesehatan dapat turun drastis dengan beralih ke transportasi bersih atau bertenaga listrik, membantu mengompensasi biayanya. Tetapi insentif – pajak, subsidi dan peraturan – harus diberlakukan untuk mendorong hal ini – insentif yang sebagian besar tidak berlaku saat ini. Dengan insentif yang tepat, dan kepastian tentang aturan-aturan hukum, banyak perusahaan-perusahaan terbesar di dunia ini siap berkomitmen untuk beralih ke model produksi yang berkelanjutan dalam skala besar. Di negara-negara berkembang juga, berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan memberikan banyak manfaat, terutama jika negara-negara berkembang mendapatkan akses terhadap teknologi baru. Investasi kecil untuk memungkinkan adanya perdagangan listrik lintas batas dapat membuat Afrika Sub-Sahara menghemat $2,7 miliar setiap tahun, dengan mengganti pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan pembangkit listrik tenaga air.XIX Produksi yang berkelanjutan jauh lebih murah daripada “Tumbuhkan sekarang, bersihkan nanti.” Beberapa industri telah mengembangkan standar global guna memandu investasi asing dalam pembangunan berkelanjutan. Contohnya adalah pertambangan, kelapa sawit, kehutanan, pembelian lahan pertanian, dan perbankan. Program-program sertifikasi dan kepatuhan menempatkan semua perusahaan di posisi yang sama. Dengan semakin banyaknya industri yang mengembangkan sertifikasi keberlanjutan, semakin mudah bagi masyarakat sipil dan pemegang saham untuk menjadi pengawas, perusahaan-perusahaan induk yang bertanggung jawab mematuhi standar-standar industri dan isu keselamatan pekerja, dan siap kehilangan investasi jika mereka tidak melakukannya. Namun, saat ini, hanya 25 persen perusahaan besar yang melapor ke pemegang saham untuk praktik- praktik keberlanjutan; menjelang tahun 2030, pelaporan ini harus sudah menjadi lumrah.
    • POST-2015 | 25 3. Mentransformasikan Ekonomi untuk Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Inklusif Panel ini menyerukan adanya terobosan ke depan dalam hal kesempatan ekonomi dan transformasi ekonomi besar untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem dan meningkatkan taraf hidup. Harus ada komitmen terhadap pertumbuhan cepat yang berkeadilan – bukan pertumbuhan dengan mengorbankan apapun atau dorongan pertumbuhan sesaat, melainkan pertumbuhan yang berkelanjutan, berjangka panjang dan inklusif yang dapat mengatasi tantangan- tantangan pengangguran (terutama pengangguran di kalangan muda), kelangkaan sumber daya dan – mungkin tantangan terbesar – adaptasi terhadap perubahan iklim. Pertumbuhaninklusifsepertiiniharusdidukungolehekonomi global yang menjamin stabilitas keuangan, mempromosikan investasi keuangan swasta yang stabil dan berjangka panjang, dan mendorong perdagangan yang terbuka, adil dan ramah pembangunan. Prioritas pertama haruslah menciptakan lapangan kerja yang baik dan layak dan menjamin penghidupan, guna membuat pertumbuhan menjadi inklusif dan menjamin bahwa pertumbuhan mengurangi kemiskinan dan ketimpangan. Ketika rakyat keluar dari kemiskinan, seringkali hal ini dikarenakan mereka masuk ke dalam kategori kelas menengah, tetapi untuk melakukannya mereka akan memerlukan pendidikan, pelatihan dan keahlian untuk berhasil di pasar bursa kerja dan merespons tuntutan bisnis atas lebih banyak pekerja. Lebih dari miliaran orang lagi dapat masuk ke dalam kelas menengah menjelang tahun 2030, sebagian besar di daerah-daerah perkotaan, dan hal ini akan memperkuat pertumbuhan ekonomi di seluruh belahan dunia. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih baik, kelembagaan publik yang adil dan akuntabel, dan praktik-praktik usaha yang inklusif dan berkelanjutan akan mendukung hal ini dan merupakan bagian yang sangat penting dari agenda pasca-2015. Priotitas kedua adalah terus berupaya untuk menambah nilai dan meningkatkan produktivitas, sehingga pembangunan mendorong pertumbuhan lebih baik lagi. Beberapa bagian terpenting akan mempercepat pertumbuhan di mana pun – infrastruktur dan inevstasi lain, pengembangan keahlian, kebijakan-kebijakan yang mendukung perusahaan- perusahaan mikro, kecil dan menengah, dan kapasitas untuk berinovasi dan menyerap teknologi baru, dan menghasilkan sangat beragam produk dengan kualitas lebih tinggi. Di beberapa negara, hal ini dapat dicapai melalui industrialisasi, di negara lain dengan memperluas sektor pelayanan modern atau mengintensifkan pertanian. Beberapa negara melakukan spesialisasi, negara-negara lain melakukan diversifikasi. Tidak ada satu resep tunggal. Tetapi jelas bahwa beberapa pola pertumbuhan – terutama pola pertumbuhan yang didukung oleh perdagangan yang terbuka dan adil, di tingkat global maupun regional – menawarkan lebih banyak kesempatan daripada pola pertumbuhan lain untuk pertumbuhan di masa depan. Ketiga, negara harus memiliki lingkungan stabil yang memungkinkan bisnis untuk berkembang. Yang terpenting, bisnismenginginkanmedanbermainyangsamadanterhubung dengan pasar-pasar besar. Bagi perusahaan-perusahaan kecil, hal ini seringkali berarti menemukan hubungan usaha yang tepat, melalui rantai pasokan atau koperasi, misalnya. Bisnis juga menginginkan kerangka peraturan yang sederhana yang mempermudah mereka mendirikan, mengoperasikan dan menutup perusahaan. Usaha kecil dan menengah, yang mempekerjakan orang dalam jumlah yang paling banyak, saat ini dilumpuhkan dengan adanya peraturan-peraturan rumit yang tidak dibutuhkan yang juga dapat menumbuhkan korupsi. Ini bukan seruan untuk deregulasi total: standar- standar sosial dan lingkungan memiliki arti yang sangat penting. Sebaliknya, ini merupakan seruan untuk membuat peraturan yang cerdas, stabil dan dilaksanakan dengan cara yang transparan. Tentunya, bisnis sendiri juga memiliki peran yang harus dimainkan: mengadopsi praktik-praktik yang baik dan membayar pajak yang adil di negara tempat mereka beroperasi, dan transparan tentang dampak keuangan, sosial dan lingkungan dari kegiatan-kegiatan mereka. Keempat, guna membawa kesejahteraan dan kesempatan baru, pertumbuhan perlu dirintis dengan cara-cara baru guna mendukung konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, dan memungkinkan terjadinya pembangunan yang berkelanjutan. Pemerintah harus mengembangkan dan mengimplementasikan pendekatan terperinci untuk mendorong kegiatan-kegiatan yang berkelanjutan dan mengenakan denda yang pantas untuk perilaku yang yang membahayakan kondisi lingkungan dan sosial. Bisnis harus menunjukkan bagaimana mereka dapat berinvestasi untuk menurunkan tekanan terhadap lingkungan dan meningkatkan kondisi kerja bagi para pekerja mereka. 4. Membangun Perdamaian dan Kelembagaan yang Efektif, Terbuka dan Akuntabel Kebebasan dari konflik dan kekerasan merupakan hak yang paling dasar, dan pondasi yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera. Di saat yang sama, penduduk di seluruh belahan dunia ingin agar pemerintah mereka transparan, akuntabel dan tanggap terhadap kebutuhan mereka. Keamanan pribadi, akses terhadap keadilan, kebebasan dari diskriminasi dan aniaya, dan hak suara dalam keputusan-keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka merupakan hasil akhir serta faktor pendukung pembangunan. Oleh karena itu, kami menyerukan pergeseran mendasar – untuk mengakui perdamaian dan pemerintahan yang baik sebagai unsur inti kesejahteraan, bukan sebagai opsi ekstra. Negara yang memiliki kapabilitas dan tanggap perlu membangun kelembagaan yang efektif dan akuntabel yang mendukung prinsip negara hukum, kebebasan berbicara dan media masa, pilihan politik terbuka, dan akses terhadap keadilan. Kita memerlukan revolusi transparansi agar warga negara dapat melihat dengan tepat untuk apa pajak mereka
    • 26 | BAB 2: DARI VISI KE AKSI – TRANSFORMASI PRIORITAS UNTUK AGENDA PASCA-2015 digunakan; serta bantuan dan pendapatan dari industri ekstraktif dibelanjakan. Kita memerlukan pemerintah yang mengatasi penyebab kemiskinan, memberdayakan rakyat, transparan, dan mengizinkan adanya penyelidikan terhadap urusan mereka. Transparansi dan akuntabilitas juga merupakan alat yang kuat dalam mencegah pencurian dan pemborosan sumber daya alam yang langka. Tanpa lembaga yang sehat, tidak akan ada kesempatan untuk pembangunan berkelanjutan. Panel ini percaya bahwa menciptakan lembaga yang sehat merupakan inti dari transformasi yang diperlukan untuk memberantas kemiskinan dan memungkinkan negara-negara di seluruh belahan dunia, terutama negara-negara yang rentan terhadap atau yang muncul sebagai akibat konflik, untuk berkembang secara berkelanjutan – dan oleh karena itu lembaga harus dicakup dalam agenda pembangunan yang baru. Masyarakat menyelenggarakan dialog melalui lembaga. Guna memainkan peran yang substantif, warga negara memerlukan lingkungan hukum yang memungkinkan mereka untuk membentuk dan bergabung dengan organisasi masyarakat sipil, untuk melakukan protes dan mengekspresikan pendapat mereka secara damai, dan yang melindungi hak mereka atas proses hukum. Di tingkat internasional, juga, lembaga merupakan jalur penting untuk berdialog dan bekerjasama. Bekerja bersama-sama, di dalam dan melalui lembaga-lembaga dalam negeri dan lembaga-lembaga tingkat internasional, pemerintah dapat menghasilkan pemberantasan korupsi secara cepat, pencucian uang, penghindaran pajak baik yang diperkenankan maupun yang tidak diperkenankan, kepemilikan aset tersembunyi, dan perdagangan obat- obatan dan senjata ilegal. Mereka harus berkomitmen untuk melakukannya. 5. Membina Sebuah Kemitraan Global yang Baru Pergeseran kelima, namun mungkin yang paling penting, pergeseran transformasi untuk agenda pasca-2015 adalah membawa sebuah bentuk kemitraan global yang baru ke dalampolitiknasionaldaninternasional.Iniharusmemberikan visi dan kerangka kerja baru, berdasarkan rasa kemanusiaan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan di Rio. Termasuk dalam prinsip-prinsip ini antara lain: universalitas, keadilan, keberlanjutan, solidaritas, HAM, hak atas pembangunan dan tanggung jawab bersama sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Kemitraan ini harus menangkap, dan akan tergantung pada, semangat saling hormat-menghormati dan manfaat bersama. Ada satu gagasan sederhana yang ada di balik prinsip kemitraan global. Masyarakat dan negara memahami bahwa nasib mereka saling terkait. Apa yang terjadi di satu bagian dunia dapat memengaruhi kita semua. Beberapa isu hanya dapat diatasi dengan cara bertindak bersama-sama. Negara memiliki sumber daya, keahlian atau teknologi yang, jika dibagi, dapat memberikan manfaat bersama. Bekerja bersama-sama bukan hanya kewajiban moral untuk membantu mereka yang kurang beruntung, melainkan investasi dalam kesejahteraan jangka panjang bagi semua pihak. Diperbaharuinya kemitraan global akan membutuhkan semangat baru bukan hanya dari para pemimpin nasional, tetapi juga – yang tidak kalah pentingnya – membutuhkan banyak pemimpin lain untuk mengadopsi pola pikir baru dan merubah perilaku mereka. Perubahan-perubahan ini tidak akan terjadi dalam waktu semalam. Tetapi kita harus beralih dari business-as-usual – dan kita harus mulai sekarang. Kemitraan global yang baru ini harus mendorong setiap pihak untuk merubah pandangan mereka terhadap dunia ini, secara drastis. Kemitraan ini harus menuntun semua negara untuk bersedia beralih menuju penggabungan agenda lingkungan dengan agenda pembangunan, dan mengatasi gejala dan penyebab kemiskinan dengan cara yang terpadu dan universal. Apa saja komponen dari sebuah kemitraan global yang baru? Dimulai dengan visi bersama yang umum, visi yang memungkinkan berbagai solusi untuk berbagai konteks tetapi sama ambisiusnya. Berdasarkan visi, rencana aksi dihasilkan, di tingkat masing-masing negara dan daerah-daerah yang lebih kecil, kota atau lokalitas. Masing-masing perlu berkontribusi dan bekerjasama demi masa depan yang lebih baik. Sebuah kemitraan global yang baru harus melibatkan pemerintahnasionalsemuanegara,otoritasdaerah,organisasi internasional, badan usaha, masyarakat sipil, yayasan dan donor lainnya, dan masyarakat – semuanya duduk bersama- sama untuk bekerja bukan tentang bantuan saja, melainkan juga mendiskusikan kerangka kebijakan yang benar-benar bersifat internasional untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Kemitraan ini harus beralih dari orientasi MDGs di mana kemitraan terjadi antar pemerintah negara berpendapatan tinggi dan negara berpendapatan rendah, menjadi lebih inklusif dengan melibatkan lebih banyak pihak. Sebuah kemitraan global yang baru harus memiliki cara bekerja baru – proses yang jelas guna mengukur kemajuan menuju pencapaian tujuan dan target dan untuk meminta orang bertanggung jawab dalam memenuhi komitmen mereka. Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat memimpin dalam hal pengawasan di tingkat global, mengambil informasi dari pemerintah nasional dan daerah, serta dari dialog-dialog di tingkat regional. Kemitraan di masing-masing bidang tema, di tingkat global, nasional dan daerah, dapat memberikan tanggung jawab dan akuntabilitas untuk memberlakukan kebijakan dan program. Masing-masing peserta kemitraan global memiliki peran khusus yang harus dimainkan: Pemerintah nasional memiliki peran dan tanggung jawab pusat atas pembangunan negaranya sendiri dan untuk menjamin HAM universal. Mereka memutuskan target nasional, pajak, kebijakan, rencana dan peraturan yang akan
    • POST-2015 | 27 menerjemahkan visi dan tujuan agenda pasca-2015 ke dalam realitas praktis. Mereka memiliki peran di tiap sektor dan di banyak tingkat – mulai dari menegosiasikan perdagangan internasional atau perjanjian lingkungan hingga menciptakan lingkungan yang mendukung bagi badan usaha dan menetapkan standar lingkungan di dalam negeri. Negara-negara maju harus menepati janji mereka kepada negara-negara berkembang. Bantuan Utara-Selatan masih vital bagi banyak negara: bantuan ini harus dipertahankan, dan ditingkatkan jika dimungkinkan. Tetapi bukan bantuan saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan di tingkat internasional. Negara-negara maju merupakan pasar dan eksportir penting. Praktik-praktik perdagangan dan pertanian mereka memiliki potensi yang sangat besar dalam membantu, atau menghambat perkembangan negara lain. Mereka dapat mendorong inovasi, penyebaran dan transfer teknologi. Dengan perekonomian besar lainnya, mereka memiliki peran sentral dalam menjamin stabilitas sistem keuangan internasional. Mereka memiliki tanggung jawab khusus dalam menjamin bahwa tidak boleh ada surga bagi modal ilegal dan hasil korupsi, dan bahwa perusahaan-perusahaan multinasional membayar pajak dengan adil di negara tempat mereka beroperasi. Dan, sebagai konsumen terbesar dunia per kapita, negara-negara maju harus memperlihatkan kepemimpinan dalam konsumsi dan produksi berkelanjutan dan mengadopsi dan membagi teknologi hijau. Negara-negara berkembang saat ini sudah jauh lebih beragam daripada ketika MDGs disepakati – mereka meliputi perekonomian-perekonomian besar yang baru muncul serta negara-negara yang sedang berjuang untuk mengatasi tingginya tingkat depriviasi dan menghadapi keterbatasan kapasitas yang sangat besar. Situasi yang berubah ini tercermin dalam perubahan peran. Hubungan negara berkembang dalam perdagangan, investasi, dan keuangan tumbuh pesat. Mereka dapat berbagi pengalaman tentang bagaimana cara terbaik untuk mereformasi kebijakan dan lembaga untuk mendukung pembangunan. Negara-negara berkembang, termasuk negara-negara dengan kantung- kantung kemiskinan yang besar, saling bekerjasama, dan bersama-sama dengan negara-negara maju dan lembaga- lembaga internasional, dalam kegiatan-kegiatan kerjasama Selatan-Selatan dan kerjasama Triangular yang sekarang dianggap berharga. Ini bahkan dapat menjadi lebih kuat lagi dengan pengembangan gudang praktik-praktik yang baik, jaringan pertukaran pengetahuan, dan lebih banyak kerjasama regional.XX Otoritas daerah membentuk jembatan vital antara pemerintah nasional, masyarakat dan warga negara dan akan memainkan peran kritis dalam sebuah kemitraan global yang baru. Panel ini percaya bahwa cara untuk mendukung hal ini adalah dengan mengakui bahwa target dapat dicapai dengan cara yang berbeda-beda di tingkat daerah – oleh karena itu kemiskinan di daerah perkotaan tidak diperlakukan sama seperti kemiskinan di daerah pedesaan, misalnya. Otoritas daerah memainkan peran kritis dalam menetapkan prioritas, melaksanakan rencana, memantau hasil dan terlibat dengan badan-badan usaha dan masyarakat setempat. Di banyak kasus, otoritas daerah yang memberikan pelayanan publik yang sangat penting dalam hal kesehatan, pendidikan, penegakan hukum, air dan sanitasi. Dan, bahkan jika tidak memberikan pelayanan langsung, pemerintah daerah seringkali berperan dalam menetapkan lingkungan perencanaan, peraturan dan pendukung – bagi bisnis, untuk pasokan energi, transit masal dan standar bangunan. Mereka memainkan peran inti dalam pengurangan risiko bencana – mengidentifikasi risiko, peringatan dini dan membangun ketahanan. Otoritas daerah berperan dalam membantu orang-orang yang tinggal di daerah kumuh untuk mengakses perumahan dan pekerjaan yang lebih baik dan merupakan sumber program yang paling berhasil untuk mendukung sektor informasi dan usaha-usaha mikro. Kelembagaan internasional akan memainkan peran kunci. Perserikatan Bangsa-Bangsa, tentunya, memainkan peran sentral yang bersifat normatif dan peran sebagai convener, dan dapat bergabung dalam kemitraan melalui dana dan program pembangunan, dan badan-badan khususnya. Lembaga keuangan internasional dapat memberikan kompensasi untuk kegagalan pasar dalam memasok keuangan jangka panjang bagi proyek-proyek berkelanjutan di negara-negara berpendapatan rendah dan negara-negara berpendapatan menengah, tetapi lembaga-lembaga ini perlu lebih inovatif, fleksibel dan gesit dalam cara mereka beroperasi. Panel ini mencatat adanya potensi yang sangat besar untuk menggunakan uang publik guna mendorong dan meningkatkan pendanaan swasta untuk pembangunan berkelanjutan. Misalnya, hanya 2 persen dari $5 triliun aset sovereignwealthfund yang telah diinvestasikan sejauh ini dalam proyek-proyek pembangunan berkelanjutan.XXI Badan usaha merupakan mitra yang sangat penting yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Usaha-usaha kecil dan menengah akan menciptakan lapangan kerja paling banyak yang akan dibutuhkan untuk membantu rakyat miskin keluardarikemiskinandan470jutayangakanmemasukipasar tenaga kerja menjelang tahun 2030. Badan-badan usaha besar memiliki uang dan keahlian untuk membangun infrastruktur yang akan memungkinkan semua orang untuk berhubungan dengan ekonomi modern. Badan usaha besar juga dapat menghubungkan perusahaan mikro dan wirausahawan kecil dengan pasar-pasar yang lebih besar. Ketika mereka menemukan model usaha yang dapat bekerja dengan baik untuk pembangunan berkelanjutan, mereka dapat cepat meningkatkannya, dengan menggunakan sebaran geografi mereka untuk menjangkau ratusan juta orang. Banyak dari pemimpin di bisnis yang kami ajak berdiskusi tentang isu-isu ini yang telah memasukkan pembangunan berkelanjutan ke dalam strategi perusahaan mereka. Mereka berbicara tentang kasus di bisnis dengan tiga komponen yang berfungsi dengan sangat baik melampaui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Pertama, menggunakan inovasi untuk membuka pasar pertumbuhan baru, dan menjawab kebutuhan konsumen miskin. Kedua, mempromosikan
    • 28 | BAB 2: DARI VISI KE AKSI – TRANSFORMASI PRIORITAS UNTUK AGENDA PASCA-2015 praktik-praktik yang berkelanjutan dan mempertahankan biaya yang berdaya saing dengan melestarikan tanah, air, serta energi dan mineral, dan mengeliminasi limbah. Ketiga, menarik para pekerja berkaliber tertinggi dan mempromosikan hak-hak pekerja. Namun,banyakperusahaanmengakuibahwajikamerekaingin dipercaya untuk menjadi mitra pemerintah dan organisasi masyarakat sipil, mereka perlu memperkuat mekanisme tata kelola mereka dan mengadopsi “pelaporan terpadu”, tentang dampak sosial dan dampak lingkungan serta kinerja keuangan perusahaan mereka. Banyak perusahaan saat ini berkomitmen untuk melakukan hal ini; sebuah kemitraan global yang baru harus mendorong badan usaha lain untuk mengikuti teladan mereka. Organisasi masyarakat sipil dapat memainkan peran vital dalam memberikan hak suara kepada orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, yang meliputi banyak perempuan, anak-anak, orang-orang cacat, masyarakat adat dan masyarakat setempat serta anggota-anggota kelompok marjinal lainnya. Mereka memiliki peran penting dalam merancang, mewujudkan, dan memantau agenda baru ini. Mereka juga penyedia penting pelayanan dasar, seringkali dapat menjangkau rakyat yang paling membutuhkan dan yang paling rentan, misalnya di daerah-daerah kumuh dan daerah-daerah terpencil. Dalam kemitraan baru, organisasi masyarakat sipil akan memainkan peran krusial dalam memastikan bahwa pemerintah di semua tingkat dan bisnis bertindak dengan bertanggung jawab dan menciptakan kesempatan dan pencaharian yang berkelanjutan dalam ekonomi pasar terbuka. Kemampuan mereka untuk melaksanakan peran ini tergantung pada lingkungan hukum pendukung dan akses terhadap proses hukum, tetapi mereka juga harus berkomitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas penuh kepada orang-orang yang mereka wakili. Yayasan, donor lain dan investor untuk kegiatan-kegiatan yang memberikan pengaruh sosial dapat berinovasi dan cekatan dan oportunistis, membentuk jembatan antara birokrasi pemerintah, lembaga internasional dan bisnis dan sektor OMS. Yayasan dan donor dapat mengambil risiko, memperlihatkan bahwa suatu gagasan berfungsi dengan baik, dan menciptakan pasar baru di tempat-tempat yang belum memiliki pasar. Hal ini dapat memberikan kepercayaan diri kepada pemerintah dan bisnis untuk mengambil inisiatif dan meningkatkan keberhasilan. Investor untuk kegiatan-kegiatan yang memberikan pengaruh sosial memperlihatkan bahwa kemungkinan ada “cara ketiga” untuk pembangunan berkelanjutan – yaitu gabungan antara sektor swasta yang sepenuhnya bertujuan mencari laba dengan program hibah arau bantuan amal murni. Karena sektor swasta bertujuan menghasilkan uang, upaya mereka dapat berkelanjutan dari waktu ke waktu. Tetapi karena mereka baru dalam hal ini, baik badan usaha maupun badan amal, tidak dapat dimasukkan ke dalam kerangka hukum tradisional. Beberapa negara mungkin akan perlu mempertimbangkan bagaimana cara memodifikasi undang-undang mereka untuk memanfaatkan sektor ini dengan dengan baik. Ilmuwan dan akademisi dapat membuat terobosan imilah dan teknologi yang sangat penting bagi agenda pasca-2015. Tiap negara yang telah mengalami pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan, berhasil melakukannya dengan menyerap pengetahuan, teknologi dan gagasan dari seluruh dunia, dan mengadaptasinya dengan kondisi setempat.XXII Yang penting adalah bukan hanya memiliki teknologi, melainkan memahami bagaimana cara memanfaatkannya dengan baik dan sesuai dengan kondisi setempat. Hal ini membutuhkan universitas, politeknik, sekolah administrasi negara dan para pekerja yang terlatih dengan baik dan memiliki keahlian di semua negara. Ini adalah salah satu contoh pentingnya agenda pasca-2015 untuk melampaui fokus MDGS pada pendidikan dasar. Energi merupakan contoh yang baik tentang di mana terobosan teknologi global diperlukan. Ketika pemerintah bekerjasama dengan akademisi dan sektor swasta, cara baru menghasilkan energi yang bersih dan berkelanjutan dapat ditemukan dan dipraktikkan.XXIII Ini harus secepatnya terjadi: keputusan infrastruktur saat ini akan mempengaruhi penggunaan energi di masa depan. Ilmu pengetahuan di banyak bidang, seperti tanaman yang tahan terhadap kekeringan, dapat ditingkatkan dengan menggunakan platform terbuka di mana ilmuwan dari mana pun memiliki akses terhadap temuan ilmuwan lain dan dapat memodifikasinya dengan bebas dan berkolaborasi secara luas, menambahkan fitur-fitur yang bermanfaat tanpa batas. Ilmu pengetahuan platform terbuka dapat mempercepat pengembangan gagasan-gagasan baru untuk pembangunan berkelanjutan dan meningkatkannya. Ilmu pengetahuan ini dapat mendukung inovasi, penyebaran dan transfer teknologi di seluruh belahan dunia. Masyarakat harus menjadi inti dari sebuah kemitraan global yang baru. Untuk melakukannya mereka memerlukan kebebasan untuk menyuarakan pandangan mereka dan berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi hidup mereka tanpa rasa takut. Mereka memerlukan akses terhadap informasi dan ke media independen. Dan bentuk baru partisipasi seperti media sosial dan pengumpulan pendanaan masyarakat (crowdsourcing) dapat mendukung pemerintah, bisnis, organisasi masyarakat sipil dan akademisi dalam berinteraksi, memahami dan menjawab kebutuhan warga dengan cara baru.
    • POST-2015 | 29 Menjamin Lebih Banyak Pendanaan Jangka Panjang yang Lebih Baik Panel ini percaya bahwa sebagian besar uang untuk mendanai pembangunan berkelanjutan akan berasal dari sumber-sumber di dalam negeri, dan Panel ini mendesak negara-negara untuk melanjutkan upaya berinvestasi melalui sistem pajak yang lebih kuat, memperluas dasar pajak dalam negeri mereka dan membangun pasar-pasar keuangan lokal. Pemerintah negara berpendapatan rendah dan negara berpendapatan menengah telah mengambil langkah besar dalam menaikkan pendapatan dalam negeri, dan hal ini membantu memperluas pelayanan publik dan investasi, yang sangat penting bagi pertumbuhan berkelanjutan, serta menciptakan kepemilikan dan akuntabilitas untuk pembelanjaan publik. Tetapi negara-negara berkembang juga akan memerlukan banyak pendanaan eksternal. Bagian utama hal ini bukan bantuan dari negara-negara maju, walaupun bantuan tetap vital bagi negara-negara berpendapatan rendah dan janji yang dibuat tentang bantuan harus ditepati. Sumber terpenting pendanaan jangka panjang adalah modal swasta, yang berasal dari dana pensiun besar, dana bersama, sovereign wealth fund, perusahaan-perusahaan swasta, bank-bank pembangunan, dan investor-investor lainnya, termasuk yang di negara-negara berpendapatan menengah darimana penghematan berasal menjelang tahun 2030. Aliran modal swasta ini akan tumbuh dan menjadi tidak terlalu rentan terhadap sentakan dan penghentian mendadak, jika sistem keuangan global stabil dan diatur dengan baik, dan jika mereka mendanai proyek-proyek yang didukung oleh lembaga-lembaga keuangan internasional. Dana tersedia tabungan dunia tahun ini kemungkinan akan berjumlah lebih dari $18 triliun dan sponsor proyek-proyek yang berkelanjutan sedang mencari modal, namun jalur-jalur baru dan instrumen keuangan inovatif dibutuhkan untuk menghubungkan keduanya. Sistem dukungan (keterampilan, lembaga keuangan, kebijakan, perundang-undangan) harus dibangun dan, jika tersedia, harus diperkuat. Visi yang luas tentang bagaimana cara mendanai pembangunan telah disepakati oleh pemerintah-pemerintah di suatu konferensi yang diadakan di Monterrey, Meksiko pada tahun 2002. Konsensus Monterrey menyepakati bahwa “tiap negara memiliki tanggung jawab utama atas pembangunan ekonomi dan sosialnya sendiri, dan peran kebijakan nasional dan strategi pembangunan tidak dapat lebih ditekankan lagi. Di saat yang sama, perekonomian-perekonomian domestik sekarang saling terjalin dengan sistem ekonomi global.”XXIV Jadi, upaya-upaya ini harus didukung oleh komitmen yang dibuat tentang bantuan, pola perdagangan dan investasi, serta kerjasama teknis untuk pembangunan. Panel ini percaya prinsip dan perjanjian yang dibuat di Monterrey tetap berlaku untuk agenda pasca-2015. Panel ini merekomendasikan agar konferensi internasional harus menjawab persoalan pendanaan untuk pembangunan berkelanjutan dengan lebih terperinci. Hal ini dapat disidangkan oleh PBB di paruh pertama tahun 2015 untuk membahas dalam istilah praktis bagaimana cara mendanai agenda pasca-2015. Panel ini mengusulkan agar konferensi ini mendiskusikan bagaimana cara memadukan pembangunan, pembangunan berkelanjutan dan arus pendanaan lingkungan. Satu agenda tunggal harus memiliki struktur pendanaan yang koheren. XVII Deklarasi Milenium mendesak“upaya untuk mempromosikan demokrasi dan memperkuat prinsip negara hukum, serta bagi semua HAM dan kebebasan fundamental yang diakui internasional, termasuk hak terhadap pembangunan.”Deklarasi ini juga mendukung“kebebasan media masa untuk memainkan peran penting mereka dan hak masyarakat untuk memiliki akses terhadap informasi.” XVIII Towards a Global Climate Change Agreement, McKinsey (2009) XIX Rosnes dkk. (2009), Powering Up: Costing Power Infrastructure Spending Needs in sub-Saharan Africa, Africa Infrastructure Country Diagnostic, Paper 5 (Phase II) XX Kerjasama Selatan-Selatan dipandu dengan“prinsip menghormati kedaulatan nasional, kepemilikan dan independensi nasional, kesetaraan, non kondisionalitas, tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri dan manfaat bersama.”Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Kerjasama Selatan- Selatan, Nairobi, Kenya (2009) XXI UNCTAD (2012) World Investment Report. Towards a New Generation of Investment Policies. http://www.unctaddocs.org/files/UNCTAD- WIR2012-Full-en.pdf XXII Commission on Growth and Development (2008) The Growth Report. Strategies for Sustained Growth and Inclusive Development. World Bank: Washington DC. XXIII Misalnya, US-India Partnership to Advance Clean Energy telah menghasilkan $1,7 miliar dalam sumber publik dan swasta untuk energi bersih. XXIV United Nations, Monterrey Consensus on the International Conference on Financing for Development, di Monterrey, Meksiko. United Nations, 2002
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 | 31 BAB 3: TUJUAN ILUSTRATIF DAN DAMPAK GLOBAL Bentuk Agenda Pasca-2015 Komitmen yang lugas dalam lima bidang ini – tidak meninggalkan siapapun, menempatkan pembangunan berkelanjutan sebagai inti, transformasi ekonomi, membangun perdamaian dan kelembagaan yang efektif dan akuntabel, dan membina kemitraan global baru – akan memungkinkan komunitas internasional untuk menepati janji MDGs, meningkatkan ambang batas di mana pengalaman memperlihatkan kita mampu berbuat lebih, dan menambahkan isu- isu kunci yang belum ada. Semuanya ini merupakan langkah penting menuju pemberantasan kemiskinan sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. Terutama karena lingkup agenda pasca-2015 sangat luas – menggabungkan kemajuan sosial, pertumbuhan yang berkeadilan dan pengelolaan lingkungan – agenda ini harus memiliki prioritas yang jelas, dan mencakup metrik global serta target nasional. Dalam konteks inilah, komunitas global dapat mengatur dirinya. Kami percaya bahwa gabungan dari tujuan, target, dan indikator dalam MDGs merupakan instrumen yang kuat untuk menggalang sumber daya dan memotivasi aksi. Karena itu, kami merekomendasikan agar agenda pasca-2015 juga mengedepankan beberapa tujuan dan target dengan prioritas tinggi, dengan horizon waktu yang jelas dan didukung oleh indikator-indikator terukur. Mengingat hal ini, Panel merekomendasikan agar target dalam agenda pasca-2015 ditetapkan untuk tahun 2030.XXV Jangka waktu yang lebih lama akan membuat agenda ini kehilangan urgensi dan nampak tidak masuk akal, mengingat kegembiraan dunia saat ini, sementara jangka waktu yang lebih singkat tidak akan memungkinkan adanya perubahan transformasi yang diperlukan. Tujuan dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan. Namun kerangka tujuan bukanlah solusi terbaik bagi setiap tantangan sosial, ekonomi dan lingkungan. Kerangka kerja menjadi paling efektif ketika ambisi yang jelas dan menarik dapat digambarkan dengan istilah yang jelas serta terukur. Tujuan tidak dapat menggantikan peraturan terperinci atau traktat multilateral yang mengkodifikasi negosiasi internasional yang diseimbangkan dengan saksama. Dan tidak seperti traktat, tujuan seperti MDGs tidak mengikat dalam hukum internasional. Tujuan berada pada kategori alat komunikasi, inspirasi, perumusan kebijakan dan penggalangan sumber daya. Agenda juga harus mencakup mekanisme pemantauan dan akuntabilitas yang melibatkan negara, masyarakat sipil, sektor swasta, yayasan, dan komunitas pembangunan internasional. Agenda ini harus mengakui kontribusi masing-masing pihak bagi pendanaan pembangunan, mengakui tantangan bersama dengan kapabilitas dan kebutuhan yang berbeda-beda. Agenda harus berdasarkan bukti apa yang bekerja dengan baik, dan berfokus pada bidang-bidang di mana, dengan bertindak bersama-sama, komunitas global dapat mencapai transformasi yang dibutuhkan untuk pembangunan berkelanjutan. Kerangka tujuan yang mendorong transformasi memiliki nilai dalam membawa fokus pada upaya global, membangun momentum dan mengembangkan urgensi global. Kerangka ini instrumental dalam mengkristalisasi konsensus dan mendefinisikan norma-norma internasional. Kerangka ini dapat memberikan seruan peran untuk kampanye global guna menggalang dukungan internasional, seperti yang terjadi pada MDGs. Panel ini merekomendasikan agar beberapa tujuan dan target diadopsi dalam agenda pembangunan pasca-2015, dan masing-masing tujuan dan target ini harus SMART: spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan dan terikat waktu. Serangkaian kriteria yang jelas dan mudah tercapai, sebagai pemandu bentuk agenda pasca-2015 sejalan dengan hasil dari Rio+20, adalah bahwa masing-masing tujuan harus: • Memecahkan isu kritis, dan memberikan dampak yang kuat pada pembangunan berkelanjutan, berdasarkan penelitian yang ada;
    • 32 | BAB 3: TUJUAN ILUSTRATIF DAN DAMPAK GLOBAL • Merangkum pesan yang menarik tentang isu-isu yang membuat masyarakat, perusahaan dan pemerintah bersemangat; • Mudah dipahami dan dikomunikasikan tanpa jargon; • Terukur, dengan menggunakan indikator, metrik dan data yang kredibel dan sesuai untuk tingkat internasional, dan dapat dipantau; • Berlaku luas di negara-negara dengan berbagai tingkat pendapatan, dan di negara-negara yang muncul sebagai akibat konflik atau pulih dari bencana alam; • Didasarkan pada hak suara masyarakat, dan prioritas yang teridentifikasi selama konsultasi, terutama anak- anak kecil, anak-anak muda, perempuan dan kelompok- kelompok marjinal dan terkucilkan; • Berdasarkan konsensus, bilamana mungkin didasarkan pada perjanjian yang ada yang dibuat oleh negara-negara anggota PBB, sementara juga berupaya melampaui perjanjian-perjanjian sebelumnya untuk membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Bilamana mungkin, tujuan dan target harus mencerminkan apa yang diinginkan oleh masyarakat, tanpa mendikte bagaimana cara mereka mencapainya. Misalnya, semua negara mungkin akan menetapkan target mengurangi limbah makanan hingga suatu persentase. Tetapi negara berpendapatan rendah mungkin akan mencapai target ini dengan cara berinvestasi pada tempat penyimpanan dan fasilitas pengangkutan yang lebih baik, guna mencegah makanan menjadi rusak sebelum tiba di pasar, sementara negara berpendapatan tinggi mungkin akan berupaya mencapai target ini dengan merubah bagaimana makanan dikemas, dijual, dan dikonsumsi untuk mengurangi jumlah makanan yang terbuang oleh rumah tangga. Panel ini merekomendasikan agar tujuan pasca-2015, yang menjadikan mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, dan janji-janji yang dibuat kepada mereka, sebagai inti dari agenda ini, harus meningkatkan ambisi untuk tahun 2030 guna menjangkau semua yang membutuhkan dan yang paling rentan. Tujuan-tujuan ini harus menyerukan peningkatan kualitas pelayanan. Tujuan-tujuan ini harus menangkap prioritas pembangunan berkelanjutan. Dan tujuan-tujuan ini harus menghubungkan satu dengan yang lain dengan cara yang terpadu. Tentunya, mengingat sangat beragamnya kapabilitas, sejarah, titik awal dan situasi, setiap negara tidak dapat diminta untuk mencapai target yang mutlak sama. Semua negara akan diharapkan untuk berkontribusi dalam mencapai semua target, tetapi seberapa banyak, dan seberapa cepat, akan berbeda-beda. Idealnya, tiap negara menggunakan proses inklusif untuk membuat keputusan ini dan kemudian mengembangkan strategi, rencana, kebijakan, undang- undang, atau anggaran untuk melaksanakannya.XXVI Beberapa contoh yang diajukan selama diskusi Panel mengilustrasikan bagaimana prioritas dapat bervariasi, tergantung pada situasi negara. Panel ini sepakat bahwa beberapa negara berpendapatan tinggi mungkin diharapkan untuk mencapai target energi bersih lebih jauh dan lebih cepat, karena sebagian besar mulai dari awal sekali dan semua memiliki tanggung jawab untuk berbuat lebih menuju pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Banyak negara juga dapat berbuat lebih dengan memberikan akses yang berkeadilan ke pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat yang terisolasi, miskin atau imigran di dalam negeri. Dan kaum muda yang tidak bekerja merupakan masalah serius di mana pun. Prioritas yang diekspresikan dalam konsultasi di negara-negara berpendapatan menengah lebih berfokus pada mengurangi ketimpangan, pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan dengan kualitas yang lebih baik, infrastruktur handal, pemerintah yang transparan dan bertanggung jawab, terutama di tingkat daerah demi meningkatnya pengelolaan kota, menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan pencaharian yang lebih baik dan kebebasan dari kekerasan. Prioritas serupa diekspresikan di negara-negara berpendapatan rendah, serta perlunya transformasi ekonomi dan mengurangi kemiskinan ekstrem. Negara-negara daratan sering menyerukan adanya hubungan yang lebih baik dengan ekonomi global; negara-negara berkembang kepulauan kecil menyerukan diversifikasi ekonomi dan respons yang lebih kuat terhadap perubahan iklim. Semua negara memiliki kepentingan dalam ekonomi global yang terkelola dengan lebih baik, ekonomi global yang lebih stabil, lebih adil, lebih memperhatikan sumber daya bersama, dan lebih bersedia bekerjasama dalam pertukaran ilmiah dan teknis. Semua pihak akan mendapatkan manfaat dari sistem peringatan dini bersama untuk mengidentifikasi dan mencegah bencana alam dan pandemi. Risiko yang Harus Dikelola dalam Agenda Tunggal Jika agenda pembangunan baru ini benar-benar transformasional, ada beberapa risiko besar yang harus dikelola. Komunitas internasional akan harus menjamin bahwa satu agenda pembangunan berkelanjutan tunggal ini tidak: • memuat terlalu banyak prioritas, hasil kompromi dan bukannya hasil keputusan – tidak memiliki semangat dan kusam, tidak transformatif dan terfokus; • terfokus pada agenda masa lalu – melainkan berorientasi ke arah tantangan-tantangan masa depan; • tidak cukup meluas – business as usual; • bersifat utopia sehingga tidak dapat dilaksanakan; • secara intelektual koheren, tetapi tidak menarik; • berfokus sempit pada satu set isu, tidak mampu mengakui bahwa kemiskinan, pemerintahan yang baik, inklusi sosial, lingkungan dan pertumbuhan saling terkait dan tidak dapat diatasi secara sendiri-sendiri.
    • POST-2015 | 33 Cara terbaik untuk mengelola risiko-risiko ini adalah dengan memastikan bahwa agenda pembangunan pasca-2015 mencakup prioritas yang jelas untuk aksi yang dapat didukung oleh komunitas internasional. Ini seharusnya berada dalam bidang-bidang yang memiliki cita-cita global bersama, dan yang akan menghasilkan perbedaan transformasi terhadap pembangunan berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan. MDGs memperlihatkan bagaimana kerangka tujuan dapat digunakan.SatualasanmengapaMDGsberhasiladalahkarena MDGs memberikan inspirasi, terbatas jumlahnya – delapan tujuan dan 21 target – dan mudah dipahami. Target yang lebih berhasil juga terukur dengan batas waktu yang jelas. Dengan fokus pada tujuan, dana dikumpulkan, kemitraan dibangun dan strategi dirancang. Ketika teknologi baru dibutuhkan, mitra merancangnya. Praktik-praktik yang baik dibagi. Para pekerja di lapangan dan pembuat kebijakan di ibukota belajar dan beradaptasi. Tentunya, banyak kemajuan tetap akan terjadi tanpa MDGs, tetapi kita tidak meragukan MDGs membuat dampak dramatis di beberapa bidang utama. Situasi yang sama harus berlaku pada agenda pembangunan pasca-2015. Prioritas-prioritas yang dapat dijawab melalui kerangka tujuan harus dijawab melalui kerangka tujuan. Tujuan memperlihatkan nilai mereka dalam memfokuskan upaya global, membangun momentum dan mengembangkan perasaan risiko global. Mereka dapat membantu dalam mengkristalisasi konsensus dan mendefinisikan norma-norma internasional. Memastikan bahwa negara-negara memberikan keluangan bagi diri mereka masing-masing merupakan risiko dalam agenda universal. Menetapkan target yang sama bagi setiap pihak, seperti yang terjadi pada MDGs pada praktiknya (walaupun bukan pada rancangannya), tidak akan berhasil karena negara memiliki titik awal yang berbeda-beda. Namun dalam beberapa kasus, ambisi seluruh belahan dunia ini seharusnya sama: menetapkan standar minimal bagi setiap warga negara. Tidak boleh ada seorangpun yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, atau menoleransi kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Tidak boleh ada seorangpun yang ditolak kebebasannya untuk berbicara atau tidak diberikan akses terhadap informasi. Tidak boleh ada satupun anak yang kelaparan atau tidak mempunyai kemampuanmembaca,menulisataumelakukanpenjumlahan sederhana. Semuanya harus mendapatkan vaksinasi untuk penyakit-penyakit berbahaya. Setiap orang harus memiliki akses terhadap infrastruktur modern – air minum, sanitasi, jalan, transportasi serta teknologi informasi dan komunikasi. Semua negara harus memiliki akses terhadap energi bersih yang efektif biaya dan berkelanjutan. Setiap orang harus memiliki identitas hukum. Memberlakukan target universal memang menggiurkan di tingkat tinggi di mana pun, namun bagi beberapa negara, hal ini beresiko menjadi bersifat utopia. Panel ini ingin agar setiap anak tidak mengalami gizi buruk kronis atau anemia, tetapi hal itu mungkin tidak akan tercapai di semua negara menjelang tahun 2030. Kami ingin setiap orang terjangkau oleh sistem perlindungan sosial, tetapi tidak jika itu berarti menurunnya kualitas sistem tersebut ke tingkat yang tidak berarti. Kami ingin setiap orang memiliki pekerjaan yang layak, tetapi itu juga mungkin tidak akan tercapai dalam waktu hanya 15 tahun, bahkan di negara-negara yang paling maju. Kami mendapati bahwa menyeimbangkan ambisi dengan realitas dengan menggunakan semacam pedoman akan membantu. Di sebagian besar kasus, target nasional harus ditetapkan dengan ambisius namun praktis, dan di beberapa kasus standar minimal global yang berlaku bagi setiap orang atau negara harus ditetapkan. Kami ingin mengusulkan agar dalam semua kasus di mana target berlaku terhadap hasil akhir bagi individu, target ini harus dianggap dapat tercapai hanya jika setiap kelompok – yang didefinisikan berdasarkan kuintil penghasilan, jenis kelamin, lokasi atau yang lainnya – telah mencapai target. Dengan cara ini, negara hanya akan dapat memenuhi komitmen mereka jika fokus berada pada mereka yang paling rentan. Jika data untuk indikator belum tersedia, investasi dalam pengumpulan data akan diperlukan. Ketika indikator belum disepakati atau belum jelas (misalnya dalam mendefinisikan kualitas), kami mengusulkan untuk mengundang pakar teknis untuk mendiskusikan dan menyempurnakan model dan metode mereka. Pembelajaran dari MDG 8 (Kemitraan Global untuk Pembangunan) Panel ini mencatat kemajuan di bidang-bidang yang tercakup dalam MDG8, tetapi merasa kecewa dengan kecepatan kemajuan di beberapa bidang. Banyak negara menurunkan tarif, namun Putaran Pembangunan Doha tidak memberikan kesimpulan. Badan-badan resmi mengurangi puluhan miliar dolar hutang, tetapi masih meninggalkan banyak negara terancam mengalami kerugian keuangan. Ada banyak kemajuan dalam meningkatkan daya jangkau harga obat- obatan, tetapi banyak orang masih tidak memiliki akses terhadap obat-obatan penting dengan harga terjangkau. Revolusi teknologi terjadi dalam informasi dan komunikasi, tetapi dengan sedikit kontribusi dari MDG8. Walaupun MDG8 memiliki kekurangan, yang diperparah dengan kurangnya target kuantitatif dan keterikatan waktu, Panel ini memandang kemitraan global yang lebih kuat untuk pembangunan, sasaran dari MDG8, sebagai inti dari agenda pembangunan baru. Panel ini menempatkan kemitraan global baru sebagai inti dari semua rekomendasinya, dan kami percaya bahwa satu tujuan harus dimasukkan dalam agenda pasca-2015 sebagai cara nyata untuk mengekspresikan unsur-unsur utama kemitraan global baru. Perubahan-perubahan terpenting terhadap MDG8 yang kami rekomendasikan adalah: • Mengembangkan target yang universal; • Mengkuantifikasi target, jika dimungkinkan; • Memberikan perhatian lebih untuk menggalang pendanaan yang stabil dan berjangka panjang untuk pembangunan; • Menandai prioritas di bidang-bidang yang lebih jauh dari jangkauan bantuan, agar dapat dipantau; • Memasukkan kemitraan dan kerjasama global ke dalam semua tujuan.
    • 34 | BAB 3: TUJUAN ILUSTRATIF DAN DAMPAK GLOBAL Panel ini percaya bahwa komunitas internasional harus bersatu dan menyepakati cara untuk menciptakan sistem perdagangan global yang lebih terbuka dan lebih adil. Komite antar pemerintah yang beranggotakan para pakar, yang diberi amanat oleh Rio+20, akan mengusulkan opsi untuk strategi pendanaan pembangunan berkelanjutan yang efektif. Reformasi arsitektur keuangan internasional dibutuhkan untuk menjamin stabilitas sistem keuangan global dan memungkinkannya untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nyata. Perjanjian internasional untuk menahan naiknya rata-rata suhu global di bawah 2 derajat Celcius di atas tingkat pra industri harus ditepati. Hal ini akan membantu negara untuk beradaptasi dengan dan memitigasi dampak berbahaya perubahan iklim. Dunia memiliki kesempatan untuk bekerja bersama-sama dengan cara baru untuk mengurangi aliran dana ilegal, meningkatnya pemulihan aset curian, mempromosikan akses terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan dan mengembangkan kemitraan global dalam data pembangunan. Tujuan Ilustratif Panel ini menyimpulkan bahwa visi yang telah disepakatinya dan prioritas yang direkomendasikannya untuk bentuk agenda pembangunan pasca-2015 tidak dapat dikomunikasikan dengan efektif tanpa memberikan contoh tentang bagaimana tujuan dapat dibingkai. Oleh karena itu, serangkaian tujuan ilustratif diberikan dalam Lampiran I, dengan rincian pendukung dalam Lampiran II.Tujuan ilustratif ini memperlihatkan bagaimana prioritas dapat diterjemahkan ke dalam target-target yang menarik dan terukur. Agar benar- benar jelas, materi Lampiran tidak diberikan sebagai cetak biru penentu, melainkan sebagai contoh yang dapat digunakan untuk mempromosikan musyawarah dan perdebatan tanpa henti. Namun kami berharap contoh-contoh ini memberikan inspirasi, dan negara-negara anggota PBB, dan banyak pihak di luar itu yang pendapatnya telah kami dengarkan, akan menganggap contoh-contoh ini sebagai kontribusi yang bermanfaat bagi proses musyawarah mereka untuk agenda pasca-2015. Isu kuncinya adalah keseimbangan antara tujuan-tujuan yang diusulkan, dan hubungan di antaranya. Transformasi sejati menuju pembangunan berkelanjutan hanya akan terjadi ketika negara mengalami kemajuan di beberapa aspek pada waktu yang sama. Sebagai contoh, untuk menurunkan angka kematian anak kita biasanya akan melihat pada komunitas medis dan solusi kesehatan seperti vaksinasi atau kelambu untuk tempat tidur. Vaksinasi dan kelambu untuk tempat tidur memang krusial. Namun demikian, memberdayakan perempuan dan mendidik anak-anak perempuan juga sangat penting demi menyelamatkan hidup anak-anak; sehingga untuk hasil terbaik, pekerjaan dalam semua aspek ini harus digabungkan. Menggandakan bagian energi terbarukan dalam perpaduan energi global juga akan menurunkan intensitas karbon, begitu pula dengan meningkatkan pertimbangan keberlanjutan dalam pengadaan publik, yang dipimpin oleh negara-negara maju. Contoh lainnya, penghasilan petani kecil dapat meningkat cepat dengan memberikan kepada mereka jaminan lahan dan akses terhadap kredit, tetapi penghasilan mereka akan lebih meningkat lagi jika mereka dapat mengangkut produk mereka ke pasar dan jika mereka memiliki telepon genggam dan menggunakan perbankan elektronik, agar mereka mengetahui bagaimana pergerakan harga dan dapat segera menerima pembayaran. Dan jika pasar pangan dunia bekerja dengan lebih baik – lebih transpran dan stabil – petani kecil akan memiliki informasi yang lebih baik tentang apa yang harus mereka tanam untuk mendapatkan nilai tertinggi dari lahan pertanian mereka. Pendidikan juga dapat membantu mencapai banyak tujuan, dengan penyadaran yang akan mengakibatkan pergerakan masal untuk daur ulang dan energi terbarukan, atau tentang tuntutan untuk pemerintahan yang lebih baik dan pemberantasan korupsi secara tuntas. Tujuan-tujuan yang dipilih haruslah tujuan- tujuan yang saling memperkuat dampak tujuan lain dan juga menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan. Panel ini ingin menguji apakah benar memang ada beberapa tujuan dan target yang akan memenuhi kriteria di atas dan mencapai visinya untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem dalam segala bentuknya dalam konteks pembangunan berkelanjutan – dan kami mempertimbangkan banyak opsi. Hal ini menuntun kami menetapkan serangkaian tujuan dan target yang kami pikir akan memenuhi visi yang kami ekspresikan. Dengan berusaha untuk tidak memberikan resep jadi, kami percaya bahwa sangat penting untuk memperlihatkan, melalui contoh-contoh khusus, bahwa ambisi kita dapat diekspresikan dengan cara yang sederhana dan konkrit, walaupun pembangunan berkelanjutan bersifat kompleks dan situasi dan prioritas negara sangat beragam. Bukti-bukti yang ada memberikan banyak ruang untuk menilai tujuan-tujuan apa yang paling transformatif dan relevan bagi sebagian besar negara. Namun berdasarkan kriteria di atas, kami telah mengurangi daftar ilustratif menjadi 12 tujuan dan 54 target, yang pencapaiannya akan sangat meningkatkan kondisi rakyat dan bumi ini menjelang tahun 2030. Kami sengaja tidak membagi tujuan-tujuan ini ke dalam kategori-kategori sesuai dengan pergeseran transformasi khusus yang dijelaskan sebelumnya. Kami memiliki keyakinan kuat bahwa semua tujuan ini harus berinteraksi agar dapat memberikan hasil. Dalam ilustrasi yang kami berikan, kami memutuskan untuk mengusulkan tujuan-tujuan berikut ini: (i) mengakhiri kemiskinan; (ii) memberdayakan anak-anak perempuan dan perempuan serta mencapai kesetaraan gender; (iii) menyediakan pendidikan yang berkualitas dan pembelajaran seumur hidup; (iv) menjamin kehidupan yang sehat; (v) menjamin ketahanan pangan dan gizi yang baik; (vi) mencapai akses universal terhadap air dan sanitasi; (vii) menjamin energi yang berkelanjutan; (viii) menciptakan lapangan kerja, mata pencaharian yang berkelanjutan dan pertumbuhan yang berkeadilan; (ix) mengelola aset sumber daya alam secara lestari; (x) menjamin tatakelola yang baik dan kelembagaan yang efektif; (xi) menjamin masyarakat yang stabil dan damai; dan (xii) menciptakan lingkungan global pendukung dan mendorong pendanaan jangka panjang.
    • POST-2015 | 35 Kami percaya bahwa jika tujuan-tujuan ini dan target- targetnya diupayakan, tujuan dan target ini akan mendorong kelima transformasi kunci – tidak meninggalkan siapapun, transformasi ekonomi, implementasi pembangunan berkelanjutan, membangun kelembagaan yang efektif dan membina kemitraan global baru. Menghadapi Isu Lintas Bidang Beberapa isu tidak langsung dihadapi melalui satu tujuan, melainkan dicoba untuk diatasi di banyak tujuan. Isu-isu lintas bidang ini meliputi perdamaian, ketimpangan, peru- bahan iklim, daerah perkotaan, kekhawatiran kaum muda, anak-anak perempuan dan perempuan, serta pola kon- sumsi dan produksi yang berkelanjutan. Perdamaian. Panel ini sangat percaya bahwa konflik – kondisi yang disebut sebagai kemunduran dalam pembangunan – harusdiatasisecaralangsung,bahkandalamagendauniversal. Kami memasukkan dalam daftar ilustratif satu tujuan tentang menjamin masyarakat yang stabil dan damai, dengan target- target yang mencakup kematian karena kekerasan, akses terhadap keadilan, menghilangkan penyebab eksternal konflik, seperti kejahatan terorganisir, dan meningkatkan legitimasi dan akuntabilitas angkatan-angkatan keamanan, kepolisian dan badan peradilan. Namun target-target ini saja tidak akan menjamin perdamaian atau pembangunan di negara-negara yang muncul sebagai akibat dari konflik. Isu lainnya, seperti lapangan kerja, partisipasi dalam proses politik dan keterlibatan warga setempat, dan pengelolaan sumber daya publik secara transparan juga penting. Negara-negara ini juga harus mendapatkan manfaat dari kerangka pendanaan yang lebih kuat yang memungkinkan sumber daya untuk dialokasikan ke negara-negara yang paling membutuhkan. Ketimpangan. Kerangka kerja ilustratif kami juga menangani ketimpangan kesempatan secara langsung, di seluruh tujuan. Ketika semua orang, terlepas dari penghasilan rumah tangga, jenis kelamin, lokasi, etnis, usia, atau kecacatan, memiliki akses terhadap kesehatan, gizi, pendidikan, dan pelayanan vital lainnya, banyak dampak terburuk ketimpangan akan teratasi. Aspek lain dari ketimpangan yang lebih relevan dengan inklusi sosial, seperti jaminan penguasaan dan akses terhadap keadilan, juga ditangani sebagai target khusus. Kami mengakui bahwa setiap negara berkutat dengan bagaimana cara menangani ketimpangan penghasilan, tetapi kami merasa kebijakan nasional di masing-masing negara, bukan tujuan global, yang harus memberikan jawaban. Sejarah juga memperlihatkan bahwa negara cenderung memiliki siklus ketimpangan penghasilan sebagaimana yang diukur secara konvensional; dan negara sangat berbeda dalam hal pandangan mereka tentang tingkat ketimpangan penghasilan yang dapat diterima dan strategi yang mereka adopsi untuk menguranginya. Namun, Panel ini percaya bahwa pertumbuhan yang benar-benar inklusif dan luas, yang memberikan manfaat kepada rakyat yang paling miskin, sangat penting dalam mengakhiri kemiskinan ekstrem. Kami mengusulkan target-target yang sengaja memasukkan upaya-upaya untuk menangani ketimpangan dan yang dapat dipenuhi hanya dengan fokus khusus pada kelompok- kelompok yang paling terkucilkan dan paling rentan. Sebagai contoh, kami percaya bahwa banyak target harus dipantau dengan menggunakan data yang dipilah berdasarkan kuintil penghasilan dan kelompok-kelompok lainnya. Target akan dianggap tercapai hanya jika ia tercapai untuk semua kelompok pendapatan dan sosial terkait. Perubahan iklim. Dalam target-target ilustratif kami, kami mencoba menangani kontributor terpenting terhadap lintasan yang rendah karbon: infrastruktur transportasi yang lebih berkelanjutan; meningkatnya efisiensi energi dan penggunaan energi terbarukan; tersebarnya praktik- praktik pertanian yang lebih lestari; penanganan deforestasi dan peningkatan reforestasi dalam konteks meningkatkan mata pencaharian masyarakat, dan ketahanan pangan, yang memperhitungkan nilai sumber daya alam, dan keanekaragaman hayati. Kami juga mendorong dimasukkannya metrik sosial dan metrik lingkungan ke dalam praktik-praktik akuntansi. Semua ini harus menjadi bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan, walaupun jika tidak ada kekhawatiran tentang naiknya suhu global, dan perlu menjadi bagian dari kerangka kerja universal. Kami juga sangat mendukung seruan untuk menahan naiknya rata-rata suhu global hingga 2ᵒ C di atas tingkat pra industri, sesuai dengan perjanjian internasional. Namun kami juga mengakui adanya kebutuhan untuk memasukkan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana ke dalam strategi regional dan strategi nasional, dan mendorong negara-negara untuk berfokus pada rencana-rencana ini. Daerah perkotaan. Panel ini mengakui bahwa pemerintah kota memiliki tanggung jawab besar atas pengelolaan kota. Mereka memiliki masalah-masalah khusus, yaitu kemiskinan, perbaikan daerah kumuh, pengelolaan limbah padat, pemberian pelayanan, penggunaan sumber daya, dan perencanaan yang akan menjadi lebih penting dalam beberapa dekade mendatang. Agenda pasca-2015 harus relevan bagi penduduk kota. Kota adalah tempat yang menentukan kemenangan atau kekalahan dalam perjuangan mencapai pembangunan berkelanjutan. Namun, Panel ini juga percaya bahwa memberikan perhatian kepada daerah- daerah pedesaan sangat penting; tiga miliar rakyat rawan miskin masih akan dapat ditemui di daerah-daerah pedesaan pada tahun 2030. Isu yang paling mendesak bukan tentang membandingkan antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, melainkan bagaimana cara mengembangkan pendekatan geografi setempat terhadap agenda pasca-2015. Panel percaya hal ini dapat dilakukan dengan memilah data berdasarkan tempat, dan memberikan kepada otorita setempat peran yang lebih besar dalam menetapkan prioritas, melaksanakan rencana, memantau hasil dan terlibat dengan perusahaan dan masyarakat setempat. Kaum muda. Remaja dan kaum muda kekuatannya mencapai jumlah 1,8 miliar yaitu seperempat dari jumlah penduduk dunia. Mereka membentuk pembangunan sosial dan ekonomi, menantang norma dan nilai sosial, dan membangun landasan bagi masa depan dunia ini. Mereka memiliki harapan tinggi bagi masyarakat dan diri mereka sendiri
    • 36 | BAB 3: TUJUAN ILUSTRATIF DAN DAMPAK GLOBAL dan membayangkan bagaimana dunia ini dapat menjadi lebih baik. Saling terhubung melalui media baru, mereka mendorong kemajuan sosial dan langsung mempengaruhi keberlanjutan dan daya tahan masyarakat mereka dan negara mereka. Kaum muda ini menghadapi banyak hambatan, mulai dari diskriminasi, marjinalisasi, dan kemiskinan, hingga kekerasan. Mereka menemui kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka, sehingga kami percaya target lapangan kerja dengan satu indikator khusus bagi tenaga kerja muda, harus dimasukkan dalam kerangka tujuan berikutnya. XXVII Kaum muda harus menjadi subyek, bukan obyek, dari agenda pembangunan pasca-2015. Mereka memerlukan akses terhadap kesehatan (termasuk akses terhadap SRHR) dan pendidikan yang tepat untuk meningkatkan prospek mereka dalam mendapatkan pekerjaan dan keahlian hidup mereka, tetapi mereka juga harus menjadi peserta aktif dalam pembuatan keputusan, dan diperlakukan sebagai aset vital bagi masyarakat. Anak-anak perempuan dan perempuan dewasa. Mayoritas mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem adalah perempuan. Agenda yang berfokus pada rakyat harus berupaya untuk menjamin hak yang setara bagi perempuan dan anak-anak perempuan, dan memberdayakan mereka untuk berpartisipasi dan mengambil peran kepemimpinan dalam kehidupan publik. Perempuan di seluruh belahan dunia harus bekerja keras untuk mengatasi banyaknya hambatan dalam memanfaatkan kesempatan. Hambatan- hambatan ini dapat dihilangkan hanya ketika tidak ada toleransi sama sekali bagi kekerasan terhadap perempuan dan eksploitasi yang dilakukan terhadap perempuan dan anak-anak perempuan, dan ketika mereka memiliki hak penuh dan setara dalam lingkup politik, ekonomi dan publik. Perempuan dan anak-anak perempuan harus memiliki akses setara terhadap pelayanan keuangan, infrastruktur, berbagai macam pelayanan kesehatan termasuk SRHR, air dan sanitasi; hak setara untuk memiliki lahan dan aset lainnya; lingkungan yang aman untuk mempelajari dan menerapkan pengetahuan dan keahlian mereka; dan berakhirnya diskriminasi agar mereka dapat menerima bayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama, dan memiliki hak suara setara dalam pembuatan keputusan. Kesetaraan gender dimasukkan di semua tujuan ini, baik dalam target-target khusus maupun dengan memastikan bahwa target diukur secara terpisah antara perempuan dengan laki-laki, atau antara anak perempuan dengan anak laki-laki, di mana sesuai. Namun kesetaraan gender sendiri juga merupakan isu penting, dan satu tujuan khusus dapat mengkatalisasi kemajuan. Pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Fokus utama kami adalah sistem pangan, air dan energi – kebutuhan dasar hidup. Tetapi kami juga sangat percaya bahwa perubahan yang lebih luas menuju pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan merupakan hal yang sangat penting. Perubahan terpenting akan didorong oleh teknologi, oleh inovasi dalam rancangan produk, oleh panduan kebijakan yang terperinci, oleh pendidikan dan berubahnya perilaku, dan oleh inovasi-inovasi sosial yang tertanam dalam masyarakat. Tetapi perubahan terjadi dengan cepat, dan cita-cita saat ini mungkin akan menjadi gagasan usang di masa depan. Oleh karena itu, kami telah membingkai target-target ilustratif dengan ambisi yang tinggi tetapi memungkinkan adanya perkembangan rincian dari waktu ke waktu. Banyak teknologi baru dan sebagian besar produk baru akan berasal dari dunia usaha. Kami merangkul kontribusi positif terhadap pembangunan berkelanjutan yang dibuat oleh dunia usaha. Namun kontribusi ini harus mencakup kesediaan, dari semua perusahaan besar serta pemerintah, untuk melaporkan dampak sosial dan lingkungan mereka, disamping mempublikasikan catatan keuangan mereka. Sekitar seperempat dari total perusahaan besar telah melakukannya. Kami mengusulkan agar peraturan wajib ‘patuhi atau jelaskan’ diperkenalkan secara bertahap kepada semua perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas $100 juta atau yang setara.XXVIII Prinsip yang sama juga harus diberlakukan pada pemerintah. Penghitungan nasional dampak sosial dan lingkungan harus diarusutamakan menjelang tahun 2030. Pemerintah, terutama di negara-negara maju, harus menggali opsi kebijakan untuk pertumbuhan hijau sebagai salah satu alat penting yang tersedia untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Disamping melindungi sumber daya alam, ukuran-ukuran ini akan mendukung pergerakan menuju konsumsidanproduksiyangberkelanjutan.Dan,jikakonsumsi yang berkelanjutan akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, seperti yang seharusnya, konsumen-konsumen di masa depan akan harus memiliki kesadaran sosial dan lingkungan. Kegiatan-kegiatan peningkatan pengetahuan di sekolah-sekolah, dan kampanye-kampanye informasi publik secara lebih luas, dapat memainkan peran yang besar dalam merubah pola pikir dengan memperlihatkan keuntungan dari beralih ke konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Dampak Global Menjelang Tahun 2030 Apa yang akan terjadi jika negara-negara maju dan negara- negara berkembang, dan mitra lainnya juga, berkomitmen untuk melaksanakan tujuan dan target yang kami gambarkan? Kita dapat membayangkan dunia di tahun 2030 yang lebih setara, lebih sejahtera, lebih damai dan lebih adil dari dunia saat ini. Dunia di mana kemiskinan ekstrem telah terhapuskan dan di mana unsur-unsur dasar kesejahteraan berkelanjutan tersedia. Dunia di mana tidak seorangpun terlupakan, di mana telah terjadi transformasi ekonomi, dan di mana pemerintah yang transparan dan representatif berkuasa. Dunia perdamaian di mana pembangunan berkelanjutan merupakan tujuan yang menyeluruh. Dunia dengan semangat kerjasama dan kemitraan baru. Ini bukan angan-angan. Sumber daya, keterampilan dan teknologi yang dibutuhkan telah tersedia, dan semakin berkembang setiap tahun. Dengan menggunakan sumber daya, keterampilan dan teknologi ini banyak yang telah tercapai. Dua puluh lima tahun yang lalu, hanya sedikit orang yang membayangkan bahwa menjelang tahun 2015, satu miliar orang telah dapat mengangkat diri mereka keluar dari
    • POST-2015 | 37 kemiskinan ekstrem. Jika seorang pembawa pesan dari masa depan memberi tahu kita bahwa polio akan hilang dari semua kecuali tiga negara; bahwa empat dari lima anak di dunia ini akan mendapatkan vaksinasi, atau bahwa 590 juta anak akan bersekolah, kita tidak akan mempercayainya. Namun, semua ini terjadi. Dalam membentuk skenario tentang apa yang dunia ini dapat capai menjelang tahun 2030, Panel ini mempertimbangkan beberapa faktor dan membuat beberapa asumsi. Pertumbuhan: Output global direncanakan akan naik dua kali lipat menjelang tahun 2030. Tentang lintasan yang ada saat ini, kesenjangan pendapatan per kapita antara negara- negara maju dengan negara-negara berkembang akan tetap besar, tetapi berkurang. Menjelang tahun 2030, sebagian besar negara-negara berkembang harus telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat, dengan rata- rata pertumbuhan 5 persen per tahun, untuk menurunkan kemiskinan ekstrem turun di bawah lima persen. Langkah- langkah kebijakan khusus harus diambil untuk menuntaskan sisanya demi menjamin tidak seorangpun terlupakan. Namun, kita tidak boleh meremehkan nilai pertumbuhan, dan harus meningkatkan upaya kita dua kali lipat untuk menjamin bahwa pertumbuhan dapat terus berlanjut di tingkat ini, dan dibuat lebih inklusif dan berkelanjutan, melalui transformasi struktural dalam setiap perekonomian. Kami percaya bahwa dengan langkah-langkah kebijakan yang tepat, kepemimpinan politik yang kuat dan kelembagaan yang lebih kuat, pertumbuhan dapat lebih dipercepat – bahkan, dan mungkin khususnya, di negara-negara berpendapatan rendah yang memiliki potensi terbesar untuk mengejar kemajuan. Pendanaan: Dengan semakin banyaknya negara yang meningkat menjadi negara berpendapatan menengah dan dapat mengakses pasar modal, official development assistance (ODA) dapat berkonsentrasi pada negara-negara berpendapatan rendah yang masih ada dan berkembang secara proporsional untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan proyek-proyek mineral besar yang akan beroperasi di banyak negara berpendapatan rendah, ada potensi besar untuk menaikkan pendapatan dalam negeri. Tetapi pendapatan ini seringkali akan bersifat sementara dan harus dikelola dengan bijak. Perubahan demografi: Pertumbuhan jumlah penduduk dunia diharapkan akan melambat menjadi hanya satu persen per tahun mulai saat ini hingga tahun 2030, ketika jumlah penduduk dunia kemungkinan mencapai 8 miliar, dan semakin naik menjadi lebih dari 9 miliar menjelang tahun 2050.XXIX Akan ada semakin banyak manusia dan mereka yang berusia tua. Dampak dari kedua kecenderungan ini harus dipertimbangkan. Angkatan kerja dunia akan naik sekitar 470 juta. Bagi banyak negara berkembang, gelombang ini merupakan bonus demografi (demographic dividend), jika orang-orang tambahan tersebut diberikan kesempatan, pelayanan dan keahlian yang tepat. Menciptakan banyak lapangan kerja terdengar menakutkan, tetapi hal ini masih tidak terlalu menakutkan dibandingkan apa yang dicapai banyak negara antara tahun 1995 sampai tahun 2010, ketika angkatan kerja dunia naik hampir 700 juta. Migrasi internasional: hak asasi manusia universal dan kebebasan dasar migran harus dihormati. Para migran ini memberikan kontribusi ekonomi positif bagi negara-negara yang menampung mereka, melalui pengembangan angkatan kerja. Negara asal mendapatkan manfaat dari pendapatan devisa dalam bentuk pengiriman uang dan dari perdagangan dan aliran keuangan yang lebih besar dengan negara yang menampung banyak warga mereka. Menjelang tahun 2030, dengan naiknya jumlah penduduk dunia, kemungkinan akan ada 30 juta lebih migran internasional, yang memberikan pemasukan tambahan $60 miliar kepada negara asal mereka melalui jalur-jalur yang rendah biaya. Urbanisasi: Lebih banyak daerah perkotaan dibandingkan daerah pedesaan di dunia sekarang ini, berkat migrasi internal. Menjelang tahun 2030, akan ada lebih dari satu miliar penduduk perkotaan dan, untuk pertama kalinya, jumlah penduduk pedesaan akan mulai menyusut. Hal ini terjadi karena pertumbuhan inklusif berasal dari kota-kota yang bergairah dan berkelanjutan, satu-satunya lokasi yang memungkinkan untuk menghasilkan jumlah lapangan kerja baik yang dicari oleh kaum muda. Pemerintahan setempat, pengelolaan dan perencanaan yang baik merupakan kunci dalammemastikanbahwamigrasikekotatidakmenggantikan satu bentuk kemiskinan dengan bentuk kemiskinan lain, ketika pendapatan berada sedikit di atas $1,25 per hari, tetapi biaya pemenuhan kebutuhan dasarnya lebih tinggi. Teknologi: Banyak produk yang efisien dan terjangkau harganya telah mulai diupayakan dan diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan berkelanjutan. XXX Contoh tentang hal ini meliputi bangunan-bangunan yang hemat energi dan merubah sampah menjadi energi – yang membuktikan bahwa menghasilkan pendapatan dan mengurangi polusi, mungkin untuk dilakukan. Beberapa teknologi baru yang dapat membuktikan hal ini adalah smart grid, kota rendah karbon, angkutan masal, transportasi efisien dan kebijakan zonasi, pengelolaan air badai terpadu, mini-grid untuk listrik pedesaan, dan alat masak bertenaga surya serta lentera. Vaksin baru, layanan perbankan melalui telepon genggam dan meningkatnya jaring keselamatan juga berpotensi menjadi faktor perubah. Teknologi lain perlu dikembangkan: untuk itu, kami melihat potensi besar dari kolaborasi penelitian internasional dan platform inovasi terbuka sukarela. Menjelangtahun2030,jikapergeserantransformasiyangtelah kami gambarkan terjadi, hambatan yang menghalangi rakyat akan teratasi, kemiskinan dan ketimpangan kesempatan yang merusak kehidupan sangat banyak orang di bumi ini akan berakhir. Ini adalah dunai yang dapat diciptakan oleh kaum muda saat ini.
    • 38 | BAB 3: TUJUAN ILUSTRATIF DAN DAMPAK GLOBAL XXV Otorita daerah dan kawasan telah mulai bekerja dengan horizon 2030 (Manifesto for the City 2030) yang menyeimbangkan visi jangka panjang dengan alam dunia yang berubah cepat saat ini. XXVI Penetapan target nasional serupa digunakan setelah Jomtien Summit on Education (1990) dan World Summit on Children in New York (1990) XXVII Anak muda di sini didefinisikan sebagai mereka yang berusia 15 hingga 24 tahun. XXVIII Rekomendasi ini sebelumnya dibuat oleh High Level Panel on Global Sustainability (2012) Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Resilient People, Resilient Planet: A Future Worth Choosing, New York XXIX United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division (2011). World Population Prospects: The 2010 Revision, Highlights and Advance Tables. ESA/P/WP.220 XXX World Bank (2012) World Bank Inclusive Green Growth: The Pathway to Sustainable Development. World Bank: Washington DC. XXXI Semua angka ini merupakan baseline 2015, kecuali disebutkan lain (angka merupakan perkiraan) XXXII World Bank, PovcalNet (terhitung tahun 2010): http://iresearch.worldbank.org/PovcalNet/index.htm?1 XXXIII WHO Factsheet 2012: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs290/en/ XXXIV WHO Factsheet 2012: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs348/en/ XXXV FAO, Global Food Losses and Food Waste (2011) XXXVI International Labour Organisation, Global Employment Trends 2013 XXXVII International Labour Organisation, World Employment Report, 2012 XXXVIII World Bank, http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/TOPICS EXTENERGY2/0,,contentMDK:22855502~pagePK:210058~piPK:210062~theSitePK:4114200,00.html XXXIX Food and Agriculture Organization, United Nations, 2010, http://www.fao.org/news/story/pt/item/40893/icode/ XL Total pengeluaran pemerintah umum dalam Paritas Daya Beli, berdasarkan IMF, World Economic Outlook, Database, April, 2013 XLI UN Development Programme, http://www.undp.org/content/dam/undp/library/corporate/fast-facts/english/FF_DRR_05102012(fv).pdf Contoh Potensi DampakXXXI Menjelang tahun 2030 Dunia akan mengalami: • Berkurangnya 1,2 miliar orang yang kelaparan dan hidup dalam kemiskinan ekstremXXXII • Bertambahnya 100 juta anak yang terselamatkan dari kematian sebelum berusia lima tahunXXXIII • Bertambahnya 4,4 juta perempuan yang terselamatkan dari kematian ketika hamil atau melahirkanXXXIV • Bertambahnya 1,3 miliar ton makanan per tahun yang terselamatkan dari pemborosanXXXV • Bertambahnya 470 juta orang yang memiliki pekerjaan dan mata pencaharian yang baikXXXVI • Bertambahnya 200 juta kaum muda yang dipekerjakan dengan keahlian yang mereka butuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik13XXXVII • Bertambahnya 1,2 miliar orang yang terhubung dengan listrikXXXVIII • Bertambahnya 190 hingga 240 juta hektar untuk cakupan hutanXXXIX • $30 triliun yang dibelanjakan oleh pemerintah di seluruh dunia dipertanggungjawabkan secara transparanXL • Semua orang di manapun berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan meminta pertanggungjawaban pejabat • Rata-rata suhu global sedang distabilkan di bawah 2ᵒC di atas tingkat industri • Berkurangnya 220 juta orang yang mengalami dampak yang melumpuhkan dari bencana alamXLI
    • POST-2015 | 39 BAB 4: PELAKSANAAN, AKUNTABILITAS DAN MEMBANGUN KONSENSUS Melaksanakan Agenda Pasca-2015 Tujuan dan target ilustratif yang telah kami uraikan dengan lugas, namun praktis. Seperti MDGs, tujuan dan target ini tidak akan mengikat secara hukum, namun harus dipantau dengan saksama. Indikator-indikator yang melacaknya harus dipecah ke dalam banyak cara berbeda untuk menjamin agar tidak seorangpun tertinggalkan. Kami merekomendasikan agar tujuan baru didampingi dengan sistem pemantauan yang independen dan kuat, dengan kesempatan untuk secara rutin mendiskusikan hasilnya di tingkat politik tinggi. Kami juga menyerukan adanya revolusi data untuk pembangunan berkelanjutan, dengan inisiatif internasional baru untuk meningkatkan kualitas statistik dan informasi yang tersedia bagi rakyat dan pemerintah. Kita harus aktif memanfaatkan teknologi baru, pengumpulan sumberdaya dari publik (crowdsourcing), dan konektivitas yang lebih baik untuk memberdayakan masyarakat dengan informasi tentang kemajuan menuju pencapaian target. Kami melihat kesempatan dalam agenda pasca-2015 untuk memasukkan pemain-pemain baru dalam kemitraan di semua tingkat, untuk memperkenalkan cara bekerja baru di seluruh agenda yang meliputi lebih dari sekedar bantuan, dan untuk memperkenalkan semangat multilateralisme baru dan kerjasama internasional. Melaksanakan agenda dengan cakupan seluas ini, meminta masyarakat bertanggung jawab atas kemajuan dan mempertahankan agenda ini agar tetap berada dalam pengawasan para pemimpin dunia, tidak dapat dianggap remeh. Namun kali ini, tidak seperti ketika MDGs, kita tidak perlu mulai dari awal. Ada proses yang telah mapan untuk beralih dari perjanjian di New York ke program di desa terpencil, badan-badan yang berkolaborasi dengan kantor statistik di seluruh belahan dunia, kesediaan para pemimpin dunia untuk memberikan perhatian lebih pada pembangunan berkelanjutan, dan inisiatif setempat yang dapat ditingkatkan. Menyatukan Tujuan Global dengan Rencana Pembangunan Nasional Agenda pasca-2015 harus memungkinkan setiap bangsa untuk mewujudkan harapan dan rencananya. Kami mendapatkan pembelajaran dari MDGs bahwa target global dilaksanakan dengan efektif hanya jika target tersebut dimiliki oleh lokal – ditanamkan dalam rencana dan target nasional – dimana hal ini merupakan pembelajaran penting bagi agenda baru ini. Melalui proses perencanaan nasional, masing-masing pemerintah dapat memilih tingkat ambisi yang sesuai untuk masing-masing target, yang memperhitungkan titik awal masing-masing pemerintah, kapasitas dan sumber daya yang berada dalam jalur perintahnya. Mereka dapat menerima masukan tentang apa yang realistis dan dapat dicapai di masing-masing bidang target dari warga, pejabat, dunia usaha dan masyarakat sipil di desa, kota-kota kecil, kota- kota besar, provinsi dan komunitas. Hal ini merupakan kesempatan bagi pemerintah untuk menjamin akses warga terhadap informasi publik yang dapat digunakan sebagai dasar untuk strategi dan rencana nasional. Dalam banyak situasi, mitra dan badan internasional akan diundang untuk membantu negara melaksanakan rencana dan mencapai target mereka – rata-rata 30 mitra pembangunan resmi, banyak dengan lebih dari satu badan pembangunan, beroperasi di masing-masing negara berkembang. Badan-badan ini memiliki tanggung jawab untuk menyelaraskan upaya mereka dengan rencana nasional, beroperasi melalui anggaran pemerintah jika dapat dilakukan, dan saling berkolaborasi untuk menjamin dampak maksimal dengan upaya yang minimal. Pemantauan Global dan Peninjauan Sesama Agenda pembangunan pasca-2015 harus menjadi tanda era multilateralisme baru dan kerjasama internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat memimpin dalam menetapkan agenda ini dikarenakan legitimasinya yang unik dan universal dan kemampuannya untuk berkoordinasi dan memantau di tingkat global. Namun dengan sistem PBB belum sepenuhnya mewujudkan visi ‘bekerja sebagai satu kesatuan’. Mengusulkan opsi reformasi di PBB tidak termasuk dalam lingkup laporan ini, tetapi Panel ini menyerukan agar setiap langkah diambil untuk meningkatkan koordinasi dan memberikan satu agenda pembangunan berkelanjutan yang terpadu, termasuk
    • 40 | BAB 4: PELAKSANAAN, AKUNTABILITAS DAN MEMBANGUN KONSENSUS Kedua, Panel ini mengusulkan agar PBB secara berkala mengadakan forum global di tingkat politik tinggi untuk meninjau kemajuan dan tantangan ke depan. Komite pe- nasihat independen harus memberikan nasihat dan re- komendasi sebagai latar belakang untuk forum ini. Badan semacam ini harus diundang untuk memberikan komentar dengan cara terbuka dan tidak dibuat-buat, dan memasuk- kan pendapat dari dunia usaha, masyarakat sipil dan pihak lainnya. Ketiga, pelaporan dan peninjauan sesama pada tingkat regional dapat melengkapi pemantauan global. Meninjau kebijakan secara mendalam seringkali lebih mudah dilakukan dengan tetangga-tetangga yang ramah dan konstruktif dibandingkan dengan seluruh dunia. Kelima komisi regional PBB, dengan bank-bank pembangunan regional, negara- negara anggota dan organisasi-organisasi regional, dapat menjadi bagian dari mekanisme koordinasi yang lebih baik di masing-masingkawasandiduniaini,yangakanmendiskusikan dan melaporkan agenda pembangunan berkelanjutan sebelum melaporkan di masing-masing forum global. XLIII langkah-langkah positif belakangan ini untuk meningkatkan kolaborasi antara badan, dana dan program PBB, dan dengan lembaga-lembaga keuangan internasional. Panel ini memiliki tiga usulan yang dapat membantu, dengan pendekatan internasional yang terkoordinasi dan kooperatif terhadap pemantauan dan peninjauan sesama. Pemantauan harus dianggap oleh semua orang sebagai cara untuk memotivasi kemajuan dan meningkatkan kerjasama, bukan sebagai alat kondisionalitas. Pertama, Panel ini mengusulkan agar PBB mengidentifikasi satu wadah akuntabilitas untuk agenda pasca-2015 yang akan bertanggung jawab mengkonsolidasikan beberapa laporannya tentang pembangunan ke dalam satu ulasan tentang seberapa baiknya agenda pasca-2015 dilaksanakan. Mulai tahun 2015, PBB dapat menghasilkan satu Pandangan Pembangunan Berkelanjutan Global (Global Sustainable Development Outlook), yang disusun bersama-sama setahun atau dua tahun sekali oleh gabungan badan-badan PBB dan organisasi-organisasi internasional lainnya. XLI Pandangan Global ini dapat memantau kecenderungan dan hasil, serta risiko yang mengancam akan menggelincirkan pencapaian target. Pandangan Global ini juga merekomendasikan cara melaksanakan program dengan lebih efektif. Contoh Kemitraan Multi Pemangku Kepentingan: Memberikan Pendidikan yang Berkualitas Kemitraan Pendidikan Global memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak marjinal, mengkoordinasikan banyak pemain pendidikan, menawarkan bantuan tanpa replikasi yang tidak penting, dan mengikuti kepemimpinan setempat. Kemitraan ini mengarahkan dana ke satu kelompok setempat di suatu negara. 70 negara berpendapatan rendah memenuhi syarat. Satu kelompok biasanya terdiri dari pendidik, badan pembangunan, perusahaan (dalam dan luar negeri), bank pembangunan regional, kementerian pendidikan, masyarakat sipil dan organisasi donor, terkadang perwakilan-perwakilan UNESCO dan UNICEF, dan pakar-pakar lainnya – dengan dipimpin oleh kementerian pendidikan. Dana Kemitraan Pendidikan Global datang dengan dukungan teknis untuk memperkuat rencana pendidikan nasional (atau provinsi). Kemitraan ini membantu membangun kapasitas untuk memantau kemajuan. Pekerjaan di dalamnya mencakup apapun yang dianggap dibutuhkan oleh negara: membuat jamban atau pusat pendidikan anak usia dini (PAUD); guru pelatihan atau menulis kurikulum dalam bahasa setempat; mendistribusikan buku pelajaran, menambahkan program kejuruan atau sistem pembelajaran digital dengan perusahaan mitra (Microsoft, Nokia dan penerbit Pearson sekarang menawarkan alat pendidikan digital genggam di seluruh Afrika). Dewan direksi Kemitraan ini bersifat global, dengan kecenderungan ke arah representasi negara berkembang. Pendanaan berjangka panjang, ditiadakan secara bertahap ketika pendapatan nasional meningkat. Anggarannya saat ini melebihi $2 miliar. Kemitraan Pendidikan Global merupakan kemitraan satu sektor (pendidikan) namun memperlihatkan bagaimana kolaborasi dapat membawa hasil yang lebih baik. Model serupa dapat terbukti berguna di bidang lainnya.
    • POST-2015 | 41 Pemangku Kepentingan Bermitra berdasarkan Tema Kita tinggal dalam era di mana masalah global lebih baik dipecahkan oleh ribuan, bahkan jutaan, orang yang bekerja bersama-sama. Kemitraan ini dapat memandu cara mencapai target dan menjamin bahwa program efektif di lapangan. Kelompok-kelompok seperti ini terkadang disebut ‘kemitraan multi pemangku kepentingan’. Kelompok-kelompok ini mempertemukan pemerintah (daerah, kota, nasional), pakar, OMS, dunia usaha, donor, universitas dan lainnya, untuk mendiskusikan satu tema tunggal. Kemitraan ini berkuasa karena masing-masing mitra datang dengan pengetahuan langsung dan bukti-bukti yang kuat, berdasarkan penelitian yang menyeluruh. Hal ini memungkinkan mereka untuk berinovasi, melakukan advokasi dengan meyakinkan untuk kebijakan-kebijakan yang baik, dan mendapatkan pendanaan. Mereka memiliki keahlian untuk menerapkan pengetahuan tentang apa yang berhasil dilakukan sebelumnya pada operasi yang baru, dan memperluas gagasan-gagasan yang menjanjikan untuk menjangkau banyak penduduk di banyak negara – ‘pelaksanaan dan perluasan’. Ada sejumlah kemitraan multi pemangku kepentingan global yang telah memberikan hasil yang menjanjikan pada skala besar: dalam bidang kesehatan, gizi, pendidikan, pertanian, air, energi, teknologi informasi dan komunikasi, pelayanan keuangan, kota dan pemerintahan terbuka. Satu dekade sebelumnya atau lebih, ketika kemitraan global pertama dimulai dengan niat yang tulus, kemitraan ini biasanya berbagi biaya, manfaat dan risiko pendanaan proyek besar. Sekarang kemitraan mampu berbuat lebih banyak. Kemitraan dapat membawa keterampilan dan pelatihan, dan mengatasi hambatan yang tidak satupun pemerintah, kementerian, badan usaha swasta atau OMS mampu untuk menangani sendiri. Kemitraan khususnya ahli dalam menetapkan skala baru, karena bersifat global dan berpengalaman. Membawa bukti-bukti dari dunia usaha, masyarakat sipil dan pakar dari seluruh dunia yang terkait dengan satu topik, kemitraan dapat mendorong perbaikan kebijakan dan kelembagaan yang lemah. Dan ketika kemitraan melihat bahwa tugas mereka tidak dapat terlaksana dengan business-as-usual, mereka berinovasi untuk mengembangkan solusi baru, selalu sejalan dengan kebijakan dan prioritas nasional. Salah satu fitur yang paling menarik adalah bahwa mereka dapatmenghasilkanperubahanpolapikir,merubahpemikiran jutaan orang di seluruh belahan dunia. Isunya mungkin sederhana: kampanye untuk mendorong cuci tangan atau menggunakan kelambu untuk melawan malaria. Isu juga dapat bersifat kompleks, seperti kampanye untuk mengakui dan menangani kontribusi manusia terhadap perubahan iklim, atau perlunya beralih ke pola konsumsi berkelanjutan. Tetapi selalu melibatkan penjangkauan masyarakat di setiap negara dan di setiap lapisan. Panel ini mengusulkan agar konsep tujuan – atau kemitraan global sektor khusus harus menjadi bagian inti dari agenda pembangunan yang baru. Kemitraan ini harus bercita-cita mencapai standar transparansi, evaluasi dan pemantauan yang tinggi, dan melibatkan dunia usaha, masyarakat sipil, organisasi donor, organisasi internasional dan pemerintah. Meminta Pertanggungjawaban Mitra Akuntabilitas atau pertanggungjawaban harus dilaksanakan di tingkat yang tepat: pemerintah kepada warganya, pemerintah daerah kepada masyarakatnya, perusahaan kepada pemegang saham, masyarakat sipil kepada anggota masyarakat yang mereka wakili. Akuntabilitas merupakan inti dari kemitraan global dan, sejalan dengan semangat ini, semua pihak harus menghormati lini-lini akuntabilitas ini dan percaya mitra-mitra mereka akan memenuhi komitmen mereka. Tetapi akuntabilitas hanya berfungsi jika masyarakat memiliki informasi yang tepat, mudah tersedia dan mudah digunakan. Jenis baru pertanggungjawaban transparan membuat hal ini sulit dilakukan. Kita memerlukan data untuk tersedia, dan kita memerlukan akuntabilitas yang mengikuti data tersebut. Tanpa keduanya, kemitraan global tidak akan berfungsi. MDGs mempertemukan visi inspirasional dengan serangkaian tujuan dan target yang konkret dan terikat waktu yang dapat dimonitor dengan indikator-indikator statistik yang kuat. Ini merupakan kekuatan besar MDGs dan, dengan berlalunya waktu, cakupan dan ketersediaan data meningkat. Namun, lebih banyak lagi yang masih harus dilakukan. Bahkan sekarang, lebih dari 40 negara berkembang tidak memiliki cukup data untuk melacak kinerja pencapaian MDG1 (memberantas kemiskinan ekstrem dan kelaparan), dan keterlambatan waktu pelaporan hasil MDGs masih terjadi. Sebuah Revolusi Data Baru “Terlalu sering, upaya-upaya pembangunan dihambat dengan kurangnya data paling dasar tentang situasi sosial dan ekonomi di mana masyarakat hidup. Pemantauan dan evaluasi yang lebih kuat di semua tingkat, dan di semua proses pembangunan (dari perencanaan hingga pelaksanaan) akan membantu memandu pengambilan keputusan, memutakhirkan prioritas dan menjamin akuntabilitas. Hal ini akan memerlukan banyak investasi dalam peningkatan kapasitas sebelum tahun 2015. Registrasi komitmen yang rutin dimutakhirkan merupakan gagasan untuk menjamin akuntabilitas dan memantau kesenjangan pencapaian. Kita juga harus memanfaatkan teknologi baru dan akses terhadap data terbuka bagi semua orang.” Bali Communique Panel Tingkat Tinggi, 28 Maret 2013
    • 42 | BAB 4: PELAKSANAAN, AKUNTABILITAS DAN MEMBANGUN KONSENSUS Dibutuhkan: Sebuah Revolusi Data Baru Revolusi teknologi informasi selama satu dekade terakhir memberikan kesempatan untuk memperkuat data dan statistik untuk akuntabilitas dan pengambilan keputusan. Ada inisiatif inovatif untuk menggunakan teknologi genggam dan perkembangan lainnya untuk memungkinkan pemantauan hasil pembangungan dalam waktu nyata (real time). Namun pergerakan ini, sebagian besar, masih terlepas dari komunitas statistik tradisional baik di tingkat global maupun di tingkat nasional. Proses pasca-2015 harus mempertemukan keduanya dan sekarang mulai meningkatkan data pembangunan. Data juga harus membisakan kita untuk menjangkau rakyat yang paling membutuhkan, dan mencari tahu apakah mereka menerima pelayanan-pelayanan dasar. Hal ini berarti data yang dikumpulkan akan perlu dipilah berdasarkan jenis kelamin, wilayah geografi, pendapatan, kecacatan, dan kategori lain, untuk memastikan tidak ada satu kelompok pun yang terlupakan. Data dan statistik yang lebih baik akan membantu pemerintah melacak kemajuan dan memastikan keputusan mereka berdasarkan bukti; data dan statistik juga dapat memperkuat akuntabilitas. Ini bukan tentang pemerintah saja. Badan internasional, OMS dan sektor swasta harus terlibat. Revolusi data yang sebenarnya akan melakukan pendekatan terhadap sumber data yang ada dan sumber data baru untuk sepenuhnya memasukkan statistika ke dalam pengambilan keputusan, mempromosikan akses terbuka ke, dan penggunaan, data dan menjamin dukungan yang lebih baik bagi sistem statistik. Untuk mendukung hal ini, Panel merekomendasikan untuk membentuk Kemitraan Global Data Pembangunan yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan – kantor statistik pemerintah, organisasi internasional, OMS, yayasan dan sektor swasta. Kemitraan ini akan, sebagai langkah pertama, mengembangkan strategi global untuk mengisi kesenjangan kritis, memperluas aksesibilitas data, dan membangkitkan upaya internasional untuk memastikan data dasar (baseline) untuk target-target pasca-2015 tersedia sebelum Januari 2016. Aspekakuntabilitasdaninformasilebihlanjutadalahbagaimana pemerintah dan badan usaha mempertanggungjawabkan dampak mereka terhadap pembangunan berkelanjutan. Hanya sedikit badan usaha besar yang progresif yang mencoba mempertanggungjawabkan jejak kaki sosial dan lingkungan mereka. Panel ini mengusulkan agar, di masa depan – setidaknya sebelum 2030 – semua badan usaha besar harus melaporkan dampak lingkungan dan sosial mereka – atau menjelaskan mengapa mereka tidak melakukannya. Pemerintah juga harus mengadopsi Sistem Pertanggungjawaban Lingkungan-Ekonomi PBB, bersama dengan the Wealth Accounting and the Valuation of Ecosystem Services (WAVES) yang diperkenalkan oleh World Bank, dengan bantuan yang diberikan kepada mereka yang memerlukan bantuan untuk melakukannya. Metrik-metrik ini kemudian dapat digunakan untuk memantau strategi dan hasil pembangunan nasional dengan cara yang secara universal konsisten. Hal ini akan membantu pembangunan berkelanjutan berkembang, karena pertanggungjawaban baru dan lebih baik akan memberikan kepada pemerintah, dan badan usaha informasi yang jelas tentang kondisi mereka yang paling dasar (bottom line), membuat mereka mempertanggungjawabkan aksi-aksi mereka, dan memberikan kepada konsumen kesempatan untuk membuat pilihan berdasarkan ketersediaan informasi yang lengkap. Bekerjasama dengan Pihak Lain Banyak negara telah bersatu secara informal pada berbagai kesempatan untuk mendiskusikan apa yang dapat mereka lakukan untuk mencapai pembangunan yang lebih berkelanjutan. Forum-forum kerjasama global ini, seperti G7+, G20, BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan), Global Partnership for Effective Development Cooperation, dan forum-forum kawasan, memainkan peran penting. Tidak ada forum yang menangani seluruh agenda, namun masing- masing menangani bagian-bagian yang penting. Kelompok- kelompok ini mungkin bersifat informal, tetapi dapat sangat membantu dalam memberikan kepemimpinan politik dan usulan praktis untuk menopang agenda pasca-2015 dan menghidupkan semangat kemitraan global dalam forum mereka masing-masing. • G7+, misalnya, memberikan perhatian pada tantangan khusus yang dihadapi oleh negara-negara yang rentan dalam mendefinisikan rencana milik negara dan rencana yang dipimpin oleh negara untuk beralih dari konflik ke masyarakat negara berkembang yang damai dan berkelanjutan. • G20 bekerja menangani kemacetan global dalam hal ketahanan pangan dan energi, stabilitas dan inklusi keuangan, dan infrastruktur. • BRICS berupaya mengembangkan bank besar baru untuk pendanaan proyek-proyek infrastrktur berkelanjutan. • Global Partnership for Effective Development Cooperation yang dibentuk di Busan pada tahun 2011, berupaya membantu negara dan kelompok tematik membentuk kemitraan efektif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Platform-platform tingkat regional di Asia, Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah dan Eropa turut bekerjasama di bidang- bidang kepedulian khusus yang terkait dengan kawasan masing-masing dan membentuk pendekatan terpadu terhadap perdagangan, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, keuangan, infrastruktur dan isu lintas batas lainnya. Padamasing-masingkasus,foruminternasionalyangadatelah aktif mempromosikan aspek pembangunan berkelanjutan. Mereka, dan yang lainnya, dapat memberikan kontribusi penting bagi agenda pembangunan pasca-2015.
    • POST-2015 | 43 Membangun Konsensus Politik Perjanjian internasional tentang satu agenda universal untuk mensuksesikan MDGs merupakan hal yang vital, namun tidak terjamin. Tantangannya adalah dalam menyepakati tujuan- tujuan yang jelas, menarik, dan ambisius, melalui proses yang transparan dan inklusif di PBB. Dan melakukannya dalam jangka waktu tertentu yang memungkinkan lancarnya transisi dari MDGs menuju agenda pembangunan baru mulai Januari 2016. Keberhasilan akan mendorong upaya lebih lanjut untuk membantu ratusan juta rakyat paling miskin dan paling rentan di dunia serta upaya untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Lebih lanjut, Panel ini percaya bahwa kepercayaan dan keyakinan internasional terhadap kredibilitas PBB terancam jika target-target MDGs melewati waktunya tanpa perjanjian tentang apa yang akan menjadi penerus target-target ini. Beberapa tonggak bersejarah telah terlihat di jalan menuju tahun 2015. Satu sidang khusus oleh Ketua Majelis Umum MDGs direncanakan akan diadakan pada 25 September 2013. Ini memberikan kesempatan kepada PBB untuk menetapkan jalan yang jelas menuju perjanjian akhir tentang agenda pembangunan pasca-2015 dan kami mendorong negara- negara anggota untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Selama tahun 2014, Kelompok Kerja Terbuka, yang dibentuk di Rio+20, akan melapor kepada Majelis Umum PBB dengan memberikan rekomendasi tentang serangkaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Kelompok kerja PBB yang lain diharapkan akan segera mulai bekerja dalam hal pendanaan untuk pembangunan berkelanjutan. Dan Sekretaris Jenderal PBB kembali akan melapor kepada Majelis Umum tentang MDGs dan agenda pembangunan pasca-2015 selama tahun 2014. Panel percaya bahwa diskusi dan proses ini dapat berujung pada pertemuan tingkat tinggi di tahun 2015 bagi negara-negara anggota untuk menyepakati tujuan baru dan menggalang aksi global agar agenda baru dapat terwujud mulai Januari 2016. Panel ini menyerukan keterlibatan konstruktif dan tanpa henti dari negara-negara anggota PBB dan kelompok afiliasinya, seperti G77 dan kelompok negara lainnya, untuk mencapai perjanjian dalam jangka waktu tertentu yang memungkinkan lancarnya transisi dari MDGs menuju agenda pembangunan yang baru. Hanya negara-negara anggota PBB yang dapat mendefinisikan agenda pasca-2015. Namun, kami percaya bahwa partisipasi perwakilan masyarakat sipil dalam proses PBB akan memberikan sudut pandang yang penting bagi diskusi-diskusi ini dan membantu meningkatkan kesadaran dan ketertarikan masyarakat. Dan kami mengusulkan pengalaman sektor swasta dan wawasan pakar akademisi dari setiap kawasan untuk mendukung proses yang kuat dan memiliki kredibilitas. Proses yang transparan dan inklusif akan membantu membangun kondisi bagi perjanjian politik, tetapi proses yang transparan dan inklusif saja tidak cukup. Keberanian dan komitmen pribadi dari para pemimpin politik akan dibutuhkan untuk menyelaraskan banyak pandangan nasional, dan merangkul wawasan yang bermanfaat dari pihak lain. Kita harus mengembangkan kepercayaan melalui dialog, dan mempelajari tentang pencapaian konsensus dari proses multilateral lainnya. Akan ada keputusan sulit yang harus dibuat dan tidak semua orang akan mendapatkan semua yang mereka inginkan. Tetapi perjanjian global amatlah penting dan kami sangat percaya bahwa komunitas global dan negara-negara anggota PBB dapat dan akan memenuhi tantangan ini. Pada Millennium Summit tahun 2000, para pemimpin dunia memperbaharui komitmen mereka terhadap kondisi-kondisi ideal PBB, yang membuka jalan bagi MDGs. Arti penting dan nilai tujuan-tujuan global tersebut berkembang dengan stabil sejak Deklarasi Milenium disepakati secara universal. Para pemimpin di masa sekarang ini – baik dari pemerintah, dunia usaha ataupun masyarakat sipil – harus ambisius dan praktis menghadapi agenda pembangunan baru. Mereka harus merangkul pendekatan yang dinamis dan inovatif terhadap kemitraan, jika kita ingin memenuhi keinginan dan harapan umat manusia. XLII Hal ini mengulang rekomendasi yang dibuat oleh High-Level Panel on Global Sustainability (2012) XLIII Gabungan dari Asian Development Bank, UNESCAP dan UNDP, misalnya, laporan bersama belakangan ini tentang pencapaian MDG dan agenda pembangunan pasca-2015 di Asia Tenggara.
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 | 45 BAB 5: KATA-KATA PENUTUP Kami membayangkan dunia di tahun 2030 di mana kemiskinan ekstrem dan kelaparan telah berakhir. Kami membayangkan dunia di mana tidak seorangpun tertinggalkan, dan di mana sekolah, klinik, dan air bersih tersedia bagi semua orang. Ini adalah dunia di mana ada lapangan kerja bagi anak-anak muda, di mana bisnis berkembang, dan di mana kita berhasil membawa pola konsumsi dan produksi ke tingkat yang seimbang. Di mana setiap orang memiliki kesempatan yang setara dan hak suara tentang keputusan-keputusan pemerintah yang mempengaruhi kehidupan mereka. Kami membayangkan dunia di mana prinsip-prinsip kesetaraan, keberlanjutan, solidaritas, rasa hormat terhadap HAM dan tanggung jawab bersama sesuai dengan kemampuan masing-masing, bisa kita hidupi lewat aksi bersama. Kami membayangkan dunia di tahun 2030 di mana kemitraan global terbarukan, yang dibangun di atas pondasi yang kuat dari Deklarasi Milenium dan prinsip dan hasil Rio, telah mengubah dunia ini melalui agenda pembangunan yang universal, berfokus-pada-manusia (people-centred) dan peka-bumi (planet sensitive) yang dicapai melalui komitmen bersama dan akuntabilitas semua pihak. Kita memiliki kesempatan yang bersejarah untuk melakukan apa yang belum pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya: memberantas kemiskinan ekstrem pada tahun 2030 dan mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya. Tetapi kita tidak akan dapat melakukannya jika kita sekarang mengabaikan hal-hal penting lainnya dari agenda pembangunan berkelanjutan – keinginan untuk membangun kesejahteraan di semua negara, kebutuhan untuk memperlambat atau membalikkan degradasi lingkungan dan kontribusi manusia terhadap pemanasan global, kebutuhan mendesak untuk mengakhiri konflik dan kekerasan seraya membangun kelembagaan publik yang efektif dan akuntabel bagi semua pihak. Menangani isu sosial, ekonomi dan lingkungan ini sekaligus, sambil mendaya-gunakan energi dan sumber daya setiap orang yang berkepentingan dengan pembangunan –pemerintah di semua tingkat, organisasi internasional, masyarakat sipil, dunia usaha, yayasan, akademisi dan masyarakat dari semua lapisan— merupakan tantangan tunggal kami. Kami mengakui bahwa dunia telah berubah sangat signifikan sejak Deklarasi Milenium di tahun 2000, dan menyadari seberapa besar perubahannya pada tahun 2030. Akan ada lebih banyak kelas menengah, dan lebih banyak pensiunan. Orang akan lebih saling terhubung, dengan menggunakan teknologi komunikasi modern, tetapi mungkin lebih tidak pasti tentang bagaimana keadaan di masa depan. Kami yakin bahwa 15 tahun mendatang dapat menjadi 15 tahun yang paling transformatif dalam sejarah umat manusia dan bahwa dunia ini memiliki alat dan sumber daya yang dibutuhkannya untuk mencapai visi yang berani dan ambisius. Kami membayangkan sebuah kemitraan global yang baru sebagai kerangka dasar untuk satu agenda pasca-2015 yang universal yang akan mewujudkan visi ini demi kebaikan umat manusia. Kita punya pilihan: bersusah payah mengatasinya seperti yang kita lakukan selama ini, mencapai kemajuan di beberapa aspek tetapi mengalami kemunduran di aspek lain. Atau kita dapat memberanikan diri dan memasang target yang lebih tinggi, di mana akhir dari banyak aspek kemiskinan menjadi harapan di semua negara dan di mana kita telah mentransformasikan ekonomi dan masyarakat kita untuk menggabungkan kemajuan sosial, pertumbuhan yang berkeadilan dan pengelolaan lingkungan. Tujuan dan target ilustratif yang dilampirkan dalam laporan ini ditawarkan sebagai dasar untuk diskusi lebih lanjut. Kami tida k mempunyai semua jawaban bagaimana mencapai tujuan-tujuan ini, tetapi harapan sungguh-sungguh kami adalah bahwa bersama-sama kita dapat memberikan inspirasi bagi generasi yang baru untuk bertindak demi kepentingan bersama.
    • halaman ini sengaja dikosongkan
    • POST-2015 | 47 LAMPIRAN I: TUJUAN DAN TARGET ILUSTRATIF Dunia ini mendapatkan kesempatan bersejarah. Bukan hanya untuk mengakhiri kemiskinan – melainkan juga untuk mengatasi tantangan-tantangan terhadap masyarakat dan bumi agar kita dapat mengakhiri kemiskinan ekstrem dalam segala bentuknya secara tuntas dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Tujuan akhirnya jelas: dunia di tahun 2030 yang lebih setara, lebih sejahtera, lebih damai, dan lebih adil. Dunia di mana pembangunanberkelanjutan.Mewujudkanvisiiniharusmenjadiupayauniversal.Banyakyangharusdilakukan,tetapimengakhiri kemiskinan ekstrem – dan menciptakan kesejahteraan abadi – berada dalam jangkauan kita. Kita tidak perlu menunggu yang lainnya bertindak untuk mulai bergerak. Kita dapat, masing-masing kita, mulai mengambil langkah menuju tahun 2030 yang lebih sejahtera dan berkelanjutan. Caranya adalah: Berkomitmen. Berkomitmen untuk merubah cara kita berpikir dan cara kita bertindak. Dalam kemitraan global baru, masing- masing kita memiliki peran dan tanggung jawab. Menyusun Prioritas. Kami percaya lima pergeseran transformatif dapat menciptakan kondisi – dan membangun momentum – untuk memenuhi ambisi kita. • Tidak meninggalkan siapapun. Kita harus memastikan bahwa tidak seorangpun – terlepas dari etnis, jenis kelamin, wilayah geografi, kecacatan, ras atau status lainnya – ditolak kesempatan ekonomi dan HAM dasarnya. • Menempatkan Pembangunan Berkelanjutan sebagai Inti. Kita harus membuat pergeseran cepat menuju pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan, dengan negara-negara maju sebagai pemimpinnya. Kita harus bertindak sekarang untuk memperlambat laju perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang mengkhawatirkan, yang memberikan ancaman terhadap umat manusia. • Mentransformasikan Ekonomi untuk Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Inklusif. Transformasi ekonomi besar dapat mengakhiri kemiskinan ekstrem dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan, meningkatkan mata pencaharian, dengan memanfaatkan inovasi, teknologi, dan potensi badan usaha. Perekonomian yang lebih beragam, dengan kesempatan setara bagi semua pihak, dapat mendorong inklusi sosial, terutama bagi anak muda, dan mengembangkan rasa hormat terhadap lingkungan. • Membangun Perdamaian dan Kelembagaan Publik yang Efektif, Terbuka dan Akuntabel bagi Semua Pihak. Kebebasan dari kekerasan, konflik, dan penindasan sangat penting bagi keberadaan umat manusia, dan pondasi untuk membangun masyarakat perdamaian dan kesejahteraan. Kami menyerukan adanya pergeseran mendasar – untuk mengakui perdamaian dan pemerintahan yang baik sebagai unsur inti kesejahteraan, bukan sebagai opsi ekstra. • Membina Kemitraan Global Baru. Semangat baru solidaritas, kerjasama, dan akuntabilitas bersama harus mendukung agenda pasca-2015. Kemitraan baru ini harus didasarkan pada rasa kemanusiaan, serta rasa saling menghormati dan manfaat bersama. Membuat Peta Jalan. Kami percaya bahwa kerangka tujuan yang mendorong transformasi berharga dalam memfokuskan upaya global, menggalang aksi dan sumber daya, dan mengembangkan urgensi global. Peta jalan dapat membantu dalam mengkristalisasi konsensus dan mendefinisikan norma-norma internasional. Peta jalan dapat memberikan seruan untuk kampanye global guna menggalang dukungan internasional, sebagaimana yang terjadi ketika MDGs.Tujuan merupakan langkah pertama yang krusial untuk mengarahkan kita, sebagai komunitas global, ke arah yang sama. Oleh karena itu, tujuan tidak boleh banyak jumlahnya, harus terfokus dan harus memiliki target kuantitatif. Di sini, kami memasukkan contoh tentang seperti apa bentuk serangkaian tujuan. Selama satu setengah tahun ke depan, kami harap tujuan akan diperdebatkan, didiskusikan, dan disempurnakan. Tetapi setiap perjalanan harus dimulai di suatu tempat.
    • 48 | LAMPIRAN I: TUJUAN DAN TARGET ILUSTRATIF Panel ini merekomendasikan agar semua tujuan ini bersifat universal, dalam pengertian tujuan-tujuan ini mempresentasikan aspirasi bersama semua negara. Hampir semua target harus ditetapkan di tingkat nasional atau bahkan daerah, untuk memperhitungkan berbagai titik awal dan konteks (misalnya 8a. Menaikkan jumlah lapangan kerja dan mata pencaharian yang baik dan layak sebanyak x). Beberapa target bersifat global, menetapkan standar umum dan terukur yang akan dipantau di semua negara (misalnya 7a. Melipatgandakan bagian energi terbarukan dalam bauran energi dunia). Beberapa target akan memerlukan kerja teknis lebih lanjut untuk menyepakati indikator-indikator kuat yang terukur (misalnya 11d. tentang faktor eksternal yang memberikan tekanan). Dan beberapa target dapat merepresentasikan standar minim global jika target angka umum dapat disepakati di tingkat internasional (misalnya 4c. jika standar global untuk angka kematian ibu ditetapkan sebanyak 40 per 100.000). Untuk memastikan kesetaraan kesempatam, indikator-indikator terkait harus terpilah sehubungan dengan pendapatan (terutama untuk 20% terbawah), jenis kelamin, usia, orang-orang cacat, dan kelompok sosial terkait. Target akan dianggap‘tercapai’hanya jika ia tercapai untuk semua kelompok pendapatan dan sosial terkait. TUJUAN UNIVERSAL, TARGET NASIONAL 1 Akan menjadi standar global minimum, termasuk tujuan‘nol (zero)’. 2 Indikator perlu dipilah. 3 Target memerlukan kerja teknis lebih lanjut untuk menemukan indikator-indikator yang sesuai. 1. Mengakhiri Kemiskinan 1a. Menurunkan jumlah orang yang hidup kurang dari $1,25 per hari ke angka nol dan mengurangi sebanyak x% orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional negara mereka di tahun 2015 1, 2 1b. Menaikkan sebanyak x% perempuan dan laki-laki, masyarakat, dan dunia usaha dengan menjamin hak atas lahan, properti, dan aset lainnya 2, 3 1c. Melindungi sebanyak x% orang yang miskin dan rentan dengan sistem perlindungan sosial 2, 3 1d. Membangun daya tahan dan menurunkan angka kematian akibat bencana alam sebanyak x% 2 2. Memberdayakan Perempuan dan Anak Perempuan serta Mencapai Kesetaraan Gender 2a. Mencegah dan mengeliminasi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan 1, 2, 3 2b. Mengakhiri pernikahan anak-anak 1, 2 2c. Menjamin hak setara perempuan untuk memiliki dan mewarisi properti, menandatangani kontrak, mendaftarkan usaha dan membuka rekening bank 1, 2 2d. Mengeliminasi diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan publik 1, 2, 3 3. Menyediakan Pendidikan yang Berkualitas dan Pembelajaran Seumur Hidup 3a. Menaikkan sebanyak x% proporsi anak-anak yang dapat mengakses dan menyelesaikan pendidikan pra dasar 2 3b. Memastikan setiap anak, apapun situasinya, menyelesaikan pendidikan dasar mampu membaca, menulis dan berhitung cukup baik untuk memenuhi standar pembelajaran minimum 1, 2 3c. Memastikan setiap anak, apapu situasinya, memiliki akses terhadap pendidikan menengah dan menaikkan proporsi remaja yang mencapai hasil pembelajaran yang diakui dan terukur hingga x% 1, 2 3d. Menaikkan jumlah anak muda serta perempuan dan laki-laki dewasa yang memiliki keahlian, termasuk keahlian teknis dan keahlian kejuruan, yang dibutuhkan di dunia kerja sebanyak x% 2, 3
    • POST-2015 | 49 4. Menjamin Kehidupan yang Sehat 4a. Mengakhiri kematian bayi dan balita yang sebenarnya dapat dicegah 1, 2 4b. Menaikkan sebanyak x% anak, remaja, usia dewasa yang berisiko dan orang-orang yang berusia lanjut, untuk sepenuhnya divaksinasi 1, 2 4c. Menurunkan rasio angka kematian ibu menjadi tidak lebih dari x per 100.000 kelahiran hidup 1, 2 4d. Menjamin secara universal, hak kesehatan seksual dan reproduksi 1, 2 4e. Mengurangi beban penyakit dari HIV/AIDS, Tuberkulosis, malaria, penyakit tropis terabaikan dan penyakit-penyakit tidak menular yang menjadi prioritas. 2 5. Memastikan Ketahanan Pangan dan Gizi yang Baik 5a. Mengakhiri kelaparan dan melindungi hak semua orang untuk memiliki akses terhadap makanan dalam jumlah yang cukup, yang aman, terjangkau harganya, dan bergizi 1, 2 5b. Mengurangi stunting (tubuh pendek karena kurang gizi) sebanyak x%, wasting (tubuh kurus karena kurang gizi) sebanyak y%, dan anemia sebanyak z% bagi semua anak balita 1, 2 5c. Meningkatkan produktivitas pertanian sebanyak x%, yang berfokus pada meningkatkan secara berkelanjutan hasil pertanian kecil dan akses terhadap irigasi 3 5d. Mengadopsi praktik-praktik pertanian, perikanan laut dan perikanan air tawar yang berkelanjutan dan membangun kembali ketersediaan ikan-ikan tertentu hingga ke tingkat yang berkelanjutan 1 5e. Mengurangi kerugian pasca panen dan makanan yang terbuang sebanyak x% 3 6. Mencapai Akses Universal ke Air dan Sanitasi 6a. Menyediakan akses universal terhadap air minum yang aman di rumah, dan di sekolah, puskesmas, dan kamp pengungsi 1, 2 6b. Mengakhiri buang air besar di tempat terbuka dan memastikan akses universal ke sanitasi di sekolah dan di tempat kerja, dan meningkatkan akses terhadap sanitasi di rumah sebanyak x% 1, 2 6c. Menyesuaikan kuantitas air bersih yang diambil (freshwater withdrawals) dengan pasokan air, serta meningkatkan efisiensi air dalam pertanian sebanyak x%, industri sebanyak y% dan daerah-daerah perkotaan sebanyak z% 6d. Mendaur ulang atau mengolah semua limbah cair dari daerah perkotaan dan dari industri sebelum dilepaskan 1, 3 7. Menjamin Energi yang Berkelanjutan 7a. Melipatgandakan bagian energi terbarukan dalam bauran energi dunia 7b. Memastikan akses universal terhadap pelayanan energi modern 1, 2 7c. Melipatgandakan laju peningkatan efisiensi energi di bangunan, dalam industri, pertanian dan transportasi di tingkat global 7d. Menghentikan secara bertahap subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien yang mendorong konsumsi berlebihan 1,3 8. Menciptakan Lapangan Kerja, Mata Pencaharian Berkelanjutan, dan Pertumbuhan Berkeadilan 8a. Menaikkan jumlah lapangan pekerjaan dan mata pencaharian yang baik dan layak sebanyak x 2 8b. Mengurangi jumlah kaum muda yang tidak bersekolah, menganggur atau tidak mengikuti pelatihan sebanyak x% 2 8c. Memperkuat kapasitas produksi dengan memberikan akses universal terhadap pelayanan keuangan dan infrastruktur seperti transportasi dan ICT 1, 2, 3 8d. Menaikkan jumlah usaha baru yang dibuka sebanyak x dan nilai tambah dari produk-produk baru sebanyak y dengan menciptakan lingkungan usaha yang mendukung dan mendorong kewirausahaan 2, 3
    • 50 | LAMPIRAN I: TUJUAN DAN TARGET ILUSTRATIF 9. Mengelola Aset Sumber Daya Alam secara Berkelanjutan 9a. Mempublikasikan dan menggunakan neraca ekonomi, sosial dan lingkungan milik pemerintah dan perusahaan besar 1 9b. Meningkatkan pertimbangan keberlanjutan di x% pengadaan yang dilakukan oleh pemerintah 3 9c. Menjaga ekosistem, keragaman spesies dan genetik 9d. Mengurangi deforestasi sebanyak x% dan meningkatkan reforestasi sebanyak y% 9e. Meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi erosi tanah sebanyak x ton dan memerangi penggurunan 10. Memastikan Tata Kelola yang Baik dan Kelembagaan yang Efektif 10a. Memberikan identitas hukum bebas biaya dan universal, seperti akta kelahiran 1,2 10b. Memastikan masyarakat menikmati kebebabasan berbicara, berasosiasi, melakukan protes damai dan akses terhadap media dan informasi independen 1, 3 10c. Meningkatkan partisipasi publik dalam proses politik dan keterlibatan warga di semua tingkat 2,3 10d. Menjamin hak masyarakat atas informasi dan akses terhadap data pemerintah 1 10e. Mengurangi suap dan korupsi dan memastikan pejabat dapat diminta pertanggungjawabannya 3 11. Memastikan Masyarakat yang Stabil dan Damai 11a. Menurunkan angka kematian akibat kekerasan per 100.000 sebanyak x dan mengaliminasi segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak 1, 2, 3 11b. Memastikan lembaga peradilan dapat diakses, independen, memiliki sumber daya yang baik dan menghormati hak atas proses hukum 1, 2, 3 11c. Membendung faktor eksternal yang mengakibatkan konflik, termasuk faktor- faktor yang terkait dengan kejahatan terorganisir 3 11d. Meningkatkan kapasitas, perofesionalitas dan akuntabilitas angkatan-angkatan keamanan, kepolisian dan badan peradilan 3 12. Menciptakan Sebuah Lingkungan Pemungkin Global dan Mendorong Pembiayaan Jangka Panjang 12a. Mendukung sistem perdagangan yang terbuka, adil dan ramah pembangunan, secara substansial mengurangi aturan-aturan perdagangan yang merusak, termasuk subsidi pertanian, sembari meningkatkan akses pasar produk-produk negara berkembang 3 12b. Melaksanakan reformasi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan dunia dan mendorong investasi swasta asing jangka panjang 3 12c. Menahan kenaikan rata-rata suhu global di bawah 2⁰ C di atas tingkat pra industri, sesuai dengan perjanjian-perjanjian internasional 12d. Negara-negara maju yang belum membuat upaya konkret menuju target 0,7% produk nasional bruto (PDB) sebagai bantuan pembangunan resmi bagi negara- negara berkembang dan 0,15 hingga 0,20% PDB negara maju sampai negara-negara yang paling terbelakang; negara-negara lainnya harus bergerak menuju target sukarela untuk bantuan keuangan pelengkap 12e Mengurangi aliran ilegal dan penghindaran pajak serta meningkatkan pengembalian aset curian sebesar $x 3 12f. Mempromosikan kolaborasi dan akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan data pembangunan 3
    • POST-2015 | 51 MENGAKHIRI KEMISKINAN1 Setiap hari, kemiskinan mengharuskan 1 dari 7 orang di bumi ini berjuang untuk bertahan hidup. Banyak di antara mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem terabaikan, tersingkirkan dari kesempatan, kadangkala selama beberapa generasi. Saat ini, 1,2 miliar orang mengalami kesulitan karena hidup dengan kurang dari $1,25, atau yang setara, per orang per hari. Ini berarti mereka hanya dapat membeli jumlah barang dan jasa yang sama dengan nilai barang yang dapat dibeli dengan $1,25 di Amerika Serikat. Bagi lebih dari satu miliar orang, hanya $1,25 per hari yang tersedia untuk makanan dan pakaian, kesehatan dan pendidikan, untuk membangun masa depan. Kita dapat menjadi generasi pertama yang memberantas kemiskinan ekstrem ini. Ini adalah standar minimum global yang harus berlaku bagi siapapun, terlepas dari jenis kelamin, lokasi, kecacatan atau kelompok sosial. Jika kita terus berada pada kecenderungan pertumbuhan saat ini, sekitar 5% masyarakat akan berada dalam kemiskinan ekstrem menjelang tahun 2030, dibandingkan dengan 43,1% di tahun 1990 dan perkiraan 16,1% di tahun 2015. Dengan pertumbuhan yang sedikit lebih cepat dan perhatian untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang terlupakan, kita dapat secara tuntas memberantas kemiskinan ekstrem. Kemiskinan, tentunya, bukan hanya tentang pendapatan. Orang-orang yang hidup dalam kemiskinan di negara manapun selalu berada dalam situasi yang tidak pasti, sangat rawan untuk jatuh sakit, kehilangan pekerjaan, sangat rentan terhadap pengusiran paksa, perubahan iklim atau bencana alam. Penghasilan mereka berubah-ubah tiap hari, tiap musim dan tiap tahun. Ketika goncangan melanda, ini merupakan bencana bagi mereka. Sejak tahun 2000, kematian yang terkait dengan bahaya alam telah melebihi 1,1 juta orang dan lebih dari 2,7 miliar orang telah menjadi korban. Rakyat miskin sering tidak memiliki sumber daya atau dukungan untuk pulih. Para pemimpin dunia telah bersepakat bahwa “kemiskinan memiliki berbagai wujud, termasuk kurangnya penghasilan dan sumber daya produktif yang cukup untuk memastikan mata pencaharian yang berkelanjutan, kelaparan dan gizi buruk, kesehatan yang buruk, terbatasnya atau tidak tersedianya akses terhadap pendidikan dan pelayanan dasar lainnya, meningkatnya angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit, tidak memiliki tempat tinggal dan perumahan yang memadai, lingkungan yang tidak aman, dan diskriminasi dan pengucilan sosial. Kemiskinan juga ditandai dengan kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan sipil, sosial, dan budaya.2 Agenda pasca-2015 harus menangani semua aspek kemiskinan ini dan menghadapi ketimpangan untuk memastikan tidak seorangpun tertinggalkan. Rakyat menginginkan kesempatan untuk mengangkat diri mereka dari kemiskinan dan mereka menginginkan kesejahteraan. Kami 1 Berdasarkan data PovcalNet World Bank dari tahun 2010 (http://iresearch.worldbank.org/PovcalNet/index. htm?1). Angka-angka ini dapat sangat berubah ketika angka paritas daya beli terbaru dikeluarkan tahun ini. 2 WSSD (1995): http://www.un.org/documents/ga/conf166/aconf166-9.htm. Paragraph 193. WSSD (1995): http:// www.un.org/documents/ga/conf166/aconf166-9.htm. Paragraph 19 LAMPIRAN II: BUKTI DAMPAK: PENJELASAN TUJUAN ILUSTRATIF TUJUAN 1 a) Menurunkan jumlah orang yang hidup dengan kurang dari $1,25 per hari ke angka nol dan mengurangi sebanyak x% orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional negara mereka di tahun 2015 b) Menaikkan sebanyak x% perempuan dan laki-laki, masyarakat, dan dunia usaha dengan menjamin hak atas lahan, properti, dan aset lainnya c) Melindungi sebanyak x% orang yang miskin dan rentan dengan sistem perlindungan sosial d) Membangun daya tahan dan menurunkan angka kematian akibat bencana alam sebanyak x%
    • 52 | LAMPIRAN II: BUKTI DAMPAK DAN PENJELASAN TUJUAN ILUSTRATIF mempertimbangkan untuk mengusulkan target yang lebih tinggi – mungkin $2 per hari – untuk mencerminkan bahwa keluar dari kemiskinan ekstrem merupakan awal. Namun, kami mencatat bahwa tiap negara, dan lokasi dalam negara, seringkali memiliki ambang batas mereka sendiri untuk apa yang dimaksud dengan kemiskinan. Banyak yang menetapkan garis kemiskinan jauh di atas $1,25 atau $2 per hari. Harapan dan keinginan kami adalah agar tiap negara terus menaikkan batas standar hidup yang mereka anggap setidaknya dapat diterima bagi warga mereka dan menaikkan garis kemiskinan dari waktu ke waktu, dan agar garis kemiskinan dunia juga akan naik menjadi setidaknya $2 menjelang tahun 2030. Itulah mengapa kami memasukkan target mengurangi bagian orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan nasional serta kemiskinan ekstrem. Rakyat dalam kemiskinan memerlukan alat-alat untuk mengatasi goncangan yang merugikan dan berpotensi merusak. Mereka memiliki kepentingan yang kuat dalam pengelolaan lingkungan mereka dengan baik karena mereka rata-rata mendapatkan lebih dari setengah pendapatan dari bertani di lahan marjinal, menangkap ikan di perairan pesisir dan menjelajahi hutan untuk makanan, tanaman obat-obatan, pakan ternak, bahan bangunan dan bahan bakar. Tidak ada seorangpun yang berada pada posisi lebih rentan daripada rakyat miskin terhadap penggurunan, deforestasi dan penangkapan ikan berlebih, atau kurang mampu mengatasi banjir, badai, dan kekeringan. Bencana alam dapat menarik mereka ke dalam siklus hutang dan penyakit, degradasi lahan, dan jatuh kepada kemiskinan yang lebih dalam. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, satu target berfokus pada kemampuan bertahan. Kemampuan bertahan berarti individu dipersiapkan untuk mampu menghadapi, dapat beradaptasi–ketika ada goncangan yang terkait dengan kesehatan, ekonomi atau iklim—dan mampu untuk pulih dengan cepat. Kemampuan bertahan memungkinkan orang untuk bergerak maju dari kemampuan bertahan hidup menuju komitmen investasi jangka panjang untuk masa depan mereka sendiri melalui pendidikan, kesehatan yang lebih baik, meningkatnya tabungan dan perlindungan bagi aset fisik mereka yang paling berharga seperti rumah, properti dan sumber mata pencaharian. Bagi masyarakat, hasil sekunder yang didapatkan adalah produktivitas ekonomi yang lebih besar. Rakyat lebih mungkin membuat investasi jangka panjang ketika mereka merasa properti mereka terjamin.3 Reformasi penguasaan lahan di Benggala Barat mengakibatkan kenaikan 20% produktivitas beras. Masyarakat adat dan masyarakat setempat seringkali memiliki hak tradisional atas lahan. Tetapi ketika individu atau masyarakat tidak memiliki hak properti yang sah mereka menghadapi risiko bahwa mereka akan dipaksa meninggalkan lahan mereka. Badan usaha juga akan melakukan investasi lebih sedikit dan kurang mampu berkontribusi bagi perekonomian. Kami mengetahui pentingnyahakatasproperti,tetapijugamenyadaritantangan dalam hal pengukuran. Kami mendesak dilakukannya kerja lebih lanjut untuk masalah ini. Program-program bantuan sosial merupakan faktor yang berpotensi untuk merubah dan dapat langsung meningkatkan kesetaraan. Program-program ini sangat berhasil dilaksanakan di Meksiko, Brazil dan negara-negara lainnya. Kita dapat menjadikan keberhasilan-keberhasilan ini sebagai landasan dan mengadopsinya lebih luas. Kita dapat berupaya meningkatan efektivitas program-program ini dengan memastikan koherensi yang lebih baik, mengurangi biaya operasional, dan keseluruhan biaya. Kita juga dapat menggunakan teknologi modern dan meningkatkan bukti- bukti tentang hal-hal yang dapat dilakukan dengan tepat sesuai kebutuhan.. Namun, program-program bantuan sosial yang sangat beragam dengan kualitas dan insentif-insentif yang tidak tepat dapat mengemuka jika fokus diberikan hanya pada akses. Kami belum mengetahui cara untuk mengukur seluruh aspek kualitas, namun kami mendorong para pakar untuk memikirkan standar-standar yang sesuai. Target-target yang berada di bawah tujuan-tujuan lainnya, menangani dimensi kemiskinan yang tidak berhubungan dengan pendapatan: kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, air, sanitasi, listrik dan infrastruktur lain; kebebasan dasar seperti pendaftaran hukum, kebebasan dari rasa takut dan kekerasan, perdamaian, serta kebebasan untuk mengakses informasi dan berpartisipasi dalam kehidupan bernegara. 3 Jaminan penguasahaan lahan awalnya dimasukkan dalam MDG, tetapi kurangnya data yang sebanding di tingkat global saat itu mengakibatkan tujuan ini diganti; sejak saat itu, UN Habitat dan mitra telah membuat kemajuan dalam mengembangkan metodologi yang konsisten di seluruh negara dan kawasan. Lihat MDG Report (2012), hal. 57. Menjamin penguasaan lahan didefinisikan oleh UN Habitat sebagai“dokumentasi yang dapat digunakan sebagai bukti status penguasaan lahan; atau ketika ada perlindungan baik de fakto ataupun yang dirasakan terhadap pengusiran paksa.”
    • POST-2015 | 53 Jumlah Negara Berkembang dengan Cakupan Perlindungan Sosial
    • POST-2015 | 54 MEMBERDAYAKAN PEREMPUAN DAN ANAK PEREMPUAN SERTA MENCAPAI KESETARAAN GENDER Terlalu banyak perempuan terus menghadapi penindasan dan diskriminasi yang tertanam dalam. Hal ini mempengaruhi apapun mulai dari akses terhadap kesehatan dan pendidikan hingga hak untuk memiliki lahan dan mendapatkan penghidupan, penghasilan yang setara dan akses terhadap pelayanan keuangan, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di tingkat daerah dan nasional, dan kebebasan dari kekerasan. Kesetaraan gender dimasukkan ke dalam semua tujuan ilustratif kami secara integratif, namun demikian pemberdayaan perempuan dan anak perempuan serta kesetaraan gender merupakan isu penting tersendiri. Setengah dari penduduk dunia ini adalah perempuan - dan agenda yang berfokus pada rakyat harus berupaya mewujudkan kesetaraan hak dan partisipasi mereka secara menyeluruh. Kekerasan gender sulit dihilangkan dan tersebar luas. Kekerasan ini mengambil banyak bentuk: perkosaan, KDRT, serangan dengan air asam, apa yang disebut pembunuhan “demi nama baik”. Isu ini melintasi batas-batas usia, ras, budaya, kekayaan dan wilayah geografi. Kekerasan terjadi di rumah, di jalan, di sekolah, di tempat kerja, di lahan pertanian, di kamp pengungsi, selama konflik dan krisis. Target pertama kami dalam mencegah dan menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, bersifat universal.Tetapi pengukurannya kompleks. Pada saat perempuan merasa lebih diberdayakan dan percaya bahwa keadilan pasti didapatkan, laporan insiden-insiden kekerasan mungkin naik. Pernikahan anak-anak merupakan isu global yang melintasi, tetapi peka terhadap, budaya, agama, etnis dan negara. Ketika anak-anak menikah, mereka harus menghentikan pendidikan mereka, risiko angka kematian ibu menjadi lebih tinggi dan mereka akan terjebak dalam kemiskinan. Selama satu dekade terakhir, 15 juta anak perempuan berusia 10-14 tahun telah menikah.1 Perempuan harus dapat hidup dengan aman dan menikmati hak dasar mereka sebagai manusia. Ini merupakan langkah pertama dan sangat mendasar. Namun kita harus berupaya lebih jauh. Perempuan di seluruh belahan dunia berupaya mengatasi banyaknya faktor yang menghambat mereka dalam merealisasikan potensi. Kita harus menghancurkan hambatan-hambatan ini. Perempuan dengan kesetaraan hak, merupakan aset yang tidak tergantikan bagi setiap masyarakat dan perekonomian. Kami tahu bahwa kesetaraan gender mentransformasi bukan hanya rumah tangga melainkan juga masyarakat. Ketika perempuan dapat memutuskan bagaimana mereka membelanjakan uang rumah tangga mereka, mereka cenderung akan berinvestasi lebih untuk anak-anak mereka.2 Seorang perempuan dengan masa pendidikan lebih lama, mempunyai kemungkinan lebih besar untuk membuat keputusan tentang imunisasi dan gizi yang akan meningkatkan kesempatan hidup anaknya; bahkan, lebih banyak anak perempuan dan perempuan dengan masa pendidikan lebih lama antara tahun 1970 sampai tahun 2009 telah menyelamatkan 4,2 juta jiwa anak.3 ,4 Tidak ada masyarakat yang menjadi sejahtera tanpa kontribusi besar dari perempuan.5 Forum Ekonomi Dunia menemukan bahwa negara-negara dengan kesenjangan gender yang kecil adalah negara-negara yang memiliki peringkat tertinggi untuk “daya saing internasional” - dan studi-studi ekonomi mirko menyiratkan bahwa partisipasi ekonomi perempuan mendorong pertumbuhan pendapatan rumah tangga.6 TUJUAN 2 a) Mencegah dan mengeliminasi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan b) Mengakhiri pernikahan anak-anak c) Menjamin hak setara perempuan untuk memiliki dan mewarisi properti, menandatangani kontrak, mendaftarkan usaha dan membuka rekening bank d) Mengeliminasi diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan publik
    • POST-2015 | 55 Banyak kemajuan terjadi dalam menghasilkan kesetaraan gender yang lebih luas dalam akses terhadap kesehatan dan pendidikan. Momentum ini harus dipertahankan dengan memastikan bahwa target-target dalam bidang ini dipilah berdasarkan gender. Kemajuan yang jauh lebih sedikit terjadi dalam mempersempit kesenjangan sosial, ekonomi dan politik, sehingga fokus kami adalah pada kedua isu ini. Setengah dari angkatan kerja perempuan merupakan angkatan kerja yang rentan, tanpa jaminan pekerjaan dan tanpa perlindungan terhadap goncangan ekonomi. Perempuan lebih memiliki kemungkinan untuk menjadi tenaga kerja yang rentan dibandingkan dengan laki-laki di banyak tempat, dengan persentase dari 32 persen menjadi 85 persen di berbagai wilayah, dibandingkan dengan 55 persen menjadi 70 persen bagi laki-laki.7 Seringkali, perempuan menerima penghasilan lebih sedikit dibandingkan rekan mereka yang laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Kita harus berupaya memenuhi janji kesetaraan akses bagi perempuan ke, dan partisipasi penuh perempuan dalam, pengambilan keputusan, dan mengakhiri diskriminasi di semua aspek. Ini harus terjadi di pemerintahan, perusahaan dan dalam masyarakat sipil. Di negara-negara di mana kepentingan perempuan sangat terwakili, undang-undang disahkan untuk menjamin hak atas lahan, mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan meningkatkan pelayanan kesehatan dan pemberian kerja.8 Namun, saat ini perempuan menduduki kurang dari 20 persen kursi parlemen di seluruh dunia.9 Pesannya sederhana. Perempuan yang aman, sehat, terdidik, dan sepenuhnya diberdayakan untuk merealisasikan potensi mereka, akan mentransformasi keluarga mereka, komunitas mereka, perekonomian mereka dan masyarakat mereka. Kita harus mewujudkan kondisi agar mereka dapat melakukannya. tes) Jumlah Negara Berkembang dengan Cakupan Perlindungan Sosial Kesetaraan Gender yang Lebih Tinggi terkait dengan Pendapatan yang Lebih Tinggi9
    • 56 | LAMPIRAN II: BUKTI DAMPAK DAN PENJELASAN TUJUAN ILUSTRATIF 1 Who Speaks for Me? Ending Child Marriage (Washington DC; Population Reference Bureau 2011 2 Sumber: World Bank, 2012.“World Development Report. Gender Equality and Development.”Dari: http://econ.worldbank.org/WBSITE/ EXTERNAL/EXTDEC/EXTRESEARCH/ EXTWDRSEXTWDR2012/0,,contentMDK:22999750~menuPK:8154981~pagePK:64167689~piPK:64167673~theSitePK:7778063,00.html. Hal. 5 3 Penurunan angka kematian anak tahun 1970-1990 berarti bahwa tambahan 8,2 juta anak yang bertahan hidup. Kelangsungan hidup lebih dari setengah jumlah tambahan ini (4,2 juta) dapat dianggap dikarenakan semakin lamanya anak-anak perempuan bersekolah. 4 Gakidou, E, dkk. 2010.“Increased Educational Attainment and its Effect on Child Mortality in 175 Countries between 1970 and 2009: a Systematic Analysis.”The Lancet. 376(9745). Hal. 969 5 Dengan kemungkinan pengecualian beberapa prinsipalitas yang kaya sumber daya alam 6 Hausmann, R, L.Tyson,Y. Bekhouche & S. Zahidi (2012) The Global Gender Gap Report 2012. World Economic Forum: Geneva. 7 ILO, 2012.“Global Employment Trends: Preventing a deeper jobs crisis.”Dari: http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---dgreports/---dcomm/--- publ/documents/publicationwcms_171571.pdf. Hal. 11 8 UNWOMEN, 2012.“In pursuit of justice”Dari: http://progress.unwomen.org/pdfs/EN-Report-Progress.pdf 9 Berdasarkan dari UNDP Public Data Explorer
    • POST-2015 | 57 TUJUAN 3 a) Menaikkan x% proporsi anak-anak untuk mendapatkan akses dan menyelesaikan pendidikan pra dasar b) Memastikan setiap anak, apapun situasinya, menyelesaikan pendidikan dasar dengan mampu membaca, menulis dan berhitung cukup baik untuk memenuhi standar pembelajaran minimum c) Memastikan setiap anak, apapun situasinya, memiliki akses terhadap pendidikan menengah dan menaikkan proporsi remaja yang mencapai hasil pembelajaran yang diakui dan terukur hingga x% d) Menaikkan jumlah anak muda serta perempuan dan laki-laki dewasa yang memiliki keahlian, termasuk keahlian teknis dan keahlian kejuruan, yang dibutuhkan di dunia kerja sebanyak x% TUJUAN 3 MENYEDIAKAN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN PEMBELAJARAN SEUMUR HIDUP Pendidikan merupakan hak fundamental. Pendidikan adalah salah satu cara paling mendasar bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan. Pendidikan meningkatkan penghasilan seumur hidup serta seberapa besar seseorang dapat terlibat dalam dan berkontribusi bagi masyarakat. Pendidikan yang berkualitas memberikan dampak positif bagi kesehatan, dan menurunkan besaran jumlah anggota keluarga dan menurunkan tingkat kesuburan. Ketersediaan tenaga kerja dengan keahlian yang tepat merupakan salah satu penentu utama keberhasilan bagi tiap badan usaha - dan bagi birokrasi dan pelayanan publik yang berkapabilitas dan profesional. Berinvestasi dalam pendidikan memberikan banyak manfaat kepada individu dan masyarakat, secara sosial, lingkungan dan ekonomi. Tetapi untuk merealisasikan manfaat ini, anak-anak dan remaja harus memiliki akses terhadap pendidikan dan memanfaatkannya dengan belajar.1 Di seluruh belahan dunia, investasi dalam pendidikan memberikan manfaat bagi individu dan masyarakat. Sebuah studi yang dilakukan pada 98 negara menemukan bahwa tambahan tiap tahun pendidikan, dalam rata-rata mengakibatkan kenaikan penghasilan seumur hidup sebesar 10 persen - dampak yang sangat besar pada kesempatan dan mata pencaharian yang dimiliki seorang individu. Pada negara-negara yang baru keluar dari konflik, memberikan kesempatan kedua kepada anak-anak yang sebelumnya tidak dapat bersekolah merupakan cara untuk membangun kembali kapabilitas individual dan bergerak menuju pemulihan bangsa.2 Namun, di tingkat global, terjadi krisis pendidikan, pembelajaran dan keahlian. Sejumlah 60 juta anak usia SD dan 71 juta remaja tidak bersekolah. Bahkan di negara-negara di mana tingkat masuk sekolah tinggi, banyak siswa meninggalkan sekolah lebih awal. Rata-rata 14 persen anak muda di Uni Eropa mencapai tidak lebih dari tingkat pendidikan menengah pertama.3 Di antara 650 juta anak usia SD di dunia, 130 juta tidak mempelajari dasar-dasar membaca, menulis dan aritmatika.4 Sebuah studi yang baru saja dilakukan di 28 negara, menemukan bahwa lebih dari satu dari tiga siswa (23 juta anak SD) tidak mempunyai kemampuan membaca atau mengerjakan matematika dasar setelah bertahun-tahun bersekolah.5 Kami percaya memberikan target untuk hasil pembelajaran merupakan langkah penting, untuk memastikan setiap anak memenuhi standar minimum dunia setelah menyelesaikan pendidikan dasar. Untuk melakukannya, banyak negara mendapati bahwa pendidikan pra dasar, mempersiapkan anak-anak untuk belajar, juga dibutuhkan, sehingga kami menambahkan target tentang hal tersebut.6
    • 58 | LAMPIRAN II: BUKTI DAMPAK DAN PENJELASAN TUJUAN ILUSTRATIF Di seluruh dunia, kita mendekati tingkat partisipasi pendidikan dasar universal, walaupun 40 juta anak di negara- negara yang baru keluar dari konflik masih belum bersekolah. Di lebih dari 20 negara, setidaknya satu dari lima anak bahkan belum pernah ke sekolah.7 Di sana, hal-hal yang berkaitan dengan target MDG 2 yang masih belum terselesaikan, yaitu pendidikan dasar universal, terus menjadi prioritas. Kita perlu memastikan semua anak, dalam situasi apapun, dapat masuk dan menyelesaikan semua tingkat pendidikan dasar dan menengah pertama dan, di sebagian besar kasus, memenuhi standar pembelajaran minimum. Tentunya, pendidikan mencakup banyak hal lebih luas dari membaca-menulis dan menghitung. Walaupun target adalah tentang akses terhadap sekolah dan pelajaran, pendidikan sendiri memiliki target yang lebih luas. Sebagaimana yang ditetapkan dalam Konvensi Hak-hak Anak, pendidikan memungkinkan anak-anak untuk merealisasikan talenta dan potensi mereka secara utuh, memperoleh rasa hormat terhadap hak asasi manusia dan menyiapkan mereka untuk perannya kelak sebagai orang dewasa.7 Pendidikan juga harus mendorong pemikiran kreatif, kerja tim dan pemecahan masalah. Pendidikan juga dapat menuntun orang untuk belajar menghargai sumber daya alam, menyadari pentingnya konsumsi dan produksi berkelanjutan dan tentang perubahan iklim, dan memperoleh pemahaman tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Pendidikan membekali anak muda dengan keahlian untuk hidup, bekerja dan memperoleh mata pencaharian. Seringkali guru menjadi pembimbing sejak dini yang memberikan inspirasi kepada anak-anak untuk maju. Kualitas pendidikan di semua negara tergantung pada cukupnya jumlah guru yang termotivasi, terlatih dengan baik dan memiliki pengetahuan yang kuat untuk bidang mata pelajaran. Keadilan harus menjadi prinsip inti pendidikan. Perbedaan pendidikan masih terus ada antar negara dan di dalam negara. Di banyak negara di mana rata-rata tingkat masuk sekolah naik, terdapat kesenjangan yang sangat besar antara, misalnya, anak-anak perempuan pedesaan dari komunitas minoritas dan anak-anak laki-laki perkotaan dari kelompok mayoritas. Beberapa negara membuat capaian yang sangat besar dalam satu dekade terakhir dalam mengurangi perbedaan akibat cacat, karena etnis, bahasa, menjadi anggota minoritas agama dan karena terusir dari tempat tinggalnya.Ketika anak-anak melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, kesenjangan yang terjadi masih besar. Banyak anak yang menyelesaikan SD tidak melanjutkan ke sekolah menengah. Mereka seharusnya melanjutkan sekolah, dan kami telah memasukkan satu target untuk menangani hal ini. Keahlian yang dipelajari di sekolah juga harus membantu kaum muda mendapatkan pekerjaan. Beberapa keahlian merupakan keahlian non kognitif - bekerja dalam tim, kepemimpinan, pemecahan masalah. Beberapa keahlian lain berasal dari pelatihan teknis dan kejuruan. Di manapun keahlian ini diberikan, keahlian-keahlian ini merupakan komponen penting pertumbuhan inklusif dan berkeadilan. Keahlian-keahlian ini dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas pemerintah dan badan usaha, terutama di negara-negara yang rentan. Halangan dalam mendapatkan pendidikan, dan solusi yang paling efektif, akan berbeda-beda antara satu negara dengan negara lainnya. Tetapi komitmen untuk belajar tetap harus dipertahankan dengan teguh.
    • POST-2015 | 59 1 Brookings Institution (2013) Toward Universal Learning: What Every Child Should Learn. 2 Psacharopoulos, G., Patrinos, H. Returns to Investment in Education: A Further Update. Education Economics 12(2). 2004 3 EFA Global Monitoring Report (2012). Youth and skills: Putting education to work. (Hal. 21). 4 EFA Global Monitoring Report (2012). Youth and skills: Putting education to work. (Hal. 7). 5 Africa Learning Barometer http://www.brookings.edu/research/opinions/2013/01/16-africa-learning-watkins. 6 U.S. Department of Health and Human Services, Administration for Children and Families (2010). Head Start Impact Study. Final Report. Washington, DC.esco.org/new/en/education/themes/leading-the-international-agenda/efareport/reports/2012-skills/ 7 UN General Assembly, Convention on the Rights of the Child, 20 November 1989, Perserikatan Bangsa-Bangsa Pendidikan Memberikan Manfaat Bagi Individu dan Masyarakat1
    • POST-2015 | 60 MENJAMIN KEHIDUPAN YANG SEHAT Kesehatan memungkin orang untuk mencapai potensi mereka. Anak-anak yang sehat dapat belajar dengan lebih baik. Mereka menjadi orang dewasa yang sehat. Orang dewasa yang sehat bekerja lebih lama dan lebih rutin, dengan penghasilan yang lebih tinggi dan upah yang lebih rutin. Walaupun fokus kami dalam tujuan ini berada pada keluaran-keluaran (outcomes) kesehatan, untuk mencapai keluaran-keluaran ini dibutuhkan akses universal terhadap pelayanan kesehatan dasar. Kita harus memulai dengan komitmen dasar untuk memastikan keadilan dalam semua bidang yang berkaitan dan berkontribusi bagi kesehatan (sosial, ekonomi dan lingkungan). Namun selain itu, kita harus membuat kemajuan yang stabil untuk memastikan Cakupan Kesehatan Universal dan akses terhadap pelayanan kesehatan esensial yang berkualitas. Ini berarti menjangkau lebih banyak orang, memperluas rentang pelayanan esensial terpadu yang tersedia bagi setiap orang, dan memastikan bahwa biaya pelayanan menjangkau semua orang. Negara pada semua tingkat pendapatan memiliki tugas untuk mencapai kondisi ideal ini. Panel ini memilih untuk berfokus pada keluaran-keluaran (outcomes) kesehatan dalam tujuan ini, yang mengakui bahwa untuk mencapai hasil ini diperlukan akses universal terhadap pelayanan kesehatan dasar. Hasil akhir kesehatan seringkali ditentukan oleh faktor-faktor sosial, ekonomi dan lingkungan. Diskriminasi menjadi hambatan terhadap pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan dan kurangnya perlindungan mengakibatkan banyak individu dan keluarga terkena penyakit mendadak dan mengalami dampak keuangan yang merugikan sebagai akibat dari penyakit mendadak ini. Berinvestasi lebih banyak pada kesehatan, terutama dalam promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, seperti vaksinasi, merupakan strategi yang cerdas untuk memberdayakan masyakarakat dan membangun masyarakat serta perekonomian yang lebih kuat. Setiap tahun, hampir 7 juta anak meninggal sebelum mereka berulang tahun yang kelima. Sebagian besar,kematianinidapatdicegahdenganmudah.Kamimenyadarisolusinyasederhanadanterjangkau: adanya tenaga profesional terlatih yang membantu persalinan; menjaga bayi agar tetap hangat dan memberikan air yang aman kepada mereka, makanan yang bergizi, sanitasi yang baik, dan vaksinasi dasar. Banyakanak yangmeninggal sebelum mereka mencapai ulangtahun mereka yangkelima,lahir dariibuyanghidupdalamkemiskinan,ataudikelompokmasyarakatpedesaan,atauyangmasihremaja atau yang rentan. Dengan mengakhiri kematian anak yang sebenarnya dapat dicegah ini, kami memiliki target ambang batas atas 20 kematian per 1000 kelahiran hidup di semua kuintil pendapatan penduduk. Perempuan terus meninggal sia-sia dalam proses persalinan. WorldHealthOrganization memperkirakan bahwa setiap 1,5 menit, seorang perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Kaum perempuan yang hidup dalam kemiskinan, di daerah-daerah pedesaaan, dan remaja terutama memiliki risiko ini. Akses yang tepat waktu ke fasilitas yang memiliki perlengkapan yang baik dan bidang atau dokter ahli yang membantu persalinan akan menurunkan risiko ini secara drastis. Akses universal terhadap hak kesehatan seksual dan reproduksi (SRHR) merupakan komponen masyarakat sehat yang esensial. Masih ada 222 juta perempuan di dunia yang ingin mencegah kehamilan namun TUJUAN 4 a) Mengakhiri kematian bayi dan balita yang sebenarnya dapat dicegah b) Menaikkan sebanyak x% anak, remaja, usia dewasa yang berisiko dan orang-orang yang berusia lanjut, untuk sepenuhnya divaksinasi c) Menurunkan rasio angka kematian ibu menjadi tidak lebih dari x per 100.000 kelahiran hidup d) Menjamin secara universal, hak kesehatan seksual dan reproduksi e) Mengurangi beban penyakit dari HIV/AIDS, Tuberkulosis, malaria, penyakit tropis terabaikan dan penyakit-penyakit tidak menular yang menjadi prioritas
    • POST-2015 | 61 tidak menggunakan metode kontrasepsi yang efektif dan modern. Hal ini mengakibatkan 80 juta kehamilan yang tidak terencana, 30 juta kelahiran yang tidak terencana dan 20 juta pengguguran kandungan yang tidak aman setiap tahun. Sekitar 340 juta orang per tahun tertular penyakit seksual. Tiap $1 yang dikeluarkan untuk kontrasepsi modern akan menghemat $1,40 yang biasanya dikeluarkan untuk pelayanan kesehatan ibu melahirkan dan bayi yang baru lahir. Tetapi akses universal terhadap hak kesehatan seksual dan reproduksi (SRHR), terutama oleh remaja, rendah. Kualitas pelayanan tersebut umumnya buruk. Kasus kesehatan masyarakat jelas - memastikan hak-hak ini memberikan manfaat bukan hanya kepada individu, melainkan kepada masyarakat yang lebih luas. Di negara-negara berpendapatan tinggi, meningkatnya biaya kesehatan merupakan ancaman besar terhadap stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Obesitas merupakan masalah yang semakin banyak terjadi. Ketika orang hidup lebih lama, mereka menghadapi kenaikan tingkatpenyakitkanker,jantung,rematik,diabeterdanpenyakit kronis lainnya. Rata-rata, orang kehilangan 10 tahun hidup mereka akibat penyakit, umumnya penyakit tidak menular. Masalah ini harus diatasi, tetapi prioritasnya akan berbeda- beda antara satu negara dengan negara lainnya. Manfaat investasi pada kesehatan bersifat langsung dan terlihat jelas, baik untuk intervensi khusus maupun untuk memperkuat sistem kesehatan lebih luas. Imunisasi menyelamatkan 2 hingga 3 juta jiwa setiap tahun.Kelambu merupakan cara yang dikenal baik dengan biaya terjangkau untuk menghadang malaria. Pendidikan yang menuntun rakyat untuk memahami dan menggunakan pelayanan kesehatan yang berkualitas merupakan pelengkap yang berguna. Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana keuntungan investasi pada kesehatan lmelebihi biayanya. Tiap $1 yang dikeluarkan menghasilkan hingga $30 melalui kesehatan yang lebih baik dan meningkatnya produktivitas. Solusi Kesehatan Terjangkau Harganya dan Tersedia WHO (2012). Fact sheet No. 290. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs290/en/ UNICEF/WHO (2012). Global Immunization Data. http://www.who.int/immunization_monitoring/ Global_Immunization_Data.pdf WHO (2012). Adolescent pregnancy. Fact sheet N°364. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/ fs364/en/ Child Survival Call to Action, http://apromiserenewed.org/files/APR_Progress_Report_2012_final_web3.pdf WHO (2013): http://www.who.int/features/qa/12/en/ Glasier, A. dkk. (2006). Sexual and reproductive health: a matter of life and death. The Lancet Vol. 368: 1595 - 160727. Singh, S., Darroch, J. (2012). Adding it up: Costs and benefits of contraceptive services. Estimates for 2012. Guttmacher Institute: hal.16 Singh, S., Darroch, J. (2012). Adding it up: Costs and benefits of contraceptive services. Estimates for 2012. Guttmacher Institute: hal.16 Salomon dkk. (2012). Healthy life expectancy for 187 countries, 1990–2010: a systematic analysis for the Global Burden Disease Study 2010. The Lancet Vol. 380: 2144–2162 UNICEF/WHO (2012). Global Immunization Data. http://www.who.int/immunization_monitoring/Global_Immunization_Data.pdf Jamison, D., Jha, P., Bloom, D. (2008). The Challenge of Diseases. Copenhagen Consensus 2008 Challenge Paper
    • POST-2015 | 62 TUJUAN 5 a) Mengakhiri kelaparan dan melindungi hak semua orang untuk memiliki akses terhadap makanan dalam jumlah yang cukup, yang aman, terjangkau harganya, dan bergizi b) Mengurangi stunting (tubuh pendek karena kurang gizi) sebanyak x%, wasting (tubuh kurus karena kurang gizi) sebanyak y%, dan anemia sebanyak z% bagi semua anak balita c) Meningkatkan produktivitas pertanian sebanyak x%, yang berfokus pada meningkatkan secara berkelanjutan hasil pertanian kecil dan akses terhadap irigasi d) Mengadopsi praktik-praktik pertanian, perikanan laut dan perikanan air tawar yang berkelanjutan dan membangun kembali ketersediaan ikan-ikan tertentu hingga ke tingkat yang berkelanjutan e) Mengurangi kerugian pasca panen dan makanan yang terbuang sebanyak x% MEMASTIKAN KETAHANAN PANGAN DAN GIZI YANG BAIK Makanan merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk semua makhluk hidup. Produksi bahan pangan membutuhkan energi, lahan, teknologi dan air. Ketahanan pangan tidak hanya memberikan makanan yang cukup dan bergizi bagi semua orang, namun juga akses terhadap makanan, pembuangan limbah pangan, dan perubahan ke arah pangan yang berkelanjutan dengan produksi dan konsumsi yang efisien. Dunia akan membutuhkan sekitar 50 persen lebih banyak makanan pada tahun 2030; untuk menghasilkan pangan yang cukup dan berkelanjutan merupakan tantangan global. Irigasi dan investasi lainnya pada pertanian dan pembangunan pedesaan dapat membantu jutaan petani kecil untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, menyediakan makanan yang bergizi dan cukup untuk pertumbuhan populasi, serta membangun jalan ke arah pertumbuhan masa depan yang berkelanjutan. Saatini,870juta orangdi dunia tidak memiliki cukup pangan.Perempuan yangkuranggizimelahirkan bayi yang kurus, yang mungkin tidak akan hidup pada usia kelima tahun mereka, dan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk menderita penyakit kronis, serta keterbatasan lainnya. 1000 hari pertama dalam kehidupan seorang anak sangat penting dalam memberikan kesempatan hidup yang sama bagi setiap anak; namun 165 juta anak memiliki pertumbuhan yang ‘terhambat’ atau memiliki postur tubuh yang ‘lebih kecil’ dari yang seharusnya untuk usia mereka, sementara yang lainnya menderita anemia. Kurang gizi akan menghambat pertumbuhan otak mereka secara optimal, yang pada akhirnya, akan membatasi kemampuan mereka untuk bertahan hidup. Kemiskinan merupakan penyebab utama kelaparan - kebanyakan orang lapar atau kekurangan gizi karena mereka tidak mampu membeli makanan bergizi dalam jumlah yang cukup, bukan karena kegagalan pasokan. Peningkatan dalam tingkat fluktuasi harga pangan telah menunjukkan kenaikan harga pangan yang tajam yang akhirnya dapat memperparah kemiskinan. Memproduksi lebih banyak bahan pangan merupakan hal yang sangat penting. Namun bukan hanya hal ini yang dapat memastikan ketahanan pangan dan gizi yang baik. Dinegaramaju,kurangnyapolamakanyangbergizipadaanakmeningkatkanrisikoobesitas,diabetes dan penyakit kardiovaskular. Di semua negara, gizi yang memadai di masa kecil akan meningkatkan kemampuan belajar serta perkembangan fisik, emosional dan kognitif sepanjang hidupnya. Hal ini akan mengangkat potensi individu, dan negara tempatnya berada. Program gizi anak telah terbukti sukses. Mengurangi gizi buruk, terutama pada anak-anak dalam kelompok usia termuda, adalah salah satu program intervensi dalam pembangunan dengan biaya paling terjangkau. Setiap $ 1 yang dikeluarkan untuk mengurangi kurang gizi dapat menghasilkan hingga $ 44,50 melalui peningkatan pendapatan di masa mendatang. Bergerak ke arah pertanian berkelanjutan skala besar, sementara meningkatkan produksi volume bahan pangan merupakan tantangan besar yang kita hadapi. Hal ini dapat dilakukan, akan tetapi memerlukan perubahan dramatis. Bidang pertanian telah terbengkalai selama bertahun-tahun.
    • POST-2015 | 63 Sedikit sekali kebijakan tersedia untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan di pedesaan. Terlalu sedikit investasi dilakukan untukpenelitian.Haliniberlakubahkanketikapermintaanatas barang dan jasa yang diproduksi di daerah pedesaan sedang tinggi, di antaranya makanan serta biofuel, jasa ekosistem dan penyerapan karbon. Di banyak tempat, produksi pangan naik tiga kali lipat pada abad ke-20, sebagian berkat varietas tanamanhasiltinggi.Tapidibanyaktempat,tanahtelahterkikis dan tidak lagi subur, sehingga menghambat produksi pangan, walaupun lahan tersebut memiliki potensi yang tinggi. Peningkatan pengelolaan lahan, pupuk, sistem irigasi yang lebih efisien dan tanaman diversifikasi dapat membalikkan degradasi lahan. Investasi, intervensi dan kebijakan khusus dapat memberikan hasil. Investasi pertanian mengurangi angka kemiskinan lebih dari investasi pada sektor lain. Di negara maju, penelitian pertanian memberikan hasil sebanyak 20 hingga 80 persen - investasi yang sangat baik dalam bidang ekonomi. Hasil yang lebih besar, intensifikasi pertanian berkelanjutan dan kerugian pasca panen yang menurun dapat membantu petani kecil untuk menghasilkan makanan yang cukup bagi keluarga mereka serta penghasilan mereka. Pada saat yang sama, berkurangnya jumlah makanan yang terbuang di negara maju dapat membantu mengurangi permintaan atas pangan. Dengan perubahan menuju konsumsi dan produksi pertanian yang berkelanjutan, kita dapat terus menyediakan makanan untuk generasi ini dan 8 miliar orang di planet ini pada tahun 2030. Kita tidak boleh melupakan lautan di dunia. Pengelolaan laut yang buruk dapat sangat merugikan bagi Negara Berkembang dengan Pulau-Pulau Kecil. Mengurangi air limbah di wilayah pesisir, seperti diuraikan dalam tujuan ilustratif tentang air dan sanitasi, akan membantu. Namun penangkapan ikan secara berlebihan merupakan masalah lain yang juga harus dihadapi, yang mengakibatkan menurunnya jumlah sumber protein penting bagi miliaran manusia. Tiga perempat dari stok ikan dunia dipanen lebih cepat daripada masa reproduksi ikan-ikan tersebut, dan sayangnya 8-25% dari tangkapan global harus dibuang. Degradasi dan limbah ini menciptakan siklus yang menghabiskan stok ikan yang diperlukan hingga tingkat yang tidak berkelanjutan. Tentunya hal ini akan merugikan sistem biota laut. Kita mampu dan harus memperbaiki penyalahgunaan ini, dengan pengelolaan ketersediaan stok ikan yang benar demi memberikan waktu yang cukup bagi ikan-ikan untuk tumbuh dan bereproduksi, yang akan menjamin sistem perikanan yang berkelanjutan. Saat ini, 30 persen ikan dari ikan yang dipanen merupakan ikan yang didapat dari penangkapan ikan yang berlebihan, sementara 12,7 persen memiliki kapasitas yang lebih besar dan dapat ditangkap sebelum mencapai batas alaminya. Produksi pangan berkelanjutan membutuhkan infrastruktur, akses terhadap pasar dan pendanaan, layanan penyuluhan pertanian untuk menyebarkan manfaat teknologi dan inovasi, pasar global yang lebih mudah diprediksi dan meningkatkan jaminan kepemilikan. Bersama-sama, kita dapat mengatasi kendala yang membatasi produktivitas pertanian. Rasio Biaya-Manfaat dari Investasi untuk Mengurangi Kurang Gizi (gambar) http://www.oxfam.org/sites/www.oxfam.org/files/who-will-feed-the-world-rr-260411-en.pdf FAO (2012). The state of food insecurity in the World UNICEF / WHO (2012). Information sheet. http://www.who.int/nutgrowthdb/jme_infosheet.pdf Hoddinott, J. dkk. (2012). Hunger and malnutrition. Copenhagen Consensus 2012 Challenge Paper Sanchez, Pedro. Tripling crop yields in tropical Africa. Nature Geoscience 3, 299 - 300 (2010). Alston, J. (2010). The benefits from agricultural research and development, innovation and productivity growth. OECD Food, Agriculture and Fisheries Papers. No. 31. OECD Publishing FAO: The State of the World Fisheries and Aquaculture 2012
    • POST-2015 | 64 TUJUAN 6 a) Menyediakan akses universal terhadap air minum yang aman di rumah, dan di sekolah, puskesmas, dan kamp pengungsi b) Mengakhiri buang air besar di tempat terbuka dan memastikan akses universal ke sanitasi di sekolah dan di tempat kerja, dan meningkatkan akses terhadap sanitasi di rumah sebanyak x% c) Menyesuaikan kuantitas air bersih yang diambil (freshwater withdrawals) dengan pasokan air, serta meningkatkan efisiensi air dalam pertanian sebanyak x%, industri sebanyak y% dan daerah-daerah perkotaan sebanyak z% d) Mendaur ulang atau mengolah semua limbah cair dari daerah perkotaan dan dari industri sebelum dilepaskan MENCAPAI AKSES UNIVERSAL TERHADAP AIR DAN SANITASI Akses terhadap air adalah hak dasar manusia. Air minum yang aman adalah kebutuhan setiap manusia. Antara tahun 1990 dan 2010, lebih dari 2 miliar manusia memiliki akses terhadap air minum, tetapi 780 juta orang masih belum memiliki akses tersebut.1 Sekitar dua miliar orang tidak memiliki akses yang stabil terhadap air bersih.2 Meningkatkan akses - serta kualitas air - sangat penting karena dunia menghadapi kelangkaan air. Pada tahun 2025, 1,8 miliar orang akan hidup di tempat-tempat yang diklasifikasikan sebagai daerah langka air.3 dan yang berisiko paling tinggi adalah rakyat miskin. Bahkan mereka yang saat ini memiliki akses terhadap air minum tidak memiliki jaminan terhadap akses lanjutan. Pertanian memerlukan 70 persen dari semua air tawar untuk irigasi dan mungkin membutuhkan lebih banyak lagi karena permintaan untuk produksi pangan intensif meningkat. Kenaikan permintaan dari peternakan yang menyebabkan tabel persediaan air menurun di beberapa daerah dan, pada saat yang sama, industri dan energi menuntut lebih banyak air seiring dengan bertumbuhnya ekonomi. Pengelolaan sumber daya air yang lebih baik dapat memastikan ketersediaan air untuk memenuhi permintaan. Distribusi air di kalangan industri, energi, pertanian, kota dan rumah tangga harus dikelola secara adil dan efisien, dengan memberikan perhatian pada perlindungan kualitas air minum. Untuk mencapai hal ini, kita perlu membangun praktik manajemen yang baik, regulasi yang bertanggung jawab dan harga yang tepat. Tujuan MDGs difokuskan pada peningkatan sumber penampungan air dan mengurangi jumlah waktu yang dibutuhkan, terutama bagi perempuan, untuk mengumpulkan air sebagai kebutuhan dasar keluarga. Kita harus bertindak sekarang untuk menjamin akses universal terhadap air minum yang aman di rumah dan di sekolah, puskesmas dan kamp pengungsi. Ini adalah standar minimum global yang harus diterapkan kepada semua orang -terlepas dari jumlah pendapatan, jenis kelamin, lokasi, usia atau pengelompokan lainnya. Investasi pada air minum yang aman melengkapi investasi pada sanitasi dan kebersihan. Air, sanitasi dan kebersihan bekerja bersama bagi kepentingan kesehatan, serta untuk mengurangi kesedihan dan waktu dan uang yang dihabiskan ketika anggota keluarga jatuh sakit dan harus dirawat. Ada beberapa bukti bahwa sanitasi pribadi yang memadai di sekolah memungkinkan perempuan yang sedang menstruasi untuk terus dapat hadir di sekolah dan belajar, dan mengurangi kemungkinan setiap anak jatuh sakit sehingga harus meninggalkan sekolah. Pertanian dan pariwisata juga mendapatkan manfaat ketika lingkungan fisik lebih bersih dan lebih higienis. Rata-rata, manfaat investasi dalam pengelolaan air, sanitasi, dan kebersihan berkisar dari $ 2 menjadi $ 3 per dolar yang diinvestasikan.4 Tujuan MDGs untuk meningkatkan akses terhadap sanitasi adalah salah satu tujuan yang kondisi pencapaiannya terjauh dari target yang ditetapkan. Sekitar 1,1 miliar manusia masih melakukan buang air besar di tempat-tempat terbuka sementara 1,4 miliar lainnya tidak memiliki toilet, septik
    • POST-2015 | 65 tank, dan sistem saluran pembuangan atau jenis sanitasi lain.5 Sanitasi yang buruk berkontribusi pada penyebaran diare kronis di banyak wilayah yang pendapatan masyarakatnya masih rendah. Setiap tahunnya 760.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal dunia akibat diare.6 Sementara mereka yang selamat dari diare seringkali tidak mempunyai kemampuan menyerap makanan bergizi, sehingga menghambat pertumbuhan fisik dan mental anak-anak tersebut. Membangun infrastruktur sanitasi dan pelayanan publik yang dapat dipergunakan oleh semua orang, termasuk yang berada dalam garis kemiskinan serta menjaga limbah manusia berada jauh dari lingkungan tempat tinggal, merupakan tantangan yang besar. Miliaran manusia di daerah-daerah perkotaan membuang limbah manusia di jamban, tetapi tidak memiliki tempat untuk membuang limbah tersebut ketika jamban atau septik tank mereka sudah penuh. Inovasi rancangan toilet, mengosongkan sumur tinja (pit), mengolah tinja dan mendaur ulang sampah dapat membantu pemerintah daerah mengatasi tantangan besar dalam menyediakan pelayanan sanitasi publik yang berkualitas –terutama di daerah perkotaan yang padat penduduk. Walaupun kami memiliki cita-cita global bagi semua orang untuk memiliki sanitasi yang baik di rumah mereka pada tahun 2030, kami tidak percaya kita dapat mencapai target global ini. Sehingga kita membuat target yang lebih sederhana, tetapi dapat dicapai. Seiring dengan tumbuhnya wilayah perkotaan di mana penduduknya mengkonsumsi dalam jumlah yang lebih banyak, pengelolaan limbah padat merupakan masalah yang semakin banyak terjadi. Air limbah tidak hanya mencemari lingkungan alam, tetapi juga lingkungan tempat hidup di sekitarnya, dan memiliki dampak besar yang merugikan pada penyebaran penyakit. Menetapkan atau memperkuat kebijakan - baik di tingkat nasional, subnasional dan tingkat lokal - untuk mendaur ulang atau menangani penampungan, pengolahan dan pelepasan air limbah dapat melindungi masyarakat dari kontaminan, dan ekosistem alam dari polusi yang berbahaya Rasio Manfaat – Biaya dari Intervensi ICT 1 UNICEF/ WHO (2012). Progress on drinking water and sanitation. 2012 update. 2 UNICEF/ WHO (2012). Progress on drinking water and sanitation. 2012 update. 3 UNDESA (2013). International decade for action‘Water for Life’2005-2015. http://www.un.org/waterforlifedecade/scarcity.shtml 4 Whittington, D. dkk. (2009). The Challenge of Improving Water and Sanitation Services in Less Developed Countries. Foundations and Trends in Microeconomics. Vol. 4, Nos. 6–7. hal. 469–609. http://ictph.org.in/downloads/professor-whittington/Whittington-et-al-Foundations-and- Trends-2009.pdf 5 UNICEF/ WHO (2012). Progress on drinking water and sanitation. 2012 update. 6 WHO (2013): http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/
    • POST-2015 | 66 TUJUAN 7 a) Melipatgandakan bagian energi terbarukan dalam bauran energi dunia b) Memastikan akses universal terhadap pelayanan energi modern c) Melipatgandakan laju peningkatan efisiensi energi di bangunan, dalam industri, pertanian dan transportasi di tingkat global d) Menghentikan secara bertahap subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien yang mendorong konsumsi berlebihan MENJAMIN ENERGI YANG BERKELANJUTAN Kontradiksi yang gamblang tentang ekonomi global modern tampak jelas di sektor energi. Kita membutuhkan energi yang dapat diandalkan untuk mengurangi kemiskinan dan mempertahankan kemakmuran, namun harus mendapatkannya dari sumber terbarukan untuk membatasi dampak pada lingkungan. Secara global, 1,3 miliar manusia tidak memiliki akses terhadap elektronik1 2,6 miliar orang masih membakar kayu, kotoran hewan, batu bara dan bahan bakar tradisional lain di dalam rumah mereka, yang mengakibatkan 1,5 juta kematian per tahun.2 Pada saat yang sama penggunaan energi yang luas, terutama di negara-negara berpendapatan tinggi, menciptakan polusi, memancarkan efek gas rumah kaca dan menghabiskan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Kelangkaan sumber daya energi akan tumbuh semakin besar. Antara sekarang hingga tahun 2030, perekonomian berpendapatan tinggi akan terus melakukan konsumsi dalam jumlah besar. Dan akan semakin besar dengan bergabungnya negara-negara yang yang berkembang pesat, yang akan mengkonsumsi lebih banyak energi. Dan pada tahun 2030, ketika penduduk planet ini mencapai angka 8 miliar, akan ada 2 miliar orang lagi yang akan menggunakan lebih banyak energi. Semua penggunaan energi ini akan menciptakan tekanan besar pada planet ini. Pada hakikatnya, secara alamiah pemerintah mengupayakan pertumbuhan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat mereka. Dalam mengupayakan energi berkelanjutan bagi semua orang, kita harus memastikan bahwa negara dapat terus tumbuh, namun menggunakan semua perangkat untuk mendorong pertumbuhan yang mempunyai intensif karbon rendah. Ketika negara berpendapatan tinggi menggantikan infrastruktur dan teknologi yang kuno, mereka mampu dan seharusnya melakukan transisi ke jalur di mana tidak diperlukan energi secara intensif. Ini semua merupakan tantangan yang besar. Namun kesempatannya juga besar. Jika dilakukan dengan benar, pertumbuhan tidak harus membawa peningkatan besar emisi karbon. Investasi dalam penggunaan energi yang efisien, sumber energi terbarukan, pengurangan sampah dan teknologi yang tidak terlalu membutuhkan karbon secara intensif, dapat memberikan manfaat keuangan maupun manfaat lingkungan. Perangkat telah tersedia. Kita mampu mencapai solusi transformatif berskala besar di seluruh dunia dengan lebih banyak melakukan investasi, kolaborasi, implementasi dan kemauan politik. Momentum cukup besar telah tersedia. Lebih dari 50 negara telah mendaftarkan keikutsertaan dalam inisiatif Energi Berkelanjutan untuk Semua inisiatif (The Sustainable Energy for All Initiatives, SE4ALL), memobilisasi 50 miliar dolar dari sektor swasta dan investor dan membentuk kemitraan baru antara pemerintah dengan sektor swasta dalam transportasi, efisiensi energi, alat memasak bertenaga surya dan pendanaan.3 G20 berkomitmen untuk menghapuskan subsidi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap yang mendorong konsumsi berlebih, serta memberikan dukungan yang ditargetkan untuk masyarakat termiskin. Ini berarti pemerintah memiliki jalur penyelamat dalam penentuan harga yang sesuai untuk konsumsi masyarakat miskin -mereka bukanlah kelompok orang yang melakukan konsumsi berlebihan. Ini juga berarti konsumen energi yang besar harus membayar harga penuh—termasuk untuk ancaman terhadap kesehatan yang disebabkan oleh polusi serta membayar pajak energi.
    • POST-2015 | 67 Kita dapat membangun dan mengkonsolidasikan momentum ini dengan secara eksplisit memanfaatkan target SE4ALL dan Target G20 dengan fokus pada akses, efisiensi, energi terbarukan dan mengurangi pemborosan subsidi bahan bakar fosil. Investasi awal dalam bidang teknologi baru- dari yang sederhana seperti lampu LED tenaga surya hingga PLTA yang modern - dapat menyelamatkan kehidupan, mengurangi biaya dan mendorong pertumbuhan. Dalam melakukan transisi menuju energi berkelanjutan ini, kita harus memberikan perhatian khusus kepada kelompok penduduk miskin dan rentan. Subsidi adalah salah satu cara yang dapat digunakan negara untuk membantu orang yang membutuhkan dalam mendapatkan energi dengan harga yang terjangkau, sehingga penghapusan subsidi secara bertahap yang tidak efisien seharusnya tidak mengecualikan dukungan yang ditargetkan untuk rakyat termiskin. Menyediakan akses terhadap energi yang lebih modern dan handal untuk berbagai penggunaan antara lain memasak dan menerangi rumah-rumah masyarakat, telah memberikan manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan yang besar. Penggunaan bahan bakar tradisional di dalam ruangan berisiko pemaparan toksik, menyebabkan penyakit dan kematian. Kurangnya cahaya dapat menghambat anak-anak ketika belajar, serta kaum perempuan akan menghabiskan banyak waktu untuk mengumpulkan kayu bakar. Hanya butuh satu kilogram ‘karbon partikel hitam’ yang diproduksi oleh lampu minyak tanah untuk berkontribusi terhadap pemanasan atmosfer dalam dua minggu yakni 700 kilogram karbon dioksida beredar di atmosfer untuk 100 tahun.4 Solusi telah tersedia dan terjangkau – yang perlu kita lakukan adalah mengambil tindakan. Meningkatnya pemanfaatan energi tidak memerlukan pertumbuhan lebih cepat yang sebanding – sebagaimana yang ditunjukkan dalam angka-angka. Antara tahun 1990 dan 2006, meningkatnya efisiensi energi dalam manufaktur oleh 16 negara anggota Badan Energi Internasional menghasilkan 14-15 % pengurangan penggunaan energi per unit dari persentasi output dan pengurangan emisi CO2, menghemat setidaknya $ 180 miliar.5 Namun kita harus segera bertindak. Secara global, kita harus melipatgandakan angka pertumbuhan efisiensi energi untuk pembangunan, industri dan transportasi, serta melipatgandakan bagian energi terbarukan dalam pasokan energi6 Meskipun infrastruktur baru memerlukan investasi di muka, pendanaan jangka panjang, baik dalam lingkungan dan sosial, menghasilkan keuntungan yang substantif. . Mengadopsi standar yang efektif biaya untuk beragam teknologi, dapat mengurangi proyeksi konsumsi listrik global oleh bangunan dan industri sebanyak 14 persen di tahun 2030, menghindari dibutuhkannya sekitar 1.300 pembangkit listrik skala menengah.7 Berbagi teknologi dan inovasi secara luas merupakan langkah yang krusial. Negara berpendapatan rendah dan menengah memiliki kesempatan untuk meninggalkan model lama pembangunan dan memilih pembangunan yang lebih berkelanjutan. Namun mereka menghadapi dua kendala besar: teknologi dan keuangan. Teknologi yang lebih efisien dan lebih bersih seringkali dipatenkan oleh perusahaan swasta. Keuangan juga merupakan masalah tersendiri: manfaatdariteknologiyanglebihefisienhanyaakandirasakan di masa mendatang sementara biaya terkonsentrasi di awal. Jika negara-negara maju ambil bagian dalam menerapkan teknologi ini, maka biaya akan lebih murah dan teknologi akan lebih mudah diakses oleh negara berkembang. Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah dapat menggunakan gabungan antara pajak, subsidi, peraturan dan kemitraan untuk mendorong inovasi energi bersih. Negara- negara mitra dapat menggunakan forum inovasi terbuka untuk mempercepat pengembangan teknologi energi bersih dan secara cepat meningkatkan skalanya. Forum sumber terbuka ini harus dihubungkan dengan proyek-proyek publik nyata yang dapat menawarkan pendanaan, dan kesempatan untuk pengadopsian cepat dan penyebaran luas. Kita juga harus mengurangi limbah dengan memastikan harga yang tepat. Sekitar 1,9 triliun dolar, atau 2,5% dari total PDB dunia, dihabiskan setiap tahun untuk mensubsidi industri bahan bakar fosil dan melindungi harga bahan bakar yang terjangkau.8 Jika subsidi dikurangi, pendapatan dapat diarahkan ke prioritas lain yang lebih mendesak. Eliminasi bisa mengurangi sebanyak 10 persen dari total emisi gas rumah kaca sebesar 2.050.9 1 http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/ TOPICS/ EXTENERGY2/0,,contentMDK:22855502~ pagePK:210058~piPK:210062~theSitePK:4114200,00.html 2 World Health Organization, Fuel For Life: Household Energy and Health, http://www.who.int/indoorair/publications/fuelforlife.pdf 3 United Nations (2013). Sustainable Energy for All Commitments - Highlights for Rio +20. http://www.sustainableenergyforall.org/ actions-commitments/high-impact-opportunities/item/109-rio- plus-20 4 UC Berkeley dan University of Illinois di Urbana mempublikasikan Journal of Environmental Science & Technology.http://news. illinois.edu/news/12/1210kerosene_TamiBond.html47. http:// www.iea.org/publications/freepublications/publication/ Indicators_2008-1.pdf 5 http://www.iea.org/publications/freepublications/publication/ Indicators_2008-1.pdf 6 Hal ini menyiratkan perolehan efisiensi tahunan 2,4% menjelang tahun 2030 dibandingkan dengan 1,2% dari tahun 1970 sampai tahun 2008, berdasarkan Global Energy Assessment (GEA) dari International Institute of Applied Systems Analysis. 7 United Nations (2012). Sustainable Energy For All: A Framework for Action http://www.un.org/wcm/webdav/site/ sustainableenergyforall/shared/Documents/SE%20for%20All%20 -%20Framework%20for%20Action%20FINAL.pdf 8 International Monetary Fund, Energy Subsidy Reform: Lessons and Implications (Washington: IMF, 2013) http://www.imf.org/ external/np/pp/eng/2013/012813.pdf http://rff.org/RFF/Documents/RFF-IB-09-10.pdf. 9 Allaire, M and Brown (2009, S: Eliminating Subsidies For Fossil Fuel Production: Implications for U.S. Oil and Natural Gas Markets: Washington DC: Resources for the Future. http://rff.org/RFF/ Documents/RFF-IB-09-10.pdf.
    • POST-2015 | 68 TUJUAN 8 a) Menaikkan jumlah lapangan kerja dan mata pencaharian yang baik dan layak sebanyak x b) Mengurangi jumlah kaum muda yang tidak bersekolah, menganggur atau tidak mengikuti pelatihan sebanyak x% c) Memperkuat kapasitas produksi dengan memberikan akses universal terhadap pelayanan keuangan dan infrastruktur seperti transportasi dan ICT d) Menaikkan jumlah usaha baru yang dibuka sebanyak x dan nilai tambah dari produk- produk baru sebanyak y dengan menciptakan lingkungan usaha yang mendukung dan mendorong kewirausahaan MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA, MATA PENCAHARIAN BERKELANJUTAN DAN PERTUMBUHAN BERKEADILAN Negara-negara pada tahap perkembangan yang berbeda harus melakukan transformasi sosial ekonomi yang mendalam untuk mengakhiri kemiskinan ekstrim, meningkatkan taraf penghidupan, mempertahankan kemakmuran, mempromosikan inklusi sosial dan menjamin keberlanjutan lingkungan. Diskusi Panel ini mengenai “transformasi ekonomi”, mengidentifikasi aspek-aspek kunci dari Agenda transformatif: keharusan untuk mengupayakan pertumbuhan yang inklusif, untuk mempromosikan diversifikasi ekonomi dan nilai tambah yang lebih tinggi, dan untuk mencapai lingkungan pendukung yang stabil bagi sektor swasta untuk berkembang. Perubahan pola konsumsi dan produksi untuk melindungi ekosistem dan masyarakat kita, dan pemerintah yang baik dan lembaga yang efektif juga merupakan hal penting bagi agenda pertumbuhan, tetapi dibahas di bawah tujuan lainnya. Tidak ada cara yang cepat dan mudah untuk menciptakan lapangan kerja bagi semua orang. Jika ada, setiap politisi di setiap negara pasti sudah melakukannya. Setiap negara berjuang menghadapi tantangan ini. Di tingkat global, jumlah pengangguran naik sekitar 28 juta sejak terjadinya krisis keuangan pada tahun 2008, sementara 39 juta lainnya cenderung menyerah dan frustrasi. Naiknya jumlah pengangguran terutama melanda kaum muda. Semakin banyak kaum muda yang tidak memiliki pekerjaan, tidak bersekolah atau mengikuti pelatihan, dengan dampak jangka panjang pada kemampuan mereka untuk menjalani kehidupan yang memuaskan dan produktif. Kami memiliki target terpisah untuk pekerjaan dan mata pencaharian, yang mana ditekankan lebih pada pekerjaan bagi kaum muda. Target ini harus diletakkan dalam kategori terpisah berdasarkan kuintil penghasilan, jenis kelamin, lokasi dan kelompok lainnya. Melalui target ini, kami ingin masyarakat untuk fokus pada seberapa baik kinerja perekonomian, melalui ukuran yang mencakup bukan hanya PDB atau pertumbuhannya. Indikator untuk target pekerjaan dapat mencakup bagian pekerjaan yang dibayar berdasarkan sektor (jasa, manufaktur, pertanian), dan bagian pekerjaan formal dan informal. Antara tahun 2015 dan 2030, 470 juta lebih penduduk akan memasuki angkatan kerja global, terutama di wilayah Asia dan Afrika Sub-Sahara.1 Hal ini berpotensi memberikan keuntungan besar yang dapat mempertahankan pertumbuhan yang sedang terjadi. Selama dekade terakhir, 6 dari 10 perkembangan ekonomi dunia tercepat berada di Afrika. Karena semakin banyak kaum muda memasuki dunia pekerjaan dan penurunan tingkat kelahiran, Afrika didesain sedemikian rupa untuk mengalami jenis ‘dividen demografi’ yang sama yang telah mendorong pertumbu- han di Asia selama tiga dekade terakhir. Namun kaum muda di Afrika, dan di seluruh dunia, akan membutuhkan pekerjaan-pekerjaan yang memberikan jaminan dan upah yang adil - sehingga mereka dapat membangun kehidupan mereka dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Konsep “pekerjaan yang layak” dari ILO mengakui dan menghormati hak-hak pekerja, memasti- kan perlindungan sosial dan dialog sosial yang memadai, dan menetapkan standar yang tinggi ke arah mana setiap negara harus meneruskan upayanya. Namun, jelas bahwa kompromi dapat diberikan kepada beberapa negara berkembang, di mana “pekerjaan yang baik” – pekerjaan yang terjamin dengan upah yang layak - merupakan langkah signifikan menuju pembangunan
    • POST-2015 | 69 ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Kondisi pasar tenaga kerja sangat berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Tidak ada pendekatan ‘satu ukuran yang cocok untuk semua’ - pekerjaan yang baik dan pekerjaan yang layak keduanya akan diperlukan dalam agenda pem- bangunan berikutnya. Pertumbuhan yang berkelanjutan, berbasis luas, dan berkeadilan membutuhkan lebih dari sekadar kenaikan PDB. Perlu adanya tindakan yang bijaksana. Dunia usaha membutuhkan infrastruktur yang memadai dan handal. Hal itu berarti jalan, listrik, transportasi, irigasi dan telekomunikasi. Hal ini berarti kebiasaan, inspeksi pemerintah, polisi dan peradilan yang berfungsi dengan baik, dan pengaturan lintas batas yang memfasilitasi pergerakan barang ke pasar baru. Dunia usaha juga menambahkan nilai-nilai yang paling lestari ketika meletakkan kode berbisnis yang bertanggung jawab dengan norma-norma yang jelas demi transparansi dan akuntabilitas. Masyarakat dan dunia usaha memerlukan keamanan dan stabilitas lingkungan yang dapat diprediksi untuk membuat keputusan ekonomi yang baik. Prospek untuk diversifikasi dan pergerakan menuju nilai tambah yang lebih tinggi-dibutuhkan di beberapa negara untuk melampaui ketergantungan pada komoditas ekspor-bisa diukur dengan bertumbuhnya usaha-usaha baru setiap tahunnya serta dari nilai tambah produk-produk baru. Seiring dengan makin kayanya beberapa Negara dengan ekonomi yang semakin maju, biasanya akan menghasilkan serangkaian barang dan jasa yang lebih beragam. Ada beberapa unsur penting yang kita tahu akan berhasil di berbagai negara dan wilayah. Lapangan kerja dan kesempatan-kesempatan akan meluas ketika ekonomi pasar tumbuh dan masyarakat menemukan cara mereka sendiri untuk berpartisipasi. Setiap perekonomian membutuhkan dinamisme untuk tumbuh dan beradaptasi sesuai dengan permintaan konsumen. Hal ini memungkinkan bisnis baru untuk tumbuh dan menciptakankondisibagimerekauntukmengembangkandan memasarkan produk baru, untuk berinovasi dan menanggapi munculnya peluang. Dalam beberapa perkembangan situasi ekonomi ini berarti bergerak dari industri ekstraktif utama menuju produk manufaktur dan jasa dengan nilai tambah dan lebih beragam. Sementara, dalam situasi ekonomi lainnya, mungkin tentang spesialisasi. Pelayanan keuangan sangat penting untuk pertumbuhan bisnis, dan juga meningkatkan pendapatan individu. Ketika orang memiliki kesempatan untuk menabung dan berinvestasi atau mendapatkan asuransi, mereka bisa meningkatkan pendapatan mereka, setidaknya 20 persen. Kita tahu hal ini akan berhasil. Petani di Ghana, misalnya, menanamkan lebih banyak uang dalam kegiatan pertanian mereka setelah mendapatkan akses terhadap asuransi cuaca, yang menyebabkan peningkatan produksi dan pendapatan.2 Kita perlu memastikan bahwa lebih banyak orang memiliki akses terhadap jasa keuangan, untuk menghasilkan dampak optimal dari sumber daya yang mereka miliki. Kebijakan dan lembaga dapat membantu memastikan bahwa pemerintah membangun kondisi yang menjanjikan untuk terciptanya lapangan kerja. Peraturan yang jelas dan stabil, seperti misalnya peraturan memulai usaha yang tidak rumit, dan aturan yang adil serta stabil pada pajak dan regulasi, mendorong perusahaan untuk mempekerjakan dan melindungi tenaga kerja. Fleksibilitas pasar tenaga kerja dengan biaya terjangkau, akses yang efisien terhadap pasar domestik dan eksternal akan membantu sektor swasta untuk berkembang.Bisnisdanindividubersama-samamendapatkan keuntungan dari program pelatihan dan penelitian yang membantu mereka untuk beradaptasi dengan teknologi terobosan untuk kondisi lokal serta mengembangkan budaya kewirausahaan. 1 Lam, D & M. Leibbrandt (2013) Global Demographic Trends: Key Issues and Concerns. Input Paper to HLP Panel. Processed. 2 Karlan dkk. (Oktober 2012) Agricultural Decisions After Relaxing Credit and Risk Constraints. Yale University.
    • POST-2015 | 70 MENGELOLA ASET SUMBER DAYA ALAM SECARA BERKELANJUTAN Melindungi dan melestarikan sumber daya bumi bukan hanya satu-satunya hal yang harus dilakukan, namun juga merupakah hal mendasar bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Mengintegrasikan kekhawatiran lingkungan, sosial dan ekonomi sangat penting untuk memenuhi ambisi untuk tahun 2030 yakni lebih setara, lebih adil, lebih sejahtera, lebih hijau dan lebih damai. Penduduk miskin adalah korban pertama dan yang paling menderita apabila terjadi bencana lingkungan seperti kekeringan, banjir dan gagal panen, namun setiap orang di bumi pasti akan menderita tanpa udara, tanah dan air yang bersih. Jika kita tidak mengatasi tantangan lingkungan yang dihadapi dunia, kita masih bisa mendapatkan nilai tambah dari pemberantasan kemiskinan, tetapi nilai tambah ini tidak berlangsung lama. Hari ini, sumber daya alam sering digunakan seolah-olah tidak memiliki nilai ekonomis, seolah-olah tidak perlu dikelola untuk kepentingan kita sekarang ini dan untuk generasi mendatang. Namun sumber daya alam dapat menjadi langka dan kerusakan sumber daya alam bisa jadi tidak akan dapat diperbaiki. Apabila sumber daya alam rusak dan hilang, maka hal-hal tersebut akan hilang untuk selamanya. Karena kita ‘menghargai apa yang kita ukur’, maka bagian penting dari menghargai berlimpahnya alam bumi dengan cara yang tepat adalah dengan memasukkan alam yang berlimpah tersebut ke dalam sistem neraca. Sistem neraca kita saat ini gagal memasukkan dampak besar masalah lingkungan;dampak tersebut menjadi ‘eksternalitas’, dampak yangpentingdan memilikikonsekuensi sosial dan ekonomi yang nyata, namun tidak dimasukkan dalam neraca keuntungan, kerugian dan pertumbuhan. Standar ukuran kemajuan suatu negara adalah Produk Domestik Bruto (PDB) atau, untuk perusahaan, adalah keuntungan. Standar ini melupakan nilai aset alam dan tidakmemperhitungkan eksploitasi sumber daya alam atau penciptaan polusi, meskipun mereka jelas mempengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan. Beberapa pekerjaan telah dilakukan untuk membuat pemerintah dan perusahaan mulai memperhitungkan hal ini: Sistem PBB untuk Neraca Lingkungan dan Ekonomi (UN System of Environmental-Economic Accounting), Neraca Kekayaan dan Valuasi Jasa Ekosistem (Wealth Accounting and Valuation of Ecosystem Services), dan neraca keberlanjutan perusahaan telah diujicobakan dan harus diluncurkan sebelum tahun 2030. Diharapkan akan lebih banyak lagi pergerakan dan tindakan serupa. Nilai uang (value for money) untuk melakukan penaksiran pengadaan publik dapat menjadi alat yang ampuh bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap pembangunan berkelanjutan. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk menggunakan daya beli mereka secara signifikan untuk mempercepat pasar demi praktek-praktek berkelanjutan. Ekosistem meliputi hutan, lahan basah dan lautan. Secara global, lebih dari satu miliar orang yang hidup di daerah pedesaan bergantung pada sumber daya hutan untuk kelangsungan hidup dan TUJUAN 9 a) Mempublikasikan dan menggunakan neraca ekonomi, sosial dan lingkungan milik pemerintah dan perusahaan besar b) Meningkatkan pertimbangan keberlanjutan di x% pengadaan yang dilakukan oleh pemerintah c) Menjaga ekosistem, keragaman spesies dan genetik d) Mengurangi deforestasi sebanyak x% dan meningkatkan reforestasi sebanyak y% Meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi erosi tanah sebanyak x ton dan memerangi penggurunan
    • POST-2015 | 71 penghasilan.1 Namun dunia kehilangan sekitar 5,2 juta hektar hutan per tahun akibat deforestasi. Meningkatnya permintaan global atas makanan, pakan ternak, bahan bakar dan serat telah menjadi pemicu deforestasi ini. Banyak hutan yang secara tradisional dikelola oleh masyarakat adat dan masyarakat setempat. Ketika hutan ditebang, kelompok masyarakat ini akan kehilangan sumber mata pencaharian tradisional mereka sementara kelompok masyarakat lainnya akan kehilangan sumber daya alam penting yang dapat dikelola untuk pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Perusakan hutan juga mempercepat perubahan iklim, yang tentunya akan mempengaruhi semua orang. Mempertahankanhutandenganbanyakspesiesyangberbeda dan menanam berbagai tanaman pangan akan membawa manfaat bagi mata pencaharian dan ketahanan pangan masyarakat.2 Tindakan tersebut akan menjaga hutan untuk senantiasa menyediakan layanan penting, seperti melindungi DAS, mitigasi perubahan iklim, meningkatkan ketahanan daerah dan kawasan terhadap perubahan iklim dan tempat tinggal bagi banyak spesies. Seiring dengan terdegradasinya 60 persen ekosistem dunia, puluhan ribu spesies telah hilang. Kemitraan baru diperlukan untuk menghentikan hilangnya hutan, untuk memberikan nilai hutan secara utuh kepada masyarakat, serta untuk mengatasi deforestasi. Mengurangi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD +) adalah upaya global yang muncul untuk memberikan insentif ekonomi kepada negara berkembang untuk melestarikan hutan mereka, dan meningkatkan reboisasi dalam rangka meningkatkan kehidupan masyarakat dan ketahanan pangan, dengan memperhitungkan nilai sumber daya alam, dan keanekaragaman hayati. Upaya ini merupakan perubahan besar dalam pembangunan rendah karbon dan penyerapan karbon membutuhkan lebih banyak dukungan keuangan. Setiap tahun, 12 juta hektar lahan menjadi terdegradasi- luas ini hampir setengah dari luas Inggris – dan kehilangan kesempatan untuk menumbuhkan 20 juta ton makanan. Para pemimpin dunia telah sepakat untuk berjuang untuk tanah-tanah yang terdegradasi – menjadi netral dan untuk memantau secara global, apa yang terjadi di lahan gersang, semi-kering, dan kering sub-lembab. Ini adalah waktu untuk melakukannya secara sistematis dalam kerangka dunia pasca-2015. Emisi dari deforetasi 1 Sumber daya hutan memberikan 30% atau lebih pendapatan tunai dan non tunai kepada banyak rumah tangga yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan. Shepherd, G. 2012. IUCN; World Bank. 2 Busch, Jonah, dkk. Environmental Research Letters, author calculations (Oktober-Desember 2009). Tersedia di http://iopscience.iop.org/1748- 9326/4/4/044006/fulltext/
    • POST-2015 | 72 TUJUAN 10 a) Memberikan identitas hukum bebas biaya dan universal, seperti akta kelahiran b) Memastikan masyarakat menikmati kebebabasan berbicara, berasosiasi, melakukan protes damai dan akses terhadap media dan informasi independen c) Meningkatkan partisipasi publik dalam proses politik dan keterlibatan warga di semua tingkat d) Menjamin hak masyarakat atas informasi dan akses terhadap data pemerintah e) Mengurangi suap dan korupsi dan memastikan pejabat dapat diminta pertanggungjawabannya MEMASTIKAN TATA KELOLA YANG BAIK DAN KELEMBAGAAN YANG EFEKTIF Deklarasi Hak Asasi Manusia Universal, yang ditandatangani lebih dari 60 tahun yang lalu, menetapkan kebebasan fundamental dan hak asasi manusia yang membentuk sebuah landasan bagi pembangunan manusia. Ini menegaskan kembali kebenaran yang sederhana dan kuat - bahwa setiap orang terlahir bebas dan sama dalam martabat dan hak. Kebenaran ini merupakan inti dari agenda yang berfokus pada rakyat, dan mengingatkan kita apa yang dapat kita raih, jika kita menegaskan kembali nilai setiap orang di bumi ini. Melalui manusia, kita mampu mengubah masyarakat dan ekonomi serta membentuk kemitraan global. Orang-orang di seluruh dunia menyerukan tata kelola yang lebih baik. Dari otorita daerah, anggota parlemen, pemerintah nasional hingga sistem multilateral, orang-orang menginginkan kepemimpinan yang beretika. Mereka ingin hak asasi manusia universal yang dijamin dan diakui di mata hukum. Mereka ingin suara mereka didengar dan mereka ingin lembaga yang transparan, tanggap, berkapabilitas dan akuntabel. Semua orang di manapun ingin untuk menyuarakan bagaimana mereka diatur. Setiap orang dapat berpartisipasi aktif dalam mewujudkan visi untuk tahun 2030 dalam membawa perubahan transformasional. Masyarakat sipil harus memainkan peran yang berarti dan terpusat, namun tentunya ini membutuhkan ruang bagi bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam kebijakan dan pengambilan keputusan. Ini berarti memastikan hak masyarakat atas kebebasan berbicara, berasosiasi, protes damai dan akses terhadap media dan informasi independen. Penguatan kapasitas parlemen dan semua wakil terpilih, dan mempromosikan media yang hidup, beragam dan independen dapat lebih mendukung pemerintah dalam menerjemahkan komitmen menjadi tindakan. Kata“lembaga”tidakhanyameliputiaturan,hukumdanbadanpemerintah,tetapijugaaturaninformal dari interaksi sosial. Lembaga memungkinkan orang untuk bekerja sama, secara efektif dan damai. Lembaga yang adil memastikan bahwa semua orang memiliki hak yang sama dan kesempatan yang adil dalam meningkatkan kehidupan mereka, bahwa mereka memiliki akses terhadap keadilan ketika mereka dirugikan.Pemerintah bertanggung jawab untuk menjaga lembaga sentral masyarakat. Salah satu tanggung jawab kelembagaan yang paling dasar adalah memberikan identitas hukum. Setiap tahun, sekitar 50 juta kelahiran tidak terdaftar di manapun, sehingga anak-anak tidak memiliki identitas secara hukum. Hal ini meningkatkan anonimitas, dan mengakibatkan banyak orang yang terpinggirkan, karena kegiatan yang sederhana – mulai dari membuka rekening bank hingga mendaftar ke sekolah yang baik - sering memerlukan identitas hukum. Keterbukaan dan akuntabilitas membantu lembaga bekerja dengan baik - dan memastikan bahwa mereka yang memegang kekuasaan tidak dapat menggunakan posisi mereka untuk mendukung diri sendiri atau teman-teman mereka. Tata pemerintahan yang baik dan pember- antasan korupsi merupakan isu universal. Di manapun, lembaga dapat menjadi lebih adil dan akuntabel, dan kuncinya adalah transparansi. Transparansi membantu memastikan bahwa sum- ber daya tidak terbuang, namun dikelola dengan baik dan digunakan dengan sebaik-baiknya.
    • POST-2015 | 73 Banyak lembaga sentral adalah lembaga publik. Tapi tidak semuanya. Kebutuhan untuk transparansi meluas ke semua lembaga, lembaga pemerintah serta badan usaha dan organisasi masyarakat sipil. Memenuhi tujuan dari Agenda Pasca-2015 menuntut adanya transparansi dari semua lembaga. Ketika lembaga mempublikasikan berapa banyak uang yang mereka keluarkan, dan hasil apa yang mereka capai, kita bisa mengukur kemajuan pencapaian tiap tujuan. Keterbukaan akan membuat sukses lebih mudah diraih. Mempublikasikan neraca — termasuk neraca keberlanjutan — membawa kepemilikan dan akuntabilitas kepada seluruh agenda pasca-2015. Keberlanjutan mendorong masyarakat untuk mengukur lebih dari sekadar uang dan untuk memperhitungkan nilai semua sumber daya alam dan sosial lainnya yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Akuntabilitas bekerja lebih baik di lingkungan tata pemerintahan yang partisipatif. Deklarasi Milenium mendeklarasikan kebebasan sebagai salah satu dari enam nilai dasar, dan menyatakan bahwa hal tersebut dijamin dengan cara terbaik bila melalui pemerintahan partisipatif. Salah satu target yang akan berguna adalah mengurangi tingkat penyuapan dan korupsi dalam masyarakat. Ada kekhawatiran tentang seberapa terpercayanya pengukuran target ini –karena banyak indikator kurang tepat dan hal ini tentunya akan mengakibatkan upaya yang lebih keras lagi untuk meningkatkan pemahaman bagaimana hal ini dapat ditembus. Bila ditemukan bukti suap atau korupsi, yang melibatkan pejabat publik atau individu swasta, mereka harus dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada toleransi dalam hal ini.
    • POST-2015 | 74 TUJUAN 11 a) Menurunkan angka kematian akibat kekerasan per 100.000 sebanyak x dan mengaliminasi segala bentuk kekerasan terhadap anak-anak b) Memastikan lembaga peradilan dapat diakses, independen, memiliki sumber daya yang baik dan menghormati hak atas proses hukum c) Membendung faktor eksternal yang mengakibatkan konflik, termasuk faktor-faktor yang terkait dengan kejahatan terorganisir d) Meningkatkan kapasitas, perofesionalitas dan akuntabilitas angkatan-angkatan keamanan, kepolisian dan badan peradilan MEMASTIKAN MASYARAKAT YANG STABIL DAN DAMAI Tanpa perdamaian, tidak ada pembangunan. Tanpa pembangunan, tidak mungkin ada perdamaian abadi. Kedamaian dan keadilan merupakan prasyarat untuk kemajuan. Kita harus mengakui pelajaran utama MDGs: bahwa perdamaian dan akses terhadap keadilan tidak hanya aspirasi manusia yang mendasar tetapi juga merupakan pilar bagi pembangunan berkelanjutan. Tanpa perdamaian, anak- anak tidak bisa pergi ke sekolah atau mempunyai akses terhadap klinik kesehatan. Penduduk dewasa tidak dapat bekerja, pergi ke pasar atau keluar untuk menanami ladang mereka. Konflik dapat menghancurkan kemajuan sosial dan ekonomi yang dibangun tahunan, bahkan puluhan tahun, dalam kurun waktu yang singkat. Ketika hal itu terjadi, kemajuan melawan kemiskinan menjadi menakutkan. Pada tahun 2015, lebih dari 50 persen dari total penduduk di bawah garis kemiskinan akan berada di tempat-tempat yang terkena dampak konflik dan kejahatan kronis.1 Untuk mengakhiri kemiskinan dan memberdayakan keluarga untuk mengejar kehidupan yang lebih baik, dibutuhkan masyarakat yang damai dan stabil. Anak-anak sangat rentan terhadap konflik.2 Setidaknya pada 13 negara, ada pihak-pihak yang terus merekrut anak-anak ke dalam angkatan dan kelompok bersenjata, pihak-pihak ini juga membunuh atau melukai anak lainnya, melakukan perkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual terhadap anak-anak, atau terlibat dalam serangan terhadap sekolah dan/atau rumah sakit. Menyadari kerentanan khusus mereka terhadap kekerasan, eksploitasi dan perlakukan kejam, Panel ini mengusulkan target untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap anak. Karakter kekerasan telah bergeser secara dramatis dalam beberapa dekade.3 Konflik kontemporer ditandai dengan semakin kaburnya garis depan medan perang atau, dan seringnya masyarakat sipil menjadi target. Kekerasan, obat-obatan terlarang dan senjata menjadi jamak di seluruh perbatasan di dunia kita yang semakin terhubung. Stabilitas telah menjadi perhatian universal. Ketidakamanan fisik, kerentanan ekonomi dan ketidakadilan memprovokasi kekerasan, dan kekerasan mendorong masyarakat pada kemiskinan. Tetangga yang kuat, maupun angkatan global yang kuat berada di luar kendali pemerintah, sehingga dapat menyebabkan tekanan. Tekanan saja tidak cukup untuk menyebabkan kekerasan: bahaya terbesar muncul ketika institusi yang lemah tidak mampu menyerap atau mengurangi tekanan tersebut, sehingga menjadi ketegangan sosial. Lembaga keamanan dan keadilan sangat penting bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan. Keamanan, dan juga keadilan, secara konsisten disebut sebagai prioritas penting bagi penduduk miskin di semua negara. Pada tahun 2008, Komisi Internasional tentang Pemberdayaan Hukum Masyarakat Miskin memperkirakan bahwa sebanyak 4 miliar orang hidup di luar perlindungan hukum.4 Namun setiap negara dapat bekerja untuk keadilan sosial, mulai dari membentuk lembaga yang kuat untuk resolusi konflik dan mediasi. Banyak negara telah berhasil melakukan transisi dari kekerasan endemik menuju pembangunan yang berhasil, dan kita dapat belajar dari kesuksesan mereka.
    • POST-2015 | 75 Sangat penting untuk menjamin keselamatan dasar dan keadilan bagi semua, tanpa memandang status ekonomi atau sosial atau afiliasi politik seseorang. Untuk mencapai perdamaian, pemimpin harus mengatasi masalah yang paling penting bagi banyak orang yaitu pengadilan yang adil dan kuat bagi korupsi dan kekerasan yang melanggar hukum, terutama terhadap kelompok minoritas dan kelompok rentan. Pemerintah harus meningkatkan akuntabilitas. Pemerintah harus membuktikan bahwa Negara dapat memberikan pelayanan dasar dan hak-hak, seperti akses untuk keamanan dan keadilan, air minum yang aman dan pelayanan kesehatan, tanpa diskriminasi. Kemajuan melawan kekerasan dan ketidakstabilan akan membutuhkan kerjasama lokal, nasional, regional dan global. Kita harus menawarkan dukungan yang berkelanjutan dan dapatdiprediksi.Seringkali,kitamenungguhinggasuatukrisis menghantam sebelum berkomitmen untuk menciptakan keamanan dan stabilitas. Bantuan dari masyarakat internasional kepada tempat-tempat yang menderita akibat kekerasan harus direncanakan dalam jangka panjang, untuk sepuluh sampai lima belas tahun. Sehingga, kita memiliki cukup waktu untuk menghasilkan keuntungan nyata dan memantapkannya. Selama kurun waktu tersebut, kita dapat menyediakan landasan yang dibutuhkan, dari keselamatan hingga lapangan kerja, yang dapat meningkatkan kohesi sosial dan stabilitas. Pemerintahan yang baik dan lembaga yang efektif sangat penting. Pekerjaan dan pertumbuhan yang inklusif terkait erat dengan perdamaian dan stabilitas, dan dapat mencegah orang bergabung dengan jaringan kriminal atau kelompok- kelompok bersenjata. Langkah-langkah untuk mengurangi efek berbahaya dari penyebab stres eksternal seperti harga komoditas yang sangat fluktuatif, korupsi internasional, kejahatan terorganisir dan perdagangan manusia, mineral berharga dan senjata yang terlarang, sangat dibutuhkan. Melaksanakan dengan efektif pengawasan kecil terhadap senjata sangatlah penting dalam upaya ini. Karena ancaman kejahatan ini dapat melintasi perbatasan, maka dibutuhkan respon dari daerah dan internasional. Saat ini terdapat beberapa program regional dan program lintas batas yang inovatif dan beberapa organisasi regional meningkatkan penanganannya menghadapi masalah-masalah ini. Untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang terlupakan dalam visi untuk tahun 2030, kita harus bekerja secara kolektif untuk memastikan kondisi paling mendasar bagi kelangsungan hidup manusia dapat dicapai, yakni perdamaian. 1 OECD, Ensuring Fragile States are Not Left Behind, 2013 Factsheet on resource flows and trends, (2013) http://www.oecd.org/dac/incaf/factsheet%20 2013%20resource%20flows%20final.pdf 2 Report of the Secretary-General on Children and Armed Conflict (A/66/782–S/2012/261, April 2012) 3 WDR 2011, hal..2 4 Commission on Legal Empowerment of the Poor (2008), Making the Law Work for Everyone. Volume I in the Report of the Commission. United Nations: New York.61. WDR (2011), hal. 218-220.
    • POST-2015 | 76 TUJUAN 12 a) Mendukung sistem perdagangan yang terbuka, adil dan ramah pembangunan, secara substansial mengurangi aturan-aturan perdagangan yang merusak, termasuk subsidi pertanian, sembari meningkatkan akses pasar produk-produk negara berkembang b) Melaksanakan reformasi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan dunia dan mendorong investasi swasta asing jangka panjang c) Menahan kenaikan rata-rata suhu global di bawah 2⁰ C di atas tingkat pra industri, sesuai dengan perjanjian-perjanjian internasional d) Negara-negara maju yang belum membuat upaya konkret menuju target 0,7% produk nasional bruto (PDB) sebagai bantuan pembangunan resmi bagi negara-negara berkembang dan 0,15 hingga 0,20% PDB negara maju sampai negara-negara yang paling terbelakang; negara-negara lainnya harus bergerak menuju target sukarela untuk bantuan keuangan pelengkap e) Mengurangi aliran ilegal dan penghindaran pajak serta meningkatkan pengembalian aset curian sebesar $x f) Mempromosikan kolaborasi dan akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan data pembangunan MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMUNGKIN GLOBAL DAN MENDORONG KEUANGAN JANGKA PANJANG Suatu lingkungan pemungkin global adalah kondisi yang diperlukan untuk keberhasilan agenda pasca-2015, untuk menetapkan kita agar berada di jalur menuju visi untuk tahun 2030 yakni masyarakat yang lebih sejahtera, lebih setara, lebih damai dan lebih adil. Lingkungan yang memungkinkan akan membuat semangat kemitraan global baru lebih nyata, sehingga kerjasama dapat menjawab tantangan global. Menciptakan sistem perdagangan global yang aktif yang mendorong pembangunan berkelanjutan adalah hal yang sangat penting. Semakin banyak negara yang mendorong pembangunan mereka sendiri dan dinamisme ini lebih didorong oleh perdagangan daripada bantuan. Memastikan bahwa sistem perdagangan global terbuka dan adil, menciptakan platform bagi negara-negara berkembang untuk tumbuh. WTO adalah alat yang paling efektif untuk meningkatkan dampak pengembangan perdagangan, dan kesimpulan dari konferensi Doha mengenai pembicaraan perdagangan sangat dibutuhkan untuk menyesuaikan kondisi demi menyukseskan agenda pasca-2015. Saat ini, barang dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan di negara-negara kurang berkembang (LDC), menghadapi kuota dan kewajiban yang membatasi kemampuan mereka untuk menyeberangi perbatasan dan berhasil di pasar global. Sistem yang menyediakan akses pasar untuk negara-negara berkembang, termasuk program preferensi, dan bebas bea, akses pasar bebas kuota, dapat membantu LDC. Namun, bahkan ketika biaya dan batas tersebut dikurangi, komplikasi lain dapat timbul, seperti ‘rules of origin’, yang dapat membuat birokrasi dan dokumen yang tidak perlu untuk LDC. Hal ini tentunya akan membatasi partisipasi LDC dalam rantai produksi global, dan mengurangi daya saing mereka di pasar global. Beberapa subsidi pertanian dapat menganggu perdagangan dan akses pasar dari produk-produk negara berkembang. Suatu sistem yang mampu memfasilitasi pergerakan orang, barang dan jasa lebih baik lagi akan seiring dengan cara yang memungkinkan lebih banyak orang dan lebih banyak negara untuk sepenuhnya mendapat manfaat dari globalisasi. Peningkatan perdagangan dan akses terhadap pasar membawa pertumbuhan yang lebih adil dan kesempatan bagi semua – adalah cara terbaik untuk mengalahkan kemiskinan dan kekurangan.
    • POST-2015 | 77 Stabilitas sistem keuangan sangat penting untuk mengaktifkan pertumbuhan jangka panjang dan pembangunan berkelanjutan. Dampak parah dari dunia yang saling berhubungan ditunjukkan dalam krisis keuangan global pada tahun 2008. Tindakan berisiko yang diambil oleh satu orang disuatu tempat didunia ini dapat mendatangkan malapetaka pada orang lain di seluruh dunia – dan dapat membalikkan keuntungan dalam memberantas kemiskinan. Komoditas terutama yang stabil dan kita mendesak untuk meneruskan komitmen atas inisiatif-inisiatif yang baik seperti Sistem Informasi Pasar Pertanian, untuk meningkatkan transparansi pasar makanan dan mendorong koordinasi tindakan kebijakan dalam menanggapi ketidakpastian pasar. Setelah krisis keuangan, ada perhatian lebih bahwa arsitektur keuangan internasional harus direformasi, dan bersepakat bahwa reformasi peraturan diterapkan secara konsisten, untuk memastikan stabilitas keuangan global. Rekomendasi dan tindakan diimplementasikan, baik di pusat utama keuangan individual maupun internasional. Tempat yang tepat untuk menempa kesepakatan internasional untuk mengatasi perubahan iklim adalah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Panel ini ingin menggarisbawahi pentingnya menahan laju kenaikan rata-rata global suhu di bawah 2 derajat diatas tingkat pra- industri, yang sejalan dengan perjanjian internasional. Semua ini lebih penting karena, meskipun telah ada perjanjian, dunia gagal untuk memenuhi janji yang dibuat untuk membatasi pemanasan global hingga 2 derajat pada suhu dunia pada era pra industri. Tanpa mengatasi perubahan iklim, kita tidak akan berhasil memberantas kemiskinan ekstrim. Beberapa langkah nyata yang disebutkan dalam laporan ini, seperti misalnya mengenai energi terbarukan, sangat penting untuk membatasi pemanasan masa depan dan membangun ketahanan untuk merespon perubahan akibat pemanasan global. Konsensus Monterrey 2002 merupakan perjanjian bersejarah tentang pendanaan pembangunan yang menjadi panduan kebijakan yang ada saat ini. Negara-negara maju yang belum melakukannya setuju untuk melakukan upaya konkret dengan menaikkan anggaran bantuan mereka menuju target 0,7% dari PDB. Sebagai bagian dari itu, mereka menegaskan kembali komitmen mereka untuk menawarkan bantuan sebesar 0,15-0,2% dari PDB untuk Negara-negara yang kurang maju. Hal ini merupakan hal yang tepat untuk dilakukan. Bantuan pembangunan dari luar negeri (ODA) yang mengalir ke negara-negara berkembang masih merupakan sumber yang sangat penting pembiayaan: 55 sen dari setiap dolar modal asing yang masuk ke negara-negara berpendapatan rendah adalah ODA. Negara lain juga harus bergerak menuju target sukarela untuk bantuan keuangan yang saling melengkapi. Negara-negara maju harus melakukan lebih dari sekadar memberi bantuan, namun, ada tanda-tanda bahwa uang secara ilegal diambil dari Afrika Sub-Sahara dan dimasukkan ke dalam suaka pajak luar negeri dan yurisdiksi kerahasiaan yang jumlah nya lebih besar dari jumlah semua uang bantuan yang telah diberikan. Beberapa dari hal tersebut adalah praktek pencucian uang suap dan uang yang dicuri, dan beberapa adalah untuk menghindari pajak. Ada hal yang bisa dilakukan demi menghentikan hal tersebut. Dimulai dengan transparansi di semua negara. Negara maju dapat lebih aktif dan merebut kembali aset yang mungkin telah dicuri, diperoleh melalui korupsi, atau ditransfer ke luar negeri secara ilegal dari negara-negara berkembang. Rata-rata negara OECD hanya “sebagian besar yang mengeluhkan” 4 dari 13 kategori rekomendasi dari Satuan Tugas Aksi Keuangan (FATF) ketika berkaitan dengan pendeteksian dan perjuangan melawan laju keuangan yang illegal.1 Jika uang itu secara terbuka dilacak, maka akan lebih sulit untuk dicuri. Itu adalah motivasi di balik Inisiatif Transparansi Industri Ekstraktif, standar sukarela global yang meminta perusahaan untuk mengungkapkan apa yang mereka bayarkan, dan telah meminta pemerintah untuk mengungkapkan apa saja yang telah mereka terima. Negara lain bisa mengadopsi EITI dan mengikuti contoh dari Amerika Serikat dan Uni Eropa yang secara legal memaksa perusahan- perusahaan minyak, gas dan perusahaan pertambangan untuk mengungkapkan informasi keuangan pada setiap proyek. Negara-negaramajujugabisalebihbertukarinformasidengan negara-negara berkembang untuk memerangi penggelapan pajak. Bersama-sama, mereka juga bisa memecahkan kasus penghindaran pajak oleh perusahaan multinasional melalui penyalahgunaan “transfer pricing” hingga secara sengaja memindahkan keuntungan mereka melintasi perbatasan internasional kewilayah pajak rendah. Ketika negara-negara maju mendeteksi kejahatan ekonomi yang melibatkan negara-negara berkembang, mereka harus bekerja bersama- sama untuk membuat penuntutan kejahatan tersebut sebagai suatu prioritas. Penerimaan dalam negeri merupakan sumber yang paling penting bagi dana yang dibutuhkan untuk berinvestasi dalam pembangunan berkelanjutan, mengurangi kemiskinan dan memberikan pelayanan publik. Hanya melalui mobilisasi sumber daya domestik yang cukup Negara bisa memastikan ketergantungan fiskal dan mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Data merupakan salah satu kunci untuk transparansi, yang merupakan landasan akuntabilitas. Terlalu sering, pengembangan upaya terhambat karena kurangnya data paling dasar mengenai keadaan sosial dan ekonomi. Untuk memahami apakah kita telah mencapai tujuan, data tentang kemajuan harus terbuka, mudah diakses, mudah dipahami dan mudah digunakan. Seiring dengan tujuan yang semakin ambisius, kualitas, frekuensi, dan pemilahan ketersediaan statistik yang relevan harus ditingkatkan. Untuk mencapai hal ini diperlukan komitmen untuk mengubah cara kita dalam mengumpulkan dan berbagi data.
    • 78 | LAMPIRAN II: BUKTI DAMPAK DAN PENJELASAN TUJUAN ILUSTRATIF Sistem untuk menghasilkan data yang baik saat ini belum tersedia. Ini adalah masalah khusus untuk negara-negara miskin, tapi bahkan negara yang paling kuat dan kaya memiliki pemahaman yang terbatas mengenai, misalnya, berapa banyak pasien dalam daerah tertentu yang dapat mengakses layanan kesehatan, dan bagaimana serta apa yang akan terjadi ketika mereka dapat mengakses layanan tersebut. Ketersediaan informasi telah membaik selama pelaksanaan MDG, tetapi tidak cukup cepat untuk mendorong inovasi dan perbaikan pengiriman layanan vital. Belajar dari data - dan menyesuaikan tindakan berdasarkan apa yang telah kita pelajari - adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa tujuan telah tercapai. Untuk dapat melakukan hal ini, kita harus mulai sekarang, mendahului 2015. Kita perlu membangun sistem pengumpulan data yang lebih baik, terutama di negara berkembang. Tanpa sistem, mengukur tujuan dan target yang ditetapkan di sini dapat menjadi beban yang tidak layak dan tidak dapat diatasi. Dengan sistem, kerangka tujuan global adalah cara yang efektif untuk menyatukan upaya di seluruh dunia. Membangun statistik kapasitas sistem nasional, subnasional dan lokal adalah kunci untuk memastikan bahwa para pembuat kebijakan memiliki informasi yang diperlukan sebagai landasan dalam membuat kebijakan yang terbaik. Komisi Statistik PBB harus memainkan peran kunci. Data adalah domain publik yang sesungguhnya, namun tidak mendapatkan cukup pendanaan, terutama di negara-negara berpendapatan rendah. Hal ini harus diubah. Dukungan teknis dan keuangan dari negara berpendapatan tinggi sangat diperlukan untuk mengisi kesenjangan. Inovasi, penyebaran dan transfer teknologi sangat penting untuk mewujudkan transformasi yang sesungguhnya. Baik dalam informasi, transportasi, komunikasi atau obat-obatan yang dapat menyelamatkan nyawa manusia, teknologi baru yang dapat membantu negara-negara untuk maju ke tingkat baru pembangunan yang berkelanjutan. Beberapa teknologi yang ada dapat membantu kita mencapai visi untuk tahun 2030, dan ilmu pengetahuan menyumbangkan kontribusi yang besar dalam hal ini, tetapi beberapa teknologi masih harus dikembangkan. Kemitraan dapat membantu kita mengembangkan alat yang kita butuhkan, dan memastikan bahwa inovasi ini dapat secara luas dibagi bersama. Pada intinya, lingkungan pemungkin global harus mendorong arus baru yang cukup besar untuk pembangunan, lebih baik mengintegrasikansumberdayadenganmelibatkanmitrabaru dari masyarakat sipil dan sektor swasta, dan menggunakan pendekatan baru. Tujuan ini menjadi landasan dari tindakan dan kemitraan yang diperlukan untuk sepenuhnya mencapai tujuan ambisius dari agenda pasca-2015. 1 OECD,“Measuring OECD Responses to Illicit Financial Flows,”Issue Paper for DAC Senior Level Meeting 2013, DCD/DAC (2013) 13, 2013, hal. 4.
    • POST-2015 | 79 LAMPIRAN III: TUJUAN, TARGET DAN INDIKATOR: MENGGUNAKAN ISTILAH UMUM Dalam konsultasi untuk laporan ini, kami berbicara banyak tentang tujuan dan target dan menemukan bahwa orang-orang menggunakan kata-kata dengan cara yang sangat berbeda. Karena komunitas global akan melanjutkan diskusi ini selama satu setengah tahun ke depan, maka kami berharap bahwa pemahaman dan kejelasan dari istilah yang sering digunakan ini akan membuat diskusi menjadi lebih produktif lagi. Demi kejelasan istilah-istilah tersebut, kita menggunakan definisi tujuan, target dan indikator seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 1. Istilah Penggunaannya dalam laporan ini Contoh dari MDGs Tujuan (Goal) Menyatakan sesuatu yang ambisius, namun terarah dan komit. Selalu disertai dengan kata kerja/tindakan Mengurangi angka kematian bayi Target Sub-komponen yang kuantitif yang akan berkontribusi secara luas atas pencapaian tujuan. Dalam bentuk variabel outcome Mengurangi sebanyak dua pertiga antara tahun 1990 dan 2015, angka kematian balita Indikator Metrik tepat dari database yang diidentifikasi untuk menilai apakah target telah dicapai (sering menggunakan lebih dari satu indikator) Angka kematian balita Angka kematian bayi Proporsi bayi satu tahun yang diimunisasi vaksin cacar Sebuah target harus spesifik dan berhubungan dengan hanya satu tujuan. Sekarang, sebagian besar proposal untuk pasca-2015 setuju bahwa mereka harus sedikit jumlahnya untuk menentukan pilihan dan menetapkan prioritas. Tapi ada cara yang berbeda untuk melakukan hal ini. Dalam beberapa proposal, setiap tujuan menangani beberapa masalah. Sebagai contoh, kita telah melihat proposal untukmenggabungkanmakanandanairmenjadisatutujuan,tapiiniadalahtantanganyangberbeda, masing-masing dengan konstituen, sumber daya, dan isu-isu tersendiri. Ketika digabungkan menjadi satu tujuan, itu tidak menyebabkan lebih fokus atau prioritas, melainkan hanya mengaburkan realitas perlunya melakukan dua hal. Penting bahwa tujuan harus sespesifik mungkin dalam meletakkan sebuah tantangan dan ambisi tunggal. Kami percaya bahwa fokus tujuan harus pada masalah dengan dampak terbesar pada pembangunan berkelanjutan, diukur dalam hal jumlah orang yang terkena dampak, kontribusi terhadap sosial inklusi, dan kebutuhan untuk bergerak ke arah konsumsi berkelanjutan dan pola produksi. Idealnya setiap tujuan telah ‘mengetuk’ efek di daerah lain sehingga tujuan, yang diambil bersama-sama, benar-benar transformatif. Jadi contohnya, kualitas pendidikan penting bagi pendididkan itu sendiri, namun kualitas itu berdampak besar pada pertumbuhan dan pekerjaan, jenis kelamin, kesetaraan, dan dampak kesehatan yang membaik. Target akan menerjemahkan ambisi dari tujuan menjadi hasil yang praktis. Bisa jadi hasil ini untuk masyarakat, seperti akses terhadap air minum yang aman atau keadilan, atau hasil bagi negara-negara atau masyarakat, seperti reboisasi atau pendaftaran pengaduan pidana. Target harus selalu terukur meskipun beberapa mungkin memerlukan pekerjaan tehnis lebih lanjut untuk mengembangkan indikator yang handal dan ketat. Target menentukan tingkat ambisi masing-masing negara, dengan menentukan kecepatan suatu Negara dalam mengejar tujuannya. Kecepatan tersebut dapat berfungsi dalam banyak hal, antara lain: prioritas negara, titik tolak awal, kemungkinan teknis dan organisasi untuk perbaikan, dan tingkat sumber daya dan jumlah mitra yang dapat dibawa untuk menanggung masalah tersebut.
    • 80 | LAMPIRAN III: TUJUAN, TARGET DAN INDIKATOR: MENGGUNAKAN ISTILAH UMUM Kami percaya bahwa proses yang memungkinkan negara- negara untuk mengatur target mereka sendiri, dengan cara yang sangat terlihat, akan menciptakan sebuah “perlombaan ke atas”, baik internasional maupun di dalam negara itu sendiri. Negara dan wilayah sub-nasional harus diberikan penghormatan karena menetapkan target yang ambisius dan menjanjikan untuk melakukan upaya besar. Demikian juga, jika negara-negara dan wilayah sub-nasional terlalu konservatif dalam penetapan target, masyarakat sipil dan rekan-rekan mereka dapat menantang mereka untuk bergerak lebih cepat. Transparansi dan akuntabilitas adalah penting untuk menerapkan kerangka tujuan. Dalam beberapa kasus, mungkin ada kasus untuk memiliki target standar minimum global, di mana masyarakat internasional berkomitmen untuk melakukan segala kemungkinan untuk membantu negara mencapai targetnya. Hal ini, contohnya, berlaku untuk pemberantasan kemiskinan pada tahun 2030. Dan dapat juga diperluas di area lainnya termasuk pemberantasan diskriminasi jenis kelamin, pendidikan, kesehatan, makanan, air, energi, keamanan pribadi, dan akses terhadap pengadilan. Standar minimal tersebut dapat diatur di mana ini adalah hak universal bahwa setiap orang di planet ini, dan diharapkan dapat terwujud pada tahun 2030. Target global kami tetapkan adalah yang sudah ditetapkan sebagai tujuan oleh Energi Berkelanjutan untuk Semua Inisiatif (GSEAI) bentukan Sekretaris-Jenderal, dan yang benar- benar menjadi masalah global di mana hanya target hanya bisa berhasil bekerja apabila dijadikan target global, seperti reformasi keuangan internasional dan sistem perdagangan. Dalam laporan tersebut, kita sering berbicara tentang “akses universal” atau “memberantas kemiskinan ekstrem”. Istilah- istilah ini harus ditafsirkan dalam setiap konteks negara. Isu- isu sosial tidak seperti penyakit. Hal ini mungkin jelas terkait dengan pemberantasan cacar, tetapi mungkin lebih sulit untuk menunjukkan bahwa kemiskinan telah diberantas. Seseorang disuatu tempat, dapat dikecualikan atau masih tergolong hidup dalam kemiskinan, bahkan jika jaring pengaman sosial tersedia di tempat tersebut. Niatnya adalah bahwa pengecualian tersebut harus sangat langka; ahli di setiap bidang harus dipanggil untuk mendefinisikan hal tersebut ketika target dapat dikatakan sudah tercapai. Target harus mudah dipahami. ini berarti satu arah harus menjadi hasil jelas yang ‘lebih baik’. Misalnya, penurunan angka kematian anak selalu baik hal, peningkatan angka melek aksara adalah selalu hal yang baik. Beberapa target potensial, bagaimanapun, adalah kurang jelas. Mengambil pekerjaan pedesaan, misalnya, target yang diusulkan pada satu titik. Bisa jadi lebih banyak pekerjaan pedesaan karena peningkatan akses terhadap pasar, infrastruktur atau partisipasi dalam rantai nilai, tetapi itu bisa saja bahwa adanya peningkatan pekerjaan di pedesaan akibat pekerjaan yang ada di kota tidak mampu menampung penduduk yang berdatangan ke kota sehingga mereka kembali kekampung halamannya. Dalam kasus pertama, banyaknya pekerjaan di pedesaan merupakan tanda perbaikan. Dalam kasus terakhir, malah menjadi sinyal terjadinya penurunan. Oleh karena itu, jumlah pekerjaan pedesaan mungkin bukan hal yang cocok untuk dijadikan target. Penafsiran arah perubahan terlalu tergantung pada konteks negara. Halinipentingagarmenjadijelasbahwanegaradiperbolehkan untukmengaturkecepatanyangmerekainginkanuntuksetiap target merupakan salah satu pendekatan dengan gagasan target nasional. Saran lain yang dipertimbangkan oleh Panel ini adalah untuk memiliki “menu”, di mana set target yang disepakati secara internasional, ditetapkan, sehingga negara dapat memilih yang paling sesuai dengan keadaan mereka. Misalnya, satu negara mungkin memilih untuk fokus pada obesitas dan negara lainnya fokus pada penyakit menular ketika berkaitan dengan prioritas kesehatan. Dalam terminologi yang digunakan dalam laporan ini, target nasional hanya mengacu pada perbedaan nasional dalam kecepatan dengan yang target hendak dicapai. Sebagai contoh, setiap negara harus menetapkan target untuk meningkatkan jumlah pekerjaan yang baik atau layak dan mata pencaharian sebanyak x tetapi setiap negara dapat menentukan apa x harus didasarkan pada keadaan spesifik atau lokalitas negara tersebut. Kemudian ini dapat dikumpulkan sehingga Anda dapat membandingkan prestasi dalam penciptaan lapangan kerja dari berbagai negara- negara dari waktu ke waktu. Indikator mencerminkan metrik yang tepat sehingga kita akan tahu jika target telah terpenuhi. Panel ini tidak membahas secara spesifik mengenai indikator, namun Panel ini merekomendasikan bahwa indikator dipisahkan untuk memungkinkan target menjadi lebih terukur dalam berbagai dimensi, berdasarkan jenis kelamin, geografi, usia, dan etnis, misalnya. Angka rata-rata mengungkapkan lebih banyak dibandingkan apa yang mereka ungkapkan. Semakin dipisahkan dalam berbagai indikator, maka semakin mudah untuk mengidentifikasi tren dan anomali. Jika target bersifat universal, seperti akses air minum bersih di rumah, maka tidak cukup hanya untuk mengukur kecenderungan rata-rata dan berharap bahwa ini akan berlanjut. Misalnya, kencederungan rata-rata nasional pada air minum mungkin sangat baik jika ada proyek besar di kota besar yang sedang dijalankan, tetapi rumah-rumah pedesaan mungkin tidak termasuk. Akses universal membutuhkan disagregasi indikator yang cukup untuk memungkinkan perbedaan dari tren rata-rata yang akan diidentifikasi sejak awal. Kami menyarankan agar target hanya harus dipertimbangkan dicapai jika dicapai untuk pendapatan dan kelompok sosial yang relevan. Panel ini menegaskan kembali betapa pentingnya untuk membangun sistem data yang dapat menyediakan indikator terpilah tepat waktu untuk mengukur kemajuan, di semua negara, pada semua tingkatan (lokal, sub-nasional, dan nasional).
    • POST-2015 | 81 LAMPIRAN IV: KESIMPULAN DARI UPAYA OUTREACH Panel Tingkat Tinggi dan para anggota individunya telah melakukan upaya outreach yang luas dan menempuh berbagai aspek, yang mencakup setiap wilayah di dunia dengan menghimpun beragam pemangku kepentingan dan kelompok kepentingan. Interaksi yang luas telah menciptakan sebuah proses aktif dan terencana guna mendengarkan suara dan aspirasi orang banyak sebagai masukan ke dalam laporan Panel ini. Banyak kelompok, termasuk badan PBB, membantu menyelenggarakan pertemuan ini, dan Panel ingin menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap upaya ini. Konsultasi Tematik Global dan Regional Selama pertemuan di New York (September 2012), London (November 2012), Monrovia (Januari 2013) dan Bali (Maret 2013), Panel ini mengadakan pertemuan global dengan pemuda, akademisi, sektor swasta, anggota parlemen dan representasi masyarakat sipil Media sosial juga digunakan untuk memungkinkan setiap individu berkontribusi dalam interaksi ini. Anggota Panel juga telah menyelenggarakan konsultasi regional dan tematik. Upaya ini telah memungkinkan pemahaman yang lebih dalam pada beberapa kawasan spesifik- Amerika Latin dan Karibia, Asia, Negara-negara Arab, Afrika, G7 + kelompok fragile states, Negara di kepulauan di Pasifik dan kelompok negara-negara Afrika yang berbahasa Portugis (PALOP) – serta keterlibatan dengan isu-isu dan konstituen spesifik – termasuk isu Konflik dan Kerapuhan, Tata Kelola dan Aturan Hukum, Migrasi, Pemerintah Lokal, Bisnis, dan Kesehatan. Pertemuan-pertemuan ini terdaftar di situs resmi Panel. Hasil tertulis dari konsultasi ini dan seluruh konsultasi lainnya bersama dengan rekomendasi untuk Panel tersedia di situs Panel (www.post2015hlp.org). Uraian Upaya Outreach Konsultasionline, memunculkan lebih dari 800 tanggapan dari masyarakat sipil terhadap 24 Kerangka Pertanyaan yang membimbing arah kerja PanelTingkatTinggi, yang dilakukan dalam dua fase antara bulan Oktober 2012 dan Januari 2013. Ringkasan ini tersedia di situs Panel. Sebuah konsultasi online ketiga mengenai kemitraan juga dilakukan pada bulan Maret 2013. Teleconference dan ‘Twitter town halls’ juga telah diselenggarakan oleh Panelis untuk memfasilitasi keterlibatan dengan kelompok sub-nasional dan kelompok pemuda. Media online dan media sosial - termasuk penggunaan platform‘World We Want’dan HLP terkait akun Facebook dan Twitter - telah membantu untuk berbagi update dan mengundang tanggapan terhadap Pekerjaan Panel ini. Situs web HLP telah digunakan untuk menyebarkan informasi tentang upaya outreach Panel ini dalam berbagai bahasa. Rekomendasi Kunci: Setiap pembicaraan memungkinkan adanya apresiasi yang kompleks, multi-dimensi dan tidak terpisahkan dari pelajaran dan aspirasi untuk agenda pasca-2015, dan masing-masing telah sangat mempengaruhi dan menginformasikan kerja Panel, walaupun tidak semua rekomendasi ditampung Meskipun tidak mungkin untuk memasukkan semua wawasan, rekomendasi yang muncul dari konsultasi utama yang dilaksanakan sebagai bagian dari outreach Panel ini meliputi:
    • 82 | LAMPIRAN IV: KESIMPULAN DARI UPAYA OUTREACH Tema Contoh dari Isu yang diangkat (Daftar dan masukan yang lebih luas dapat dilihat di www. post2015hlp.org Ketimpangan; Akses Universal dan Kesempatan yang Setara • Metriks harus tersedia untuk melacak kemajuan kesetaraan akses dan kesempatan terlepas dari umur, jenis kelamin, etnis, kecacatan, geografi, dan pendapatan • Pondasi perlindungan sosial harus dibentuk, sejalan dengan hak atas pekerjaan yang layak: Sebuah Dana Global untuk Perlindungan Sosial harus dibentuk • Ketimpangan harus menjadi tujuan yang berdiri sendiri dan menjadi tema lintas sektoral; tujuan tersebut harus mengatasi ketimpangan dalam dan antar negara • Tujuan dan target akses universal terhadap kesehatan (termasuk hak-hak seksual dan reproduksi); akses terhadap pendidikan inklusif dan belajar seumur hidup, akses terhadap air, sanitasi, kebersihan, kedaulatan pangan dan keamanan gizi • Investasi yang tersedia di bidang layanan esensial dan sistem partisipatif dan akuntabel untuk pengelolaan sumber daya berkelanjutan diciptakan; • Partisipasi ditekankan dan orang diberdayakan dengan informasi yang tepat • Infrastruktur dengan perbaikan akses jalan, lahan dan energi dikembangkan; Kemitraan Sosial harus menggantikan kemitraan publik-swasta Pekerjaan dan Pertumbuhan yang Inklusif • Suatu tujuan mengenai pekerjaan yang layak dengan target pada penciptaan lapangan kerja, pengurangan pekerjaan yang rentan, dengan memasukkan indikator bagi perempuan dan kaum muda • Akses berkelanjutan terhadap aset produktif oleh masyarakat miskin, atau negara diaktifkan; Pekerjaan hijau untuk pembangunan berkelanjutan dipromosikan • Manfaat khusus dan perlindungan disediakan untuk sektor informal, cara inovatif untuk pengaturan disediakan seperti melalui serikat pekerja dan koperasi • Sebuah sistem perdagangan baru berdasarkan perluasan kemampuan produksi didorong dan PDB bukan satu-satunya ukuran kemajuan ekonomi • Telaah Global Future dan foresight ditekankan, jalur alternatif untuk memutus pertumbuhan dari ekstraksi sumber daya alam dan konsumsi ditelitiPenggunaan sovereign funds yang lebih baik, pembangunan lembaga keuangan dan pengetahuan global yang umum, dipromosikan. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan serta Perubahan Iklim; Tantangan dari Urbanisasi • Sebuah kerangka tunggal mengintegrasikan keberlanjutan lingkungan dan pemberantasan kemiskinan • Tujuan-tujuan baru dipertimbangkan dalam batas-batas planet, pembahasan tentang pembayaran yang dilakukan oleh pencemar lingkungan dan pola konsumsi • Dukungan internasional untuk mitigasi perubahan iklim, adaptasi, pengurangan risiko bencana (PRB) dan respon kemanusiaan termobilisasi; PRB diintegrasikan ke dalam strategi pembangunan berkelanjutan • Sarana ketahanan bagi masyarakat rentan didefinisikan - dengan fokus pada perempuan • Pengetahuan ilmiah dibangun pada setiap tingkat dan dibagikan ke seluruh negara • Langkah-langkah khusus untuk meningkatkan kehidupan masyarakat miskin perkotaan diambil, hak mereka untuk perumahan; layanan penting, pekerjaan dan mata pencaharian diaktifkan oleh kebijakan yang disesuaikan dengan sektor informal • Kelestarian lingkungan di kota-kota ditingkatkan dengan meningkatkan pencegahan risiko, mengurangi emisi gas rumah kaca dan mempromosikan sumber energi terbarukan pendekatan‘menghindari – mengubah – meningkatkan’di sektor transportasi diadopsi • Kemitraan sekitar migrasi dipromosikan, peran dalam pembangunan diakui
    • POST-2015 | 83 Tema Contoh dari Isu yang diangkat (Daftar dan masukan yang lebih luas dapat dilihat di www. post2015hlp.org Konflik, Kerentanan dan Pembangunan Negara • Kebutuhan Negara Kurang Maju (LDC), Negara Berkembang dengan kepulauan kecil (SIDS), Negara Berkembang Daratan, serta Negara Rentan dan Dipengaruhi Konflik menjadi prioritas • Kesepakatan baru untuk pelibatan negara-negara rentan (Busan, 2011) diperkuat sebagai langkah kunci untuk mitra nasional dan internasional untuk bekerja di negara-negara yang terkena dampak konflik dan rentan • LDC dilindungi terhadap kelangkaan sumber daya vital dan guncangan harga yang tidak stabil • Langkah-langkah untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan diprioritaskan; Langkah tersebut diambil untuk mengakhiri impunitas dan menjamin akses terhadap keadilan bagi semua kelompok sosial • Semua kelompok sosial harus dapat mengekspresikan pendapat politik tanpa rasa takut dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan; Perpecahan di dalam masyarakat diselesaikan secara konstruktif • Langkah tegas diambil untuk menghapuskan kejahatan transnasional & menghentikan aliran obat-obatan terlarang, senjata dan komoditas perang • Tujuan dari ‘hak untuk menentukan nasib sendiri’ disertakan dan program yang terikat waktu untuk mencapai target pembangunan, ditetapkan pada akhir setiap pekerjaan • Langkah-langkah untuk memperkuat kerjasama regional, sub-regional dan lintas daerah, terutama Kerjasama Selatan-Selatan dilaksanakan • Peningkatan transparansi sektor bisnis, khususnya yang terkait dengan negara-negara rapuh, bersamaan dengan penyelarasan upaya untuk kemakmuran bersama Tata Kelola dan HAM • Menetapkan sebuah tujuan yang berdiri sendiri untuk tata kelola yang terbuka, akuntabel dan partisipatif dengan target yang terukur, menengah dan progresif terkait dengan keterlibatan warga negara, aturan hukum, transparansi fiskal dan pengadaan • Prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas dan partisipasi diintegrasikan ke semua tujuan-tujuan lain, kapasitas kelembagaan publik di semua tingkatan diperkuat • Kelompok miskin dan terkucil secara sosial merupakan bagian dari pengambilan keputusan pada semua tingkatan; standar minimum untuk lingkungan yang kondusif bagi OMS dipromosikan • Norma-norma hak asasi manusia yang ada, standar operasional dan komitmen adalah dasar normatif kerangka baru, kebijakan, program dan praktek yang tidak bisa ditawar pada semua tingkatan yang mencerminkan kewajiban di bawah hukum hak asasi manusia internasional • Memperkuataksesterhadapkeadilandanpertanggungjawabanhukumatashakasasimanusia; Badan pengawasan HAM nasional dan badan pengawas kuasi-yudisial yang didukung dengan mandat, kapasitas dan sumber daya yang diperlukan untuk memantau pelanggaran hak asasi manusia dan bertindak apabila ada keluhan • Mengintegrasikan laporan nasional mengenai tujuan pembangunan ke dalam laporan Kajian Universal Berkala dari Dewan Hak Asasi Manusia dan Badan Pengawas perjanjian HAM internasional secara sistematis • Kerjasama Internasional dan teknis serta bantuan keuangan konsisten dengan kewajiban HAM dan uji tuntas untuk mencegah pelanggaran hak asasi manusia
    • 84 | LAMPIRAN IV: KESIMPULAN DARI UPAYA OUTREACH Tema Contoh dari Isu yang diangkat (Daftar dan masukan yang lebih luas dapat dilihat di www. post2015hlp.org Sarana Pelaksanaan • Panggilan untuk perubahan dalam arsitektur ekonomi dan keuangan global melalui perdagangan yang adil, menghentikan arus keuangan terlarang dan secara efektif menangani penggelapan dan praktek penghindaran pajak • Komitmen yang ada mengenai kuantitas dan kualitas dari bantuan yang diberikan harus dipenuhi, pendanaan iklim harus bersifat publik, wajib, dapat diprediksi, berbasis hibah, dan bebas dari kondisionalitas • Aturan perdagangan internasional dan kebijakan harus inklusif secara sosial dan mendukung lingkungan yang berkelanjutan; pembiayaan publik untuk pembangunan menjamin pembangunan dan keuangan untuk mempromosikan dampak pembangunan yang positif dan berkelanjutan • Pasar komoditas harus diatur, dan spekulasi dilarang; subsidi pertanian yang dapt menganggu pedagangan harus dihapuskan • Mobilisasi sumber daya domestik harus diaktifkan melalui perubahan regulasi pajak internasional, kerjasama pembangunan berbasis pinjaman tidak boleh dilakukan demi pencapaian komitmen pendanaan • Audit hutang yang komprehensif dan partisipatif harus dilakukan, dengan langkah-langkah untuk pembatalan dan penolakan terhadap cara berutang yang tidak sah • Fleksibilitas dalam Aspek Perdagangan yang terkait dengan Hak Kekayaan intelektual (TRIPs) harus memungkinkan akses yang lebih besar terhadap teknologi, pengetahuan, kedaulatan pangan, akses terhadap kesehatan • Negara harus membangun perjanjian regional untuk mengatasi persaingan pajak, dan insentif pajak yang berlebihan, meningkatkan transparansi dan pertukaran informasi seputar wilayah pajak • Mencapai target sumber daya domestik yang universal: memungut pajak perusahaan, pajak/PDB rasio; mekanisme pendanaan yang demokratis dan inovatif, dengan fokus pada perempuan, diprioritaskan Anak–Anak dan Kaum Muda • Menyertakan hak anak dalam konstitusi, meninjau hukum nasional yang sesuai dengan standar internasional; meningkatkan anggaran untuk lembaga perlindungan anak • Memastikan partisipasi anak dan remaja dalam pengambilan keputusan pada semua tingkatan; berinvestasi secara inovatif dalam hal kepemimpinan kepemudaan dan program pelayanan pemuda • Pelayanan perawatan kesehatan harus peka terhadap kesehatan seksual dan reproduksi kaum muda dan hak dan hambatan yang dihadapi oleh kelompok-kelompok seperti pemuda atau perempuan muda yang hidup dengan HIV • Kaum muda harus mampu mengakses kesempatan kerja dan ekonomi yang meliputi upah yang adil, kemungkinan pendanaan dan bimbingan, kesempatan yang setara, pekerjaan dan jaminan sosial yang menawarkan kesempatan untuk pengembangan karir dan pelatihan. • Pendidikan tradisional dibuat relevan dengan kehidupan sehari-hari kaum muda, perkembangan masyarakatnya, prospek pekerjaan dan ekonomi, dan pertukaran pengetahuan dan informasi dalam ekonomi digital • Fokus pada konteks pasca-konflik dan kelompok rentan - termasuk perempuan dan anak perempuan, pemuda cacat, pemuda LGBT, dan pemuda di daerah yang terkena dampak perang
    • POST-2015 | 85 Tema Contoh dari Isu yang diangkat (Daftar dan masukan yang lebih luas dapat dilihat di www. post2015hlp.org Perempuan • Ada tujuan terkait gender yang berdiri sendiri yg diperkuat dan diperluas dengan target dan indikator • Akses perempuan terhadap tanah, properti, sumber daya produktif, informasi dan teknologi yang diperkuat, perawatan yang belum dibayar dan peran reproduksi sosial dicatat • Semua bentuk kekerasan berbasis gender ditangani, akses terhadap keadilan harus diprioritaskan dan paket layanan yang penting harus tersedia untuk semua korban kekerasan berbasis gender • Undang-undang yang diskriminatif atas dasar gender, mengkriminalkan atau meminggirkan kelompok tertentu atas dasar gender harus dicabut • alokasi keuangan khusus dan lintas sektoral untuk hak-hak perempuan (genderbudgeting) harus dipastikan, data terpilah tersedia untuk memantau pelaksanaan dan hasil yang diharapkan • Kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan, termasuk langkah-langkah tindakan afirmatif bagi partisipasi politik di semua tingkat, dan di sektor swasta harus diprioritaskan • Peran perubahan iklim, bencana alam, perampasan tanah dan model pembangunan ekstraktif yang mengabadikan kemiskinan perempuan harus diikenali dan ditangan Grup rentan lainnya: i. Kelompok Cacat dan Manula ii. Sektor Informal iii. Kelompok Masyarakat Adat iv. Etnis Minoritas v Dalit vi. Migran vii. LGBTQI viii. Korban Kekerasan Gender ix. Petani dan Nelayan Kecil x. Pegawai dan Pengangguran xi. Masyarakat Perkotaan yang Miskin • Kerangka baru harus berbasis HAM dan mencakup tujuan yang berdiri sendiri mengenai ketimpangan dan non-diskriminasi, harapan hidup sehat dan perlindungan sosial yang universal • Pemilahan data berdasarkan kecacatan, kelompok umur dan jenis kelamin harus menjadi bagian dari semua target • Kelompok cacat dan manula harus diarusutamakan di seluruh kebijakan pemerintah, dan undang-undang untuk mencegah diskriminasi terhadap penyandang cacat dan manula harus ditetapkan • Mekanisme untuk mengakui dan melindungi hak-hak kolektif masyarakat adat atas tanah, wilayah dan sumber daya dan hak-hak lainnya di bawah Deklarasi PBB tentang Hak Masyarakat Adat (UNDRIP) harus dipastikan • Legislatif dan kelembagaan mekanisme untuk mengakui hak-hak masyarakat adat, etnis minoritas, kelompok dalit, dan kelompok lainnya yang terkucilkan harus tersedia • Hukum dan kebijakan diskriminatif yang mengkriminalisasi kelompok LGBTQI dan pekerja seks harus dicabut • Kebijakan yang membela hak-hak petani, nelayan dan kelompok terpinggirkan lainnya untuk mengakses lahan, air dan sumber daya lainnya harus tersedia, status hukum bagi masyarakat miskin perkotaan harus ada, dan hak-hak mereka sebagai warga negara harus dilindungi • Tindakan afirmatif untuk memberdayakan perempuan dan kelompok rentan lainnya untuk berpartisipasi dalam perekonomian formal diperkenalkan
    • 86 | LAMPIRAN IV: KESIMPULAN DARI UPAYA OUTREACH Tema Contoh dari Isu yang diangkat (Daftar dan masukan yang lebih luas dapat dilihat di www. post2015hlp.org Parlemen dan Otoritas Daerah • Wakil-wakil terpilih di segala tingkatan diakui sebagai pemegang kepentingan utama kunci berdasarkan tugas mereka antara lain; pengawasan legislatif, persetujuan anggaran dan tugas representasi lainnya • Pentingnya mengeliminasi korupsi, menghapus hukum diskriminatif dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, supremasi hukum dan demokrasi harus ditekankan • Membuatstrategiyangkuatuntukmeningkatkankualitas,produksi,penggunaandandistribusi data sosial ekonomi yang tepat waktu, khususnya data terpilah, untuk menginformasikan strategi pembangunan, kebijakan dan target di semua tingkatan • Mengembangkan satu set tujuan pembangunan berkelanjutan yang sepenuhnya menghormati semua prinsip KTT Rio; panggilan untuk percepatan pelaksanaan Kerangka Aksi Hyogo tahun 2005-2015 serta pencapaian tujuannya. • Menyesuaikan kebijakan ekonomi makro nasional dan internasional (fiskal, perdagangan, moneter, arus keuangan) untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif dan dapat dengan mudah diakses, hak asasi manusia, keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan • Menekankan pada pencapaian semua komitmen ODA oleh OECD / DAC, termasuk target 0,7% dari GNI untuk ODA. Menyediakan mekanisme untuk pengeluaran publik yang akuntabel dan transparan, termasuk mengarahkan sumber daya militer yang berkaitan dengan tujuan pembangunan Sektor Swasta • Mengadopsi pendekatan terpadu yang mencerminkan tiga pilar keberlanjutan - sosial, ekonomi dan lingkungan - dengan satu set tujuan yang terpadu • Mempromosikan kemitraan yang terukur dan transformatif untuk perkembangan sebagai pemungkin yang penting; target yang tepat, dengan tonggak teratur dan akuntabilitas yang jelas ditetapkan untuk mengevaluasi kemajuan • Sepuluh prinsip UN Global Compact (meliputi hak asasi manusia, tenaga kerja, langkah-langkah pemberantasan korupsi dan pelestarian lingkungan) berfungsi sebagai dasar untuk standar bisnis dalam agenda pasca-2015. • Bisnis dapat mengadopsi model bisnis yang inklusif dan berkelanjutan, yang menguntungkan UKM di negara-negara berkembang dan mendukung transisi dari sector informal menjadi sektor formal. • Inovasi dan teknologi baru di negara berkembang harus didorong; investasi telekomunikasi dan infrastruktur dibuat penting • Peningkatan dan aliran dana lebih tepat target dari keuangan swasta harus didukung; kemitraan publik dan swasta didalam Negara harus didukung, investasi asing ynag langsung di negara-negara berkembang harus didukung sebagai bentuk gerakan yang lebih dari sekedar memberi bantuan
    • POST-2015 | 87 LAMPIRAN V: KERANGKA ACUAN KERJA PANEL DAN ANGGOTA PANEL Kerangka Acuan Kerja bagi Panel Tingkat Tinggi Tokoh Terkemuka dalam Agenda Pembangunan Pasca-2015 1. Panel Tingkat Tinggi Para Tokoh Terkemuka tentang Agenda Pembangunan Pasca-2015 diselenggarakan oleh Sekretaris-Jenderal PBB, panel ini bertujuan untuk memberikan nasihat yang kuat dan pada saat yang bersamaan cukup praktis demi agenda pembangunan pasca-2015. 2. Panel Tingkat Tinggi ini akan terdiri dari 26 tokoh terkemuka, termasuk perwakilan pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat sipil dan pemuda, dengan keseimbangan geografis dan gender yang tepat. Panelis merupakan anggota dalam kapasitas pribadi mereka. 3. Panel ini harus melakukan tugasnya atas dasar analisis yang teliti dari bukti yang kredibel. Panel ini harus melibatkan dan berkonsultasi secara luas dengan konstituen yang relevan di tingkat nasional, regional dan global. 4. Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal untuk Agenda Pembangunan Pasca- 2015 akan menjadi anggota ex-officio dari HLP dan melayani sebagai tautan ke sistem PBB. 5. Output dari Panel ini akan menjadi laporan kepada Sekretaris-Jenderal yang akan mencakup: a. Rekomendasi mengenai visi dan bentuk dari agenda pembangunan pasca-2015 yang akan membantu menjawab tantangan global abad ke-21, membangun MDGs dengan tujuan untuk mengakhiri kemiskinan. b. Prinsip-prinsip utama untuk membentuk kembali kemitraan global untuk pengembangan dan penguatan mekanisme akuntabilitas; c. Rekomendasi tentang bagaimana membangun dan mempertahankan konsensus politik yang luas terkait dengan agenda pembangunan pasca-2015 yang ambisius namun belum tercapai untuk tiga dimensi pertumbuhan ekonomi, kesetaraan sosial dan pelestarian lingkungan; mempertimbangkan tantangan khusus dari negara- negara yang sedang berkonflik atau pasca konflik. 6. Untuk tujuan ini, sangatlah penting bagi tugas HLP dan Kelompok Kerja antar Pemerintah (Open Working Group / OWG) untuk Tujuan-Tujuan Pembangunan Berke-lanjutan (SDG) untuk saling menginformasikan demi memastikan bahwa proses tugas keduanya berjalan baik. HLP harus memberikan masukan kepada Sekretaris-Jenderal PBB mengenai bagaimana SDG terkait erat dengan agenda pembangunan pasca-2015. 7. Untuk mempersiapkan laporan tersebut, Panel ini akan mempertimbangkan: a. Deklarasi Milenium, Dokumen Hasil KTT Rio +20; b. Temuan Laporan Satuan Tugas untuk Sekretaris Jenderal PBB (UN Task Team) mengenai persiapan agenda pembangunan pasca-2015, serta pembelajaran dan praktik terbaik dari MDG. c. Temuan dari berbagai konsultasi nasional dan tematik di tingkat regional dan nasional yang dikoordinasikan oleh UNDG sebagai bagian dari persiapan untukagenda pembangunan pasca-2015; d. Kebutuhan untuk membangun momentum untuk membangun dialog tentang parameter agenda pembangunan Pasca-2015, dan mengusulkan cara-cara yang inovatif ke pemerintah, parlemen, organisasi masyarakat sipil, sektor bisnis, akademisi, masyarakat setempat untuk terlibat dalam dialog secara berkelanjutan; e. Pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Satuan Tugas PBB, Penasihat Khusus SG untuk agenda pembangunan pasca-2015, laporan Global Sustainability Panel untuk Sekretaris Jenderal PBB dan temuan Inisiatif Jaringan Pembangunan Berkelanjutan Global, serta f. Setiap masukan lain yang relevan apabila dianggap layak. 8. HLP akan didukung oleh sekretariat independen yang berdedikasi yang dipimpin oleh seorang pejabat senior (Penulis Utama laporan HLP). Sekretariat akan dapat menggunakan kekayaan pengetahuan dan keahlian yang telah disediakan melalui sistem PBB. 9. Wakil Sekretaris-Jenderal, mewakili Sekretaris-Jenderal PBB, akan mengawasi, proses agenda pembangunan pasca-2015 ini. 10. Panel ini akan menyajikan laporannya kepada Sekretaris Jenderal pada kuartal kedua 2013. Laporan ini akan berfungsi sebagai masukan kunci untuk laporan Sekretaris-Jenderal untuk acara khusus untuk menindaklanjuti upaya yang dilakukan untuk mencapai Tujuan-Tujuan Pembangunan Milenium dan untuk membahas kemungkinan kontur dari agenda pembangunan pasca-2015 yang akan diselenggarakan oleh Presiden dari enampuluh sesi Majelis Umum pada bulan September 2013.
    • 88 | LAMPIRAN V: KERANGKA ACUAN KERJA PANEL DAN ANGGOTA PANEL DAFTAR ANGGOTA PANEL H.E. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia Ketua Bersama H.E. Ellen Johnson Sirleaf, Presiden Liberia Ketua Bersama The Right Honourable David Cameron MP, Perdana Menteri Inggris Ketua Bersama Amina J. Mohammed ex officio Gisela Alonso Kuba Fulbert Amoussouga Géro Benin Abhijit Banerjee India Gunilla Carlsson Swedia Patricia Espinosa Meksiko
    • POST-2015 | 89 Maria Angela Holguin Kolombia Naoto Kan1 Jepang Tawakkol Karman Yaman Sung-Hwan Kim Republik Korea Horst Köhler Jerman Graça Machel Mozambik Betty Maina Kenya Elvira Nabiullina Federasi Rusia Ngozi Okonjo-Iweala Nigeria
    • 90 | LAMPIRAN V: KERANGKA ACUAN KERJA PANEL DAN ANGGOTA PANEL Andris Piebalgs Latvia Emilia Pires Timor-Leste John Podesta Amerika Serikat Paul Polman Belanda H.M. Queen Rania Al Abdullah Yordania Jean-Michel Severino Perancis Izabella Teixeira Brazil Kadir Topbas Turki Yingfan Wang Cina 1 Naoto Kan menghadiri dua pertemuan pertama, yang masing-masing diadakan pada bulan September (New York) dan November (London) 2012. Naoto Kan kemudian keluar dari panel.
    • POST-2015 | 91 Homi Kharas, Penulis Utama dan Sekretaris Eksekutif The Brookings Institution Karina Gerlach, Deputi Sekretaris Eksekutif UN Department of Political Affairs Molly Elgin-Cossart, Ketua Staf Center on International Cooperation David Akopyan, Ketua Operasi UN Development Programme Asan Amza, Petugas Operasi UN Development Programme Kara Alaimo, Kepala Komunikasi Hany Besada, Spesialist Riset North-South Institute Haroon Bhorat, Kepala Riset University of Cape Town Lysa John, Kepala Outreach Nicole Rippin, Spesialist Riset German Development Institute Nurana Sadiikhova, Spesialis Operasi/Keuangan UN Development Programme Céline Varin , Pejabat Eksekutif UN Development Programme Jiajun Xu, Spesialist Riset Junior Oxford University Natabara Rollosson, Koordinator Logistik Jill Hamburg Coplan, Penyunting LAMPIRAN VI: SEKRETARIAT PANEL TINGKAT TINGGI DAN LEMBAGA-LEMBAGA AFILIASINYA
    • halaman ini sengaja dikosongkan